Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

RELEVANSI METODE PAI DENGAN TUJUAN, BAHAN AJAR, SITUASI,


SISWA DAN EVALUASI

Oleh:

Ahmad

Abd.Azis

Akbar

Aradiansyah

Satriani

STAI DDI MAJEENE

TAHUN AKADEMIK 2019/2020


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di era modern sekarang, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
sangat pesat serta menyentuh pada semua aspek kehidupan manusia tak terkecuali di
bidang pendidikan dan pengajaran. Pemerintah dewasa ini khususnya Kementrian
Pendidikan Nasional berusaha untuk meningkatkan mutu pendidikan seperti yang
telah digariskan dalam UU. SISDIKNAS No. 20 Tahun 2003 bahwa:
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara.[1] Untuk mencapai tujuan tersebut maka pemerintah
telah mengusahan peningkatan mutu pendidikan mulai dari tingkat pendidikan dasar
sampai ke tingkat perguruan tinggi. Selain itu, juga dilakukan usaha-usaha seperti
penataran guru-guru bidang studi, pengadaan buku-buku paket, dan menambah
sarana dan prasarana untuk kegiatan proses belajar mengajar.
Peningkatan mutu pendidikan sangat ditentukan oleh guru sebagai pendidik
dalam pencapaian tujuan pendidikan yang diharapkan. Dengan kata lain guru
menempati titik sentral pendidikan. Agar guru mampu menunaikan tugasnya dengan
baik, maka terlebih dahulu harus memahami hal-hal yang berhubungan dengan
proses belajar mengajar seperti halnya proses pendidikan pada umumnya. Dengan
demikian peranan guru yang sangat penting adalah mengaktifkan dan
mengefisienkan proses belajar di sekolah termasuk didalamnya penggunaan metode
mengajar yang sesuai.
Penggunaan metode mengajar yang tepat, merupakan suatu alternatif
mengatasi masalah rendahnya daya serap siswa terhadap pelajaran tertentu, guna
meningkatkan mutu pengajaran. Penerapan suatu metode pengajaran harus ditinjau
dari segi keefektifan, keefesienan dan kecocokannya dengan karakteristik materi
pelajaran serta keadaan siswa yang meliputi kemampuan, kecepatan belajar, minat,
waktu yang dimiliki dan keadaan sosial ekonomi siswa sebagai obyek. Sesuai yang
dikatakan oleh Rostiyah bahwa :
“Setiap jenis metode pengajaran harus sesuai atau tepat untuk mencapai suatu tujuan
tertentu. Jadi untuk tujuan yang berbeda guru harus mengadakan teknik penyajian
yang berbeda sekaligus untuk mencapai tujuan pengajarannya”.[2]

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang maksud dengan metode pembelajaran Pendidikan Agama Islam?
2. Bagaimana relevansi metode PAI dengan tujuan pembelajaran?
3. Bagaimana relevansi metode PAI dengan bahan ajar?
4. Bagaimana relevansi metode PAI dengan evaluasi?
5. Bagaimana relevansi metode PAI dengan siswa dan situasi?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui apa yang maksud dengan metode pembelajaran Pendidikan
Agama Islam?
2. Untuk mengetahui bagaimana relevansi metode PAI dengan tujuan
pembelajaran?
3. Untuk mengetahui bagaimana relevansi metode PAI dengan bahan ajar?
4. Untuk mengetahui bagaimana relevansi metode PAI dengan evaluasi?
5. Untuk mengetahui bagaimana relevansi metode PAI dengan siswa dan situasi?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Hakikat Metode PAI


