Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN KASUS

Stroke Sequelae
Untuk memenuhi tugas Program Dokter Internsip

Disusun Oleh:

dr. Cindy Berlian Sulaeman

Pembimbing:

dr. Eti Sutarti

PROGRAM DOKTER INTERNSIP

ANGKATAN III TAHUN 2018

PERIODE SEPTEMBER 2018 – SEPTEMBER 2019


LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS

Nama : Tn. I
Usia : 54 tahun
Alamat : Cipayung Rt/Rw: 01/01 Cibinong-Bogor
Status Marietal : Menikah
Agama : Islam
Pekerjaan : Wiraswasta
Pendidikan terakhir : SMP
MRS : 04 Juli 2019

II. ANAMNESIS
Dilakukan secara Autoanamnesis dan Aloanamnesis terhadap istri Pasien
1. Keluhan Utama : Lemah anggota tubuh sebelah kanan
2. Riwayat Penyakit Sekarang :
Os datang ke IGD RSUD Cibinong dengan keluhan lemah pada anggota
tubuh sebelah kanan. Keluhan dirasakan sejak ±2 tahun yang lalu secara tiba-tiba
saat pasien sedang bekerja. Sebelum anggota tubuh melemah Os merasakan nyeri
kepala hebat disertai pusing dengan pandangan terasa berputar hingga akhirnya
terjatuh. Saat ini anggota tubuh bagian kanan tidak dapat digerakkan sama sekali.
Keluhan lainnya adalah kesemutan pada kedua telapak tangan dan kaki sejak ± 1
minggu yang lalu. Nyeri kepala dan pusing berputar saat ini disangkal pasien.
Tidak ada keluhan pada penglihatan maupun pendengaran. Os tidak dapat
berbicara, juga dirasakan sejak ±2 tahun yang lalu, namun Os masih dapat
mengerti kata-kata yang diucapkan oleh orang lain. Muntah, sebanyak 1 kali 4
hari yang lalu. Muntahan berisi makanan, tidak menyembur dan tidak berwarna
hitam. Mual (+) disertai nyeri perut (+) seperti terbakar, dirasakan di ulu hati,
tidak menjalar dirasakan sejak ±5 hari yang lalu. Nafsu makan menurun, tapi Os
masih dapat makan dan minum. BAB (+), tinja berwarna coklat, tidak mencret.
Os juga mengeluh nyeri dada di bagian tengah, terasa seperti terbakar, tidak
menjalar. Jantung berdebar-debar (+), sesak nafas (-), batuk disangkal. Selain itu,
Os mengaku sering kencing, frekuensi tidak diketahui. Nyeri saat berkemih
disangkal, air kencing berwarna kuning. Demam dan kejang disangkal. Keluhan
tidak berkurang dengan istirahat. Os belum sempat berobat sebelum MRS.
3. Riwayat Penyakit Dahulu :
- Riwayat stroke (+) 2 tahun yang lalu, dirawat di RS.
- Riwayat penyakit darah tinggi (+) diketahui sejak 6 tahun yang lalu, tidak
terkontrol secara rutin. TD sistol tertinggi 200 mmHg, diastol tidak diketahui.
- Riwayat kencing manis (+), tidak diketahui sejak kapan, dan tidak terkontrol
secara rutin. Kadar gula darah tertinggi tidak diketahui.
- Riwayat penyakit jantung (+).
- Riwayat trauma/kecelakaan (-).
- Riwayat penyakit paru (-), hati, asam urat, asma, alergi dan penyakit kulit
disangkal pasien.
4. Riwayat Penyakit Keluarga :
Riwayat penyakit darah tinggi (+) dari orang tuanya. Saat ini kakak kandung
pasien sedang dirawat di RS karena keluhan lemah pada anggota tubuh dan
penurunan kesadaran.
5. Riwayat Sosial dan pribadi :
- Riwayat merokok (-)
- Riwayat konsumsi minuman beralkohol (-)
- Riwayat konsumsi obat-obatan (-)
- Riwayat operasi (-)
6. Resume Anamnesis
Tn. I, 54 tahun, dengan keluhan utama lemah anggota tubuh sebelah kanan,
sejak 2 tahun yang lalu secara tiba-tiba saat pasien sedang beraktivitas. Sebelum
keluhan muncul Os merasakan nyeri kepala dan pusing kemudian terjatuh.
Keluhan lainnya adalah parestesia (+) pada kedua telapak tangan dan kaki sejak ±
1 minggu SMRS. Afasia motorik (+), sejak ±2 tahun yang lalu. Muntah (+), 4
hari SMRS disertai mual dan nyeri epigastrium seperti terbakar, sejak ±5 hari
SMRS. Nafsu makan menurun, makan dan minum (+). Nyeri dada (+) di sternum,
seperti terbakar. Palpitasi (+), poliuri (+). Keluhan tidak berkurang dengan
istirahat, pengobatan (-). Riwayat stroke (+) 2 tahun yang lalu, dirawat di RS (+).
Riwayat hipertensi (+) diketahui sejak 6 tahun yang lalu, tidak terkontrol, TD
sistol tertinggi 200 mmHg, diastol tidak diketahui. Riwayat kencing manis (+),
tidak diketahui sejak kapan, dan tidak terkontrol secara rutin. Kadar gula darah
tertinggi tidak diketahui. Riwayat hipertensi (+) dari pihak ibu.
III. PEMERIKSAAN FISIK
3.1. Status Generalis
 Keadaan Umum : Sakit sedang
 Kesadaran : Composmentis E4V5M6
 Tanda-tanda Vital :
 Tekanan darah :
- Kanan : 160/100 mmHg
- Kiri : 160/100 mmHg
 Nadi :
- Kanan : 112 x/menit, isi cukup, regular
- Kiri : 112 x/menit, isi cukup, regular
 Nafas : 24x/menit, tipe torakoabdominal
 Suhu : 36,4 0 C
 TB/BB : tidak diperiksa
 IMT : tidak diperiksa
 Status Gizi : tidak diperiksa
 Anemis : (-)
 Ikterik : (-)
 Sianosis : (-)
 Udema umum : (-)

