0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan4 halaman

Waroeng SS

Sistem kemitraan Waroeng Spesial Sambal “SS” menawarkan kemitraan dengan investor dengan proporsi kepemilikan hingga 45% dan modal investasi Rp300-500 juta. Kemitraan bersifat lifetime dengan pembagian laba setiap 6 bulan."

Diunggah oleh

Ant Eko Andriyanto
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan4 halaman

Waroeng SS

Sistem kemitraan Waroeng Spesial Sambal “SS” menawarkan kemitraan dengan investor dengan proporsi kepemilikan hingga 45% dan modal investasi Rp300-500 juta. Kemitraan bersifat lifetime dengan pembagian laba setiap 6 bulan."

Diunggah oleh

Ant Eko Andriyanto
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

A.

Bisnis Franchise Makanan/ Minuman:


1. Moo-Moo Korean Milk
2. Co-Co World Ice Blend
3. Bakso Kumis Blok S
4. Coffee and Chef
5. Tahu Gila
6. Pasco – Passion Chocolate
7. Brownies Martabak
8. Takoyaki – Oishii Tako
9. Rotiboy
10. Waroeng Spesial Sambal
Waroeng Spesial Sambal

Sistem kemitraan Waroeng Spesial Sambal “SS”, sebagai berikut:

1. Sifat dalam kerjasama kemitraan adalah mitra pasif, dengan artian seluruh manajemen
dan kebijakan dipegang penuh oleh pihak waroeng spesial sambal meliputi :
 Manajemen Karyawan (SDM)
 Manajemen Operasional dan Umum
 Manajemen Produksi, dan
 Manajemen Keuangan

2. Kisaran besaran penyertaan modal adalah sebesar 300 juta s/d 500 juta dan akan
disesuaikan dengan besaran nilai riil prabuka waroeng tersebut.
3. Dengan penyertaan modal tersebut investor akan mendapatkan proporsi kepemilikan
maksimal sebesar 45%, sedangkan proporsi kepemilikan 55% merupakan hak dari
Manajemen Waroeng "SS" sebagai pengelola waroeng dan pemilik merek Waroeng
"SS".
4. Mitra / investor dapat memiliki proporsi kepemilikan kurang dari 45%, dan
pembagian tersebut akan ditawarkan oleh Bagian Kerjasama Manajemen Waroeng
"SS" dengan disesuaikan ketersediaan proporsi kepemilikan yang ada. Untuk
perhitungan nilai proporsi dan nilai investasi akan disesuaikan dengan modal yang
dibutuhkan Waroeng "SS untuk membuka waroeng baru
5. Seluruh biaya prabuka waroeng adalah biaya yang ditimbulkan akibat :
 Biaya sewa tempat bangunan
 Biaya renovasi bangunan
 Branding
 Biaya pembelian property dan kelengkapan meliputi dapur sampai ruang
konsumen
 Biaya recruitment dan training
 Biaya fasilitas karyawan / mess
6. Untuk pemyertaan lokasi (bangunan) dapat dilakukan oleh calon mitra dengan
ketentuan umum sebagai berikut ;
 Penyertaan lokasi akan dapat menambahkan nilai proporsi kepemilikan
 Bangunan harus milik sendiri bukan sewa
 Luasan bangunan minimal yaitu minimal 300
 Dilengkapi dengan fasilitas pendukung seperti lahan parkir mobil, motor, mess
karyawan,
 dll
 Harus dengan pengajuan terlebih dahulu
 Penentuan proses survey / tidak survey menjadi hak penuh dari Manajemen
Waroeng
 Spesial Sambal
7. Sifat keberlangsungan kemitraan atas Waroeng Spesial Sambal “SS” yaitu selama
waroeng tersebut berdiri (lifetime) dan apabila terjadi sesuatu hal ditengah jalan,
misalnya konfrontasi langsung dengan manajemen Waroeng "SS", melanggar
ketentuan dalam perjanjian atau hal-hal lain yang membuat putusnya kerjasama antara
investor dan Waroeng "SS" maka pihak yang memberikan keputusan adalah
Manajemen Waroeng Spesial Sambal “SS” apakah akan di kembalikan modalnya atau
ditutup

Sistem Perhitungan Profit Sharing:


Laba bersih = Omset – Seluruh biaya-biaya + pendapatan lain-lain.
Dana Cadangan = 10 % dari Laba bersih
Laba dibagi/profit sharing = Laba Bersih – Dana cadangan (90 % dari Laba bersih)

Fungsi cadangan modal / laba ditahan:


1. Untuk mengantisipasi kenaikan harga sewa bangunan.
2. Untuk pelaksanaan renovasi jika waroeng tersebut memerlukan renovasi ataupun
perluasan.
3. Untuk pelaksanaan relokasi waroeng jika dinyatakan lokasi awal waroeng tidak dapat
diperpanjang kontrak sewanya atau kurang beprospek.

