Anda di halaman 1dari 35

ASUHAN KEPERAWATAN

KEGAWATDARURATAN CVA BLEEDING

Memenuhi Tugas Kelompok Seminar


Mata Kuliah Kegawatdaruratan Sistem 2

Fasilitator:
Merina Widyastuti, S.Kep.,Ns.,M.Kep
NIP. 03.033

Disusun Oleh
Kelompok 2

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANGTUAH
SURABAYA 2018/ 2019
LEMBAR PENGESAHAN

Kami yang bertanda tangan di bawah ini :


Judul Makalah : Asuhan Keperawatan Kegawatdaruratan Cva Bleeding
Ketua Kelompok : Brahmayda Wiji Lestari 1510006
Nama Anggota kelompok : 1. Farida Ayu I 1510014
2. Iriani Wahyuni L 1510024
3. Rizky Novitasari S 1510048
4. Wahyu Denoveta S 1510056
Tanggal seminar : 11 Maret 2019

Dengan ini telah menyelesaikan tugas kelompok seminar yang telah dikirimkan
dalam bentuk hard copy pada tanggal 08 Maret 2019 dan bentuk soft copy pada
tanggal 07 Maret 2019

Mengetahui Surabaya, 07 Maret 2019


Dosen Penanggung Jawab Mata Kuliah Ketua Kelompok

Merina Widyastuti,S.Kep.,Ns.,M.Kep Brahmayda Wiji Lestari


NIP. 03.033 NIM . 1510006

ii
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan Tugas Kelompok Keperawatan Gawat Darurat Sistem 2 ini yang
berkenaan dengan CVA Bledding.
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terimakasih kepada semua
pihak yang telah memberikan masukan, dorongan dan bimbingan kepada penulis
dalam menyusun makalah ini baik dari segi moril dan materil. Ucapan terimakasih
tersebut ditujukan kepada:
1. Wiwiek Liestyaningrum, M.Kep. Selaku ketua Stikes Hang Tuah Surabaya.
2. Merina Widyastuti, S.Kep., Ns., M.Kep. Selaku fasilitator, penanggung
jawab mata kuliah Keperawatan Gawat Darurat Sistem 2 Stikes Hang Tuah
Surabaya.
3. Rekan-Rekan Angkatan 21 Prodi S1 Ilmu Keperawatan STIKES Hang Tuah
Surabaya.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyadari masih jauh dari
kesempurnaan, untuk itu sangat diharapkan saran dan kritik yang sifatnya
konstruktif dari semua pihak untuk perbaikan makalah ini.
Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi yang
membaca dan bagi pengembangan ilmu keperawatan.

Surabaya, 07 Maret 2019

Penulis

iii
DAFTAR ISI

COVER .............................................................................................................................. ii
LEMBAR PENGESAHAN .............................................................................................. ii
KATA PENGANTAR ...................................................................................................... iii
DAFTAR ISI......................................................................................................................iv
BAB 1 PENDAHULUAN ................................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................ 2
1.3 Tujuan ................................................................................................................ 3
1.4 Manfaat .............................................................................................................. 3
BAB 2 TINJAUAN TEORI .............................................................................................. 4
2.1 Definisi ............................................................................................................... 4
2.2 Etiologi ............................................................................................................... 4
2.3 Anatomi dan Fisiologi ....................................................................................... 6
2.4 Patofisiologi ..................................................................................................... 10
2.5 WOC CVA Bledding....................................................................................... 12
2.6 Manifestasi klinis CVA Bledding................................................................... 14
2.7 Komplikasi ....................................................................................................... 15
2.8 Penatalaksanaan Medis .................................................................................. 15
2.9 Pemeriksaan penunjang stroke hemoragic................................................... 16
BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN............................................................................. 18
3.1 Pengkajian Keperawatan ............................................................................... 18
3.2 Diagnosa Keperawatan ................................................................................... 21
3.3 Intervensi Keperawatan ................................................................................. 22
BAB 4 ANALISA JURNAL ........................................................................................... 29
BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN ................................................................................. 30
5.1 Kesimpulan ...................................................................................................... 30
5.2 Saran ................................................................................................................ 30
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 31

iv
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Stroke menurut WHO (World Health Organization) adalah adanya
tanda-tanda klinik yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal
(global) dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih
yang menyebabkan kematiantanpa adanya penyebab lain yang jelas selain
vaskular (Muttaqin, 2008), sedangkan stroke hemoragik adalah stroke yang
terjadi akibat pembuluh darah diotak pecah sehingga darah tidak mengalir
secara semesinya dan darah merembes ke dalam suatu daerah di otak
kemudian timbul iskhemik serta hipoksia di hilir dan berakhir dengan
kelumpuhan. Penyebab stroke hemoragik antara lain: hipertensi, pecahnya
aneurisma, malformasi arteri venosa. Biasanya terjadi saat melakukan
aktivitas atau saat istirahat. Kesadaran pada penderita stroke hemoragik
umumnya menurun (Ria Artiani, 2009).
Data WHO (World Health Organization) tahun 2012, kematian akibat
stroke sebesar 51% di seluruh dunia disebabkan oleh tekanan darah tinggi.
Selain itu, diperkirakan sebesar 16% kematian stroke disebabkan tingginya
kadar glukosa darah dalam tubuh. Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2013,
prevalensi penyakit stroke di Indonesia meningkat seiring bertambahnya
umur. Kasus stroke tertinggi yang terdiagnosis tenaga kesehatan adalah usia
75 tahun keatas (43,1%) dan terendah pada kelompok usia 15-24 tahun yaitu
sebesar 0,2%. Prevalensi stroke berdasarkan jenis kelamin lebih banyak laki-
laki (7,1%) dibandingkan dengan perempuan (6,8%). Berdasarkan tempat
tinggal, prevalensi stroke di perkotaan lebih tinggi (8,2%) dibandingkan
dengan daerah pedesaan (5,7%). Berdasarkan data 10 besar penyakit
terbanyak di Indonesia tahun 2013, prevalensi kasus stroke di Indonesia
berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan sebesar 7,0 per mill dan 12,1 per mill
untuk yang terdiagnosis memiliki gejala stroke. Prevalensi kasus stroke
tertinggi terdapat di Provinsi Sulawesi Utara (10,8%) dan

