Anda di halaman 1dari 20

BIOTEKNOLOGI KELAUTAN

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah Bioteknologi

Dosen Pengampu :

Nurul Asikin, SPd., M.Pd.

Di susun oleh :

Kelompok 6

Nur Ulan Syah (160384205012)

Nini Purwanti (160384205015)

Rismayuni (160384205044)

Muzahar (160384205054)

Muhammad Syahreza (160384205068)

Rizka Anggraini (160384205080)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI
TANJUNGPINANG – KEPULAUAN RIAU
2019
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji dan syukur hanyalah untuk Allah SWT, yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul “Bioteknologi Kelautan”.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dan
terdapat banyak kesalahan dalam penulisan maupun kata.Penulis memohon maaf
dan juga bimbingan semua pihak semoga kedepannya menjadi lebih baik.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Teman-teman yang telah memberikan kontribusi besar dalam


menyelesaikan makalah ini.
2. Bapak Nurul Asikin, SPd., M.Pd. selaku dosen matakuliah Bioteknologi

Dalam penulisan makalah ini, kami berharap semua pihak yang membaca dapat
menarik hikmah dan kebaikannya.

Tanjungpinang, April 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii

DAFTAR ISI .......................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 4

1.1 Latar Belakang .............................................................................................. 4

1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................... 5

1.3 Tujuan ............................................................................................................ 5

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................ 6

2.1 Bioteknologi Kelautan ................................................................................... 6

2.2 Komponen Bioteknologi Kelautan ................................................................ 6

2.3 Potensi Industri Bioteknologi Kelautan Indonesia ........................................ 7

2.4 Pemanfaatan dan Pengolahan Bioteknologi Kelautan ................................... 8

2.5 Dampak Bioteknologi Kelautan .................................................................. 18

BAB III PENUTUP .............................................................................................. 19

3.1 Kesimpulan .................................................................................................. 19

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sebuah bangsa bisa menjadi maju dan makmur, bila setiap komponen
bangsa tersebut menyumbangkan kemampuan terbaiknya dan antar komponen itu
saling bekerjasama secara produktif dan sinergis. Sektor ekonomi kelautan
dituntut untuk dapat menghadirkan pertumbuhan ekonomi untuk menyerap tenaga
kerja dan mensejahterakan rakyat. Dengan demikian, permasalahan masih
tingginya angka pengangguran dan kemiskinan serta rendahnya daya saing
ekonomi bangsa akan segera dapat terpecahkan, dan Indonesia yang maju,
sejahtera dan berdaulat pun akan segera terwujud.
Namun, potensi sumberdaya kelautan yang sangat besar dan beragam
hingga kini belum dimanfaatkan secara optimal. Dari sekian banyaknya manfaat
yang dapat diambil dari laut ternyata barulah seper sekian persen dari semua
potensi yang dapat dimanfaatkan. Oleh karena itu, pengembangan bioteknologi
kelautan ini harus terus dilanjutkan.
Mengingat laut Indonesia sangatlah kaya, akan tetapi kebanyakan
masyarakatnya masih belum merasakan kekayaan tersebut, ibarat kata pepatah
seperti ‘ayam yang mati dalam lumbung padi’. Hal ini menjadikan tantangan bagi
generasi muda Indonesia untuk terus mengembangkan bioteknologi dari hasil
kelautan demi kemashlahatan seluruh ummat karena sejatinya laut dan biota-biota
di dalamnya merupakan sumber kekuatan baru yang dapat memecahkan
permasalahan-permasalahan yang muncul akibat keterbatasan lahan, mengingat
paling tidak dengan memanfaatkan laut tidak akan berbenturan dengan
kepentingan yang paling mendasar dari kebutuhan manusia yakni pemukiman.
Dengan demikian, bioteknologi kelautan akhirnya menjadi cikal bakal
yang memiliki prospek cemerlang demi peningkatan aktivitas perekonomian di
masa depan agar bangsa kita tak lagi acuh dalam memandang laut sebagai sumber
kekuatan pertumbuhan ekonomi baru Indonesia.

