Anda di halaman 1dari 5

Kasus Rumah Sakit

Sebuah rumah sakit tipe B (rumah sakit pemerintah) penerimaan resep sebanyak 80 %
sehingga cakupan resep belum optimal dirawat jalan dan rawat inap. Obat yang ada dirumah
sakit banyak yang belum tersedia sehingga membuat penerimaan resep menjadi tidak
optimal. Apalagi resep yang digawat darurat dan bangsal bedah juga belum optimal
dikarenakan terjadi penggunaan obat yang tidak terpakai. PFT juga belum bekerja dengan
baik dalam mengendalikan obat yang ada dirumah sakit. Jumlah kunjungan pasien rawat
jalan sebanyak 57600 org/ tahun. Jumlah tenaga farmasi yang tersedia adalah apoteker 2 org
dan asisten apoteker adalah 9 orang. Jika pasien gawat darurat diasumsikan sebagai pasien
rawat inap dalam sehari adalah adalah 143. Pertanyaannya :

1. Lakukan telaah penyebab masalah cakupan resep yang belum optimal? Bagaimana
solusi yang disarankan saudara untuk memperbaiki pelayanan resep rawat jalan, rawat
inap agar cakupan resep menjadi 100 %.
2. Agar obat selalu tersedia di RS tipe B (RS Pemerintah) metode pembelian yang mana
yang saudara pilih (tentunya mengikuti peraturan pemerintah). Jelaskan alasan
saudara! Apakah ada perbedaan metode pembelian obat di RS pemerintah dengan RS
swasta ?
3. Agar pelayanan obat gawat darurat prima, bagaimana metode distribusi obat yang
saudara pilih? Jelaskan alasan saudara dengan menelaah jangkauan pelayanan di
instalasi gawat darurat.
4. Bagaimana saudara menyiapkan sistem distribusi obat floors stock untuk pelayanan
kamar bedah di instalasi gawat darurat sebaik mungkin agar obat selalu tersedia dan
tercegah dari kebocoran?
5. Bagaimana metode distribusi obat di pelayanan rawat inap yang tepat agar cakupan
resep baik, pelayanan cepat? Lakukan analisis beban kerja karyawan, 1 apoteker
melayani 60 resep rawat jalan, 1 asisten apoteker melayani resep 60 resep rawat jalan,
1 Apoteker rawat inap melayani 30 pasien?
6. Bagaimana cara menyiapkan sistem distribuai obat floorstok di bangsal bedah umum
agar meminimalkan kebocoran obat? Bagaimana menyiapkan SDO ODD dibangsal
tersebut ?
7. Bagaimana saudara menyiapkan sistem distribusi floor stock di bangsal penyakit
dalam? Bagaimana menyiapkan SDO UDD di bangsal tsb?
8. Bagaimana saudara menyiapkan SDO FS di kamar bersalin?
9. Bagaimana penyimpanan obat di gudang farmasi, di pelayanan farmasi rawat darurat,
rawat jalan, rawat inap? Design tata letak gudang IFRS?
10. Mungkinkah dengan tenaga yang ada dapat dilakukan kegiatan produksi obat
RS.Bagaimana kriteria produksi obat untuk pelayanan obat di RS, pertimbangan apa
saja yang perlu dilakukan?
11. Bagaimana saudara mengatasi problem obat macet, mencegah obat kadarluarsa ?
Jawaban no 3:
Agar pelayanan obat gawat darurat prima, bagaimana metode distribusi obat yang
saudara pilih? Jelaskan alasan saudara dengan menelaah jangkauan pelayanan di
instalasi gawat darurat.

Sistem distribusi ada dua pilihan sistem yg ditetapkan berdasarkan SDM dan
tataruang RS yaitu sistem sentralisasi dan sistem desentralisasi. Untuk pelayanan obat
gawat darurat atau situasi dimana mengancam kehidupan pasien maka dibutuhkan
ketersediaan obat-obat sekitar pasien yang dapat dijangkau dengan cepat. Oleh karena
itu, sistem yang tepat untuk diterapkan yaitu sistem desentralisasi dibandingkan
dengan sistem sentralisasi. Dimana diketahui sistem sentralisasi yaitu penyimpanan
dan pendistribusian perbekalan farmasi dipusatkan pada satu tempat di Instalasi
Farmasi (unit/bagian distribusi perbekalan farmasi). Seluruh kebutuhan perbekalan
farmasi untuk unit pelayanan/ruang rawat baik untuk kebutuhan individu pasien
maupun kebutuhan dasar ruang rawat disuplai langsung dari pelayanan farmasi pusat.
Sedangkan pada sistem desentralisasi yaitu pelayanan farmasi mempunyai cabang di
dekat unit pelayanan/ruang rawat yang disebut depo/satelit farmasi. Penyimpanan dan
pendistribusian perbekalan farmasi tidak langsung dilayani oleh pelayanan farmasi
pusat tetapi disuplai dari depo/satelit tersebut.
Satelit Farmasi Gawat Darurat ini berfungsi sebagai penunjang pelayanan kesehatan
dalam hal penyediaan obat dan alat kesehatan, terutama obat-obat penyelamat hidup
(life saving drugs), selama 24 jam setiap hari termasuk hari libur. Satelit Farmasi
Gawat Darurat juga melayani resep dari satelit farmasi lainnya di luar jam pelayanan
(IRNA, IRJA, BS, dan HD) sehingga juga menyediakan obat-obatan dan alat
kesehatan pada umumnya. Pelayanan di Satelit Farmasi Gawat darurat dibagi menjadi
3 shift yaitu:
a. Shift pagi : pukul 07.00 – 14.00 WIB
b. Shift siang : pukul 14.00 – 21.00 WIB
c. Shift malam : pukul 21.00 – 07.00 WIB
Agar pelayanan obat gawat darurat prima, masing–masing AA bertugas secara
bergantian sesuai dengan jadwal shiftnya, setelah 3 hari bertugas ada libur selama 1
hari (Sistem 3-1). Adapun tugas dan tanggung jawab AA di Satelit Farmasi Gawat
Darurat, adalah memberikan pelayanan dan penyediaan kebutuhan perbekalan farmasi
di satelit farmasi selama 24 jam yang meliputi :
a. Mengecek dan mengontrol persediaan obat dan alkes, mencatat obat keluar
masuk dalam kartu stock.
b. Meng-entry data pemakaian obat dan alat kesehatan yang dilayani ke Sistem
Informasi Manajemen (SIM).
c. Memberi harga perbekalan farmasi pada kartu obat pasien dan membuat kuitansi
pembayaran untuk obat-obat di luar ASKES yang membutuhkan pembayaran.
d. Melayani dan menyediakan obat dan alat kesehatan untuk kebutuhan di IGD.
e. Melayani pengambilan obat untuk pasien rawat inap di luar jam pelayanan apotek
rawat inap.
f. Menyiaan paket hemodialisa.
g. Memeriksa kelengkapan obat-obatan dan alat kesehatan untuk shift berikutnya
dan diberitahukan kepada petugas jaga shift berikutnya.
h. Melakukan pengecekan perbekalan farmasi yang hampir habis dan membuat surat
permintaan ke gudang farmasi, juga melakukan pengecekan bila barang datang
sebelum disimpan.
i. Mengisi obat yang siap saji dari gudang bufer.
j. Melakukan pengecekan obat-obat yang hampir kadaluarsa untuk selanjutnya
dikirim kembali ke gudang.
k. Mengecek penggunaan dan melakukan pengisian kembali obat floor stock di VK
(kebidanan) dan OK (operasi) IGD bekerja sama dengan paramedis di IGD.
l. Menyelesaikan laporan dan administrasi lain untuk mengontrol keadaan
perbekalan farmasi dan bagaimana distribusinya, serta menjamin kualitas
pelayanan.
m. Melaporkan apabila menemui kesulitan dalam pelayanan Satelit Farmasi Gawat
Darurat kepada Apoteker jaga atau Instalasi Farmasi untuk dicari jalan keluarnya.
n. Mentransfer informasi yang penting kepada petugas jaga berikutnya jika
memerlukan tindakan lanjutan
o. Mencatat pemakaian obat narkotik dalam kartu penyerahan narkotik.

Distribusi
Dalam pemilihan metode distribusi obat di Satelit Farmasi Gawat Darurat (SFGD) ada
beberapa hal yang harus dipertimbangkan, antara lain:
a. Pelayanan kesehatan di SFGD
b. Cakupan Jumlah pasien yang dilayani di SFGD
c. Cakupan tindakan medik yang dilakukan di SFGD, terutama tindakan operatif
d. Jumlah tenaga medis maupun non medis di SFGD
e. Alur pelayanan pasien.
Sistem distribusi obat dan alat kesehatan di Satelit Farmasi Gawat Darurat:
a. Sistem individual prescribing
Sistem ini dapat diterapkan pada:
1) Pasien IGD yang kondisinya baik dan diperbolehkan pulang (rawat jalan),
maka keluarga pasien akan membawa resep dari dokter ke Satelit Farmasi
Gawat Darurat.
2) Pasien IGD yang mendapatkan tindakan, maka dokter meresepkan obat dan
alat kesehatan yang diperlukan.
3) Pembedahan minor, misalnya lecet atau tergores, biopsy kulit dan circum
section.
4) Selain life saving drug dan obat atau alkes bedah minor, juga melayani paket
obat atau alkes untuk Hemodialisa.

b. Sistem Floor stock


Sistem ini dapat diterapkan untuk kamar operasi minor, kamar operasi mayor, VK
(kebidanan) IGD, ruang resusitasi dan ruang pemulihan. Yang termasuk dalam
sistem ini adalah emergency kit berupa troli berisi ECG di ruang resusitasi,
nebulizer di ruang infeksius dan Sphygmomanometer di ruang pemulihan dan
ruang operasi minor. Floor stock berupa kapas, gunting kasa, kasa, perhidrol,
lysol tersedia di ruang operasi minor dan mayor.

c. Kombinasi floor stock dan individual prescribing


Sistem ini dikenal dengan sistem paket yang dapat diterapkan untuk tindakan
operasi yang sering dilakukan di IGD. Keuntungan penerapan sistem ini dapat
meminimalkan kehilangan obat maupun alat kesehatan, karena obat-obat yang
telah dipakai ditulis di kartu obat sedangkan obat sisa dikembalikan. Obat dan
alat kesehatan yang digunakan untuk operasi disiapkan dalam satu paket
menggunakan wadah khusus, ini yang dimaksud dengan sistem floor stock-nya,
sedangkan sistem individual prescribing-nya adalah ketika dokter meminta paket
ke Satelit Farmasi Gawat Darurat melalui perawat. Terdapat 4 macam paket di
Satelit Farmasi Gawat Darurat sesuai dengan jenis operasi yaitu paket
laparotomy, craniotomy, sectio cesaria.

Dari penjelasan diatas maka sistem distribusi ketiganya digunakan agar pelayanan
obat gawat darurat prima.

Jawaban No 8:
Bagaimana saudara menyiapkan Sistem Distribusi Obat Floor Stock di kamar
bersalin?

Perbekalan farmasi floor stock adalah bentuk distribusi perbekalan farmasi yang
diletakkan di ruang perawatan salah satunya diruang bersalin. Dikelola oleh Instalasi
Farmasi bersama-sama dengan ruangan/unit kamar bersalin.
Adapun langkah penyiapan sistem distribusi obat sebagai berikut :
Pengisian awal sediaan farmasi, alkes dan BMHP Floor Stock
1. Kepala ruangan menentukan jenis dan jumlah Sediaan farmasi, alat kesehatan dan
bahan medis habis pakai floor stock yang dibutuhkan.
2. Kepala ruangan membuat usulan permintaan Sediaan farmasi, alat kesehatan dan
bahan medis habis pakai floor stock ke Instalasi farmasi.
3. Apoteker mengkaji daftar usulan Sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan
medis habis pakai floor stock.
4. Apoteker membuat daftar Sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis
pakai untuk ditempel di masing – masing ruangan.
5. TTK menyiapkan Sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai
floor stock sesuai dengan jenis dan jumlah daftar Sediaan farmasi, alat kesehatan
dan bahan medis habis pakai yang telah ditetapkan dan diletakkan dalam
lemari/troli penyimpanan floor stock.
6. Setiap ada perubahan isi/daftar Sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis
habis pakai floor stock mengikuti prosedur diatas.

Penggunaan Sediaan farmasi, alkes dan BMHP Floor Stock


1. Perawat ruangan menggunakan Sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis
habis pakai floor stock bila ada pasien dengan kondisi emergensi.
2. Perawat ruangan mengambil dan mencatat Sediaan farmasi, alat kesehatan dan
bahan medis habis pakai floor stock yang dibutuhkan.
3. Perawat segera mencatat pada lembar bon pemakaian untuk alkes.
4. Dokter segera menuliskan resep pengganti obat – obatan yang digunakan.
5. Resep obat dan bon pemakaian alkes floor stock diterima oleh Instalasi Farmasi.

Pengisian kembali Sediaan farmasi, alkes dan BMHP Floor Stock


1. Apoteker/TTK menerima resep/lembar pemakaian alkes dan menghitung harga
obat & alkes.
2. Apoteker/TTK menyiapkan Sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis
habis pakai floor stock.
3. Apoteker/TTK menyerahkan obat & alkes floor stock kepada perawat/pasien
dengan inisial nama pasien.
4. Perawat mengembalikan pada lemari floor stock.
5. Apoteker/TTK melakukan pemeriksaan floor stock minimal 2 kali seminggu dan
memeriksa waktu kadaluarsa.
6. Jika ada Sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai yang tidak
sesuai jumlahnya maka merupakan tanggung jawab ruangan yang bersangkutan.