Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

Dekubitus merupakan masalah yang sangat serius terutama bagi pasien


yang harus dirawat lama di rumah sakit dengan keterbatasan aktifitas. Pasien-
pasien tirah baring biasanya dirawat selama sekitar sepuluh hari. Lamanya hari
perawatan serta kondisi penyakit akan mengancam terjadinya decubitus 1.

Ulkus dekubitus dapat terbentuk pada orang sulit atau tidak bisa merubah
posisi tubuhnya terhadap tekanan, seperti pada pasien dengan paralisis atau
kelainan neurologi, pasien yang selalu berbaring, pasien tua, pasien dengan
penyakit akut, dan pasien yang menggunakan kursi roda. Walaupun demikian
tidak semua pasien-pasien tersebut akan mendapatkan ulkus dekubitus. Ulkus
dekubitus tidak akan terbentuk pada orang dengan sensitivitas, mobilitas dan
mental yang normal, karena baik disadari atau tak disadari penekanan yang terlalu
lama pada bagian tubuh akan mencegah daerah yang tertekan tersebut mengalami
kerusakan yang irreversible. Ulkus dekubitus terjadi jika tekanan yang terjadi
pada bagian tubuh melebihi kapasitas tekanan pengisian kapiler, yakni sekitar 32
mmHg 1,3.

Ulkus dekubitus dapat menjadi problem yang cukup serius baik di negara
maju maupun di negara berkembang, karena mengakibatkan meningkatnya biaya
perawatan, memperlambat program rehabilitasi bagi penderita, memperberat
penyakit primer dan mengancam kehidupan pasien. Oleh karena itu, perlu
pemahaman cukup tentang ulkus dekubitus agar diagnosis dapat ditegakkan secara
dini sehingga penatalaksanaan dapat dilakukan dengan segera dan tepat serta
dapat dilakukan tindakan untuk mencegah terjadinya ulkus dekubitus tersebut 4 .

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 DEFINISI

Ulkus dekubitus adalah kerusakan kulit yang terjadi akibat kekurangan


aliran darah dan iritasi pada kulit yang menutupi tulang yang menonjol, dimana
kulit tersebut mendapatkan tekanan dari tempat tidur, kursi roda, gips, pembidaian
atau benda keras lainnya dalam jangka panjang 1 .

Bagian tubuh yang sering mengalami ulkus dekubitus adalah bagian dimana
terdapat penonjolan tulang, yaitu sikut, tumit, pinggul, pergelangan kaki, bahu,
punggung dan kepala bagian belakang. Ulkus dekubitus terjadi jika tekanan yang
terjadi pada bagian tubuh melebihi kapasitas tekanan pengisian kapiler dan tidak
ada usaha untuk mengurangi atau memperbaikinya sehingga terjadi kerusakan
jaringan yang menetap. Bila tekanan yang terjadi kurang dari 32 mmHg atau ada
usaha untuk memperbaiki aliran darah ke daerah tersebut maka ulkus dekubitus
dapat dicegah 2,6 .

II.2 ETIOLOGI

Kulit kaya akan pembuluh darah yang mengangkut oksigen ke seluruh


lapisannya. Jika aliran darah terputus lebih dari 2-3 jam, maka kulit akan mati,
yang dimulai pada lapisan kulit paling atas (epidermis) 2 .

Penyebab dari berkurangnya aliran darah ke kulit adalah tekanan. Jika


tekanan menyebabkan terputusnya aliran darah, maka kulit yang mengalami
kekurangan oksigen pada mulanya akan tampak merah dan meradang lalu
membentuk luka terbuka (ulkus). Gerakan yang normal akan mengurangi tekanan

2
sehingga darah akan terus mengalir. Kulit juga memiliki lapisan lemak yang
berfungsi sebagai bantalan pelindung terhadap tekanan dari luar 2 .

Risiko tinggi terjadinya ulkus dekubitus ditemukan pada 3 :

1. Orang-orang yang tidak dapat bergerak (misalnya lumpuh, sangat lemah,


dipasung).
2. Orang-orang yang tidak mampu merasakan nyeri, karena nyeri merupakan
suatu tanda yang secara normal mendorong seseorang untuk bergerak.
Kerusakan saraf (misalnya akibat cedera, stroke, diabetes) dan koma bisa
menyebabkan berkurangnya kemampuan untuk merasakan nyeri.
3. Orang-orang yang mengalami kekurangan gizi (malnutrisi) tidak memiliki
lapisan lemak sebagai pelindung dan kulitnya tidak mengalami pemulihan
sempurna karena kekurangan zat-zat gizi yang penting.
4. Gesekan dan kerusakan lainnya pada lapisan kulit paling luar bisa
menyebabkan terbentuknya ulkus.
5. Baju yang terlalu besar atau terlalu kecil, kerutan pada seprei atau sepatu
yang bergesekan dengan kulit bisa menyebabkan cedera pada kulit.
Pemaparan oleh kelembaban dalam jangka panjang (karena berkeringat,
air kemih atau tinja) bisa merusak permukaan kulit dan memungkinkan
terbentuknya ulkus.

