0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
639 tayangan19 halaman

Drama Anak Durhaka: Kisah Intan dan Ibu

Kisah ini menceritakan tentang seorang anak perempuan bernama Bella yang sangat durhaka kepada ibunya. Ibunya hanya seorang pedagang gorengan keliling untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka, namun Bella selalu mengeluh dan malu memiliki ibu sederhana seperti itu. Dia bahkan pernah mengelak kenal dengan ibunya di hadapan teman-temannya.

Diunggah oleh

deni setia
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
639 tayangan19 halaman

Drama Anak Durhaka: Kisah Intan dan Ibu

Kisah ini menceritakan tentang seorang anak perempuan bernama Bella yang sangat durhaka kepada ibunya. Ibunya hanya seorang pedagang gorengan keliling untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka, namun Bella selalu mengeluh dan malu memiliki ibu sederhana seperti itu. Dia bahkan pernah mengelak kenal dengan ibunya di hadapan teman-temannya.

Diunggah oleh

deni setia
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Naskah Drama “ANAK DURHAKA”

TOKOH DAN PERAN :


  Nurhatikah Sebagai Ibu Minah (Ibunya Intan dan Risa)
  Nela Dwi Maulia Sebagai Intan (Anak Durhaka)
  NurKurniati Sebagai Risa (Adiknya Intan)
  Ayuni Safitri Sebagai Dian (Temannya Intan)
  Nurhafiza Sebagai Sinta (Temannya Intan)
  Diemas Afif Sebagai Andre (Temannya Intan dan penjual pil koplo)
  Mohd. Arifuddin Sebagai Riky (Temannya Intan dan penjual pil koplo)
  M. Rifkianto Rosidi Sebagai Ustad
  Erlangga Eka Putra Sebagai Pak Polisi
ANAK DURHAKA
Di sebuah gubuk yang kecil dan kumuh, tinggallah seorang janda dan dua
anaknya. Mereka hidup bertiga di gubuk tersebut. Tetapi, ada salah seorang
anaknya yang sangat durhaka kepada ibunya. Sungguh malang hidup keluarga ini.
(Ibu Minah baru pulang dari jualan jamu)

 
Intan : “Buk! Mana hasil jualan hari ini ha? “
Ibu : “ Untuk apa kamu nak?” (Sambil mengeluarkan uang)
Intan : “ Sini uangnya!! (Merampas uang ibu)Aku laper, bosen sama makanan yang
dirumah itu-itu mulu”
Ibu : “ Lo kok diambil semua nak? Trus Ibu mau makan apa? Hanya itu uang yang
ibu punya nak”
Intan : “ Aahh!! Bodo amat(sambil menolak ibu), itu sih urusan lo. Dasar orang tua!”
(Risa sang adik pun datang menolong ibunya )
Risa : “Bu, Ibu kenapa? Apa yang terjadi pada ibu?”(mengangkat ibunya)
Ibu : “Ibu tidak apa-apa nak”
Risa : “ Ini pasti ulah kakak kan bu?”
Ibu : “ Tidak nak, ibu tadi jatuh sendiri”
Risa : “Yaudah kalau ibu tidak apa-apa, sini biar Risa antarkan ibu ke kamar untuk
istirahat”
Ibu : “Trima kasih nak”
Sementara di tempat nongkrong, di suatu rumah makan.
Dian :” Eh ntan, dari mana aja lo? Lama nih kita nunggunya”
Sinta : “ Tau tuh, lo dari mana aja sih? Habis kondangan ya? Muka lo girang amat”
Intan :” Haha maapin yak, tadi gue nungguin nyokap gue guys. Yaudah yuk kita pergi”
Mereka pun pergi ke tempat dugem, disana sudah menunggu 2 orang pemuda.
Andre : “ Dari mana aja kalian guys?’’
Riky : “ Iya nih, kita udah lama nungguin kalian”
Dian : “ Iyadeh, kita minta maaf”’
Intan : “Iya , eh mana barangnya? Ada kan?”
Andre : “ Tenang aja, ada dong’’
Sinta : “ Kalau ada mana barangnya?”
Riky : “ Ntar dulu dong, bak kata pepatah ada uang ada barang, hahaha mana
uangnya?”
Intan : “Yaudah nih( sambil mengasih uang pada mereka)”
Andre : “ Nih barangnya (Mengasih pil koplo pada mereka)” (Musik DJ)
Mereka pun berdugem dan berfoya-foya serta memakan obat-obatan
terlarang hingga larut malam. Sementara di rumah sang ibu terlihat khawatir akan
keberadaan anaknya yang belum juga pulang.
Ibu : ” Mana kakak mu Ris? Kok udah jam segini nggak pulang-pulang?”
Risa : “ Risa tidak tau bu, dari tadi Risa tidak melihat kakak. Tadi kakak juga tidak
mengaji bu”
Ibu : “ Kemana perginya ya kakakmu itu.(Dengan muka khawatir)’’
(Akhirnya Intan pun pulang ke rumah)
Ibu :” Dari mana saja kamu ntan? Kok jam segini kamu baru pulang?”
Intan :” Ahh!!!Berisik!(sambil menutup telinga) Jangan ikut campur lo orangtua! Ini
urusan gue!
Ibu : “ Kata adikmu tadi kamu tidak mengaji. Kenapa nak? Kamu kan udah besar,
jadi berikanlah contoh yang baik kepada adikmu nak dan cobalah buat ibumu bangga.
Mulai besok, kamu harus pergi mengaji dengan adikmu!”
Intan : “Terserah lo deh orangtua.”
Keesokan harinya, siap maghrib Intan dan adiknya Risa pun pergi menuju ke
rumah Ustad untuk mengaji. Tetapi ditengah jalan.....
Intan : “Eh dek, aku pergi dulu ya mau kerja kelompok. Lo jangan bilang-bilang Ibu
kalau aku nggak ngaji. Awas lo!(mengancam sang adik)
Risa : “ Tapi kak.......”
(Intan pun pergi meninggalkan sang adik)
Sementara tiba di rumah Ustad...
Ustad : “ Lo Ris, mana kakak mu? Dia tidak mengaji?’’
Risa : “ Nggak Ustad, katanya dia mau pergi kerja kelompok”
Ustad : “ Yaudah kalau gitu, jangan lupa bilangin sama dia ya, besok jangan lupa
mengaji di rumah Ustad”
Risa :” Iyadeh Ustad, nanti Risa bilangin ke kak Intan untuk mengaji besok”
(Mereka pun mengaji)
Intan pun tidak mengaji, dan dia melakukan hal yang sama seperti kemaren.
Keesokan sorenya, ketika Ibu Minah berjualan jamu...
Pembeli 1(Dian): “ Eh jeng, kemaren aku ngeliat anak si penjual jamu ini pulang larut
malam loh. Coba deh bayangin, masa anak gadis pulang malem-malem. Jadi apa
coba?”
Pembeli 2(Sinta): “Masa sih jeng? Orangtuanya nggak ngajarin yah? Mungkin anak
itu perempuan liar kali ya yang suka ke diskotik gitu.”
Ibu : “(Ibu Minah hanya bisa terdiam mendengar apa yang dibicarakan si pembeli-
pembeli itu)”
Pada senja harinya, ketika setelah sholat maghrib....
Ibu :”Mau kemana lagi kamu Intan?! Ibu dengar dari tetangga-tetangga bahwa
kamu suka pulang larut malam seperti perempuan liar. Apa benar itu Intan? Jawab
jujur, apa benar ketika ibu suruh kamu mengaji kamu malah pergi jalan-jalan?”
Intan :” Kalau emang iya trus kenapa lo?!! Lo nggak suka? Suka-suka gue dong mau
ngapain’’
Risa :” Kak, jangan bentak-bentak ibu kak. Dosa kak ingat itu”
Intan :”Ahh!!! Masa bodo!”
Ibu :” Intan, dulu almarhum ayahmu berpesan supaya kamu jadi anak yang baik
nak. Kenapa kamu jadi seperti ini nak? Ayahmu sekarang pasti menangis disana jika
melihat kelakuanmu seperti ini(sambil menangis)”
Intan : “Ah! Kalian ini jangan sok-sok menasehati aku deh” (Pergi meninggalkan Ibu
dan Adiknya)
Intan pun pergi ke tempat dugem. Disana sudah ada teman-temannya yang
sedang menunggunya. Mereka pun dugem dengan memakan obat-obatan terlarang.
Tiba-tiba polisi datang......(Music Police)
Intan : “(mencoba kabur ketika teman-temannya berhasil kabur)”
PakPol: “ Mau kemana kamu?!(menangkap Intan)”
Intan : “ A a anu pak, jangan tangkap saya pak. Saya tidak bersalah, jangan bawa
saya pak”
PakPol: “ Nanti bisa kamu jelaskan di Kantor Polisi. Ikut saya!”
Tiba-tiba ibu pun datang bersama adiknya Risa menghampiri Intan.
Intan :” Ibuu, tolongin Intan bu, tolong. ”
Ibu : “ Ibu tidak bisa menolongmu nak, ini adalah kesalahanmu”
Intan : “Maafin kesalahan Intan sama Ibu bu, maaf(sambil nangis)”
Ibu : “ Ibu sudah memaafkanmu nak, semua perlakuanmu pada ibu udah ibu
maafkan nak. . Semoga kamu bisa berubah nak(sambil menangis)”

