Anda di halaman 1dari 18

Detector cahaya, secara khusus photodiode, dapat dipandang sebagai inverse dari light emitting

diode (LED). Disini madukan ke peranti adalah daya optic dan keluaran dari peranti berupa
sinyal listrik. Prinsip operasi dari photodiode ini merupakan fenomena fisika sebagaimana yang
terjadi pada LED. Detektor cahaya menyerap photon cahaya dan menghasilkan electron, yaitu
electron yang dapat menghasilkan arus listrik.

Untuk mendapatkan hasil yang optimum penggunaan photodiode sebagai transducer, secara
khusus untukaplikasi system komunikasi optic, maka detector cahaya harus memiliki fitur fitur
sebagai berikut:

1. Peranti detector cahaya harus sangat sensitive. Arus listrik yang dihasilkan harus sebesar
mungkin dalam merespon daya optic masukan. Karena detector cahaya ini selektif terhadap
panjang gelombang (responnya terbatasi oleh rentang panjang gelombang), maka
sensitifitas ini harus bernilai besar pda daerah panjang gelombang operasi.
2. Waktu respon terhadap Sinyal optic masukan harus cepat. Detektor cahaya harus mampu
menghasilkan arus listrik meski pulsa optic masukan berlangsung dalam waktu yang cepat.
Hal ini akan memungkinkan untuk menerima data dengan laju bit tinggi.
3. Untuk system penerimaan data analog, detector cahaya harus memiliki hubungan masukan-
keluaran yang linier. Hal ini diperlukan untuk menghindari distorsi Sinyal keluaran.
4. Derau dalam (internal noise) yang dibangkitkan oleh peranti harus sekecil mungkin agar
peranti dapat mendeteksi Sinyal optic masukan sekecil mungkin.

Beberapa karakteristik penting lainnya, misalnya keandalan, stabilitas, dan kekebalan terhadap
pengaruh lingkungan.

3.2. Prinsip Pendeteksi Cahaya

Agar pendeteksian cahaya ini berlangsung secara optimal, maka secara esensial sebagain besar
(bila tidak semua) photon cahaya yang masuk ke dalam peranti harus dikonversi (diubah)
menjadi besaran listrik. Masing-masing photon mungkin menyebabkan terjadinya emisi electron
sehingga menjadi electron bebas. Elektron bebas ini (hole bebas) dibangkitkan dengan cara
memindahkan electron dari pita velensi ke pita konduksi, dan yang tertinggal dalam pita valensi
adalah lubang yang lazim dinamakan dengan hole bebas.Proses terjadinya pasangan eletktron-
hole ini disebut dengan photogeneration Proses ini ditunjukkan pada gambar 3.1. dimana
photon diserap oleh atom yang menyebabkan sebuah electron pindah dari level valensi menuju
level konduksi. Perubahan energi yang terjadi pad electron adalah E , yaitu agar peristiwa ini
g

terjadi, maka energi minimal yang dimiliki oleh photon adalah E . Karena energi photon
g

berkaitan dengan frekuensinya (atau panjang gelombang), maka nilai energi gap, Eg ini
menentukan respon daerah spektral detektor cahaya. Energi photon, E , harus lebih besar atau
p

sama dibandingkan dengan energi gap, E . g

E ≥E
p g

h×f ≥ E g …3.1
Level energi konduksi
Level energi valensi
photon
hole
elektron
Eg

Level energi

Gmbar 3.1. Pembangkitan pasangan elektron-hole

Detektor cahaya ini tidak merespon bila cahaya yang detang memiliki frekuensi lebih kecil dari
frekuensi cut off, f , dimana f didefinisikan sebagai:
C C

3.2
atau panjang gelombang cahay tidak boleh lebih besar dibanding dengan panjang gelombang
cut off, λ , dimana λ didefinisikan sebagai:
C C

… 3.3
Contoh 4.1.
Germanium dengan energi gap sebesar 0,81 eV. Temukan panjang gelombang cut off dari
photodiode germanium ini.

