Anda di halaman 1dari 4

Medan Banjir (Lagi)

Baru beberapa jam hujan mengguyur kota Medan, maka beberapa ruas jalan sudah
berubah seperti sungai. Akibatnya, banyak pengendara kendaraan yang harus super hati-hati agar
kendaraan mereka tidak mogok di jalan tersebut. Namun apa daya, sepandai-pandai tupai me-
lompat rupanya yang namanya banjir tidak mau kompromi sehingga banyak pengguna jalan harus
ikhlas mendorong kendaraannya karena air sudah sampai ke daerah busi. Sementara itu warga
yang berada di daerah aliran sungai (DAS) hatinya tidak tenang, takut air bah mengancam.
Inilah situasi yang terjadi saat ini, apalagi kalau hujan deras mengguyur Kota Medan
dengan jangka waktu yang cukup lama maka sudah dipastikan ada beberapa tempat yang
sungainya meluap dan perlu antisipasi untuk menolong warga yang harus mengungsi dari
rumahnya tersebut. Curah hujan yang cukup besar belakangan hari ini ini seharusnya memang
sudah sejak dulu diantisipasi, namun kenyataannya tidak demikian.
Pengerukan sungai yang seharusnya dilakukan sebelum musim penghujan rupanya tidak
dilakukan akibatnya, baru banjir muncul maka pihak Pemko baru buru-buru mengantisipasinya.
Begitu juga dengan tumbangnya pohon-pohon di jalan akibat angin kencang yang melanda pada
saat hujan. Sehingga tidak jarang ketika pohon tumbang dan melintang di jalan membuat jalan
semakin macat.
Persoalan banjir di Kota Medan sebenarnya bukanlah cerita lama. Setiap musim hujan,
maka akan munculnya masalah ini. Lalu yang menjadi pertanyaan buat kita, kenapa hal ini sering
terjadi? Apakah Pemko Medan ‘lambat’ mengatasi masalah ini, atau memang hujan tahun ini
begitu ekstrim atau ada masalah lain. Sebagai warga Kota Medan kita memang berhak
mendapatkan layanan yang baik. Karena itulah sudah sepantasnya Pemko Medan melakukan
kebijakan-kebijakan yang ‘terbarukan’ dalam mengantisipasi masalah yang krusial ini
Tetapi kita juga jangan hanya menyalahkan pemko saja. Kedisiplinan warga juga harus
benar-benar dilakukan. Bila daerah perumahan warga tersebut memang sudah dilarang untuk
ditinggali karena sering terjadi banjir, maka warga harus berkurban untuk hijrah ke tempat yang
memungkinkan agar mereka tidak terkena banjir. Lalu pertanyaannya dari mana uang untuk
membeli rumah yang dinilai aman tersebut? Di sinlah pemerintah harus benar-benar peduli dengan
membeli rumah yang sering dilanda banjir dan membuat kebijakan agar daerah-daerah ini tidak
boleh lagi untuk pembangunan, khususnya perumahan.
Sadar atau tidak sadar, munculnya masalah banjir ini, karena memang banyak lahan-lahan
yang harusnya bebas dari bangunan, kini menjadi kompleks perumahan. Aliran sungai yang
dulunya besar, kini diperkecil sehingga tentu saja jalan aliran sungainya akan mengganggu. Karena
itu diperlukan kebijakan yang tidak hanya dikhususkan kepada orang-orang ‘kaya’ saja tetapi juga
kebijakan yang menyelamatkan orang-orang miskin.
Masyarakat tentunya memaklumi kebijakan pemerintah, jika pemerintah juga dalam
membuat kebijakan tidak hanya dikhususkan kepada mereka saja, tetapi juga kepada para
pengembang dan investor, agar lingkungan sekitar semakin terjadi, bukan semakin hancur. Oleh
karena itu diperlukan upaya-upaya yang sistematis dalam mengantisipasi bahaya banjir. Sehingga
kasus yang terjadi berulang-ulang ini tidak akan terjadi lagi. Tetapi jika hanya dilakukan kebijakan
ala kadarnya saja, maka sumber masalah tidak akan hilang, sehingga masalah tetap akan berulang.
Banjir merupakan bagian dari kehidupan masyarakat perkotaan, bila masayrakat tidak
mampu menjaga alam, dan terus menerus mengeksplorasi alam. Oleh karena itu, bila kita
menyayangi alam, pasti alam akan menyayangi kita. Tetapi bila kita hanya pandai merusak, ingat
suatu waktu alam pasti akan murka. Mudah-mudahan, pihak Pemko bisa belajar dari apa yang
terjadi hari ini, begitu juga dengan masyarakat yang diharapkan berperan aktif menjaga lingkungan
khususnya di daerah aliran sungai.
Sumber: http://harian.analisadaily.com/tajuk-rencana.
Perhatikan contoh teks editorial di bawah ini!

