UJI EFEK HEMOSTATIK INFUS DAUN PIRDOT (Saurauia vulcani
Korth) TERHADAP PENGHENTIAN PERDARAHAN MENCIT JANTAN
(Mus musculus)
ASWIN BAHAR
15 201 256
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS INDONESIA TIMUR
MAKASSAR
2021
UJI EFEK HEMOSTATIK INFUS DAUN PIRDOT (Saurauia vulcani
Korth) TERHADAP PENGHENTIAN PERDARAHAN MENCIT JANTAN
(Mus musculus)
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar sarjana
Program studi Farmasi
Disusun dan diajukan oleh
ASWIN BAHAR
15 201 256
Kepada
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS INDONESIA TIMUR
MAKASSAR
2021
ii
SKRIPSI
UJI EFEK HEMOSTATIK INFUS DAUN PIRDOT (Saurauia vulcani
Korth) TERHADAP PENGHENTIAN PERDARAHAN MENCIT JANTAN
(Mus musculus)
Disusun dan diajukan oleh
ASWIN BAHAR
15 201 256
Telah Dipertahankan di Depan Tim Penguji Ujian Skripsi
Pada Tanggal………………….2021
Dan Dinyatakan Telah Memenuhi Syarat
Menyetujui
apt. AJENG KURNIATI R, S.Si, M.Kes MUHAMMAD KHAERUL NUR, S.Farm.,M.Kes
Pembimbing pertama Pembimbing kedua
Ketua Program Studi Farmasi Dekan Fakultas Farmasi
SYAFRUDDIN, S.Si.,M.Kes Prof. Dr. H. Abd. Wahid Wahab, M.Sc
iii
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN DAN DATA PENELITIAN
Yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : ASWIN BAHAR
Stambuk : 15 201 256
Program Studi : Farmasi
Fakultas Farmasi : Farmasi
Perguruan Tinggi : Universitas Indonesia Timur Makassar
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa data hasil penelitian yang
tertera dalam skripsi saya, benar-benar merupakan hasil karya saya
sendiri. Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa data
hasil dalam skripsi saya itu adalah hasil karya orang lain, maka saya
bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.
Makassar, Januari 2021
Yang menyatakan
ASWIN BAHAR
iv
PRAKATA
Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat ALLAH SWT atas
segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi ini.
Alhamdulillah, tiada kata yang lebih patut diucapkan oleh seorang
hamba yang beriman selain ucapan puji syukur ke hadirat Allah SWT,
Tuhan Yang Maha Mengetahui, pemilik segala ilmu, karena atas petunjuk-
Nya maka skripsi ini dapat diselesaikan.
Shalawat dan taslim tak lupa penulis kirimkan kepada Nabi akhir
zaman Muhammad SAW yang telah membawa cahaya kebenaran di
dunia maupun di akhirat buat kita semua umat Islam.
Skripsi dengan judul UJI EFEK HEMOSTATIK INFUS DAUN
PIRDOT (Saurauia vulcani Korth) TERHADAP PENGHENTIAN
PERDARAHAN MENCIT JANTAN (Mus musculus), mencapai gelar
kesarjanaan pada Fakultas Farmasi Universitas Indonesia Timur.
Sungguh banyak kendala yang penulis hadapi dalam rangka
penyusunan skripsi ini, sejak dari merencanakan penelitian hingga
penyusunan laporannya. Namun berkat usaha, kerja keras, dukungan dan
bantuan berbagai pihak, akhirnya penulis dapat melewati kendala-kendala
tersebut.
v
Ungkapan terima kasih yang tak terhapuskan dan rasa hormat dan
semua ini tiada artinya tanpa dukungan moril, kasih sayang, cinta, dan
do’a dari kedua orang tua tercinta, Ayahanda Muh. Baharuddin dan
Ibunda Jusmiati, serta saudara-saudaraku tersayang yang semuanya
telah memberikan dorongan moril dan materil yang tak terhitung bagi
penulis, yang tidak mungkin penulis balas dengan tunai.
Ucapan terima kasih yang sama penulis sampaikan kepada :
1. Ketua Yayasan Bapak Aminuddin, SH,.MH dan Ibu Dr. Andi Maryam,
S,KM.,S,ST.,M.Kes Rektor Universitas Indonesia Timur Makassar.
2. Bapak Prof. Dr. H. Abd. Wahid Wahab, M.Sc Dekan Fakultas Farmasi
Universitas Indonesia Timur, Makassar.
3. Ibu apt. Ajeng Kurniati R , S. Si ., M . Kes Wakil dekan II Fakultas
i i i i i ii i ii i i i i i i i i
i Farmasi Universitas IndonesiaTimur , Makassar
i i i i i i
4. Bapak Syafruddin , S .Si ., M .Kes Ketua Program Studi Jurusan
i i i i i i i i i
i Fakultas Farmasi Universitas IndonesiaTimur , Makassar.
i i i
5. Ibu apt. Ajeng Kurniati R , S. Si.,M. Kes. sebagai pembimbing
i i i i i i
i pertama ; dan Bapak Muhammad Kahaerul Nur , S .Farm ., M. Kes
i i i i i i i i i i
sebagai pembimbing kedua atas waktu dan tenaga yang diluangkan
i i i i i i i
beliau dalam memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis
i i i i i
i dalam menyusun skripsi ini
i
6. Bapak dan Ibu Dosen, serta seluruh Staf Fakultas Farmasi Universitas
Indonesia Timur, Makassar.
vi
7. Seluruh Pihak Laboratorium Fakultas Farmasi Universitas Indonesia
i i
i Timur, Makassar.
i
8. Seluruh keluarga Besar Ikatan Pelajar Mahasiswa Indonesia Luwu
Raya ( IPMIL-RAYA) Univeristas Indonesia Timur Makassar.
9. Seluruh keluarga Besar Himpunan Mahasiswa Islam ( HMI ) Komisariat
Farmasi Universitas Indonesia Timur Makassar.
10. Seluruh keluarga Besar Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Farmasi
Universitas Indonesia Timur Makassar ( BEM FF UIT).
11. Seluruh keluarga Besar Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi Seluruh
Indonesia ( ISMAFARSI ), khususnya teman-teman ISMAFARSI
Wilayah Indonesia Timur ( ISMAFARSI INDTIM).
12. Buat teman-temanku angkatan 15 yang semuanya tidak dapat disebut
satu-persatu, semoga Yang Maha Esa dapat membalas semuanya,
Amin.
Penulis sangat menyadari, skripsi yang disusun ini masih penuh
kekurangan dan keterbatasan. Saran, kritik dan ide yang sifatnya
konstruktif, saya tunggu dengan tangan terbuka.
Akhirnya semoga karya kecil ini dapat bermanfaat bagi
pengembangan ilmu pengetahuan. Aamiin.
