Anda di halaman 1dari 16

TEORI AKUNTANSI: PEREKAYASAAN PELAPORAN KEUANGAN

A. Perekayasaan pelaporan keuangan

Pengertian teori didasarkan pada gagasan bahwa akuntansi merupakan disiplin atau
bidang pengetahuan teknologi. Teori akuntansi dimaknai sebagai penalaran logis. Agar
manfaat akuntansi dapat dirasakan, pengetahuan perekayasaan harus diaplikasikan dalam
suatu wilayah (negara). Wujud aplikasi adalah terciptanya suatu mekanisme pelaporan
keuangan nasional yang dengannya unit-unit organisasi bisnis, nonbisnis, dan
kepemerintahan dalam suatu negara menyediakan data dan menyampaikan informasi
keuangan kepada para pengambil keputusan yang dianggap paling dominan dan berpengaruh
dalam pencapaian tujuan negara.

Salah satu tujuan ekonomik negara adalah alokasi sumber daya ekonomik secara
efektif dan efisien untuk mencapai tingkat kemakmuran masyarakat yang optimal. Kebijakan
dan regulasi pemerintah yang secara langsung mempengaruhi para pelaku dan sistem
ekonomi negara merupakan wahana dalam alokasi sumber daya ekonomik. Akuntansi dapat
menjadi wahana dan mempunyai peran yang nyata dalam alokasi kalau informasi yang
dihasilkan sengaja dirancang agar dapat mempengaruhi perilaku para pengambil keputusan
ekonomik dominan untuk menuju ke keefektifan dan efisiensi alokasi sumber daya negara.
Teknologi yang diterapkan harus dipilih dan dirancang dengan baik dan tidak selayaknya
akuntansi dibiarkan berkembang secara alamiah atau liar tanpa haluan yang jelas.

Pelaporan keuangan nasional harus direkayasa secara seksama untuk pengendalian


alokasi sumber daya secara automatis melalui mekanisme sistem ekonomik yang berlaku.
Dalam pelaporan keuangan, pengendalian secara automatis dicapai dengan ditetapkannya
suatu pedoman pelaporan keuangan yaitu prinsip akuntansi berterima umum/PABU termasuk
di dalamnya standar akuntansi. PABU menentukan bentuk, isi, dan susunan laporan atau
statemen keuangan sebagai suatu medium utama atau ciri sentral pelaporan keuangan. Bila
PABU diterapkan selanjutnya menerapkan PABU dalam lingkup mikro yaitu perusahaan
secara individual. PABU merupakan cara untuk melaporkan kejadian ekonomik yang
berkaitan dengan perusahaan. PABU harus ditetapkan atas dasar “konstitusi” agar akuntansi
efektif sebagai teknologi untuk mencapai tujuan ekonomik negara. Perekayasaan akuntansi
harus memperhatikan faktor lingkungan sosial, politik, ekonomi, dan budaya negara tempat
akuntansi akan diterapkan. Perekayasaan akuntansi dilakukan pada tingkat nasional dengan
hasil berupa rerangka konseptual yang berfungsi sebagai semacam konstitusi.
B. Proses Perekayasaan

Pelaporan keuangan adalah struktur dan proses akuntansi yang menggambarkan


bagaimana informasi keuangan disediakan dan dilaporkan untuk memcapai tujuan ekonomik
dan sosial negara. FASB mengartikan pelaporan keuangan sebagai sistem dan sarana
penyampaian informasi tentang segala kondisi dan kinerja perusahaan terutama dari segi
keuangan dan tidak terbatas pada apa yang dapat disampaikan melalui statemen keuangan.
FASB membatasi pengertian pelaporan keuangan untuk tujuan eksternal dan pelaporan
keuangan disamakan dengan pelaporan keuangan eksternal umum.

Pelaporan keuangan sebagai sistem nasional merupakan hasil perekayasaan akuntansi


di tingkat nasional. Perekayasaan akuntansi adalah proses pemikiran logis dan objektif untuk
membangun suatu struktur dan mekanisme pelaporan keuangan dalam negara untuk
menunjang tercapainya tujuan negara. Perekayasaan akuntansi berkepentingan dengan
pertimbangan untuk memilih dan mengaplikasi ideologi, teori, konsep dasar, dan teknologi
yang tersedia secara teoristis dan praktis untuk mecapai tujuan ekonomik dan sosial negara
dengan mempertimbangkan faktor sosial, ekonomik, politik, dan budaya negara. Proses
perekayasaan akuntansi dapat dilukiskan seperti berikut ini.
Dalam perekayasaan tujuan negara dijabarkan dalam tujuan pelaporan keuangan untuk
membantu tercapainya tujuan negara. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan perekayasaan
melibatkan pertimbangan dan pemilihan berbagai gagasan tentang ideologi, filosofi,
paradigma, dan konsep dasar untuk menjamin agar tujuan pelaporan tercapai. Proses
perekayasaan pada dasarnya adalah untuk menjawab pertanyaan mendasar bagaimana
kegiatan perusahaan disimbolkan dalam bentuk statemen keuangan sehingga orang yang
dituju dapat membayangkan operasi perusahaan secara finansial tanpa harus menyaksikan
secara fisis operasi perusahaan.