4
Untuk itu dalam makalah ini akan dibahas apa yang dimaksud dengan
bioteknologi kelautan dan potensi apa saja yang tersimpan dalam laut Indonesia
yang bisa dimanfaatkan untuk mensejahterakan Indonesia dengan bantuan
Bioteknologi.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan bioteknologi kelautan?
2. Apa saya komponen dari bioteknologi kelautan?
3. Potensi apa saja yang dimiliki laut Indonesia?
4. Apa saja produk yang dapat dihasilkan dengan pemanfaatan bioteknologi
kelautan?
5. Bagaimana dampak yang dihasilkan dari bioteknologi kelautan?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui tentang apa yang dimaksud dengan bioteknologi kelautan.
2. Mengetahui tentang apa saya komponen dari bioteknologi kelautan
3. Mengetahui tentang potensi apa saja yang dimiliki laut Indonesia.
4. Mengetahui tentang apa saja produk yang dapat dihasilkan dengan
pemanfaatan bioteknologi kelautan
5. Mengetahui tentang bagaimana dampak yang dihasilkan dari bioteknologi
kelautan.

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Bioteknologi Kelautan

Bioteknologi kelautan adalah teknik penggunaan biota laut atau bagian


dari biota laut (seperti sel atau enzim) untuk membuat atau memodifikasi produk,
memperbaiki kualitas genetik atau fenotip tumbuhan dan hewan, dan
mengembangkan (merekayasa) organisme untuk keperluan tertentu, termasuk
perbaikan lingkungan (Lundin and Zilinskas, 1995). Secara garis besar industri
bioteknologi kelautan meliputi 3 kelompok industri, yaitu:
1. Ekstraksi (pengambilan) senyawa aktif (bioactive substances) atau bahan
alami (natural products) dari biota laut sebagai bahan dasar (raw materials)
untuk industri makanan dan minuman, farmasi, kosmetik, cat, perekat, film,
kertas, dan berbagai industri lainnya.
2. Rekayasa genetik (genetic engineering) terhadap spesies tumbuhan atau
hewan untuk menghasilkan jenis tumbuhan atau hewan baru yang memiliki
karakteristik genotip maupun fenotip yang jauh lebih baik (unggul)
ketimbang spesies yang aslinya.
3. Genetik dari mikroorganisme (bakteri), sehingga mampu melumat
(menetralkan) bahan pencemar (pollutants) yang mencemari suatu
lingkungan perairan atau daratan (seperti tumpahan minyak/oil spills),
sehingga lingkungan tersebut menjadi bersih, tidak lagi tercemar. Teknik
pembersihan pencermaran lingkungan semacam ini lazim dinamakan sebagai
bioremediasi (bioremediation).

2.2 Komponen Bioteknologi Kelautan


Di dalam bioteknologi dilakukan rekayasa organisme atau komponen
organisme untuk menghasilkan barang dan jasa yang penting dan menguntungkan
bagi kehidupan manusia. Menurut Nurcahyo (2011:9), bioteknologi tidak lain
adalah suatu proses yang unsur-unsurnya sebagai berikut:

1) Input yaitu bahan kasar (raw material) yang akan diolah seperti; beras,
anggur, susu dsb.

6
2) Proses yaitu mekanisme pengolahan yang meliputi; proses penguraian atau
penyusunan oleh agen hayati.
3) Output yaitu produk baik berupa barang dan/atau jasa, seperti; alkohol,
enzim,
antibiotika, hormon, pengolahan limbah.

Gambar 1. Skema Proses Bioteknologi

Berkaitan dengan bioteknologi dalam bidang kelautan, penjabaran dari


skema proses tersebut ialah:

1) Input
Bahan kasar yang akan diolah atau dikembangkan dalam bidang
biteknologi kelauatan misalkan DNA, Gen, biota laut dan
mikroorganisme.
2) Proses
Mekanisme pengolahan agen hayati yang digunakan atau teknik pengolaha
agen hayati tersebut misalkan bioremediasi, kloning, dan lain-lain.
3) Out put
Berupa barang atau jasa yang dihasilkan melaui teknik pemanfaatan biota
laut misalkan gen hijau.

2.3 Potensi Industri Bioteknologi Kelautan Indonesia

Sebagai negara maritim dan kepulauan terbesar di dunia, yang sekitar tiga
perempat wilayahnya berupa laut (5,8 juta km2), ditaburi lebih dari 17.500 pulau,
dan dikelilingi oleh 81.000 km garis pantai (terpanjang kedua setelah Kanada),
Indonesia diberkahi oleh Allah swt dengan sumberdaya keanekaragaman hayati
laut terbesar di dunia. Keanekaragaman hayati ini meliputi keragaman genetik,
spesies, ekosistem, dan proses-proses eko-biologis, yang kesemuanya menjadi
titik awal dan dasar (bahan baku utama) dari industri bioteknologi kelautan.

