100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
5K tayangan34 halaman

Interaksi Obat

Dokumen tersebut membahas tentang interaksi obat yang dapat terjadi antara obat dengan minuman, penyakit, makanan dan obat lain. Interaksi obat dapat berdampak pada peningkatan toksisitas atau penurunan efektivitas obat."

Diunggah oleh

Desi Mulyawati
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
5K tayangan34 halaman

Interaksi Obat

Dokumen tersebut membahas tentang interaksi obat yang dapat terjadi antara obat dengan minuman, penyakit, makanan dan obat lain. Interaksi obat dapat berdampak pada peningkatan toksisitas atau penurunan efektivitas obat."

Diunggah oleh

Desi Mulyawati
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS FARMASI PRAKTIS

INTERAKSI OBAT
( MINUMAN, MAKANAN, PENYAKIT, OBAT )

Dosen Pengampuh :

Dra. Yul Mariyah, M.Si., Apt.

KELOMPOK II

KELAS B

ISRO RAHAYATUNINGTYAS (1720333623)


KURNIA NUR R. (1720333626)
MARIANI TRIWATAMI (1720333637)
MEDINA NURFA M.I. (1720333640)
MELISA YULIANTI (1720333641)
NOVIA RAHMAWATI F. (1720333651)
NURUL HAFIZAH (1720333655)
PUTRANTA IRIANTO R. (1720333666)

PROGRAM STUDI APOTEKER ANGKATAN XXXIII


UNIVERSITAS SETIA BUDI
SURAKARTA
2017
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Interaksi obat merupakan satu dari delapan kategori masalah terkait obat
(drug-related problem) yang diidentifikasi sebagai kejadian atau keadaan terapi obat
yang dapat mempengaruhi outcome klinis pasien. Interaksi obat merupakan suatu
faktor yang dapat mempengaruhi respon tubuh terhadap pengobatan. Obat dapat
berinteraksi dengan makanan atau minuman, zat kimia atau dengan obat lain.
Dikatakan terjadi interaksi apabila makanan, minuman, zat kimia, dan obat lain
tersebut mengubah efek dari suatu obat yang diberikan bersamaan atau hampir
bersamaan (Ganiswara, 2000).
Interaksi obat adalah perubahan efek suatu obat akibat pemakaian obat lain
(interaksi obat-obat)atau oleh makanan, obat tradisional dan senyawa kimia
lain.Interaksi obat yang signifikan dapat terjadi jika dua atau lebih obat digunakan
bersama-sama.Interaksi obat secara klinis penting bila berakibat peningkatan
toksisitas dan/atau pengurangan efektivitas obat. Jadi perlu diperhatikan terutama
bila menyangkut obat dengan batas keamanan yang sempit (indeks terapi yang
rendah), misalnya glikosida jantung, antikoagulan dan obat-obat sitostatik.Selain itu
juga perlu diperhatikan obat-obat yang biasa digunakan bersama-sama.
Interaksi diklasifikasikan berdasarkan keterlibatan dalam proses
farmakokinetik maupun farmakodinamik. Interaksi farmakokinetik ditandai dengan
perubahan kadar plasma obat, area dibawah kurva (AUC), onset aksi, waktu paro
dsb. Interaksi farmakokinetik diakibatkan olehperubahan laju atau tingkat absorpsi,
distribusi, metabolisme dan ekskresi. Interaksi farmakodinamik biasanya
dihubungkan dengan kemampuan suatu obat untuk mengubah efek obatlain tanpa
mengubah sifat-sifat farmakokinetiknya.
Beberapa obat sering diberikan secara bersamaan pada penulisan resep, maka
mungkin terdapat obat yang kerjanya berlawanan. Obat pertama dapat memperkuat
atau memperlemah, memperpanjang atau memperpendek kerja obat kedua. Interaksi
obat harus lebih diperhatikan, karena interaksi obat pada terapi obat dapat
menyebabkan kasus yang parah dan tingkat kerusakan-kerusakan pada pasien,
dengan demikian jumlah dan tingkat keparahan kasus terjadinya interaksi obat dapat
dikurangi (Mutschler, 1991).
Dengan meningkatnya kompleksitas obat-obat yang digunakan dalam
pengobatan pada saat ini, dan berkembangnya polifarmasi maka kemungkinan
terjadinya interaksi obat makin besar. Interaksi obat perlu diperhatikan karena dapat
mempengaruhi respon tubuh terhadap pengobatan (Quinn dan Day, 1997).
Menurut Setiawati (2007), Interaksi obat dianggap berbahaya secara klinik
bila berakibat meningkatkan toksisitas dan atau mengurangi efektivitas obat yang
berinteraksi terutama bila menyangkut obat dengan batas keamanan yang sempit
(indeks terapi yang rendah), misalnya glikosida jantung, antikoagulan, dan obat-obat
sitostatik.
B. Perumusan Masalah
1. Apa interaksi yang terjadi antara obat dengan minuman?
2. Apa interaksi yang terjadi antara obat dengan penyakit?
3. Apa interaksi yang terjadi antara obat dengan minuman?
4. Apa interaksi yang terjadi antara obat dengan obat?

C. Tujuan
1. Mengetahui interaksi yang terjadi antara obat dengan minuman.
2. Mengetahui interaksi yang terjadi antara obat dengan penyakit.
3. Mengetahui interaksi yang terjadi antara obat dengan minuman.
4. Mengetahui interaksi yang terjadi antara obat dengan obat.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi
Interaksi obat dapat didefinisikan sebagai modifikasi efek satu obat akibat
obat lain yang diberikan pada awalnya atau diberikan bersamaan, atau bila dua atau
lebih obat berinteraksi sedemikian rupa sehingga keefektifan atau toksisitas satu atau
lebih akan berubah (Fradgley, 2003).
Interaksi obat terjadi ketika modifikasi aksi obat yang satu dengan obat yang
lain di dalam tubuh. Biasanya seperti aksi kuantitatif, yaitu peningkatan atau
penurunan dalam ukuran respon yang diharapkan. Interaksi obat mungkin merupakan
hasil perubahan farmakokinetik, perubahan farmakodinamik, atau kombinasi
keduanya (Katzung dan Trevor, 2002).

B. Mekanisme Interaksi Obat


Menurut jenis mekanisme kerjanya, interaksi obat dibedakan menjadi 3 macam,
yaitu:
1) Interaksi farmasetik
Interaksi farmasetik terjadi jika antara dua obat yang diberikan bersamaan
tersebut terjadi inkompatibilitas atau terjadi reaksi langsung, yang umumnya
di luar tubuh, dan berakibat berubahnya atau hilangnya efek farmakologik
obat yang diberikan. Sebagai contoh, pencampuran penisilin dan
aminoglikosida akan menyebabkan hilangnya efek farmakologik yang
diharapkan (Anonim, 2000).
2) Interaksi farmakokinetik
a. Interaksi Farmakokinetik
Interaksi farmakokinetik terjadi ketika suatu obat mempengaruhi
absorbsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi obat lainnya sehingga
meningkatkan atau mengurangi jumlah obat yang tersedia untuk menghasilkan
efek farmakologisnya (BNF 58, 2009). Interaksi farmakokinetik terdiri dari
beberapa tipe :
a) Interaksi pada proses absorpsi
1. Efek perubahan pH gastrointestinal
Obat melintasi membran mukosa dengan difusi pasif tergantung pada apakah
obat terdapat dalam bentuk terlarut lemak yang tidak terionkan.Absorpsi
ditentukan oleh nilai pKa obat, kelarutannya dalam lemak, pH isi usus dan
sejumlah parameter yang terkait dengan formulasi obat.Sebagai contoh adalah
absorpsi asam salisilat oleh lambung lebih besar terjadi pada pH rendah
daripada pada pH tinggi (Stockley, 2008).
2. Adsorpsi, khelasi, dan mekanisme pembentukan komplek
Arang aktif dimaksudkan bertindak sebagai agen penyerap di dalam usus untuk
pengobatan overdosis obat atau untuk menghilangkan bahan beracun lainnya,
tetapi dapat mempengaruhi penyerapan obat yang diberikan dalam dosis
terapetik.Antasida juga dapat menyerap sejumlah besar obat-obatan.Sebagai
contoh, antibakteri tetrasiklin dapat membentuk khelat dengan sejumlah ion
logam divalen dan trivalen, seperti kalsium, bismut aluminium, dan besi,
membentuk kompleks yang kurang diserap dan mengurangi efek antibakteri
(Stockley, 2008).
3. Perubahan motilitas gastrointestinal
Karena kebanyakan obat sebagian besar diserap di bagian atas usus kecil, obat-
obatan yang mengubah laju pengosongan lambung dapat mempengaruhi
absorpsi.Propantelin misalnya, menghambat pengosongan lambung dan
mengurangi penyerapan parasetamol (asetaminofen),sedangkan metoklopramid
memiliki efek sebaliknya (Stockley, 2008).
4. Induksi atau inhibisi protein transporter obat
Ketersediaan hayati beberapa obat dibatasi oleh aksi protein transporter
obat.Saat ini, transporter obat yang terkarakteristik paling baik adalah P-
glikoprotein.Digoksin adalah substrat P-glikoprotein, dan obat-obatan yang
menginduksi protein ini, seperti rifampisin, dapat mengurangi ketersediaan
hayati digoksin (Stockley, 2008).
5. Malabsorbsi dikarenakan obat
Neomisin menyebabkan sindrom malabsorpsi dan dapat mengganggu
penyerapan sejumlah obat-obatan termasuk digoksin dan metotreksat
(Stockley, 2008).
b) Interaksi pada proses distribusi
Dua obat yang berikatan tinggi dengan protein atau albumin bersaing untuk
mendapatkan tempat pada protein atau albumin di dalam plasma. Akibatnya terjadi
penurunan dalam pengikatan dengan protein pada salah satu atau kedua obat itu,
sehingga lebih banyak obat bebas yang bersirkulasi dalam plasma dan meningkatkan
kerja obat (Kee dan Hayes, 1996). Kompetisi dalam plasma dan meningkatkan kerja
obat misalnya antara digoksin dan kuinidin, dengan akibat peningkatan kadar plasma
digoksin (Setiawati, 2005).
c) Interaksi pada proses metabolisme
Suatu obat dapat meningkatkan metabolisme dari obat yang lain dengan
merangsang (menginduksi) enzim-enzim hati (Kee dan Hayes, 1996). Dengan
cara yang sama seperti pada albumin plasma, mungkin terjadi persaingan
terhadap enzim yang berfungsi untuk biotransformasi obat, khususnya
sitokrom P450 dan dengan demikian mungkin terjadi metabolisme yang
diperlambat. Biotransformasi suatu obat kedua selanjutnya dapat diperlambat
atau dipercepat berdasarkan penghambatan enzim atau induksi enzim yang
ditimbulkan oleh obat pertama (Mutschler, 1991).
d) Interaksi pada proses eliminasi
Interaksi pada eliminasi melalui ginjal dapat terjadi akibat perubahan
hingga pH dalam urin atau karena persaingan tempat ikatan pada sistem
transport yang berfungsi untuk sekresi atau reabsorpsi aktif (Mutschler, 1991).
Kompetensi terjadi antara obat-obat yang menggunakan mekanisme transport
aktif yang sama di tubulus proksimal. Contohnya, probenesid yang
menghambat ekskresi banyak obat, termasuk golongan penisilin, beberapa
sefalosporin, indometasin dan dapson. Mekanisme yang sama, asetosal
meningkatkan toksisitas metotreksat (Anonim, 2000).
e) Interaksi farmakodinamik
Interaksi farmakodinamik adalah hal-hal yang menimbulkan efek-efek obat
yang aditif, sinergis (potensiasi), atau antagonis. Jika dua obat yang
mempunyai kerja yang serupa atau tidak serupa diberikan, maka efek
kombinasi dari kedua obat itu dapat menjadi aditif (efek dua kali lipat),
sinergis (lebih besar dari dua kali lipat), atau antagonis (efek dari salah satu
atau kedua obat itu menurun) (Kee dan Hayes, 1996).

