0% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
4K tayangan10 halaman

Pengertian Prototype Produk

Dokumen tersebut membahas tentang pengertian dan tujuan pembuatan prototipe produk. Prototipe produk adalah bentuk awal dari produk yang dibuat untuk mendapatkan umpan balik dari pelanggan sebelum produk akhir diluncurkan ke pasar agar produk akhir yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Prototipe membantu menemukan kesalahan sebelum produk benar-benar diluncurkan.

Diunggah oleh

Yuriza Elvina
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
4K tayangan10 halaman

Pengertian Prototype Produk

Dokumen tersebut membahas tentang pengertian dan tujuan pembuatan prototipe produk. Prototipe produk adalah bentuk awal dari produk yang dibuat untuk mendapatkan umpan balik dari pelanggan sebelum produk akhir diluncurkan ke pasar agar produk akhir yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Prototipe membantu menemukan kesalahan sebelum produk benar-benar diluncurkan.

Diunggah oleh

Yuriza Elvina
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGERTIAN PROTOTYPE PRODUK

Socialize It →

Salah satu kaidah penting dalam Design Thinking adalah “Fail fast to succeed sooner” atau
“Gagal cepat agar sukses lebih cepat.” Maksudnya Saat merancang sebuah produk, meskipun
sudah dilakukan riset yang cukup, kita tidak dapat memastikan bahwa produk kita akan
diterima oleh pasar. Satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah dengan mengujinya di
pasar. Namun, sebelum kita menguji versi akhir dari produk kita, ada baiknya kita
meluncurkan versi prototipenya terlebih dulu ke kalangan terbatas. Tujuannya adalah agar
kita mendapatkan umpan balik dari pengguna segera.
Perhatian terhadap kualitas yang terbaik adalah bukan terpaku pada produk akhirnya saja. Hal
ini penting agar produk akhir yang dihasilkan adalah produk yang bebas cacat dan tidak ada
lagi pemborosan karena produk tersebut dibuang atau dikerjakan ulang. Maka sebaiknya
perhatian terhadap kualitas produk harus dimulai sejak awal pembuatan produk. Tahapan
yang sangat penting dalam perencanaan awal pembuatan produk adalah pembuatan prototipe
produk.

Prototipe produk (purwa–rupa produk) adalah bentuk dasar dari sebuah produk merupakan
tahapan yang sangat penting dalam rencana pembuatan produk karena menyangkut
keunggulan produk yang akan menentukan kemajuan suatu usaha di masa mendatang.
Dikatakan sebagai tahapan yang sangat penting karena prototipe dibuat untuk diserahkan
pada pelanggan (lead–user) agar pelanggan dapat mencoba kinerja prototipe tersebut.
Selanjutnya jika pelanggan memiliki komplain ataupun masukan mengenai protipe tersebut
maka industri mendokumentasikannya untuk proses perbaikan prototipe tersebut. Sehingga
menciptakan suatu sistem inovasi produk yang dibangun bersama-sama antara industri dan
pelanggan sebagai upaya pemenuhan kepuasan pelanggan (customers).

Prototipe adalah sebuah contoh atau model awal dari produk. Prototipe membuat ide yang
abstrak menjadi bentuk nyata yang lebih kongkrit. Dalam design thinking, tidak cukup hanya
memikirkan ide, mendiskusikan dan membicarakannya saja. Perlu langkah konkrit untuk
membuatnya menjadi nyata. Membuat prototipe adalah caranya.

Tujuan membuat prototipe bukanlah untuk menguji produk yang sudah selesai, tujuan
membuat prototipe adalah untuk belajar. Menemukan kesalahan dan kegagalan sebelum
produk benar-benar diluncurkan ke pasar.

Teresa Torres, seorang Product Coach, mendefinisikan tujuan pembuatan prototipe sebagai
berikut:

“Prototype simulates an experience, with the intent to answer a specific question, so that the
creator can iterate and improve the experience.”

“Prototipe memberikan gambaran, untuk memberikan jawaban spesifik, sehingga penciptaan


produk dapat diulang dan diperbaiki.” (sebelum menjadi produk akhir).”
A. Setidaknya ada empat manfaat membuat prototipe.