1. Pengertian Metode Dalam Pendidikan Islam
Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode diperlukan oleh guru dan
penggunaannya bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah
pengajaran berakhir. Seorang guru tidak akan dapat melaksanakan tugasnya bila dia
tidak menguasai satu pun metode mengajar yang telah dirumuskan dan dikemukakan
para ahli psikologi dan pendidikan.[5]
Perumusan tentang pengertian metode biasanya disandingkan dengan
pengertian teknik, yang mana keduanya saling berhubungan. Metode pendidikan
Islam adalah prsedur umum dalam penyampaian materi untuk mencapai tujuan
pendidikan berdasarkan atas asumsi tertentu tentang hakikat islam sebagai
suprasistem. Sedangakan teknik pendidikan Islam adalah langkah-langkah konkret
pada waktu seseorang pendidik melaksanakan pengajaran di kelas. Muhammad
Athiyah al- Abrasyi mengartikan metode sebagai jalan yang dilalui untuk
memperoleh pemahaman pada peserta didik. Abd al-Aziz mengartikan metode
sebagai cara-cara memperoleh informasi, pengethauan, pandangan, kebiasaan
berpikir, serta cinta kepada ilmu, guru, dan sekolah.[6]
Selain dari pendapat di atas, Ginting juga berpendapat bahwa metode secara
umum diartikan sebagai cara melakukan sesuatu. Secara khusus metode
pembelajaran dapat diartikan sebagai cara atau pola yang khas dalam memanfaatkan
berbagai prinsip dasar pendidikan serta berbagai teknik dan sumbernya terkait
lainnya agar terjadi proses pembelajaran pada diri pembelajar. [7]
Dari beberapa pendapat tentang pengertian metode di atas, maka dapat
dikatakan bahwa penggunaan metode pendidikan Islam yang perlu dipahami adalah
bagaimana seorang pendidik dapat memahami hakikat metode dan relevansinya
dengan tujuan utama pendidikan Islam, yaitu terbentuknya pribadi yang beriman
yang senantiasa siap sedia mengabdi kepada Allah SWT. Disamping itu, pendidik
pun perlu memahami metode-metode instruksional yang actual yang ditujukan dalam
Al-Qur’an atau yang dideduksikan dari Al-Qur’an, dan dapat memberi motivasi dan
disiplin dalam belajarnya.
2. Prosedur Pembuatan Metode Pendidikan Islam
Langkah-langkah yang ditempuh oleh para pendidik sebelum pembuatan
metode pendidikan Islam adalah memerhatikan persiapan bahan mengajar (lesson
plan) yang meliputi pemahaman terhadap tujuan pendidikan Islam, penguasaan
materi pelajaran, dan pemahaman teori-teori pendidikan selain teori-teori pengajaran.
Disamping itu, pendidik harus memahami prinsip-prinsip mengajar serta model-
modelnya dan prinsip evaluasi, sehingga pada akhinya pendidikan Islam berlangsung
dengan cepat dan tepat.
Prosedur pembuatan metode pendidikan Islam adalah dengan memperhatikan factor-
faktor yang mempengaruhinya yang meliputi:[8]
1. Tujuan pendidikan Islam
2. Peserta didik
3. Situasi
4. Fasilitas
5. Pribadi pendidik
Tidak selamanya satu metode selalu baik untuk saat yang berbeda-beda. Baik
tidaknya bertgantung pada beberapa faktor yang mungkin berupa situasi dan kondisi,
atau persesuaian dengan selera, atau juga karena metodenya sendiri yang secara
intrinsik belum memenuhi persyaratan sebagai metode yang tepat guna, semuanya
sangat ditentukan oleh pihak yang menciptakan dan melaksanakan metode juga
objek yang menjadi sasarannya.
3. Prinsip-prinsip Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Berikut adalah prinsip-prinsip metode pembelajaran Pendidikan Agama Islam:
a. Niat dan orientasinya untuk mendekatkan hubungan antara manusia dengan
Allah dan sesama makhluk. Pendekatan kepada Allah disertai dengan tauhid,
mengesakan Allah, tiada Tuhan kecuali Allah. Tauhid ini menjadi ruh bagi
aktivitas muslim. Prinsip ketauhidan ini yang membedakan dengan metode yang
lain. Penerapan metode apa pun diterima asal memperkuat keimanan dan