1
2

terendah di Provinsi Papua (2,3%), Prevalensi stroke antara laki-laki dengan


perempuan hampir sama (Kemenkes, 2013).
Seseorang menderita stroke karena memiliki perilaku yang dapat
meningkatkan faktor risiko stroke. Gaya hidup yang tidak sehat seperti
mengkonsumsi makanan tinggi lemak dan tinggi kolesterol, kurang aktivitas
fisik, dan kurang olahraga, meningkatkan risiko terkena penyakit stroke
(Aulia dkk, 2008). Gaya hidup sering menjadi penyebab berbagai penyakit
yang menyerang usia produktif, karena generasi muda sering menerapkan
pola makan yang tidak sehat dengan seringnya mengkonsumsi makanan
tinggi lemak dan kolesterol tapi rendah serat. Selain banyak mengkonsumsi
kolesterol, mereka mengkonsumsi gula yang berlebihan sehingga akan
menimbulkan kegemukan yang berakibat terjadinya penumpukan energi
dalam tubuh (Dourman, 2013). Penyakit stroke sering dianggap sebagai
penyakit monopoli orang tua. Zaman dulu, stroke hanya terjadi pada usia tua
mulai 60 tahun, namun di Zaman saat ini mulai usia 40 tahun seseorang sudah
memiliki risiko stroke, meningkatnya penderita stroke usia muda lebih
disebabkan pola hidup, terutama pola makan tinggi kolesterol. Berdasarkan
pengamatan di berbagai rumah sakit, justru stroke di usia produktif sering
terjadi akibat kesibukan kerja yang menyebabkan seseorang jarang olahraga,
kurang tidur, dan stres berat yang juga jadi faktor penyebab (Dourman, 2013).
Berdasarkan latar belakang tersebut dapat diketahui bahwa jumlah
penderita stroke memiliki angka prevalensi yang tinggi, oleh karena itu
penulis ingin memberikan solusi melalui asuhan keperawatan terhadap pasien
stroke hemoragik dalam bentuk makalah.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimanakah penatalaksanan asuhan keperawatan dengan
kegawatdaruratan dan kekritisan stroke hemoragik pada Tn. G di ruang ICU-
IGD Rumah Sakit Angkatan Laut Dr. Ramelan Surabaya.
3

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan umum dari penyusunan makalah ini adalah untuk mengetahui suatu
konsep ilmiah tentang gambaran asuhan keperawatan kegawatdaruratan
stroke hemoragik.
1.3.2 Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari penyusunan makalah ini adalah:
a. Mengetahui konsep stroke hemoragik
b. Mengetahui asuhan keperawatan teori stroke hemoragik
c. Menyusun diagnosa keperawatan pada penyakit stroke hemoragik.
d. Menyusun intervensi keperawatan pada penyakit stroke hemoragik.
1.4 Manfaat
1. Bagi penulis
Membuka cakrawala berfikir kritis untuk menangani dalam asuhan
keperawatan pasien dengan kegawatdaruratan stroke hemoragik.
2. Bagi Institusi Rumah Sakit
Memberikan informasi kepada rumah sakit khusunya perawat di ruang ICU-
IGD Rumah Sakit Angkatan Laut Dr. Ramelan Surabaya dalam menangani dan
merawat pasien kegawatdaturatan stroke hemoragik.
3. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai informasi baru dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien
mengenai stroke hemoragik.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Menurut WHO stroke adalah adanya tanda-tanda klinik yang berkembang
cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (global) dengan gejala-gejala yang
berlangsung selama 24 jam atau lebih yang menyebabkan kematiantanpa adanya
penyebab lain yang jelas selain vaskular (Muttaqqin,2008).
Sedangkan stoke hemoragik adalah stroke yang terjadi karena pembuluh
darah diotak pecah sehingga timbul iskhemik dan hipoksia di hilir. Penyebab stroke
hemoragi antara lain : Hipertensi, pecahnya aneurisma, malformasi arteri venosa.
Biasanya kejadiannya saat melakukan aktivitas atau saat aktif, namun bisa juga
terjadi saat istirahat. Kesdaran pasien umumnya menurun (Ria Artiani,2009).
Stroke hemoragik adalah pembuluh darah otak yang pecah sehingga
menghambat aliran darah yang normal dan darah merembes ke dalam suatu daerah
di otak dan kemudian merusaknya (M. Adib,2009).
Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa stroke hemoragik adalah salah satu
jenis stroke yang disebabkan karena pecahnya pembuluh darah di otak sehingga
darah tidak dapat mengalir secara semestinya yang menyebabkan otak mengalami
hipoksia dan berakhir dengan kelumpuhan.

2.2 Etiologi
Penyebab stroke hemoragik atau CVA Bleeding dijelaskan sebagai berikut:
1. Perdarahan (Hemoragik)
Perdarahan intraserebral paling banyak disebabkan karena adanya ruptur
aterosklerosis dan hipertensi pembuluh darah yang bisa menyebabkan perdarahan
didalam jaringan otak. Perdarahan intraserebral paling sering terjadi akibat dari
penyakit hipertensi umumnya terjadi setelah usia 50 tahun.
2. Aneurisma
Akibat lain dari perdarahan adalah aneurisma. Walaupun anuerisma serebral
biasanya kecil, hal ini bisa menyebabkan ruptur. Diperkirakan sekitar 6% dari
seluruh stroke disebabkan oleh ruptur aneurisma. Stroke disebabkan oleh
perdarahan seringkali menyebabkan spasme pembuluh darah serebral dan iskemik

4
5

pada serebral, karena darah yang berada di luar pembuluh darah membuat iritasi
pada jaringan. Stroke hemoragik biasanya menyebabkan terjadi kehilangan banyak
fungsi dan penyembuahnnya yang lambat dibandingkan dengan stroke yang lain
(Joyce&Jane, 2014).
Sedangkan faktor resiko terjadinya stroke hemoragik adalah sebagai berikut:
1. Faktor resiko yang tidak dapat diubah
Faktor risiko stroke yang tidak dapat dirubah adalah usia, jenis kelamin, ras,
riwayat keluarga, dan riwayat keluarga sebelumnya. Semakin tua usia seseorang
akan semakin mudah terkena stroke. Pada 70% kasus stroke dapat terjadi pada usia
diatas 45-80 tahun dan laki-laki lebih mudah terkena stroke. Hal ini dikarenakan
lebih tinggi angka kejadian faktor resiko stroke (hipertensi) pada laki-laki. Resiko
stroke meningkat pada seseorang dengan riwayat keluarga stroke. Sedangkan
seseorang dengan riwayat keluarga stroke lebih cenderung menderita diabetes dan
hipertensi. Hal tersebut mendukung hipotesis bahwa peningkatan kejadian stroke
pada keluarga penyandang stroke adalah akibat diturunnya faktor resiko stroke.
Kejadian stroke pada ras kulit berwarna lebih tinggi dari kaukosid.
2. Faktor resiko yang dapat diubah
Faktor resiko stroke yang dapat diubah ini penting untuk dikenali.
Penanganan berbagai faktor resiko ini merupakan upaya untuk mencegah stroke.
Faktor resiko stroke yang utama adalah hipertensi, diabetes dan merokok.
Hipertensi apabila seseorang mengalami tekanan darah lebih dari 130/85 atau
140/90 mmHg pada individu yang mengalami gagal jantung, dan diabetes melitus.
Hipertensi kronis yang tidak terkendali dapat memacu mikroangiopati selain itu
juga dapat memacu timbulnya plak. Plak yang tidak stabil akan terlepas dan
berakibat tersumbatnya pembuluh darah di otak atau bisa disebut dengan stroke.
Sedangkan, diabetes melitus merupakan salah satu faktor resiko stroke iskemik
yang utama, diabetes akan meningkatkan resiko stroke dua kali lipat (Joyce &Jane,
2014).
6

