Anda di halaman 1dari 8

TUGAS AKHIR MODUL 3

PENGORGANISASIAN INFORMASI/ PENGETAHUAN


DALAM INGATAN MANUSIA

Disusun Oleh :
Ragil Mery Yaniska, S.Pd
19110918410115

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI GURU DALAM JABATAN ANGKATAN 4


PROGRAM SERTIFIKASI PENDIDIKAN FISIKA
UNIVESITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2019

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Dalam kehidupan sehari-hari berbagai aktifitas yang kita lakukan merupakan bagian
dari proses belajar. Tindakan belajar dari suatu hal tersebut nampak sebagai perilaku
belajar yang nampak dari luar. Pengertian belajar sangat beragam, banyak dari para ahli
yang mengartikan secara berbeda-beda definisi dari belajar. Sebagaimana kita ketahui
bahwa belajar merupakan hal yang penting dalam bidang pendidikan. Menurut W.H. Burton
dalam sijai.com mendefinisikan belajar: “Learning is a change in the individual due to
instruction of that individual and his environment, which fells a need and makes him more
capable of dealing adequately with his environment”. Dari pengertian tersebut ada kata
‘change‘ maksudnya bahwa seseorang yang telah mengalami proses belajar akan
mengalami perubahan tingkah laku baik dalam kebiasaan (habit), kecakapan-kecakapan
(skills) atau dalam tiga aspek yaitu pengetahuan (kognitif), sikap (affektif), dan keterampilan
(psikomotor) (https://sijai.com/psikologi-belajar/#).
Informasi adalah pengetahuan yang didapat dari pembelajaran, pengalaman atau
instruksi yang telah dikumpulkan atau diterima melalui proses komunikasi maupun
pengumpulan data. Model pemrosesan informasi beranggapan bahwa anak-anak
mempunyai kemampuan yang lebih terbatas dan berbeda dengan orang dewasa. Anak-
anak tidak dapat menyerap banyak informasi, kurang sistematis dalam hal informasi apa
yang diserap, tidak banyak mempunyai strategi untuk mengatasi masalah, tidak mempunyai
banyak pengetahuan mengenai dunia yang diperlukan untuk memahami masalah, dan
kurang mampu memonitor kerja proses kognitifnya.
Dari zaman dahulu, para ilmuwan terus mengembangkan teori – teori belajar
sebagai temuan mereka untuk mengembangkan pemikiran belajar mereka. Era globalisasi
telah membawa berbagai perubahan yang memunculkan adanya teori – teori belajar yang
baru guna menyempurnakan teori – teori yang telah ada sebelumnya. Akan tetapi, kita
sebagai insan tak bisa bertolak dengan adanya teori belajar yang telah ada sebelumnya.
Teori belajar pada umumnya dibagi menjadi 4 golongan, yaitu teori behavioristik, teori
kognitif, teori konstuktivistik, dan teori humanistik. (https://sijai.com/psikologi-belajar/#)
Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat
dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Teori kognitif berbeda dengan dengan
teori belajar behavioristik. Teori belajar kognitif lebih menekankan pada proses belajar
daripada hasil belajarnya. Sementara itu, teori konstruktivistik lebih kepada arah modern
dalam proses belajar yaitu membantu siswa menginternalisasi dan mentransformasi
informasi baru. Sedangkan menurut teori humanistik, proses belajar harus dimulai dan
ditujukan untuk kepentingan memanusiakan manusia itu sendiri. (Modul Kegiatan Belajar 1
s.d 4)
Teori-teori belajar selalu bertolak dari sudut pandangan psikologi belajar tertentu.
Akibatnya, psikologi dalam pendidikan menjadi berkembang sangat pesat. Dengan
bermunculnya teori – teori yang baru akan menyempurnakan teori – teori yang sebelumnya.

