Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sejalan dengan upaya peningkatan mutu dan pelayanan yang prima, maka diperlukan
adanya pedoman pelayanan kesehatan yang digunakan untuk acuan dalam setiap tindakan
yang dilakukan.Adanya kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang pesat , menuntut
pemberi pelayanan kesehatan agar memberikan pelyanan yang bermutu. Mutu merupakan
salah satu aspek yang sangat penting. Sejalan dengan upaya tersebut, layanan di rumah
sakit kepada pasienya harus prima, maka diperlukan adanya pedoman pelayanan kamar
bedah yang digunakan untuk acuan dalam setiap tindakan yang dilakukan
Pelayanan bedah di Rumah Sakit (RS) PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) antara lain
meliputi pelayanan pembedahan di kamar bedah dan di luar kamar bedah, pelayanan
kedruang operasiteran perioperatif termasuk pelayanan di poli gigi, pelayanan
kegawatdaruratan dan terapi intensif (high care).
Berdasarkan keputusan MenKes RI no. 129/Menkes/SK/II/2008 tentang standar
pelayanan minimal rumah sakit salah satunya jenis pelayanan bedah dengan menggunakan
indikator diantaranya :

1. Waktu tunggu operasi elektif


2. Kejadian kematian dimeja operasi
3. Tidak adanya kejadian operasi salah sisi
4. Tidak adanya kejadian operasi salah orang
5. Tidak adanya kejadian salah tindakan pada operasi
6. Tidak adanya kejadian tertinggalnya benda asing/lain pada tubuh pasien setelah
operasi
7. Komplikasi anestesi karena overdosis, reaksi anestesi, dan salah penempatan
endotracheal tube.
Pelayanan profesional yang memberikan dukungan dengan memperhatikan
akan kebutuhan pasien baik biologis, psikologis, sosiologis, spiritual dan kultural.
Pelayanan dan perawatan yang dilakukan di kamar operasi adalah suatu kondisi /
tindakan khusus yang menutut kewaspadaan tinggi dan ditujukan kepada kondisi
lingkungan yang aman pada pelaksanaan pembedahan.
Standar prosedur operasi yang tinggi sejak sebelum operasi, selama operasi dan
setelah operasi diterapkan dengan seksama.Begitu pula dengan standar sterilitas yang
tinggi yang dipantau secara terus menerus sehingga menunjang terciptanya layanan
operasi bermutu tinggi.
Pelayanan kamar bedah di RS PT CPI memiliki 2 ruang operasi yang masing-
masing dilengkapi dengan peralatan yang dapat mendukung jalannya proses operasi

1
dengan baik mulai dari ruang pra-operasi, area semi steril sampai dengan area steril
dan ruang pemulihan. Proses operasi juga didukung oleh CSSD.
Oleh karena itu, dalam rangka peningkatan mutu pelayanan kamar bedah di
rumah sakit PT CPI Duri, disusunlah Pedoman pelayanan Kamar Bedah.

B. Sasaran
1. Druang operasiter Spesialis Anestesiologi
2. Druang operasiter Spesialis Bedah, Obsgin, Internist, Pediatric dan Dentist.
3. Perawat Kamar Bedah
4. Direktur Pengelola Rumah Sakit PT CPI Duri

BAB II
DEFINISI

A. Pelayanan Bedah

2
Dalam panduan ini ada beberapa istilah yang perlu disepakati pelayanan bedah di RS PT
CPI

1. Druang operasiter, druang operasiter spesialis adalah druang operasiter lulusan


pendidikan kedruang operasiteran baik di dalam maupun di luar negeri yang diakui
oleh pemerintah Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

2. General Consent adalah persetujuan secara tertulis yang diberikan oleh pasien atau
keluarga sebagai pasien rawat jalan maupun rawat inap tergantung pada kebutuhan
medis.

3. General consent dapat meliputi pemeriksaan; radiologi, laboratorium, perawatan


rutin dan prosedur seperti pemberian suntikan, infus, dan evaluasi dalam bentuk
wawancara dan pemeriksaan fisik.

4. Persetujuan tindakan kedruang operasiteran adalah persetujuan yang diberikan oleh


pasien atau keluarga terdekat setelah mendapat penjelasan secara lengkap mengenai
tindakan kedruang operasiteran yang dilakukan terhadap pasien

5. Keluarga terdekat adalah suami atau istri, ayah atau ibu kandung, anak-anak
kandung, saudara-saudara kandung atau pengampunya.

6. Tindakan kedruang operasiteran yang selanjutnya disebut tindakan kedruang


operasiteran adalah suatu tindakan medis berupa preventif, diagnostik, terapeutik
atau rehabilitatif yang dilakukan oleh druang operasiter terhadap pasien.

7. Tindakan invasif adalah suatu tindakan medis yang langsung dapat mempengaruhi
keutuhan jaringan tubuh pasien.

8. Tindakan kedruang operasiteran yang mengandung risiko tinggi adalah tindakan


medis yang berdasarkan tingkat probabilitas tertentu, dapat mengakibatkan kematian
atau kecacatan.

9. Operasi kecil adalah prosedur bedah yang tidak membutuhkan pembiusan dan
bantuan pernafasan selama operasi. biasanya cukup dengan bius lruang operasial
saja.

10. Operasi sedang sama dengan operasi besar, hanya saja durasi waktu lebih singkat
dan tekhnik lebih sederhana dibanding operasi besar.

11. Operasi besar adalah prosedur bedah yang membutuhkan pembiusan total dan
bantuan pernafasan selama operasi.

3
12. Ruang Lingkup : Kegiatan pelayanan kesehatan dimulai dari pendaftaran sampai
dengan memindahkan pasien ke ruangan atau memulangkan pasien.

B. Konsep Dasar Kamar Bedah


a. Unit Kamar Bedah
Merupakan bagian integral yang penting dari pelayanan suatu rumah sakit
berbentuk suatu unit yang terorganisir dan sangat terintegrasi, dimana didalamnya
tersedia sarana dan prasarana penunjang untuk melakukan tindakan pembedahan.
b. Tindakan Operasi
Semua tindakan pengobatan yang menggunakan cara invasif dengan membuka atau
menampilkan tubuh yang akan ditangani.
c. Pre Operasi
Fase awal dari perioperatif yang dimulai sejak mengambil keputusan untuk
tindakan pembedahan dibuat sampai pasien dipindahkan ketempat kamar bedah.
d. Intra Operasi
Fase sejak pasien dipidahkan ke dan dari kompleks ruang operasi
e. Post Operasi
Suatu fase akhir dari perioperatif yang dimulai sejak pasien keluar dari RR
(Recovery room) dan masuk ruang perawatan (Ward) atau HCU (High Care Unit)
sampai pasien sembuh total dari pembedahan.

