Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari kebersihan merupakan hal yang sangat penting dan
harus diperhatikan. Kebersihan itu sendiri sangat berpengaruh diantaranya
kebudayaan, social, keluarga, pendidikan.
Praktik hygiene sama dengan peningkatan kesehatan. Dengan implementasi
tindakan hygiene pasien, atau membantu anggota keluarga untuk melakukan
tindakan itu dalam lingkungan rumah sakit, perawat menambah tingkat
kesembuhan pasien.
Vulva hygiene adalah perilaku memelihara alat kelamin bagian luar (vulva) guna
mempertahankan kebersihan dan kesehatan alat kelamin, serta untuk mencegah
terjadinya infeksi. Perilaku tersebut seperti melakukan cebok dari arah vagina ke
arah anus menggunakan air bersih, tanpa memakai antiseptik, mengeringkannya
dengan handuk kering atau tisu kering, mencuci tangan sebelum membersihkan
daerah kewanitaan (Darma, 2017). Mumpuni (2013) menyatakan bahwa organ
reproduksi perempuan memang membutuhkan perhatian khusus. Bentuknya yang
terbuka, memudahkan masuknya kuman melalui mulut vagina. Tubuh dan organ
intim yang sehat dapat pula memicu kepercayaan diri seseorang.

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan vulva hygiene?


2. Bagaimana perkembangan vulva hygiene hingga era modern?
3. Bagaimana prosedur pelaksanaan vulva hygiene?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian vulva hygiene.


2. Untuk mengetahui perkembangan vulva hygiene hingga era modern.
3. Untuk mengetahui prosedur pelaksanaan vulva hygiene.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian

Vulva adalah organ ekternal genetinal wanita yang terdiri dari mons veneris,
labia mayora, labia minora, klitoris, dan vestibulum (introitus vagina, urethra,
ductus bartolini, ductus scene kiri dan kanan). Hygiene berasal dari bahasa Yunani
yang berarti sehat.
Vulva hygiene adalah perilaku memelihara alat kelamin bagian luar (vulva) guna
mempertahankan kebersihan dan kesehatan alat kelamin, serta untuk mencegah
terjadinya infeksi. Perilaku tersebut seperti melakukan cebok dari arah vagina ke
arah anus menggunakan air bersih, tanpa memakai antiseptik, mengeringkannya
dengan handuk kering atau tisu kering, mencuci tangan sebelum membersihkan
daerah kewanitaan (Darma, 2017).
Mumpuni (2013) menyatakan bahwa organ reproduksi perempuan memang
membutuhkan perhatian khusus. Bentuknya yang terbuka, memudahkan masuknya
kuman melalui mulut vagina. Tubuh dan organ intim yang sehat dapat pula memicu
kepercayaan diri seseorang.
Kebersihan organ genetelia penting untuk dijaga, karena kuman mudah untuk
masuk dan meyebabkan penyakit pada saluran reproduksi, contohnya menjaga
kebersihan di saat menstruasi pembuluh darah melebar sihingga memudahkan
kuman masuk, keluhan yang dirsakan saat sedang menstruasi adalah terasa gatal
yang diakibatkan oleh tumbuhnya jamur kandida yang akan tumbuh pada saat
menstruasi (Sarwono, 2010).

D. Perkembangan Vulva Hygiene Hingga Era Modern

Masa remaja adalah masa transisi yang ditandai oleh adanya perubahan fisik,
emosi, dan psikis yang berkisar antara usia 10 sampai 19 tahun. Masa ini juga
disebut masa pubertas yang merupakan suatu periode dalam rentang perkembangan
dimana anak sudah mampu menjadi individu yang dapat menjalankan tugas
biologis untuk melanjutkan keturunannya.