3.2. Status Lokalis


 Kepala
Bentuk : Normochepal
Simetrisitas : Simetris
Ekspresi Wajah : Tampak lemah
Bekas Luka : (-)
Rambut : Hitam, distribusi merata, tidak mudah patah, tidak
mudah rontok
Edema : (-)
Nyeri tekan : (-)
Massa : (-)
 Mata
Oculi Dextra ( OD ) Pemeriksaan Oculi Sinistra ( OS )
Normal, Bulbus okuli Normal,
enoftalmus (-), enoftalmus (-),
eksoftalmus (-), eksoftalmus (-),
strabismus (-) strabismus (-)
Edema (-), Palpebra Edema (-),
Hiperemis (-), Hiperemis (-),
Hematom (-), Hematom (-),
Nyeri tekan (-), Nyeri tekan (-),
Blefarospasme (-), Blefarospasme (-),
Ektropion (-), Ektropion (-),
Entropinon (-) Entropinon (-)
Anemis (-) Konjungtiva Anemis (-)
Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Edema (-), Edema (-),
Injeksi siliar (-), Injeksi siliar (-),
Injeksi konjungtiva (-), Injeksi konjungtiva (-),
Ikterik (-) Sklera Ikterik (-)

 Hidung
Nasus Dekstra Pemeriksaan Nasus Sinistra
Bentuk Normal Nasus Bentuk Normal
Hiperemis (-) eksternus Hiperemis (-)
Edema (-) Edema (-)
Deformitas (-) Deformitas (-)
Bentuk Normal Vestibulum Edema (-),
Distribusi silia merata Distribusi silia merata
Mukosa hiperemis (-) Mukosa hiperemis (-)
Ulkus (-) Ulkus (-)
Bentuk Normal Cavum Nasi Bentuk Normal
Corpal (-) Corpal (-)
Mukosa hiperemis (-) Mukosa hiperemis (-)
Mukosa Edem (-) Mukosa Edem (-)
Sekret(-) Sekret(-)
Darah (-) Darah (-)
Pembesaran concha (-) Pembesaran concha (-)
Deviasi (-) Septum Nasi Deviasi (-)
Perdarahan (-) Perdarahan (-)
Ulkus (-) Ulkus (-)
Perforasi (-) Perforasi (-)
Corpal (-) Corpal (-)

 Mulut dan Orofaring


Mukosa bucal : Warna merah muda, tenang
Lidah : Bersih, basah
Palatum molle : Tenang, ulkus (-), hiperemis (-)
Dental : Karies (+) di Molar inferior sinistra
Ginggiva : Edema (-)
Uvula : Normal, tenang
Tonsil : T1/T1, kriptus DBN, detritus -/-
Faring : Mukosa hiperemis (-), edema (-), granul (-)

 Telinga
Tidak dilakukan

 Leher
 Bendungan vena (-)
 Kelenjar getah bening : limfadenopati (-)
 Massa : (-)
 Kelenjar Tiroid : Simetris, Nodul (-), Pembesaran (-),
Nyeri tekan (-)
 Deviasi Trakea : (-)

 Toraks
 Dinding Toraks
Dinding Toraks Anterior
Dekstra Pemeriksaan Sinistra
Simetris Simetrisitas Simetris
Datar, cekung (-) Bentuk Datar, cekung (-)
Normal Kulit Normal
Normal Pembuluh Darah Normal
Negatif Nyeri tekan Negatif
Negatif Krepitasi Negatif
Dinding Toraks Posterior
Dekstra Pemeriksaan Sinistra
Simetris Simetrisitas Simetris
Datar, cekung (-) Bentuk Datar, cekung (-)
Normal Kulit Normal
Normal Pembuluh Darah Normal
Negatif Nyeri tekan Negatif
Negatif Krepitasi Negatif
 Pulmo
Dekstra Pemeriksaan Sinistra
Inspeksi Simetris saat statis Simetrisitas Simetris saat
dan dinamis statis dan dinamis
(-) Retraksi ICS (-)
Palpasi (-) Nyeri Tekan (-)
Simetris Ekspansi Simetris
Pernafasan
Simetris Fremitus Taktil Simetris
Perkusi Sonor di seluruh Perkusi Generalis Sonor di seluruh
lapang paru lapang paru
ICS-6 Batas Paru-Hepar, -
2 jari di atas ICS-6 Peranjakan -
Auskultasi menurun VBS menurun
(-) Wheezing (-)
(-) Rhonki (-)

 Chordis
- Inspeksi : Tampak pulsasi iktus cordis 2 jari lateral linea
midklavikula kiri.
- Palpasi : Teraba pulsasi iktus cordis 2 jari lateral linea
midklavikula kiri. Kuat angkat normal, thrill (-).