2.3 Anatomi dan Fisiologi


1. Anatomi
Otak manusia kira-kira 2% dari berat badan orang dewasa. Otak menerima
20% dari curah jantung dan memerlukan sekitar 20% pemakaian oksigen tubuh,
dan sekitar 200 kilo kalori energi setiap harinya.
Secara anatomis sistem saraf tepi dibagi menjadi 31 pasang saraf spinal dan
12 pasang saraf cranial. Saraf perifer dapat terdiri dari neuron-neuron yang
menerima pesan-pesan neural sensorik (aferen) yang menuju ke system saraf pusat,
dan atau menerima pesan-pesan neural motorik (eferen) dari system saraf pusat.
Saraf spinal menghantarkan pesan-pesan tersebut maka saraf spinal dinamakan
saraf campuran.
Sistem saraf somatic terdiri dari saraf campuran. Bagian aferen membawa
baik informa sensorik yang disadari maupun informasi sensorik yang tidak disadari.
Sistem saraf otonom merupakan sistem saraf campuran. Serabut-serabut aferennya
membawa masukan dari organ-organ visceral. Saraf parasimpatis adalah
menurunkan kecepatan denyut jantung dan pernafasan, dan meningkatkan
pergerakan saluran cerna sesuai dengan kebutuhan pencernaan dan pembuangan.
2. Fisiologis
Otak adalah alat tubuh yang sangat penting karena merupaka pusat computer
dari semua alat tubuh. Bagian dari saraf sentral yang terletak didalam rongga
tengkorak (cranium) dibungkus oleh selaput otak yang kuat. Otak terletak dalam
rongga cranium berkembang dari sebuh tabung yang mulanya memperlihatkan tiga
gejala pembesaran otak awal.
a. Otak depan menjadi Hemifer serebri, korpus striatum, thalamus, serta
hipotalamus.
b. Otak tengah, trigeminus, korpus callosum, korpus kuadrigeminus.
c. Otak belakang, menjadi pons varoli, medulla oblongata, dan serebellum.

Fisura dan sulkus membagi hemifer otak menjadi berberapa daerah. Korteks
serebri terlibat secara tidur teratur. Lekukan diantara gulungan serebri disebut sulks.
Sulkus yang paling dalam membentuk fisura longitudinal dan lateralis. Daerah atau
lobus letaknya sesuai dengan tulang yang berada di atasnya (Lobus frontalis,
temporalis, orientalis dan oksipitalis).
7

Fisura longitudinal merupakan celah dalam pada bidang media laterali


memisahkan lobus temporalis dari lobus frontalis sebelah anterior dan lobus
parientalis sebelah posterior. Sulkus sentralis juga memisahkan lobus frontalis juga
memisahkan lobus frontalis dan obus parientalis.. adapun bagian-bagian otak
meliputi (Evelyn C.Pearce, 2011) :
1. Cerebrum (Otak Besar)
Cerebrum adalah bagian terbesar dari otak manusia yang juga disebut dengan
nama Cerebral Cortex, Forebrain atau Otak Depan. Cerebrum merupakan bagian
otak yang membedakan manusia dengan binatang. Cerebrum membuat manusia
memiliki kemampuan berpikir, analisa, logika, bahasa, kesadaran, perencanaan,
memori dan kemampuan visual. Kecerdasan intelektual atau IQ Anda juga
ditentukan oleh kualitas bagian ini.
Cerebrum secara terbagi menjadi 4 (empat) bagian yang disebut Lobus. Bagian
lobus yang menonjol disebut gyrus dan bagian lekukan yang menyerupai parit
disebut sulcus. Keempat Lobus tersebut masing-masing adalah: Lobus Frontal,
Lobus Parietal, Lobus Occipital dan Lobus Temporal.
1) Lobus Frontal merupakan bagian lobus yang ada dipaling depan dari Otak
Besar. Lobus ini berhubungan dengan kemampuan membuat alasan,
kemampuan gerak, kognisi, perencanaan, penyelesaian masalah, memberi
penilaian, kreativitas, kontrol perasaan, kontrol perilaku seksual dan
kemampuan bahasa secara umum.
2) Lobus Parietal berada di tengah, berhubungan dengan proses sensor perasaan
seperti tekanan, sentuhan dan rasa sakit.
3) Lobus Temporal berada di bagian bawah berhubungan dengan kemampuan
pendengaran, pemaknaan informasi dan bahasa dalam bentuk suara.
4) Lobus Occipital ada di bagian paling belakang, berhubungan dengan
rangsangan visual yang memungkinkan manusia mampu melakukan
interpretasi terhadap objek yang ditangkap oleh retina mata.

Apabila diuraikan lebih detail, setiap lobus masih bisa dibagi menjadi
beberapa area yang punya fungsi masing-masing. Selain dibagi menjadi 4
lobus, cerebrum (otak besar) juga bisa dibagi menjadi dua belahan, yaitu
belahan otak kanan dan belahan otak kiri. Kedua belahan itu terhubung oleh
8

kabel-kabel saraf di bagian bawahnya. Secara umum, belahan otak kanan


mengontrol sisi kiri tubuh, dan belahan otak kiri mengontrol sisi kanan tubuh.
Otak kanan terlibat dalam kreativitas dan kemampuan artistik. Sedangkan
otak kiri untuk logika dan berpikir rasional. Mengenai fungsi Otak Kanan dan
Otak Kiri sudah kami bahas pada sub bab tersendiri.
2. Cerebellum (Otak Kecil)
Otak Kecil atau Cerebellum terletak di bagian belakang kepala, dekat
dengan ujung leher bagian atas. Cerebellum mengontrol banyak fungsi
otomatis otak, diantaranya: mengatur sikap atau posisi tubuh, mengkontrol
keseimbangan, koordinasi otot dan gerakan tubuh. Otak Kecil juga
menyimpan dan melaksanakan serangkaian gerakan otomatis yang dipelajari
seperti gerakan mengendarai mobil, gerakan tangan saat menulis, gerakan
mengunci pintu dan sebagainya.
Jika terjadi cedera pada otak kecil, dapat mengakibatkan gangguan
pada sikap dan koordinasi gerak otot. Gerakan menjadi tidak terkoordinasi,
misalnya orang tersebut tidak mampu memasukkan makanan ke dalam
mulutnya atau tidak mampu mengancingkan baju.
3. Brainstem (Batang Otak)
Batang otak (brainstem) berada di dalam tulang tengkorak atau rongga
kepala bagian dasar dan memanjang sampai ke tulang punggung atau sumsum
tulang belakang. Bagian otak ini mengatur fungsi dasar manusia termasuk
pernapasan, denyut jantung, mengatur suhu tubuh, mengatur proses
pencernaan, dan merupakan sumber insting dasar manusia yaitu fight or flight
(lawan atau lari) saat datangnya bahaya.
Batang otak dijumpai juga pada hewan seperti kadal dan buaya. Oleh
karena itu, batang otak sering juga disebut dengan otak reptil. Otak reptil
mengatur “perasaan teritorial” sebagai insting primitif. Contohnya anda akan
merasa tidak nyaman atau terancam ketika orang yang tidak Anda kenal
terlalu dekat dengan anda.Batang Otak terdiri dari tiga bagian, yaitu:
1) Mesencephalon atau Otak Tengah (disebut juga Mid Brain) adalah
bagian teratas dari batang otak yang menghubungkan Otak Besar dan
Otak Kecil. Otak tengah berfungsi dalam hal mengontrol respon
9