Penyelesaian
λ = (h × c)/Eg
C

= (6,623 × 10 × 3 × 10 )(0,81 × 1,602 × 10- ) = 1,531 × 10 m = 1,531 mm


-34 8 19 -6

Contoh 3.1. menunjukkan bahwa detektor cahaya dengan bahan hanya bisa digunakan untuk
lebih pendek dari 1,53 µm, yaitu rentang panjang gelombang yang lazim digunkan dalam
sistem komunikasi optik (0,8 µm; 1,33 µm; dan 1,5 µm). Secara bertolak belakangan dengan
bahan germanium adalah bahan silikon yang memiliki energi gap, E = 3,1 eV (direct band gap)
g

dan bahan ini lazim digunakan untuk mendeteksi cahaya ultraviolet (dengan panjang
gelombang sekitar 0,3 µm) atau lebih pendek darinya.

Dengan mengkombinasikan beberepa nilai konstanta yang ada pada persamaan 3.2 dan 3.3,
maka dapat diperoleh:

… 3.4
dimana λ C bersatuan µm dan Eg bersatuan eV. Efisiensi detektor cahaya sering dinyatakan
dalam terma efisiensi kuantum, sebagaimana definisi efisien pada LED, yaitu

… 3.5

Yang diharapkan untuk nilai η adalah 1, yang berarti bahwa setiap photon cahaya yang diserap
Q

oleh detektor akan dihasilkan elektron bebas. Nilai tipikal dari η antara 70 – 80%.
Q

Terma yang lebih praktis untuk menyatakan operasi dari detektor cahaya adalah respnsifitas, R
(terkadang juga disebut sensitifitas radisi), yang didefinisikan sebagai nisbah photocurrent (arus
yang dihasilkan ketika suatu photon cahaya diserap) terhadap daya photon cahaya.

… 3.6

dimana R bersatuan ampere per watt (A/W), atau µA/µW. I adalah photocurrent dan P adalah
P i

daya optik cahay datang.

Menjadi penting untuk merelasikan antara R dan terhadap η Q dengan terlebihj dulu
mendefinisikan:

… 3.7

dimana e adalah muatan elektron(1,602 × 10 C) dan N adalah jumlah elektron bebas yang
-18
e

dibangkitkan.

… 3.8
dimana E adalah energi photon cahaya, N adalah jumlah photon datang. Dengan mensubstitusi
P P

persamaan 3.7 dan 3.8 untuk peubah pada persamaan 3.6, maka diperoleh:

… 3.9

Pernyataan , E bersatuan joule. Ini bisa dinyatakan dengan R =


p dimana E p

bersatuan eV.

… 3.10

dalam hal ini η Q adalah nilai fraksi (nisbah, bukan persen), λ dalam meter, R dalam
amper/watt, c dalam meter/detik., dan e dalam coulomb. Nilai efisiensi kuantum dan
responsifitas, biasanya diberikan untuk panjang gelombang tertentu. Dengan memasukkan
semua konstanta, maka persamaan 3.10 dapat dinyatakan sebagai:

… 3.10.a

Contoh 4.2.
Efisiensi kuantum suatu suatu detektor cahaya adalah 70% (0,7) dan beroperasi pada panjang
gelombang λ = 0,82 µm. Temukan nilai responsifitasnya.

Penyelesaian:

= 0,7 × 0,82 / 1,24 = 0,463 A/W


Persamaan 3.10 dan 3.10.a menunjukkan bahwa nilai responsifitas suatu detektor cahaya
semakin besar bilai nilai panjang gelombang cahaya dtang semakin besar. Ini hanyalah secara
teori, yang mengabaikan sejumlah pertimbangan praktis. Berkas cahaya datang yang masuk ke
dalam daerah tipe P (sambungan PN), akan terlebih dulu mengalami efek pemfilteran oleh
bahan. Gambar 3.2. menunjukkan hubungan antara responsifitas detektor cahaya dengan
panjang gelombang sinar.

