Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PENDAHULUAN

ASAM URAT (GOUT ARTHRITIS)

Disusun Oleh :
Muhammad Al ChaFiqi
(1710105098)

Pembimbing Klinik Pembimbing Akademik

( ) ( )

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN ALIFAH PADANG


TAHUN AJARAN
2020/2021
KONSEP LANSIA

1. Pengertian Lansia
Menua adalah proses menghilangnya secara perlahan aktifitas jaringan untuk
memperbaiki atu mengganti diri dan mempertahankan strukrur dan fungsi normalnya
sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas dan memperbaiki kerusakan yang dide rita
(Darmojo,2010).

Menua atau menjadi tua adalah suatu keadaaan yang terjadi didalam
kehidupan manusia. Proses menua merupakan proses sepanjang hidup, tidak hanya
dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan kehidupan.
Menjadi tua merupakan proses alamiah, yang berarti seseorang telah melalui tiga
tahap kehidupannya, yaitu anak, dewasa dan tua. Tiga tahap ini berbeda, baik
secara biologis maupun psikologis. Memasuki usia tua berarti mengalami
kemunduran, misalnya kemunduran fisik yang ditandai dengan kulit yang
mengendur, rambut memutih, gigi mulai ompong, pendengaran kurang jelas,
pengelihatan semakin memburuk, gerakan lambat dan figur tubuh yang tidak
proporsional.
Menurut Undang-Undang No. 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lansia
yang dimaksud dengan lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke
atas. Lebih lanjut Maryam (2008) juga mendefinisikan lansia sebagai seseorang yang
telah berusia lanjut dan telah terjadi perubahanperubahan dalam sistem tubuhnya.

2. Batas Umur Lansia


Batasan umur menurut organisasi WHO ada 4 tahap lansia meliputi : usia
pertengahan (Middle age )= kelompok usia 45-59 tahun, usia lanjut (Elderly)= antara
60-74 tahun, usia lanjut tua (Old)= antara 75-90 tahun, dan usia sangat tua (Very
Old)=diatas 90 tahun.
Di indonesia batasan mengenai lansia adalah 60 tahun ke atas, terdapat dalam
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang kesejahtereraan lanjut usia pada Bab 1
pasal 1 ayat 2.
Menurut undang-undang tersebut diatas lanjut adalah seseorang yang mencapai
usia 60 tahun ke atas, baik pria maupun wanita (Kurhariyadi,2011).
3. Tahapan Proses Penuaan
1. Tahap Subklinik (usia 25-35 tahun)
Pada tahap ini, sebagian besar hormon di dalam tubuh mulai menurun, yaitu
hormon testosteron, growth hormon dan hormon estrogen. Pembentukan radikal
bebas dapat merusak sel dan DNA mulai mempengaruhi tubuh. Kerusakan ini
biasanya tidak tampak dari luar, karena itu pada usia ini dianggap usia muda dan
normal.
2. Tahap Transisi (usia 35-45 tahun)
Pada tahap ini kadar hormon menurun sampai 25%. Massa otot berkurang
sebanyak satu kilogram tiap tahunnya. Pada tahap ini orang mulai merasa tidak
muda lagi dan tampak lebih tua. Kerusakan oleh radikal bebas mulai merusak
ekspresi genetik yang dapat mengakibatkan penyakit seperti kanker, radang sendi,
berkurangnya memori, penyakit jantung koroner dan diabetes.
3. Tahap Klinik (usia 45 tahun ke atas)
Pada tahap ini penurunan kadar hormone terus berlanjut yang meliputi DHEA,
melatonin, growth hormon, testosteron, estrogen dan juga hormone tiroid. Terjadi
penurunan bahkan hilangnya kemampuan penyerapan bahan makanan, vitamin dan
mineral. Penyakit kronis menjadi lebih nyata, sistem organ tubuh mulai mengalami
kegagalan.

4. Perubahan-Perubahan Yang Terjadi Pada Lansia


a. Menurut Nugroho (2000) Perubahan Fisik pada lansia adalah :
1. Sel
Jumlahnya menjadi sedikit, ukurannya lebih besar, berkurangnya cairan intra
seluler, menurunnya proporsi protein di otak, otot, ginjal, dan hati, jumlah sel
otak menurun, terganggunya mekanisme perbaikan sel.

2. Sistem Persyarafan

Respon menjadi lambat dan hubungan antara persyarafan menurun, berat otak
menurun 10-20%, mengecilnya syaraf panca indra sehingga mengakibatkan
berkurangnya respon penglihatan dan pendengaran, mengecilnya syaraf
penciuman dan perasa, lebih sensitive terhadap suhu, ketahanan tubuh terhadap
dingin rendah, kurang sensitive terhadap sentuhan.

3. Sistem Penglihatan
Menurun lapang pandang dan daya akomodasi mata, lensa lebih suram
(kekeruhan pada lensa) menjadi katarak, pupil timbul sklerosis, daya
membedakan warna menurun.

4. Sistem Pendengaran
Hilangnya atau turunnya daya pendengaran, terutama pada bunyi suara atau
nada yang tinggi, suara tidak jelas, sulit mengerti kata-kata, 50% terjadi pada
usia diatas umur 65 tahun, membran timpani menjadi atrofi menyebabkan
otosklerosis.

5. Sistem Cardiovaskuler
Katup jantung menebal dan menjadi kaku,Kemampuan jantung menurun 1%
setiap tahun sesudah berumur 20 tahun, kehilangan sensitivitas dan elastisitas
pembuluh darah: kurang efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi
perubahan posisidari tidur ke duduk (duduk ke berdiri)bisa menyebabkan
tekanan darah menurun menjadi 65mmHg dan tekanan darah meninggi akibat
meningkatnya resistensi dari pembuluh darah perifer, sistole normal ±170
mmHg, diastole normal ± 95 mmHg.

6. Sistem pengaturan temperatur tubuh


Pada pengaturan suhu hipotalamus dianggap bekerja sebagai suatu thermostat
yaitu menetapkan suatu suhu tertentu, kemunduran terjadi beberapa factor yang

Mempengaruhinya yang sering ditemukan antara lain:

Temperatur tubuh menurun, keterbatasan reflek menggigil dan tidak dapat


memproduksi panas yang banyak sehingga terjadi rendahnya aktifitas otot.

7. Sistem Respirasi
Paru-paru kehilangan elastisitas, kapasitas residu meningkat, menarik nafas
lebih berat, kapasitas pernafasan maksimum menurun dan kedalaman nafas
turun. Kemampuan batuk menurun (menurunnya aktifitas silia), O2 arteri
menurun menjadi 75 mmHg, CO2 arteri tidak berganti.
8. Sistem Gastrointestinal
Banyak gigi yang tanggal, sensitifitas indra pengecap menurun, pelebaran
esophagus, rasa lapar menurun, asam lambung menurun, waktu pengosongan
menurun, peristaltik lemah, dan sering timbul konstipasi, fungsi absorbsi
menurun.

9. Sistem urinaria
Otot-otot pada vesika urinaria melemah dan kapasitasnya menurun sampai 200
mg, frekuensi BAK meningkat, pada wanita sering terjadi atrofi vulva, selaput
lendir mongering, elastisitas jaringan menurun dan disertai penurunan frekuensi
seksual intercrouse berefek pada seks sekunder.

10. Sistem Endokrin


Produksi hampir semua hormon menurun (ACTH, TSH, FSH, LH), penurunan
sekresi hormone kelamin misalnya: estrogen, progesterone, dan testoteron.

11. Sistem Kulit


Kulit menjadi keriput dan mengkerut karena kehilangan proses keratinisasi dan
kehilangan jaringan lemak, berkurangnya elastisitas akibat penurunan cairan
dan vaskularisasi, kuku jari menjadi keras dan rapuh, kelenjar keringat
berkurang jumlah dan fungsinya, perubahan pada bentuk sel epidermis.

12. System Muskuloskeletal


Tulang kehilangan cairan dan rapuh, kifosis, penipisan dan pemendekan
tulang, persendian membesar dan kaku, tendon mengkerut dan mengalami
sclerosis, atropi serabut otot sehingga gerakan menjadi lamban, otot mudah
kram dan tremor.

b. Perubahan psikososial
1. Penurunan Kondisi Fisik
Setelah orang memasuki masa lansia umumnya mulai dihinggapi adanya
kondisi fisik yang bersifat patologis berganda (multiple pathology ), misalnya
tenaga berkurang, enerji menurun, kulit makin keriput, gigi makin rontok,
tulang makin rapuh, dsb. Secara umum kondisi fisik seseorang yang sudah
memasuki masa lansia mengalami penurunan secara berlipat ganda. Hal ini
semua dapat menimbulkan gangguan atau kelainan fungsi fisik, psikologik
maupun sosial, yang selanjutnya dapat menyebabkan suatu keadaan
ketergantungan kepada orang lain.
2. Penurunan Fungsi dan Potensi Seksual
Penurunan fungsi dan potensi seksual pada lanjut usia sering kali berhubungan
dengan berbagai gangguan fisik seperti : Gangguan jantung, gangguan
metabolisme, misal diabetes millitus, vaginitis, baru selesai operasi : misalnya
prostatektomi, kekurangan gizi, karena pencernaan kurang sempurna atau nafsu
makan sangat kurang, penggunaan obat-obat tertentu, seperti antihipertensi,
golongan steroid, tranquilizer.
Faktor psikologis yang menyertai lansia antara lain :
a. Rasa tabu atau malu bila mempertahankan kehidupan seksual pada lansia.
b. Sikap keluarga dan masyarakat yang kurang menunjang serta diperkuat
oleh tradisi dan budaya.
c. Kelelahan atau kebosanan karena kurang variasi dalam kehidupannya.
d. Pasangan hidup telah meninggal.
e. Disfungsi seksual karena perubahan hormonal atau masalah kesehatan
jiwa lainnya misalnya cemas, depresi, pikun dsb.
3. Perubahan yang Berkaitan Dengan Pekerjaan
Pada umumnya perubahan ini diawali ketika masa pensiun. Meskipun tujuan
ideal pensiun adalah agar para lansia dapat menikmati hari tua atau jaminan
hari tua, namun dalam kenyataannya sering diartikan sebaliknya, karena
pensiun sering diartikan sebagai kehilangan penghasilan, kedudukan, jabatan,
peran, kegiatan, status dan harga diri.
4. Perubahan Dalam Peran Sosial di Masyarakat
Akibat berkurangnya fungsi indera pendengaran, penglihatan, gerak fisik dan
sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau bahkan kecacatan pada
lansia. Misalnya badannya menjadi bungkuk, pendengaran sangat berkurang,
penglihatan kabur dan sebagainya sehingga sering menimbulkan keterasingan.
Hal itu sebaiknya dicegah dengan selalu mengajak mereka melakukan aktivitas,
selama yang bersangkutan masih sanggup, agar tidak merasa terasing atau
diasingkan.
LAPORAN PENDAHULUAN
ASAM URAT

A. Definisi
Arthritis Gout adalah suatu proses inflamasi (pembengkakan yang terjadi karena
deposisi, deposit/timbunan kristal asam urat pada jaringan sekitar sendi. Gout juga
merupakan istilah yang dipakai untuk sekelompok gangguan metabolik yang ditandai
dengan meningkatnya konsentrasi asam urat. (muttaqin, 2017).
Gout Arthritis adalah penyakit sendi yang diakibatkan oleh tingginya kadar Asam
Urat dalam darah. Kadar Asam Urat yang tinggi dalam darah melebihi batas normal
yang menyebabkan penumpukan Asam Urat di dalam persendian dan organ lainnya
(Susanto, 2016).
Jadi, dari definisi di atas maka Gout Arthritis merupakan penyakit inflamasi sendi
yang diakibatkan oleh tingginya kadar Asam Urat dalam darah, yang ditandai dengan
penumpukan Kristal Monosodium Urat di dalam ataupun di sekitar persendian berupa
Tofi (Susanto, 2016).

B. Etiologi
Arthritis Gout disebabkan karena tingginya kadar asam urat dalam darah
(hiperurisemia). Penyebab hiperurisemia antara lain:
1. Adanya gangguan metabolisme purin bawaan
2. Kelainan pembawa sifat atau gen
3. Kelebihan mengkomsumsi makan berkadar purin tinggi seperti: daging, jeroan,
kepiting, kerang, keju, kacang tanah, bayam, bucis.
4. Penyakit seperti: leukemia (kanker sel darah putih), kemoterapi, radioterapi
5. Konsumsi minumam beralkohol
6. Pengaruh obat-obatan terhadap kadar asam urat dengan efek yang
ditimbulkanya dapat menghambat ekskresi asam urat dalam ginjal (seperti :
aspirin, diuretik)
7. Penimbunan kristal asam urat dalam sendi
8. Kegemukan
9. Hiperurisemia : konsentrasi asam urat yang larut dalam darah berlebih ( > 6.8 mg/dl)
Akibat overproduksi asam urat atau ekskresi (pengeluaran) yang berkurang
C. Patofisiologi
Perjalanan penyakit gout sangat khas dan mempunyai 3 tahapan
1. Tahap I (tahap artritis gout akut)
a. Pada tahap ini penderita akan mengalami serangan artritis yang khas dan
serangan tersebut akan menghilang tanpa pengobatan dalam waktu 5 – 7 hari.
b. Karena cepat menghilang, maka sering penderita menduga kakinya keseleo atau
terkena infeksi sehingga tidak menduga terkena penyakit gout dan tidak
melakukan pemeriksaan lanjutan.
2. Tahap II (tahap artritis gout akut intermiten)
a. Ditandai dengan serangan artritis yang khas.
b. Selanjutnya penderita akan sering mendapat serangan (kambuh) yg jarak antara
serangan yg satu& serangan berikutnya makin lama makin rapat &lama, serangan
makin lama makin panjang, serta jumlah sendi yang terserang makin banyak
maka menimbulkan nyeri yang berkepanjangan.
3. Tahap III (tahap artritis gout kronik bertofus)
a. Tahap ini terjadi bila penderita telah menderita sakit selama 10 tahun atau lebih.
b. Pada tahap ini akan terjadi benjolan-benjolan di sekitar sendi yang sering
meradang yang disebut sebagai tofus.
c. Tofus ini berupa benjolan keras yang berisi serbuk seperti kapur yang
merupakan deposit dari kristal urat. Tofus ini akan mengakibatkan kerusakan pd
sendi dan tulang di sekitarnya.
Sumber. Nurarif, (2016)
D. Manifestasi Klinis
1. Serangan gout biasanya timbul secara men dadak/akut, kebanyakan linu atau nyeri
menyerang pada malam hari atau pagi hari saat bangun tidur
2. Jika gout menyerang, sendi-sendi yang terserang tampak: merah mengkilat,
bengkak, kulit diatasnya terasa panas disertai nyeri yg sangat hebat, persendian sulit
digerakkan.
3. Serangan pertama gout pada umumnya berupa serangan akut yg terjadi pada pangkal
ibu jari kaki bagian belakang disebut (padagra)
4. rasa sakit yang hebat dan peradangan lokal. Pasien mungkin juga
menderita demam (>38°C) tdk menurun selama 3 hari walau sudah dilakukan
perawatan. dan jumlah sel darah putihmeningkat
5. Pada kasus gout kronis dpt timbul tofus yaitu endapan seperti kapur dikulit yg
membentuk suatu tonjolan/ benjolan yg menandai pengendapan kristal asam urat.
6. Sering muncul pada daun telinga, siku, tumit belakang, dan punggung tangan.
7. Bengkak pada kaki atau peningkatan BB yg tiba2
8. Diare atau muntah

E. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan Laboratorium
Didapatkan kadar asam urat yang tinggi dalam darah yaitu = > 6 mg % normalnya
pada pria 7 mg% dan pada wanita 6 mg%.
2. Pemeriksaan cairan tofi sangat penting untuk pemeriksaan diagnosa yaitu cairan
berwarna putih seperti susu dan sangat kental sekali.
3. Pemeriksaan darah lengkap
4. Pemeriksaan ureum dan kratinin
a. kadar ureum darah normal : 5-20 ,mg/dl
b. kadar kreatinin darah normal :0,5-1 mg/dl

F. Penatalaksanaan Medis
Menurut Nurarif (2016) Penanganan Gout Arthritis biasanya dibagi menjadi
penanganan serangan Akut dan penanganan serangan Kronis. Ada 3 tahapan dalam
terapi penyakit ini :
a. Mengatasi serangan Gout Arthtitis Akut.
b. Mengurangi kadar Asam Urat untuk mencegah penimbunan Kristal Urat pada
jaringan, terutama persendian.
c. Terapi mencegah menggunakan terapi Hipourisemik.
1. Terapi Non Farmakologi
Terapi non-farmakologi merupakan strategi esensial dalam
penanganan Gout Arthritis, seperti istirahat yang cukup, menggunakan
kompres hangat, modifikasi diet, mengurangi asupan alkohol dan
menurunkan berat badan.
2. Terapi Farmakologi
Penanganan Gout Arthritis dibagi menjadi penanganan serangan
akut dan penanganan serangan kronis.
a. Serangan Akut
Istirahat dan terapi cepat dengan pemberian NSAID,
misalnya Indometasin 200 mg/hari atau Diklofenak 150 mg/hari,
merupakan terapi lini pertama dalam menangani serangan Gout
Arthritis Akut, asalkan tidak ada kontra indikasi terhadap NSAID.
Aspirin harus dihindari karena eksresi Aspirin berkompetisi dengan
Asam Urat dan dapat memperparah serangan Gout Arthritis Akut.
Keputusan memilih NSAID atau Kolkisin tergantung pada keadaan
klien, misalnya adanya penyakit penyerta lain atau Komorbid, obat
lain juga diberikan klien pada saat yang sama dan fungsi ginjal.
Obat yang menurunkan kadar Asam Urat serum (Allopurinol
dan obat Urikosurik seperti Probenesid dan Sulfinpirazon) tidak
boleh digunakan pada serangan Akut (Nurarif, 2016). Obat yang
diberikan pada serangan Akut antara lain:
1) NSAID, NSAID merupakan terapi lini pertama yang efektif
untuk klien yang mengalami serangan Gout Arthritis Akut.
Hal terpenting yang menentukan keberhasilan terapi bukanlah
pada NSAID yang dipilih melainkan pada seberapa cepat
terapi NSAID mulai diberikan. NSAID harus diberikan dengan
dosis sepenuhnya (full dose) pada 24-48 jam pertama atau
sampai rasa nyeri hilang. Indometasin banyak diresepkan
untuk serangan Akut Gout Arthritis, dengan dosis awal 75-100
mg/hari. Dosis ini kemudian diturunkan setelah 5 hari
bersamaan dengan meredanya gejala serangan Akut. Efek
samping Indometasin antara lain pusing dan gangguan saluran
cerna, efek ini akan sembuh pada saat dosis obat diturunkan.
NSAID lain yang umum digunakan untuk mengatasi Gout
Arthritis Akut adalah :
1) Naproxen – awal 750 mg, kemudian 250 mg 3 kali/hari.
2) Piroxicam – awal 40 mg, kemudian 10-20 mg/hari.
3) Diclofenac – awal 100 mg, kemudian 50 mg 3 kali/hari
selama 48 jam. Kemudian 50 mg dua kali/ hari selama 8
hari.
2) COX-2 Inhibitor: Etoricoxib merupakan satu-satunya COX-2
Inhibitor yang dilisensikan untuk mengatasi serangan Gout
Arthritis Akut. Obat ini efektif tapi cukup mahal, dan
bermanfaat terutama untuk klien yang tidak tahan terhadap efek
Gastrointestinal NSAID Non-Selektif. COX-2 Inhibitor
mempunyai resiko efek samping Gastrointesinal bagian atas
yang lebih rendah dibanding NSAID non selektif.
3) Colchicine, Colchicine merupakan terapi spesifik dan efektif
untuk serangan Gout Arthritis Akut. Namun dibanding NSAID
kurang populer karena awal kerjanya (onset) lebih lambat dan
efek samping lebih sering dijumpai.
4) Steroid, strategi alternatif selain NSAID dan Kolkisin adalah
pemberian Steroid Intra-Articular. Cara ini dapat meredakan
serangan dengan cepat ketika hanya 1 atau 2 sendi yang terkena
namun, harus dipertimbangkan dengan cermat diferensial
diagnosis antara Gout Arthritis Sepsis dan Gout Arthritis Akut
karena pemberian Steroid Intra-Articular akan memperburuk
infeksi.

b. Serangan Kronis
Kontrol jangka panjang Hiperurisemia merupakan faktor penting
untuk mencegah terjadinya serangan Gout Arthritis Akut, Gout
Tophaceous Kronis, keterlibatan ginjal dan pembentukan batu Asam
Urat. Kapan mulai diberikan obat penurun kadar Asam Urat masih
kontroversi. Penggunaan Allopurinol, Urikourik dan Feboxostat
(sedang dalam pengembangan) untuk terapi Gout Arthritis Kronis
akan dijelaskan berikut ini:
1) Allopurinol; Obat Hipourisemik, pilihan untuk Gout Arthritis
Kronis adalah Allopurinol. Selain mengontrol gejala, obat ini juga
melindungi fungsi ginjal. Allopurinol menurunkan produksi Asam
Urat dengan cara menghambat Enzim Xantin Oksidase. Dosis pada
klien dengan fungsi ginjal normal dosis awal Allopurinol tidak
boleh melebihi 300 mg/24 jam. Respon terhadap Allopurinol dapat
terlihat sebagai penurunan kadar Asam Urat dalam serum pada 2
hari setelah terapi dimulai dan maksimum setelah 7-10 hari. Kadar
Asam Urat dalam serum harus dicek setelah 2-3 minggu
penggunaan Allopurinol untuk meyakinkan turunnya kadar Asam
Urat.
2) Obat Urikosurik; kebanyakan klien dengan Hiperurisemia yang
sedikit mengekskresikan Asam Urat dapat diterapi dengan obat
Urikosurik. Urikosurik seperti Probenesid (500mg-1 g 2x/hari) dan
Sulfinpirazon (100mg 3-4 kali/hari) merupakan alternative
Allopurinol. Urikosurik harus dihindari pada klien Nefropati Urat
yang memproduksi Asam Urat berlebihan. Obat ini tidak efektif
pada klien dengan fungsi ginjal yang buruk (Klirens Kreatinin <20-
30 ml/menit). Sekitar 5% klien yang menggunakan Probenesid
jangka lama mengalami mual, nyeri ulu hati, kembung atau
konstipasi (Nurarif, 2016).
G. Komplikasi
a. Deformitas atau perubahan bentuk pada persendian yang terserang
b. Urolitiasis atau batu ginjal akibat deposit kristal urat pada saluran kemih
c. Nephrophaty atau kelainan ginjal yang mengakibatkan gangguan fungsi ginjal
karena peradangan glomerulus akibat deposit kristal urat dalam interstisial
ginjal
d. Hipertensi ringan
e. Proteinuria atau protein dalam urin
f. Hiperlipidemia yaitu kondisi dimana kadar lipid atau lemak dalam darah tinggi
g. Gangguan parenkim ginjal dan batu ginjal (Susanto, 2016)
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. PENGKAJIAN
Pengkajian adalah langkah awal dari proses keperawatan, kemudian dalam mengkaji
harus memperhatikan data dasar dari klien, untuk informasi yang diharapakan dari
klien. Fokus pengkajian pada Lansia dengan Gout Arthritis:
1. Identitas
Meliputi nama, usia, jenis kelamin, alamat, pendidikan dan pekerjaan
2. Keluhan Utama
Keluhan utama yang menonjol pada klien Gout Arthritis adalah nyeri dan terjadi
peradangan sehingga dapat menggangu aktivitas klien.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Didapatkan adanya keluhan nyeri yang terjadi di otot sendi. Sifat dari nyerinya
umumnya seperti pegal/di tusuk-tusuk/panas/di tarik-tarik dan nyeri yang dirasakan
terus menerus atau pada saat bergerak, terdapat kekakuan sendi, keluhan biasanya
dirasakan sejak lama dan sampai menggangu pergerakan dan pada Gout Arthritis
Kronis didapakan benjolan atan Tofi pada sendi atau jaringan sekitar.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Penyakit apa saja yang pernah diderita oleh klien, apakah keluhan penyakit
Gout Arthritis sudah diderita sejak lama dan apakah mendapat pertolongan
sebelumnya dan umumnya klien Gout Arthritis disertai dengan Hipertensi.
5. Riwayat Penyakit Keluarga
Kaji adakah riwayat Gout Arthritis dalam keluarga.
6. Riwayat Psikososial
Kaji respon emosi klien terhadap penyakit yang diderita dan penyakit klien
dalam lingkungannya. Respon yang didapat meliputi adanya kecemasan individu
dengan rentan variasi tingkat kecemasan yang berbeda dan berhubungan erat dengan
adanya sensasi nyeri, hambatan mobilitas fisik akibat respon nyeri dan kurang
pengetahuan akan program pengobatan dan perjalanan penyakit. Adanya perubahan
aktivitas fisik akibat adanya nyeri dan hambatan mobilitas fisik memberikan respon
terhadap konsep diri yang maladaptif.
7. Riwayat Nutrisi
Kaji riwayat nutisi klien apakah klien sering menkonsumsi makanan yang
mengandung tinggi Purin.
8. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik meliputi inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi dari ujung
rambut hingga ujung kaki (head to toe). Pemeriksaan fisik pada daerah sendi
dilakukan dengan inspeksi dan palpasi. Inspeksi yaitu melihat dan mengamati daerah
keluhan klien seperti kulit, daerah sendi, bentuknya dan posisi saat bergerak dan saat
diam. Palpasi yaitu meraba daerah nyeri pada kulit apakah terdapat kelainan seperti
benjolan dan merasakan suhu di daerah sendi dan anjurkan klien melakukan
pergerakan yaitu klien melakukan beberapa gerakan bandingkan antara kiri dan
kanan serta lihat apakah gerakan tersebut aktif, pasif atau abnormal.
9. Pemeriksaan Diagnosis
a. Asam Urat meningkat dalam darah dan urin.
b. Sel darah putih dan laju endap darah meningkat (selama fase akut).
c. Pada aspirasi cairan sendi ditemukan krital urat.
d. Pemeriksaan Radiologi.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang jelas, padat dan pasti tentang
status dan masalah kesehatan klien yang dapat diatasi dengan tindakan keperawatan.
Dengan demikian, diagnosis keperawatan ditetapkan berdasarkan masalah yang
ditemukan. Diagnosis keperawatan akan memberikan gambaran tentang masalah dan
status kesehatan, baik yang nyata (aktual) maupun yang mungkin terjadi (potensial).
Menurut NANDA (2015) diagnosa yang dapat muncul pada klien Gout Arthritis yang
telah disesuaikan dengan SDKI (2017) adalah:
a) Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis (D.0077).
b) Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri persendian (D.0054).
c) Hipertemia berhubungan dengan proses penyakit (D.0130).
d) Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gejala terkait penyakit (D.0074).
e) Gangguan integritas jaringan berhubungan dengan kelebihan cairan (peradangan
kronik akibat adanya kristal urat) (D.0129).
f) Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri pada persendian (D. 0055).
3. Perencanaan
Perencanaan keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang
akan dilaksanakan untuk mengatasi masalah sesuai dengan diagnosis keperawatan yang
telah ditentukan dengan tujuan terpenuhinya kebutuhan klien (NANDA, 2016).

N0 Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi


Keperawatan Hasil

1. Nyeri akut Setelah dilakukan 1. Lakukan pengkajian nyeri


berhubungan asuhan keperawatan secara komprehensif
dengan agen diharapkan nyeri hilang termasuk lokasi,
cedera biologis atau terkontrol dengan karakteristik, durasi,
(D.0077). kriteria hasil : frekuensi dan kualitas
nyeri.
1. Melaporkan
2. Pantau kadar asam urat.
Bahwa Nyeri
3. Observasi reaksi
Berkurang
nonverbal dari
Dengan
ketidaknyamanan.
Mengguna Kan
4. Ajarkan teknik non
Manajemen
farmakologi rileksasi
Nyeri.
napas dalam.
2. Mampu
5. Posisikan klien agar
Mengenali
merasa nyaman,
Nyeri (Skala,
misalnya sendi yang
Intensitas,
nyeri diistarahatkan dan
Frekuensi Dan
diberikan bantalan.
Tanda Nyeri).
6. Kaloborasi dengan dokter
3. Menyatakan
jika ada keluhan dan
Rasa Nyaman
tindakan nyeri yang tidak
Setelah Nyeri
berhasil.
Berkurang.
2. Gangguan Setelah dilakukan 1. Monitor vital sign sebelum dan
mobilitas asuhan keperawatan sesudah latihan.
berhubungan diharapkan klien
2. Kaji tingkat
dengan nyeri mampu melakukan
persendian rentan gerak aktif dan mobilisasi klien
ambulasi secara
3. Bantu klien untuk melakukan
perlahan dengan kriteria
rentan gerak aktif maupun rentan
hasil :
gerak pasif pada sendi.
1. Klien meningkat
4. Lakukan ambulasi dengan alat
dalam aktivitas fisik.
bantu (misalnya tongkat, kursi roda,
2. Mengerti tujuan dari walker, kruk).
peningkatan mobilisasi.
5. Latih klien dalam
3.Memperagaan
pemenuhan
penggunaan alat bantu.
kebetuhan ADLs

secara mandiri

sesuai kemampuan.

6. Motivasi klien untuk

meningktkan

kembali aktivitas

yang normal, jika

bengkak dan nyeri

telah berkurang.
3. Hipertemia Setelah dilakukan 1.Monitor suhu
berhubungan
asuhan keperawatan sesering mungkin.
dengan proses
diharapkan suhu tubuh 2. Monitor warna dan
penyakit
klien dalam batas suhu kulit.
(D.0130).
normal dengan kriteria 3.Monitor tekanan

hasil : darah, nadi dan

1. Suhu tubuh dalam pernapasan.

rentan normal. 4. Monitor intake dan

2. Nadi dan pernapasan output.

dalam rentan normal. 5. Tingkatkan intake

3. Tidak ada perubahan cairan dan nutrisi.

warna kulit dan tidak 6. Selimuti klien.

ada pusing. 7. Tingkatkan sirkulasi

udara.

8.Kompres klien pada

lipat paha dan

aksila.