C. Filosofi Pembedahan
Pembedahan merupakan bagian dari tahap pengobatan, relatif singkat, sangat penting
dan menakutkan.
Dalam melakukan pembedahan harus memiliki visi dan misi demi kepentingan pasien
yang dilakukan dengan cara aman.

D. Visi pembedahan
a. Menjadi yang terbaik
b. Bermutu
c. Mengikuti kemajuan ilmu dan teknologi

E. Misi pembedahan
a. Menyembuhkan
b. Mengurangi penderitaan
c. Memperbaiki kualitas hidup
Agar pembedahan berlangsung baik dan aman bagi pasien serta personil kamar
bedahsangat diperlukan;
a. Nilai-nilai luhur tata kerja kamar bedah
b. Etika profesi
c. Dan rambu-rambu
Pembedahan harus dilakukan sebaik mungkin, pelayanan bermutu merupakan unsur
yang sangat diperlukan. Unsur tersebut yaitu;
a. Effectiness
4
Pelayanan terbaik “The best possible care”
b. Efficiency
Biaya yang wajar “Cost effectivnes”
c. Acceptability
Kepuasan pasien “Patien Satisfaction”
Untuk pelayanan yang bermutu diperlukan :
a. Kompetensi tim bedah
b. Kerja sama tim
c. Manajemen kamar bedah
d. Bangunan dan peralatan yang mendukung
e. Komitmen kuat manajemen rumah sakit untuk terselenggaranya pelayanan prima

F. Falsafah
Memberikan pelayanan Kamar Operasi kepada pasien, keluarga pasiendan
masyarakat secara profesional dan holistik, dengan mengedepankan nilai-nilai
kemanusiaan dan solusi tanpa membeda bedakan bangsa, suku,agama, dan
dilaksanakan oleh seluruh perawat RS PT CPI secara cepat, ramah, dan ilmiah.

G. Tujuan Pelayanan Kamar Bedah di RS PT CPI


Memberikan pelayanan kamar Operasi yang bermutu tinggi, efektif dan efisien kepada
pasien, keluarga pasien dan masyarakat di RS PT CPI.

BAB III
RUANG LINGKUP

Berdasarkan tenaga druang operasiter bedah yang tersedia, maka RS PT CPI duri
hanya melayani pasien-pasien yang dapat dilakukan oleh druang operasiter spesialis bedah
umum.

a. Pelayanan Bedah Minor


Pelayanan bedah minor adalah tindakan kepada pasien yang akan menjalani operasi-
operasi minor / kecil.
Sesuai dengan falsafah perusahaan dan komitmen rumah sakit tentang patient safety,
meskipun bedah minor, maka tindakan tersebut hendaknya dimulai dan dilakukan hanya di

5
tempat-tempat dengan perlengkapan resusitasi serta obat-obatan yang tepat dan dapat segera
tersedia untuk menangani kendala yang berkaitan dengan prosedur.
Asesmen bedah minor diberikan oleh druang operasiter operator / DPJP setelah
dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penujang yang dibutuhkan oleh
druang operasiter operator / DPJP / druang operasiter yang merawat. Pelayanan bedah minor
di rumah sakit PT CPI merupakan pembedahan secara sederhana,tidak memiliki risiko
terhadap nyawa pasien dan tidak memerlukan bantuan asisten untuk melakukannya, antara
lain:
1) Sirkumsisi
2) Dilatasi fimosis
3) Dressing pasca operasi
4) Eksisi ateroma
5) Eksisi clavus
6) Eksisi keloid
7) Eksisi mucocele
8) Eksisi nevus
9) Eksisi veruka
10) Eksplorasi corpus alienum
11) Eksisi/ekstirpasi lipoma
12) Ekstirpasi ganglion
13) Ekstirpasi papiloma
14) Ekstraksi kuku (Rozerplasty)
15) Insisi abses
16) Injeksi Durolene
17) Kauterisasi skin tag, kondiloma
18) Lepas implan KB

Anestesia lruang operasial dimulai dan dapat dilakukan oleh druang operasiter operator
/DPJP. Semua tindakan suntikan anestesi local dengan sedasi atau analgesi obat-obat narkotika
harus di bawah supervisi druang operasiter spesialis anestesiologi.
b. Pelayanan Bedah Mayor
Kategori bedah mayor adalah operasi moderat dan operasi besar. Khusus untuk operasi
minor yang memerlukan sedasi baik sedang maupun moderate, maka digolongkan menjadi
operasi bedah moderat. Jenis operasi bedah moderat yang dapat dilakukan di RS PT CPI
antara lain:
1) Amputasi jari
2) Appendiktomi
3) Sirkumsisi dengan anestesi umum
4) Closed reduction

6
5) Debridement open wound
6) Debridemen pada luka infeksi
7) Eksisi keloid/nevus + flap
8) Eksisi fibroadenoma mammae (FAM)
9) Eksisi Fibroma (soft tissue tumor)
10) Hemoroidektomi
11) Herniorafi
12) Herniotomi
13) Remove implant (pin/wire)
14) Skin flap
15) Ligasi tuba falopi
16) Ekstirpasi kista Bartholin
17) Kauterisasi dengan bius umum
18) Dilatasi & kuretase
19) Ekstirpasi polyp cervix
20) Laparoskopi
21) Manual plasenta dengan bius umum
22) Removed IUD dengan bius umum
23) Repair episiotomy
24) Reposusi prolaps uteri
25) Suture of labia (bius umum)

Operasi mayor yang dapat dilaksanakan di RS PT CPI sesuai dengan nota kesepakatan
antara PT CPI dengan RS Awal Bros berdasarkan ketersediaan sumber daya manusia maupun
sarana-prasarana yang ada meliputi:

1) Debridement of crush injury/ repair tendon/ burn wound


2) Laparotomi misalnya perforasi appendiks, peritonitis, ileus
3) Laparotomi obstetri-ginekologi misalnya kistektomi, kehamilan ektopik terganggu
(KET)
4) Secio Caesarea
5) Sectio Caesaria + Tuba ligation
Pada kasus operasi pemasangan implan prostetik seperti panggul, lutut, pompa
jantung, pompa insulin tidak dapat dilakukan di RS PT CPI karena keterbatasan sumber daya
manusia, sarana dan prasara sehingga kasus-kasus tersebut akan dirujuk ke RS jejaring untuk
tatalaksana lanjut.

c. Alur Pasien dalam Pelayanan Bedah

7
Pasien yang membutuhkan pelayanan bedah dirumah sakit PT CPI Duri dapat berasal
dari instalasi gawat darurat, instalasi rawat jalan, dan instalasi rawat inap termasuk ruang
rawat intensif.
PASIEN

UGD,OPD,IPD, HCU

UNIT BEDAH
 Anamnesa
 Pemeriksaan Fisik
 Pemeriksaan Penunjang
 Diagnosa
 Informed Consent
 Rencana Tindakan