penglihatan, gerakan mata, pembesaran pupil mata, mengatur gerakan


tubuh dan pendengaran.
2) Medulla oblongata adalah titik awal saraf tulang belakang dari sebelah
kiri badan menuju bagian kanan badan, begitu juga sebaliknya. Medulla
mengontrol funsi otomatis otak, seperti detak jantung, sirkulasi darah,
pernafasan, dan pencernaan.
3) Pons merupakan stasiun pemancar yang mengirimkan data ke pusat
otak bersama dengan formasi reticular. Pons yang menentukan apakah
kita terjaga atau tertidur.
Catatan: Kelompok tertentu mengklaim bahwa Otak Tengah
berhubungan dengan kemampuan supranatural seperti melihat dengan
mata tertutup. Klaim ini ditentang oleh para ilmuwan dan para dokter
saraf karena tidak terbukti dan tidak ada dasar ilmiahnya.
4. Limbic System (Sistem Limbik)
Sistem limbik terletak di bagian tengah otak, membungkus batang otak ibarat
kerah baju. Limbik berasal dari bahasa latin yang berarti kerah. Bagian otak ini
sama dimiliki juga oleh hewan mamalia sehingga sering disebut dengan otak
mamalia. Komponen limbik antara lain hipotalamus, thalamus, amigdala,
hipocampus dan korteks limbik. Sistem limbik berfungsi menghasilkan perasaan,
mengatur produksi hormon, memelihara homeostasis, rasa haus, rasa lapar,
dorongan seks, pusat rasa senang, metabolisme dan juga memori jangka panjang.
Bagian terpenting dari Limbik Sistem adalah Hipotalamus yang salah satu
fungsinya adalah bagian memutuskan mana yang perlu mendapat perhatian dan
mana yang tidak. Sistem limbik menyimpan banyak informasi yang tak tersentuh
oleh indera. Dialah yang lazim disebut sebagai otak emosi atau tempat
bersemayamnya rasa cinta dan kejujuran. Carl Gustav Jung menyebutnya sebagai
"Alam Bawah Sadar" atau ketidaksadaran kolektif, yang diwujudkan dalam
perilaku baik seperti menolong orang dan perilaku tulus lainnya. LeDoux
mengistilahkan sistem limbik ini sebagai tempat duduk bagi semua nafsu manusia,
tempat bermuaranya cinta, penghargaan dan kejujuran.
10

2.4 Patofisiologi
1. Perdarahan intra cerebral
Pecahnya pembuluh darah otak terutama karena hipertensi mengakibatkan
darah masuk ke dalam jaringan otak, membentuk massa atau hematom yang
menekan jaringan otak dan menimbulkan oedema di sekitar otak. Peningkatan TIK
yang terjadi dengan cepat dapat mengakibatkan kematian yang mendadak karena
herniasi otak. Perdarahan intra cerebral sering dijumpai di daerah putamen, talamus,
sub kortikal, nukleus kaudatus, pon, dan cerebellum. Hipertensi kronis
mengakibatkan perubahan struktur dinding pembuluh darah berupa lipohyalinosis
atau nekrosis fibrinoid.
2. Perdarahan sub arachnoid
Pecahnya pembuluh darah karena aneurisma atau AVM. Aneurisma paling
sering didapat pada percabangan pembuluh darah besar di sirkulasi willisi. AVM
dapat dijumpai pada jaringan otak dipermukaan pia meter dan ventrikel otak,
ataupun didalam Ventrikel otak dan ruang subarakhnoid. Pecahnya arteri dan
keluarnya darah keruang subarakhnoid mengakibatkan terjadinya peningkatan TIK
yang mendadak, meregangnya struktur peka nyeri,sehinga timbul nyeri kepala
hebat. Sering pula dijumpai kaku kuduk dan tanda-tanda rangsangan selaput otak
lainnya. Peningkatam TIK yang mendadak juga mengakibatkan perdarahan
subhialoid pada retina dan penurunan kesadaran. Perdarahan subarakhnoid dapat
mengakibatkan vasospasme pembuluh darah serebral. Vasospasme ini seringkali
terjadi 3-5 hari setelah timbulnya perdarahan, mencapai puncaknya hari ke 5-9, dan
dapat menghilang setelah minggu ke 2-5. Timbulnya vasospasme diduga karena
interaksi antara bahan-bahan yang berasal dari darah dan dilepaskan kedalam cairan
serebro spinalis dengan pembuluh arteri di ruang subarakhnoid. Vasospasme ini
dapat mengakibatkan disfungsi otak global(nyeri kepala, penurunan kesadaran)
maupun fokal (hemiparese, gangguan hemi sensorik, afasia dan lain-lain). Otak
dapat berfungsi jika kebutuhan O2 dan glukosa otak dapat terpenuhi. Energi yang
dihasilkan didalam sel saraf hampir seluruhnya melalui proses oksidasi. Otak tidak
punya cadangan O2 jadi kerusakan, kekurangan aliran darah otak walau sebentar
akan menyebabkan gangguan fungsi. Demikian pula dengan kebutuhan glukosa
sebagai bahan bakar metabolisme otak, tidak boleh kurang dari 20% mg karena
11

akan menimbulkan koma. Kebutuhan glukosa sebanyak 25% dari seluruh


kebutuhan glukosa tubuh, sehingga bila kadar glukosa plasma turun sampai 70%
akan terjadi gejala disfungsi serebral. Pada saat otak hipoksia, tubuh berusaha
memenuhi O2 melalui proses metabolk anaaerob, yang dapat menyebabkan dilatasi
pembuluh darah otak.
12

2.5 WOC CVA Bledding (Nastiti, 2012), (Hariyono, 2010)


CVA BLEEDING

Hipertensi Aneurism Arterio-venosa malformasi


a

Perdarahan
n

Intraserebral Subarachnoid

Aneurisma
pecah
Darah mendorong struktur otak

Darah merembes ke sekitar otak

Darah masuk ke jaringan otak

Darah masuk ke ventrikel

Darah bercampur dgn CSF

Peningkatan TIK
13
B1 (breath) B2 (blood) B3 (brain) B4 (bladder) B5 (bowel) B6 (bone)

