Anda di halaman 1dari 35

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kanker Payudara

2.1.1 Definisi Kanker Payudara

Kanker menurut WHO, kanker adalah istilah umum untuk satu kelompok

besar penyakit yang dapat mempengaruhi setiap bagian dari tubuh. Istilah lain

yang digunakan adalah tumor ganas dan neoplasma. Salah satu fitur

mendefinisikan kanker adalah pertumbuhan sel-sel baru secara abnormal yang

tumbuh melampaui batas normal, dan yang kemudian dapat menyerang bagian

sebelah tubuh dan menyebar ke organ lain. Proses ini disebut metastasis.

Metastasis merupakan penyebab utama kematian akibat kanker (WHO, 2009).

Kanker menurut National Cancer Institute (2009), kanker adalah suatu istilah

untuk penyakit di mana sel-sel membelah secara abnormal tanpa kontrol dan

dapat menyerang jaringan di sekitarnya. Kanker adalah istilah umum yang

dipakai untuk menunjukkan neoplasma ganas, dan ada banyak tumor atau

neoplasma lain yang tidak bersifat kanker (Price et al., 2006).

2.1.2 Etiologi Kanker Payudara

Sampai saat ini penyebab pasti kanker payudara belum diketahui namun

data epidemologik mengisyaratkan bahwa faktor genetik, endokrin dan

lingkungan mungkin sangat berperan inisiasi dan/atau promosi pertumbuhan

kanker payudara (Suddarth dan Brunner, 2003).

a. Genetik

6
7

Semua saudara dari penderita kanker payudara memiliki peningkatan resiko

mengalami kanker payudara namun saudara tingkat pertama (saudara kandung,

orang tua, anak) memiliki peningkatan resiko dua sampai tiga kali lipat

dibandingkan dengan populasi umum. Hampir 5% dari semua pasien kanker

payudara memiliki kelainan genetik spesifik yang berperan dalam pembentukan

kanker payudara mereka. Para peneliti menemukan gen dengan nama BRC-1

(Breast Cancer 1) dan BRC-2 (Breast Cancer 2). BRC-1 dapat dideteksi pada 1

dari 400 wanita dan mutasi BRC-2 menyebabkan 5% dari kanker payudara

yang disebabkan karena faktor keturunan.

b. Lingkungan

Radiasi dalam bentuk terapi radiasi yang intensif pada penderita tuberculosis

atau kanker lain diketahui meningkatkan resiko terkena kanker payudara

(radiasi yang disebabkan sinar X pada payudara atau mamogram tidak dapat

diperbandingkan dengan terapi radiasi tuberculosis atau kanker lain dan tidak

menyebabkan kanker dan tidak perlu dikhawatirkan). Pestisida seperti DDT

juga diperhatikan.

c. Endokrin

Banyak faktor yang meningkatkan resiko kanker payudara. Menstruasi yang

mulai pada usia terlalu muda, menopause yang datangnya terlambat (usia lebih

dari 51 tahun), mempunyai anak pertama diatas usia 30 tahun atau tidak sama

sekali mempunyai anak akan meningkatkan resiko terkena kanker payudara.

Semua faktor tersebut berhubungan dengan hormon estrogen. Kanker

payudara juga berhubungan dengan penggunaan hormon estrogen jangka

panjang.

d. Diet

Sejumlah penelitian memperlihatkan bahwa diet tinggi lemak dapat

meningkatkan resiko terkena kanker payudara, tetapi penelitian lain tidak


8

memperlihatkan hasil tersebut. Karena mengkonsumsi makanan berlemak

tinggi dapat beresiko untuk terkena kanker payudara dan penyakit hati maka

lebih baik apabila membatasi konsumsi makanan berlemak.

e. Alkohol

Beberapa penelitian memperlihatkan adanya hubungan yang bermakna

antara intake alkohol dengan resiko kanker payudara. Data additional dari studi

prospektif menunjukkan dampak intake alkohol yang berhubungan dengan

peningkatan level estrogen (Suddarth dan Brunner, 2003).

2.1.3 Faktor Resiko Kanker Payudara

Faktor resiko yang utama berhubungan dengan keadaan hormonal

(estrogen dominan) dan genetik. Penyebab terjadinya keadaan estrogen

dominan karena beberapa faktor resiko dibawah ini dan dapat digolongkan

berdasarkan :

Hormon dan faktor reproduksi

1. Menarche atau menstruasi pertama pada usia relatif muda (kurang dari 12

tahun). Ketika seorang wanita mengalami menstruasi lebih awal, rentang

waktu antara perkembangan payudara dengan kehamilan cukup bulan

pertama kali biasanya lebih lama dari pada wanita yang menstruasi

kemudian. Selama waktu ini, jaringan payudara immatur, lebih aktif dan

rentan terhadap pengaruh hormon.

2. Menopause atau mati haid pada usia relatif lebih tua (lebih dari 50 tahun)

3. Nulipara/belum pernah melahirkan

4. Melahirkan anak pertama pada usia relatif lebih tua/lebih dari 30 tahun.

Ketika sel paydara dibentuk ketika remaja, sel-sel tersebut immatur dan

sangat aktif hingga kehamilan cukup bulan pertama kali. Sel-sel payudara
9

immatur tersebut sangat berespon terhadap hormon estrogen. Kehamilan

cukup bulan pertama membuat sel-sel payudara menjadi matur dan tumbuh

lebih teratur. Inilah alasan utama mengapa kehamilan membantu

memproteksi kanker payudara. Hamil juga mereduksi jumlah total siklus

menstruasi yang mungkin alasan lain mengapa hamil lebih dini menawarkan

efek protektif.

5. Pemakaian kontrasepsi oral (pil KB) dalam waktu lama (≥ 7 tahun)

Masih terdapat kontroversi sampai saat ini terkait peran kontrasepsi oral

dalam perkembangan kanker payudara. Namun, beberapa studi

menunjukkan bahwa kontrasepsi oral berperan dalam meningkatkan resiko

kanker payudara pada wanita pramenopause, tetapi tidak ada wanita dalam

pasca menopause.

6. Tidak menyusui

Menyusui dapat menurunkan resiko kanker payudara, khususnya jika wanita

menyusui lebih lama dari 1 tahun. Ini kurang menguntungkan untuk wanita

yang menyusui kurang dari satu tahun. Ada beberapa alasan mengapa

menyusui menjaga kesehatan payudara :

Riwayat keluarga

Pada kanker payudara, telah diketahui beberapa gen yang dikenali

mempunyai kecenderungan untuk terjadinya kanker payudara, yaitu gen BRCA1,

BRCA2 dan juga pemeriksaan histopatologi faktor proliferasi “p53 germline

mutation”. Pada masyarakat umum yang tidak dapat memeriksa gen dan faktor

proliferasi, maka riwayat kanker pada keluarga merupakan salah satu faktor

resiko terjadinya penyakit.