7
Ekosistem pesisir dan lautan Indonesia menjadi habitat bagi lebih dari
4500 spesies ikan, 20% dari total luasan terumbu karang dunia, dan sekitar 600
spesies karang keras (hard corals) atau 75% dari jumlah total spesies karang keras
dunia terdapat di laut Indonesia. Fakta inilah yang meligitimasi Indonesia sebagai
pusat ‘segi tiga karang dunia’(the world’s coral triangle).
Lebih dari itu, wilayah pesisir Nusantara ini juga ditumbuhi oleh hutan
mangrove, padang lamun, dan hamparan rumput laut yang terluas dan tertinggi
keragaman hayati nya di bumi ini. Sediktnya 30 spesies Cetacean, mulai dari
paus biru sampai dolpin Irawady dapat ditemukan di perairan lautIndonesia. Dan,
6 spesies dari 7 spesies penyu laut yang ada di dunia juga berada di lautan kita.
Oleh sebab itu,Indonesia seharusnya menjadi bangsa nomor satu dalam hal
kemajuan dan manfaat dari bioteknologi kelautan

2.4 Pemanfaatan dan Pengolahan Bioteknologi Kelautan

Pemanfaatan dan pengolahan bioteknologi kelautan di kelompokan dalam


tiga kelompok industri yaitu:

1. Ekstraksi Senyawa Bioaktif Untuk Berbagai Industri

Berikut beberapa potensi berbagai produk industri bioteknologi kelautan


dari bermacam-macam biota laut yang terdapat di wilayah perairan laut NKRI.
a. Sponges dan karang lunak (soft corals)
Mengandung berbagai jenis senyawa bioaktif yang bermanfaat sebagai
obat anti kanker, anti bakteri, anti asma, anti fouling. Senyawa bioaktif
lainnya dari sponges yang juga digunakan untuk industri farmasi adalah
bastadin, okadaic acid, dan monoalide. Senyawa bioaktif monoalide yang
diperoleh dari spons Luffariella variabilis merupakan senyawa yang memiliki
nilai jual tertinggi daripada senyawa bioaktif dari spesies sponges lainnya,
yaitu US$ 20.000 per miligram.

8
Gambar 2. spons Luffariella variabilis
b. Algae
 Spirulina mengandung pycocyanin di dalam selnya. Bahan tersebut telah
diproduksi secara komersial oleh Dai Nippon Ink Co dengan merk
dagang ”Lina Blue”. Spirulina juga memiliki kandungan lengkap
vitamin dan mineral. Kandungan kalsiumnya tiga kali lebih tinggi
dibanding susu hewani, dan zat besinya tiga kali lebih besar dibanding
bayam (USDA, 2000).

Gambar 3. Spirulina
 Spesies rumput laut seperti Eucheuma cottonii, Eucheuma spinosum,
Sargassum, dan Gracillaria verucossa yang hidup subur di perairan laut
Indonesia. Karaginan dalam rumput laut dapat digunakan untuk industri

9
yang menghasilkan bahan stabilisator, pengental, pembentuk, gel,
pengikat dan pencegah kristalisasi dalam industri makanan dan minuman,
dan juga untuk farmasi serta kosmetik. Agar-agar banyak digunkan untuk
industri farmasi, makanan, mikrobiologi untuk kultur bakteri; dan dalam
bidang industri kosmetik dipergunakan sebagai bahan dasar pembuatan
cream, sabun, salep dan lotion.

Gambar 4. Produk rumput laut


 Salah satu jenis algae laut yang berpotensi sebagai sumber bioetanol dan
biodiesel masa depan adalah Botryococcus braunii. Keunggulan algae
laut jenis ini selain waktu tanamnya sangat singkat (hanya 1 minggu),

10
juga dalam pemanenannnya tidak membutuhkan alat berat (traktor)
seperti di darat, tanpa penyemaian benih, dan gas CO2 yang dihasilkan
dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar, dan panen yang terus-
menerusan.

Gambar 5. Botryococcus braunii


c. Invertebrata laut
Tridemnum sp mengandung bahan aktif untuk penyembuhan penyakit
leukimia, B-16 melanoma, dan M5076 sarcoma.

Gambar 6. Tridemnum sp
d. Vertebrata Laut
- Tempurung kura-kura dan penyu diekstrak untuk obat luka dan tetanus.