C. Pasien yang Rentan Terhadap Interaksi Obat


Efek dan tingkat keparahan interaksi obat dapat bervariasi antara pasien yang
satu de ngan yang lain. Berbagai faktor dapat mempengaruhi kerentananpasien
terhadap interaksi obat, antara lain yaitu:
1) Pasien lanjut usia
2) Orang yang minum lebih dari satu macam obat
3) Pasien yang mempunyai gangguan fungsi ginjal dan hati
4) Pasien dengan penyakit akut
5) Pasien dengan penyakit yang tidak stabil
6) Pasien yang memiliki karakteristik genetik tertentu
7) Pasien yang dirawat oleh lebih dari satu dokter (Fradgley, 2003).
Reaksi yang merugikan dan interaksi obat yang terjadi pada pasien lanjutusia
adalah tiga sampai tujuh kali lebih banyak daripada mereka yang berusiapertengahan
dan dewasa muda. Pasien lanjut usia menggunakan banyak obatkarena penyakit
kronis dan banyaknya penyakit mereka, oleh karena itu merekamudah mengalami
reaksi dan interaksi yang merugikan (Kee dan Hayes, 1996).
Reaksi yang merugikan dan interaksi obat yang terjadi pada pasien lanjutusia
lebih tinggi karena beberapa sebab, yaitu:
1) Pasien lanjut usia menggunakan banyak obat karena penyakit kronik
danbanyaknya penyakit mereka.
2) Banyak dari pasien lanjut usia melakukan pengobatan diri sendiri dengan
obat bebas, memakai obat yang diresepkan untuk masalah kesehatan yang
lain,menggunakan obat yang diberikan oleh beberapa dokter, menggunakan
obatyang diresepkan untuk orang lain, dan tentunya proses penuaan fisiologis
yangterus berjalan.
3) Perubahan-perubahan fisiologis yang berkaitan dengan proses penuaan
sepertipada sistem gastrointestinal, jantung dan sirkulasi, hati dan ginjal
danperubahan ini mempengaruhi respon farmakologik terhadap terapi obat.
D. Penatalaksanaan Interaksi Obat
Langkah pertama dalam penatalaksanaan interaksi obat adalah waspada
terhadap pasien yang memperoleh obat-obatan yang mungkin dapat berinteraksi
dengan obat lain. Langkah berikutnya adalah memberitahu dokter dan
mendiskusikan berbagai langkah yang dapat diambil untuk meminimalkan berbagai
efek samping obat yang mungkin terjadi. Strategi dalam penataan obat ini meliputi :
1) Menghindari kombinasi obat yang berinteraksi
Jika risiko interaksi obat lebih besar daripada manfaatnya, maka
harusdipertimbangkan untuk memakai obat pengganti.
2) Menyesuaikan dosis
Jika hasil interaksi obat meningkatkan atau mengurangi efek obat, makaperlu
dilaksanakan modifikasi dosis salah satu atau kedua obat untuk mengimbangi
kenaikan atau penurunan efek obat tersebut.
3) Memantau pasien
Jika kombinasi obat yang saling berinteraksi diberikan, pemantauan
diperlukan.
4) Melanjutkan pengobatan seperti sebelumnya
Jika interaksi obat tidak bermakna klinis, atau jika kombinasi obat yang
berinteraksi tersebut merupakan pengobatan yang optimal, pengobatan pasien
dapat diteruskan tanpa perubahan (Fradgley, 2003).
E. Level Signifikansi Klinis dalam Interaksi Obat
Menurut Hansten dan Horn (2002) signifikansi klinis dibuat dengan
mempertimbangkan kemungkinan bagi pasien dan tingkat dokumentasi yang
tersedia. Setiap interaksi telah ditandai dengan salah satu dari tiga kelas, yaitu:
Mayor, Moderat, atau Minor. Sistem klasifikasi tersebut telah disesuaikan dengan
banyak provider lain dari informasi interaksi obat. Pengetahuan signifikansi klinis
dari suatu interaksi hanya menyediakan sedikit informasi untuk memilih strategi
manajemen yang tepat untuk pasien khusus. Interaksi obat ditandai dengan salah satu
dari tiga kelas berdasarkan interevensi yuang dibutuhkan untuk meminimalisasi
risiko dari interaksi. Interaksi ditandai berdasarkan nomer signifikansi sebagai
berikut:
1. Interaksi kelas 1
Sebaiknya kombinasi ini dihindari, karena lebih banyak risikonya
dibandingkan keuntungannya.
2. Interaksi kelas 2
Biasanya kombinasi ini dihindari, sebaiknya penggunaan kombinasi tersebut
hanya pada keadaan khusus.
3. Interaksi kelas 3
Interaksi kelas 3 ini risikonya minimal, untuk itu perlu diambil tindakanyang
dibutuhkan untuk mengurangi risiko.
2.1 Interaksi Obat dengan Minuman (Jus jeruk)
Jus jeruk dapat membuat metabolisme obat menjadi tidak normal, hasilnya
bisa menurunkan atau malah meningkatkan kadar obat dalam darah.
Sangat banyak obat yang terpengaruh dengan pemberian bersamaan dengan
jus jeruk misalnya seperti obat antihistamin, obat penurun tekanan darah, obat
antitiroid, obat penekan produksi asam lambung, obat antikolesterol, obat disfungsi
ereksi serta obat penekan batuk.
Pada penggunaan obat antikolesterol seperti simvastatin, atorvastatin,
maupun lovastatin, apabila diminum bersamaan dengan jus jeruk maka akan
meningkatkan kadar obat dalam darah sehingga potensial menimbulkan efek
samping, dari efek kram pada otot hingga terjadi gangguan hati. Hal ini paling sering
terjadi pada pemberian simvastatin bersamaan dengan jus jeruk.
Obat antitiroid adalah obat hormonal yang digunakan untuk mengontrol
tingginya kadar tiroid dalam tubuh. Jika digunakan bersamaan dengan jus jeruk maka
akan menimbulkan efek samping seperti ruam pada kulit, bintik-bintik merah hingga
gangguan hati.
Obat dysfungsi ereksi seperti sildenafil atau yang mungkin biasa dikenal
dengan Viagra juga berbahaya jika dikonsumsi bersamaan dengan jus jeruk karena
dapat menimbulkan efek samping yang fatal seperti gejala sakit kepala berat bahkan
hingga menurunkan tekanan darah dibawah normal yang dapat berakibat pada
jantung.
Obat penurun tekanan darah seperti Canal Calcium Blocker seperti
amlodipin, nifedipin, diltiazem memiliki efek interaksi yang cukup mengganggu
karena berpengaruh langsung dalam proses enzimatik metabolisme di hati sehingga
dapat menimbulkan obat tidak bekerja dengan baik dalam menurunkan tekanan darah
(Maulana A, 2016).
2.2 Interaksi Obat dengan Minuman (Susu)
Seperti yang kita tahu bersama, tentu susu baik untuk tubuh kita terutama bagi
anak-anak yang dalam masa pertumbuhan karena membutuhkan banyak calcium.
Tetapi susu dapat menimbulkan interaksi jika dikonsumsi bersamaan dengan
antibiotik seperti Tetracycline, Ciprofloxacin dan Levofloxacin.
Calcium dalam susu akan membuat sebuah ikatan kompleks khelat dengan
antibiotik didalam darah sehingga menurunkan efektivitas antibiotik dalam terapi.
Tentu hal ini sangat berbahaya apabila pasien perlu antibiotik untuk mengatasi
infeksi yang terjadi agar tidak memperburuk kondisinya. Namun hal tersebut dapat
dihindari dengan meminum susu 2 jam sebelum atau setelah meminum antibiotik.
Tetapi bisa tidak harus menghindari meminum susu sepenuhnya saat akan
meminum antibiotik. Khusus pada antibiotik seperti metronidazole malah perlu
meminum susu atau air untuk menghindari gangguan pada saluran pencernaan
(Maulana A, 2016).