BEDAH MINOR BEDAH MAYOR

JADWAL PEMBEDAHAN KONSUL ANESTESI/SPESIALIS


TERKAIT

TINDAKAN DI BEDAH MINOR PENILAIAN KELAYAKAN


PEMBEDAHAN DAN ANESTESI

PASIEN PULANG
JADWAL PEMBEDAHAN

TINDAKAN BEDAH MAYOR

PASIEN DIRAWAT / PULANG

Bagan 1. Alur Pelayanan Bedah di Rumah Sakit PT CPI Duri Riau

A. Alur Pasien dalam Pelayanan Bedah

8
Pasien yang membutuhkan pelayanan bedah dirumah sakit PT CPI Duri dapat
berasal dari :unit gawat darurat, unit rawat jalan, dan unit rawatinap termasuk ruang rawat
intensif.
Pasien yang akan menjalani pembedahan akan melewati tahapan / alur pasien sebagai
berikut :
a. Asal Pasien :
 Poliklinik
 Rawat Inap
 UGD
 HCU
b. Pemeriksaan penunjang
 Laboratorium
 Radiologi
 EKG
 Pemeriksaan lainnya
c. Diagnosis
d. Rencana Tindakan / Pembedahan
 Informed consent
 Konsultasi Anestesi/ Spesialis lainnya
e. Prosedur Pembedahan
 Monitoring dan Laporan pembedahan
f. Monitoring Pasca Bedah
 Perawatan dan monitoring pasca pembadahan
 Evaluasi pemeriksaan penunjang ( Lab, PA dll )
 Discharge summary

B. TATA KERJA KAMAR OPERASI


Ruang kamar operasi/kamar bedah harus didesain sedemikian rupa sesuai standar demi
terselenggaranya pelayanan yang bermutu.
Tata kerja kamar bedah :
a. Faktor penentu
 Berdasarkan visi dan misi kamar bedah
 Organisasi, manajemen kamar bedah
 Desain dan struktur kamar bedah
 Peralatan yang memadai

9
b. Prisip disinfeksi dan dekontaminasi (Universal precaution)
 Perlindungan diri sendiri
 Perlindungan terhadap pasen
 Perlindungan terhadap lingkungan
c. Hal-hal yang harus diperhatikan
 Teknik aseptik yang benar
 Peraturan asepsis
 Kontruksi dan desain kamar bedah
 Pentingnya hygien dan kesehatan personil
 Aturan tata kerja umum sewaktu pembedahan
 Tata cara cuci tangan
 Mempertahankan keadaan asepsis bedah
Lingkungan kerja dikamar bedah harus menujang keselamatan dan kesehatan
kerja dikamar bedah karena:
 Kamar bedah merupakan lingkungan paling berbahaya/potensial hazards
 Penggunaan instrumen tajam sering terjadi luka tusuk, goresan dll
 Resiko terjadinya infeksi cukup tinggi
 Ruang kerja terbatas
 Keterbatasan jangkauan penglihatan
 Paparan dari darah dan gas sering terjadi
 Tuntutan bekerja cepat
 Static postur/ergonomic
 Kecemasan, lelah, frustasi, stress
Strategi keselamatan :
 Siapkan PPD (perlengkapan perlindungan diri) ekstra; cuci tangan, sarung tangan,
masker , baju kerja, pelindung mata dll.
 Wadah benda tajam disiapkan
 Perencanaan penanganan benda-benda tajam
 Pastikan seluruh anggota mengetahui perencanaan tersebut
 Modifikasi perencanaan saat dibutuhkan
 Fruang operasiuskan cara penggunaan benda-benda tajam
 Ingatkan anggota tim operasi akan potensi bahaya
 Melarang orang masuk dalam ruang operasi
 Hindari percakapan yang tidak perlu

C. TATA RUANG DAN BANGUNAN KAMAR OPERASI DAN BERSALIN


1. LRUANG OPERASIASI
Rumah sakit PT CPI memiliki 1 ruang operasi minor, 1 ruang operasi mayor adn 1
kamar bersalin. Lruang operasiasi ruang operasi dan ruang bersalin harus mudah di
capai dari bagian lain dan satu sama lain
2. BENTUK
 Sudut-sudutnya tidak boleh tajam, baik sudut lantai, dinding maupun langit-langit
 Dinding, lantai dan langit-langit terbuat dari bahan yang keras, tidak berpori,tahan
api, kedap air tidak mudah kotor, tidak licin, tidak mempunyai sambungan, warna
terang mudah dibersihkan dan tidak ada tempat menampung debu
3. UKURAN

10
 Luas ruang operasi minor ±36 m 2 dengan ukuran ruangan panjang x lebar x tinggi
adalah 6m x 6m x 3 m
 Ruangan operasi mayor minimal 50 m2 dengan ukuran panjang x lebar x tinggi
ada;ah 7.2m x 7m x 3m
4. PINTU
 Pintu ayun (swing) membuka ke dalam ruanagan
 Lebar pintu yang dilalui pasien minimal 120 cm
 Pintu harus selalu terawat, dan tidak boleh mengeluarkan suara
5. JENDELA
 Harus ada kaca tembus pandang agar orang dari luar dapat melihat keadaan di
dalam kamar bedah tanpa harus masuk
6. VENTILASI
 Memakai AC dilengkapi filter da
 Suhu diatur antara 19 – 22 °C dan kelembaban udara 40 – 60 %
7. SISTEM PENERANGAN
 Lampu ruangan memakai lampu pijar putih tertanam di dalam langit-langit sehingga
tidak menampung debu dan mudah dibersihkan.
 Lampu operasi merupakan lampu khusus yang terdiri dari beberapa lampu yang
fruang operasiusnya dapat diatur, tidak panas, terang, tidak menyilaukan dan tidak
menimbulkan bayangan
8. SISTEM GAS
 Sistem gas sebaiknya dibuat sentral memakai sistem pipa
 Sistem pipa melalui bawah lantai atau diatas langit-langit
 Dibedakan sistem pipa O2 dan Nitrogen Ruang operasisida
9. SISTEM LISTRIK
 Harus ada sistem penerangan darurat dan sistem listrik cadangan
 Bila dalam kamar bedah ada beberapa titik penyambungan aliran listrik,maka
sebaiknya dibedakan sirkuitnya sehingga bila terjadi gangguan listrik pada satu titik,
maka bisa dipindahkan ke titik lainnya
10. SISTEM KOMUNIKASI
 Harus ada sistem komunikasi dengan ruangan lain di dalam RS dan ke luar RS
11. INTRUMENTASI
 Semua peralatan harus mobile, mempunyai roda atau diletakkan diatas trolley beroda
 Semua alat sebaiknya terbuat dari stainless steel dan mudah dibersihkan
12. SUPPLY AIR BERSIH
Sumber air dari WTP yang telah memenuhi syarat baku mutu air bersih, khusus untuk
kamar operasi harus melewati proses filtrasi

