Anda di halaman 1dari 28

PRAKTEK KOMPLEMENTER

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN


DENGAN PASIEN HIPERTENSI

Oleh:
PUTU ADHELINA ISWARA DEVI
203221185
KELAS: B13-B

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA MEDIKA
BALI
TAHUN 2021
LAPORAN PENDAHULUAN HIPERTENSI

A. Definisi Hipertensi
Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten
dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90
mmHg. Pada populasi lansia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan
sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg. (Smeltzer, 2001).
Hipertensi didefinisikan oleh Joint National Committee on Detection
(JIVC) sebagai tekanan yang lebih tinggi dari 140/90 mmHg dan
diklasifikasikan sesuai derajat keparahannya, mempunyai rentang dari
tekanan darah (TD) normal tinggi sampai hipertensi maligna.
Hipertensi dikategorikan ringan apabila tekanan diastoliknya antara
95 – 104 mmHg, hipertensi sedang jika tekanan diastoliknya antara 105 dan
114 mmHg, dan hipertensi berat bila tekanan diastoliknya 115 mmHg atau
lebih. Pembagian ini berdasarkan peningkatan tekanan diastolik karena
dianggap lebih serius dari peningkatan sistolik (Smith Tom, 1995).

B. Klasifikasi Hipertensi
Klasifikasi hipertensi menurut WHO, yaitu:
1. Tekanan darah normal yaitu bila sistolik kurang atau sama dengan 140
mmHg dan diastolik kurang atau sama dengan 90 mmHg
2. Tekanan darah perbatasan (broder line) yaitu bila sistolik 141-149
mmHg dan diastolik 91-94 mmHg
3. Tekanan darah tinggi (hipertensi) yaitu bila sistolik lebih besar atau
sama dengan 160 mmHg dan diastolik lebih besar atau sama dengan
95mmHg.
Klasifikasi menurut The Joint National Committee on the Detection
and Treatment of Hipertension, yaitu:
1. Diastolik
a. < 85 mmHg : Tekanan darah normal
b. 85 – 99 mmHg : Tekanan darah normal tinggi
c. 90 -104 mmHg : Hipertensi ringan
d. 105 – 114 mmHg : Hipertensi sedang
e. >115 mmHg : Hipertensi berat
2. Sistolik (dengan tekanan diastolik 90 mmHg)
a. < 140 mmHg : Tekanan darah normal
b. 140 – 159 mmHg : Hipertensi sistolik perbatasan terisolasi
c. > 160 mmHg : Hipertensi sistolik teriisolasi