Makassar, Januari 2021
Penulis
vii
ABSTRAK
ASWIN BAHAR “Uji Efek Hemostatik Infus Daun Pirdot (Saurauia vulcani
Korth) Terhadap Penghentian Perdarahan Mencit Jantan (Mus musculus)”
(Dibimbing oleh Ajeng Kurniati R dan Muhammad Khaerul Nur)
Penelitian ini bertujuan ini untuk mengetahui efek hemostatik Infus daun
Pirdot (Saurauia vulcani Korth) dan menentukan konsentrasi berapa yang
paling efektif sebagai hemostatik terhadap mencit jantan. Penelitian ini
meliputi 5 kelompok, yaitu 1 kelompok kontrol negatif, kelompom II infus
daun pirdot 5% b/v, 10% b/v, dan 20% b/v, dan kelompok V Ferri klorida
2% sebagai kontrol positif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa infus
daun pirdot konsentrasi 5% b/v, 10% b/v dan 20% b/v memiliki efek
hemostatik terhadap mencit. Infus daun pirdot 20% b/v paling efektif
terhadap waktu penghentian perdarahan mencit, tetapi efeknya masih
lebih rendah dibanding Ferri chloride 2% sebagai pembanding pada α
0,05.
Kata Kunci : Infus, Hemostatik, Daun Pirdot dan Mencit
viii
ABSTRACT
ASWIN BAHAR "Hemostatic Effect Test of Pirdot Leaf Infusion (Saurauia
vulcani Korth) Against Bleeding Stop Male Mice (Mus musculus)"
(Supervised by Ajeng Kurniati R and Muhammad Khaerul Nur)
This study aims to determine the hemostatic effect of Pirdot (Saurauia
i i i i i i
vulcani Korth) leaf infusion and determine what concentration is the most
effective hemostatic for male mice. This study included 5 groups, namely 1
negative control group, group II pirdot leaf infusion 5% w/v, 10% w/v, and
20% w/v, and group V ferric chloride 2% as a positive control . The results
i i i i
of this study indicated that infusion of pirdot leaves with a concentration
ii i i i i i i i
of 5% w/ v, 10% w/ v and 20 % w/v had a hemostatic effect on mice.
i i i i i i i i i
Infusion of pirdot leaves 20% w/v was the most effective against the time
to stop bleeding in mice, but the effect was still lower than Ferri chloride
2% as a comparison at α 0.05.
Keywords : Infusion, Hemostatic, Pirdot Leaves and Mice
ix
DAFTAR ISI
halaman
HALAMAN AWAL ................................................................................... i
HALAMAN JUDUL................................................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN..................................................................... iii
PRAKATA................................................................................................ iv
ABSTRAK ………………………………………………………………….... vii
ABSTRACT ………………………………………………………………… viii
DAFTAR ISI …………………………………………………………………. ix
DAFTAR TABEL ………………………………………………………….... xi
DAFTAR GAMBAR ………………………………………………………... xii
DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………………. xiii
BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………… 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Uraian Tanaman Pirdot...................................................... 4
B. Metode Infusa ………………............................................. 6
C. Uraian tentang darah..……………………………............... 7
D. Kelainan Perdarahan ……………..................................... 10
E. Uraian Tentang Hewan Uji.................................................. 15
BAB III METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian..…………….…………………………......... 18
B. Waktu dan Tempat Penelitian..……………..……………… 18
C. Populasi dan Sampel Penelitian........................................... 18
x
D. Alat dan Bahan Yang Digunakan.....………………………. 18
E. Prosedur Kerja..………………………................................. 19
F. Pengamatan Pengumpulan Data……………………......... 21
G. Analisa Data ....................…………………………………… 21
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian ………………………………………............ 22
B. Pembahasan ……………………………………………......... 22
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan …………………………………………….......... 26
B. Saran ………………………………………….…………....... 26
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………..... 27
LAMPIRAN
xi
DAFTAR TABEL
Tabel halaman
1. Hasil Pengamatan lama waktu perdarahan setelah pemberian
infus daun pirdot............................................................................. 22
25
xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar halaman
1. Tanaman Pirdot (Saurauia vulcani Korth) .................................... 4
2. Skema kerja................................................................................... 29
3. Histogram nilai rata-rata selisih waktu penghentian perdarahan
dengan pemberian infus daun pirdot terhadap mencit (Mus
musculus)..................................................................................... 33
4. Suspensi infus daun pirdot (Saurauia vulcani Korth)................ 34
5. Foto perlakuan terhadap hewan uji.............................................. 34
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran halaman
1. Analisis Statistik waktu (Detik) penghentian perdarahan
pemberian infus daun pirdot dengan program SPSS 24............. 30
xiv
1
BAB I
PENDAHULUAN
Organisasi kesehatan dunia
atau WHO
mendukungupaya
peningkatan keamanan
dan khasiat dari obat
tradisional.WHO
merekomendasikan
penggunaan obat tradisional
untuk pemeliharaan
kesejahteraan masyarakat,
pencegahan dan pengobatan
penyakit, terutama
untuk penyakit kronis dan
penyakit degeneratif
(WHO, 2003)
2
Organisasi kesehatan dunia
atau WHO
mendukungupaya
peningkatan keamanan
dan khasiat dari obat
tradisional.WHO
merekomendasikan
penggunaan obat tradisional
untuk pemeliharaan
kesejahteraan masyarakat,
pencegahan dan pengobatan
penyakit, terutama
untuk penyakit kronis dan
penyakit degeneratif
(WHO, 2003)
3
Organisasi kesehatan dunia
atau WHO
mendukungupaya
peningkatan keamanan
dan khasiat dari obat
tradisional.WHO
merekomendasikan
penggunaan obat tradisional
untuk pemeliharaan
kesejahteraan masyarakat,
pencegahan dan pengobatan
penyakit, terutama
untuk penyakit kronis dan
penyakit degeneratif
(WHO, 2003)
4
Organisasi kesehatan dunia
atau WHO
mendukungupaya
peningkatan keamanan
dan khasiat dari obat
tradisional.WHO
merekomendasikan
penggunaan obat tradisional
untuk pemeliharaan
kesejahteraan masyarakat,
pencegahan dan pengobatan
penyakit, terutama
untuk penyakit kronis dan
penyakit degeneratif
(WHO, 2003)
Indonesia merupakan Negara yang terdiri dari kurang lebih 65%
perairan dan 35% daratan dengan iklim tropis, memungkinkan tumbuhnya
5
berbagai tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk pengobatan secara
tradisional. (Sasmito, 2017)
Perdarahan merupakan komplikasi yang sering terjadi setelah
suatu tindakan pembedahan. Waktu perdarahan adalah interval waktu
dari tetes darah pertama sampai darah berhenti menetes. Waktu
perdarahan merupakan salah satu parameter pengukuran pembekuan
darah untuki mengetahui proses vasokontriksi pada fase vaskular dan
pembentukan sumbat hemostatik sementara pada fase platelet dalam
proses hemostasis (Sukandar, 2016).
Tindakan-tindakan lokal sebaiknya diaplikasikan untuk
menghentikan perdarahan, seperti penekanan oklusal menggunakan
kasa yang merupakan satu tindakan untuk mengontrol perdarahan
dan dapat merangsang pembentukan bekuan darah yang stabil.
Selain tindakan lokal, diperlukan juga tindakan secara sistemik. Salah
satunya dengan pemberian sediaan hemostatik secara oral
maupun injeksi. Sediaan hemostatik dapat membantu
mempertahankan volume plasma dan memperbaiki tekanan darah
(Setiadinata, 2015).