Gambar 3.2. Nilai tipikal responsifitas spektral dari


Detektor cahaya model AP4010

3.3. Detektor Cahaya


3.3.1. PN Photodiode

Salah satu detektor cahaya yang amat populer adalah photodiode, yaitu diode yang dioperasikan
pada mode reverse dimana daerah deplesinya diinteraksikan dengan energi cahaya. Perlu diingat
bahwa diode tanpa tegangan bias memiliki daerah deplesi secara relatif sempit, yaitu daerah
dimana muatan bebasnya (elektron atau hole) sangat jarang. Dengan memperbesar tegangan bias
reverse daerah deplesi ini akan membesar. Photon yang datang pada daerah deplesi ini akan
menghasilkan pasangan elektron-hole (muatan bebas) yang selanjutnya berpindah karena
tegangan yang diberikan antara sambungan. Gambar 3.3 melukiskan situasi ini.

(a)

(b)
Gambar 3.3. Photodiode, (a) prinsip operasi dan (b) simbol

Di dalam daerah diplesi, pasangan elektron dan hole bergerak karena tegangan listrik yang
diberikan. Perlu diketahui bahwa karena daerah deplesi memiliki resistansi yang amat tinggi,
maka pada daerah ini akan terdapat medan listrik, E yang amat besar yang digunkan untuk
mempercepat pasangan elektron dan hole. Beberapa photon mungkin diserap pada daerah P atau
daerah N diluar daerah deplesi. Beberapa electron mungkin melakukan rekombinasi sehingga
menghasilkan arus (photocurrent) . Sebagai akibatnya daerah deplesi ini perlu diperlebar untuk
memungkinkan terjadi absorpsi photon cahaya sebanyak mungkin untuk menghasilkan arus
(photocurrent) sebesar mungkin. Untuk merealisasikan hal ini, maka dikembangkanlah
photodiode dengan struktur PIN Photodiode. Penting dicatat bahwa photocurrent (arus yang
dihasilkan oleh photon cahaya) memiliki polaritas yang sama sebagaiman arus reverse (arus
leakage) dari photodiode. Karenanya penting untuk menjaga arus leakage (dark current)
inisekecil mungkin.

Pada teori modern, diketahui bahwa cahaya merupakan gelombang yang dapat memiliki sifat-
sifat seperti pembiasan, pemantulan, interferensi, difraksi, dan polarisasi. Perambatan cahaya
dapat dianalisis secara mendetail menggunakan teori gelombang elektromagnetik. Teori ini
untuk menjelaskan cahaya dalam frekuensi, panjang gelombang, dan fasa. Teori lain yang
berkembang berhubungan dengan cahaya adalah teori kuantum cahaya atau disebut juga teori
Foton. Teori ini memandang cahaya sebagai perambatan paket energi yang disebut foton. Energi
yang dikandung dalam tiap foton dihubungkan dengan frekuensi dari cahaya adalah:

Ep=h.f

dimana : Ep adalah energi foton (Joule)

h adalah konstanta Planck (6,626.10-34 Joule-s)

f adalah frekuensi (Hertz)

Teori foton ini digunakan dalam analisis dan menjelaskan tentang pembangkitan dan deteksi
cahaya. Hal ini sangat membantu dalam menggambarkan transformasi cahaya ke dalam arus
elektron (elektrik) dan sebaliknya.

Modulasi Optik

Modulasi adalah suatu proses penumpangan sinyal-sinyal informasi ke dalam sinyal pembawa
(carrier), sehingga dapat ditransmisikan ke tujuan. Modulasi optik atau modulasi cahaya adalah
teknik modulasi yang menggunakan berkas cahaya berupa pulsa pulsa cahaya sebagai sinyal
pembawa informasi. Berkas cahaya yang digunakan disini adalah berkas cahaya yang dihasilkan
oleh suatu sumber cahaya (laser atau LED). Dibandingkan dengan modulasi konvensional,
modulasi cahaya memiliki keunggulan dalam hal ketahanan terhadap derau yang sangat tinggi,
karena sinyal tidak dipengaruhi medan elektromagnet. Di samping itu, sistem ini memungkinkan
adanya bitrate hingga mencapai ratusan gigabit per detik. Dalam modulasi optik, sinyal dapat
dimodulasi amplitudonya yang dikenal dengan modulasi intensitas (Intensity Modulation) berupa
Amplitudo Shift Keying (ASK) / On-Off Keying (OOK). Selain itu, berkas cahaya dapat juga
dimodulasi frekuensinya atau lebih tepat modulasi panjang gelombang (Wavelength
Modulation). Dan yang ketiga adalah dimodulasi fasanya (Phasa Modulation).

