Analisis Kasus Fraud Citibank
Analisis Kasus Fraud Citibank
Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan Rahmat dan
Hidayah-Nya, kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Pencegahan Fraud Studi Kasus
Citibank” dengan baik dan tepat pada waktunya. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata
kuliah Auditing bank syariah 1. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penyusunan makalah ini. Tanpa bantuan dari semua pihak makalah ini tidak akan
selesai tepat waktu.Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan pada makalah ini. Oleh karena itu
kami mengharapkan pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang membangun untuk
penyempurnaan makalah selanjutnya. Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi
kita semua.
Penyusun
DAFTAR ISI
BAB I
B. Rumusan Masalah................................................................................. 3
C. Tujuan ................................................................................. 3
BAB II
BAB III
BAB IV
A. Kesimpulan .................................................................................. 25
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Malinda Dee ditangkap pada tanggal 23 Maret 2011 dengan tuduhan penggelapan uang nasabah kurang
lebih Rp 40 Miliar. Kabarnya puluhan nasabah tertipu olehnya dan tindakan kriminalnya sudah dimulai
sejak tahun 2009.
Kemampuan melayani Malinda yang membuat para nasabahnya merasa nyaman dan akhirnya
memberikan kepercayaan besar pada dirinyalah yang memudahkan Malinda untuk menggelapkan uang
mereka sedikit demi sedikit. Hasil uang yang didapatkannya ini kemudian dicuci ke beberapa perusahaan
yang dimilikinya dengan partner-nya yang lain.
Sebagai Relationship Manager dan menjabat dengan pangkat Vice President yang merupakan pangkat
tertinggi untuk karyawan di Citibank tentunya rasa percaya yang didapatkan Malinda Dee dari para
nasabahnya akan lebih besar daripada para karyawan lain karena integritas yang seharusnya dimiliki
oleh profesi tesebut. Namun sayangnya kepercayaan ini disalahgunakan olehnya untuk memperkaya
dirinya sendiri.
Semakin tinggi jabatan seseorang dalam profesinya tentunya tanggung jawab yang dipikulnya juga akan
lebih tinggi daripada orang lain. Itulah mengapa integritas dan citranya juga akan lebih beresiko untuk
hancur, tergantung cara berperilakunya di mata orang-orang yang berelasi dengan dirinya.
Dengan tindakan kriminalnya Malinda Dee telah melakukan pelanggaran kode etik profesinya. Dalam
dunia perbankan,Malinda Dee dikategorikan sebagai bankir yang menurut Kode Etik Bankir Indonesia
memiliki pengertian sebagai seseorang yang bekerja di Bank dan sedang atau pernah berkecimpung
dalam bidang teknis operasional dan non operasional perbankan. Bahkan Malinda Dee dapat disebut
sebagai Bankir Profesional mengingat pengalaman kerjanya di dunia perbankan sudah lama dan
jabatannya yang sudah sangat tinggi serta tanggung jawab sosialnya juga tinggi. Kode etik Bankir
mengatur pemilik profesi bankir untuk berperilaku sesuai pedoman-pedoman yang telah diatur di
dalamnya dan juga mengatur hubungan seorang bankir dengan sesama karyawan,pihak lain, dan
lingkungan kerjanya.
Dengan adanya kasus ini banyak pihak yang dirugikan baik secara finansial dan juga nama baik secara
individual maupun organisasi. Citibank sebagai organisasi tempatnya bekerja akan mendapatkan imbas
yang cukup besar dan para nasabah yang ditipu akan merasakan kerugian. Selain melangar kode etik
profesinya,Malinda Dee juga melakukan pelanggaran hukum dengan melakukan Money Laundry atau
tindakan pencucian uang. Di Indonesia hukum mengenai Money Laundry dapat kita lihat pada Undang-
undang No 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.
Dengan adanya pelanggaran ini kesalahan yang dilakukan Malinda Dee telah berlapis-lapis dan tentunya
akan menghancurkan kapasitasnya sebagai seorang bankir di mata publik.
Motif Malinda untuk memperkaya diri sendiri yang memanfaatkan profesinya dengan melanggar
beberapa hukum dan norma yang ada dapat kita lihat sebagai sebuah perilaku menyimpang. Robert Mz
Lawang menyebutkan bahwa perilaku menyimpang adalah semua tindakan yang menyimpang dari
norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang
berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku tersebut.
Dari kasus Malinda Dee kita dapat mengetahui apa saja bentuk pelanggaran kode etik yang telah
dilakukannya dan bagaimana imbas yang didapat oleh Malinda sendiri dan juga orang-orang yang
berhubungan dengan dirinya bahkan organisasi tempatnya bekerja, serta bagaimana pencegahan fraud
dalam lingkup perbankan.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang diatas dapat dirumuskan berbagai masalah antara lain sebagai berikut
:
1. Apa saja bentuk kecurangan dan pelanggaran kode etik profesi yang dilakukan oleh Malinda Dee?
2. Apa saja bentuk hukuman yang didapatkan oleh Malinda Dee dalam pelanggaran kode etik profesi
yang dilakukannya?
3. Bagaimana imbas atau dampak yang didapatkan oleh profesi Bankir,organisasi, dan individu lain yang
memiliki relasi dengan Malinda Dee dari adanya kasus tersebut?
C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui bentuk kecurangan dan pelanggaran kode etik profesiyang dilakukan oleh Malinda
Dee sebagai pelaku kecurangan.
2. Untuk mengetahui bentuk hukuman yang didapatkan oleh pelaku kecurangan dalam pelanggaran
kode etik profesi bankir yang dilakukannya.
3. Untuk mengetahui dampak yang didapatkan oleh profesi Bankir, organisasi, dan individu lain yang
memiliki relasi dengan Malinda Dee dari adanya kasus kecurangan yang dilakukan.
4. Untuk mengetahui cara pencegahan fraud di sebuah perusahaan atau organisasi khususnya dalam
lingkup perbankan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Kasus Citibank
Malinda Dee menjadi karyawan di Citibank sejak Agustus 1989. Saat ditangkap polisi, Malinda
menduduki jabatan Relationship Manager Citibank di Kantor Cabang Citibank Landmark, Jakarta Selatan,
dengan pangkat Vice President. Pangkat tersebut merupakan pangkat yang tertinggi untuk karyawan
Citibank. Sejak diterima, Malinda dikenal sebagai salah satu aset yang berharga di Citibank karena
prestasi Malinda Dee dalam pekerjaannya terbilang bagus, yakni kemampuannya dalam membawa
nasabah kaya untuk menggunakan jasa Citibank, hal tersebut membuatnya diberi keleluasaan oleh pihak
Citibank dalam mencari nasabahnya sendiri.
Pada 25 Maret 2011, Mabes Polri mengungkap kasus penggelapan dana nasabah di Citibank atas
laporan para nasabah. Delapan penyidik dari Direktorat Ekonomi dan Khusus Badan Reserse Kriminal
Markas Besar Polri menangkap Malinda di apartemennya kawasan SCBD, Jakarta Selatan. Polisi menyita
sejumlah barang bukti, antara lain dokumen-dokumen transaksi, uang tunai dan 1 unit mobil merek
Ferari. Tersangka Malinda Dee diserahkan dari penyidik Polri kepada Kejari Jakarta Selatan pada pukul
09.45 WIB. Malinda diduga sudah melakukan aksinya sejak tahun 2009 lalu. Dari tiga perusahaan yang
menjadi nasabah Citibank, Malinda dapat mencuri uang dari para nasabah tersebut hingga Rp17
miliar.Jaksa Penuntut Umum mendakwa Malinda melakukan penggelapan dan pencucian uang dalam
kurun waktu 22 Januari 2009 hingga 7 Februari 2011 melalui 117 transaksi, dimana 64 transaksi di
antaranya dalam bentuk pecahan rupiah senilai Rp27,36 miliar dan 53 transaksi senilai 2,08 juta dolar
AS. Jaksa menuntut Malinda atas kejahatan yang telah dilakukannya selama ini dengan pasal berlapis,
yaitu pasal dalam Undang-Undang Perbankan dan pasal Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang.
Pertama, dia dijerat Pasal 49 ayat 1 dan 2 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 sebagaimana diubah
dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan juncto Pasal 55 ayat 1 dan pasal 65
KUHP.Kedua, Pasal 3 ayat 1 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 sebagaimana diubah dengan
Undang-Undang No 25 Tahun 2003 tentang Pidana Pencucian Uang juncto Pasal 65 KUHP. Ketiga, Pasal
3 Undang-Undang No 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian
Uang juncto Pasal 65 ayat 1 KUHP, yang ancamannya adalah dipenjara selama 15 tahun.
Selama ini Malinda Dee melakukan pembobolan dana nasabah dengan cara meraih kepercayaan
terhadap nasabah tersebut dan menyalahgunakan kepercayaan para nasabah yang kaya terhadap
dirinya. Malinda terlebih dahulu memperlakukan mereka secara istimewa yang salah satu contohnya
adalah dengan melayani para nasabah yang kaya di ruang khusus di kantor Citibank. Perlakuan ini tidak
hanya diberikan Malinda dalam waktu singkat, tetapi hingga puluhan tahun sampai para nasabah sangat
percaya terhadap Malinda karena perlakuan istimewanya tersebut. Dari hal tersebut Malinda
mencermati pola transaksi nasabah yang bersangkutan, kemudian mengajukan blanko kosong untuk
ditandatangani agar memudahkan transaksi. Blanko inilah yang dia gunakanan untuk menarik dana
dengan mencuri uang tersebut sedikit-demi sedikit tanpa disadari oleh pemilik rekening melalui
persekongkolan jahat dengan bawahannya, Dwi Herawati, Novianty Iriane dan Betharia Panjaitan selaku
Head Teller Citibank. Malinda memerintahkan bawahannya mentransfer uang ke beberapa perusahaan
miliknya.
Malinda juga menggunakan surat kuasa dari nasabah, sehingga nasabah seolaholah datang ke bank
untuk melakukan transaksi. Lalu Malinda meminta teller Citibank yang bernama Dwi untuk membantu
melakukan pencatatan palsu terhadap beberapa transfer uang, yang nilainya antara Rp1 miliar hingga
Rp 2 miliar. Catatan tersebut merupakan manipulasi transfer uang dari rekening nasabah ke beberapa
rekening milik Malinda di dalam maupun di luar Citibank. Rohly Pateni, merupakan salah satu nasabah
Citibank yang menjadi korban dari Malinda. Menurut Rohly Pateni, dia sangat percaya kepada Malinda
karena sudah 18 tahun menjadi nasabah dari Citibank dan ditangani Malinda. Rohly Pateni jarang
mengecek rekening banknya karena sibuk bekerja, yang membuat Malinda memanfaatkan hal
tersebut.Untuk menghilangkan bukti kejahatannya, Dia membuat perusahaan pribadinya yang dialiri
dana nasabah Citibank atas nama orang lain. Malinda mengalirkan dana nasabah yang berhasil dicuri ke
empat perusahaan miliknya yaitu, PT Sarwahita Global Manajemen, PT Porta Axell Amitee, PT Qadeera
Agilo Resources, dan PT Axcomm Infoteco Centro. Keempat perusahaan tersebut merupakan
perusahaan yang didirikannya bersama dengan Reniwati, Roy Sanggilawang, dan Gesang Timora.
Reniwati merupakan Citigold Executive Head di Citibank Landmark. Selain itu, Malinda juga telah
menggunakan dana nasabah untuk menyicil angsuran mobil super mewah seperti Ferrari. Kemudian dari
keempat perusahaan ini, Malinda kembali menarik uang untuk kepentingan pribadinya, Andhika suami
sirinya, maupun adiknya, Visca Lovitasari serta suami Visca, Ismail bin Janim. Andhika menampung uang
curian itu dengan membuka banyak rekening dengan identitas berbeda karena menggunakan KTP palsu.