Perekayasaan sebagai Proses Deduktif

Tujuan sosial dan ekonomik negara dianggap telah disepakati atau sesuatu yang
berian (given) dan menjadi premis dalam penalaran. Validitas konklusi yang dimuat dalam
rerangka konseptual dapat dievaluasi atas dasar kelogisan atau penalaran (logical validity).
Sebagai penalaran deduktif-normatif, Hendriksen (1982) menguraikan aspek-aspek yang
harus dipertimbangkan dalam proses perekayasaan untuk menghasilkan rerangka teoristis
akuntansi (theoretical framework for accounting) yaitu:

1. Pernyataan postulat yang menggambarkan karakteristik unit-unit usaha (entitas


pelapor) dan lingkungannya.
2. Pernyataan tentang tujuan pelaporan keuangan yang diturunkan dari pernyataan
postulat.
3. Evaluasi tentang kebutuhan informasi oleh pihak yang dituju (pemakai) dan
kemampuan pemakai untuk memahami, menginterpretasi, dan menganalisis informasi
yang disajikan.
4. Penentuan atau pemilihan tentang apa yang harus dilaporkan.
5. Evaluasi tentang pengukuran dan proses penyajian untuk mengkomunikasi informasi
tentang perusahaan dan lingkungannya.
6. Penentuan dan evaluasi terhadap kendala-kendala pengukuran dan deskripsi unit
usaha beserta lingkungannya.
7. Pengembangan dan penyusunan pernyataan umum (general propositions) yang
dituangkan dalam bentuk suatu dokumen resmi yang menjadi pedoman umum dalam
menyusun standar akuntansi.
8. Perancang bangunan struktur dan format sisitem informasi akuntansi (prosedur,
metode dan teknik) untuk menciptakan, menangkap, mengolah, meringkas, dan
menyajikan informasi sesuai denagn standar atau prinsip akuntansi berterima umum.

Siapa Merekayasa

Proses perekayasaan bukan suatu upaya perseorangan (one-man show) tetapi merupakan
upaya tim yang melibatkan berbagai disiplin intelektual dan kekuatan politik mengingat
perekayasaan tersebut merupakan suatu proses yangn serius hasilnya akan berdampak luas
dan jangka panjang. Badan legislatif pemerintah mempunyai peran penting dalam hal ini
mengingat rerangka konseptual mempunyai fungsi semacam undang-undang dasar
(konstitusi). Badan legislatif membentuk komite atau tim khusus yang ada di bawah
kendalinya untuk perekayasaan di tingkat nasional. Walaupun perekayasaan tingkat nasional
diserahkan oleh badan legislatif kepada profesi atau badan khusus untuk tujuan itu, tetapi
badan legislatif mempunyai kekuatan yuridis dan politik untuk menentukan hasil akhir
perekayasaan.

Karena pentingnya perekayasaan ini, badan legislatif atau pelaksana yang terlibat harus
mempunyai wawasan dan pengetahuan teoretis di bidang masing-masing yang cukup
memadai. Perekayasa akuntansi harus merupakan tim multi-disipliner agar hasilnya dapat
diandalkan sebagai wahana untuk menjamin tercapainya tujuan sosial dan ekonomik negara.
Sebagai alternatif, penyedia informasi tidak dikendalikan oleh pemerintah tetapi diserahkan
kepada profesi dan pelaku bisnis. Alternatif ini beramsusi bahwa profesi dan pelaku bisnis
adalah pihak yang paling tahu akan kebutuhan pemakai informasi keuangan. Pihak pemakai
atau calon pemakai merupakan pihak yang benar-benar tau akan kebutuhan
informasionalnya. Tidak terjadi apa yang disebut asimetri informasi antara pihak penyedia
dan pihak yang dituju.

