0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan15 halaman

LP Anemia KMB Ii

Laporan pendahuluan ini membahas tentang anemia yang meliputi pengertian, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan penunjang, dan penatalaksanaan anemia. Anemia adalah penurunan kadar hemoglobin yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti kehilangan darah, kekurangan zat besi, dan kerusakan sel darah merah. Manifestasi klinis anemia antara lain pucat, lemah, dan detak jantung cepat. Pemer
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan15 halaman

LP Anemia KMB Ii

Laporan pendahuluan ini membahas tentang anemia yang meliputi pengertian, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan penunjang, dan penatalaksanaan anemia. Anemia adalah penurunan kadar hemoglobin yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti kehilangan darah, kekurangan zat besi, dan kerusakan sel darah merah. Manifestasi klinis anemia antara lain pucat, lemah, dan detak jantung cepat. Pemer
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

ANEMIA
Disusun untuk memenuhi penugasan dalam Praktik Klinik Keperawatan II
Stase Keperawatan Medikal Bedah II

Disusun oleh
Kristin handayani
2019012420

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS AN NUUR PURWODADI
TAHUN AJARAN 2020/202
1. Pengertian
Anemia adalah salah satu penyakit yang sering diderita masyarakat, baik
anak-anak, remaja usia subur, ibu hamil ataupun orang tua. Penyebabnya sangat
beragam, dari yang karena perdarahan, kekurangan zat besi, asam folat, vitamin
B12, sampai kelainan hemolitik. Anemia dapat diketahui dengan pemeriksaan
fisik maupun dengan pemeriksaan laboratorium. Secara fisik penderita tampak
pucat, lemah, dan secara laboratorik didapatkan penurunan kadar Hemoglobin
(Hb) dalam darah dari harga normal.
2. Etiologi
Menurut ( Sugeng Jitowiyono, 2018 ), Pada dasarnya hanya tiga penyebab anemia
yang ada: kehilangan darah, peningkatan kerusakan sel darah merah (hemolisis),
dan penurunan produksi sel darah merah. Masing – masing penyebab ini
mencakup sejumlah kelainan yang membutuhkan terapi spesifik dan tepat.
Etiologi genetik meliputi:

a. Hemoglobinopati
b. Thalasemia
c. Kelainan enzim pada jalur glikolitik
d. Cacat sitoskeleton sel darah merah
e. Anemia persalinan kongenital
f. Penyakit Rh null
3. Patofisiologi
Dalam keadaan normal tubuh orang dewasa mengandung rata-rata 3 – 5 gr
besi, hampir dua pertiga besi terdapat dalam hemoglobin dilepas pada proses
penuaan serta kematian sel dan diangkat melalui transferin plasma ke sumsum
tulang untuk eritropoiesis. Pada peredaran zat besi berkurang, maka besi dari
diet tersebut diserap oleh lebih banyak. Besi yang dimakan diubah menjadi
besi keto dalam lambung dan duodenum, penyerapan besi terjadi pada
duodenum dan jejenum proksimal, kemudian besi diangkat oleh tranferin
plasma ke sumsum tulang, untuk sintesis hemoglobin atau ke tempat
penyimpanan di jaringan.
Anemia menurut ( Wijaya & Putri, 2013) mencerminkan adanya kegagalan
sum – sum atau kehilangan sel darah merah secara berlebihan atau kedua nya.
Kegagalan sum – sum dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi, pajanan toksik,
invasi tumor atau kebanyakan akibat penyebab yang tidak di ketahui. Sel
darah merah dapat hilang melalui perdarahan atau hemolisis (dekstruksi), hal
ini dapat terjadi akibat defek sel darah merah yang tidak sesuai dengan
ketahanan sel darah merah normal yang menyebabkan dekstruksi sel darah
merah. Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam sel fagostik
atau dalam sistem retikuloendotelial, terutama dalam hati dan limpa. Sebagai
efek samping proses ini, bilirubin yang terbentuk dalam fagosit akan
memasuki aliran darah. Setiap kenaikan dekstruksi sel darah merah
(hemolisis) segera direfleksikan dengan peningkatan bilirubin plasma.
Berdasarkan pendekatan fisiologis dibedakan menjadi 5 yaitu Anemia
Aplastik, Anemia pada penyakit ginjal, Anemia Defisiensi Besi, Anemia
Megaloblastik dan Anemia Hemolitika ( Ni Ketut & Briggita, 2019).
4. Manifestasi klinis
Tanda-tanda yang paling sering dikaitkan dengan anemia adalah pucat,
takikardi, sakit dada, dyspnea, nafas pendek, cepat lelah, pusing, kelemahan,
tinitus, penderita defisiensi yang berat mempunyai rambut rapuh dan halus,
kuku tipis rata mudah patah, atropi papila lidah mengakibatkan lidah tampak
pucat, licin, mengkilat, merah daging meradang dan sakit. Manifestasi klinis
anemia besi adalah pusing, cepat lelah, takikardi, sakit kepala, edema mata
kaki dan dispnea waktu bekerja. (Gasche C., 2011:126).
terdapat manifestasi anemia secara umum, yaitu :