TIK meningkat Perdarahanotak Rupture Kerusakan Kerusakan


Defisit neurologi
aneurismia control motoric control motoric
dan postural dan postural
Penurunan
Suplai darah ke TIK meningkat Penurunan
kesadaran
otak menurun Inkontinensia urin Gangguan kemampuan gerak
menelan
Nyeri kepala
Refleks batuk
1.3
menuurn Perfusijaringansereb kateterisasi Nutrisianadekuat Kehilangan
ral tidak adekuat control gerak
MK: Nyeri
akut
Penumpukan
MK: MK: ketidakseimbangan
sekret pada
MK: G3 perfusi Gangguan nutrisi: kurang dr MK:
jalan nafas
jaringan serebral eliminasi uri kebutuhan tubuh Hambatan
mobilitas fisik
MK:
Ketidakefektifan
Bersihan jalan
nafas
14

2.6 Manifestasi klinis CVA Bledding


Stroke menyebabkan defisit neurologik, bergantung pada lokasi lesi
(pembuluh darah mana yang tersumbat), ukuran area perfusinya tidak adekuat dan
jumlah aliran darah kolateral. Stroke akan meninggalkan gejala sisa karena fungsi
otak tidak akan membaik sepenuhnya (Muttaqin 2008). Tanda dan gejala yang
terjadi pada pasien dengan CVA Bleeding diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh (Hemiparese atau hemipegia).
2. Lumpuh pada salah satu sisi wajah “Bell’s Palsy”
3. Tonus otot lemah atau kaku.
4. Menurun atau hilangnya rasa.
5. Gangguan lapang pandang “Homonimus ahaemianopsia”.
6. Gangguan bahasa (Disatria: kesulitan dalam membentuk kata).
7. Gangguan persepsi.
8. Gangguan status mental.
Sedangkan, kemungkinan kecacatan yang berkaitan dengan stroke antara lain
adalah :
1. Daerah serebri media
a. Hemiplegi kontraleral, sering disertai hemianastesi.
b. Hemianopsi homonim kontraletal.
c. Afasia bila mengenai hemisfer dominan.
d. Apraksia bila mengenai hemisfer nondominan.
2. Daerah Karotis interna
a. Hemiplegi kontraleral, sering disertai hemianastesi.
b. Hemianopsi homonim kontraletal.
c. Afasia bila mengenai hemisfer dominan.
d. Apraksia bila mengenai hemisfer nondominan
3. Daerah Serebri anterior
a. Hemiplegi kontralateral terutama di tungkai.
b. Incontinensia urine.
c. Afasia atau apraksia tergantung hemisfer mana yang terkena.
15

4. Daerah Posterior
a. Hemianopsi homonim kontralateral mungkin tanpa mengenai daerah
makula karena daerah ini juga diperdarahi oleh serebri media.
b. Nyeri talamik spontan
c. Hemibalisme
d. Aleksi bila mengenai hemisfer dominan.
5. Daerah Vertebasiler
a. Sering fatal karena mengenai juga pusat-pusat vital di batang otak.
b. Hemiplegi alternans atau tetraplegi.
c. Kelumpuhan pseudobulbar (disartri, disfagi, emosi labil)

2.7 Komplikasi
Stroke Hemoragic dapat menyebabkan :
1. Infark serebri.
2. Hidrosephalus yang sebagian kecil menjadi hidrosephalus normotensif.
3. Fistula caroticocavernosum.
4. Epistaksis.
5. Peningkatan TIK, tonus otot abnormal

2.8 Penatalaksanaan Medis


Penatalaksanaan untuk stroke hemoragik, antara lain:
1. Menurunkan kerusakan iskemik cerebral
Infark cerebral terdapat kehilangan secara mantap inti central
jaringan otak, sekitar daerah itu mungkin ada jaringan yang masih bisa
diselematkan, tindakan awal difokuskan untuk menyelematkan
sebanyak mungkin area iskemik dengan memberikan O2,glukosa dan
aliran darah yang adekuat dengan mengontrol/memperbaiki disritmia
(irama dan frekuensi) sertatekanan darah.
2. Mengendalikan hipertensi dan menurunkan TIK
Dengan meninggikan kepala 15-30 menghindari flexi dan rotasi
kepala yang berlebihan, pemberian dexamethason.
16

3. Pengobatan
a. Anti koagulan : Heparin untuk menurunkan kecederungan
perdarahan pada fase akut.
b. Obat anti trombotik: Pemberian ini diharapkan mencegah peristiwa
trombolitik/emobolik
c. Diuretika : untuk menurunkan edema serebra
4. Penatalaksanaan Pembedahan
Endarterektomi karotis dilakukan untuk memeperbaiki peredaran darah
otak. Penderita yang menjalani tindakan ini seringkali juga menderita
beberapa penyulit seperti hipertensi, diabetes dan penyakit
kardiovaskular yang luas.Tindakan ini dilakukan dengan anestesi umum
sehingga saluran pernafasan dan kontrol ventilasi yang baik dapat
dipertahankan.

2.9 Pemeriksaan penunjang stroke hemoragic


1. Angiografi cerebral
Membantu menentukan penyebab dari stroke secara spesifik seperti
perdarahan arteriovena atau adanya ruptur dan untuk mencari sumber
perdarahan seperti aneurism atau malformasi vaskular.
2. Lumbal pungsi
Tekanan yang meningkat dan disertai bercak darah pada cairan lumbal
menunjukkan adanya hemoragi pada subarakhnoid atau perdarahan pada
intrakranial.
3. CT scan
Penindaian ini memperlihatkan secara spesifik letak edema, posisi
hematoma, adanya jaringan otak yang infark atau iskemia dan posisinya
secara pasti.
4. MRI (Magnetic Imaging Resonance)
Menggunakan gelombang megnetik untuk menentukan posisi dan besar
terjadinya perdarahan otak. Hasil yang didapatkan area yang mengalami
lesi dan infark akibat dari hemoragik.
17

5. EEG
Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat masalah yang timbul dan
dampak dari jaringan yang infrak sehingga menurunnya impuls listrik
dalam jaringan otak.
BAB 3
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian Keperawatan


a. Primary Survey
1. Airway
Tindakan pertama kali yang harus dilakukan yaitu memeriksa
responsivitas pasien dengan mengajak pasien berbicara untuk
memastikan ada atau tidaknya sumbatan jalan nafas. Seorang pasien
yang dapat berbicara dengan jelas maka jalan nafas pasien terbuka
(Thygerson, 2011). Bagi pasien yang dapat berbicara dengan jelas
maka jalan nafas pasien terbuka. Pasien yang tidak sadar mungkin
memerlukan bantuan airway dan ventilasi. Obstruksi jalan nafas
paling sering disebabkan oleh obstruksi lidah pada kondisi pasien
tidak sadar (Wilkinson & Skinner, 2000). Perlu di perhatikan dalam
pengkajian airway pada pasien antara lain :
a) Kepatenan jalan nafas pasien.
b) Tanda-tanda terjadinya obstruksi jalan nafas pada pasien
antara lain:
1) Adanya snoringataugurgling
2) Agitasi (hipoksia)
3) Penggunaanotot bantu pernafasan
4) Sianosis
c) Look dan listen bukti adanya masalah pada saluran napas
bagian atas dan potensial penyebab obstruksi.
d) Jika terjadi obstruksi jalan nafas, maka pastikan jalan nafas
pasien terbuka.
e) Gunakan berbagai alat bantu untuk mematenkan jalan nafas
pasien sesuai indikasi :
1) Chin lift/jaw thrust
2) Lakukan suction (jika tersedia)

18
19

3) Oropharyngeal airway/nasopharyngeal airway,


Laryngeal Mask Airway
4) Lakukan intubasi.
2. Breathing
Pada kasus stroke mungkin terjadi akibat gangguan di pusat napas

(akibat stroke) atau oleh karena komplikasi infeksi di saluran napas.