Aspek Semantik Dalam Perekayasaan

Persoalan yang harus dijawab oleh perekayasa adalah bagaimana suatu kegiatan fisis
perusahaan yang kompleks disimbolkan dalam bentuk statemen keuangan sehingga pihak
yang dituju dapat membayangkan operasi perusahaan dari segi keuangan tanpa harus
menyaksikan secara fisis operasi perusahaan.
Proses semantik adalah memilih dan menyimbolkan objek-objek fisis kegiatan
perusahaan yang releven menjadi objek-objek statemen keuangan. Model yang sekarang
dikenal secara luas adalah menyimbolkan kegiatan fisis perusahaan dalam sepuluh
elemenyang akhirnya terefleksi dalam statemen keuangan yaitu: aset, kewajiban, ekuitas,
pendapatan, biaya, untung, rugi, investasi pemilik, distribusi ke pemilik, dan laba
komprehensif. Agar dapat diolah dan disajikan dalam bentuk informasi keuangan, objek-
objek fisis harus dikuantifikasi ke dalam satuan yang homogenus sehingga satuan tersebut
dapat menggambarkan besarnya dan hubungan antarobjek. Suatu statemen memerlukan
waktu yang cukup lama untuk dapat disahkan dan diterbitkan. Selain itu juga harus mengikuti
prosedur saksama tetapi tidak seketat statemen karena bentuk penerbitan yang lain umumnya
bersifat memodifikasi, mengklarifikasi atau memperluas arti tetapi tidak dapat mengganti
atau meniadakan suatu statemen.

Proses Saksama

Untuk mencapai kualitas yang tinggi dan andal, proses perekayasaan harus dilakukan
melalui tahap-tahap dan prosedur yang saksama dan teliti. Hal ini harus diperlakukan
mengingat dokumen yang dihasilkan akan mempunyai status sebagai pernyataan resmi atau
statemen yang mempunyai tingkat keautoritafifan tinggi. Prosedur ini berlaku dalam
penyusunan baik rerangka konseptual maupun standar akuntansi yang berstatus statemen.
Berikut adalah proses-saksama yang dilaksanakan FASB dalam menyusun pernyataan resmi.

a. Mengevaluasi masalah.
b. Mengadakan riset dan analisis.
c. Menyusun dan mendistribusi Memorandum Diskusi kepada setiap pihak yang
berkepentingan.
d. Mengadakan dengar pendapat umum untuk membahas masalah yang diungkapkan
dalam Memorandum Diskusi.
e. Menganalisis dan mempertimbangkan tanggapan publik atas Memorandum Diskusi.
f. Menerbitkan draf awal standar yang diusulkan yang dikenal dengan nama Exposure
Draf (ED) untuk mendapatkan tanggapan tertulis dalam waktu 30 hari setelah
penerbitan.
g. Menganalisis dan mempertimbangkan tanggapan tertulis terhadap ED.
h. Memutuskan apakah jadi menerbitkan suatu statemen atau tidak. Statemen dapat
diterbitkan kalau mayoritas anggota menyetujui.
i. Menerbitkan statemen yang bersangkutan.

Proses yang kira-kira sama juga diterapkan oleh IAI dalam penerbitan suatu
pernyataan. Sesuai dengan Anggaran Rumah Tangga IAI, penerbitan standar oleh Dewan
Standar Akuntansi Keuangan atau standar profesi oleh Dewan Standar Profesional Akuntansi
Publik harus mengikuti prosedur berikut:

a. Sebelum suatu standar diputuskan untuk diberlakukan, konsep usulan materi yang
akan dijadikan standar tersebut harus disebarluaskan secara umum, termasuk kepada
cabang-cabang dan anggota untuk dimintakan tanggapan, sekurang-kurangnya selama
tiga bulan.
b. Dengan mempertimbangkan tanggapan yang diterima dari masyarakat, komite dalam
rapatnya dapat mengambil keputusan untuk mengusulkan kepada Pengurus Pusat agar
memberlakukan/mengesahkan standar tersebut.
c. Berdasarkan usulan ini, Pengurus Pusat memutuskan untuk memberlakukan atau
mengesahkannya.

Dewan Standar Akuntansi Keuangan dan Dewan Standar Profesional Akuntansi Publik
berwenang untuk menentukan materi-materi yang akan dibahas dan diusulkan untuk menjadi
standar yang akan diberlakukan di Indonesia. Dewan Standar Akuntansi Keuangan dapat pula
menentukan prosedur-prosedur tertentu yang dipandang perlu dalam rangka penyusunan
pernyataan standar dengan persetujuan Pengurus Pusat.

C. Konsep Informasi Akuntansi

Nilai informasi adalah kemampuan informasi untuk meningkatkan pengethuan dan


keyakinan pemakai dalam pengambilan keputusan. Simbol-simbol yang termuat dalam
seperangkat statemen keuangan sebenarnya tidk mempunyai makna kalau tiap elemen
diinterpretasi sebagai objek yang berdiri sendiri. Dalam teori komunikasi, informasi
semantiklah yang sebenarnya ingin disampaikan kepada pemakai sehingga akan terjadi efek
pemengaruhan. Karena model akuntansi yang dikenal luas saat ini menempatkan investor dan
kreditor sebagai pihak dominan, informasi simentik yang ingin disampaikan adalah likuiditas,
solvensi, profitabilitas, dan sebagainya. Informasi semantik ini harus ditangkap secara
kontektual melalui tiga komponen sebagai satu kesatuan yaitu elemen atau objek, ukuran
dalam unit moneter, dan hubungan antarelemen.

