Manajemen
Interaksi Obat
PROGRAM STUDI S1 FARMASI Sumber: Seminar IAI oleh Halim P. Jaya
FIK- UNIVERSITAS KADIRI Instalasi Farmasi RSUD Dr. Soetomo
DEFINISI
Modifikasi suatu obat akibat adanya obat lain
yang diberikan secara terpisah atau diberikan
bersamaan, bila dua atau lebih obat
berinteraksi sedemikian rupa sehingga
efektivitas atau toksisitas satu obat atau lebih
berubah (Shargel, 2012)
Perubahan efek obat karena adanya obat lain,
herbal, makanan, minuman, maupun senyawa
kimia lain.
INTERAKSI OBAT
* Interaksi obat merupakan suatu faktor
yang dapat mempengaruhi respon tubuh
terhadap pengobatan
* Obat dapat berinteraksi dengan makanan
atau minuman, zat kimia atau dengan
obat lain.
* Dikatakan terjadi interaksi apabila
makanan, minuman, zat kimia, dan obat
lain tersebut mengubah efek dari suatu
obat yang diberikan bersamaan atau
hampir bersamaan.
Epidemiologi
Kejadian interaksi obat :
• 2,2% sampai 30 % pada pasien rawat inap.
• 9,2% sampai 70,3 % pada pasien rawat jalan.
• Hanya 11,1% pasien yang benar benar
mengalami gejala yang diakibatkan oleh interaksi
obat . ( Jankel CA & Speedie SM, 1990)
• Pada penelitian yang dilakukan Stanton tahun
1994 dari 691 pasien yang masuk rumah sakit
ditemukan 68 (9,8%) pasien karena penggunaan
obat dan 3 pasien (0,4%) karena interaksi obat
Apakah Setiap Interaksi Obat-Obat
Berbahaya ????
TIDAK
Beberapa Interaksi obat justru diharapkan secara klinis
◦ - ACE inhibitor + diuretik untuk terapi hipertensi
◦ - Sulfamethoxazole + Trimethoprim untuk terapi infeksi bakteri
◦ - Furosemide + spironolakton untuk mencegah hipokalemia
DAMPAK POSITIF INTERAKSI OBAT
-Meningkatkan efektivitas
-Mengurangi efek samping
-Mendapatkan efek terapi yang diinginkan
Contoh :
- Penisilin dengan probenesid
probenesid menghambat sekresi penisilin di
tubuli ginjal sehingga meningkatkan kadar
penisilin dalam plasma dan meningkatkan
efektivitasnya dalam terapi gonore.
- Kombinasi sulfametokazol dengan
trimetoprim meningkatkan efektivitas
DAMPAK NEGATIF INTERAKSI OBAT
Dampak negatif dari interaksi obat kemungkinan akan timbul seperti:
• Terjadinya efek samping,
• Tidak tercapainya efek terapetik yang diinginkan.
• Mengurangi efektifitas
Contoh interaksi obat yang merugikan :
1. obat sedatif (diazepam, klordiazepoksid, luminal) + antihistamin
menyebabkan penurunan kesadaran
2. salisilat menghambat sekresi probenesid ke tubuli ginjal sehingga
efek probenesid sebagai urikosurik menurun.
3. obat-obat bersifat asam (salisilat, fenobarbital) + obat-obat yang
membasakan urin seperti antasida (mengandung NaHCO3,
A1(OH)3, Mg(OH)2) meningkatkan klirens obat-obat pertama,
sehingga efeknya menurun.
INTERAKSI OBAT-OBAT
Interaksi Obat-obat adalah modifikasi efek
satu obat akibat obat lain yang diberikan
pada awalnya atau diberikan bersamaan
atau bila dua atau lebih obat berinteraksi
sedemikian rupa sehingga keefektifan atau
toksisitas satu obat atau lebih berubah.
Harus diperhatikan bahwa makanan, asap
rokok, alkohol dan bahan-bahan kimia
lingkungan dapat mempengaruhi efek obat.
INTERAKSI OBAT-OBAT SERING
DISINGKAT DENGAN INTERAKSI
OBAT SAJA
Obat yang sering terpengaruh oleh interaksi obat :
Obat dengan indeks terapi sempit (Low Safety Margin)
Aminoglikosida
Digoxin
Lithium
Obat yang mempengaruhi fisiologi tubuh
Obat antihipertensi
Obat antidiabetik
Antikoagulan
Obat dengan ikatan protein plasma tinggi
NSAID
Warfarin
Sulfonilurea
Metabolisme tergantung enzim
Fenitoin
Teofilin
MEKANISME INTERAKSI OBAT
Secara umum, mekanisme interaksi obat meliputi
◦ Interaksi Farmasetik (Obat Tidak Tercampurkan/OTT)
Saat Penyiapan dan Pemberian Obat
Melarutkan obat dengan pelarut
Pencampuran obat-obat
◦ Interaksi Farmakokinetik (ADME)
Absorbsi
Distribusi
Metabolisme
Ekskresi
◦ Interaksi Farmakodinamik
Sinergis
Antagonisme
ABSORBSI
Pembentukan Kompleks Yang tidak Larut dan Sukar
Diserap dalam saluran cerna
Contoh:
Tetrasiklin/ciprofloxacin dengan kalsium, besi atau aluminium
Penyerapan fenitoin terhambat oleh pemberian bersama sukralfat
Dapat dicegah dengan jarak waktu 2-3 jam antar pemberian obat
Perubahan pada sirkulasi enterohepatik
• Pemberian antibiotik akan menurunkan flora normal dalam usus
sehingga menurunkan jumlah kontrasepsi steroid (Etinil-Estradiol)
terkonjugasi yang diserap kembali dalam saluran cerna dan dapat
menyebabkan kegagalan kontrasepsi.