Akhirnya, Intan pun masuk penjara. Intan pun menyesali semua perbuatan
yang selama ini yang dilakukannya. Dan Intan pun bertobat.
Kesimpulan:
Hormatilah orang tuamu,sayangilah mereka,cintailah dan jangan pernah engkau
menyakitinya sedikitpun .
Karena sesungguhnya mereka lah yang bisa membuat kalian hidup dan ada di
dunia ini, tanpa jasa mereka kalian tidak berarti apa-apa di dunia ini.

Pemain 

1. Ibu
2. Bella
3. Sinta 
4. Angel
5. Kiki
6. Warga

 Tersebutlah sebuah kisah yang mengharukan sekali, seorang anak yang durhaka pada ibunya.
Dia membohongi teman-temannya dan mengaku bahwa dia adalah anak dari kalangan orang
yang terpandang dan tidak level dengan orang-orang miskin. Tapi kenyataannya adalah dia
seorang anak yang dilahirkan di kalangan orang miskin yang hidup sederhana, ibunya hanya
seorang pedagang gorengan keliling dan ayahnya meninggal saat ia masih dibangku SD, dia bisa
sekolah di SMA Faforit berkat kecerdasannya. Namun ia bukannya bersyukur tapi dia malah
menyombongkan diri bisa sekolah disana.
BELLA itulah namanya.
Adegan 1
Pagi itu Bella akan berangkat sekolah, Bella keluar dari kamarnya dan hendak sarapan pagi. Saat
melihat hidangan diatas meja makan, ia terkejut karena isinya hanya sepiring nasi dan tiga
potong kecil tempe goreng. Bella teriak kesal dan memanggil ibunya.

Bella : Ibu...!! Ibu...!! Apa-apaan ini. Ibu mau bunuh aku. masak setiap hari aku makan tempe.
Aku bosan bu...kalau gak tempe pasti tahu,, ituuuu terus. emangnya gak ada yang lain apa !
Ibu :  Bella, uang ibu tidak cukup untuk membeli daging atau sayur lain. Kita seharusnya
bersyukur nak,,, kita masih diberikan makan dan minum oleh Allah. walau hanya sederhana
seperti ini. jadi jangan sekali-kali mengeluh nak..
Bella : Allah ! Allah ! kenapa sih sedikit-dikit Allah, Kalau emang Allah tu sayang sama kita,
kita gak mungkin miskin seperti ini.
Ibu :  Astagfirullah... istigfar Bella, kamu tidak boleh bicara seperti itu. 
Bella : Bu.. emang gitu kenyataannya kan, hemm... aku minta uang (sambil mengulurkan
tangan). cepetan dong bu ntar aku telat sekolahnya, katanya mau liat kita pintar.
Ibu : ini nak, (memberikan Bella uang 5.000 rupiah)
Bella : 5.000 lagi !
Ibu : Hanya itu uang ibu nak,,
Bella : Makanya dong.. jangan hanya jual gorengan keliling saja, cari kek pekerjaan yang lain,
yang lebih menguntungkan dan menghasilkan banyak uang. Kapan  kita jadi orang kaya kalau
gini terus caranya.
Ibu : Astagfirullah... Bella. Ampunilah anak hamba ya Allah...