10

1. Tiga atau lebih keluarga (saudara ibu klien atau bibi) dari sisi keluarga yang

sama terkena kanker payudara atau ovarium

2. Dua atau lebih keluarga dari sisi yang sama terkena kanker payudara atau

ovarium usia dibawah 40 tahun

3. Adanya keluarga dari sisi yang sama terkena kanker payudara dan ovarium

4. Adanya riwayat kanker payudara bilateral pada keluarga

5. Adanya riwayat kanker payudara pada pria dalam keluarga

Riwayat adanya penyakit tumor jinak

Tumor jinak payudara diklasifikasikan menjadi proliferatif dan non-

proliferatif. Tumor non-proliferatif tidak berhubungan dengan peningkatan resiko

kanker payudara, dimana proliferative disease tanpa atipia memberikan hasil

peningkatan kecil resiko (RR 1,5-2,0). Proliferative disease dengan atypical

hyperplasia menunjukkan peningkatan resiko (RR 2,0-5,0). Dengan mengetahui

faktor resiko yang ada, akan memudahkan kita untuk mengidentifikasi apakah

wanita tersebut tergolong resiko tinggi atau tidak, menintervensi serta

memodifikasi faktor resiko yang ada. (Burstein, 2008).

2.1.4 Patofisiologi Kanker Payudara

Faktor risiko yang sudah dipaparkan tersebut mempengaruhi mutasi gen

dan sel akan berproliferasi secara abnormal.

* BRCA 1

BRCA 1 berperan pada kanker payudara familial. Normalnya, BRCA 1

adalah inhibitor pertumbuhan yang mengontrol proliferasi sel payudara. Jika

gen tersebut mengalami mutasi, maka proliferasi sel tidak terkontrol dan

timbul kanker payudara.

* Gen p53
11

Gen ini merupakan regulator transkripsi, penstabilan genom, berpartisipasi

dalam perbaikan DNA, inhibitor progresi siklus sel dan fasilitator apoptosis

pada sel yang rusak. Mutasi pada gen p53 ini merupakan mutasi yang paling

sering terjadi dalam kanker payudara.

* Reseptor estrogen (ER)

ER merupakan protein sitosol yang terdapat dalam nukleus sel payudara

normal dan pada tumor payudara primer atau metastasisnya. Estrogen

mengatur produksi faktor pertumbuhan dan ekspresi reseptor. Estrogen

diperlukan untuk fungsi sel payudara normal (penurunan estrogen seperti

pada menopause, mengakibatkan apoptosis sel payudara) dan

menyebabkan pematangan dan proliferasi payudara. Pada sel neoplastik,

stimulasi ER menyebabkan over ekspresi produksi faktor pertumbuhan

dan/atau reseptor mengakibatkan proliferasi sel yang tidak terkontrol.

* Faktor pertumbuhan lain

- Faktor pertumbuhan serupa insulin 1 (IGF1) penting untuk pertumbuhan

payudara tetapi juga merupakan mitogen untuk sel kanker dan mendorong

pertumbuhan independen-anchorage. Faktor pertumbuhan serupa insulin 2

(IGF2) meregulasi aktivitas IGF1, reseptor untuk faktor pertumbuhan ini

ditemukan pada tumor Er positif dan menunjukkan peningkatan responsivitas

terhadap terapi endokrin.

- Faktor pertumbuhan epidermal (EGF) menyebabkan peningkatan mitosis

dan resistensi terhadap tamoksifen, mengikat melalui reseptor HER dan

meningkatkan ekspresi HER2/neu (terdapat pada 20% sampai 30% tumor

payudara). Faktor pertumbuhan lainnya termasuk transformasi faktor

pertumbuhan β dan faktor angiogenesis (Brashers, 2007).

-
12

2.1.5 Maifestasi Klinis Kanker Payudara

Massa Tumor

Sebagian terbesar bermanifestasi sebagai massa mamma yang tidak

nyeri, seringkali ditemukan secara tak sengaja. Lokasi massa kebanyakan di

kuadran lateral atas, umumnya lesi soliter, konsistensi agak keras, batas tidak

tegas, permukaan tidak licin, moblitas kurang (pada stadium lanjut dapat

terfiksasi ke dinding toraks). Massa cenderung membesar bertahap, dalam

beberapa bulan bertambah beser secara jelas.

Perubahan Kulit

(1) Tanda lesung : ketika tumor mengenai glandula mamae, ligamen itu

memendek hingga kulit setempat menjadi cekung disebut “tanda lesung”.

(2) Perubahan kulit jeruk : ketika vasa limfatik subkutis tersumbat sel kanker,

hambatan drainase limfe menyebabkan udem kulit, folikel rambut tenggelam

kebawah tampak sebagai tanda kulit jeruk.

(3) Nodul satelit kulit : ketika sel kanker di dalam vasa limfatik subkutis masing-

masing membentuk nodul metastasis, disekitar lesi primer dapat muncul

banyak nodul tersebar, secara klinis disebut “tanda satelit”

(4) Invasi, ulserasi kulit : ketika tumor menginvasi kulit, tampak perubahan

berwarna merah atau merah gelap. Bila tumor terus bertambah besar, lokasi

itu dapat menjadi iskemik, ulserasi membentuk bunga terbaik, ini disebut

“tanda kembang kol”.

Perubahan inflamatorik : secara klinis disebut “karsinoma mamae inflamatorik”.

Tampil sebagai keseluruhan kulit mamae berwarna merah bengkak, mirip

peradangan dapat disebut “tanda peradangan”. Tipe ini sering ditemukan pada

kanker mamae waktu hamil atau laktasi (Zager,2008).


13

2.1.6 Penyebaran Kanker Payudara

Pada kanker payudara terjad penyebaran melalui saluran limf dan darah.

Metastasis ke kelenjar getah bening ditemukan pada sekitar 40% kanker yang

bermanifestasi sebagai massa yang dapat dipalpasi, tetapi kurang dari 15%

kasus yang ditemukan dengan mamografi. Lesi yang terletak ditengah atau

kuadran luar biasanya mula-mula menyebar ke kelenjar aksila. kanker yang

terletak dikuadran dalam sering mengenai kelenjar getah bening disepanjang

arteria mamaria interna. Kelenjar supraklavikula kadang-kadang menjadi tempat

utama penyebaran, tetapi kelenjar ini baru terkena hanya setelah kelenjar aksilari

dan mamaria interna terkena. Akhirnya ,terjadi penyebaran ke tempat yang lebh

distal,dengan kelainan metastatik di hampir semua organ atau jaringan ditubuh.

Lokasi yang disukai adalah paru, tulang, hati, dan kelenjar serta orak, limpa, dan

hipofisis. (Robbins, S. 2007)

2.1.7 Penentuan Stadium Kanker Payudara

Faktor prognostik terpenting untuk kanker payudara adalah ukuran tumor

primer, metastasis ke kelenjar getah bening, dan adanya lesi di tempat jauh.

Faktor prognosis lokal yang buruk adalah invasi ke dinding dada, ulserasi kulit,

dan gambaran klinis karsinoma perasangan. Gambaran ini digunakan untuk

mengklasifikasikan perempuan kedalam kelompok prognostik demi kepentingan

pengobatan, konseling, dan uji klinis. Sistem penentuan stadium yang tersering

digunakan telah dirancang oleh American Joint Committee on Cancer Staging

dan International Union Against Cancer. Harapan hidup 5 tahun untuk

perempuan berkisar dari 92% untuk penyakit stadium 0 hingga 13% untuk

penyakit stadiun IV.

