Anda di halaman 1dari 5

II.

Teori
II.1 Antelmintika
Antelmintika atau obat cacing (Yunani anti = lawan, helmintes = cacing)
adalah obat yang dapat memusnahkan cacing dalam tubuh manusia dan hewan.
Dalam istilah ini termasuk semua zat yang bekerja lokal menghalau cacing dari
saluran cerna maupun obat-obat sistemik yang membasmi cacing serta larvanya, yang
menghinggapi organ dan jaringan tubuh (Tjay, 2007)
Terdapat tiga golongan cacing yang menyerang manusia yaitu matoda,
trematoda, dan cestoda. Sebagaimana penggunaan antibiotika, antelmintik ditujukan
pada target metabolic yang terdapat dalam parasite tetapi tidak mempengaruhi atau
berfungsi lain untuk pejamu. (Mycek,2001)
Obat Antelmintik yang Lazim Digunakan
1. Piperazin
Efektif terhadap A.lumbricoides dan E.vermicularis. Mekanisme kerjanya
menyebabkan blokade respon otot cacing terhadap asetilkolin _ paralisis dan cacing
mudah dikeluarkan oleh peristaltik usus. Absorpsi melalui saluran cerna, ekskresi
melalui urine.
Efek antelmintik
Piperazin menyebabkan blokade respon otot cacing terhadap asetilkolin
sehinggga terjadi paralisis dan cacing mudah dikeluarkan oleh peristaltik usus.
Cacing biasanya keluar 1-3 hari setelah pengobatan dan tidak diperlukan pencahar
untuk mengeluarkan cacing itu. Cacing yang telah terkena obat dapat menjadi normal
kembali bila ditaruh dalam larutan garam faal pada suhu 37°C.
Diduga cara kerja piperazin pada otot cacing dengan mengganggu permeabilitas
membran sel terhadap ion-ion yang berperan dalam mempertahankan potensial
istirahat, sehingga menyebabkan hiperpolarisasi dan supresi impuls spontan, disertai
paralisis.
2. Pirantel Pamoat
Untuk cacing gelang, cacing kremi dan cacing tambang. Mekanisme kerjanya
menimbulkan depolarisasi pada otot cacing dan meningkatkan frekuensi imfuls,
menghambat enzim kolinesterase. Absorpsi melalui usus tidak baik, ekskresi sebagian
besar bersama tinja, <15% lewat urine.
Pirantel pamoat sangat efektif terhadap Ascaris, Oxyuris dan Cacing tambang,
tetapi tidak efektif terhadap trichiuris. Mekanisme kerjanya berdasarkan perintangan
penerusan impuls neuromuskuler, hingga cacing dilumpuhkan untuk kemudian
dikeluarkan dari tubuh oleh gerak peristaltik usus. Cacing yang lumpuh akan mudah
terbawa keluar bersama tinja. Setelah keluar dari tubuh, cacing akan segera mati. Di
samping itu pirantel pamoat juga berkhasiat laksans lemah. . (Tjay dan Rhardja,
2002:193)
Resorpsinya dari usus ringan kira – kira 50% diekskresikan dalam keadaan utuh
bersamaan dengan tinja dan lebih kurang 7% dikeluarkan melalui urin. Efek
sampingnya cukup ringan yaitu berupa mual, muntah, gangguan saluran cerna dan
kadang sakit kepala. (Tjay dan Rhardja, 2002:193). Dosis terhadap cacing kremi dan
cacing gelang sekaligus 2-3 tablet dari 250 mg, anak-anak ½ 2 tablet sesuai usia
(10mg/kg). (Tjay dan Rhardja, 2002:193). Dosis tunggal pirantel pamoat 10mg/kg Bb
(ISO, 2009 : 81).
II.2 Ascaris Suum
Berdasarkan klasifikasi taksonomi dalam (Zaman dkk, 1988) cacing ini masuk dalam
klasifikasi :
Kingdm : Animalia
Filum : Nemathelminthes
Kelas : Nematode
Subkelas : Secrenentea
Bangsa : Ascaridia
Superfamili : Ascaridoidea
Famili : Ascarididae
Marga : Ascarisi
Spesies : Ascaris suum
Morfologi
Famili Ascarididae merupakan Nematoda yang berukuran paling besar,
beberapa spesies diantaranya dapat mencapai panjang 45 cm atau lebih. Cacing jantan
memiliki panjang 15 – 30 cm dan diameter 2 – 4 mm pada bagian tubuh yang paling
lebar. Mempunyai 3 bibir pada ujung anterior kepala dan mempunyai gigi – gigi kecil
atau dentikel di pinggirnya. Cacing jantan mempunyai 2 buah spikulum yang dapat
keluar dari kloaka. Cacing betina memiliki panjang 20 – 49 cm dan 3 – 6 mm.
memiliki vulva pada sepertiga anterior panjang tubuh dan ovarioun yang luas.
Uterusnya dapat berisi sampai 27 juta telur pada satu waktu.
Siklus Hidup
Siklus hidup cacing A. suum terjadi secara langsung. Cacing betina bertelur di
dalam usus, dan telur tersebut keluar bersama tinja. Setiap cacing betina bertelur
kurang lebih sebanyak 2 juta butir tiap hari, yang berarti sekitar 6 butir setiap detik
(Levine, 1994).
Cacing A. suum dalam hidupnya harus melalui dua fase perkembangan, yakni
fase eksternal (di luar tubuh inang) dan fase internal (di dalam tubuh inang). Fase
eksternal dimulai saat keluarnya telur cacing dari tubuh babi bersama tinja saat terjadi
defikasi. Telur ini tidak bersegmen ketika sampai di tanah, dan membutuhkan 13-18
hari untuk menjadi infektif di bawah kondisi optimal, atau 31-40 hari pada 18-20o C.
Di luar, pada kondisi lingkungan yang menunjang, telur akan berkembang sehingga
di dalam telur berbentuk larva stadium I. Bila kondisi tetap menunjang, larva stadium
I akan berkembang lebih lanjut menjadi larva stadium II yang tetap berada dalam
telur. Telur yang menandung larva stadium II bersifat infeksius (telur infektif) dan
siap menulari ternak babi apabila telut tertelan melalui makanan (Soulsby, 1982).
Fase internal dimulai saat telur yang infektif tertelan oleh hospes definitf. Di dalam
usus halus, telur infektif tersebut di cerna oleh enzim pencernaan dan terbebaslah
larva stadium II. Larva stadium II akan menembus dinding usus halus menuju hati
atau larva akan mengikuti peredaran darah vena porta menuju ke hati. Selanjutnya
stadium larva stadium II tersebut menembus kapsul hati dan masuk melalui sel–sel
parenkim hati untuk selanjutnya ikut peredaran darah dari hati menuju jantung, paru–
paru, dan bahkan dapat menyebar seluruh organ tubuh.
Daftar Pustaka
Katzung.1989.Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi 3.EGC: Jakarta
Mycek.2001.Farmakologi Ulasan Bergambar.Widya Medika : Jakarta
Tjay, Tan Hoan, Rahardja, Kirana, 2002, Obat – Obat Penting, PT. Elex Media
Komputindo, Jakarta
Kasim, Fauzi, dkk.,2009, ISO Indonesia, volume 44, Ikatan Sarjana Farmasi
Indonesia, Jakarta
Katzung BG. Farmakologi dasar dan klinik. Buku 3. Edisi VIII. Jakarta: Salemba
Medika; 2002; 280-81