Anda di halaman 1dari 8

PHARMACY, Vol 05 No 01 April 2007

ISSN1693-3591

POLA PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA


PADA INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT PNEUMONIA BALITA
PADA RAWAT JALAN PUSKESMAS I PURWAREJA KLAMPOK
KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2004
Indri Hapsari dan Ika Wahyu Budi Astuti
Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Purwokerto,
Jl. Raya DukuhwaluhPO Box 202, Purwokerto 53182

ABSTRAK

Infeksi saluran pernafasan akut merupakan salah satu penyebab tingginya angka kematian
dan kesakitan pada anak-anak terutama yang berusia dibawah lima tahun. Tujuan penelitian ini
untuk mengetahui kesesuaian pola penggunaan antibiotika pada infeksi saluran pernafasan akut
pneumonia balita dengan standar penatalaksanaan menurut Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. Pengambilan data menggunakan metode retrospektif terhadap kartu rekam medik
pasien infeksi saluran pernafasan akut pneumonia balita di Puskesmas I Purwareja Klampok
Kabupaten Banjarnegara. Metode analisisnya menggunakan metode deskriptif non analitik,
kemudian dibandingkan dengan standar penatalaksanaan yang ada di Puskesmas I Purwareja
Klampok Kabupaten Banjarnegara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 120 sampel pada
balita usia 0 59 bulan yang menderita infeksi saluran pernafasan akut pneumonia, sebanyak
55,8% anak laki-laki dan 44,2% anak perempuan. Antibiotika yang paling banyak digunakan
adalah kotrimoksazol sebanyak 86,7%, sedangkan amoksisilin sebanyak 13,3%. Penggunaan
antibiotika sudah sesuai dengan standar penatalaksanaan di Puskesmas I Purwareja Klampok
Kabupaten Banjarnegara menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Kata kunci: antibiotika, infeksi saluran pernafasan akut pneumonia, balita

ABSTRACT
Acute respiratory tract infection is the primary causing of children mortality and
painfulness. The aim of research is describes the accordance of the antibiotic which had been
used in balitas pneumonia acute respiratory tract infections with the standard of Health
Departement of Republic Indonesia management. The research is a retrospective research using
patients medical record card in Puskesmas I Purwareja Klampok Kabupaten Banjarnegara. To
analyze the datas which used descriptive method is non analytic, then compared with the
management in Puskesmas I Purwareja Klampok of Regency Banjarnegara. Result of research
indicates that 120 sample balita in age 0-59 month was suffered acute respiratory tract infection
pneumonia, 55,8% is boy and 44,2% girl. Antibiotics which had been used for acute respiratory
tract infections pneumonia balita is amoksisilin and kotrimoksazol. Antibiotic which is the most
used by kotrimoksazol (86,7%). The using of antibiotic in Puskesmas I Purwareja Klampok of

49

PHARMACY, Vol 05 No 01 April 2007

ISSN1693-3591

Regency of Banjarnegara had agreed to standard management of Health Departement of


Republic Indonesia.
Key words: antibiotic, acute respiratory tract infection pneumonia, balita, puskesmas

bahwa kasus infeksi saluran pernafasan

PENDAHULUAN
Infeksi saluran pernafasan saat

akut

di

Kabupaten

Banjarnegara

ini masih merupakan masalah kesehatan

merupakan penyakit nomor satu. Dari

utama. Pada banyak negara berkembang,

data

lebih dari 50% kematian terjadi pada

prosentase menunjukkan peningkatan

umur anak-anak di bawah lima tahun

kasus yang berarti dari tahun 1998 ke

(balita). Angka kematian balita akibat

tahun 1999, yaitu terjadi peningkatan

infeksi

di

kasus infeksi saluran pernafasan akut

Indonesia termasuk tinggi. Menurut

pada umur 1 4 tahun. Namun kasus

Departemen

pada

saluran

Indonesia

pernafasan

Kesehatan
pada

akhir

akut

Republik
tahun

menunjukkan

tahun

bahwa

2000

secara

menunjukkan

2000,

penurunan yang bermakna. Pada tahun

diperkirakan kematian akibat pneumonia

1998 (56,7%), tahun 1999 (62,6%), dan

sebagai penyebab utama infeksi saluran

tahun 2000 (36,99%) (Setyaningsih,

pernafasan akut di Indonesia mencapai

2001:42).

lima kasus di antara 1000 bayi dan


balita.