Teknik Modulasi Optik

Dalam modulasi optik koheren, sinyal cahaya yang dimodulasikan dapat direpresentasikan dalam
bentuk rumus besaran elektrik. Adapun rumus dasar besaran tersebut dapat didefinisikan :

dimana : Keterangan

Dari persamaan dasar diatas, dapat diturunkan tiga macam teknik modulasi optik :

1. Amplitude Shift Keying (ASK) atau disebut juga On-Off Keying (OOK) yang memodulasi
sinyal optik dengan perubahan amplitudo antara “0” dan “1” sementara frekuensi konstan dan
tak ada lompatan fasa.
2. Frequency Shift Keying (FSK) yan memodulasi sinyal optik dengan perubahan Frekuensi w1 (
omega 1) dan w2 ( omega 2) dan mewakili sinyal biner, sementara amplitudo konstan dan tak
terjadi lompatan fasa.

3. Phase Shift Keying (PSK) yang memodulasi sinyal optik berdasarkan perubahan fasa menurut
gelombang sinus:

dimana beta adalah indeks modulasi dan adalah frekuensi modulasi omega M

Modulator Optik

Modulator optik berfungsi memodulasi cahaya dengan cara mengubah-ubah amplitude,


frikuensi, fasa, atau intensitas cahaya sehingga mampu membawa sinyal info. Berdasarkan
tempat terjadinya modulasi, ada 2 macam modulasi optik, sehingga dengan sendirinya ada 2
macam modulator, yaitu modulator internal (internal modulator) dan modulator eksternal
(external modulator). Modulator internal memodulasi cahaya di dalam perangkat sumber
cahayanya, sedangkan modulator eksternal memodulasi cahaya di luar perangkat sumber
cahayanya. Berdasarkan interaksi antara sinyal masukan dengan media interaksi optik,
maka terdapat tiga jenis modulator ekstern yaitu elektro-optik, magneto-optik, dan akusto-optik.
Tetapi di dalam Tugas Akhir ini dibatasi hanya menggunakan modulator elektro-optik tepatnya
interferometer Mach Zehnder sebagai pemodulasi cahaya.

Modulator Internal (Sumber Cahaya)

Ada dua sumber cahaya yang dikenal dalam komunikasi optik: Light Emitting Diode (LED) dan
Illuminating Laser Diode (ILD) yang lebih sering disebut laser. Perbandingan karakteristik LED
dan LASER:
a. Light Emitting Diode (LED):

1. Daya optik keluaran rendah.

2. Penguatan cahaya tidak ada.

3. Stabil terhadap suhu.

4. Disipasi panas kecil.

5. Arus pacu kecil.

6. Lifetime lebih sedikit.

7. Tidak compatible dengan fiber optik single mode sehingga tidak cocok untuk komunikasi
jarak jauh (long haul).

b. Light Amplification by Stimulated Emission of Radiation (LASER):

1. Daya optik keluaran besar.

2. Terdapat penguatan cahaya.


3. Kurang stabil terhadap suhu.

4. Disipasi panas besar.

5. Arus pacu besar.

6. Lifetime lebih lama.

7. Kompatible dengan fiber optik jenis single mode sehingga sangat cocok digunakan untuk
komunikasi jarak jauh. Dari perbandingan karakteristik di atas, maka diperoleh bahwa LASER
mempunyai kriteria yang lebih baik dan lebih cocok untuk sistem yang digunakan daripada LED
sebagai sumber cahaya.