D. Rerangka Konseptual

Dalam perekayasaan akuntansi, jawaban atas dasar pertanyaan perekayasaan akan


menjadi konsep-konsep terpilih yang dituangkan dalam dokumen resmi yang di Amerika
disebut rerangka konseptual. Rerangka konseptual sebagai dokumen resmi hasil perekayasaan
sering disebut pula sebagai seperangkat prinsip umum, seperangkat doktrin, atau suatu
struktur konsep-konsep yang terpadu atau saling berkaitan.

Sebagai semacam konstitusi bagi profesi, rerangka konseptual akan menjadi landasan
untuk memecahkan masalah-masalah perlakuan akuntansi. Tanpa rerangka konseptual
sebagai “konstitusi” akan sangat sulit bagi penyusun standar untuk mengevaluasi argumen
bahwa perlakuan akuntansi tertentu lebih baik dalam menggambarkan realitas ekonomi atau
untuk menilai bahwa perlakuan akuntansi tertentu lebih efektif daripada perlakuan yang lain
dalam rangka mencapai tujuan sosial atau ekonomik. Tanpa rerangka konseptual, tidak dapat
dihindari kemungkinan penyususn standar untuk menggunakan konsep-konsep menurut
selera sendiri tanpa suatu haluan yang jelas sehingga ada kemungkinan “ganti dewan ganti
standar”. akibatnya standar akuntansi yang diterbitkan tidak pernah konsisten.

Tanpa rerangka konseptual dapat mengakibatkan penyusun standar akuntansi


diperalat oleh pihak tertentu untuk menghasilkan standar yang menguntungkan pihak
tersebut. Rerangka konseptual melindungi profesi akuntansi dari politisasi untk kepentingan
pihak yang tidak semestinya sehingga kepentingan umum dikorbankan. karena akuntansi
merupakan alat untuk mencapai tujuan nasional, akuntansi tidak akan netral atau steril dari
politisasi dalam arti kebijakan politik ekonomi negara.

Sebagai suatu kesatuan konsep-konsep koheren yang menetapkan sifat dan fungsi
pelaporan keuangan, Kam (1990) menguraikan manfaat-manfaat rerangka konseptual sebagai
berikut:

1. Memberi pengarahan atau pedoman kepada badan yang bertanggung jawab dalam
penyusunan/penetap standar akuntansi.
2. Menjadi acuan dalam memecahkan masalah-masalah akuntansi yang dijumpai dalam
praktik yang perlakuannya belum diatur dalam standar atau pedoman spesifik.
3. Menentukan batas-batas pertimbangan penyusunan statemen keuangan.
4. Meningkatkan pemahaman pemakai statemen keuangan dan meningkatkan keyakinan
terhadap statemen keuangan.
5. Meningkatkan keterbandingan statemen keuangan antarperusahaan.

Yang dikemukakan Kam di atas sejalan dengan apa yang ditegaskan oleh FASB
dalam tiap pengantar pernyataan konsep, FASB menegaskan bahwa FASB sendiri yang akan
banyak memanfaatkan rerangka konseptual akan memberi suatu landasan umum dan
penalaran dasar untuk mempertimbangkan keunggulan dan kelemahan alternatif-alternatif
dalam pengembangan standar akuntansi. Penalaran ini dapat digunakan untuk mengevaluasi
standar dan praktik yang berjalan dan mengembangkan standar dan praktik di masa datang.
Pemahaman ini akan mampu meningkatkan kebermanfaatan dan keyakinan terhadap laporan
dan pelaporan keuangan terutama dalam masalah-masalah yang standar atau aturan resminya
belum ada atau belum ditentukan secara tegas.

Model

Salah satu model yang banyak dikenal saat ini adalah rerangka konseptual yang
dikembangkan oleh FASB yang memuat empat komponen konsep penting yaitu:

1. Tujuan pelaporan keuangan

2. Kriteria kualitas informasi

3. Elemen-elemen statemen keuangan

4. Pengukuran dan pengakuan

Rerangka konseptuan versi IASC

Rerangka konseptual versi International Accounting Standards Committee (IASC),


yang diterjemahkan oleh iai sebagai Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan
Keuangan, mempunyai komponen konsep yang mirip dengan komponen konsep versi FASB
yaitu:

· The Objective of Financial Statements

· Underlying Assumptions
· Qualitative Characteristics of Financial Statement

· The Elements of Financial Statement

· Recognition of the Elements of Financial Statements

· Measurement of the Elements of Financial Statements

· Concepts of Capital Maintenance and the Determination of Profit

IASC menyebutkan tujuan statemen keuangan bukan tujuan pelaporan keuangan


sebagaimana FASB menyebutkan meskipun IASC menegaskan bahwa statemen keuangan
merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan. Karena lingkup penerapan standar IASC
internasional, karakteristik lingkuangan negara menjadi tidak relevan. Karena memperhatikan
faktor lingkungan dalam penyusunannya, rerangka konseptual versi FASB lebih
menggambarkan suatu hasil proses perekayasaan yang merupakan konsekuensi dari
pengertian akuntansi sebagai teknologi. Oleh karena itu, rerangka konseptual versi FASB
sebenarnya lebih cocok untuk dijadikan suatu model perekayasaan dalam pengembangan
rerangka konseptual untuk suatu negara. Rerangka konseptual FASB banyak memuat
penalaran dan argumen untuk memilih konsep-konsep yang relevan.

Aspek Pendidikan

Karena FASB mencanangkan agar rerangka konseptual mengandung aspek


kependidikan kepada pemakai, FASB memasukkan deskripsi, argumen, dan penalaran yang
cukup rinci dalam tiap uraian konsep.

Penalaran dan argumen yang melekat dalam tiap penjelasan konsep-konsep dalam
rerangka konseptual versi FASB membentuk seperangkat pengetahuan yang dapat dipandang
sebagai suatu teori deduktif-normatif untuk memahami lebih baik mengapa konsep tertentu
dipilih bukan yang lain dan apa implikasinya. Validitas teori ini dapat diverifikasi atas dasar
penalaran logis yang melandasi tiap argumen. Oleh karena itu, sebagai suatu pengetahuan
untuk pembelajaran atau sebagai teknologi berfikir untuk pengembangan rerangka konseptual
baru di suatu negara, rerangka konseptual FASB lebih unggul dibanding rerangka konseptual
versi IASC.

Di bidang akademik, rerangka konseptual merupakan materi yang sangat berharga


dalam pengajaran teori akuntansi yang mempunyai dampak dalam perbaikan atau pemajuan
praktik. Pemahaman akuntansi melalui model ini akan membuat mahasiswa selalu
mempunyai perspektif yang luas dan jangka panjang. Rerangka konseptual sebagai hasil
perekayasaan harus selalu dievaluasi keefektifannya sebagai alat untuk mencapai tujuan.
Oleh karena itu, perubahan dan modifikasi selalu harus dilakukan bila perubahan tersebut
memang menempatkan akuntansi menjadi lebih efektif sebagai alat. Dengan mengacu pada
rerangka konseptual, penelitian dalam bidang akuntansi dapat diarahkan untuk menemukan
prinsip, metoda, dan prosedur baru dalam memecahkan masalah-masalah akuntansi yang
timbul. Penelitian semacam ini akan banyak membuahkan gagasan-gagasan baru yang pada
gilirannya akan menunjang pengembangan praktik dan profesi akuntansi di suatu wilayah
tertentu.

Prinsip Akuntansi Berterima Umum

Rerangka konseptual yang berfungsi semacam konstitusi hanya memuat konsep-


konsep umum yang secara keseluruhan dapat dianggap sebagai “konstitusi akuntansi” di
suatu negara. Konstitusi tersebut harus dijabarkan dalam bentuk ketentuan atau pedoman
operasional, teknis atau praktis agar mempunyai pengaruh langsung terhadap praktik dan
perilaku. Pedoman dapat ditentukan secara resmi oleh badan yang berwenang dalam
berbentuk standar akuntansi atau pedoman-pedoman baik dan telah banyak dipraktikkan
dapat digunakan sebagai acuan bila hal tersebut tidak bertentangan dengan rerangka
konseptual atau didukung berlakunya secara autoritatif. Kedua pedoman tersebut membentuk
rerangka pedoman operasional yang disebut generally accepted accounting principles/GAAP
(prinsip akuntansi berterima umum/PABU)

PABU akhirnya akan menjadi kriteria untuk menentukan apakah statemen keuangan
sebagai media pelaporan keuangan telah menyajikan informasi keuangan dengan baik, benar,
dan jujur yang secara teknis disebut menyajikan secara wajar. Standar akuntansi hanya
merupakan salah satu kriteria untuk menentukan kewajaran. Seperti kaidah atau aturan
perbuatan dalam rerangka pedoman etika, standar akuntansi keuangan hanya merupakan
bagian dari kriteria luas yang disebut denagn prinsip akuntansi berterima umum.

