0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
312 tayangan16 halaman

Permasalahan Pendidikan di Masa Pandemi

Makalah ini membahas tentang permasalahan pendidikan di era pandemi Covid-19. Pembelajaran daring menjadi tantangan besar karena keterbatasan fasilitas siswa dan orang tua serta kendala jaringan internet di daerah terpencil. Makalah ini menganalisis fenomena pembelajaran jarak jauh, permasalahan yang muncul, dan strategi yang dapat diambil untuk mengatasinya.

Diunggah oleh

Madarame Ikakku
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
312 tayangan16 halaman

Permasalahan Pendidikan di Masa Pandemi

Makalah ini membahas tentang permasalahan pendidikan di era pandemi Covid-19. Pembelajaran daring menjadi tantangan besar karena keterbatasan fasilitas siswa dan orang tua serta kendala jaringan internet di daerah terpencil. Makalah ini menganalisis fenomena pembelajaran jarak jauh, permasalahan yang muncul, dan strategi yang dapat diambil untuk mengatasinya.

Diunggah oleh

Madarame Ikakku
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

“PERMASALAHAN PENDIDIKAN DI ERA PANDEMI”

Dosen Pengampu :
Melia, M.pd

Disusun Oleh :
Ratih Mauludiah (321810144)

PRODI PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS


FAKULTAS BAHASA DAN SENI
INTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
PERSATUAN GURU DAN REPUBLIK BAHASA INDONESIA
PONTIANAK
2020/2021
KATA PENGANTAR

Dengan Mengucapakan Puji Syukur Kehadirat Allah SWT, atas kehendak nya
kami dapat menyelesaikan Makalah yang berjudul “PERMASALAHAN
PENDIDIKAN DI ERA PANDEMI” Meskipun banyak sekali kekurangan dan
kesalahan didalamnya, namun saya berharap bisa memberikan sedikit pengetahuan
tentang hal yang kami tulis ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada
pembaca. Saya menyadari bahwa dalam penuliasan makalah ini masih banyak
kekurangan, oleh karena itu Saya, penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun. Dan semoga  makalah ini dapat bernmanfaat bagi pembaca.

Juni 2021

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................ i

DAFTAR ISI............................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang.......................................................................... 1


1.2 Rumusan Masalah ................................................................... 4

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Fenomena Pembelajaran pada Masa Pandemi dan Dampak..... 5


2.2 Persamalahan Pembelajaran pada Masa Pandemi..................... 10
2.3 Strategi Mengatasi Permsalahan Pembelajaran ....................... 11

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan............................................................................... 12
3.2 Saran ......................................................................................... 12

DAFTAR PUSTAKA................................................................................. 13

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pelaksanaan pembelajaran dari waktu ke waktu mengalami beragam
dinamika. Salah satunya adalah pembelajaran pada masa pandemi Covid-19. Hal itu
disebabkan oleh adanya perubahan desain pelaksanaan pembelajaran yang perlu
disesuaikan dengan protokol kesehatan sehingga pembelajaran untuk sementara
waktu tidak dapat seluruhnya dilaksanakan secara luring. Permasalalahan
pembelajaran pada masa pandemic Covid-19 ini juga muncul karena permasalahan-
permasalahan sebelumnya yang juga belum mendapatkan solusinya. Sejak
diumumkan pemerintah mengenai kasus pertama Coronavirus Disease 2019 (Covid-
19) pada bulan Maret 2020 yang lalu, Indonesia kemudian dihadapkan pada masa
pandemi. Hampir seluruh sektor kehidupan terdampak, tidak terkecuali di sektor
pendidikan. Covid-19 ini menular begitu cepat dan telah menyebar hampir ke semua
negara, termasuk Indonesia, sehingga Badan Kesehatan Dunia (WHO) menjadikan
wabah ini sebagai pandemi global pada tanggal 11 Maret 2020. Di sektor pendidikan,
pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) telah
menerapkan kebijakan learning from home atau belajar dari rumah (BDR) terutama
bagi satuan pendidikan yang berada di wilayah zona kuning, oranye dan merah. Hal
ini mengacu pada Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri
Agama, Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri tentang Panduan
Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran 2020/2021 dan Tahun Akademik
2020/2021 di masa Covid-19. Bagi satuan pendidikan yang berada di zona hijau,
dapat melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan tetap memperhatikan protokol
kesehatan. Belajar dari Rumah (BDR) dilaksanakan dengan sistem Pembelajaran
Jarak Jauh (PJJ). Dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 pasal 1 ayat 15,
dijelaskan bahwa PJJ adalah pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik

1
dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui teknologi
komunikasi, informasi dan media lain. Dalam pelaksanaannya, PJJ dibagi menjadi
dua pendekatan, yaitu pembelajaran jarak jauh dalam jaringan (daring) dan
pembelajaran jarak jauh luar jaringan (luring). Dalam pelaksanaan PJJ, satuan
pendidikan dapat memilih pendekatan (daring atau luring atau kombinasi keduanya)
sesuai dengan karakteristik dan ketersediaan, kesiapan sarana dan prasarana. Dari
paparan di atas, salah satu jenis PJJ adalah pembelajaran daring. Sistem pembelajaran
daring merupakan sistem pembelajaran tanpa tatap muka secara langsung antarguru
dan peserta didik, melainkan secara online yang menggunakan jaringan internet. Guru
dan peserta didik melakukan pembelajaran bersama, waktu yang sama, dengan
menggunakan berbagai aplikasi, seperti whatsapp, telegram, zoom meeting, google
meet, google classroom, quiepper school, ruang guru dan aplikasi lainnya.
Selanjutnya, mencermati fakta di masyarakat saat ini, sebagian orang tua
peserta tidak memiliki perangkat handphone (android) atau komputer untuk
menunjang pembelajaran daring, terlebih bagi peserta didik sendiri. Kondisi demikian
membuat mereka kebingungan menghadapi kenyataan yang ada. Satu sisi dihadapkan
pada ketiadaan fasilitas penunjang, sisi lain adanya tuntutan terpenuhinya pelayanan
pendidikan bagi peserta didik. Sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945 pasal 31
ayat (1) menyatakan bahwa setiap warga berhak mendapat pendidikan. Permasalahan
yang terjadi bukan hanya pada ketersediaan fasilitas pembelajaran, melainkan
ketiadaan kuota (pulsa) yang membutuhkan biaya cukup tinggi, guna memfasilitasi
kebutuhan pembelajaran daring, terutama orangtua peserta didik dari kalangan
ekonomi menengah ke bawah, tidak memiliki anggaran dalam menyediakan jaringan
internet.
Tidak berhenti sampai di situ, meskipun jaringan internet dalam genggaman
tangan, peserta didik menghadapi kesulitan akses jaringan internet karena tempat
tinggalnya di daerah pedesaan, terpencil dan tertinggal. Kalaupun ada yang
menggunakan jaringan seluler terkadang jaringan yang tidak stabil, karena letak
geografis yang masih jauh dari jangkauan sinyal seluler. Hal ini juga menjadi

2
permasalahan yang banyak terjadi pada peserta didik yang mengikuti pembelajaran
daring, sehingga pelaksanaannya kurang efektif (Kemdikbud, 2020)
Permasalahan tersebut dapat bersifat substansial, seperti kurikulum. Selain
itu, permasalahan juga dapat bersifat teknis, misalnya permasalahan dalam segi
praktik pelaksanaannya. Pandemi Covid-19 sangat berdampak pada berbagai bidang
pendidikan, khususnya pada pendidikan di Indoneia. Awalnya, proses pembelajaran
dilakukan di sekolah. Akan tetapi, selama masa pandemic covid-19 ini, pembelajaran
hanya dilaksanakan secara luring (Astini, 2020). Guru perlu tetap melaksanakan
kegiatan belajar meskipun siswa belajar dari rumah. Solusinya, guru dituntut
melaksanakan pembelajaran dengan memanfaatkan media daring (online). Hal itu
sesuai dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia terkait Surat
Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa
Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19) bahwa sistem pembelajaran
dilaksanakan melalui perangkat personal computer (PC) atau laptop yang terhubung
dengan koneksi jaringan internet. Guru dapat memanfaatkan beragam media untuk
pembelajaran daring, yaitu media sosial seperti WhatsApp (WA), telegram,
instagram, aplikasi zoom ataupun media lainnya sebagai media pembelajaran (Atsani,
2020). B
Berdasarkan kedua jenis permasalahan tersebut, pembelajaran selama
pandemic Covid-19 ini mengalami dua permasalahan tersebut sehingga dibutuhkan
strategi-strategi untuk mengatasinya. Tujuannya adalah untuk tetap dapat mencapai
tujuan pembelajaran. Selain itu, hal itu juga bertujuan pada stalitas pelaksanaan
pembelajaran. Meskipun terdapat masalah dan kendala, pelaksanaan pembelajaran
tetap harus dilaksanakan. Secara substansial dan teknis, pembelajaran selama
pandemi pada umumnya dilaksanakan secara daring. Hal itu disebabkan adanya
syarat pemenuhan protokol kesehatan dalam masa pandemic Covid-19 ini.
Pemerintah telah menyalurkan bantuan dana untuk memenuhi kebutuhan internet,
baik bagi guru, dosen, siswa, dan mahasiswa. Hal itu bermanfaat pada terpenuhinya
kesempatan untuk belajar meski tidak tatap muka, tetapi juga masih mengalami