1. Prototyping membantu kita berpikir. Melakukan adalah cara terbaik untuk berpikir.
Membuat prototipe membuat kita lebih mudah memikirkan ide-ide untuk
menyempurnakan produk Anda
2. Prototyping membantu kita menjawab pertanyaan. Apakah produk kita diminati
konsumen? Layak? dan bertahan lama?
3. Prototyping membantu kita berkomunikasi. Komunikasi terbaik adalah dengan
menunjukkannya, bukan sekadar mengatakannya
4. Prototyping membantu anda membuat keputusan yang lebih baik. Umpan balik yang kita
dapatkan dari calon pengguna membuat kita mampu membuat keputusan yang lebih
baik.

Metode yang direkomendasikan dalam merancang prototipe adalah Rapid Prototyping.


Bagaimana proses melakukan Rapid Prototyping? John Krissilas di dalam blognya mengutip
dari Jeanne Liedtka membagikan lima prinsip berikut ini.

1. Mulai dari yang kecil dan sederhana


2. Sebuah proyek penciptaan akan tumbuh dengan adanya pembuatan prototipe secara
berulang sejak sejak dini. Ini akan memberi ruang bagi Anda untuk mendapatkan ide-ide
baru untuk menyempurnakan produk Anda. Ini juga akan memberi kesempatan calon
pengguna untuk berkontribusi dan melengkapi produk Anda dengan masukan dari
mereka.
3. Rancang kisah yang ingin Anda ceritakan
4. Visualisasikan konsep Anda dalam bentuk gambar. Gunakan kata sesedikit mungkin.
Tambahkan detail seiring berjalannya waktu. Teknik storyboarding akan bermanfaat di
sini.
5. Tunjukkan, jangan katakan

Buat prototipe-nya terlihat nyata dengan gambar mock up, model fisik, dan pengalaman
nyata. Visualisasikan beberapa opsi. Beri ruang bagi calon pengguna untuk memilih.

Tujuan prototipe adalah untuk mendapatkan umpan balik. Jangan berdebat dan
mempertahankan diri saat orang lain memberi masukan terhadap umpan balik Anda. Biarkan
mereka mevalidasi produk Anda. Jangan berikan otoritas validasi ke orang yang
menciptakannya.

Peluang lain dari pembuatan prototipe adalah melibatkan calon konsumen dalam proses
desain produk kita. Istilah keren untuk hal ini adalah Customer Co-Creation. Dengan
demikian mereka merasa memiliki produk ini. Mereka merasa menjadi bagian dari produk
ini.
Sebagai bentuk dasar produk, prototipe memiliki bagian yang ukuran dan bahan sama seperti
jenis produk yang akan dibuat tetapi tidak harus difabrikasi dengan proses sebenarnya
ditujukan untuk pengetesan untuk menentukan apakah produk bekerja sesuai desain yang
diinginkan dan apakah produk memuaskan kebutuhan pelanggan. Prototipe seperti ini disebut
alpha prototype ada juga yang disebut beta prototype yang dibuat dengan bagian yang
disuplai oleh proses produksi sebenarnya, tetapi tidak rakit dengan proses akhir ditujukan
untuk menjawab pertanyaan akan performance dan ketahanan uji untuk menemukan
perubahan yang perlu pada produk final.

TAHAPAN-TAHAPAN PROTOTYPE

Berikut tahapan prototype:

1. Pendefinisian produk: merupakan penerjemahan konsep teknikal yang berhubungan


dengan kebutuhan dan perilaku konsumen kedalam bentuk perancangan termasuk aspek
hukum produk dan aspek hukum yang melibatkan keamanan dan perlindungan terhadap
konsumen.

2. Working model: dibuat tidak harus mempresentasikan fungsi produk secara keseluruhan
dan dibuat pada skala yang seperlunya saja untuk membuktikan konsep dari pembuatan
produk dan menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan konsep yang telah dibuat. Working
model juga dibangun untuk menguji parameter fungsional dan membantu perancangan
prototipe rekayasa.