- Perkusi :
Batas kanan : Sela iga IV linea parasternalis dekstra.
Batas kiri : Sela iga V, 2 jari lateral linea
midklavikula sinistra.
Pinggang jantung : Sela iga II linea parasternal sinistra.
- Auskultasi : Bunyi jantung I-II (+) reguler, Gallop (-), Murmur
(+)
 Abdomen
 Inspeksi : Cembung, lembut, dan simetris. Ruam (-), caput medusa (-
), striae (+), sikatrik (-), luka bekas operasi (-).
 Auskultasi : Peristaltik (+), frekuensi 10 x/menit
 Perkusi : Timpani pada kesembilan kuadran. Shifting dullness (-)
 Palpasi :
- Dinding perut : Defans muskular (-), Nyeri tekan superfisial dan
profunda (-) di sembilan kuadran, nyeri lepas (-) di
sembilan kuadran, massa/benjolan (-).
- Hepar : Ujung lancip, permukaan licin. Murphy sign (-)
- Limpa : Pembesaran (-)
- Ginjal : Balotemen -/-, Nyeri tekan -/-, nyeri lepas -/-, Nyeri
ketok tidak dilakukan.

 Ekstremitas

LENGAN Kanan Kiri

Luka (-) (-)

Oedem (-) (-)

Petechie (+) (+)

Akral Hangat Hangat

Rumple
Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Leede Test

TUNGKAI dan
Kanan Kiri
KAKI
Luka (-) (-)

Varises (-) (-)

Oedem (+) (+)

Petechie (-) (-)

Akral Hangat Hangat


3.3. Status Neurologik
A. Kesadaran : Composmentis (E4V5M6)
B. Fungsi Luhur : Tidak dilakukan
C. Rangsang Meningeal :
 Kaku kuduk : (-)
 Brudzinski I : -/-
 Brudzinzki II : -/-
 Kernig : tidak terbatas
D. Saraf Kranial :

N. I (Olfactorius )
Kanan Kiri Keterangan
Penciuman Tidak dilakukan

N.II (Opticus)
Kanan Kiri Keterangan
Visus Tidak
Lapang pandang Sesuai pemeriksa Sesuai pemeriksa dilakukan
Pengenalan warna Normal
Tidak
dilakukan

N.III (Oculomotorius)
Kanan Kiri Keterangan
Ptosis (-) (-) Normal
Pupil
Bentuk Bulat Bulat Normal
Ukuran 3 mm 3 mm Normal
Gerak bola mata Normal Normal Normal
Refleks pupil
Langsung (+) (+) Normal
Tidak langsung (+) (+) Normal

N. IV (Trokhlearis)
Kanan Kiri Keterangan
Gerak bola Normal Normal Normal
mata
N. V (Trigeminus)
Kanan Kiri Keterangan
Motorik
Kontraksi m.masseter (+) (+) Kesan simetris
(normal)
Deviasi rahang (-) (-) Normal
Sensorik
Refleks kornea (+) (+) Normal

Refleks masseter (+) Normal

N. VI (Abduscens)
Kanan Kiri Keterangan
Gerak bola Normal Normal Normal
mata

N. VII (Facialis)
Kanan Kiri Keterangan
Motorik:
- kesan simetrisitas Turun Dbn Asimetris
wajah
- sudut mulut Turun Dbn Asimetris
- lipatan nasolabial Mendatar Dbn Asimetris
- mengerutkan dahi (+) (+) Asimetris
- mengangkat alis Tertinggal Dbn Asimetris
- meringis (-) Dbn Os menolak
- kembungkan pipi Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Daya perasa Tidak dilakukan Tidak


dilakukan
Loudness Balance Hiperakusis (-) Simetris
Test
Kesan : Lesi
pada n. VII
central
sinistra

N. VIII (Akustikus)
Kanan Kiri Keterangan
Pendengaran Tidak dilakukan
(Instrumen tidak
tersedia)
N. IX (Glossofaringeus)
Kanan Kiri Keterangan
Arkus farings Dbn Dbn Normal

N. X (Vagus)
Keterangan
Tes menelan (+) Normal
Disfonia Sulit dilakukan (Os tidak dapat
berbicara)
Refleks muntah Tidak dilakukan

N. XI (Assesorius)
Kanan Kiri Keterangan
Pemeriksaan (+) (+) Simetris
m.sternocleidomastoideus

N. XII (Hipoglossus)
Kanan Kiri Keterangan
Motorik Dbn Dbn Simetris
Trofi Dbn Dbn Simetris
Tremor Dbn Dbn Simetris
Disartri Tidak
dilakukan

E. Motorik
Kanan Kiri Keterangan
Ekstremitas atas
Kekuatan 0 5 Asimetris
Tonus Normal Normal Simetris
Trofi Eutrofi Eutrofi Simetris
Ger.involunter (-) (-) Dbn