Krisis hipertensi adalah Suatu keadaan peningkatan tekanan darah


yang mendadak (sistole ≥180 mmHg dan/atau diastole ≥120 mmHg), pada
penderita hipertensi, yg membutuhkan penanggulangan segera yang ditandai
oleh tekanan darah yang sangat tinggi dengan kemungkinan timbulnya atau
telah terjadi kelainan organ target (otak, mata (retina), ginjal, jantung, dan
pembuluh darah).
Tingginya tekanan darah bervariasi, yang terpenting adalah cepat
naiknya tekanan darah, diantaranya yaitu:
1. Hipertensi Emergensi
Situasi dimana diperlukan penurunan tekanan darah yang segera
dengan obat antihipertensi parenteral karena adanya kerusakan organ
target akut atau progresif target akut atau progresif. Kenaikan TD
mendadak yg disertai kerusakan organ target yang progresif dan di
perlukan tindakan penurunan TD yg segera dalam kurun waktu
menit/jam.
2. Hipertensi Urgensi
Situasi dimana terdapat peningkatan tekanan darah yang
bermakna tanpa adanya gejala yang berat atau kerusakan organ target
progresif bermakna tanpa adanya gejala yang berat atau kerusakan
organ target progresif dan tekanan darah perlu diturunkan dalam
beberapa jam. Penurunan TD harus dilaksanakan dalam kurun waktu
24-48 jam (penurunan tekanan darah dapat dilaksanakan lebih lambat
(dalam hitungan jam sampai hari).
C. Etiologi
Pada umumnya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik
(idiopatik). Hipertensi terjadi sebagai respon peningkatan cardiac output
atau peningkatan tekanan perifer. Namun ada beberapa faktor yang
mempengaruhi terjadinya hipertensi:
1. Genetik: Respon neurologi terhadap stress atau kelainan eksresi atau
transport Na.
2. Obesitas: terkait dengan level insulin yang tinggi yang mengakibatkan
tekanan darah meningkat.
3. Stress Lingkungan.
4. Hilangnya Elastisitas jaringan dan arterosklerosis pada orang tua serta
pelebaran pembuluh darah.
Berdasarkan etiologinya Hipertensi dibagi menjadi 2 golongan yaitu:
1. Hipertensi Primer
Penyebab tidak diketahui namun banyak factor yang
mempengaruhi seperti genetika, lingkungan, hiperaktivitas, susunan
saraf simpatik, system rennin angiotensin, efek dari eksresi Na,
obesitas. Ciri lainnya yaitu: umur (jika umur bertambah maka TD
meningkat), jenis kelamin (laki-laki lebih tinggi dari perempuan), ras
(ras kulit hitam lebih banyak dari kulit putih), kebiasaan hidup
(konsumsi garam yang tinggi melebihi dari 30 gr, kegemukan atau
makan berlebihan, stres, merokok, minum alcohol, dan minum obat-
obatan (ephedrine, prednison, epineprin).
2. Hipertensi Sekunder
Dapat diakibatkan karena penyakit parenkim renal/vaskuler renal,
diabetes melitus, stroke.
Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya
perubahan-perubahan pada:
1. Elastisitas dinding aorta menurun.
2. Katub jantung menebal dan menjadi kaku.
3. Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun
sesudah berumur 20 tahun kemampuan jantung memompa darah
menurun menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.
4. Kehilangan elastisitas pembuluh darah.Hal ini terjadi karena kurangnya
efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi Meningkatnya
resistensi pembuluh darah perifer.
D. Patofisiologi
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh
darah terletak dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat
vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke
korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di
toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam
bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis ke
ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin,
yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah,
dimana dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan konstriksi
pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat
mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi.
Individu dengan hipertensi sangat sensitiv terhadap norepinefrin, meskipun
tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang
pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga
terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla
adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks
adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat
respons vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang
mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal, menyebabkan pelepasan rennin.
Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah
menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya
merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini
menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan
peningkatan volume intra vaskuler. Semua faktor ini cenderung
mencetuskan keadaan hipertensi.
Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan
structural dan fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab
pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan
tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan
penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya
menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah.
Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam
mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume
sekuncup) mengakibatkan penurunan curang jantung dan peningkatan
tahanan perifer (Smeltzer, 2001).
Pada usia lanjut perlu diperhatikan kemungkinan adanya “hipertensi
palsu” disebabkan kekakuan arteri brachialis sehingga tidak dikompresi oleh
cuff sphygmomanometer (Darmojo, 1999).
Menurunnya tonus vaskuler merangsang saraf simpatis yang
diteruskan ke sel jugularis. Dari sel jugularis ini bisa meningkatkan tekanan
darah. Dan apabila diteruskan pada ginjal, maka akan mempengaruhi eksresi
pada rennin yang berkaitan dengan Angiotensinogen. Dengan adanya
perubahan pada angiotensinogen II berakibat pada terjadinya vasokontriksi
pada pembuluh darah, sehingga terjadi kenaikan tekanan darah.Selain itu
juga dapat meningkatkan hormone aldosteron yang menyebabkan retensi
natrium. Hal tersebut akan berakibat pada peningkatan tekanan darah.
Dengan peningkatan tekanan darah maka akan menimbulkan kerusakan
pada organ-organ seperti jantung. (Suyono, Slamet. 1996).
PATHWAY

Umur Gaya Obesitas


Jenis Kelamin
Hidup

Elastisitas, Arteriosklerosis

Hipertensi

Kerusakan vaskuler pembuluh darah

Perubahan struktur

Penyumbatan pembuluh darah

Vasokonstriksi
Gangguan sirkulasi

otak
ginjal pembuluh darah retina
Spasme
vasokonstriksi sistemik koroner
Resistensi Suplain pembuluh darah ginjal arteriole
O
2
pembuluh Iskemik miocard
otak vasokontraksi
darah otak diplopia
Blood flow Afterload
sinkop Nyeri
Nyeri menurun
meningkat resti injuri
Kepala
Cemas
Respon RAA
D.0077 D.000 fatique
Rangsangan D.0080 Ansietas
Nyeri 8
aldosteron
D.0009 Penurunan
Perfusi
Perifer Retensi Na