2
Berbagai teori belajar dapat dikaji dan diambil manfaat dengan adanya teori tersebut.
Pemahaman guru akan pengertian dan makna belajar akan mempengaruhi tindakannya
dalam membimbing siswa untuk belajar. Guru yang hanya memahami belajar agar murid
bisa menghafal tentu berbeda cara mengajarnya dengan guru yang memahami teori belajar
dan tahu bahwa belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku. Dalam hal ini, penulis
akan mengkaji aplikasi teori belajar pengelolaan informasi/pengetahan dalam ingatan
manusia.

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah yang ada antara lain:
1. Apa yang dimaksud dengan pengolahan informasi?
2. Apa sajakah komponen belajar menurut teori pengolahan informasi
3. Apakah unsur struktur memori manusia?
4. Bagaimanakah aplikasi teori pengolahan informasi dalam belajar?

C. TUJUAN
1. Mengetahui pengertian pengolahan informasi
2. Mengetahui komponen belajar menurut teori pengolahan informasi
3. Mengetahui unsur struktur memori manusia
4. Mengetahui aplikasi teori pengolahan informasi dalam belajar

3
BAB II
PEMBAHASAN
A. Informasi
Dalam ungkapan sehari-hari, banyak yang mengatakan bahwa informasi adalah segala
yang kita komunikasikan, seperti yang disampaikan oleh seseorang lewat bahasa lisan, surat
kabar, video, dan lain-lain. Ungkapan ini karena seringnya dipakai—Fox (1983) yang dikutip
Pendit (1992:64) mengategorikannya sebagai the ordinary notion of information. Dalam
ungkapan ini, terkandung pengertian bahwa tidak ada informasi kalau tidak ada yang
membawanya. Di antara yang membawa informasi ini, yang paling sering dibicarakan adalah
bahasa manusia melalui komunikasi antarmanusia. Meskipun tidak selalu manusia yang
membawa informasi, komunikasi bisa juga berarti asap, DNA, aliran listrik, atau gambar.
Dengan demikian, informasi di sini bisa dianggap sebagai pesan atau makna yang
terkandung dalam sebuah pesan. Oleh karena itu, ada tiga makna dari kata informasi.
Pertama adalah informasi sebagai suatu proses, yaitu merujuk pada kegiatan-kegiatan
menjadi terinformasi. Kedua, informasi sebagai pengetahuan. Di sini, informasi mengacu
pada segala kejadian di dunia (entitas) yang tak terhingga, yang tak dapat disentuh, atau
sesuatu yang abstrak. Sebagai sesuatu yang abstrak, informasi dilihat dari makna yang
terkandung dalam keseluruhan medium yang digunakan, kemudian dapat diartikan secara
berbeda antara si pengirim dan si penerima. Informasi dianggap sebagai bagian abstrak dari
pikiran manusia sesuai dengan isi dan makna pesan yang diterima. Makna yang ketiga
adalah informasi dianggap sebagai suatu benda atau penyajian yang nyata dari
pengetahuan. Sebagai benda yang nyata, informasi dilihat dari rangkaian simbol-simbol dan
dapat ditangkap oleh pancaindra manusia serta dapat saling dipertukarkan. Informasi
dianggap sebagai bahan mentah yang nyata, yang berada di luar manusia yang memerlukan
pemrosesan lebih lanjut.
Dalam hubungannya dengan sistem informasi, informasi dapat kita definisikan sebagai
kumpulan data yang terstruktur yang kita komunikasikan lewat bahasa lisan, surat kabar,
video, dan lain sebagainya. Hal tersebut dapat mempunyai dua pengertian, yaitu 1) sebagai
benda nyata (information as a thing) dan 2) sebagai sesuatu yang abstrak. Definisi tersebut
berdasarkan pendapat Teskey (Pendit, 1992). Menurutnya, informasi adalah kumpulan data
yang terstruktur yang disampaikan seseorang kepada orang lain.
Dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik,
disebutkan bahwa yang dimaksud dengan informasi adalah:
Keterangan, pernyataan, gagasan, serta tanda-tanda yang mengandung nilai, makna,
dan pesan, baik data, fakta, maupun penjelasannya yang dapat dilihat, didengar, dan
dibaca yang disajikan dalam berbagai kemasan dan format sesuai dengan
perkembangan teknologi informasi serta komunikasi secara elektronik ataupun
nonelektronik.

