Pengantar Diabetes Mellitus dan Etiologinya
Pengantar Diabetes Mellitus dan Etiologinya
DIABETES MELLITUS
Oleh :
Nama : Deti Eva Nurvalah
NPM : 2250321117
3. Faktor genetic
Seorang anak dapat diwarisi gen penyebab diabetes melitus orangtua.
Biasanya, seseorang yang menderita diabetes melitus mempunyai
anggota keluarga yang juga terkena. Jika kedua orang tua menderita
diabetes, insiden diabetes pada anak-anaknya meningkat, tergantung pada umur
berapa orang tua menderita diabetes. Risiko terbesar bagi anak-anak terserang
diabetes terjadi jika salah satu atau kedua orang tua mengalami penyakit ini
sebelum berumur 40 tahun. Riwayat keluarga pada kakek dan nenek kurang
berpengaruh secara signifikan terhadap cucunya.
4. Bahan-bahan kimia dan obat-obatan
Bahan kimia tertentu dapat mengiritasi pankreas yang menyebabkan radang
pankreas. Peradangan pada pankreas dapat menyebabkan pancreas tidak
berfungsi secara optimal dalam mensekresikan hormon yang diperlukan unuk
metabolisme dalam tubuh, termasuk hormon insulin.
5. Penyakit dan infeksi pada pancreas
Mikroorganisme seperti bakteri dan virus dapat menginfeksi pankreas
sehingga menimbulkan radang pankreas. Hal itu menyebabkan sel β pada
pankreas tidak bekerja optimal dalam mensekresi insulin.Beberapa
penyakit tertentu, seperti kolesterol tinggi dan dislipidemia dapat meningkatkan
risiko terkena diabetes melitus.
D. PATOFISIOLOGI
Diabetes mellitus adalah suatu penyakit dimana kadar glukosa didalam darah
tinggi karena tubuh tidak dapat melepaskan atau menggunakan insulin
secara cukup. Sehingga mengakibatkan hiperglikemia. Glukosa secara normal
bersirkulasi dalam jumlah tertentu dalam darah. Glukosa dibentuk di hati dari
makanan yang dikonsumsi.Insulin merupakan hormon yang diproduksi pankreas
dan mengendalikan kadar glukosa dalam darah dengan mengatur produksi
dan penyimpanannya. Pada diabetes tipe II terdapat dua masalah utama yang
berhubungan dengan insulin, yaitu resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin.
Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor khusus pada permukaan
sel sehingga terjadi suatu rangkaian reaksi dalam metabolisme glukosa di dalam sel
Adanya resistensi insulin pada diabetes tipe II disertai dengan penurunan reaksi
intrasel membuat insulin tidak efektif dalam menstimulasi pengambilan
glukosa oleh jaringan (Kwinahyu, 2011).
Berkurangnya protein dalam jaringan tubuh. Pasien – pasien yang mengalami
defisiensi insulin tidak dapat mempertahankan kadar glukosa plasma puasa yang
normal atau toleransi sesudah makan. Pada hiperglikemia yang parah
yang melebihi ambang ginjal normal (konsentrasi glukosa darah sebesar 160 –
180 mg/100 ml), akan timbul glikosuria karena tubulus – tubulus renalis tidak dapat
menyerap Kembali semua glukosa. Glukosuria ini akan mengakibatkan diuresis
osmotik yang menyebabkan poliuri disertai kehilangan sodium, klorida, potasium,
dan pospat. Adanya poliuri menyebabkan dehidrasi dan timbul
polidipsi.Akibat glukosa yang keluar bersama urine maka pasien akan mengalami
keseimbangan protein negatif dan berat badan menurun serta cenderung terjadi
polifagi.
Akibat yang lain adalah astenia atau kekurangan energi sehingga pasien menjadi
cepat telah dan mengantuk yang disebabkan oleh berkurangnya atau hilangnya
protein tubuh dan juga berkurangnya penggunaan karbohidrat untuk energi.
Hiperglikemia yang lama akan menyebabkan arterosklerosis, penebalan
membran basalis dan perubahan pada saraf perifer. Ini akan memudahkan
terjadinya gangren.
E. KLASIFIKASI
Menurut American Diabetes Association (ADA) tahun 2011, klasifikasi
Diabetes Melitus adalah sebagai berikut :
1. Diabetes Melitus tipe 1
DM tipe 1 sering dikatakan sebagai diabetes “Juvenile onset”atau “Insulin
dependent” atau “Ketosis prone”, karena tanpa insulin dapat terjadi kematian
dalam beberapa hari yang disebabkan ketoasidosis. Istilah “juvenile onset”
sendiri diberikan karena onset DM tipe 1 dapat terjadi mulai dari usia 4 tahun
dan memuncak pada usia 11-13 tahun, selain itu dapat juga terjadi pada akhir
usia 30 atau menjelang 40. Karakteristik dari DM tipe 1 adalah insulin
yang beredar disirkulasi sangat rendah, kadar glukagon plasma yang
meningkat, dansel beta pankreas gagal berespons terhadap stimulus yang
semestinya meningkatkan sekresi insulin. DM tipe 1 sekarang banyak dianggap
sebagai penyakit autoimun. Kelainan autoimun ini diduga ada kaitannya
dengan agen infeksius/lingkungan, di mana sistem imun pada orang dengan
kecenderungan genetik tertentu, menyerang molekul sel beta pankreas yang
‘menyerupai’ protein virus sehingga terjadi destruksi sel beta dan defisiensi
insulin. Faktor-faktor yang diduga berperan memicu serangan terhadap sel beta,
antara lain virus (mumps, rubella, coxsackie), toksin kimia, sitotoksin, dan
konsumsi susu sapi pada masa bayi. Selain akibat autoimun, sebagaian kecil DM
tipe 1 terjadi akibat proses yang idiopatik. Tidak ditemukan antibodi sel
beta atau aktivitas HLA. DM tipe 1 yang bersifat idiopatik ini, sering terjadi
akibat faktor keturunan, misalnya pada ras tertentu Afrika dan Asia.
2. Diabetes Melitus tipe 2
Diabetes mellitus tipe II disebabkan oleh faktor keturunan dan juga gaya
hidup yang kurang sehat. Hampir seluruh penderita diabetes menderita
tipe kedua ini. Meskipun mengenai dihampir semua penderita diabetes,
gejalanya sangatlah lambat. Sehingga perkembangan penyakit ini
membutuhkan waktu bertahun-tahun. Kerja insulin di dalam tubuh tidak lagi
efektif meskipun tidak perluada suntikan insulin dari luar untuk membantu
menjalani hidupnya.Tidak seperti pada DM tipe 1, DM tipe 2 tidak memiliki
hubungan dengan aktivitas HLA, virus atau autoimunitas dan biasanya pasien
mempunyai sel beta yang masih berfungsi (walau terkadang memerlukan
insulin eksogen tetapi tidak bergantung seumur hidup). DM tipe 2 ini
bervariasi mulai dari yang predominan resistensi insulin disertai
defisiensi insulin relatif, sampai yang predominan gangguan sekresi insulin
bersama resistensi insulin. Pada DM tipe 2 resistensi insulin terjadi pada otot,
lemak dan hati serta terdapat respons yang adekuat pada sel beta
pankreas.Terjadi peningkatan kadar asam lemak bebas di plasma, penurunan
transpor glukosa di otot, peningkatan produksi glukosa hati dan
peningkatan lipolisis. Defek yang terjadi pada DM tipe 2 disebabkan oleh gaya
hidup yang diabetogenik (asupan kalori yang berlebihan, aktivitas fisik
yang rendah, obesitas) ditambah kecenderungan secara genetik. Nilai
BMI yang dapat memicu terjadinya DM tipe 2 adalah berbeda-beda untuk setiap
ras.
3. Diabetes Kehamilan/gestasional
Diabetes kehamilan didefinisikan sebagai intoleransi glukosa dengan
onset pada waktu kehamilan. Diabetes jenis ini merupakan komplikasi pada
sekitar 1-14% kehamilan. Biasanya toleransi glukosa akan kembali normal pada
trimester ketiga.
F. MANIFESTASI KLINIS
Gejala yang lazim terjadi pada diabetes mellitus pada tahap awal sering
ditemukan sebagai berikut :
a. Poliuri (banyak kencing)
Hal ini disebabkan oleh karena kadar glukosa darah meningkat sampai
melampaui daya serap ginjal terhadap glukosa sehingga terjadi osmotik diuresis
yang mana gula banyak menarik cairan dan elektrolit sehingga klien banyak
kencing.
b. Polidipsi (banyak minum)
Hal ini disebabkan pembakaran terlalu banyak dan kehilangan cairan banyak
karena poliuri, sehngga untuk mengeimbangi klien lebih banyak minum
c. Polipagi (banyak makan)
Hal ini disebabkan karena glukosa tidak sampai ke sel-sel mengalami starvasi
(lapar). Sehingga untuk memenuhinya klien akan terus makan. Tetapi walaupun
klien banyak makan, tetap saja makanan tersebut hanya kan berada sampai pada
pembuluh darah.
d. Berat badan menurun, lemas, lekas lelah, tenaga kurang
Hal ini disebabkan kehabisan glikogen yang telah dilebur jadi glukosa, maka
tubuh berusaha mendapat peleburan zat dari bagian tubuh yang lain yaitu lemak
dan protein, karena tubuh terus merasakan lapar maka tubuh termasuk yang
berada di jaringan otot dan lemak sehingga klien dengan DM banyak makan akan
tetap kurus.
e. Mata kabur
Hal ini disebabkan oleh gangguan lintas (glukosa-sarbitol fruktasi) yang
disebabkankarena insufisiensi insulin. Akibat terdapat penimbunan sarbitol dari
lensa, sehingga menyebabkan pembentukkan katarak.
G. PATHWAY
H. PENATALAKSANAAN MEDIS
Menurut Corwin Elizabeth J. (2010) tujuan utama pelaksanaan klien dengan
diabetes mellitus adalah untuk mengatur glukosa darah dan mencegah timbulnya
komplikasi akut dan kronis. Berikut penatalaksanaan diabetes mellitus :
a. Edukasi
Edukasi kepada klien dengan diabetes mellitus meliputi definisi penyakit DM,
makan dan perlunya pengendalian serta pemantauan DM, hal-hal yang menjadi
penyakit DM, hipoglikemia, masalah khusus yang dihadapi, perawatan kaki
pada diabetes, dan cara menggunakan fasilitas perawatan Kesehatan.
b. Diet
Diet dan pengendalian berat badan merupakan dasar dari penatalaksanaan
nutrisi pada penderita diabetes mellitus diarahkan untuk mencapai tujuan
berikut ini :
- Memberikan semua unsur makanan essensial (misalnya vitamin, dan
minerah)
- Mencapai dan mempertahankan berat badan
- Memenuhi kebutuhan energi
- Asupan kolesterol hendaknya dibatasi, tidak lebih dari 300 mg/hari
- Mengkonsumsi makanan yang berserat
- Tidak boleh mengkonsumsi gula murni contohnya gula pasir, jelly, sirup,
dan buah-buahan yang diawet dengan gula
c. Latihan jasmani
Kegiatan atau Latihan jasmani dapat dilakukan 3-4 kali seminggu selama
kurang lebih 30 menit. Kegiatan fisik yang dapat dilakukan seperti jalan,
bersepeda santai, jogging, dan berenang.
d. Pengobatan medis
1. Terapi obat hipoglikemik oral (OHO)
- Sulfonylurea
- Khlorpropamid
- Glibenklamid
- Gliklasid
- Glikuidon
- Glipisid
- Glimepiride
- Binguanid
2. Terapi insulin
- Insulin kerja singkat (short acting)
- Insulin kerja cepat (rapid acting)
- Insulin kerja sedang
- Insulin kerja Panjang
I. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Menurut Tarwoto (2012), untuk menentukan penyakit DM, disamping
di kaji ng dan gejala yang dialami pasien juga yang pentingadalah di lakukan tes
diagnostik diantarannya:
a. Pemeriksaan gula dara puasa atau fasting Blood sugar (FBS)
Tujuan : Menentukan jumlah glukosa darah pada saat puasa
Pembatasaan : Tidak makan selama 12 jam sebelum tes biasanya jam 08.00
pagi sampai jam 12.00, minum boleh
Prosedur : Darah diambil dari vena dan kirim ke laboratorium
Hasil : Normal : 80-120 mg/ 100 ml serum
Abnormal : 140 mg/100 ml atau lebih
b. Pemeriksaan gula darah postprandial
Tujuan : Menentukan gula darah setelah makan Pembatasaan : Tidak ada
Prosedur : pasien diberi makan kira-kira 100 gr karbohidrat, dua jam
kemudian di ambil darah venanya
Hasil : Normal (kurang dari 20 mg/100 ml serum)
Abnormal : lebih dari 120 mg/100 ml atau lebih, indikasi DM
c. Pemeriksaan toleransi glukosa oral/oral glukosa tolerance tes (TTGO)
Tujuan : Menentukan toleransi terhadap respons pemberian glukosa
Pembatasan : Pasien tidak makan 12 jam seblum tes dan selama test, boleh
minum air putih, tidak merokok, ngopi atau minum the
selama pemeriksaan (untuk mengukur respon tubuh
terhadap karbohidrat),sedikit aktivitas, kurangi stress
(keadaan banyak aktivitas dan stress menstimulasi
epinephrine dan kortisol dan berpengaruh terhadap
peningkatan gula darah melalui peningkatan glukoneogenesis).
Prosedur : Pasien di beri makan tinggi karbohidrat selama 3hari
sebelum tes. Kemuadian puasa selama 12 jam,ambil darah
puasa dan urin untuk pemeriksaaan.Berikan 100 gr glukosa
ditambah juice lemon melalui mulut,periksaa darah dan urine ½,
1,2,3,4, dan 5 jam setelah pemberian glukosa.
Hasil : Normal puncaknya jam pertama setelah pemberian 140mg/dl
dan kembali normal 2 atau 3 jam kemudian.
Abnormal Peningkatan glukosa pada jam pertama tidak
Kembali setelah 2 atau 3 jam, urine positif glukosa
Abnormal : Peningkatan glukosa pada jam pertama tidak
Kembali setelah 2 atau 3 jam, urine positif glukosa
d. Pemeriksaan glukosa urine
Pemeriksaan ini kurang akurat karena hasil pemeriksaan ini banyak dipengaruhi
oleh berbagai hal misalnya karena obat-obatan seperti aspirin, vitamin C dan
beberapa antibiotik, adanya kelainan ginjal pada lansia dimana ambang
ginjal meningkat. Adanya glucosuria menunjukkan bahwa ambang ginjal
terhadap glukosa terganggu.5. Pemeriksaan ketone urin Badan ketone
merupakan produk sampingan proses pemecahan lemak, dan senyawa
ini akan menumpuk pada darah dan urine. Jumlah keton yang besar pada
urin akan merubah preaksi pada stirip menjadi keunguan. Adanya ketonuria
menunjukkan adanya ketoasidosis
e. Pemeriksaan kolesterol dan kadar serum trigliserida, dapat meningkat
karena ketidakadekuatan kontrol glikemik
f. Pemeriksaan hemoglobin glikat (HbA1c)
Pemeriksaan lain untuk memantau rata-rata kadar glukosa darahadalah
glykosytaled hemoglobin ( HbA1c). tes ini mengukur protensis glukosa yang
melekat pada hemoglobim. Pemeriksaan ini menunjukkan kadar glukosa rata-
rata selama 120 hari sebelumnya,sesuai dengan usia eritrosit. HbA1c
digunakan untuk mengkaji kontrol glukosa jangka panjang, sehingga dapat
memprediksi risiko komplikasi. Hasil HbA1c tidak berubah karna pengaruh
kebiasaan makan sehari sebelum test. Pemeriksaan HbA1c dilakukan diagnosis
dan pada inteval tertentu untul mengevaluasi penatalaksanaan
DM,direkomendasikan dilakukan 2 kali dalam sethaun bagi pasien DM.kadar
yang direkomendasikan oleh ADA < 7% (ADA 2003 dalam black dan hawks,
2005 : ignativicius dan workman, 2006).
J. ASUHAN KEPERAWATAN
Dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien gangren kaki diabetik
hendaknyadilakukan secara komperhensif dengan menggunakan proses
keperawatan.Proses keperawatan adalah suatu metode sistematik untuk mengkaji
respon manusiaterhadap masalah-masalah dan membuat rencana keperawatan yang
bertujuan untukmengatasi masalah-masalah tersebut. Masalah-masalah kesehatan
dapat berhubungandengan klien keluarga juga orang terdekat atau masyarakat.
Proses keperawatan mendokumentasikan kontribusi perawat dalam
mengurangi/mengatasi masalah-masalahkesehatan.Proses keperawatan terdiri dari
lima tahapan, yaitu : pengkajian, diagnose keperawatan, perencanaan, pelaksanaan,
dan evaluasi.
1. Pengkajian
a. Identitas klien, meliputi :
Nama pasien, tanggal lahir,umur, agama, jenis kelamin, status perkawinan,
pendidikan, pekerjaan, No rekam medis.
b. Keluhan utama
Kondisi hiperglikemi:
Penglihatan kabur, lemas, rasa haus dan banyak kencing, dehidrasi, suhu
tubuh meningkat, sakit kepala.
Kondisi hipoglikemi :
Tremor, perspirasi, takikardi, palpitasi, gelisah, rasa lapar, sakit kepala,
susah konsentrasi, vertigo, konfusi, penurunan daya ingat, patirasa di daerah
bibir, pelo, perubahan emosional, penurunan kesadaran.
c. Riwayat kesehatan sekarang
Biasanya klien masuk ke RS dengan keluhan utama gatal-gatal pada kulit
yang disertai bisul/lalu tidak sembuh-sembuh, kesemutan/rasa berat, mata
kabur, kelemahan tubuh. Disamping itu klien juga mengeluh poliurea,
polidipsi, anorexia, mual dan muntah, BB menurun, diare kadang-kadang
disertai nyeri perut, kram otot, gangguan tidur/istirahat, haus, pusing/sakit
kepala, kesulitan orgasme pada wanita dan masalah impoten pada pria
- Haus meningkat
Glukosa tidak dapat
- Gemetar
- Kesadaran menurun
- Perilaku aneh
- Sulit bicara
- Berkeringat
- Jumlah urin meningkat
2. DS : Faktor pemicu dan Defisit Nutrisi
- Cepat kenyang setalah faktor resiko
makan
- Kram/nyeri abdomen sel B terganggu
- Nafsu makan menurun
DO : Produksi insulin
menurun,minimal 10%
dibawah rentang ideal Glukosa tidak dapat
Kelemahan
Katabolisme
Defisit Nutrisi
Produksi insulin
menurun
Hoperglikemia
Ketidakstabilan kadar
gula darah
Glucosuria
Diuresis osmotic
Produksi urin
meningkat
Poliuri
Hipovolemik
Penurunan produksi
eritropoeitin
Anemia
menghindari nyeri)
- Gelisah Infeksi, gangguan
- Sulit tidur
Nekrosis
- Tekanan darah meningkat
- Pola nafas berubah
Pembedahan amputasi
- Nafsu makan berubah
- Proses berfikir terganggu
Nyeri akut
- Menarik diri
- Berfokus pada diri sendiri
- Diaforesis
L. Diagnosa Keperawatan
a. Ketidakstabilan Kadar glukosa darah
b. Defisit Nutrisi
c. Perfusi perifer tidak efektif
d. Nyeri akut
M. Intervensi Keperawatan
Terapeutik:
1. Berikan asupan cairan
oral
2. Konsultasi dengan medis
jika tanda dan gejala
hiperglikemia tetap ada
atau memburuk
Edukasi:
1. Anjurkan menghindari
olahraga saat kadar
glukosa darah lebih dari
250 mg/dL
2. Anjurkan kepatuhan
terhadap diet dan olahraga
3. Ajarkan pengelolaan
diabetes (mis,
penggunaan insulin, obat
oral)
4. Identifikasi tanda dan
gejala hipoglikemia
5. Identifikasi kemungkinan
penyebab hipoglikemia
Manajemen Hipoglikemia
(I.03115)
Observasi :
Terapeutik:
1. Berikan karbohidrat
sederhana, jika perlu
2. Berikan karbohidrat
kompleks dan protein
sesuai diet
3. Hubungi layanan medis
darurat, jika perlu
Edukasi:
1. Anjurkan memnawa
karbohidrat sederhana
setiap hari
2. Jelaskan interasi anatara
diet, insulin oral, dan
olahraga
3. Ajarkan perawatan
mandiri untuk mencegah
hipoglikemia (mis.
Mengurangi insulin/agen
oral dan atau
meningkatkan asupan
makanan untuk
berolahraga).
2. SDKI SLKI SIKI
Defisit Nutrisi Setelah dilakukan tindakan Manajemen nutrisi
(D.0019) keperawatan selama x 24 (I. 03119)
jam deficit nutrisi dapat Observasi :
teratasi dengan kriteria 1. Identifikasi status nutrisi
hasil: 2. Identifikasi alergi dan
1.Porsi makanan yang intoteransi makanan
dihabiskan menurun 3. Indentifikasi makanan
2.Kekuatan otot pengunyah disukai
menurun 4. Identifikasi kebutuhan
3.Kekuatan otot menelan kalori dan jenis nutrision
menurun 5. Identifikasi perlunya
4.Nafsu makan memburuk penggunaan selang
nasogastrik
6. Monitor asupan makanan
7. Monitor berat badan
8. Monitor hasil pemeriksaan
laboraturium
Terapeutik :
1. Lakukan oral hygine
sebelum makan, jika perlu
2. Sajikan makanan secara
menarik dan suhu yang
sesuai
3. Fasilitasi menentukan
pedoman diet
4. Berikan makanan tinggi
serat untuk mencegah
konstipasi
5. Berikan makanan tinggi
kalori dan tinggi protein
6. Berikan suplemen
makanan, jika perlu
7. Hentikan pemberian
makan melalui selang
nasogratik jika asupan oral
dapat di toleransi
Edukasi :
1. Anjurkan posisi duduk,
jika perlu
2. Ajarkan diet yang di
programkan
Edukasi :
1. Jelaskan penyebab/faktor
resiko syok
2. Jelaskan tanda dan gejala
awal syok
3. Anjurkan melapor jika
menemukan/merasakan
tanda dan gejala awal
syok
4. Anjurkan memperbanyak
asupan cairan oral
5. Anjurkan menghondari
alergi
4. SDKI SLKI SIKI
Nyeri akut Setelah dilakukan Tindakan Manajemen nyeri (I.08238)
(D.007) keperawatan selama x24 Observasi :
jam masalah Nyeri akut 1. Identifikasi lokasi,
dapat teratasi dengan karakteristik, durasi,
kriteria hasil : frekuensi, kualitas
1. Keluhan nyeri intensitas nyeri
meningkat 2. Identifikasi skla nyeri
2. Meringis meningkat 3. Identifikasi respon nyeri
3. Sikap protektif non verbal
meningkat 4. Identifikasi faktor yang
4. Gelisah meningkat memperberat dan
5. Kesulitan tidur memperingan nyeri
meningkat 5. Identifikasi pengetahuan
dan keyakinan tentang
nyeri
6. Identifikasi pengaruh
budaya terhadap respon
nyeri identifikasi nyeri
pada kualitas hidup
7. Monitor keberhasilan
terapi komplemeter yang
sudag diberikan
8. Monitor efek samping
penggunaan analgetik
Terapeutik :
1. Berikan tehknik non
farmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri
(mis. Hipnosis, akupresur,
terapi musik, biofeedback
terapi pijat,
aromaterapi,tehknik
imajinasi terbimbing,
kompres hangat atau
dingin)
2. Kontrol lingkunngan yang
memperberat rasa
nyeri(mis. Suhu ruangan,
pencahayaan, kebisingan)
3. Fasilitas istirahat dan tidur
Edukasi :
1. Jelaskan penyebab,
periode dan pemicu nyeri
2. Jelaskan strategi
meredakan nyeri
3. Anjurkan memonitor nyeri
secara mandiri
4. Anjurkan menggunakan
analgetik secara tepat
5. Ajarkan tekhnik non
farmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri
N. DAFTAR PUSTAKA
PPNI. (2017) Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator
Diagnostik. Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2018) Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan
Tindakan
Keperawatan. Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2019) Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria
Hasil Keperawatan. Jakarta: DPP PPNI.
Bradley J.S., B. . (2011) ‘The Management of Community-Acquired Pneumonia
in Infants and Children Older than 3 Months of Age’, Clinical Practice
Guidelines by the Pediatric Infections Diseases Society and the
Infections Disease Society of America.