3
kendala, seperti kurangnya pengalaman siswa dan walimurid dalam memanfaatkan
kuota internet tersebut (Atsani, 2020). Akan tetapi, pembelajaran daring ini penting
untuk dicermatik kembali untuk dapat dilakukan dengan mempertimbngkan kondisi
setempat karena adanya keberahaman ketersediaan fasilitas dan kemampuan orang
tua 434 dalam memberikan fasilitas belajar online yang berbeda kepada siswa di
Indonesia (Herliandry, 2020)
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, makalah ini merumuskan masalah
dengan tiga hal, yaitu
a) Apa fenomena Permasalahan pembelajaran pada masa pandemi,?
b) Apa permasalahan pembelajaran pada masa pandemi,? serta
c) Apa strategi mengatasi permasalahan pembelajaran selama masa
pandemi.?
Hal itu bertujuan mendapatkan deskripsi yang memadai tentang fenomena,
permasalahan, dan strategi yang dapat digunakan untuk pembelajaran selama
pandemi Covid-19.

4
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Fenomena Pembelajaran pada Masa Pandemi dan Dampak Pandemi


Pendidikan merupakan salah satu kunci yang sangat esensial dalam kehidupan
manusia. Dalam konteks dan ruang lingkup kehidupan suatu bangsa, pendidikan
memiliki peranan yang sangat penting dan strategis untuk menjamin kelangsungan
dan perkembangan kehidupan bangsa tersebut. Karena dari dan dengan pendidikanlah
seluruh aspek kehidupan manusia dapat tercerahkan. Pendidikan harus dapat
menyiapkan warga negara untuk menghadapi masa depannya. Pendidikan merupakan
lokomotif yang penting dalam menggerakkan kehidupan manusia. Baik buruknya
sumber daya manusia tergantung dari pendidikan yang diperolehnya. Maka proses
pendidikan harus jelas dan terarah. Pademi Covid-19 telah membuat wajah dan masa
depan pendidikan kita semakin tak menentu. Sekolah-sekolah mulai dari TK/PAUD,
SD, SMP, SMA sampai kampus Perguruan Tinggi tutup.
Namun di sisi lain, hal baik yang terus dilakukan adalah tetap melaksanakan
aktivitas/ proses belajar mengajar dengan segala keterbatasan fasilitas dan
keberagaman kompetensi personal yang dimiliki dari Sabang sampai Merauke, dari
Miangsa sampai pulau Rote. Fakta ini menunjukkan, bahwa nampaknya Pemerintah
khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) memang tidak
siap dengan situasi pandemic ini. Padahal sudah sejak lama melalui ruang-ruang kelas
sekolah formal dan forum-forum workshop juga seminar memperkenalkan dan
mengajarkan tentang E-Learning.Tapi dalam medan tempur melawan pandemic