pengabdian kepada Allah. Keterpaduan (integrative, tauhîd). Ada kesatuan antara
iman-ilmu-amal, iman-islam-ihsan, dzikir-fikr (hati dan pikir), dhahir-batin
(jiwa-raga), dunia-akhirat, dulu-sekarang-akan datang.
b. Bertumpu pada kebenaran. Materi yang disampaikan itu benar, disampaikan
dengan cara yang benar, dan dengan dasar niat yang benar.
c. Kejujuran (sidq dan amânah). Berbagai metode yang dipakai harus memegang
teguh kejujuran (akademik). Kebohongan dan dusta (kidzb) dalam bentuk apapun
dilarang. Keteladanan pendidik. Ada kesatuan antara ilmu dan amal. Pendidik
yang mengajar dituntut menjadi contoh tauladan bagi peserta didiknya. Tidak
diperkenankan ada kata “saya hanya mengajar”. Pengajar shalat, ia harus juga
melaksanakan shalat. Ada dispensasi (rukhshah) jika pendidik berhalangan
secara syar’i semisal ia mengajar tentang haji sementara ia belum memiliki biaya
untuk naik haji sehingga belum mampu haji.
d. Berdasar pada nilai. Metode pendidikan Islam tetap berdasarkan padaal-akhlâq
al-karîmah, budi utama. Metode pendidikan Islam sarat nilai, tidak bebas nilai
semisal proses pembelajaran harus memperhatikan waktu shalat (wajib).
e. Sesuai dengan usia dan kemampuan akal anak (biqadri uqûlihim).
f. Sesuai dengan kebutuhan peserta didik (child center), bukan untuk memenuhi
keinginan pendidik apalagi untuk proyek semata.
g. Mengambil pelajaran pada setiap kasus atau kejadian (ibrah) yang
menyenangkan ataupun yang menyedihkan.[9]
4. Asas-asas Pelaksanaan Metode Pendidikan Islam
Asas-asas pelaksanaan metode pendidikan Islam pada dasarnya dapat diformulasikan
sebagai berikut:[10]
a. Asas Motivasi
Asas motivasi ini penting diciptakan oleh seorang pendidik sehingga seluruh
perhatian peserta didik tertuju pada pelajaran yang sedang disampaikan di kelas.
Upaya yang dapat dilakukan oleh seoang peserta didik adalah mengadakan selingan
yang sehat, menggunakan alat-alat perasa yang sesuai dengan sifat materi,serta
mengadakan kompetesi yang sehat dengan memberikan hadiah dan hukuman yang
bijaksana.
b. Asas Aktivitas
Dalam proses belajar mengajar pendidikan peserta didik harus diberikan kesempatan
untuk mengambil bagian yang aktif, baik secara rohani maupun jasmani, terhadap
pengajaran yang akan diberikan, secara individual maupun kolektif. Asas ini
menghindari adanya verbalitas bagi peserta didik.
c. Asas Apersepsi
Apersepsi adalah gejala jiwa yang dialami jika kesan baru masuk kedalam kesadaran
seseorang yang berjalin dengan kesan-kesan lama yang sudah dimiliki disertai proses
pengelolaan, sehingga menjadi kesan yang lebih luas. Asas apersepsi bertujuan
menghubungkan bahan pelajaran yang akan diberikan dengan apa yang telah dikenal
oleh peserta didik.
d. Asas Peragaan
Dalam asas ini pendidik memberikan variasi dalam cara-cara mengajar dengan
mewujudkan bahan-bahan yang diajarkan secara nyata, baik dalam bentuk aslinya
maupun tiruan sehingga peserta didik dapat mengamati dengan jelas dan pengajaran
lebih tertuju untuk mencapai hasil yang diinginkan.
e. Asas Ulangan
Asas yang merupakan usaha untuk mengetahui taraf kemajuan atau keberhasilan
belajar peserta didik dalam aspek pengetahuan, keterampilan, serta sikap setelah
mengikuti pengajaran sebelumnya.
f. Asas Korelasi
Dalam setiap pengajarn pendidik harus menghubungkan suatu bahan pelajaran
dengan bahn pelajaran lainnya, sehingga membantuk mata rantai yang erat. Asas
korelasi akan menimbulkan asosiasi dan apersepsi dalam kesadaran dan sekaligus
membangkitkan minat peserta didik terhadap mata pelajaran.
g. Asas Konsentrasi
Asas yang memfokuskan pada suatu pokok bahasan maslaah tertentu dari
keseluruhan bahan pelajaran untuk melaksanakan tujuan pendidikan serta
memperhatikan peserta didik dalam segala aspeknya. Asas ini dapat diupayakan