edema D.0056
Intoleransi
D.0022 Hipervolemia
E. Tanda Dan Gejala
Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi
meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini merupakan
gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari
pertolongan medis.
Menurut Rokhaeni (2001) manifestasi klinis beberapa pasien yang
menderita hipertensi yaitu: mengeluh sakit kepala, pusing lemas, kelelahan,
sesak nafas, gelisah, mual muntah, epistaksis, kesadaran menurun.
Manifestasi klinis pada klien dengan hipertensi adalah:
1. Peningkatan tekanan darah > 140/90 mmHg.
2. Sakit kepala
3. Pusing / migraine
4. Rasa berat ditengkuk
5. Penyempitan pembuluh darah
6. Sukar tidur
7. Lemah dan lelah
8. Nokturia
9. Azotemia
10. Sulit bernafas saat beraktivitas
F. PemeriksaanPenunjang
Pemeriksaan penunjang dilakukan dua cara yaitu:
1. Pemeriksaan yang segera seperti:
a. Darah rutin (Hematokrit/Hemoglobin): untuk mengkaji hubungan
dari sel-sel terhadap volume cairan (viskositas) dan dapat
mengindikasikan factor resiko seperti: hipokoagulabilitas, anemia.
b. Blood Unit Nitrogen/kreatinin: memberikan informasi tentang
perfusi / fungsi ginjal.
c. Glukosa: Hiperglikemi (Diabetes Melitus adalah pencetus
hipertensi) dapat diakibatkan oleh pengeluaran Kadar ketokolamin
(meningkatkan hipertensi).
d. Kalium serum: Hipokalemia dapat megindikasikan adanya
aldosteron utama (penyebab) atau menjadi efek samping terapi
diuretik.
e. Kalsium serum: Peningkatan kadar kalsium serum dapat
menyebabkan hipertensi.
f. Kolesterol dan trigliserid serum: Peningkatan kadar dapat
mengindikasikan pencetus untuk/ adanya pembentukan plak
ateromatosa (efek kardiovaskuler).
g. Pemeriksaan tiroid: Hipertiroidisme dapat menimbulkan
vasokonstriksi dan hipertensi.
h. Kadar aldosteron urin/serum: untuk mengkaji aldosteronisme
primer (penyebab).
i. Urinalisa: Darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi ginjal
dan ada DM.
j. Asam urat: Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko
hipertensi.
k. Steroid urin: Kenaiakn dapat mengindikasikan hiperadrenalisme.
l. EKG: 12 Lead, melihat tanda iskemi, untuk melihat adanya
hipertrofi ventrikel kiri ataupun gangguan koroner dengan
menunjukan pola regangan, dimana luas, peninggian gelombang P
adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi.
m. Foto dada: apakah ada oedema paru (dapat ditunggu setelah
pengobatan terlaksana) untuk menunjukan destruksi kalsifikasi
pada area katup, pembesaran jantung.
2. Pemeriksaan lanjutan (tergantung dari keadaan klinis dan hasil
pemeriksaan yang pertama):
a. IVP :Dapat mengidentifikasi penyebab hipertensi seperti penyakit
parenkim ginjal, batu ginjal / ureter.
b. CT Scan: Mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati.
c. IUP: mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti: Batu ginjal,
perbaikan ginjal.
d. Menyingkirkan kemungkinan tindakan bedah neurologi: Spinal tab,
CAT scan.
e. USG untuk melihat struktur gunjal dilaksanakan sesuai kondisi
klinis pasien
G. Penatalaksanaan
Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan
mortalitas akibat komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan
pencapaian dan pemeliharaan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg. Prinsip
pengelolaan penyakit hipertensi meliputi:
1. Terapi tanpa Obat  Terapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan
untuk hipertensi ringan dan sebagai tindakan suportif pada hipertensi
sedang dan berat. Terapi tanpa obat ini meliputi: diet destriksi garam
secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr, diet rendah kolesterol
dan rendah asam lemak jenuh.
2. Menghentikan merokok
3. Latihan Fisik
Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah yang dianjurkan
untuk penderita hipertensi adalah olah raga yang mempunyai empat
prinsip yaitu: Macam olah raga yaitu isotonis dan dinamis seperti lari,
jogging, bersepeda, berenang dan lain-lain. Intensitas olah raga yang
baik antara 60-80 % dari kapasitas aerobik atau 72-87 % dari denyut
nadi maksimal yang disebut zona latihan. Lamanya latihan berkisar
antara 20 – 25 menit berada dalam zona latihan Frekuensi latihan
sebaiknya 3 x perminggu dan paling baik 5 x perminggu.
4. Edukasi Psikologis
Pemberian edukasi psikologis untuk penderita hipertensi meliputi:
a. Tehnik Biofeedback
Biofeedback adalah suatu tehnik yang dipakai untuk menunjukkan
pada subyek tanda-tanda mengenai keadaan tubuh yang secara
sadar oleh subyek dianggap tidak normal. Penerapan biofeedback
terutama dipakai untuk mengatasi gangguan somatik seperti nyeri
kepala dan migrain, juga untuk gangguan psikologis seperti
kecemasan dan ketegangan.
b. Tehnik relaksasi
Relaksasi adalah suatu prosedur atau tehnik yang bertujuan untuk
mengurangi ketegangan atau kecemasan, dengan cara melatih
penderita untuk dapat belajar membuat otot-otot dalam tubuh
menjadi rileks Pendidikan Kesehatan (Penyuluhan). Tujuan
pendidikan kesehatan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan
pasien tentang penyakit hipertensi dan pengelolaannya sehingga
pasien dapat mempertahankan hidupnya dan mencegah komplikasi
lebih lanjut.
5. Terapi dengan Obat
Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan
darah saja tetapi juga mengurangi dan mencegah komplikasi akibat
hipertensi agar penderita dapat bertambah kuat. Pengobatan hipertensi
umumnya perlu dilakukan seumur hidup penderita.
Pengobatan standar yang dianjurkan oleh Komite Dokter Ahli
Hipertensi (Joint National Committee On Detection, Evaluation And
Treatment Of High Blood Pressure, Usa, 1988) menyimpulkan bahwa
obat diuretika, penyekat beta, antagonis kalsium, atau penghambat ACE
dapat digunakan sebagai obat tunggal pertama dengan memperhatikan
keadaan penderita dan penyakit lain yang ada padapenderita.
H. Cara Pencegahan
1. Pencegahan Primer
Faktor resiko hipertensi antara lain: tekanan darah diatas rata-rata,
adanya hipertensi pada anamnesis keluarga, ras (negro), tachycardi,
obesitas dan konsumsi garam yang berlebihan dianjurkan untuk:
a. Mengatur diet agar berat badan tetap ideal juga untuk menjaga agar
tidak terjadi hiperkolesterolemia, Diabetes Mellitus, dsb.
b. Dilarang merokok atau menghentikan merokok.
c. Merubah kebiasaan makan sehari-hari dengan konsumsi rendah
garam.
d. Melakukan exercise untuk mengendalikan berat badan.
2. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder dikerjakan bila penderita telah diketahui
menderita hipertensi berupa:
a. Pengelolaan secara menyeluruh bagi penderita baik dengan obat
maupun dengan tindakan-tindakan seperti pada pencegahan primer.
b. Harus dijaga supaya tekanan darahnya tetap dapat terkontrol secara
normal dan stabil mungkin.
c. Faktor-faktor resiko penyakit jantung ischemik yang lain harus dikontrol.
d. Batasi aktivitas.
I. Diit Hipertensi
1. Konsumsi lemak dibatasi
2. Konsumsi kolesterol dibatasi
3. Konsumsi kalori dibatasi untuk yang terlalu gemuk atau obese
4. Makanan yang boleh dikonsumsi
a. Sumber kalori (beras,tales,kentang,macaroni,mie,bihun,tepung-
tepungan, gula).
b. Sumber protein hewani (daging,ayam,ikan,semua terbatas kurang
lebih 50 gram perhari, telur ayam,telur bebek paling banyak satu
butir sehari, susu tanpa lemak).
c. Sumber protein nabati (kacang-kacangan kering seperti
tahu,tempe,oncom).
d. Sumber lemak (santan kelapa encer dalam jumlah terbatas).
e. Sayuran (sayuran yang tidak menimbulkan gas seperti
bayam,kangkung,buncis, kacang panjang, taoge, labu siam, oyong,
wortel).
f. Buah-buahan (semua buah kecuali nangka, durian, hanya boleh
dalam jumlah terbatas).
g. Bumbu (pala, kayu manis,asam,gula, bawang merah, bawang putih,
garam tidak lebih 15 gram perhari).
h. Minuman (teh encer, coklat encer, juice buah).
5. Makanan yang tidak boleh dikonsumsi
a. Makanan yang banyak mengandung garam.
b. Makanan yang banyak mengandung kolesterol
c. Makanan yang banyak mengandung lemak jenuh.
d. Lemak hewan:sapi,babi,kambing,susu jenuh,cream, keju, mentega.
e. Makanan yang banyak menimbulkan gas.
6. Obat Tradisional Untuk Hipertensi
Banyak tumbuhan obat yang telah lama digunakan oleh
masyarakat secara tradisional untuk mengatasi hipertensi atau tekanan
darah tinggi. Hal yang perlu diinformasikan kepada masyarakat adalah
cara penggunaannya, dosis, serta kemungkinan adanya efek samping
yang tidak diketahui. Obat – obat tradisional tersebut diantaranya:
a. Buah Belimbing
Buah ini dapat mengontrol tekanan darah dalam keadaan
normal dan juga bisa menurunkan tekanan darah bagi mereka yang
sudah mengalaminya. Caranya yaitu buah belimbing yang sudah
masak diparut halus. Kemudian parutan belimbing diperas sehingga
menjadi satu gelas sari belimbing. Air perasan ini diminum setiap
pagi, lakukan selama tiga minggu sampai satu bulan. Setelah satu
bulan sari belimbing ini dapat diminum dua hari sekali. Tidak perlu
menambahkan gula pasir atau sirup pada air perasan. Bagi mereka
yang sudah terlanjur menderita hipertensi, sebaiknya gunakan buah
belimbing yang besar sehingga air perasannya lebih banyak.
b. Daun Seledri
Cara penggunaannya dengan menumbuk segenggam daun
seledri sampai halus, saring dan peras deengan kain bersih dan
halus. Air saringan usahakan satu gelas diamkan selama satu jam,
kemudian diminum pagi dan sore dengan sedikit ampasnya yang
ada di dasar gelas. Menurut penelitian daun seledri bisa
memperkecil fluktuasi kenaikan tekanan darah.
c. Bawang Putih
Caranya dengan memakan langsung tiga siung bawang putih
mentah setiap pagi dan sore hari. Pilih bawang putih yang kulitnya
berwarna coklat kehitaman karena mutunya lebih baik. Jika tidak
mau memakannya dalam keadaan mentah bisa direbus atau dikukus
dulu. Namun karena banyak zatnya yang bisa berkhasiat yang dapat
ikut larut ddalam air rebusannya, sebaiknya ditambaah menjadi 8
sampai 9 siung sekali makan.
d. Buah Mengkudu / Pace
Buah ini sebagai alternatif untuk menekan hipertensi.
Caranya hampir sama dengan buah belimbing, yaitu dengan cara
memarut halus, kemudian diperas memakai kain kassa yang bersih,
diambil airnya. Minum sari mengkudu setiap pagi dan sore hari
secara teratur
e. Avokad
Caranya lima daun avokad dicuci bersih, kemudian direbus
dengan 4 gelas air putih. Tunggu air rebusan hingga menjaadi 2
gelas, saring. Satu gelas diminum pagi hari, satu gelas lagi
diminum sore hari.
f. Melon
g. Semangka
h. Mentimun
7. Titik Akupoint

