LP DM ICU DOVIA Fix..
LP DM ICU DOVIA Fix..
DI SUSUN OLEH :
Nim : PO7120222013
Tingkat : 2A
( ) ( )
Pembimbing Akademik
A. PENGERTIAN
Diabetes berasal dari bahasa Yunani yang berarti “mengalirkan atau
mengalihkan” (siphon). Mellitus berasal dari bahasa latin yang bermakna manis atau
madu. Penyakit diabetes melitus dapat diartikan individu yang mengalirkan volume
urine yang banyak dengan kadar glukosa tinggi. Diabetes melitus adalah penyakit
hiperglikemia yang ditandai dengan ketidakadaan absolute insulin atau penurunan
relative insensitivitas sel terhadap insulin.
Diabetes mellitus(DM) merupakan suatu gejala klinis yang ditandai dengan
peningkatan kadar glukosa darah plasma(hiperglikemia). Diabetes Melitus merupakan
suatu penyakit dimana kadar glukosa di dalam darah tinggi karena tubuh tidak dapat
menghasilkan atau menggunakan insulin secara efektif. Insulin adalah hormon yang
dilepaskan oleh pancreas, yang bertanggungjawab dalam mempertahankan kadar gula
darah yang normal. Insulin memasukkan gula kedalam sel sehingga bisa
menghasilkan energy atau disimpan sebagai cadangan energi. Nilai normal gula darah
sewaktu(GDS)<200mg, gula darah puasa(GDP)<126mg.
B. ETIOLOGI
1. Diabetes Melitus tergantung insulin (DMTI)
a. Faktor genetic
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri tetapi mewarisi suatu
presdisposisi atau kecenderungan genetic kearah terjadinya diabetes tipe I.
Kecenderungan genetic ini ditentukan pada individu yang memililiki tipe antigen
HLA (Human Leucocyte Antigen) tertentu. HLA merupakan kumpulan gen yang
bertanggung jawab atas antigen tranplantasi dan proses imun lainnya.
b. Faktor imunologi
Pada diabetes tipe I terdapat bukti adanya suatu respon autoimun. Ini merupakan
respon abnormal dimana antibody terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara
bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai
jaringan asing.
c. Faktor lingkungan
Faktor eksternal yang dapat memicu destruksi sel β pancreas, sebagai contoh hasil
penyelidikan menyatakan bahwa virus atau toksin tertentu dapat memicu proses
autoimun yang dapat menimbulkan destuksi sel β pancreas.
Faktor risiko yang berhubungan dengan proses terjadinya DM tipe II, diantaranya
adalah:
a) Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 tahun)
b) Obesitas
c) Riwayat keluarga
d) Kelompok etnik
C. MANIFESTASI KLINIS
1. Diabetes Tipe I
a. Hiperglikemia berpuasa
b. Glukosuria, diuresis osmotik, poliuria, polidipsia, polifagia
c. Keletihan dan kelemahan
d. Ketoasidosis diabetik (mual, nyeri abdomen, muntah, hiperventilasi, nafas bau
buah, ada perubahan tingkat kesadaran, koma, kematian)
2. Diabetes Tipe II
a. Lambat (selama tahunan), intoleransi glukosa progresif
b. Gejala seringkali ringan mencakup keletihan, mudah tersinggung, poliuria,
polidipsia, luka pada kulit yang sembuhnya lama, infeksi vaginal, penglihatan
kabur
c. Komplikasi jangka panjang (retinopati, neuropati, penyakit vaskular perifer)
D. ANATOMI FISIOLOGI
1) Pankreas
Pancreas adalah kelenjar majemuk bertandan, struktrurnya sangat mirip
dengan kelenjar ludah. Panjangnya kira-kira 15 cm, mulai dari duodenum sampai
limpa dan terdiri dari 3 bagian. kepala pankreas yang paling lebar, terletak disebelah
kanan ronggaabdomen, didalam lekukan duodenum, dan yang praktismelingkarinya.
Badan pankreas merupakan bagian utama padaorgan itu, letaknya dibelakang
lambung dan didepan vertebratalumbalis pertama. ekor pankreas adalah bagian yang
runcingdisebelah kiri, yang sebenarnya menyentuh limpa ( Pearce, 2016).
Pankreas manusia secara anatomi letaknya menempel padaduodenum.
Pankreas berwarna putih keabuan hingga kemerahan. Organ inimerupakan kelenjar
majemuk yang terdiri atas jaringan eksokrindan jaringan endokrin. Jaringan eksokrin
menghasilkan enzim-enzim pankreas seperti amylase, peptidase dan lipase,
sedangkanjaringan endokrin menghasilkan hormon-hormon seperti insulin,glukagon
dan somatostatin (Dolensek, Rupnik & Stozer, 2018).
Fungsi pankreas ada 2 yaitu :
a) Fungsi eksokrin yaitu membentuk getah pankreas yang berisienzim dan elektrolit.
b) Fungsi endokrin yaitu sekolompok kecil yang bersama-sama membentuk organ
endokrin mesekresikaninsulin.
E. PATOFISIOLOGI
Diabetes tipe I.
Pada diabetes tipe satu terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin
karena sel-sel beta pankreas telah dihancurkan oleh proses autoimun. Hiperglikemi
puasa terjadi akibat produkasi glukosa yang tidak terukur oleh hati. Di samping itu
glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun tetap
berada dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia posprandial (sesudah makan).
Jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi maka ginjal tidak dapat menyerap
kembali semua glukosa yang tersaring keluar, akibatnya glukosa tersebut muncul
dalam urin (glukosuria).
Ketika glukosa yang berlebihan di ekskresikan ke dalam urin, ekskresi ini
akan disertai pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan. Keadaan ini
dinamakan diuresis. Sebagai akibat dari kehilangan cairan berlebihan, pasien akan
mengalami peningkatan dalam berkemih dan rasa haus. Defisiensi insulin juga akan
menggangu protein dan lemak yang menyebabkan penurunan berat badan. Pasien
dapat mengalami peningkatan selera makan (polifagia), akibat menurunnya simpanan
kalori. Gejala lainnya mencakup kelelahan dan kelemahan. Dalam keadaan normal
insulin mengendalikan glikogenolisis (pemecahan glukosa yang disimpan) dan
pembentukan glukosa baru dari dari asam-asam amino dan substansi lain, namun pada
penderita defisiensi insulin, proses ini akan terjadi tanpa hambatan dan lebih lanjut
akan turut menimbulkan hiperglikemia.
Disamping itu akan terjadi pemecahan lemak yang mengakibatkan
peningkatan produksi badan keton yang merupakan produk samping pemecahan
lemak. Badan keton merupakan asam yang menggangu keseimbangan asam basa
tubuh apabila jumlahnya berlebihan. Ketoasidosis yang diakibatkannya dapat
menyebabkan tanda-tanda dan gejala seperti nyeri abdomen, mual, muntah,
hiperventilasi, nafas berbau aseton dan bila tidak ditangani akan menimbulkan
perubahan kesadaran, koma bahkan kematian. Pemberian insulin cairan dan elektrolit
sesuai kebutuhan akan memperbaiki dengan cepat kelainan tersebut dan mengatasi
gejala hiperglikemi serta ketoasidosis. Diet disertai pemantauan kadar gula darah
yang sering merupakan komponen terapi yang penting.