Tiga Pengertian Penting


Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa sebenarnya terdapat tiga istilah atau
konsep penting yang sangat berbeda maknanya yaitu: prinsip akuntansi, standar akuntansi,
dan prinsip akuntansi berterima umum.

Prinsip akuntansi adalah segala ideologi, gagasan, asumsi, konsep, postulat, kaidah,
prosedur, dan teknik akuntansi yang tersedia baik secara teoretis maupun praktis yang
berfungsi sebagai pengetahuan. Tersedia secara teoretis artinya prinsip tersebut masih dalam
bentuk gagasan akademik yang belum dipraktikkan tetapi mempunyai manfaat dan potensi
yang besar untuk di terapkan.

Standar akuntansi adalah konsep, prinsip, metode, teknik, dan lainnya yang sengaja
dipilih atas dasar rerangka konseptual oleh badan penyusun standar untuk diberlakukan
dalam suatu lingkungan/negara dan dituangkan dalam bentuk dokumen resmi guna mencapai
tujuan pelaporan keuangan negara tersebut. Standar akuntansi ditetapkan untuk menjadi
pedoman utama dalam memperlakukan suatu objek, elemen, atau pos pelaporan.

PABU adalah suatu rerangka pedoman yang terdiri atas standar akuntansi dan
sumber-sumber lain yang didukung berlakunya secara resmi (yuridis), teoretis, dan praktis.
Dapat disimpulkan bahwa PABU tidak sama dengan standar akuntansi dan keduanya juga
harus dibedakan dengan pengertian prinsip akuntansi. Ketiga pengertian tersebut saling
berkaitan dan membentuk pengertian PABU sebagai suatu rerangka pedoman.

Berlaku atau Berterima

Istilah berterima digunakan sebagai padan kata accepted dalam istilah generally
accounting principles. Sementara itu, IAI menggunakan istilah berlaku dan bahkan GAAP
diterjemahkan dalam laporan auditor menjadi “prinsip akuntansi yang berlaku umum di
Indonesia.”

Makna “berlaku” jelas tidak tepat kalau digunakan sebagai padan kata accepted dalam
konteks GAAP. Berterima berarti “dalam keadaan diterima dan dipakai.” Berbeda dengan
“diterima”yang bermakna proses atau kejadian pada saaat tertentu, kata “berterima”
mempunyai makna sebagai keadaan menerima atau menyetujui. Jadi pemaknaan yang paling
tepat untuk GAAP adalah prinsip akuntansi berterima umum (PABU). GAAP merupakan
jargon penting dan strategik sehingga penerjemahannya harus benar-benar tepat. Bila harus
diberi pewatas lingkup penerapan istilah yang tepat adalah prinsip akuntansi berterima umum
Indonesia (PABUI).
Isi PABU Sebagai Rerangka Pedoman

Kriteria kewajaran penyajian informasi dalam bentuk statemen keuangan adalah suatu
rerangka pedoman dan bukan semata-mata standar akuntansi. Rerangka pedoman ini berisi
komponen-komponen yang tersusun secara hierarkis baik atas dasar tingkat konseptualitas
maupun autoritas dan mengalami perkembangan sesuai dengan perkembangan kebutuhan
praktik dan profesi.

PABU Versi APB

APB sebenarnya telah meletakkan dasar-dasar penting penyusunan dokumen yang sekarang
dikenal dengan rerangka konseptual. APB menyebutkan sebagai Basic Cpncepts and
Accounting Principles Underlying Financial Statements of Business Enterprises. PABU yang
didefinisi APB merupakan bagian dari dokumen tersebut. GAAP versi APB merupakan
pedoman operasional dalam praktik akuntansi.

Prinsip mendasar berisi prinsip tentang pengukuran dan pengakuan suatu elemen statemen
keuangan atau objek pelaporan lainnya. Dalam prinsip operasi umum merupakan penjabaran
lebih lanjut penerapan prinsip mendasar untuk elemen atau pos-pos statemen keuangan.
Dengan kata lain mendeskripsi tentang perlakuan akuntansi untuk tiap elemen atau pos
pelaporan keuangan. Dalam prinsip terinci berisi pedoman teknis untuk menjalankan prinsip
mendasar dan prinsip operasi umum. Pedoman ini berisi teknik dan prosedur untuk mencatat,
mengklasifikasi, meringkas, dan menjanjikan transaksi atau kejadian finansial secara spesifik
untuk suatu perusahaan.