Dia juga diseret ke muka pengadilan dengan tuduhan melakukan tindak pidana pencucian uang dengan
menerima dan menampung uang yang diduga hasil tindak pidana istri sirinya. Andhika didakwa
melanggar Pasal 6 ayat (1) huruf a, b, d, f UU Tindak Pidana Pencucian Uang juncto Pasal 65 ayat (1)
KUHP, dan Pasal 5 ayat (1) UU Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang juncto
Pasal 65 ayat (1) KUHP, dan Pasal 263 Ayat (2) KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun
penjara. Adapun Visca ditetapkan diadili setelah menampung dana dari Melinda senilai lebih dari Rp 8
miliar, dalam kurun waktu 24 Januari 2007 sampai tanggal 19 Oktober 2010. Tahap pertama Melinda
menyetor sebesar Rp2.063.723.000. Lalu, Malinda mengirim lagi Rp.5.429.199.000 dan selanjutnya Rp
66juta, dan terakhir Rp 401.480.000. Jaksa mengatakan, dari tiap transaksi itu, Visca mendapat imbalan
sebesar Rp 5 juta. Sedangkan suaminya, Ismail yang juga diadili didakwa menampung uang dari Melinda
sekira Rp 20,4 miliar sejak bulan Januari 2010 hingga Oktober 2010 dalam 51 kali transaksi.
Selain orang – orang tersebut, terdapat keterlibatan Wakil Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional
(Lemhannas) Marsekal Madya TNI Rio Mendung Thalieb. Dia menjadi Komisaris Utama PT Sarwahita
Group Managemen, yakni salah satu perusahaan milik Malinda. Dia mengaku tak melakukan bisnis
dalam perusahaan tersebut, tidak jelas apakah pengakuan ini benar atau tidak karena tidak pernah ada
pemeriksaan terhadap Rio Mendung Thalieb. Lalu pihak lain yang juga terlibat adalah 50 orang pejabat
negara yang menjadi nasabah Malinda yang uangnya berasal dari pencucian uang hasil korupsi, yang
merupakan dugaan dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).
Di Indonesia, tindak pencucian uang telah diatur dalam UU Nomor 8 Tahun 2010 mengenai Pencegahan
dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Menurut Undang-udang tersebut tindak pencucian
uang dibedakan menjadi 3 macam, seperti :
a. Tindak pidana pencucian uang aktif (setiap orang yang menempatkan, mentransfer, mengalihkan,
membelanjakan, membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, mengubah
bentuk, menukarkan dengan uang atau surat berharga atau perbuatan lain atas harta kekayaan yang
diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana),
b. Tindak pidana pencucian uang pasif (setiap orang yang menerima atau menguasai penempatan,
pentransferan, pembayaran, hibah, sumbangan, penitipan, penukaran, atau menggunakan harta
kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana. Namun, dikecualikan
bagi Pihak Pelapor yang melaksanakan kewajiban pelaporan sebagaimana diatur dalam undang-undang
ini). (Pasal 5 UU RI No. 8 Tahun 2010),
c. Mereka yang menikmati hasil tindak pidana pencucian uang (setiap orang yang menyembunyikan atau
menyamarkan asal usul, sumber lokasi, peruntukan, pengalihan hak-hak, atau kepemilikan yang
sebenarnya atas harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak
pidana. Sanksi bagi pelaku tindak pidana pencucian uang yaitu hukuman penjara paling lama maksimum
20 tahun, dengan denda paling banyak 10 miliar rupiah.
BAB III
ANALISIS
Kasus Malinda Dee merupakan kasus pelanggaran ganda, yaitu pelanggaran terhadap kode etik profesi
sebagai bankir dan pelanggaran terhadap hukum yang berlaku di Indonesia. Sebagai seorang karyawan
Citibank, sudah seharusnya Malinda mengikuti kode etik profesi Bankir dan kode etik yang diterapkan
oleh Bank Indonesia. Namun karena kepentingan pribadinya, Malinda mengesampingkan kode etik yang
ada dan melanggar aturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Dari 9 pilar kode etik bankir,
ada 3 kode etik yang dilanggar oleh Malinda, yaitu :
1. Setiap bankir harus patuh dan taat kepada ketentuan perundangundangan dan peraturan yang
berlaku. Hal ini diperkuat dengan adanya dukungan dari Undang - Undang , yang tercantum dalam UU
No. 7 tahun 1992 yang telah disempurnakan dengan UU No. 10 tahun 1998 pasal 49 ayat 2b. Malinda
terbukti tidak patuh dan taat pada ketentuan perundang-undangan dan peraturan yang berlaku karena
ia melakukan penggelapan dan pencucian uang, dimana tindakan tersebut bertentangan dengan pasal
dalam Undang-Undang Perbankan dan pasal Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang.
2. Seorang bankir tidak menyalahgunakan wewenangnya untuk kepentingan pribadi. Malinda melanggar
kode etik ini karena dia telah terbukti menyalahgunakan wewenangnya sebagai Relationship Manager
Citibank (dengan pangkat Vice President) dengan mengajukan blanko kosong untuk ditandatangani
nasabah. Blanko inilah yang Malinda gunakan untuk mencuri uang nasabahtanpa disadari oleh pemilik
rekening. Selain itu, Malinda juga menggunakan surat kuasa dari nasabah, meminta teller Citibank
membantu melakukan pencatatan palsu terhadap beberapa transfer uang, danmemerintahkan
bawahannya mentransfer uang ke empat perusahaan miliknya. Dana nasabah juga digunakan Malinda
untuk kepentingan pribadinya, seperti membeli mobil mewah, serta membiayai kehidupan suami dan
adiknya.