Kegagalanproduksi Ketidakmampuanmenyer
apkadarglukosadarah
Polyuria/sering BAK
Ketidakstabilan kadar glukosa darah
Gangguanpolatidur
Osmolaritas Peningkatan gula darahkronik
meningkat
Small vessel
Polyuria,polidipsi, arterosklerosis Gangguanfungsiimun
disease
polifagia
hipertensi
Berkurangsensasiat infeksi
BB turun aumati rasa
Suplaidarah
Kerusakanin
turun
tegritaskulit
Gangguanperfusij
aringan
Rasa khawatir
berlebih
G. PENATALAKSANAAN
Tujuan utama terapi DM adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan
kadar glukosa darah dalam upaya mengurangi terjadinya komplikasi vaskuler serta
neuropatik. Tujuan terapeutik pada setiap tipe DM adalah mencapai kadar glukosa
darah normal tanpa terjadi hipoglikemia dan gangguan serius pada pola aktivitas
pasien. Ada lima komponen dalam penatalaksanaan DM, yaitu :
a. Diet
Syarat diet DM hendaknya dapat :
1) Memperbaiki kesehatan umum penderita
2) Mengarahkan pada berat badan normal
3) Menekan dan menunda timbulnya penyakit angiopati diabetic
4) Memberikan modifikasi diit sesuai dengan keadaan penderita
5) Menarik dan mudah diberikan Prinsip diet DM, adalah :
Jumlah sesuai kebutuhan
Jadwal diet ketat
Jenis : boleh dimakan / tidak
Dalam melaksanakan diit diabetes sehari-hari hendaklah diikuti pedoman 3 J
yaitu:
1) Jumlah kalori yang diberikan harus habis, jangan dikurangi atau
ditambah
2) Jadwal diit harus sesuai dengan intervalnya
3) Jenis makanan yang manis harus dihindari
Penentuan jumlah kalori Diit Diabetes Mellitus harus disesuaikan oleh status
gizi penderita, penentuan gizi dilaksanakan dengan menghitung Percentage of
Relative Body Weight (BBR = berat badan normal) dengan rumus :
b. Latihan
Beberapa kegunaan latihan teratur setiap hari bagi penderita DM, adalah :
1) Meningkatkan kepekaan insulin, apabila dikerjakan setiap 1 1/2 jam sesudah
makan, berarti pula mengurangi insulin resisten pada penderita dengan
kegemukan atau menambah jumlah reseptor insulin dan meningkatkan
sensivitas insulin dengan reseptornya
2) Mencegah kegemukan bila ditambah latihan pagi dan sore
3) Memperbaiki aliran perifer dan menambah suplai oksigen
4) Meningkatkan kadar kolesterol – high density lipoprotein
5) Kadar glukosa otot dan hati menjadi berkurang, maka latihan akan
dirangsang pembentukan glikogen baru.
6) Menurunkan kolesterol (total) dan trigliserida dalam darah karena
pembakaran asam lemak menjadi lebih baik.
c. Penyuluhan
Penyuluhan merupakan salah satu bentuk penyuluhan kesehatan kepada
penderita DM, melalui bermacam-macam cara atau media misalnya: leaflet,
poster, TV, kaset video, diskusi kelompok, dan sebagainya.
d. Obat
1) Tablet OAD (Oral Antidiabetes)/ Obat Hipoglikemik Oral (OHO)
a) Mekanisme kerja sulfanilurea
Obat ini bekerja dengan cara menstimulasi pelepasan insulin yang
tersimpan, menurunkan ambang sekresi insulin dam meningkatkan
sekresi insulin sebagai akibat rangsangan glukosa. Obat golongan ini
biasanya diberikan pada penderita dengan berat badan normal dan
masih bisa dipakai pada pasien yang berat badannya sedikit lebih.
b) Mekanisme kerja Biguanida
Biguanida tidak mempunyai efek pankreatik, tetapi mempunyai efek
lain yang dapat meningkatkan efektivitas insulin, yaitu :
Biguanida pada tingkat prereseptor → ekstra pankreatik
- Menghambat absorpsi karbohidrat
- Menghambat glukoneogenesis di hati
- Meningkatkan afinitas pada reseptor insulin
- Biguanida pada tingkat reseptor : meningkatkan jumlah
reseptor insulin
- Biguanida pada tingkat pascareseptor: mempunyai efek
intraselluler
2) Insulin
Indikasi penggunaan insulin
a) DM tipe I
b) DM tipe II yang pada saat tertentu tidak dapat dirawat dengan OAD
c) DM kehamilan
d) DM dan gangguan faal hati yang berat
e) DM dan gangguan infeksi akut (selulitis, gangren)
f) DM dan TBC paru akut
g) DM dan koma lain pada DM
h) DM operasi
i) DM patah tulang
j) DM dan underweight
k) DM dan penyakit Graves Beberapa cara pemberian insulina)
Suntikan insulin subkutan
Insulin regular mencapai puncak kerjanya pada 1 – 4 jam, sesudah
suntikan subcutan, kecepatan absorpsi di tempat suntikan tergantung
pada beberapa faktor
e. Cangkok pancreas
Pendekatan terbaru untuk cangkok adalah segmental dari donor hidup saudara
kembar identic.
H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Jenis-jenis pemeriksaan laboratorium untuk Diabetes Melitus adalah sebagai berikut :
1. Gula darah puasa
Pada pemeriksaan ini pasien harus berpuasa 8-10 jam sebelum pemeriksaan
dilakukan. Spesimen darah yang digunakan dapat berupa serum atau plasma vena atau
juga darah kapiler. Pemeriksaan gula darah puasa dapat digunakan untuk pemeriksaan
penyaringan, memastikan diagnostic atau memantau pengendalian DM. Nilai normal
70-110 mg/dl.