American Joint Committee on Cancer Staging of Breast Carsinoma


14

Stadium 0 DCIS (termasuk penyakit paget pada puting payudara) dan LCIS

Stadium I Karsinoma invasif dengan ukuran 2cm atau kurang serta kelenjar

getah bening negatif

Stadium IIA Karsinoma invasif dengan ukuran 2cm atau kurang disertai

metastasis ke kelenjar getah bening atau karsinoma invasif lebih dari

2cm tetapi kurang dari 5cm dengan kelenjar getah bening negatif

Stadium IIB Karsinoma invasif berukuran garis tengah lebih dari 2 cm ,tetapi

kurang dari 5cm dengan kelenjar getah bening positif atau karsinoma

invasif berukuran lebih dari 5cm tanpa keterlibatan kelenjar getah

bening

Stadium IIIA Karsinoma invasif ukuran berapa pun dengan getah bening

terfiksasi (yaitu invasi ekstranodus yang meluas diantara kelenjar

getah bening atau menginvasi ke dalam struktur lain) atau karsinoma

berukuran garis tengah lebih dari 5cm dengan metastasis kelenjar

getahbening nonfiksasi

Stadium IIIB Karsinoma inflamasi, karsinoma yang menginvasi dinding dada,

karsinoma yang menginvasi kulit,karsinoma yang meninvasi nodus

kulit satelit, atau setiap karsinoma dengan metastasis ke kelenjar

getah bening mamaria interna ipsilateral

Stadium IV Metastasis ke tempat jauh (Robbins,S.2007).

2.1.8 Pencegahan Kanker Payudara

Kanker payudara dapat menyebar secara signifikan dan sering menimbulkan

gejala yang berarti. Pada saat terdiagnosis sebagai kanker payudara, 5-15%
15

pasien telah terjadi metastasis dan hampir 40% telah terjadi penyebaran secara

regional. Karena pengobatan terkadang tidak memberikan hasil yang baik atau

terlambat dalam memberkan terapinya, maka pencegahan merupakan langkah

yang diperlukan. Pencegahan yang aman dan efektif lebih dipilih daripada

menjalani terapi dengan menggunakan radiasi dari agen sitotoksik yang

meskipun efektif menumbulkan berbagai efek samping. (Kemenkes, 2010)

2.1.8.1 Pencegahan Primer

Menurut Kemenkes, 2010 penegahan kanker payudara dapat dilakukan dengan :

 Promosi dan edukasi pola hidup sehat

 Menghindari faktor resiko (riwayat keluarga, tidak punya anak, tidak menyusui,

riwayat tumor jinak sebelumnya, obesitas, kebiasaan makan tinggi lemak,

krang serat, perokok aktif dan pasif, pemakaian obat hormonal >5 tahun)

2.1.8.2 Pencegahan Sekunder

 SADARI

 Pemeriksaan Klinis Payudara (CBE/Clinical Breast Examination) untuk

menemukan ukuran benjolan kurang dari 1cm

 USG untuk mengetahui batas-batas tumor dan jenis tumor

 Mammografi, menemukan adanya kelainan sebelum adanya gejala tumor dan

adanya keganasan

2.1.8.3 Pencegahan Tersier

 Diagnosis dan Terapi

Diagnosis kanker payudara membutuhkan kombinasi antara kajian klinis dan

investigasi diagnostik. Sekali diagnosis ditegakkan harus dapat ditentukan

stadiumnya agar dapat mengevaluasi besaran penyakit dan melakukan


16

terapi yang tepat. Tujuan dari pengobatan adalah

menyembuhkan, ,meperpanjang harapan hidup, dan meningkatkan kualitas

hidup. Prioritas pengobatan harus ditunjukkan pada kanker dengan stadium

awal dan yang lebih berpotensial untuk sembuh. Standar pengobatan kanker

meliputi : operasi, radiasi, kemoterapi, dan hormonal yang disesuaikan

dengan indikasi patologi. Pengobatan harus terpadu meliputi psikososial,

rehabilitasi dan terkoordinasi dengan pelayanan paliatif untuk memastikan

peningkatan kualitas hidup pasien kanker.

 Pelayanan Paliatif

Hampir diseluruh dunia pasien kanker terdiagnosis dalam stadium lanjut dan

pengobatan harus terpadu termasuk pendekatan psikososial, rehablitas, dan

terkoordinasi dengan pelayanan paliatif untuk memastikan peningkatan

kualitas hidup pasien kanker. Untuk kasus seperti ini pengobatan yang

realistis adalah mengurangi nyeri dengan pelayanan paliatif. Diyakini,

pelayananpaliatif yang baik dapat meningkatkan kualitas hidup pasien

kanker payudara (Kemenkes, 2010).

2.1.9 Deteksi Dini

Upaya deteksi dini kanker adalah usaha untuk menemukan adanya

kanker yang masih dapat disembuhkan, yaitu kanker yang belum lama tumbuh,

masih kecil, masih lokal, belum menimbulkan kerusakan berarti, pada golongan

masyarakat tertentu dan waktu tertentu. Upaya ini sangat penting, sebab apabila

kanker payudara dapat dideteksi pada stadium dini dan diterapi secara tepat

maka tingkat kesembuhan yang cukup tinggi (80-90%) (Sukardja, 2000).

Penapisan pada negara maju seperti Amerika, Inggris, dan Belanda

dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan ultrasonografi dan mamografi,


17

karena sumber daya di Negara-negara itu cukup memadai untuk melakukan

program tersebut, sedangkan di negara berkembang seperti Indonesia,

penapisam secara masal dengan USG dan mammografi belum memungkinkan

untuk dilakukan. Oleh karena itu pemeriksaan klinis payudara oleh tenaga

kesehatan terlatih yang diikuti dengan promosi dan edukasi tentang pengobatan

yang baik kepada masyarakat (bahwa kanker payudara apabila ditemukan pada

stadium awal dan dilakukan operasi akan meningkatkan kemungkinan untuk

sembug dan waktu untuk bertahan hidup lebih lama) sehingga pada akhirnya

akan meningkatkan pencapaian tujuan dari penapisan yaitu menurunkan angka

kematian dan meningkatkan kualitas hidup penderita kanker payudara.

Selain penapisan, penemuan dini merupakan strategi lain yang penting

untuk menemukan kanker stadium dini. Penemuan dini dimulai dengan

peningkatan kesadaran masyarakat tentang perubahan bentuk atau adanya

kelainan di payudara mereka sendiri, dengan cara memasyarakatkan program

SADARI bagi semua permpuan dimulai sejak usai subur, sejak 85% kelainan di

payudara justru pertama kali dikenali oleh penderita bila tidak dilakukan

penapisan.

