Anda di halaman 1dari 9

F1 : kurang 3

F2: kurang 3
F3: kurang 3
F4: kurang 4
F5: kurang 4
F6: kurang 4
LAPORAN KEGIATAN UKM (F1-F7) PUTU ANGGITHA SURYA PARAMITHA 😊

F6. Upaya Pengobatan Dasar


Tgl. Mulai Kegiatan 13 Mei 2020
Tgl. Akhir Kegiatan 13 Mei 2020
Judul Laporan Edukasi dan Pengobatan Pasien dengan Diabetes Mellitus di UPTD Puskesmas I Pekutatan
Latar Belakang
1) Masih rendahnya pemahaman masyarakat mengenai perjalanan penyakit, pencegahan,
penyulit, dan penatalaksanaan Diabetes Mellitus tipe 2.
Permasalahan
2) Masih rendahnya kesadaran pasien dengan Diabetes Mellitus tipe 2 dalam keteraturan
mengkonsumsi obat dan pengaturan pola hidup guna mengontrol kadar gula darah.
Laporan ini disusun berdasarkan data pasien yang datang ke Poli Lansia UPTD. Puskesmas I
Pekutatan dengan keluhan gejala klasik Diabetes Mellitus tipe 2. Metode intervensi yang
digunakan adalah:
1) anamnesis
Perencanaan
2) pemeriksaan fisik sederhana dan pemeriksaan penunjang terhadap pasien
3) menyampaikan hasil pemeriksaan fisik dan penunjang
4) menyampaikan hasil dagnosa, rencana terapi, dan edukasi mengenai pengetahuan dasar
penyakit, penegahan, dan pengendalian penyakit.
Pelaksanaan WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN
Tanggal: 13 Mei 2020
Waktu: 09.00 WITA
Tempat: Poli Lansia UPTD. Puskesmas I Pekutatan

ANAMNESIS
Pasien datang dengan keluhan buang air kecil hingga terbangun di malam
hari. Pasien juga mengeluh selalu merasa haus padahal sudah banyak
minum. Hal ini dirasakan kurang lebih sudah 5 bulan. Pasien juga
mengatakan nafsu makannya menurun. Pasien merasakan berat badan
menurun sejak sebulan ini. Kegiatan sehari-hari pasien hanya menjaga
warung dan jarang berolahraga sejak remaja..
Alergi: tidak ada
RPD: tidak ada
RPK: tidak ada
RS: Ayah pasien dikatakan telah meninggal karena stroke dan ibu pasien
meninggal karena penyakit paru

PEMERIKSAAN FISIK
Status Present
Kesadaran: CM
TD: 110/80
N: 88
RR: 20
Tax: 36,3
SpO2: 98% udara ruangan
BB: 90 Kg

Status General
Kepala: Normocepali
Mata: konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-), reflex pupil (+/+) isokor, mata cowong (-)
THT: kesan tenang, bibir sianosis (-)
Thorax: simetris, retraksi (-)
Cor: S1 S2 normal, regular, murmur (-)
Pulmo: vesikuler, rhonki (-/-), wheezing (-/-)
Abdomen: distensi (-), bising usus (+) normal, hepar dan lien tidak teraba
Ekstremitas: hangat (+/+), edema (-/-), sianosis (-), CRT < 2 detik

PEMERIKSAAN PENUNJANG
GDS 412

PLANNING
a. Non Medikamentosa
Kie tentang penyakit, terapi farmakologi dan non farmakologi, gaya hidup sehat, diet sehat,
komplikasi, olahraga teratur dan perbanyak aktivitas fisik, konsumsi obat teratur, kontrol
minggu depan untuk dilakukan evaluasi.
b. Medikamentosa
- Metformin 1x500 mg PO
Monitoring: memperhatikan respon pasien saat dilakukan anamnesis dan pernjelasan tentang
penyakit Diabetes Mellitus tipe 2 mengenai terapi, pengelolaan, pencegahan, dan komplikasi.
Monitoring dan Evaluasi
Evaluasi: edukasi berjalan dengan baik, pasien mengerti dan memahami mengenai penjelasan
yang diberikan.