2. Guladarahsewaktu
Pemeriksaan ini hanya dapat dilakukan pada pasien tanpa perlu diperhatikan waktu
terakhir pasien. Spesimen darah dapat berupa serum atau plasma yang berasal dari
darah vena. Pemeriksaan gula darah sewaktu plasma vena dapat digunakan untuk
pemeriksaan penyaringan dan memastikan diagnosa Diabetes Melitus. Nilai normal
<200 mg/dl.
I. KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat terjadi bila penderita DM tidak dirawat dengan baik sehingga
gula darah selalu tinggi adalah:
1. Ginjal : Gagal Ginjal, Infeksi
2. Jantung : Hipertensi, Gagal Jantung
3. Mata : Glaukoma, Katarak, Retinopati
4. Syaraf : Neuropati, mati rasa
5. Kulit : Luka lama, gangren
6. Hipoglikemi
7. Ketoasidosis
J. PENGKAJIAN
a. Identitas
Identitas beberapa data didapatkan adalah nama klien, umur, pekerjaan,
pendidikan, agama, suku, alamat. Dalam identitas data/ petunjuk yang dapat kita
prediksikan adalah Umur, karena seseorang memiliki resiko tinggi untuk terkena
diabetes mellitus pada umur diatas 40 tahun.
b. Keluhan Utama
Pasien diabetes mellitus datingke rumah sakit dengan keluhan utama yang
berbeda-beda. Pada umumnya seseorang datang kerumah sakit dengan gejala
khas berupa polifagia, poliuria, polidipsia, lemas, dan berat badan turun.
c. RiwayatKesehatan
1) Riwayat Penyakit Dahulu
Pada pengkajian riwayat penyakit dahulu akan didapatkan informasi
apakah terdapat factor-faktor resiko terjadinya diabetes mellitus misalnya
riwayat obesitas, hipertensi, atau juga atherosclerosis
2) Riwayat Penyakit Sekarang
Pengkajian pada RPS berupa proses terjadinya gejala khas dari DM,
penyebab terjadinya DM sertaupaya yang telah dilakukan oleh penderita
untuk mengatasinya.
3) Riwayat Kesehatan Keluarga
Kaji adanya riwayat keluarga yang terkena diabetes mellitus, hal ini
berhubungan dengan proses genetic dimana orang tua dengan diabetes
mellitus berpeluang untuk menurunkan penyakit tersebut kepada anaknya.
d. Pola Aktivitas
1) Pola Nutrisi
Akibat produksi insulin tidak adekuat atau adanya defisiensi insulin maka
kadar gula darah tidak dapat dipertahankan sehingga menimbulkan
keluhan sering kencing, banyak makan, banyak minum, berat badan
menurun dan mudah lelah. Keadaan tersebut dapat mengakibatkan
terjadinya gangguan nutrisi dan metabolisme yang dapat mempengaruhi
status kesehatan penderita.
2) Pola Eliminasi
Adanya hiperglikemia menyebabkan terjadinya diuresis osmotik yang
menyebabkan pasien sering kencing (poliuri) dan pengeluaran glukosa
pada urine ( glukosuria ). Pada eliminasi alvirelatif tidak ada gangguan.
3) Pola Istirahat dan Tidur
Adanya poliuri, dan situasi rumah yang ramai akan mempengaruhi waktu
tidur dan istirahat penderita, sehingga pola tidur dan waktu tidur penderita
4) Pola Aktivitas
Adanya kelemahan otot – otot pada ekstermitas menyebabkan penderita
tidak mampu melaksanakan aktivitas sehari-hari secara maksimal,
penderita mudah mengalami kelelahan.
5) Pola persepsi dan konsepdiri
Adanya perubahan fungsi dan struktur tubuh akan menyebabkan penderita
mengalami gangguan pada gambaran diri. Lamanya perawatan, banyaknya
biaya perawatan dan pengobatan menyebabkan pasien mengalami
kecemasan dan gangguanperan pada keluarga (selfesteem).
6) Pola sensori dan kognitif
Pasien dengan diabetes mellitus cenderung mengalami neuropati / mati
rasa pada kaki sehingga tidak peka terhadap adanya trauma.
7) Pola seksual dan reproduksi
Angiopatidapat terjadi pada sistem pembuluh darah di organ reproduksi
sehingga menyebabkan gangguan potensisek, gangguan kualitas maupun
ereksi, serta memberi dampak pada proses ejakulasi serta orgasme.
8) Pola mekanisme stres dan koping
Lamanya waktu perawatan, perjalanan penyakit yang kronik, perasaan
tidak berdaya karena ketergantungan menyebabkan reaksi psikologis yang
negative berupa marah, kecemasan, mudah tersinggung dan lain – lain,
dapat menyebabkan penderita tidak mampu menggunakan mekanisme
koping yang konstruktif / adaptif.
e. Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan Umum
Meliputi keadaan penderita, kesadaran, suara bicara, tinggi badan, berat
badan dan tanda – tanda vital.
2) Head to Toe
a) Kepala Leher
Kaji bentuk kepala, keadaan rambut, adakah pembesaran pada leher,
telinga kadang-kadang berdenging, adakah gangguan pendengaran,
lidah terasa tebal, ludah menjadi lebih kental, gigi mudah goyah, gusi
mudah bengkak dan berdarah, apakah penglihatan kabur / ganda,
diplopia, lensa mata keruh.
b) Sistem integument
Kaji Turgor kulit menurun pada pasien yang sedang mengalami
dehidrasi, kaji pula adanya luka atau warna kehitaman bekas luka,
kelembaban dan suhu kulit di daerah sekitar ulkus dan gangren,
kemerahan pada kulit sekitar luka, tekstur rambut dan kuku.
c) Sistem pernafasan
Adakah sesak nafas menandakan pasien mengalami diabetes
ketoasidosis, kaji juga adanya batuk, sputum, nyeri dada. Pada
penderita DM mudah terjadi infeksi.
d) Sistem kardiovaskuler
Perfusi jaringan menurun, nadi perifer lemah atau berkurang,
takikardi/bradikardi, hipertensi/hipotensi, aritmia, kardiomegalis. Hal
ini berhubungan erat dengan adanya komplikasi kronis pada
makrovaskuler
e) Sistem urinary
Poliuri, retensio urine, inkontinensia urine, rasa panas atau sakit saat
berkemih. Kelebihan glukosa akan dibuang dalam bentuk urine.
f) Sistem musculoskeletal
Adanya katabolisme lemak, Penyebaran lemak dan, penyebaran masa
otot,berubah. Pasien juga cepat lelah, lemah.
g) Sistem neurologis
Berhubungan dengan komplikasi kronis yaitu pada system neurologi
spasien sering mengalami penurunan sensoris, parasthesia, anastesia,
letargi, mengantuk, reflek lambat, kacau mental, disorientasi.
f. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan adalah :
1) Pemeriksaan darah
Pemeriksaan darah meliputi : GDS > 200 mg/dl, gula darah puasa>120
mg/dl dan dua jam post prandial > 200 mg/dl.
2) Urine
Pemeriksaan didapatkan adanya glukosa dalam urine.
Pemeriksaandilakukandengancara Benedict ( reduksi ). Hasil dapat dilihat
melalui perubahan warna pada urine : hijau ( + ), kuning ( ++ ), merah ( ++
+ ), dan merah bata ( ++++ ).
3) Kultur pus
Mengetahui jenis kuman pada luka dan memberikan antibiotik yang sesuai
dengan jenis kuman.
K. DIAGNOSIS KEPERAWATAN
1) Ketidakstabilan kadar glukosa darah b.d Disfungsi pankreas
A. ANALIS DATA
Nama Klien Umur No. RM Ruangan
Tn. S 69 Tahun 05 82 79 ICU
DO :
Meningkatkan gula
a. klien datang dengan penurunan darah
kesadaran
b. Kesadaran Somnolen
c. Terpasang Intubasi Ketidak stabilan kadar
glukosa darah
d. TTV Pasien : TD :140/80 Mmhg
N :100 x/m
RR :19 x/m
T : 37,°C
SPO2: 97%
BSS : 453
B. PATHWAY YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENYAKIT PASIEN
Polyuria/sering BAK
Ketidakstabilan kadar glukosa darah
Gangguan polatidur
Osmolaritas Peningkatan gula darahkronik
meningkat
Small vessel
Polyuria,polidipsi, arterosklerosis Gangguan fungsi
disease
polifagia imun
hipertensi
Berkurangsensasiat infeksi
BB turun aumati rasa
Suplaidarah
Kerusakan
turun
integritas
kulit
Gangguan perfusi
jaringan
Rasa khawatir
berlebih
C. Diagnosa keperawatan
NO Diagnosa Keperawatan
1. Ketidak stabilan glukosa darah b/d Disfungsi pankreas (D.0027)
D. Perencanaan
Nama Klien Umur No. RM Ruangan
Tn. S 69 Tahun 05 82 79 ICU
Kolaborasi
1. Kolaborasi
pemberian insulin
2.Kolaborasi
pemberian cairan
IV
E. Catatan keperawatan (implementasi)
Nama Klien Umur No. RM Ruangan
Tn. S 69 Tahun 05 82 79 ICU
5. Konsultasi dengan
medis jika tanda
dangejala
hiperglikemia tetap
ada atau memburuk
6. Kolaborasi pemberian
insulin scale 3
7. Kolaborasi pemberian
cairan IV RL 500 cc
dalam 5 jam
O:
a. GCS : E1 V2 M3 (Stupor)
b. TTV : TD :151/80 Mmhg
N : 100X/m
RR :20x/m
T : 36,7°C
Spo2 : 99%
A:
Ketidakstabilan glukosa darah b/d
Disfungsi pankreas
P:
Masalah belum tertasi Intervensi
dilanjutkan
- Observasi BSS setiap 2 jam
- Observasi tanda tanda vital
- Kolaborasi dalam pemberian terapi
insulin dan cairan RL melalui intravena
G. Catatan keperawatan (implementasi)
Nama Klien Umur No. RM Ruangan
Tn. S 69 Tahun 05 82 79 ICU
5. Konsultasi dengan
medis jika tanda
dangejala
hiperglikemia tetap
ada atau memburuk
6. Kolaborasi pemberian
insulin scale 3
7. Kolaborasi pemberian
cairan IV RL 500 cc
dalam 5 jam
H. Catatan perkembangan (evaluasi)
Nama Klien Umur No. RM Ruangan
Tn. S 69 Tahun 05 82 79 ICU
O:
c. GCS : E1 V1 M1 (Coma)
d. TTV : TD :130/83Mmhg
N : 73 x/menit
RR :18x/menit
T : 37,8°C
Spo2 : 95%
A:
Ketidakstabilan glukosa darah b/d
Disfungsi pankreas
P:
Masalah belum tertasi Intervensi
dilanjutkan
- Observasi BSS setiap 2 jam
- Observasi tanda tanda vital
- Kolaborasi dalam pemberian terapi
insulin dan cairan RL melalui intravena
I. Catatan keperawatan (implementasi)
Nama Klien Umur No. RM Ruangan
Tn. S 69 Tahun 05 82 79 ICU
5. Konsultasi dengan
medis jika tanda
dangejala
hiperglikemi ada atau
memburuk
6. Kolaborasi pemberian
insulin scale 3
7. Kolaborasi pemberian
cairan IV RL 500 cc
dalam 5 jam
J. Catatan perkembangan (evaluasi)
Nama Klien Umur No. RM Ruangan
Tn. S 69 Tahun 05 82 79 ICU
O:
e. GCS : E1 V1 M1 (Coma)
f. TTV : TD :120/70Mmhg
N : 70x/menit
RR :16x/menit
T : 37,0°C
Spo2 : 86%
A:
Ketidakstabilan glukosa darah b/d
Disfungsi pankreas
P:
Masalah belum tertasi Intervensi
dihentikan pasien meninggal dunia
DAFTAR PUSTAKA
Corwin, EJ. 2009. Buku Saku Patofisiologi, 3 Edisi Revisi. Jakarta: EGC. Diakses jumat
26 april 2024
Mansjoer, A dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1 edisi 3. Jakarta: Media
Aesculapius. Diakses jumat 26 april 2024
Tim Pokja SDKI DPP PPNI, (2016), Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI),
Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia. Diakses jumat 26 april 2024
Tim Pokja SLKI DPP PPNI, (2018), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI),
Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia. Diakses jumat 26 april 2024
Tim Pokja SIKI DPP PPNI, (2018), Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI),
Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia. Diakses jumat 26 april 2024