dengan memberikan masalah yang menarik seperti masalah yang baru muncul.
h. Asas Individualisasi
Asas yang memperhatikan perbedaan individu, baik pembawaan dan lingkungan
yang meliputi seluruh pribadi peserta didik, seperti perbedaan jasmani, watak,
intelegensi, bakat serta lingkungan yang mempengaruhinya. Aplikasi asas ini adalah
pendidik dapat mepelajari pribadi setiap peserta didik, terutama tentang kepandaian,
kelebihan, kekurangan, dan memberi tugas sebatas dengan kemampuannya.
i. Asas Sosialisasi
Asas yang memperhatikan penciptaan suasana social yang dapat membangkitkan
semangat kerja sama antara peserta didik dengan pendidik atau sesame peserta didik
dan masyarakat seitarnya, dalam menerima pelajaran agar lebih berdaya guna dan
berhasil guna.
j. Asas Evaluasi
Asas yang memperhatika hasil dari penilaian terhadap kemampuan yang dimilik
peserta didik sebagai feedback pendidik dalam memperbaiki cara mengajar. Asas
evaluasi tidak hanya diperuntukkan bagi peserta didik, tetapi juga bagi pendidik,
yaitu sejauh mana keberhasilannya dalam menunaikan tugasnya.
k. Asas Kebebasan
Asas yang memberikan keleluasaan keinginan dan tindakan bagi peserta didik
dengan dibbatasi atas kebebasan yang mengacu pada hal-hal yang positif. Asas ini
mengandung tiga aspek, yaitu self-directednees, self-discipline, self-control.Asas ini
menyarankan membuat keputusan-keputusan tentang tindakan seseorang didasarkan
pada ukuran kabijakan, dan mampu membuat pilihan berdasarkan nilai-nilai pribadi,
dan adanya pengarahan diri sehingga sitem kontrol diri berkembang.
l. Asas Lingkungan
Asas yang menentukan metode dengan berpijak pada pengaruh lingkungan akibat
interaksi dengan lingkungan. Walaupun peserta didik lahir dengan berbekal
pembawaan, pembawaan itu masih bersifat umum yang harus dikembangkan melalui
interaksi lingkungan, sehingga pembawaan dan lingkungan saling membutuhkan
mengingat pembawaan merupakan batasan-batasan kemungkinan yang dapat dicapai
dari lingkungan.
m. Asas Globalisasi
Asas sebagai akibat pengaruh psikologi totalitas, yaitu peserta didik berinteraksi
terhadap lingkungan secara keseluruhan, tidak hanya secara intelektual, tatpi juga
secara fisik, social, dan sebagainya.
n. Asas Pusat-pusat Minat
Pelaksanaan pusat-pusat minat dalam islam dengan ruang lingkup terdiri dari bahan
hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia terhadap
alam semesta.
o. Asas Keteladanan
Pada fase tertentu peserta didik memiliki kecendrungan belajar lewat peniruan
terhadap kebiasaan dan tingkah laku orang di sekitarnya. Khusus pada pendidik, asas
keteladanan efektif digunakan pada fase-fase ini.
p. Asas Pembiasaan
Pembiasaan merupakan upaya praktis dalam pembinaan dan pembentukan peserta
didik. Upaya pembiasaan sendiri dilakukan mengingat manusia mempunyai sifat
lupa dan lemah.
B. Relevansi Metode PAI
1. Relevansi dengan tujuan pembelajaran
Tujuan yang hendak dicapai, jika tujuannya pembinaan daerah kognitif maka
metode driil kurang tepat digunakan akan tetapi metode yang tepat digunakan seperti
metode tanya jawab, pemberian tugas, diskusi dll. Jika tujuan daerah afektif maka
metode yang tepat digunakan seperti; metode keteladanan, Qawlan (baligha, bashira,
nazhira, al haq, layyinan, maisyura, ma’rufan). Jika tujuan daerah psikomotor maka
metode yang cocok digunakan adalah seperti; metode alat peraga, simulasi.
Jadi kesimpulan penulis disini bahwa metode yang akan digunakan harus melihat
dulu tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Beberapa metode diatas masih terfokus
kepada satu tujuan, apabila tujuan yang akan dicapai meliputi ketiga aspek maka ini
sesuai dengan kreatifitas guru dalam mengkolaborasikan metode-metode tersebut.