Adegan 2
Saat Bella sedang berkumpul bersama teman-temannya. Tiba-tiba ibunya Bella datang menjual
gorengan. Bella kaget, kenapa ibunya mesti jualan didepan sekolahnya. Saat ia ditanya oleh
teman-temannya, apakah Bella mengenal penjual gorengan itu atau tidak, Bella malah menjawab
tidak kenal.

Sinta : Bu...bu... beli gorengannya dong


Ibunya Bella duduk sambil meletakkan dagangannya di dekat Angel dan Sinta.
Angel : Wahh... kayaknya enak nih, Bell loe mau gak ??? enak banget tauu (sambil mencoba
gorengan dagangan ibunya Bella?)
Bella : Gak, gue tu gak level makan gituan, apalagi gorengan keliling kayak gitu, nanti bisa-bisa
gue keracunan lagi.
Sinta :ssstt,,, Bell loe gak boleh ngomong gitu, kasian tau ibunya. Maaf ya buk.. maklumlah
teman saya yang satuan ini emang gitu orangnya.
Ibu : Iyaa.. tidak apa-apa nak,
Angel : nih buk uangnya, jadinya 10.000 yaa berdua sama Sinta
Ibu : iya nak trima kasih, ya sudah ibu pergi dulu belajar yang rajin ya nak.
Angel : iya sama-sama bu,, hati-hati dijalan

#
Sinta : Bell, loe kenal ya sama ibu penjual gorengan yang tadi. kok loe kelihatannya takut banget
liat dia, 
Bella : Gak kok, kenal dari mana cobak. kenal dari HONGKONG !! Gue tu jijik aja tau lihatnya,
dekil kayak gitu masih aja kalian belanja sama tu orang.
Angel : Istigfar Bella, loe gak boleh ngomong kayak gitu. dia kan jualannya halal. yang penting
kan dia gak nyuri . pasti dia jualan gorengan keliling itu punya alasan tertentu, mungkin buat
biaya anaknya sekolah atau apa gitu
Bella : kok kalian jadi belain ibu itu sih !!
Angel : bukannya gitu Bell,,
Bella : udahlah.. kita pulang aja yuk
Sinta : ya sudah

Adegan 3
Setelah sampai dirumah, Bella teriak teriak memanggil ibunya. karena ibunya sedang menjahit
seragam sekolahnya KIKI, adiknya Bella. Ibu tidak mendengar suara Bella yang memanggilnya
di depan pintu rumah.

Bella : Ibu,,,Ibu,,, kemana sih tuh ibu. buu buuuk.. 


 kiki membuka pintu
Bella :Hehh !!! mana ibu,, mana ibu..
Kiki : Ibu didalam kak, kok kakak teriak-teriak begitu. ada apa ??? Ibu sedang menjahit didalam
Bella : alaahh.... sana masuk, dasar anak kecil, sok alim kamu, sama aja kayak ibu.
Bertemu ibunya.
Ibu : Bella... kamu sudah pulang,
Bella : Hehh bu !!! aku peringetin ya sama ibu. Jangansekali-kali jualan ke sekolah aku lagi. Aku
maluuu buk,, aku maluu. Nanti kalau teman-temanku tau aku hanya seorang anak penjual
GORENGAN KELILING mau ditaruh dimana muka aku buk.
Ibu : Astagfirullah... Bella jaga ucapanmu
Bella : udah deh buk aku capek dengar ibu istigfar terus. Awaasss ya kalau sampai ibu jualan lagi
di sekolah aku, aku Hancurin dagangan ibu
Kiki : kakak... jangan bentak ibu, ibu tu lagi sakit. kakak kok marah-marah sama ibu.
Bella : diem kamu anak kecil, jangan sok ikut campur.
Ibu : sudah.. sudah.. jangan bertengkar (sambil batuk)
Kiki : ibu gak kenapa-napa kan
Ibu : gak kok nak,, ibu gak kenpa-napa.
Bella : urus tuh ibu loe !!

Adegan 4
Pagi-pagi sekali Bella berangkat sekolah seperti biasanya. Kiki , adiknya tidak sekolah karena ia
merawat ibunya yang sedang sakit. Penyakit ibunya semakin parah, Kiki tidak tahu harus
bagaimana. Sehingga ketika pulang sekolah Bella melihat didepan rumahnya banyak sekali
orang. Bella kebingungan, satu demi satu warga berdatangan. Bella semakin bingung, ia tidak
tahu bahwa ibunya telah menghembuskan nafas terakhirnya.

Bella : ada apa yeaa... kok banyak orang dirumah.


dengan wajah yang cemas dan kebingungan, Bella masuk rumah dan ia melihat Kiki sedang
menangis histeris di depan mayat ibunya yang telah tertutupi oleh kain kafan.
Bella : gak mungkiin, ini semua gak mungkin.
Kiki : kakak,,,, ibu kak, ibuu meninggalkan kita(sambil memeluk kakaknya)
Bella : tidak !! ini semua gak mungkin, ini hanya mimpi. ibu gak mungkin meninggal.
ibu,,buuu banguuun. jangan tinggalin Bella buk,, maafin Bella.... ibu, Bela banyak salah sama
ibu, maafin bela bu.. banguuun
Y Allah... kenapa Engkau mengambil ibu hamba, kenapa bukan nyawa hamba saja yang Engkau
ambil,, hamba telah berdosa besar, hamba belum sempat minta maaf pada ibu.. ampunilah hamba
ya Allah.