Artinya

pneumonia

Penanganan pengobatan kasus


infeksi

saluran

pernafasan

mengakibatkan 150 bayi atau balita

merupakan

meninggal tiap tahunnya atau 12500

pelayananan

korban per bulan atau 416 kasus sehari,

dengan dosis takar yang tepat sangat

atau 17 anak per jam atau seorang bayi

membantu

tiap menit (Hapsari, 2004:13)

penyembuhan. Dilaporkan di berbagai

Berdasarkan

data

kunci

akut

kesehatan.

proses

keberhasilan
Pemberian

percepatan

prosentase

negara bahwa anggaran yang diperlukan

penyakit infeksi saluran pernafasan akut

untuk pengadaan antibiotik, umumnya

pneumonia di Kabupaten Banjarnegara

mencapai lebih dari 40% anggaran

tahun 1998-2000, hasil pencatatan dan

keseluruhan. Antibiotik ialah zat yang

pelaporan

dihasilkan oleh mikroba, terutama fungi,

Puskesmas

menunjukkan

50

PHARMACY, Vol 05 No 01 April 2007

ISSN1693-3591

yang dapat menghambat pertumbuhan

yang mencakup jenis antibiotika,

atau mikroba jenis lain. Antibiotik

dosis,

digunakan untuk mengobati berbagai

sediaan, dan lama pemberian.

jenis infeksi, misalnya pada pembedahan


(Mutschler,

1991:236).

penggunaan

obat

cara

pemberian,

bentuk

2. Pasien balita adalah pasien dengan

Akibat

umur 0 59 bulan yang berkunjung

tidak

di Puskesmas I Purwareja, Klampok,

proporsional atau tepat dosis dalam

Kabupaten Banjarnegara pada pasien

pelayanan

rawat jalan dan tercatat dalam rekam

yang

pengobatan

selain

mengganggu proses penyembuhan, juga


secara

finansial

pemborosan,

terjadi

3. Infeksi

saluran

pernafasan

akut

mempengaruhi

adalah hasil diagnosis dokter dan

perencanaan pengadaan obat yang tidak

merupakan penyakit infeksi pada

sesuai kebutuhan yang sebenarnya.

saluran

pernafasan

bawah

yang

Salah

karena

akan

medik puskesmas.

satu

Puskesmas

di

atas

maupun

disebabkan

oleh

Kabupaten Banjarnegara dengan jumlah

masuknya kuman mikroorganisme

kunjungan

saluran

(bakteri dan virus) ke dalam organ

pernafasan akut pneumonia yang tinggi,

saluran pernafasan yang berlangsung

yaitu Puskesmas I Purwareja Klampok

selama 14 hari. Sedangkan proses

merupakan tempat yang perlu dilakukan

infeksi akut yang mengenai jaringan

penelitian untuk menggambarkan pola

paru-paru

penggunaan obat, terutama penggunaan

pneumonia.

antibiotika

pasien

terhadap

infeksi

infeksi

(alveoli)

dinamakan

saluran

4. Rekam medik adalah dokumen yang

pernafasan akut pneumonia balita pada

memberikan catatan tentang identitas

pasien rawat jalan di Puskesmas I

pasien,

Purwareja Klampok.

pasien, pengobatan, tindakan serta

diagnosis,

pelayanan

kesehatan

pemeriksaan

lain

pada

pasien.
METODOLOGI PENELITIAN
Batasan Operasional
1. Pola penggunaan antibiotika adalah
gambaran pemberian obat antibiotika