2.3 Interaksi Obat dengan Kopi


Kopi merupakan salah satu minuman yang akan kaya kandungan kafein,
dimana senyawa ini dapat berinteraksi dengan beberapa jenis obat. Kafein bekerja
dengan menstimulasi otak dan juga jantung, obat-obatan yang mempengaruhi kedua
organ inilah yang mampu berinteraksi dengan kafein pada kopi.

Salah satu contoh obat yang berinteraksi dengan kopi adalah efedrin dan
fenilpropalamin yang biasanya terkandung dalam obat flu atau untuk mengatasi
hidung tersumbat. Kedua jenis obat ini dapat memicu kerja jantung sehingga jika
setelah minum obat ini kerja jantung akan semakin cepat dan hal ini kurang bagus
untuk kesehatan. Selain jenis obat flu, obat asma seperti teofilin juga sangat tidak
dianjurkan untuk minum kopi setelah mengkonsumsi obat ini. Teofilin memiliki
sifat-sifat yang hampir sama dengan kafein sehingga dikhawatirkan jika diminum
bersama dengan kopi, maka kadar kafein dalam darah akan melebihi dosis dan efek
nya akan bersifat toksik. Golongan obat lain yang juga memiliki sifat yang hampir
sama dngan kafein yaitu antidepresan, antipsikotik, antibiotik untuk golongan
kuinolon dan juga pil KB. Beberapa golongan ini sebaiknya dihindari bersamaan
dengan kopi.

2.4 Interaksi Obat dengan Teh

Teh hijau merupakan hasil olahan pucuk daun teh tanpa melalui proses
fermentasi. Teh hijau dibuat melalui inaktivasi enzim polifenol oksidasenya di dalam
daun teh segar. Metode inkativasi enzim polifenol oksidase teh hijau dapat dilakukan
melalui pemanasan (udara panas) dan penguapan (stem/uap air). kedua metode ini
berguna untuk mencegah terjadinya oksidasi enzimatis katekin.

Perbedaan utama yang cukup berarti dari ketiga proses pengolahan teh
terletak pada pkandungan katekinnya. Kandungan katekin tertinggi ada pada teh
hijau, disusul oolong dan teh hitam.

Adenosin dengan teh hijau


Dapat menghambatan tindakan adenosis, obat diberikan dirumah sakit
menyebabkan irama jantung menjadi tidak stabil.
Antibiotik, Beta-laktam dengan teh hijau
Dapat meningkatkan efektivitas beta laktam antbiotik dengan mengurangi
resistensi bakteri terhadap pengobatan
Benzodiazepin dengan kafein (dari teh hijau)
Terbukti mengurangi efek penenang dari benzodiazepin (obat yang biasa
digunakan mengobati kecemasan, seperti diazepam dan lorazepam).
- Bloker, Propanolol dan Metoprolol dengan kafein (dari teh hijau)
Dapat meningkatkan tekanan darah pada orang yang memakai propanolol dan
metoprolol (obat yang digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi dan
penyakit jantung).
Closapine (antipsikosis) dengan Teh Hijau
Efek dari pengobatan closapine dapat dikurangi jika dikonsumsi kurang dari
40 menit setelah minum teh hijau.
Efedrine dengan Teh Hijau
Bila diminum bersama-sama dengan efedrin, teh hijau dapat menyebabkan
agitasi, tremor, insomani, dan penurunan berat badan.
Lithium dengan Teh hijau
Telah terbukti mengurangi kadar lithium (obat yang digunakan untuk
mengobati depresi).
Inhibitor Mono Amin Oksidase (MAOI) dengan Teh Hijau
Dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah (yang disebut krisis hipertensi)
bila diminum bersamaan dengan MAOIs termasuk phenellzine dan
tranylcypromine.
Kontrasepsi oral dengan Teh Hijau
Kontrasepsi oral dapat memperpanjang jumlah waktu tinggal kafein dalam
tubuh dan dapat meningkatkan

2.5 Interaksi Obat dengan Alkohol


Alkohol disebut sebagai etil alkohol dan merupakan senyawa organik yang
hidroksil kelompok fungsional terikat atom karbon jenuh. konsumsi kronis alkohol
menyebabkan efek samping bagi kesehatan, menyebabkan alkoholisme, kerusakan
hati, dan berbagai jenis kanker. Tempat utama untuk metabolisme alkohol adalah
hati. Alkohol yang beredar dalam aliran darah jika sekali mencapai ke hati, ada
enzim bekerja pada alkohol, enzim yang paling penting yang bertindak adalah ADH
dan sitokrom P450. reaksi oksidasi berlangsung, maka ADH mengubah alkohol
menjadi asetaldehida, asetaldehida ini menyebabkan efek samping mungkin yang
sangat beracun.
Mekanisme Interaksi Alkohol-obat
obat mencapai ke lokasi aksi melalui aliran darah, alkohol yang sama juga
dihilangkan melalui aliran darah. Alkohol dapat mempengaruhi efektivitas obat
dengan mengubah ketersediaannya.
Alkohol mengganggu metabolisme normal dari obat, pemecahan dan ekskresi
obat ditunda. kedua alkohol dan obat bersaing untuk istirahat turun oleh
sitokrom P450.
Asupan alkohol meningkatkan aktivitas obat metabolisme enzim dan mereka
tetap sama bahkan tanpa adanya alkohol. Jika tidak ada untuk enzim
(sitokrom) meningkatkan kenaikan metabolisme obat dan akhirnya ekskresi
meningkatkan
Enzim diaktifkan oleh asupan alkohol kronis mengubah beberapa obat
menjadi bahan kimia beracun yang dapat merusak hati atau organ lain
Alkohol dapat memperbesar efek penghambatan obat penenang dan obat-
obatan narkotika dari tindakan di otak.
Kadang-kadang obat juga mempengaruhi metabolisme alkohol, sehingga
mengubah potensi untuk keracunan dan efek samping yang disebabkan
interaksi yang menambah kompleks (Srividya, 2016).

Interaksi Obat Khusus


Antihistamin
Obat ini digunakan dalam pengelolaan alergi dan dingin. Obat ini dapat
menyebabkan kantuk dan sedasi. Ketika alkohol digabungkan dengan antihistamin
dapat meningkatkan efek penenang dari antihistamin.
Contoh:
Nama paten: actidil, antivert, atarax, benadryl, benedectin, bonine, chlortrimeton.
Barbiturat
Barbiturat adalah obat penenang digunakan untuk anestesi. Ketika mereka
dikonsumsi dalam kombinasi dengan alkohol mengaktifkan beberapa molekul yang
sama di otak, meningkatkan efek samping dari obat penenang tersebut.
Contoh:
Nama paten: fenobarbital, alurate, amytal, butisol, buticap.
Antibiotik
Jika antibiotik diambil dalam kombinasi dengan alkohol, mereka berinteraksi dan
sebagian besar itu mengurangi ketersediaan sebagian besar antibiotik, akhirnya
efektivitas obat akan berkurang.
Contoh: Metrodinazol
Antidepresan
Antidepresan memiliki efek sedasi, efek ini meningkat karena adanya alkohol
meningkatkan ketersediaan beberapa obat antidepresan, berpotensi meningkatkan
efek sedatif mereka, akhirnya merusak penyakit mental.
Contoh:
Nama paten: Adapin, Asendin, Aventyl, Desyrel, Elavil, Endep.
Obat Antidiabetes
Konsumsi alkohol meningkatkan ketersediaan obat antidiabetes dan obat-obat ini
meningkatkan risiko lebih rendah kadar gula darah dari normal yang menghasilkan
hipoglikemia.
Contoh:
Nama paten: Diabenesis, Dymelor, Orinase, Tolinase, Insulin
Obat Kardiovaskular
Ini adalah obat yang digunakan dalam pengobatan gangguan jantung dan sistem
peredaran darah. Ketika obat kardiovaskular diambil menggabungkan dengan
alkohol, alkohol ini berinteraksi dengan obat ini menyebabkan pusing atau pingsan
setelah berdiri
Contoh: warfarin, metildopa, klonidin, propanolol.
Obat Antipsikotik
Ini adalah obat yang digunakan untuk mengurangi gejala psikotik seperti delusi dan
halusinasi. Asupan alkohol meningkatkan efek sedatif obat ini, mengakibatkan
gangguan koordinasi dan kesulitan bernapas fatal. Kombinasi konsumsi alkohol
kronis dan obat-obatan antipsikotik dapat mengakibatkan kerusakan hati.
Contoh:
Nama paten: Compazine, Haldol, Loxitane, Mellaril, Moban, Navane.

