Citra Usmar Ismail
Citra Usmar Ismail
DRAMA
CITRA
3. SUTOPO : (tersenyum) Ya, kita akan bekerja Iagi sekuatkuat tenaga kita,
dik. Sudah empat bulan pabrik kita ini terhenti, karena perang,
Sekarang pemerintah bala tentara memberi lagi kesempatan
seluas-luasnya untuk bekerja terus. Zama pembangunan sudah datang
4. CITRA : Mas suka mempermain-mainkan aku. Mana pula aku akan dapat
menolong. Aku Cuma anak desa yang bodoh, dilahirkan
untuk bekerja didapur. Aku Cuma anak pungut
5. SUTOPO :(agak marah) Jangan kau sebut juga hal itu, Kausudah adikku
sekarang (la berdiri dan mendekatl Citra), anak ibuku juga.
8. CITRA : Ya, aku maafkan dia. Tampaknya tak tahu yang harus
dilakukannya, berlain benar dari waktu dia datang pakansi dulu.
10. PAK GONDO : Selamat siang tuan muda. (kepada Citra) Nak, persiapan rumah
makan buat pekerja-pekerja itu, sudah hampir siap. Menunggu alat-alatnya
saja lagi
11. CITRA : Baik pak, nanti saya coba menelepon lagi kekota, kapan
datangnya
12. SUTOPO : (kepada pak Gondo) Bukankah dia sudah pantas jadi
pemimpin umum sekarang, pak?
13. PAK GONDO : Betul, tuan muda! Saya bangga melihat anak saya ini. (kepada
Citra) Kau semenjak bekerja disini sudah bersemangat betul
aku lihat, nak
15. CITRA : Tetapi mas Harsono bilang, Cuma memekakkan telinga saja
16. PAK GONDO : O ya, tuan muda. Itu tukang musik yang ada di sini itu Cuma
mengganggu pekerjaan saja Anak-anak sedang memintal Sisal
diajar menyanyi, dengarlah,. . (sayup- sayup dari jauh
kedengaran suara anak-anak menyanyi lagu "Di paberik”)
19. SUTOPO : Tetapi tuan Kornel bukan tukang musik biasa, Pak. la
pengarang lagu, mengarang nyanyian-nyanyian yang dapat
membangkitkan kita semua.
20.
21. CITRA : Betul itu mas? Ah, aku belum pernah melihat orang
semacam itu, pengarang lagu, maksudku.
25. PAK GONDO : Tidak tahu saya dimana tuan muda itu, kerjanya berkeliaran
saja kemana-mana. Sebentar ke pasar, sebentar lagi ke paberik,
kemudian kelihatandi kebun kapas.
27. PAK GONDO : Biarlah saya urus hal rumah makan itu dulu, tuan muda.
Aneh-aneh saja pikiran tuan Topo. Pekerja diajar nyanyi,
disediakan tempat makan. Bikin orang malas saja. Kalau tuan
Suryo masih hidup, tentu ia akan bikin ribut, begini.. (ia ke
luar)
28. SUTOPO : (tersenyum kepada citra) pak gondo tentu masih ayah
Harsono memimpin segala-galanya di sini. Tetapi kita sekarang
harus berani menukar adat yang kurang baik dengan yang lebih
sehat.sesuai dengan aliran zaman.
29. CITRA : Sayang, tidak mengenal beliau lagi, bagaimana beliau, mas?
31. CITRA : Berlain betul dari mas harsono, kalau begitu mas harsono
rupanya bermusuhan dengan kerja.
34. SUTOPO : Ayahku terlalu miskin untuk memanjain aku.Kau tahu yang
membesarkan dan yang menyekolahkan aku ialah Pak
Suriowinoto,semenjak ayahku meninggal dan ibu kawin lagi
dengan beliau. Aku banyak berhutang budi kepada ayah
Harsono itu, jadi kau lihat sendiri,aku pun bisa dikatakan
orang hidup dari kasih orang lain
36. SUTOPO : (tersenyum) Kau ingin betul tahu rupanya? Dia di utus oleh
kantornya kemari mencari-cari ilham. Nanti dia mampir
kemari, boleh engkau berkenalan....kalau mau.
39. SUTOPO : (melihat kertas itu) Ya, masih kasar ini, tapi buat percobaan
sudah bagus. Nanti saya datang sendiri, beum di bawah ke
penggilingan, bukan?
40. MANDUR : Belum tuan !
41. SUTOPO : Jangan bawah dulu .biar aku periksa dulu. Yang sudah-sudah
masih banyak jeramihnya Nanti kita cari akal lain.
43. CITRA : Baik juga pikiran itu, bukan mas ?sekarang persediaan benang
kita mulai kurang, kita perlu mencari jalan lain. Dan kertas dari
luar negeri tidak ada lagi
44. SUTOPO : (tertawa) Memang, kau sudah pintar, aku lihat.tetapi tentang
pembikinan kertas itu, bukankah pikiranmu sendiri, dik ?
47. CITRA :Ya, aku lihat mas memikirkan kemajuan pabrik itu saja siang
dan malam
48. SUTOPO : Aku harap saja semoga kau betah kerja dengan orang seperti
aku, kaku seperti patung, dingin seperti es.
49. CITRA : Aku lihat penduduk sudah mulai menanam kapas, mas.
sehabis panem.
50. SUTOPO : Ya, aku yang menganjurkan kepada pak kutyo, aku terangkan
kemungkinan-kemungkinan yangakan memajukan
perekonoman rakyat di sini.pabrik kita ini bisa di jadikan pusat.
52. HARSONO : Selamat pagi, tuan sep beserta pelayannya yang manis
54. HARSONO : (duduk di atas meja tulis Citra) apa salahnya, aku berkata
yang benar saja.(mengerting Citra) bukankah anak pungut kita,
ratu dapur ini sudah naik pangkat sekarang. .jadi pelayan.
55. SUTOPO : itu urusanku !
57. SUTOPO :Aku ingin sekali, jika kau kut campur, masih banyak yang
harus di bereskan.
58. HARSONO :Apa ?aku mesti juga jadi mandur ?Terima kasih, tuan,
melihat gunung yang sisal dan melihat roda berputar yang tidak
berhenti-hentinya itu. Terima kasih tuan !
60. HARSONO : Kapan tuan besar ada ! Sebenarnya, kakakku harus meminta
terima kasih kepadaku aku tidakikut campur.......(ia keluar).
61. SUTOPO : (Sesudah diam sejurus kepada Citra) Kau jangan kecil hati
dik. Harsono mulutnya lancang tetapi dia tidak sejelek yang
dipertontonkannya itu sebenarnya.
62. CITRA : Ah tidak apa, mas. ,Aku sudah biasa. Sejak aku sebagai gadis
kecil datang menumpang ke rumah ibu, mas. Aku masih ingat,
jika mas Harsono datang pakansi dulu, aku tidak mau disuruh-
suruhnya begitu saja. Karena itu dia jengkel saja melihatku
hingga sekarang agaknya. Aku masih saja dianggapnya anak
pungut Pak Gondo, [ orang yang tidak mempunyai asal-usul
67. SUTOPO : Kemudian karena kau tidak puas, kau sendiri terjun ke dalam
kali, bukan?Untung Harsono menolong engkau!
68. CITRA : Aku kira, itu salah satu sebab ia makinmenghina aku
sekarang
71. HARSONO : Aku ada kelupaan. Maksudku tadi ke mari (terus mendapatkan
Citra) mau memberikan ini. Tanda mata buat kenang-kenangan.
(ia memberikan sebuah mata pancing dengan talinya kepada
Citra).
73. HARSONO : Masih ingat, di tepi kali dulu? Masih ingat pancing ini, kau
lemparkan ke dalam kali, lima tahun yang lalu?
76. HARSONO : (tertawa) Aku berhak mengetahui isi lemari adik pungutku,
bukan? (sambil bersiul-siul ia berjalan ke pintu, kemudian
berpaling) Jangan ditaruh saja dalam lemari, karena barangkali
dengan itu kau bisa memancing mandur besar oh maaf,
pemimpin umum Sutopo. Tetapi aku ingin jadi ikan yang
merdeka berenang dalam air. (dengan membungkuk ia keluar).
77. SUTOPO : Benarkah pancing itu kau simpan dalam lemarimu, dik?
80. HARSONO : Permisi aku masuk lagi. Atas perintah nyonya besar kuasa
Umum paberik tenun “Jawa Timur”.
81. NY. SURIO : (tersenyum kepada Citra) Aku senang sekali melihat anak-
anakku berkumpul. Kau jarang betul duduk di rumah, Harsono.
Apa kerjamu sebenarnya ?
83. NY. SURIO : Karena kau orang kota barangkali, tentu kurang enak bergaul
dengan orang desa seperti kami ini.
84. HARSONO : Satu hari saja sudah bosan di sini, bu. Itu, itu, saja yang saya
lihat. Cerobong paberik, pasar kotor dan yang kedengaran
hanya dengung mesin saja. Pagi peluit, sore peluit! Bosan saja,
bu. Apalagi melihat orang di sini (melirik Sutopo). Semuanya
sudah seperti mesin, masuk pukul 9, makan pukul 12 pulang
pukul 3.......
Sampai-sampai mukanya seperti topeng besi saja............
85. NY. SURIO : Mungkin karena kau tidak mendapat apa yang kau harap di
sini, tempat pelesir dan segala macam itu.
86. HARSONO : (mengejek) Mungkin juga karena aku kurang semangat. Aku
tidak bisa merasakan yang dikatakan orang zaman baru ini,
semuanya serba merugikan aku saja. Aku masih muda, aku
ingin hidup senang.... bukan begitu, dik pungut? (melirik Citra)
88. HARSONO : Ya, aku senang di kota ramai, bu. Aku tidak tahan sepi, rasa
aku akan diterkam hantu selalu. Kalau sudah malam aku tidak
berani lagi ke luar.
89. SUTOPO : Aku kira di sini cukup ramai, Harsono! Jika pandai
merasakannya......
90. HARSONO : Ya,ya, engkau pintar! Tetapi betul juga itu, ada tempat yang
paling ramai di sini, membuat hati gembira
93. NY. SURIO : Apa pula yang kau cari di tengah gadis-gadis desa itu.
95. NY. SURIO : (sesudah hening serius) Bagaimana tali sisalnya Topo?
96. SUTOPO : Dalam bulan ini lebih besar hasilnya barangkali, bu. Karena
anak-anak sekolah desa sedang liburan. Dan di sini mereka bisa
juga mencari sedikit uang untuk lebaran nanti.