II.3 FAKTOR RISIKO

Faktor risiko terjadinya dekubitus antara lain, yaitu 4 :

1. Mobilitas dan aktivitas

Mobilitas adalah kemampuan untuk mengubah dan mengontrol posisi


tubuh, sedangkan aktivitas adalah kemampuan untuk berpindah. Pasien
yang berbaring terus menerus di tempat tidur tanpa mampu untuk merubah

3
posisi berisiko tinggi untuk terkena luka tekan. Imobilitas adalah faktor
yang paling signifikan dalam kejadian luka tekan 4.

2. Penurunan sensori persepsi

Pasien dengan penurunan sensori persepsi akan mengalami penurunan


untuk merasakan sensari nyeri akibat tekanan di atas tulang yang
menonjol. Bila ini terjadi dalam durasi yang lama, pasien akan mudah
terkena luka tekan 4 .

3. Kelembaban

Kelembaban yang disebabkan karena inkontinensia dapat mengakibatkan


terjadinya maserasi pada jaringan kulit. Jaringan yang mengalami maserasi
akan mudah mengalami erosi 4 .

Selain itu kelembaban juga mengakibatkan kulit mudah terkena


pergesekan (friction) dan perobekan jaringan (shear). Inkontinensia alvi
lebih signifikan dalam perkembangan luka tekan daripada inkontinensia
urin karena adanya bakteri dan enzim pada feses dapat merusak
permukaan kulit 4 .

4. Tenaga yang merobek ( shear )

Merupakan kekuatan mekanis yang meregangkan dan merobek jaringan,


pembuluh darah serta struktur jaringan yang lebih dalam yang berdekatan
dengan tulang yang menonjol.

Contoh yang paling sering dari tenaga yang merobek ini adalah ketika
pasien diposisikan dalam posisi semi fowler yang melebihi 30 derajat.
Pada posisi ini pasien bisa merosot ke bawah, sehingga mengakibatkan
tulangnya bergerak ke bawah namun kulitnya masih tertinggal. Ini dapat
mengakibatkan oklusi dari pembuluh darah, serta kerusakan pada jaringan

4
bagian dalam seperti otot, namun hanya menimbulkan sedikit kerusakan
pada permukaan kulit 4 .

5. Pergesekan ( friction)

Pergesekan terjadi ketika dua permukaan bergerak dengan arah yang


berlawanan. Pergesekan dapat mengakibatkan abrasi dan merusak
permukaan epidermis kulit. Pergesekan bisa terjadi pada saat penggantian
sprei pasien yang tidak berhati-hati 4.

6. Nutrisi

Hipoalbuminemia, kehilangan berat badan, dan malnutrisi umumnya


diidentifikasi sebagai faktor predisposisi untuk terjadinya luka tekan.
Stadium tiga dan empat dari luka tekan pada orangtua berhubungan
dengan penurunan berat badan, rendahnya kadar albumin, dan intake
makanan yang tidak mencukupi 4.

7. Usia

Pasien yang sudah tua memiliki risiko yang tinggi untuk terkena luka
tekan karena kulit dan jaringan akan berubah seiring dengan penuaan.
Penuaan mengakibatkan kehilangan otot, penurunan kadar serum albumin,
penurunan respon inflamatori, penurunan elastisitas kulit, serta penurunan
kohesi antara epidermis dan dermis. Perubahan ini berkombinasi dengan
faktor penuaan lain akan membuat kulit menjadi berkurang toleransinya
terhadap tekanan, pergesekan, dan tenaga yang merobek 4 .

8. Tekanan arteriolar yang rendah

Tekanan arteriolar yang rendah akan mengurangi toleransi kulit terhadap


tekanan sehingga dengan aplikasi tekanan yang rendah sudah mampu
mengakibatkan jaringan menjadi iskemia 4 .

5
9. Stress emosional

Depresi dan stress emosional kronik misalnya pada pasien psikiatrik juga
merupakan faktor risiko untuk perkembangan dari luka tekan 4.

10. Merokok

Nikotin yang terdapat pada rokok dapat menurunkan aliran darah dan
memiliki efek toksik terhadap endotelium pembuluh darah 4 .

11. Temperatur kulit

Peningkatan temperatur merupakan faktor yang signifikan dengan risiko


terjadinya luka tekan 4 .

II.4 EPIDEMIOLOGI

Angka prevalensi ulkus dekubitus berbeda-beda pada setiap negara. Pada


masing-masing rumah sakit di Amerika menunjukkan sekitar 4,7%-29,7% dan
11,2%-23% di nursing homes, Inggris Raya sekitar 7,9%-32,1% dan 4,6%-7,5%
di nursing homes. Pada perawatan akut (nursing homes) di Eropa berkisar 3%-
83,6%, Tiga rumah sakit di Singapura berkisar 9%-14% (pada perawatan akut dan
rehabilitasi), 21% pada rumah sakit rehabilitasi Hongkong dan sekitar 14,6% pada
komunitas di Jepang (Maklebust & Sieggreen, 2001). Angka kejadian luka
dekubitus di Indonesia mencapai 33,3% dimana angka ini cukup tinggi bila
dibandingkan dengan angka prevalensi ulkus dekubitus di ASEAN yang hanya
berkisar 2,1%–31,3%. 2

6
II.5 PATOFISIOLOGI

Luka dekubitus merupakan dampak dari tekanan yang terlalu lama pada area
permukaan tulang yang menonjol dan mengakibatkan berkurangnya sirkulasi
darah pada area yang tertekan dan lama kelamaan jaringan setempat mengalami
iskemik, hipoksia dan berkembang menjadi nekrosis. Tekanan yang normal pada
kapiler adalah 32 mmHg. Apabila tekanan kapiler melebihi dari tekanan darah dan
struktur pembuluh darah pada kulit, maka akan terjadi kolaps. Dengan terjadi
kolaps akan menghalangi oksigenasi dan nutrisi ke jaringan, selain itu area yang
tertekan menyebabkan terhambatnya aliran darah. Dengan adanya peningkatan
tekanan arteri kapiler terjadi perpindahan cairan ke kapiler, ini akan menyokong
untuk terjadi edema dan konsekuensinya terjadi autolisis. Hal lain juga bahwa
aliran limpatik menurun, ini juga menyokong terjadi edema dan mengkontribusi
untuk terjadi nekrosis pada jaringan 5 .

II.6 STADIUM

National Pressure Ulcer Advisory Panel (NPUAP) membagi stadium luka


dekubitus menjadi empat dengan karakteristik sebagai berikut 6 :

1. Stadium I : Kulit berwarna kemerahan, pucat pada kulit putih, biru, merah
atau ungu pada kulit hitam. Temperatur kulit berubah hangat atau dingin,
bentuk perubahan menetap dan ada sensasi gatal atau nyeri.
2. Stadium II : Hilangnya sebagian lapisan kulit namun tidak lebih dalam
dari dermis, terjadi abrasi, lepuhan, luka dangkal dan superfisial.
3. Stadium III : Kehilangan lapisan kulit secara lengkap meliputi subkutis,
termasuk jaringan lemak dibawahnya atau lebih dalam lagi namun tidak
sampai fascia. Luka mungkin membentuk lubang yang dalam.
4. Stadium IV : Kehilangan lapisan kulit secara lengkap hingga tampak
tendon, tulang, ruang sendi. Berpotensi untuk terjadi destruksi dan risiko
osteomyelitis.

7
Gambaran karakteristik masing-masing stage tersebut dapat dilihat dengan
jelas pada gambar 2 :

Stadium Luka Dekubitus menurut NPUAP (Courtesy of Prof. Hiromi Sanada,


Japan)

II.7 GEJALA KLINIS

• Manifestasi klinis pada dekubitus untuk pertama kali ditandai dengan kulit
eritema atau kemerahan, terdapat ciri khas dimana bila ditekan dengan jari,
tanda eritema akan lama kembali lagi atau persisten.

• Diikuti dengan kulit mengalami edema., dan temperatur di area tersebut


meningkat atau bila diraba akan merasa hangat.

• Dapat timbul rasa nyeri dan tanda-tanda sistemik peradangan, termasuk


demam dan peningkatan hitung sel darah putih.

• Tanda pada luka dekubitus ini akan dapat berkembang hingga sampai ke
jaringan otot dan tulang.

8
• Dapat terjadi infeksi sebagai akibat dari kelemahan dan perawatan di
Rumah Sakit yang berkepanjangan bahkan pada ulkus kecil 3 .

Gambar : Ulkus Dekubitus

II.8 DIAGNOSA

Anamnesis :

1. Biodata

Umur/usia perlu ditanyakan karena adanya hubungan dengan proses


penyembuhan luka atau regenerasi sel.Sedangkan ras dan suku bangsa
perlu ditanyakan karena kulit yang tampak normal pada ras dan
kebangsaan tertentu kadang tampak abnormal pada klien dengan ras dan
kebangsaan lain). Pekerjaan dan hobi juga ditanyakan untuk mengetahui
apakah pasien banyak duduk atau sedikit beraktivitas sehingga terjadi
penekanan pembuluh darah yang menyebabkan suplai oksigen
berkurang, sel- sel tidak mendapat cukup zat makanan dan sampah hasil

9
sisa metabolisme tertumpuk. Akhirnya sel-sel mati, kulit pecah dan
terjadilah lubang yang dangkal dan luka dekubitus pada permukaan 3 .

2. Keluhan Utama

Merupakan keluhan yang paling dirasakan oleh pasien sehingga ia


mencari pertolongan. Keluhan yang diungkapkan pasien pada umumnya
yaitu adanya rasa nyeri. Lokasi luka biasanya terdapat pada daerah-
daerah yang menonjol, misalnya pada daerah belakang kepala, daerah
bokong, tumit, bahu, dan daerah pangkal paha yang mengalami ischemia
sehingga terjadi ulkus decubitus 3,7 .

3. Riwayat Penyakit Sekarang

Hal- hal yang perlu ditanyakan adalah mulai kapan keluhan dirasakan,
lokasi keluhan, intensitas, lamanya atau frekuensi, faktor yang
memperberat atau memperingan serangan, serta keluhan- keluhan lain
yang menyertai dan upaya- upaya yang telah dilakukan perawat disini
harus menghubungkan masalah kulit dengan gejalanya seperti: gatal,
panas, mati rasa, immobilisasi, nyeri, demam, edema, dan neuropati 3 .

4. Riwayat Personal dan Keluarga

a. Riwayat penyakit keluarga perlu ditanyakan karena penyembuhan


luka dapat dipengaruhi oleh penyakit – penyakit yang diturunkan
seperti : DM, alergi, Hipertensi ( CVA ) 4.
b. Riwayat penyakit kulit dan pengobatan yang pernah dialami pasien.
Hal ini untuk memberikan informasi apakah perubahan pada kulit
merupakan manifestasi dari penyakit sistemik seperti : infeksi kronis,
kanker, DM 4 .

5. Riwayat Pengobatan

10
Apakah pasien pernah menggunakan obat- obatan. Yang perlu
ditanyakan yaitu 3 :

a. Kapan pengobatan dimulai.

b. Dosis dan frekuensi.

c. Waktu berakhirnya minum obat

6. Riwayat Diet

Yang ditanyakan yaitu berat badan, tinggi badan, pertumbuhan badan dan
makanan yang dikonsumsi sehari- hari. Nutrisi yang kurang adekuat
menyebabkan kulit mudah terkena lesi dan proses penyembuhan luka
yang lama 4 .

7. Status Sosial Ekonomi

Untuk mengidentifikasi faktor lingkungan dan tingkat perekonomian


yang dapat mempengaruhi pola hidup sehari- hari, karena hal ini
memungkinkan dapat menyebabkan penyakit kulit 4 .

8. Riwayat Kesehatan, seperti 3 :

a. Bed-rest yang lama

b. Immobilisasi

c. Inkontinensia

d. Nutrisi atau hidrasi yang inadekuat

9. Pengkajian Psikososial

11
Kemungkinan hasil pemeriksaan psikososial yang tampak pada klien
yaitu 3 :

a. Perasaan depresi

b. Frustasi

c. Ansietas/kecemasan

d. Gangguan konsep diri

e. Keputusasaan

f. Nyeri

10. Aktivitas Sehari- Hari

Pasien yang immobilisasi dalam waktu yang lama maka bukan terjadi
ulkus pada daerah yang menonjol karena berat badan bertumpu pada
daerah kecilyang tidak banyak jaringan dibawah kulit untuk menahan
kerusakan kulit. Sehingga diperlukan peningkatan latihan rentang gerak
dan mengangkat berat badan. Tetapi jika terjadi paraplegi maka akan
terjadi kekuatan otot tidak ada (pada ekstremitas bawah), penurunan
peristaltik usus (terjadi konstipasi), nafsu makan menurun dan defisit
sensori pada daerah yang paraplegi 3,4 .

3,4
Pemeriksaan Fisik

1. Keadaan Umum

Umumnya penderita datang dengan keadaan sakit dan gelisah atau cemas
akibat adanya kerusakan integritas kulit yang dialami.

12
2. Tanda-Tanda Vital

Tekanan darah normal, nadi cepat, suhu meningkat dan respirasi rate
meningkat.

3. Pemeriksaan Kepala Dan Leher

a) Kepala Dan Rambut

Pemeriksaan meliputi bentuk kepala, penyebaran dan perubahan


warna rambut serta pemeriksaan tentang luka. Jika ada luka pada
daerah tersebut, menyebabkan timbulnya rasa nyeri dan kerusakan
kulit.

b) Mata

Meliputi kesimetrisan, konjungtiva, reflek pupil terhadap cahaya dan


gangguan penglihatan.

c) Hidung

Meliputi pemeriksaan mukosa hidung, kebersihan, tidak timbul


pernafasan cuping hidung, tidak ada sekret.

d) Mulut

Catat keadaan adanya sianosis atau bibir kering.

e) Telinga

Catat bentuk gangguan pendengaran karena benda asing, perdarahan


dan serumen. Pada penderita yang bed rest dengan posisi miring
maka kemungkinan akan terjadi ulkus didaerah daun telinga.

f) Leher

13
Mengetahui posisi trakea, denyut nadi karotis, ada tidaknya
pembesaran vena jugularis dan kelenjar linfe.

4. Pemeriksaan Dada Dan Thorax

Inspeksi bentuk thorax dan ekspansi paru, auskultasi irama pernafasan,


vokal premitus, adanya suara tambahan, bunyi jantung, dan bunyi
jantung tambahan, perkusi thorax untuk mencari ketidak normalan pada
daerah thorax.

5. Abdomen

Bentuk perut datar atau flat, bising usus mengalami penurunan karena
inmobilisasi, ada masa karena konstipasi, dan perkusi abdomen
hypersonor jika dispensi abdomen atau tegang.

6. Urogenital

Inspeksi adanya kelainan pada perineum. Biasanya pasien dengan ulkus


dan paraplegi terpasang kateter untuk buang air kecil.

7. Muskuloskeletal

Adanya fraktur pada tulang akan menyebabkan pasien bed rest dalam
waktu lama, sehingga terjadi penurunan kekuatan otot.

8. Pemeriksaan Neurologi

Tingkat kesadaran dikaji dengan sistem GCS. Nilainya bisa menurun bila
terjadi nyeri hebat (syok neurogenik) dan panas atau demam tinggi, mual
muntah, dan kaku kuduk.

14
Inspeksi kulit

Pemeriksaan kulit melibatkan seluruh area kulit termasuk membran mukosa,


kulit kepala, rambut dan kuku. Tampilan kulit yang perlu dilihat yaitu warna,
suhu, kelembaban, kekeringan, tekstur kulit (kasar atau halus), lesi, vaskularitas 3 .

Yang harus diperhatikan oleh pemeriksa yaitu 3,6 :

1) Warna, dipengaruhi oleh aliran darah, oksigenasi, suhu badan


dan produksi pigmen.

Lesi yang dibagi dua yaitu :

a) Lesi primer, yang terjadi karena adanya perubahan


pada salah satu komponen kulit

b) Lesi sekunder adalah lesi yang muncul setelah adanya


lesi primer.

Gambaran lesi yang harus diperhatikan oleh pemeriksa


yaitu warna, bentuk, lokasi dan kofigurasinya.

2) Edema

Selama inspeksi kulit, perawat mencatat lokasi, distribusi dan


warna dari daerah edema.

3) Kelembaban

Normalnya, kelembaban meningkat karena peningkatan aktivitas


atau suhu lingkungan yang tinggi kulit kering dapat disebabkan

15
oleh beberapa faktor, seperti lingkungan kering atau lembab
yang tidak cocok, intake cairan yang inadekuat, proses menua.

4) Integritas

Yang harus diperhatikan yaitu lokasi, bentuk, warna, distribusi,


apakah ada drainase atau infeksi.

5) Kebersihan kulit
6) Vaskularisasi

Perdarahan dari pembuluh darah menghasilkan petechie dan


echimosis.

Palpasi kulit

Yang perlu diperhatikan yaitu lesi pada kulit, kelembaban, suhu, tekstur atau
elastisitas, turgor kulit 4 .

Pemeriksaan Penunjang

1) Darah lengkap

Peningkatan tertentu awal menunjukkan hemo konsentrasi, sehubungan


dengan perpindahan atau kehilangan cairan dan untuk mengetahui
adanya defisiensi nutrisi pada klien. Jika terjadi leukositosis karena
adanya kehilangan sel pada sisi luka dan respon inflamasi terhadap
edema. Glukosa serum yang terjadi peningkatan karena respon stress 3,4 .

2) Biopsi luka

Untuk mengetahui jumlah bakteri 3 .

16
3) Kultur swab

Untuk mengidentifikasi tipe bakteri pada permukaan ulkus 3 .

4) Pembuatan foto klinis

Dibuat untuk memperlihatkan sifat serta luasnya kelainan kulit atau ulkus
dan dipergunakan untuk perbaikan setelah dilakukan terapi 3 .

II.9 PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan ulkus dekubitus harus dilakukan dengan baik dan terpadu,


karena proses penyembuhannya yang membutuhkan waktu yang lama. Agency for
Health Care Policy and Research (AHCPR) telah membuat standar baku dalam
penatalaksanaan ulkus dekubitus (Bergstrom, 1994). Ketika ulkus dekubitus telah
terbentuk, maka pengobatan harus diberikan dengan segera. Pengobatan yang
diberikan dapat berupa tempat tidur yang termodifikasi baik untuk penderita ulkus
dekubitus, pemberian salap, krim, ointment, solution, kasa, gelombang ultrasonik,
atau lampu panas ultraviolet, gula, dan tindakan bedah 8 .

Pemilihan terapi, tergantung pada stadium ulkus dekubitus dan tujuan


pengobatan.seperti proteksi, pelembaban dan membuang jaringan nekrosis. Hal
yang harus diperhatikan dalam penatalaksanaan ulkus dekubitus adalah 7,8 :

1. Perawatan luka harus dibedakan ke dalam metode operatif dan


nonoperatif.
2. Perawatan luka dengan metode nonoperatif dilakukan untuk ulkus
dekubitus stadium 1 dan 2, sedangkan untuk stadium 3 dan 4 harus
menggunakan metode operatif.
3. Sekitar 70-90% ulkus dekubitus adalah superfisial dan sembuh dengan
penyembuhan sekunder.
4. Mengurangi tekanan lebih lanjut pada daerah ulkus.

17
Secara umum penatalaksanaan ulkus dekubitus dibagi menjadi
nonmedikamentosa dan medikamentosa.

A. Nonmedikamentosa

Penatalaksanaan ulkus dekubitus dengan nonmedikamentosa adalah


meliputi pengaturan diet dan rehabilitasi medik. Seperti telah disebutkan di atas,
nutrisi adalah faktor risiko untuk terjadinya ulkus decubitus 8 .

Pemberian diet yang tinggi kalori, protein, vitamin dan mineral akan
meningkatkan status gizi penderita ulkus dekubitus. Meningkatnya status gizi
penderita ini akan memperbaik sistem imun penderita sehingga mempercepat
penyembuha ulkus decubitus 7 .

Terapi rehabilitasi medik yang diberikan untuk penyembuhan ulkus


dekubitus adalah dengan radiasi infra merah, short wave diathermy, dan
pengurutan. Tujuan terapi ini adalah untuk memberikan efek peningkatan
vaskularisasi sehibgga dapat membantu penyembuhan ulkus. Sedangkan
penggunaan terapi ultrasonik, sampai saat ini masih terus diselidiki manfaatnya
terhadap terapi ulkus decubitus 7,8 .

B. Medikamentosa

Penatalaksanaan ulkus dekubitus dengan metode medikamentosa meliputi :

1. Mempertahankan keadaan bersih pada ulkus dan sekitarnya

Keadaan tersebut akan menyebabkan proses penyembuhan luka lebih cepat


dan baik. Untuk hal tersebut dapat dilakukan kompres, pencucian,
pembilasan, pengeringan dan pemberian bahan-bahan topikal seperti larutan

18
NaC1 0,9%, larutan H202 3%,larutan plasma dan larutan Burowi serta larutan
antiseptik lainnya 7,8 .

Kompres yang diberikan pada ulkus dekubitus adalah semipermiabel dan


tertutup, yang memungkinkan terjadinya pertukaran gas dan transfer
penguapan air dari kulit dan mencegah maserasi kulit. Selain itu, kompres
dapat mencegah terjadinya infeksi sekunder dan mencegah faktor trauma.
Tetapi, kompres ini tidak berfungsi baik pada pasien dengan diaforesis dan
eksudat yang banyak 7 .

Beberapa kategori untuk kompres dan topikal yang dapat digunakan adalah
antimikrobial, moisturizer, emollient, topical circulatory stimulant, kompres
semipermiabel, kompres kalsium alginate, kompres hidrokoloid dan hidrogel,
penyerap eksudat, kompres dari basah/lembab ke kering 8 .

2. Mengangkat jaringan nekrotik.

Adanya jaringan nekrotik pada ulkus akan menghambat aliran bebas dari
bahan yang terinfeksi dan karenanya juga menghambat pembentukan jaringan
granulasi dan epitelisasi. Oleh karena itu pengangkatan jaringan nekrotik
akan mempercepat proses penyembuhan ulkus. Terdapat 7 metode yang dapat
dilakukan antara lain 4,6 :

 Autolytic debridement. Metode ini menggunakan balutan


yang lembab untuk memicu autolisis oleh enzim tubuh. Prosesnya lambat
tetapi tidak menimbulkan nyeri.
 Biological debridement, or maggot debridement therapy.
Metode ini menggunakan maggot (belatung) untuk memakan jaringan
nekrosis. Oleh karena itu dapat membersihkan ulkus dari bakteri. Pada
Januari 2004, FDA menyetujui maggot sebagai live medical devic untuk
ulkus dekubitus.

19
 Chemical debridement, or enzymatic debridement. Metode
ini menggunakan enzim untuk membuang jaringan nekrosis.
 Mechanical debridement. Teknik ini menggunakan gaya
untuk membuang jaringan nekrosis. Caranya dengan menggunakan kasa
basah lalu membiarkannya kering di atas luka kemudian mengangkatnya.
Teknik ini kurang baik karena kemungkinan jaringan yang sehat akan ikut
terbuang. Pada ulkus stadium 4, pengeringan yang berlebihan dapat
memicu terjadinya patah tulang atau pengerasan ligamen.
 Sharp debridement. Teknik ini menggunakan skalpel atau
intrumen serupa untuk membuang jaringan yang sudah mati.
 Surgical debridement. Ini adalah metode yang paling
dikenal. Ahli bedah dapat membuang jaringan nekrosis dengan cepat tanpa
menimbulkan nyeri.
 Ultrasound-assisted wound therap. Metode ini memisahkan
jaringan nekrosis dari jaringan yang sehat dengan gelombang ultrasonik. 4,6
3. Menurunkan dan mengatasi infeksi.

Perlu pemeriksaan kultur dan tes resistensi. Antibiotika sistemik dapat


diberikan bila penderita mengalami sepsis dan selulitis. Ulkus yang terinfeksi
harus dibersihkan beberapa kali sehari dengan larutan antiseptik seperti
larutan H202 3%, povidon iodin 1%, seng sulfat 0,5%. Radiasi ultraviolet
(terutama UVB) mempunyai efek bakterisidal 8 .

Antibiotik sistemik kurang dianjurkan untuk pengobatan ulkus dekubitus


karena akan menimbulkan resistensi. Antibiotik sistemik yang dapat
diberikan meliputi gologan penicillins, cephalosporins, aminoglycosides,
fluoroquinolones, dan sulfonamides. Antibiotik lainnya yang dpat digunakan
adalah clindamycin, metronidazole dan trimethoprim. 4,6

4. Merangsang dan membantu pembentukan jaringan granulasi dan


epitelisasi.

20
Untuk mempercepat pembentukan jaringan granulasi dan epitelisasi pada
ulkus dekubitus sehingga mempercepat penyembuhan dapat diberikan 8 :

 Bahan-bahan topikal misalnya: salep asam salisilat 2%,


preparat seng (ZnO, ZnSO4).
 Oksigen hiperbarik; selain mempunyai efek bakteriostatik
terhadap sejumlah bakteri, juga mempunyai efek proliferatif epitel,
menambah jaringan granulasi dan memperbaiki keadaan vaskular. 4

5. Tindakan bedah

Ulkus Stadium III dan IV menyembuh lebih cepat dan membentuk lebih
sedikit jaringan parut apabila ditangani secara bedah. Pembedahan untuk
ulkus dekubitus meliputi eksisi ulkus, jaringan parut, dan biasanya tonjolan
tulang, diikuti dengan penutupan defek melalui salah satu dari prosedur-
prosedur yang dibahas di bawah ini 7 .

Prosedur primernya adalah teknik-teknik yang standar, aman, teruji waktu,


yang dipergunakan saat ulkus dekubitus timbul pertama kali dan sementara
masih terdapat cukup kulit, jaringan subkutan, dan otot pada daerah yang
berdekatan. Prosedur tersebut meliputi penutupan primer, tandur kulit, flap
kulit, dan flap kulit ditambah interposisi otot 8 .

 Penutupan Primer

Penutupan primer terdiri atas eksisi tepi ulkus dan konversi luka
menjadi suatu bentuk elips. Luka tersebut kemudian ditutup lapis demi
lapis untuk mengobliterasi ruang mati. Tepi kulit dipertemukan dan
dijahit. Kadang-kadang, diperlukan drain. Penutupan primer biasanya
dapat dilakukan sebagai suatu prosedur rawat jalan pada unit bedah
satu hari. Lindungi daerah tersebut dari tekanan selama 2 minggu

21
setelah penutupan; mulai duduk setelah minggu kedua, tergantung
pada kasus. Angkat jahitan pada minggu ketiga. Dengan bentuk
penanganan seperti ini, pasien tersebut hanya kehilangan sedikit
7,8
waktu dan tetap lebih dapat aktif .

 Tandur Kulit

Tandur kulit merupakan segmen dermis dan epidermis yang


dipisahkan seluruhnya dari pasokan darahnya pada daerah donor dan
dipisahkan ke permukaan luka. Terdapat dua jenis tandur kulit: tandur
kulit ketebalan penuh (full-thickness skin graft / FTSG) yang berisi
epidermis dan seluruh dermis, serta tandur kulit ketebalan sebagian
(split-thickness skin graft / STSG) yang terdiri atas epidermis dan
hanya sebagian dari dermis di bawahnya. Di antara dua jenis tandur
kulit ini, STSG lebih memungkinkan untuk bertahan pada daerah
resipien karena menerima fase penyerapan plasmatik yang lebih
lamam dan karenanya dapat bertahan lebih lama sebelum terjadi
vaskularisasi. STSG tidak mengandung apendises dermis (kelenjar
keringat dan folikel rambut), dan oleh karena itu perlu lubrikasi yang
terus-menerus 8 .

 Flap Kulit

Flap kulit, arus utama pada pembedahan ulkus dekubitus,


dipergunkan apabila luka terlalu luas untuk dilakukan penutupan
primer dan kehilangan massa jaringan mengahalangi penanduran.
Suatu flap kulit merupakan “lidah” jaringan yang dilepaskan dari
jaringan sekitarnya kecuali suatu pedikel atau basis, yang
mempertahankan paokan darah. Flap kulit terdiri dari kulit dengan
ketebalan penuh dan jaringan subkutan di bawahnya, dan dapat
diangkat dan dipindahkan ke daerah tubuh yang lain dalam batas-batas
pedikel vaskularnya. Jikas suatu defek memerlukan flap, pasien

22
tersebut harus dipersiapkan untuk prosedur operasi besar dan
diantisipasi dengan 4 hingga 6 minggu perawatan di rumah sakit.
Biasanya, hanya ulkus ischial, trochanteric, atau sacral yang
memerlukan flap. Flap musculocutaneus adalag flap yang paling
sering dipakai. Dengan komposisi dari kulit, jaringan subkutan, dan
otot di bawahnya, pasokan darahnya berasal dari rantai vaskular
mayor (arteri dan vena), yang masuk ke bawah permukaan proksimal
dari otot dan terangkat bersama-sama dengan otot tersebut. Untuk
memobilisasi flap tersebut, jaringan fascia dan subkutan dijahit
menjadi satu untuk menghindari kerusakan pembuluh darah yang
mengalami perforasi pada jaringan aerolar yang saling berhadapan
dari kedua lapisan tersebut. Pemindahan flap musculocutaneus
meninggalkan suatu daerah donor yang dalam yang pada kebanyakan
kasus harus ditutup dengan tandur kulit. Kadang-kadang, daerah ini
dapat ditutup secara primer 7,8 .

 Prosedur Lainnya

Prosedur sekunder dipergunakan jika terjadi kerusakan multipel.


Jika begitu, jaringan yang adekuat tidak segera tersedia di dekat ulkus
dekubitus yang baru, baik karena pembentukan parut dari ulkus
dekubitus sebelumnya atau akibat prosedur pembedahan, atau karena
jaringan subkutan sekitarnya telah mengalami atrofi dan mengecil.