SADARI sebaiknya dilakukan setiap kali selesai menstruasi (hari ke-7

sampai ke-10 terhitung hari pertama haid). Pemeriksaan dilakukan setiap bulan

sejak umur 20 tahun. Sensitivitas pemeriksaan ini adalah 20-30%. Sensitivitas

juga dipengaruhi oleh cara melakukan SADARI dan variasi berdasarkan ukuran,

lokasi, bentuk, komposisi dari massa yang terpalpasi, akan tetapi lebih

tergantung kepada ukuran dan tipe tumor.


18

Menurut rekomendasi American Cancer Society penapisan pada kanker

payudara yang dilakukan oleh petugas kesehatan dapat dilakukan dengan

berbagai cara:

a. Pemeriksaan Klinis Payudara oleh Tenaga Medis Terlatih (Clinical Breast

Examination)

Pada perempuan sejak pertama mengalami haid dianjurkan melaksanakan

SADARI,sedangkan umur 20-30 tahun dianjurkan CBE dilakukan setiap tiga

tahun sekali. Untuk perempuan yang mendapatkan kelainan pada saat

SADARI dianjurkan dilaksanakan CBE sehingga dapat lebih dipastikan

apakah ada kemungkinan keganasan.

b. Pemeriksaan Ultrasonography (USG)

1. Apabila pada pemeriksaan CBE terdapat benjolan dibutuhkan pemeriksaan

lanjutan dengan USG maupun mammografi.

2. USG dilakukan terutama untuk membuktikan adanya massa kristik dan

solid/padat yang mengarah pada keganasan, dan pada perempuan di bawah

usia 40 tahun.

c. Pemeriksaan Penapisan Mammografi

Dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan berkala, setiap satu tahun sekali

pada perempuan diatas 40 tahun.

Dilakukan pada perempuan yang bergejala maupun pada perempuan yang tidak

bergejala (opportunistic screening dan organized screening) (Sukardija, 2010).

2.2 Kontrasepsi

2.2.1 Definisi kontrasepsi

Istilah kontrasepsi berasal dari kata kontra dan konsepsi. Kontra berarti

“melawan” atau “mencegah”, sedangkan konsepsi adalah pertemuan antara sel


19

telur yang matang dengan sperma yang mengakibatkan kehamilan. Maksud dari

kontrasepsi adalah menghindari/mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat

adanya pertemuan antara sel telur dengan sel sperma. Untuk itu, berdasarkan

maksud dan tujuan kontrasepsi, maka yang membutuhkan kontrasepsi adalah

pasangan yang akti melakukan hubungan seks dan kedua-duanya memiliki

kesubuan normal namun tidak menghendaki kehamilan (Suratun, 2008).

2.2.2 Macam Metode Kontrasepsi

Menurut Hartanto (2004), macam-macam metode kontrasepsi yaitu :

Metode Sederhana

1. Tanpa Alat

a. Kontrasepsi Alamiah (Natural Family Planning, Fertility Awareness

Methods, Periodik Abstinens) : metode kalender, metode suhu basal,

metode lendir serviks, metode simpto-termal.

b. Coitus interruptus

2. Dengan Alat

a. Mekanis (Barrier) : kondom pria, barier intra-vagina (diagfragma, kap

serviks, spons, kondom perempuan)

b. Kimiawi : spermiisid (vagina cream, vagina foam, vagina tablet)

Metode Modern (Efektif)

1. Kontrasepsi Hormonal

a. Per-oral (pil oral kombinasi (POK), mini-pil, morning-after pil)

b. Injeksi/Suntikan (DMPA = Depo medroxyprogesteron asetat), NET,

EN (noretindron enantat), Cyclofem)

c. Sub-kutis : implat (Alat kontrasepsi bawah kulit.AKBK) :


20

- Implant non-biodegradable (Norplant, Norplant-2, ST-1435,

Implanon).

- Implant biodegradable (Capronor, Pellets)

2. Intra Uterine Device (IUD)

a. Inert, dibuat dari plastik (Lippes Loop) atau bja antikarat (The Chinese

ring)

b. Mengandung tembaga, termasuk di sini Tcu 200C, Mltiload (MLCu

250 dan 375) dan Nova T

c. Mengandung hormon steroid seperti Progestasert yang mengandung

progesteron dan Levonova yang mengandung levonorgestravel

3. Kontrasepsi Mantap

a. Pada perempuan : MOW (Medis Operatif Wanita) atau Tubektomi

b. Pada laki-laki : MOP (Medis Operatif Pria) atau Vasektomi

2.2.3 Cara Kerja Alat Kontrasepsi Hormonal

Manuba 2001, membagi cara kerja alat kontasepsi hormonal menurut hormon

yang terkandung didalamnya yaitu :

1. Mengandung Estrogen

a. Menghalangi pengeluaran GnRh (Gonadotropin Relazing Hormon)

b. Menekan reaksi hipofisis terhadap GnRh

c. Menekan pengeluaran FSH (Folikel Stimulazing Hormon)

2. Mengandung Progesteron

a. Mencegah ovulasi

b. Mengentalkan lendir serviks sehingga menurunkan kemampuan

penetrasi spermatozoa

c. Menghambat transportasi gamet oleh tuba


21

3. Mengandung kombinasi estrogen dan progesteron

a. Menekan ovulasi dan menghambat transportasi gamet oleh tuba

b. Membuat lendir serviks menjadi kental sehingga penetrasi sperma

terganggu

c. Perubahan padaendometrium sehingga implantasi terganggu

2.2.4 Pengaruh Kontrasepsi Terhadap Pertumbuhan Kanker Payudara

Sel-sel lemak dipayudara cenderung akan menghasilkan enzim

aromatase dalam jumlah besar, yang akan meningkatkan kadar estrogen

lokal yang berperan memicu sel kanker payudara. Ketika ada

peningkatan enzim aromatase akan meningkatkan ER dan BRCa yang

menyebabkan mutasi gen DNA (Robbins,S. 2007)

2.3 Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI)

2.3.1 Pengertian SADARI

Deteksi dini dilakukan dengan melakukan “pemeriksaan payudara sendiri”

atau yang dikenal dengan istilah SADARI. Ini adalah pemeriksaan yang mudah

dilakukan oleh setiap wanita untuk mencari benjolan atau kelainan lainnya.

Dengan posisi tegak menghadap kaca dan berbaring, dilakukan pengamatan dan

perabaan payudara secara sistematis. Pemeriksaan SADARI dilakukan secara

rutin setelah haid, sekitar 1 minggu setelah haid. Bila sudah menopause,

dilakukan pada tanggal tertentu setiap bulannya (Purwoastuti, E. 2008).

Kanker payudara masih mempunyai kemungkinan besar untuk

disembuhkan kalau ditemukan ketika masih pada tahap awal atau dini. Dengan

demikian, penemuan kanker payudara sejak dini sangatlah penting untuk sebuah

kesembuhan. Tujuan utama deteksi dini kanker payudara adalah untuk

menemukan kanker stadium dini sehingga pengobatannya menjadi lebih baik.


22

Ternyata 75-85% keganasan kanker payudara ditemukan pada saat dilakukan

pemeriksaan payudara sendiri (Purwoastuti, 2008).

2.3.2 Tujuan SADARI

Tujuan dilakukannya skrining kanker payudara adalah untuk deteksi dini.

Wanita yang melakukan SADARI menunjukkan prognosis yang baik. SADARI

hanya untuk mendeteksi dini adanya ketidak normalan pada payudara, tidak

untuk mencegah kanker payudara. Sebagian wanita berfikir untuk apa

melakukan SADARI, apalagi yang masih berusia dibawah 30 tahun., kebanyakan

beranggapan bahwa kasus kanker payudara jarang ditemukan pada usia

dibawah 30 tahun. Dengan melakukan SADARI sejak dini akan membantu

deteksi kanker payudara pada stadium dini sehingga kesempatan untuk sembuh

lebih besar (Otto,S. 2005).

Mayo Fundation for Medical Education and Researc (2005)

mengemukakan bahwa beberapa penelitian memang menunjukkan SADARI

tidak menurunkan angka kematian akibat kanker payudara, namun kombinasi

antara SADARI dan mamografi masih dibutuhkan untuk menurunkan resiko

kematian akibat kanker payudara. Kearney dan Murray (2006) mengemukakan

bahwa keunggulan SADARI adalah dapat menemukan tumor/benjolan payudara

pada saat stadium awal,, penemuan awal benjolan dipakai sebagai rujukan

melakukan mamografi untuk mendeteksi interval kanker, mendeteksi benjolan

yang tidak terlihat saat melakukan mamografi dan menurunkan kematian akibat

kanker payudara.

2.3.3 Waktu Melakukan SADARI

1. Pemeriksaan payudara sendiri dapat digunakan pada wanita sejak usia 20

tahun yaitu dapat dilakukan secara teratur sebulan sekali selama 10 menit.
23

2. Pemeriksaan payudara sendiri pada wanita yang berumur ≥ 20 tahun dapat di

lakukan setiap tiga bulan sekali.

3. Pemeriksaan payudara sendiri sebaiknya dilakukan setelah menstruasi

selesai (Diananda, 2009).

2.3.4 Cara Melakukan SADARI

. Berdiri di depan cermin, tanpa busana, lalu perhatikan payudara dengan teliti,

kedua tangan lurus kebawah. Perhatikan, apakah ada kelainan atau

perubahan bentuk pada kedua payudara atau puting. Amati dengan teliti,

perhatikan adanya tanda seperti : perubahan warna kulit, tarikan pada kulit,

perubahan puting susu, seperti : menjadi rata dengan sekitarnya, tertarik ke

dalam, mengeluarkan cairan (Purwoastuti,E. 2008)

2. Kedua tangan diangkat ke atas kepala, perhatikan, apalah ada kelainan pada

kedua payudara atau puting seperti yang telah dijelaskan diatas.

Menurut Mardiana, 2009, ada dua cara pemeriksaan payudara yang dilakukan

sendiri :

Posisi Berdiri

1. Pada tahap awal, lepas semua pakain atas lalu berdiri didepan cermin

dengan posisi kedua tangan lurus ke bawah. Perhatikan seluruh bagian

kedua payudara dengan seksama.

2. Pastikan ada tidaknya perubahan yang tampak, baik bentuk maupun ukuran

payudara. Hanya wanita bersangkutan yang lebih memahami jika ada

perubahan bentuk maupun ukuran pada payudaranya.


24

3. Angkat kedua tangan keatas hingga lurus. Perhatikan kembali seluruh

bagian payudara. Pastikan ada tidaknya perubahan yang tampak seperti

adanya tarikan disekitar payudara atau adanya kerutan di kulit payudara.

4. Pada kondisi berdiri sempurna dengan tangan lurus di samping badan, pijat

atau tekan secara perlahan-lahan payudara sebelah kiri tepat disekitar

puting susu dengan tangan kanan, sedangkan payudara sebelah kanan

dengan tangan kiri. Pastikan ada tidaknya cairan (bukan air susu) yang

keluar dari puting susu.

Posisi Berbaring

1. letakkan bantal di bawah bahu atau di bawah punggung untuk mempermudah

pemeriksaan

2. letakkan tangan kanan di bawah kepala dan tangan kiri meraba sambil

menekan perlahan-lahan payudara sebelah kanan. Begitu pula sebaliknya,

letakkan tangan kiri dibawah kepala dan periksa payudara sebelah kiri dengan

tangan kanan

3. lakukan perabaan dengan gerakan memutar disertai tekanan secara

perlahan-lahan. Gunakan tiga ujung jari telunjuk, jari tengah dan jari manis

untuk meraba (Mardiana, 2009).

2.3.5 Hasil Pemeriksaan SADARI

Melihat sendiri perubahan payudara

1. Terjadi pigmentasi kulit payudara (perubahan warna, bertambah hitam

atau menjadi putih)

2. Perubahan letak puting susu (retraksi puting susu)

3. Perubahan kulit payudara menjadi keriput

4. Puting susu mengeluarkan cairan darah


25

5. Pergerakan payudara terbatas, artinya saat menggerakkan tangan

payudara tidak ikut bergerak

6. Terdapat luka atau ulkus pada payudara

b. Terdapat benjolan

Meraba payudara untuk mengetahui benjolan adalah sebagai berikut:

1. Dibagian mana terdapat benjolan

2. Berapa jumlah benjolan

3. Bagaimana bentuk benjolam lunak atau keras

4. Berapa kira-kira ukurannya

5. Bagaimana pergerakan benjolan dengan sekitarnya

6. Saat meraba apakah terasa nyeri

2.4 Pengetahuan

2.4.1 Definisi Pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil dari tahu yang melalui proses sensoris

khususnya mata dan telinga terhadap objek tertentu. Pengetahuan merupakan

domain yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku terbuka (overt behavior).

Perilaku yang didasari pengetahuan umumnya bersifat langgeng. Pengetahuan

merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang.

Pengetahuan diperlukan sebagai dukungan dalam menumbuhkan rasa percaya

diri maupun sikap dan perilaku setiap hari, sehingga dapat dikatakan bahwa

pengetahuan merupakan fakta yang mendukung tindakan seseorang.

Pengetahuan merupakan hasil dari proses mencari tahu dari yang tadinya tidak

tahu menjadi tahu, dari tidak dapat menjadi dapat. Dalam proses mencari tahu ini

mencakup berbagai metode dan konsep-konsep, baik melalui proses pendidikan

maupun melalui pengalaman (Notoatmodjo,2003).


26

2.4.2 Tingkat Pengetahuan

Pengetahuan terhadap objek pada diri seseorang memiliki intensitas atau

tingkat yang berbeda. Menurut Notoatmodjo (2003) membagi 6 tingkat

pengetahuan. Ada 6 tingkat pengetahuan yang di capai dalam domain kognitif

yaitu :

1) Tahu ( Know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari

sebelumnya. Pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali terhadap suatu

yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah

diterima. Oleh sebab itu, ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.

Untuk mengukur bahwa seseorang, tahu tentang apa yang dipelajari antara lain

menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya.

2) Memahami (Comperhenson)

Memahami diartikan sebagai kemampuan menjelaskan secara benar tentang

objek yang diketahui dan dapat mengintepretasikan materi tersebut secara benar.

Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan,

menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap

objek yang dipelajari.