1) Titik Lr 3 (Taichong) berada di selala-sela tulang jempol dan


telunjuk jari kaki kanan dan kiri
2) Titik Li 4 (Hegu) berada diantara jempol dan telunjuk jari tangan
kanan dan kiri
3) Titik PC 6 (Neiguan)
Terletak 2 jari di bawah pergelangan tangan kanan dan kiri.
Neiguan (PC 6) adalah titik akupresur yang efektif yang bekerja
sebagai obat untuk vertigo dan juga membantu untuk meringankan
gejala yang berhubungan lainnya seperti mual, mabuk dan sakit
kepala. Hal ini terletak tiga jari - di bawah pergelangan tangan, di
lengan bagian dalam, antara dua tendon.
4) Titik GB 21 (Jianjing)
Terletak di pundak kanan dan kiri. Titik GB 21 atau Kandung
Empedu 21 yang populer digunakan dalam akupresur dan
akupunktur pengobatan untuk menghilangkan pusing, vertigo,
mual dan mabuk. Titik ini terletak pada kedua bahu, langsung
segaris di atas puting, di titik tengah dari garis yang
menghubungkan GV 14 dan titik tertinggi dari pundak. Dengan
tekanan yang kuat di kedua bahu juga membantu menghilangkan
rasa sakit leher dan kekakuan, nyeri bahu, sakit kepala, asma, abses
payudara.
5) Titik GB 20 (Fengchi)
Terletak di cekungan tulang tengkorak belakang bagian bawah.
Titik GB 20 atau Gall Bladder 20 adalah satu lagi titik ampuh yang
banyak digunakan dalam terapi akupresur untuk penyembuhan
pusing-pusing. Titik ini dinamakan Kolam Angin, dan terletak di
bagian belakang leher, di bawah tengkorak, di alur di mana otot-
otot leher bertemu tengkorak. Mengaktifkan titik ini sangat
berguna untuk pengobatan pusing, vertigo, epilepsi dan
hemiplegia. Hal ini juga berguna untuk mengatasi masalah sakit
kepala, masalah mata, tekanan darah tinggi, sakit leher dan bahu
dan gangguan neurologis.
6) Titik ST 36 (Zusanli) terletak di daerah 3 cun atau 4 jari di bawah
patella dan satu cun atau 1 jari lateral dari krista tibia.
J. Pengkajian Keperawatan
1. Aktivitas / istirahat
Gejala :kelemahan, letih, napas pendek, gaya hidup monoton.
Tanda :frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung,
takipnea.
2. Sirkulasi
Gejala : giwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung
koroner / katup, penyakit serebrovaskuler.
Tanda : kenaikan TD, nadi (denyutan jelas), frekuensi / irama
(takikardia, berbagai disritmia), bunyi jantung (murmur, distensi vena
jugularis, ekstermitas, perubahan warna kulit), suhu dingin
(vasokontriksi perifer), pengisian kapiler mungkin lambat.
3. Integritas Ego
Gejala : riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi,
euphoria, marah, faktor stress multiple (hubungsn, keuangan,
pekerjaan).
Tanda :letupan suasana hati, gelisah, penyempitan kontinue
perhatian, tangisan yang meledak, otot muka tegang (khususnya sekitar
mata), peningkatan pola bicara.
4. Eliminasi
Gejala : gangguan ginjal saat ini atau yang lalu (infeksi, obstruksi,
riwayat penyakit ginjal).
5. Makanan / Cairan
Gejala : makanan yang disukai yang dapat mencakup makanan
tinggi garam, lemak dan kolesterol, mual, muntah, riwayat penggunaan
diuretik.
Tanda : BB normal atau obesitas, edema, kongesti vena,
peningkatan JVP, glikosuria.
6. Neurosensori
Gejala :keluhan pusing / pening, sakit kepala, episode kebas,
kelemahan pada satu sisi tubuh, gangguan penglihatan (penglihatan
kabur, diplopia), episode epistaksis.
Tanda : perubahan orientasi, pola nafas, isi bicara, afek, proses
pikir atau memori (ingatan), respon motorik (penurunan kekuatan
genggaman), perubahan retinal optik.
7. Nyeri/ketidaknyamanan
Gejala :nyeri hilang timbul pada tungkai, sakit kepala oksipital
berat, nyeri abdomen.
8. Pernapasan
Gejala : dispnea yang berkaitan dengan aktivitas, takipnea,
ortopnea, dispnea nocturnal proksimal, batuk dengan atau tanpa
sputum, riwayat merokok.
Tanda :distress respirasi/ penggunaan otot aksesoris pernapasan,
bunyi napas tambahan (krekles, mengi), sianosis.
9. Keamanan
Gejala : gangguan koordinasi, cara jalan.
Tanda : episode parestesia unilateral transien.
10. Pembelajaran / Penyuluhan
Gejala : faktor resiko keluarga (hipertensi, aterosklerosis, penyakit
jantung, DM , penyakit serebrovaskuler, ginjal), faktor resiko etnik,
penggunaan pil KB atau hormon lain, penggunaan obat / alkohol.
K. Diagnosa Keperawatan
1. D.0077 Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis (mis.
Inflamasi, iskemia, neoplasma), agen pencedera kimiawi (mis. Terbakar,
bahan kimia iritan, agen pencedera fisik (mis. Abses, amputasi, terbakar,
terpotong, mengangkat berat, prosedur operasi, trauma, latihan fisik
berlebihan)
2. D.0080 Ansietas berhubungan dengan krisis situasional, kebutuhan tidak
terpenuhi, Krisi maturasional, ancaman terhadap konsep diri, ancaman
terhadap kematian, kekhawatiran mengalami kegagalan, disfungsi system
keluarga, hubungan orang tua-anak tidak memuaskan, factor keturunan,
penyalahgunaan zat, terpapar bahaya lingkungan, kurang terpapar
informasi,
3. D.0008 Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan irama
jantung, perubahan frekuensi jantung, perubahan kontraktilitas,
perubahan preload, perubahan afterload.
4. D.0022 Hipervolemia berhubangan dengan gangguan mekanisme
regulasi, kelebihan asupan cairan, kelebihan asupan natrium, gangguan
aliran balik vena, efek agen farmakologis (mis. Kortikosteroid,
chlorpropamide, tolbutamide, vincristine, trytilinescarbamazepine)
5. D.0009 Perfusi Perifer Tidak Efektif berhubungan dengan hiperglikemia,
penurunan konsentrasi hemoglobin, peningkatan tekanan darah,
kekurangan volume cairan, penurunan aliran arteri dan/atau vena, kurang
terpapar informasi tentang faktor pemberat, kurang terpapar informasi
tentang proses penyakit, kurang aktivitas fisik
6. D.0056 Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan
antara suplai dan kebutuhan oksigen, tirah baring, kelemahan, imobilitas,
gaya hidup monoton
L. Intervensi