5
Covid-19 ini, Kemdikbud seolah latah, mati akal dan kehabisan daya kreasi untuk
mengahadirkan pembelajaran yang tidak hanya inovatif tapi juga memastikan semua
Standar Nasional Pendidikan dapat tercapai meski dalam situasi pandemic seperti
sekarang.
Hal ini menjadi satu parameter bahwa teori yang diajarkan di sekolah
kebanyakan hanyalah sebuah narasi ceramah minim bahkan tanpa aplikasi. Bukan
hanya Covid-19 yang membuat wajah dan masa depan pendidikan kita menjadi tidak
menentu. Bukan baru hari-hari ini saja, kita mengeluhkan realitas pendidikan kita.
Tapi sejatinya sudah sejak lama permasahalan pendidikan kita di Indonesia belum
terselesaikan mulai dari permasalahan pendidikan yang muncul dari perspektif
sistemnya sampai permasalahan pendidikan yang muncul sebagai suatu sistem yang
kompleks.
Sederhananya pendidikan di Indonesia melalui lembaga/institusi sekolah juga
kampus seolah senang terus berada pada zona nyaman hanya menjadi menara gading
yang terus bersolek dengan hal-hal yang aksidental saja, seperti lebih banyak
disibukkan dengan program mempercantik bangunan infrastruktur sekolah/kampus,
tetapi justru nampak minim aktivitas baik secara kuantitas maupun kualitas, yang
mengarah kepada pencapaian Tujuan Pendidikan Nasional itu sendiri sebagaimana
yang tertuang di dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) No.
20 Tahun 2003 pasal 4 ayat 1 bahwa “Pendidikan Nasional bertujuan membentuk
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak dan
berbudi mulia, sehat, berilmu, cakap, serta menjadi warga Negara yang demokratis
dan bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat dan tanah air”.
Memperindah dan mempercantik gedung sekolah lengkap dengan
penyempurnaan fasilitas pembelajarannya bukanlah hal yang salah dan tidak penting
dilakukan. Namun yang sangat fatal bila Pemerintah lupa akan substansi pendidikan
itu sendiri yaitu sebagai sarana untuk memanusiakan manusia atau dengan
terminologi lain bahwa tujuan puncak pendidikan adalah melahirkan Insan Kamil
atau Manusia Paripurna yang sekali lagi bukan hanya diukur dari kualitas ilmu

6
pengetahuan (kognitif) dan skill (psikomotor) saja namun juga lebih kepada aspek
moralitas (afektif) yang mesti kuat dan kokoh sebagai modal menjadi Manusia
Seutuhnya, mempertegas Indentitas Kemanusiaan sebagai Manusia Indonesia.
Jika eksistensi lembaga pendidikan di Negeri ini masih seperti menara gading
yang berjarak dengan realitas politik, ekonomi dan sosial budaya kehidupan
masyarakat, lalu apa artinya Negara mengkampanyekan narasi tentang Revolusi
Industri 4.0, apakah narasi ini sebenarnya justru sebagai dalih untuk menghambakan
pendidikan kepada kekuatan dan kepentingan Kapitalis Global?. Negara
membicarakan Revolusi Industri 4.0 saat ini seperti mimpi di siang bolong. Sebab
Negara, sekali lagi masih diperhadapkan dengan segudang permasalahan pendidikan
dengan kompleksitas yang akut diantaranya adalah masalah perluasan dan
pemerataan kesempatan mengikuti pendidikan bagi seluruh warga negara,
peningkatan mutu pendidikan, peningkatan relevansi pendidikan dengan tuntutan
kehidupan, peningkatan efisiensi dan efektifitas pendidikan, pengembangan
kebudayaan Nasional (local wisdom/kearifan local) agar indentitas Bangsa ini tidak
habis ditelan oleh hegemoni budaya asing, dan yang tidak kalah pentingnya adalah
masalah pembinaan generasi muda sebagai generasi pelanjut tongkat estafek
kepemimpinan Nasional.
Akibat dari pandemi covid-19 ini, menyebabkan diterapkannya berbagai
kebijakan untuk memutus mata rantai penyebaran virus covid-19 di Indonesia. Upaya
yang dilakukan oleh pemerintah di Indonesia salah satunya dengan menerapkan
himbauan kepada masyarakat agar melakukan physical distancing yaitu himbauan
untuk menjaga jarak diantara masyarakat, menjauhi aktivitas dalam segala bentuk
kerumunan, perkumpulan, dan menghindari adanya pertemuan yang melibatkan
banyak orang. Upaya tersebut ditujukan kepada masyarakat agar dapat dilakukan
untuk memutus rantai penyebaran pandemi covid-19 yang terjadi saat ini. Pemerintah
menerapkan kebijakan yaitu Work From Home (WFH). Kebijakan inimerupakan
upaya yang diterapkan kepada masyarakat agar dapat menyelesaikan segala pekerjaan
di rumah. Pendidikan di Indonesia pun menjadi salah satu bidang yang terdampak