2. Relevansi dengan bahan ajar


Bahan ajar pada dasarnya adalah semua bahan yang didesain secara spesifik
untuk keperluan pembelajarn, bahan ajar berupa seperangkat materi yang disusun
secara sistematis sehingga tercipta lingkungan atau suasana yang memungkinkan
siswa belajar dengan baik. Secara umum wujud bahan ajar dapat dikelompokkan
menjadi empat yaitu;
a. Bahan cetak (printed), bahan cetak antara lain handout, buku, modul, lembar
kerja siswa, brosur, leaflet, wallchart, foto atau gambar ;
b. Bahan ajar dengar (audio), bahan ajar yang didesain dengan menggunakan media
dengan (audio) seperti kaset, radio, piringan hitam, dan compact disk audio ;
c. Bahan ajar lihat-dengar (audio visual) Bahan ajar audio visual adalah bahan ajar
yang didesain dengan menggunakan media audio visual seperti video compact
disk, film
d. Bahan ajar interaktif .. Multimedia interaktif adalah kombinasi dari dua atau
lebih media (audio, teks, gambar, animasi, dan video) yang oleh penggunaannya
dimanipulasi untuk mengendalikan perintah dan perilaku alami dari suatu
presentasi.[11]
Bahan pembelajaran yang baik harus mempermudah dan bukan sebaliknya
mempersulit siswa dalam memahami materi yang sedang dipelajari. Oleh sebab itu,
bahan pembelajaran harus memenuhi kriteria berikut:
a. Memuat intisari atau informasi pendukung untuk memahami materi yang
dibahas.
b. Disampaikan dalam bentuk kemasan dan bahasa yang singkat, padat, sederhana,
sistematis, sehingga mudah difahami.
c. Jika ada perlu dilengkapi contoh dan ilustrasi yang relevan dan menarik untuk
lebih mempermudah memahami isinya.
d. Sebaiknya diberikan sebelum berlangsungnya kegiatan belajar dan pembelajaran
sehingga dapat dipelajari terlebih dahulu oleh siswa.
e. Memuat gagasan yang bersifat tantangan dan rasa ingin tahu siswa
f. Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyusunan bahan ajar atau
materi pembelajaran.