TAMAT

Okeyy,,,, buat teman-teman semua cuman sampai sana aja yeaa naskahnya, moga kalian senang
membacanya. Tapi jangan ditiru ya sikap Bella seperti itu, karena tidak boleh. semuanya pasti
sudah tahu kan... itu DOSA !! Kita harus hormat pada ORANG TUA. Yang mau like dan
koment. Silahkan karena ini karya pertamaku,, jadi aku masih butuh saran atau kritikan dari
teman-teman semua.
 Thanks,,,
Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Kisah Anak Durhaka

Pada suatu hari, hidup seorang anak Sekolah Menengah Atas yang memiliki sifat yang labil. Dia tinggal
bersama kedua orang tuanya. Dengan kondisi ibunya yang bersusah payah mengurus nih anak curut
yang durhaka.
Pada suatu hari, dimana burung-burung masih berkicau dan matahari masih terbit di sebelah timur,
terjadi keributan di gubuk yang sudah seperti rumah. Sebenernya sih emang rumah..Kita langsung ajah
ke TKP..!!!

Bento : “BU…!! BU…!! Come Here..!!


Ibunya datang sambil membawa dompet..
Ibu : “ Iyah, ada apa nak??”
Bento : “ Gue kan pengen sekolah nih.. Bagi duit lah..!! GE PE EL…!!!!”
Ibu : “Ibu ga punya duit nak.. Ini ajah tinggal uang ibu untuk bayar
arisan nanti..”
Bento : “Hhaaaahhhh…!!!! BULL DOG..!!! eh, Bull shit..!!”
Ibu : “ Bener nak, ibu ga bohong..”
Bento : “ Udahlah, itu aja bawa sini..!!!”
Bento merampas dompet ibunya, mengambil isinya dan membuang dompet itu ke lantai..Lalu Bento
pun pergi ke sekolah. Ibunya pun hanya bisa duduk dan menangis sambil berdoa..
Ibu : “ Ya Allah..Ampunilah dosa anakku ini..”

Di sekolah, Kardi , Fina dan Fani sedang mengobrol. Tiba-tiba mereka melihat Bento yang sambil
memegang duit..
Kardi : “Eh girls,Liat tuh si Bento, kayaknya lagi banyak duit tuh bocah.”
Fani : “Wah, iyah ya..Kita kerjain ajah tu bocah..”
Kardi : “Gimana caranya??”
Fina : “Gampang..Gini ajah..”
Fina berbisik-bisik dengan Fani dan Ivan..Tetapi dari belakang mereka ada Sinta dan Santi yang sedang
mendengarkan pembicaraan mereka.
Kardi : “Okeh, ide bagus tuh..!!”
Fina : “Iya donk..siapa dulu..F-I-FI, N-As-NA..Della..!”
Fani : “Yaudah, langsung ajah yuk kita bergerak..!”
Semua : “Ayoo..!!”

Fani dan Fina mendekati Bento..


Fani : “ Hai Bento..Lagi ngapain nih??”
Bento : “Lagi salto..!! Ga liat nih lagi ngitung duit..”
Fina : “Weee..banyak duit nih..Oya, mau ikut kita party ga??”
Bento : “ Party??? Kapan?? Dimana??”
Fani : “ Hhhmmm…Nanti pulang sekolah di rumah gue..Mau ga??”
Bento : “Boleh-boleh..tapi seru ga??”
Fani : “Weeiitss..!! Seru donk..Loe bakal have fun dah..trus loe pasti
bakal nge-fly..Tapi kan di dunia ini ga ada yang gratis..”
Bento : “ Tenang ajah..Nih..!! (Bento langsung ngasih semua uangnya)
Fina : “Okeh..gue tunggu ya pulang sekolah..”
Bento : “Yooo..”

Sepulang sekolah..
Sinta : “ eh..eh..eh.. Bento, tunggu..!”
Bento : “ Ada apa sih??”
Santi : “Tunggu dulu donk..Loe mau kemana??”
Bento : “ Mau ada urusan, Penting nih..Ada apa sih??”
Santi : “Hhmm..gimana yah?? Hhhmm…Loe mau ke rumah Fani ya??”
Bento : “ Iya, mank kenapa??”
Santi : “Hhhmmm…hmmm..”

Bento pun siap meninggalkan mereka..tapi..


Sinta : “ Eh, eh ..tunggu dulu..Sebaiknya loe jangan kesana deh..Loe
ama kita ajah belajar bareng..Besok kan banyak PR.”
Bento : “Hah..!! Males gue ngerjain PR, tiap hari Pr mulu, bisa pecah nih
otak gue..Udah ya, gue buru-buru”

Bento pun pergi..


Santi : “Ah, lo sih ngajak belajar bareng. Udah tau dia ga mau..”
Sinta : “ Yeee…lagian loe daritadi ngomongnya lama banget..”
Santi : “Yaudah..Yaudah..Mendingan kita ikutin dia ajah..”
Sinta : “Yaudah, ayoo..”

Di rumah Fani. Kardi, Fani dan Fina memberi Bento minuman terlarang dan memberikan seekor anak
manusia ini sebuah obat-obatan terlarang, yaitu narkoba. Mereka ingin membuat Bento tertidur dan
mengambil isi dompetnya. Tetapi disaat Fina mengambil dompetnya...
Fina : “Ah, Kamprett..!! Kaga ada isinya cuy..”
Fani : “ Yah ampun, capek-capek kita kerjain nih anak..Udah, keluarin
ajah ni bocah..!!”