Ekstremitas bawah
Kekuatan 0 5 Asimetris
Tonus Normotonus Normotonus Simetris
Trofi Eutrofi Eutrofi Simetris
Ger.involunter (-) (-) Dbn
Kesan Hemiplegia Dekstra
F. Sensorik
Kanan Kiri Keterangan
Raba (+) (+) Normal
Nyeri (+) (+) Normal
Suhu Tidak Tidak Instrumen tidak tersedia
dilakukan dilakukan
Propioseptif Tidak Tidak Os tidak dapat berbicara
dilakukan dilakukan

G. Refleks
Kanan Kiri Keterangan
Fisiologis
Biseps (+) (+) Normal
Triseps (+) (+) Normal
Patella (+) (+) Normal
Tendon Achiles (+) (+) Normal
Patologis
Hoffman (-) (-)
Tromner (-) (-)
Babinski (+) (-)
Chaddock (-) (-)
Gordon (-) (-)
Oppenheim (-) (-)
Gonda (-) (-)
Schaefer (-) (-)

H. Fungsi Koordinasi
Kanan Kiri Keterangan
Test telunjuk hidung Tidak dapat dilakukan
Test tumit lutut Tidak dapat dilakukan
Gait Tidak dapat dilakukan
Tandem Tidak dapat dilakukan
Romberg Tidak dapat dilakukan

I. Sistem Saraf Otonom


Miksi : dengan kateter
Defekasi : (+), defekasi dalam pembalut
J. Pemeriksaan neurologik lainnya :
Lasegue sign : tidak terbatas

Resume Pemeriksaan Fisik :


Dari pemeriksaan fisik, keadaan umum pasien tampak sakit sedang, dengan
tanda vital TD 160/100 mmHg (Kanan); 160/100 mmHg (kiri), Nadi 112x/menit,
Respirasi 24 x/menit, dan suhu 36,40C. Kesan umum tidak tampak anemis, ikterik
maupun sianosis. Pada status lokalis, mata, hidung, mulut dan orofaring serta
leher tidak ditemukan adanya kelainan. Pemeriksaan paru-paru dalam batas
normal, dan pemeriksaan jantung menunjukkan adanya pergeseran lokasi iktus
kordis dan batas apeks jantung ke 2 jari lateral linea midklavikula sinistra di ICS
V. Melalui auskultasi jantung ditemukan bunyi murmur. Hasil pemeriksaan
abdomen dalam batas normal. Pitting oedem (+) di kedua ektremitas bagian
bawah.
Pada pemeriksaan neurologis, ditemukan kesan parese nervus kranialis VII
central sinistra. Pemeriksaan motorik menunjukkan kesan hemiplegia dekstra,
dan pemeriksaan refleks patologis menunjukkan babinski (+).

Diagnosis Banding
- Stroke Sequelae
DD : SH, SNH dengan
- Hipertensi Grade II
- Susp Diabetes Melitus tipe II

IV. Pemeriksaan Penunjang


1. Laboratorium
Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan
Hematologi
 Darah rutin
 Hemoglobin 10,8 13,7-17,5
 Leukosit 11.780 5.000-10.000
 Hematokrit 31,4 40-48
 Trombosit 311.000 150.000-450.000
 KIMIA KLINIK
 Glukosa sewaktu 73 70-200
 Ureum 36 20-40
 Kreatinin 1,5 0,5-1,5
 SGOT 33 <37
 SGPT 15 <42
 Elektrolit
 Na 137 135-155
 K 3,9 3,6-5,5
 Cl 119 95-108

2. EKG :

3. Imaging
Ro Thoraks :
Cor tidak membesar, Sinuses dan diafragma normal
Pulmo: Hili normal, Corakan bronkovaskuler normal, tidak tampak infiltrate di
kedua lapang paru, soft tissue dan skeletal dalam batas normal
Kesan: Cor dan pulmo dalam batas normal
CT-Scan Kepala :
Kesan: Infark di daerah cortical subcortical lobus occipito parietalis kiri

Diagnosis Sementara :
Sroke Sequelae DD : SNH, SH dengan hipertensi grade II dan diabetes mellitus tipe
II

V. Tatalaksana
 Diet ML
 IVFD Tutofusin 28 tpm
 Omeprazole 2x40mg iv
 Ceftriaxone 1x2gr iv
 CPG 1x75mg po
 Aspilet 1x160mg po
 Brainact 2x1000mg
 Neurotam 1x1200mg

FOLLOW UP
Hari/Tanggal/Jam Hasil Pemeriksaan Instruksi Dokter
Jumat/05-07- S: lemah sisi kanan (+) - Obs. KU dan TTV
2019/12.20 O: KU/KS: Sakit sedang/Compos Mentis - Elgran 0-0-1
VS: TD: 120/80 mmHg
N: 82 x/menit
R: 20x/menit
S: 360 C
Status Generalis: dalam batas normal
A: Hemiparese dextra ec Stroke
Sequelae
Hari/Tanggal/Jam Hasil Pemeriksaan Instruksi Dokter
Sabtu/06-07- S: lemah sisi kanan (+) - Obs. KU dan TTV
2019/17.20 O: KU/KS: Sakit sedang/Compos Mentis - Clonazepam 2mg
VS: TD: 130/90 mmHg 0-0-1
N: 84 x/menit - Depakot 0-0-1
R: 20x/menit - Th/lanjut
S: 36,40 C
Status Generalis: dalam batas normal
A: Hemiparese dextra ec Stroke
Sequelae