Dari beberapa definisi tentang informasi, dapat disimpulkan bahwa informasi adalah
suatu pernyataan, gagasan, fakta maupun penjelasannya yang dapat dilihat, didengar, dan
dibaca yang disajikan dalam berbagai kemasan yang memerlukan pemrosesan lebih lanjut.

4
B. Tahap Pengolahan Informasi
Pengolahan informasi merupakan perluasan dari bidang kajian ranah psikologi kognitif.
Dimana dalam ranah psikologi kognitif ini sebagai upaya untuk memahami mekanisme dasar
yang mengatur cara berpikirnya orang. Menurut Jean Piaget, dalam modul KB II,
perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetic, yaitu suatu proses yang didasarkan
atas mekanisme biologis perkembangan sistem syaraf. Semakin dewasa semakin komplek
pula sel syaraf, sehingga semakin meningkat pula kemampuan dalam menerima informasi.
(Modul Kegiatan Belajar II)
Secara sederhana pengertian pengolahan informasi adalah tentang bagaimana seorang
individu mempersepsi, mengorganisasi, dan mengingat sejumlah besar informasi yang
diterima individu dari lingkungan. Hal yang demikian juga dapat dikatakan bahwa
penggolahan informasi dapat dikatakan sebagai bagaimana respon individu terhadap
informasi yang di berikan oleh lingkungan di sekitarnya. Dalam teori pengolahan informasi
memiliki satu perbedaan dengan teori belajar yaitu pada derajat penekanan pada soal
belajar. Teori pengolahan informasi tidak memberlakukan belajar sebagai titik pusat
penelitian yang utama melainkan juga melihat sisi lainnya, seperti pada informasi yang
diperoleh ataupun melihat kemampuan memori seorang individu. Namun demikian, penelitian
pengolahan informasi memberikan sumbangan atas pengertian proses belajar. Dalam hal ini
maka dapat disimpulkan bahwa antara belajar dan pengolahan informasi adalah dua aspek
yang saling melengkapi. (https://agungekonugroho23.blogspot.com/2017/10/teori-
pengolahan-informasi-dalam memori.html)
Berdasarkan temuan riset linguistik, psikologi, antropologi dan ilmu komputer,
dikembangkan model berpikir. Pusat kajiannya pada proses belajar dan menggambarkan
cara individu memanipulasi simbol dan memproses informasi. Model belajar pemrosesan
informasi menurut Anita E. Woolfolk sering pula disebut model kognitif
informationprocessing, karena dalam proses belajar ini tersedia tiga taraf struktural sistem
informasi, yaitu:
1. Sensory atau intake register: informasi masuk ke sistem melalui sensory register, tetapi
hanya disimpan untuk periode waktu terbatas. Agar tetap dalam sistem, informasi
masuk ke workingmemory yang digabungkan dengan informasi di long-term memory.
2. Working memory: pengerjaan atau operasi informasi berlangsung di workingmemory,
dan di sini berlangsung berpikir yang sadar. Kelemahan workingmemory sangat
terbatas kapasitas isinya dan memperhatikan sejumlah kecil informasi secara serempak.
3. Long-term memory, yang secara potensial tidak terbatas kapasitas isinya sehingga
mampu menampung seluruh informasi yang sudah dimiliki peserta didik. Kelemahannya
adalah betapa sulit mengakses informasi yang tersimpan di dalamnya.
Diasumsikan, ketika individu belajar, di dalam dirinya berlangsung proses kendali atau
pemantau bekerjanya sistem yang berupa prosedur strategi mengingat, untuk menyimpan
informasi ke dalam long-term memory (materi memory atau ingatan) dan strategi umum
pemecahan masalah (materi kreativitas).

