Anda di halaman 1dari 54

PANDUAN PRAKTIKUM

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (KMB III)

Palembang, Februari 2018


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH PALEMBANG

PENERBIT
STIKES MUHAMMADIYAH PALEMBANG
PANDUAN PRAKTIKUM
KMB III

Penanggung Jawab : Ketua STIKes Muhammadiyah Palembang


Pengarah : Wakil Ketua I, II dan III
Penyusun : 1. Suratun, S. Kep, Ns., M. Kep
2. Sukron, S.Kep.,Ns.,MNS
3. Joko Tri Wahyudi, S.Kep.,Ns.,M.Kep
Editor : Yulius Tiranda, S. Kep., Ns., M. Kep
Cover/Layout :
ISBN :
Cetak : Pertama, 18 Februari 2018
Penerbit : STIKes Muhammadiyah Palembang
Jalan Jend. A Yani 13 Ulu Plaju Palembang-
30252 Telp. 0711-516213/516233, Fax: 0711-
513202
Web: www.stikesmp.ac.id
Email: muhammadiyah.stikes@yahoo.com
KATA PENGANTAR

Assalamualikum Wr. Wb.


Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya
kepada kita semua, sehingga buku Pedoman Praktikum KMB III yang mencakup sistem
muskuloskeletal, integumen, persepsi sensori dan persarafan ini dapat diselesaikan. Sholawat
beserta salam kita hanturkan kepada Nabi junjungan kita Muhammad SAW yang telah
menyebarkan ajaranya sehingga ilmu pengetahuan yang islami dapat berkembang seperti
saat ini.
Buku Pedoaman Praktikum KMB III ini merupakan buku pedoman yang harus
dimiliki mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan STIKes Muhammadiyah Palembang
pada saat mengikuti mata kuliah paraktikum KMB III. Buku pedoman ini dibuat dengan
harapan dapat menjadi pedoman pada saat praktikum dan menjadi referensi atau bahan
kajian bagi mahasiswa pada saat aplikasinya pada paraktik belajar lapangan dalam
memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan sistem muskuloskeletal,
integumen, persepsi sensori dan persarafan.
Semoga buku pedoman praktikum ini bermanfaat untuk mengembangkan konsep,
teori dan praktik pada kasus gangguan sistem muskuloskeletal, integumen, persepsi sensori
dan persarafan.
Akhir kata penulis mengucapakan wassalamualaikum Wr. Wb

Palembang, Februari 2018

Penyusun
DAFTAR ISI

Halaman Judul
Kata Pengantar ................................................................................................ .... i
Daftar Isi ......................................................................................................... ..... ii
Visi dan Misi Program Studi Ilmu Keperawatan ............................................. .... iii
Deskripsi Mata Kuliah .................................................................................... .... 1
Petunjuk Praktikum ......................................................................................... ..... 2
TataTertib Praktikum ...................................................................................... ..... 4
A. Sistem muskuloskeletal .................................................................................... 8
1. Body movement / body mechanic............................................................... 8
2. Ambulasi dini ............................................................................................ 14
3. Fiksasi dan imobilisasi ............................................................................. 24
4. GIPS........................................................................................................... 30
5. TRAKSI...................................................................................................... 38

B. Sistem integumen ... .................................................................................... ...... 43


1. Wound care........................................................................................................... 43

C. Sistem persepsi sensori ............................................................................... ....... 56


1. Pemeriksaan Visus ............................................................................................... 56
2. Irigasi mata............................................................................................................ 62
3. Tetes mata, zalf mata............................................................................................ 65
4. Perawatan Post Operasi Katarak............................................................. 68
5. Pemeriksaan Pendengaran (Rinne dan Weber)............................................. 72
6. Irigasi telinga.......................................................................................................... 77
7. Tetes telinga ........................................................................................................... 79

D. Sistem persarafan ...................................................................................... ........ 82


1. Pemeriksaan neurologis.............................................................................. 82
2. Pain management .................................................................................................. 89
3. ROM exercise ......................................................................................................... 92

Daftar Pustaka
TATA TERTIB PELAKSANAAN PRAKTIKUM

1. Mahasiswa wajib hadir 10 menit sebelum praktikum dimulai


2. Wajib menggunakan pakaian laboratorium sesuai ketentuan
3. Mahasiswa wajib membawa panduan praktikum
4. Mahasiswa mentaati tata tertib laboratorium
5. Mahasiswa tidak diperkenankan memasuki laboratorium sebelum praktek dimulai oleh
dosen dan tanpa seizin pengelola laboratorium
6. Mahasiswa tidak diperkenankan makan minum di laboratorium
7. Mahasiswa tidak diperbolehkan membawa alat tulis kecuali untuk mata kuliah Kimia dan
Mikrobiologi
8. Mahasiswa tidak dibenarkan memindahkan alat dan merusak fasilitas laboratorium.
9. Dosen berhak tidak memperkenankan mahasiswa untuk tidak mengikuti kegiatan
praktikum jika melanggar tata tertib yang ada.
Deskripsi Mata Kuliah

Fokus mata kuliah ini adalah bagiamana Islam memberikan tuntunan tentang pemenuhan
kebutuhan klien dewasa dengan gangguan sistem muskuloskeletal, integumen, persepsi sensori dan
persarafan yang dapat digunakan dalam praktek keperawatan yang Islami melalui pendekatan
proses keperawatan, hubungan terapeutik perawat – klien, tehnik komunikasi terapeutik dan model
praktek keperawatan. Pengalaman belajar meliputi melatih keterampilan psikomotor dalam tekhnik
prosedur keperawatan.

Tujuan Mata Kuliah


Setelah menyelesaikan mata kuliah ini diharapkan mahasiswa mampu mengintegrasikan ajaran
agama Islam dengan ilmu-ilmu terkait dalam melakukan keterampilan dasar untuk pemenuhan
kebutuhan dasar yang diperlukan dalam praktek keperawatan Islami dan memodifikasi sesuai
dengan perkembangan IPTEK Keperawatan
PETUNJUK PRAKTIKUM

Pelaksanaan praktikum dapat dilakukan dengan metode Practice Rahearsal Pears (praktek
berpasangan), dan bisa disesuaikan dengan bahan kajian masing-masing, dimana tahapan
pelaksanaannya sebagai berikut:
1. Dosen/Fasilitator menentukan topik pembelajaran praktikum yang akan dilakukan
2. Dosen / Fasilitator menentukan pasangan dari masing-masing kelompok
3. Dosen/Fasilitator menjelaskan dan mendemonstrasikan prosedur kerja dari tiap-tiap
modul dalam kelompok besar selama maksimal 15 menit (kecuali prosedur pada
modul tertentu)
4. Setelah dosen/fasilitator membentuk pasangan-pasangan, fasilitator meminta kepada
penjelas atau demonstrator untuk menjelaskan atau mendemontrasikan cara mengerjakan
keterampilan yang telah ditentukan, pengecek/pengamat bertugas mengamati dan menilai
penjelasan atau demontrasi yang dilakukan temanya.
5. Dosen/Fasilitator meminta kedua pasangan untuk bertukar peran, yaitu demonstrator
kedua diberi keterampilan yang lain.
6. Dosen/Fasilitator meminta dan menilai mahasiswa untuk melakukan keterampilan
atau prosedur tersebut sampai selesai dan dapat dikuasai oleh peserta didik
berdasarkan Daftar Penilaian Prosedur Kerja.
7. Setiap mahasiswa wajib mengikuti kegiatan praktikum (100% kehadiran) sesuai
dengan jadwal yang telah disepakati oleh Dosen/fasilitator dan kelompok.
BODY MOVEMENT/MECHANIC

A. Pengertian
Mekanika Tubuh adalah suatu usaha mengkoordinasikan sistem muskuloskeletal dan sistem syaraf dalam
mempertahankan keseimbangan, postur dan kesejajaran tubuh selama mengangkat, membungkuk,
bergerak, dan melakukan aktivitas sehari-hari ( Potter & Perry, 2005).

B. Body Mekanik meliputi 3 elemen dasar yaitu :


1. Body Alignment (Postur Tubuh)
Susunan geometrik bagian-bagian tubuh dalam hubungannya dengan bagian tubuh yang lain.
2. Balance / Keseimbangan
Keseimbangan tergantung pada interaksi antara pusat gravity, line gravity dan base of support.
3. Koordinated body movement (Gerakan tubuh yang terkoordinir)
Dimana body mekanik berinteraksi dalam fungsi muskuloskeletal dan sistem syaraf.

C. Prinsip body mekanik


1. Gravity
2. Balance (Keseimbangan)
3. Weight (berat)

D. Pergerakan dasar yang digunakan dalam Body Mekanik


1. Walking / berjalan
Kestabilan berjalan, sangat berhubungan dg ukuran base of support
2. Squating / jongkok
Squating mempertinggi atau meningkatkan keseimbangan tubuh, ketika seseorang mengangkat obyek yg
terletak dibawah pusat grativitas tubuh.
3. Pulling / menarik
Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menarik benda, diantaranya ketinggian, letak benda, posisi
kaki dan tubuh sewaktu menarik (seperti condong ke depan dari panggul), sodorkan telapak tangan dan
lengan atas dibawah pusat gravitasi pasien, lengan atas dan siku diletakkan pada permukaan tempat tidur,
pinggul, lutut dan pergelangan kaki ditekuk dan lalu lakukan penarikan.
4. Pivoting / berputar
Pivoting adalah suatu tehnik dimana tubuh dibungkukkan dlm rangka menghindari terjadinya resiko keseleo
tulang

E. Faktor-faktor yang mempengaruhi body mekanik :


1. Status kesehatan
2. Kondisi kesehatan seseorang akan berpengaruh terhadap keseimbangan tubuh sehingga aktivitasnya
menjadi terganggu.
3. Nutrisi
4. Pemenuhan kebutuhan tubuh akan nutrisi sangat penting karena mempengaruhi produksi energi yang
digunakan untuk mobilisasi.
5. Emosi
6. Situasi dan kebiasaan
7. Gaya hidup
8. Pengetahuan

F. Sistem tubuh yang berperan dalam kebutuhan aktivitas:


1. Tulang
Tulang merupakan organ yang mempunyai berbagai fungsi, fungsi mekanis untuk membentuk rangka dan
tempat melekatnya berbagai otot, fungsi sebagai tempat menyimpan mineral kususnya kalsium dan fosfor yang
bisa dilepaskan setiap saat sesuai kebutuhan, fungsi tempat sumsum tulang dalam membentuk sel darah, dan
fungsi pelindung organ-organ dalam.
2. Otot dan tendo
Tubuh memiliki mempunyai kemampuan berkontraksi yang memungkinkan tubuh bergerak sesuai keinginan.
Otot memiliki origo dan insersinya tulang, serta dihubungkan dengan tulang melalui tendon, yaitu suatu jaringan
ikat yang melekat sangat kuat pada tempat insersinya tulang
.3. Ligamen
Ligamen merupakan bagian yang menghubungkan tulang dengan tulang. Ligamen pada lutut merupakan
penjaga stabilitas.
4. Sistem syaraf
Syaraf terdiri dari syaraf pusat (otak dan medula spinalis) dan syaraf tepi (percabangan dari syaraf pusat).
Bagian somatis memiliki fungsi sensorik dan motorik. Kerusakan pada syaraf pusat seperti kerusakan tulang
belakang akan menyebabkan kelemahan umum, sedangkan kerusakan saraf tepi menyebabkan terganggunya
daerah yang diinervasi dan kerusakan pada saraf radial akan menyebabkan drop hand atau gangguan sensorik
di daerah radial tangan.
5. Sendi
Sendi merupakan tempat dua atau lebih tulang bertemu.