Hari/Tanggal/Jam Hasil Pemeriksaan Instruksi Dokter


Minggu/07-07- S: lemah sisi kanan (+) - Obs. KU dan TTV
2019/11.20 O: KU/KS: Sakit sedang/Compos Mentis - Th/lanjut
VS: TD: 130/80 mmHg
N: 86 x/menit
R: 20x/menit
S: 36,10 C
Status Generalis: dalam batas normal
A: Hemiparese dextra ec Stroke
Sequelae

Hari/Tanggal/Jam Hasil Pemeriksaan Instruksi Dokter


Senin/08-07- S: lemah sisi kanan (+) - BLPL
2019/14.20 O: KU/KS: Sakit sedang/Compos Mentis - Kontrol Senin 15-
VS: TD: 130/90 mmHg 07-2019
N: 84 x/menit
R: 20x/menit
S: 36,40 C
Status Generalis: dalam batas normal
A: Hemiparese dextra ec Stroke
Sequelae
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Stroke

Stroke adalah suatu penyakit defisit neurologis akut yang disebabkan oleh

gangguan pembuluh darah otak yang terjadi secara mendadak dan dapat

menimbulkan cacat atau kematian.

Secara umum, stroke digunakan sebagai sinonim Cerebro Vascular Disease

(CVD) dan kurikulum Inti Pendidikan Dokter di Indonesia (KIPDI) mengistilahkan

stroke sebagai penyakit akibat gangguan peredaran darah otak (GPDO).

Stroke atau gangguan aliran darah di otak disebut juga sebagai serangan

otak (brain attack), merupakan penyebab cacat (disabilitas, invaliditas).

2.2. Stroke Non Hemoragik

2.2.1. Klasifikasi Stroke Non Hemoragik

Secara non hemoragik, stroke dapat dibagi berdasarkan manifestasi klinik dan

proses patologik (kausal):

a. Berdasarkan manifestasi klinik:

i. Serangan Iskemik Sepintas/Transient Ischemic Attack (TIA)

Gejala neurologik yang timbul akibat gangguan peredaran darah di otak

akan menghilang dalam waktu 24 jam.

ii. Defisit Neurologik Iskemik Sepintas/Reversible Ischemic Neurological

Deficit (RIND)

Gejala neurologik yang timbul akan menghilang dalam waktu lebih lama

dari 24 jam, tapi tidak lebih dari seminggu.

iii. Stroke Progresif (Progressive Stroke/Stroke In Evaluation)

Gejala neurologik makin lama makin berat.


iv. Stroke komplet (Completed Stroke/Permanent Stroke)

Kelainan neurologik sudah menetap, dan tidak berkembang lagi.

b. Berdasarkan Kausal:

i. Stroke Trombotik

Stroke trombotik terjadi karena adanya penggumpalan pada pembuluh

darah di otak. Trombotik dapat terjadi pada pembuluh darah yang besar

dan pembuluh darah yang kecil. Pada pembuluh darah besar trombotik

terjadi akibat aterosklerosis yang diikuti oleh terbentuknya gumpalan

darah yang cepat. Selain itu, trombotik juga diakibatkan oleh tingginya

kadar kolesterol jahat atau Low Density Lipoprotein (LDL). Sedangkan

pada pembuluh darah kecil, trombotik terjadi karena aliran darah ke

pembuluh darah arteri kecil terhalang. Ini terkait dengan hipertensi dan

merupakan indikator penyakit aterosklerosis.

ii. Stroke Emboli/Non Trombotik

Stroke emboli terjadi karena adanya gumpalan dari jantung atau lapisan

lemak yang lepas. Sehingga, terjadi penyumbatan pembuluh darah yang

mengakibatkan darah tidak bisa mengaliri oksigen dan nutrisi ke otak.

2.2.2. Gejala Stroke Non Hemoragik

Gejala stroke non hemoragik yang timbul akibat gangguan peredaran darah

di otak bergantung pada berat ringannya gangguan pembuluh darah dan lokasi

tempat gangguan peredaran darah terjadi, maka gejala-gejala tersebut adalah:

a. Gejala akibat penyumbatan arteri karotis interna.

i. Buta mendadak (amaurosis fugaks).

ii. Ketidakmampuan untuk berbicara atau mengerti bahasa lisan (disfasia)

bila gangguan terletak pada sisi dominan.


iii. Kelumpuhan pada sisi tubuh yang berlawanan (hemiparesis

kontralateral) dan dapat disertai sindrom Horner pada sisi sumbatan.

b. Gejala akibat penyumbatan arteri serebri anterior.

i. Hemiparesis kontralateral dengan kelumpuhan tungkai lebih menonjol.

ii. Gangguan mental.

iii. Gangguan sensibilitas pada tungkai yang lumpuh.

iv. Ketidakmampuan dalam mengendalikan buang air.

v. Bisa terjadi kejang-kejang.

c. Gejala akibat penyumbatan arteri serebri media.

i. Bila sumbatan di pangkal arteri, terjadi kelumpuhan yang lebih ringan.