Pedoman konsensus mengharuskan monitoring saturasi O2 dan

mempertahankannya di atas 95% (94-98%). Pada pasien stroke yang

mengalami gangguan pengendalian respiratorik atau peningkatan

TIK, kadang diperlukan untuk melakukan ventilasi (Wilkinson &

Skinner, 2000).

3. Circulation
Shock didefinisikan sebagai tidak adekuatnya perfusi organ dan

oksigenasi jaringan. Diagnosis shock didasarkan pada temuan klinis:

hipotensi, takikardia, takipnea, hipotermia, pucat, ekstremitas

dingin, penurunan capillary refill, dan penurunan produksi urin

(Wilkinson & Skinner, 2000). Pengkajian circulation pada klien

stroke biasanya didapatkan renjatan (syok) hipovolemik, tekanan

darah biasanya terjadi peningkatan dan bisa terdapat hipertensi

massif dengan tekanan darah >200 mmHg (Muttaqin, 2008).

4. Disability
Tingkat kesadaran klien dan respons terhadap lingkungan adalah

indikator paling sensitif untuk membuat peringkat perubahan dalam

kewaspadaan dan kesadaran (Muttaqin, 2008). Pada keadaan lanjut,

tingkat kesadaran klien stroke biasanya berkisar pada tingkat letargi,

stupor, dansemikomatosa. Apabila klien sudah mengalami koma,


20

maka penilaian GCS sangat penting untuk menilai tingkat kesadaran

klien dan bahan evaluasi untuk pemantauan pemberian asuhan.

b. Pemeriksaan Fisik
Mengalami penurunan kesadaran, suara bicara : kadang mengalami gangguan
yaitu sukar dimengerti, kadang tidak bisa bicara/ afaksia. Tanda – tanda vital
: TD meningkat, nadi bervariasi.
1) B1 (breathing)
Pada inspeksi didapatkan klien batuk, peningkatan produksi sputum,
sesak napas, penggunaan obat bantu napas, dan peningkatan
frekuensi pernapasan. Pada klien dengan tingkat kesadaran compas
mentis, peningkatan inspeksi pernapsannya tidak ada kelainan.
Palpasi toraks didapatkan taktil premitus seimbang kanan dan kiri.
Auskultasi tidak didapatkan bunyi napas tambahan.
2) B2 (blood)
Pengkajian pada sistem kardiovaskulardidapatkan renjatan (syok
hipovolemik) yang sering terjadi pada klien stroke. Tekanan darah
biasanya terjadi peningkatan dan dapat terjadi hipertensi masif
(tekanan darah >200 mmHg.
3) B3 (Brain)
Stroke yang menyebabkan berbagai defisit neurologis, tergantung
pada lokasi lesi (pembuluh darah mana yang tersumbat), ukuran area
yang perfusinya tidak adekuat, dan aliran darah kolateral (sekunder
atau aksesori). Lesi otak yang rusak dapat membaik sepenuhnya.
Pengkajian B3 (Brain) merupakan pemeriksaan fokus dan lebih
lengkap dibandingkan pengkajian pada sistem lainnya.
4) B4 (Bladder)
Setelah stroke klien mungkin mengalami inkontinesia urine
sementara karena konfusi, ketidakmampuan mengomunikasikan
kebutuhan, dan ketidakmampuan untuk mengendalikan kandunf
kemih karena kerusakan kontrol motorik dan postural. Kadang
kontrol sfingter urine eksternal hilang atau berkurang. Selama
periode ini, dilakukan kateterisasi intermiten dengan teknik steril.
21

Inkontinesia urine yang berlanjut menunjukkan kerusakan


neurologis luas.
5) B5 (Bowel)
Didapatkan adanya keluhan kesulitan menelan, nafsu makan
menurun, mual muntah pada pasien akut. Mual sampai muntah
disebabkan oleh peningkatan produksi asam lambung sehingga
menimbulkan masalah pemenuhan nutrisi. Pola defekasi biasanya
terjadi konstipasi akibat penurunan peristaltik usus. Adanya
inkontinesia alvi yang berlanjut menunjukkan kerusakan neurologis
luas.
6) B6 (Bone)
Pada kulit, jika klien kekurangan O2 kulit akan tampak pucat dan
jika kekurangan cairan maka turgor kulit akan buruk. Selain itu,
perlu juga tanda-tanda dekubitus terutama pada daerah yang
menonjol karena klien stroke mengalami masalah mobilitas fisik.
Adanya kesulitan untuk beraktivitas karena kelemahan, kehilangan
sensori atau paralise/hemiplegi, serta mudah lelah menyebabkan
masalah pada pola aktivitas dan istirahat.

3.2 Diagnosa Keperawatan


1. Gangguan perfusi jaringan cerebral berhubungan dengan gangguan
aliran darah sekunder akibat peningkatan tekanan intracranial.
2. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan
menurunnya refleks batuk dan menelan, imobilisasi.
3. Gangguan eliminasi uri (incontinensia uri) yang berhubungan dengan
penurunan sensasi, disfungsi kognitif, ketidakmampuan untuk
berkomunikasi.
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan ketidakmampuan menelan.
5. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan
neuromuscular
22

3.3 Intervensi Keperawatan


1. Gangguan perfusi jaringan cerebral berhubungan dengan
gangguan aliran darah sekunder akibat peningkatan tekanan
intracranial.
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 2x 24 jam,
diharapkan Perfusi jaringan otak dapat tercapai secara optimal.
Kriteria hasil :
- Klien tidak gelisah
- Tidak ada keluhan nyeri kepala, mual, kejang.
- GCS 456
- Pupil isokor, reflek cahaya (+)
- Tanda-tanda vital normal(nadi : 60-100 kali permenit, suhu: 36-36,7
C, Pernafasan 16-20 kali permenit).
Intervensi :
1) Berikan penjelasan kepada keluarga klien tentang sebab-sebab
peningkatan TIK dan akibatnya
Rasional : Keluarga lebih berpartisipasi dalam proses penyembuhan
2) Anjurkan kepada klien untuk bed rest total
Rasional : Untuk mencegah perdarahan ulang
3) Observasi dan catat tanda-tanda vital dan kelainan tekanan
intrakranial tiap 2 Jam.
Rasional : Mengetahui setiap perubahan yang terjadi pada klien
secara dini dan untuk penetapan tindakan yang tepat.
4) Berikan posisi kepala lebih tinggi 15-30 dengan letak jantung ( beri
bantal tipis)
Rasional : Mengurangi tekanan arteri dengan meningkatkan
drainage vena dan memperbaiki sirkulasi serebral.
5) Anjurkan klien untuk menghindari batuk dan mengejan berlebihan
Rasional : Batuk dan mengejan dapat meningkatkan tekanan intra
kranial dan potensial terjadi perdarahan ulang
6) Ciptakan lingkungan yang tenang dan batasi pengunjunng
Rasional : Rangsangan aktivitas yang meningkat dapat
meningkatkan kenaikan TIK. Istirahat total dan ketenangan mingkin
23