7
akibat adanya pandemi covid-19 tersebut. Dengan adanya pembatasan interaksi,
Kementerian Pendidikan di Indonesia juga mengeluarkan kebijakan yaitu dengan
meliburkan sekolah dan mengganti proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dengan
menggunakan sistem dalam jaringan (daring). Dengan menggunakan sistem
pembelajaran secara daring ini, terkadang muncul berbagai masalah yang dihadapi
oleh siswa dan guru, seperti materi pelajaran yang belum selesai disampaikan oleh
guru kemudian guru mengganti dengan tugas lainnya. Hal tersebut menjadi keluhan
bagi siswa karena tugas yang diberikan oleh guru lebih banyak.
Permasalahan lain dari adanya sistem pembelajaran secara online ini adalah
akses informasi yang terkendala oleh sinyal yang menyebabkan lambatnya dalam
mengakses informasi. Siswa terkadang tertinggal dengan informasi akibat dari sinyal
yang kurang memadai. Akibatnya mereka terlambat dalam mengumpulkan suatu
tugas yang diberikan oleh guru. Belum lagi bagi guru yang memeriksa banyak tugas
yang telah diberikan kepada siswa, membuat ruang penyimpanan gadget semakin
terbatas. Penerapan pembelajaran online juga membuat pendidik berpikir kembali,
mengenai model dan metode pembelajaran yang akan digunakan. Yang awalnya
seorang guru sudah mempersiapkan model pembelajaran yang akan digunakan,
kemudian harus mengubah model pembelajaran tersebut.
Di balik masalah dan keluhan tersebut, ternyata juga terdapat berbagai hikmah
bagi pendidikan di Indonesia. Diantaranya, siswa maupun guru dapat menguasai
teknologi untuk menunjang pembelajaran secara online ini. Di era disrupsi teknologi
yang semakin canggih ini, guru maupun siswa dituntut agar memiliki kemampuan
dalam bidang teknologi pembelajaran. Penguasaan siswa maupun guru terhadap
teknologi pembelajaran yang sangat bervariasi, menjadi tantangan tersendiri bagi
mereka. Dengan adanya kebijakan Work From Home (WFH), maka mampu
memaksa dan mempercepat mereka untuk menguasai teknologi pembelajaran secara
digital sebagai suatu kebutuhan bagi mereka.
Tuntutan kebutuhan tersebut, membuat mereka dapat mengetahui media
online yang dapat menunjang sebagai pengganti pembelajaran di kelas secara

8
langsung, tanpa mengurangi kualitas materi pembelajaran dan target pencapaian
dalam pembelajaran. Berbagai media pembelajaran jarak jauh pun dicoba dan
digunakan. Sarana yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran online antara
lain, e-learning, aplikasi zoom, google classroom, youtube, maupun media sosial
whatsapp. Saranasarana tersebut dapat digunakan secara maksimal, sebagai media
dalam melangsungkan pembelajaran seperti di kelas.
Dengan menggunakan media online tersebut, maka secara tidak langsung
kemampuan menggunakan serta mengakses teknologi semakin dikuasai oleh siswa
maupun guru. Setelah pendidik mampu menguasai berbagai sarana pembelajaran
online, maka akan tercipta pemikiran mengenai metode dan model pembelajaran
lebih bervariasi yang belum pernah dilakukan oleh pendidik. Misalnya, guru
membuat konten video kreatif sebagai bahan pengajaran. Dalam hal ini, guru lebih
persuasif karena membuat peserta didik semakin tertarik dengan materi yang
diberikan oleh guru melalui video kreatif tersebut. Peserta didik tentu akan dapat
memahami apa yang dijelaskan oleh guru melalui video kreatif yang dibuat oleh guru
tersebut. Sehingga dengan adanya penerapan model pembelajaran di rumah ini,
membuat siswa tidak merasa bosan dalam mengikuti pembelajaran secara online.
Penggunaan teknologi dalam menyelesaikan tugas pada siswa, juga dapat
menimbulkan kreativitas dikalangan siswa dalam mengembangkan pengetahuan yang
telah mereka miliki. Dengan metode pembelajaran yang bervariasi dari guru, mereka
dapat menciptakan suatu produk pembelajaran kreatif yang dapat mengembangkan
pemikiran melalui analisis mereka sendiri, tanpa keluar dari pokok bahasan materi
yang telah disampaikan oleh guru. Adanya pandemi covid-19 juga memberikan
hikmah yang lainnya. Pembelajaran yang dilakukan di rumah, dapat membuat orang
tua lebih mudah dalam memonitoring atau mengawasi terhadap perkembangan
belajar anak secara langsung.
Orang tua lebih mudah dalam membimbing dan mengawasi belajar anak
dirumah. Hal tersebut akan menimbulkan komunikasi yang lebih intensif dan akan
menimbulkan hubungan kedekatan yang lebih erat antara anak dan orang tua. Orang