Simulasi perhitungan Share Profit :


Keterangan :
Share Profit yang diterima investor = 45% x Laba dibagi
Jumlah laba disimpan di manajemen = 10% x Laba bersih
Contoh :
Total Omset pada bulan Juni 2014 250.000.000
Biaya Produksi 137.500.000
Biaya Operasional 27.000.000
Biaya Administrasi & gaji karyawan 60.500.000
Biaya Pegawai 1.000.000
Total Biaya Rp 226.000.000

Laba Bersih (Omset – Total Biaya) Rp 24.000.000


Laba Dibagi (90% x 24.000.000) Rp 21.600.000

Share Profit yang diterima


investor (45% x 21.600.000) Rp. 9.720.000

Sistem Transfer Share profit investor.


1. Share Profit investor akan ditransfer ke rekening investor setiap 6 bulan sekali
(system semester).
2. Laporan Laba Rugi dari operasional waroeng akan dikirimkan kepada investor via
email setiap bulan.

Sistem Pelaporan Pelaksanaan pendirian waroeng (untuk sistem kerjasama dengan


penyertaan lokasi/bangunan).
1. Sebelum pelaksanaan penandatanganan kerjasama atau investasi maka akan
diterbitkan estimasi biaya (Rencana Anggaran) pendirian waroeng oleh Divisi
Eksternal dan Pengembangan Waroeng Spesial Sambal "SS".
2. Setelah dilakukan penyetoran modal awal dan penandatangan perjanjian kerjasama
(investasi) maka akan dilakukan proses pembangunan waroeng.

WAROENG SPESIAL SAMBAL “SS”


JL. Kaliurang KM 4,5 Gg Kinanthi No. 19 Yogyakarta Telp. 0274.935.4037
Email : div.eksternalwss@gmail.com Website : www.waroengss.com

B. Yang harus dipertimbangkan ketika akan menjalani entrepreneurship dengan


membeli franchise:
Ada beberapa istilah yang perlu diperhatikan dalam waralaba (asing dan
domestik): franchisor dan franchisee.

 Franchisor atau pemberi waralaba, adalah badan usaha atau perorangan yang
memberikan hak kepada pihak lain untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak
atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas usaha yang dimilikinya.
 Franchisee atau penerima waralaba, adalah badan usaha atau perorangan yang
diberikan hak untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan
intelektual atau penemuan atau ciri khas yang dimiliki pemberi waralaba.
Waralaba asing pastinya sudah memiliki standar operasional yang ketat karena mereka tidak
ingin terjadi hal-hal yang dapat membuat reputasi mereknya menjadi rusak. Ada juga
waralaba domestik yang telah memiliki standar operasional cukup ketat, biasanya terdapat
pada jenis waralaba mini market, karena hal ini menyangkut logistik, serta distribusi yang
harus dimiliki secara baik.

Empat hal yang harus menjadi fokus pemegang franchisee adalah: fee royalti, tempat usaha
apakah milik sendiri atau sewa, modal awal usaha, arus kas usaha.

Fee Royalti. Fee royalti untuk waralaba asing pastinya akan mahal, mengingat reputasi
perusahaan atau merek yang akan diwaralabakan. Anda perlu memperhatikan apakah ada
kenaikan royalti untuk tahun-tahun berikutnya. Terkadang pemilik waralaba (principal) akan
melakukan evaluasi terhadap biaya royalti tersebut. Hal ini bisa dimungkinkan apabila
pemilik waralaba melihat keberhasilan dari franchisee yang melakukan usaha tersebut.

Tempat usaha. Perlu diperhitungkan secara seksama, apakah tempat usaha perlu dimiliki
atau hanya menyewa. Karena ini juga berpengaruh pada kelangsungan usaha waralaba yang
sedang dijalani apakah akan berhasil atau mengalami kerugian pada tahun berikutnya.
Biasanya hal ini banyak terjadi pada usaha restoran atau kafe.

Modal usaha. Ada beberapa pemilik waralaba memberikan modal usaha, akan tetapi hal ini
tergantung pula pada hasil penilaian principal. Namun memang lebih
banyak franchisee menggunakan modal sendiri karena hal ini bisa menjadi penilaiaan dari
keseriusan franchisee dalam melakukan usaha waralaba tersebut.