PABU Versi Rubin

Dapat disimpulkan PABU bukan merupakan satu buku atau dokumen tetapi lebih
merupakan rerangka pedoman yang terdiri atas berbagai tingkat keautoritatifan yang
membentuk suatu hierarki. Steven Rubin menganalogi hierarki tersebut dengan suatu bentuk
bangunan rumah (disebut The House of GAAP).
Gambar tersebut sebenarnya merupakan cara menyajikan secara visual pengertian
PABU sebagai rerangka pedoman yang dideskripsikan oleh AICPA dalam SAS No. 43 yang
sekarang sudah diganti dengan SAS No. 69. Hierarki dilukiskan sebagai lantai rumah
bertingkat denagn fundasi berupa landasan konseptual. Tiap lantai menggambarkan tingkat
keautoritatifan dengan lantai paling bawah berisi sumber yang paling autoritatif. Makin ke
atas, suatu sumber makin berkurang tingkat keautoritatifannya.

PABU Versi SAS No. 69

Dibentuklah Govermental Accounting Standards Boards (GASB) yang bertanggung


jawab untuk menentukan PABU (terutama standar akuntansi) untuk kepentingan
entitaskepemerintahan. Dengan kata lain, entitas nonkepemerintahan berada dibawah
jurisdiski (lingkup/kekuasaan hukum). FASB dan entitas kepemerintahan dibawah jurisdksi
GASB. Financial Accounting Foundation (FAF) , yaitu badan yang membawahkan FASB
dan GASB, meminta untuk mengubah hierarki GAAP sehingga FASB dan GASB masing-
masing mempunyai tanggungjawab utama dalam peyusunan standar untuk entitas yang
berada dibawah jurisdiksinya. Dengan pemisahan tanggung jawab ini, suatu entitas yang
berada dibawah jurisdiksi GASB tidak harus mengubah prinsip pelaporannya sebagai akibat
dari standar yang dikeluarkan oleh badan yang lain (FASB) , demikian pula sebaliknya.
Tuntutan ini melahirkan SAS No.69 (pengganti SAS No.43) yang mendeskripsikan GAAP
sebagai dua hierarki paralel , satu untuk entitas nonkepemerintahan dan yang lain untuk
entitas kepemerintahan.

PABU Versi SPAP

Dengan adanya rerangka pedoman versi SPAP, makna PABU hanya dibatasi untuk
entitas nonkepemerintahan , sehingga ukuran kewajaran penyajian statemen keuangan untuk
entitas kepemerintahan belum jelas. Artinya, belum jelas apakah frasa “menyajikan secara
wajar ...sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum Indonesia” masih dapat dipakai.

Sebagai rerangka pedoman, PABU menetapkan pedoman untuk memperlakukan suatu objek
yang harus dilaporkan yang menyangkut hal-hal berikut ini.

Definisi
PABU memberi batasan atau definisi (definition) berbagai elemen, pos , atau objek
statemen keuangan atau istilah yang digunakan dalam pelaporan keuangan agar tidak terjadi
kesalahan klasifikasi oleh penyusunan dan kesalahan interpretasi oleh pemakai.

Pengukuran/penilaian

Pengukuran (measurement) adalah penentuan jumlah rupiah yang harus dilekatkan


pada suatu objek yang terlibat dalam suatu transaksi keuangan. Jumlah rupiah ini akan dicatat
untuk dijadikan data dasar dalam penyusunan statemen keuangan. Pengukuran sering pula
disebut penilaian (valuation).

Pengakuan (recognition) adalah pencatatan suatu jumlah rupiah (kos) ke dalam sistem
akuntansi sehingga jumlah tersebut akan mempengaruhi suatu pos dan terefleksi dalam
laporan keuangan. Jadi, pengakuan berhubungan dengan masalah apakah suatu transaksi
dicatat (dijurnal) atau tidak.

Penyajian dan pengungkapan

Penyajian (presentation) menetapkan tentang cara-cara melaporkan elemen atau pos


dalam seperangkat statemen keuangan agar elemen atau pos tersebut cukup informatif.
Pengungkapan (disclosure) berkaitan dengan cara pembeberan atau penjelasan hal-hal
informatif yang dianggap penting dan bermanfaat bagi pemakai selain apa yang dapat
dinyatakan melalui statemen keuangan utama. Salah satu contoh penyajian yang diatur PABU
misalnya saja bahwa utang disajikan di statemen keuangan dengan cara mengurutkan atas
dasar jangka waktu pelunasan, yaitu yang paling pendek diletakkan paling atas. Dengan hal-
hal pokok yang diatur dalam rerangka PABU seperti diuraikan diatas, diharapkan bahwa
statemen keuangan ditafsirkan dengan benar atau tidakmenyesatkan pemakaianya.

