EKONOMI MONETER
SEJARAH UANG
Dosen :
Sri Murtatik SE, MM
Disusun oleh :
Nurul Atmaningrum (1810101007)
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
2019
KATA PENGANTAR
Puji serta syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunia-
Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini guna memenuhi tugas Ekonomi Moneter dengan
judul makalah “Sejarah Uang” tepat pada waktunya.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam makalah ini, baik dari segi
materi maupun penulisan. Oleh karena itu, penulis menerima segala kritik ataupun saran yang
sifatnya membangun dari pembaca.
Walaupun demikian, penulis berharap dengan disusunnya makalah ini dapat membantu
dalam proses belajar maupun mengajar serta dapat bermanfaat bagi pembaca.
Jakarta, Februari 2019
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Uang yang kita kenal sekarang ini telah mengalami proses perkembangan yang
panjang. Pada mulanya, masyarakat belum mengenal pertukaran karena setiap orang
berusaha memenuhi kebutuhannnya dengan usaha sendiri. Manusia berburu jika ia
lapar, membuat pakaian sendiri dari bahan-bahan yang sederhana, mencari buah-
buahan untuk konsumsi sendiri; singkatnya, apa yang diperolehnya itulah yang
dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhannya. Perkembangan selanjutnya
mengahadapkan manusia pada kenyataan bahwa apa yang diproduksi sendiri ternyata
tidak cukup untuk memenuhui seluruh kebutuhannya. Untuk memperoleh barang-
barang yang tidak dapat dihasilkan sendiri, mereka mencari orang yang mau
menukarkan barang yang dimiliki dengan barang lain yang dibutuhkan olehnya.
B. Rumusan masalah
1. Apa saja alat tukar yang digunakan sebelum terciptanya uang?
2. Bagaimana proses terciptanya uang?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Alat tukar yang digunakan sebelum terciptanya uang
a. Sistem barter
Sebelum ada uang, masyarakat memenuhi kebutuhan hidup dengan cara
melakukan pertukaran barang yang dibutuhkan dengan barang lain, hal ini disebut
nature atau in nature. Untuk memperoleh barang-barang yang tidak dapat dihasilkan
sendiri, mereka mencari orang yang mau menukarkan barang yang dimiliki dengan
barang lain yang dibutuhkan olehnya. Akibatnya munculah system 'barter' yaitu barang
yang ditukar dengan barang. Pertukaran ini bisa terjadi apabila terdapat dua orang yang
saling membutuhkan barang tertentu dan memiliki kebutuhan yang bersifat timbal
balik. Namun seiring dengan perkembangan kebudayaan masyarakat, pertukaran
semacam ini ternyata menimbulkan kesulitan, kesulitan tersebut antara lain sebagai
berikut :
- Sulit untuk menemukan orang yang mempunyai barang yang dibutuhkan dan mau
menukarkan barang yang dimilikinya.
- Kesulitan untuk memperoleh barang yang dapat dipertukarkan satu sama lainnya
dengan nilai pertukaran yang seimbang atau hampir sama nilainya.
b. Uang barang (commodity money)
Kesulitan – kesulitan yang dihadapi saat proses barter tersebut akhirnya
mendorong masyarakat untuk mencari cara mengatasinya, yaitu dengan menetapkan
suatu benda – benda tertentu untuk digunakan sebagai alat tukar. Benda – benda yang
ditetapkan sebagai alat pertukaran itu adalah benda-benda yang diterima oleh umum
(generally accepted), benda – benda yang dipilih bernilai tinggi (sukar diperoleh atau
memiliki nilai magis dan mistik), atau benda-benda yang merupakan kebutuhan primer
sehari-hari.
Pada saat itu bentuk uang tidaklah seperti uang yang kita kenal saat ini, bentuk
uang yang pertama berupa benda – benda istimewa atau benda yang digemari dan
diinginkan oleh semua orang. Benda tersebut disebut dengan uang barang (commodity
money), misalnya seperti batu mulia, besi, garam, kapas, dan kulit binatang. Contohnya
garam yang digunakan oleh orang Romawi sebagai alat tukar maupun sebagai alat
pembayaran upah. Pengaruh orang Romawi tersebut masih terlihat sampai sekarang:
orang Inggris menyebut upah sebagai salary yang berasal dari bahasa Latin salarium
yang berarti garam. Benda tersebutlah yang akhirnya disebut sebagai uang.
Lagi – lagi uang barang juga menemui kesulitan dalam penerapannya, kesulitan
tersebut adalah karena benda-benda yang dijadikan alat tukar belum mempunyai
pecahan sehingga penentuan nilai uang menjadi sulit misalnya bagaimana membedakan
nilai kulit binatang yang besar dengan kulit binatang yang kecil, penyimpanan (storage)
dan pengangkutan (transportation) juga menjadi sulit dilakukan karena barang tersebut
tidak punya identitas seperti ukuran, bentuk, dan berat. Serta timbul pula kesulitan
akibat kurangnya daya tahan benda-benda tersebut sehingga mudah hancur atau tidak
tahan lama.
c. Logam
Oleh karena kesulitan – kesulitan dalam menggunakan uang barang tersebut
masyarakat akhirnya memilih logam (terutama emas dan perak) sebagai bahan pembuat
uang dan dari sinilah muncul mata uang logam. Keunggulan logam terletak pada nilai
yang tinggi, digemari banyak orang, tahan lama, mudah dibawa dan mudah dipecah
dengan tidak mengurangi nilainya serta mudah dipindah – pindahkan.
Logam yang dijadikan alat tukar karena memenuhi syarat-syarat tersebut adalah
emas dan perak. Uang logam emas dan perak juga disebut sebagai uang penuh (full
bodied money). Artinya, nilai intrinsik (nilai bahan) uang sama dengan nilai
nominalnya (nilai yang tercantum pada mata uang tersebut). Pada saat itu, setiap orang
berhak menempa uang, melebur, menjual atau memakainya, dan mempunyai hak tidak
terbatas dalam menyimpan uang logam.
Sejalan dengan perkembangan perekonomian, timbul suatu anggapan kesulitan
ketika perkembangan tukar – menukar yang harus dilayani dengan uang logam
bertambah sementara jumlah logam mulia (emas dan perak) sangat terbatas.
Penggunaan uang logam juga sulit dilakukan untuk transaksi dalam jumlah besar
d. Uang kertas (token money)
Akhirnya lahirlah uang jenis baru yaitu uang kertas. Mula – mula uang kertas
yang beredar merupakan bukti-bukti pemilikan emas dan perak sebagai alat/perantara
untuk melakukan transaksi. Dengan kata lain, uang kertas yang beredar pada saat itu
merupakan uang yang dijamin 100% dengan emas atau perak yang disimpan di pandai
emas atau perak dan sewaktu – waktu dapat ditukarkan penuh dengan jaminannya.
Sehingga jika seseorang memiliki uang kertas berarti orang tersebut memiliki emas atau
perak. Pada perkembangan selanjutnya, masyarakat tidak lagi menggunakan emas
(secara langsung) sebagai alat pertukaran.
Uang kertas tidak memiliki nilai intrinsic tetapi hanya memiliki nilai nominal
sehingga uang itu digolongkan sebagai token money (uang tanda) atau dengan kata lain
nilai nominal uang tersebut lebih tinggi dari nilai intrinsicnya (nilai bahan uang).
e. Uang kertas (fiduciary money)
Selanjutnya mengikuti perkembangan, peran serta pemerintah dalam
mengawasi hal – hal yang berkaitan dengan uang juga semakin terasa sehingga
kecurangan – kecurangan dalam pertukaran semakin berkurang. Dan pada akhirnya
pemerintah mengambil alih sebagai pihak yang berhak mengeluarkan uang. Masyarakat
dilarang membuat uang sendiri.
Perkembangan selanjutnya uang kertas yang beredar saat ini tidak lagi dijamin
dengan emas, namun uang kertas tetap diterima masyarakat karena percaya pada
pemerintah yang sudah mengeluarkan uang kertas tersebut. Karena uang kertas
diterima oleh masyarakat berdasar kepercayaan dari pemerintah, maka uang kertas
tersebut disebut sebagai mata uang fidusiar (fiduciary money) atau uang kepercayaan.
Fiduciary money adalah mata uang yang tidak sepenuhnya dijamin dengan emas atau
perak, tetapi nilainya tetap dapat dipertahankan karena kepercayaan masyarakat pada
pemerintah. Pada akhirnya uang kertas inilah yang berlaku sampai saat ini.
2.2 Sejarah uang di Indonesia
Sejarah uang di Indonesia sudah dimulai sejak masa kerajaan-kerajaan Nusantara.
Setiap kerajaan memiliki mata uang tersendiri dan akan berbeda dengan mata uang dari
kerajaan lain. Pada masa itu, uang terbuat menggunakan emas dan perak, dan nilainya
ditentukan oleh beratnya. Satu kerajaan memiliki bentuk uang yang unik karena terbuat
dari bahan kain tenun yang disebut kampua. Uang kampua ini dinilai berdasarkan coraknya.
Memasuki masa penjajahan Belanda, uang diterbitkan oleh VOC berbentuk koin dan
kertas. Mata uang kertas dibuat dengan menggunakan jaminan perak seratus persen. Begitu
pula pada masa penjajahan Jepang yang menerbitkan jenis uang koin dan kertas versi
pemerintahan Jepang di Indonesia. Uang koin pada masa ini dibuat dengan menggunakan
alumunium dan timah.
Setelah proklamasi kemerdekaan, pemerintah Indonesia membuat uang sendiri yang
disebut sebagai uang ORI. Sejak saat itu, desain uang di Indonesia terus mengalami
pergantian desain dan nilai sesuai dengan masa kepemimpinan pemerintahan. Kini, kita
mengenal pecahan uang tertinggi senilai Rp 100.000,00.
Sebelum dikeluarkannya Undang-undang Nomor 13 Tahun 1968, kegiatan pencetakan
uang dilakukan oleh pemerintah. Namun setelah terbitnya undang-undang tersebut, hak
pemerintah dalam pencetakan uang dicabut (pasal 26 ayat 1). Maka dibentuklah bank
sentral sebagai satu-satunya lembaga yang berhak mencetak dan menerbitkan serta
mengedarkan uang (hak oktroi) di Indonesia yaitu Bank Indonesia.
BAB III
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA