0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
122 tayangan5 halaman

Oksigenasi: Panduan Keperawatan

Diunggah oleh

Dika Nugraha
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
122 tayangan5 halaman

Oksigenasi: Panduan Keperawatan

Diunggah oleh

Dika Nugraha
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

WOC

(WEB OF CAUTION)
KEBUTUHAN OKSIGENASI

Untuk memenuhi salah satu tugas praktik individu keperawatan dasar

Disusun Oleh

Muhammad Amrulloh
NIM

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG
2024
Pengertian : Manifestasi klinis oksigenasi : Pemeriksaan Penunjang :
Oksigenasi adalah gas yang tidak berwarna dan tidak berbau yang Adanya penurunan tekanan inspirasi/ekspirasi menjadi tanda 1. Pemeriksaan Rotgen Thoraks
sangat dibutuhkan dalam proses metabolism sel. Sebagai hasilnya gangguan oksigenasi. Penurunan ventilasi permenit, penggunaan 2. CT Scan
terbentuknya karbondioksida, energi dan air (Mubarak, 2016) otot nafas tambahan untuk bernafas, pernafasan nafas flaring (nafas 3. Pemeriksaan Laboratorium
Oksigenasi merupasak salah satu komponen gas dan unsur vital cuping hidung), dispnea, ortopnea, penyimpangan dada, nafas 4. Analisis Gas Darah
dalam proses metabolism untuk mempertahankan kelangsungan pendek, posisi tubuh menunjukkan posisi 3 poin, nafas dengan bibir,
hidup seluruh sel – sel tubuh. Secara normal elemen ini diperoleh ekspirasi memanjang, peingkatan diameter anterior-posterior,
dengan cara menghirup O2 ruangan setiap kali bernapas frekuensi nafas kurang, penururnan kapasitas vital menjadi tanda
Penatalaksanaan :
(Maryunani, 2015). dan gejala adanya pola nafas yang tidak efektif sehingga menjadi
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif
gangguan oksigenasi
a. Pembersihan jalan nafas
Etiologi oksigenasi : Anatomi Fisiologi : b. Latihan batuk efektif
1. Faktor fisiologis Patofisiologi Oksigenasi : c. Suctioning
1. Hidung
a. Penurunan kapasitas Proses pertukaran gas dipengaruhi oleh ventilasi difusi dan transportasi d. Jalan nafas buatan
2. Faring
angkut O2 proses ventilasi (proses penghantaran jumlah oksigen yang masuk dan 2. Pola nafas tidak efektif
3. Laring
b. Penurunan konsentrasi keluar dari luar ke paru-paru) apabula pada proses ini terdapat obstruksi a. Atur posisi pasien
4. Trakea
O2 inspirasi maka dengan baik dan sumbatan tersebut akan direspon jalan napas b. Pemberian oksigenasi
5. Bronkus
c. Hipovolemik sebagai benda asing yang menimbulkan pengeluaran mucus. Proses difusi c. Teknik bernafas dan
6. Paru paru
d. Peningkatan laju (penyaluran oksigen dari alveoli ke jaringan) yang terganggu ajan relaksasi
metabolik menyebabkan ketidakefektifan pertukaran gas. Selain kerusakan pada 3. Gangguan pertukaran Gas
2. Faktor perilaku proses ventilasi, difusi maka kerusakan pada transportasi seperti a. Atur posisi pasien
a. Nutrisi Cara menghitung perubahan volume sekuncup, afterload, preload, dan kontraktilitas b. Pemberian oksigen
b. Olahraga kebutuhan Oksigen : miokard juga dapat memperngaruhi pertukaran gas (Brunner & Suddarth, c. suctioning
c. Ketergantungan zat 2015).
adiktif VTxBBxRR
d. Emosi 1000 Bersihan Jalan Gangguan penyapihan Gangguan
e. Gaya hidup
3. Faktor lingkungan Keterangan: OKSIGENASI Napas tidak efektif ventilator Aspirasi

a. Suhu VT : volume tidal


b. Ketinggian BB : berat badan Gangguan Pemenuhan Kebutuhan Oksigenasi Gangguan Pola napas tidak Gangguan
c. polusi RR : respirasi rate pertukaran Gas efektif Ventilasi Spontan

Ketidakmampuan Kelebihan atau kekurangan Ketidakmampuan beradaptasi Penurunan Cadangan Beresiko mengalami masuknya
Inspirasi dan atau
membersihkan secret atau oksigenasi dan atau eliminasi dengna pengurangan bantuan energi yang sekresi gastrointestinal, skresi
ekspirasi yang
obstruki jalan napas untuk karbondioksida pada ventilator mekanik yang dapat mengakibatkan individu orofaring, benda cair atau padat
tidak memberikan
mempertahankan jalan napas membrane alveolus-kapiler menghambat dan memperlama tidak mampu bernapas kedalam seluruh trakeobronkhial
ventilasi adekuat
teap paten proses penyapihan secara tidak adekuat akibat disfungsi mekanismes
protektif saluran napas
SDKI SDKI SDKI
Bersihan jalan napas tidak efektif (D.0001) Gangguan penyapihan ventilator (D.0002) Gangguan pertukaran Gas (D.0003)
Definisi : Bersihan jalan napas tidak efektif adalah Definisi : Gangguan penyapihan ventilator adalah ketidakmampuan Definisi : Gangguan pertukaran gas adalah
ketidakmampuan membersihkan sekret atau beradaptasi dengan pengurangan bantuan ventilator mekanik yang dapat kelebihan atau kekurangan oksigenasi
obstruksi jalan nafas untuk mempertahankan jalan menghambat dan memperlama proses penyapihan. dan/atau eliminasi karbondioksida pada
nafas tetap paten. SLKI membran alveolus-kapiler.
SLKI Penyapihan Ventilator (L.01002) SLKI
Bersihan jalan napas (L.01002) 1. Frekuensi napas membaik Pertukaran gas (L.01003)
1. Batuk efektif meningkat 2. Penggunaan otot bantu napas menurun 1. Dispnea menurun
2. Produksi sputum menurun 3. Napas megap-megap menurun 2. Bunyi napas tambahan menurun
3. Mengi menururn 4. Kesingkronan bantuan ventilator meningkat 3. Takikardia menurun
4. Wheezing menurun 5. 4. PCO2 membaik
5. Meconium (pada neonates) menururn SIKI 5. PO2 membaik
SIKI Penyapihan ventilasi mekanik (I.01021) 6. pH arteri membaik
Latihan batuk efektif (I.01006)) Observasi SIKI
Observasi 1. Periksa kemampuan untuk disapih (meliputi: hemodinamik stabil, kondisi Pemantauan Respirasi (I.01014)
1. Identifikasi kemampuan batuk optimal, bebas infeksi) Observasi
2. Monitor adanya retensi sputum 2. Monitor predictor kemampuan untuk mentolerir penyapihan (mis. 1. Monitor frekuensi, irama, kedalaman dan
3. Monitor tanda dan gejala infeksi saluran napas Tingkat kemampuan bernapas, kapasitas vital, Vd/Vt, MVV, kekuatan upaya napas
4. Monitor input dan output cairan (misal: jumlah inspirasi, FEV1, tekanan inspirasi negatif) 2. Monitor pola napas (seperti bradypnea,
dan karakteristik) 3. Monitor tanda-tanda kelelahan otot pernapasan (misal: kenaikan PaCO2 takipnea, hiperventilasi, kussmaul,
Terapeutik mendadak, napas cepat dan dangkal, Gerakan dinding abdomen Cheyne-stokes, biot, ataksik)
1. Atur posisi semi-fowler dan fowler paradoks), hipoksemia, dan hipoksia jaringan saat penyapihan) 3. Monitor kemampuan batuk efektif
2. Pasang perlak dan bengkok di pangkuan pasien 4. Monitor status cairan dan elektrolit 4. Monitor adanya produksi sputum
3. Buang sekret pada tempat sputum Terapeutik 5. Monitor adanya sumbatan jalan napas
Edukasi 1. Posisikan semi-fowler (30 – 45 derajat) 6. Palpasi kesimetrisan ekspansi paru
1. Jelaskan tujuan dan prosedur batuk efektif 2. Lakukan pengisapan jalan napas, jika perlu 7. Auskultasi bunyi napas
2. Anjurkan Tarik napas dalam melalui hidung 3. Berikan fisioterapi dada, jika perlu 8. Monitor saturasi oksigen
selama 4 detik, ditahan selama 2 detik, 4. Lakukan ujicoba penyapihan (30 – 120 menit dengan napas spontan yang 9. Monitor nilai analisa gas darah
kemudian keluarkan dari mulut dengan bibir dibantu ventilator) 10. Monitor hasil x-ray thoraks
mencucu (dibulatkan) selama 8 detik 5. Gunakan Teknik relaksasi, jika perlu Terapeutik
3. Anjurkan mengulangi Tarik napas dalam 6. Hindari pemberian sedasi farmakologis selama percobaan penyapihan 1. Atur interval pemantauan respirasi sesuai
hingga 3 kali 7. Berikan dukungan psikologis kondisi pasien
4. Anjutkan batuk dengan kuat langsung setelah Edukasi 2. Dokumentasikan hasil pemantauan
Tarik napas dalam yang ke 1. Ajarkan cara pengontrolan napas saat penyapihan Edukasi
Kolaborasi Kolaborasi 1. Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
1. Kolaborasi pemberian mukolitik atau 1. Kolaborasi pemberian obat yang meningkatkan kepatenan jalan napas dan 2. Informasikan hasil pemantauan, jika