9. Berikan Antipiretik.

10.Kaloborasi

pemberian cairan

Intravena.
4. Gangguan rasa Setelah dilakukan 1. Identifikasi tingkat kecemasan.
nyaman asuhan keperawatan 2. Gunakan pendekatan yang
berhubungan diharapkan status menenangkan.
dengan kenyamanan meningkat 3. Temani klien untuk memberikan
berhubungan dengan kriteria hasil : keamanan dan mengurangi takut
dengan 4. Dengarkan dengan penuh
1. Mampu mengontrol
(D.0074). perhatian
kecemasan.
5. Dorong klien untuk
2. Status lingkungan
Mengungkapkan perasaan,
yang nyaman.
ketakutan, persepsi.
3. Dapat mengontrol
6. Instruksikan klien menggunakan
nyeri.
teknik rileksasi.
4. Kualitas tidur dan
7. Kaloborasi pemberian obat untuk
istirahat adekuat
mengurangi kecemasan.
5. Gangguan Setelah dilakukan 1. Anjurkan klien untuk
integritas menggunakan alas kaki yang
asuhan keperawatan
longgar.
jaringan
diharapkan ketebalan 2. Jaga kebersihan kulit agar tetap
berhubungan
bersih dan kering.
dan tekstur jaringan
dengan 3. Monitor aktivitas dan mobilisasi
kelebihan normal dengan kriteria klien.
cairan 4. Monitor kulit akan adanya
hasil :
kemerahan.
(peradangan
1. Tidak ada tandatanda 5. Monitor status nutrisi klien.
kronik
6. Berikan posisi yang mengurangi
infeksi.
akibat adanya tekanan pada luka.
kristal 2. Menunjukan 7. Ajarkan klien tentang luka dan
perawatan luka.
urat) (D.0129). pemahaman dalam

proses perbaikan

kulit dan mencegah

terjadinya cidera
berulang.

6. Gangguan pola Setelah dilakukan 1. Monitor dan catat kebutuhan


tidur tidur klien setiap hari dan jam.
asuhan keperawatan
2. Determinasi efek-efek
berhubungan
diharapkan jumlah jam medikasi terhadap pola tidur.
dengan
tidur klien dalam batas 3. Jelaskan pentingnya tidur yang
nyeri pada
adekuat.
persendian normal dengan kriteria
4. Fasilitasi untuk mempertahankan
(D. 0055). hasil : aktivitas sebelum tidur
(membaca).
1. Jumlah jam tidur
5. Ciptakan lingkungan yang
dalam batas normal nyaman.
6. Diskusikan dengan klien tentang
6-8 jam/hari.
teknik tidur klien.
2. Pola tidur dan

kualitas tidur dalam

batas normal.

3. Perasaan segar

setelah tidur dan

istirahat.

4. Mampu

Mengidentifikasi hal –
hal yang meningkatkan
tidur

D. Implementasi
Implementasi adalah fase ketikan perawata menerapkan/ melaksanakan
rencana tindakan yang telah ditentukan dengan tujuan kebutuhan pasien terpenuhi
secara optimal (Kushariyadi, 2019)

E. Evaluasi
Evaluasi merupakan langkah terakhir dari proses keperawatan dengan cara
melakukan identifikasi sejauh mana tujuan dari rencana keperawatan tercapai atau
tidak. Dalam melakukan evaluasi perawat seharusnya memiliki pengetahuan dan
kemampuan dalam memahami respon terhadap intervensi keperawatan,
kemampuan menggambarkan kesimpulan tentang tujuan yang dicapai serta
kemampuan dalam menghubungkan tindakan keperawatan pada kriteria hasil. Pada
tahap evaluasi ini terdiri dari dua kegiatan yaitu kegiatan yang dilakukan dengan
mengevaluasi selama proses perawatan berlangsung atau menilai dari respon klien
disebut evaluasi proses, dan kegiatan melakukan evaluasi dengan target tujuan
yang diharapkan disebut sebagai evaluasi hasil (Kushariyadi, 2019)

DAFTAR PUSTAKA
Aspiani, R.Y., 2016. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Gerontik. 1st ed. Jakarta: CV.
TRANS INFO MEDIA

Fitriana, Rahmatul. (2016). Cara Cepat Usir Asam Urat. Yogyakarta: Medika

NANDA Internasional. 2016. Diagnosa Keperawatan Defenisi & Klasifikasi Edisi 10.
Jakarta : EGC

Nurarif, Amin Huda, Hardhi Kusuma. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis & NANDA Nic-Noc. Jilid 2. Yogyakarta: Mediaction.

Muttaqin, Arif. 2017. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem
Muskuloskeletal. Jakarta.EGC

Paramitha. 2016. Jurnal Nursing : Memahami Berbagai Macam Penyakit. Jakarta: Indeks.
Susanto, Teguh. (2016). Asam Urat Deteksi, Pencegahan, Pengobatan. Yogyakarta: Buku
Pintar.