3. Seorang bankir tidak melakukan perbuatan tercela yang dapat merugikan citra profesinya dan
lembaga.Tindakan penggelapan dan pencucian uang yang dilakukan oleh Malinda jelas merupakan suatu
perbuatan tercela yang dapat merugikan citra profesi bankir dan lembaga (Citibank). Selain melanggar 9
pilar kode etik bankir, Malinda juga melanggar salah satu dari kode etik yang diterbitkan oleh Bank
Indonesia, yaitu : Pegawai dilarang menyalahgunakan jabatan, wewenang, dan atau fasilitas yang
diberikan oleh Bank Indonesia.Namun kode etik tersebut hampir sama dengan salah satu kode etik
bankir, seperti yang sudah dijelaskan di poin kedua di atas.
Dari kasus pelanggaran kode etik bankir di atas, menunjukkan bahwa Malinda juga melanggar prinsip –
prinsip kode etik profesi pada umumnya. Malinda tidak memiliki prinsip tanggung jawab terhadap dana
nasabah yang seharusnya ia kelola dengan baik, dan tidak melakukan pertimbangan professional dalam
semua kegiatan yang dia lakukan. Malinda juga mengabaikan prinsip kejujuran karena ia telah menipu
nasabah – nasabahnya. Selain itu, Malinda tidak memiliki prinsip integritas karena ia tidak memilik
kejujuran dan komitmen dalam menjalankan profesinya serta tidak dapat memelihara dan
meningkatkan kepercayaan nasabah.Pelanggaran kode etik bankir yang dilakukan Malinda Dee sudah
termasuk dalam aspek kriminalitas, sehingga kasus ini juga merupakan pelanggaran hukum. Malinda
melanggar ketentuan hukum yang berkaitan dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang
Perbankan Pasal 55 ayat 1 dan pasal 65 KUHP; Undang-Undang No 25 Tahun 2003 tentang Pidana
Pencucian Uang Pasal 65 KUHP; dan UU Nomor 8 Tahun 2010 mengenai Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.
Berdasarkan tiga macam jenis pencucian uang yang ada menurut UU Nomor 8 Tahun 2010 , Malinda
termasuk ke dalam jenis “Tindak pidana pencucian uang aktif”, karena Malinda mentransfer,
membelanjakan, membayarkan, dan menghibahkan dana nasabah untuk keperluan pribadinya, dan
yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana karena uang 50 orang pejabat
negara yang menjadi nasabah Malinda berasal dari pencucian uang hasil korupsi, yang merupakan
dugaan dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Sementara itu, suami, adik, adik
ipar, dan para petinggi perusahaan Malinda yang dialiri dana hasil curian Malinda termasuk ke dalam
jenis “Mereka yang menikmati hasil tindak pidana pencucian uang”.Pihak – pihak tersebut masuk ke
dalam jenis ini karena mereka menyembunyikan atau menyamarkan asal usul, sumber lokasi,
peruntukan, pengalihan hak-hak, atau kepemilikan yang sebenarnya atas harta kekayaan yang
diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana.
Bankir yang profesional adalah bankir yang memiliki integritas pribadi, keahlian dan tanggungjawab
sosial yang tinggi serta wawasan yang luas agar mampu melaksanakan manajemen bank yang
profesional pula. Dalam melaksanakan pekerjaannya, seorang Bankir harus berpedoman pada kode etik
profesi yang ada. Kode etik tersebut menjadi pijakan dalam berperilaku dan bertindak agar pekerjaan
dapat berjalan dengan lancar serta tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Malinda Dee melakukan
pekerjaannya sebagai Relationship Manager tanpa memperhatikan kode etik profesi seorang bankir.
Konsekuensi dari perilaku menyimpang yang ia lakukan adalah harus menerima sanksi seperti yang telah
diatur dalam Ikatan Bankir Indonesia. Karena pelanggaran yang dilakukan Malinda termasuk
pelanggaran kode etik berat, maka dapat dikenakan sanksi oleh Dewan Pimpinan Pusat berupa
pemberhentian sebagai Bankir. Selain karena pelanggaran kode etik berat, pemberhentian tersebu tjuga
dikarenakan Malinda telah dijatuhi hukuman oleh pengadilan yang telah mempunyai kekuataan hukum
yang tetap karena melakukan tindak pidana. Citibank pun memberikan sanksi terhadap Malinda dengan
memberhentikannya sebagai karyawan. Di lain pihak, pandangan atau respect masyarakat terhadap
Malinda akan menurun, karena pelanggaran etika akan menimbulkan ketidaksukaan dari suatu
kelompok tertentu, dan tentunya Malinda akan merasa tersisih dari masyarakat sekitar.
Kasus Malinda Dee tidak hanya melibatkan dirinya dan pihak - pihak lain yang ikut membantu tindak
kriminalnya, namun juga ikut melibatkan profesi yang digelutinya dan organisasi atau lembaga
tempatnya bekerja. Dalam hal ini, profesi yang ikut terkena dampak negatif adalah profesi bankir, dan
organisasi atau lembaga yang ikut terkena imbas perbuatan Malinda adalah Citibank. Selain itu, kasus
besar ini tentunya juga akan memberikan kerugian terhadap orang – orang terdekat Malinda, seperti
keluarganya. Jadi, meskipun tidak ikut terlibat namun secara teori dan fakta, profesi sejenis, organisasi
tempat bekerja, dan keluarga juga akan ikut merasakan imbas dari perbuatan tercela yang dilakukan
Malinda. Secara lebih rinci, dampak yang ikut dirasakan oleh pihak – pihak lain yang bersangkutan
dengan Malinda namun tidak ikut membantu tindak kriminalnya, antara lain:
a. Profesi Bankir
Dengan adanya kasus Malinda Dee, mau tidak mau profesi Bankir akan mendapatkan imbasnya juga.
Dari kasus ini, kepercayaan masyarakat terhadap seorang bankir akan berkurang dan citra profesi
seorang bankir akan menurun. Selain itu, prosedur perbankan menjadi lebih diperketat sehingga akan
lebih membatasi ruang gerak bankir.
b. Citibank
Citibank sebagai tempat Malinda bekerja, akan dilanda krisis reputasi dan krisis kepercayaan dari
masyarakat. Dengan adanya kasus yang melibatkan beberapa karyawannya, reputasi perusahaan pasti
akan menurun. Masyarakat akan menjadi ragu untuk menyimpan uang nya di Citibank, dan apakah
uangnya akan benar – benar aman, karena Bank ini tidak dapat mengontrol dan mengawasi perilaku
karyawannya dengan baik. Jika tidak mampu mengembalikan kepercayaan masyarakat dan menjamin
keamanan dana nasabahnya, Citibank bisa dilanda krisis keuangan.
c. Keluarga
Perbuatan tidak beretika seorang pegawai senior yang seharusnya menjadi panutan para juniornya ini
dapat menurunkan reputasi dan nama baik keluarga di mata masyarakat.
D. Pencegahan Fraud
Efektifitas pengendalian fraud dalam bisnis, pada prosesnya merupakan tanggung jawab pihak
manajemen. Diperlukan pemahaman yang tepat dan menyeluruh tentang fraud oleh manajemen,
sehingga dapat memberikan arahan dan menumbuhkan awareness untuk pengendalian risiko fraud
pada Bank. Strategi anti fraud merupakan wujud komitmen manajemen Bank dalam mengendalikan
fraud yang diterapkan dalam bentuk sistem pengendalian fraud. Strategi ini menuntut manajemen
untuk mengerahkan sumber daya agar sistem pengendalian fraud dapat diimplementasikan secara
efektif dan berkesinambungan. Beberapa langkah fraud prevention yang dapat diterapkan oleh
manajemen Citibank adalah sebagai berikut :
1. Lingkungan Pencegahan
Selama ini, baik secara langsung maupun tidak langsung, pelaksanaan pencegahan fraud telah
dilaksanakan oleh Bank, antara lain pelaksanaan tata kelola yang baik (Good Corporate Governance).
Penerapan GCG dengan menerapkan 3 elemen :
a. Prinsip GCG
Dalam dunia perbankan dimana kepercayaan menjadi salah satu key success factor,pelaksanaan good
corporate governance menjadi suatu kebutuhan. Namun, pada kenyataannya masih terdapat celah
dalam sistem pengendalian internal bank yang memungkinkan terjadinya fraud seperti pada kasus
Citibank Indonesia. Manajemen Perusahaan perlu menerapkan prinsip GCG di seluruh jajaran
manajemen citibank, yaitu Transparency, Accountability, Responsibility, Independency, dan Fairness.
Terwujudnya good corporate governance sendiri tidak dapat dipisahkan dengan sistem pengendalian
internal yang efektif dan efisien.
b. Struktur GCG
Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/4/PBI/2006 tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance bagi
Bank Umum. Pada pasal 12 ayat 1 disebutkan bahwa Dewan Komisaris wajib membentuk:
a. Komite audit
Peraturan Bank Indonesia Nomor 1/6/PBI/1999 Tentang Penugasan Direktur Kepatuhan dan Penerapan
Pelaksanaan Fungsi Audit Intern Bank Umum. Peraturan ini mewajibkan bank untuk menugaskan salah
satu anggota direksi atau anggota pimpinan kantor cabang (untuk kantor cabang bank asing) sebagai
Direktur Kepatuhan. Standar Pelaksanaan Fungsi Audit Intern Bank mewajibkan bank untuk:
b. Membentuk Satuan Kerja Audit Intern (SKAI), yang bertanggungjawab langsung kepada direktur
utama. Kepala SKAI diangkat dan diberhentikan oleh direktur utama Bank dengan persetujuan dari
dewan komisaris.
Menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor 1/6/PBI/1999, piagam audit disusun oleh Direktur Utama dan
disetujui oleh Dewan Komisaris. Namun dalam pelaksanaannya di Citibank tidak demikian. Piagam audit
disusun dan disetujui oleh Manajemen (Direksi). Citibank tidak memiliki komite remunerasi dan
nominasi seperti yang diwajibkan oleh Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/4/PBI/2006 Pasal 12 ayat 1.
Posisi SKAI masih berada dibawah kewenangan langsung pihak top manajemen dan tidak memiliki
hubungan langsung dengan komite audit. Hal ini dapat menjadi salah satu kelemahan apabila top
manajemen melakukan fraud.
Citibank harus menerapkan keteladanan yang berasal dari top manajemen untuk menjadi role model
bagi seluruh karyawan Citibank. Budaya jujur dan sikap antifraud harus terus digaungkan oleh top
manajemen dalam usaha melakukan pencegahan fraud. Not everyone is honest, sebuah fakta yang
menyedihkan. Pada kondisi integritas yang rendah, kontrol yang lemah, akuntabilitas yang rendah, dan
tekanan yang tinggi, peluang seseorang menjadi tidak jujur akan semakin besar. Dan bank-bank di
Indonesia saat ini dihadapkan pada dua pilihan sederhana: menciptakan lingkungan dengan potensi
fraud yang rendah (low fraud environment) atau menyusul kerugian-kerugian atas tindakan fraudster
bank-bank terdahulu.
Low fraud environment bisa diciptakan dengan adanya dukungan dari budaya kejujuran yang tinggi,
keterbukaan, dan program khusus bantuan kepada personel. Untuk menciptakan dukungan tersebut,
paling tidak bank harus mempekerjakan orang-orang yang jujur dan selalu memberikan pelatihan
kepada mereka mengenai kesadaran akan fraud, menciptakan lingkungan kerja yang positif, membuat
dan melakukan diseminasi atas kode perilaku yang miudah dimengerti, serta membuat program
bantuan kepada para personel.
Pada praktiknya, Citibank belum sepenuhnya usaha menciptakan budaya antifraud yang
berkesinambungan, mengingat kasus Malinda Dee dilakukan oleh orang yang mempunyai posisi kunci di
perusahaan. Kasus Malinda Dee mencerminkan belum adanya keteladanan dari jajaran manajemen,
baik top manajemen, maupun middle manajemen.
Tujuan penyusunan kebijakan dan prosedur penerapan strategi anti fraud berkutat pada 4 pilar yakni
pencegahan, deteksi, investigasi-pelaporan, sanksi. Fokus pembahasan pada makalah ini ialah pada
pencegahan fraud. Berikut tujuan pencegahan fraud, yakni :
1. Sebagai dasar tindakan yang diambil oleh Bank dalam melakukan enforcement, kontrol dan
pencegahan terhadap terjadinya suatu tindak kejahatan yang dapat merugikan Bank secara financial
maupun dapat mempengaruhi kinerja operasional Bank secara keseluruhan
2. Sebagai bentuk penegasan dari Bank dan untuk disadari dan dipahami secara menyeluruh pada setiap
level organisasi Bank bahwa fraud merupakan bentuk tindak kejahatan dan tindakan yang tidak
bermoral khususnya dalam organisasi perbankan.
3. Untuk memberikan arahan dalam internalisasi budaya anti fraud, peningkatan kewaspadaan maupun
peningkatan kesadaran risiko fraud pada tiap aktifitas kegiatan Bank
4. Sebagai panduan dalam melakukan pengendalian tindak fraud melalui upaya-upaya yang tidak hanya
ditujukan untuk pencegahan namun juga untuk mendeteksi dan melakukan investigasi serta
memperbaiki sistem sebagai bagian dari strategi yang bersifat integral dalam mengendalikan fraud.
• Definisi fraud
2. Persepsi Deteksi
Berdasarkan teori fraud triangle (segitiga kecurangan), tekanan, kesempatan, dan rasionalisasi yang
datang secara bersamaan akan memperbesar peluang terjadinya fraud. Namun, jika salah satu saja dari
elemen segitiga tersebut hilang, fraud tidak akan terjadi. Pada sisi bank, menghilangkan kesempatan
terjadinya fraud adalah yang paling mungkin ditindaklanjuti. Berikut disajikan perihal usaha yang bisa
dilakukan untuk menghilangkan kesempatan terjadinya fraud di bank.
2.1 Pengawasan
Para pelaku fraud biasanya menggunakan hasil jarahannya untuk mendukung gaya hidup yang mahal.
Dengan mengawasi gaya hidup setiap personel dan fasilitas-fasilitas pribadi di sekelilingnya, bank bisa
melakukan langkah pencegahan. Sebab, para personel yang berpotensi melakukan fraud seakan-seakan
merasakan terus diawasi. Dalam kasus Malinda Dee, seharusnya manajemen dapat lebih peka melihat
“changes in behavior” pada Malinda, perubahan gaya hidup mewahnya sudah tampak sebelum
kasusnya terungkap. Pencegahan dapat dilakukan dengan cara pertama, manajemen Citibank
mengamati gaya hidup dan tindak tanduk MD. Jika gaya hidupnya melampaui pendapatannya harus
diklarifikasi dan diinvestigasi asal usul sumber pendapatan lainnya apakah terkait jabatannya atau tidak.
Kedua, jika hasil investigasi ada kecurigaan maka harus segera diambil tindakan tertentu yang dapat
mencegah akibat dari perbuatan tersebut lebih meluas.Dengan mengembangkan sikap peduli dan curiga
dari pimpinan, akan menciptakan fraud prevention yang bisa mencegah atau mendeteksi dini terjadinya
fraud. 2.2 Anynomous Tip. Adanya Mekanisme untuk memantau kegiatan yang mencurigakan pada
rekening dan transaksi, sehingga apabila diperlukan, kegiatan yang berpotensi mencurigakan tersebut
dapat dilaporkan kepada pihak pemerintah berwenang yang bersangkutan sesuai undang-undang yang
berlaku. Pelaporan tersebut harus mempunyai sebuah platform yang aman, sehingga para pelapor
merasa terlindungi dan tidak terancam oleh pelaku fraud. Citibank perlu membangun sistem whistle
blower sebagai upaya pencegahan terjadinya fraud, sehingga siapa saja yang melihat atau menyaksikan
kejadian fraud dapat segera melapor ke jajaran manajemen melalui sistem tersebut.
2.3 Penuntutan
Ketakutan akan hukuman jelas akan mengurangi perilaku tidak jujur. Hukuman yang tegas dan konsisten
akan membuat para personel berpikir seribu kali sebelum memastikan siap terlibat melakukan fraud.
Jika hanya diberhentikan, terkadang tidak cukup kuat untuk mencegah fraud. Hukuman yang lebih
berarti, misalnya, memberi tahu kepada keluarga atau orang-orang terdekat mengenai perilaku tidak
jujur yang dilakukan seorang personel. Malinda Dee diproses secara hukum dan dijatuhi hukuman
penjara selama 7 tahun dan denda 10 Miliar rupiah. Konsekuensi hukum yang diterima Malinda Dee
akan menjadi sinyal yang kuat dan membuat karyawan lain yang berpotensi melakukan fraud berfikir
dua kali sebelum melakukan fraud. Hal ini akan memperkuat persepsi deteksi dan meningkatkan
pencegahan fraud.
Sering kali, investigasi terhadap fraud dilakukan setelah ada korban, yang artinya bersifat reaktif. Audit
yang bersifat pro-aktif diharapkan akanmembangun kesadaran para personel bahwa apa yang mereka
lakukan setiap saat bisa saja “di-review”. Hal ini akan memberikan para personel rasa takut akan
tertangkap jika melakukan fraud, sehingga diharapkan akan mengurangi perilaku kecurangan di bank.
Dalam kasus Malinda Dee bisa dipastikan tidak ada pengecekan atau audit rutin, dan jika prosedur audit
tahunan yang diterapkan menggunakan sampling akan gagal mendeteksi kecurangan yang dilakukan
Malinda. Malinda juga menggunakan tanda tangan asli pada slip penarikannya, sehingga proses
penelusuran menjadi lebih sulit. Dengan diterapkan surprise audit yang rutin, diharapkan potensi
perekayasaan transaksi lebih cepat terungkap, karena auditor dapat datang kapan saja tanpa terjadwal.
Konsistensi pelaksanaan kebijakan dan prosedur fraud penting untuk menciptakan iklim antifraud.
Mempunyai sederet peraturan jika tidak dilaksanakan akan sia-sia. Dalam kasus Malinda Dee,
pembuatan kebijakan fraud belum maksimal dan penerapannya juga belum efektif. Longgarnya suatu
kebijakan dan tidak adanya pengawasan akan menciptakan opportunity yang dapat mendorong
seseorang melakukan fraud.
Upaya pengusutan kasus fraud yang terjadi di tubuh perusahaan secara tuntas merupakan persepsi
deteksi yang sangat ampuh. Hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan tidak main-main dalam
memerangi kasus fraud dan akan meningkatkan fraud prevention. Citibank melalui pengacaranya Otto
Hasibuan, melakukan penuntutan hukum terhadap Malinda Dee dan mempublikasikan kejahatan yang
dilakukannya. Citibank juga terus melakukan investigasi terhadap dugaan kejahatan yang dilakukan
Malinda. Semua pihak yang diduga terlibat dalam internal Citibank juga diperiksa. Upaya yang ditempuh
Citibank telah tepat, karena tanpa upaya yang serius untuk mengusut kasus, akan memperlemah
persepsi deteksi dan meningkatkan peluang terjadinya fraud.
3. Pendekatan Klasik
Preventive approach dilakukan dengan mendesain sistem yang dapat mengurangi terjadinya fraud atau
minimal jumlah kerugian tidak material apabila perusahaan tidak melakukan pengawasan. Pemisahan
fungsi merupakan usaha yang dilakukan perusahaan untuk mencegah terjadinya fraud. Dalam kasus
Malinda Dee, Citibank telah melakukan pemisahan fungsi, namun karena Malinda melakukan koalisi
kejahatan dengan fungsi lainnya di perusahaan dan juga lemhanya pengendalian atas kas, kejahatan
tetap terjadi.
Dalam detective approach, manajemen akan membuat pengendalian akuntansi dan fungsi internal audit
untuk mengawasi potensi terjadinya fraud. Internal audit secara periodik akan memverifikasi legitimasi
(kesesuaian dengan aturan) transaksi dan mengkonfirmasi keberadaan aset. Manajemen bergantung
pada pengendalian akuntansi untuk mendeteksi potensi kejahatan yang mungkin terjadi.Dari sini dapat
ditelaah, bahwa Citibank mempunyai kelemahan pada fungsi internal audit dan pengendalian internal,
dimana kasus Malinda Dee tetap aman selama 3 tahun lamanya.
Observation approach bergantung pada observasi fisik atas aset dan karyawan. Manajemen mengawasi
karyawan yang melakukan aktivitas yang mencurigakan atau perilaku yang tidak biasa. Barang-barang
yang bernilai dan mudah dipindahkan seperti : kas, persediaan, dan aset lainnya juga akan diawasi, salah
satunya dengan menggunakan kamera. Malinda Dee mempuyai ruangan khusus untuk rapat private
dengan para nasabah eksklusif. Melalui pendekatan Observation approach, seharusnya Citibank
mengawasi gerak-gerik Malinda dan apa yang dilakukan di ruangan khusus tersebut dengan memasang
CCTV atau perekam suara jika perlu. Jadi setiap manajer yang hendak meeting dengan nasabah dapat
diawasi untuk menghindari kemungkinan terjadinya penyimpangan yang berujung pada fraud.
Investigative approach merupakan action perusahaan setelah ditemukan adanya bukti-bukti yang
mencurigakan atas sebuah kasus fraud. Perusahaan harus menindaklanjuti bukti-bukti tersebut dengan
cepat sebelum mengarah kepada fraud. Jelas dalam kasus Malinda Dee, perusahaan terlambat
mengambil langkah dan baru bergerak setelah fraud terjadi.
Selain pendekatan-pendekatan umum yang dijelaskan sebelumnya, pencegahan fraud dapat juga
dilakukan dengan pendekatan spesifik , yaitu :
Employee melalui pengendalian system rekrutmen, proses mutasi dan rotasi karyawan dan kebijakan
cuti wajib (block leave). Sistem rekrutmen dengan memperhatikan catatan kriminal dan riwayat hutang.
Perusahaan sebaiknya tidak menerima karyawan baru yang memiliki indikasi tersebut.Pemberian cuti
dan rotasi kerja juga harus dilakukan secara rutin. Apabila ada indikasi menolak cuti dan rotasi,
perusahaan perlu mencurigai dan menindaklanjuti hal tersebut. Dalam kasus Malinda Dee, tidak adanya
rotasi kerja merupakan kelemahan manajemen Citibank yang membuat Malinda merasa mempunyai
power dan opportunity untuk melakukan fraud.
4.2 Internal Control
Menciptakan internal kontrol yang baik adalah salah satu langkah yang bisa ditempuh bank dalam
mencegah terjadinya fraud. Semua berharap, fraud (penipuan/ kecurangan) pada sistem perbankan kita
setidaknya mereda. Sebab, memang fraud tidak mungkin bisa dihilangkan hingg nihil. Namun, tentu
harapan berkurangnya fraud ini sangat bergantung pada kesiapan masing-masing bank untuk
mencegahnya.
1. Menciptakan kontrol internal yang baik Kontrol internal yang bagus, paling tidak harus mencakup
kontrol lingkungan yang bagus, sistem akuntansi yang bagus, dan kontrol prosedur (aktivitas) yang juga
bagus. Becermin dari sebuah pernyataan kCommittee of Sponsoring Organization (COSO) “the control
environment sets the tone of the organization, and is largely responsible for employees being conscious
(and therefore vigilant) about controls”. Intinya, kontrol lingkungan harus mencakup integritas; nilai
etika dan kompetensi sumber daya manusia (SDM); gaya dan filosofi manajemen; gaya manajemen
dalam mengalokasikan wewenang, tanggung jawab, dan pengembangan SDM; serta perhatian dan
arahan dewan direksi.