Arus Kas Usaha. Hal terpenting dalam membangun sebuah bisnis adalah pendapatan. Apa
gunanya membangun usaha sekalipun itu waralaba, akan tetapi tidak menghasilkan
pendapatan. Cashflow Management yang baik perlu diterapkan apapun usaha Anda. Bukan
besaran omset yang paling penting namun apakah usaha Anda memberikan keuntungan atau
tidak.

Common questions

Didukung oleh AI

Ensuring long-term profitability of a franchise location involves several considerations: managing lease agreements to control costs over time, planning for regular refurbishments or relocations as necessary to maintain customer appeal, and consistently evaluating market trends to adapt the business model. Financially, maintaining a reserve fund to manage unexpected expenses or market downturns is crucial. Effective cash flow management to balance income and expenditures over fiscal periods ensures both operational smoothness and strategic reinvestment in growth opportunities .

Waroeng Spesial Sambal maintains quality and operational consistency through a management model where all key areas, including human resources, operational & general management, production management, and financial management, are entirely controlled by Waroeng SS's management team. This ensures that all franchises adhere to established standards. Moreover, the system ensures active involvement of the franchise management in important decisions and real-time adjustments .

Ownership stakes significantly influence the decision-making process because, within the Waroeng Spesial Sambal framework, management retains a majority ownership (55%), consequently holding primary control over business decisions. This structure limits the investor's influence, making them passive stakeholders where operational decisions and strategic directions are aligned with management's goals and policies rather than individual investors' interests. This centralized decision-making ensures uniformity and adherence to established operating procedures .

Potential investors providing their property for a Waroeng Spesial Sambal franchise must meet several criteria: they must own (not rent) the property, which should have a minimum size of 300 square meters and include necessary facilities like parking for cars and motorcycles, as well as employee accommodations. The submission of the property must be pre-approved, and Waroeng SS management retains full rights to survey the location .

Cash flow management is deemed critical because it directly affects the operational viability and success of a franchise business. Effective management ensures that despite potentially high turnover, the business remains profitable. It emphasizes that profitability, not just revenue, is crucial, and ongoing management can help sustain operations during lower revenue periods, manage expenses, and invest in growth. Good cash flow management prevents liquidity issues and helps in strategic planning .

Prospective entrepreneurs should consider factors such as the royalty fees involved, the nature of the business location (ownership vs. rental), the amount of initial capital needed, and the expected cash flow management. These elements determine not only the startup costs but also the potential for profitability and sustainability of the franchise operations. It's essential to understand long-term commitments and evaluate whether the business model fits the entrepreneur's goals and financial resources .

Foreign franchises typically implement stricter operational standards to protect their brand reputation, which often leads to higher royalty fees but ensures consistent quality and service. This demands greater compliance from franchisees, who may face higher operational costs but benefit from robust systems. Domestic franchises may have looser standards but can offer more flexibility and potentially lower costs. For potential franchisees, choosing between them involves weighing factors like initial investment, operational control, and potential returns against regulatory demands and brand support .

Advantages for investors in Waroeng Spesial Sambal include gaining up to a 45% ownership share with a structured profit-sharing model, receiving operational reports, and investing in a managed entity that ensures operational consistency. However, disadvantages may include limited decision-making power as the management controls all key aspects, potential restrictions due to fixed operational policies, and risks associated with location and market dependency. Investors must weigh the high investment against their reduced control and potentially slower returns due to the franchise structure .

The reserved fund, which is 10% of the net profit, serves as a crucial component of the financial strategy for sustainability at Waroeng Spesial Sambal. It helps in mitigating financial risks associated with challenges like rising building lease costs, facilitating renovations, and enabling relocation if necessary. This prudent approach ensures the franchise can handle unforeseen financial challenges, thereby supporting long-term business sustainability .

The financial obligations for an investor in the Waroeng Spesial Sambal franchise include an investment amount ranging from 300 million to 500 million, adjusted based on the real value of the restaurant's pre-opening. This investment gives the investor a maximum ownership share of 45%, while the remaining 55% is held by the management of Waroeng SS. Profits are calculated as net profit (revenue minus all costs) minus a reserve fund of 10%, with the remaining 90% distributed as profit sharing. Investors receive 45% of this distributable profit. Profit sharing distributions occur every six months, with monthly operational income and loss reports sent via email .

Anda mungkin juga menyukai