G. Konsekuensi body mekanik yang buruk


1. Jatuh
2. Cidera belakang
Harber (1985), memberikan daftar penyebab cidera belakang yang paling sering terjadi pada perawat yang
bekerja di rumah sakit yaitu :
1. Mengangkat pasien ke atas tempat tidur (48%)
2. Membantu pasien turun dari tempat tidur (30%)
3. Memindahkan bed (27%)
4. Mengangkat pasien keatas brankat(22%)

FORMAT PENILAIAN KOMPETENSI


Aspek/Bobo SKOR
A SP E K Y A NG DI NI LA I
t 1 2 3 4
Keterampilan MENGATUR POSISI KLIEN
(50%) Persiapan Alat:
NBL = 100 1. Bantal guling
2. Bantal kaki
3. Bantal kepala
4. Sarung tangan
5. Handuk
Tahap Pra Interaksi
Persiapan lingkungan yang harus di perhatikan adalah:
Berikan lingkungan yang nyaman bagi pasien (kondusif)
Tutup pintu atau gorden menjaga privacy pasien
Tahap Orientasi
Berikan salam, panggil klien dengan namanya
Jelaskan prosedur dan tujuan tindakan pada klien / keluarga
Tahap Kerja
Cara Kerja:
Posisi Fowler
1. Cuci tangan dan gunakan sarung tangan bila perlu
2. Minta klien untuk memfleksikan lutut sebelum kepala dinaikkan
3. Naikkan kepala tempat tidur 45o-90o sesuai kebutuhan. Fowler rendah atau semi
rendah (15o-45o), fowler tinggi 90o
4. Letakkan bantal kecil dibawah punggung pada kurva lumbal, jika ada celah disana
5. Letakkan bantal kecil dibawah kepala klien
6. Letakkan bantal dibawah kaki, mulai dari lutut sampai tumit
7. Pastikan tidak dapat tekanan pada area popliteal dan lutut dalam keadaan fleksi
8. Letakkan trochanter roll (gulungan handuk) disamping masing-masing paha
9. Topang telapak kaki klien dengan menggunakan bantal kaki
10. letakkan bantal untuk menopang kedua lengan dan tangan, jika klien memiliki
kelemahan pada kedua tangan tersebut
11. Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan
12. Dokumentasikan tindakan

Posisi Ortopnea
1. Cuci tangan dan gunakan sarung tangan bila diperlukan
2. Minta klien untuk memfleksikan lutut sebelum kepala dinaikkan
3. Naikkan kepala tempat tidur 90o
4. Letakkan bantal kecil diatas meja yang menyilang di atas tempat tidur
5. Letakkan bantal dibawah kaki, mulai dari lutut sampai tumit
6. Pastikan tidak terdapat tekanan pada area popliteal dan lutut dalam keadaan fleksi
7. Letakkan gulungan handuk disamping masing-masing paha
8. Topang telapak kaki klien dengan menggunakan bantal kaki
9. Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan
10. Dokumentasikan tindakan

Posisi Terlentang (Supinasi)


1. Cuci tangan dan gunakan sarung tangan jika diperlukan
2. Baringkan klien terlentang mendatar ditengah tempat tidur
3. Letakka bantal di bawah kepala dan bahu klien
4. Letakkan bantal kecil di bawah punggung pada kurva lumbal, jika ada celah disana
5. Letakkan bantal di bawah kaki, mulai dari lutut sampai tumit
6. Topang telapak kaki klien dengan menggunakan bantalan kaki
7. Jika klien tidak sadar atau mengalami paralisis ekstermitas atas, elevasikan tangan
dan lengan bawah (bukan lengan atas) dengan menggunakan bantal
8. Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan
9. Dokumentasikan tindakan

Posisi Telungkup (Pronasi)


1. Cuci tangan dan gunakan sarung tangan jika diperlukan
2. Baringkan klien terlentang mendatar di tengah tempat tidur
3. Gulingkan klien dan posisikan lengan dekat dengan tubuhnya disertai siku lurus dan
tangan diatas paha. Posisikan tengkurap atau telungkup di tengah tempat tidur yang
datar
4. Putar kepala klien ke salah satu sisi dan sokong dengan bantal. Jika banyak
drainase dari mulut, mungkin pemberian bantal dikontraindikasikan
5. Letakkan bantal kecil di bawah abdomen pada area antara diagfragma (atau
payudara pada wanita) dan krista iliaka
6. Letakkan bantal di bawah kaki, mulai lutut sampai tumit
7. Jika klien tidak sadar atau mengalami paralysis ekstremitas atas, elevasikan tangan
dan lengan bawah (bukan lengan atas) dengan menggunakan bantal. Posisi ini akan
mencegah terjadinya edema dan memberikan kenyamanan. Bantal tidak diletakkan
di bawah lengan atas karena dapat menyebabkan terjadinya fleksi bahu
8. Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan
9. Dokumentasikan tndakan

Posisi Lateral (Side-Lying)


1. Cuci tangan dan gunakan sarung tangan jika diperlukan
2. Baringkan klien terlentang mendatar di tengah tempat tidur
3. Gulingkan klien hingga posisi miring
4. Letakkan bantal di bawah kepala dan leher klien
5. Fleksikan bahu bawah dan posisikan ke depan sehingga tubuh tidak menopang pada
bahu tersebut
6. Letakkan bantal di bawah lengan atas
7. Letakkan bantal di bawah paha dan kaki atas sehingga ekstemitas bertumpu secara
paralel dengan permukaan tempat tidur
8. Letakkan bantal guling di belakang punggung klien untuk menstabilkan posisi
9. Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan
10. Dokumentasikan tindakan
Posisi Sims
1. Cuci tangan dan gunakan sarung tangan jika diperlukan
2. Baringkan klien terlentang mendatar di tengah tempat tidur
3. Gulingkan klien hingga posisinya setengah telungkup, sebagian berbaring pada
abdomen
4. Letakkan bantal di bawah kepala klien
5. Atur posisi bahu atas sehingga bahu dan siku fleksi
6. Letakkan bantal di sela antara dada dan abdomen dan pada lengan atas serta
tempat tidur
7. Letakkan bantal pada area antara paha atas dan tempat tidur
8. Letakkan alat penopang di bawah telapak kaki klien
9. Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan

Merapikan pasien
1. Evaluasi perasaan klien
2. Lakukan kontrak selanjutnya dengan klien
3. Mencuci tangan

Evaluasi perasaan klien


Simpulkan hasil kegiatan
Lakukan kontrak untuk selanjutnya
Akhiri kegiatan
Cuci tangan dan keringkan
Dokumentasi
Catat hasil tindakan dan kesan dalam catatan keperawatan
SUB TOTAL 100
NILAI RATA-RATA 100
Keterangan :
Skor 1 : Tidak dilakukan Palembang,
Skor 2 : Dilakukan dengan banyak perbaikan/dilakukan* Penguji,
Skor 3 : Dilakukan dengan sedikit perbaikan
Skor 4 : Dilakukan dengan sempurna
Keterampilan rata-rata = total skor /56x 100 % = ……….
(..........................................)
AMBULASI DINI

A. DEFINISI AMBULASI
Ambulasi dini adalah tahapan kegiatan yang dilakukan segera pada pasien pasca operasi dimulai dari bangun
dan duduk sampai pasien turun dari tempat tidur dan mulai berjalan dengan bantuan alat sesuai dengan kondisi
pasien (Roper, 2002)
Ambulasi merupakan latihan yang dilakukan dengan hati-hati tanpa tergesa-gesa untuk memperbaiki sirkulasi
dan mencegah flebotrombosis (Hin Chiff, 1999)

B. MANFAAT AMBULASI
Menurut Asmadi (2008) manfaat Ambulasi adalah :
1. Mencegah dampak Immobilisasi pasca operasi meliputi :
 Sistem Integumen : kerusakan integritas kulit seperti Abrasi, sirkulasi yang terlambat yang
menyebabkan terjadinya Atropi akut dan perubahan turgor kulit.
 Sistem Kardiovaskuler : Penurunan Kardiak reserve, peningkatan beban kerja jantung, hipotensi
ortostatic, phlebotrombosis.
 Sistem Respirasi : Penurunan kapasitas vital, Penurunan ventilasi volunter maksimal, penurunan
ventilasi / perfusi setempat, mekanisme batuk yang menurun.
 Sistem Pencernaan : Anoreksi – Konstipasi, Penurunan Metabolisme.
 Sistem Perkemihan : Menyebabkan perubahan pada Eliminasi Urine, infeksi saluran kemih,
hiperkalsiuria
 Sistem Muskulo Skeletal : Penurunan masa otot, osteoporosis, pemendekan serat otot
 Sistem Neurosensoris : Kerusakan jaringan, menimbulkan gangguan syaraf pada bagian distal, nyeri
yang hebat.
2. Depresi
3. Perubahan tingkah laku
4. Perubahan siklus tidur
5. Perubahan kemampuan pemecahan masalah

Pembebanan berat badan (weight-bearing) pada kaki ditentukan oleh dokter bedah. Weight Bearing
adalahjumlah dari beban seorang pasien yang dipasang pada kaki yang dibedah.
*Tingkatan Weight Bearing dibedakan menjadi 5 (lima) yaitu:
1. Non weight bearing (NWB)
 Kaki tidak boleh menyentuh lantai
 NWB adalah 0 % dari beban tubuh, dilakukan selama 3 Minggu pasca operasi.
2. Touch Down Weight Bearing (TDWB)
 Berat dari kaki pada lantai saat melangkah tidak lebih dari 5% beban tubuh.
3. Partial Weight Bearing (PWB)
 Berat dapat berangsur ditingkatkan dari 30-50 % beban tubuh.
 Dilakukan 3-6 vMinggu pasca opersi.
4. Weight Bearing as Tolerated (WBAT)
 Tingkatannya dari 50 – 100 % beban tubuh
 Pasien dapat meningkatkan beban jika merasa sanggup melakukannya.
5. Full Weight Bearing (FWB)
 Kaki dapat membawa 100 % beban tubuh setiap melangkah
 Dilakukan 8-9 bulan pasca operasi (Prerson, 2002)

Macam-Macam Ambulasi :
1. Memindahkan klien dari tempat tidur (TT) ke kursi/ kursi roda
1). Memindahkan klien dari tempat tidur ke kursi
Pengertian : Memindahkan klien yang tirah baring ke kursi

2). Memindahkan klien dari tempat tidur (TT) ke kursi roda


Pengertian : Memindahkan klien dari tempat tidur ke kursi roda

2. Memindahkan klien dari tempat tidur (TT) ke brankard (TT) dan sebaliknya
1) Memindahkan klien dari TT ke brankard/ TT dan sebaliknya dengan cara diangkat.
2) Memindahkan klien dari TT ke brankar/ TT dan sebaliknya dengan easy move
3). Memindahkan klien dari TT ke brankard dan sebaliknya dengan Scoop Stretcher

3. Membantu klien berjalan


Tujuan: Memulihkan kembali toleransi aktivitas, Mencegah terjadinya kontraktur sendi dan flaksid otot

4. Membantu klien dengan alat bantu jalan (Kruk)


Tujuan : Membantu melatih kemampuan gerak klien, melatih dan meningkatkan mobilisasi.
Mencapai kestabilan klien dalam berjalan.

Aspek/Bobot ASPEK YANG DINILAI SKOR


1 2 3 4
Keterampilan (50%)
AMBULASI DINI PADA PASIEN
NBL = 100 Persiapan Iatihan fisik yang diperlukan pasien hingga memiliki
kemampuan ambulasi, antara lain :
a. a. Latihan otot-otot Quadriceps Femoris dan otot-otot Gluteal :
1. Kerutkan otot-otot quadriaps sambil berusaha menekan daerah
popliteal, seolah-olah ia menekan lututnya ke bawah sampai masuk
ke lutut sementara kakinya naik ke atas.Hitung sampai
hitungan kelima. Ulangi latihan ini 10 – 15 kali.
b. b. Latihan untuk menguatkan otot-otot ekstrimitas atas dan lingkar
bahu :
1. 1. Bengkokkan dan luruskan lengan pelan-pelan sambil memegang
berat traksi atau benda yang beratnya berangsur-angsur ditambah
dan junlah pengulangannya. Ini berguna untuk menambah kekuatan
otot ekstrimitas atas.
2. 2. Menekan balon karet. Ini berguna untuk meningkatkan kekuatan
genggaman.
3. 3. Angkat kepala dan bahu dari tempat tidur kemudian rentangkan
tangan sejauh mungkin.
4. 4. Duduk di tempat tidur, angkat tubuh dari tempat tidur, tahan
selama beberapa menit (Asmadi), 2008)

Tahap Pra Interaksi


Persiapan lingkungan yang harus di perhatikan adalah:
Berikan lingkungan yang nyaman bagi pasien (kondusif)
Tutup pintu atau gorden menjaga privacy pasien
Tahap Orientasi
Berikan salam, panggil klien dengan namanya
Jelaskan prosedur dan tujuan tindakan pada klien / keluarga
Tahap Kerja