F6. Upaya Pengobatan Dasar


Tgl. Mulai Kegiatan 19 Mei 2020
Tgl. Akhir Kegiatan 19 Mei 2020
Judul Laporan Edukasi dan Pengobatan Pasien dengan Hipertensi di UPTD Puskesmas I Pekutatan
Hipertensi adalah kelainan sistem sirkulasi darah yang mengakibatkan peningkatan tekanan
darah diatas nilai normal atau tekanan darah ≥140/90 mmHg (Kemenkes.RI, 2014). Menurut
American Heart Association (AHA), penduduk Amerika yang berusia diatas 20 tahun
menderita hipertensi telah mencapai angka hingga 74,5 juta jiwa, namun hampir sekitar 90-
95% kasus tidak diketahui penyebabnya. Hipertensi merupakan silent killer dimana gejala
dapat bervariasi pada masing-masing individu dan hampir sama dengan gejala penyakit
lainnya. Gejala penyakit hipertensi adalah sakit kepala/rasa berat di tengkuk, mumet (vertigo),
jantung berdebar-debar, mudah Ielah, penglihatan kabur, telinga berdenging (tinnitus), dan
mimisan(Kemenkes.RI, 2014). Menurut WHO, hipertensi didefinisikan sebagai
keadaan tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik
≥90 mmHg. Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dibagi menjadi dua
golongan:
1. Hipertensi Esensial
Latar Belakang Hipertensi yang penyebabnya tidak diketahui (idiopatik), walaupun
dikaitkan dengan kombinasi faktor gaya hidup seperti kurang bergerak
(inaktivitas) dan pola makan. Terjadi pada sekitar 90% penderita
hipertensi (Kemenkes.RI, 2014).
2. Hipertensi Sekunder
Prevalensi hipertensi sekunder sekitar 5-8% dari seluruh penderita
hipertensi. Penyebab hipertensi sekunder yaitu ginjal (hipertensi renal),
penyakit endokrin dan obat.
Penatalaksanaan Hipertensi terbagi menjadi tatalaksana farmakologis dan nonfarmakologis.
Terapi nonfarmakologis berupa Penurunan berat badan, Mengurangi asupan
garam, Olah raga, Mengurangi konsumsi alcohol, serta Berhenti merokok.
Terapi farmakologis disesuaikan dengan kondisi pasien, mulai dari usia
hingga penyakit penyerta lainnya.
1) Masih rendahnya pemahaman masyarakat mengenai perjalanan penyakit, pencegahan,
penyulit, dan penatalaksanaan Hipertensi.
Permasalahan
2) Masih rendahnya kesadaran pasien dengan Hipertensi dalam keteraturan mengkonsumsi
obat dan pengaturan pola hidup guna mengontrol tekanan darah.
Perencanaan Laporan ini disusun berdasarkan data pasien yang datang ke Poli Lansia UPTD. Puskesmas I
Pekutatan dengan tekanan darah yang memenuhi kriteria hipertensi. Metode intervensi yang
digunakan adalah:
1) anamnesis
2) pemeriksaan fisik sederhana
3) menyampaikan hasil pemeriksaan fisik
4) menyampaikan hasil dagnosa, rencana terapi, dan edukasi mengenai pengetahuan dasar
penyakit, penegahan, dan pengendalian penyakit.
WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN
Tanggal: 19 Mei 2020
Waktu: 09.00 WITA
Tempat: Poli Lansia UPTD. Puskesmas I Pekutatan

ANAMNESIS
Pasien datang dengan keluhan nyeri kepala bagian belakang sejak 2 hari yang
lalu. Pasien Riwayat Hipertensi dengan tekanan darah tertinggi hingga 200,
terakhir minum obat sebulan yang lalu karena merasa sudah sembuh. Nyeri
dada (-), mual/muntah -/-. Obat yang diminum sebelumnya adalah captopril
1x25 mg
Alergi: tidak ada
RPD: Hipertensi tidak terkontrol
RPK: tidak ada