N TUJUAN DAN KRITERIA


DIAGNOSA INTERVENSI RASIONAL
O HASIL

1. D.0077 Nyeri akut Tingkat Nyeri (L.08066) Manajemen nyeri (I.08238) Manajemen Nyeri
Setelah dilakukan asuhan Observasi Observasi
keperawatan selama a. Identifikasi lokasi, a. Mengetahui lokasi,
...x 24 jam diharapkan tingkat karakteristik, durasi, karakteristik, durasi,
nyeri menurun dengan kriteria frekuensi, frekuensi, kualitas,
hasil: kualitas,imtensitas nyeri intensitas nyeri pada
a. Keluhan nyeri menurun b. Identifikasi skala nyeri pasien.
c. Identifikasi faktor yang b. Mengetahui skala
b. Meringis menurun
memperberat nyeri dan nyeri yang dirasakan
c. Sikap protektif menurun memperingan nyeri pasien.
d. Gelisah menurun Terapiutik c. Mengetahui faktor
e. Kesulitan tidur menurun a. Berikan teknik yang memperberat
Frekuensi nadi membaik nokfarmakologis untuk dan memperingan
mengurangi rasa nyeri nyeri pasien.
(mis. TENS, hypnosis, Teraprutik
akupresur, terapi music, a. Membantu
biofeedback, terapi pijat, mengurangi nyeri
aromaterapi, teknik Tn.S
imajinasi termbimbing,
kompres hangat/dingin,
terapi bermain)
Edukasi
a. Ajarkan teknik
nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri Edukasi
kepala: akupresure untuk a. Membantu
hipertensi di titik mengurangi rasa nyeri
akibat hipertensi
1) Titik Lr 3 (Taichong)
2) Titik Li 4 (Hegu)
3) Titik PC 6 (Neiguan)
4) Titik GB 20 (Fengchi)
5) Titik GB 21 (Jianjing)
6) Titik ST 36 (Zusanli)
Setelah dilakukan asuhanReduksi Ansietas Reduksi Ansietas
2. D.0080 Ansietas
keperawatan selama … x 30 menit Observasi Observasi
kunjungan, diharapkan ansietas a. Identifikasi saat tingkat a. Mengetahui tingkat
dapat menurun dengan kriteria ansietas berubah (mis. perubahan ansietas.
hasil: kondisi, waktu, stresor)
b. Menbantu memilih
1. Verbalisasi kebingungan
b. Identifikasi kemampuan keputusan yang akan
menurun/ tidak bingung
mengambil keputusan diambil/dipilih untuk
2. Verbalisasi khawatir akibat mengatasi ansietas
kondisi yang dihadapi
Edukasi
menurun/ tidak khawatir Edukasi
a. Dengan mengetahui
a. Jelaskan prosedur, termasuk
3. Tidak gelisah prosedur yang akan
sensasi yang mungkin
dilakukan aka
dialami
4. Tidak tegang b. Informasikan secara faktual mengurangi tingkat
mengenai diagnosis, ansietas
pengobatan dan prognosis
b. Meningkatkan
c. Latih teknik relaksasi nafas pengetahuan mengenai
dalam penyakit.
d. Ajarkan teknik c. Membantu agar lebih
nonfarmakologis untuk rileks.
mengurangi rasa nyeri
d. Membantu
kepala: akupresure untuk
mengurangi
hipertensi di titik
kecemasan pasien.
1) Titik Lr 3 (Taichong)
2) Titik Li 4 (Hegu)
3) Titik PC 6 (Neiguan)
4) Titik GB 20 (Fengchi)
5) Titik GB 21 (Jianjing)
6) Titik ST 36 (Zusanli)
D.0008 Penuruan Curah Jantung (L.02008) Perawatan Jantung (I.02075)
3
Curah Jantung Setelah dilakukan asuhan Observasi Observasi
keperawatan selama … x 30 menit
a. Identifikasi tanda/gejala a. Untuk mengetahui
kunjungan, diharapkan curah
jantung dapat meningkat dengan primer penurunan curah adanya tanda gejala
kriteria hasil: dari penurunan curah
jantung (meliputi dispnea,
1. Palpitasi menurun jantung
kelelahan, edema, ortopnea, b. Untuk memantau
2. Bradikardia menurun
kondisi tekanan darah
3. Edema menurun paroxysmal nocturnal pasien apakah terjadi
4. Lelah menurun dyspnea, peningkatan CVP) peningkatan atau tidak
5. Dispnea menurun c. Untuk mencegah
6. Pucat/sianosis tidak ada b. Monitor tekanan darah
terjadinya edema
c. Monitor intake dan output
cairan
Terapeutik
Terapeutik
a. agar kerja jantung
a. Berikan diet jantung yang
tidak terlalu berat
sesuai (mis. Batasi asupan dalam mencerna
kafein, natrium, kolestrol, makanan
b. membantu pasien
dan makanan tinggi lemak)
untuk mengurasi
b. Berikan terapi relaksasi kecemasan karena
untuk mengurangi stres, jika penyakit yang
perlu dialaminya
Edukasi
a. Anjurkan beraktivitas fisik Edukasi
sesuai toleransi a. Untuk mengontrol
b. Anjurkan beraktivitas fisik kerja jantung agar
tidak terlalu lelah
secara berharap
b. Untuk mengontrol
kerja jantung agar
Kolaborasi tidak terlalu lelah
a. Kolaborasi pemberian Kolaborasi
antiaritmia a. Membantu untuk
proses penyembuhan
pasien
Keseimbangan cairanManajemen Hipervolemia
4. D.0022
(L.03020) (I.03114)
Hipervolemia
Setelah dilakukan intervensiObservasi : Observasi :
keperawatan selama … x …jam a. Periksa tanda dan gejala a. Mengetahui
maka keseimbangan cairan hipervolemia (mis. ortopnea, peningkatan
meningkat dengan kriteria hasil dispnea, edema, JVP/CVP menunjukan adanya
: meningkat, reflek hipervolemia.
• Asupan cairan meingkat hepatojugular positif, suara b. Untuk mengetahui
• Haluaran urin meningkat napas tambahan) kondisi yang dapat
b. Identifikasi penyebab menyebabkan
• Kelembaban
hipervolemia hipervolemia
membran mukosa
meningkat c. Monitor intake dan output c. Menentukan status
• Asupan makanan meningkat cairan keseimbangan cairan
tubuh pasien.
• Konfunsi menurun
Terapeutik : Terapeutik :
• Tekanan darah membaik
a. Batasi asupan cairan dan a. Menjaga agar
• Denyut nadi radial garam kelebihan cairan tidak
membaik
b. Tinggikan kepala tempat bertambah parah
• Turgor kulit membaik tidur 30-400 b. Agar merasa nyaman
• Berat badan membaik
Edukasi : Edukasi :
a. Ajarkan cara mengukur dan a. Pentingnya
mencatat asupan pengukuran intake dan
dan haluaran cairan output cairan agar
b. Ajarkan cara membatasi terdokumentasi
cairan sepenuhnya
b. Pembatasan cairan
membutukan
kerjasama dari
berbagai pihak
termasuk pasien dan
Keluarga
Kolaborasi :
Kolaborasi : a. Diuretik dapat
a. Kolaborasi pemberian meningkatkan laju
diuretik aliran urine sehingga
b. Kolaborasi pemberian produksi urine
continuous renal meningkat guna
replacement therapy mengurangi kelebihan
(CRRT), jika perlu volume cairan dalam
tubuh
b. Merupakan terapi
yang menggantikan
fungsi penyaringan
darah normal dari
ginjal
Perfusi Perifer (L.02011) Perawatan Sirkulasi
5. D.0009
Setelah dilakukan asuhan I.02079
Perfusi perifer keperawatan selama ….x24 jam Observasi Observasi
tidak efektif diharapkan perfusi perifer a. Untuk mengetahui
a. Periksa sirkulasi
efektif adekuat dengan kriteria kondisi perifer
perifer
hasil : b. Identifikasi faktor b. Untuk mengetaui
1. Warna kulit pucat resiko gangguan pada penyebab dari
menurun (skor 5) sirkulasi kerusakan sirkulasi
2. Pengisian kapiler membaik c. Monitor adanya panas, c. Untuk mengetahui
(skor 5) < 2 detik kemerahan, nyeri atau adanya tanda gejala
3. Turgor kulit membaik bengkak ekstermitas dari gangguan sirkulasi
(skor 5) Terapeutik
a. Lakukan hidrasi Terapeutik
4. Tekanan systole dan diastole
a. Untuk mencegah
membaik (skor
terjadinya dehidrasi
5) TD : 120/80 mmHg Edukasi
5. Hemoglobin normal (12- a. Jelaskan kepada pasien dan Edukasi
16 g/dl) keluarga tentang tindakan a. Untuk mencegah
pemberian tranfusi darah terjadinya KTD pada
b. Berikan tranfusi darah pasien
b. Membantu dalam
pelancaran sirkulasi
tubuh
(D.0056) Toleransi Aktivitas (L.05047) Terapi Aktivitas (I.05186)
6.
Intoleransi Setelah dilakukan asuhan Observasi Observasi
aktivitas keperawatan selama … x 24 jam a. Identifikasi defisit tingkat a. Untuk mengetahui
diharapkan toleransi aktivitas aktivitas aktivitas yang tidak
meningkat dengan kriteria hasil: bisa dilakukan oleh
a. frekuensi nadi meningkat pasien secara mandiri
b. keluhan Lelah menurun Terapeutik Terapeutik
c. dispnea saat aktivitas a. Libatkan keluarga dalam a. Agar pasien mendapat
menurun aktivitas, jika perlu dorongan untuk segera
b. Jadwalkan aktivitas dalam
d. dispnea setelah aktivitas rutinitas sehari-hari pulih
menurun b. Untuk melatih kegiatan
pasien yang tidak bisa
dilakukan secara
Edukasi mandiri
a. Ajarkan cara melakukan Edukasi
aktivitas yang dipilih
a. membantu pasien
dalam melakukan
aktivitas yang dipilih
4. Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan adalah fase ketika perawat mengimplementasikan
intervensi keperawatan. Perawat melaksanakan atau mendelegasikan tindakan
keperawatan untuk intervensi yang disusun dalam tahap perencanaan dan kemudian
mengakhiri tahap implementasi dengan mencatat tindakan keperawatan dan respons
klien terhadap tindakan tersebut (Kozier et al., 2010).
5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah fase kelima dan fase terakhir proses keperawatan, dalam konteks
ini aktivitas yang direncanakan, berkelanjutan dan terarah ketika klien dan professional
kesehatan menentukan kemajuan kemajuan klien menuju pencapaian tujuan/hasil dan
keefektifan rencana asuhan keperawatan. Evaluasi adalah aspek penting proses
keperawatan karena kesimpulan yang ditarik dari evaluasi menentukan apakah evaluasi
keperawatan harus diakhiri, dilanjutkan, atau dirubah (Kozier et al., 2010).
Format yang dapat digunakan untuk evaluasi keperawatan menurut (Dinarti et al.,
2009) yaitu format SOAP yang terdiri dari :

a. Subjective, yaitu pernyataan atau keluhan dari pasien. Pada pasien hipertensi
dengan nyeri akut diharapkan pasien tidak mengeluh nyeri atau nyeri berkurang
b. Objektive, yaitu data yang diobservasi oleh perawat atau keluarga Moorhead et al.
(2013)
c. Analisys, yaitu kesimpulan dari objektif dan subjektif (biasaya ditulis dala bentuk
masalah keperawatan). Ketika menentukan apakah tujuan telah tercapai, perawat
dapat menarik kemungkinan simpulan :
1) Tujuan tercapai; yaitu, respons klien sama dengan hasil yang diharapkan
2) Tujuan tidak tercapai
d. Planning, yaitu rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan analog.
Hal yang diberikan dari pemberian asuhan keperawatan pada pasien dengan
hipertensi antara lain:

1) Tekanan darah menurun dalam batas normal (Tekanan sistole (90-120mmhg),


tekanan diastole (60-80 mmHg))
2) Nyeri berkurang
3) Pasien mampu memahami penyebab penyakit dan tidak merasa cemas lagi
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah Vol 2, Jakarta, EGC,
Doengoes, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan
dan Pendokumentasian Perawatan pasien, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran, EGC,
Goonasekera CDA, Dillon MJ, 2003. The child with hypertension. In: Webb NJA,
Postlethwaite RJ, editors. Clinical Paediatric Nephrology. 3rd edition. Oxford: Oxford
University Press
Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition. New
Jersey: Upper Saddle River
Mc Closkey, C.J., et all. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC) Second Edition.
New Jersey: Upper Saddle River
Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta: Prima
Medika
Smet, Bart.1994. Psikologi Kesehatan. Pt Grasindo:Jakarta
Soeparman dkk,2007 Ilmu Penyakit Dalam , Ed 2, Penerbit FKUI, Jakarta
Smeljer,s.c Bare, B.G ,2002 Buku ajar Keperawatan Medikal Bedah,
Imam, S Dkk.2005. Asuhan Keperawatan Keluarga.Buntara Media:malang

Anda mungkin juga menyukai