Mereka bertiga pun mengankat Bento dan menaruhnya di tengah jalan..Santi dan Sinta pun datang..Dan
membawa Bento pulang ke rumahnya.Keesokan harinya…Bento tidak pergi ke sekolah. Dia pergi ke
tempat paranormal-paranormal terkenal untuk meminta seorang tuyul agar dia bisa mendapatkan
banyak uang. Akhirnya ia pun sampai di tempat paranormal terkenal.. Dia pun masuk ke sebuah
ruangan.
Bento : “Bang, ini tempat paranormal ya??”
Mbah Syrup : “ Bukan, ini tempat dukun..Mank ada urusan apa sampean??”(Minum)
Bento : “Saya lagi butuh duit bang..”
Mbah Syrup : “ Kalo butuh duit jangan ke sini, ke koruptor ajah tuh..!! Tapi kalo mau saya ada kenalan
yang bisa pinjemin duit.”( Minum)
Bento : “Waahh..Boleh juga tuh bang..Siapa??”
Mbah Syrup : “Abang-abang..!! Mbah..!! Mank gue abang loe..!! (Minum)
Bento : “Owh..iyah iyah ..maaf mbah..”
Mbah Syrup : “ Ntar mbah panggilin dulu temen mbah..”(Minum)

Mbah syrup pun mengambil telpon Blackberrynya..


Mbah Syrup : “Bro..ada job nih..”(Minum)
Jack : “ Okeh..ketemuan dimana nih??”
Mbah Syrup : “Tempat gue ajah bro..Gue tunggu yee..”(Minum)
Jack : “Siap baik Mbah..”

Mbah Syrup pun langsung menutup telepon..Tidak lama kemudian,


Jack datang..
Mbah Syrup : “Nih orangnya..! Mbah mau ke toilet dulu..”
Jack : “Siap Mbah..”
Bento : “Makasih ya mbah..”
Jack : “Loe lagi butuh duit??Berapa??”
Bento : “Iya bang..sekitar 10 jeti bang..”
Jack : “Okeh..gampang. Tapi ada syaratnya.. Minggu depan harus udah lunas dengan bunga 20 %”
Bento : “Siap bang..It’s Easy..”
Jack : “Ntar dulu..Loe harus tanda tangan dulu perjanjiannya..”

Kemudian Jack pun mengambil tasnya..Dan mengambil sesuatu di


Dalam tasnya. Bento pun menandatanginya.Keesokkan harinya, Bento pun
ke sekolah..Dia berniat Party lagi di rumah Fani. Tetapi Santi dan Sinta
tidak henti-hentinyamencoba menghalangi Bento..Bento pun sedang pusing
karena pengaruh obat-obatan.
Sinta : “Loe kenapa Ben??”
Bento : “Ga apa-apa..”
Sinta : “Owh..Bento, loe mau ke rumah Fani lagi nanti??”
Bento : “Iya..kenapa??”
Santi : “Jangan Bento..Mendingan loe nganterin gue ajah sama Sinta. Kita ke Toko buku.”
Bento : “ Ah, males ah..Gue pengen Have fun cuy..”
Santi : “Tapi kan gue takut loe kenapa-kenapa..”
Bento : “Peduli amat loe sama gue..!!

Bento pun pergi meninggalkan Santi dan Sinta..Kemudian, Bento pun


menjadi pecandu narkoba. Dia jadi sering mengkonsumsi narkoba setiap
hari. Sampai dia pun lupa bahwa dia lupa akan utangnya terhadap rentenir.
Sehinggasebuah konflik pun terjadi. Jack dan anak buahnya mendatangi
Bento dan mengancam Bento yang sedang pulang sekolah.
Jack : “Itu orangnya, bawa ke hadapan saya sekarang juga..!!”
Anak buahnya : “Siap, ngerti bos..!!”

Anak buahnya menarik-narik Bento, tetapi Bento melawan.


Perkelahian pun terjadi, namun Bento kalah karena anak buahnya
Jack sangat banyak..Bento pun di bawa dengan keadaan bonyok.
Jack :”Heh..!! Curut..!! Katanya loe sanggup ngelunasin utang loe dalam waktu 1 minggu..Mana..!!
Sekarang udah 10 hari ni..”
Bento : “Iya bang..Maaf, gue belum ada duit..1 minggu lg deh..”

Jack : “Apaan..!! 1 minggu lagi?? Ga, gue kasih waktu loe 3 hari lagi..Sampe loe ga bisa bayar..Liat ajah
akibatnya..!!
Bento : “Iyah bang..”

Bento dijatuhkan dan Jack dkk pergi meniggalkan Bento..


Di sekolah..Bento terlihat sedih,duduk sendirian..Tiba-tiba Sinta dan
Santi datang.
Santi : “Sin, Loe liat deh tu si Bento.,! Daritadi kok dia diem mulu..Ada apa ya??”
Sinta : “Ga tau deh.. Kita samperin ajah yuk..!”
Santi : “Ayo deh..”

Mereka berdua pun menghampiri Bento yang sedang duduk sendirian..


Sinta : “Bento, loe kenapa??”
Santi : “Iya Ben, loe kenapa??”
Bento : “Ga apa-apa kok..Makasih yah udah mau perhatian sama gue.”
Sinta : “Iya, sama-sama Ben..Tapi, sebenernya loe kenapa sih?? Daritadi
diem mulu..”
Bento pun hanya terdiam..
Sinta : “Heh..Bento, jawab donk..Loe kenapa??”
Bento : “Eh, iya..maaf..Ga apa-apa kok..udah tenang ajah..Gue ke kantin
dulu yah..”
Sin & San : “Yoo..”

Bento pun ke kantin. Keesokan harinya, Bento bertemu dengan Kardi, Fani dan Fina..Mereka bertiga
mengajak Bento untuk mabuk-mabukkan lagi..
Kardi : “Hay Bento mameenn…!! Kita party lagi nyookk..!”
Bento : “Nggak ah, gue lagi boke nih..Loe loe ajah ya..!”
Fani : “Wah, Bento kita udah berubah nih..udah ga asik kayak dulu
lagi..”
Fina : “Iya nih..Udah ga seru temenan sama Bento..Udah sih ikut ajah..”
Kardi : “Iya broo..masalah duit kali ini gue yang traktir dah..”
Bento : “Hhhmm..Yaudah deh..” (Bento menjawab dengan terpaksa..”

Mereka ber4 pun mabuk-mabukkan lagi. Tetapi di lain tempat..


Jack : “Permisi..! Askumm..!!”
Ibu : “Iyah..Waskum..Siapa yah??’’
Jack : “ Diam..Diam..!! Cepat, geledah rumahnya..”
Anak buah : “Baik, Siap boss..!!”

Jack menyekap ibunya Bento dan anak buahnya mengacak-acak isi rumahnya..Tetapi, mereka tidak
menemukan barang berharga satu pun..Tiba-tiba ibunya Bento menggigit tangannya Jack..
Jack : “Awwww…!!! Heh, cepat tangkap dia dan bunuh dia..!!”

Kemudian anak buahnya mengambil sebuah pisau dan langsung menusuk Ibunya Bento dari
belakang..Ibunya pun mati tak berdaya..Di rumah Fani.
Sinta : “Heh..Bento, cepet pulang ke rumah..Ibu loe..!!”
Bento : “ Haah..!! Apaan sih loe ganggu ajah..Ayo coy, kita minum
lagi..”
Santi : “Ibu Loe dibunuh sama orang ga dikenal..!! Cepetan pulang..!!”
Bento : “APAA..!!!! Serius loe??”
Santi : “Iya, gue serius..!!”

Bento, Santi dan Sinta pun langsung pulang menuju rumahnya, dan ketika melihat ibunya terbaring tak
berdaya..
Bento : “Ibu?? Ibu ga apa-apa kan?? Ibu..!! IBU,..!!”
Santi : “Sabar yah Ben, ini emang cobaan..”
Bento : “ Ibu..!! Maafkan aku ibu..Siapa yang berani berbuat seperti ini
bu??”
Sinta : “Tadi sih kata tetangga, ada orang yang pake baju item 4 orang
yang dtg kesini.”
Bento : “Ini pasti si Jack..!!”

Bento pun pergi ke tempat Jack..


Bento : “Heh..!! Loe yang udah berani bunuh nyokap gue ya..!”
Jack : “Hhhahahaha…Kalo memang iya, kenapa?? Itulah akibatnya kalo
tidak menepati janji..”
Bento : “Siallaann…!! Akan kubunuh kau..!!!”
Jack : “Serang dia..!!

Bento menyuruh anak buahnya melawan Bento yang sendirian..Bento pun bertarung dengan mereka.
Sampai akhirnya Bento menang melawan mereka, namun sial nasibnya. Dia pun tertembak oleh
Jack..Dan Bento pun mati di tempat.

Amanat :
1. Janganlah kita melawan orang tua kita
2. Jangan kita mabuk-mabukkan dan mengkonsumsi narkoba.
3. Jangan mudah terpengaruh.
4. Jangan pernah mengingkari Janji
5. Kita itu sesama manusia harus saling mengingatkan bila ada seseorang yang akan masuk dalam dunia
jahat.

Demikianlah penampilan dari kelompok kami. Mohon maaf bila ada salah-salah kata dan bila ada kata-
kata yang membuat para hadirin tersinggung. Terima kasih atas perhatiannya.

AIR MATA PENYESALAN

karya     : Lina Amalina, S. Pd.

Babak I

Di tengah rumah, seorang ibu tua renta sedang merapikan kue-kue yang akan di jual. Ia sudah
dua tahun menjanda. Suaminya telah meninggal dunia dikarenakan penyakit jantungnya. Ia
tinggal bersama dua orang anaknya. Kedua anaknya menempuh pendidikan pada sekolah yang
sama. Ratih, anak pertamanya,   sudah tingkat akhir sedangkan Seli, anak keduanya, baru
tingkat satu. Untuk menghidupi keluarga, sang Ibu tersebut berjualan kue.

Ibu          : (merapikan kue-kue yang akan di jual ke dalam toples lalu memanggil Ratih) “Ratih!
Ratih!”

Ratih       : (berteriak dari dalam kamar) “Tunggu sebentar dong, Bu! Cerewet sekali Ibu ini!”

Ibu                          :  (memanggil kembali) “Ratih! “

Ratih       : (keluar dari kamar dengan penampilan yang urakan) “Ada apa sih, Bu? Dari tadi
teriak terus. Memangnya aku ini tuli apa?”

Ibu          : (masih membereskan kue) “Tolong antarkan kue-kue ini ke warung bu Ijah sebelum
pergi ke kampus!”

Ratih                       : “Kan biasanya juga Ibu yang mengantar. Kenapa Ibu suruh aku?”

Ibu                          : “Ibu sedang tidak enak badan, Nak!” (batuk-batuk)

Ratih                       : “Kalau begitu suruh saja Seli!”

Ibu          : “Dia juga sedang tidak enak badan. Hari ini dia tidak akan masuk kuliah.”
Ratih       : “Alah, paling juga dia pura-pura sakit.”

Ibu          : “Dia memang lagi sakit. Tadi waktu Ibu periksa, badannya panas sekali.”

Ratih       : “Ah, Ibu ini selalu saja memanjakan dia. Kapan Ibu akan memanjakan aku?”

Ibu          : “Ibu tidak pernah memanjakan dia. Kasih sayang yang ibu berikan terhadap kalian
sama.”

Ratih       : “Bohong! Buktinya, waktu itu Ibu pernah berjanji akan membelikan aku HP. Tapi
sampai sekarang, mana?”

Ibu          : “Bukannya Ibu tidak mau membelikan kamu HP, tapi uang Ibu kan belum cukup
untuk membelinya. Ibu sedang menabung. Mana pengeluaran kamu dan adikmu sangat banyak..
Apalagi kamu sebentar lagi wisuda. Sabar ya, Nak!”

Ratih       : “Alah, sabar, sabar. Sampai kapan? Aku tahu, Ibu hanya pandai mencari alasan. Ibu
sebenarnya tidak menyayangiku. Jangan-jangan aku ini bukan anak Ibu.”

Ibu          : “Hati-hati kalau berbicara, Nak!”

Ratih       : “Sudahlah, Bu! Aku mau kuliah.”

Ibu          : (memberikan kue-kue dagangannya) “Jadi kamu tidak mau mengantarkan kue-kue
ini?”

Ratih       : (mengambil toples itu, lalu menumpahkan isinya sehingga kue-kue dari dalam toples
itu berserakan di lantai).

Ibu          : (mengusap dada sambil memandang Ratih dengan tajam).