PEMERIKSAAN FISIK
Status Present
Kesadaran: CM
TD: 160/100
N: 88
Pelaksanaan RR: 20
Tax: 36,5
SpO2: 98% udara ruangan

Status General
Kepala: Normocepali
Mata: konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-), reflex pupil (+/+) isokor, mata cowong (-)
THT: kesan tenang, bibir sianosis (-)
Thorax: simetris, retraksi (-)
Cor: S1 S2 normal, regular, murmur (-)
Pulmo: vesikuler, rhonki (-/-), wheezing (-/-)
Abdomen: distensi (-), bising usus (+) normal, hepar dan lien tidak teraba
Ekstremitas: hangat (+/+), edema (-/-), sianosis (-), CRT < 2 detik

PLANNING
a. Non Medikamentosa
Kie tentang penyakit, terapi farmakologi dan non farmakologi, gaya hidup sehat, diet sehat,
komplikasi, olahraga teratur dan perbanyak aktivitas fisik, konsumsi obat teratur, kontrol
minggu depan untuk dilakukan evaluasi.
b. Medikamentosa
- Paracetamol tablet 3x500mg
- Captopril 2x25 mg
Monitoring: memperhatikan respon pasien saat dilakukan anamnesis dan pernjelasan tentang
penyakit Hipertensi mengenai terapi, pengelolaan, pencegahan, dan komplikasi.
Monitoring dan Evaluasi
Evaluasi: edukasi berjalan dengan baik, pasien mengerti dan memahami mengenai penjelasan
yang diberikan.
F6. Upaya Pengobatan Dasar
Tgl. Mulai Kegiatan 12 Juni 2020
Tgl. Akhir Kegiatan 12 Juni 2020
Edukasi dan Pengobatan Pasien dengan Hiperurisemia dan Gout Arthritis di UPTD
Judul Laporan
Puskesmas I Pekutatan
Hiperurisemia adalah keadaan dimana terjadi peningkatan kadar asam urat serum di atas
normal. Pada sebagian besar penelitian epidemiologi, disebut sebagai hiperurisemia jika kadar
asam urat serum orang dewasa lebih dari 7,0 mg/dl dan lebih dari 6,0 mg/dl pada perempuan.
Hiperurisemia yang lama dapat merusak sendi, jaringan lunak dan ginjal. Hiperurisemia bisa
juga tidak menampakkan gejala klinis/ asimptomatis. Dua pertiga dari hiperurisemia tidak
menampakkan gejala klinis. Hiperurisemia terjadi akibat peningkatan produksi asam urat
karena diet tinggi purin atau penurunan ekskresi karena pemecahaan asam nukleat yang
berlebihan atau sering merupakan kombinasi keduanya.
Sedangkan gout (pirai) adalah penyakit yang sering ditemukan, merupakan kelompok
penyakit heterogen sebagai akibat deposisi kristal monosodium urat pada jaringan, akibat
gangguan metabolism berupa hiperurisemia. Manifestasi klinik deposisi urat meliputi artritis
Latar Belakang
gout, akumulasi kristal di jaringan yang merusak tulang (tofus), batu urat, dan nefropati gout.
Penyakit ini dapat di kelompokkan menjadi bentuk gout primer yang umumnya terjadi (90%
kasus) penyebabnya tidak diketahui dengan jelas, tapi di perkirakan akibat kelainan proses
metabolisme dalam tubuh, tapi yang pasti ada hubungannya dengan obesitas, hipertensi,
dislipidemia, dan diabetes melitus. Gout umumnya di alami oleh laki – laki berusia lebih dari
30 tahun. Sedangkan gout sekunder (10% kasus) di alami oleh wanita setelah menopause
karena gangguan hormon.
Gout arthritis dapat menyebabkan gangguan aktivitas penderitanya sehingga dikhawatirkan
akan menyebabkan penurunan kualitas hidup. Dengan lebih memahami megenai Gout
Arthritis, masyarakat diharapkan mampun mencegah dan memperlambat progresivitas Gout
Arthritis dengan menjaga pola hidup sehingga tercapai kualitas hidup yang baik.
1) Masih rendahnya pemahaman masyarakat mengenai perjalanan penyakit, pencegahan,
penyulit, dan penatalaksanaan Gout Arthritis.
Permasalahan
2) Masih rendahnya kesadaran pasien dengan Gout Arthritis dalam keteraturan
mengkonsumsi obat dan pengaturan pola hidup guna mengontrol kadar asam urat.
Laporan ini disusun berdasarkan data pasien yang datang ke Balai Pengobatan UPTD
Puskesmas I Pekutatan dengan keluhan nyeri pada kedua jempol kaki sejak 6 bulan serta
munculnya benjolan pada mata kaki dan ruas-ruas jari kaki. Metode intervensi yang
digunakan adalah:
Perencanaan 1) anamnesis
2) pemeriksaan fisik sederhana dan pemeriksaan penunjang terhadap pasien
3) menyampaikan hasil pemeriksaan fisik dan penunjang
4) menyampaikan hasil dagnosa, rencana terapi, dan edukasi mengenai pengetahuan dasar
penyakit, penegahan, dan pengendalian penyakit.
Pelaksanaan WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN
Tanggal: 12 Juni 2020
Waktu: 09.00 WITA
Tempat: Balai Pengobatan UPTD Puskesmas I Pekutatan