Bila tidak di pangkal maka lengan lebih menonjol.

ii. Gangguan saraf perasa pada satu sisi tubuh.

iii. Hilangnya kemampuan dalam berbahasa (aphasia).

d. Gejala akibat penyumbatan sistem vertebrobasilar.

i. Kelumpuhan di satu sampai keempat ekstremitas.

ii. Meningkatnya refleks tendon.

iii. Gangguan dalam koordinasi gerakan tubuh.

iv. Gejala-gejala sereblum seperti gemetar pada tangan (tremor), kepala

berputar (vertigo).

v. Ketidakmampuan untuk menelan (disfagia).

vi. Gangguan motoris pada lidah, mulut, rahang dan pita suara sehingga

pasien sulit bicara (disatria).

vii. Kehilangan kesadaran sepintas (sinkop), penurunan kesadaran secara

lengkap (strupor), koma, pusing, gangguan daya ingat, kehilangan daya

ingat terhadap lingkungan (disorientasi).


viii. Gangguan penglihatan, seperti penglihatan ganda (diplopia),

gerakan arah bola mata yang tidak dikehendaki (nistagmus), penurunan

kelopak mata (ptosis), kurangnya daya gerak mata, kebutaan setengah

lapang pandang pada belahan kanan atau kiri kedua mata (hemianopia

homonim).

ix. Gangguan pendengaran.

x. Rasa kaku di wajah, mulut atau lidah.

e. Gejala akibat penyumbatan arteri serebri posterior

i. Koma

ii. Hemiparesis kontra lateral.

iii. Ketidakmampuan membaca (aleksia).

iv. Kelumpuhan saraf kranialis ketiga.

f. Gejala akibat gangguan fungsi luhur

i. Aphasia yaitu hilangnya kemampuan dalam berbahasa. Aphasia dibagi

dua yaitu, Aphasia motorik adalah ketidakmampuan untuk berbicara,

mengeluarkan isi pikiran melalui perkataannya sendiri, sementara

kemampuannya untuk mengerti bicara orang lain tetap baik. Aphasia

sensorik adalah ketidakmampuan untuk mengerti pembicaraan orang

lain, namun masih mampu mengeluarkan perkataan dengan lancar,

walau sebagian diantaranya tidak memiliki arti, tergantung dari luasnya

kerusakan otak.

ii. Alexia adalah hilangnya kemampuan membaca karena kerusakan otak.

Dibedakan dari Dyslexia (yang memang ada secara kongenital), yaitu

Verbal alexia adalah ketidakmampuan membaca kata, tetapi dapat

membaca huruf. Lateral alexia adalah ketidakmampuan membaca huruf,

tetapi masih dapat membaca kata. Jika terjadi ketidakmampuan


keduanya disebut Global alexia.

iii. Agraphia adalah hilangnya kemampuan menulis akibat adanya

kerusakan otak.

iv. Acalculia adalah hilangnya kemampuan berhitung dan mengenal angka

setelah terjadinya kerusakan otak.

v. Right-Left Disorientation & Agnosia jari (Body Image) adalah sejumlah

tingkat kemampuan yang sangat kompleks, seperti penamaan,

melakukan gerakan yang sesuai dengan perintah atau menirukan

gerakan-gerakan tertentu. Kelainan ini sering bersamaan dengan

Agnosia jari (dapat dilihat dari disuruh menyebutkan nama jari yang

disentuh sementara penderita tidak boleh melihat jarinya).

vi. Hemi spatial neglect (Viso spatial agnosia) adalah hilangnya

kemampuan melaksanakan bermacam perintah yang berhubungan

dengan ruang.

vii. Syndrome Lobus Frontal, ini berhubungan dengan tingkah laku akibat

kerusakan pada kortex motor dan premotor dari hemisphere dominan

yang menyebabkan terjadinya gangguan bicara.

viii. Amnesia adalah gangguan mengingat yang dapat terjadi pada trauma

capitis, infeksi virus, stroke, anoxia dan pasca operasi pengangkatan

massa di otak.

ix. Dementia adalah hilangnya fungsi intelektual yang mencakup sejumlah

kemampuan.
2.2.3. Diagnosis Stroke Non Hemoragik

Diagnosis didasarkan atas hasil:

a. Penemuan Klinis

i. Anamnesis

Terutama terjadinya keluhan/gejala defisit neurologik yang mendadak.