11
- Ekstrak kuda laut untuk obat penenang atau obat tidur; dan sebagai obat
kuat semacam viagra.
- Empedu ikan buntal yang dahulu berbahaya/beracun dan dapat
membunuh manusia yang memakannya karena mengandung substansi
bioaktif tetrodotoksin. Kini sudah dapat dimanfaatkan sebagai obat untuk
memperbaiki syaraf otak yang rusak dan sebagai zat anestesi bagi pasien
yang akan dioperasi.

Gambar 7. Ekstrak kuda laut


e. Ecinodermata
Salah satu filum Ecinodermata laut yang sedang menjadi primadona
saat ini di Indonesia dan negeri ”Jiran” Malaysia yaitu timun laut atau
teripang (gamat). Biota bergenus Holoturia sp. ini selain memiliki rasa yang
lezat, juga memiliki khasiat mujarab untuk obat, karena kandungan asam
amino esensialnya yang lengkap.

Gambar 8. Holoturia sp.

12
Secara tradisional, teripang telah digunakan dalam pengobatan Cina
sejak ribuan tahun silam. Teripang sebagai obat, berkhasiat mengatasi
penyakit sirosisi hati, mioma dan segala penyakit yang menyebabkan
pengerasan dan pembengkakan organ tubuh.
Selain itu teripang berkhasiat membantu proses penyembuhan stroke,
asama, diabetes melitus, jantung koroner, hepatitis, psoriasis, asam urat, dan
radang sendi/osteoarthritis (Trubus, Juli 2006). Kandungan kolagen, MPS
(mucopolisacarida), EPA, dan DHA menjadi rahasia dibalik kesaktian
teripang dalam menyembuhkan penyakit-penyakit itu.
MPS dalam bentuk kondrintin sulfat mampu memulihkan sendi,
membangun tulang rawan dan memberikan pelendiran pada dinding sel.
Kadar EPA yang tinggi (sektitar 25,69 %) mempercepat perbaikan pada
jaringan yang rusak dan menghalangi pembentukan prostaglandin penyebab
radang tinggi. Kandungan DHA yang relatif tinggi juga sanggup
menurunkan trigliserida darah yang menyebabkan penyakit jantung. Faedah
kolagen yang terdapa pada ’timun laut” ini sanggup meningkatkan
regenerasi sel-sel mati akibat luka sehingga mempercepat proses
penyembuhan luka
f. Pemanfaaatan limbah
Limbah kulit Crustasea seperti udang, kepiting, rajungan dan lobster
menjadi khitin dan khitosan telah banyak digunakan dalam industri kertas,
tekstil, bahan perekat (adhesives), bahan pengkelat dan obat penyembuh
luka.
Jika selama ini limbah buangan kulit udang menjadi permasalahan
lingkungan, maka adanya industri khitin dan khitosan menjadi solusi
produktif yang bisa mentransformasi limbah menjadi bahan bermanfaat dan
harganya mahal (berkah). Dapat dibayangkan jika produksi udang nasional
mencapai 300.000 ton/th, maka limbah kulit udang yang dihasilkan
sebanyak 150.000 ton (50% massa udang) dapat dibuat menjadi khitin dan
khitosan, dengan harga rata-rata US$ 10/kg.

13
Salah satu terobosan (breakthrough) bioteknologi dalam pemanfaatan
limbah udang yang menjadi isu nasional pada awal tahun 2006 yaitu
ditemukannya pengganti formalin oleh khitosan dari limbah kulit udang.
Pasalnya, sebagian besar masyarakat Indonesia sudah menggunakan
formalin sejak tahun 1970-an sebagai bahan pengawet makanan; baik
produk perikanan dan pertanian terutama pada produk-produk tradisional
seperti bakso, tahu, ikan asin, mie, dan lainnya yang secara klinis dapat
mengakibatkan kanker karena bersifat karsinogenik.
Keunggulan khitosan dari bahan pengawet sintetis yang berbahaya
bagi tubuh dikarenakan khitosan bersifat bakterisidal dan mampu
membentuk tekstur makanan menjadi lebih baik. Sehingga, selain dapat
mengawetkan makanan, sekaligus juga mampu menjaga mutu produk yang
dinginkan. Oleh karena itu layak untuk dijadikan alternatif pengganti bahan
pengawet berbahaya.