Modulator Eksternal

Modulator eksternal yang digunakan dalam Tugas Akhir ini adalah elektro-optik yang
memanfaatkan interaksi sinyal elektrik dengan media interaksi. Interaksi yang terjadi pada
elektro-optik ini adalah terjadinya perubahan indek bias media interaksi akibat pengaruh medan
elektrik yang diberikan kepada media interaksi tersebut. Jika medan elektrik diberikan kepada
media interaksi optik maka distribusi elektron pada media interaksi akan terdistorsi dan
terpolarisasi sehingga menyebabkan indeks bias media interaksi berubah secara isotropik
sehingga akan mengubah karakteristik pandu gelombang optik atau karakteristik media interaksi.
Dengan berubahnya karakteristik tersebut maka mode perambatan berkas akan berubah baik
berupa perubahan fasa ataupun panjang gelombang. Pengaruh medan elektrik pada perubahan
indeks bias media interaksi menghasilkan dua macam interaksi elektro-optik yaitu : Efek Pockels
yang merupakan efek linier elektro-optik pada media interaksi zat padat. Efek Kerr yang
merupakan efek kuadrat elektro-optik pada media interaksi yang umumnya berupa zat cair.

Mach Zehnder
Mach Zehnder merupakan jenis modulator eksternal elektro-optik yang digunakan dalam Tugas
Akhir ini, bekerja mempengaruhi berkas cahaya yang melintas dengan menggunakan medan
elektromagnetik tertentu yang dihasilkan oleh pulsa-pulsa listrik. Atau dengan kata lain
modulator ini bekerja berdasarkan prinsip perpaduan (interfering) dua berkas cahaya koheren
yang menghasilkan pola garis-garis cahaya (fringe) sesuai dengan besarnya beda fasa antara dua
berkas cahaya tadi. Gambar 2.2 adalah skema dasar Interferometer Mach Zehnder. Pada gambar
tersebut nampak jelas cara kerja alat jika dilihat dari arah rambatan cahayanya

Keterangan :

S sumber berkas

P titik fokus lensa L2

W1,W2,W3 muka gelombang optik

L1 dan L2 lensa kolimator

D1 dan D2 media semi pantul

M1 dan M2 cermin pemantul


Perbedaan fasa yang terjadi bisa disebabkan dua hal, yaitu perbedaan fasa karena pemantulan
atau perbedaan karena lintasan. Pada kasus ini perbedaan fasa yang ditimbulkan disebabkan
karena perbedaan lintasan yang ditempuh kedua berkas sinar. Perbedaan fasa akibat pantulan
tidak terjadi di sini, karena terjadinya pantulan pada masing-masing berkas sinar sama, yaitu tiap
berkas sama-sama mengalami dua kali pemantulan. Beda fasa antara dua berkas cahaya pada
titik P dapat dinyatakan dalam persamaan

dimana :

h adalah selisih jarak antara dua berkas cahaya dalam interferometer.

n adalah indeks bias medium perambatan optik.

Pada titik P, tempat bertemunya dua berkas cahaya tadi, akan terjadi pola dengan titik pusat
(fringe) terang jika :

dan fringe gelap jika :

Dari persamaan diatas , pola interferensi muncul akibat perbedaan lintasan antara dua berkas
cahaya yang masuk dalam interferometer sehingga menimbulkan perbedaan fasa antara kedua
berkas tersebut. Jika tidak ada perbedaan lintasan antara kedua berkas, maka tidak akan timbul
interferensi karena tidak ada beda fasa antara kedua berkas sehingga keduanya akan menyatu
kembali dengan sempurna. Perbedaan lintasan ini muncul karena kedua berkas tiba pada titik
yang berbeda pada L2 sehingga keduanya mencapai titik fokus lensa L2 yaitu P dengan
menempuh jarak lintasan yang berbeda pula.Karena pola interferensi yang muncul tergantung
pada parameter n dan parameter h, maka persamaan di atas dapat diturunkan berdasarkan kedua
parameter tersebut. Bila diturunkan rumus beda fasa di atas, maka akan diperoleh :