97. NY. SURIO : Pantas pagi tadi suara anak-anak ramai bernyanyi: ke paberik,
ke paberik! Pengarang lagu itu masih ada di sini?
99. NY. SURIO : Ayah Harsono almarhum, tidak akan membiarkan siapapun
mengganggu pekerja-pekerja dalam paberik.
101.NY. SURIO : Tentu saja aku setuju. Jika kau anggap ada baiknya, aku
sekarang sudah termasuk kaum kolot! (melihat Citra sedang
mengetik). Bagaimana nak? Di mana yang llebih enak, di sini
atau di dapur?
103.NY. SURIO : Sama saja? Sutopo mengatakan lebih baik kau di sini. ia tidak
ingin adiknya cuma pandai memasak saja, katanya. Meski tidak
kalah dengan gadis kota. (kepada Sutopo). Aku ingin melihat
percobaan pembikinan kertas itu, Topo
109.SUTOPO : Apa pula lagi yang mesti aku pikirkan ? Kerja sudah jadi
darah daging bagiku.
112.NY. SURIO : Asal saja, aku harap, jangan terlalu jauh memandang, tetapi
yang di dekat pelupuk matamu tak terlihat..... (masuk
Citradengan mandur)
116.NY. SURIO : (kepada Citra) Terima kasih, nak. (kepada Sutopo) Coba
pikirkan apa yang kukatakan tadi Topo (ia keluar diiringi
mandur itu)
120. KORNEL : Sudah jauh perjalanan saya tuan. Tetapi yang paling senang
saya, ialah di paberik. Di tengah-tengah pekerja yang sedang
sibuk, mendengarkan mesin mendengung. Saya berterima kasih
sudah dapat kesempatan beberapa lama dapat tinggal di sini.
125.SUTOPO :Saya harap tuan akan datang-datang juga ke mari. Tetapi saya
ingin menyampaikan sebuah tanda mata sebelum tuan pergi.
(kepada Citra) Dik, tolong mintakan kertas musik yang kusuruh
cetak dulu kepada mandur (Citra keluar).
127.SUTOPO :Ya, dari hasil kami yang pertama, saya suruh bikin kan kertas
musik. Karena saya sendiri gemar main piano, dan adik saya
kadang-kadang menyanyi.
129.SUTOPO :Sebenarnya bukan adik, tetapi anak pungut ibu saya. Mula-
mula dipungut oleh seorang mandur tua di sini, kemudian
ketika sudah besar sedikitdipelihara oleh ibu saya.
132.KORNEL : (tertawa) Pak Gondo? Yang selalu asam saja mukanya jika
saya masuk paberik? (sejurus mereka diam, kemudian
perlahan-lahan) Citra! Aneh nama itu
134.KORNEL : Citra! Layak benar bagi orang yang memakainya. Saya tidak
sanggup membayangkan adik tuan, dengan nama lain.... Citra.
Tepat sekali! Tadi pagi saya berjalan-jalan di tengah kebun
kapas. Fajar baru menyingsing. Saya terpesona oleh
pemandangan seindah itu. Kebetulan sekali, sya lihat adik tuan
turun ke kali, tubuhnya bercidera dengan langit merah di
belakang. Pada waktu itu ada sesuatu yang hendak lepas dari
jiwa saya. Seolah-olah tubuh adik tuan datang kepada saya.,
timbul dari fajar yang sedang menyingsing itu, Citra! Memang,
itulah nama lagu yang sudah saya karang. Citra, wajah fajar
sedang menyingsing mengenyahkan gelap.... Aneh, pada waktu
itu teringat saya kepada Indonesia, Tanah Air Kita....
137. SUTOPO : Aneh juga, kalau begitu…….. tetapi boleh saya melihatnya sebentar,
tuan?
138. KORNEL : (memberikan sebuah rol kertas) Akan saya nyanyikan sedikit kepada
tuan. (ia memulai menyanyi kecil, Sutopo membaca)
139. SUTOPO : Ada sesuatu dalam lagu ini yang membuka isi hati saya. Alangkah
girangnya saya, jika tuan sudi meninggalkan lagu ini buat saya. Akan
memberi tenaga gaib rasanya.
140. KORNEL : memang tadinya akan saya berikan kepada tuan, istimewa kepada tuan!
144. SUTOPO : (sambil memberikannya kepada Kornel) Terimalah ini, tuan, tanda
penghargaan kami di sini.
146. SUTOPO : (memandang Citra) Dia telah membukakan sesuatu dalam hatiku.
147. CITRA : (melihat rol kertas di tangan Sutopo) Apa itu, mas?
154. SUTOPO : Ya, Citra. Herankah engkau, jika seorang seniman mengarang lagu ini
sesudah memandang engkau? Aku buta selama ini, betul juga kata ibu tadi
156. SUTTOPO : Tidak melihat Citra! Tidak melihat keindahan di kelilingku, aku tidak
sempat mendengarkan apa yang berkata-kata dalam hatiku selama ini.
160. SUTOPO : (mengelak) Aku menemani ibu sebentar, melihat pembikinan kertas itu.
Nanti kebanyakan jerami lagi! (ia keluar). (Sejurus Citra termenung agak
bingung tampaknya, kemudian masuk seorang pekerja membawa contoh
tali sisal).
164. CITRA : Mengapa tali sebesar ini disuruh pintal oleh anak kecil? Lihatlah, begitu
rapuh. Suruh saja mereka memintal yang dua belit.
165. PEKERJA : Baik nona! (Ia mau keluar, tetapi di pintu tiba-tiba bertubruk dengan
Harsono yang mau masuk).
166. HARSONO : (marah) Apa kau tidak bisa lihat, hah? Matamu di mana, ditaruh dalam
saku?
168. HARSONO : (makin marah dan memegang baju pekerja itu) Apa kau buta?
169. CITRA : (yang selama ini diam saja melihatnya) Mas Harsono, lepaskan orang itu
dia baru saja aku marahi, sudah cukup!
171. CITRA : Biarkan orang itu pergi kataku, bukankah ia sudah minta maaf? (kepada
pekerja) Pak, bawa tali keluar! (pekerja keluar).
172. HARSONO : (marah) Apa maksudmu membeli kuli itu dan menyalahkan aku?
174. HARSONO : Orang seperti itu mesti diajar, supaya mnggunakan maatanya. Lihat
bajuku kotor kena tali itu.
175. CITRA : (duduk kembali) Ah baju Mas itu bisa dicuci lagi kapan saja!
176. HARSONO : (memandang Citra dengan tajam) Kau rupanya betul-betul sudah jadi
nyonya besar, di sini, bukan?
178.HARSONO : Kau membela bangsamu! Rakyat jelata, dari mana kau datang, kau anak
dapat di tengah jalan!
179. CITRA : (marah) Mas Harsono! Jangan hendak menghina orang saja. Meskipun
pekerja itu dan aku dari rakyat jelata, tetapi itu belum berarti kami kurang
180. HARSONO : (mula-mula marah tampaknya, kemudian mukanya tambah lama tambah
kendur, akhirnya ia tertawa keras) Citra, Citra! Mengapa aku buta selama
ini, kau bukanlah mataku sekarang. Baru aku insaf, kau cantik-molek,
Citraku! Ya, benar katamu, aku mesti diobati, di sini (ia menunjuk
dadanya), kurang sehat! Dan engkau tahu, siapa yang akan jadi dokternya?
Engkau Citra, engkau! (sambil tertawa ia keluar, di pintu hampir
bertumbuk dengan seorang pekerja yang hendak masuk. Ia terus tertawa,
lalu menepuk bahu pekerja itu) Kau lihat Citra! Aku tidak marah lagi
sekarang, sudah sehat, di sini! (ia menunjuk dadanya dan mengerling, lalu
keluar)
181.PEKERJA : (heran, lalu mendapatkan Citra) Nona, kalau boleh saya dapat obat buat
anak saya yang sakit!
182.CITRA : (seperti masih bermimpi, masih memandang ke pintu) Sakit? Tidak pak,
dia sudah sehat sekarang! Ya, dia sudah sehat!
183. PEKERJA : (heran) Masih sakit, nona! Tentu saya yang lebih tahu, saya bapaknya.
Anak saya demam malaria!
186. CITRA : (seolah-olah terbangun, kemudian tertawa) Ah, anak bapak ..... anak
bapak .... malaria? Tentu, tentu akan saya beri obat, (ia mengambil obat
dari laci mejanya, lalu memberikannya kepada pekerja). Ini pak, pil
totakina, makan tiga kali satu hari, dua tablet, (berbunyi pelit paberik) Nah,
waktu mengaso, terus saja pulang sekali!
187.PEKERJA : Terima kasih nona, terima kasih ..... (ia keluar, masih agak heran). Citra
terdiam sejurus, kemudian ia mulai tertawa sendirian. Masuk Tinah,
kawannya, seorang perempuan muda, genit tampaknya?
189. CITRA : Ah kau Tinah ..... duduklah ..... aku tertawa karena hatiku rasa terbuka
dan semua kegembiraan sekaligus hendak menyambut keluar
Festival Teater ke-XXIII Tingkat SMA/SMK/MA se-JawaTimur
190. TINAH : Baru sekali ini kau kulihat tertawa begitu, tetapi baik itu buat engkau ...
191. CITRA : (berhenti tertawa) Tetapi ada apa Tinah, kau seperti ada membawa kabar
hebat lagi.
192. TINAH : Tidak sia-sia aku digelarka orang “Tinah-radio”. Kalau aku datang tentu
membawa kabar istimewa. Apa kau sudah dengar ada orang baru datang
ke mari?
193. CITRA : (terduduk di kursi) Aku tidak perlu orang baru sekarang, aku sudah ada
orang lama yang jadi manusia baru.
194. TINAH : (belum mengerti) Apa pula kau ini? Tetapi ini dengar, terang kabar baru.
196. TINAH : Di sebelah rumahku sekarang tinggal seorang janda cantik, baru datang
dari Surabaya. Kau tahu, rumah yang bagus, yang baru itu? Nah, janda itu
tinggal di sana. Kata orang ia baru kematian suami ....