Interaksi obat dengan penyakit

Interaksi obat merupakan satu dari delapan kategori masalah terkait obat
(drug -related problem) yang diidentifikasi sebagai kejadian atau keadaan terapi obat
yang dapat mempengaruhi outcome klinis pasien. Sebuah interaksi obat terjadi
ketika farmakokinetika atau farmakodinamika obat dalam tubuh diubah oleh
kehadiran satu atau lebih zat yang berinteraksi.

Keparahan interaksi diberi tingkatan dan dapat diklasifikasikan ke dalam tiga level
yaitu:

1. Keparahan minor

Interaksi obat termasuk ke dalam keparahan minor jika interaksi mungkin


terjadi tetapi dipertimbangkan signifikan potensial berbahaya terhadap pasien jika
terjadi kelalaian. Contohnya adalah penurunan absorbsi ciprofloxacin oleh antasida
ketika dosis diberikan kurang dari dua jam setelahnya.

2. Keparahan moderate

Interaksi termasuk ke dalam keparahan moderate jika satu dari bahaya


potensial mungkin terjadi pada pasien, dan monitor sering diperlukan pada kasus ini.
Efek interaksi moderate mungkin menyebabkan perubahan status klinis pasien,
menyebabkan perawatan tambahan, perawatan di rumah sakit dan atau perpanjangan
lama tinggal di rumah sakit. Contohnya adalah dalam kombinasi vankomisin dan
gentamisin perlu dilakukan monitoring nefrotoksisitas.

3. Keparahan major

Interaksi termasuk ke dalam keparahan major jika terdapat probabilitas yang


tinggi kejadian yang dapat membahayakan pasien termasuk kejadian yang
menyangkut nyawa pasien dan terjadinya kerusakan permanen.Contohnya adalah
perkembangan aritmia yang terjadi karena pemberian eritromisin dan terfenadin.

Gangguan fungsi hati masih menjadi masalah kesehatan besar di negara maju
maupun di negara berkembang. Indonesia merupakan negara dalam peringkat
endemik tinggi mengenai penyakit hati (Depkes RI, 2007). Angka kejadian
kerusakan hati sangat tinggi, dimulai dari kerusakan yang tidak tetap namun dapat
berlangsung lama.
Rusaknya fungsi hati biasanya ditandai dengan menguningnya warna kulit,
membran mukosa dan naikknya konsentrasi bilirubin, enzim AST, ALT dan GGT
dalam darah. Salah satu penyebab kerusakan hati adalah obat-obatan (Depkes RI,
2007). Kerusakan sel hati selain disebabkan karena virus, juga dapat disebabkan oleh
obat-obatan yaitu penggunaan obat dalam jangka waktu yang lama atau juga
peminum alkohol. Obat yang dikatakan hepatotoksik adalah obat yang dapat
menginduksi kerusakan hati atau biasanya disebutdrug induced liver injury
(Sonderup, 2006). Obat penginduksi kerusakan hati semakin diakui sebagai
penyebab terjadinya penyakit hati akut dan kronis (Isabelet al,. 2008).
Hepatotoksisitas merupakan komplikasi potensi obat yang paling sering dijumapai
dalam resep, hal ini mungkin dikarenakan peran hati dalam memetabolisme obat
(Aithal dan Day, 1999).
Contoh interaksi obat dengan penyakit hati

1. Acetaminophen
Definisi
Acetaminophen ialah suatu obat yang di indikasi kan unruk antipiretik.
Antipiretik adalah golongan obat dengan target untuk menurunkan temperatur.
Beberapa obat yang termasuk dalam golongan ini adalah Acetaminophen,
Ibuprofen dan aspirin.
Kasus Hepatotoksik akibat Acetaminophen
Berdasarkann jurnal (Dianneet al., 2015)acetaminophen hepatotoksik baik
secara accidental atau intentional, acetaminophen merupakan penyebab utama
acute liver failure. Di Amerika, diperkirakan sebanyak 56.000 kunjungan di
ruangan emergency setiap tahunnya, 2.600 rawat inap dan sekitar 500
kematian akibat acetaminophen hepatotoksik.
Sebuah laporan kasus pada anak post operasi, yang diberikan
acetaminophen intravena, dan 12 jam kemudian ditemukan gejala mual,
muntah, anorexia, dan agitasi. Hasil pemeriksaan fungsi hepar, terdapat
peningkatan kadar serum transaminase 10 kali dari normal. Setelah
pengecekan ulang, ternyata anak mendapat acetaminophen 5 kali pada dosis
42 mg/kgbb (total 2,5 gram/30 menit atau 168 mg/kgbb/24 jam). Pada
acetaminophen hepatotoksik terjadi akumulasi protein sehingga menyebabkan
nekrosis centrilobular pada hati. Dosis toksik acetaminophen secara umum
terjadi pada dosis > 150 mg/kgbb pada anak dibawah 12 tahun.
Dilaporkan terdapat 2 kasus acute liver failure setelah pemberian
acetaminophen hari ketiga dan kesepuluh. Selain itu ditemukan terjadi
acetaminophen hepatotoxicity pada 51% kasus pada pemberian hari ketiga
sampai hari ketujuh.Oleh karena itu, penggunaan antipiretik per oral
ataupun intravena harus tetap dalam aturan yang tepat oleh dokter dan
dengan pertimbangan indikasi dan efek samping (Dianneet al., 2015).

Mekanisme Hepatotoksik pada Acetaminophen


Kerusakan hati akibat acetaminophen terjadi akibat suatu
metabolitnya NAPQI (N-acetyl-p-benzoquinoneimine) yang sangat reaktif.
Pada keadaan normal produk reaktif ini dengan cepat berikatan dengan
kadar gluthation di hati, sehingga menjadi bahan yang tidak toksik. Akan
tetapi pada keadaan kelebihan dosis, atau pemakaian terus menerus yang
menyebabkan produksi NAPQI terus bertambah, dan tidak sebanding
dengan kadar gluthathion, maka NAPQI berikatan membentuk
makromolekul dengan sel hati yang mengakibatkanneksrosis sel hati
(Dianneet al., 2015).
2. Ranitidine
Definisi

Ranitidin adalah obat maag yang termasuk dalam golongan antihistamin,


lebih tepatnya disebut H2-antagonis. Ranitidin digunakan untuk mengurangi
produksi asam lambung sehingga dapat mengurangi rasa nyeri uluhati akibat
ulkus atau tukak lambung, dan masalah asam lambung tinggi lainnya.

Hepatotoksik Ranitidine

Ranitidine merupakan golongan histamine reseptor (H2) antagonis


(RAS) yang tergolong inducer idiosyncratic hepatotoksik. Secara umum
ranitidin dapat meningkatkan nilai SGPT. Efek ranitidine terhadap hati akan
memperluas kerusakan hati dan telah terjadi kematian dibeberapa individu
(Deng et al., 2009). Pada pasien lanjut usia dan memiliki ganguan fungsi hati,
ranitidine harus digunakan secara hati-hati (Ehrenpreis, 2001). Dosis ranitidine
adalah 150 mg dan dosis maksimal 6 gram per hari (BPOM RI, 2008).

3. Atorvastatin
Definisi
Atorvastatin adalah sejenis obat statin (atau HMG-CoA reductase
inhibitors) yang berfungsi menurunkan kadar kolesterol tubuh. Atorvastatin
bekerja dengan menghambat reaksi beberapa enzim yang dibutuhkan oleh
tubuh dalam menghasilkan kolesterol.
Hepatotoksik Atorvastatin
Atorvastatin dapat berakibat hepatotoksisitas atau kerusakan sel hati
apabila digunakan oleh pasien gangguan fungsi hati tanpa ada penyesuaian
dosis. Atorvastatin diketahui dapat meningkatkan secara signifikan
transaminase menjadi 3x batas normal (Grimbert et al., 2006). Pemakaian metil
prednisone dalam dosis tinggi dapat menyebabkan kerusakan hati parah.
4. Seftazidime dan sefotaksim
Definisi
Sefalosporin adalah sekelompok obat-obatan jenis antibiotik dengan struktur
yang sedikit serupa dengan penisilin. Hingga saat ini, sefalosporin terdiri dari
lima generasi atau kelas dan digunakan untuk mengobati berbagai jenis penyakit
akibat infeksi bakteri.
Hepatotoksik Seftazidime dan sefotaksim
Seftazidime dan sefotaksim termasuk antibiotik golongan sefalosporin,
untuk golongan antibiotik sefalosporin banyak dikaitkan dengan disfungsi hati
termasuk kolestasis. Seftriaxone dapat dikaitkan dengan hepatitis dan
kolestasis karena dilihat dari hasil profil farmakologisnya. Seftriaxone boleh
digunakan sebagai terapi perawatan penyakit kerusakan hati dengan
pengurangan dosis (BPOM RI, 2008).
5. Spironolactone
Definisi
Spironolactone adalah obat dengan fungsi untuk mengobati tekanan
darah tinggi. Obat ini juga bisa digunakan untuk mengobati pembengkakan
(edema) yang disebabkan oleh kondisi tertentu (contoh, gagal jantung
kongestif) dengan mengeluarkan kelebihan cairan dan meningkatkan gejala
seperti masalah pernapasan. Obat ini juga digunakan untuk mengobati kadar
kalium rendah dan kondisi abnormal tubuh, dimana tubuh akan mengeluarkan
banyak zat kimia alami (aldosterone).
HepatotoksikSpironolactone
Efek samping yang ditimbulkan dari penggunaan spironolactone pada
pasien penyakit hati dapat menyebabkan kolestatis kerana adanya kesamaan
struktur antara spironolactone dan streroid. Pada pasien yang mengalami
sirosis, spironolactone dapat memperburuk ensefalopati hati, resiko akan
menjadi berat apabila digunakan bersamaan dengan diuretik lainnya.
Spironolactone dapat digunakan sebagai tata laksana terapi untuk panyakit
komplikasi sirosis. Dosis penggunaan spironolactone dapat diturunkan apabila
tetap menggunakannya sebagai tata laksana terapi penyakit hati, terus
dilakukan pemantauan dan pengawasan kadar obat (Depkes RI, 2007).

Pemberian obat penginduksi hati terhadap pasien gangguan fungsi hati


perlu dilakukan khusus seperti penentuan regimen dosis, perpanjangan
frekuensi penggunaan obat, penambahan zat lain yang dapat mengurangi efek
toksik dan perlu dilakukan pengawasan parameter fungsi hati (Dipiro, 2005).

Interaksi obat golongan beta bloker pada pasien Asma

Beta blocker memblok beta adrenoseptor. Reseptor ini diklasifikasikan


menjadi reseptor beta 1 dan beta 2. Reseptor beta1 terutama terdapat pada jantung
sedangkan reseptor beta 2 banyak ditemukan di paruparu, pembuluh darah perifer,
dan otot lurik. Reseptor beta2 juga dapat ditemukan di jantung, sedangkan reseptor
beta1 juga dapat dijumpai pada ginjal. Reseptor beta juga dapat ditemukan di otak.
Stimulasi reseptor beta pada otak dan perifer akan memacu penglepasan
neurotransmitter yang meningkatkan aktivitas system saraf simpatis. Stimulasi
reseptor beta 1 pada nodus sino atrial dan miokardiak meningkatkan heart rate dan
kekuatan kontraksi. Stimulasi reseptor beta pada ginjal akan menyebabkan
penglepasan rennin, meningkatkan aktivitas system renninangiotensin aldosteron.
Efek akhirnya adalah peningkatan cardiac output , peningkatan tahanan perifer dan
peningkatan sodium yang diperantarai aldosteron dan retensi air.

Terapi menggunakan beta blocker akan mengantagonis semua efek


tersebut sehingga terjadi penurunan tekanan darah. Beta blocker yang selektif
(dikenal juga sebagai cardioselective betablockers), misalnya bisoprolol, bekerja
pada reseptor beta 1, tetapi tidak spesifik untuk reseptor beta 1 saja oleh karena itu
penggunaannya pada pasien dengan riwayat asma dan bronkhospasma harus hati
hati. Beta blocker yang non selektif (misalnya propanolol) memblok reseptor beta
1 dan beta2 (Beth Gormer, 2007).

