Anda di halaman 1dari 5

BAB II

PEMBAHASAN

Definisi Sanitasi

           

Berbicara mengenai sanitasi tentu kita akan langsung tertuju pada pemahaman
tentang bagaimana melakukan hidup sehat . Di dalam arti sanitasi itu sendiri mengandung
sebuah makna tentang bagaimana perilaku hidup sehat dapat diterapkan di dalam
kehidupan sehari-hari. Mengacu kepada pengertian sanitasi iu sendiri kami mengutip di
dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008)yang menjelaskan secara umum bahwa sanitasi
didefinisikan sebagai usaha untuk membina dan menciptakan suatu keadaan yang baik di
bidang kesehatan, terutama kesehatan masyarakat. Sedangkan pengertian yang lebih
teknis adalah upaya pencegahan terjangkitnya dan penularan penyakit melalui penyediaan
sarana sanitasi dasar (jamban), pengelolaan air limbah rumah tangga (termasuk sistem
jaringan perpipaan air limbah), drainase dan sampah (Bappenas, 2003). Sehingga dengan
definisi tersebut dapat dilihat 3 sektor yang terkait dengan sanitasi adalah sistem
pengelolaan air limbah rumah tangga, pengelolaan persampahan dan drainase lingkungan.

Pembanguan Sanitasi di Indonesia telah ditetapkan dalam misi Rencana Pembangunan


Jangka Panjang Nasional (RPJMPN) tahun 2005 – 2025 Pemerintah Indonesia. Implementasi dan
langkah-langkah untuk pelaksanaan Program Nasional tersebut juga telah ditetapkan dalam Rencana
Pembangunan Nasional Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2010 – 2014 yang mana
pelaksanaannya difokuskan pada Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP).
Program PPSP ini merupakan kerja kolaborasi berbagai sector atau bidang yang terkait dengan
Sanitasi. Pada tingkat Nasional, koordinasi kebijakan dilakukan oleh Tim Teknis Pembangunan
Sanitasi (TTPS) yang merupakan unsur dari lintas Departemen dan terdiri dari Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional (BAPPENAS), Departemen Pekerjaan Umum, Departemen Keuangan,
Departemen Kesehatan, Departemen Dalam Negeri, Departemen Perindusatrian dan Kementrian
Lingkungan Hidup. Sebagai perwujudan komitmen yang tinggi dan keseriusan untuk pembangunan
sektor sanitasi lokal dan penyediaan layanan sanitasi yang semakin baik di daerah perkotaan. Dalam
hal ini pemerintah telah menyiapkan bantuan teknis kepada Pemerintah Provinsi dan
Kabupaten/Kota.
Aturan serta Kebijaan mengenai Sanitasi

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 852/Menkes/SK/IX/2008 yang berbunyi :

Pertama : keputusan menteri kesehatan tentang strategi nasional sanitasi total berbasis masyarakat.

Kedua : Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat sebagaimana tercantum dalam
Lampiran Keputusan ini.

Ketiga : Strategi sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kedua menjadi acuan bagi petugas kesehatan
dan instansi yang terkait dalam penyusunan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi
terkait dengan sanitasi total berbasis masyarakat.

Keempat : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

A.       Undang-Undang

1.      Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1966 Tentang Hygiene;

2.      Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan pemukiman;

3.      Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1992 Tentang Penataan Ruang;

4.      Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup;

5.      Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air;

6.      Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah;

7.      Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antar
Pemerintah Pusat dan Daerah;

8.      Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Nasional 2005-2025;

9.      Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah;

10.  Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2009 Tentang Pengesahan Stockholm


Convention On Persisten Organic Pollutants.

B.  Peraturan Pemerintah Republik Indonesia

1.      Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1982 Tentang Pengaturan Air;

2.      Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 1990 Tentang Pengendalian Pencemaran
Air;

3.      Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 1991 Tentang Sungai;


4.      Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1999 Tentang Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan;

5.      Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air
dan Pengendalian Pencemaran Air;

6.      Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 69 Tahun 1996 Tentang Pelaksanaan Hak dan
Kewajiban serta Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang.

C.  Peraturan Presiden Republik Indonesia

1.      Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2005 Tentang Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Menengah Nasional (RPJM) Tahun 2004-2009;

D.  Keputusan  Presiden Republik Indonesia

1.      Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2000 Tentang Badan Pengendalian Dampak
Lingkungan;

2.      Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 123 Tahun 2001 Tentang Tim Koordinasi Pengelolaan
Sumber Daya Air;

3.      Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 83 Tahun 2002 Tentang Perubahan atas Keputusan
Presiden Republik Indonesia Nomor 123 Tahun 2001 Tentang Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber 
Daya Air;

4.      Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 62 Tahun 2000 Tentang Koordinasi Penataan Ruang.
Peran serta Masyarakat

1.      Bentuk peran serta masyarakat lebih berupa partisipasi pasif (membayar retribusi), namun mereka
mudah bekerja sama dalam kegiatan langsung misalnya pemilihan sampah.

2.      Menjaga kebersihan fasilitas

3.      Kegiatan pembinaan masyarakat masih sangat terbatas pada penyuluhan yang bersifat insidentil

4.      Masyarakat terlibat secara langsung dalam kegiataan pengelolaan terutama tahap  pemilihan
sampah di sumber.

5.      Mengikuti peraturan yang telah ditetapkan dalam rapat musyawarah warga.

Bentuk peran serta masyarakat antara lain sebaga berikut:

a.       Bersikap positif dan turut mendukung kelancaran kegiatan pelaksanaan.

b.      Turut mengamankan pelaksanaan

c.       Menyumbangkan tenaga, materi atau gagasan untuk keberhasilan pembangunan sarana sanitasi
d.      Merelakan lahan untuk dijadikan sebagai lokasi pembangunan sarana sanitasi.