1. Kulit Wajah terlihat Pucat


2. Kelopak Mata Pucat
3. Ujung Jari Pucat
4. Terlalu Sering dan mudah lelah
5. Denyut Jantung menjadi tidak teratur
6. Sering merasa Mual
7. Sakit kepala
8. Kekebalan tubuh menurun
9. Sesak napas

5. Pemeriksaan penunjang
Menurut Donges (2000) pemeriksaan diagnostik untuk diagnosa anemia
antara lain :
1. Jumlah darah lengkap (JDL) : Hemoglobin dan Hematokrit menurun
2. Jumlah eritrosit : menurun (AP), Menurun berat (apiastik) : MCV(volume
korpuskular renatal) menurun dan mikrositik dengan erit rosit hiopoktomik
(DB),peningkatan (AP) ponsi to pleura (aplastik)
3. Jumlah retikulosit : bervariasi misal menurun (AP) meningkat (respon
sum-sum tulang terkadang kehilangan darah (hemolisis)
4. Pewarnaan SDM : Mendeteksi perubahan warna dan bentuk (dapat
mengidentifikasi tipe khusus anemia)
5. LD : Peningkatan kerusakan SDM atau penyakit malignasi.

Pemeriksaan penunjang menurut soeparman (1999) adalah :


a. Anemia aplastik
Pemeriksaan laboratorium
a. Sel darah merah
b. Laju endapan darah
c. Faat hemostatik
d. Sum sum tulang
b. Anemia hemolitik
Pemeriksaan laboratorium
a. Peningkatan jumlah retikulasi
b. Peningkatan kerapuhan sel darah merah
c. Pemendekan masa hidup eritrosit
d. Peningkatan belirubin
c. Anemia megaloblastik
a. Anemia absorbsi vitamin B12
b. Endoscopi
6. Penatalaksanaan

1. Anemia pasca perdaraan : transfusi darah pilihan kedua :ekspander


atau plasma substitute. Pada keadaan darurat bisa diberikan infus IV apa
saja

2. Anemia defisiensi : makanan adekuat,diberikan SF 3x10mg/kg


BB/hari,Transfusi darah hanya diberikan pada Hb <5 gr/dl.

3. Anemia aplastik : prednison dan testosteron, Transfusi darah,


pengobatan infeksi sakunder, makanan dan istirahat.

Menurut Engram, penatalaksanaan pada pasien dengan anemia yaitu :

1. Memperbaiki penyebab dasar.

2. Suplemen nutrisi (vitamin B12, asam folat, besi)

3. Transfusi darah

7. Pathway

Kurang bahan Penghancuran Terhentinya


Perdarahan masif baku pembuat sel eritrosit yang pemabuatan sel darah
darah berlebihan oleh sum-sum tulang
belakanang

Anemia
aliran darah perfusi turun Hb menurun

hipoksia ,pucat oksimetri Hb


turun

Intoleransi risiko perfusi


aktivitas gastrointestinal tidak
efektif

B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Identitas
1. Identitas klien
Meliputi nama, umur (kebanyakan terjadi pada usia tua), jenis
kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal
dan MRS, nomor register, dan diagnosis medis
2. Identitas penanggung jawab