Tahapan pelaksanaan Ambulasi Dini yang dilakukan pada


pasien pasca operasi yaitu:
1. 1. Sebelum pasien berdiri dan berjalan, nadi, pernafasan dan
tekanan darah pasien harus diperiksa terlebih dahulu.
2. 2. Jika pasien merasakan nyeri, perawat harus memberikan
medikasi pereda nyeri. 20 menit sebelum berjalan, karena
penggunaan otot untuk berjalan akan menyebabkan nyeri.
(Wahyuningsih, 2005)
3. 3. Pasien diajarkan duduk di tempat tidur, menggantungkan kakinya
beberapa menit dan melakukan nafas dalam sebelum berdiri.
Tindakan ini bertujuan untuk menghindari rasa pusing pada pasien.
4. 4. Selanjutnya pasien berdiri disamping tempat tidur selama
beberapa menit sampai pasien stabil. Pada awalnya pasien mungkin
hanya mampu berdiri dalam waktu yang singkat akibat hipotensi
ortostatik
5. 5. Jika pasien dapat berjalan sendiri, perawat harus berjalan dekat
pasien sehingga dapat membantu jika pasien tergelincir atau merasa
pusing (Wahyu Ningsih, 2005; Steven S. et al. 2000)
6. 6.Perawat dapat menggandeng lengan bawah pasien dan berjalan
bersama, Jika pasien tampak tidak mantap, tempatkan satu lengan
merangkul pinggul pasien untuk menyokong pasien pada siku.
7. 7. Setiap penolong harus memegang punggung lengan atas pasien
dengan satu tangan dan memegang lengan bawah dengan tangan
yang lain.
8. 8. Bila pasien mengalami pusing dan mulai jatuh, perawat
menggenggam lengan bawah dan membantu pasien duduk di atas
lantai atau di kursi terdekat (Wahyuningsih, 2005)
9. 9. Pasien diperkenankan berjalan dengan walker atau tongkat
biasanya dalam satu atau dua hari setelah pembedahan.Sasarannya
adalah berjalan secara mandiri.
10. Pasien yang mampu mentoleransi aktifitas yang lebih berat,
dapat dipindahkan ke kursi beberapa kali sehari selama waktu
singkat (Brunner & Suddarth, 2002)

SUB TOTAL
100
NILAI RATA-RATA
100
Keterangan :
Skor 1 : Tidak dilakukan
Skor 2 : Dilakukan dengan banyak perbaikan/dilakukan*
Skor 3 : Dilakukan dengan sedikit perbaikan
Skor 4 : Dilakukan dengan sempurna
Keterampilan rata-rata = total skor /56x 100 % = ………. Palembang,
Penguji,

(..........................................)

SKOR
Aspek/Bobot A SP E K Y A NG DI NI LA I
1 2 3 4
Keterampilan (50%) MEMINDAHKAN PASIEN DARI TEMPAT TIDUR KE KURSI RODA
NBL = 100 Persiapan Alat:
1. Kursi roda
2. Tempat tidur
Tahap Pra Interaksi
Persiapan lingkungan yang harus di perhatikan adalah:
Berikan lingkungan yang nyaman bagi pasien (kondusif)
Tutup pintu atau gorden menjaga privacy pasien
Tahap Orientasi
Berikan salam, panggil klien dengan namanya
Jelaskan prosedur dan tujuan tindakan pada klien / keluarga
Tahap Kerja
Cara Kerja:
1. Atur peralatan dengan tepat
a. Rendahkan posisi tempat tidur sampai pada posisi yang terendah
sehingga kaki klien dapat menyentuh lantai. Kunci semua roda
tempat tidur
b. Letakkan kursi roda sejajar dan sedekat mungkin dengan tempat
tidur. Kunci semua roda kursi roda
2. Siapkan dan kaji klien
a. Bantu klien pada posisi duduk di tepi tempat tidur dengan cara
membantu klien untuk duduk diatas tempat tidur kemudian turunkan
kaki klien hingga kaki klien menggantung di atas tempat tidur dan
meminta klien untuk bergerak ke depan hingga badan klien berada
di tepi tempat tidur
b. Kaji klien, apakah klien mengalami hipotensi postural sebelum
memindahkan klien dari tempat tidur
3. Berikan instruksi yang jelas pada klien
Minta klien untuk:
a. Bergerak ke depan dan duduk ditepi tempat tidur
b. Condongkan tubuh klien ke depan mulai dari pinggul
c. Letakkan kaki yang kuat di bawah tepi tempat tidur, sandarkan
kaki yang lemah berada didepannya
d. Letakkan tangan klien diatas permukaan tempat tidur atau diatas
kedua bahu peawat sehingga klien dapat mendorong tubuhnya sambil
berdiri
4. Siapkan posisi perawat dengan tepat
b. Berdiri tepat di depan klien
1) Condongkan tubuh ke depan, fleksikan pinggul, lutut dan
pergelagan kaki
2) Lebarkan kaki perawat dengan satu kaki di depan dan kaki yang lain
di belakang
c. Jika memungkinkan buatlah kaki klien sebagai cermin dari kaki
perawat
d. Lingkari punggung klien dengan kedua tangan perawat
e. Tegangkan otot gluteal, abdominal, kaki dan tangan perawat. Siapka
diri untuk melakukan pergerakan
5. Bantu klien untuk berdiri, kemudian bergerak bersama-sama
menuju kursi roda
a. Dalam 3 hitungan
Minta klien untuk menghentak dengan bagian kaki belakang,
kemudian menuju bagian belakang, kemudian menuju ke bagian
depan, ekstensikan persendian pada persedian ekstremitas bawah,
dan dorong atau tarik dengan kedua tangan, bersamaan dengan
perawat menarik dengan kaki bagian depan, menuju kaki bagian
belakang, ekstensikan persedian pada ekstermitas bawah, dan tarik
klien tepat menuju pusat gravitasi perawat pada posisi berdiri
b. Bantu klien pada posisi berdiri untuk beberapa saat
c. Bersama-sama memutar atau mengambil beberapa langkah menuju
kursi roda
6. Bantu klien untuk duduk
a. Minta klien untuk:
1) Membelakangi kursi roda
2) Meletakkan bagian kaki yang kuat di belakang kaki yang lemah
3) Menjaga kaki yang lainnya tetap berada di depan
4) Meletakkan kedua tangan diatas lengan kursi roda atau tetap pada
bahu perawat
b. Berdiri tepat di depan klien. Letakkan satu kaki di depan dan kaki
yang lainnya di belakang
c. Tegangkan otot gluteal, abdominal, dan lengan
d. Dalam 3 hitungan:
Minta klien untuk menggeser berat tubuhnya dengan jalan
memindahkannya ke kaki bagian belakang, merendahkan tubuh
sampai pada bagian tepi dari kursi roda dengan memfleksikan
persendian pada kaki, dan lengan bersamaan dengan perawat
menggeser berat tubuhnya dengan melangkah ke belakang dengan
menggunakan kaki depan dan merendahkan klien sampai di atas
kursi roda
7. Pastikan keselamatan klien
a. Minta klien untuk meggeser duduknya sampai pada posisi yang
paling aman dan nyaman
b. Turunkan tatakan kaki dan letakkan kedua kaki klien di atasnya

1. Merapikan pasien
2. Evaluasi perasaan klien
3. Lakukan kontrak selanjutnya dengan klien
4. Mencuci tangan
Evaluasi perasaan klien
Simpulkan hasil kegiatan
Lakukan kontrak untuk selanjutnya
Akhiri kegiatan
Cuci tangan dan keringkan
Dokumentasi
Catat hasil tindakan dan kesan dalam catatan keperawatan
SUB TOTAL 100
NILAI RATA-RATA 100
Keterangan :
Skor 1 : Tidak dilakukan Palembang,
Skor 2 : Dilakukan dengan banyak perbaikan/dilakukan* Penguji,
Skor 3 : Dilakukan dengan sedikit perbaikan
Skor 4 : Dilakukan dengan sempurna
Keterampilan rata-rata = total skor /56x 100 % = ……….
(..........................................)

MEMBANTU KLIEN PINDAH KEATAS TEMPAT TIDUR(1/2 PERAWAT)


FORMAT PENILAIAN KOMPETENSI

Aspek/Bobot A SP E K Y A NG DI NI LA I SKOR
1 2 3 4
Keterampilan (50%) MEMBANTU KLIEN PINDAH KEATAS TEMPAT TIDUR
NBL = 100 1. Kaji tingkat kenyamanan,toleransi aktivitas,kekuatan otot dan
mobilisasi klien
2. Tinggi kan tempat tidur dengan ketinggian yang nyaman untuk
bekerja
3. Pindahkan bantal dan alat bantu yang digunakan klien pada
posisi sebelumnya
4. Dapatkan bantuan tambahan bila diperlukan
5. Jelaskan prosedur pada klien
6. Cuci tangan
7. letakkan tempat tidur pada posisi datar dengan roda tempat
tidur terkunci
Tahap Pra Interaksi
Persiapan lingkungan yang harus di perhatikan adalah:
Berikan lingkungan yang nyaman bagi pasien (kondusif)
Tutup pintu atau gorden menjaga privacy pasien
Tahap Orientasi
Berikan salam, panggil klien dengan namanya
Jelaskan prosedur dan tujuan tindakan pada klien / keluarga
Tahap Kerja
1. Lengkapi Persiapan

2. Letakkan klien bebaring pada bagian kepala tempat


tidur ratamemudahkan perawat mengkaji kesejajaran
tubuh.mengurangi tarikan gravitasi pada tubuh klien
bagian atas

3. Letakkan bantal dikepala tempat tidurmencegah


kepala klien membentur tempat tidur

4. Hadapkan kepala tempat tidur


a.jika 2 perawat membantu klien setiap perawat harus
meletakkan satu lengan nya dibawah bahu klien,dan
lengan lain berada dibawah paha

b.posisi alternative.posisi satu perawat dibagian atas tubuh


klien.lengan perawat yang terdekat dengan bagian kepala tempat
tidur harus berada dibawah kepala klien dan berlawanan dengan
bahu.lengan lain harus dibawah lengan terdekat dari bahu
klien.posisi perawat lain berada pada bagian bawah tubuh
klien.lengan perawat harus berada dibawah punggung bagian
bawah dan batang tubuh klien
5. Letakkan kaki terbuka dengan kaki terbuka dibagian
kepala tempat tidur dibelakang kaki yang lain.

6. Minta klien untuk memfleksikan lututnya dengan kaki


rata pada tempat tidurmemudahkan klien
mnggunakan otot femoral selama bergerak

7. Instruksikan klien untuk memfleksikan


lehernya,miringkan dagu kearah dadamencegah
hyperekstensi pada leher

8. Instruksikan klien untuk membantu dengan mendorong


kakinya pada permukaan tempat tidurmeningkatkan
mobilisasi klien

9. Infleksikan lutut dan pinggul perawat,bawa lengan


bawah perawat lebih dekat tempat tidur

10. Instruksikan klien untuk mendorong dengan


tumitmempersiapakn klien pindah

11. Pada hitungan ketiga,goyang dan ubah berat dari kaki


depan ke kaki belakangmenggoyang memungkinkan
perawat mencapai keseimbangan

Simpulkan hasil kegiatan


Lakukan kontrak untuk selanjutnya
Akhiri kegiatan
Cuci tangan dan keringkan
Dokumentasi
Catat hasil tindakan dan kesan dalam catatan keperawatan
SUB TOTAL 100
NILAI RATA-RATA 100
Keterangan :
Skor 1 : Tidak dilakukan
Skor 2 : Dilakukan dengan banyak perbaikan/dilakukan*
Skor 3 : Dilakukan dengan sedikit perbaikan
Skor 4 : Dilakukan dengan sempurna
Keterampilan rata-rata = total skor /56x 100 % = ……….

Palembang,
Penguji,

(..........................................)
KONSEP TEORI GIPS

1. Definisi
Gips adalah suatu bubuk campuran yang digunakan untuk membungkus secara keras area yang mengalami
patah tulang.
Gips adalah imobilisasi eksternal yang kaku yang dicetak sesuai kontur tubuh tempat gips dipasang ( brunner
dan suddart, 2000 ).
Gips adalah balutan ketat yang digunakan untuk immobilisasi bagian tubuh dengan menggunakan bahan gips
tioe plester dan fiberglass (Barbara Engram ,1999).
Jadi gips adalah alat immobilisasi eksternal yag terbuat dari bahan mineral yang terdapat di alam dengan
formula khusus dengan tipe plster atau fiberglass.

2. Tujuan Pemasangan Gips


untuk menyatukan kedua bagian tulang yang patah agar tak bergerak sehingga dapat menyatu dan fungsinya
pulih kembali dengan cara mengimobilisasi tulang yang patah tersebut dalam posisi tertentu dan memberikan
tekanan yang merata pada jaringan lunak yang terletak didalamnya.
a. Imobilisasi kasus pemasangan dislokasia sendi.
b. Fiksasai fraktur yang telah direduksi.
c. Koreksi cacat tulang (mis., skoliosis ).
d. Imobilisasi pada kasus penyakit tulang satelah dilakukan operasi (mis.,spondilitis)
e. Mengoreksi deformitas.

3. Jenis – Jenis Gips


Kondi si yang ditangani dengan gips menentukan jenis dan ketebalangips yang dipasang. Jenis-jenis gips
sebagai berikut:
1. Gips lengan pendek.
Gips ini dipasang memanjang dari bawah siku sampai lipatan telapak tanga, dan melingkar erat didasar ibu
jari.
2. Gips lengan panjang.
Gips ini dipasang memanjang. Dari setinggi lipat ketiak sampai disebelah prosimal lipatan telapak tangan. Siku
biasanya di imobilisasi dalam posisi tegak lurus.
3. Gips tungkai pendek.
Gips ini dipasang memanjang dibawah lutut sampai dasar jari kaki, kaki dalam sudut tegak lurus pada posisi
netral,
4. Gips tungkai panjang
Gips ini memanjang dari perbatasan sepertiga atas dan tengah paha sampai dasar jari kaki, lutut harus sedikit
fleksi.
5. Gips berjalan.
Gips tungkai panjang atau pendek yang dibuat lebih kuat dan dapat disertai telapak untuk berjalan
6. Gips tubuh.
Gips ini melingkar di batang tubuh
7. Gips spika.
Gips ini melibatkan sebagian batang tubuh dan satu atau dua ekstremitas (gips spika tunggal atau ganda)
8. Gips spika bahu.
Jaket tubuh yang melingkari batang tubuh, bahu dan siku
9. Gips spika pinggul.
Gips ini melingkari batang tubuh dan satu ekstremitas bawah (gips spika tunggal atau ganda)

Bentuk – Bentuk Pemasangan Gips


a. Bentuk lembaran sehingga gips menutup separuh atau dua pertiga lingkaran permukaan anggota gerak.
b. Gips lembaran yang dipasang pada kedua sisi antero-posterior anggota gerak sehingga merupakan gips
yang hampir melingkar.
c. Gips sirkuler yang dipasang lengkap meliputi seluruh anggota gerak.
d. Gips yang ditopang dengan besi atau karet dan dapat dipakai untuk menumpu atau berjalan pada patah
tulang anggota gerak bawah

6. Indikasi Pemasangan Gips


a. Untuk pertolongan pertama pada faktur (berfungsi sebagai bidal).
b. Imobilisasi sementara untuk mengistirahatkan dan mengurangi nyeri misalnya gips korset pada
tuberkulosis tulang belakang atau pasca operasi seperti operasi pada skoliosis tulang belakang.
c. Sebagai pengobatan definitif untuk imobilisasi fraktur terutama pada anak-anak dan fraktur tertentu pada
orang dewasa.
d. Mengoreksi deformitas pada kelainan bawaan misalnya pada talipes ekuinovarus kongenital atau pada
deformitas sendi lutut oleh karena berbagai sebab.
e. Imobilisasi untuk mencegah fraktur patologis.
f. Imobilisasi untuk memberikan kesempatan bagi tulang untuk menyatu setelah suatu operasi misalnya
pada artrodesis.
g. Imobilisas setelah operasi pada tendo-tendo tertentu misalnya setelah operasi tendo Achilles.
h. Dapat dimanfaatkan sebagai cetakan untuk pembuatan bidai atau protesa.

Aspek/Bobot ASPEK YANG DINILAI SKOR


1 2 3 4
Keterampilan (50%)
GIPS
NBL = 100 Peralatan
- Plester / perban sintetik yang dapat dilebarkan
- Perban gulungan / perban elastik
- Lembaran gips berbentuk anyaman kecil
- Bidai untuk penguat
- Busa gips dari katun, poliester/poliethan untuk menyangga
tulang
- Pisau
- Gunting
- Spidol permanen
- Beberapa lembar polietilen/koran untuk alas lantai
- Sarung tangan sekali pakai untuk melindungi tangan operator
- Wadah plastik besar berisi air bersuhu ruang 21-24° C atau
sesuai petunjuk dari pabrik gips
- Krem tangan yang dipakai setelah pemasangan gips sintetik

Tahap Pra Interaksi


Persiapan lingkungan yang harus di perhatikan adalah:
Berikan lingkungan yang nyaman bagi pasien (kondusif)
Tutup pintu atau gorden menjaga privacy pasien
Tahap Orientasi
Berikan salam, panggil klien dengan namanya
Jelaskan prosedur dan tujuan tindakan pada klien / keluarga
Tahap Kerja

Prosedur
1. Mencuci tangan
2. Membentangkan polietilen/koran di lantai
3. Menjelaskan pada klien apa yang akan dirasakan (rasa
hangat pada saat pemasangan perban)
4. Mengukur perban gulung dan lembaran gips pada bagian
ekstremitas yang akan di imobilisasikan
- Lembar gips diatur sedemikian rupa agar teratur masing-
masing tersusun berlapis sampai habis ½ rol gips
- Beberapa lembar gips tambahan diletakkan diatas untuk
penyangga tulang okranon, maleoli dan patella
- Lembar gips dipasang dari ujung distal sampai pada
proksimal ektremitas. Bila terlalu banyak gips yang digunakan akan
memungkinkan pemborosan dan menekan daerah dibawah
pemasangan gips.
- Bagian tengah balutan perban tetap tegak pada air (suhu
ruangan) untuk beberapa menit dan menjadi lunak agar mudah
digunakan. Periksa langsung bahan gips sintetik
- Memeriksa efek air terhadap kekuatan rekat/tidak lentur
pada tengah balutan oleh operator dengan hati-hati agar tak jatuh.
Kekuatan maksimal dihasilkan oleh gips sintetik dari reaksi kimia
5. Mulai dari ujung distal, balutkan gips dengan baik dan tepat
pada ektremitas, secara berlapis sampai habis ½ rol. Jaga gerakan
gips dan tetap menempel dengan baik pada permukaan ektremitas.
Secara hati-hati kombinasikan balutan berurutan kebawah dan
balikkan tiap balutan menuju ke posisi bawah dengan tungkai dan
tulang jari (ujung jari) secara melingkat atau memanjang. Jaga
kombinasi susunan bawah gips agar sejajar dengan permukaan
gips (tanpa penekanan) dan berlapis-lapis sehingga membentuk
gambaran huruf V.
6. Potong gips sesuai ukuran dengan pisau tajam. Pasang
perban gulung diatas susunan gips dan sesuaikan dengan bahan
gips
7. Mengakhiri pemasangan gips dengan krem tangan gips untuk
menjaga agar permukaan kulit luar tetap halus
8. Tanyakan pada klien jika hal ini menyebabkan ketidak
nyamanan atau nyeri
9. Mencatat diagnosa dan data kecelakaan dan pemasangan
gips dengan spidol permanen pada permukaan gips setelah
mengering
10. Menghindarkan gips terhadap jari-jari tangan selama pasien
bergerak. Keringkan dengan menganginkan gips agar hangat,
sirkulasi lancar dan alirkan udara. Atau kipaskan udara diatas gips
dengan kipas berputar untuk mempercepat penguapan air.
11. Mendokumentasikan prosedur dan respons klien pada catatan
klien.

SUB TOTAL
100
NILAI RATA-RATA
100
Keterangan :
Skor 1 : Tidak dilakukan
Skor 2 : Dilakukan dengan banyak perbaikan/dilakukan*
Skor 3 : Dilakukan dengan sedikit perbaikan
Skor 4 : Dilakukan dengan sempurna
Keterampilan rata-rata = total skor /56x 100 % = ……….

Palembang,
Penguji,

(..........................................)

TRAKSI
A. DEFINISI

Traksi adalah Suatu pemasangan gaya tarikan pada bagian tubuh. Traksi digunakan untuk meminimalkan

spasme otot ; untuk mereduksi, mensejajarkan, dan mengimobilisasi fraktur ; untuk mengurangi deformitas,

dan untuk menambah ruangan diantara kedua permukaan patahan tulang. Traksi harus diberikan dengan

arah dan besaran yang diinginka untuk mendapatkan efek terapeutik. Faktor-faktor yang mengganggu
keefekktifan tarikan traksi harus dihilangkan (Smeltzer & Bare, 2001 ).

Traksi merupakan metode lain yang baik untuk mempertahankan reduksi ektermitas yang mengalami fraktur

(Wilson, 1995 ).

Keuntungan pemakaian traksi

1. Menurunkan nyeri spasme

2. Mengoreksi dan mencegah deformitas

3. Mengimobilisasi sendi yang sakit

Kerugian pemakaian traksi

1. Perawatan RS lebih lama

2. Mobilisasi terbatas

3. Penggunaan alat-alat lebih banyak.

Beban traksi

1. Dewasa = 5 - 7 Kg

2. Anak = 1/13 x BB (Barbara, 1998).

B. INDIKASI

1. Traksi rusell digunakan pada pasien fraktur pada plato tibia

2. Traksi buck, indikasi yang paling sering untuk jenis traksi ini adalah untuk mengistirahatkan sendi lutut

pasca trauma sebelum lutut tersebut diperiksa dan diperbaiki lebih lanjut

3. Traksi Dunlop merupakan traksi pada ektermitas atas. Traksi horizontal diberikan pada humerus dalam

posisi abduksi, dan traksi vertical diberikan pada lengan bawah dalm posisi flexsi.

4. Traksi kulit Bryani sering digunakan untuk merawat anak kecil yang mengalami patah tulang paha

5. Traksi rangka seimbang ini terutama dipakai untuk merawat patah tulang pada korpus pemoralis orang

dewasa

6. Traksi 90-90-90 pada fraktur tulang femur pada anak-anak usia 3 thn sampai dewasa muda (Barbara,

1998).

C. TUJUAN PEMASANGAN

Traksi digunakan untuk meminimalkan spasme otot, untuk mereduksi, mensejajarkan, dan mengimobilisasi

fraktur, untuk mengurangi deformitas, untuk menambah ruang diantara dua permukaan antara patahan
tulang.

1. Traksi harus diberikan dengan arah dan besaran yang diinginkan untuk mendapatkan efek terapeutik,

tetapi kadang-kadang traksi harus dipasang dengan arah yang lebih dari satu untuk mendapatkan garis

tarikan yang diinginkan (Barbara, 1998).

D. JENIS- JENIS TRAKSI

1. Traksi kulit

Traksi kulit digunakan untuk mengontrol sepasme kulit dan memberikan imobilisasi . Traksi kulit apendikuler (

hanya pada ektermitas digunakan pada orang dewasa) termasuk “ traksi ektensi Buck, traksi russell, dan

traksi Dunlop”.

a. Traksi buck

Ektensi buck ( unilateral/ bilateral ) adalah bentuk traksi kulit dimana tarikan diberikan pada satu bidang bila

hanya imobilisasi parsial atau temporer yang diinginkan . Digunakan untuk memberikan rasa nyaman setelah

cidera pinggulsebelum dilakukan fiksasi bedah (Smeltzer & Bare,2001 ).

Traksi buck merupakan traksi kulit yang paling sederhana, dan paling tepat bila dipasang untuk anak muda

dalam jangka waktu yang pendek. Indikasi yang paling sering untuk jenis traksi ini adalah untuk

mengistirahatkan sendi lutut pasca trauma sebelum lutut tersebut diperiksa dan diperbaiki lebih lanjut

(Wilson, 1995 ).

Mula- mula selapis tebal semen kulit, tingtura benzoid atau pelekat elastis dipasang pada kulit penderita

dibawah lutut. Kemudian disebelah distal dibawah lutut diberi stoking tubular yang digulung, kemudian

plester diberikan pada bagian medikal dan lateral dari stoking tersebut lalu stoking tersebut dibungkus lagi

dengan perban elastis. Ujung plester traksi pada pergelangan kaki di hubungkan dengan blok penyebar guna

mencegah penekanan pada maleoli. Seutas tambang yang diikat ketengah blok penyebar tersebut kemudian

dijulurkan melalui kerekan pada kaki tempat tidur. Jarang dibutuhkan berat lebih dari 5 lb. penggunaan traksi

kulit ini dapat menimbulkan banyak komplikasi. Ban perban elastis yang melingkar dapat mengganggu

sirkulasi yang menuju kekaki penderita, yang sebelumnya sudah menderita penyakit vaskular. Alergi kulit

terhadap plester juga dapat menumbuhkan masalah. Kalau tidak dirawat dengan baik mungkin akan

menimbulkan ulserasi akibat tekanan pada maleolus. Traksi berlebih dapat merusak kulit yang rapuh pada

orang yang berusia lanjut. Bahkan untuk peenderita dewasa lebih disukai traksi pin rangka, terutama bila

perawatan harus dilakukan selama beberapa hari.

b. Traksi Russell
Dapat digunakan pada fraktur plato tibia, menyokong lutut yang fleksi pada penggantung dan memberikan

gaya tarik horizontal melalui pita traksi balutan elastis ketungkai bawah. Bila perlu, tungkai dapat disangga

dengan bantal agar lutut benar- benar fleksi dan menghindari tekanan pada tumit (Smeltzer & Bare, 2001 ).