Prosedur Penelitian
Penelitian berlangsung dalam 2
tahap, sebagai berikut:
Tahap pertama

51

PHARMACY, Vol 05 No 01 April 2007

ISSN1693-3591

Yaitu pengumpulan data. Data diambil

Purwareja

Klampok

n (0,5) (0,5) 1,96


0,05

dari kartu rekam medik pada Puskesmas


Kabupaten

n 0,25 (1536,64)
n 384

Banjarnegara. Data yang diambil dari


sejumlah pasien balita periode Januari
sampai dengan Desember 2004 yang

Dengan demikian jumlah sampel

didiagnosis menderita infeksi saluran

minimum

pernafasan akut pneumonia. Data yang

adalah 384, tetapi jumlah sampel yang

diambil meliputi identitas responden

diambil dalam penelitian ini hanya 120.

(nama, jenis kelamin, umur), diagnosis,

Hal ini dikarenakan data rekam medik

gambaran

antibiotika

yang tersedia selama satu tahun untuk

berdasarkan diagnosis, cara pemberian,

pasien infeksi saluran pernafasan akut

dosis, lama penggunaan dan bentuk

pneumonia balita hanya 120 data rekam

sediaan.

medik.

penggunaan

Pengambilan
dilakukan

secara

simple

yang

seharusnya

diambil

sampel

Tahap kedua

random

yaitu pengelolaan data tentang pasien

sampling. Penentuan jumlah sampel

dan

pola

pemakaian

antibiotika

berdasarkan rumus Nawawi (1998:149-

berdasarkan standar pengobatan yang

150), sebagai berikut:

digunakan. Data pasien yang diperoleh


kemudian diolah dalam bentuk tabel,

n p.q Z1/2 2
b

sehingga

diapat

gambaran

pola

penggunaan antibiotika.
Dimana
n
p

: jumlah sampel minimum


:
proporsi
populasi
prosentase
kelompok I = 0,5
q : proporsi sisa dalam populasi ( 1- 0,5)
= 0,5
Z1/2 : derajat koefisien konfidensi pada 95%
= 1,96
b : prosentase perkiraan kemungkinanan
membuat kesalahan = 5% = 0,05

Berdasarkan rumus tersebut,


maka

perhitungan

jumlah

minimum adalah sebagai berikut:

sampel

HASIL DAN PEMBAHASAN


Penelitian ini adalah penelitian
survei
metode

(non

eksperimental)

retrospektif

terhadap

dengan
pola

penggunaan antibiotika pada infeksi

52

PHARMACY, Vol 05 No 01 April 2007

saluran
balita

pernafasan
di

akut

Puskesmas

pneumonia
Purwareja

ISSN1693-3591

yang dilakukan, diperoleh data-data


yang

mendukung

pola

pada

penggunaan

Klampok periode Januari sampai dengan

antibiotika

infeksi

Desember 2004. Dari hasil penelitian

pernafasan akut pneumonia.

saluran

Tabel 1. Distibusi frekuensi penderita infeksi saluran pernafasan akut pneumonia berdasarkan
jenis kelamin tahun 2004
Jenis Kelamin

Jumlah Infeksi Saluran Pernafasan


Akut Pneumonia
67
53
120

Laki - Laki
Perempuan
Total

Pada

distribusi

Prosentase
55,8
44,2
100

frekuensi

terkena pada laki-laki berusia kurang

penderita infeksi saluran pernafasan akut

dari 6 tahun, hal ini kemungkinan

pneumonia berdasarkan jenis kelamin

disebabkan berkaitan dengan respon

dalam penelitian ini jumlahnya tidak

pada anak, karena secara biologis sistem

sama, dimana penderita dengan jenis

pertahanan

kelamin laki-laki (55,8%) jumlahnya

dengan anak perempuan.