diperlukan untuk pencegahan terhadap perdarahan dalam kasus


stroke hemoragik / perdarahan lainnya.
7) Kolaborasi dengan tim dokter dalam pemberian obat neuroprotektor
Rasional : Memperbaiki sel yang masih viabel.
2. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan
menurunnya refleks batuk dan menelan, imobilisasi.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam
Jalan nafas tetap efektif.
Kriteria hasil :
- Klien tidak sesak nafas
- Tidak terdapat ronchi, wheezing ataupun suara nafas tambahan
- Tidak retraksi otot bantu pernafasan
- Pernafasan teratur, RR 16-20 x per menit
Intervensi :
1) Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga tentang sebab dan
akibat ketidakefektifan jalan nafas.
Rasional : Klien dan keluarga mau berpartisipasi dalam mencegah
terjadinya ketidakefektifan bersihan jalan nafas
2) Rubah posisi tiap 2 jam sekali.
Rasional : Perubahan posisi dapat melepaskan sekret dari saluran
pernafasan.
3) Berikan intake yang adekuat (2000 cc per hari)
Rasional : Air yang cukup dapat mengencerkan sekret
4) Observasi pola dan frekuensi nafas.
Rasional : Untuk mengetahui ada tidaknya ketidakefektifan jalan
nafas
5) Auskultasi suara nafas.
Rasional : Untuk mengetahui adanya kelainan suara nafas
6) Lakukan fisioterapi nafas sesuai dengan keadaan umum klien
Rasional : Agar dapat melepaskan sekret dan mengembangkan
paru-paru.
3. Gangguan eliminasi uri (incontinensia uri) yang berhubungan
24

dengan penurunan sensasi, disfungsi kognitif, ketidakmampuan


untuk berkomunikasi.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam
Klien mampu mengontrol eliminasi urinnya.
Kriteria hasil :
- Klien akan melaporkan penurunan atau hilangnya inkontinensia
- Tidak ada distensi bladder
Intervensi :
1) Identifikasi pola berkemih dan kembangkan jadwal berkemih sering.
Rasional : Berkemih yang sering dapat mengurangi dorongan dari
distensi kandung kemih yang berlebih.
2) Ajarkan untuk membatasi masukan cairan selama malam hari.
Rasional : Pembatasan cairan pada malam hari dapat membantu
mencegah enuresis.
3) Ajarkan teknik untuk mencetuskan refleks berkemih (rangsangan
kutaneus dengan penepukan suprapubik, manuver regangan anal).
Rasional : Untuk melatih dan membantu pengosongan kandung
kemih.
4) Bila masih terjadi inkontinensia, kurangi waktu antara berkemih
pada jadwal yang telah direncanakan.
Rasional : Kapasitas kandung kemih mungkin tidak cukup untuk
menampung volume urine sehingga memerlukan untuk lebih sering
berkemih.
5) Berikan penjelasan tentang pentingnya hidrasi optimal (sedikitnya
2000 cc per hari bila tidak ada kontraindikasi)
Rasional : Hidrasi optimal diperlukan untuk mencegah infeksi
saluran perkemihan dan batu ginjal.

4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh


berhubungan dengan kelemahan otot mengunyah dan menelan.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam
tidak terjadi gangguan nutrisi.
Kriteria hasil :
25

- Berat badan dapat dipertahankan/ ditingkatkan


- Hb dan albumin dalam batas normal
Intervensi
1) Tentukan kemampuan klien dengan mengunyah, menelan dan
refleks batuk.
Rasional : untuk menetapkan jenis makanan yang akan di berikan
kepada klien
2) Letakkan posisi kepala lebih tinggi pada waktu, selama dan
sesudah makan.
Rasional : untuk klien lebih mudah untuk menelan karena gaya
gravitasi.
3) Letakkan makanan didaerah mulut yang tidak terganggu.
Rasional : membantu dalam melatih sensorik dan meninggkatkan
kontrol muskuler.
4) Berikan makanan dengan berlahan pada lingkungan yang tenang.
Rasional : klien dapat berkonsentrasi pada mekanisme makanan
tanpa adanya distrakrasi / gangguan dari luar
5) Mulailah untuk memberi makan peroral setengah cair, makan
lunak ketika klien dapat menelan air.
Rasional : makan lunak/ cairan kental mudah untuk
mengendalikannya di dalam mulut, menurunkan terjadinya
aspirasi.
6) Anjurkan klien menggunakan sedotan meminum cairan.
Rasional : menguatkan otot fasial dan otot menelan dan
menurunkan resiko terjadinya tersedak.
7) Koloborasi dengan tim dokter untuk memberikan cairan melalui iv
atau makanan melalui selang.
Rasional : mungkin diperlukan untuk memberikan cairan
pengganti dan juga makanan apabila klien tidak mampu untuk
memasukkan segala sesuatu melalui mulut.
5. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan
neuromuscular.
26

Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan 2x 24 jam diharapkan


mobilisasi klien mengalami peningkatan.
Kriteria hasil:
- Mempertahankan posisi optimal,
- Mempertahankan/meningkatkan kekuatan dan fungsi bagian tubuh
yang terserang hemiparesis dan hemiplagia.
- Mempertahankan perilaku yang memungkinkan adanya aktivitas.
Intervensi :
1) Kaji kemampuan secara fungsional/luasnya kerusakan awal dan
dengan cara yang teratur.
Rasional : Mengidentifikasi kekuatan/kelemahan dan dapat
memberikan informasi mengenai pemulihan. Bantu dalam
pemilihan terhadap intervensi sebab teknik yang berbeda
digunakan untuk paralisis spastik dengan flaksid.
2) Ubah posisi minimal setiap 2 jam (telentang,miring) dan
sebagainya dan jika memungkinkan bisa lebih sering jika
diletakkan dalam posisi bagian yang terganggu.
Rasional : Menurunkan risiko terjadinya trauma/iskemia jaringan.
Daerah yang terkena mengalami perburukan/sirkulasi yang lebih
jelek dan menurunkan sensasii dan lebih besar menimbulkan
kerusakan pada kulit/ dekubitus.
3) Letakkan pada posisi telungkup satu kali atau dua kali sekali jika
pasien dapat mentoleransinya.
Rasional :Membantu mempertahankan ekstensi pinggul
fungsional;tetapi kemungkinan akan meningkatkan ansietas
terutama mengenai kemampuan pasien untuk bernapas.
4) Mulailah melakukan latihan rentang gerak aktif dan pasif pada
semua ekstremitas saat masuk. Anjurkan melakukan latihan sepeti
latihan quadrisep/gluteal, meremas bola karet, melebarkan jari-jari
kaki/telapak.
Rasional : Meminimalkan atrofi otot, meningkatkan sirkulasi,
membantu mencegah kontraktur. Menurunkan risiko terjadinya
27

hiperkalsiuria dan osteoporosis jika masalah utamanya adalah


perdarahan. Catatan: Stimulasi yang berlebihan dapat menjadi
pencetus adanya perdarahan berulang.
5) Sokong ekstremitas dalam posisi fungsionalnya, gunakan papan
kaki (foot board) seelama periode paralisis flaksid. Pertahankan
posisi kepala netral.
Rasional :Mencegah kontraktur/footdrop dan memfasilitasi
kegunaannya jika berfungsi kembali. Paralisis flaksid dapat
mengganggu kemampuannya untuk menyangga kepala, dilain
pihak paralisis spastik dapat meengarah pada deviasi kepala ke
salah satu sisi.
6) Tempatkan bantal di bawah aksila untuk melakukan abduksi pada
tangan.
Rasional : Mencegah adduksi bahu dan fleksi siku.
7) Tempatkan ”handroll’ keras pada teelapak tangan dengan jari – jari
dan ibu jari saling berhadapan.
Rasional : Alas/dasar yang keras menurunkan stimulasi fleksi jari-
jari, mempertahankan jari-jari dan ibu jari pada posisi normal
(posisi anatomis).
8) Posisikan lutut dan panggul dalam posisi ekstensi.
Rasional : Mempertahankan posisi fungsional.
9) Bantu untuk mengembangkan keseimbangan duduk (seperti
meninggikan bagian kepala tempat tidur, bantu untuk duduk di sisi
tempat tidur, biarkan pasien menggunakan kekuatan tangan untuk
menyokong berta badan dan kaki yang kuat untuk memindahkan
kaki yang sakit; meningkatkan waktu duduk) dan keseimbangan
dalam berdiri (seperti letakkan sepatu yang datar;sokong bagian
belakang bawah pasien dengan tangan sambil meletakkan lutut
penolong diluar lutut pasien;bantu menggunakan alat pegangan
paralel dan walker).
Rasional : Membantu dalam melatih kembali jaras saraf,
meningkatkan respon proprioseptik dan motorik.
28

10) Anjurkan pasien untuk membantu pergerakan dan latihan dengan


menggunakan ekstremitas yang tidak sakit untuk menyokong/
menggerakkan daerah tubuh yang mengalami kelemahan.
Rasional : Mungkin diperlukan untuk menghilangkan spastisitas
pada ekstremitas yang terganggu.
11) Kolaborasi
a. Konsultasikan dengan ahli fisioterapi secara aktif, latiahn
resistif, dan ambualsi pasien.
b. Bantulah dengan stimulasi elektrik, seperi TENS sesuai
indikasi.
c. Berikan obat relaksan otot, antispasmodik sesuai indikasi seperti
baklofen dan trolen(Doenges, 1999).
BAB 4
PEMBAHASAN TERKAIT JURNAL

Analisa Jurnal 1
Peneliti/pengarang Andrian Riska Sahanantya, Yunie Armiyati, Syamsul Arif.
Judul dan tahun Pengaruh Terapi Music Klasik Mozart Terhadap Kualitas
Tidur Pada Pasien Stroke Di Rumah Sakit Pantiwilasa
Citarum Semarang, pada tahun 2014.
Sampel/responden Pasien rawat inap yang menderita stroke di Rumah Sakit
Pantiwilasa Citarum dengan total sample 26 pasien.
Jenis LIT/metode Quasi eksperimen dalam satu kelompok (One Group Pre
Test – Post Test Design).
Variable - Pemberian terapi music
- Kualitas tidur pasien stroke
Dosis intervensi Tidak ada dosis intervensi
Hasil LIT/temuan Ada pengaruh yang signifikan dalam pemberian terapi
music Mozart terhadap kualitas tidur pasien stroke di RS
Pantiwilasa Citarum Semarang tahun 2014.

29
BAB 5
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
CVA Bleeding adalah salah satu jenis stroke yang disebabkan karena
pecahnya pembuluh darah di otak sehingga darah tidak dapat mengalir secara
semestinya yang menyebabkan otak mengalami hipoksia dan berakhir dengan
kelumpuhan. Penyebab dari CVA Bleeding sendiri adalah adanya perdarahan atau
hemoragik, anuerisma dan arteriovenosamalfor. Penyakit ini ditandai dengan
hemiparese atau hemipegia, bell’s palsy, tonus otot lemah atau kaku, menurun atau
hilangnya rasa, homonimus ahaemianopsia, disatria, gangguan persepsi dan
gangguan status mental. Penatalaksanaan medis yang dapat diberikan yaitu dengan
menurunkan kerusakan iskemik cerebral, mengendalikan hipertensi dan
menurunkan TIK, pengobatan dengan anti koagulan, obat anti trombotik, dan
diuretika. Sedangkan tindakan pembedahan dengan cara endarterektomi karotis.
Pemeriksaan penunjang untuk pasien CVA Bleeding yaitu angiografi cerebral,
lumbal pungsi, CT scan, MRI (Magnetic Imaging Resonance) serta EEG.
5.2 Saran
1. Penulis
Penulis mampu meningkatkan dalam pemberian asuhan keperawatan kepada
penderita stroke yang lebih berkualitas.
2. Institusi kesehatan
Bagi institusi pelayanan kesehatan, diharapkan dapat memberikan pelayanan
dan mempertahankan hubungan kerja sama yang baik antara team kesehatan dan
klien yang ditujukan untuk meningkatkan mutu pelayanan asuhan keperawatan yang
optimal pada umumnya dan klien stroke pada khususnya diharapkan dirumah sakit
mampu menyediakan fasilitas yang dapat mendukung kesembuhan pasien.
3. Dapat digunakan sebagai referensi dan pengetahuan yang mampu dikembangkan
untuk memberikan pelayanan pada klien stroke yang lebih berkulitas dengan
mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan.

30
DAFTAR PUSTAKA

Artiani, Ria. (2013). AsuhanKeperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem


Persyarafan. Jakarta : EGC.
Black Joyce.M & Jane Hokanse Hawks. (2014). Keperawatan Medikal Bedah Ed 8 Jilid
3. Jakarta : Salemba Medika
Dourman K.(2013). Waspadai Stroke Usia Muda. Jakarta: Cerdas Sehat.

Hariyono, Y. (2010). Evaluasi Pengobatan Pasien Stroke Rawat Inap di Unit Stroke
RSUD Banyumas Januari-April 2010. Universitas Sanata Dharma.

Muttaqin, A. (2008). Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan.


Jakarta: Salemba Medika.

Nastiti, D. (2012). Gambaran Faktor Risiko Kejadian Stroke pada Pasien Stroke Rawat
Inap di RS Krakatau Medika Tahun 2011. Universitas Indonesia.

Pearce C, Evelyin. (2011). Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta : PT

Gramedia.

31