RASIONALITAS PERESEPAN ANTIBIOTIKA PADA BALITA DENGAN PNEUMONIA DI PUSKESMAS PEKAUMAN KOTA BANJARMASIN JULI – OKTOBER 2009

Artikel ilmiah untuk memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan program sarjana strata-1 Farmasi

Oleh Lailan Sufinah NIM J1E106018

PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARBARU JULI 2010

76%).07%. untuk tepat pemilihan obat 100%. in Puskesmas Pekauman Banjarmasin July-October 2009.04%) are irrational. Untuk itu.Pd. Apt. tepat cara pemberian 100%.04%. dan sebanyak 65 resep (89. penggunaan antibiotik yang rasional didapatkan sebanyak 8 resep (10.03%). rationality largest antibiotic on a medical doctor (16%). dan penyebab terbesar ketidakrasionalan yakni kriteria tepat lama pemberian 15. Based on the antibiotic’s type. the rational use of antibiotic prescription was found 8 recipes (10. antibiotics prescribing. peresepan antibiotik yang rasional oleh tenaga kesehatan sangat diperlukan. pneumonia.76%). most caused by pneumonia.RASIONALITAS PERESEPAN ANTIBIOTIKA PADA BALITA DENGAN PNEUMONIA DI PUSKESMAS PEKAUMAN KOTA BANJARMASIN JULI – OKTOBER 2009 Lailan Sufinah. cotrimoksazol 21 resep (28. rasionalitas antibiotika terbesar ada pada dokter umum (16%). exactly the way giving 100%.95%). balita. giving dose exactly is 75. Syamsul Arifin. Data disajikan dalam bentuk tabel frekuensi. Untuk penelitian selanjutnya dapat disarankan penambahan kriteria kerasionalan agar hasil yang didapatkan lebih baik dan akurat. M.07%. cefadroksil 16 recipes (21. tepat interval waktu 89. nurse (6..04%) tidak rasional.04%. tepat pemberian dosis 75. Teknik pengambilan sampel purposive sampling terhadap resep antibiotik pada balita dengan pneumonia. Metode penelitian ini bersifat deskriptif dengan mengeksplorasi rasionalitas peresepan antibiotik pada balita dengan pneumonia.37%). yang terbanyak disebabkan oleh pneumonia. toddler. di Puskesmas Pekauman Kota Banjarmasin bulan Juli-Oktober 2009. Kata kunci : rasionalitas. amoxicillin 35 resep (47. perawat (6. Program Studi Farmasi.A. cotrimoksazol 21 recipes (28. didapatkan 73 sampel. The results showed that the percentage based on the criteria of rationality. Therefore.34%. berdasarkan karakteristik penulis resep. peresepan antibiotika. Based on prescriber characteristics. rational antibiotic prescribing by health workers is needed. dan bidan (3. and the biggest causes of irrational is the exact duration of giving is 15. Data presented in the form of frequency table.96%). dan eritromisin 1 resep (1. Jl.FRS. Rationality percentage based on criteria.95%).34%. cefadroksil 16 resep (21.92%). for choosing drug exactly is 100%. the exact interval is 89. Ida Widyani. Dra.37%). Berdasarkan jenis antibiotiknya. Purposive sampling technique sampling of antibiotic prescriptions in infants with pneumonia. Yani Km 36 Kampus Unlam Banjarbaru Kalsel ABSTRAK ISPA masih merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian di Indonesia.67%) and midwife (3. dr.03%). and erythromycin 1 recipe (1. Fakultas MIPA Unlam. amoxicillin 35 recipes (47. Sp.67%). . ‘ . Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kerasionalan penggunaan antibiotika pada balita dengan pneumonia. Dari kriteria di atas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentasi kerasionalan berdasarkan kriteria. and 65 recipes (89. pneumonia.96%). For further research can be suggested additional criteria for rationality that the results obtained better and more accurate Keywords : rationality. ARI is still the biggest cause of painfulness and death of toddler in Indonesia. had got 73 samples. Purpose of this study is to determine rationality of prescribing antibiotics for toddler with pneumonia.92%). This descriptive research methods to explore the rationality of prescribing antibiotics for toddler with pneumonia.