tubuh

laki-laki

lebih banyak daripada penderita dengan

Pada

jenis kelamin perempuan (44,2%). Hal

berdasarkan

ini

yang

kelompok umur 0 sampai 4 bulan

dilakukan oleh Setyaningsih (2001:59-

(0,8%), kelompok umur 4 sampai 12

60), yang menyebutkan bahwa penderita

bulan (24,2%) dan kelompok umur 12

infeksi

akut

sampai 59 bulan (75%). Perbedaan ini

pneumonia lebih sering didapatkan pada

sesuai dengan penelitian Setyaningsih

laki-laki dibanding dengan perempuan,

(2001:60), yang menyebutkan bahwa

terutama pada anak usia muda. Anak

kemungkinan kelompok umur 0 sampai

dengan jenis kelamin laki-laki lebih

12 bulan masih mempunyai imunitas

banyak

pneumonia

pasif yang berasal dari ibunya. Anak

dibanding dengan anak perempuan. Hal

dengan sistem imunitas yang tidak

ini diperkuat dengan pendapat Hapsari

sempurna menyebabkan daya tahan

sesuai

dengan

saluran

yang

penelitian

pernfasan

terkena

distibusi

berbeda

umur,

frekuensi
menunjukkan

(2004:13) bahwa pneumonia lebih sering

53

PHARMACY, Vol 05 No 01 April 2007

ISSN1693-3591

tubuh terhadap penyakit infeksi menjadi

pneumonia (Dinkes DKI Jakarta, 2002).

berkurang, sehingga anak mudah terkena


Tabel 2. Distribusi frekuensi penderita infeksi saluran pernafasan akut pneumonia berdasarkan
umur balita tahun 2004
Kelompok Umur
0 4 bulan
> 4 12 bulan
> 12 59 bulan
Total

Jumlah
1
29
90
120

Prosentase
0,8
24,2
75
100

Tabel 3. Distribusi frekuensi penggunaan antibiotika berdasarkan standar penatalaksanaan di


Puskesmas I Purwareja Klampok Tahun 2004
Jenis Antibiotika
Amoksisilin
Kotrimoksazol
Total

Berdasarkan

Jumlah Pasien

Prosentase
16
104
120

hasil

penelitian,

13,3
86,7
100

infeksi

saluran

Keterangan
Sesuai
Sesuai

pernafasan

penggunaan antibiotika pada penyakit

sedangkan

infeksi

akut

antibiotika pilihan kedua yang diberikan

pneuomina balita menggunakan terapi

apabila kotrimoksazol tidak ada atau

tunggal.

habis.

saluran

digunakan

pernafasan

Jenis

antibiotika

yaitu

yang

Amoksisilin

dan

amoksisilin

akut,

merupakan

Bentuk sediaan yang diberikan

Kotrimaksazol. Jenis antibiotika tunggal

pada

yang paling banyak digunakan adalah

pernafasan akut pneumonia balita pada

Kotrimoksazol

sedangkan

pasien rawat jalan di Puskesmas I

(13,3%).

Purwareja Klampok berupa sirup dan

Kotrimoksazol lebih banyak digunakan

tablet. Sirup adalah suatu larutan obat

karena merupakan antibiotika pilihan

dalam larutan gula yang jenuh dan

pertama yang diberikan untuk penderita

biasanya diberi esen. Sedangkan pada

amoksisilin

(86,7%),

lebih

sedikit

penderita

infeksi

saluran

Tabel 4. Distribusi frekuensi berdasarkan bentuk sediaan dan dosis antibiotika untuk satu kali
minum pada penderita infeksi saluran pernafasan akut pneumonia tahun 2004

54

PHARMACY, Vol 05 No 01 April 2007

ISSN1693-3591

Banyaknya pasien yang menggunakan bentuk sediaan


Sirup (ml)
Tablet
2,5
5
7,5
10

1
2-4
4-12
12-59
12-59
2-4
4-12
12-59
bln
bln
bln
bln
bln
bln
bln
0
5
0
11
0
0
0
1
22
71
0
0
2
8
Total

Jenis
antibiotika

Amoksisilin
Kotrimoksazol

Jml

Prosen
tase

16
104
120

13,3
86,7
100

tablet, tablet yang diberikan kepada

Purwareja Klampok sudah sesuai dengan

pasien dibuat serbuk terbagi. Bentuk

pedoman

serbuk ini berupa bungkusan serbuk

saluran pernafasan akut pneumonia dari

dalam

yang

Depkes RI, dan telah menggunakan buku

dimasukkan ke dalam kantong plastik,

bantu (register harian) dalam kegiatan

tiap bungkus merupakan satu dosis.

Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran

(Anief, 2004:22,24)

Pernafasan

kertas

perkamen

penatalaksanaan

infeksi

Akut.

Laporan

Rute pemberian antibiotika yang

Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran

digunakan pada penderita infeksi saluran

Pernafasan Akut merupakan laporan

pernafasan akut pneumonia balita pada

rutin bulanan yang dilaporkan ke Dinas

pasien rawat jalan di Puskesmas I

Kesehatan tiap bulan yang memuat

Purwareja Klampok adalah secara oral.

laporan

Hal ini dikarenakan pemberian obat

Pernafasan

melalui oral yang paling menyenangkan,

maupun non pneumonia.

mudah,

murah,

dan

paling

kejadian
Akut

Infeksi
baik

Saluran
pneumonia

aman.

Sedangkan kerugiannya yaitu beberapa


obat akan mengalami pengrusakan oleh

KESIMPULAN

cairan lambung atau usus. Tujuan dari

Pola penggunaan antibiotika untuk

pemberian obat melalui oral untuk

pasien infeksi saluran pernafasan akut

mendapatkan efek sistemik, yaitu obat

pneumonia

beredar melalui pembuluh darah ke

Purwareja

seluruh tubuh. (Anief, 2004:20)

penggunaan antibiotika tunggal, yaitu

Secara

umum

pemilihan

dan

balita

di

Puskesmas

Klampok

amoksisilin

sebesar

meliputi

13,3%

dan

penggunaan antibiotika pada pasien

kotrimoksazol

infeksi

Penggunaan antibiotika pada pasien

saluran

pneumonia

balita

pernafasan
di

akut

Puskesmas

infeksi

saluran

sebesar

pernafasan

86,7%.

akut

55

PHARMACY, Vol 05 No 01 April 2007

pneumonia

balita

di

Puskesmas

ISSN1693-3591

Purwareja Klampok sudah sesuai dengan


pedoman
Departemen

penatalaksanaan
Kesehatan

dari
Republik

http://www.tempo.co.id/medika/ars
ip/092002/keg-2.htm.
Hapsari, I. 2004. ISPA penyebab
kematian tertinggi. Cempaka. 2329 Desember 2004. Hal 13.

Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Mutschler, E. 1991. Dinamika Obat.


Edisi kelima. Terjemahan oleh
Mathilda B., Widianto, dan Anna
Setiadi R. ITB, Bandung. Hal 236.

Anief, M. 2004. Prinsip Umum dan


Dasar Farmakologi. Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta. Hal.
19,20,22,24,52-53.

Nawawi, H. 2003. Metode Penelitian


Bidang Sosial. Cetakan ke-10,
Gadjah mada University Press,
Yogyakarta. Hal. 149-150.

Depkes RI. 1996. Pedoman Program


Pemberantasan Penyakit ISPA
untuk Penanggulangan Pneumonia
pada Balita dalam Pelita IV,
Ditjen.PPM-PLP, Jakarta. Hal. 34,5,6,8.

Setyaningsih, E. 2001. Faktor-faktor


yang berhubungan dengan angka
kejadian pneumonia pada balita
pengunjung puskesmas klampok
Kabupaten Banjarnegara tahun
2001. Skripsi. Fak. Kesehatan
Masyarakat,
Universitas
Diponegoro, Semarang, hal: 42,5960.

Dinkes DKI Jakarta. 2002. ISPA dan


Pneumonia.

56