Ratih       : “Kenapa? Ibu tidak suka? Ibu ini pura-pura bego atahu memang bego? Masih saja
bertanya mau atahu tidak. Sudah jelas aku ini malas, Bu. Gengsi!”

Ibu          : “Apa? gengsi? Apa kamu tidak sadar? Kamu bisa kuliah uangnya dari mana kalau
bukan dari berjualan kue? Kalau tidak mau tidak usah seperti ini. Ibu susah payah membuat kue
ini. Kamu tidak pernah sama sekali menghargai kerja keras Ibumu ini. Apa kamu tidak sadar?
Siapa yang ada di hadapan kamu ini? Aku ini Ibu kandungmu, Nak.”

Ratih       : “Mau Ibu kandung, mau Ibu tiri, mau Ibu angkat, aku tidak peduli. Percuma aku
mempunyai seorang Ibu yang tidak sayang terhadap anaknya. Sekarang, Ibu ingin aku
menghargai kerja keras Ibu. Baik. (mengambil kue yang berserakan lalu melemparkannya ke
wajah Ibu) Sebagai bentuk penghargaanku terhadap kerja keras sang Ibu.” (tersenyum sinis).

Ibu          : (menangis).
Seli         : (keluar dari kamar sambil batuk-batuk) “Ada apa ini, Bu? (memungut kue-kue yang
berserakan).

Ratih       : (mendorong Seli hingga terjatuh) “Heh, anak kecil, kamu tidak perlu ikut campur!”

Ibu          : “Ratih, jangan kasar seperti itu! Kasihan adikmu, sedang sakit.”

Ratih       : “Ah Ibu, lagi-lagi Seli, lagi-lagi Seli. selalu saja dia yang dibela. Sudahlah, Bu! Aku
mau kuliah.” (pergi sambil menendang pintu).

Ibu          : “Ratih!” (terkulai lemas dan menangis).

Seli         : (memeluk Ibu) “Sudahlah, Bu! Jangan terlalu memikirkan Kakak! Sekarang biar aku
saja yang mengantarkan kue-kue ini.”

Ibu          : (melepaskan pelukan seli) “Tidak usah, Nak! Kamu kan sedang sakit. Lagi pula, kue-
kue ini sudah terlanjur berserakan.”

Seli         : “Kalau begitu, sekarang lebih baik Ibu istirahat. Ibu sudah terlalu lelah. Biar nanti aku
saja yang membereskan kue-kue ini. Mari Bu, aku antar ke kamar!” (mengantar Ibu ke
kamarnya).

Babak II

Hari semakin malam. Ratih tak kunjung pulang. Ibu sedang menunggunya di tengah rumah
bersama Seli.

Ibu          : (mondar-mandir tampak cemas) “Sudah larut malam begini, kakakmu belum pulang
juga.”

Seli         : “Mungkin sebentar lagi, Bu. Ibu sabar saja!”

Ibu          : “Kenapa kakakmu akhir-akhir ini berubah ya?”

Seli         : “Aku juga heran, Bu. Penampilannya jadi urakan. Belum lagi sikapnya yang sering
marah-marah. Terus sekarang ini, dia mulai berani melawan Ibu.”

Ibu          : “Ibu juga heran, kenapa dia terus memaksa Ibu untuk membelikan HP?”

Seli         : “Mungkin karena lingkungan bergaulnya, Bu.”

Ibu          : “Memang lingkungan bergaulnya seperti apa?”

Seli         : “Sepengetahuanku, akhir-akhir ini dia sering bergaul dengan anak-anak berandal di
kampus. Mereka senang sekali berfoya-foya.”
Ibu          : (kaget) “Apa? Sepertinya, Ibu yang salah. Ibu tidak bisa mendidiknya dengan baik.”

Seli         : “Tidak, Bu! Ibu tidak salah.”

Ratih       : (datang tanpa mengucapkan salam langsung pergi ke kamar namun Ibu cepat
mencegatnya).

Ibu          : (menarik tangan Ratih) “Tunggu! Dari mana saja kamu? Sampai pulang larut malam
begini.”

Ratih       : (melepaskan tangan Ibu dan membentak) “Ah, Ibu tidak perlu tahu. Bukankah, Ibu
sudah tidak sayang lagi terhadapku?”

Ibu          : “Ibu masih sayang kamu, Nak.”

Ratih       : “Omong kosong!”

Seli         : (marah) “Kakak sudah berani ya, melawan Ibu? Sudah masuk tanpa permisi. Berani
pula membentak Ibu.”

Ratih       : (membentak sambil menunjuk hidung Seli) “Heh, kamu tidak usah ikut campur!”

Tiba-tiba terdengar suara HP berdering.

Ratih       : (mengangkat telepon) “Halo, Sayang! Iya sebentar lagi aku ke sana. Tunggu di tempat
biasa ya! Dah, Sayang!”

Ibu          : “Ratih, dari mana kamu mendapat uang untuk membeli HP?”

Ratih       : “Ibu tak perlu tahu. Yang jelas ini bukan uang Ibu. Ibu tidak mampu kan untuk
membeli HP semahal ini? (menunjukan HPnya) Aku sudah bosan hidup miskin, Bu.”

Seli         : “Kakak seharusnya bersyukur sudah bisa kuliah. Banyak orang-orang yang lebih
susah dari kita. Tidak usah menginginkan yang bukan-bukan!”

Ratih       ; “Aku tidak butuh nasihatmu, anak kecil!” (memasukan HP ke dalam saku bajunya 
lalu tidak sengaja jatuh sebungkus kecil serbuk putih).

Ibu          : (mengambil serbuk putih itu) “Apa ini?”

Seli         : (mengambil serbuk putih dari tangan Ibu) “Ini kan narkoba, Bu! Barang haram.”

Ibu          : “Ratih, kenapa jadi seperti ini?”

Ratih       : “Ibu tak usah banyak tanya. Yang jelas, (mengambil serbuk putih dari tangan Seli)
karena ini aku bisa membeli HP.”
Seli         : “Tapi itu kan barang haram, Kak. Haram!”