1.1 Interaksi Obat dan Makanan


Pemberian obat-obatan merupakan bagian dari terapi medis terhadap pasien.
Ketika dikonsumsi, obat dapat mempengaruhi status gizi seseorang dengan
mempengaruhi makanan yang masuk (drug-food interaction). Hal sebaliknya juga
dapat terjadi, makanan yang masuk juga dapat mempengaruhi kerja beberapa obat-
obatan (food-drug interaction).
Interaksi antara obat dan makanan disini dapat dibagi menjadi :
1. Obat-obatan yang dapat menurunkan nafsu makan, mengganggu
pengecapan dan mengganggu traktus gastrointestinal/ saluran pencernaan.
2. Obat-obatan yang dapat mempengaruhi 20etabol, 20etabolism dan eksresi
zat gizi
Makanan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi interaksi
obat. Pengaruhmakanan terhadap kerja obat masih sangat kurang. Karena itu, pada
banyak bahan obat masih belum jelas bagaimana pengaruh pemberian makanan pada
saat yang sama pada kinetika obat. Pada sejumlah senyawa makanan menyebabkan
peningkatan, penundaan, dan penurunan 20etabol obat (Mutschler, 1999). Makanan
dapat berikatan dengan obat, sehingga mengakibatkan 20etabol obat berkurang atau
lebih lambat. Sebuah contoh diskusi tentang makanan yang berikatan dengan obat
adalah interaksi tetrasiklin dengan produk-produk dari susu. Akibatnya adalah
penurunan konsentrasi tetrasiklin dalam plasma. Oleh karena adanya efek pengikatan
ini, maka tetrasiklin harus dimakan satu jam sebelum atau 2 jam sesudah makan dan
tidak boleh dimakan dengan susu (Hayes et al., 1996).
Dasar yang menentukan apakah obat diminum sebelum, selama atau setelah
makan tentunya adalah karena absorpsi, ketersediaan hayati serta efek terapeutik obat
bersangkutan, yang amat tergantung dari waktu penggunaan obat tersebut serta
adanya kemungkinan interaksi obat dengan makanan itu sendiri. Cukup banyak
usaha-usaha yang dilakukan untuk menyelidiki hal ini. Kemungkinan-kemungkinan
yang menyebabkan dapat terjadinya interaksi obat dengan makanan adalah :
a. Perubahan motilitas lambung dan usus, terutama kecepatan pengosongan
lambung dari saat masuknya makanan
b. Perubahan pH, sekresi asam serta produksi empedu
c. Perubahan suplai darah di daerah splanchnicus dan di mukosa saluran cerna
d. Dipengaruhinya absorpsi obat oleh proses adsorpsi dan pembentukan
kompleks
e. Dipengaruhinya proses transport aktif obat oleh makanan
f. Perubahan biotransformasi dan eliminasi(Widianto, 1989)
Dari semua pengaruh ini, ada beberapa factor yang mempengaruhi interaksi
obat dan makanan antara lain:
a. Pengosongan lambung
Pada kasus tertentu misalnya setelah pemberian laksansia atau penggunaan
preparat retard, maka di usus besarpun dapat terjadi absorpsi obat yang
cukup besar. Karena besarnya peranan usus halus dalam hal ini, tentu saja
cepatnya makanan masuk ke dalam usus akan amat mempengaruhi
kecepatan dan jumlah obat yang diabsorpsi. Peranan jenis makanan juga
berpengaruh besar di sini. Jika makanan yang dimakan mengandung
komposisi 40% karbohidrat, 40% lemak dan 20% protein maka walaupun
pengosongan lambung akan mulai terjadi setelah sekitar 10 menit. Proses
pengosongan ini baru berakhir setelah 3 sampai 4 jam. Dengan ini selama 1
sampai 1,5 jam volume lambung tetap konstan karena adanya proses-proses
sekresi.Tidak saja komposisi makanan, suhu makanan yang dimakanpun
berpengaruh pada kecepatan pengosongan lambung ini. Sebagai contoh
makanan yang amat hangat atau amat dingin akan memperlambat
pengosongan lambung. Ada pula peneliti yang menyatakan pasien yang
gemuk akan mempunyai laju pengosongan lambung yang lebih lambat
daripada pasien normal. Nyeri yang hebat misalnya migren atau rasa takut,
juga obat-obat seperti antikolinergika (misal, propantelin), antidepresiva
trisiklik (amitriptilin, imipramin) dan opioida (petidin, morfin) akan
memperlambat pengosongan lambung. Sedangkan percepatan pengosongan
lambung diamati setelah minum cairan dalam jumlah besar, jika tidur pada
sisi kanan (berbaning pada sisi kiri akan mempunyai efek sebaliknya,) atau
pada penggunaan obat seperti metokiopramida atau khinidin. Jelaslah di sini
bahwa makanan mempengaruhi kecepatan pengosongan lambung, maka
adanya gangguan pada absorpsi obat karenanya tidak dapat diabaikan.
b. Komponen makanan
Efek perubahan dalam komponen-komponen makanan :
1. Protein (daging, dan produk susu)
Sebagai contoh, dalam penggunaan Levadopa untuk mngendalikan
tremor pada penderita Parkinson. Akibatnya, kondisi yang diobati
mungkin tidak terkendali dengan baik. Hindari atau makanlah sesedikit
mungkin makanan berprotein tinggi (Harknoss, 1989).
2. Lemak
Keseluruhan dari pengaruh makan lemak pada metabolism obat adalah
bahwa apa saja yang dapat mempengaruhi jumlah atau komposisi asam
lemak dari fosfatidilkolin mikrosom hati dapat mempengaruhi kapasitas
hati untuk memetabolisasi obat. Kenaikan fosfatidilkolin atau kandungan
asam lemak tidak jenuh dari fosfatidilkolin cenderung meningkatkan
metabolism obat (Gibson, 1991). Contohnya : Efek Griseofulvin dapat
meningkat.interaksi yang terjadi adalah interaksi yang menguntungkan
dan grieseofluvin sebaiknya dimakan pada saat makan makanan
berlemak seperti daging sapi, mentega, kue, selada ayam, dan kentang
goring (Harkness, 1989).
3. Karbohidrat
Karbohidrat tampaknya mempunyai efek sedikit pada metabolism obat,
walaupun banyak makan glukosa, terutama sekali dapat menghambat
metabolism barbiturate, dan dengan demikian memperpanjang waktu
tidur. Kelebihan glukosa ternyata juga mengakibatkan berkurangnya
kandungan sitokrom P-450 hati dan memperendah aktivitas bifenil-4-
hidroksilase (Gibson, 1991). Sumber karbohidrat: roti, biscuit, kurma,
jelli, dan lain-lain (Harkness, 1989).
4. Vitamin
Vitamin merupakan bagian penting dari makanan dan dibutuhkan untuk
sintesis protein dan lemak, keduanya merupakan komponen vital dari
system enzim yang memetabolisasi obat. Oleh karena itu tidak
mengherankan bahwa perubahan dalam level vitamin, terutama
defisiensi, menyebabkan perubahan dalam kapasitas memetabolisasi
obat. Contohnya :
a. Vit A dan vit B dengan antacid, menyebabkan penyerapan vitamin
berkurang.
b. Vit C dengan besi, akibatnya penyerapan besi meningkat.
c. Vit D dengan fenitoin (dilantin), akibatnya efek vit D berkurang.
d. Vit E dengan besi, akibatnya aktivitas vit E menurun(Harkness, 1989).
5. Mineral
Mineral merupakan metabolit logam dan bukan logam dalam makanan
untuk menjaga kesehatan yang baik. Unsur unsur yang telah terbukti
mempengaruhi metabolism obat ialah: besi, kalium, kalsium, magnesium,
zink, tembaga, selenium, dan iodium. Makanan yang tidak mengandung
magnesium juga secara nyata mengurangi kandungan lisofosfatidilkolin,
suatu efek yang juga berhubungan dengan berkurangnya kapasitas
memetabolisme hati. Besi yang berlebih dalam makanan dapat juga
menghambat 23 etabolism obat. Kelebihan tembaga mempunyai efek
yang sama seperti defisiensi tembaga, yakni berkurangnya kemampuan
untuk memetabolisme obat dalam beberapa hal. Jadi ada level optimum
dalam tembaga yang ada pada makanan untuk memelihara metabolism
obat dalam tubuh (Gibson, 1991).
c. Ketersediaan hayati
Penggunaan obat bersama makanan tidak hanya dapat menyebabkan
perlambatan absorpsi tetapi dapat pula mempengaruhi jumlah yang
diabsorpsi (ketersediaan hayati obat bersangkutan). Penisilamin yang
digunakan sebagai basis terapeutika dalam menangani reumatik, jika
digunakan segera setelah makan, ketersediaan hayatinya jauh lebih kecil
dibandingkan jika tablet tersebut digunakan dalam keadaan lambung
kosong. Ini akibat adanya pengaruh laju pengosongan lambung terhadap
absorpsi obat (Gibson, 1991).
Interaksi antara obat dan makanan disini dapat dibagi menjadi :
1. Obat-obatan yang dapat menurunkan nafsu makan, mengganggu
pengecapan dan mengganggu traktus gastrointestinal atau saluran
pencernaan.
i. Obat dan perubahan pengecapan atau penciuman
Banyak obat yang dapat menyebabkan perubahan terhadap
kemampuan merasakan dysgeusia, menurunkan ketajaman rasa
hypodysgeusia. Gejala-gejala tersebut dapat mempengaruhi intake
makanan. Obat-obatan yang umum digunakan dan diketahui
menyebabkan hypodysgeusia seperti: obat antihipertensi (captopril),
antriretroviral ampenavir, antineoplastik cisplastin, dan antikonvulsan
phenytoin (Mahan, 2002).
ii. Obat dan gangguan gastrointestinal
Obat dapat menyebabkan perubahan pada fungsi usus besar dan hal ini
dapat berdampak pada terjadinya konstipasi atau diare. Obat-obatan
metabolit seperti kodein dan morfin dapat menurunkan produktivitas
tonus otot halus dari dinding usus. Hal ini berdampak pada penurunan
metabolisme yang menyebabkan terjadinya konstipasi (Lulukria,
2010).
2. Obat-obatan yang dapat mempengaruhi 24 etabol, 24 etabolism dan
eksresi zat Gizi
i. Absorbsi
Interaksi dalam proses absorpsi dapat terjadi dengan berbagai cara
misalnya,
Perubahan (penurunan) motilitas gastrointestinal oleh karena obat-
obat seperti morfin atau senyawa-senyawa antikolinergik dapat
mengubah absorpsi obat-obat lain.
Kelasi yakni pengikatan molekul obat-obat tertentu oleh senyawa
logam sehingga absorpsi akan dikurangi, oleh karena terbentuk
senyawa kompleks yang tidak diabsorpsi. Misalnya kelasi antara
tetrasiklin dengan senyawa-senyawa logam /berat akan
menurunkan absorpsi tetrasiklin.
Makanan juga dapat mengubah absorpsi obat-obat tertentu,
misalnya: umumnya antibiotika akan menurun absorpsinya bila
diberikan bersama dengan makanan(Grahame, 1985).
Obat-obatan yang dikenal luas dapat mempengaruhi metabolit zat
gizi adalah obat-obatan yang memiliki efek merusak terhadap mukosa
usus. Antineoplastik, antiretroviral, NSAID dan sejumlah metabolisme
diketahui memiliki efek tersebut. Mekanisme penghambatan metabolit
tersebut meliputi: pengikatan antara obat dan zat gizi (drug-nutrient
binding) contohnya Fe, Mg, Zn, dapat berikatan dengan beberapa jenis
25 etabolism; mengubah keasaman lambung seperti pada antacid dan
antiulcer sehingga dapat mengganggu penyerapan B12, folat dan besi;
serta dengan cara penghambatan langsung pada 25 etabolism atau
perpindahan saat masuk ke dinding usus (Lulukria, 2010).
ii. Metabolisme
Interaksi dalam proses metabolism dapat terjadi dengan dua
kemungkinan, yakni
Pemacuan enzim (enzyme induction) suatu obat (presipitan) dapat
memacu metabolism obat lain (obat obyek) sehingga mempercepat
eliminasi obat tersebut. Obat-obat yang dapat memacu enzim
metabolism obat disebut sebagai enzyme inducer. Dikenal beberapa
obat yang mempunyai sifat pemacu enzim ini yakni Rifampisin;
Antiepileptika: fenitoin, karbamasepin, fenobarbital.
Penghambatan enzim, Obat-obat yang punya kemampuan untuk
menghambat enzim yang memetabolisir obat lain dikenal sebagai
penghambat enzim (enzyme inhibitor). Akibat dari penghambatan
metabolism obat ini adalah meningkatnya kadar obat dalam darah
dengans egala konsekuensinya, oleh karena terhambatnya proses
eliminasi obat. Obat-obat yang dikenal dapat menghambat aktifitas
enzim metabolism obat antara lain kloramfenikol, isoniazid,
simetidin, propanolol, eritromisin, fenilbutason, alopurinol,dan
lain-lain(Grahame, 1985).
Obat-obatan dan zat gizi mendapatkan enzim yang sama ketika
sampai di usus dan hati. Akibatnya beberapa obat dapat menghambat
aktifitas enzim yang dibutuhkan untuk memetabolisme zat gizi.
Sebagai contohnya penggunaan metotrexate pada pengobatan kanker
menggunakan enzim yang sama yang dipakai untuk mengaktifkan
folat. Sehingga efek samping dari penggunaan obat ini adalah
defisiensi asam folat (Lulukria, 2010).
iii. Ekskresi
Obat-obatan dapat mempengaruhi dan mengganggu eksresi zat gizi
dengan mengganggu reabsorbsi pada ginjal dan menyebabkan diare
atau muntah. Sehingga jika dirangkum, efek samping pemberian obat-
obatan yang berhubungan dengan gangguan GI (gastrointestinal)
dapat berupa terjadinya mual, muntah, perubahan pada pengecapan,
turunnya nafsu makan, mulut kering atau inflamasi/ luka pada mulut
dan saluran pencernaan, nyeri abdominal (bagian perut), konstipasi
dan diare. Efek samping seperti di atas dapat memperburuk konsumsi
makanan si pasien. Ketika pengobatan dilakukan dalam waktu yang
panjang tentu dampak signifikan yang memperngaruhi status gizi
dapat terjadi (Bruyne, 2008).
3. Obat dan penurunan nafsu makan
Efek samping obat atau pengaruh obat secara langsung, dapat
mempengaruhi nafsu makan. Kebanyakan metabolis CNS dapat
mengakibatkan anorexia. Efek samping obat yang berdampak pada
gangguan CNS dapat mempengaruhi kemampuan dan keinginan untuk
makan. Obat-obatan penekan nafsu makan dapat menyebabkan terjadinya
penurunan berat badan yang tidak diinginkan dan ketidakseimbangan
nutrisi (Mahan, 2002).