dan mutu pelayanan kesehatan. sepanjang tahun 2009 sedikitnya tercatat kasus pneumonia sebesar 4. dapat dipantau dan dinilai apakah kenyataan praktek penggunaan obat yang dilakukan telah sesuai dengan pedoman pengobatan yang disepakati (Departemen Kesehatan Republik Indonesia.PENDAHULUAN Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian balita di Indonesia. Penggunaan obat rasional penting untuk menjamin akses obat. 2002). keterjangkauannya. dengan jumlah penderita terbanyak di wilayah Kota Banjarmasin (Susanto. 2006) Berdasarkan latar belakang di atas. Diperkirakan kematian akibat pneumonia sebagai penyebab utama infeksi saluran pernapasan akut di Indonesia. Menurut catatan Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan. dan persentase kerasionalan antibiotika berdasarkan penulis resep. persentase peresepan antibiotika berdasarkan jenisnya. semuanya dilakukan pada resep balita dengan pneumonia di Puskesmas Pekauman JuliOktober 2009.130 balita dan 59. 2009).590 orang. khususnya pada rentang Juli hingga Oktober 2009 (Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin.460 di atas usia lima tahun. ketersediaan. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui kerasionalan peresepan antibiotika pada balita dengan pneumonia di Puskesmas Pekauman Kota Banjarmasin bulan Juli-Oktober 2009. Dari 26 puskesmas yang terdapat di Kota Banjarmasin. Jumlah penderita ISPA di 13 kabupaten/kota di provinsi Kalimantan Selatan ini tercatat mencapai 111. . sepanjang 2009 tercatat 5 balita meninggal akibat serangan ISPA. 2009). maka perumusan masalah pada penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya persentase peresepan antibiotika yang rasional. Puskesmas Pekauman merupakan puskesmas yang menduduki peringkat pertama dalam jumlah kasus ISPA pneumonia anak dan balita.869 kasus. terdiri dari 52. Berdasarkan total jumlah kasus yang dihimpun dari seluruh puskesmas di Banjarmasin ini. yakni mencapai 6 kasus di antara 1000 bayi dan balita (Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Dari jumlah kasus pneumonia yang ada.

Instrumen pada penelitian ini berupa blanko isian yang memuat tabel analisis data kerasionalan obat. 2008). Kriteria antara lain resep dapat dibaca dan memuat : nama obat. Mendapatkan besarnya persentase peresepan antibiotika berdasarkan jenisnya pada balita dengan pneumonia di Puskesmas Pekauman Kota Banjarmasin bulan Juli-Oktober 2009. Sampel penelitian merupakan resep untuk balita dengan pneumonia di Puskesmas Pekauman Juli-Oktober 2009 yang memenuhi kriteria yang telah ditentukan. Mendapatkan besarnya persentase peresepan antibiotika berdasarkan karakteristik penulis resep pada tingkat pendidikannya dan berdasar kriteria kerasionalan pada balita dengan pneumonia di Puskesmas Pekauman Kota Banjarmasin bulan Juli-Oktober 2009. yakni studi mengenai suatu penyakit pada manusia atau masyarakat menurut karakteristik orang yang menderita (person). Adapun variabel pada penelitian ini yaitu rasionalitas peresepan antibiotika pada balita dengan pneumonia. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di apotik Puskesmas Pekauman Kota Banjarmasin. jumlah obat. dengan data yang diambil dari Juli sampai dengan bulan Oktober 2009. dan data berat badan pasien. 2. aturan minum obat. Desain Penelitian Desain penelitian dilakukan dengan mengeksplorasi rasionalitas peresepan antibiotik pada balita dengan pneumonia. dosis obat. Mendapatkan persentase kerasionalan peresepan antibiotika pada balita dengan pneumonia dilihat dari aspek kriteria kerasionalannya di Puskesmas Pekauman Kota Banjarmasin bulan Juli-Oktober 2009. . METODOLOGI Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah survey deskriptif. Populasi dan Sampel Populasi penelitian ini adalah semua jenis resep antibiotik untuk balita dengan pneumonia di Puskesmas Pekauman Juli-Oktober 2009. tempat kejadian (place) dan waktu terjadinya (time) penyakit (Chandra. 3.Secara khusus penelitian ini bertujuan: 1.