6
i Khasiat i hemostatik bukan i hanya terdapat i pada i obat - obat i i
sintetik , tetapi beberapa tumbuhan juga memiliki khasiat hemostatik.
i i i i i i
i Di Indonesia terdapat beberapa tumbuhan yang merupakan tanaman
i i i i ii
i obat yang memiliki khasiat hemostatik . (Thomas, 2016)
i i i
Potensi sumber daya alam khususnya tumbuhan obat perlu digali ,
i i i i i i i
diteliti , diuji dan dikembangkan . Untuk itu upaya - upaya penelitian harus
i i i i i i i i i
i terus digalakkan agar potensi obat yang berasal dari bahan alam dapat
i i i i i i i i
i diungkapkan dan secara medis dapat dipertanggungjawabkan ( Wijaya i i i i i
kusuma H.M, 2011).
Daun Pirdot dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk
penanggulangan penyakit seperti antidiabetes, antibakteri dan secara
empiris sebagai penyembuh luka. Berdasarkan penelitian sebelumnya
skrining fitokimia dari simplisia dan infus daun Pirdot menunjukkan
i i i i i i
i adanya senyawa flavonoid , glikosida , saponin , tanin , steroid /triterpenoid
i i i i i i i i i
dan memiliki daya antioksidan (Herbie T, 2015).
Penelitian telah dilakukan oleh Rohi. A , 2018 “uji aktivitas i i
i antikoagulan ekstrak etanol daun Pirdot i i i i (Saurauia vulcani Korth). i i
i Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan pada penelitian dapat
i i i i i
i ditarik kesimpulan bahwa ekstrak etanol daun Pirdot memiliki aktivitas
i i i i i i
i antikoagulan darah manusia secara in vitro dengan dosis 100 mg / kgBB, i i i i i i i i
200 mg/kgBB, 400 mg/kgBB
Berdasarkan latar belakang di atas maka timbul permasalahan i i i i i
i apakah infus daun Pirdot ( Saurauia vulcani Korth ) memiliki efek
i i i i i i i
7
hemostatik terhadap penghentian perdarahan ekor mencit jantan dan
i i i i i
i pada konsentrasi berapa yang memberikan efek paling efektif?
i i i i i i i
i Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efek hemostatik Infus daun
i i i i i i i
i Pirdot ( Saurauia vulcani Korth) dan menentukan konsentrasi berapa yang
i i i i
paling efektif sebagai hemostatik terhadap mencit jantan.
Manfaat penelitian ini adalah untuk menambah data ilmiah serta
memberikan informasi kepada masyarakat mengenai khasiat tanaman
Pirdot (Saurauia vulcani Korth) sebagai obat penghentian perdarahan atau
hemostatik.
8
i BAB II i
i TINJAUAN PUSTAKA i
A. Uraian Tanaman Pirdot
1. Klasifikasi (Tjitrosoepomo, G.. 2013 dan Van Steenis , C. G. G.J ., i ii i i i i
2013 ) i
Regnum : Plantae
Divisi : Spermathophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Actinidiales
Family : Actinidiacae
Genus : Saurauia
Spesies : Saurauia vulcani Korth
2. Morfologi
Pirdot tumbuh di tempat - tempat terbuka , sepanjang sungai
i i i i i i i i
dan di tempat lembab pada ketinggian 600-1 .200 mdpl. Jenis ini
i i i i i i
termasuk jenis pohon berukuran kecil-sedang dengan tinggi 3-15
meter (van Steenis, 2010). Daun Pirdot berbentuk lonjong – jorong i i i i
dengan panjang 18 -19 cm , lebar 8- 18 cm. Berciri-ciri bergerigi
i i i i i i i
meruncing di ujung dan bulat di bagian dasar permukaan bawah
seperti beludru kelabu atau berbulu coklat, bersisik pada
permukaan atas daun remaja, licin pada daun dewasa, bulu kempa
padat dan bersisik pada bagian bawah. Pembungaan pada ketiak i i
4
9
daun mempunyai dua daun penumpu besar seperti daun di ujung
i i i i i i i
sekitar bunga . Tetapi pembungaan akhirnya jauh lebih besar
i i
bercabang lebih banyak (van Steenis, 2010). Panjang tangkai daun
kokoh ±5 cm.
Tangkai bunga Pirdot memilki panjang 5 - 10cm dengan daun
i i i i i i
pelindung ± 2 x 0, 8 cm . Merupakan korola yang berbentuk seperti
i i i i i i
daun. Berbentuk blong (memanjang) berekor di bagian ujung
dengan sisik yang banyak. Panjang kaliks ±7 mm, lebih pendek dari
petal menyatu di bagian dasar. Sepal berjumlah lima, dua yang
terluar bersisik padat. Berukuran tidak sama, berbentuk lanset bulat
telur berukuran 4-5 x 2-3 mm, sedang tiga helai di bagian dalam
lebih besar dengan ukuran 7×5 mm, berbentuk bulat telur dengan
panjang klora ± 1 cm (Widyaningrum, H., dkk. 2011)
Gambar 1. Tanaman Pirdot (Saurauia vulcani Korth)
10
3. Kandungan Kimia
Daun Pirdot mengandung flavonoid, glikosida, saponin,
tanin dan steroid / triterpenoid (Herbie T, 2015)
4. Khasiat Tanaman
Daun Pirdot bermanfaat untuk mengatasi peradangan, obat
batuk, obat kulit, mencegah pendarahan, baik untuk kesehatan
suaraf, mengatasi flu, antidiabetes, antibakteri, menyembuhkan
luka, antioksidan, antikoagulan dan dapat menurunkan kolesterol
(Herbie T, 2015)
B. Metode Infusa (Hanani, E. 2016).
1. Defenisi Infus
Infus adalah sediaan kering , kental , atau cair dibuat dengan
i i i i i i i
i menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok ,
i i i i i i
i diluar i pengaruh cahaya i matahari i langsung . i Infusmerupakan
i penyarian zat- zat berkhasiat dari tanaman obat maupun hewan.
i i i i i i i
i Senyawa aktif umumnya senyawa mudah larut dalam pelarut
i i i i i
i organik . Pemakaian pelarut organik tergantung dari senyawa yang
i i i i i i
i akan diinfusa.
i
2. Defenisi Decocta
Decocta adalah i sediaan i cair yang i dibuat i dengan
mengekstraksi simplisia nabati dengan air pada suhu 90o C pada
i i i i i i i
i waktu 30 menit. Hal ini dilakukan untuk memperoleh kandungan
i i
senyawa yang lebih banyak dalam sari.
11
3. Proses Terekstraksinya Zat Aktif dalam Tanaman
Cairan penyari akan berosmosis menembus dinding sel
kemudian masuk ke rongga sel dan akan menyari zat aktif di dalam
(berkonsentrasi tinggi) dan cairan penyari di luar sel (berkonsentrasi
rendah) maka larutan terpekat (zat aktif) akan terdesak ke luar
bersama pelarut organik dan proses ini berlangsung terus menerus
sampai terjadi kesetimbangan antara konsentrasi cairan zat aktif di
dalam sel dan di luar sel.
4. Metode penyarian dengan Infus
Penyarian dengan cara infus tidak boleh disimpan lebih dari 24
jam karena akan mudah tercemar oleh kuman dan kapang.
i Pembuatan, campur simplisia dengan derajat halus yang
i i i i
i sesuai dalam panci dengan air secukupnya , panaskan di atas
i i i i i i
i tangas air selama 15 menit terhitung mulai suhu mencapai 900 C
i i i i i i i
sambil sekali -sekali diaduk . Serkai selagi panas melalui kain flanel ,
i i i i i i i i i
i tambahkan air panas secukupnya melalui ampas hingga diperoleh
i i i i i
i volume infus yang dikehendaki.
i i
C. Uraian tentang darah
Darah umumnya dipandang sebagai cairan tubuh yang
i i i i
i kental , berwarna merah dan tidak transparan serta berada dalam
i i i i i i i
i suatu ruang yang tertutup dinamakan sebagai sistem pembuluh
i i i i i
i darah dan menjalankan fungsi transport berbagai bahan serta fungsi
i i i i i
i homeostatis ( Sadikin, H . M., 2011). i i i i i
12
1. Fungsi darah
a. Alat transport oksigen yang diambil dari paru- paru untuk
i i i i i i i
i dibawa ke seluruh tubuh. i i
b. Alat transport jaringan .
i i i
c. Alat transport makanan yang diserap dari saluran cerna dan
i i i i i i
i diedarkan ke seluruh tubuh . i i i
d. Mempertahankan keseimbangan dinamis ( homeostatis) dalam i i i i i
i tubuh , termasuk didalamnya yaitu mempertahankan suhu
i i i i
i tubuh.
e. Mempertahankan tubuh dari agresi benda atau senyawa asing i i i i i
i yang umumnya selalu dianggap punya potensi menimbulkan
i i i i i
ancaman.
f. Alat transport bahan buangan dari jaringan ke alat - alat eksresi
i i i i i i i i
seperti paru - paru ( gas), ginjal , kulit (bahan terlarut dalam air )
i i i i i i i i i
dan hati untuk diteruskan ke empedu dan saluran cerna
i i i i i i
i sebagai tinja (bahan yang sukar larut dalam air).
i i i i i i
2. Komponen Utama Darah
Darah terdiri dari 2 bagian yaitu :
a. Bagian cair, yang dinamakan plasma darah yang terdiri dari
91% air, 7-9% zat padat (elektrolit dan protein darah).
b. Butir-butir darah, disebut komponen seluler yang terdiri dari
komponen berikut :
1. Sel darah merah (Eritrosit)
13
Sel darah merah ( eritrosit ) merupakan bikonkaf
i i i i i
i dengan diameter sekitar 7 mikron . Sel darah merah
i i i i i i
( eritrosit ) tidak memiliki inti sel , mitokondria , atau ribosom.
i i i i i i i i i
i Sel darah merah ( eritrosit ) tidak dapat berproduksi atau
i i i i i i i
i melakukan fosforilasi oksidatif sel atau sintesis protein . Sel i i i i i i
darah i merah i mengandung i protein hemoglobin i yang
i mengangkut sebagian besar oksigen dari paru- paru ke i i i i i i
ii sel - sel di seluruh tubuh (Corwin, 2012).
i i i i
Fungsi sel darah merah adalah membawa oksigen i i i i
i ke dalam tubuh , dan platelet ( bagian kecil sel darah yang
i i i i i i i i
i membantu proses pembekuan darah ) ( Santoso ,B.S.,2009). i i i i i
2. Sel Darah Putih (Leukosit)
Sel darah putih dibentuk disumsum tulang dari sel -
i i i i i i
i sel progenitor . Pada proses diferensiasi selanjutnya , sel- i i i i i i
i sel progenitor menjadi golongan yang tidak bergranula
i i i i
i yaitu , limfosit T dan B , monosit , dan makrofag, atau
i i i i i i i i i
i golongan yang bergranula yaitu , neutrofil, basofil , dan
i i i i i i i
eosinofil . Peran utama darah putih adalah untuk mengenali
i i i i i i i
dan melawan mikroorganisme pada reaksi imun, dan untuk
i i i i i i i
i membantu proses i peradangan i dan i penyembuhan.
i Trombosit , yang merupakan fragmen sel sumsum tulang,
i i i i i i
i berperan penting dalam proses pengendalian perdarahan .
i i i i i
i Selain itu , sel -sel ini sering bekerja sama dengan sel
i i i i i i i i
14
i darah putih dalam proses peradangan atau penyembuhan
i i i i i
( Corwin, 2012).
i
3. Trombosit (keping-keping darah)
Trombosit merupakan bagian terkecil dari sumsum ii i
tulang belakang dan sangat penting peranannya dalam
i i i i i
i hemostatik dan pembekuan darah. Trombosit dalam
i i i i
keadaan normal bersirkulasi ke seluruh tubuh melalui
i i i i i
i aliran darah tanpa menempel di sel - sel endotel vaskular .
i i i i i i i
i Fungsi utama trombosit adalah pembentukan sumbatan i i i i
mekanis selama respon hemostatik normal terhadap luka
i i i i i
i vaskular . Fungsi trombosit juga berhubungan dengan
i i i i
i ketahanan tubuh dan penting dalam usaha tubuh untuk
i i i i i
i mempertahankan jaringan bila luka sehingga tubuh tidak i i i i
i mengalami i kehilangan i darah dan i terlindung i dari
i penyusupan benda atau sel asing (Santoso, B.S., 2009). i i
D. Kelainan Perdarahan (Sadikin,H.M., 2011).
1. Defenisi
i Kelainan perdarahan ditandai dengan kecenderungan untuk i i i
i mudah mengalami perdarahan, yang bisa terjadi akibat kelainan
i i i i i i
i pada pembuluh darah maupun kelainan pada darah , yang sering
i i i i i i
i ditemukan pada faktor pembekuan darah atau trombosit . Dalam
i i i i i i
keadaan normal , darah terdapat didalam pembuluh darah ( arteri ,
i i i i i i i i i
kapiler , dan vena ). Jika terjadi perdarahan , darah keluar dari
i i i i i i i i i
15
i pembuluh darah tersebut , baik ke dalam maupun ke luar tubuh,
i i i i i i i i
i dimana tubuh mencegah atau mengendalikan perdarahan melalui
i i i i i i
beberapa cara. i
Hemostatik merupakan cara tubuh untuk menghentikan i i i
i perdarahan pada pembuluh darah yang mengalami cidera . Hal ini i i i i i i i
i melibatkan 3 proses yaitu kontriksi i i i i ( pengkerutan) pembuluh
i i
i darah , aktivitas trombosit
i i i ( partikel berbentuk seperti sel yang
i i i i
i tidak teratur , yang terdapat di dalam darah dan ikut serta dalam
i i i i i i i i i
proses pembekuan ), aktivitas faktor- faktor pembekuan darah
i i i i i i i
( protein yang terlarut dalam plasma ). Waktu normal penghentian
i i i i i i i i
i perdarahan yaitu 1 -3 menit. i i i
2. Proses tubuh mencegah perdarahan
Jika sebuah pembuluh darah mengalami cedera , maka
i i i i i i
pembuluh darah akan mengkerut sehingga aliran darah keluar
i i i i i i
i menjadi lebih lambat dan proses pembekuan bisa dimulai . Pada i i i i i i i
saat yang sama , kumpulan darah di luar pembuluh darah akan
i i i i i i i i
i menekan pembuluh darah dan membantu mencegah perdarahan
i i i i i
i lebih lanjut . i
Setelah kerusakan suatu pembuluh, trombosit tertarik ke i i
i daerah tersebut sebagai respon terhadap kolagen yang terpajang i i i i i
ii di lapisan i sub i endotel i pembuluh darah i yang i mengalami
i kerusakan. Trombosit melekat ke protein yang menunjukkan i i i i i
i adanya i kerusakan permukaan i pembuluh i darah , i i dan
16
mengeluarkan beberapa zat kimia vasoaktif , termasuk seretonin
i i i i i i
i dan adenosin fosfat (ADP). i i
Seretonin dan zat kimia lainnya , termasuk ADP , juga
i i i i i i i
menyebabkan trombosit berubah bentuk dan menjadi lengket , i i i i i i
i dimulai dengan proses pembentukan yang disebut sumbat atau
i i i i i
i plak trombosit di dalam pembuluh darah yang rusak . Trombosit
i i i i i i i
lainnya i ditarik i ke i area luka i dan i selanjutnya i membentuk
sumbatan . i i
Tromboksan A2 dihasilkan dari trombosit dan membantu i i i i i
i menarik lebih banyak trombosit ke area luka.i i i i
i Fibrinogen adalah suatu protein plasma yang bersikulasi , i i i i i
i menghubungkan antara i area i yang i terpajang i trombosit,
i menciptakan suatu jembatan untuk membantu menstabilisasi
i i i i
i sumbatan yang terbentuk . Sumbat trombosit tersebut secara
i i i i i
i efektif menambal daerah yang luka . Jika terjadi defesiensi salah
i i i i i i i
i satu i faktor i yang i terlibat dalam i proses i pembekuan i akan
i menyebabkan perdarahan berlebihan bahkan pada robekan i i i i
kapiler yang halus sekalipun (Corwin, 2012).
i i i
3. Penyebab Kelainan Perdarahan
a. Penyakit penyebab perdarahan
i Darah adalah jaringan tubuh yang berbeda dengan i i i i
i jaringan tubuh lain , berada dalam konsistensi cair , beredar
i i i i i i i
i dalam suatu sistem yang tertutup yang dinamakan sebagai
i i i i i
17
i pembuluh darah dan menjalankan fungsi transport berbagai
i i i i i
i bahan i serta i fungsi i homeostatis. Adapun penyakit yang
kemungkinan besar dapat menyebabkan perdarahan yaitu
penyakit kanker dan penyakit leukimia.
b. Obat penghentian perdarahan (obat hemostatik)
Obat hemostatik terdiri dari :
1. Ethamsylate adalah obat hemostatik yang beraksi di i i i i i
i dinding i kapiler dengan i meningkatkan i adesivitas i dari
platelet dan mengubah resistensi kapiler sehingga mampu
i i i i i
i untuk mengurangi waktu perdarahan dan kehilangan darah .
i i i i i i
2. Aprotinin
i sebagai i hemostatik i yang i digunakan untuk
i pengobatan pasien dengan resiko tinggi kehilangan banyak
i i i i
i darah pada buka jantung dengan sirkulasi ekstrakorpolar .
i i i i i i
3. Asam traneksamat adalah obat hemostatik yang merupakan
i i i i i
i penghambat bersaing dari aktivator plasminogen i i ii dan
penghambat plasmin . Oleh karena itu dapat membantu i i i i i i
i mengatasi perdarahan i berat i akibat i fibrinolisis yang
i berlebihan.
4. Vitamin K dan turunannya sebagai obat hemostatik . Vitamin
i i i i i i i
K memerlukan waktu untuk dapat menimbulkan efek sebab
i i i i i
i vitamin K harus merangsang pembentukan faktor - faktor
i i i i i
pembekuan darah terlebih dahulu. i i
18
c. Tanda kelainan pembekuan darah.
Perdarahan dapat diakibatkan oleh defisiensi satu faktor
i i i i
i pembekuan darah yang bersifat herideter misalnya defisiensi
i i i i
i faktor antihemofilik dan dapat pula akibat defisiensi banyak
i i i i i
i faktor yang memungkinkan sulit untuk didiagnostik dan diobati .
i i i i i i
d. Penatalaksanaan/Pengobatan pembekuan darahi i
Mekanisme pembekuan darah adalah suatu proses yang
kompleks dan menyangkut 4 faktor penting, yakni tromboplastin
(faktor III), protrombin (faktor II), fibrinogen (faktor I), dan
kalsium (faktor IV). Dalam garis besar urutan proses ini
berlangsung sebagai berikut. Jika darah mengalir keluar dari
misalnya suatu luka, yakni suatu permukaan asing yang kasar,
maka tromboplastin (trombokinase) akan dibebaskan dari sel-
sel jaringan yang rusak ini. Tromboplastin juga akan dilepaskan
oleh sejenis sel-sel darah putih yang disebut trombosit.
Tromboplastin ini, yang pada hakikatnya adalah suatu enzim
lipoprotein dengan adanya ion-ion kalsium, perlahan-lahan akan
mengubah protrombin yang berada dalam plasma menjadi
thrombin.
Protrombin adalah sejenis putih telur albumin, yang dibuat
di dalam hati dengan pertolongan vitamin K yang diproduksi
oleh flora usus. Thrombin yang terbentuk adalah juga suatu
19
enzim yang segera akan mengubah fibrinogen, yakni sejenis
putih telur globulin yang larut dalam plasma darah dan juga
dibentuk di dalam hati menjadi fibrin yang mengendap dalam
bentuk gumpalan-gumpalan (Gandasoebroto, 2004).
E. Uraian Hewan Uji (Malole, M. B. M. dan Pramono, C. S. U., 1989)
1. Klasifikasi Mencit (Mus musculus)
Kerajan : Animalia
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas : Mamalia
Subkelas : Theria
Bangsa : Rodentia
Suku : Muridae
Marga : Mus
Jenis : Mus musculus
2. Karakteristik
Masa tumbuh : 6 bulan
Lama hidup : 2-3 tahun
Detak jantung : 325-780/menit
Volume darah : 76-80 mg/kg
Siklus birahi : 4-5 hari
Lama hamil : 19-21 hari
Jumlah anak/kelahiran : 10-12
20
i Produksi anak : 8/ bulan
i i
Jumlah pernapasan : 94-163x/menit
Berat badan Jantan : 20-40 gram
Berat badan betina : 25-40 gram
Berat lahir : 0,5-1,5 gram
Luas permukaan tubuh : 20-26 cm
Suhu tubuh : 36,5-38,0 °C
Konsumsi makanan : 15 gram/100 gram/hari
Siklus : 4-5 hari
Jumlah satu kali lahir : 10-12 ekor
Tekanan darah : 113-147/81-106 mg/hg
Hemoglobin : 10,2-6,6 mg/dl
Lama Bekuan Darah : 1-3 menit
Kolesterol : 26-82 mg/dl
Butir darah putih : 6-15x103/mm3
Neutropil : 10 -40 %
Lymphosit : 55 – 95%
Eosinophil : 0 – 4%
Monosit : 0,1 – 3,5%
Basophil : 0 – 20%
3. Morfologi
i
Mencit adalah hewan pengerat ( rodentia ) yang cepat
i i i i i i
i berkembang biak , mudah dipelihara dalam jumlah besar serta
i i i i i i
21
i sifat anatomis dan fisiologisnya berkarakteristik dengan baik .
i i i i i
i Mencit hidup dalam daerah yang cukup luas penyebarannya mulai
i i i i i
i di iklim dingin , sedang, maupun panas dan dapat hidup terus
i i i i i i i i
i menerus dalam kandang secara bebas sebagai hewan liar serta
i i i i i
mudah dikendalikan (Malole M.B.,1989).
22
i BAB III
i
i METODE PENELITIAN
i
A. Jenis Penelitian
i i
Penelitian i ini i adalah penelitian i eksperimental yang
dilaksanakan di laboratorium yaitu uji efek hemostatik infus daun
i i i
Pirdot (Saurauia vulcani Korth) terhadap penghentian perdarahan
darah mencit jantan (Mus musculus).
i i i
B. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini telah dilakukan pada Bulan Desember 2020 di
i i i i i i
Laboratorium i Biofarmaseutika i Fakultas Farmasi , i i Universitas
Indonesia Timur , Makassar.
i i
C. Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah mencit, sedangkan sampel
penelitian yang digunakan adalah mencit jantan berbadan sehat
dengan bobot 20-30 g yang diperoleh di Kota Makassar, Sulawesi
Selatan.
D. Alat dan Bahan
1. Alat yang digunakan
Batang pengaduk, corong, erlenmeyer, gelas piala, gunting,
kapas, kain flannel, kertas serap, penangas air, seperangkat alat
18
23
refluks, rotavapor, stopwatch, timbangan dan tabung pemegang
mencit.
2. Bahan yang digunakan
Aquadest, betadine solution, infus daun Pirdot etanol 96%,
Ferri chloride 2%, Na.CMC 1% b/v dan hewan uji mencit
E. Prosedur kerja.
1. Pengambilan dan pengolahan bahan uji
Bahan uji penelitian berupa daun Pirdot diambil dari daerah
i i i i
Larompong, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Sampel yang
diambil berupa daun kelima dari pucuk, kemudian diolah dengan
dibersihkan dengan air mengalir, dipotong-potong kecil, selanjutnya
dibuat infus.
2. Pembuatan infus daun Pirdot
Untuk pembuatan infus dengan konsentrasi 5% b/ v, 10% b/ v i i i i
dan 20 % b/v, dibuat dengan cara dimasukkan air suling sebanyak
i i i i i i
100 mL kedalam panci infus lalu dipanaskan hingga suhu 90ºC dan
kemudian dimasukkan sampel daun Pirdot yang telah digunting
kecil-kecil sebanyak 5 gram lalu dibiarkan selama 15 menit sambil
i sesekali i diaduk. i Kemudian i diserkai selagi i masih i panas
menggunakan kain flanel. Ampas yang tersisa dikain flanel
i i
kemudian diperas dan hasil saringan ditampung dalam gelas kimia.
Jika hasil yang dipeoleh kurang dari 100 mL, maka tambahkan air i
i panas melalui ampas hingga diperoleh volume infus sebanyak 100
i i i i i
24
i mL. Untuk membuat infus dengan konsentrasi 10 % b/v dan 20%
i i i i
b / v, digunakan cara yang sama dengan menimbang sampel
i i i i i i
i sebanyak 10 gram dan 20 gram
i i i
3. Penyiapan Hewan uji
Hewan uji yang digunakan adalah mencit yang berbadan sehat
dengan bobot 20-30 g. Diadaptasi dengan lingkungan sekitar satu
minggu dan dipuasakan selama 3-4 jam sebelum digunakan.
4. Perlakuan Terhadap Hewan Uji
Setelah mencit beradaptasi dengan lingkungannya, beratnya
ditimbang, lalu dibagi menjadi 5 kelompok. Masing-masing
kelompok terdiri atas 3 ekor, kemudian mencit dimasukkan ke
dalam tabung pemegang, kemudian dienduskan eter ke hidung
mencit untuk mendapatkan efek sedasi. Pada kelompok 1 sebagai
kontrol negatif, ekor mencit dipotong dengan panjang 0,3 cm
kemudian dicelupkan dalam larutan aquadest, lalu darahnya
diteteskan pada kertas serap sampai darah berhenti, kemudian
dicatat lama waktu perdarahan. Pada kelompok II, III, IV dan V
mencit mendapat perlakuan yang sama tetapi setelah ekor mencit
dipotong dengan panjang 0,3 cm, ekor mencit tersebut dicelupkan
ke dalam infus daun Pirdot selama 3 detik yaitu kelompok II dengan
pemberian infus daun Pirdot dengan konsentrasi 5% b/v , kelompok
i i i i i
III dengan pemberian infus daun Pirdot dengan konsentrasi 10 %
i i i i i i i
b / v, dan kelompok IV dengan pemberian infus daun Pirdot dengan
i i i i i i i i
25
konsentrasi 20% b/v. Sedangkan kelompok V sebagai kontrol positif
yaitu pemberian Ferri chloride 2%, kemudian darahnya diteteskan
pada kertas serap sampai darah berhenti, kemudian dicatat
lamanya waktu perdarahan.
F. Pengamatan dan Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dari catatan waktu penghentian
perdarahan setelah dicelupkan infus daun Pirdot 5 % b/ v, 10% b/ v dan
i i i
i 20% b/ v.
i i
G. Analisis Data
Data yang diperoleh dari hasil penelitian kemudian dianalisis
i i i i i
i secara statistik dengan menggunakan Program SPSS.
i i i
26
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil uji efek hemostatik infus daun Pirdot
(Saurauia vulcani Korth) terhadap penghentian perdarahan darah
mencit jantan (Mus musculus). Hasil ujinya adalah sebagai berikut :
Tabel 1 : Hasil Pengamatan lama waktu perdarahan setelah
pemberian infus daun pirdot
Hasil pengamatan waktu perdarahan (Detik)
Rep Aquadest Infus daun Infus daun Infus daun Ferri
pirdot 5% b/v pirdot 10% b/v pirdot 20% b/v Klorida
1 188 98 75 50 25
2 196 94 62 42 30
3 192 87 66 47 27
∑ 576 279 203 139 82
X 192 93 67,66 46,33 27,33
B. Pembahasan
i Hemostatik adalah suatu proses yang dapat menghentikan i i i i
perdarahan pada pembuluh darah yang cedera . Faktor -faktor yang
i i i i i i ii
berperan i adalah i pembuluh i darah, i trombosit dan i fibrin . Obat
i
i hemostatik i adalah obat i yang digunakan i untuk i menghentikan
i perdarahan. i Obat i hemostatik ini i diperlukan i untuk i mengatasi
perdarahan i yang i meliputi daerah i yang luas . i i Pemilihan i obat
hemostatik harus dilakukan secara tepat sesuai dengan patogenesis
i i i i i
i perdarahan.