Tanpa trauma kepala, dan adanya faktor risiko stroke.

ii. Pemeriksaan Fisik

Adanya defisit neurologik fokal, ditemukan faktor risiko seperti

hipertensi, kelainan jantung dan kelainan pembuluh darah lainnya.

b. Pemeriksaan tambahan/Laboratorium

i. Pemeriksaan Neuro-Radiologik

Computerized Tomography Scanning (CT-Scan), sangat membantu

diagnosis dan membedakannya dengan perdarahan terutama pada fase

akut. Angiografi serebral (karotis atau vertebral) untuk mendapatkan

gambaran yang jelas tentang pembuluh darah yang terganggu, atau bila

scan tak jelas. Pemeriksaan likuor serebrospinalis, seringkali dapat

membantu membedakan infark, perdarahan otak, baik perdarahan

intraserebral (PIS) maupun perdarahan subarakhnoid (PSA).

ii. Pemeriksaan lain-lain

Pemeriksaan untuk menemukan faktor resiko, seperti: pemeriksaan

darah rutin (Hb, hematokrit, leukosit, eritrosit), hitung jenis dan bila

perlu gambaran darah. Komponen kimia darah, gas, elektrolit, Doppler,

Elektrokardiografi (EKG).
2.3. Stroke Hemoragik

2.3.1. Klasifikasi Stroke Hemoragik

Menurut WHO, dalam International Statistical Classification of Diseases and

Related Health Problem 10th Revision, stroke hemoragik dibagi atas:

a. Perdarahan Intraserebral (PIS)

Perdarahan Intraserebral (PIS) adalah perdarahan yang primer berasal dari

pembuluh darah dalam parenkim otak dan bukan disebabkan oleh trauma.

Perdarahan ini banyak disebabkan oleh hipertensi, selain itu faktor

penyebab lainnya adalah aneurisma kriptogenik, diskrasia darah, penyakit

darah seperti hemofilia, leukemia, trombositopenia, pemakaian antikoagulan

angiomatosa dalam otak, tumor otak yang tumbuh cepat, amiloidosis

serebrovaskular.

b. Perdarahan Subarakhnoidal (PSA)

Perdarahan Subarakhnoidal (PSA) adalah keadaan terdapatnya/masuknya

darah ke dalam ruangan subarakhnoidal. Perdarahan ini terjadi karena

pecahnya aneurisma (50%), pecahnya malformasi arteriovena atau MAV

(5%), berasal dari PIS (20%) dan 25% kausanya tidak diketahui.

c. Perdarahan Subdural

Perdarahan subdural adalah perdarahan yang terjadi akibat robeknya vena

jembatan ( bridging veins) yang menghubungkan vena di permukaan otak

dan sinus venosus di dalam durameter atau karena robeknya araknoidea.


2.3.2. Gejala Stroke Hemoragik

a. Gejala Perdarahan Intraserebral (PIS)

Gejala yang sering djumpai pada perdarahan intraserebral adalah: nyeri

kepala berat, mual, muntah dan adanya darah di rongga subarakhnoid pada

pemeriksaan pungsi lumbal merupakan gejala penyerta yang khas. Serangan

sering kali di siang hari, waktu beraktivitas dan saat emosi/marah.

Kesadaran biasanya menurun dan cepat masuk koma (65% terjadi kurang

dari setengah jam, 23% antara 1/2-2 jam, dan 12% terjadi setelah 3 jam).

b. Gejala Perdarahan Subarakhnoid (PSA)

Pada penderita PSA dijumpai gejala: nyeri kepala yang hebat, nyeri di leher

dan punggung, mual, muntah, fotofobia. Pada pemeriksaan fisik dapat

dilakukan dengan pemeriksaan kaku kuduk, Lasegue dan Kernig untuk

mengetahui kondisi rangsangan selaput otak, jika terasa nyeri maka telah

terjadi gangguan pada fungsi saraf. Pada gangguan fungsi saraf otonom

terjadi demam setelah 24 jam. Bila berat, maka terjadi ulkus pepticum

karena pemberian obat antimuntah disertai peningkatan kadar gula darah,

glukosuria, albuminuria, dan perubahan pada EKG.

c. Gejala Perdarahan Subdural

Pada penderita perdarahan subdural akan dijumpai gejala: nyeri kepala,

tajam penglihatan mundur akibat edema papil yang terjadi, tanda-tanda

defisit neurologik daerah otak yang tertekan. Gejala ini timbul berminggu-

minggu hingga berbulan-bulan setelah terjadinya trauma kepala.


2.3.3. Diagnosis Stroke Hemoragik

a. Perdarahan Intraserebral (PIS)

Diagnosis didasarkan atas gejala dan tanda-tanda klinis dari hasil

pemeriksaan. Untuk pemeriksaan tambahan dapat dilakukan dengan

Computerized Tomography Scanning (CT-Scan), Magnetic Resonance

Imaging (MRI), Elektrokardiografi (EKG), Elektroensefalografi (EEG),

Ultrasonografi (USG), dan Angiografi cerebral.

b. Perdarahan Subarakhnoid (PSA)

Diagnosis didasarkan atas gejala-gejala dan tanda klinis. Pemeriksaan

tambahan dapat dilakukan dengan Multislices CT-Angiografi, MR

Angiografi atau Digital Substraction Angiography (DSA).

c. Perdarahan Subdural

Diagnosis didasarkan atas pemeriksaan yaitu dilakukan foto tengkorak

antero- posterior dengan sisi daerah trauma. Selain itu, dapat juga dilakukan

dengan CT-Scan dan EEG.

