Anda di halaman 1dari 5

ALUR PELAYANAN KIA PADA ERA COVID-19 DI PKM BANGUNTAPAN 1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Dilaporkan pertama kali pada 31 Desember 2019, Coronavirus disease 2019

(COVID-19) adalah penyakit yang sedang mewabah hampir di seluruh dunia saat ini,

dengan nama virus Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-COV2).

Dimulai pada daerah Wuhan, provinsi Hubei, Tiongkok yang melaporkan pertama kali

mengenai kasus Pneumonia yang tidak diketahui penyebabnya. Jumlah kasus terus bertambah

seiring dengan waktu. Akhirnya dikonfirmasi bahwa transmisi pneumonia ini dapat menular

dari manusia ke manusia. Pada tanggal 11 Maret 2020, WHO mengumumkan bahwa COVID-19

menjadi pandemi di dunia. Pada tanggal 25 Maret 2020, dilaporkan total kasus konfirmasi

414.179 dengan 18.440 kematian (CFR 4,4%) dimana kasus dilaporkan di 192 Negara.

Pada tanggal 2 Maret 2020, Indonesia melaporkan kasus konfirmasi COVID-19 sebanyak 2

kasus. Sampai dengan tanggal 25 Maret 2020, Indonesia sudah melaporkan 790 kasus

konfirmasi COVID-19 dari 24 Provinsi. (Kemenkes RI, 2020 ).

Berdasarkan bukti ilmiah, COVID-19 dapat menular dari manusia ke manusia

melalui percikan batuk/bersin (droplet), tidak melalui udara. Orang yang paling berisiko

tertular penyakit ini adalah orang yang kontak erat dengan pasien COVID-19 termasuk yang

merawat pasien COVID-19 (WHO, 2014). COVID-19 memiliki tanda dan gejala umum

infeksi antara lain gejala gangguan pernapasan akut seperti demam, batuk dan sesak napas.

Masa inkubasi dari COVID-19 rata-rata 5-6 hari dengan masa inkubasi terpanjang 14 hari.

Pada kasus COVID-19 berat dapat menyebabkan pneumonia, sindrom pernapasan akut,

gagal ginjal, dan bahkan kematian. Tanda-tanda dan gejala klinis yang dilaporkan pada

sebagian besar kasus adalah demam, dengan beberapa kasus mengalami kesulitan bernapas,
dan hasil rontgen menunjukkan gambaran infiltrat pneumonia luas di kedua paru (Read JM,

2020).

Pengetahuan tentang infeksi COVID-19 dalam hubungannya dengan kehamilan dan

janin masih terbatas dan belum ada rekomendasi spesifik untuk penanganan ibu hamil

dengan COVID-19. Berdasarkan data yang terbatas tersebut dan beberapa contoh kasus pada

penanganan Coronavirus sebelumnya (SARS-CoV dan MERS-CoV) dan beberapa kasus

COVID-19, dipercaya bahwa ibu hamil memiliki risiko lebih tinggi untuk terjadinya

penyakit berat, morbiditas dan mortalitas dibandingkan dengan populasi umum. Efek

samping pada janin berupa persalinan preterm juga dilaporkan pada ibu hamil dengan

infeksi COVID-19. Informasi ini sangat terbatas dan belum jelas apakah komplikasi ini

memiliki hubungan dengan infeksi pada ibu. Dalam dua laporan yang menguraikan 18

kehamilan dengan COVID-19, semua terinfeksi pada waktu kehamilan trimester ketiga dan

didapatkan temuan klinis pada ibu hamil mirip dengan orang dewasa yang tidak hamil.

Gawat janin dan persalinan prematur ditemukan pada beberapa kasus (POGI, 2020). Untuk

itu juga diperlukan perawatan bayi baru lahir dan anak yang baik, termasuk imunisasi anak

serta memerlukan strategi yang berbeda. Anak-anak pada semua usia sensitif terhadap

COVID-19, dan tidak ada perbedaan gender yang signifikan. Manifestasi klinis kasus

COVID-19 anak-anak kurang parah dibandingkan dengan orang dewasa pasien. Namun,

anak-anak kecil, terutama bayi, rentan terhadap infeksi COVID-19 (CDC.,2020).

Sejak diumumkan pertama kali ada di Indonesia, kasus COVID-19 meningkat

jumlahnya dari waktu ke waktu sehingga memerlukan perhatian. Pada prakteknya di masa

pandemi, pencegahan COVID-19 diperlukan kerjasama semua stakeholder sehingga

diperlukan panduan alur pelayanan kesehatan ibu dan anak difasilitas kesehatan tingkat

pertama terutama di Puskesmas Banguntapan I Yogyakarta yang sederhana dan mudah

dimengerti serta dapat diterapkan oleh fasilitas kesehatan lainnya di seluruh Indonesia

(Kemenkes RI.,2020 ).
1.1 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut maka didapatkan rumusan masalah pentingnya melakukan

skrining gangguan perkembangan pada anak berusia kurang dari 24 bulan dipuskesmas Banguntapan

1. Sehingga pada penelitian ini penulis ingin mendeteksi anak yang mengalami gangguan

perkembangan sedini mungkin.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, ditentukan perumusan masalah sebagai berikut:


1. Apa saja kesulitan atau permasalahan dalam pemenuhan gizi bayi 0-6 bulan?
2. Apa langkah yang telah dilakukan ketika ibu mengalami kesulitan untuk
memenuhi gizi bayi 0-6 bulan?
3. Bagaimana upaya yang dapat dilakukan jika ada kesulitan dalam memenuhi
kebutuhan gizi bayi 0-6 bulan?

C. Tujuan Kegiatan
1. Tujuan Umum :
Membuat suatu panduan sementara mengenai COVID-19 pada ibu hamil
berbasis rekomendasi ilmiah. dalam memberikan pelayanan sesuai standar dalam
masa social distancing.
2. Tujuan Khusus :
a. Mengidentifikasi kesulitan dalam pemenuhan gizi bayi 0-6 bulan.
b. Meningkatkan kewaspadaan dalam pemenuhan gizi bayi 0-6 bulan.
c. Menghentikan pemberian susu formula pada bayi usia 0-6 jika tidak ada
permasalahan dalam pemberian ASI
d. Melakukan pencegahan penurunan berat badan bayi 0-6 bulan ke tingkat
yang lebih berat.
e. Menetapkan alur penanganan pada pertumbuhan berat badan bayi 0-6
bulan yang tidak sesuai growth chart.
f. Meningkatkan pengetahuan mengenai ASI eksklusif kepada kader
kesehatan, kelompok pendamping ibu menyusui, dan lainnya

D. Lokasi Kegiatan
Mini Project Program Pemenuhan Gizi Bayi Usia 0-6 bulan dengan ASI
Eksklusif dilakukan di Puskesmas Banguntapan I, khususnya di Poli Kesehatan Ibu
dan Anak dan Posyandu Balita yang diadakan di area Puskesmas Banguntapan I.

memberikan panduan bagi sejawat yang bekerja baik di fasilitas


kesehatan tingkat primer maupun fasilitas kesehatan tingkat lanjut
untuk bisa dipergunakan sebagai panduan sementara, karena sampai
saat ini belum banyak ditemukan kasus infeksi COVID-19 pada ibu
hamil, sehingga rekomendasi yang dikeluarkan oleh Lembaga
internasional penanganan COVID-19 pada ibu hamil juga menggunakan
referensi yang sangat terbatas. Dikeluarkannya rekomendasi ini sesuai
dengan salah satu tujuan daripada POGI yaitu meningkatkan mutu
pelayanan Obstetri dan Ginekologi, khususnya pada kasus infeksi
COVID-19 pada ibu hamil yang pada akhirnya kita harapkan
penanganan kasus bisa optimal sehingga akan mengurangi angka
kematian ibu dan bayi, terutama sekali pada kasus infeksi COVID-19
pada ibu hamil.