27
i Pada saat cedera , ada tiga proses utama yang bertanggung
i i i i i
i jawab terhadap hemostasis dan pembekuan yaitu vasokonstriksi
i i i i
i pembuluh darah, reaksi trombosit yang terdiri dari adhesi , reaksi
i i i i i i
22
i pelepasan dan agregasi trombosit , dan pengaktifan faktor- faktor
i i i i i i
i pembekuan darah . i
Mekanisme hemostasis dimulai ketika terjadi kerusakan pada i
dinding pembuluh darah dan jaringan yang berdekatan , pada darah ,
i i i i i i i
i ataupun berkontaknya darah dengan sel endotel pembuluh darah. i i
Penelitian ini dengan judul uji efek hemostatik infus daun Pirdot
(Saurauia vulcani Korth) terhadap penghentian perdarahan darah
mencit jantan (Mus musculus), dengan menggunakan hewan uji mencit
sebanyak 15 ekor yang dibagi dalam 5 kelompok.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, bahwa pada i i i i i i
kelompok I (kelompok kontrol, ekor dicelupkan aquadest) menghasilkan
rata-rata lama perdarahan 192 detik . Hal ini disebabkan oleh tidak i i i i i
adanya pemberian zat hemostatik sehingga mencit mengadakan
i i i i
i proses hemostatis sendiri sesuai kemampuan hemostatis tubuh mencit
i i i i i
i tanpa bantuan zat hemostatik lain. Untuk kelompok II
i i i i i i ( ekor i
i dicelupkan ke dalam infus daun pirdot i i i i 5% b / v selama 3 detik ) i i i i
menghasilkan rata -rata lama perdarahan 93 detik, untuk kelompok III
i i i i i i i i
(ekor dicelupkan ke dalam Infus daun pirdot 10 % b/v selama 3 detik )
i i i i i i i i i i
i menghasilkan rata -rata lama perdarahan 67,66 detik , untuk kelompok
i i i i i i i
i IV ( ekor dicelupkan ke dalam Bungur kecil 20 % b / v selama 3 detik)
i i i i i i i i i i i
28
menghasilkan rata-rata lama perdarahan 46,33 detik, untuk kelompok V
(ekor dicelupkan ke dalam ferri klorida selama 3 detik) menghasilkan
rata-rata lama perdarahan 27,33 detik, dari hasil tersebut menunjukkan
waktu rata-rata penghentian perdarahan tidak melebihi atau lebih
pendek dari waktu normal penghentian perdarahan yaitu 2-4 menit
sehingga mempunyai efek hemostatik. Hal ini disebabkan oleh
cukupnya zat aktif yang berfungsi sebagai hemostatik yang terkandung
pada ekstrak.
Adapun kandungan kimia daun pirdot yang berkhasiat sebagai
hemostatik adalah tanin yang bersifat astringen yang mengikat dan i i i
i mengendapkan protein dalam darah, jika diberikan ke bagian mukosa
i i i i i i
kulit i akan i mengecilkan i dan i merapatkan sel i terluar i sehingga
mengurangi kerusakan mukosa.
i i
Hasil analisis statistika menggunakan SPSS menunjukkan
bahwa pemberian kontrol negatif, infus daun pirdot dan ferri klorida
sebagai pembanding memberikan efek yang berbeda nyata terhadap
efek hemostatis.
Analisis homogenitas menunjukkan nilai signifikan
i i i (P = > 0 .
i i i
i 05), sehingga dapat dinyatakan bahwa semua data adalah homogen
i i i i i i
dan normal. Data homogen dan normal sehingga memenuhi syarat
untuk pengujian parametrik ANOVA. Uji anova menunjukkan bahwa i i
i nilai signifikan 0 , 000 < dari 0,05, sehingga dapat dinyatakan bahwa
i i i i i
29
i ada perbedaan pengaruh bahan uji
i i i i (Infus daun pirdot ) terhadap
i i i
i efek hemostatis ekor mencit.
i i
Analisis dilanjutkan
i i dengan uji i LSD untuk menentukan
i
i perbedaan pengaruh antar perlakuan . Hasil pengujiaan menunjukkan
i i i i i
bahwa tidak ada perbedaan efek yang bermakna pada infus daun
i i i i i i
pirdot . Dalam hal ini infus daun pirdot konsentrasi 20% b/v memliki
efek yang paling efektif sebagai hemostatik tetapi efeknya masih
berbeda nyata dengan pemberian ferri klorida sebagai pembanding.
30
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan dan analisis data
yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa
1. Infus daun pirdot konsentrasi 5% b/v, 10% b/v dan 20% b/v memiliki
efek hemostatik terhadap mencit
2. Infus daun pirdot 20% b/v paling efektif terhadap waktu penghentian
perdarahan mencit, tetapi efeknya masih lebih rendah dibanding
Ferri chloride 2% sebagai pembanding pada α 0,05.
B. Saran
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut unutk meningkatkan
konsentrasi ekstrak dari infus daun pirdot untuk pemgujian yang
sama.
31
DAFTAR PUSTAKA 26
Agromedia. 2012. Buku Pintar Tanaman Obat . PT . Agromedia Pustaka . i i i i i i i
Jakarta . Yogjakarta i i
Corwin Elizabeth J, 2012. Buku Saku Patofisiologi. EGC . Jakarta ..
i i i i i i i i
Departemen Kesehatan Republik Indonesia., 1986, Sediaan Galenik,
Departemen Kesehatan RI, Jakarta, 19
Departemen Kesehatan Republik Indonesia., 1979, Farmakope Indonesia,
Edisi III, Departemen Kesehatan RI, Jakarta, 37
Dewoto H.R. 2012. Pengembangan Obat Tradisional Indonesia Menjadi
Fitofarmaka. Majalah Kedokteran Indonesia vol 57 (7) : 205-11
Gandasoebrata.,2004, Penuntun Laboratorium Klinik, Penerbit Dian
Rakyat, Jakarta i
Hanani , E . 2016 . “Analisis Fitokimia” Penerbit Buku kedokteran EGC ;
i i i i i i i i i
Jakarta i
Herbie T , 2015 . Kitab Tanaman Berkhasiat Obat 226 Tumbuhan Obat
i i i i i i i i
untuk Pertumbuhan Penyakit dan Kebugaran Tubuh . Octopus
i i i i i i
Publishing House . Yogyakarta i i i
Hoffbrand, A.V.,1989, Hematologi, Edisi IV, Penerbit Buku Kedokteran
EGC, Jakarta i
Kemenkes , RI, 2014, Farmakope Indonesia Edisi V. Direktorat Jenderal
i i i i i i i i
Bina Kefarmasian Dan Alat Kesehatan . Jakarta
i i i i i
Malole , M. B. M . dan Pramono , C . S. U. 1989 . Penggunaan Hewan
i i i i i i i i i i i i i
iPercobaan di Laboratorium . Departemen Pendidikan dan i i i i
iKebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat Antar i i i i
iUniversitas Bioteknologi Institut Pertanian Bogor. i i
Maharani, S. 2010. Herbal Sebagai Obat Bagi Penderita Penyakit
Mematikan. A Plus Books.
Sadikin, H.M., 2011, Biokimia Darah, Widya Medika, Jakarta
32
Santoso Budi, S., 2009, Buku Pintar Kanker. Penerbit : Power Books,
Yogyakarta.
Sari, K, 2013 ‘Pemanfaatan Obat Tradisional Dengan Pertimbangan
Manfaat Dan Keamanannya’. Majalah Ilmu Kefarmasian
i Sasmito, Ediati, 2017 , Imunomodulator Bahan Alam , Rapha Publishing,
i i i i i i i
Yogyakarta.
i
Setiabudy R.D. 2012. Hematosis Dan Trombosis ed.kelima. Jakarta :
Badan Penerbit FKUI pp 1-8
Setiadinata Jimmy. 2015. Penanggulangan perdarahan. Bandung: FK
UNPAD
Soedibyo, B, 1998, ‘Alam Sumber Kesehatan Manfaat dan Kegunaan.