3. Relevansi dengan situasi


Situasi yang mencakup hal yang umum seperti situasi kelas, situasi
lingkungan. Bila jumlah murid begitu besar, maka metode diskusi agak sulit
digunakan apalagi bila ruangan yang tersedia kecil. Metode ceramah harus
mempertimbangkan antara lain jangkauan suara guru. Kemudian apabila situasi
lingkungan kelas dan sekolah sunyi senyap tampa banyak aktifitas disekelilingnya,
maka metode yang tepat digunakan adalah metode seperti; diskusi, Tanya jawab,
simulasi. Dengan sesuainya metode yang digunakan guru dengan situasi sekolah
ditempat ia mengajar maka tujuan dari materi yang akan disampaikan pun akan
tercapai secara maksimal. Begitu juga sebaliknya, apabila guru tidak bisa melihat
dan menyesuaikan metode yang akan digunakan dengan situasi kelas maupun
sekolah, maka pembelajaran tidak akan terlaksana dengan baik. Jadi sangat penting
diperhatikan bagi seorang guru tentang situasi tempat ia mengajar.
4. Relevansi dengan siswa
Salah satu aspek yang ada didalam kerangka belajar mengajar adalah aspek
murid, semua guru mengetahui bahwa murid-murid berbeda satu dari yang lainnya.
Kemungkinan yang berbeda itu cukup besar dan tidak ada dua orang yang identik.
Terdapat kecenderungan yang umum yang dapat diamati, tapi pada dasarnya setiap
anak adalah seorang individu..
Beberapa perbedaan murid cukup jelas dan dengan segera dapat diamati dan
diketahui oleh guru pada saat pertama kali masuk kelas, perbedaan ini terutama
mengenai perbedaan fisik. Perbedaan-perbedaan yang lainnya misalnya perbedaan
keperibadian dan watak akan kelihatan setelah beberapa waktu kemudian. Untuk
menyadari perbedaan-perbedaan ini perlu waktu agak lama, namun demikian dalam
jangka waktu tertentu akan jelas bahwa terdapat ketidakseragaman dalam materi
yang dipelajari, dalam kecepatan belajar, sikap terhadap belajar dan cara belajar.
Begitu kita jumpai murid dalam kelas memiliki tingkat pengalaman yang berbeda
dirumah atau sekolah terdahulu (ibtidaiyah), disebabkan oleh perbedaan-perbedaan
tersebut diatas, setiap kesempatan belajar yang diberikan disekolh akan berbeda bagi
murid yang berbeda.
Kesemuannya itu sudah diketahui dengan baik, guru-guru sanggup menukil
contoh-contoh dari pengalaman mereka sendiri tentang perbedaan yang beraneka
ragam dan menerima teori dalam pendidikan mereka bahwa mereka harus
memperhatikan perbedaan-perbedaan individu dan menyiapkan pendidikan bagi
murid yang dapat memenuhi perbedaan itu. Hal ini teoritis sifatnya dan bagaiman
dalam prakteknya?
Kalau kita perhatikan bahwa system pengajaran di madrasah masih
mengikuti system klasikal dimana murid dengan berbagai ragam perbedaannya
mendapat pelajaran yang sama pada waktu yang sama, maka metode yang relevan
untuk memenuhi perbedaan-perbedaan individual (walaupun tidak seluruhnya) ialah
dengan metode proyek, pemberian tugas-tugas tambahan dan pengelompokan
berdasarkan kemampuan.
Pelaksanaan metode yang menjamin pemenuhan perbedaan individual masi
merupakan persoalan bagi guru. Hal ini disebabkan oleh karenah pengaruh ujian dan
banyak guru berkomentar bahwa suatu hal yang mustahil melayani murid secara
individual bila mereka mempersiapkan diri untuk ujian yang sama.para guru itu lupa
bahwa tidak satu jalan menuju ke roma. Ada berbagai jalan untuk mencapai tujuan
yang sama. Kalau murid memang berbeda dalam berbagai macam aspek, mengapa
mereka diharuskan mencapai tujuan dengan cara yang sama? Lebih-lebih lagi sudah
kebiasaan bagi murid yang akan ujian dan tidak ujian, diberikan kesempatamn
belajar yang sama-materi yang sama, keterampilan yang sama, cara belajar dan
sebagian serba sama?

Disinilah peran guru untuk memilih metode pembelajaran yang sesuai


dengan keadaan siswa. Apabila siswa memiliki kemampuan rata-rata yang sama
maka guru bisa menggunakan metode seperti; diskusi, tanya jawab, dan simulasi.
Kemudian apabila kemampuan siswa di suatu kelas tidak merata maka metode yang
mungkin di gunakan seperti; metode pendekatan personal seperti qawlan layyinan
dan qawlan maisyura. Ini semua kembali kepada kreativitas guru dalam melihat
kemampuan, kematangan dan latar belakang siswa