Meliputi nama,umur,alamat,pekerjaan,agama,hub. dgn klien

b. Riwayat Keperawatan
Berisikan mengenai keluhan utama, riwayat penyakit sekarang,
riwayat penyakit dahulu, riwayat kesehatan keluarga disertai dengan
genogram serta riwayat kesehatan lingkungan
c. Pengkajian pola kesehatan fungsional
Meliputi:
- Pola persepsi dan managemen kesehatan
- Pola nutrisi/ metabolic
- Pola eliminasi
- Pola aktivitas dan latihan (sebelum dan selama sakit)
- Pola istirahat dan tidur (sebelum dan selama sakit)
- Pola kognitif- perseptual (sebelum dan selama sakit)
- Pola persepsi konsep diri (sebelum dan selama sakit)
- Pola peran dan hubungan (sebelum dan selama sakit)
- Pola seksualitas reproduksi (sebelum dan selama sakit)
- Pola mekanisme koping (sebelum dan selama sakit)
- Pola nilai dan keyakinan (sebelum dan selama sakit)
d. Pemeriksaan fisik
1) Kesadaran dan tanda tanda vital meliputi: Tekanan darah, nadi,
pernafasan, suhu
2) Kepala meliputi: Bentuk, kulit dan rambut kepala
3) Muka meliputi: Mata, Hidung, Mulut, Gigi, Telinga
4) Leher
5) Dada
- Inspeksi : kesimetrisan bentuk, dan kembang kempih
dada.
- Palpasi : ada tidaknya nyeri tekan dan massa.
- Perkusi : mendengar bunyi hasil perkusi.
- Auskultasi : mengetahui suara nafas, cepat dan
dalam.
6) Abdomen
- Inspeksi : bentuk, ada tidaknya pembesaran.
- Auskultasi : mendengar bising usus.
- Perkusi : mendengar bunyi hasil perkusi.
- Palpasi : ada tidaknya nyeri tekan pasca
operasi.
7) Genetalian
8) Rektum
9) Ekstremitas
- Ekstermitas atas meliputi: Kekuatan otot anan kiri, ROM kanan
dan kiri, perubahan bentuk tulang, perabaan akral, pitting
edema.
- Ekstermitas bawah meliputi: Kekuatan otot anan kiri, ROM
kanan dan kiri, perubahan bentuk tulang, perabaan akral, pitting
edema.
10) Kuku dan kulit
Warna,kelembapan,suhu,tekstur,turgon,mobilitas,letak
anatomi,susunan,jenis,lesi,warna dasar kulit,sudut antara kuku dan
dasar kuku,kokoh dan tidaknya dasr kuku,sirkulasi dan pengisian
kapiler
- Untuk kasus syaraf ditambahkan data :
1. Pengkajian nervus kranialis :
2. Pengkajian GCS : M,E,V
3. Pengkajian Reflek :
-Fisiologi : pada patela,bisep,trisep
-patologi : babinski
e. Pemeriksaan penunjang
- Hasil Laboratorium
- Hasil CT scan
- Hasil rontgen dan pemeriksaan penunjang lainnya
f. Terapi medis
g. Analisa data
Masalah keperawatan yang mungkin muncul adalah:
- Nyeri Akut
- Risiko infeksi

2. Diagnosa Keperawatan
A. Itoleransi Aktivitas (D.0056)
Definisi : Ketidakcukupan energy melakukan aktivitas sehari-hari
1) Tanda mayor
Subjektif:
- Mengeluhkan lelah

Objektif

- Frekuensi Jantung Meningkat >20% dari kondisi istirahat


2) Tanda minor
Subyektif

1. Dispnea saat/setelah aktivitas


2. Merasa tidak nyaman setelah beraktivitas
3. Merasa lemah

Objektif

1. Tekanan darah berubah >20% dari kondisi istirahat


2. Gambaran EKG menunjukan aritmia saat/setelah aktivitas
3. Gambaran EKG menunjukan iskemia
4. Sianosis
B. Resiko Perfusi Gastrointestinal Tidak Efektif B.D Penurunan

Konsetrasi Hemoglobin

Definisi : Berisiko mengalami penurunan sirkulasi gastrointestinal

Faktor Resiko

1. Perdarahan gastrointetinal akut


2. Trauma abdomen
3. Sindroma kompartemen abdomen
4. Aneurisma aorta abdomen
5. Varises gastroesofagus
6. Penurunan kinerja vertikel kiri
7. Koagulopati (mis. anemia sel sabit, koagulopati intravaskuler
diseminata)
8. Penurunan konsentrasi hemoglobin
9. Keabnormalan masa protombin dan/atau masa tromboplastin
parsial
10. Disfungsi hati (mis. sirosis, hepatitis)
11. Disfungsi ginjal (mis. ginjal polikistik, stenosis arteri ginjal,
gagal ginjal)
12. Disfungsi gastrointestinal (mis. ulkus duodenum atau ulkus
lambung, kolitis iskemik, pankreatitis iskemik)
13. Hiperglikemia
14. Ketidakstabilan hemodinamik
15. Efek agen farmakologis
16. usia >60 tahun
17. Efek samping tindakan (cardiopulmunary bypass, anastesi,
pembedahan lambung)

3. Perencanaan Keperawatan (SLKI dan SIKI, 2018)

No Diagnosa Rencana/ Intervensi Keperawatan


Tujuan dan kriteria hasil Intervensi
Keperawatan
Keperawatan
1 Intoleransi Setelah dilakukan Manajemen Energi
Aktivitas
intervensi keperawatan (I.05178)
(D.0056)
selama 3x24 jam maka
Toleransi Aktivitas
Observasi
Membaik dengan
kriteria hasil :
- Identifk
-Frekuensi nadi
asi gangguan fungsi
Meningkat
tubuh yang
-Keluhan lelah menurun
mengakibatkan
-Dyspnea saat aktivitas
kelelahan
menurun
- Monitor
-Dyspnea setelah
kelelahan fisik dan
aktivitas menurun
emosional
- Monitor
pola dan jam tidur
- Monitor
lokasi dan
ketidaknyamanan
selama melakukan
aktivitas

Terapeutik

- Sediaka
n lingkungan
nyaman dan rendah
stimulus (mis.
cahaya, suara,
kunjungan)
- Lakuka
n rentang gerak pasif
dan/atau aktif
- Berikan
aktivitas distraksi
yang menyenangkan
- Fasilitas
duduk di sisi tempat
tidur, jika tidak dapat
berpindah atau
berjalan

Edukasi

- Anjurka
n tirah baring
- Anjurka
n melakukan
aktivitas secara
bertahap
- Anjurka
n menghubungi
perawat jika tanda
dan gejala kelelahan
tidak berkurang
- Ajarkan
strategi koping untuk
mengurangi
kelelahan

Kolaborasi

- Kolabor
asi dengan ahli gizi
tentang cara
meningkatkan
asupan makanan

2. risiko perfusi Setelah dilakukan Konseling nutrisi


gastrointestina intervensi keperawatan (I.02040)
l tidak efektif selama 3x24 jam maka
Observasi
(D.0013) Fungsi gastrointestinal
membaik dengan kriteria -Identifikasi kebiasaan
hasil makan dan perilaku
- Nafsu makan makan akan diubah
membaik -Monitor intake dan
- Dispnesia menurun output cairan, nilai
- Nyeri abdomen haemoglobin dan
menurun tekanan darah

Terapeutik

-Pertimbangkan factor-
faktor yang
mempengaruhi
pemenuhan
kebutuhan gizi

Edukasi

-Informasikan perlunya
modifikasi diet
Kolaborasi

-Rujuk pada ahli gizi

DAFTAR PUSTAKA

Almi, D.U. (2013). Hematemesis Melena Et Causa Gastritis Erosif Dengan Riwayat
Penggunaan Obat NSAID Pada Pasien Laki-Laki Lanjut Usia. Medula,
1(01), 72-78.

Brunner & Suddarth. (2015). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 12
volume 1. Jakarta : EGC

Dorland, W. A. Newman. (2011). Dorland’s Pocket Medical Dictionary (28th Ed.),


Mahode, Albertus Agung dkk. (2011) (Alih Bahasa), Jakarta: EGC

Jitowiyono, Sugeng. (2018). Asuhan Keperawatan pada Pasien Dengan Gangguan


Sistem Hematologi. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.

Kardiyudiani, Ni Ketut & Susanti, Brigita A.Y. 2019. Keperawatan Medikal Bedah I.
Yogyakarta : PT. Pustaka Baru

Syaifullah. 2010. Pengenalan Metode AHP (Analytical Hierarchy Process)

Wijaya, A.S dan Putri, Y.M. 2013. Keperawatan Medikal Bedah 2, Keperawatan
Dewasa Teori dan Contoh Askep. Yogyakarta : Nuha Medika

Williams, Lippincott & Wilkins. (2010). Nurshing know-how. Evaluating signs &
symptoms. Philadelphia/USA: Wolters Kluwer Health.

Anda mungkin juga menyukai