5
C. Memori Manusia
Ingatan (memori) yaitu suatu daya yang dapat menerima, menyimpan, dan
mereproduksi kembali sebuah pengetahuan. Memori/ingatan dipengaruhi oleh:
1. Sifat seseorang.
2. Alam sekitar.
3. Keadaan jasmani.
4. Keadaan rohani (kemauan, perasaan, dan lain-lain).
5. Umur manusia.
Ingatan digolongkan menjadi dua, yaitu:
1. Daya ingatan yang mekanis, artinya kekuatan ingatan itu hanya untuk pengetahuan yang
diperoleh dari pengindraan.
2. Daya ingatan logis, artinya daya ingatan itu hanya untuk pengetahuan-
pengetahuan yang mengandung pengertian.
Menurut Bruno (1987), memori (ingatan) ialah proses mental yang meliputi
pengkodean, penyimpanan, dan pemanggilan kembali informasi dan pengetahuan yang
semuanya terpusat di dalam otak. Apabila menerima sebuah informasi melalui indera mata
dengan cara melihat simbol/tulisan atau telinga mendengar informasi, maka mula-mula
informasi tersebut akan masuk ke dalam short term memory atau workingmemory/memori
jangka pendek. Kemudian, informasi tersebut diberi kode-kode khusus. Setelah selesai
proses pengkodean (encoding), informasi itu masuk dan tersimpan di dalam long term
memory atau permanentmemory (memori jangka panjang atau permanen).
Suatu saat apabila memerlukan informasi tersebut, maka memori akan kembali
berkerja atau berproses mencari respon dari kumpulan item-item informasi dan
pengetahuan yang terdapat dalam salah satu skema yang relevan tersebut. Skema (skema
kognitif) adalah semacam file yang berisi informasi dan pengetahuan sejenis
seperti linguistic schema untuk memahami kalimat dan culturalschema untuk menafsirkan
mitos dan kepercayaan adat dan lain-lain. Skema-skema tersebut berada di dalam sebuah
kumpulan yang disebut schemata yang tersimpan dalam subsistem akal permanen
manusia. Jadi, jika dianalogikan dengan komputer, schemata itu kurang lebih
ibarat folder atau directory yang berisi file-file yang masing-masing memiliki tipe, nama, dan
kandungan yang berada antara satu dengan yang lainnya. Kalau memerlukan informasi
mengenai sesuatu, dicarilah nama file yang relevan daridirectory/folder, lalu folder tersebut
diklik untuk membuka file atau memunculkan fileyang berisi informasi tersebut pada layar
monitornya.
Setelah proses pencarian sukses dilakukan, maka terjadilah peristiwa kognitif yang
disebut recall atau retrieval, yaitu pemanggilan kembali informasi yang terstruktur
dalam schemata yang terdapat di dalam memori tersebut. Pemanggilankembali
informasi yang sudah disimpan dapat menggunakan cara:
1. Recall, yaitu proses mengingat kembali informasi yang dipelajari di masa lalu tanpa
petunjuk yang dihadapkan pada organisme.
2. Recognize, yaitu proses mengenal kembali informasi yang sudah dipelajari melalui suatu
petunjuk yang dihadapkan pada organisme.

6
3. Redintegrative, yaitu proses mengingat dengan menghubungkan berbagai informasi
menjadi suatu konsep atau cerita yang cukup kompleks.Proses
mengingatreintegrative terjadi bila seseorang ditanya sebuah nama, misalnya nama
artis pemainsinetron, maka akan teringat banyak hal dari artis tersebut karena orang
tersebut telah menontonnya berkali-kali.
Sedangkan menurut Best (1990) setiap informasi yang diterima sebelum masuk dan
diproses oleh subsistem akal pendek (short term memory) terlebih dahulu disimpan sesaat
atau tepatnya lewat (karena hanya dalam waktu sepersekian detik saja) dalam
penyimpanan sementara yang disebut sensorymemory/sensory register, ini adalah
subsistem penyimpanan pada syaraf indera penerima informasi. Dalam dunia kedokteran
subsistem ini lazim disebut syaraf sensori yang berfungsi mengirimkan implus-implus ke
otak.