ANAMNESIS
Pasien datang ke Poli Lansia dengan keluhan nyeri pada kedua jempol kaki sejak 6 bulan.
Pasien juga mengeluh muncul benjolan pada mata kaki dan ruas-ruas jari kaki. Keluhan
tersebut dirasakan semakin lama semakin memberat. Pasien sempat mengonsumsi obat
penghilang rasa nyeri yang dibeli di apotek dan keluhan dikatakan berkurang sebentar namun
muncul kembali setelah beberapa saat. Pasien belum sempat berobat ke dokter ataupun bidan
praktek swasta.
Alergi: tidak ada
RPD: tidak ada
RPK: tidak ada
RS: pasien merasa kesulitan melakukan aktivitas akibat rasa nyeri yang dirasakan. Pasien
gemar mengonsumsi tahu, tempe, dan kacang-kacangan

PEMERIKSAAN FISIK
Status Present
Kesadaran: CM
TD: 120/70 mmHg
Nadi: 75 kali/menit
RR: 18 kali/menit
Tax: 36,3oC
SpO2: 98% udara ruangan
VAS : 2/10

Status General
Kepala: Normocepali
Mata: konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-), reflex pupil (+/+) isokor, mata cowong (-)
THT: kesan tenang, bibir sianosis (-)
Thorax: simetris, retraksi (-)
Cor: S1 S2 normal, regular, murmur (-)
Pulmo: vesikuler, rhonki (-/-), wheezing (-/-)
Abdomen: distensi (-), bising usus (+) normal, hepar dan lien tidak teraba
Ekstremitas: hangat (+/+), edema (-/-), sianosis (-), CRT < 2 detik

St Lokalis:
Maleolus Dextra et Sinistra, Digiti III Pedis D, Digiti II et IV Pedis S: tampak multiple tofus,
hiperemi +. Edema +, teraba hangat +