Gambar 9. Pemanfaatan kulit Crustacea

14
2. Pengendalian Pencemaran (bioremediasi)

Populasi mikroorganisme yang hidup di perairan laut Indonesia juga


bermanfaat sebagai biodecomposer terhadap limbah yang masuk laut, seperti
limbah minyak, bahan organik dan logam berat. Beberapa jenis biota perairan
seperti algae, moluska dan berbagai organisme renik lainnya mempunyai
kemampuan untuk menyerap logam berat dan polutan lainnya di perairan.
Pengembangan teknologi penanggulangan limbah dengan memanfaatkan jasa
organisme atau mikroorganisme laut dilakukan melalui teknik bioremediasi.
Pemanfaatan teknik bioremediasi merupakan solusi yang lebih aman
karena ramah lingkungan dan hampir tidak menimbulkan efek samping yang
berbahaya bagi lingkungan dan manusia dan lebih mudah dilakukan. Sejak
sepuluh tahun terakhir, teknik bioremediasi ini telah lazim digunakan dalam
membersihkan pencemaran minyak di laut daripada pembersihan secara
kimiawi dengan menaburkan dispersan pada permukaan laut atau secara
mekanis dengan menggunakan oil boom dan oil skimmer. Pencemar minyak
mentah (crude oil) dapat didegradasi oleh mikroba indigenus di laut. Mikroba
tertentu mampu mengunakan hidrokarbon sebagai sumber karbon dan energi
untuk kehidupan mikroba.
Sebagai contoh pembuatan media tumbuh (nutrien) untuk mikroorganisme
pengurai minyak bumi. Perusahaan Showa-Shell-Petrol melalui aktifitas
bioteknologi telah mengembangkan teknik (engineering) pembuatan nutrien
tersebut yang kemudian mendapatkan hak paten di Jepang (Showa-Shell-Petrol
Patent). Inggris juga merupakan salah satu bangsa yang telah menikmati devisa
dari industri bioremediasi dengan nilai ekspor sekitar US$ 2 milyar/tahun.
Salah satu jenis mikroba pendegradasi minyak bumi yang hidup di Indonesia
yaitu Aerobacter simplex.

15
Gambar 10. Bioremediasi

3. Aplikasi Rekayasa Genetika

Penerapan yang ke tiga adalah aplikasi rekayasa genetik (genetic


engineering) dalam industri bioteknologi. Salah satu penerapannya yaitu
dalam mendukung perikanan budidaya (aquaculture) dan pertanian. Rekayasa
genetik dilakukan pada induk (bibit) dan benih ikan dan biota perairan lainnya,
tanaman, dan hewan untuk menghasilkan sifat-sifat unggul yang sesuai dengan
keinginan kita seperti cepat tumbuh (fast growing), resisten terhadap serangan
hama dan penyakit, tahan terhadap kondisi lingkungan yang buruk, sanggup
menghasilkan kandungan lemak Omega-3 tinggi serta sifat-sifat unggul
lainnya.
Jika kita berhasil menerapkan bioteknologi dalam usaha perikanan
budidaya di Indonesia, maka potensi produksi perikanan budidaya yang
sebesar 57,7 juta ton/tahun dapat dicapai lebih besar lagi, dibandingkan dengan
produksi budidaya perikanan yang ada sekarang yang hanya sekitar 4,5 juta
ton. Diantara produk primadona yang menjadi unggulan sektor perikanan
adalah komoditas udang, kerapu, kakap, nila, patin, lele, dan rumput laut.

16
Salah satu contoh dari komoditas udang, bahwa terdapat sekitar 1,2 juta
hektar lahan pesisir di Indonesia yang cocok untuk budidaya tambak udang
(Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap DKP 2004). Sementara tingkat
pemanfaatan lahan budidaya untuk tambak udang, bandeng dan komoditas
lainnya baru seluas lebih kurang 380 ribu ha dengan produktivitas rata-rata 600
kg udang/ha/tahun. Jika saja dibuka 0,5 juta ha lahan tambak udang (dengan
rata-rata 2 ton/ha/th), maka dihasilkan udang sebanyak 1 juta ton/tahun.
Dengan harga ekspor rata-rata 6 dollar AS/kg, maka dihasilkan devisa sebesar
6 miliar dollar AS. Sedangkan tenaga kerja yang dapat terserap untuk
memproduksi satu juta ton udang/tahun pada 0,5 juta ha lahan tambak yaitu
sekitar 3 juta orang. Pendapatan pembudidaya udang mencapai Rp 6
juta/ha/bulan.
Dengan mengusahakan 1 juta ha budidaya rumput laut (25% total potensi),
dapat diproduksi sekitar 20 juta ton rumput laut kering per tahun. Bila kita
ekspor 10 juta ton/tahun dengan harga sekarang US$ 1/kg, maka akan
diperoleh devisa sebesar US$ 10 milyar/tahun. Jumlah tenaga kerja yang
terserap mencapai 3,5 juta orang. Pendapatan pembudidaya rumput E. Cotonii
rata-rata mencapai Rp 3 juta/0,25 ha/bulan.
Contoh lainnya adalah bakteri laut, Pseudomonas aeruginosa, yang
genetiknya telah direkayasa dapat menghasilkan senyawa bioaktif surfactants
yang dapat membersihkan tumpahan minyak yang menempel pada batu dan
pasir pantai. Perlu dicatat, bahwa senyawa surfactants yang dihasilkan oleh
bakteri ini mempunyai sifat mudah terurai (biodegradable) dan tidak beracun
(non-tixic). Jenis surfactants lainnya, dengan nama dagang ‘emulsan’
dihasilkan oleh jenis bakteri laut Acinetobacter calcoaceticus. Emulsan sejak
awal 1990-an telah digunakan untuk membersihkan tangki-tangki penyimpan
minyak pada kapal tanker dan jenis kapal lainnya. Emulsan juga banyak
digunakan untuk meningkatkan hasil pengeboran dari sumur-sumur minyak tua
(enhanced oil recovery) dan pengendalian pencemaran. Apabila keampuhan
mikroorganisme laut itu dikombinasikan dengan makroalga laut, lamun