9
tua dapat melakukan pembimbingan secara langsung kepada anak mengenai materi
pembelajaran yang belum dimengerti oleh anak. Dimana sebenarnya orang tua adalah
institusi pertama dalam pendidikan anak. Dalam kegiatan pembelajaran secara online
yang diberikan oleh guru, maka orang tua dapat memantau sejauh mana kompetensi
dan kemampuan anaknya. Kemudian ketidakjelasan dari materi yang diberikan oleh
guru, membuat komunikasi antara orang tua dengan anak semakin terjalin dengan
baik. Orang tua dapat membantu kesulitan materi yang dihadapi anak.
2.2 Permasalahan Pembelajaran pada Masa Pandemi
Permasalahan-permasahan inilah yang sejatinya menjadi Program Utama
dalam upaya Pengembangan Pendidikan di Indonesia. Jika perhatian Pemerintah
luput dari program utama pengembangan pendidikan Nasional ini, sudah dapat
dipastikan bahwa generasi bangsa ini secara perlahan tapi pasti akan tergerus oleh
roda kemajuan zaman, genarasi bangsa ini hanya akan menjadi genarasi yang latah,
konsumeris akut tanpa sedikitpun daya produksi. Dan jika keadaan ini terjadi maka
bukan angin segar bonus demografi di tahun 2045 yang akan diperoleh oleh Negara
melainkan bencana demografi yang terjadi. Kenapa? Karena generasi mudanya tak
unggul dan tak mampu bersaing era Revolusi Industri 4.0 yang penuh dengan
akselerasi dan kecepatan yang tinggi (disruption). Sudah saatnya Pemerintah bangun
dari tidur panjangnya, sadari bahwa pendidikan kita sedang terpuruk, contoh yang
paling nyata adalah kualitas pendidikan Indonesia masih kalah bersaing dengan
kualitas pendidikan di Negara serumpun seperti Malaysia terlebih Singapura.
Rendahnya kualitas/mutu pendidikan ini sebagai alamat bahwa pendidikan kita tak
lagi mampu menjadi komponen penentu terwujudnya tatanan masyarakat yang
diridhai oleh Allah Swt, tatanan Bangsa dan Negara yang dicita-citakan oleh para
pendiri (founding fathers) bangsa ini, tatanan sosial yang memanifestasikan nilai
luhur
Pancasila dan tatatan ideal sebagaimana yang digambarkan oleh pembukaan
UUD 1945. Pendidikan Indonesia terpuruk dan terbelakang, sebab jika ditinjau secara
substansial Negara tidak lagi menjadikan Pancasila sebagai paradigma atau landasan