1. Makanan berlemak dengan Griseofulvin


Interaksi yang terjadi adalah interaksi yang menguntungkan.Efek Griseofilin
dapat meningkat. Sebaiknya griseofulvin diminum saat makan makanan yang
berlemak seperti : susu, alpukat, daging sapi, mentega, ayam, kentang dan
lain-lain.
2. Makanan yang mengandung tiramin dengan Antidepresan golongan MAOI
Kombinasi makanan yang mengandung tiramin dengan antidepresan
golongan MAOI ( Entonyl, marplan, nardil, parnate) dapat meningkatkan
tekanan darah yang nyata. Akibatnya : sakit kepala berat, demam, gangguan
penglihatan, bingung yang mungkin diikuti perdarahan otak.Sebaiknya
hindari makanan yang mengandung tiramin seperti : buncis, pisang, kecap,
ragi, yogurt, keju, coklat, kopi, bir
3. Susu dan produk susu dengan Tetrasiklin
Efek tetrasiklin akan berkurang karena terjadi pembentukan khelat yaitu
kompleks tetrasiklin dengan kalsium yang terdapat pada susu. Untuk
mencegah terjadinya interaksi, gunakan tetrasiklin 1 jam sebelum atau 2 jam
sesudah minum susu atau produk susu
4. Makanan berserat tinggi dengan Digoksin (lanoksin)
Efek digoksin dapat berkurang. Sebaiknya gunakan digoksin 1 jam sebelum
atau 2 jam sesudah menyantap makanan berserat tingggi. Makanan berserat
tinggi seperti : serial beras, makanan dari gandum, biji-bijian, sayuran
mentah, buah-buahan.

5. Makanan berkafein dengan Teofilin


Efek obat asma dapat meningkat akibat terjadi efek samping merugikan
karena terlalu banyak teofilin, diserat gejala mual , pusing, salkit kepala,
tremor, denyut jantung tidak teratur. Makanan yang mengandung kafein
seperti : Kopi, teh, kola, coklat
6. Makanan berprotein tinggi dengan Levodopa
Efek levodopa (dopar, loradopa, sinemet) dapat berkurang. Akibatnya
kondisi yang diobati mungkin tidak tercapai. Hindari makanan berprotein
tinggi ( daging, produk susu)
7. Makanan berkarbohidrat dengan Asetominofen
Efek asetominofen dapat berkurang. Akibatnya : nyeri atau demam tidak
hilang sesuai efek terapinya. Sumber karbohidrat seperti : roti, korma
8. Makanan beralkali dengan Kinidin
Efek kinidin ( cardioquin, duraquin, quinora) dapat meningkat. Akibatnya :
mungkin terjadi efek samping merugikan karena terlalu banyak kinidin
disertai gejala jantuung berdebar atau denyut jantung tidak teratur, pusing,
sakit kepala. Hindari makanan seperti : Susu, mentega, kelapa
9. Kayu manis dengan Obat tekanan darah tinggi
Efek obat tekanan darah tinggi dilawan.Akibatnya tekanan darah tidak
terkendali dengan baik.Hindari makan kayu maniis saat makan obat
tekanan darah tinggi.
10. Garam dengan Litium
Makanan yang berkadar garam tinggi menurunkan efek litium.Akibatnya
kondisi yang diobati tidak terkendali dengan baik. Hindari konsumsi kadar
garam yang tinggi saat mengkonsumsi litium
11. Makanan yang mengandung vit B6 dengan Levodopa
Efek levodopa ( dopar, larodopa, sinemet) dapat berkurang. Akibatnya
kondisi tidak terkendali sebagaimana mestinya. Hindari makanan yang kaya
vitamin B6 seperti : alpukat, daging babi, hati sapi, susu skim kering,
kacang merah, ikan tuna, kenari, gandum.
12. Makanan yang kaya vitamin K dengan Antikoagulan
Efek antikoagulan dapat berkurang .Akibatnya darah mungkin tetap
membeku meski penderita sedang berobat dengan antikoagulan. Hindari
maakananyang mengandung vitamin K seperti hati, sayur lol, kangkung,
bayam, asparagus
Interaksi Obat dengan Obat
1. Rifampisin + SSRIs
Dalam dua kasus rifampisin mengurangi khasiat citalopram dan sertraline.
Dalam teori, rifampisin dapat mempengaruhi SSRI lain tetapi tampaknya
belum ada laporan tentang ini.
2. Rifampisin + Statin
Bukti terbatas menunjukkan bahwa rifampisin dapat mengurangi kerja
atorvastatin, fluvastatin, pravastatin, dan tingkat simvastatin.
3. Salbutamol + Teofilin
Penggunaan bersama dengan teofilin dan 2 agonis bronkodilator seperti
salbtamol adalah salah sat pilihan dalam penatalaksanaan asama dan penyakit
paru obstruktif kronis, tetapi potensiasi dari beberapa reaksi yang merugikan
dapat terjadi. Yang paling serius adalah hipokalemia dan takikardia, terutama
dalam dosis tinggi teofilin.Beberapa pasien mungkin menunjukkan penurunan
yang signifikan dalam tingkat teofilin serum jikadiberikan salbutamol oral
atau intravena atau isoprenalin intravena (isoproterenol).
4. Tetrasiklin + warfarin dan antikoagulan oral lainnya
Efek dari antikoagulan biasanya tidak berefek sampai batas klinis yang
relevan dengan penggunaan bersamaan daengan tetrasiklin, tetapi beberapa
pasien telah menunjukkan peningkatanefek antikoagulan, dan segelintir telah
berdarah.
5. Digoxin + Diuretik
AUC dari digoxin meningkat sebesar 16% oleh eplerenon.
6. Allupurinol + ACE Inhibitors
Dapat meningkatkan potensi alergi atau reaksi hipersensitifitas dari
allopurinol. Tiga kasus sindrom Stevens-Johnson (satu fatal) dan dua kasus
hipersensitivitas telah dikaitkan dengan penggunaan captopril dengan
allopurinol.anafilaksis dan infark miokard terjadi pada satu orang mengambil
enalapril dengan allopurinol.Pasien yang memakai kedua obat harus dipantau
sangat erat untuk tanda-tanda hipersensitivitas (misalnya reaksi kulit) atau
jumlah yang rendah putih sel (sakit tenggorokan, demam dll), terutama jika
mereka memiliki gangguan ginjal.
7. Alluprinol + Carbamazepin
Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa allopurinol dosis tinggi (15 mg
/ kg atau 600 mg setiap hari) secara bertahap dapat meningkatkan kadar
carbamazepine serum sekitar sepertiga. Tampaknyabahwa allopurinol 300 mg
sehari tidak berpengaruh pada tingkat carbamazepine.
8. Rifabutin + Sirolimus
Rifampisin (rifampin) sangat mengurangi tingkat sirolimus. Rifabutin
diprediksiberinteraksi sama.
9. Reboxetine + SSRI

Produsen reboxetine memprediksi bahwa inhibitor poten dari CYP3A4 akan


mengurangimetabolismenya. Mereka nama fluvoxamine, tetapi perhatikan
bahwa fluvoxamine lebih biasanya dianggap sebagai inhibitor poten dari
CYP1A2 dan umumnya dianggap sebagai inhibitor lemah CYP3A4.
Penggunaan bersamaan fluvoxamine harus dihindari.
10. Parasetamol (Asetaminofen) + Rifampicin (Rifampisin)
Rifampisin menginduksi glucuronidation parasetamol namun tidak
meningkatkan pembentukan metabolit hepatotoksik dari parasetamol.
Pentingnya klinis temuan ini menunggu studi lebih lanjut, tetapi mereka
menyarankan bahwa rifampisin dapat mengurangi efektivitas parasetamol.
11. Neomycin + Penisilin
Kadar serum fenoksimetilpenisilin oral dapat dibelah dua oleh
neomycin.Signifikansi klinis interaksi ini tidak jelas. Memantau penggunaan
bersamaan untuk memastikan

12. Makrolida + mirtazapine


Makrolida diperkirakan menghambat metabolism mirtazapine oleh CYP3A4.
Inhibitor CYP3A4 lain (seperti beberapa azoles) telah terbukti memiliki efek
ini. Produsen memberikan peringatan pada penggunaan bersamaan.Memantau
efek samping.
13. Lamotrigin + oxcarbazepine
Oxcarbazepine muncul untuk menurunkan kadar lamotrigin oleh sekitar 15
sampai 75%. Lamotrigin tampaknya meningkatkan kadar metabolit aktif dari
oxcarbazepine. Relevansi klinis tidak pasti, tapi tampaknya mungkin bahwa
beberapa pasien akantelah secara signifikan mengurangi tingkat lamotrigin.
Memantau penggunaan bersamaan dengan hati-hati, penyesuaian dosis
mungkin diperlukan. Pentingnya peningkatan kadar metabolit oxcarbazepine
kurang jelas.
14. Lamotrigin + Phenytoin
Fenitoin telah dikaitkan dengan tingkat lamotrigin serum berkurang \ dan
direkomendasikan awal dosis dan dosis pemeliharaan jangka panjang
lamotrigin pada pasien yang sudah mengambil fenitoin adalah dua kali lipat
dari pasien menerima lamotrigin monoterapi.Namun, perlu diketahui bahwa
dapat juga mengambil valproate selain fenitoin, dosis lamotrigin harus
dikurangi.
15. Kaolin + Quinidine
Bukti terbatas dari studi dosis tunggal menunjukkan bahwa kaolin-pektin
dapat mengurangi penyerapan quinidine dan menurunkan kadar serum nya
(konsentrasi saliva berkurang sekitar 50%). Waspada untuk kebutuhan untuk
meningkatkan dosis quinidine jika kaolin-pektin digunakan secara bersamaan.
16. Kaolin + Tetrasiklin
Kaolin-pektin mengurangi penyerapan tetrasiklin sekitar 50%. Jika kedua
obat ini diberikan bersama-sama, pertimbangkan memisahkan dosis oleh
setidaknya 2 jam untuk meminimalkan campuran dalam usus. Mungkin
bahkan kemudian diperlukan untuk meningkatkan dosis tetrasiklin. Informasi
tentang tetrasiklin lainnya kurang, tapi waspada bagi mereka untuk
berinteraksi sama.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari penjelasan diatas dapat disumpulkan bahwa interaksi obat adalah
perubahan efek suatu obat akibat pemakaian obat lain (interaksi obat-obat) atau oleh
makanan, minuman, obat dengan penyakit obat tradisional dan senyawa kimia lain.
Interaksi obat dengan obat, obat dengan makanan dapat mempengaruhi beberapa
faktor kerja obat antara lain yaitu farmakokinetik dan farmakodinamik suatu obat.