3. Prototipe rekayasa (engineering prototype): dibuat seperti halnya working model namun
mengalami perubahan tingkat kompleksitas maupun superioritas dari working model,
dibangun mencapai tingkat kualitas teknis tertentu agar dapat diteruskan menjadi prototipe
produksi atau untuk dilanjutkan pada tahapan produksi. Prototipe rekayasa ini dibuat untuk
keperluan pengujian kinerja operasional dan kebutuhan rancangan sistem produksi.

4. Prototipe produksi (production prototype): bentuk yang dirancang dengan seluruh fungsi
operasional untuk menentukan kebutuhan dan metode produksi dibangun pada skala
sesungguhnya dan dapat menghasilkan data kinerja dan daya tahan produk dan part-nya.

5. Qualified production item: dibuat dalam skala penuh berfungsi secara penuh dan
diproduksi pada tahap awal dalam jumlah kecil untuk memastikan produk memenuhi segala
bentuk standar maupun peraturan yang diberlakukan terhadap produk tersebut biasanya untuk
diuji-cobakan kepada umum.

Untuk mematangkan produk yang hendak diproduksi secara komersil, maka produk perlu
memasuki pasar untuk melihat ancaman-ancaman produk yang terjadi; misal: keamananan,
regulasi, tanggung jawab, ketahanan dan kerusakan (wear–and–tear), pelanggaran, siklus
break even dan polusi, dan konsekuensinya diperlukan peningkatan program pemasaran.
Model: merupakan alat peraga yang mirip produk yang akan dibangun (look–like–models).
Secara jelas menggambarkan bentuk dan penampilan produk baik dengan skala yang
diperbesar, 1:1, atau diperkecil untuk memastikan produk yang akan dibangun sesuai dengan
lingkungan produk maupun lingkungan user.

Prototipe adalah bentuk efektif dalam mengkomunikasikan konsep produk namun jangan
sampai menyerupai bentuk produk sebenarnya karena mengandung resiko responden akan
menyamakannya dengan produk akhir.

Materi Konsep Desain Prototype dan Kemasan Produk Barang/Jasa

PENGERTIAN PROTOTYPE PRODUK


Fenomena dewasa ini banyak manajer menjalankan Total Quality Management (TQM)
sebagai prioritas untuk peningkatan dan pengendalian kualitas produk. Karena kualitas suatu
produk berhubungan erat dengan kepuasan pelanggan (customer satisfaction) serta
keuntungan industri. Dengan kualitas yang lebih tinggi akan menghasilkan kepuasan
pelanggan yang lebih tinggi, sekaligus mendukung harga yang lebih tinggi dan sering juga
biaya lebih rendah.
Perhatian terhadap kualitas yang terbaik adalah bukan pada produk akhir. Hal ini penting agar
produk akhir yang dihasilkan adalah produk yang bebas cacat dan tidak ada lagi pemborosan
karena produk tersebut dibuang atau dikerjakan ulang. Maka sebaiknya perhatian terhadap
kualitas harus dimulai pada saat awal pembangunan produk. Tahapan yang sangat penting
dalam perencanaan awal pembuatan produk adalah pembuatan prototipe produk.

Download Modul Ini


Prototipe produk (purwa–rupa produk) adalah bentuk dasar dari sebuah produk merupakan
tahapan yang sangat penting dalam rencana pembuatan produk karena menyangkut
keunggulan produk yang akan menentukan kemajuan suatu usaha di masa mendatang.
Dikatakan sebagai tahapan yang sangat penting karena prototipe dibuat untuk diserahkan
pada pelanggan (lead–user) agar pelanggan dapat mencoba kinerja prototipe tersebut.
Selanjutnya jika pelanggan memiliki komplain ataupun masukan mengenai protipe tersebut
maka industri mendokumentasikannya untuk proses perbaikan prototipe tersebut. Sehingga
menciptakan suatu sistem inovasi produk yang dibangun bersama-sama antara industri dan
pelanggan sebagai upaya pemenuhan kepuasan pelanggan (customers).
Sebagai bentuk dasar produk, prototipe memiliki bagian yang ukuran dan bahan sama seperti
jenis produk yang akan dibuat tetapi tidak harus difabrikasi dengan proses sebenarnya
ditujukan untuk pengetesan untuk menentukan apakah produk bekerja sesuai desain yang
diinginkan dan apakah produk memuaskan kebutuhan pelanggan. Prototipe seperti ini disebut
alpha prototype ada juga yang disebut beta prototype yang dibuat dengan bagian yang
disuplai oleh proses produksi sebenarnya, tetapi tidak rakit dengan proses akhir ditujukan
untuk menjawab pertanyaan akan performance dan ketahanan uji untuk menemukan
perubahan yang perlu pada produk final.

TAHAPAN-TAHAPAN PROTOTYPE
Berikut tahapan prototype:
1. Pendefinisian produk: merupakan penerjemahan konsep teknikal yang berhubungan dengan
kebutuhan dan perilaku konsumen kedalam bentuk perancangan termasuk aspek hukum
produk dan aspek hukum yang melibatkan keamanan dan perlindungan terhadap konsumen.
2. Working model: dibuat tidak harus mempresentasikan fungsi produk secara keseluruhan dan
dibuat pada skala yang seperlunya saja untuk membuktikan konsep dari pembuatan produk
dan menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan konsep yang telah dibuat. Working model
juga dibangun untuk menguji parameter fungsional dan membantu perancangan prototipe
rekayasa.
3. Prototipe rekayasa (engineering prototype): dibuat seperti halnya working model namun
mengalami perubahan tingkat kompleksitas maupun superioritas dari working model,
dibangun mencapai tingkat kualitas teknis tertentu agar dapat diteruskan menjadi prototipe
produksi atau untuk dilanjutkan pada tahapan produksi.
4. Prototipe rekayasa ini dibuat untuk keperluan pengujian kinerja operasional dan kebutuhan
rancangan sistem produksi.
5. Prototipe produksi (production prototype): bentuk yang dirancang dengan seluruh fungsi
operasional untuk menentukan kebutuhan dan metode produksi dibangun pada skala
sesungguhnya dan dapat menghasilkan data kinerja dan daya tahan produk dan part-nya.
6. Qualified production item: dibuat dalam skala penuh berfungsi secara penuh dan diproduksi
pada tahap awal dalam jumlah kecil untuk memastikan produk memenuhi segala bentuk
standar maupun peraturan yang diberlakukan terhadap produk tersebut biasanya untuk diuji-
cobakan kepada umum.
7. Untuk mematangkan produk yang hendak diproduksi secara komersil, maka produk perlu
memasuki pasar untuk melihat ancaman-ancaman produk yang terjadi; misal: keamananan,
regulasi, tanggung jawab, ketahanan dan kerusakan (wear–and–tear), pelanggaran, siklus
break even dan polusi, dan konsekuensinya diperlukan peningkatan program pemasaran.
8. Model: merupakan alat peraga yang mirip produk yang akan dibangun (look–like–models).
Secara jelas menggambarkan bentuk dan penampilan produk baik dengan skala yang
diperbesar, 1:1, atau diperkecil untuk memastikan produk yang akan dibangun sesuai dengan
lingkungan produk maupun lingkungan user.
9. Prototipe adalah bentuk efektif dalam mengkomunikasikan konsep produk namun jangan
sampai menyerupai bentuk produk sebenarnya karena mengandung resiko responden akan
menyamakannya dengan produk akhir.

PENGERTIAN KEMASAN PRODUK


Kemasan adalah desain kreatif yang mengaitkan bentuk, struktur, material, warna, citra,
tipografi dan elemen-elemen desain dengan informasi produk agar produk dapat dipasarkan.
Kemasan digunakan untuk membungkus, melindungi, mengirim, mengeluarkan, menyimpan,
mengidentifikasi dan membedakan sebuah produk di pasar (Klimchuk dan Krasovec,
2006:33).
Menurut Kotler & Keller (2009:27), pengemasan adalah kegiatan merancang dan
memproduksi wadah atau bungkus sebagai sebuah produk. Pengemasan adalah aktivitas
merancang dan memproduksi kemasan atau pembungkus untuk produk. Biasanya fungsi
utama dari kemasan adalah untuk menjaga produk. Namun, sekarang kemasan menjadi faktor
yang cukup penting sebagai alat pemasaran (Rangkuti, 2010:132).
Kemasan yang dirancang dengan baik dapat membangun ekuitas merek dan mendorong
penjualan. Kemasan adalah bagian pertama produk yang dihadapi pembeli dan mampu
menarik atau menyingkirkan pembeli. Pengemasan suatu produk biasanya dilakukan oleh
produsen untuk dapat merebut minat konsumen terhadap pembelian barang. Produsen
berusaha memberikan kesan yang baik pada kemasan produknya dan menciptakan model
kemasan baru yang berbeda dengan produsen lain yang memproduksi produk-produk sejenis
dalam pasar yang sama.