DISTRIBUSI
Disebabkan adanya pendesakan ikatan suatu obat
dengan protein reseptor atau protein plasma oleh obat lain
Obat yang memiliki fraksi ikatan obat protein yang tinggi
dalam plasma sangat rentan dengan hal ini seperti obat
antikoagulan, sulfonilurea, dan obat antiepilepsi
Obat bebas yang memiliki aktivitas farmakologi karena
mampu menembus jaringan organ sementara obat yang
terikat protein sebagai buffer obat dalam darah.
Obat yang terikat protein ketika didesak oleh obat lainnya,
maka akan terjadi peningkatan obat bebas sehingga timbul
efek samping ataupun efek toksik
Ikatan Obat-Protein dan Distribusi
Obat dalam Jaringan
METABOLISME
Beberapa obat dapat meningkatkan atau menurunkan
kecepatan metabolisme obat dan mempengaruhi
bioavaibilitas obat
Inhibisi metabolisme dapat terjadi karena kompetisi
metabolisme pada subtipe kromosom yang sama, penurunan
sintesis kromosom, atau gangguan pada kemampuan
metabolisme oleh liver
OBAT YANG MENGHAMBAT FUNGSI
METABOLISME DARI CYP450
Antibiotik Makrolida
Antifungal derivat Azoles
Kloramfenikol
Omeprazol, SSRI
HIV-protease inhibitor
Simetidin
Quinolones (Ciprofloxacin)
Metronidazole
Risiko miopati karena statin bisa terjadi karena pemberian
fibrat, erithromisin, ketokonazole, dan lopinavir karena
gangguan metabolisme statin
Induksi metabolisme terjadi karena peningkatan
sintesis Iso-enzim CYP450 yang dimediasi oleh gen.
Memerlukan waktu 1-2 minggu untuk mencapai
efek maksimal
Efek berkurang secara gradual setelah 1-3 minggu
obat dihentikan
OBAT YANG MENYEBABKAN INDUKSI
METABOLISME
Barbiturat
Fenitoin
Karbamazepin
Rifampicin
Rokok (Benzo(a)pyren)
Alkohol kronis
Polutan aromatis (derivat benzena)
IMPLIKASI KLINIS
Kegagalan terapi antibiotik metronidazol, doksisiklin
atau kloramfenikol have occurred in patients who are on
long-term medication with an inducing drug.
Kegagalan kontrasepsi dapat terjadi karena induksi enzim
(pada pasien yang menggunakan rifampicin)
Efek toksik parasetamol terjadi pada pasien alkoholik dan
memperoleh obat inducer metabolisme (efek toksik
parasetamol disebabkan metabolitnya)
EKSKRESI
Interaksi pada fase ekskresi obat umumnya terjadi
karena obat disekresikan secara aktif melalui
mekanisme transport tubular. Gangguan pada pH urine
akan menggangu proses reabsorbsi obat sehingga
terjadi peningkatan atau penurunan ekskresi
Probenesid menghambat sekresi aktif penicilin dan
sefalosporin
Aspirin menghambat efek urikosurik probenesid dan
menurunkan sekresi tubular metotrexate
Alkalinisasi urin akan meningkatkan ekskresi barbiturat
INTERAKSI FARMAKODINAMIK
Interaksi antara obat-obat
yang mempunyai efek farmakologi atau
efek samping yang serupa atau yang
berlawanan
Interaksi ini dapat disebabkan karena
kompetisi pada reseptor yang sama, atau
terjadi antara obat-obat yang bekerja
pada sistem fisiologik yang sama
Dapat bersifat sinergis maupun antagonis
SINERGISME
Interaksi farmakodinamik sinergisme
adalah interaksi antara dua obat yang
bekerja pada sistem, organ, sel, enzim
yang sama dengan efek farmakologi yang
sama
Contoh: Interaksi antara furosemid dengan
HCT dapat menyebabkan diuresis masif dan
hiponatremia
ANTAGONISME
Antagonisme terjadi bila obat yang
berinteraksi memiliki efek farmakologi yang
berlawanan. Hal ini mengakibatkan
pengurangan hasil yang diinginkan dari
satu atau lebih obat.