ekspektoran, jika perlu pertukaran gas. perlu.
SDKI SDKI SDKI
Gangguan Ventilasi Spontan (D.0004) Pola napas tidak efektif (D.0005) Risiko Aspirasi (D.0006)
Definisi : Gangguan ventilasi spontan adalah Definisi : Pola napas tidak efektif adalah adalah inspirasi Definisi : Risiko aspirasi adalah adalah risiko mengalami
penurunan cadangan energi yang mengakibatkan dan/atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi masuknya sekresi gastrointestinal, sekresi orofaring, benda
pasien tidak mampu bernapas secara adekuat. adekuat. cair atau padat ke dalam saluran trakeobronkhial akibat
SLKI SLKI disfungsi mekanisme protektif saluran napas
Ventilasi Spontan (L.01007) Pola Napas (L.01004) SLKI
1. Dispnea menurun 1. Dispnea menurun Tingkat aspirasi menurun (L.01006)
2. Penggunaan otot bantu napas menurun 2. Penggunaan otot bantu napas menurun 1. Tingkat kesadaran meningkat
3. Volume tidak membaik 3. Pemanjangan fase ekspirasi menurun 2. Kemampuan menelan meningkat
4. PCO2 membaik 4. Frekuensi napas membaik 3. Dispnea menurun
5. PO2 membaik 5. Kedalaman napas membaik 4. Kelemahan otot menurun
6. SaO2 membaik SIKI 5. Akumulasi sekret menurun
SIKI Manajemen jalan napas (I.01011) SIKI
Dukungan Ventilasi (I.0100) Observasi Manajemen jalan napas (I.01011)
Observasi 1. Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas) Observasi
1. Identifikasi adanya kelelahan otot bantu napas 2. Monitor bunyi napas tambahan (misalnya: gurgling, 1. Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas)
2. Identifikasi efek perubahan posisi terhadap mengi, wheezing, ronchi kering) 2. Monitor bunyi napas tambahan (misalnya: gurgling,
status pernapasan 3. Monitor sputum (jumlah, warna, aroma) mengi, wheezing, ronchi kering)
3. Monitor status respirasi dan oksigenasi (misal: Terapeutik 3. Monitor sputum (jumlah, warna, aroma)
frekuensi dan kedalaman napas, penggunaan 1. Pertahankan kepatenan jalan napas dengan head-tilt dan Terapeutik
otot bantu napas, bunyi napas tambahan, chin-lift (jaw thrust jika curiga trauma fraktur servikal) 1. Pertahankan kepatenan jalan napas dengan head-tilt dan
saturasi oksigen) 2. Posisikan semi-fowler atau fowler chin-lift (jaw thrust jika curiga trauma fraktur servikal)
Terapeutik 3. Berikan minum hangat 2. Posisikan semi-fowler atau fowler
1. Pertahankan kepatenan jalan napas 4. Lakukan fisioterapi dada, jika perlu 3. Berikan minum hangat
2. Berikan posisi semi-fowler dan fowler 5. Lakukan penghisapan lendir kurang dari 15 detik 4. Lakukan fisioterapi dada, jika perlu
3. Fasilitasi mengubah posisi senyaman mungkin 6. Lakukan hiperoksigenasi sebelum penghisapan 5. Lakukan penghisapan lendir kurang dari 15 detik
4. Berikan oksigenasi sesuai kebutuhan (misal: endotrakeal 6. Lakukan hiperoksigenasi sebelum penghisapan
nasal kanul, masker wajah, masker rebreathing 7. Keluarkan sumbatan benda padat dengan forsep McGill endotrakeal
atau non-rebreathing) 8. Berikan oksigen, jika perlu 7. Keluarkan sumbatan benda padat dengan forsep McGill
5. Gunakan bag-valve mask, jika perlu Edukasi 8. Berikan oksigen, jika perlu
Edukasi 1. Anjurkan asupan cairan 2000 ml/hari, jika tidak ada Edukasi
1. Ajarkan melakukan Teknik relaksasi napas kontraindikasi 1. Anjurkan asupan cairan 2000 ml/hari, jika tidak ada
dalam 2. Ajarkan Teknik batuk efektif kontraindikasi
2. Ajarkan mengubah posisi secara mandiri Kolaborasi 2. Ajarkan Teknik batuk efektif
3. Ajarkan Teknik batuk efektif 1. Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, Kolaborasi
Kolaborasi mukolitik, jika perlu. 1. Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran,
1. Kolaborasi pemberian bronkodilator, jika perlu mukolitik, jika perlu.
Refrensi
Mubarak,(2016). Faktor Yang Berhubungan Dengan Penanganan. Diakses
Melalui Internet: PDFhttps://Journal.umbjm.ac.id ( 12 febuary 2024)
Maryunani, (2015). Kebutuhan Dasar Manusia. Bogor: In Medika
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia Definisi dan Indikator Diagnostik. Jakarta: Dewan Pengurus PPNI
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2017). Standar Luaran Keperawatan Indonesia Definisi dan Indikator Diagnostik. Jakarta: Dewan Pengurus PPNI
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2017). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia Definisi dan Indikator Diagnostik. Jakarta: Dewan Pengurus PPNI

Anda mungkin juga menyukai