Oleh karena tidak seluruh Rumah Sakit memiliki alat-alat di atas, maka

untuk memudahkan pemeriksaan dapat dilakukan dengan sistem lain, misalnya

sistem skoring yaitu sistem yang berdasarkan gejala klinis yang ada pada saat

pasien masuk Rumah Sakit. Sistem skoring yang sering digunakan antara lain:
1. Skor Stroke Hemoragik dan Non-Hemoragik (Djoenaidi, 1988)

Tanda/Gejal Skor
a
1. Tia sebelum serangan 1
2. Permulaan serangan
Sangat mendadak (1-2 menit) 6,5
Mendadak (beberapa menit-1 jam) 6,5
Pelan-pelan (beberapa jam) 1
3. Waktu serangan
Waktu kerja (aktivitas) 6,5
Waktu istirahat/duduk/tidur 1
Waktu bangun tidur 1
4. Sakit kepala waktu serangan
Sangat hebat 10
Hebat 7,5
Ringan 1
Tak ada 0
5. Muntah
Langsung habis serangan 10
Mendadak (beberapa menit-jam) 7,5
Pelan-pelan (1 hari atau lebih) 1
Tak ada 0
6. Kesadaran
Hilang waktu serangan (langsung) 10
Hilang mendadak (beberapa menit-jam) 10
2. Guy's Hospital Score (1985)

Gejala/Tanda Klinis dan Skor


1. Derajat kesadaran 24 jam setelah
MRS Mengantuk + 7.3
Tak dapat dibangunkan + 14.6
2. Babinski bilateral + 7.1
3. Permulaan serangan
Sakit kepala dalam 2 jam setelah serangan atau kaku kuduk: + 21.9
4. Tekanan darah diastolik setelah 24 jam + (tekanan darah diastolik x 0.17)
5. Penyakit katub aorta/mitral -4.3
6. Gagal jantung - 4.3
7. Kardiomiopati - 4.3
8. Fibrilasi atrial - 4.3
9. Rasio kardio-torasik > 0.5 (pada x-foto toraks) - 4.3
10. Infark jantung (dalam 6 bulan) - 4.3
11. Angina, klaudikasio atau diabetes - 3.7
12. TIA atau stroke sebelumnya - 6.7
13. Anemnesis adanya hipertensi - 4.1

Pembacaan:

Skor : < + 25: Infark (stroke non hemoragik)


> + - 5: Perdarahan (stroke hemoragik)
+ 14: Kemungkinan infark dan perdarahan 1 : 1
< + 4: Kemungkinan perdarahan 10%
Sensivitas: Untuk stroke hemoragik: 81-88%; stroke non hemoragik (infark) 76-82%.
Ketetapan keseluruhan: 76-82%.
3. Siriraj Hospital Score (Poungvarin, 1991)

Versi orisinal:
= (0.80 x kesadaran) + (0.66 x muntah) + (0.33 x sakit kepala) + (0.33x tekanan
darah diastolik) – (0.99 x atheromal) – 3.71.
Versi disederhanakan:
= (2.5 x kesadaran) + (2 x muntah) + ( 2 x sakit kepala) + (0.1 x tekanan darah
diastolik) – (3 x atheroma) – 12.
Kesadaran:
Sadar = 0; mengantuk, stupor = 1; semikoma, koma
= 2 Muntah:
tidak = 0 ; ya = 1

Sakit kepala dalam 2 jam:


tidak = 0 ; ya = 1
Tanda-tanda ateroma:
tidak ada = 0 ; 1 atau lebih tanda ateroma = 1
(anamnesis diabetes; angina; klaudikasio intermitten)

Pembacaan:
Skor > 1 : Perdarahan otak
< -1: Infark
otak
Sensivitas: Untuk perdarahan: 89.3%.
Untuk infark: 93.2%.
Ketepatan diagnostik: 90.3%.
DAFTAR PUSTAKA

Adams HP, Et al. 2003. Guidelines for the early management of patients with
ischemic stroke :The American stroke Association, Stroke.

Adams RD, Victor M, Rapper AH. 2003. Cerebrovasculer Disease, Principles


of Neurology. New York City.-Hill Book.

Aliah A, Kuswara F.F, Limoa RA, Wuysang. 2003. Gangguan Peredaran


Darah Otak. Dalam: Kapita Selekta Neurologi. Gadjah Mada University
Press, Yogyakarta.

Becker JU. 2006. Stroke Ischemic. Available in www.emedicine.com.


Bederson Jb, et al. 2009. Guidelines for the Management of Aneurysmal
Subarachnoid Hemorage : American Heart Association, Stoke.

Broderick J. 2007. Guidelines for the Management of Spontaneous


Intracerebral Hemorrhage. A Guideline From The American Heart
Association.

Brott T, Bogousslavsky J. 2000. Treatment of Acute Stroke. The New England


Journal Of Medicine.

Djuanda, Adhi. Azwar. Sofyanm, Ismael. Rianto, Setiabudy. 2010. MIMS


Indonesia. Medidata. Jakarta.

Doenges. Marilyn E. 2008. Nursing Diagnosis Manual. F. A. Davis Company.


Philadelphia.
Elizabeth, Corwin. 2000. Patofisiologis. Penerbit Buku Kedokteran. EGC.
Jakarta.
FIK UI. 2005. Kumpulan Materi Keperawatan Neurologi. Jakarta.
Gensini. 2005. http://www.nursingcenter.com. Diakses Tanggal 25 Januari
2012/20.00 WIB.

Gofir, Abdul. 2009. Evidence Base Medicine ; Manajemen Stroke. Pustaka


Cendekia Press. Yogyakarta.