11
D. SISTEM ZONASI DIUNIT KAMAR BEDAH DAN KEBIDANAN

 ZONA 1 : Zona tingkat steril rendah ditandai dengan warna hijau


 ZONA 2 : Zona tingkat steril sedang ditandai dengan warna kuning
 ZONA 3 : Zona tingkat steril tinggi ditandai dengan warna orange
 ZONA 4 : Zona tingkat steril sangat tinggi ditandai dengan warna merah

No Variabel Zona 1 Zona 2 Zona 3 Zona 4 KET


1 Pakaian -Pakaian luar -Pakaian luar Petugas -Tim Operasi
RUANG RUANG RUANG memakai jas
OPERASI OPERASI OPERASI operasi
masih masih boleh wajib
boleh dipakai dipakai. Tidak memakai -Petugas

12
-Pakaian boleh lebih pakaian RUANG
khusus RUANG dalam dari khusus OPERASI
OPERASI zonaini. RUANG memakai
tidak boleh Pergantian OPERASI gloves
lebih luar dari pakaian lengkap
zona ini RUANG dengan
OPERASI – masker dan
Pakaian Luar head cover
RUANG
OPERASI
disini

2 Alas Kaki -Alas Kaki luar Alas kaki Alas Kaki Alas Kaki
RUANG RUANG Khusus khusus
OPERASI OPERASI RUANG RUANG
masih bisa harus mulai OPERASI OPERASI
di pakai. Tidak dipakai saja saja
boleh lebih
dalam dari zona
ini, pergantian
alas kaki luar-
RUANG
OPERASI
disini
-Alas Kaki
RUANG
OPERASI
tidak boleh
lebih
luar dari zona
ini
3 Bed Boleh masuk Hanya sampai Tidak boleh Tidak boleh
Pasien Recovery masuk masuk
Room boleh
masuk
4 Brankar Boleh masuk. Boleh masuk Boleh Boleh masuk
RUANG Tidak boleh masuk untuk keluar
OPERASI lebih luar dari lagi
zona ini

13
5 Petugas Boleh masuk Boleh masuk Boleh Tidak boleh
luar Masuk masuk
RUANG dengan
OPERASI memakai
pakaian
pelindung,
masker dan
head cover
6 Lain-lain Berbatas Pintu Berbatas pintu Syarat tata
dari luar dengam zona / Ruangan
kompleks ruangan lain sesuai
RUANG standard
OPERASI
-Berbatas Pintu
dari Zona /
ruangan lain

E. SMF BEDAH RS PT.CPI DURI


STAF SMF BEDAH :
1. Spesialis Bedah
a. Dr. Ruri Gusandi, SpB
b. Dr. Salamullah, SpB
2. Spesialis Kebidanan dan Kandungan
Dr. Harizon Hendrik, SpOG
3. Spesialis Anestesi
Dr. Mufti Andri, M. Kes, SpAn
4. Druang operasiter Umum
a. Dr. Yunus Ruang operasisikimbawan T
b. Dr. Kurniawan
c. Dr. Frenki Lois
d. Dr. Dian Eka Sari
e. Dr. Kardianto P. Manurung
f. Dr. Kartika Budi Astuti
g. Dr. Intan Nurulita Sari
5. Perawat
a. Br. Roli Kurniawan
b. Zr. Sri Wahyuni
c. Zr. Titik Indayati
d. Zr. Yuni Kristin
e. Br. Buheri
f.Zr. Lila Prima Sari

14
F. TATA KERJA KAMAR OPERASI
PERSIAPAN TINDAKAN OPERASI
1. Persiapan Pasien Operasi
A. Persiapan Fisik
Pasien harus dalam kondisi optimal untuk dilakukan operasi yangditandai oleh :
 Dilakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh dengan hasil pemeriksaan fisik
oleh druang operasiter ruangan dan atau druang operasiter konsulen RS. PT CPI
menunjukkan kondisi dalam batas toleransi
 Dilakukan pemeriksaan penunjang yang lengkap, meliputi pemeriksaan
laboratorium hematologi, kimia klinik, dan lainnya, pemeriksaan radiologi,
pemeriksaan EKG, dan pemeriksaan lain yang diperlukan dengan hasil
pemeriksaan penunjang dalam batas normal atau dalam batas toleransi / aman
 Druang operasiter ruangan dan atau druang operasiter konsulen penyakit dalam
dan atau druang operasiter konsulen anestesi dan atau druang operasiter konsulen
lainnya menyatakan pasien dapat dioperasi
 Bila diperlukan dilakukan persiapan terhadap pasien untuk menunjang kelancaran
operasi, seperti pemasangan infus, lavement, puasa, istirahat total, pemasangan
supportif seperti O2, Foley catheter, NGT , dll.
 Pasien dalam keadaan bersih, bila perlu sudah mandi, pakaian dari RS, bersih.
 Diberikan antibiotik perioperatif sesuai petunjuk druang operasiter
B. Persiapan mental
 Pasien harus memahami maksud dan tujuan operasi serta resikoyang harus
dihadapi dalam menjalani operasi ini. Lakukan informed consent sesuai prosedur.
 Pasien di tenangkan dan diberi penyuluhan yang baik agar tegar menghadapi
tindakan operasi yang akna dijalaninya. Pasiendiminta untuk berdoa menurut
keyakinannya masing-masing.
 Keluarga pasien diminta selalu mendampingi dan mendukung secara moril

G. Persiapan Kamar Operasi


1. Pembersihan Rutin
a. Pembersihan Harian
 Setiap hari seluruh permukaan lantai kompleks kamar operasi – kamar bersalin
dibersihkan dan di desinfeksi
 Setiap hari dilakukan pemeriksaan prasarana seperti penyediaan air bersih,
kelistrikan, pencahayaan, ventilasi,dan sebagainya
 Pelaksana adalah tim pemeliharaan, dan penanggung jawab adalah koordinator
keperawatan
 Kamar mandi dibersihkan

b. Pembersihan Mingguan
 Seluruh permukaan dinding kamar operasi dibersihkan dengan didesinfeksi cairan
chlorin 0,5%
 Lantai dibersihkan dengan air mengalir / disemprot , dicuci dengan detergent,
dikeringkan dan didisinfeksi

15
 Seluruh permukaan peralatan seperti permukaan lampu operasi, trolley anestesi,
Kabel-kabel dan selang, cuff, tabung O2,tabung N2O, meja obat, kursi, AC dll
dibersihkan dan didesinfeksi
 Semua peralatan sterilisasi dibersihkan
 Dilakukan rutin dan teratur seminggu sekali
 Pelaksana adalah tim pemeliharaan dan penanggung jawab adalah kepala ruang
operasi dan kepala ruang bersalin

c.Pembersihan Bulanan
 Dilakukan pemeriksaan dan penilaian kondisi dan fungsiserta inventarisasi dan
kondisi sarana fisik bangunan,prasarana dan peralatan serta obat-obatan di
kompleks ruang operasi-ruang bersalin
 Semua hasil pemeriksaan dilaporkan di rapat bulanan

d. Pembersihan pra dan pasca operasi


- Pembersihan Pra Operasi
 Bila jadwal operasi dilaksanakan setelah dilakukan
 pembersihan rutin maka ruangan bedah tidak perludibersihkan lagi
 Bila jadwal operasi sebelum dilaksanakan pembersihan rutin, maka segera
dilakukan pembersihan ruangan operasi dan sekitarnya.

- Pembersihan Pasca Operasi
 Bersihkan dinding & lanatai dengan kain bersih yang sudah direndam dengan
cairan chlorin 0.5%
 Meja operasi dibersihkan dan didesinfeksi. Bebaskan pengunci roda, lantai
dibawah meja operasi dibersihkan dan didesinfeksi. Roda meja operasi
digelindingkan keatas cairan desinfektan chlorin 0.5% bolak balik. Setelah selesai
semua,kembalikan meja operasi ke posisi semula dan kunci rodanya.
 Semua kabel dan selang alat yang beada di dalam ruangan bedah dibersihkan
Alat-alat penunjang seperti suction, cauter meja instrument bila terkontaminasi
cairan tubuh pasien dibersihkan dan dibawa keluar RUANG OPERASI.Hati hati
kontaminasi roda.Bila perlu roda dibersihkan sebelumnya.
 Setelah selesai, ruangan operasi ditutup
 Bersihkan koridor dan ruangan lainnya
 Penanggung jawab adalah paramedik yang bertugas di kamar operasi

e. Persiapan lain pra operasi


 Periksa suhu AC dibawah 27° C
 Nyalakan lampu penerangan
 Siapkan lampu operasi

2. Persiapan instrumen, Linen dan peralatan lain


a. Persiapan Instrumen
 Instrumen diatur/dikelompruang operasikan menurut jenis tindakan operasinya
 Pastikan semua kunci instrumen terbuka.
 Didalam instrument diletakkan indikator steril untuk mengetahui pensterilan
sudah berhasil

16
 Atur setting suhu tekanan autoclave sesuai untuk jenis bahan yang akan
disterilkan
 Setelah steril berhasil dan pembungkus instrumen tidak panas lagi, letakkan
instrumen tersebut kedalam lemari yang bersihdan khusus untuk instrument steril.
 Persiapan instrumen dilakukan oleh instrumenter dibantu oleh Omloop/sirkuler
dan Asisten dua.
 Instrumenter mengetahui rencana tindakan operasi.
 Bila diperlukan instrumenter bisa melihat langsung pasien sehingga mendapatkan
gambaran tentang segala kebutuhan di ruang operasi
 Instrumen , dan omloop/sirkuler berbagi tugas mempersiapkan instrumen, alat dan
ruangan
 Pilih instrumen steril yang tanggal pensterilannya lebih dahulu/lama disterilkan.
 Instrumen yang akan dipakai dikeluarkan dan disusun pada trolley.
 Jenis instrumen dan jumlah disesuaikan standar
 Instrumen diperiksa kelayakan pakainya. Pastikan lagi kebersihannya.
 Instrumen dikelompruang operasikan per jenis instrumen.
 Siapkan nampan yang sudah dialasi duk steril, Siapkan trolley yang sudah dialasi
Duk steril berlapis
 Keluarkan instrumen, letakkan pada nampan kemudian pindahkan pada trolley.
Teknik dapat dimodifikasi sedemikian rupa sehingga jarak antara bahan medik
atau instrumen yang keluar dari sterilisator dengan trolley sependek mungkin dan
setertutup mungkin dari kemungkinan kontaminasi pasca sterilisasi
 Susun sedemikian rupa sehingga instrumen mudah disediakan secara berurutan
sesuai urutan tindakan.
 Tutup trolley dengan duk sehingga instrumen diatas trolley tertutup seluruhnya.

b.Persiapan Linen
 Linen diatur/dikelompruang operasikan menurut jenis tindakan operasinya
 Atur setting suhu tekanan autoclave sesuai untuk jenis bahan yang akan
disterilkan
 Setelah steril berhasil dan pembungkus linen tidak panas lagi, letakkan linen tsb
kedalam lemari yang bersih dan khusus untuk linen steril
 Instrumenter dibantu omloop/sirkuler menyiapkan sejumlah linen sesuai
kebutuhan jenis tindakan operasi
 Pilih linen steril yang tanggal pensterilannya lebih dahulu/lama disterilkan
 Jenis linen disesuaikan dengan standar
 Nampan dan Trolley diberi alas linen steril. Bila perlu berlapis dua.
 Letakkan linen pada trolley
 Tutup trolley dengan linen steril

3. Penanganan Limbah
Pembuangan dan penanganan limbah kamar operasi, tergantung pada jenis
limbah dengan prinsip, limbah padat ditangani terpisah dengan limbah cair :
a. Limbah cair dibuang di tempat khusus yang berisi larutan desinfektan yang
selanjutnya mengalir ke tempat pengelolaan limbah cair rumah sakit.

17
b. Limbah padat/anggota tubuh ditempatkan dalam kantong/tempat tertutup yang
selanjutnya diserahterimakan kepada keluarga pasien.
c. Limbah non infeksi yang kering dan basah ditempatkan pada tempat yang tertutup
serta tidak bertebaran dan selanjutnya dibuang ke tempat pembuangan rumah sakit.
d. Limbah infeksi ditempatkan pada tempat yang tertutup dan tidak mudah bocor.

4. Persiapan Personil Kamar Operasi


1. Druang operasiter operator menentukan pasien untuk dioperasi, memberitahukan
paramedik tentang waktu operasi.
2. Asisten druang operasiter bedah/perawat penaggung jawab (rawat inap/UGD/rawat
jalan) melaporkan kepada druang operasiter anestesi untuk meminta persetujuan
waktu operasi.
3. Asisten druang operasiter bedah/perawat penaggung jawab (rawat inap/UGD/rawat
jalan) mengatur / mengusahakan kesepakatan waktu antara druang operasiter
operator dan druang operasiter anestesi.
4. Jika waktu operasi sudah disepakati, asisten druang operasiter bedah/perawat
penaggung jawab (rawat inap/UGD/rawat jalan) memberitahukan staf kamar
operasi lainnya.
5. asisten druang operasiter bedah/perawat penaggung jawab (rawat inap/UGD/rawat
jalan) mengusahakan staf kamar operasi selengkap mungkin.
6. Staf kamar operasi segera mempersiapkan operasi
5. Penunjukkan personil kamar operasi
1. Perawat yang akan bertugas sebagai asisten,instrument dan sirkuler, ditentukan oleh
perawat senior kamar bedah di RS PT CPI
2. Perawat kamar bedah yang on call (diluar jam kerja) datang paling lambat 30 menit
sebelum jadwal operasi.
3. Jika pada saat operasi sedang berlangsung ternyata dari druang operasiter operator
perlu perawat tambahan, maka perawat sirkuler perlu memanggil perawat yang
sedang libur/perawat jaga ruang rawat inap/UGD untuk membantu dikamar badah.
(diluar jam kerja)
4. Selalu konfirmasi dan pastikan semua siap hadir tepat pada waktunya

6. Pembagian tugas personil RUANG OPERASI


1.Scrub Nurse ( Instrumenter)
Pengertian : Petugas Kamar operasi yang secara steril mengelola semua kebutuhan
instrumentasi sebelum, selama dan setelah operasi
Tanggung jawab : menjaga keutuhan dan efisisensi derah steril dengan
menyediakan instrumen dan supply steril yang diperlukan
Syarat :
 Perawat bedah terlatih secara intern RS
 Menguasai betul / fasih teknik aseptik antiseptic
 Mengenal dengan baik teknik operasi yang dilakukan dan kemungkinan
kegawatan
 Mengenal dengan baik instrumentasi yang diperlukan
 Mengenal karakteristik operator

18
Tugas :
Sebelum Operasi
 Bersama omloop/sirkuler menyiapkan instrumen dan alat-alat termasuk
benang jahit, jarum, juga ketersediaan obat2an anestesi, dan cairan
 Memeriksa ulang kesiapan instrumentasi , pastikan susunan berdasarkan
urutan tindakan operasi.
 Melakukan cuci tangan bedah,memakai jas operasi dansarung tangan steril
dengan teknik yang benar
 Bila tersedia meja mayo, maka siapkan meja mayo
 Membantu druang operasiter atau asisten satu dalam tindakan antiseptik kulit.
Berdiri pada disisi operator / asistensatu saat melakukan antiseptik kulit.
 Membantu menutup pasien dengan duk steril
 Menyiapkan dan memberikan instrument

Selama Operasi
 Memperhatikan jalannya operasi dan mencoba membaca keperluan operator
satu langkah lebih dahulu.
 Selalu tersedia kasa di daerah operasi. Sediakan pada wadah tertentu seperti
nierbekken.
 Ingat! Kelompruang operasikan kasa dalam satu ikatan dengan jumlah yang
tertentu. Buka lah bundel satu persatu bila diperlukan agar tidak tercampur
satu sama lain. Hitung selalu kasa yang tersedia di area operasi dan kasa yang
sudah terpakai. Buang Kasa yang sudah terpakai pada tempat sampah
infeksius
 Menjaga agar daerah operasi selalu rapi dan kering
 Instrumen tidak boleh menumpuk tapi harus tersusun.
 Jangan biarkan darah mengering pada instrument
 Meminta supply alat tambahan kepada omloop/sirkuler
 Bila sarung tangan bolong atau robek atau tertusuk,segera diganti
 Posisi tubuh harus tegak, tidak bolah bersandar pada meja instrumen.
 Sebelum menutup luka, hitung kembali kasa ,instrumen, jarum.

Pasca Operasi
 Membersihkan luka operasi dengan Na Cl 0,9% steril ,keringkan dengan kasa
kering
 Luka operasi ditutup dengan kompres betadine dankasa steril dan difixir
dengan plester
 Lepaskan duk, periksa duk klem jangan sampai tertinggal
 Rendam instrumen dalam waskom plastik berisi larutanchlorine 0,5%,
biarkan selama 10 menit. Rendam secara sekaligus jangan menambah sedikit-
sedikit instrument yang direndam.
 Bisturi di buang di tempat sampah benda tajam
 Sebelum dicabut, kanul dan selang harus selalu dispooling / bilas dengan air
chlorine 0,5% dan air bersih

19
 Cuci sarung tangan/handschoen dengan chlorine 0,5% sebelum dilepaskan.
Buang sarung tangan/handschoen ketempat sampah infeksius (warna kuning)
 Bila ada spesimen yang sudah disiapkan Omloop/sirkuler dicek kembali.

2. Asisten utama (asisten satu)


Pengertian : Petugas yang mebantu operator melaksanakan operasi
Tanggung jawab : Terlaksananya operasi dengan baik dan aman.
Syarat :
 Druang operasiter/perawat kamar bedah terlatih secara intern RS
 Menguasai betul / fasih teknik aseptik antiseptik
 Mengenal dengan baik teknik operasi yang dilakukan dan kemungkinan
kegawatan
 Mampu mengelola pasien gawat
 Mengenal dengan baik instrumentasi yang diperlukan
 Mengenal karakteristik operator
 Teliti dan cekatan
 Diutamakan berpengalaman

Tugas :
Sebelum operasi
 Berkomunikasi dengan operator mengenai rencana tindakan operasi dan
kemungkinan komplikasi
 Memastikan identitas pasien dan kelengkapan administrasi
 Memeriksa pasien yang akan di operasi
 Memastikan kelengkapan instrumen dan peralatan
 Memastikan kesiapan kegawatan
 Memastikan kesiapan anestesi
 Memastikan kesiapan fasilitas ruangan operasi
 Membantu memposisikan pasien
 Membantu operator melakukan antiseptik
 Membantu operator menutupi pasien dengan duk steril
 Berkomunikasi dengan anestesi tentang kesiapan tindakan operasi dan
kondisi pasien
 Cuci tangan bedah dan mengenakan jas operasi

Selama Operasi
 Membantu operator dalam setiap tindakan yangdilakukan
 Memberikan lapang pandang yang baik pada area operasi dan bersih
sepanjang operasi
 Memantau dan meminimalisir perdarahan
 Mengawasi kondisi pasien dan berkomunikasi dengan anestesi
 Mengawasi kinerja instrumenter dan asisten dua
 Mengantisipasi kebutuhan operator baik kebutuhan personal maupun
kebutuhan tindakan operasi selangkah di depan operator
 Bertindak sebagai manajer dari tim pendukung operasi

20
Sesudah operasi
 Membantu menutup luka, membersihkan pasien
 Membantu anestesi mengamankan pasien
 Membantu transport pasien
 Memberikan penjelasan kepada keluarga pasien
 Berkomunikasi dengan operator tentang follow up pasien