198. TINAH : Tetapi merugikan aku, Citra. Hingga sekarang mudah sedikit juga
pemuda-pemuda yang mau menoleh padaku, sekarang rupanya hilang
harapan sama sekali. Aku benci dia, justru tinggal di sebelah rumahku.
Tambah lagi, dia seorang perempuan kaya ....
199. CITRA : Syukurlah, kalau dia kaya, boleh tiap hari kau datang minta garam, cuka,
kecap, dan terasi, dengan tidak malu-malu.......
200. TINAH : (seperti teringat) Betuk juga itu. Tidak begitu malang rupanya. Tetapi ini,
kata orang dia sedang mencari suami.
203. CITRA : Suwanto yang nakal itu, mengapa kau dengar pula bicaranya? Suruh saja
dia melamar, kalau mau ....
207. CITRA : Ah, aku biasa saja. Aku masih saja anak akmpung, anak pungut yang
tidak diketahui asal-usulnya
212. TINAH : Kepada mas-mu Sutopo. Dia seperti mau makan orang saja.
213. CITRA : Ah, hatinya baik, kalau pandai bergaul dengan dia.
214. TINAH : (pura-pura mengerti) Hhmm begitu, tetapi aku tidak pandai bergaul
dengan dia. Aku lebih suka pada tuan Harsono.
216. TINAH : Dia tidak sombong dan mau berolok-olok, istimewa dengan gadis-gadis.
Tetapi biarlah aku serahkan saja pilihan itu kepadamu.
218. TINAH : (seperti tidak mendengar) Nah, sudahlah, engkau yang lebih tahu tentu,
aku datang ke rumahmu nanti. Lebih aman berbicara dari di kantor ini.
Akan kuceritakan lagi nanti tentang janda kaya itu. Sampai nanti, Citra! (ia
keluar). (Citra termenung sebentar, kemudian mau mengetik lagi, masuk
Suwanto seorang pemuda yang cakap dengan mata yang tajam bersinar-
sinar, ia selalu seperti orang tersenyum mengejek).
221. WANTO : (tertawa) Nona terlalu rajin, mungkin tidak tahu sekarang waktu mengaso
223. WANTO : Aku tahu, aku lihat dia tadi di kebun, jauh dari sini
225. WANTO : (tidak pusing duduk di sandaran kursi) Apa aku tidak boleh bertemu pada
nona?
226. CITRA : Tuan Sutopo akan marah nanti, jika dilihatnya tuan ada di sini.
227. WANTO : Ah, biar dia marah. Begini nona Citra. Aku heran, mengapa orang di sini
tidak memperhatikan kecantikan nona. Saya sendiri, Suwanto, kesayangan
gadis-gadis desa takjub melihat nona. Tetapi aku lain memang, aku ada
mata istimewa. Karena itu aku tahu kau adalah yang paling cantik di desa
kita ini.
228. CITRA : (marah) Saya harap tuan Suwanto meninggalkan tempat ini
229. WANTO : (seperti heran) Ah mengapa? Saya tidak mengganggu bukan? Saya Cuma
ingin bercakap-cakap dengan nona, apa salahnya?
230. CITRA : Jika tuan Sutopo datang, tuan akan dipecat nanti
231.WANTO : Nona susah, kalau saya dipecat? (mendekat) Tetapi buat nona seribu kali
saya mau dipecat, dibunuh sekalipun. Nona tahu, saya sudah menunggu-
nunggu kesempatan begini
233. WANTO : (keras) Jangan terlalu jual mahal nona. Ingatlah, kita sebenarnya sama
derajat, sama-sama keluar dari kaum yang dinamakan orang rakyat jelata.
Nona bukan termasuk keluarga Surio, nona tentu tahu. Nona Cuma
dipernis sedikit, nona Cuma….
235. WANTO : Jangan begitu nona! (ia mendekati Citra, lalu memegang tangannya)
237. WANTO : Jual mahal pula nona ini! (ia mau berkeras, kemudian muncul Harsono di
pintu)
238. HARSONO : (keras) Tidakkah tuan dengar nona itu tidak mau dipegang, lepaskan dia!
240. HARSONO : Begitu, tuan Cuma berolok-olok. Enak betul tampaknya tuan berolok-
olok, boleh saya ikut barangkali …. bangsat!
242. HARSONO : Menghina? Orang seperti kau ini, sudah terlalu najis untuk dihinakan lagi
244. HARSONO : Aku ingin benar-benar berolok-olok dengan kau sebentar (ia mendekati
Wanto, lalu memegang bajunya) Begini! (ia menampar wajah Wanto yang
tidak berani melawan rupanya) Sekarang kau kecut. (ia menyeret Wanto ke
pintu dan melemparkannya ke luar) Dan jika kau berani masuk lagi ke
mari, kepalamu aku potong!
245. HARSONO : (kepada Citra sambal tertawa) Bukankah aku sudah sehat sekarang?
246. CITRA : Aku berterima kasih, mas sudah mau menolong anak pungutan yang tak
dikenal asal-usulnya ini dan yang belum tahu arah tujuannya
249. HARSONO : Sejak hari ini kau di bawah lindunganku. Citra bunga indah dari desa!
251. HARSONO : Aku ingin sekali jadi pembela Citra. Ya, serahkan pembelaanmu padaku!
(ia tertawa keras, Citra ikut juga tersenyum)
BAGIAN II
PANGGUNG : Di beranda tengah rumah Ny. Suriowinoto. Di sudut kiri belakang ada
sebuah piano. Di tengah-tengah belakang ada pintu ke beranda depan, di
sebelah-menyebelah pintu ada jendela, memperlihatkan pemandangan ke
paberik dengan cerobong asapnya.
WAKTU : beberapa bulan sesudah kejadian di babak I, waktu sore, Sutopo sedang
asyik main piano, melagukan “Citra” sambal bernyanyi. Kemudian keluar
Ny. Surio.
252. NY. SURIO : Sejak beberapa bulan ini, itu saja lagu yang kau mainkan, Topo.
253. SUTOPO : Aku kira lagu ini adalah satu-satunya lagu yang dapat menarik hatiku,
dari buah tangan pengarang lagu Indonesia
255. SUTOPO : Tidakkah ibu dengar dalamnya suatu jeritan kasih-sayang, tetapi pula
mengandung kekuatan batin yang tak terduga?
256. NY. SURIO : Ya, dan aku tahu, kau selalu menunggu suatu saat untuk menyanyikan
lagu itu?
258. NY. SURIO : Ya, jika Harsono tidak ada di rumah dan jika Citra tidak ada di rumah!
259. SUTOPO : Itu karena aku takut ditertawakan, suaraku sanggup mengusir orang
puntang-panting lari. Karena disangkanya tentu ada bom meledak atau
bambu pecah!
261. SUTOPO : Citra! Sebuah nama yang bagus sekali untuk sebuah lagu. Bu, aku masih
saja belum tahu, mengapa dia diberi nama serupa itu, bu?
264. NY. SURIO : Ya, nama itu sudah lekat saja padanya. Tetapi aku kira, waktu Pak Gondo
menemui anak kecil itu di tepi jalan, yang pertama-tama dilihatnya
hanyalah suatu bentuk yang tidak nyata saja, seperti bayangan anak kecil,
seperti hendak bersatu saja dengan bumi!
265. SUTOPO : Dan kita masih saja belum tahu, siapa orang tuanya. bukan bu? Tetapi
heran, kata-kata lagu ini seolah-olah dikarangkan untuk satu Citra saja…..
Tetapi pula untuk semuanya, untuk segala yang dikasihi dalam hati yang
rindu-dendam
266. NY. SURIO : Besar juga harga pemberian tuan Kornel buat engkau, kalau begitu.
Masih ada kau dapat kabar dari dia.
267. SUTOPO : Ia sering berkirim surat kepada saya dan anehnya dalam setiap suratnya
selalu ada kalimat memperingatkan aku
274. SUTOPO : Apa lagi yang mesti dikerjakan sekarang. Engkau hendak mengatasi aku
dalam kerajinan rupanya. Lihatlah, Pemimpin Umum sudah beristirahat di
rumah enak-enak, tetapi pembantunya masih berjuang saja….
275. CITRA : Pada waktu yang akhir ini banyak pekerja yang sakit, mas. Supaya jangan
mengganggu kerja, aku suruh datang saja sore-sore.
276. NY. SURIO : Tetapi engkau sendiri tampaknya tidak begitu sehat, jangan diri terlalu
dipaksa.
278. SUTOPO : Mengapa kau begitu kaget? Kalau tidak suka sakit, tidak ada orang yang
menyuruhmu (ia tertawa dipaksa). Nanti sangka ibu, aku lagi yang
menyuruh kau bekerja berat
280. NY. SURIO : Kalau begitu, syukurlah! Tetapi aku kira, kau pergi berjalan-jalan tadi
dengan Harsono
281. CITRA : Sudah seminggu tidak bertemu dengan mas Harsono, bu. Kalau saya di
rumah, dia tidak ada, bu.
282. NY. SURIO : Anak itu sekarang menghilang-hilang saja, seperti ada yang
disembunyikan kepada kita.
284. SUTOPO : (heran memandang kepada Citra, kemudian) Sudah berapa kali aku
tanyakan bu, supaya bekerja saja dengan aku di paberik. Tetapi katanya
lebih enak nganggur, kalau toh ada orang yang akan memberi makan
Kukatakan kepadanya, sekarang jangan ada hendaknya tenaga yang
nganggur, karena semuanya diperlukan untuk pembangunan Tanah Air.
286. SUTOPO : Dia tertawa, serahkanlah itu kepada orang bodoh-bodoh, katanya!
287. NY. SURIO : Masih saja dai barangkali menunggu. Sekolah Hakim Tinggi dibuka.
289. SUTOPO : Berdagang? Dari mana pula dia dapat kepandaian itu!
290. NY. SURIO : Boleh jadi aku yang salah. Harsono terlampau dimanjakan dulu. Kalau di
Jakarta Cuma mau bergaul dengan orang yang suka hilir-mudik, pelesir
dan berfoya-foya saja.
292. SUTOPO : (memandang Citra, tersenyum) Ya, aku sudah tahu, kau dalam beberapa
bulan ini mencoba-coba memperbaiki kelakuannya, dik. Tetapi baiklah
awas-awas, jangan-jangan nanti kau yang diperbaikinya.
294. NY. SURIO : (Tersenyum) Sutopo ini pandai berolok-olok Harsono memang agak
ceroboh, tetapi ia seorang yang dapat dipercayai.