FUNGSI KEMASAN PRODUK


Banyak perusahaan yang sangat memperhatikan pembungkus suatu barang sebab mereka
menganggap bahwa fungsi kemasan tidak hanya sebagai pembungkus, tetapi jauh lebih luas
dari pada itu. Simamora (2007) mengemukakan pengemasan mempunyai dua fungsi yaitu:
1. Fungsi Protektif
Berkenaan dengan proteksi produk, perbedaan iklim, prasarana transportasi, dan saluran
distribusi yang semua berimbas pada pengemasan. Dengan pengemasan protektif, para
konsumen tidak perlu harus menanggung risiko pembelian produk rusak atau cacat.
2. Fungsi Promosional
Peran kemasan pada umumnya dibatasi pada perlindungan produk. Namun kemasan juga
digunakan sebagai sarana promosional. Menyangkut promosi, perusahaan
mempertimbangkan preferensi konsumen menyangkut warna, ukuran, dan penampilan.
Sedangkan menurut Kotler (1999:228), terdapat empat fungsi kemasan sebagai satu alat
pemasaran, yaitu :
1. Self service. Kemasan semakin berfungsi lebih banyak lagi dalam proses penjualan, dimana
kemasan harus menarik, menyebutkan ciri-ciri produk, meyakinkan konsumen dan memberi
kesan menyeluruh yang mendukung produk.
2. Consumer offluence. Konsumen bersedia membayar lebih mahal bagi kemudahan,
penampilan, ketergantungan dan prestise dari kemasan yang lebih baik.
3. Company and brand image. Perusahaan mengenal baik kekuatan yang dikandung dari
kemasan yang dirancang dengan cermat dalam mempercepat konsumen mengenali
perusahaan atau merek produk.
4. Inovational opportunity. Cara kemasan yang inovatif akan bermanfaat bagi konsumen dan
juga memberi keuntungan bagi produsen.
Selain berfungsi sebagai media pemasaran, kemasan juga memiliki beberapa fungsi lain,
yaitu sebagai berikut:
1. Kemasan melindungi produk dalam pergerakan. Salah satu fungsi dasar kemasan adalah
untuk mengurangi terjadinya kehancuran, busuk, atau kehilangan melalui pencurian atau
kesalahan penempatan.
2. Kemasan memberikan cara yang menarik untuk menarik perhatian kepada sebuah produk dan
memperkuat citra produk.
3. Kombinasi dari keduanya, marketing dan Logistik dimana kemasan menjual produk dengan
menarik perhatian dan mengkomunikasikannya.

TUJUAN KEMASAN PRODUK


Menurut Louw dan Kimber (2007), kemasan dan pelabelan kemasan mempunyai beberapa
tujuan, yaitu:
1. Physical Production. Melindungi objek dari suhu, getaran, guncangan, tekanan dan
sebagainya.
2. Barrier Protection. Melindungi dari hambatan oksigen uap air, debu, dan sebagainya.
3. Containment or Agglomeration. Benda-benda kecil biasanya dikelompokkan bersama dalam
satu paket untuk efisiensi transportasi dan penanganan.
4. Information Transmission. Informasi tentang cara menggunakan transportasi, daur ulang, atau
membuang paket produk yang sering terdapat pada kemasan atau label.
5. Reducing Theft. Kemasan yang tidak dapat ditutup kembali atau akan rusak secara fisik
(menunjukkan tanda-tanda pembukaan) sangat membantu dalam pencegahan pencurian.
Paket juga termasuk memberikan kesempatan sebagai perangkat anti-pencurian.
6. Fitur yang menambah kenyamanan dalam distribusi, penanganan, penjualan, tampilan,
pembukaan, kembali penutup, penggunaan dan digunakan kembali.
7. Kemasan dan label dapat digunakan oleh pemasar untuk mendorong calon pembeli untuk
membeli produk.

JENIS-JENIS KEMASAN
Berdasarkan struktur isi, kemasan dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
1. Kemasan Primer, yaitu bahan kemas langsung mewadahi bahan pangan (kaleng susu, botol
minuman, dll).
2. Kemasan Sekunder, yaitu kemasan yang fungsi utamanya melindungi kelompok kemasan
lainnya, seperti misalnya kotak karton untuk wadah kaleng susu, kotak kayu untuk wadah
buah-buahan yang dibungkus dan sebagainya.
3. Kemasan Tersier dan Kuarter, yaitu kemasan yang diperlukan untuk menyimpan, pengiriman
atau identifikasi. Kemasan tersier umumnya digunakan sebagai pelindung selama
pengangkutan.
Berdasarkan frekuensi pemakaiannya, kemasan dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
1. Kemasan sekali pakai (Disposable), yaitu kemasan yang langsung dibuang setelah satu kali
pakai. Contohnya bungkus plastik, bungkus permen, bungkus daun, karton dus, makanan
kaleng.
2. Kemasan yang dapat dipakai berulang kali (Multi Trip), kemasan jenis ini umumnya tidak
dibuang oleh konsumen, akan tetapi dikembalikan lagi pada agen penjual untuk kemudian
dimanfaatkan ulang oleh pabrik. Contohnya botol minuman dan botol kecap.
3. Kemasan yang tidak dibuang (Semi Disposable). Kemasan ini biasanya digunakan untuk
kepentingan lain di rumah konsumen setelah dipakai. Contohnya kaleng biskuit, kaleng susu
dan berbagai jenis botol.
Berdasarkan tingkat kesiapan pakai, kemasan dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
1. Kemasan siap pakai, yaitu bahan kemas yang siap untuk diisi dengan bentuk yang telah
sempurna sejak keluar dari pabrik. Contohnya adalah wadah botol, wadah kaleng, dan
sebagainya.
2. Kemasan siap dirakit, yaitu kemasan yang masih memerlukan tahap perakitan sebelum
pengisian, misalnya kaleng dalam bentuk lempengan dan silinder fleksibel, wadah yang
terbuat dari kertas, foil atau plastik.

PENGERTIAN SKETSA
Menurut Linda Murray dan Peter, Sketsa adalah rancangan kasar dari suatu komposisi atau
sebagian komposisi dibuat demi kepuasan pribadi. Pada tahap ini ada beberapa hal yang
menjadi acuan yaitu skala, perbandingan, komposisi, penyinaran dan lain sebagainya.
Sementara menurut H.W Flower, Sketsa adalah begitu saja tanpa persiapan. Merupakan
gambaran atau lukisan pendahuluan yang kasar, ringan dan semata-mata garis besar.
Kegiatan menggambar sketsa pada dasarnya memerlukan alat dan bahan yang sangat
sederhana untuk dapat membuat tanda goresan yang mewakili bentuk sesungguhnya.
Beberapa garis yang digoreskan pada bidang datar dapat memberikan suatu kesan simbol
tentang bentuk yang ada di sekitar kita atau gagasan tentang sesuatu yang terlihat dan
terlintas dalam benak seseorang.
Dengan demikian pikiran dan perasaan dapat diungkapkan dalam bentuk visual melalui
kegiatan menggambar, sehingga menggambar termasuk kegiatan mendasar dalam berkarya
seni rupa.
Kegiatan menggambar sketsa dapat dianalogikan dengan kegiatan menulis. Ketika kita
hendak menulis, sebelum dapat menulis kalimat yang baik kita cenderung menulis dan
merangkai beberapa kata terlebih dahulu hingga diperoleh kalimat yang sesuai.
Demikian pula halnya dengan kegiatan menggambar sketsa. Sebelum dapat membuat karya
seni rupa yang utuh, umumnya para seniman membuat sketsa terlebih dahulu.
Menurut Fajar Sidik (1981) garis atau penggarisan merupakan unsur yang paling menonjol
hakiki dalam seni lukis, akan tetapi pada dasarnya terdapat perbedaan antara sketsa dengan
lukisan. Ada ungkapan yang menarik yang disampaikan oleh Kusnadi, seorang seniman dan
kritikus seni rupa.
Sketsa ibarat gesekan biola tunggal, sedangkan lukisan merupakan sebuah orkes yang
lengkap.
Ungkapan ini menyatakan dua hal, pertama, sketsa sebagai ungkapan estetis dihadirkan
secara sangat sederhana karena menggunakan garis secara hemat dan selektif.
Umumnya sketsa dikerjakan dengan cepat dan secara spontan. Jika sketsa dibangun oleh
unsur-unsur garis sebagai medium utamanya, lukisan merupakan ungkapan lengkap, dalam
arti penyajiannya dibangun dengan menggunakan unsur-unsur lain, seperti tekstur,
kedalaman/ruang, gelap-terang, dan warna di samping unsur garis.
Bahkan, dalam lukisan unsur warna menjadi penting sebagai unsur tambahannya
(Schinneller,1966). Sebagaimana halnya dengan karya lukisan, sketsa juga memiliki
keragaman tema, gaya dan teknik pengungkapannya. Perbedaan yang mencolok hanyalah
pada medium pengucapannya.

JENIS-JENIS SKETSA
1. Gambar garis besar yaitu sketsa yang membuat garis-garis bentuk sederhana tanpa rincian
dan tidak selesai.
2. Sketsa cepat yaitu sketsa yang menggunakan beberapa garis saja untuk menampilkan citra
suatu sketsa yang sudah selesai.
3. Studi citra yaitu sketsa yang berupa coretan dengan cepat dan kurang terperinci hanya
menunjukan bentuk global.

KOMPOSISI UNSUR SKETSA


Komposisi memiliki peranan penting dalam terciptanya sebuah sketsa yang bagus. Komposisi
atau susunan unsur-unsur dalam seni rupa harus berada pada perbandingan yang tepat agar
dihasilkan karya yang pas. Adapun unsur-unsur dalam sketsa antara lain :
1. Garis – Garis adalah unsur yang memiliki peran utama di dalam membentuk komposisi. Jenis
garis yang dapat membentuk komposisi : komposisi garis lurus; komposisi garis lengkung.
2. Warna – Meskipun umumnya sketsa terdiri dari satu jenis warna, akan tetapi pengaturan
komposisi warna pada objek sktesa sangat diperlukan agar memberikan kesan harmonis.
Komposisi warna pada sketsa umumnya diatur berdasarkan gelap terang pencahayaan.
3. Bidang dan bentuk – Bidang dan bentuk adalah unsur yang dibentuk melalui garis-garis yang
disusun atau digores sedemikian rupa. Keharmonisan dari komposisi bentuk ditentukan dari
berbagai faktor unsur-unsurnya yaitu simetris, asimetris, sentral, dan diagonal.
4. Efek pencahayaan – Unsur gelap terang merupakan pelengkap dalam pengkomposisian
warna. Meskipun sketsa cenderung berupa gambar kasar yang tidak selesai, akan tetapi
goresan-goresan yang dihasilkan kerap kali menghasilkan efek gelap terang sehingga sebuah
objek dapat diamati dengan cukup jelas.

ATURAN DALAM MEMBUAT SKETSA


1. Membuat kerangka gambar yang terdiri dari garis-garis vertical, horizontal, maupun
lengkung secara tipis.
2. Menggambar garis sekundernya, misalnya melukis kerangka kubus atau kotak dalam keadaan
tipis
3. Menebalkan garis sketsa yang sudah benar. Ketebalan sesuai dengan karakter jenis garis yang
diinginkan.

FUNGSI ATAU MANFAAT SKETSA


Senada dengan defenisinya, sktesa memiliki beberapa fungsi yaitu :
1. Untuk lebih memfokuskan gambaran atau gagasan tema
2. Meminimalisir kesalahan
3. Mempertajam pengamatan
4. Meningkatkan kemampuan koordinasi hasil pengamatan dan keterampilan tangan.

Common questions

Didukung oleh AI

An engineering prototype is a more complex and superior version of a working model, built to achieve a certain technical quality for potential production continuation . While a working model is made at an essential scale just to prove the concept and identify mismatches with the intended design , the engineering prototype focuses on operational performance testing and production system design needs . This stage serves to thoroughly test technical qualities necessary for transitioning to production prototypes that gauge functionality and durability .

Jeanne Liedtka highlights five principles for rapid prototyping: start small and simple, build iteratively from early-stage prototypes to gather new ideas, design a story for your product, visualize the concept with minimal reliance on words, and show not tell . These principles facilitate product development by allowing for continuous feedback and iteration, involving potential users early in the process for validation, and refining the product based on real inputs. User involvement in co-creation fosters a sense of ownership and supports a product's potential success in the market .

Alpha prototypes are basic models using the same materials and dimensions as the intended product without actual production processes, primarily used for testing whether the product meets design expectations and customer needs . Beta prototypes, however, are more advanced and made using actual production-supplied parts though not yet fully assembled by the final processes, used to assess performance and durability under real conditions . This distinction is important because alpha prototypes focus on core functionality while beta models gauge readiness for market challenges, ensuring robust product development with minimal post-launch modifications .

Effective product packaging plays a crucial role in product success by not only protecting the product but also serving as a marketing tool . A well-designed package draws consumer attention, communicates essential product information, and enhances brand recognition . It aids in differentiation from competitors and can influence consumer buying decisions through perceived value and appeal . Additionally, packaging contributes to consumer safety and convenience, further driving satisfaction and loyalty .

Prototyping and quality assurance are interlinked in manufacturing to ensure that a product meets both design intentions and consumer needs before full-scale production . Prototypes are iterative testing tools that enable the identification and correction of potential defects early in the development cycle . Implementing quality assurance processes during prototyping minimizes errors, reduces production costs, and shortens time-to-market, directly influencing the quality of the end product. These efforts ultimately lead to higher consumer satisfaction by delivering a product that is reliable, durable, and meets consumer expectations, thus fostering strong brand loyalty .

Customer co-creation during prototyping allows customers to provide direct feedback and suggestions, which can lead to a product aligned more closely with customer needs and expectations . This involvement enhances customer satisfaction as the product has been partly designed by the users, fostering a sense of ownership and pride in the eventual product . Furthermore, co-creation can reduce time-to-market by pre-emptively addressing potential issues and providing a product that is more likely to meet the market demands effectively .

Sketched designs strategically capture early ideas and facilitate quick iterations, opening pathways for innovation and creative exploration without significant investment in resources . They function as a visual language that conveys concepts effectively among team members, stakeholders, and potential users, allowing for comprehensive feedback collection at minimal cost . However, the limitations of sketches include their abstract nature, which might not fully convey spatial intricacies or functionality, potentially leading to misinterpretations later in the development process. Moreover, reliance on sketches could delay necessary detailed modeling and testing, risking oversight of practical engineering challenges .

Total Quality Management (TQM) impacts the prototyping phase by emphasizing quality control from the product conception stage . TQM encourages iterative testing and refinements during prototyping to identify defects early, ensuring that the final product is defect-free and meets customer satisfaction criteria . This focus reduces waste and improves resource allocation, promoting efficiency and cost-effectiveness. Moreover, TQM practices foster a culture of continuous improvement that extends to customer feedback integration, crucial for refining prototypes and enhancing product quality before mass production .

In prototyping, visualization involves creating mock-ups, physical models, and experiential representations of a concept . It aids in achieving better product design by enabling stakeholders and potential users to understand, interact with, and evaluate the concept beyond theoretical descriptions. Visualization makes abstract ideas tangible, facilitating effective feedback collection, thus aiding refinement and ensuring the design aligns with user expectations and functional needs . Techniques like storyboarding enrich this process by mapping out user interactions and enhancing narrative engagement .

Visual elements in sketched designs provide a fundamental reference that guides the transformation from concept to physical product . The use of lines, shapes, and shading in sketches helps designers communicate intricate details and aesthetics, ensuring that manufacturers accurately capture the intended design during production . This visualization clarifies ambiguities, paving the way for precise engineering specifications and reducing costly adjustments later. Additionally, sketching aids in exploring various design solutions and identifying potential issues early, thereby streamlining the transition to production while maintaining design integrity .

Anda mungkin juga menyukai