3. Asisten madya (asisten dua)


Pengertian : Petugas Kamar operasi yang secara steril membantu operator dan
asisten utama selama operasi
Syarat :
 Perawat kamar bedah terlatih secara intern RS
 Menguasai betul / fasih teknik aseptik antiseptik
Tugas :
Sebelum Operasi
 Bersama omloop menyiapkan instrumen dan alat-alat termasuk benang jahit,
jarum, juga ketersediaan obat2an anestesi, dan cairan
 Melakukan cuci tangan bedah,memakai jas operasi dan sarung tangan steril
dengan teknik yang benar
 Bila tersedia meja mayo, maka siapkan meja mayo
 Membantu druang operasiter atau asisten satu dalam tindakan antiseptik kulit.
Berdiri pada disisi operator / asisten satu saat melakukan antiseptik kulit.
 Membantu menutup pasien dengan duk steril

Selama Operasi
 Memperhatikan jalannya operasi dan mencoba membaca keperluan operator
satu langkah lebih dahulu.
 Menghitung selalu kasa yang tersedia di area operasidan kasa yang sudah
terpakai. Buang Kasa yang sudah terpakai pada tempat sampah infeksius
 Menjaga agar daerah operasi selalu rapi dan kering
 Membantu sehingga Instrumen tidak boleh menumpuk
tapi harus tersusun.
 Sebelum menutup luka, hitung kembali kasa ,instrumen, jarum.

Pasca Operasi
 Membersihkan luka operasi dengan Na Cl 0,9% steril , keringkan dengan
kasa kering
 Luka operasi ditutup dengan kompres betadine/salep antiseptik dan kasa
steril dan difixir dengan plester / Hypafix
 Lepaskan duk, periksa duk klem jangan sampai tertinggal
 Rendam instrumen dalam waskom plastik berisi larutanchlorine 0,5%,
biarkan selama10 menit. Rendam secara sekaligus jangan menambah sedikit-
sedikit instrument yang direndam.

21
 Bisturi di buang di tempat sampah benda tajam (Sharp container warna
kuning)
 Membantu malakukan spooling / bilas kanul dan selang dengan air chlorine
0,5% dan air bersih
 Cuci sarung tangan/handschoen dengan chlorine 0,5% sebelum dilepaskan.
Buang sarung tangan/handschoen ketempat sampah infeksius (warna kuning)
 Membantu kegiatan omloop/sirkuler dan instrumenter

4. Circuler (Omloop)
Pengertian: Petugas kamar operasi yang tidak steril( tidak memakai jas operasi
tidak memakai handschoen steril)
Tanggung jawab:Membantu memenuhi seluruh kebutuhan kamar operasi,
operator, anestesi, instrumenter dan pasien sebelum, selama
dan sesudah operasi.Membantu team yang steril dengan supply
yang steril.
Syarat :
 Perawat kamar bedah terlatih secara intern RS
 Menguasai betul / fasih teknik aseptik antiseptic
 Mengenal dengan baik teknik operasi yang dilakukan dan kemungkinan
kegawatan
 Mengenal dengan baik instrumentasi yang diperlukandan letak penyimpanan
instrumen dan bahan medic lain dalam kompleks RUANG OPERASI
 Cekatan dan insiatif
Tugas :
Sebelum Operasi
 Cuci tangan bedah tapi tidak memakai jas dan handschoen steril. Handschoen
dapat yang steril tapi tidak dijaga sterilitasnya.
 Memeriksa kebersihan ruangan , membersihkan ruangan jika belum
dibersihkan
 Membantu mempersiapkan instrumen bersama instrumenter
 Identifikasi pasien dan serah terima pasien, memastikan kelengkapan
administrasi
 Membantu transport pasien senyaman mungkin
 Mengganti pakaian pasien
 Membantu memposisikan pasien di meja operasi
 Menyambungkan alat 2 ke supply listrik,menyambungkan selang dan kabel
steril dengan alatyang non steril spt suction atau diatermi, mesin anestesi dll
 Membantu team steril mengenakan apron, jas operasi, sepatu shoes
 Mengisi buku catatan operasi, catatan pasien, formulir pemeriksaan, dsb

Selama Operasi
 Melihat jalannya operasi dan selalu memenuhi alat ,supply atau instrumen
yang dibutuhkan team

22
 Menghitung kasa yang dipakai
 Memperhatikan kebutuhan pasien semisal pasien kedinginan, infus habis ,
posisi dsb
 Selalu berkomunikasi dengan seluruh tim . Bila keluar ruangan agar
memberitahukan instrumenter
 Menerima spesimen dengan baik dan mengelolanya dengan benar
 Membantu kebutuhan personal tim steril seperti menghapus keringat,
menghapus cipratan darah,membenahi pakaian , menyediakan alas kain pada
lantai dsb
 Menjaga agar ruang operasi selalu bersih , rapi, dan nyaman

Setelah Operasi
 Menyediakan waskom chlorine 0,5% untuk cuci handschoen operator,
melepaskan jas operasi
 Menyediakan waskom berisi larutan enzymatic untuk merendam alat-alat
yang sudah dipakai
 Memasangkan plester pada kasa/dressing
 Membersihkan pasien dari darah dan kotoran lainnya dari tubuh.
 Memakaikan pakaian pasien dengan baik
 Transport pasien ke ruang pemulihan bersama druang operasiter anestesi atau
serah terima pasien dengan petugas rawat inap.
 Menyiapkan laporan operasi, formulir pemeriksaan atau resep , serta
konsumsi untuk operator
 Membantu instrumenter membersihkan alat dan instrument
 Membersihkan ruangan operasi dan menyiapkan ruangan operasi

7. Transport Pasien
 Pasien diantarkan ke Ruang operasi oleh perawat ruangan rawat inap
 Tergantung kondisi pasien, pasien dapat diantar dengan membawa bed atau dengan
kursi roda
 Dilakukan serah terima berita acara tindakan operasi antara perawat ruangan dengan
petugas RUANG OPERASI, beserta status pasien dan obat-obatan yang diperlukan
 Petugas RUANG OPERASI memeriksa kembali kelengkapan administrasi dan
identitas pasien
 Setelah dinilai lengkap, pasien dibawa ke koridor transport pasien untuk kemudian
dipindahkan ke brankar RUANG OPERASI
 Lakukan pemindahan senyaman mungkin
 Setelah pasien diatas brankar, posisikan senyaman mungkin, bed pasien
dikeluarkan. Pasien dibawa ke koridor ruang recovery
 Ganti semua pakaian dengan duk bersih, lepaskan semua perhiasan, beri penutup
kepala, lakukan senyaman mungkin sesuai tata krama. Tenangkan pasien.
 Setelah selesai, pasien ditransport ke ruang operasi,pindahkan pasien ke meja
operasi senyaman mungkin..

23
 Semua suportif diperiksa kelancarannya : IV line, urine catheter, O2, Pasang manset
Tekanan darah, pasang pulse oxymetri, nyalakan pulse ruang operasisimeter/ECG
Monitor

BAB IV
DOKUMENTASI

A. Pencatatan dan Pelaporan


Kegiatan, perubahan-perubahan dan kejadian yang terkait dengan persiapan dan
pelaksanaan pengelolaan pasien selama pra-bedah, pemantauan durante bedah dan pasca
bedah di ruang pulih/ruang perawatan dicatat secara kronologis dalam catatan bedah di
dalam rekam medis pasien.