nama pasien. Dirinci lagi berdasarkan masing-masing kriterianya.66 0 0 8 10. kerasionalan peresepan antibiotika pada balita dengan pneumonia dapat dilihat di tabel 1 berikut : No 1 2 3 4 5 Kriteria Kerasionalan Tepat pemilihan obat Tepat pemberian dosis Tepat cara pemberian Tepat interval waktu pemberian Tepat lama pemberian Rasional Jumlah Persentase resep (%) 73 100 55 75. Ini dikarenakan lama pemberian yang seharusnya berkisar 10-14 hari banyak yang tidak dipenuhi . didapatkan persentasi resep pneumonia pada balita yang rasional berdasarkan kriteria-kriteria yang telah ditentukan sebanyak 10.Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan cara pencatatan langsung setiap resep pada balita dengan pneumonia yang memenuhi kriteria di Puskesmas Pekauman Kota Banjarmasin pada bulan Juli-Oktober 2009. Pengolahan Data Pengolahan data penelitian dilakukan secara manual yaitu dengan menghitung persentase untuk tiap-tiap data yang diinginkan Analisis Data Analisis data dilakukan dengan memasukkan data ke dalam tabel analisis. dan tepat lama pemberian/TLP). Tabel analisis terdiri dari delapan kolom yang memuat antara lain : nomor dan tanggal.04 % (65 resep).96 Tidak rasional Jumlah Persentase resep (%) 0 0 18 24.96 % (8 resep). diagnosa. kriteria rasionalitas (tepat pemilihan obat/TPO. dan penilaian (rasional atau tidak rasional). tepat cara pemberian/TCP.34 73 100 65 89. sedangkan resep yang tidak rasional sebanya 89. HASIL DAN PEMBAHASAN Rasionalitas Peresepan Antibiotika pada Balita dengan Pneumonia Hasil penelitian dari 73 resep yang dijadikan sampel.04 8 10.04 Tabel 1 Persentase Kerasionalan Peresepan Antibiotika pada Balita dengan Pneumonia di Puskesmas Pekauman Kota Banjarmasin Juli-Oktober 2009 berdasarkan kriteria kerasionalan Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar faktor yang berperan dalam tidak rasionalnya peresepan antibiotika adalah tepat lama pemberian. berat badan.96 65 89. tepat interval waktu pemberian/TIW. resep. tepat pemberian dosis/TPD. usia.