3) Aplikasi (Application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah

dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya (real). Aplikasi disini dapat

diartikan sebagai penggunaan hukum-hukum, rumus, prinsip dan sebagainya

dalam konteks lain.


27

4) Analisis (Analysis)

Analisis merupakan tahap dimana seseorang telah dapat menjabarkan masing-

masing materi, tetapi masih memiliki kaitan satu sama lain. Dalam menganalisis,

seseorang bisa membedakan atau mengelompokkan materi berdasarkan kriteria

yang sudah di tentukan. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan

kata-kata kerja seperti dapat menggambarkan (membuat bagab), membedakan,

memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.

5) Sintesis (Synthesis)

Sintesis menunjukkan pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau

menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru

atau dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun

formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat menyusun, dapat merencanakan

dan dapat meringkas, dapat menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori

atau rumusan-rumusan yang telah ada.

6) Evaluasi (Evaluation)

Tingkatan pengetahuan yang paling tinggi adalah evaluasi. Dari hasil

pembelajaran yang sudah dilakukan, seseorang dapat mengevaluasi seberapa

efektifnya pembelajaran yang sudah ia lakukan. Dari hasil evaluasi ini dapat

dinilai dan dijadikan acuan untuk meningkatkan strategi pembelajaran baru yang

lebih efektif lagi.

2.4.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2007), faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan

antara lain :
28

a. Pendidikan

Pendidikan adalah suatu usaha yang berlangsung seumur hidup untuk

mengembangkan kemampuan dan kepribadian baik di dalam dan diluar sekolah.

Pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin tinggi pendidikan seseorang

makin mudah orang tersebut untuk menerima informasi. Pengetahuan yang

didapat tentang kesehatan akan semakin banyak apabila semakin banyak juga

informasi yang masuk.

b. Informasi/media massa

Informasi yang diperoleh dapat menghasilkan perubahan atau peningkatan

pengetahuan baik itu informasi dari pendidikan formal maupun non formal karena

informasi tersebut dapat memberikan pengaruh jangka pendek (immediate

impact). Seiring kemajuan teknologi, akan tercipta bermacam-macam media

massa yang dapat mempengaruhi pengetahuan masyarakat tentang inovasi baru.

c. Sosial budaya dan ekonomi

Kebiasaan dan tradisi tanpa melalui penalaran apakah yang dilakukan oleh

orang-orang adalah hal yang baik atau buruk. Walaupun tidak melakukan

apapun, dengan demikian seseorang akan bertambah pengetahuannya.

Tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu juga

ditentukan oleh status ekonomi seseorang, sehingga status sosial ekonomi ini

akan mempengaruhi pengetahuan seseorang.

d. Lingkungan

Segala sesuatu yang ada di sekitar individu disebut sebagai lingkungan, baik

itu lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh terhadap

proses masuknya pengetahuan ke dalam individu yang berada dalam lingkungan

tersebut.
29

e. Pengalaman

Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara untuk

memperoleh kebenaran pengetahuan dalam memecahkan masalah yang

dihadapi masa lalu dengan cara mengulang kembali pengetahuan yang

diperoleh.

f. Umur

Umur dapat berpengaruh terhadap daya tangkap dan pola pikir seseorang.

Pengetahuan yang diperoleh seseorang akan semakin membaik apabila semakin

bertambah umur dikarenakan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola

pikirnya. Tetapi menurut Budiman dan Riyanto (2013) tidak bisa untuk

mengajarkan kepandaian kepada orang yang sudah tua. Semakin bertambahnya

usia maka seseorang akan mengalami kemunduran baik dalam segi fisik maupun

mental. Menurut berbagai teori juga menjelaskan bahwa IQ seseorang akan

semakin menurun seiring berjalannya usia.

2.4.4 Cara Memperoleh Pengetahuan

Beberapa cara untuk memperoleh pengetahuan yaitu (Notoatmodjo, 2010) :

a. Cara Coba-Salah (Trial and Error)

Cara coba-coba ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam

memecahkan masalah. Apabila kemungkinan pertama yang dicoba gagal,

maka dapat dilanjutkan dengan kemungkinan yang kedua. Jika kemungkinan

yang kedua juga gagal, maka dicoba dengan kemungkinan ketiga dan begitu

seterusnya hingga tidak terjadi kegagalan dan masalah dapat terpecahkan.

Karena hal tersebut maka cara ini disebut metode trial (coba) and error

(gagal atau salah) atau metode coba salah coba-coba.


30

b. Secara kebetulan

Penemuan kebenaran secara kebetulan terjadi karena tidak disengaja oleh

orang yang bersangkutan.

c. Cara kekuasaan atau Otoritas

Banyak kebiasaan-kebiasaan dan tradisi-tradisi yang dilakukan oleh orang

dalam kehidupan manusia sehari-hari tanpa melalui penalaran, apakah yang

dilakukan tersebut baik atau tidak. Kebiasaan-kebiasaan ini biasanya

diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi berikutnya.

d. Berdasarkan Pengalaman Pribadi

Pengalaman merupakan sumber pengetahuan, atau pengalaman itu

merupakan suatu cara untuk memperoleh pengetahuan.

e. Cara akal sehat

Akal sehat atau common sense kadang-kadang dapat menemukan teori atau

kebenaran. Sebelum ilmu pendidikan ini berkembang, para orang tua zaman

dahulu agar anaknyaa mau menuruti nasehat orang tuanya, atau agar anak

disiplin menggunakan cara hukuman fisik bila anaknya berbuat salah,

misalnya dijewer telinganya atau dicubit. Ternyata cara menghukum anak ini

sampai sekarang berkembang menjadi teori kebenaran bahwa hukuman

merupakan metode (meskipun bukan yang paling baik) bagi pendidikan anak.

f. Kebenaran melalui wahyu

Ajaran dan dogma agama adalah suatu kebenaran yang diwahyukan dari

Tuhan melalui para Nabi. Kebenaran ini harus diterima dan diyakini oleh

pengikut-pengikut agama yang bersangkutan.

g. Kebenaran secara intuitif

Kebenaran secara intuitif diperoleh manusia secara cepat sekali melalui

proses diluar kesadaran dan tanpa melalui proses penalaran atau berpikir.
31

Kebenaran yang diperoleh melalui intuitif sukar dipercaya karena kebenaran

ini tidak menggunakan cara-cara yang rasional dan yang sistematis.

h. Melalui Jalan Pikiran

Sejalan dengan perkembangan umat manusia, cara berpikir manusia pun

ikut berkembang. Manusia telah mampu menggunakan penalarannya dalam

memperoleh pengetahuannya. Dengan kata lain, dalam memperoleh

kebenaran pengetahuan manusia telah menggunakan jalan pikirannya, baik

melalui induksi maupun deduksi.

i. Induksi

Induksi adalah proses penarikan kesimpulan yang dimulai dari pernyataan-

pernyataan khusus ke pernyataan yang bersifat umum. Pembuatan

kesimpulan dalam berfikir induksi berdasar pada pengalaman empiris yang

ditangkap oleh indra.

j. Deduksi

Deduksi adalah pembuatan kesimpulan dari pernyataan umum ke khusus.

Silogisme yaitu suatu bentuk deduksi yang memungkinkan seseorang untuk

dapat mencapai kesimpulan yang lebih baik.

2.4.5 Pengukuran Pengetahuan

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau

angket yang menanyakan tentang isi materi yang diukur dari subjek penelitian

atau responden (Budiman & Riyanto, 2013).

Menurut Arikunto (2006) dalam Budiman dan Riyanto (2013), kategori

tingkat pengetahuan seseorang menjadi tiga tingkatan yang didasarkan pada

nilai presentasi yaitu sebagai berikut :

1. Tingkat pengetahuan kategori Baik jika nilainya ≥ 75%


32

2. Tingkat pengetahuan kategori Cukup jika nilainya 56-74%

3. Tingkat pengetahuan kategori Kurang jika nilainya 40-55%

4. Tingkat pengetahuan kategori Tidak Baik jika nilainya < 40%

2.5 Sikap

2.5.1 Definisi Sikap

Sikap adalah reaksi yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu

stimulus, kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan

pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan, akan tetapi

merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Penentuan sikap dari

pengetahuan berfikir, keyakinan, dan emosi memegang peran penting (Fitriani,

2011)

Menurut Secord dan Backman dalam Azwar (2012) “sikap adalah

keteraturan tertentu dalam hal perasaan (afeksi), pemikiran (kognitif), dan

predisposisi tindakan (konasi) seseorang terhadap suatu aspek di lingkungan

sekitarnya”.

2.5.2 Faktor yang Mempengaruhi Sikap

Menurut Azwar (2012), faktor-faktor yang mempengaruhi sikap terhadap objek

sikap yaitu :

a. Pengalaman pribadi

Pengalaman pribadi haruslah meninggalkan kesan yang kuat untuk dapat

menjadi dasar pembentukan sikap. Karena itu, sikap akan lebih mudal terbentuk

apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor

emosional.
33

b. Pengaruh orang lain yang dianggap penting

Individu pada umumnya cenderung untuk memiliki sikap yang konformis atau

searah dengan sikap orang yang dianggap penting. Kecenderungan ini antara

lain dimotivasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan keinginan untuk menghindari

konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut.

c. Pengaruh kebudayaan

Tanpa disadari kebudayaan telah menanamkan garis pengaruh sikap kita

terhadap berbagai masalah. Kebudayaan telah mewarnai sikap anggota

masyarakatnya, karena kebudayaanlah yang memberi corak pengalaman

individu-individu masyarakat asuhannya.

d. Media massa

Berita yang seharusnya faktual dalam pemberitaan surat kabat maupun

radio atau media komunikasi yang lainnya, disampaikan secara objektif

cenderung dipengaruhi oleh sikap penulisnya, akibatnya berpengaruh terhadap

sikap konsumennya.

e. Lembaga pendidikan dan lembaga agama

Konsep moral dan ajaran dari lembaga pendidikan dan lembaga agama tidak

mengherankan sangat menentukan sistem kepercayaan jika pada konsep

tersebut mempengaruhi sikap.

f. Faktor emosional

Terkadang suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari emosi

yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk

mekanisme pertahanan ego Azwar (2012).

2.5.3 Komponen Sikap

Struktur sikap dibedakan atas 3 komponen yang saling menunjang, yaitu (Azwar,

2012) :
34

a. Komponen kognitif merupakan representasi apa yang dipercayai oleh

individu pemilik sikap, komponen kognitif berisi kepercayaan stereotype yang

dimiliki individu mengenai sesuatu dapat disamarkan penanganan (opini)

terutama apabila menyangkut masalah isu atau problem yang kontroversial.

b. Komponen afektif merupakan perasaan yang menyangkut aspek emosional.

Aspek emosional inilah yang biasanya berakar paling dalam sebagai

komponen sikap dan merupakan aspek yang paling bertahan terhadap

pengaruh-pengaruh yang mungkin adalah mengubah sikap seseorang

komponen afektif disamakan dengan perasaan yang dimiliki seseorang

terhadap sesuatu.

c. Komponen konatif merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu

sesuai dengan sikap yang dimiliki oleh seseorang. Dan berisi tedensi atau

kecenderungan untuk bertindak/beraksi terhadap sesuatu dengan cara-cara

tertentu dan berkaitan dengan objek yang dihadapinya adalah logis untuk

mengharapkan bahwa sikap seseorang adalah dicerminkan dalam bentuk

tendensi perilaku.

2.5.4 Ciri-Ciri Sikap

Ciri-ciri menurut Heri Purwanto (1998) :

a. Sikap bukan dibawa sejak lahir melahirkan dibentuk atau dipelajari

sepanjang perkembangan itu dalam hubungan dengan obyeknya. Sifat ini

membedakannya dengan sifat motif-motif biogenesis seperti lapar, haus,

kebutuhan akan istirahat.

b. Sikap dapat berubah-ubah karena itu sikap dapat dipelajari dan sikap dapat

berubah pada orang-orang bila terdapat keadaan-keadaan dan syarat-syarat

tertentu yang mempermudah sikap pada orang itu.


35

c. Sikap tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa mempunyai hubungan tertentu

terhadap suatu objek dengan kata lain, sikap itu terbentuk, dipelajari atau

berubah senantiasa berkenaan dengan suatu objek tertentu yang dapat

dirumuskan dengan jelas.

d. Objek sikap itu merupakan suatu hal tertentu tetapi dapat juga merupakan

kumpulan dari hal-hal tersebut.

e. Sikap mempunyai segi-segi motivasi dan segi-segi perasaan, sifat alamiah

yang membedakan sikap dan kecakapan-kecakapan atau pengetahuan-

pengetahuan yang dimiliki orang.

2.5.5 Tingkatan Sikap

Menurut Fitriani (2011), tingkatan sikap dibagi menjadi :

a. Menerima (receiving) : seseorang mau dan memperhatikan rangsangan

yang diberikan.

b. Merespon (responding) : memberi jawaban apabila ditanya, menyelesaikan

tugas yang diberikan sebagai tanda seseorang menerima ide tersebut.

c. Menghargai (valuing) : tingkatan selanjutnya dari sikap adalah menghargai.

Menghargai berarti seseorang dapat menerima ide dari orang lain yang

mungkin saja berbeda dengan idenya sendiri, kemudian dari dua ide yang

berbeda tersebut didiskusikan bersama antara kedua orang yang

mengajukan ide tersebut.

d. Bertanggung jawab (responsible) : mampu mempertanggungjawabkan

sesuatu yang telah dipilih merupakan tingkatan sikap tertinggi.

2.5.6 Penilaian Sikap

Menurut Ahmadi (1990) dalam Azwar (2007), penilaian sikap dibedakan atas :
36

a. Sikap positif / favorable

Sikap yang menunjukkan atau memperlihatkan menerim, mengakui,

menyetujui, serta melaksanakan suatu aturan yang berlaku dimana

seseorang itu berada. Seseorang memiliki sikap positif terhadap suatu objek,

maka akan siap membantu, memperhatikan, berbuat sesuatu yang

menguntungkan bagi objek tersebut.

b. Sikap negatif / unfavorable

Sikap yang menunjukkan atau memperlihatkan penolakan atau tidak

menyetujui, serta tidak melaksanakan suatu aturan yang berlaku dimana

seseorang itu berada. Seseorang memiliki sifatnegatif terhadap suatu objek,

maka akan timbul suatu kecenderungan untuk mengecam, mencela,

menyerang, bahkan tidak akan mengindahkan objek tersebut.

2.5.7 Proses Terbentuknya Sikap

Proses pembentukan sikap Baron (2003) terjadi dengan sistem adopsi

dari orang lain yakni melalui satu proses yang disebut proses pembelajaran

sosial. Dalam proses inipun dilalui dalam beberapa proses lainnya antara lain :

a. Classical conditoning

Classical conditioning adalah bentuk dasar dari pembelajaran dimana satu

stimulus, yang awalnya netral menjadi memiliki kapasitas untuk membangun

reaksi melalui rangsangan yang berulang kali dengan stimulus lain. Stimulus

berarti menjadi sebuah tanda bagi kehadiran stimulus lainnya (Baron,2003).

Contoh dalam proses ini misalnya pada seorang anak yang awalnya biasa

saja menyaksikan ibunya bersikap marah terhadap suku bangsa tertentu

namun karena sikap ibu tersebut dilakukan berulang kali maka terjadilah

proses classical conditoning pada diri sang anak. Sang anak yang awalnya

netral menjadi terstimulasi untuk bersikap negatif seperti yang dilakukan


37

ibunya. Anak mempelajari bagaimana bersikap dari orang terdekatnya pada

proses ini.

b. Instrumental conditioning

Instrumental conditioning adalah bentuk dasar dari pembelajaran dimana

respon yang menimbulkan hasil positif atau mengurangi hasil negatif yang

diperkuat (Baron, 2003). Contoh dalam proses ini misalnya pada anak yang

tidak memahami apa-apa tentang partai politik, maka akan bersikap sama

dengan orang tuanya. Dalam perspektif behavior, tingkah laku sang anak

adalah buah dari reinforcement. Orang tua yang memberikan senyuman,

pujian atau hadiah kepada anak karena telah melakukan dukungan kepada

salah satu partai politik (padahal anak baru berusia 3 tahun) seperti yang

menjadi dambaan orang tuanya maka akan membentuk sikap anak sama

dengan sikap orang tuanya tersebut. Proses adopsi sikap seperti ini

dinamakan instrumental conditioning.

c. Pembelajaran melalui observasi

Pembelajaran melalui observasi adalah salah satu bentuk belajar di mana

individu mempelajari tingkah laku atau pemikiran baru melalui observasi

terhadap orang lain (Baron, 2003). Proses ini terjadi hanya dengan

memperhatikan tingkah laku orang lain. Contoh dalam proses ini misalnya

pada seorang anak yang melihat ayahnya memukul ibunya maka sikap dan

perbuatan tersebut akan menurun pada anaknya meski sang ayah melarang

anaknya melakukan kekerasan kepada siapapun. Sang anak seringkali

belajar apa yang dilakukan orang tuanya dalam proses ini, bukan apa yang

dikatakan oleh orang tuanya.

d. Perbandingan Sosial

Perbandingan Sosial adalah proses dimana kita membandingkan diri kita

dengan oranglain untuk menentukan apakah pandangan kita terhadap


38

kenyataan sosial benar atau salah (Baron, 2003). Contoh dalam proses ini

misalnya dengan melihat bagaimana anggota masyarakat menentukan siapa

pemimpinnya dalam satu komunitas di pedesaan cenderung sama karena

mereka memiliki kecenderungan untuk memperbandingkan diri mereka

masing-masing dengan orang lain untuk menentukan apakah pandangan

dan sikapnya terhadap siapa yang akan dipilihnya benar atau salah.

Masyarakat desa yang berbeda pandangan dan sikap dengan

lingkungannya akan dianggap aneh dan tidak lazim dan bahkan mendapat

risiko dikucilkan. Sikap terbentuk dari informasi sosial yang berasal dari

orang lain, dan keinginan kita sendiri untuk menjadi serupa dengan orang

yang kita sukai atau hormati.

Sedangkan menurut Newcomb dalam Notoatmodjo (2007), sikap seseorang

diperoleh dari adanya rangsangan dari sebuah objek tertentu.

Proses pembentukan sikap seseorang sebagai berikut :

Stimulus/Rangsangan Organisme Reaksi Tingkah


Laku (terbuka)

Sikap
(Tertutup)

Gambar 2.1 Proses Pembentukan Sikap

Menurut bagan diatas dapat disimpulkan bahwa sikap bukanlah suatu

bentuk tindakan atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan

suatu perilaku. Sikap masih merupakan reaksi tertutup. Sikap merupakan


39

kesiapan untuk beraksi terhadap objek dilingkungan tertentu sebagai suatu

penghayatan terhadap objek (Notoatmodjo, 2007).

2.6 Hubungan antara Tingkat Pengetahuan dengan Sikap

Sikap dapat diartikan sebagai kecenderungan untuk berespons (secara

positif dan negatif) terhadap orang, objek atau situasi tertentu. Sikap

mengandung suatu penilaian emosional/afektif (senang, benci, sedih, dan

sebagainya), aspek konatif (kecenderungan bertindak), dan komponen kognitif

(pengetahuan tentang objek itu). Suatu penilaian komponen kognitif pada sikap

menunjukkan bahwa pembentukan sikap seseorang tidak lepas dari pengaruh

pengetahuan yang dimiliki.

Menurut Sarwono (1997), sikap seseorang dapat berubah dengan

diperolehnya tambahan informasi tentang objek tersebut melalui persuasi serta

tekanan dari kelompok sosialnya. Informasi atau media massa adalah salah satu

faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang (Notoatmodjo, 2007).

Selain itu faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan yaitu pendidikan,

sosial budaya dan ekonomi, lingkungan, serta pengalaman ada kesamaan juga

dengan faktor-faktor yang mempengaruhi sikap. Menurut Azwar (2013), faktor-

faktor yang mempengaruhi sikap antara lembaga pendidikan dan lembaga

agama, pengaruh kebudayaan, pengalaman pribadi, dan pengaruh orang lain

yang dianggap penting. Lembaga pendidikan dan lembaga agama mengacu

pada faktor pendidikan. Sedangkan pengaruh orang lain yang dianggap penting

mengacu pada lingkungan sosial yang ada di sekitar individu. Lingkungan ini

berpengaruh terhadap proses masuknya pengetahuan ke dalam individu yang

berada dalam lingkungan tersebut.


40

Kesamaan faktor-faktor antara pengetahuan dengan sikap, menunjukkan

bahwa tingkat pengetahuan yang dimiliki seseorang dapat mempengaruhi sikap

seseorang. Kemungkinan yang timbul yaitu semakin tinggi tingkat pengetahuan

seseorang maka semakin baik pula sikap seseorang. Pernyataan tersebut

menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan memiliki hubungan dengan sikap

seseorang.