295. SUTOPO : (Berdiri, pergi ke luar) Dan dik Citra saking asyiknya kan beberapa kali
sampai tak masuk kantor? (Berolok-olok) Awas ya, kalau kerjamu kau
abaikan, kau dipecat!
297. SUTOPO : Aku hendak mengambil hawa sejuk sebentar, Bu. Kau ikut Citra? Ada
yang hendak kuceritakan!
298. CITRA : (Agak ragu) Sebenarnya aku menunggu mas Harsono, tetapi…
301. NY. SURIO : (Cepat memotong) Aku ikut dengan engkau, Topo!
302. CITRA : Kemana selama ini, Mas? Tidak pernah bertemu lagi di rumah.
303. HARSONO : (Agak kasar) Meski kau tau kemana aku pergi? (Kemudian melihat Citra
agak kaget, lunak) Ah dik, aku agak kesal-kesal saja hari-hari belakangan
ini.
305. HARSONO : (Kesal) Pekak telingaku mendengar mesin pabrik itu. Dari pagi sampai
malam, sampai pagi lagi mendengung-dengung dengan tidak ada henti-
hentinya…mengejar aku sampai dalam tidur…
306. CITRA : (Kasih) Aku kira, dia memanggil mas untu kerja, bersama-sama
berusaha…
308. CITRA : (Terus) Dan nanti kalau sudah biasa tentu tidak akan mengganggu lagi,
malahan tidak senang, kalau tidak terdengar dengung itu.
310. CITRA : (Terus) Alangkah girangnya aku, jika mas ikut bekerja di sini bersama
sama dengan kami. Kata mas Topo, dalam perusahaan kapas terletak
zaman datang yang gemilang!
311. HARSONO : (Tertawa) Memang, dia suka mendirikan teori yang muluk-muluk atas
otaknya yang kecil itu. Orang kampung bisa dibodoho, dioboroli, aku
tidak!
315. HARSONO : (Pasti) Aku mau lepas dari cerobong yang menonjol itu seperti hendak
mengadang aku saja… aku mau lepas dari asap dari dengungan mesin
pabrik yang seperti hantu mengejar aku… Aku mau lepas, lepas…
318. CITRA : (Kaget) Mas! (Kemudian kelihatan ia menahan dirinya, lalu terduduk di
kursi, sebentar kemudian masuk Tinah)
319. TINAH : Citra! (Terus gembira) Aku kira kau akan datang ke rumah kami tadi!
321. TINAH : Sudah kusangka dia tidak akan menyampaikannya kepadamu. Mas
Wanto tidak bilang apa-apa di pabrik tadi, bukan?
323. TINAH : Aku suruh dia datang tadi padamu untuk minta maaf.
325. TINAH : Ya, aku sudah tau dia pernah mengganggu engkau dulu, diceritakannya
kepadamu, dia sudah menyesal sekarang. Jadi, aku paksa dia minta maaf
padamu! Dan sambil lalu mengundang kau sekali.
327. TINAH : Aku sudah bertukar cincin dengan dia. Tadi ada selamatan kecil di
rumah.
328. CITRA : (Heran) Tetapi mengapa dengan Wanto, Tinah? Tidakkah ada laki-laki
yang lain?
329. TINAH : Ya, aku mengerti kau akan menyalahkan aku. Tetapi kau tidak tau,
sebenarnya mas Wanto itu baik hati, Cuma….
330. CITRA : Ya, ya, kalau kita perempuan sedang berkasih, semua laki-laki jadi baik
hati. Kalau begitu terimalah selamat dari aku. (Mereka bersalaman)
331. TINAH : Jadi dia tidak datang padamu tadi, bangsat itu! Nanti kuajar dia berani
membohongi aku!
335. TINAH : Aku girang, jika engkau juga beruntung. Siapa yang akan beruntung
mendapat engkau, Citra?
337. TINAH : Biarlah aku akan dengar juga nanti, yang muda atau yang tua. Tetapi ini
ada kabar baru. Tetapi kabar angin saja tentu. Jangan terlalu kau ambil
pusing!
339. TINAH : (Seperti membisikan rahasia besar) Banyak orang mengatakan mas-mu
sudah beberapa kali ke Surabaya sama-sama dengan janda kaya tetanggaku
itu.
343. TINAH : Aku sendiri tidak melihat, cuma mendengar bisikan orang saja! Tetapi
mengapa kau pucat, Citra?
346. TINAH : (Berdiri, terus menyerang) Ah baru datang, mas? Mengapa kau bohongi
aku. Kau tidak minta maaf kepada Citra, pesanku juga tidak kau
sampaikan kepada Citra!
347. WANTO : Sekarang ini saya mau minta maaf, nyonya besar!
349. WANTO : (Tersenyum) Kalau sudah kawin, tentu tidak lagi (kepada Citra) Tetapi
Festival Teater ke-XXIII Tingkat SMA/SMK/MA se-JawaTimur
saya mau minta maaf sekarang, nona Citra. Saya silap dulu itu…
350. CITRA : Biarlah jangan disebut, tuan! Silakan duduk!
351. WANTO : Terima kasih, nona. Tetapi saya mau mengambil Tinah kemari.
352. TINAH : (Curiga) Oh, begitu. Mengambil aku atau meminta maaf?
354. TINAH : (Kepada Citra) Tidak, sudah kukatakan, hatinya baik Citra. Nah, kami
pergi dulu. Mari mas!
356. TINAH : Kalau hendak mengunjungi Citra dengan aku, ya! (Ia tersenyum kepada
Citra, lalu keluar, sebentar kemudian masuk lagi Harsono)
357. HARSONO : (Melihat mereka pergi) Apa di buat bangsat itu kemari? Engkau belum
juga jera-jeranya, masih saja mau menerimanya.
358. CITRA : Ia datang menjemput Tinah. Tetapi kalau mas tidak suka ia datang
kemari, nanti akan kukatakan.
360. CITRA : Dan lagi ia sekarang sudah bertukar cincin dengan Tinah.
361. HARSONO : Hhhhmmm, tukar cincin. Baik buat orang seperti dia. Bagiku tukar cincin
dan segala yang remeh itu sudah kolot. Kalau mau kawin, kawin terus!
(Terdiam melihat Citra memandangnya dengan tenang).
367. HARSONO : (Mau masuk kamar, kemudian berpaling) Citra, ada yang hendak
kukatakan padamu!
369. HARSONO : Maukah kamu melupakan segala yang terjadi antara kita?
371. HARSONO : Ya, bahwa kita selama ini hanyalah bergaul sebagai orang bersaudara
saja? Biarkanlah semua itu tinggal kenang-kenangan saja. Kenang-
kenangan yang serba indah.
372. CITRA : Ya, bagiku waktu beberapa bulan ini, waktu yang paling indah selama
hidupku.
373. HARSONO : Nah, kan baik begitu. Biarlah itu menjadi kenang-kenangan karena
kenyataan akan merusak segala-galanya saja!
375. HARSONO : Seperti aku katakan tadi. Kita selama ini hanyalah bergaul sebagai
seorang saudara saja.
376. CITRA : Apakah benar mas kita hanya sebagai orang bersaudara saja? Tidakkah
ada perasaan atau pergaulan yang lebih dalam?
377. HARSONO : (Bimbang, kemudian kesal) Ya, ya, tetapi mulai saat ini, baiklah tidak
ada apa-apa lagi diantara kita. Aku bukan apa-apa bagimu, engkau bukan
apa-apa bagiku. Jadi tidak ada hubungan yang istimewa…
379. HARSONO : Tentu, tentu aku akan selalu baik kepadamu. Tetapi ingatlah, tidak ada
hubungan istimewa…
380. CITRA : Ya, aku rasa, aku mengerti, kemana mas hendak pergi. Apa maksud mas
sebenarnya?
HARSONO MENGELAK MASUK KAMAR, SEBENTAR KEMUDIAN MASUK SUTOPO
DAN NY. SURIO
381. SUTOPO : Harsono sudah kembali, Dik?
383. SUTOPO : Tolong ambilkan aku air teh sedikit, Dik. (Terhenti memandang Citra)
Tetapi ada apa ini, mengapa kau begitu pucat tampaknya!
Festival Teater ke-XXIII Tingkat SMA/SMK/MA se-JawaTimur
384. CITRA : Ah tidak ada apa-apa! Biarlah aku ambilkan sebentar (Ia keluar)
386. SUTOPO : Ada yang dipikirkan barang kali, hatinya memang tidak terlalu terbuka
kepada orang lain!
388. SUTOPO : Aku hampir tidak bisa percaya, Harsono dengan janda itu! Tidak masuk
pada akalku!
390. SUTOPO : Tetapi, jika Pak Gondo yang mengatakannya tentu benar, Bu. Pak Gondo
belum pernah berdusta pada kita, jangan lagi memfitnah orang.
391. NY. SURIO : Hal ini mesti kita tanyakan sendiri pada Harsono.
392. SUTOPO : Harsono sudah gila barangkali, kalau uang janda yang dicarinya. Kita toh
punya cukup harta, Bu.
394. SUTOPO : Sekarang pasti ia tidak teringat akan meneruskan sekolahnya lagi.
398. SUTOPO : Astaghfirullah! Sudah berapa kali aku bilang mesti hati-hati. Di dinding
penuh tertulis: Hati-Hati Bekerja!
399. PEKERJA : Tidak tau saya tuan, mungkin karena dia khilaf!
400. SUTOPO : Baiklah, aku datang sendiri. Ada-ada saja yang terjadi!
401. NY. SURIO : Aku ikut dengan engkau, Topo. Biarlah aku ambil peti perban sebentar
atau pergilah dulu, sebentar aku susul.
Festival Teater ke-XXIII Tingkat SMA/SMK/MA se-JawaTimur
SUTOPO DENGAN PEKERJA KELUAR, NY SURIO MENGAMBIL PERBAN KELUAR.
KEMUDIAN KEDALAM LAGI. LALU MENGIKUTI SUTOPO. SEBENTAR SESUDAH ITU
MASUK HARSONO.
404. HARSONO : Ini surat buat Sutopo dan Ibu! (Memberikan surat)
408. HARSONO : Belum tahu lagi kemana. Tetapi jauh dari sini. Aku sudah bosan tinggal
disini!