Edisi 1. Balai Pustaka, Jakarta
Sukandar, E.Y., Sigit J.I., Fitriyani, N. 2016. Efek Antiagregasi
Platelet Ekstrak Air Bulbus Bawang Putih (Allium sativum L.),
Ekstrak Etanol Rimpang Kunyit (Curcuma domestica Val.) dan
Kombinasi Pada Mencit Jantan Galur Swiss Webster. Majalah
Farmasi Indonesia
Tjay, T.H., dkk. 2012. Obat-Obat Penting khasiat, penggunaan , dan efek-
i i i i i i
efek sampingnya, edisi IV, PT .Elex Media Komputindo Kelompok
i i i i i i i i
Gramedia, Jakarta.
i i
Tjitrosoepomo, G.. 2013, Taksonomi Tanaman, Jogjakarta, UGM Press
Thomas, 2016, Tanaman Obat Tradisional 3, Kanisius, Yogyakarta
Widyaningrum, H., dkk. 2011. Kitab Tanaman Obat Nusantara. MedPress
(Anggota IKAPI). Jakarta
33
Hewan Uji mencit Daun Pirdot (Saurauia
vulcani Korth)
- Diadaptasi - Dibersihkan
- Dikelompokkan - Dipotong-potong kecil
- Ditimbang - Dibuat infus
- Dipuasakan
Infus daun Pirdot
Di kelompokkan menjadi 5
kelompok Konsentrasi : 5% b/v,
10% b/v dan 20% b/v
Perlakuan
Klp I Klp II Klp III Klp IV Klp V Kontrol
Aquadest Infus 5% b/v Infus 10% Infus (+) Ferri
b/v 20% b/v chloride 2%
Dihitung waktu
penghentian perdarahan
Pengumpulan data
Analisis data
Pembahasan
Kesimpulan
Gambar 1. Skema Kerja uji efek hemostatik infus daun Pirdot (Saurauia
vulcani Korth) terhadap penghentian perdarahan darah
mencit jantan (Mus musculus)
Lampiran 1. Analisis Statistik waktu (Detik) penghentian perdarahan pemberian
34
infus daun pirdot dengan program SPSS 24.
Descriptives
waktu perdarahan
95% Confidence
Interval for Mean
Std. Lower Upper
N Mean Deviation Std. Error Bound Bound Minimum Maximum
Kontrol negatif 3 192,0000 4,00000 2,30940 182,0634 201,9366 188,00 196,00
Infus 5% b/v 3 93,0000 5,56776 3,21455 79,1689 106,8311 87,00 98,00
Infus 10% b/v 3 67,6667 6,65833 3,84419 51,1265 84,2069 62,00 75,00
Infus 20% b/v 3 46,3333 4,04145 2,33333 36,2938 56,3729 42,00 50,00
Kontrol Positif 3 27,3333 2,51661 1,45297 21,0817 33,5849 25,00 30,00
Total 15 85,2667 59,83843 15,45022 52,1292 118,4041 25,00 196,00
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
waktu perdarahan ,216 15 ,059 ,820 15 ,107
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
Berdasarkan analisis diatas menunjukkan data tersebut terdistribusi Normal (P =
0,107>0,05)
Test of Homogeneity of Variances
waktu perdarahan
Levene Statistic df1 df2 Sig.
,842 4 10 ,529
Berdasarkan analisis diatas menunjukkan data tersebut Homogen (P = 0.529 > 0.05)
ANOVA
waktu perdarahan
Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups 49900,933 4 12475,233 547,159 ,000
Within Groups 228,000 10 22,800
Total 50128,933 14
Berdasarkan analisis Varians menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna
antar perlakuan (P 0.000 < 0.05)
35
Post Hoc Tests
Multiple Comparisons
Dependent Variable: waktu perdarahan
LSD
95% Confidence
Interval
Mean Difference Lower Upper
(I) Perlakuan (J) Perlakuan (I-J) Std. Error Sig. Bound Bound
Kontrol negatif Infus 5% b/v 99,00000*
3,89872 ,000 90,3131 107,6869
Infus 10% b/v 124,33333*
3,89872 ,000 115,6464 133,0202
Infus 20% b/v 145,66667*
3,89872 ,000 136,9798 154,3536
Kontrol Positif 164,66667* 3,89872 ,000 155,9798 173,3536
Infus 5% b/v Kontrol negatif -99,00000*
3,89872 ,000 -107,6869 -90,3131
Infus 10% b/v 25,33333*
3,89872 ,000 16,6464 34,0202
Infus 20% b/v 46,66667*
3,89872 ,000 37,9798 55,3536
Kontrol Positif 65,66667* 3,89872 ,000 56,9798 74,3536
Infus 10% b/v Kontrol negatif -124,33333*
3,89872 ,000 -133,0202 -115,6464
Infus 5% b/v -25,33333*
3,89872 ,000 -34,0202 -16,6464
Infus 20% b/v 21,33333*
3,89872 ,000 12,6464 30,0202
Kontrol Positif 40,33333* 3,89872 ,000 31,6464 49,0202
Infus 20% b/v Kontrol negatif -145,66667*
3,89872 ,000 -154,3536 -136,9798
Infus 5% b/v -46,66667*
3,89872 ,000 -55,3536 -37,9798
Infus 10% b/v -21,33333*
3,89872 ,000 -30,0202 -12,6464
Kontrol Positif 19,00000* 3,89872 ,001 10,3131 27,6869
Kontrol Positif Kontrol negatif -164,66667*
3,89872 ,000 -173,3536 -155,9798
Infus 5% b/v -65,66667*
3,89872 ,000 -74,3536 -56,9798
Infus 10% b/v -40,33333*
3,89872 ,000 -49,0202 -31,6464
Infus 20% b/v -19,00000* 3,89872 ,001 -27,6869 -10,3131
*. The mean difference is significant at the 0.05 level.
Kontrol Negatif vs Infus daun pirdot 5% b/v Menunjukkan perbedaan yang nyata
(P<0,05)
Kontrol Negatif vs Infus daun pirdot 10% b/v Menunjukkan perbedaan yang
nyata (P<0,05)
Kontrol Negatif vs Infus daun pirdot 20% b/v Menunjukkan perbedaan yang nyata
36
(P<0,05)
Kontrol Negatif vs Kontrol Positif Menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05)
Infus daun pirdot 5% b/v vs Infus daun pirdot 10% Menunjukkan perbedaan yang
i i i
nyata ( P<0,05 )
i i i
Infus daun pirdot 5% b/v vs Infus daun pirdot 20% b/v Menunjukkan perbedaan
yang nyata (P<0,05)
Infus daun pirdot 5% b/v vs Kontrol Positif Menunjukkan perbedaan yang nyata
(P<0,05)
Infus daun pirdot 10% b/v vs Infus daun pirdot 20% b/v Menunjukkan perbedaan
yang nyata (P<0,05)
Infus daun pirdot 15% b/v vs Kontrol Positif Menunjukkan perbedaan yang nyata
(P<0,05)
Infus daun pirdot 20% b/v vs Kontrol Positif Menunjukkan perbedaan yang nyata
(P<0,05)
37
200
180
160
perdarahan(Menit, De-
140
Waktu penghentian
120
100
80
tik)
60
40
20
0
Aquadest Infus 5% b/v Infus 10% b/v Infus 20% b/v Ferri Klorida
Perlakuan
Gambar 3. Histogram nilai rata-rata selisih waktu penghentian perdarahan
dengan pemberian infus daun pirdot terhadap mencit (Mus
musculus)
38
Gambar 4. Infus daun pirdot (Saurauia vulcani Korth)
Gambar 5. Perlakuan terhadap hewan uji