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Asam urat 8,2

PLANNING
a. Non Medikamentosa
Kie tentang penyakit, terapi farmakologi dan non farmakologi, gaya hidup sehat, diet sehat
rendah purin, olahraga teratur dan perbanyak aktivitas fisik, konsumsi obat teratur, kontrol
minggu depan untuk dilakukan evaluasi.
b. Medikamentosa
- Allopurinol 1x100 mg PO
- Asam mefenamat 3x500mg PO
- Vit B complex 1x1 tab PO
Monitoring: memperhatikan respon pasien saat dilakukan anamnesis dan pernjelasan tentang
penyakit Gout Arthritis mengenai terapi, pengelolaan, pencegahan, dan komplikasi.
Monitoring dan Evaluasi
Evaluasi: edukasi berjalan dengan baik, pasien mengerti dan memahami mengenai penjelasan
yang diberikan.
F6.4 Upaya Pengobatan Dasar
Tgl. Mulai Kegiatan 5 Mei 2020
Tgl. Akhir Kegiatan 5 Mei 2020
Judul Laporan Pengobatan Dasar pada Pasien dengan Otitis Media
Infeksi saluran telinga meliputi, infeksi saluran telinga luar (otitis eksterna), saluran
telinga tengah (otitis media), mastoid (mastoiditis) dan telinga bagian dalam
(labyrinthitis). Otitis media, suatu inflamasi telinga tengah berhubungan dengan efusi
telinga tengah, yang merupakan penumpukan cairan ditelinga tengah. Otorrhea
merupakan discharge telinga yang dapat berasal dari membran timpani. Otitis media
Latar Belakang
diklasifikasikan berdasarkan gejala klinis, otoskopi, lama sakit dan komplikasi. Otitis
media terjadi karena aerasi telinga tengah yang terganggu, biasanya disebabkan
karena fungsi tuba eustakius yang terganggu. Diagnosis dan tatalaksana yang benar
sangatlah penting, karena otitis media merupakan penyakit yang sering ditemukan
dan dapat menyebabkan komplikasi penyebaran infeksi sampai ke intrakranial.
Pasien datang ke Balai Pengobatan PKM dengan keluhan telinga kiri berdengung dan
kelar cairan yang dirasakan sejak 3 hari yang lalu. Cairan yang keluar dari telinga
berwarna kekuningan dan tidak berbau. Pendengaran telinga kiri dikatakan menurun.
Pasien sebelumnya mengeluh pilek dan batuk sejak 3 hari yang lalu. Demam tidak
ada.
Permasalahan
Riwayat mengorek telinga dikatakan tidak ada.
Alergi: tidak ada
RPD: tidak ada
RPK: tidak ada
RS: pasien masih bisa melakukan aktivitas. Merokok (-).
Metode intervensi yang digunakan adalah:
1) anamnesis
2) pemeriksaan fisik sederhana
Perencanaan
3) menyampaikan hasil pemeriksaan fisik
4) menyampaikan hasil dagnosa, rencana terapi, dan edukasi mengenai pengetahuan
dasar penyakit, penegahan, dan pengendalian penyakit.
Pelaksanaan WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN
Tanggal: 5 Mei 2020
Waktu: 09.00 WITA
Tempat: Poliklinik UPTD Puskesmas I Pekutatan

Pasien datang dengan menyampaikan keluhan yang ada. Kemudian dilakukan


pemeriksaan tanda vital dan status generalis dengan hasil dalam batas normal.

Dilakukan pemeriksaan pada kedua kedua telinga::


Telinga:
- Daun telinga: normal/normal
- Liang telinga: lapang/lapang
- Discharge: -/+ warna bening
- Membran timfani: intak/perforasi
- Mastoid: normal/normal
Hidung:
- Hidung luar: normal/normal
- Kavum nasi: normal/normal
- Septum: tidak ada deviasi
- Mukosa: hiperemi/hiperemi
- Konka: kongesti/kongesti
- Sinus: tidak dievaluasi
Tenggorok:
- Tonsil: T1/T1, hiperemi (-), mukosa rata
Faring: hiperemi (-)

Selanjutnya pasien didiagnosis dengan Hipertensi dan diberikan pengobatan berupa:


a. Non Medikamentosa
Kie tentang penyakit,, terapi farmakologi dan non farmakologi, gaya hidup sehat,
KIE jangan mengorek telinga terlalu dalam dan minum obat sesuai anjuran.
b. Medikamentosa
- Ear toilet
- Cefadroxil 2x500 mg PO
- Ambroxol 3x30 mg PO
- CTM 3x4 mg PO
Monitoring: memperhatikan respon pasien saat dilakukan anamnesis dan pernjelasan
tentang penyakit otitis media akut mengenai terapi, pengelolaan, pencegahan, dan
Monitoring dan Evaluasi komplikasi.
Evaluasi: edukasi berjalan dengan baik, pasien mengerti dan memahami mengenai
penjelasan yang diberikan.

F6.5 Upaya Pengobatan Dasar


Tgl. Mulai Kegiatan 11 Mei 2020
Tgl. Akhir Kegiatan 11 Mei 2020
Judul Laporan Pengobatan Dasar pada Pasien dengan Asma Bronkial
Angka kejadian penyakit alergi akhir-akhir ini meningkatsejalan dengan perubahan
pola hidup masyarakat modern, polusi baik lingkungan maupun zat-zat yang ada di
dalam makanan. Salah satu penyakit alergi yang banyak terjadi di masyarakat adalah
penyakit asma. Asma merupakan penyakit inflamasi kronis saluran napas yang
ditandai dengan mengi episodik, batuk, dan sesak di dada akibat penyumbatansaluran
napas. Dalam 30 tahun terakhir prevalensi asma terus meningkatterutama di negara
maju. Peningkatan terjadi juga di negara-negara Asia Pasifik seperti Indonesia. Studi
di Asia Pasifik baru-baru inimenunjukkan bahwa tingkat tidak masuk kerja akibat
Latar Belakang
asma jauh lebihtinggi dibandingkan dengan di Amerika Serikat dan Eropa. Hampir
separuh dari seluruh pasien asma pernah dirawat di rumah sakit danmelakukan
kunjungan kebagian gawat darurat setiap tahunnya. Haltersebut disebabkan
manajemen dan pengobatan asma yang masih jauhdari pedoman yang
direkomendasikan Global Initiative for Asthma(GINA).
Asma masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius diseluruh dunia.
Prevalensi asma menurut laporan Word HealthOrganization (WHO) tahun 2013, saat
ini sekitar 235 juta penduduk dunia terkena penyakit asma.
Pasien datang ke Poliklinik PKM dengan keluhan sesak nafas yang dirasakan sejak 2
hari sebelumnya. Sesak nafas semakin memberat. Pasien mengatakan sesak
bertambah berat pada malam atau dini hari. Saat bernafas, dikatakan terdengar suara
ngik-ngik. Keluhan lain, pasien juga mengalami batuk dan pilek. Demam tidak ada.
Permasalahan
Alergi: debu
RPD: pasien memiliki riwayat asma sejak kecil.
RPK: ibu pasien dikatakan menderita asma
RS: pasien masih bisa melakukan aktivitas. Merokok (-).
Metode intervensi yang digunakan adalah:
1) anamnesis
2) pemeriksaan fisik sederhana
Perencanaan
3) menyampaikan hasil pemeriksaan fisik
4) menyampaikan hasil dagnosa, rencana terapi, dan edukasi mengenai pengetahuan
dasar penyakit, pencegahan, dan pengendalian penyakit.
Pelaksanaan WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN
Tanggal: 11 Mei 2020
Waktu: 09.00 WITA
Tempat: Poliklinik UPTD Puskesmas I Pekutatan

Pasien datang dengan menyampaikan keluhan yang ada. Kemudian dilakukan


pemeriksaan tanda vital dan status generalis dengan hasil:
TD: 110/70, N 90. RR 24, S 36,6, SpO2 95%
THT: sianosis (-), NCH (-)
Cor: S1 S2 normal, regular, murmur (-)
Pulmo: veskuler, wh +/+, rh -/-

Selanjutnya pasien didiagnosis dengan Asma Bronkial dan diberikan pengobatan


berupa:
a. Non Medikamentosa
Kie tentang penyakit, terapi farmakologi dan non farmakologi, gaya hidup sehat,
hindari factor pencetus seperti debu dan cuaca dingin.
b. Medikamentosa
- Nebulisasi Combivent 1 resp + 2cc NaCl
- Salbutamol 3x4 mg PO
- Metil prednisolone 3x4 mg PO
- Ambroxol 3x30 mg PO
- Cetirizine 1x10 mg PO
Monitoring: memperhatikan respon pasien saat dilakukan anamnesis dan pernjelasan
tentang penyakit otitis media akut mengenai terapi, pengelolaan, pencegahan, dan
Monitoring dan Evaluasi komplikasi.
Evaluasi: edukasi berjalan dengan baik, pasien mengerti dan memahami mengenai
penjelasan yang diberikan.