Autoritas Rerangka Konseptual

Rerangka konseptual versi FASB dikembangkan dalam rangka mengatasi ,asalah


tersebut. Karena rerangka konseptual dirancang untuk perbaikan masa depan, penyusunannya
tidak memperhatikan standar akuntansi yang telah diberlakukan. Jadi, dapat diantisipasi
bahwa akan banyak standar akuntansi yang tidak sesuai lagi dengan diberlakukannya
rerangka konseptual. Oleh karena itu, kedudukan atau autoritas rerangka konseptual
ditetapkan dengan sangat hati-hati oleh FASB.
FASB sebenarnya menetapkan agar para akuntan dan auditor tidak begitu saja
menjadikan standar yang bertentangan dengan rerangka konseptual , dengan memanfaatkan
ketentuan 203 dari kaidah perbuatan (Rules if Conduct) dalam kode etik profesional (Code of
Professional Ethics) AICPA. Ketentuan 203 menggariskan bahwa, dalam suatu situasi yang
sangat luar biasa(unusual circumstances), akuntan publik tetap dapat menyatakan bahwa
suatu statemen keuangan disjikan secara wajar sesuai GAAP meskipun statemen keuangan
mengandung penyimpangan (atau menggunakan prinsip akuntansi selain) dari ketentuan yang
dikeluarkan badan yang berwenang mengeluarkan standar asalkan anggota dapat menjelaskan
dan menunjukkan secara meyakinkan bahwa mengikuti standar yang ada justru akan
menghasilkan penyajian yang menyesatkan. Jadi , secara teoritis rerangka konseptual
seharusnya merupakan fundasi rerangka pedoman PABU dan harus direkayasa dahulu
sebelum standar. Oleh karena itu, standar yang diturunkan atas dasar rerangka konseptual
mestinya konsisten baik dengan rerangka konseptual maupun antarstandar. Penurunan standar
tentunya harus dilakukan oleh badan yang berwenang secara seksama.

F. Struktur Akuntansi

Untuk praktik akuntansi dalam suatu negara, struktur tersebut menggambarkan pihak-
pihak dan sarana-sarana yang terlibat dalam dan terpengaruh oleh perekayasaan informasi
keuangan dan saling-hubungan antara berbagai pihak dan sarana tersebut. Sarana-sarana yang
membentuk struktur akuntansi meliputi peraturan pemerintah , standar akuntansi, laporan
keuangan, dan konveksi pelaporan. Struktur tersebut dapat dipandang menggambarkan
pengertian pelaporan keuangan sebagai mekanisma tentang bagaimana pihak-pihak dan
sarana-sarana pelaporan bekerja dan saling berinteraksi sehingga dihasilkan informasi
keuangan yang diwujudkan dalam bentuk statemen keuangan termasuk fungsi auitor untuk
menentukan kewajaran statemen keuangan.

Untuk menjelaskan pengertian akuntansi, struktur tersebut menggambarkan luas


lingkup (scope) akuntansi sebagai seperangkat pengetahauan sekaligus mengaitkannya
dengan pengertian akuntansi sebagai praktik dan profesi proses dan kegiatan yang dilukiskan
diatas PABU merupakan proses dan kegiatan perekayasaan yang melibatkan pengetahuan
teori akuntansi sebagai penalaran logis. Jadi, proses dan kegiatan dibawah PABU merupakan
praktik pelaksanaan hasil perekayasaan ditingkat perusahaan. Proses ini lebih berkepentingan
dengan bagaimana entitas pelapor (reporting entities) yang berada dalam suatu wilayah
negara menyediakan dan menyampaikan informasi keuangan dengan cara tertentu sesuai
PABU.

Bidang Studi

Suatu struktur dapat dijadikan rerangka untuk menyusun kurikulum inti(core)


program studi akuntansi. Sebagai misal , kompetensi dan materi yang memampukan peserta
didik untuk merekayasa dapat diracik dalam bentuk mata kuliah Teori akuntansi atau
perekayasaan pelaporan keuangan. Kompetensi dan materi untuk memberi kemampuan
peserta didik untuk menyusun dan menyajikan informasi sesuai PABU.

Bidang Profesi

Struktur akuntansi juga dapat menggambarkan kesempatan karir bagi mereka yang
menguasai seperangkat pengetahuan akuntansi. Orang dapat bekerja dibidang pemerintahaan
untuk menjadi perekayasa akuntansi.

Fungsi Auditor Independen

Hal penting yang dapat digambarkan oleh struktur akuntansi adalah fungsi auditor
independen (akuntan publik). Dalam pelaporan keuangan. Karena pihak pemakai biasanya
terpisah dengan pihak manajemen baik secara administratif maupun secara operasional;
keterpisahan kedua pihak ini menempatkan pemakai statemen sebagai pihak luar yang tidak
dapat secara langsung ikut dalam proses penyediaan data dan penyusunan statemen
keuangan. Peran auditor independen sangat diperlukan untuk mengaudit apakah statemen
keuangan benar-benar telah disajikan sesuai PABU . Hasil pengauditan dituangkan oleh
auditor dalam bentuk laporan auditor.