5. Relevansi dengan evaluasi


Dalam pelaksanaan evaluasi perlu diperhatikan beberapa prinsip sebagai dasar
pelaksanaan penilaian.
Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
a. mematis, yakni penilaian harus dilakukan secara sistematis dan teratur. [12]
b. Berkaitan dengan metode dalam pendidikan agama Islam maka ada beberapa
jenis evaluasi yang dapat diterapkan :[13]
c. Evaluasi Formatif, yaitu penilaian untuk mengetahui hasil belajar yang dicapai
oleh para peserta didik setelah menyelesaikan satuan program pembelajaran
(kompetensi dasar) pada mata pelajaran tertentu.
d. Evaluasi Sumatif, yaitu evaluasi yang dilakukan terhadap hasil belajar peserta
didik setelah mengikuti pelajaran dalam satu semester dan akhir tahun untuk
menentukan jenjang berikutnya.
e. Evaluasi penempatan (placement), yaitu evaluasi tentang peserta didik untuk
kepentingan penempatan di dalam situasi belajar yang sesuai dengan kondisi atau
kemampuan yang dimiliki peserta didik.
f. Evaluasi Diagnostik, adalah evaluasi yang dilaksanakan untuk keperluan latar
belakang (psikologi, fisik, lingkungan) dari murid/ siswa yang mengalami
kesulitan-kesulitan dalam belajar, yang hasilnya dapat digunakan sebagai dasar
dalam memecahkan kesuliatan –kesuliatan tersebut. Evaluasi jenis ini erat
hubungannya dengan kegiatan bimbingan dan penyuluhan di sekolah.
Berikut adalah jenis-jenis alat evaluasi:
Alat/Instrumen Evaluasi Bentuk Non-Tes
a. Observasi
Observasi adalah suatu proses pengamatan dan pencatatan secara sistematis, logis,
objektif, dan rasional mengenai berbagai fenomena, baik dalam situasi yang
sebenarnya maupun dalam situasi buatan untuk mencapai tujuan tertentu. Alat yang
digunakan dalam melakukan observasi adalah pedoman observasi.[14]
b. Wawancara
Wawancara dibagi dalam 2 kategori, yaitu : pertama, wawancara bebas yaitu si
penjawab (responden) diperkenankan untuk memberikan jawaban secara bebas
sesuai dengan yang ia diketahui tanpa diberikan batasan oleh
pewawancara. Kedua, adalah wawancara terpimpin dimana pewawancara
telahmenyusun pertanyaan pertanyaan terlebih dahulu yang bertujuan untuk
menggiring penjawab pada informasi-informasi yang diperlukan saja. [15]
c. Angket
Angket (kuesioner) merupakan alat pengumpul data melalui komunikasi tidak
langsung, yaitu melalui tulisan. Angket ini berisi daftar pertanyaan yang bertujuan
untuk mengumpulkan keterangan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan
responden.
d. Skala sikap
Skala sikap digunakan untuk mengukur sikap seseorang terhadap objek tertentu.
Hasilnya berupa kategori sikap, yakni mendukung (positif), menolak (negatif), dan
netral. Sikap pada hakikatnya adalah kecenderungan berperilaku pada seseorang.
Sikap juga dapat diartikan reaksi seseorang terhadap suatu stimulus yang datang
pada dirinya. [16]
Alat/Instrumen Evaluasi Bentuk Tes:
a. Uraian
b. Lisan
Apapun metode yang digunakan oleh seorang guru maka hendaknya memperhatikan
beberapa item berikut seperti:
a. Pertama, berpusat kepada anak didik. Guru harus memandang anak didik sebagai
sesuatu yang unik, tidak ada dua orang anak didik yang sama, sekalipun mereka
kembar.
b. Kedua, belajar dengan melakukan. Supaya proses belajar itu menyenangkan,
guru harus memberikan kesempatan kepada anak didik untuk melakukan apa
yang dipelajarinya, sehingga ia memperoleh pengalaman nyata.
c. Ketiga, mengembangkan kemampuan sosial. Proses pembelajaran dan
pendidikan selain sebagai wahana untuk memperoleh pengetahuan, juga sebagai
sarana untuk berinteraksi sosial.
d. Keempat, mengembangkan keingintahuan dan imajinasi. Proses pembelajaran
dan pendidikan harus dapat memancing rasa ingin tahu anak didik.
e. Kelima, mengembangkan kreatifitas dan ketrampilan memecahkan masalah.
Proses pembelajaran dan pendidikan yang dilakukan oleh guru bagaimana
merangsang kreativitas dan imanjinasi anak untuk menemukan jawaban setiap
masalah yang dihadapi anak didik.
Apabila metode yang digunakan guru adalah metode tanya jawab dalam proses
pembelajaran maka evaluasi yang cocok untuk diterapkan adalah tes lisan. Karena
pada awalnya siswa sudah dibimbing oleh guru untuk menuturkan dan menjelaskan
materi pelajaran secara lisan. Ini akan memudahkan guru untuk menguji seberapa
jauh pemahaman siswa terhadap materi yang sudah diberik
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Konsep metode Pendidikan Agama Islam adalah bagaimana seorang pendidik
dapat memahami hakikat metode dan relevansinya dengan tujuan utama pendidikan
Islam, yaitu terbentuknya pribadi yang beriman yang senantiasa siap sedia mengabdi
kepada Allah SWT. Disamping itu, pendidik pun perlu memahami metode-metode
instruksional yang actual yang ditujukan dalam Al-Qur’an atau yang dideduksikan
dari Al-Qur’an, dan dapat memberi motivasi dan disiplin dalam proses pembelajaran
di kelas.
Metode Pendidikan Agama Islam yang digunakan harus selalu sesuai dengan
tujuan, bahan ajar,situasi,siswa, dan evaluasi agar tercapai hasil yang efektif dan
efisien dalam proses pembelajaran. Guru yang baik adalah guru yang bisa memilah
dan memilih metode yang tepat dengan komponen-komponen dalam proses
pembelajaran..
B. Saran
Makalah yang penulis buat ini jauh dari kesempurnaan baik dari segi buku
reperensi, penulisan apalagi kata-kata yang tidak terurai dengan baik. Penulis
mengharap kritikan dan masukan dari pembaca untuk perbaikan makalah ini

DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman Ginting, Esensi Praktis Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Humaniora, 2008
Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2011
Eko Putro Widoyoko, Evaluasi Program Pembelajaran, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009
UU . RI. No. 20 Tahun 2003, Sisdiknas, Jakarta: Cemerlang, 2003
Rostiyah, N.K.. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Bina Aksara. 1998
Nana Sujana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung: CV. Sinar Baru. 2002
Slameto, Proses Belajar Mengajar dalam Sistem Kredit (SKS), Jakarta : Bumi Aksara, 1998
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: PT Rineka
Cipta, 2002
Omar Muhammad al-Thaumi al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, terj. Hasan
Langgulung, Jakarta: Bulan Bintang, 1979
Mahfudz Shalahuddin, Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta: Bina Ilmu, 1987
Ramayulis, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2002
_______ , Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2002
Zainal Arifin, Evaluasi Pembelajaran, Bandung: Rosdakarya , 2011
https://nurfitriyanielfima.wordpress.com/2013/10/09/strategi-metode-media-bahan-dan-
evaluasi-pembelajaran-pai/

[1] UU . RI. No. 20 Tahun 2003, Sisdiknas,(Jakarta: Cemerlang, 2003), hlm.


3
[2] Rostiyah, N.K.. Strategi Belajar Mengajar. (Jakarta : PT. Bina Aksara.
1998), hlm. 2
[3] Nana Sujana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: CV.
Sinar Baru. 2002), hlm. 82
[4] Slameto, Proses Belajar Mengajar dalam Sistem Kredit (SKS), (Jakarta :
Bumi Aksara, 1998), hlm. 88
[5] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar
Mengajar (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2002), hlm. 53
[6] Omar Muhammad al-Thaumi al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam,
terj. Hasan Langgulung,(Jakarta: Bulan Bintang, 1979), hlm. 551-552
[7] Abdurrahman Ginting, Esensi Praktis Belajar dan
Pembelajaran, (Jakarta: Humaniora, 2008), hlm. 42
[8] Mahfudz Shalahuddin, Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Bina Ilmu,
1987), hlm. 24-25