rumus beda fasa 2

Dari penurunan persamaan di atas, seperti yang ditunjukkan oleh persamaan beda fasa (a)terlihat
bahwa perubahan fasa tergantung pada perubahan indeks bias n dan perubahan jarak h akibat
pergeseran posisi keempat komponen optik yaitu L1, L2, M1, M2. Perubahan fasa tersebut
berbanding lurus dengan perubahan kedua parameter tadi. Selain itu, muncul konstanta yang
membuat beda fasa tidak menjadi nol bila tidak ada perubahan indeks bias atau perubahan jarak
lintasan. Sedangkan pada persamaan beda fasa b menunjukkan pengaruh jarak dalam perubahan
fasa dan persamaan beda fasa c menunjukkan hal serupa untuk indeks bias medium perambatan.
Berdasarkan gambar model prisma di atas, redaman yang dialami berkas cahaya pada
interferometer Mach Zehnder terjadi saat melewati medium udara, media semi pantul (D1 dan
D2), lensa kolimator (L1 dan L2). Berkas diserap udara dan lensa-lensa tersebut kemudian
berubah menjadi bentuk lain baik berupa panas maupun hamburan berkas. Timbulnya redaman
tersebut tak dapat diperkirakan besarnya tergantung karakteristik lensa-lensa dan juga medium
udara di sekitar interferometer.

Format Awal Modulasi Sistem Optik

Untuk waktu yang lama, non-return-to-zero on-off-keying (NRZ-OOK) mendominasi format


modulasi yang digunakan dalam sistem komunikasi serat optik. Format modulasi NRZ-OOK ini
hanya akan disebut OOK. Alasan–alasan yang mungkin mendasari penggunaan OOK pada awal
aplikasi serat optik sebagai sistem komunikasi: pertama, OOK ini hanya membutuhkan
bandwidth elektrik yang relatif kecil untuk transmitter dan receiver (dibandingkan dengan RZ-
OOK); yang kedua, OOK tidak sensitif terhadap noise fasa laser (dibandingkan Phase Shif
Keying); dan yang terakhir OOK memiliki konfigurasi yang sederhana pada transmitter maupun
receiver. Pada beberapa tahun terakhir, sebagaimana komunikasi serat optik yang mengalami
kemajuan dalam hal datarates yang semakin tinggi, DWDM dan komunikasi jarak jauh dengan
amplifier optik, modulasi OOK akan menjadi referensi yang baik sebagai pembanding.

Blok diagram transmitter NRZ diperlihatkan dalam gambar dibawah ini , dimana sinyal
elektrik dimodulasi dengan sebuah modulator intensitas eksternal. Modulator intensitas ini bisa
berupa jenis Mach-Zehnder atau jenis electro-absorbtion, yang mengubah sinyal elektrik OOK
dengan data rate Rb menjadi suatu sinyal optik OOK pada data rate yang sama. Lebar pulsa optik
pada sebuah pulsa ”1” yang terisolasi (antara bit-bit ”0”) sama dengan kebalikan dari data rate
(1/ Rb). Untuk mendeteksi suatu sinyal optik NRZ, digunakan sebuah fotodiode yang sederhana
pada receiver, yang akan mengubah daya optik sinyal menjadi arus listrik. Disebut juga direct
detection (DD).

A ZAINOL RACHMAN_111010129

ANALISA PERBANDINGAN SISTEM FORMAT MODULASI OPTIK NRZ-DPSK &


RZ-DPSK TERHADAP NRZ-OOK PADA SISTEM LIGHTWAVE BERKECEPATAN
TINGGI (COMPARISON ANALYSIS OF OPTICAL MODULATION FORMAT SYSTEM
OF NRZ-DPSK & RZ-DPSK TOWARDS NRZ-OOK IN HIGH SPEED LIGHTWAVE
SYSTEM)

IT TELKOM
laser (akronim dari Light amplifikasi oleh menstimulasi Emisi dari radiasi) adalah
sumber optik yang emits foton koheren dalam sorotan.The verb ke lase berarti
"untuk memproduksi cahaya koheren" atau mungkin "untuk menerapkan laser ke
lampu", dan merupakan pembentukan-belakang dari istilah laser.

Sinar laser biasanya hampir satu warna, yaitu terdiri dari satu panjang gelombang
atau warna, dan emitted dalam mempersempit beam.Hal ini kontras ke sumber
cahaya umum, seperti bola lampu pijar, yang memancarkan foton kacau di hampir
semua penjuru, biasanya melalui spektrum yang luas dari wavelengths.