Contoh: Pemberian Dextromethorphan
(Antitusif) dengan Glyceril Guaiacolas
(Expectorant) akan mengurangi efek
masing-masing obat.
Efek Reseptor Tidak Langsung
Kombinasi obat yang dapat bekerja melalui
mekanisme saling mempengaruhi efek
reseptor yang meliputi sirkulasi kendali
fisiologis atau biokimia. Contoh :
• Propanolol dpt memperpanjang lamanya
kondisi hipoglikemik pada pasien diabetes
mellitus yang diterapi insulin.
• Pengeblok beta mempunyai efek simpatik
seperti takikardia dan tremor akan menutupi
tanda–tanda bahaya hipoglikemia.
Signifikansi Klinik Dari Interaksi Obat
Signifikansi Klinik adalah derajat dimana obat yang
berinteraksi akan mengubah kondisi pasien.
Signifikansi Klinik dikelompokkan berdasarkan
keparahan dan dokumentasi interaksi yang terjadi
yaitu:
Establish (interaksi obat sangat mantap terjadi)
Probable (interaksi obat dapat terjadi)
Suspected (interaksi obat diduga terjadi)
Possible (interaksi obat belum pasti terjadi)
Unlikely (kemungkinan besar interaksi obat
tidak terjadi)
Derajat Keparahan Dari Interaksi Obat
Klasifikasi derajat keparahan akibat interaksi:
◦ minor (dapat diatasi dengan baik),
◦ moderat/perlu monitor (efek sedang, dapat
menyebabkan kerusakan organ),
◦ mayor/serius (efek fatal, dapat menyebabkan
kematian),
◦ Kontraindikasi
Derajat keparahan interaksi obat akan
menentukan manajemen terapi obat yang
dilakukan oleh dokter maupun apoteker
Peran Apoteker Dalam Manajemen
Interaksi Obat
Penelusuran riwayat pengobatan dan
obat-obat yang sedang digunakan oleh
pasien
Identifikasi interaksi obat yang dapat
terjadi pada pasien
Menentukan mekanisme interaksi obat
yang ditemukan
Menentukan signifikansi klinik dan derajat
keparahan interaksi obat
Membuat rekomendasi berdasarkan
interaksi obat yang ditemukan
Penelusuran Riwayat Penggunaan
Obat
Penelusuran riwayat penggunaan Obat
merupakan proses untuk mendapatkan
informasi mengenai seluruh Obat/Sediaan
Farmasi lain yang pernah dan sedang
digunakan
Riwayat pengobatan dapat diperoleh dari
wawancara atau data rekam medik/
pencatatan penggunaan Obat pasien
Apoteker dan dokter perlu mengetahui daftar obat yang
sedang digunakan oleh pasien
Identifikasi interaksi obat yang
dapat terjadi pada pasien
Identifikasi secara konvensional dengan
buku yang ada atau jurnal penelitian
Dengan software komputer, android atau
Mac OS yang telah banyak tersedia
(www.drug.com ; Medscape Drug
Interaction Checker)
Medscape Drug Interaction Checker
Menentukan Mekanisme Interaksi Obat
Interaksi pada fase farmasetik dan fase
farmakokinetik absorbsi dapat dicegah
dengan pemberian selang waktu
pemberian obat
Interaksi pada fase farmakokinetik
distribusi, metabolisme, dan ekskresi
serta fase farmakoninamik tidak dapat
dihindari dengan selang waktu pemberian
obat. Perlu monitoring efek obat sesuai
derajat keparahan interaksi
Rekomendasi Apoteker
Interaksi yang bersifat serius /
kontraindikasi sebaiknya disarankan
penggantian obat untuk mencegah reaksi
obat yang tidak diharapkan
Interaksi yang bersifat moderat, maka
apoteker membuat rekomendasi untuk
monitor secara khusus dengan konseling
kepada pasien
Interaksi obat yang bersifat minor perlu
monitor kondisi pasien
Interaksi Obat Berbahaya
Top 10 Dangerous Drug Interaction
Why………Cari penyebabnya ?
Interaksi Obat MIMS yang Mematikan
Cari alasannya ?
Peran Teknologi Dalam Praktek
Kefarmasian
Keterbatasan apoteker dalam mengetahui
interaksi obat tanpa database yang baik
Perlu sistem maupun software yang
membantu apoteker dalam identifikasi
efek samping obat dan membuat
rekomendasi
Software berbasis android, Mac OS
maupun website sangat membantu
apoteker penanganan interaksi obat
Tugas:
1. Cari mekanisme interaksi & penyebabnya
shg interaksi obat tersebut bisa
membahayakan (pada slide 36)
2. Cari mekanisme interaksi & penyebabnya
shg interaksi obat tersebut bisa
mematikan (pada slide 38)
TERIMAKASIH……..