ENGGUSURAN LAHAN SALAH SIAPA?

Banjir yang selalu melanda Ibu Kota Jakarta sudah tidak bisa ditoleransi dan dimaklumi.
Harus ada solusi yang cepat dan tepat untuk mengatasinya sebelum Jakarta benar-benar
tenggelam. Salah satu solusi yang diusung Pemkot DKI Jakarta adalah program normalisasi
sungai. Program tersebut berupa pengosongan lahan di sekitar sungai-sungai yang ada di Jakarta.
Pengosongan lahan pun akan berimbas pada seluruh warga yang tinggal di permukiman sekitar
sungai. Dengan demikian, akan banyak relokasi yang dilakukan Pemkot DKI. Namun, relokasi
ke rusunawa ternyata bukanlah kabar gembira bagi warga sekitar bantaran sungai sebab itu
artinya mereka harus menata kembali hidup mereka dari awal sehingga tidak sedikit warga yang
melakukan aksi menolak penggusuran.
Masih segar dalam ingatan kita semua tragedi Kampung Pulo pada 20 Agustus 2015
kemarin. Tiga hari setelah rakyat Indonesia merayakan kemerdekaan yang ke-70 ternyata
menjadi momen mengerikan bagi warga Kampung Pulo. Mereka harus bersitegang dengan
petugas yang hendak menggusur permukiman mereka. Bahkan, bentrokan fisik yang memakan
korban luka pun tak terelakan dalam kejadian nahas itu. Hal ini sebenarnya membuat saya dilema
sekaligus kesal karena dalang dari semua keributan ini bukanlah pemerintah bukan juga rakyat
di sekitar bantaran Sungai Ciliwung. Lalu siapakah yang sebenarnya salah?
Jika kita telusuri, akar permasalahan ini adalah pihak yang mengizinkan orang-orang untuk
membuat perkemahan di bantaran sungai. Menurut masyarakat sekitar, mereka telah membayar
uang sewa kepada sejumlah oknum. Entah kita harus menyebut mereka apa? Entah preman, entah
yang lainnya. Yang pasti mereka itulah yang mengaku bahwa daerah tersebut, yang berplang milik
pemerintah, merupakan wilayah kekuasaannya sehingga mereka yang ingin membuat bangunan
harus meminta izin dan menyerahkan sejumlah uang untuk dapat memiliki lahan di tempat
tersebut.
Sayangnya, oknum tersebut tidak pernah muncul setiap pemerintah melakukan
penggusuran. Mereka (oknum) tidak pernah bertanggung jawab, dan mereka pun tidak pernah
ditindak tegas oleh pemerintah bahkan aparat keamanan. Keberadaannya hanya muncul ketika
hendak menerima keuntungan, sedangkan selanjutnya mereka tak mau menanggung kerugian yang
diterima warga bantaran sungai.
Dengan demikian, jelaslah siapa otak yang seharusnya digusur dan dibasmi. Para oknum
tak bertanggung jawab yang mengaku sebagai penguasa, sebab rakyat bantaran sungai tentu tidak
akan mendirikan bangunan jika tidak ada yang memberi izin sebab mereka pasti mengerti maksud
plang yang dipasang di sepanjang bantaran sungai. Pemerintah pun tidak akan melakukan
penggusuran jika tidak ada bangunan yang didirikan di pinggir sungai yang menyebabkan
penyempitan area sungai sehingga banjir selalu menimpa Jakarta yang notabene ibu kota negara.
Jika normalisasi sungai tidak dilakukan, seluruh penduduk Jakartalah yang rugi. Oleh karena itu,
marilah kita sama-sama pahami maksud pemerintah yang hendak merelokasi semua penghuni
bantaran ke rusunawa yang pemerintah siapkan. Tujuannya tiada lain agar tidak ada pihak yang
kembali dirugikan.
Banjir yang selalu melanda Ibu Kota Jakarta sudah tidak bisa ditoleransi dan dimaklumi.
Begitu pun pihak-pihak yang mendatangkan orang-orang yang menyebabkan kebanjiran tersebut
harus ditindak tegas oleh seluruh aparat.