Laser tindakan dijelaskan oleh teori kuantum mekanik dari dan


termodinamika.Banyak materi yang telah ditemukan memiliki karakteristik yang
diperlukan untuk membentuk laser media yang diperlukan untuk mendapatkan
daya yang laser, dan ini menyebabkan banyak penemuan jenis laser dengan
berbagai karakteristik yang sesuai untuk berbagai aplikasi.

Laser telah diusulkan sebagai sebuah variasi dari prinsip maser pada akhir tahun
1950-an, laser yang pertama dan telah ditunjukkan pada tahun 1960.Sejak saat itu,
laser manufaktur telah menjadi multi-milyar dolar industri, dan laser yang
ditemukan termasuk aplikasi dalam bidang ilmu pengetahuan, industri, obat-
obatan, dan konsumen elektronik.

LED::

light-emitting diode (LED) adalah perangkat semikonduktor yang sempit emits


kacau-spektrum cahaya ketika elektrik bias pada arah maju.Efek ini merupakan
bentuk electroluminescence.Warna emitted cahaya yang tergantung pada
komposisi kimia dari semiconducting bahan yang digunakan, dan dapat dekat-
ultraungu, terlihat atau inframerah. [1] Rubin Braunstein (lahir 1922) dari Radio
Corporation of America pertama dilaporkan pada emisi inframerah dari GaAs dan
lainnya alloys semikonduktor pada tahun 1955. [2] Experimenters di Texas
Instruments, dan Gary Biard Bob Pittman, ditemukan pada tahun 1961 yang
memberi gallium arsenide off inframerah (kelihatan) cahaya ketika arus listrik telah
diterapkan.Biard dan Pittman mampu membuat prioritas pekerjaan mereka dan
menerima hak paten untuk cahaya inframerah-emitting diode.Nick Holonyak
Jr (lahir 1928) dari General Electric Company mengembangkan pertama praktis
terlihat-spektrum LED pada tahun 1962. [3]

Sumber cahaya disebut sebagai komponen aktif dalam sistem komunikasi serat optik. Fungsinya mengubah arus
listrik menjadi energi optik (cahaya) sehingga dapat dikopling ke serat optik. Selanjutnya sinyal optik yang
dihasilkan sumber ini akan membawa informasi sampai ke receiver.
Laser Diode (LD) dan Light Emitting Diode (LED) merupakan sumber optik yang cocok untuk sistem serat optik.
Kedua sumber ini mempunyai dimensi yang sesuai dengan diameter serat optik sehingga dapat mengemisikan
cahaya dengan spectral width yang sempit pada panjang gelombang dimana redaman dan dispersi serat kecil, dan
dapat memodulasi sinyal dengan bandwidth yang lebar dan menghasilkan daya optik output yang cukup besar.
4
Perbedaan dasar dari LED dan Laser diode adalah output dari LED tidak koheren sedangkan
output Laser koheren. Pada sumber yang koheren, energi optik dihasilkan dari rongga optik
resonan. Energi optik yang dilepaskan dari rongga ini bersifat monokromatik dan terarah,
sehingga kopling cahaya ke serat menjadi baik dan spectral width yang sempit. LED tidak
memiliki rongga resonan dan merupakan Lambertian Source (Memancarkan cahaya ke
segala arah) yang menghasilkan spectral width yang lebar. Selain itu LED menghasilkan
daya output yang lebih kecil dari Laser dan ini menyebabkan LED kurang cocok digunakan
untuk transmisi jarak jauh. Karena sifat emisi sumber LED berpola lambertian maka untuk
memberikan efisiensi kopling yang tinggi, LED lebih cocok digunakan serat multimode. LED
dapat memodulasi bandwidth sinyal sampai 300MHz, sedangkan Laser mampu mencapai
2,5GHz. Dalam aplikasinya, LED banyak dipakai untuk komunikasi dengan jarak sedang
(kurang dari 10 km) dan Laser untuk komunikasi jarak jauh (hingga 100 km).