3.2 Saran
Untuk melengkapi makalah ini, maka disarankan untuk dilakukan pengkajian
lebih lanjut tentang interaksi antara obat dengan obat, obat dengan makanan, obat
dengan minuman, obat dengan penyakit.
DAFTAR PUSTAKA

Aithal, P.G., Day, C.P., 1999, The Natural History of Histologically Proved Drug
Induced Liver Disease. GUT, 44:731735.
Anonim. 2000. Informatorium Obat Nasional Indonesia. Jakarta: Departemen
KesehatanRepublik Indonesia.
Assessment of drug-induced liver injury in clinical practice , Agencia Espan-
oladel Medicamento and from the Fondo de Investigacio n Sanitaria.
Badan POM RI, 2008, Informatorium Obat Nasional Indonesia, Jakarta.
Beth Gormer, 2007. Farmakologi hipertensi.

BNF.(2009). British National Formulary. BMJ Group. UK.


Deng, X., James P. Luyendyk, Patricia E. Ganey, and Robert A. Roth. 2009.
Inflammatory Stress and Idiosyncratic Hepatotoxicity: Hints from Animal
Models. Pharmacological Reviews. Vol. 61, No. 3
Depkes RI, 2007, Pharmaceutical Care untuk Penyakit Hati , Departemen Kesehatan
RI, Jakarta.
Dianne JY. Yorva Sayoeti, Marlia Moriska. 2015. Kelainan Hati akibat Penggunaan
Antipiretik. jurnal.fk.unand. Andalas
Dipiro, J.T., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, B.G., and Posey, L. M.,
Ehrenpreis, S., Ehrenpreis E.D., 2001, Clinicians handbook of Prescription Drugs:
Fradgley, S. 2003. Interaksi Obat dalam Aslam, M., Tan., C.K., dan Prayitno,
A.,Farmasi Klinis. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo kelompok
Gramedia.
Ganiswara, S.G. 2000. Farmakologi dan Terapi, Edisi IV. Jakarta: FKUI.
George R.B, Curtis A.J, Nancy A.M, N Wendy L. 2004. MEDfact pocket guide of
drug interaction. Second edition. Bone Care Interaction. Neprhrology
Pharmacy Associtiies.
Grimbert, S., Pessayre, D., Degott C., Benhamou, J.P., 2006, Acute hepatitis induced
Hansten, P.D., and Horn, J.R. 2002. Managing Clinically Important
DrugInteractions,xii, Facts and Comparisons, St. Louis, Missouri.
Isabel, M., et al, 2008 , Assessment of drug-induced liver injury in clinical practice
Karen Baxter. 2008. Stockeys Drug Interaction. 8th edition. Pharmaceutical Press.
London. Chikago.
Katzung, B.G., and Trevor, A.J. 2002. Drug Interactions in Master, S.,
B.,Pharmacology, Sixth Edition. New York: Lange Medical Book/McGraw-
Hill.
Kee, J.L., and Hayes E.R. 1996. Farmakologi: Pendekatan Proses Keperawatan,
Alih Bahasa Peter Anugerah. Jakarta: EGC.
Maulana A. 2016. Kenali Interaksi Obat dan Makanan. Health. Jogja: Tribun Jogja.
Mc Cabe, B. J., Erick H.F., 2003 Jonathan J.W Handbook of Food-Drug Interaction.
CRC Press. London
McGraw-Hill Companies.
Mutchler, E., 1991, Dinamika Obat, Edisi V, diterjemahkan Widianto, M.B.,
danRanti, A.N., 88-92, Penerbit ITB, Bandung.
Quinn, D.I., dan Day, R.O. (1997). Clinically Important Drug Interactions, in
Averys Drug Treatment. Edisi keempat. Aucland: Adis International
Limited. New Zealand.
Setiawati, A. 2005. Interaksi Obat dalam Ganiswara, S.G., Farmakologi danTerapi,
Edisi IV, Jakarta: FKUI.
Setiawati, A. 2007. Interaksi obat, dalam Farmakologi dan Terapi. Edisi lima.
Jakarta: Gaya Baru.
Sonderup, M.W., 2006, Drug Induced Liver Injury is a Significant Cause of Liver
Disease, Including Chronic Liver, Drug Induced Liver Injuries , 29(6).
Srividya, B. 2016.Impact of Alcohol on Drug Metabolism and Alcohol-Drug
Pharmacokinetic Interactions in Alcoholics. Journal of Pharmacology and
Toxicological Studies
Stockley, I.H. (2008). Stockleys Drug Interaction. Eight Edition. Great Britain:
Pharmaceutical Press. Halaman 1-9

Common questions

Didukung oleh AI

Considering the clinical significance of drug interactions is vital because it helps in weighing the potential risks and benefits of a drug combination. Interactions are categorized into classes—major, moderate, or minor—based on their clinical impact . This classification aids in decision-making, ensuring that the therapeutic benefits outweigh the risks, thereby optimizing patient outcomes and minimizing adverse effects .

Drug interactions are classified into pharmacokinetic and pharmacodynamic interactions. Pharmacokinetic interactions involve changes in drug absorption, distribution, metabolism, and excretion. For example, protein binding interactions in plasma can lead to increased free drug concentrations, enhancing drug effects . Pharmacodynamic interactions alter the drug's effects without changing its pharmacokinetics, through additive, synergistic, or antagonistic effects when drugs are combined . Together, these mechanisms can increase toxicity or reduce drug efficacy, particularly in drugs with narrow therapeutic indices like digoxin .

Elderly patients are more prone to adverse drug interactions due to multiple factors, including polypharmacy, physiological changes from aging, and chronic health conditions. These patients often use multiple medications for various chronic diseases, increasing the likelihood of interactions . Age-related declines in organ function (e.g., liver and kidneys) affect drug metabolism and clearance . Additionally, cognitive decline may lead them to use medications incorrectly, raising interaction risks .

Pharmacokinetic interactions involve alterations in drug absorption, distribution, metabolism, or excretion, potentially leading to changes in blood drug levels, as seen with enzyme induction or inhibition . Pharmacodynamic interactions involve the combined effects of drugs, such as additive or antagonistic effects, influencing overall therapeutic outcomes without altering drug concentrations . Both types can impact safety and efficacy; for instance, increased drug levels can enhance efficacy or cause toxicity, while pharmacodynamic interactions can negate therapeutic effects .

Tetracycline forms chelates with calcium in dairy products, reducing its absorption from the gastrointestinal tract, which lowers its plasma concentration and effectiveness . To avoid this interaction, tetracycline should be taken either one hour before or two hours after consuming dairy products .

In patients with impaired renal or hepatic function, careful consideration of drug interactions is crucial since organ function affects drug clearance and metabolism . Dosage adjustments may be necessary to prevent toxicity due to decreased drug elimination. Monitoring for adverse effects is critical, and selecting alternative medications with lower interaction potential may be preferred. Additionally, recognizing symptoms of toxicity early can help in mitigating adverse effects .

Adjusting drug dosages in the context of interactions is crucial to maintain therapeutic levels while preventing toxicity. For instance, if an interaction increases drug bioavailability, reducing the dose can prevent adverse effects . Conversely, if an interaction diminishes efficacy, increasing the dosage may be necessary. Monitoring plasma drug levels helps in making informed dosage adjustments to optimize therapy without compromising patient safety .

Grapefruit juice can affect drug metabolism by inhibiting cytochrome P450 enzymes, particularly CYP3A4, leading to increased blood concentrations of certain drugs. This can enhance drug effects or toxicity, as seen with antihistamines and cholesterol-lowering statins like simvastatin, increasing the risk of side effects such as muscle cramps or liver damage .

Healthcare providers can minimize harmful drug interactions by avoiding combinations with known interactions, using alternative therapies with less interaction potential, adjusting drug dosages, and closely monitoring patients for adverse effects . They should maintain updated medication records, educate patients about potential interactions, and encourage the use of a single pharmacy to track medication history accurately .

Combining high-fat meals with medications like griseofulvin can enhance drug absorption, potentially increasing its therapeutic effect. However, this requires precise timing and knowledge of the interaction to avoid variability in drug response. Griseofulvin should be taken with meals containing fats to maximize absorption, ensuring consistent therapeutic outcomes .

Anda mungkin juga menyukai