Catatan bedah ini dilakukan sesuai ketentuan perundang-undangan, diverifikasi dan


ditandatangani oleh druang operasiter spesialis bedah/druang operasiter gigi yang
melakukan tindakan pembedahan dan bertanggung jawab atas semua yang dicatat tersebut.

Penyelenggaraan pelaporan pelayanan bedah di rumah sakit dilaporkan secara berkala


kepada pimpinan rumah sakit sekurang-kurangnya meliputi:

1. Jenis pembedahan dan jumlahnya:


1. Minor /kecil
2. Medium/Sedang
3. Mayor/Besar
2. Kasus emergensi : Ya/Tidak
3. Monitoring tambahan
4. Komplikasi : Ada/ Tidak
5. Tipe Anestesi

24
BAB V
PROGRAM PENINGKATAN MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN

Dalam upaya pengendalian mutu, pelayanan bedah menetapkan indikator mutu yang harus
dilaksanakan dan dicapai.Indikator mutu dimonitoring setiap hari, dan dilaporkan setiap bulan
ke komite mutu dalam bentuk analisa data.Dan jika ada kejadian insiden keselamatan pasien
terkait yang terkait dengan pelayanan bedah, dilaporkan ke komite keselamatan pasien Rumah
sakit sesuai prosedur yang ditetapkan Rumah sakit.
Indikator mutu pelayanan bedah adalah :
1. Kepatuhan Operator memberikan marker pada daerah operasi sebelum dilakukan tindakan
bedah

Judul Indikator Penanggung Jawab Tanggal Pelaporan Data:


Kepatuhan Operator Pengumpul Data: Tanggal 3 setiap bulan
memberikan marker pada PJ Mutu Kamar Bedah
daerah operasi
Alasan Pemilihan Tujuan : Definisi Operasional:
Indikator : Meningkatkan kepatuhan
Masih belum patuh pelaksanaan marking sebelum Tindakan operasi yang
pelaksanaan marking pada tindakan bedah oleh petugas. harus diberikan penandaan
saat tindakan pembedahan adalah jenis operasi sbb :
Dimensi Mutu : 1. Beda sisi (kanan &
Keselamatan pasien kiri)

25
Numerator: Metodologi Pengumpulan 2. Multiple stuktur
Jumlah pasien yang Data: 3. Multiple Level
diberikan penandaan Retrospective 4. Multiple Lesi
sebelum tindakan operasi Concurrent Penandaan dilakukan
dalam satu bulan paling lambat diruang
Frekuensi Pengumpulan Data: persiapan kamar operasi
Denominator: Daily Weekly Monthly
Jumlah seluruh tindakan Other
yang harus diberikan
penandaan dalam bulan yang Frekuensi Analisis Data :
sama ( 1minggu/ 1 bulan/ 3 bulan)

Formula Pengukuran : Cakupan Data : Unit kamar


Numerator bedah dan tindakan bedah minor
X100%
Denominator

Sumber Data : Form


Marking

Metodologi Analisis Data : Judul form pengawasan (lampirkan):


Data diambil dengan melakukan review Formulir Audit Kepatuhan Operator memberikan
sebelum pasien dilakukan tindakan marker pada daerah operasi.
operasi (paling lambat diruang persiapan
operasi) dan pengecekan pada formulir
Marking. Data hasil perhitungan
ditampilkan dalam bentuk persentase.
Publikasi Data: Target pencapaian: 100 %
Hasil akan disosialisasikan di rapat
presentasi oleh ketua Komite Mutu
kepada anggota rapat, papan
pengumuman.

2. Kepatuhan waktu pelaksanaan operasi elektif

Judul Indikator Penanggung Jawab Tanggal Pelaporan Data:


Ketepatan waktu Pengumpul Data: Tanggal 3 setiap bulan
pelaksanaan Operasi Elektif PJ Mutu Kamar Bedah

26
Alasan Pemilihan Tujuan : Definisi Operasional:
Indikator : Meningkatkan kedisiplinan
Masih terdapat kejadian petugas dalam Pasien yang diinduksi
keterlambatan operasi elektif menyelenggarakan pelayanan kurang dari 30 menit dari
kamar bedah. jadwal operasi.

Dimensi Mutu : Eksklusi: operasi Cito


Efektifitas, efisiensi, dan
kesinambungan pelayanan
Numerator: Metodologi Pengumpulan
Jumlah pasien yang Data:
diinduksi kurang dari 30 Retrospective
menit dari jadwal operasi Concurrent
dalam 1 bulan
Frekuensi Pengumpulan Data:
Daily Weekly Monthly
Denominator: Other
Jumlah seluruh pasien yang
dilakukan operasi elektif Frekuensi Analisis Data :
dalam bulan yang sama ( 1minggu/ 1 bulan/ 3 bulan)

Formula Pengukuran : Cakupan Data : Unit kamar


Numerator bedah dan tindakan bedah minor
X100%
Denominator

Sumber Data : Buku


Register Kamar operasi,
Laporan Operasi
Metodologi Analisis Data : Judul form pengawasan (lampirkan):
Data diambil dengan melakukan review Formulir Audit Ketepatan waktu pelaksanaan
waktu penjadwalan operasi dan waktu operasi elektif.
pelaksanaan induksi pasien. Data hasil
perhitungan ditampilkan dalam bentuk
persentase.
Publikasi Data: Target pencapaian: 90 %
Hasil akan disosialisasikan di rapat
presentasi oleh ketua Komite Mutu
kepada anggota rapat, papan

27
pengumuman.

BAB VI
PENUTUP

Pedoman Pelayanan Bedah di Rumah Sakit PT Chevron Pacific Indonesia hendaknya


dijadikan acuan bagi rumah sakit dalam pengelolaan penyelenggaraan dan penyusunan standar
prosedur operasional pelayanan bedah.
Penyelenggaraan pelayanan bedah dibagi menjadi 3 yaitu operasi minor sedang dan
operasi mayor, sedangkan klasifikasi berdasarkan pada kemampuan pelayanan, ketersediaan
sumber daya manusia, sarana dan prasarana serta peralatan yang disesuaikan dengan kelas
rumah sakit.

Dibutuhkan dukungan dari semua pihak terutama pimpinan rumah sakit agar mutu
pelayanan bedah, gigi dan keselamatan pasien dapat senantiasa ditingkatkan dan
dipertahankan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang bedah.

Duri, 28 Desember 2018


Direktur Pengelola RS.PT CPI

dr. Ronny, MARS

28
29

Anda mungkin juga menyukai