Masalah yang paling sering dilihat pada traksi Russell adalah bergesernya penderita kebagian kaki ketempat

tidur,sehingga kerekan bagian distal saling berbenturan dan beban turun kelantai. Mungkin perlu ditempatkan

blok-blok dibawah kaki tempat tidur sehingga dapat memperoleh bantuan dari gaya tarik bumi (Wilson,

1995).

Walaupun traksi rangka seimbang dapat digunakan untuk menangani hampir semua fraktur femur, reduksi

untuk fraktur panggul mungkin lebih sering diperoleh dengan memakai traksi Russell dalam keadaan ini paha

disokong oleh beban. Traksi longitudinal diberikan dengan menempatkan pin dengan posisi tranversal

melalui tibia dan fibula diatas lutut. Efek dari rancangan ini adalah memberikan kekuatan traksi ( berasal dari

gaya tarik vertikal beban paha dan gaya tarik horizontal dari kedua tali pada kaki ) yang segaris dengan

tulang yang cidera dengan kekuatan yang sesuai. Jenis traksi paling sering digunakan untuk memberi rasa

nyaman pada pasien yang menderita fraktur panggul selama evaluasi sebelum operasi dan selama

persiapan pembedahan. Meskipun traksi Russell dapat digunakan sebagai tindakan keperawatan yang

utama dan penting untuk patah tulang panggul pada penderita tertentu tetapi pada penderita usia lanjut dan

lemah biasanya tidak dapat mengatasi bahya yang akan timbul karena berbaring terlalu lama ditempat tidur

seperti dekubitus, pneumonia, dan tromboplebitis.

c. Traksi Dunlop

Adalah traksi pada ektermitas atas. Traksi horizontal diberikan pada lengan bawah dalam posisi fleksi.

d. Traksi kulit bryant

Traksi ini sering digunakan untuk merawat anak kecil yang mengalami patah tulang paha. Traksi Bryant

sebaiknya tidak dilakukan pada anak-anak yang berat badannya lebih dari 30 kg. kalau batas ini dilampaui

maka kulit dapat mengalami kerusakan berat.

2. Traksi skelet

Traksi skelet dipasang langsung pada tulang. Metode traksi ini digunakan paling sering untuk menangani

fraktur femur, tibia, humerus dan tulang leher. Kadang- kadang skelet traksi bersifat seimbang yang

menyokong ekstermitas yang terkena, memungkinkan gerakan pasien sampai batas- batas tertentu dan

memungkinkan kemandirian pasien maupun asuh keperawatan sementara traksi yang efektif tetap

dipertahankan yang termasuk skelet traksi adalah sebagai berikut (Smeltzer & Bare,2001 ).
a. Traksi rangka seimbang

Traksi rangka seimbang ini terutama dipakai untuk merawat patah tulang pada korpus femoralis orng

dewasa. Sekilas pandangan traksi ini tampak komplek, tetapi sesunguhnya hanyalah satu pin rangka yang

ditempatkan tramversal melalui femur distal atau tibia proksimal. Dipasang pancang traksi dan tali traksi

utama dipasang pada pancang tersebut. Ektermitas pasien ditempatkan dengan posisi panggul dan lutut

membentuk sekitar 35° , kerekan primer disesuaikan sedemikian sehingga garis ketegangan koaksial

dengan sumbu longitudinal femur yang mengalami fraktur. Beban yang cukup berat dipasang sedemikian

rupa mencapai panjang normalnya. Paha penderita disokong oleh alat parson yang dipasang pada bidai

tomas alat parson dan ektermitas itu sendiri dijulurkan dengan tali, kerekan dan beban yang sesuai sehingga

kaki tergantung bebas diudara. Dengan demikian pemeliharaan penderita ditempat tidur sangat mudah.

Bentuk traksi ini sangat berguna sekali untuk merawat berbagai jenis fraktur femur. Seluruh bidai dapat

diadduksi atau diabduksi untuk memperbaiki deformitas angular pada bidang medle lateral fleksi panggul dan

lutut lebih besar atau lebih kecil memungkinkan perbaikan lateral posisi dan angulasi alat banyak memiliki

keuntungan antara lain traksi elefasi keaksial. Longitudinal pada tulang panjang yang patah, ektermitas yang

cidera mudah dijangkau untuk pemeriksaan ulang status neuro vascular, dan untuk merawat luka lokal serta

mempermudah perawatan oleh perawat. Seperti bentuk traksi yang mempergunakan pin rangka, pasien

sebaiknya diperiksa setiap hari untuk mengetahui adanya peradangan atau infeksi sepanjang pin, geseran

atau pin yang kendor dan pin telah tertarik dari tulang (Wilson, 1995 ).

b. Traksi 90-90-90

Traksi 90-90-90 sangat berguna untuk merawat anak- anak usia 3 tahun sampai dewasa muda. kontrol

terhadap fragmen – fragmen pada fraktur tulang femur hamper selalu memuaskan dengan traksi 90-90-90

penderita masih dapat bergerak dengan cukup bebas diatas tempat tidur (Wilson, 1995 ).

E. PRINSIP PEMASANGAN TRAKSI

Traksi harus dipasang dengan arah lebih dari satu untuk mendapatkan garis tarikan yang diinginkan. Dengan

cara ini, bagian garis tarikan yang pertama berkontraksi terhadap garis tarikan lainnya. Garis-garis tersebut

dikenal sebagai vektor gaya. Resultanta adalah gaya tarikan yang sebenarnya terletak di tempat diantara

kedua garis tarikan tersebut. Efek traksi yang dipasang harus dievaluasi dengan sinar X, dan mungkin

diperlukan penyesuaian. Bila otot dan jaringan lunak sudah rileks, berat yang digunakan harus diganti untuk

memperoleh gaya tarikan yang diinginkan.


Traksi lurus atau langsung memberikan gaya tarikan dalam satu garis lurus dengan bagian tubuh berbaring

di tempat tidur. Traksi ektensi buck dan traksi pelvis merupakan contoh traksi lurus.

Traksi suspensi seimbang memberikan dukungan pada ektermitas yang sakit diatas tempat tidur sehingga

memungkinkan mobilisasi pasien sampai batas tertentu yanpa terputus garis tarikan. Tarikan dapat dilakukan

pada kulit ( traksi kulit ) atau langsung kesekelet tubuh (traksi skelet). Cara pemasangan ditentukan oleh

tujuan traksi

Traksi dapat dipasang dengan tangan (traksi manual). Ini merupakan traksi yang sangat sementara yang

bisa digunakan pada saat pemasangan gips, harus dipikirkan adanya kontraksi

Pada setiap pemasangan traksi, harus dipikirkan adanya kontraksi adalah gaya yang bekerja dengan arah

yang berlawanan ( hukum Newton III mengenai gerak, menyebutkan bahwa bila ada aksi maka akan terjadi

reaksi dengan besar yang sama namun arahnya yang berlawanan ) umumnya berat badan pasien dan

pengaturan posisi tempat tidur mampu memberikan kontraksi.

Walaupun hanya traksi untuk ektermitas bawah yang dijelaskan secara terinci, tetapi semua prinsip-prinsip

ini berlaku untuk mengatasi patah tulang pada ektermitas atas.

Imobilisasi dapat menyebabkan berkurangnya kekuatan otot dan densitas tulang dengan agak cepat, terapi

fisik harus dimulai segera agar dapat mengurangi keadaan ini.misalnya, seorang dengan patah tulang femur

diharuskan memakai kruk untuk waktu yang lama. Rencana latihan untuk mempertahankan pergerakan

ektermitas atas, dan untuk meningkatkan kekuatannya harus dimulai segera setelah cedera terjadinya

(Wilson, 1995 ).

Prinsip traksi efektif :

1. Kontraksi harus dipertahankan agar traksi tetap efektif

2. Traksi harus berkesinambungan agar reduksi dan imobilisasi fraktur efektif.

3. Traksi kulit pelvis dan serviks sering digunakan untuk mengurangi spasme otot dan biasanya diberikan

sebagai traksi intermiten.

4. Traksi skelet tidak boleh terputus.

5. Pemberat tidak boleh diambil kecuali bila traksi dimaksudkan intermiten. Setiap faktor yang dapat

mengurangi tarikan atau mengubah garis resultanta tarikan harus dihilangkan.

6. Tubuh pasien harus dalam keadaan sejajar dengan pusat tempat tidur ketika traksi dipasang.

7. Tali tidak boleh macet


8. Pemberat harus tergantung bebas dan tidak boleh terletak pada tempat tidur atau lantai

9. Simpul pada tali atau telapak kaki tidak boleh menyentuh katrol atau kaki tempat tidur.

10. Selalu dikontrol dengan sinar roentgen ( Brunner & suddarth,2001)


Aspek/Bobot ASPEK YANG DINILAI SKOR
1 2 3 4
Keterampilan (50%)
TRAKSI
NBL = 100 Peralatan

Tahap Pra Interaksi


Persiapan lingkungan yang harus di perhatikan adalah:
Berikan lingkungan yang nyaman bagi pasien (kondusif)
Tutup pintu atau gorden menjaga privacy pasien
Tahap Orientasi
Berikan salam, panggil klien dengan namanya
Jelaskan prosedur dan tujuan tindakan pada klien / keluarga
Tahap Kerja

SUB TOTAL
100
NILAI RATA-RATA
100
Keterangan :
Skor 1 : Tidak dilakukan
Skor 2 : Dilakukan dengan banyak perbaikan/dilakukan*
Skor 3 : Dilakukan dengan

sedikit perbaikan
Skor 4 : Dilakukan dengan sempurna
Keterampilan rata-rata = total skor /56x 100 % = ……….

Palembang,
Penguji,

(..........................................)
PEMERIKSAAN NEUROLOGIS

TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah memepelajarai keterampilan pemeriksaan neurologi mahasiswa mampu :
1. Mengetahui dan melakukan pengujian tingkat kesadaran
2. Mengetahui dan melakukan pengujian Tanda –tanda rangsangan otak
3. Mengetahui dan melakukan pemeriksaan untuk fungsi saraf pusat ( N. 1 – N. XII)
4. Mengetahui dan melakukan pemeriksaan fungsi koordinasi
5. Mengetahui dan melakukan pemeriksaan fungsi motoric
6. Mengetahui dan melakukan pemeriksaan fungsi sensibilitas
7. Mengetahui dan melakukan pemeriksaan reflek fisiologis pada ektremitas
8. Mengetahui dan melakukan pemeriksaan reflek patologis
9. Mengetahui dan melakukan pemeriksaan tanda meningeal
10. Mengetahui dan melakukan pemeriksaan provokasi sindrom nyeri

1. Menguji tingkat kesadaran


a. secara kualitatif
1. ComposMentis (conscious), yaitu kesadaran normal, sadar sepenuhnya, dapat
menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya.
2. Apatis, yaitu keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan
sekitarnya, sikapnya acuh tak acuh.
3. Delirium, yaitu gelisah, disorientasi (orang, tempat, waktu), memberontak,
berteriak-teriak, berhalusinasi, kadang berhayal.
4. Somnolen (Obtundasi, Letargi), yaitu kesadaran menurun, respon psikomotor yang
lambat, mudah tertidur, namun kesadaran dapat pulih bila dirangsang (mudah
dibangunkan) tetapi jatuh tertidur lagi, mampu memberi jawaban verbal.
5. Stupor (soporo koma), yaitu keadaan seperti tertidur lelap, tetapi ada respon
terhadap nyeri.
6. Coma (comatose), yaitu tidak bisa dibangunkan, tidak ada respon terhadap
rangsangan apapun (tidak ada respon kornea maupun reflek muntah, mungkin juga
tidak ada respon pupil terhadap cahaya).

b. Secara Kuantitatif dengan GCS ( Glasgow Coma Scale )


1. Menilai respon membuka mata (E)
(4) : spontan
(3) : dengan rangsang suara (suruh pasien membuka mata).
(2) : dengan rangsang nyeri (berikan rangsangan nyeri, misalnya menekan kuku
jari)
(1) : tidak ada respon

2. Menilai respon Verbal/respon Bicara (V)


(5) : orientasi baik
(4) : bingung, berbicara mengacau ( sering bertanya berulang-ulang ) disorientasi
tempat dan waktu.
(3) : kata-kata saja (berbicara tidak jelas, tapi kata-kata masih jelas, namun tidak
dalam satu kalimat. Misalnya “aduh…, bapak…”)
(2) : suara tanpa arti (mengerang)
(1) : tidak ada respon

3. Menilai respon motorik (M)


(6) : mengikuti perintah
(5) : melokalisir nyeri (menjangkau & menjauhkan stimulus saat diberi rangsang
nyeri)
(4) : withdraws (menghindar / menarik extremitas atau tubuh menjauhi stimulus
saat diberi rangsang nyeri)
(3) : flexi abnormal (tangan satu atau keduanya posisi kaku diatas dada & kaki
extensi saat diberi rangsang nyeri).
(2) : extensi abnormal (tangan satu atau keduanya extensi di sisi tubuh, dengan jari
mengepal & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri).
(1) : tidak ada respon

Hasil pemeriksaan tingkat kesadaran berdasarkan GCS disajikan dalam simbol E…V…M…
Selanutnya nilai-nilai dijumlahkan. Nilai GCS yang tertinggi adalah 15 yaitu E4V5M6 dan
terendah adalah 3 yaitu E1V1M1

Setelah dilakukan scoring maka dapat diambil kesimpulan :


(Compos Mentis(GCS: 15-14) / Apatis (GCS: 13-12) / Somnolen(11-10) / Delirium (GCS: 9-
7)/ Sporo coma (GCS: 6-4) / Coma (GCS: 3))

2. Memeriksa tanda-tanda rangsangan otak


Adakah Peningkatan suhu tubuh, nyeri kepala, kaku kuduk, mual – muntah, kejang

a. Pemeriksaan Kaku kuduk


b. Pemeriksaan Kernig
o Posisikan pasien untuk tidur terlentang
o Fleksikan sendi panggul tegak lurus (90°)dengan tubuh, tungkai atas dan bawah
pada posisi tegak lurus pula.
o Setelah itu tungkai bawah diekstensikan pada persendian lutut sampai
membentuk sudut lebih dari 135° terhadap paha.
o Bila teradapat tahanan dan rasa nyeri sebelum atau kurang dari sudut 135°, karena
nyeri atau spasme otot hamstring / nyeri sepanjang N.Ischiadicus, sehingga
panggul ikut fleksi dan juga bila terjadi fleksi involuter pada lutut kontralateral
maka dikatakan Kernig sign positif.
c. Pemeriksaan Brudzinski
1) Brudzinski I (Brudzinski’s neck sign)

Pasien berbaring dalam sikap terlentang, tangan kanan ditempatkan dibawah


kepala pasien yang sedang berbaring , tangan pemeriksa yang satu lagi
ditempatkan didada pasien untuk mencegah diangkatnya badan kemudian kepala
pasien difleksikan sehingga dagu menyentuh dada. Brudzinski I positif bila
gerakan fleksi kepala disusul dengan gerakan fleksi di sendi lutut dan panggul
kedua tungkai secara reflektorik.

2). Brudzinski II

Pasien berbaring terlentang. Tungkai yang akan dirangsang difleksikan pada sendi
lutut, kemudian tungkai atas diekstensikan pada sendi panggul.

3). Brudzinski III (Brudzinski’s Check Sign)

Pasien tidur terlentang tekan pipi kiri kanan dengan kedua ibu jari pemeriksa tepat
di bawah os ozygomaticum.

1) Brudzinski IV (Brudzinski’s Symphisis Sign)

3. Pemeriksaan Nervus
a. Nervus I Olpaktorius (pembau)
Anjurkan klien mengidentifikasi berbagai macam jenis bau-bauan dengan
memejamkan mata, gunakan bahan yang tidak merangsang seperti kopi, tembakau,
parfum atau rempah-rempah

b. Nervus II Optikus (Penglihatan)

4) Pemeriksaan penglihatan sentral (visual acuity)


Dengan Kartu snellen, Pada pemeriksaan kartu memerlukan jarak enam meter
antara pasien dengan tabel, jika tidak terdapat ruangan yang cukup luas,
pemeriksaan ini bisa dilakukan dengan cermin. Ketajaman penglihatan normal
bila baris yang bertanda 6 dapat dibaca dengan tepat oleh setiap mata (visus 6/6)

5) Pemeriksaan Penglihatan Perifer


Pemeriksaan penglihatan perifer dapat menghasilkan informasi tentang saraf
optikus dan lintasan penglihatan mulai dari mata hingga korteks oksipitalis. Dapat
dilakukan dengan:
Tes Konfrontasi, Jarak antara pemeriksa – pasien : 60 – 100 cm, Objek yang
digerakkan harus berada tepat di tengah-tengah jarak tersebut. Objek yang
digunakan (2 jari pemeriksa / ballpoint) di gerakan mulai dari lapang pandang
kanan dan kiri (lateral dan medial), atas dan bawah dimana mata lain dalam
keadaan tertutup dan mata yang diperiksa harus menatap lurus ke depan dan tidak
boleh melirik ke arah objek tersebut. Syarat pemeriksaan lapang pandang
pemeriksa harus normal.
3) Refleks Pupil
a) Respon cahaya langsung
Pakailah senter kecil, arahkan sinar dari samping (sehingga pasien tidak
memfokus pada cahaya dan tidak berakomodasi) ke arah salah satu pupil untuk
melihat reaksinya terhadap cahaya. Inspeksi kedua pupil dan ulangi prosedur
ini pada sisi lainnya. Pada keadaan normal pupil yang disinari akan mengecil.
b) Respon cahaya konsensual
Jika pada pupil yang satu disinari maka secara serentak pupil lainnya mengecil
dengan ukuran yang sama.

4) Pemeriksaan fundus occuli (fundus kopi)


Digunakan alat oftalmoskop. Putar lensa ke arah O dioptri maka fokus dapat
diarahkan kepada fundus, kekeruhan lensa (katarak) dapat mengganggu
pemeriksaan fundus. Bila retina sudah terfokus carilah terlebih dahulu diskus
optikus. Caranya adalah dengan mengikuti perjalanan vena retinalis yang besar ke
arah diskus. Semua vena-vena ini keluar dari diskus optikus.

5) Tes warna
Untuk mengetahui adanya polineuropati pada n. optikus

c. Nervus III , Oculomotorius

1) Ptosis
Pada keadaan normal bila seseorang melihat ke depan maka batas kelopak mata
atas akan memotong iris pada titik yang sama secara bilateral. Ptosis dicurigai bila
salah satu kelopak mata memotong iris lebih rendah dari pada mata yang lain,
atau bila pasien mendongakkan kepala ke belakang / ke atas (untuk kompensasi)
secara kronik atau mengangkat alis mata secara kronik pula.

2) Gerakan bola mata


Pasien diminta untuk melihat dan mengikuti gerakan jari atau ballpoint ke arah
medial, atas dan bawah, sekaligus ditanyakan adanya penglihatan ganda (diplopia)
dan dilihat ada tidaknya nistagmus. Sebelum pemeriksaan gerakan bola mata
(pada keadaan diam) sudah dilihat adanya strabismus (juling) dan deviasi
conjugate ke satu sisi.

3) Pemeriksaan pupil meliputi :


a) Bentuk dan ukuran pupil
b) Perbandingan pupil kanan dan kiri
c) Refleks pupil, Meliputi pemeriksaan:
 Refleks cahaya langsung (bersama N. II)
 Refleks cahaya tidak langsung (bersama N. II)
 Refleks pupil akomodatif atau konvergensi

d. Nervus IV, Throclearis


Pergerakan bola mata ke bawah dalam, gerak mata ke lateral bawah, strabismus
konvergen, diplopia

e. Nervus V, Thrigeminus :
- Cabang optalmicus : Memeriksa refleks berkedip klien dengan menyentuhkan
kapas halus saat klien melihat ke atas
- Cabang maxilaris : Memeriksa kepekaan sensasi wajah, lidah dan gigi
- Cabang Mandibularis : Memeriksa pergerakan rahang dan gigi

c. Nervus VI, Abdusen


Pergerakan bola mata ke lateral

d. Nervus VII, Facialis


Pemeriksaan fungsi motorik : mengerutkan dahi (dibagian yang lumpuh lipatannya
tidak dalam), mimik, mengangkat alis, menutup mata (menutup mata dengan rapat
dan coba buka dengan tangan pemeriksa), moncongkan bibir atau menyengir,
memperlihatkan gigi, bersiul (suruh pasien bersiul, dalam keadaan pipi mengembung
tekan kiri dan kanan apakah sama kuat. Bila ada kelumpuhan maka angin akan keluar
kebagian sisi yang lumpuh)

e. Nervus VIII, Auditorius/vestibulokokhlearis


Memeriksa ketajaman pendengaran klien, dengan menggunakan gesekan jari, detik
arloji, dan audiogram. Audiogram digunakan untuk membedakan tuli saraf dengan
tuli konduksi dipakai tes Rinne dan tes Weber.

f. Nervus IX, Glosopharingeal


Memeriksa gerakan reflek lidah, klien diminta mengucap AH, menguji kemampuan
rasa lidah depan, dan gerakan lidah ke atas, bawah, dan samping. Pemeriksaan N. IX
dan N X. karena secara klinis sulit dipisahkan maka biasanya dibicarakan bersama-
sama, anamnesis meliputi kesedak / keselek (kelumpuhan palatom), kesulitan
menelan dan disartria. Pasien disuruh membuka mulut dan inspeksi palatum dengan
senter perhatikan apakah terdapat pergeseran uvula, kemudian pasien disuruh
menyebut “ah” jika uvula terletak ke satu sisi maka ini menunjukkan adanya
kelumpuhan nervus X unilateral perhatikan bahwa uvula tertarik kearah sisi yang
sehat. Sekarang lakukan tes refleks muntah dengan lembut (nervus IX adalah
komponen sensorik dan nervus X adalah komponen motorik). Sentuh bagian belakang
faring pada setiap sisi dengan spacula, jangan lupa menanyakan kepada pasien apakah
ia merasakan sentuhan spatula tersebut (N. IX) setiap kali dilakukan. Dalam keadaaan
normal, terjadi kontraksi palatum molle secara refleks. Jika konraksinya tidak ada dan
sensasinya utuh maka ini menunjukkan kelumpuhan nervus X, kemudian pasien
disuruh berbicara agar dapat menilai adanya suara serak (lesi nervus laringeus rekuren
unilateral), kemudian disuruh batuk , tes juga rasa kecap secara rutin pada posterior
lidah (N. IX)
g. Nervus X, Vagus
Memeriksa sensasi faring, laring, dan gerakan pita suara

h. Nervus XI, Accessorius


Pemeriksaan saraf asesorius dengan cara meminta pasien mengangkat bahunya dan
kemudian rabalah massa otot trapezius dan usahakan untuk menekan bahunya ke
bawah, kemudian pasien disuruh memutar kepalanya dengan melawan tahanan
(tangan pemeriksa) dan juga raba massa otot sternokleido mastoideus.

i. Nervus XII, Hypoglosal


Pemeriksaan saraf Hipoglosus dengan cara :Inspeksi lidah dalam keadaan diam
didasar mulut, tentukan adanya atrofi dan fasikulasi (kontraksi otot yang halus
iregular dan tidak ritmik). Pasien diminta menjulurkan lidahnya yang berdeviasi ke
arah sisi yang lemah jika terdapat lesi upper atau lower motorneuron unilateral. Lesi
UMN dari N XII biasanya bilateral dan menyebabkan lidah imobil dan kecil.
Kombinasi lesi UMN bilateral dari N. IX. X, XII disebut kelumpuhan pseudobulbar

4. Memeriksa fungsi motorik


a. pengamatan
Gaya berjalan dan tingkah laku
Simetri tubuh dan extermitas
Kelumpuhan badan dab anggota gerak

b. Gerakan volunter
Yang di periksa adalah pasien atas pemeriksa, misalnya
Mengangkat kedua tangan dan bahu
Fleksi dan extensi artikulus kubiti
Mengepal dan membuka jari tangan
Mengankat kedua tungkai pada sendi panggul
Fleksi dan ekstansi artikulus genu
Plantar fleksi dan dorsal fleksi plantar kaki
Gerakan jari-jari kaki

c. Palpasi
Pengukuran besar otot
Nyeri tekan
Kontraktur
Konsistensi (kekenyalan)
Konsistensi otot yang meningkat : meningitis, kelumpuhan
Konsitensi otot yanag menurun terdapat pada: kelumpuhan akibat lesi, kelumpuhan
akibat denerfasi otot
5. Memeriksa fungsi sensorik
Kepekaan saraf perifer. klien diminta memejamkan mata
a) Menguji sensasi nyeri: dengan menggunakan Spatel lidah yang di patahkan atau ujung
kayu aplikator kapasdigoreskan pada beberapa area kulit, Minta klien untuk bersuara pada
saat di rasakan sensasi tumpul atau tajam.
b) Menguji sensai panas dan dingin: dengan menggunakan Dua tabung tes, satu berisi air
panas dan satu air dingin, Sentuh kulit dengan tabung tersebut minta klien untuk
mengidentifikasi sensasi panas atau dingin.
c) Sentuhan ringan : dengan menggunakan Bola kapas atau lidi kapas, Beri sentuhan ringan
ujung kapas pada titik-titik berbeda sepanjang permukaan kulit minta klien untuk
bersuara jika merasakan sensasi
d) Vibrasi/getaran : dengan garputala, Tempelkan batang garpu tala yang sedang bergetar di
bagian distal sendi interfalang darijari dan sendiinterfalang dari ibu jari kaki, siku, dan
pergelangantangan. Minta klien untuk bersuara pada saat dan tempat di rasakan vibrasi.

6. Memeriksa reflek kedalaman tendon


 Reflek fisiologis
a. Reflek bisep:
1) Posisi:dilakukan dengan pasien duduk, dengan membiarkan lengan untuk
beristirahat di pangkuan pasien, atau membentuk sudut sedikit lebih dari 90 derajat
di siku.
2) Identifikasi tendon:minta pasien memflexikan di siku sementara pemeriksa
mengamati dan meraba fossa antecubital. Tendon akan terlihat dan terasa seperti
tali tebal.
3) Cara : ketukan pada jari pemeriksa yang ditempatkan pada tendon m.biceps brachii,
posisi lengan setengah diketuk pada sendi siku.
4) Respon : fleksi lengan pada sendi siku

b. Reflek trisep :
1) Posisi :dilakukan dengan pasien duduk. dengan Perlahan tarik lengan keluar dari
tubuh pasien, sehingga membentuk sudut kanan di bahu. atau Lengan bawah harus
menjuntai ke bawah langsung di siku
2) Cara : ketukan pada tendon otot triceps, posisi lengan fleksi pada sendi siku dan
sedikit pronasi
3) Respon : ekstensi lengan bawah pada sendi siku
c. Reflek brachiradialis
1) Posisi: dapat dilakukan dengan duduk. Lengan bawah harus beristirahat longgar di
pangkuan pasien.
2) Cara : ketukan pada tendon otot brakioradialis (Tendon melintasi (sisi ibu jari pada
lengan bawah) jari-jari sekitar 10 cm proksimal pergelangan tangan. posisi lengan
fleksi pada sendi siku dan sedikit pronasi.
3) Respons: - flexi pada lengan bawah supinasi pada siku dan tangan

d. Reflek patella
1) posisi klien: dapat dilakukan dengan duduk atau berbaring terlentang
2) Cara : ketukan pada tendon patella
3) Respon : plantar fleksi kaki karena kontraksi m.quadrisep femoris

e. Reflek achiles
1) Posisi : pasien duduk, kaki menggantung di tepi meja ujian. Atau dengan berbaring
terlentang dengan posisi kaki melintasi diatas kaki di atas yang lain atau mengatur
kaki dalam posisi tipe katak.
2) Identifikasi tendon:mintalah pasien untuk plantar flexi.
3) Cara : ketukan hammer pada tendon achilles
4) Respon : plantar fleksi kaki krena kontraksi m.gastroenemius

 Reflek Pathologis
Bila dijumpai adanya kelumpuhan ekstremitas pada kasus-kasus tertentu.
a. Reflek babinski:
1) Pesien diposisikan berbaring supinasi dengan kedua kaki diluruskan.
2) Tangan kiri pemeriksa memegang pergelangan kaki pasien agar kaki tetap pada
tempatnya.
3) Lakukan penggoresan telapak kaki bagian lateral dari posterior ke anterior
4) Respon : posisitf apabila terdapat gerakan dorsofleksi ibu jari kaki dan
pengembangan jari kaki lainnya

b. Reflek chaddok
1) Penggoresan kulit dorsum pedis bagian lateral sekitar maleolus lateralis dari posterior
ke anterior
2) Amati ada tidaknya gerakan dorsofleksi ibu jari, disertai mekarnya (fanning) jari-jari
kaki lainnya.

c. Reflek schaeffer
1) Menekan tendon achilles.
2) Amati ada tidaknya gerakan dorso fleksi ibu jari kaki, disertai mekarnya (fanning)
jari-jari kaki lainnya.

d. Reflek oppenheim
1) Pengurutan dengan cepat krista anterior tibia dari proksiml ke distal
2) Amati ada tidaknya gerakan dorso fleksi ibu jari kaki, disertai mekarnya (fanning)
jari-jari kaki lainnya

e. Reflek Gordon
1) menekan pada musculus gastrocnemius (otot betis)
2) Amati ada tidaknya gerakan dorsofleksi ibu jari kaki, disertai mekarnya (fanning)
jari-jari kaki lainnya

a. Reflek bing
a.
g. Reflek gonda
1) Menekan (memfleksikan) jari kaki ke-4, lalu melepaskannya dengan cepat.
2) Amati ada tidaknya gerakan dorso fleksi ibu jari kaki, disertai mekarnya (fanning)
jari-jari kaki lainnya

PAIN MANAJEMEN ( MANAJEMEN NYERI)

Pengertian
 Nyeri adalah suatu keadaan yang tidak menyenangkan akibat terjadinya rangsangan fisik maupun dari
serabut saraf dalam tubuh keotak dan diikuti oleh reaksi fisik, fisiologis, dan emosional

 Nyeri adalah suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang yang keberadaanya diketahui hanya jika
orang tersebut pernah mengalaminya.

Fisiologi Nyeri
 Nyeri merupakan campuran reaksi fisik, emosi, dan perilaku

 Stimulasi penghasil nyeri yaitu zat kimia (histamine, bradikinin, prostaglandin), termal, mekanik, listrik
yang mengirimkan impuls melalui serabut saraf perifer-medula spinalis- ke korteks serebral

 Tiga komponen fisiologis cara untuk memahami nyeri:

- Resepsi: semua kerusakan seluler, yang disebabkan oleh stimulus termal, mekanik, kimia, atau
stimulus listrik menyebabkan pelepasan substansi yang menghasilkan nyeri

- Persepsi: merupakan titik kesadaran seseorang terhadap nyeri, sehingga individu dapat bereaksi

- Reaksi: merupakan respon fisiologis dan perilaku yang terjadi setelah mempersepsikan nyeri.

Klasifikasi Nyeri
1. Nyeri Akut

Nyeri yang timbul mendadak dan cepat menghilang, tidak lebih dari 6 bulan, ditandai dengan
adanya peningkatan tegangan otot
2. Nyeri Kronik
Nyeri yang timbul secara perlahan-lahan, terjadi lebih dari 6 bulan, yang terdiri dari nyeri termal,
sindrom nyeri kronik dan nyeri psikosomatis

Jenis Nyeri yang Spesifik


1. Nyeri somatis: nyeri yang bersumber dari kulit dan jaringan di bawah kulit (superficial) pada otot
dan tulang

2. Nyeri veceral: sama dengan nyeri somatis

3. Nyeri menjalar (referent pain): nyeri yang terjadi akibat kerusakan/ cedera pada organ viseral

4. Nyeri psikogenik: nyeri yang timbul akibat psikologis

5. Nyeri phantom: nyeri yang disebabkan karena salah satu ekstremitas di amputasi

6. Nyeri neurologis: bentuk nyeri yang tajam karena adanya spasme di sepanjang atau di beberapa
jalur saraf

Aspek/Bobot ASPEK YANG DINILAI SKOR


1 2 3 4
Keterampilan (50%)
MANAJEMEN NYERI
NBL = 100 Tahap Pra Interaksi
Persiapan lingkungan yang harus di perhatikan adalah:
Berikan lingkungan yang nyaman bagi pasien (kondusif)
Tutup pintu atau gorden menjaga privacy pasien
Tahap Orientasi
Berikan salam, panggil klien dengan namanya
Jelaskan prosedur dan tujuan tindakan pada klien / keluarga
Tahap Kerja
1. Baca catatan keperawatan dan catatan medis klien
2. Menyiapkan alat-alat dan menempatkan alat-alat kedekat pasien
secara ergonomis dan menjaga privasi ruangan
3. Cuci tangan dan keringkan

1. Berikan salam, panggil klien dengan namanya


2. Jelaskan prosedur dan tujuan tindakan pada klien/keluarga

Bimbingan Imajinasi (GUIDE IMAGERY)


1. Anjurkan klien mencari posisi yang nyaman menurut klien
2. Duduk dengan klien tetapi tidak mengganggu
3. Lakukan bimbingan yang baik terhadap klien:
- Minta klien untuk memikirkan hal-hal yang menyenangkan
atau pengalaman yang membantu penggunaan semua indra
dengan suara lembut.
- Ketika klien rileks, klien terfokus pada bayangannyadan saat
itu perawat tidak perlu bicara lagi
- Jika klien menunjukkan tanda-tanda agitasi, gelisah atau tidak
nyaman, perawat harus menghentikan latihan dan
memulainya lagi ketika klien telah siap
- Relaksasi akan mengenai seluruh tubuh, lalu catat daerah
yang tegang dan daerah ini akan digantikan dengan relaksasi.
Biasanya klien rileks setelah menutup mata atau
mendengarkan musik yang lembut sebagai background yang
membantu
- Catat hal-hal yang digambarkan klien dalam pikiran untuk
digunakan pada latihan selanjutnya dengan menggunakan
informasi spesifik yang diberikan klien dan tidak membuat
perubahan pernyataan klien.

Teknik Relaksasi Progresif


1. Posisi berbaring atau duduk di kursi dengan kepala ditopang
2. Waktu pelaksanaan 2 x 15 menit/jam
3. Anjurkan klien untuk mencari posisi yang nyaman dan ciptakan
lingkungan yang nyaman
4. Bimbing klien untuk melakukan teknik relaksasi (prosedur
diulang paling tidak 1 kali). Jika area tetap tegang dapat diulang
lima kali dengan melihat respon klien:
- Kepalkan kedua telapak tangan, lalu kencangkan bisep dan
lengan bawah selama 5-7 detik. Bimbing klien kearah ototang
tegang, anjurkan klien untuk merasakanya dan tegangkan otot
sepenuhnya kemudian rileks selama 12-30 detik
- Kerutkan dahi ke atas pada saat yang sama, tekan kebawah
sejauh mungkin kebelakang, putar searah jarum jam dan
kebalikanya, kemudian anjurkan klien untuk mengerutkan otot
muka, seperti kenari; cemberut, mata dikedip-kedipkan, bibir
dimonyongkan kedepan, lidah ditekan kelangit-langit dan bahu
dibungkukkan selama 5-7 detik. Bimbing klien ke arah otot yang
tegang, anjurkan klien untuk memikirkan rasanya dan
tegangkan otot sepenuhnya kemudian rileks selama 12-30 detik
- Lengkungkan punggung ke belakang sambil menarik nafas
dalam, tekan keluar lambung, tahan, lalu rileks. Tarik nafas
dalam, tekan keluar perut, tahan rileks
- Tarik kaki dan ibu jari ke belakang mengarak ke muka, tahan,
rileks. Lipat ibu jari secara serentak, kencangkan betis, paha,
dan pantat selama 5-7 detik, bimbing klien ke arah otot yang
tegang lalu anjurkan klien untuk merasakanya kemudian rileks
selama 12-30 detik.
5. Selama melakukan teknik relaksasi, catat respon nonverbal
klien, jika klien menjadi agitasi atau tidak nyaman, hentikan
latihan dan jika klien terlihat kesulitan, relaksasi hanya
sebagian tubuh, lambatkan kecepatan latihan dan
berkonsentrasi pada bagian tubuh yang tegang (klien harus
mengetahui dari awal bahwa latihan ini dapat dihentikan
kapanpun)

Masase (Pemijatan)
1. Atur klien dalam posisi telungkup. Jika tidak bisa, dapat diatur
dengan posisi miring
2. Letakkan sebuah bantal kecil di bawah perut klien untuk
menjaga posisi yang tepat
3. Tuangkan sedikit lotion di tangan. Usap kedua tangan sehingga
lotion rata pada permukaan tangan
4. Lakukan masase pada punggung. Masase dilakukan dengan
jari-jari dan telapak tangan dan tekan yang halus. Gunakan
lotion sesuai kebutuhan
5. Metode masase:
- Selang-seling tangan: masase punggung dengan tekanan
pendek, cepat dan bergantian
- Remasan: usap otot bahu dengan setiap tangan anda yang
dikerjakan secara bersamaan
- Gesekan: masase punggung dengan ibu jari denga gerakan
memutar sepanjang tulang punggung dari sakrum ke bahu
- Eflurasi: masase punggung dengan kedua tangan,
menggunakan tekanan lebih halus denga gerakan ke atas
untuk membantu aliran balik vena
- Petriasi: tekanan punggung secara horizontal. Pindahkan
tangan anda dengan arah yang berlawanan denga gerakan
meremas
- Tekanan menyikat: secara halus tekan punggung dengan
ujung-ujung jari intuk mengakhiri masase.
6. Rapikan pasien

Tahap Terminasi
1. Evalusi perasaan klien
2. Simpulkan hasil kegiatan
3. Lakukan kontrak untuk selanjutnya
4. Akhiri kegiatan
5. Cuci tangan dan keringkan

Dokumentasi
Catat hasil tindakan dan kesan dalam catatan keperawatan.
SUB TOTAL
100
NILAI RATA-RATA
100
Keterangan :
Skor 1 : Tidak dilakukan
Skor 2 : Dilakukan dengan banyak perbaikan/dilakukan*
Skor 3 : Dilakukan dengan sedikit perbaikan
Skor 4 : Dilakukan dengan sempurna
Keterampilan rata-rata = total skor /56x 100 % = ……….