409. CITRA : (Seperti putus asa) Tetapi, mas tidak akan meninggal aku begitu saja,
bukan?
410. HARSONO : (Mencoba tenang) Dengar sebentar Citra. Sudah ku katakan padamu tadi,
mulai saat ini kau jangan ingat aku lagi.
411. CITRA : Tidak mungkin mas bisa berbuat begitu kepadaku, aku kan tidak bersalah
apa-apa.
412. HARSONO : (Kesal) Engkau tidak salah, engkau cuma tidak bisa menahan aku di sini.
Tidak ada orang yang bisa menahan aku di sini. (Ia masuk kamar,
kemudian keluar lagi dengan membawa koper) Aku mesti berangkat
sekarang, mengejar kereta api penghabisan.
413. CITRA : Mas ingatlah kasih yang kita tegakkan bersama-sama selama ini.
Bagaimana sakitnya segala itu bagiku, sekarang hendak mas koyak-koyak
saja seperti kita hanya barang biasa yang dapat dilempar begitu saja.
415. CITRA : Ya, sudah kurasa dari tadi mas rupanya tidak kasih lagi padaku. Biarlah
aku tidak meminta-minta lagi.
416. HARSONO : Tetapi dengarlah Citra. Aku berangkat ini sungguh perlu. Kalau aku
Festival Teater ke-XXIII Tingkat SMA/SMK/MA se-JawaTimur
terangkan kau tidak akan mengerti juga, (Kemudian lemah lembut) Kau
percaya padaku, bukan Citra?
418. HARSONO : Percayalah aku terpaksa berangkat. Tidak ada jalan lain lagi.
421. CITRA : Mas lari dari kewajiban terhadap keluarga, terhadap perusahaan, terhadap
aku, dan….
423. CITRA : Ah jika aku sebut benar, aku masih gengsi menahan mas pergi.
425. CITRA : (Mengelak) Dari kenyataan mungkin …. Tetapi pergilah mas, pergilah …
datang harinya mas akan datang lagi kesini … untuk menebus dosa.
426. HARSONO : (Kesal) Engkau hendak mencoba menakuti aku pula, kau anak pungut
yang tak mempunyai asal usul!
429. PAK GONDO : Lebih baik bagian-bagian yang berbahaya itu diberi pagar saja, tuan
muda.
430. NY. SURIO : Duduk dulu, Pak Gondo (Memanggil) Citra, nak Citra! (Masuk Citra
431. SUTOPO : (Memandang Citra agak curiga) Ada apa dik, mengapa merah matamu
tampaknya. Menangis?
433. CITRA : (Diam meletakan baki di atas meja, lalu memberikan surat kepda Sutopo)
435. CITRA : Dari mas Harsono…. Ditinggalkan buat mas Topo dan ibu.
437. CITRA : Ia sudah berangkat, bu, dengan kereta api penghabisan…. (Citra keluar)
438. SUTOPO : (Mengikuti Citra dengan matanya) Aku tidak tahu Citra kasih pada
Harsono….
440. SUTOPO : (Membaca kemudian perlahan-lahan) Betul juga rupanya apa yang
dikatakan Pak Gondo tadi, Bu!
444. SUTOPO : Dengarlah oleh ibu apa katanya (Membaca) “Saya tidak bisa menjadi
mandor di pabrik ibu, mandor besar sekalipun. Saya sudah takdir di
ciptakan untuk bersenang-senang, dengan tidak perlu mengeluarkan
keringat banyak-banyak. Orang mungkin akan menertawakan aku kawin
dengan janda kaya itu. Tetapi orang yang perlu tertawa besar itu aku
sebenarnya! Karena aku yang mengecap kesenangan hidup yang tak ada
bandingnya. Apa lagi yang dikehendaki mas Topo? Istri cantik, punya duit
pula!
446. SUTOPO : (tertawa membaca) Maksud kamu akan berdagang besar-besaran. Jangan
Festival Teater ke-XXIII Tingkat SMA/SMK/MA se-JawaTimur
lagi dicoba menyusul aku. Toh akan sia-sia.
447. NY. SURIO : (Putus asa tampaknya) Mengapa anakku, darah dagingku begitu
mengecewakan aku……
449. NY. SURIO : Teruskan sajalah membaca jangan didengarkan begitu! Segala alasannya
itu tentu ia hendak mencari-cari saja.
450. SUTOPO : (Terus membaca) Dan tentang Citra … ya, aku serahkan kepada mas
Topo saja untuk membereskannya. Bukankah mas Topo pada akhir-akhir
ini sering betul menyanyikan lagu yang menyakitkan kuping itu. Ya, aku
sudah tahu mas… ini kesempatanmu datang sekarang (Sutopo berhenti
membaca, pada wajahnya terukir bermacam-macam perasaan kesal-sedih-
kecewa).
452. SUTOPO : Aku tidak ingin membaca surat ini lebih lanjut lagi! Tak sanggup ‘
memikirkannya, bagaimana Harsono dapat berpikir demikian tentang
diriku…
453. NY. SURIO : (Pasti) Ya, barangkali lebih baik begitu. Biarlah ia pergi. Biarlah
dicobanya hidup secara dia. Jika hendak dicobanya juga. (Masuk Citra
dengan satu mangkuk teh lagi. Sutopo diam, mengikutinya dengan
katanya).
455. NY. SURIO : Kau kasih benar rupanya pada Harsono… aku mengerti engkau kaget
mendengarkan ia kawin itu…
456. CITRA : (Pucat) Mas Harsono kawin bu…? (Tangannya menggigil-gigil, hingga
air teh yang sedang ditaruhnya di meja tumpah).
460. CITRA : (Tiba-tiba menangis) Biar, biarlah ia kawin dengan siapa saja. Siapa saja
yang disukainya!
461. SUTOPO : (Mendekati Citra, lalu meletakan tangannya dibahu gadis itu) Engkau
kasih benar pada Harsono rupanya.
462. CITRA : (Melemparkan tangan Sutopo dari bahunya, menangis) Tidak, tidak aku
tidak kasih padanya tidak. Tidak (Berlari-lari, ia keluar) (Yang tinggal
seolah-olah heran berdiam).
463. SUTOPO : (Kemudian, perlahan-lahan) Sungguh aku tak menyangka. Citra akan
begitu kasih pada Harsono atau barangkali aku yang buta.
465. SUTOPO : (Perlahan-lahan) Mungkin bu (Mengubah sikap) Tetapi baiklah ibu bujuk
dia. Aku kenal Citra, jika dia sedih sangat ia sanggup menerjuni kali atau
yang seperti itu.. (Ny. Surio mengikuti Citra).
SEJURUS SUTOPO TERDIAM, KEMUDIAN PAK GONDO YANG SELAMA INI DIAM
SAJA MENDEKATINYA.
466. PAK GONDO : Besar benar kasih tuan muda pada nak Citra rupanya
468. PAK GONDO : Ya, aku mengerti.. seorang gadis seperti dia… hanya akan dikasihi
dengan sepenuh hati oleh orang seperti tuan muda
470. PAK GONDO : Aku rasa, tuan muda Harsono tidak kasih pada Citra seperti tuan muda
mengasihi dia.
471. SUTOPO : Mungkin Harsono terlampau banyak melihat gadis-gadis kota yang lebih
cantik lagi.
473. SUTOPO : Ya, buat Citra semua akan kukerjakan. Kalau dikatanya pada ku :
Festival Teater ke-XXIII Tingkat SMA/SMK/MA se-JawaTimur
Pergilah, susullah Harsono, bunuh dia! Saat ini juga aku akan berangkat
(Kedengaran tangis seorang gadis tertahan. Pak Gondo dan Sutopo
terdiam).
474. PAK GONDO : Aku merasa ada sesuatu yang lebih dalam terselip di sini… tidak dapat
aku menerangkan karena pikiran itu saja sudah menakutkan aku.
475. SUTOPO : (Heran) Apa pak? (Pada waktu itu Ny. Sutopo pucat tampaknya)
Mengapa bu?
476. NY. SURIO : (Perlahan-lahan) Citra anak yang malang itu… dia sedang dalam kedaaan
(Kemudian dengan tangis tertahan) Dia sedang mengandung anak
Harsono, topo.
477. SUTOPO : (Kaget) Apa bu? Anak harsono (Geram tampaknya) Jahannam mungkin
karena itu dia lari.
479. SUTOPO : Tidak tahu? Mengapa tidak dikatakan kepada dia… mengapa Citra diam
saja
480. NY. SURIO : Ia masih menyangka Harsono akan pulang… ia tidak tau Harsono sudah
kawin.
482. SUTOPO : (Pahit) Dan adikku tidak bisa menghargai kepercayaan itu, ia tidak bisa
menghargai kesuciannya lagi… karena jiwanya sudah bernoda… tetapi ini
tidak bisa dibiarkan begini saja, Bu? Ibu mengerti, bukan?
483. PAK GONDO : Saya sudah merasa ini akan terjadi… sukar bagi saya dulu untuk
melemparkan pikiran yang menakutkan itu tetapi…
484. SUTOPO : Ya, beginilah akhirnya (Seolah-olah mendapatkan pikiran) Tetapi kita
harus bertindak dengan lekas , Bu.
486. SUTOPO : (Tegas) Harsono mesti mengawini Citra! Tidak ada jalan lain lagi.
487. NY. SURIO : Tetapi ia sudah kawin nak… dan mungkin sudah berangkat pula
488. SUTOPO : Mestilah dia kawin satu kali lagi, mesti aku tidak akan membiarkan dia
489. NY. SURIO : (Sesudah diam sejurus) Kesedihan ini rasanya tidak tertahan, Pak Gondo,
Harsono, anak saya. Sutopo anak saya, kedua-duanya adalah darah daging
saya.
490. PAK GONDO : Saya mengerti, bu Surio
491. NY. SURIO : Saya merasa, saya pun bersalah dalam hal ini, dulu ia terlampau
dilepaskan pada diri sendiri, bisa berbuat sesuka hatinya saja, ia biasa
diladeni.
492. PAK GONDO : Tidak baik bu Surio menyalahkan diri sendiri. Tuan muda Harsono sudah
cukup besar untuk mengetahui yang jelek dan yang benar.
493. NY. SURIO : Selalu saya peringatkan padanya, supaya mengingat langkah. Tetapi saya
cuma ditertawakannya saja. Tidak ada yang sakti bagi dia lagian tidak ada
yang patut dihormati. Semuanya jadi barang biasa yang dipakai dan
dibuangnya tiap waktu.
494. PAK GONDO : Tampak juga pada saya, tuan muda Harsono seperti tidak senang tinggal
di sini, kelihatannya bosan dan kesal saja.
495. NY. SURIO : Pergaulan di kota itu tidak membaikkan buat dia dan lagi
hatinya memang lemah… baiklah saya pergi melihat Citra
dulu.. (Ia ke luar, sebentar. Tinggal Pak Gondo sendirian,
kemudian masuk lagi Sutopo, kelihatannya lesu saja)
499. SUTOPO : Akan kususul dia ke Surabaya (Tegas) Ya, akan kucari dia ke
seluruh jawa.. Akan kupasang adpertensi dimana-mana, biar
dunia tau kelakuannya yang keji itu.
500. PAK GONDO : Tetapi bagaimana pun dia adik tuan muda, bagaimana
menepuk air di dulan, akan terpecik juga ke muka sendiri.
502. PAK GONDO : Pendapat hmm sangat kejam tuan muda, tidaklah tau timbang-
menimbang
505. SUTOPO : (Terpikir sebentar, kemudian tegas) Cuma ada satu jalan, Pak.
Cuma ada satu jalan.
507. SUTOPO : Sudah tetap hati saya sekarang (Berseru) Bu, bu!
509. SUTOPO : (Tegas) Harsono sudah berangkat, Bu, tidak mungkin aku
dapat menyusul lagi dan kalau kabar ini pecah, kita semua akan
menanggungnya.
511. SUTOPO : Aku tidak dapat berbuat selain dari…. Mengawini Citra, Bu!
513. PAK GONDO : Tapi betulkah sudah tuan mua pikirkan benar-benar ?
514. NY SURIO : (heran) Tahukah kau besarnya kurban yang sedang kau bawa ini nak ?
515. SUTOPO : Pikiran tidak ikut campur sekarang bu. Inilah Cuma jalan satu-satunya.
Citra mesti kawin dengan aku !
517. NY SURIO : Menyesal ? Kawin dengan Citra ? (cepat ia berjalan ke piano dan seperti
PANGGUNG: Di taman, sebelah rumah keluarga Suriowinoto. Di belakang taman sebagian dari
rumah itu, dengan pintu jendela lebar, dengan gorden tule, hingga kelihatan juga bayang-bayang
orang dalam rumah itu.
Di taman yang dihias dengan tanaman bunga yang serba indah, ada satu stel sice kebun,
dilindungi oleh payung besar. Ke sebelah kiri jalan ke jalan raya, ke sebelah kanan ke belakang
rumah.
WAKTU: Sore menjelang maghrib, hampir setahun sesudah babak II, Ny. Surio duduk
menyulam, Sutopo sedang membaca koran, mukanya lebih muram dari biasa. Sebentar-sebentar
Ny. Surio memandang kepadanya.
518. NY SURIO : Tidakkah kau perhatikan Citra makin lama makin kurus juga tampaknya,
Topo ?
521. SUTOPO : (membaca lagi) Saya kira dia sedih karena kematian anaknya itu.
522. NY SURIO : (agak menyesal) Orang lain tentu akan salah sangka mendengar engkau
bicara seperti itu tentu anak Citra, seperti tidak terharu sedikit juga. Sebab,
orang sangka tentu engkau yang kematian anak, bukan?
524. NY. SURIO : Ya, maksudku bukan orang lain ! Orang tidak tahu keadaan yang
sebenarnya bukan, Bagiamana letak perkara yang sebenarnya. Atau
barangkali maksudmu, toh akan membongkar rahasia ini sesudah setahun
kau tanggung…………. Dengan lagakmu yangacuh tak acuh itu? Kalau
bukan, setidaknya orang akan menyangka engkau tidak berhati-berjantung!
Pandai-pandai malah main kemidi…..!
525. SUTOPO : (meletakkan barangnya dan memandang ibunya) Ibu rupanya kecil hati
kepada saya…..
526. NY SURIO : Bagaimana aku takkan kecil hati, karena aku pun merasa ikut bersalah
dalam hal ini…..
528. NY SURIO : Tetapi barangkali engkau girang juga dia meninggal sekarang !
532. NY SURIO : Tetapi kau selama itu, tidak pernah jadi suami Citra yang benar, bukan?
533. SUTOPO : Tidakkah cukup aku pandai main kemidi saja, semuanya ini bukankah
hanya buat orang lain saja, bukan?
534. NY SURIO : Engkau keras, Topo! (masuk Citra membawa teh dan kuwe)
535. NY SURIO : (memperhatikan muka Citra) Duduklah dengan kami, nak. Kau sudah
lama benar tidak sama-sama duduk dengan kami bercakap-cakap.
536. CITRA : Biarlah bu, masih banyak kerja yang harus diselesaikan di belakang.
538. CITRA : Biarlah nanti saja, bu. Masih banyak kerja di belakang lagi belum siap (ia
ke luar)
539. NY SURIO : (kepada Sutopo) Tidakkah kau kasihan melihat dia, Topo?
540. SUTOPO : (jengkel tampaknya) Jadi maksud ibu, aku juga yang salah ? Ataukah
mesti aku ikut menangis?
543. NY SURIO : (memandang anaknya dengan tajam) Mengapa mesti kau menekankan
perasaanmu yang sebenarnya, jika engkau betul Cuma manusia biasa.
Mengapa kau paksa benar hatimu, aku tahu kau kasih pada Citra. Di mata
dunia dan di mata agama kau sudah suaminya sekarang.
547. NY SURIO :Akan kuberatkan benarkah beban yang terasa dalam hatiku, Sutopo.
Bahwa aku pun tidak akan pernah bahagia, jika keadaan terus begini,
bahwa aku pun merasa bersalah dalam hal ini…
548. SUTOPO : Aku tidak akan pernah menyesal mengawini Citra, bu…
549. NY SURIO : Dan berapa tahun lagi, kiramu kemidi begini akan bisa dilanjutkan?
(kemudian lemah) Tidakkah kau mau, jika aku yang meminta Topo?
Untuk kebaikan dia, untuk kebaikan aku…..dan untuk kebaikan
perusahaan kita yang sudah kau abaikan karena mabuk pikiran sendiri?
550. SUTOPO : (menyangkal) Aku tidak pernah melalaian kewajibanku! Kalau mau lalai,
itu berarti aku lupa kepada pembangunan Tanah Air kita sekarang
551. NY SURIO : Kau tidak gembira bekerja, aku lihat. Kau sendiri selalu
mempropagandakan kegembiraan, pangkal kegiatan.
552. SUTOPO : (menyerah) Jadi apa yang harus kulakukan?
553. NY SURIO :Aku panggil dia ke mari, duduk-duduk dengan engkau. Engkau bawalah
dia bercakap-cakap….dan cobalah selesaikan segala yang kusut dalam
hatimu.
555. NY SURIO : (Memandang Sutopo sebentar, kemudian berdiri, lalu ke luar) Baik,
tunggulah sebentar. (sejurus Sutopo ditinggal sendirian terpekur, berjuang
tampaknya. Kemudian masuk lagi Ny.Surio dengan Citra)
556. NY SURIO : (kepada Citra) Sutopo ingin bercakap-cakap dengan engkau, nak.
Duduklah di sini, biar ibu menyelesaikan kerjamu di dalam.
564. CITRA : Kukira anakku sudah sampai ajalnya, mas. Memang sejak lahir sudah
lemah juga….. Semua adalah takdir Tuhan.
565. SUTOPO : Dan apa juga lagi yang engkau sedihkan, yang kau pikirkan?
568. CITRA : Satu tahun terlalu lama untuk mengingat orang yang tidak mengingat kita
lagi mas,
572. CITRA : (perlahan-lahan) Aku merasa sepi di dunia ini. Rasanya aku hidup
sebatang kara….
573. SUTOPO : Tidak baik kau bicara begitu! Bukankah Ibu ada dan aku ada?
574. CITRA : Mas tentu menyangka aku kurang berterima kasih bukan?
576. CITRA : Salahkah aku, mas, jika segala kepercayaan telah padam buat selama-
lamanya dalam hatiku?
579. SUTOPO :Jadi aku berlebih dalam hidupmu? Aku berlebihan daging yang harus
dipotong, karena…
580. CITRA : (cepat) Bukan itu maksudku mas. Bukan itu! (Masuk tukang pos
Festival Teater ke-XXIII Tingkat SMA/SMK/MA se-JawaTimur
membawa surat)
581. TUKANG POS : Selamat sore tuan Sutopo, ini ada surat..
582. SUTOPO : (menerima) Terima kasih pak Samun. Ada yang lain lagi ?
583. TUKANG POS : Itu saja tuan! Tabe tuan Sutopo (ia ke luar)
584. SUTOPO : (membaca kartu pos yang di tangannya) Barangkali ini kabar gembira
buat engkau Citra!
587. CITRA : Dari mana pula aku akan mendapat kabar gembira sekarang, mas?
588. SUTOPO : Kartu pos ini dari Harsono (memandang Citra dengan tajam) Masih
teringat ia rupanya kepada kita
589. CITRA : Aku tidak ingin mendengarnya. Simpanlah berita itu buat mas sendiri
dan ibu.
590. SUTOPO : Tetapi ini penting buat engkau…Isteri Harsono sudah meninggal dunia.
597. SUTOPO : Engkau tentu mengerti keadaan ini, tidak mungkin akan dapat kita
lanjutkan hingga akhir zaman bukan?
599. SUTOPO : (seperti tidak mendengar) Kalau kau mau, akan kupaksa dia kemari.
Akan kucari dia sampai dapat!
601. SUTOPO : Ya akan kuseret dia ke mari, jika dia tidak mau. Akan kusuruh dia
menebus dosanya…
603. SUTOPO :Tidakkah patut sangkamu, pada suatu kali dia mesti memperbaiki apa
yang sudah dirusakkannya di sini?
604. CITRA : Jangan mas, jangan! Tidak akan tertahan olehku.
605. SUTOPO : (seperti tercengkram oleh pikirannya sendiri)Mengapa tidak? (ia berdiri)
Sudah datang waktunya segala ini tiba pada akhirnya! Biarlah aku katakan
dulu kepada ibu.