Sementara, sistem akuntansi yang bagus harus memberikan informasi yang benar, lengkap, dan tepat
waktu. Kontrol prosedur yang bagus harus mencakup kontrol fisik atas aset-aset, otorisasi yang tepat,
segregasi tugas, pengecekan independen, dan dokumentasi yang lengkap. Perlu dicermati, tidak ada
sistem kontrol internal yang kebal terhadap fraud serta efektivitasnya akan sangat bergantung pada
kompetensi orang-orang di bank yang harus memastikan pelaksanaan internal kontrol yang tepat dan
solid. Sistem kontrol internal hanyalah salah satu elemen program pencegahan fraud yang
komprehensif.
Jika fraud terjadi disertai dengan kolusi, akan lebih sulit untuk bisa mendeteksinya. Dan, karena kolusi
biasanya dibangun dalam waktu yang tidak singkat, cara yang jitu adalah merotasi personel (job
transfer) secara periodik.
Contoh mudahnya adalah perilaku suap untuk memperoleh kucuran dana. Bank bisa membuat surat
secara periodik kepada nasabah terkait yang menjelaskan mengenai kebijakan perusahaan yang tidak
menerima segala jenis suap atau hadiah. Bank juga bisa memberikan syarat bahwa bank memiliki hak
yang bisa digunakan sewaktu-waktu untuk mengaudit laporan keuangan nasabah yang memperoleh
pinjaman. Hal ini juga diharapkan akan mengurangi niat nasabah melakukan kecurangan.
Malinda Dee Setelah terjadinya kasus Malinda Dee dan beberapa kasus terkait penagihan kredit dengan
customer, Citibank bekerja keras meraih kembali kepercayaan nasabah. Pasca kasus-kasus yang
menimpa Citibank di tahun 2010-2011, Citibank menerima ujian berat. Selain sanksi dari BI berupa
penghentian layanan kartu kredit selama 2 tahun dan juga penghentian penagihan kredit dengan jasa
pihak ketiga, anggota komisi XI DPR juga beramai-ramai mengembalikan kartu kredit Citibank karena
kecewa dengan pelayanan Citibank. Namun, Citibank kini telah banyak berbenah. Citibank mulai
menerapkan Good Corporate Governance dan melaporkan Integrated Corporate Governance Report
mulai periode 31 Desember
2015.
Berdasarkan Integrated Report tentang Corporate Governance tanggal 31 qDesember 2016, didapat
data sebagai berikut :
1. Menerapkan prinsip GCG Transparansi yang dibuktikan dengan mengungkapkan semua aktivitas
keuangan dan non keuangan dalam annual report dan integrated report.
2. SKAI masih bertanggung jawab pada top manajemen dan belum dirubah pola
pertanggungjawabannya ke komite audit.
3. Komite Audit dan Komite Pemantau resiko telah dibentuk sesuai dengan peraturan BI tentang prinsip
GCG.
4. Belum mempunyai komite remunerasi di Indonesia, dengan alasan yang disebutkan dalam integrated
report bahwa seluruh kebijakan HRD di Indonesia harus mendapat persetujuan dari HRD regional hingga
Global International Benefit Unit.
5. Mempunyai kebijakan dan prosedur fraud yaitu Citi Fraud Management Standard, yang berisi
diantaranya : anti bribery and corruption, anti money laundering.
7. Mempunyai aturan tentang suspicious activity reporting, dimana mewajibakan semua karyawan
citibank untuk ikut melaporkan aktivitas yang mencurigakan dalam rangka usaha untuk melakukan
pencegahan fraud.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari kasus tersebut dapat disimpulkan bahwa kasus tersebut sudah melanggar kode etik perbankan yang
dapat merugikan pihak nasabah. Hubungan antara bank dengan nasabahnya ternyata tidaklah seperti
hubungan kontraktual biasa, tetapi dalam hubungan tersebut terdapat pula kewajiban bagi bank untuk
tidak membuka rahasia dari nasabahnya kepada pihak lain mana pun kecuali jika ditentukan lain oleh
perundang-undang yang berlaku. Menurut pasal 1 angka 28 undang-undang perbankan, yang dimaksud
dengan rahasia bank adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan keterangan mengenai nasabah
penyimpan dan simpanannya.
Melinda Dee dijerat pasal 49 ayat 1 dan 2 UU No 7 tahun 1992 sebagaimana diubah dengan UU No 10
tahun 1998 tentang perbankan dan atau pasal 6 UU No 15 tahun 2002 sebagaimana diubah dengan UU
No 25 tahun 2003 sebagaimana diubah dengan UU no 8 tahun 2010 tentang tindak pidana pencucian
Uang dan pastinya pelaku dikenakan sanksi berupa denda dan hukuman penjara. Dari tindakan fraud
tersebut dapat dicegah dengan beberapa tindakan
1)Sosialisasi Budaya Anti Fraud yang dilakukan tidak hanya kepada pihak intern Bank namun juga kepada
pihak ekstern yang berhubungan dengan Bank, 2) Identifikasi Kerawanan (Vulnerability Identification)
dilaksanakan oleh Pejabat Anti Fraud yang ditunjuk untuk melakukan proses identifikasi kerawanan
terhadap potensi terjadinya fraud di unit kerja atau karyawan yang menjadi tanggung jawabnya. 3)
Pelaksanaan Know Your Employee melalui pengendalian system rekrutmen, proses mutasi dan rotasi
karyawan dan kebijakan cuti wajib (block leave), 4) Penegakan Kode Etik Perusahaan (Code of Conduct),
5) Peningkatan Efektivitas Supervisi.