Palembang,
Penguji,

(..........................................)
LATIHAN RENTANG GERAK (ROM)

Definisi ROM
Latihan range of motion (ROM) adalah latihan yang dilakukan untuk mempertahankan atau
memperbaiki tingkat kesempurnaan kemampuan menggerakan persendian secara normal dan lengkap untuk
meningkatkan massa otot dan tonus otot dan sebagai dasar untuk menetapkan adanya kelainan ataupun untuk
menyatakan batas gerakan sendi yang abnormal
Jenis ROM
1. ROM Pasif
Latihan ROM pasif adalah latihan ROM yang di lakukan pasien dengan bantuan perawat setiap-setiap gerakan.
Indikasi latihan fasif adalah pasien semikoma dan tidak sadar, pasien dengan keterbatasan mobilisasi tidak
mampu melakukan beberapa atau semua latihan rentang gerak dengan mandiri, pasien tirah baring total atau
pasien dengan paralisis ekstermitas total (suratun, dkk, 2008). Rentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga
kelenturan otot-otot dan persendian dengan menggerakkan otot orang lain secara pasif misalnya perawat
mengangkat dan menggerakkan kaki pasien.
2. ROM Aktif
Latihan ROM aktif adalah Perawat memberikan motivasi, dan membimbing klien dalam melaksanakan
pergerakan sendi secara mandiri sesuai dengan rentang gerak sendi normal. Hal ini untuk melatih kelenturan
dan kekuatan otot serta sendi dengan cara menggunakan otot-ototnya secara aktif

Tujuan ROM
1. Mempert ahankan atau memelihara kekuatan otot
2. Memelihara mobilitas persendian
3. Merangsang sirkulasi darah
4. Mencegah ke lainan bentuk

Perinsip Dasar Latihan ROM


1. ROM harus diulang sekitar 8 kali dan dikerjakan minimal 2 kali sehari
2. ROM di lakukan berlahan dan hati-hati sehingga tidak melelahkan pasien
3. Dalam merencanakan program latihan ROM, perhatikan umur pasien,
diagnosa, tanda-tanda vital dan lamanya tirah baring.
4. Bagian-bagian tubuh yang dapat di lakukan latihan ROM adalah leher, jari,
lengan, siku, bahu, tumit, kaki, dan pergelangan kaki.
5. ROM dapat di lakukan pada semua persendian atau hanya pada bagian-bagian
yang di curigai mengalami proses penyakit.
6. Melakukan ROM harus sesuai waktunya. Misalnya setelah mandi atau
perawatan rutin telah di lakukan.

Manfaat ROM
1. Meningkatkan mobilisasi sendi
2. Memperbaiki toleransi otot untuk latihan
3. Meningkatkan massa otot
4. Mengurangi kehilangan tulang
5.Menentukan nilai kemampuan sendi tulang dan otot dalam melakukan pergerakan
6. Mengkaji tulang sendi, otot
7. Mencegah terjadinya kekakuan sendi
8. Memperlancar sirkulasi darah
9 Memperbaiki tonus otot

Aspek/Bobot ASPEK YANG DINILAI SKOR


1 2 3 4
Keterampilan (50%)
ROM
NBL = 100 JK
Tahap Pra Interaksi
Persiapan lingkungan yang harus di perhatikan adalah:
Berikan lingkungan yang nyaman bagi pasien (kondusif)
Tutup pintu atau gorden menjaga privacy pasien
Tahap Orientasi
Berikan salam, panggil klien dengan namanya
Jelaskan prosedur dan tujuan tindakan pada klien / keluarga
Tahap Kerja
C. LANGKAH PROSEDUR
Perawat memberikan bimbingan dan instruksi atau motivasi kepada
klien untuk menggerakkan persendian-persendian tubuh sesuai dengan
rentang geraknya masing-masing

LATIHAN ROM PASIF

A. PENGERTIAN
Latihan pergerakan perawat atau petugas lain yang menggerakkan
persendian klien sesuai dengan rentang geraknya

B. TUJUAN
Menjaga fleksibilitas dari masing-masing persendian

C. LANGKAH PROSEDUR (UMUM)


1. Cuci tangan untuk mencegah transfer organisme
2. Jaga privasi klien dengan menutup pintu atau memasang sketsel
3. Beri penjelasan kepada klien mengenai apa yang akan anda kerjakan
dan minta klien untuk dapat bekerja sama
4. Atur ketinggian tempat tidur yang sesuai agar memudahkan perawat
dalam bekerja, terhindar dari masalah pada penjajaran tubuh dan
pergunakan selalu prinsip-prinsip mekanika tubuh
5. Posisikan klien dengan posisi supinasi dekat dengan perawat dan buka
bagian tubuh yang akan digerakkan
6. Rapatkan kedua kaki dan letakkan kedua lengan pada masing-masing
sisi tubuh
7. Kembalikan pada posisi awal setelah masing-masing gerakan. Ulangi
masing-masing gerakan 3 kali.
8. Selama latihan pergerakan, kaji
a) Kemampuan untuk menoleransi gerakan
b) Rentang gerak (ROM) dari masing-masing persendian yang
bersangkutan
9. Setelah latihan pergerakan, kaji denyut nadi dan ketahanan tubuh
terhadap latihan
10. Catat dan laporkan setiap masalah yang tidak diharapkan atau
perubahan pada pergerakan klien, misalnya adanya kekakuan dan
kontraktur
D. LANGKAH PROSEDUR (KHUSUS)

GERAKAN BAHU
2. Mulai masing-masing gerakan dari lengan di sisi klien
3. Pegang lengan di bawah siku dengan tangan kiri perawatdan
pegang pergelangan tangan klien dengan tangan kanan
perawat
4. Fleksi dan ekstensikan bahu.
Gerakkan lengan ke atas menuju kepala tempat tidur. Kembalikan ke
posisi sebelumnya
5. Abduksikan bahu.
Gerakkan lengan menjauhi tubuh dan menuju kepala klien sampai
tangan di atas kepala
6. Adduksikan bahu
Gerakkan lengan klien ke atas tubuhnya sampai tangan yang
bersangkutan menyentuh tangan pada sisi sebelahnya
6. Rotasikan bahu internal dan eksternal
a) Letakkan lengan di samping tubuh klien sejajar dengan bahu
b) Gerakkan lengan ke bawah hingga telapak tangan menyentyh
kasur, kemudian gerakkan ke atas hingga punggung tangan menyentuh
tempat tidur

GERAKAN SIKU
1. Fleksi dan ekstensikan siku
a) Bengkokkan siku hingga jari-jari tangan menyentuh dagu
b) Luruskan kembali ke tempat semula
2. Pronasi dan supinasikan siku
a) Genggam tangan kklien seperti orang yang sedang berjabat tangan
b) Putar telapak tangan klien ke bawah dank e atas, pastikan hanya
terjadi pergerakan siku, bukan bahu
GERAKAN PERGELANGAN TANGAN
1. Fleksikan pergelangan tangan
a) Genggam telapak dengan satu tangan, tangan yang lainnya
menyangga lengan bawah
b) Bengkokkan pergelangan tangan ke depan
2. Ekstensi pergelangan tangan.
Dari posisi fleksi, tegakkan kembali pergerakan tangan ke posisi semula
3. Fleksi radial/radial deviation (abduksi)
Bengkokkan pergelangan tangan secara lateral menuju ibu jari
4. Fleksikan ulnar/ulnar deviation (adduksi)
Bengkokkan pergelangan tangan secara lateral kearah jari kelima

GERAKAN JARI-JARI TANGAN


1. Fleksi
Bengkokkan jari-jari tangan dan ibu jari kea rah telapak tangan (tangan
menggenggam)
2. Ekstensi
Dari posisi fleksi, kembalikan ke posisi semula (buka genggaman
tangan)
3. Hiperekstensi
Bengkokkan jari-jari tangan ke belakang sejauh mungkin
4. Abduksi
Buka dan pisahkan jari-jari tangan
5. Adduksi
Dari posisi abduksi, kembalikan ke posisi semula
6. Oposisi
Sentuhkan masing-masing jari tangan dengan ibu jari

GERAKAN PINGGUL DAN LUTUT


Untuk melakukan gerakan ini, letakkan satu tangan dibawah lutut klien
dan tangan yang lainnya dibawah mata kaki klien
1. Fleksi dan ekstensi lutut dan pinggul
a) Angkat kaki dan bengkokkan lutut
b) Gerakkan lutut ke atas menuju dada sejauh mungkin
c) Kembalikan lutut ke bawah, tegakkan lutut, rendahkan kaki sampai
pada kasur
2. Abduksi dan adduksi kaki
a) Gerakkan kaki ke samping menjauhi klien
b) Kembalikan melintas di atas kaki yang lainnya
3. Rotasikan pinggul internal dan eksternal
Putar kaki ke dalam, kemudian ke luar

GERAKAN TELAPAK KAKI DAN PERGELANGAN KAKI


1. Dorsofleksi telapak kaki
a) Letakkan satu tangan di bawah tumit
b) Tekan kaki klien dengan lengan anda untuk menggerakkannya
kearah kaki
2. Fleksi plantar telapak kaki
a) Letakkan satu tangan pada punggung dan tangan yang lainnya
berada pada tumit
b) Dorong telapak kaki menjauh dari kaki
3. Fleksi dan ekstensi jari-jari kaki
a) Letakkan satu tangan pada punggun kaki klien, letakkan tangan
yang lainnya pada pergelangan kaki
b) Bengkokkan jari-jari ke bawah
c) Kembalikan lagi pada posisi semula
4. Inversi dan eversi telapak kaki
a) Letakkan satu tangan di bawah tumit, dan tangan yang lainnya di
atas punggung kaki
b) Putar telapak kaki ke dalam, kemudian ke luar

GERAKAN LEHER
Ambil bantal di bawah kepala klien
1. Fleksi dan ekstensikan leher
a) Letakkan satu tangan dibawah kepala klien, dan tangan yang
lainnya diatas dagu klien
b) Gerakkan kepala ke depan sampai menyentuh dada, kemudian
kembalikan ke posisi semula tanpa disangga oleh bantal
2. Fleksi lateral leher
a) Letakkan kedua tangan pada pipi klien
b) Gerakkan kepala klien kea rah kanan dan kiri

GERAKAN HIPEREKSTENSI
Bantu klien untuk berubah pada posisi pronasi di sisi tempat tidur dekat
dengan perawat
1. Hiperekstensi leher
a) Letakkan satu tangan di atas dahi, tangan yang lainnya pada kepala
bagian belakang
b) Gerakkan kepala ke belakang
2. Hiperekstensi bahu
a) Letakkan satu tangan di atas bahu klien dan tangan yang lainnya di
bawah siku klien
b) Tarik lengan atas ke atas dan ke belakang
3. Hiperekstensi pinggul
a) Letakkan satu tangan di atas pinggul. Tangan yang lainnya
menyangga kaki bagian bawah
b) Gerakkan kaki ke belakang dari persendian pinggul

SUB TOTAL
100
NILAI RATA-RATA
100
Keterangan :
Skor 1 : Tidak dilakukan
Skor 2 : Dilakukan dengan banyak perbaikan/dilakukan*
Skor 3 : Dilakukan dengan sedikit perbaikan
Skor 4 : Dilakukan dengan sempurna
Keterampilan rata-rata = total skor /56x 100 % = ……….

Palembang,
Penguji,

(..........................................)