606. CITRA : Jangan mas, jangan disiksa aku begitu. Tidakkah sudah cukup aku
menanggung karena dosaku? (Sutopo seperti tidak mendengar, ia terus ke
luar. Citra payah tampaknya menahan hati, kemudian masuk Tinah)
607. TINAH : (gembira) Citra! Untung aku bisa bertemu dengan engkau. Aku sudah
kangen betul. Engkau tidak sering keluar rumah sekarang.
609. TINAH : Ada kudengar engkau kematian anak, aku ikut bersedih hati. Tapi kau
masih muda Citra. Dan masih banyak tahun lagi untuk mengecap bahagia
beranak. Mana suamimu?
613. TINAH : Dan nyonya sendiri saja di sini? Tidak ditemani, kasiha! Dia tentu asyik
dengan kerjanya. Aku masih heran Citra, dulu itu tiba-tiba kawin dengan
mas Topo seluruh kampung heran karena orang sudah menduga Harsono
yang akan beruntung.
615. TINAH : Tentu, tentu aku akan mengerti. Janda kaya itu, bukan ? Aku sebenarnya
sudah menyangka dari bermula, dia akan memikat hati anak-anak muda di
sini…. Dengan uangnya. Tetapi kau sekarang tentu bahagia juga, bukan?
Festival Teater ke-XXIII Tingkat SMA/SMK/MA se-JawaTimur
616. CITRA : (mengelak) Ah ya, tentu……
618. CITRA : Ah Tinah, aku masih saja anak pungut Ibu Surio. Masih orang yang tidak
berasal-usul, anak dapat di jalan
619. TINAH : Citra jangan kau bicara begitu. Aku akan gembira, jika dapat jadi nyonya
tuan paberik seperti engkau!
620. CITRA : (mengelak) Dan kapan kau akan jadi nyonya, Tinah ?
621. TINAH : Kau Tahu, mas Wanto berjanji-janji saja, sudah setahun lamanya. Aku
pun sudah mulai bosan menunggu-nunggu ini. Katanya mau naik gaji
dulu. Tetapi dia malas, jadi suamimu tidak terpikir untuk memberinya gaji
yang lebih tinggi.
622. CITRA : (mencoba girang) Nanti aku bicarakan dengan Mas Topo.
623. TINAH : (girang) Betul itu, Citra? Engkau betul-betul sahabatku. (masuk Wanto)
Ah ini dia. Kau dengar, mas? Citra berjanji akan membicarakan hal
kenaikan gajimu dengan tuan Sutopo.
626. WANTO : (mengejek) Ah, aku gembira tentu, siapa mengatakan tidak?
627.
628. TINAH : Kukira saja begitu… karena sekarang kau tentu terpaksa mengawini ‘
aku… karena sudah berjanji…
631. WANTO : (hormat) Aku datang kemari ini nona -maaf Nyonya Sutopo- karena ini
antara kami berdua saja.
633. WANTO : Baiklah kalau begitu. Nah sekarang saya minta, sudi apalah kiranya
Nona menjadi isteri saya yang saya cintai dan mencintai saya.
Festival Teater ke-XXIII Tingkat SMA/SMK/MA se-JawaTimur
634. TINAH : (ternganga) Mas? Kau mempermain-mainkan aku?
635. WANTO : Aku sekarang sudah jadi kepala pengawas pabrik tenun “Jawa Timur”.
Gaji naik sepertiga, puas?
636. TINAH : Ah, tidak kusangka… pada akhirnya kau menepati janji juga!
639. CITRA : Buat kedua kalinya, aku memberi selamat kamu berdua.
641. WANTO : (menetang Tinah agak curiga, kemudian) Nah, sekarang aku ada kabar
lagi!
643. WANTO : (tertawa) Sudah kusangka kau masih juga belum percaya rupanya. Tetapi
tidak apa, tunggulah sampai aku buktikan… Tetapi ini kabar tentang Tuan
Harsono.
644. CITRA : (kaget) Tentang Harsono?
645. WANTO : Ya, saya dengar dia sudah kaya raya sekarang, semenjak kematian
isterinya…
648. TINAH : Mengapa baru sekarang kau ceritakan, dari siapa kau dengar?
651. WANTO : Tetapi ini, yang aku dengar tadi pagi, Tuan Harsono rupanya hidup
sangat royal sekarang, derma sana derma situ
655. WANTO : Kau tahu, semestinya aku yang mendahului tuan Harsono
656. TINAH : Ooo begitu? (ia mendekati Wanto dan mengacungkan tinju)
657. WANTO : tetapi untung juga aku lekas bertemu dengan engkau! Permisi Nyonya!
(dengan cepat ia keluar)
658. TINAH : (seperti payah menerima maksud Wanto) Pinter betul dia membikin
pusing kepalaku. (kepada Citra) Nah tinggal dulu Citra. Baik lekas aku
susul dia. Nanti dia bertukar pikiran lagi, (berseru) Mas Wanto, Mas
Wanto, tunggu dulu! Jangan lari! (cepat ia keluar). (sebentar Citra tinggal
sendiri, termenung, sangat pilu tampaknya. Dari dalam rumah kedengaran
piano dipukul dan sebentar kemudian kedengaran suara Sutopo melagukan
Citra. Kemudian kedengaran suara dari jauh, seperti berbisik-bisik cepat).
659. SUARA HARSONO : (tertawa) Sejak hari ini kau di bawah lindunganku, Citra, bunga
dari desa…
662. SUARA NY. SURIO : Aku mengerti, engkau kaget mendengar ia kawin
663. SUARA CITRA : Mas Harsono kawin, bu… (tangis) Tidak, tidak, aku tidak
kasih padanya…
666. SUARA SUTOPO : Ya, akan kuseret dia ke mari, jika dia tidak mau... akan kusuruh
dia menebus dosa..
.
667. SUARA CITRA : Jangan mas, jangan...
668. SUARA SUTOPO : Tidakkah patut sangkamu, pada suatu kali dia mesti memperbaiki
669. CITRA : Jangan mas, jangan. Tidak akan tertahan olehku... Tidakkah cukup
bencana yang aku bawa sekarang ini... (sambil tersedu-sedu ia lari ke luar
seperti orang kehilangan akal. Kedengaran suara Sutopo menghilang,
kemudian tampak Ny. Surio diiringi oleh Sutopo)
670. NY. SURIO : (memanggil) Citra! Nak Citra! Aneh, sebentar ini baru terdengar ia
bercakap-cakap di sini... kemana pula anak itu?
671. SUTOPO : (tegas kepada ibunya) Ibu tahu, bukan? Ini berarti suatu kepedihan yang
sangat pilu mencegah dalam hatiku. Tetapi tidak ada jalan lagi, bu.
Harsono mesti aku panggil ke mari.
672. NY. SURIO : Betulkah sudah tetap di hatimu, Topo? Tidakkah akan menyesal
kemudian?
673. SUTOPO : Tidak ada jalan lain, bu. Ini semata-mata buat kebaikan kita semua juga.
Sudah nyata Citra masih kasih pada Harsono. Ibu sangka, aku akan
sanggup melihat dia bersedih saja sepanjang hari? Aku sendiri jadi
bingung akhirnya. Kerjaku terlantar, sedang pada waktu seperti ini, aku
mestinya lebih-lebih memperlipatgandakan hasil usaha.
674. NY. SURIO : (memandang anaknya dengan tajam) Dan engkau sendiri, Topo
bagaimana?
675. SUTOPO : Ah, aku sudah biasa sendirian. Dan lagi aku ada kerja yang meminta
perhatianku seluruhnya, dan aku ada... Ibu! Harsono mestilah membawa
Citra jauh dari sini. Sudah sepatutnya ia memelihara Citra sekarang. Apa
lagi uang isterinya almarhum banyak.
676. NY. SURIO : Dan kalau Harsono tidak kasih pada Citra yang sudah menurut
keyakinanku?
677. SUTOPO : Aku tidak tanya kasih-tidaknya, aku cuma meminta supaya dia merawat
dan memelihara Citra.
678. NY. SURIO : Dan kau sangka Citra akan berbahagia begitu?
679. SUTOPO : Kalau itu pula mesti aku pikirkan... (keras) Dia mesti merasa puas begitu,
tidak ada jalan lain. Kita semua mesti membawa korban dalam hal ini...
682. SUTOPO : (setengah mendengar) Ah, barangkali seorang suami memukul istrinya...
683. NY. SURIO : (mendekati anaknya) Ah, tidak ada jalan lain, anakku. Kerjakanlah apa
yang sebaiknya menurut hatimu.
684. SUTOPO : (menahan tangis) Ibu tahu bagaimana pedih hatiku karena ini, bahwa ini
bukan kehendak hati kecilku... (masuk Pak Gondo, menuntun Citra yang
menahan tangisnya)
685. NY. SURIO : (kaget) Citra! Ada apa ini, Pak Gondo?
686. PAK GONDO : Ini anak bodoh ini, dikiranya yang paling gampang menyelesaikan
segala-galanya, ialah dengan jalan mencemplungkan diri ke dalam kali.
687. SUTOPO : (terkejut) Melompak kali? (mendapati Citra) Mengapa kau berbuat
begitu, dik?
689. NY. SURIO : (menuntun Citra) Mengapa, nak? Tidakkah senang hatimu di sini? Maka
mencari jalan sekeji itu.
690. CITRA : (menahan tangis) Karena saya senang di sini, bu... (memandang
Sutopo)... maka saya... oh Ibu! (Ia menangis di bahu Ny. Surio)
692. PAK GONDO : Barangkali tuan muda tahu, apa sebabnya ia berputus asa begitu?
695. SUTOPO : Aku katakan. Aku akan memaksa Harsono mengambil dia?
696. PAK GONDO : Dan tuan muda sangka, itu yang dikehendaki anak itu? Hidup lagi
bersama-sama Tuan Harsono?
699. SUTOPO : (mengelak) Ah, tak tahu aku, pak. Pusing kepalaku dibuatnya.
702. PAK GONDO : Dan sangka tuan uda, tuan Harsono mau menerima Citra begitu saja?
704. PAK GONDO : (menggeleng-gelengkan kepala) Besar juga perjuangan tuan muda, kalau
begitu, marilah kita masuk…
705. SUTOPO : Duduklah bapak! Saya hendak berpikir-pikir… (Pak Gondo ke luar.
Sutopo tinggal sendirian, termenung duduk di kursi. Hari mulai gelap
sebentar kemudian masuk perlahan-lahan seorang laik-laki. Bajunya tidak
begitu terjaga, rambutnya kusut dan mukanya pucat, pakai cambang yang
tak dicukur.)
708. LAKI-LAKI : Tidakkah mas ingat lagi, meskipun tidak segagah waktu mas melihat aku
dulu?
711. SUTOPO : Tetapi kudengar kau… mengapa jadi begini? (sedih dan gembira)
712. HARSONO : Kekayaan isteriku sudah kulemparkan semuanya mas. Aku hadiahkan
kepada fakir-miskin! Mas tentu sudah menerima surat aku dua bulan yang
lalu.
713. SUTOPO : Baru saja aku terima. Dua bulan yang lalu?
714. HARSONO : Ya, bagaimana pun juga, mas sudah tahu kematian isteri.
717. SUTOPO : (geram tampaknya) Apa? Memperbaiki? Kau kira kau dapat datang
begitu saja seperti tidak ada yang terjadi apa-apa? Mudah betul berbuat
dosa kalau begitu.
718. HARSONO : Aku datang untuk menebus dosaku terhadap anakku dan Citra!
719. SUTOPO : Kau berani benar rupanya menyebut nama isteriku?
721. SUTOPO : Tidakkah kau tahu. Citra sudah menjadi isteriku sekarang?
723. SUTOPO : Kenapa? Harsono.. Toh mesti ada orang yang mengakui anak Citra
sebagai anaknya, seorang laki-laki!
725. SUTOPO : Sekarang kau berani mengatakan begitu dan dia sudah meninggal.
726. HARSONO : (tertegun, seolah-olah tak tahan) Ya, mas berhak keras terhadapku… aku
berlebih di sini rupanya.
727. SUTOPO : Barangkali kau ingin menagih hakmu kembali! Atau boleh jadi juga
hendak menebus dosa seperti kau katakana tadi?
730. HARSONO : (bimbang) Apakah kau akan menambah-nambah dosaku yang hampir tak
tertanggung ini dengan menceraikan dua suami isteri?
731. SUTOPO : Dia tidak pernah menjadi isteriku yang sebenarnya. Ia tidak pernah… Ia
tidak pernah…
732. HARSONO : Jadi, mas kawini dia buat melindungi aku semata-mata?
734. HARSONO : Ya, aku tidak pantas utuk dibela juga… aku telah berdosa besar.. tak
mungkin rasanya untuk menebusnya di dunia ini lagi.
735. SUTOPO : Barangkali kau ingin mengambil dia kembali. Ingat dia belum pernah
menjadi isteriku yang sebenarnya.
737. SUTOPO : (keras) Baiklah, engkau berdua yang memutuskannya, aku panggil dia
sebentar… (mau pergi).
739. SUTOPO : (seperti tak mendengar, ia terus masuk ke dalam) (Sebentar Harsono
seperti orang berjuang, kemudian dengan langkah pasti, ia hendak
meninggalkan tempat itu, Citra masuk, Harsono menoleh)
742. HARSONO : (menarik tangannya kembali) Engkau tidak lagi seperti dulu, Citra!
743. CITRA : (singkat) Memang tidak! Aku sudah bersuami sekarang dan mempuyai
anak!
745. CITRA : Ya, sekarang ia tidak ada lagi… mas berani mengakuinya… biarlah
begitu, dia tidak akan bisa menahan malu kelak.
746. HARSONO : Citra, jangan kau bicara begitu! Aku datang hendak menebus dosaku,
katakanlah apa yang harus kuperbuat.
748. HARSONO : Itu buat aku, bagaimana buat engkau Citra? Kau rupanya tidak kasih lagi
padaku…
749. CITRA : Aku tidak pernah kasih pada mas, aku terpedaya oleh hatiku sendiri. Aku
750. HARSONO : Mas Topo sangat kasih padamu rupanya… masih juga ia menyanyikan
lagu itu! Engkau kasih dengan Sutopo, bukan?
753. CITRA : Itulah kutuk yang jatuh atas kepalaku, anak pungut ini! Tidakkah mas
dapat mengerti, ia terlalu suci buat aku, aku telah bernoda…
755. CITRA : Ya, dengan lagu itulah dia menyiksa aku, apabila hatinya rindu padaku.
Dia menyiksa aku dengan tidak diinsafinya. Padaku lesu itu seolah-olah
hantu kasihnya yang menuruti aku hinga dalam tidurku.
756. HARSONO : (terdiam, kemudian seolah-olah terbit padanya suatu pikiran, suatu
keinsafan) Tahukah kau Citra, akupun selama ini takut mendengar lagu
itu… Seolah-olah memanggil-manggil dan memaksa aku hendak
mengerjakan sesuatu. Ada ketikanya dulu, aku menyangka aku
berpenyakit syaraf, tetapi sebenarnya jiwaku yang sakit. Telah banyak
yang kualami selama setahun ini. Citra… telah tahu aku… selama ini aku
tidak pernah mengenal kewajiban.. maukah engkau memanggil dia Citra?
757. CITRA : (bimbang sebentar kemudian pasti) Baiklah! (ia pergi). (Sejurus Harsono
tinggal sendirian, maka mukanya mulai terlukis suatu sinar, kemudian
masuk Sutopo).
759. HARSONO : Dengar mas, sebentar lagi aku akan pergi dari sini. Pergi jauh, aku tidak
akan mengganggu lagi.
761. HARSONO : Mas tidak tahu kemana aku pergi rupanya! Biarlah aku ceritakan, aku
telah mencatatkan nama ke Barisan Jibaku!
764. SUTOPO : Kau pengecut! Kau hendak lari, karena tidak tahan berjuang di sini di
antara orang yang hidup!
765. HARSONO : Tidak mas, aku tidak lari…
766. SUTOPO : Kau tidak tahu lagi kemana aku harus pergi… Jalanmu sudah buntu. Ya,
Barisan Jibaku, itu sangkamu yang paling baik, bukan? Mungkin namamu
akan dicanumkan orang dalam Koran nanti. Sudah cukuplah kau hingga
kini menodai segala suci bagi orang lain. Kau yang tidak tahu menghargai
kesucian hendak…
767. HARSONO : Tunggu mas! Aku mengaku, dulu aku tak bisa menghargai kesucian…
dulu, bagiku tidak ada yang sakit.. semuanya barang biasa…
768. SUTOPO : Dan sekarang kau hendak mencemarkan barisan yang suci itu… dimana
korban dibawa dengan segala keikhlasan hati. Barisan Jibaku bukan
keranjang sampah, tempat orang seperti engkau dapat lari.. karena dapat
lolos dari undang-undang negeri… tetapi terpenjara oleh hati sendiri…
769. HARSONO : (tenang) Katamu keras mas! Ya, banyak orang yang menyangka aku
hendak lari dari hukumanku.. Aku tiada daya untuk menyangkal… (diam
sejurus, kemudian dikeluarkannya pundi-pundi) Sebenarnya aku datang
kemari ini hendak membawa apa-apa buat anakku, terimalah ini buat Citra.
770. SUTOPO : Sangkamu aku tidak bisa memberi makan isteriku? Kami tidak ingin
harta interim itu di sini!
771. HARSONO : Ini hasil jerih payahku sendiri. Sudah kukatakan bahwa yang ditinggalkan
isteriku sudah kuserahkan kepada yang lebih berhak.
773. HARSONO : Aku tidak akan pergi sebelum menuntaskan kewajibanku di sini!
777. HARSONO : Mas belum percaya juga padaku. Jadikanlah Citra isteri mas yang benar!
Percayalah kepadaku sekali ini… Pergilah mas ke dalam, ya masuk
Barisan Jibaku mas! Aku selama ini adalah orang yang berkelana di atas
dunia Tuhan ini dengan tidak ada keinsafan sama sekali, tidak ada
tanggung jawab, tidak terhadap Tanah Air. Sekarang terhadap Ibu dan
Citra mas lah aku minta menunaikan kewajibannya… aku meminta mas…
terhadap Tanah Air biarlah aku sendiri menunaikannya. Selamat tinggal
mas, kirim salam kepada isteri mas dan ibu. Biarlah beliau tidak bertemu
dengan aku, juga tidak gembira rasanya. (Ia mengulurkan tangannya tetapi
tidak diterima oleh Sutopo, Harsono menarik tangannya kembali).
778. HARSONO : Betul pula itu, tanganku bernoda. (Ia mau ke luar tetapi kedengaran suara
Citra melagukan lagu Citra).
781. SUTOPO : Ya, aku berdosa tidak percaya perkataanmu, (ia menjabat tangan
Harsono) Tidak pernah ia menyanyikan lagu itu, tidak semenjak engkau
pergi!
782. HARSONO : (girang) Sudah selesailah kewajibanku di sini… Hanya tinggal ini saja
lagi. (ia memberikan pundi-pundi itu kepada Sutopo)
784. HARSONO : Tidak, dia belum meninggal mas! Dialah yang telah mempertemukan kita
di sini, aku kembali kepada keluarga. Aku pergi sekarang!
786. HARSONO : Jangan, aku akan kembali lagi, apabila aku sudah jadi anaknya yang tahu
balas budi!
787. SUTOPO : (tegas) Ya, berjuanglah engkau! Buat Indonesia yang tak pernah kau
ingat! Tak pernah kau ingat
Festival Teater ke-XXIII Tingkat SMA/SMK/MA se-JawaTimur
788. HARSONO : Dan engkau juga buat tanah air yang sudah lama aku lupakan! Dengarlah
Citra! (ia lepaskan diri dari Sutopo).
790. HARSONO : Kau dengar Citra! Panggilan Tanah Air yang pernah kunodai, seperti juga
aku telah menodai Citra!
791. SUTOPO : Tetapi kita akan bersihkan kini bersama-sama mengikuti panggilannya.
794. HARSONO : Ya, dia yang tidak berasal-usul, pungutan dari bumi-pusaka, yang telah
kunodai, tetapi hendak kukikis noda itu sekarang dengan nyawaku…
795. SUTOPO : (terharu) Benar katamu, adikku. Dia yang tidak bernama, tidak berasal-
usul… tetapi bersemayam dalam jiwa kita kedua… Citra, lambang Tanah
Air… dalamnya berwujud kasih kita kedua… (kedua-duanya seolah-olah
terpesona oleh lagu itu, menengadah ke atas, berbahagia tampaknya,
bersyukur).