Ratih       : “Sekali lagi kau bicara aku tampar.”

Seli         : (mengambil tangan Ratih lalu mendekatkannya ke pipinya) “Tampar saja, Kak! Ayo
tampar!”

Ratih       : (menampar Seli).

Ibu          : (membentak) “Ratih! Semakin kurang ajar ya kamu?”

Ratih       : “O, rupanya Ibu keberatan anak kesayangannya ditampar. Apa Ibu juga mau aku
tampar?”(hampir menampar).

Seli         : (mencegah) “Jangan, Kak!””

Ratih       : “Sudah berapa kali aku katakan, jangan ikut campur urusanku!”

Seli         : “Astaghfirullaahal’azhiim! Kakak memang bukan kakakku yang dulu kukenal.”

Ibu          : “Ratih, apa kamu tidak sadar? Siapa yang membesarkanmu? Yang melahirkanmu
dengan nyawa sebagai taruhan? Apa kamu hendak membalas air susu dengan tuba?”

Ratih       : “Ah, sudah, Bu! Kepalaku rasanya mau pecah kalau terus mendengar ocehan Ibu.
Sekarang Ibu tidak usah lagi memikirkanku! Pikirkan saja di mana  Ibu akan dikuburkan? Ibu
sudah bau tanah. Dan ... sebentar lagi ibu pasti akan mati. Ha ... ha ... ha.”(tertawa).

Ibu          : (menampar) “Kurang ajar! Dasar anak durhaka! Pergi kamu! Aku tak sudi lagi
melihatmu. Dan ..aku tidak rela air susuku mengalir ditubuhmu. Kau bukan anakku lagi!”
(menangis).

Seli         : “Iya aku juga tak butuh lagi Kakak sepertimu.”

Ratih       : “Baik, baik. Aku akan pergi. Lagi pula, aku juga tak butuh seorang Adik seperti kamu
apalagi seorang Ibu seperti kamu!” (mendorong ibunya hingga terjatuh lalu pergi).

Seli         : (mememeluk Ibu sambil menangis) “Ibu!”

Ibu          : (batuk-batuk mengeluarkan darah penyakit radang paru-parunya kambuh.)

Seli         : “Ibu! Kita ke dokter ya, Bu!”

Ibu          : “Tidak usah, Nak. Ibu tidak apa-apa.”

Seli         : “Tapi, Ibu sakit. Ayo, Bu!”


Ibu          : (batuk semakin cepat dan semakin banyak mengeluarkan darah).

Seli         : (mengusap darah dari mulut Ibu) “Ibu! Darah Ibu semakin banyak. Ibu harus segera
ke dokter.”

Ibu          : (kesakitan) “Sepertinya Ibu tidak akan lama lagi akan pergi. Maafkan Ibu ya, Nak!
Ibu tidak bisa merawatmu sampai nanti. Ibu masih mempunyai sedikit simpanan untuk
membiayai kuliahmu. Dan kalau bisa teruskanlah usaha Ibu menjual kue. Jaga dirimu baik-
baik!”

Seli         : (terus menangis) “Ibu, jangan berbicara seperti itu! Ibu harus sembuh. Saya mohon!”

Ibu          : (sekarat) “Asyhadu ... alla .. ila ... ha ... illallah. Waasy ... ha ... du ... anna ...
muhammadar .. rasu ... lullah!” (mati di pangkuan Seli).

Seli         : (menangis) “Ibu! Ibu ! Bangun, Bu! Jangan tinggalkan aku!”

Babak III

Pagi hari, Ibu sudah terbaring kaku di tengah rumah. Kain putih meliliti tubuhnya. Di atasnya
di tutupi oleh kain samping. Para tetangga mengaji mengelilingi jenazah Ibu. Lantunan ayat-
ayat suci bersahutan menyayat hati. Tiba-tiba Ratih datang dengan keadaan kaki yang terluka.
Suasana mendadak menjadi sepi.

Ratih       : (berlari dengan kaki yang terluka menuju jenazah Ibu dan berteriak) “Ada apa ini?
Ibu! Ibu! Bangun!”

Seli         : “Kenapa Kakak kembali lagi? Bukankah, sudah tidak butuh kami lagi? Sekarang
Kakak puas? Melihat Ibu seperti ini? Ini semua akibat Kakak. Tadi penyakit radang paru-paru
Ibu kambuh setelah Kakak pergi. Ibu sakit hati oleh Kakak. Ibu ... “

Ratih       : (memotong pembicaraan) “Cukup! Ini semua memang salahku. Aku tadi tertabrak
mobil. Untung hanya kaki yang terluka. Mungkin ini hukuman bagiku. Aku menyesal dan tak
pernah menyangka akan seperti ini.” (menangis).

Seli         : “Bukankah, Kakak menginginkan Ibu mati?”

Ratih       : (masih menangis) “Aku menyesal, Sel!”

Seli         : “Tak ada gunanya penyesalan di akhir. Sekarang Ibu sudah tak bernyawa lagi.”

Ratih       : “Aku benar-benar menyesal. Tolong maafkan aku! Terimalah kembali aku sebagai
kakakmu!” (terus menangis).

Seli         : “Mohonlah ampun kepada yang Maha Pengampun! Bertobatlah! semoga dosa-dosa
Kakak masih diampuni-Nya! Begitu juga dosa-dosaku. Baik. Aku mau menerimamu kembali
sebagai kakakku. Sekarang kita antarkan jenazah Ibunda kita ke tempat peristirahatannya yang
terakhir! Setelah itu, Kakak serahkan diri Kakak kepada pihak yang berwajib karena telah
terlibat narkoba!”

Ratih       : “Baiklah, kakak akan lakukan semua itu. Maafkan Kakak, ya!” (memeluk Seli).

Akhirnya, Ratih harus menjalani hidupnya di penjara. Seli terus kuliah sambil meneruskan
usaha Ibunya berjualan kue. Sang Ibu telah meninggalkan mereka untuk selama-lamanya.
Penyesalan selalu ada di akhir.

Anda mungkin juga menyukai