D. Aplikasi Teori Pengolahan Informasi Dalam Belajar


Antara belajar dan pengolahan informasi adalah dua aspek yang saling melengkapi.
Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat
penting dalam perkembangan. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses
penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam
bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-
kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam
diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi
dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang
mempengaruhi individu dalam proses belajar yang dijalankan oleh individu tersebut (peserta
didik).
Penerapan teori pengolahan informasi dalam belajar berasumsi bahwa memori
manusia itu suatu sistem yang aktif, yang mampu menyeleksi, mengorganisasi dan
mengubah menjadi suatu sandi-sandi informasi dan keterampilanbagi penyimpannya untuk
di pelajari. Dalam hal ini individu diartikan sebagai suatu objek yang memiliki kemampuan
untuk menghasilkan suatu penyeleksian, pengorganisasian dan pengubahan terhadap
informasi yang di dapat menjadi suatu sandi-sandi yang berguna untuk memudahkan
individu dalam proses belajar yang akan dijalaninya. Mengenai hal tersebut, para ahli
kognitif juga berasumsi bahwa belajar yang berhasil sangat bergantung pada tindakan
belajar daripada hal-hal yang ada di lingkungannya. Tindakan dari peserta didik adalah hal
utama yang mempengaruhi terhadap hasil belajar yang akan di capai dari peserta didik. Hal
ini menyangkut aspek perubahan perilaku seperti: aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Komponen belajar menurut teori pengolahan informasi adalah (1) perhatian yang
ditujukan pada stimulus, (2) pengkodean stimulus, dan (3) penyimpanan dan mendapatkan
kembali (retrival).Atas dasarkomponen dasar tersebut, selanjutnya hal yang esensial dari
pembelajaran adalah membimbing untuk menerima stimulus, memperlancar pengkodean,
dan memperlancar penyimpanan danretrival. Ketiga komponen tersebut merupakan satu
kesatuan yang harus dilakukan secara berurutan dan akan selalu mempengaruhi hasil yang
akan di dapat atau hasil belajar dari peserta didik itu sendiri.

7
BAB III
SIMPULAN

Dari pembahasan makalah diatas, maka dapat disimpulkan bahwa :


1. Pengolahan informasi adalah tentang bagaimana seorang individu mempersepsi,
mengorganisasi, dan mengingat sejumlah besar informasi yang diterima individu dari
lingkungan. Hal ini akan membantu seorang pendidik untuk memahami proses belajar yang
terjadi dalam diri peserta didik, mampu mengerti kondisi dan faktor yang mempengaruhinya
dan mengetahui hal-hal yang dapat menghambat serta memperlancar belajar peserta didik
2. Komponen belajar menurut teori pengolahan informasi adalah (1) perhatian yang ditujukan
pada stimulus, (2) pengkodean stimulus, dan (3) penyimpanan dan mendapatkan kembali
(retrival)
3. Terdapat tiga unsur struktur memori yaitu: Pencatatan penginderaan (Sensoric Memori),
Penyimpanan Jangka Pendek (workingmemory), dan Penyimpanan Jangka Panjang (Long
Term Memory)
4. Penerapan teori pengolahan informasi dalam belajar berasumsi bahwa memori manusia itu
suatu sistem yang aktif, yang mampu menyeleksi, mengorganisasi dan mengubah menjadi
suatu sandi-sandi informasi dan keterampilan bagi penyimpannya untuk di pelajari. Dalam
hal ini individu diartikan sebagai suatu objek yang memiliki kemampuan untuk
menghasilkan suatu penyeleksian, pengorganisasian dan pengubahan terhadap informasi
yang di dapat menjadi suatu sandi-sandi yang berguna untuk memudahkan individu dalam
proses belajar yang akan dijalaninya.