Prosedur tersier dicadangkan sampai prosedur primer dan sekunder


telah dicoba. Metode tersier yang paling umum adalah amputasi
unilateral atau bilaeral dan fillet (pengangkatan tulang) ekstremitas
bagian bawah. 3,4,6

II.10 KOMPLIKASI

23
 Osteomielitis

Terdapat 10 % insidens osteomielitis yang berhubungan dengan ulkus


dekubitus. Selain itu, sepsis yang terjadi akibat ulkus dapat menjadi
komplikasi yang serius dan fatal. Mungkin terdapat kesulitan membedakan
osteomielitis yang mendasari ulkus dekubitus dengan infeksi jaringan lunak.
Debridement ulkus secara bedah yang digabung dengan antibiotik-spektrum
luas diperlukan pada infeksi jaringan lunak. Adanya osteomielitis akan
menunjukkan luasnya ostektomi dan dapat memodifikasi lamanya
pengobatan antibiotik 4.

 Amputasi

Amputasi dan prosedur pemotongan dipersiapkan untuk pasien yang


memiliki ulserasi luas, dengan/atau tanpa osteomielitis yang mendasarinya,
dan tidak dapat diobati dengan baik melalui prosedur primer atau sekunder
apapun seperti yang telah digambarkan sebelumnya. Prosedur tersebut dapat
terdiri dari suatu amputasi di atas lutut, pemotongan (pengangkatan femur)
dari penggunaan keseluruhan paha untuk penutupan flap. Prosedur teknis
yang lebih hebat dan ekstensif terdiri dari amputasi pada tingkat
pergelangan kaki dan potongan pada keseluruhan tungkai. Hal ini
memungkinkan lebih banyak otot dan jaringan subkutan menutupi defek
tersebut. Teknik ini harus digolongkan sebagai prosedur tersier dan hanya
dilakukan apabila seluruh prosedur lain terbukti tidak berhasil.

Aspek psikologis dari bedah amputasi menghasilkan beberapa area


masalah yang besar. Kehidupan bagi orang yang diamputasi telah dirusak
dalam kebiasaan yang menonjol. Konsekuensi psikologis akibat kecacatan
yang jelas juga dapat bermakna 3,4 .

24
II.11 PROGNOSIS

Prognosis dari ulkus dekubitus tergantung dari penyebabnya. Pada pasien


dengan paraplegia, sekitar 50 – 70% pasien dengan ukus dekubitus sembuh secara
konservatif. Namun pada pasien dengan perawatan yang lama dan memiliki
banyak masalah kesehatan, prognosisnya buruk, dan komplikasi seperti sepsis,
osteomyeolitis, amyoloidosis, anemia dan malignanci dapat terjadi.8

BAB III

KESIMPULAN

Ulkus dekubitus merupakan suatu perlukaan akibat nekrosis jaringan lokal


yang cenderung terjadi ketika jaringan lunak tertekan diantara tonjolan tulang
dengan permukaan eksternal dalam jangka waktu lama. Faktor utama yang
memegang peranan dalam patogenesis ulkus dekubitus adalah adanya iskemia
jaringan lunak akibat tekanan yang berkepanjangan.

Menurut NPUAP ulkus dekubitus diklasifikasikan menjadi 4 derajat.


Pencegahan terjadinya ulkus dekubitus mencakup pengendalian higiene dan
perawatan kulit, pengaturan posisi, dan alas pendukung (kasur dan tempat tidur
terapeutik). Prinsip terapi bedah pada ulkus dekubitus adalah mengeluarkan
semua jaringan nekrotik dengan maksud eliminasi infeksi sehingga luka dapat
sembuh. Terdiri dari tindakan bedah kecil seperti insisi dan pengaliran abses,
debridemen dan nekrotomi. Tindakan bedah dilakukan berdasarkan indikasi yang
tepat.

25
DAFTAR PUSTAKA

1. American Academy of Physical Medicine and Rehabilitation. 1989.Physical


Medicine and Rehabilitation Handbook. Chiccago.
2. Donovan WH, Dinh TA, Graber SL, et al.1993.: Pressure Ulcer. In DeLisa JA,
ed. Rehabilitation Medicine 2nd ed. Philadelphia: J.B. Lippincott.
3. Hamid T, Dhewi WS, Ilmu Kedokteran Fisik & Rehabilitasi (Physiatry). 1992.
Surabaya: Unit Rehabilitasi Medik RSUD Dr. Soetomo.
4. H i d a y a t , Djunaedi, Sjaiful Fahmi Daili, dan Mochtar
H a m z a h . Ulkus Dekubitus. Dalam Cermin Dunia Kedokteran No. 64, Tahun
1990.
5. Pendland, Susan L., dkk.Skin and Soft Tissue Infections. Dalam Joseph T.
DiPiro, dkk, editor. 2005. Pharmacotherapy A Pathophysiologic
Approach. Edisi 6. Chicago: McGrawHill Company.
6. Susan J. Garrison. Dasar-Dasar Terapi & Rehabilitas Fisik. Jakarta:
Hipokrates. 2001.
7. Webster JG. 1991. Prevention of Pressure Sores: Engineering and Clinical
Aspects. Philadelphia & New York: Adam Hilger.
8. Woosely RM, McGarry JD. 1991. The Cause, Prevention, and Treatment of
Pressure Sores. Neuro Clin.

26
27