10
filosofis dan moral etis dalam penyelenggaaan pendidikan. Pancasila hanya tinggal
pada ucapan lisan dan tulisan semata, namun nilai-nilai luhurnya tidak tertanam
kokoh di hati sanubari. Justru jika ditinjau dari sudut pandang yang lebih kritis lagi,
nampaknya liberalisme, individualisme, sekularisme, materialisme, hedonisme dan
kapitalisme kini telah menghegemoni dan menggerogoti hampir seluruh komponen
pendidikan mulai dari segi konteks, input, proses, output dan outcome pendidikan,
bahkan sampai pada sendi terdalam pendidikan kita yaitu kesadaran akan Tujuan
Pendidikan Nasional. Jika sudah demikian, lalu langkah solutif apa yang dapat
dilakukukan oleh Pemerintah untuk menyelamatkan masa depan pendidikan
Indonesia?
2.3 Strategi Mengatasi Permasalahan Pembelajaran pada Masa Pandemi
Pertama; Lakukan revitalisasi paradigma Pancasila sebagai paradigma
Pendidikan Nasional. Memanifestasikan nilai-nilai luhur Pancasila dalam
rekonstruksi Sistem Pendidikan Nasional. Menjadikan Pancasila sebagai paradigma
atau sistem nilai yang mampu terejawantahkan secara utuh dalam praktik pendidikan
sebab nilai-nilai luhur Pancasila sangat relevan dengan nilai-nilai ke Islaman dan Ke
Indonesiaan. inilah solusi mendasar.
Kedua; Lakukan rekonstruksi sistem sosial, ekonomi, dan politik Indonesia,
kemudian merelevansikannya dengan sistem pendidikan Nasional. Reformasi
sistemik secara holistik di segala bidang kehidupan dan mensinergikannya dengan
sistem pendidikan. Hal ini tentunya mempesyaratkan adanya political will yang
berani dari pemerintah atas dasar komitmen kenegarawanan yang kuat dan bebas dari
segala bentuk intervensi dan hegemoni asing. ini adalah solusi sistemik
Ketiga; Lakukan tindakan teknis yang objektif, valid dan reliabel berbasis
research mendalam, yang hasilnya adalah cara konvensional maupun kreatif inovatif
untuk keluar dari berbagai permasalahan praktis pendidikan. Keputusan yang cepat
dan terukur lalu dilakukan dalam bentuk aksi nyata atau tindakan konkret di lapangan
penting diambil oleh seluruh stake holder pendidikan termasuk pemerintah demi terus

11
menjaga dan meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah/kampus. inilah solusi
teknis.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Walaupun banyak tenaga pendidik, peserta didik maupun masyarakat yang
belum siap menghadapi Permasalahan Akibat Pandemi, pembelajaran daring di
tengah pandemi covid-19 ini seakan-akan memaksa semua manusia harus siap
terhadap perkembangan teknologi saat ini. Jika dilihat dalam perspektif sosiologi,
kebijakan ini merupakan langkah yang tepat dilakukan dalam kondisi seperti ini.
Seperti ada percepatan agar masyarakat lebih cepat maju, dengan teknologi internet
sekarang, misalnya dengan belanja dengan system online, lebih disukai masyarakat
dan mengurangi waktu dan biaya transfort, apalagi masa covid-19. Karena lebih aman
dan sehat. Kita harapkan semoga pandemi covid-19 lekas berakhir, semua warga
bangsa senantiasa sehat dan proses kehidupan dapat berjalan normal kembali dengan
menciptakan manusia manusia baru yang memiliki pola pikir positif yang sarat
solidaritas sosial,
Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat beragam fenomena pembelajaran
pada masa pandemi. Selain itu, juga terdapat permasalahan-permasalahan
pembelajaran selama masa pandemi ini. Fenomena dan permasalahan tersebut terjadi
karena adanya dinamika pembelajaran yang timbul akibat pandemi sehingga
membutuhkan berbagai penyesuaian agar pembelajaran tetap dapat dilaksanakan.
Oleh karena itu, dibutuhkan strategi-strategi untuk mengatasi masalah tersebut, yaitu
revitalisasi paradigm Pancasila, rekonstruksi sistem-sistem dalam berbagai aspek
kehidupan, serta pelaksanaan tindakan teknis yang sesuai.

12
3.2 Saran
a) Lebih Menekankan materi lebih mendalam kepada pelajar
b) Memberikan kemudahan akses Materi
c) Belajar Bijak menggunakan teknologi
DAFTAR PUSTAKA

[1] Atsani, K. L. G. M. Z. (2020). Transformasi media pembelajaran pada masa


Pandemi COVID-19. Al-Hikmah: Jurnal Studi Islam, 1(1), 82-93.
[2] Herliandry, L. D., Nurhasanah, N., Suban, M. E., & Kuswanto, H. (2020).
Pembelajaran Pada Masa Pandemi Covid-19. JTP-Jurnal Teknologi
Pendidikan, 22(1), 65-70.437
[3] Astini, N. K. S. (2020). Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam
Pembelajaran Tingkat Sekolah Dasar pada Masa Pandemi Covid-19.
Lampuhyang, 11(2), 13-25

13

Anda mungkin juga menyukai