17
(seagrass), dan mangrove, niscaya teknik bioremediasi lingkungan akan
semakin efektif dan efisien.

Gambar 11. Aplikasi Rekayasa Genetika Kelautan

2.5 Dampak Bioteknologi Kelautan

18
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Bioteknologi kelautan adalah teknik penggunaan biota laut atau bagian


dari biota laut (seperti sel atau enzim) untuk membuat atau memodifikasi produk,
memperbaiki kualitas genetik atau fenotip tumbuhan dan hewan, dan
mengembangkan (merekayasa) organisme untuk keperluan tertentu, termasuk
perbaikan lingkungan.
Sebagai negara maritim dan kepulauan terbesar di dunia, yang sekitar tiga
per empat wilayahnya berupa laut (5,8 juta km2). Keanekaragaman hayati ini
meliputi keragaman genetik, spesies, ekosistem, dan proses-proses eko-biologis,
yang kesemuanya menjadi titik awal dan dasar (bahan baku utama) dari industri
bioteknologi kelautan.
Ekosistem pesisir dan lautan Indonesia menjadi habitat bagi lebih dari
4500 spesies ikan, 20% dari total luasan terumbu karang dunia, dan sekitar 600
spesies karang keras (hard corals) atau 75% dari jumlah total spesies karang keras
dunia terdapat di laut Indonesia.
Pemanfaatan dan pengolahan bioteknologi kelautan di kelompokan dalam
tiga kelompok industri yaitu:
1. Ekstraksi Senyawa Bioaktif Untuk Berbagai Industri
Pemanfaatan biota laut baik alga, hewan vertebrata, inverterata dan
limbahnya sekalipun dalam bidang industri yang menghasilkan produk
seperti suplemen kesehatan, perekat obat dan sebagainya.
2. Pengendalian Pencemaran (bioremediasi)
3. Aplikasi Rekayasa Genetika
Pseudomonas aeruginosa, yang genetiknya telah direkayasa dapat
menghasilkan senyawa bioaktif surfactants yang dapat membersihkan
tumpahan minyak yang menempel pada batu dan pasir pantai.

19
DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap DKP. 2004. Strategi Akselerasi


Pengembangan Perikanan Tangkap Dalam Mendukung Gerbang Mina
Bahari. Makasar: Ditjen Budidaya DKP.

Jean, L. M. 1991. Revolusi Bioteknologi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Thieman., William. J, and Michael, A. P. 2004. Introduction to Biotechnology.


New York: Benjamin Cummings.

http://blogs.itb.ac.id/ratnaekaputri/2012/11/26/industri-bioteknologi-kelautan-
sebagai-mesin-pertumbuhan-ekonomi-baru-indonesia/ (diakses pada tanggal
7 Mei 2019)

http://rustadhieperikanan.blogspot.com/2011/11/hubungan-antara-bioteknologi-
kelautan.html (diakses pada tanggal 7 Mei 2019)

http://3m4vunkworld.blogspot.com/2010/06/makalah-bioteknologi-manfaat-
ekstrak.html (diakses pada tanggal 7 Mei 2019)

http://erwin-dwi-putra.blogspot.com/2009/05/bioteknologi-untuk-kejayaan-
perikanan.html (diakses pada tanggal 7 Mei 2019)

20