2
Sel telur yang meluruh bersama darah saat menstruasi membuat remaja putri
harus menjaga kebersihan tubuhnya lebih ekstra terutama kebersihan vagina agar
terhindar dari penyakit infeksi akibat kebersihan yang tidak baik pada saat
menstruasi. Salah satu upaya untuk menjaga kesehatan reproduksi dapat dimulai
dengan memperhatikan kebersihan alat reproduksi terluar yaitu vagina dengan cara
meakukan perawatan vulva hygiene.
Prosedur vulva hygiene yang dapat dilakukan diantaranya membasuh secara
teratur bagian vulva sesuai dengan arah basuh yang tepat menggunakan air bersih,
dan untuk menampung darah menstruasi, pembalut perlu diganti sekitar 4-5 kali
dalam sehari untuk menghindari masuknya bakteri ke dalam vagina, karena saat
menstruasi pembuluh darah dalam rahim sangat mudah terkena infeksi. Praktik
vulva hygiene selama menstruasi dipengaruhi oleh faktor pengetahuan, semakin
tinggi pengetahuan yang dimiliki individu maka sikap dan praktik vulva hygiene
saat menstruasi akan lebih baik.
Kurangnya pengetahuan pada zaman dahulu mengakibatkan kebanyakan wanita
tidak menjaga kebersihan area genitalianya dengan baik. Kebanyakan mengeluhkan
gatal dan tidak nyaman pada daerah sekitar vagina saat menstruasi, dan belum
pernah mendapat paparan informasi tentang cara menjaga kebersihan alat
reproduksi, adapun beberapa pernah mendapat paparan informasi tentang cara
menjaga kebersihan alat reproduksi dari keluarga yaitu ibu dan kakak perempuan.
Pengetahuan mengenai vulva hygiene pada masa itu dianggap tabu, sehingga
tidak banyak perempuan yang menjaga kebersihan area genitalianya dengan baik.
Penjagaan kebersihan juga biasa dilakukan dengan bahan alami seperti daun sirih.
Vagina sebetulnya memiliki mekanisme untuk membersihkan dirinya sendiri
dengan cara mengeluarkan cairan vagina. Cairan vagina inilah yang disebut sebagai
keputihan. Keputihan adalah hal yang normal terjadi asalkan jumlahnya normal,
tidak berbau, berwarna bening atau sedikit putih, dan tidak disertai keluhan gatal
atau nyeri pada vagina.
Saat ini vulva hygiene telah memiliki faktor-faktor yang mendukung atau telah
tersedianya sarana dan prasarana yang memfasilitasi untuk melakukan vulva
hygiene. Baik buruknya seseorang dalam melakukan vulva hygiene tergantung pada

3
sarana dan prasarana yang ada. Sebagai contoh, seseorang akan membersihkan alat
kelaminnya menggunakan air bersih jika tersedia air bersih. Tetapi jika tidak
tersedia air bersih maka dengan terpaksa menggunakan air seadanya, misalnya air
sungai. Berdasarkan contoh tersebut terlihat jelas bahwa keberadaan sarana dan
prasarana menjadi faktor pendukung terbentuknya suatu perilaku.
Pembekalan ilmu mengenai vulva hygiene juga sudah sering diberikan. Sebagai
contoh, seorang remaja tahu jika sering menggunakan sabun antiseptik untuk
membersihkan vagina akan memicu terjadinya keputihan, namun tetap saja ia
membersihkan vagina dengan sabun antiseptik karena ibunya juga menggunakan
sabun antiseptik untuk membersihkan vagina. Dari contoh tersebut terlihat jelas
bahwa seorang panutan merupakan faktor penguat terjadinya perilaku pada
seseorang. Sehingga orangtua juga berperan dalam pentingnya pembekalan ilmu
mengenai menjaga kebersihan vulva hygiene.

4
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Pemenuhan kebersihan diri dan lingkungan merupakan bagian dari kebutuhan dasar
manusia, termasuk pemenuhan kebutuhan kebersihan genetalia pada wanita (Vulva
Hygiene). Ini berarti bahwa setiap manusia membutuhkan kenyamanan pada diri dan
lingkungaan. Kebutuhan pemenuhan kebersihan genetalia wanita (vulva Hygiene)
sangat penting karena ini berdampak pada proses penyembuhan.
Tidak sembarangan cairan pembersih organ kewanitaan dapat digunakan karena
dapat merusak keasaman vagina. Keasaman vagina ini berfungsi untuk mencegah
pertumbuhan kuman atau bakteri pathogen yang masuk.

E. Saran

Setiap wanita hendaknya menjaga kebersihan vulva agar tidak terjadi infeksi pada
area vagina, tidak terjadi keputihan, tidak ada bau yang tidak sedap pada area vagina,
tidak mengalami gatal-gatal, dan tidak terserang penyakit. Pembersihan pada area
vagina dapat dilakukan dengan mencuci tangan sebelum menyentuh vagina, melakukan
cara cebok dari arah depan (vagina) ke belakang (anus), selalu mengusahakan agar
vagina tetap kering dan tidak lembab, tidak menggunakan bedak pada vagina karena
bedak akan menyebabkan jamur dan bakteri tumbuh di sekitar vagina, tidak
sembarangan menggunakan cairan pembersih organ kewanitaan karena dapat merusak
keasaman vagina, tidak sering menggunakan panyliner dan pada saat menstruasi
diwajibkan mengganti pembalut 2-3 kali dalam sehari atau setiap 4 jam sekali secara
teratur.

5
DAFTAR PUSTAKA

https://www.academia.edu/10967682/VULVA_HYGIENE
https://hellosehat.com/hidup-sehat/perawatan-kewanitaan/menjaga-kesehatan-vagina/
http://repository.unimus.ac.id/2555/3/12%20BAB%20II.pdf
https://puspitasaridepi.wordpress.com/author/puspitasaridepi/