Jumlah yang besar ini diikuti oleh cotrimoksazol. Besar persentasenya dapat dilihat pada gambar berikut : 1. selain itu kunjungan pasien tidak diketahui apakah kunjungan baru atau lama sehingga penajaman analisis kurang dapat dilakukan. ternyata diketahui penggunaan antibiotik terbesar adalah amoxicillin. diikuti dengan cotrimoksazol. cefadroxyl. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya ketersediaan obat.76% Amoxicillin Cotrimoksazol Cefadroxyl Eritromisin 21. dokter hewan kepada apoteker untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi pasien sesuai peraturan perundangan yang berlaku. bahwa pada sampel resep yang diteliti sebagian besar memberikan antibiotik amoxicillin untuk mengatasi ISPA pneumonia pada balita. Sedangkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. dan eritromisin. maka ketersediaan obat yang baik juga dapat ditingkatkan. sehingga jika dapat berjalan dengan baik. Ketersediaan obat di puskesmas ini dipengaruhi oleh perencanaan suplai obat yang akan diterima. cefadroxyl.92% Gambar 1. Perencanaan ini seharusnya lebih diperhatikan.95% 28.37% 47. Karakteristik Penulis Resep yang Terlibat dalam Peresepan Antibiotik Keputusan Menteri Kesehatan No.pasien. Persentase Peresepan Antibiotik Berdasarkan Jenisnya pada Balita dengan Pneumonia di Puskesmas Pekauman Kota Banjarmasin Juli-Oktober 2009 Data di atas menunjukkan. baru kemudian eritromisin. resep adalah permintaan tertulis dari dokter. 512/MENKES/PER/IV/2007 . Rasionalitas Peresepan Antibiotik Berdasarkan Jenisnya Setelah 73 sampel dianalisis. dokter gigi. Faktor ketersediaan obat biasanya berpengaruh pada jumlah antibiotik yang diberikan pada pasien. 1027/MENKES/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek.

dibandingkan dengan perawat dan bidan. Di sini dapat dilihat. dapat memberikan suatu tindak pengobatan.33 % 32 96. bahwa tingkat pendidikan mempengaruhi besarnya pemahaman tiap-tiap profesi dalam mengaplikasikan ilmu yang didapatkannya dalam pelayanan kesehatan yang dilaksanakannya sehari-hari. Rasionalitas peresepan antibiotik dari karakteristik penulis resep di Puskesmas Pekauman Kota Banjarmasin berdasarkan tingkat pendidikannya ditampilkan dalam tabel 2 berikut ini : Tabel 2 Persentasi Rasionalitas Peresepan Antibiotika pada Balita dengan ISPA Pneumonia di Puskesmas Pekauman Kota Banjarmasin Juli-Oktober 2009 Rasional No. asalkan didasari oleh adanya surat pelimpahan. di mana isinya yakni : “Dokter dan dokter gigi dapat memberikan pelimpahan suatu tindakan kedokteran atau kedokteran gigi kepada perawat.03 % Tidak rasional Jumlah Persentase sampel 21 84 % 14 93.97 % 67 Total 73 sampel yang dianalisis berdasarkan tingkat pendidikan. 3. Hal ini disebabkan karena pemahaman profesi dokter lebih tinggi mengenai informasi-informasi obat yang sesuai indikasi dan penggunaannya dalam peresepannya. khususnya pasal 15. 2.tentang Izin Praktik dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran. salah satunya peresepan. Dalam karakteristik ini cukup jelas. bidan atau tenaga kesehatan tertentu lainnya secara tertulis dalam melaksanakan tindakan kedokteran atau kedokteran gigi. Tingkat Pendidikan Dokter Umum D III Keperawatan D I Kebidanan Jumlah Jumlah sampel 4 1 1 6 Persentase 16 % 6. tenaga kesehatan lainnya yakni perawat dan bidan. 1. kerasionalan terbesar pada kriteria tenaga kesehatan adalah dengan tingkat pendidikan Dokter Umum. bahwa selain dokter.67 % 3. dibandingkan dengan tenaga kesehatan lainnya (perawat dan bidan). Besar analisis kerasionalan peresepan antibiotika setiap penulis resep berdasarkan kriteria kerasionalan yang telah ditentukan ditampilkan dalam gambar 2 berikut ini : .

Dokter Umum 100% 100% 50% 0% 0% TPO TPD TCP TIW TLP 100% 96% 64% 36% 0% 4% 0% 72% 28% 100% 100% 50% 0% Perawat 80% 100%100% 93% 20% 0% 0% 7% TPO TPD TCP TIW TLP Perawat 100% 100% 80% 60% 40% 20% 0% TPO TPD TCP TIW TLP 18% 0% 0% 21% 9% 82% 100% 79% 91% Rasional Tidak Rasional Gambar 2 Analisis kerasionalan peresepan antibiotika setiap penulis resep berdasarkan lima kriteria kerasionalan Faktor ketidakrasionalan dari resep yang ditulis oleh dokter terbanyak ditemukan pada kriteria tepat lama pemberian. Analisis kerasionalan terbesar setelah dokter umum adalah perawat. Diantaranya adalah pengalaman kerja yang lebih banyak. sedangkan bidan hanya DI . Hal ini dapat terjadi karena faktor ketersediaan obat yang dapat menyebabkan pasien mendapat antibiotik yang berbeda sehingga lama pengobatan tidak sesuai. Hal ini biasanya dapat dipengaruhi oleh banyak faktor. kemudian bidan. dimana di Puskesmas Pekauman ini perawat yang bertugas adalah DIII keperawatan. untuk datang berobat kembali setelah antibiotik yang diberikan habis. dan tingkat pendidikan yang lebih tinggi. masa kerja yang lebih lama. Faktor lainnya adalah kurangnya informasi dari tenaga kesehatan pada pasien.

92 %. Ida Widyani.kebidanan. 2.67 %. Perbedaan ini tentunya juga mencakup dalam pengetahuan dan keilmuan yang dimiliki oleh masing-masing profesi. dan Ibu Dra.04 %.Kes. dan faktor terbesar penyebab ketidakrasionalan yakni kriteria tepat lama pemberian sebesar 15. Syaiful Bahri L. Teman-teman tim Farmasi Masyarakat selaku partner selama melakukan penelitian.Pd.. selaku dosen pembimbing. cotrimoksazol sebesar 28.. 3. Persentase penggunaan antibiotik berdasarkan jenisnya pada balita dengan ISPA pneumonia di Puskesmas Pekauman Kota Banjarmasin Juli-Oktober 2009 adalah amoxicillin sebesar 47. Apt. KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat di peroleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Bapak H. Sp.04%. Persentase penggunaan antibiotik pada balita dengan ISPA pneumonia di Puskesmas Pekauman Kota Banjarmasin Juli – Oktober 2009 yang rasional sebesar 10. tepat pemberian obat sebesar 100%. cefadroxyl sebesar 21. M.FRS. dan eritromisin sebesar 1. selaku dosen penguji. S.37 %. Muslim.. UCAPAN TERIMAKASIH 1. M. Berdasarkan kriteria kerasionalan yakni tepat pemilihan obat sebesar 100%. Syamsul Arifin. pemberian dosis sebesar 75. Apt. Bapak Drs.03 %. Bapak dr.. tepat interval waktu pemberian sebesar 89. tepat. perawat sebesar 6. 2.Si.34%. dan bidan sebesar 3.76 %. dan yang tidak rasional sebesar 89. Persentase penggunaan antibiotik berdasarkan karakteristik penulis resep pada balita dengan ISPA pneumonia di Puskesmas Pekauman Kota Banjarmasin Juli – Oktober 2009 yang rasional adalah pada dokter umum sebesar16 %.95 %..07%. Apt. 3. . Keluarga yang selalu memberikan dukungan tiada henti. dan Bapak Hari Setyanto.M. 4.96 %.

Data Rekapitulasi Penyakit ISPA per Puskesmas se-Kota Banjarmasin Januari-Oktober tahun 2009. Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin.com/read/2009/08/08/90081/127/101/IspaTewaskan-Lima-Balita-di-Kalsel diakses tanggal 9 November 2009. 2009. 2008.mediaindonesia. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Denny. Penerbit Buku Departemen Kesehatan RI. Pedoman Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut untuk Penanggulangan Pneumonia Balita. Jakarta. ISPA Tewaskan 5 Balita di Kalsel. Banjarmasin. Modul Pelatihan Penggunaan Obat Rasional. Budiman. 2002. .REFERENSI Chandra. Metodologi Penelitian Kesehatan. http://www. Jakarta. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. 2006.2009. Kedokteran EGC. Susanto.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful