Drama Anak Durhaka: Kisah Intan dan Ibu
Drama Anak Durhaka: Kisah Intan dan Ibu
Intan : “Buk! Mana hasil jualan hari ini ha? “
Ibu : “ Untuk apa kamu nak?” (Sambil mengeluarkan uang)
Intan : “ Sini uangnya!! (Merampas uang ibu)Aku laper, bosen sama makanan yang
dirumah itu-itu mulu”
Ibu : “ Lo kok diambil semua nak? Trus Ibu mau makan apa? Hanya itu uang yang
ibu punya nak”
Intan : “ Aahh!! Bodo amat(sambil menolak ibu), itu sih urusan lo. Dasar orang tua!”
(Risa sang adik pun datang menolong ibunya )
Risa : “Bu, Ibu kenapa? Apa yang terjadi pada ibu?”(mengangkat ibunya)
Ibu : “Ibu tidak apa-apa nak”
Risa : “ Ini pasti ulah kakak kan bu?”
Ibu : “ Tidak nak, ibu tadi jatuh sendiri”
Risa : “Yaudah kalau ibu tidak apa-apa, sini biar Risa antarkan ibu ke kamar untuk
istirahat”
Ibu : “Trima kasih nak”
Sementara di tempat nongkrong, di suatu rumah makan.
Dian :” Eh ntan, dari mana aja lo? Lama nih kita nunggunya”
Sinta : “ Tau tuh, lo dari mana aja sih? Habis kondangan ya? Muka lo girang amat”
Intan :” Haha maapin yak, tadi gue nungguin nyokap gue guys. Yaudah yuk kita pergi”
Mereka pun pergi ke tempat dugem, disana sudah menunggu 2 orang pemuda.
Andre : “ Dari mana aja kalian guys?’’
Riky : “ Iya nih, kita udah lama nungguin kalian”
Dian : “ Iyadeh, kita minta maaf”’
Intan : “Iya , eh mana barangnya? Ada kan?”
Andre : “ Tenang aja, ada dong’’
Sinta : “ Kalau ada mana barangnya?”
Riky : “ Ntar dulu dong, bak kata pepatah ada uang ada barang, hahaha mana
uangnya?”
Intan : “Yaudah nih( sambil mengasih uang pada mereka)”
Andre : “ Nih barangnya (Mengasih pil koplo pada mereka)” (Musik DJ)
Mereka pun berdugem dan berfoya-foya serta memakan obat-obatan
terlarang hingga larut malam. Sementara di rumah sang ibu terlihat khawatir akan
keberadaan anaknya yang belum juga pulang.
Ibu : ” Mana kakak mu Ris? Kok udah jam segini nggak pulang-pulang?”
Risa : “ Risa tidak tau bu, dari tadi Risa tidak melihat kakak. Tadi kakak juga tidak
mengaji bu”
Ibu : “ Kemana perginya ya kakakmu itu.(Dengan muka khawatir)’’
(Akhirnya Intan pun pulang ke rumah)
Ibu :” Dari mana saja kamu ntan? Kok jam segini kamu baru pulang?”
Intan :” Ahh!!!Berisik!(sambil menutup telinga) Jangan ikut campur lo orangtua! Ini
urusan gue!
Ibu : “ Kata adikmu tadi kamu tidak mengaji. Kenapa nak? Kamu kan udah besar,
jadi berikanlah contoh yang baik kepada adikmu nak dan cobalah buat ibumu bangga.
Mulai besok, kamu harus pergi mengaji dengan adikmu!”
Intan : “Terserah lo deh orangtua.”
Keesokan harinya, siap maghrib Intan dan adiknya Risa pun pergi menuju ke
rumah Ustad untuk mengaji. Tetapi ditengah jalan.....
Intan : “Eh dek, aku pergi dulu ya mau kerja kelompok. Lo jangan bilang-bilang Ibu
kalau aku nggak ngaji. Awas lo!(mengancam sang adik)
Risa : “ Tapi kak.......”
(Intan pun pergi meninggalkan sang adik)
Sementara tiba di rumah Ustad...
Ustad : “ Lo Ris, mana kakak mu? Dia tidak mengaji?’’
Risa : “ Nggak Ustad, katanya dia mau pergi kerja kelompok”
Ustad : “ Yaudah kalau gitu, jangan lupa bilangin sama dia ya, besok jangan lupa
mengaji di rumah Ustad”
Risa :” Iyadeh Ustad, nanti Risa bilangin ke kak Intan untuk mengaji besok”
(Mereka pun mengaji)
Intan pun tidak mengaji, dan dia melakukan hal yang sama seperti kemaren.
Keesokan sorenya, ketika Ibu Minah berjualan jamu...
Pembeli 1(Dian): “ Eh jeng, kemaren aku ngeliat anak si penjual jamu ini pulang larut
malam loh. Coba deh bayangin, masa anak gadis pulang malem-malem. Jadi apa
coba?”
Pembeli 2(Sinta): “Masa sih jeng? Orangtuanya nggak ngajarin yah? Mungkin anak
itu perempuan liar kali ya yang suka ke diskotik gitu.”
Ibu : “(Ibu Minah hanya bisa terdiam mendengar apa yang dibicarakan si pembeli-
pembeli itu)”
Pada senja harinya, ketika setelah sholat maghrib....
Ibu :”Mau kemana lagi kamu Intan?! Ibu dengar dari tetangga-tetangga bahwa
kamu suka pulang larut malam seperti perempuan liar. Apa benar itu Intan? Jawab
jujur, apa benar ketika ibu suruh kamu mengaji kamu malah pergi jalan-jalan?”
Intan :” Kalau emang iya trus kenapa lo?!! Lo nggak suka? Suka-suka gue dong mau
ngapain’’
Risa :” Kak, jangan bentak-bentak ibu kak. Dosa kak ingat itu”
Intan :”Ahh!!! Masa bodo!”
Ibu :” Intan, dulu almarhum ayahmu berpesan supaya kamu jadi anak yang baik
nak. Kenapa kamu jadi seperti ini nak? Ayahmu sekarang pasti menangis disana jika
melihat kelakuanmu seperti ini(sambil menangis)”
Intan : “Ah! Kalian ini jangan sok-sok menasehati aku deh” (Pergi meninggalkan Ibu
dan Adiknya)
Intan pun pergi ke tempat dugem. Disana sudah ada teman-temannya yang
sedang menunggunya. Mereka pun dugem dengan memakan obat-obatan terlarang.
Tiba-tiba polisi datang......(Music Police)
Intan : “(mencoba kabur ketika teman-temannya berhasil kabur)”
PakPol: “ Mau kemana kamu?!(menangkap Intan)”
Intan : “ A a anu pak, jangan tangkap saya pak. Saya tidak bersalah, jangan bawa
saya pak”
PakPol: “ Nanti bisa kamu jelaskan di Kantor Polisi. Ikut saya!”
Tiba-tiba ibu pun datang bersama adiknya Risa menghampiri Intan.
Intan :” Ibuu, tolongin Intan bu, tolong. ”
Ibu : “ Ibu tidak bisa menolongmu nak, ini adalah kesalahanmu”
Intan : “Maafin kesalahan Intan sama Ibu bu, maaf(sambil nangis)”
Ibu : “ Ibu sudah memaafkanmu nak, semua perlakuanmu pada ibu udah ibu
maafkan nak. . Semoga kamu bisa berubah nak(sambil menangis)”
Akhirnya, Intan pun masuk penjara. Intan pun menyesali semua perbuatan
yang selama ini yang dilakukannya. Dan Intan pun bertobat.
Kesimpulan:
Hormatilah orang tuamu,sayangilah mereka,cintailah dan jangan pernah engkau
menyakitinya sedikitpun .
Karena sesungguhnya mereka lah yang bisa membuat kalian hidup dan ada di
dunia ini, tanpa jasa mereka kalian tidak berarti apa-apa di dunia ini.
Pemain
1. Ibu
2. Bella
3. Sinta
4. Angel
5. Kiki
6. Warga
Tersebutlah sebuah kisah yang mengharukan sekali, seorang anak yang durhaka pada ibunya.
Dia membohongi teman-temannya dan mengaku bahwa dia adalah anak dari kalangan orang
yang terpandang dan tidak level dengan orang-orang miskin. Tapi kenyataannya adalah dia
seorang anak yang dilahirkan di kalangan orang miskin yang hidup sederhana, ibunya hanya
seorang pedagang gorengan keliling dan ayahnya meninggal saat ia masih dibangku SD, dia bisa
sekolah di SMA Faforit berkat kecerdasannya. Namun ia bukannya bersyukur tapi dia malah
menyombongkan diri bisa sekolah disana.
BELLA itulah namanya.
Adegan 1
Pagi itu Bella akan berangkat sekolah, Bella keluar dari kamarnya dan hendak sarapan pagi. Saat
melihat hidangan diatas meja makan, ia terkejut karena isinya hanya sepiring nasi dan tiga
potong kecil tempe goreng. Bella teriak kesal dan memanggil ibunya.
Bella : Ibu...!! Ibu...!! Apa-apaan ini. Ibu mau bunuh aku. masak setiap hari aku makan tempe.
Aku bosan bu...kalau gak tempe pasti tahu,, ituuuu terus. emangnya gak ada yang lain apa !
Ibu : Bella, uang ibu tidak cukup untuk membeli daging atau sayur lain. Kita seharusnya
bersyukur nak,,, kita masih diberikan makan dan minum oleh Allah. walau hanya sederhana
seperti ini. jadi jangan sekali-kali mengeluh nak..
Bella : Allah ! Allah ! kenapa sih sedikit-dikit Allah, Kalau emang Allah tu sayang sama kita,
kita gak mungkin miskin seperti ini.
Ibu : Astagfirullah... istigfar Bella, kamu tidak boleh bicara seperti itu.
Bella : Bu.. emang gitu kenyataannya kan, hemm... aku minta uang (sambil mengulurkan
tangan). cepetan dong bu ntar aku telat sekolahnya, katanya mau liat kita pintar.
Ibu : ini nak, (memberikan Bella uang 5.000 rupiah)
Bella : 5.000 lagi !
Ibu : Hanya itu uang ibu nak,,
Bella : Makanya dong.. jangan hanya jual gorengan keliling saja, cari kek pekerjaan yang lain,
yang lebih menguntungkan dan menghasilkan banyak uang. Kapan kita jadi orang kaya kalau
gini terus caranya.
Ibu : Astagfirullah... Bella. Ampunilah anak hamba ya Allah...
Adegan 2
Saat Bella sedang berkumpul bersama teman-temannya. Tiba-tiba ibunya Bella datang menjual
gorengan. Bella kaget, kenapa ibunya mesti jualan didepan sekolahnya. Saat ia ditanya oleh
teman-temannya, apakah Bella mengenal penjual gorengan itu atau tidak, Bella malah menjawab
tidak kenal.
#
Sinta : Bell, loe kenal ya sama ibu penjual gorengan yang tadi. kok loe kelihatannya takut banget
liat dia,
Bella : Gak kok, kenal dari mana cobak. kenal dari HONGKONG !! Gue tu jijik aja tau lihatnya,
dekil kayak gitu masih aja kalian belanja sama tu orang.
Angel : Istigfar Bella, loe gak boleh ngomong kayak gitu. dia kan jualannya halal. yang penting
kan dia gak nyuri . pasti dia jualan gorengan keliling itu punya alasan tertentu, mungkin buat
biaya anaknya sekolah atau apa gitu
Bella : kok kalian jadi belain ibu itu sih !!
Angel : bukannya gitu Bell,,
Bella : udahlah.. kita pulang aja yuk
Sinta : ya sudah
Adegan 3
Setelah sampai dirumah, Bella teriak teriak memanggil ibunya. karena ibunya sedang menjahit
seragam sekolahnya KIKI, adiknya Bella. Ibu tidak mendengar suara Bella yang memanggilnya
di depan pintu rumah.
Adegan 4
Pagi-pagi sekali Bella berangkat sekolah seperti biasanya. Kiki , adiknya tidak sekolah karena ia
merawat ibunya yang sedang sakit. Penyakit ibunya semakin parah, Kiki tidak tahu harus
bagaimana. Sehingga ketika pulang sekolah Bella melihat didepan rumahnya banyak sekali
orang. Bella kebingungan, satu demi satu warga berdatangan. Bella semakin bingung, ia tidak
tahu bahwa ibunya telah menghembuskan nafas terakhirnya.
TAMAT
Okeyy,,,, buat teman-teman semua cuman sampai sana aja yeaa naskahnya, moga kalian senang
membacanya. Tapi jangan ditiru ya sikap Bella seperti itu, karena tidak boleh. semuanya pasti
sudah tahu kan... itu DOSA !! Kita harus hormat pada ORANG TUA. Yang mau like dan
koment. Silahkan karena ini karya pertamaku,, jadi aku masih butuh saran atau kritikan dari
teman-teman semua.
Thanks,,,
Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Pada suatu hari, hidup seorang anak Sekolah Menengah Atas yang memiliki sifat yang labil. Dia tinggal
bersama kedua orang tuanya. Dengan kondisi ibunya yang bersusah payah mengurus nih anak curut
yang durhaka.
Pada suatu hari, dimana burung-burung masih berkicau dan matahari masih terbit di sebelah timur,
terjadi keributan di gubuk yang sudah seperti rumah. Sebenernya sih emang rumah..Kita langsung ajah
ke TKP..!!!
Di sekolah, Kardi , Fina dan Fani sedang mengobrol. Tiba-tiba mereka melihat Bento yang sambil
memegang duit..
Kardi : “Eh girls,Liat tuh si Bento, kayaknya lagi banyak duit tuh bocah.”
Fani : “Wah, iyah ya..Kita kerjain ajah tu bocah..”
Kardi : “Gimana caranya??”
Fina : “Gampang..Gini ajah..”
Fina berbisik-bisik dengan Fani dan Ivan..Tetapi dari belakang mereka ada Sinta dan Santi yang sedang
mendengarkan pembicaraan mereka.
Kardi : “Okeh, ide bagus tuh..!!”
Fina : “Iya donk..siapa dulu..F-I-FI, N-As-NA..Della..!”
Fani : “Yaudah, langsung ajah yuk kita bergerak..!”
Semua : “Ayoo..!!”
Sepulang sekolah..
Sinta : “ eh..eh..eh.. Bento, tunggu..!”
Bento : “ Ada apa sih??”
Santi : “Tunggu dulu donk..Loe mau kemana??”
Bento : “ Mau ada urusan, Penting nih..Ada apa sih??”
Santi : “Hhmm..gimana yah?? Hhhmm…Loe mau ke rumah Fani ya??”
Bento : “ Iya, mank kenapa??”
Santi : “Hhhmmm…hmmm..”
Di rumah Fani. Kardi, Fani dan Fina memberi Bento minuman terlarang dan memberikan seekor anak
manusia ini sebuah obat-obatan terlarang, yaitu narkoba. Mereka ingin membuat Bento tertidur dan
mengambil isi dompetnya. Tetapi disaat Fina mengambil dompetnya...
Fina : “Ah, Kamprett..!! Kaga ada isinya cuy..”
Fani : “ Yah ampun, capek-capek kita kerjain nih anak..Udah, keluarin
ajah ni bocah..!!”
Mereka bertiga pun mengankat Bento dan menaruhnya di tengah jalan..Santi dan Sinta pun datang..Dan
membawa Bento pulang ke rumahnya.Keesokan harinya…Bento tidak pergi ke sekolah. Dia pergi ke
tempat paranormal-paranormal terkenal untuk meminta seorang tuyul agar dia bisa mendapatkan
banyak uang. Akhirnya ia pun sampai di tempat paranormal terkenal.. Dia pun masuk ke sebuah
ruangan.
Bento : “Bang, ini tempat paranormal ya??”
Mbah Syrup : “ Bukan, ini tempat dukun..Mank ada urusan apa sampean??”(Minum)
Bento : “Saya lagi butuh duit bang..”
Mbah Syrup : “ Kalo butuh duit jangan ke sini, ke koruptor ajah tuh..!! Tapi kalo mau saya ada kenalan
yang bisa pinjemin duit.”( Minum)
Bento : “Waahh..Boleh juga tuh bang..Siapa??”
Mbah Syrup : “Abang-abang..!! Mbah..!! Mank gue abang loe..!! (Minum)
Bento : “Owh..iyah iyah ..maaf mbah..”
Mbah Syrup : “ Ntar mbah panggilin dulu temen mbah..”(Minum)
Jack : “Apaan..!! 1 minggu lagi?? Ga, gue kasih waktu loe 3 hari lagi..Sampe loe ga bisa bayar..Liat ajah
akibatnya..!!
Bento : “Iyah bang..”
Bento pun ke kantin. Keesokan harinya, Bento bertemu dengan Kardi, Fani dan Fina..Mereka bertiga
mengajak Bento untuk mabuk-mabukkan lagi..
Kardi : “Hay Bento mameenn…!! Kita party lagi nyookk..!”
Bento : “Nggak ah, gue lagi boke nih..Loe loe ajah ya..!”
Fani : “Wah, Bento kita udah berubah nih..udah ga asik kayak dulu
lagi..”
Fina : “Iya nih..Udah ga seru temenan sama Bento..Udah sih ikut ajah..”
Kardi : “Iya broo..masalah duit kali ini gue yang traktir dah..”
Bento : “Hhhmm..Yaudah deh..” (Bento menjawab dengan terpaksa..”
Jack menyekap ibunya Bento dan anak buahnya mengacak-acak isi rumahnya..Tetapi, mereka tidak
menemukan barang berharga satu pun..Tiba-tiba ibunya Bento menggigit tangannya Jack..
Jack : “Awwww…!!! Heh, cepat tangkap dia dan bunuh dia..!!”
Kemudian anak buahnya mengambil sebuah pisau dan langsung menusuk Ibunya Bento dari
belakang..Ibunya pun mati tak berdaya..Di rumah Fani.
Sinta : “Heh..Bento, cepet pulang ke rumah..Ibu loe..!!”
Bento : “ Haah..!! Apaan sih loe ganggu ajah..Ayo coy, kita minum
lagi..”
Santi : “Ibu Loe dibunuh sama orang ga dikenal..!! Cepetan pulang..!!”
Bento : “APAA..!!!! Serius loe??”
Santi : “Iya, gue serius..!!”
Bento, Santi dan Sinta pun langsung pulang menuju rumahnya, dan ketika melihat ibunya terbaring tak
berdaya..
Bento : “Ibu?? Ibu ga apa-apa kan?? Ibu..!! IBU,..!!”
Santi : “Sabar yah Ben, ini emang cobaan..”
Bento : “ Ibu..!! Maafkan aku ibu..Siapa yang berani berbuat seperti ini
bu??”
Sinta : “Tadi sih kata tetangga, ada orang yang pake baju item 4 orang
yang dtg kesini.”
Bento : “Ini pasti si Jack..!!”
Bento menyuruh anak buahnya melawan Bento yang sendirian..Bento pun bertarung dengan mereka.
Sampai akhirnya Bento menang melawan mereka, namun sial nasibnya. Dia pun tertembak oleh
Jack..Dan Bento pun mati di tempat.
Amanat :
1. Janganlah kita melawan orang tua kita
2. Jangan kita mabuk-mabukkan dan mengkonsumsi narkoba.
3. Jangan mudah terpengaruh.
4. Jangan pernah mengingkari Janji
5. Kita itu sesama manusia harus saling mengingatkan bila ada seseorang yang akan masuk dalam dunia
jahat.
Demikianlah penampilan dari kelompok kami. Mohon maaf bila ada salah-salah kata dan bila ada kata-
kata yang membuat para hadirin tersinggung. Terima kasih atas perhatiannya.
Babak I
Di tengah rumah, seorang ibu tua renta sedang merapikan kue-kue yang akan di jual. Ia sudah
dua tahun menjanda. Suaminya telah meninggal dunia dikarenakan penyakit jantungnya. Ia
tinggal bersama dua orang anaknya. Kedua anaknya menempuh pendidikan pada sekolah yang
sama. Ratih, anak pertamanya, sudah tingkat akhir sedangkan Seli, anak keduanya, baru
tingkat satu. Untuk menghidupi keluarga, sang Ibu tersebut berjualan kue.
Ibu : (merapikan kue-kue yang akan di jual ke dalam toples lalu memanggil Ratih) “Ratih!
Ratih!”
Ratih : (berteriak dari dalam kamar) “Tunggu sebentar dong, Bu! Cerewet sekali Ibu ini!”
Ratih : (keluar dari kamar dengan penampilan yang urakan) “Ada apa sih, Bu? Dari tadi
teriak terus. Memangnya aku ini tuli apa?”
Ibu : (masih membereskan kue) “Tolong antarkan kue-kue ini ke warung bu Ijah sebelum
pergi ke kampus!”
Ratih : “Kan biasanya juga Ibu yang mengantar. Kenapa Ibu suruh aku?”
Ibu : “Dia juga sedang tidak enak badan. Hari ini dia tidak akan masuk kuliah.”
Ratih : “Alah, paling juga dia pura-pura sakit.”
Ibu : “Dia memang lagi sakit. Tadi waktu Ibu periksa, badannya panas sekali.”
Ratih : “Ah, Ibu ini selalu saja memanjakan dia. Kapan Ibu akan memanjakan aku?”
Ibu : “Ibu tidak pernah memanjakan dia. Kasih sayang yang ibu berikan terhadap kalian
sama.”
Ratih : “Bohong! Buktinya, waktu itu Ibu pernah berjanji akan membelikan aku HP. Tapi
sampai sekarang, mana?”
Ibu : “Bukannya Ibu tidak mau membelikan kamu HP, tapi uang Ibu kan belum cukup
untuk membelinya. Ibu sedang menabung. Mana pengeluaran kamu dan adikmu sangat banyak..
Apalagi kamu sebentar lagi wisuda. Sabar ya, Nak!”
Ratih : “Alah, sabar, sabar. Sampai kapan? Aku tahu, Ibu hanya pandai mencari alasan. Ibu
sebenarnya tidak menyayangiku. Jangan-jangan aku ini bukan anak Ibu.”
Ibu : (memberikan kue-kue dagangannya) “Jadi kamu tidak mau mengantarkan kue-kue
ini?”
Ratih : (mengambil toples itu, lalu menumpahkan isinya sehingga kue-kue dari dalam toples
itu berserakan di lantai).
Ratih : “Kenapa? Ibu tidak suka? Ibu ini pura-pura bego atahu memang bego? Masih saja
bertanya mau atahu tidak. Sudah jelas aku ini malas, Bu. Gengsi!”
Ibu : “Apa? gengsi? Apa kamu tidak sadar? Kamu bisa kuliah uangnya dari mana kalau
bukan dari berjualan kue? Kalau tidak mau tidak usah seperti ini. Ibu susah payah membuat kue
ini. Kamu tidak pernah sama sekali menghargai kerja keras Ibumu ini. Apa kamu tidak sadar?
Siapa yang ada di hadapan kamu ini? Aku ini Ibu kandungmu, Nak.”
Ratih : “Mau Ibu kandung, mau Ibu tiri, mau Ibu angkat, aku tidak peduli. Percuma aku
mempunyai seorang Ibu yang tidak sayang terhadap anaknya. Sekarang, Ibu ingin aku
menghargai kerja keras Ibu. Baik. (mengambil kue yang berserakan lalu melemparkannya ke
wajah Ibu) Sebagai bentuk penghargaanku terhadap kerja keras sang Ibu.” (tersenyum sinis).
Ibu : (menangis).
Seli : (keluar dari kamar sambil batuk-batuk) “Ada apa ini, Bu? (memungut kue-kue yang
berserakan).
Ratih : (mendorong Seli hingga terjatuh) “Heh, anak kecil, kamu tidak perlu ikut campur!”
Ibu : “Ratih, jangan kasar seperti itu! Kasihan adikmu, sedang sakit.”
Ratih : “Ah Ibu, lagi-lagi Seli, lagi-lagi Seli. selalu saja dia yang dibela. Sudahlah, Bu! Aku
mau kuliah.” (pergi sambil menendang pintu).
Seli : (memeluk Ibu) “Sudahlah, Bu! Jangan terlalu memikirkan Kakak! Sekarang biar aku
saja yang mengantarkan kue-kue ini.”
Ibu : (melepaskan pelukan seli) “Tidak usah, Nak! Kamu kan sedang sakit. Lagi pula, kue-
kue ini sudah terlanjur berserakan.”
Seli : “Kalau begitu, sekarang lebih baik Ibu istirahat. Ibu sudah terlalu lelah. Biar nanti aku
saja yang membereskan kue-kue ini. Mari Bu, aku antar ke kamar!” (mengantar Ibu ke
kamarnya).
Babak II
Hari semakin malam. Ratih tak kunjung pulang. Ibu sedang menunggunya di tengah rumah
bersama Seli.
Ibu : (mondar-mandir tampak cemas) “Sudah larut malam begini, kakakmu belum pulang
juga.”
Seli : “Aku juga heran, Bu. Penampilannya jadi urakan. Belum lagi sikapnya yang sering
marah-marah. Terus sekarang ini, dia mulai berani melawan Ibu.”
Ibu : “Ibu juga heran, kenapa dia terus memaksa Ibu untuk membelikan HP?”
Seli : “Sepengetahuanku, akhir-akhir ini dia sering bergaul dengan anak-anak berandal di
kampus. Mereka senang sekali berfoya-foya.”
Ibu : (kaget) “Apa? Sepertinya, Ibu yang salah. Ibu tidak bisa mendidiknya dengan baik.”
Ratih : (datang tanpa mengucapkan salam langsung pergi ke kamar namun Ibu cepat
mencegatnya).
Ibu : (menarik tangan Ratih) “Tunggu! Dari mana saja kamu? Sampai pulang larut malam
begini.”
Ratih : (melepaskan tangan Ibu dan membentak) “Ah, Ibu tidak perlu tahu. Bukankah, Ibu
sudah tidak sayang lagi terhadapku?”
Seli : (marah) “Kakak sudah berani ya, melawan Ibu? Sudah masuk tanpa permisi. Berani
pula membentak Ibu.”
Ratih : (membentak sambil menunjuk hidung Seli) “Heh, kamu tidak usah ikut campur!”
Ratih : (mengangkat telepon) “Halo, Sayang! Iya sebentar lagi aku ke sana. Tunggu di tempat
biasa ya! Dah, Sayang!”
Ibu : “Ratih, dari mana kamu mendapat uang untuk membeli HP?”
Ratih : “Ibu tak perlu tahu. Yang jelas ini bukan uang Ibu. Ibu tidak mampu kan untuk
membeli HP semahal ini? (menunjukan HPnya) Aku sudah bosan hidup miskin, Bu.”
Seli : “Kakak seharusnya bersyukur sudah bisa kuliah. Banyak orang-orang yang lebih
susah dari kita. Tidak usah menginginkan yang bukan-bukan!”
Ratih ; “Aku tidak butuh nasihatmu, anak kecil!” (memasukan HP ke dalam saku bajunya
lalu tidak sengaja jatuh sebungkus kecil serbuk putih).
Seli : (mengambil serbuk putih dari tangan Ibu) “Ini kan narkoba, Bu! Barang haram.”
Ratih : “Ibu tak usah banyak tanya. Yang jelas, (mengambil serbuk putih dari tangan Seli)
karena ini aku bisa membeli HP.”
Seli : “Tapi itu kan barang haram, Kak. Haram!”
Seli : (mengambil tangan Ratih lalu mendekatkannya ke pipinya) “Tampar saja, Kak! Ayo
tampar!”
Ratih : “O, rupanya Ibu keberatan anak kesayangannya ditampar. Apa Ibu juga mau aku
tampar?”(hampir menampar).
Ratih : “Sudah berapa kali aku katakan, jangan ikut campur urusanku!”
Ibu : “Ratih, apa kamu tidak sadar? Siapa yang membesarkanmu? Yang melahirkanmu
dengan nyawa sebagai taruhan? Apa kamu hendak membalas air susu dengan tuba?”
Ratih : “Ah, sudah, Bu! Kepalaku rasanya mau pecah kalau terus mendengar ocehan Ibu.
Sekarang Ibu tidak usah lagi memikirkanku! Pikirkan saja di mana Ibu akan dikuburkan? Ibu
sudah bau tanah. Dan ... sebentar lagi ibu pasti akan mati. Ha ... ha ... ha.”(tertawa).
Ibu : (menampar) “Kurang ajar! Dasar anak durhaka! Pergi kamu! Aku tak sudi lagi
melihatmu. Dan ..aku tidak rela air susuku mengalir ditubuhmu. Kau bukan anakku lagi!”
(menangis).
Seli : “Iya aku juga tak butuh lagi Kakak sepertimu.”
Ratih : “Baik, baik. Aku akan pergi. Lagi pula, aku juga tak butuh seorang Adik seperti kamu
apalagi seorang Ibu seperti kamu!” (mendorong ibunya hingga terjatuh lalu pergi).
Seli : (mengusap darah dari mulut Ibu) “Ibu! Darah Ibu semakin banyak. Ibu harus segera
ke dokter.”
Ibu : (kesakitan) “Sepertinya Ibu tidak akan lama lagi akan pergi. Maafkan Ibu ya, Nak!
Ibu tidak bisa merawatmu sampai nanti. Ibu masih mempunyai sedikit simpanan untuk
membiayai kuliahmu. Dan kalau bisa teruskanlah usaha Ibu menjual kue. Jaga dirimu baik-
baik!”
Seli : (terus menangis) “Ibu, jangan berbicara seperti itu! Ibu harus sembuh. Saya mohon!”
Ibu : (sekarat) “Asyhadu ... alla .. ila ... ha ... illallah. Waasy ... ha ... du ... anna ...
muhammadar .. rasu ... lullah!” (mati di pangkuan Seli).
Babak III
Pagi hari, Ibu sudah terbaring kaku di tengah rumah. Kain putih meliliti tubuhnya. Di atasnya
di tutupi oleh kain samping. Para tetangga mengaji mengelilingi jenazah Ibu. Lantunan ayat-
ayat suci bersahutan menyayat hati. Tiba-tiba Ratih datang dengan keadaan kaki yang terluka.
Suasana mendadak menjadi sepi.
Ratih : (berlari dengan kaki yang terluka menuju jenazah Ibu dan berteriak) “Ada apa ini?
Ibu! Ibu! Bangun!”
Seli : “Kenapa Kakak kembali lagi? Bukankah, sudah tidak butuh kami lagi? Sekarang
Kakak puas? Melihat Ibu seperti ini? Ini semua akibat Kakak. Tadi penyakit radang paru-paru
Ibu kambuh setelah Kakak pergi. Ibu sakit hati oleh Kakak. Ibu ... “
Ratih : (memotong pembicaraan) “Cukup! Ini semua memang salahku. Aku tadi tertabrak
mobil. Untung hanya kaki yang terluka. Mungkin ini hukuman bagiku. Aku menyesal dan tak
pernah menyangka akan seperti ini.” (menangis).
Seli : “Tak ada gunanya penyesalan di akhir. Sekarang Ibu sudah tak bernyawa lagi.”
Ratih : “Aku benar-benar menyesal. Tolong maafkan aku! Terimalah kembali aku sebagai
kakakmu!” (terus menangis).
Seli : “Mohonlah ampun kepada yang Maha Pengampun! Bertobatlah! semoga dosa-dosa
Kakak masih diampuni-Nya! Begitu juga dosa-dosaku. Baik. Aku mau menerimamu kembali
sebagai kakakku. Sekarang kita antarkan jenazah Ibunda kita ke tempat peristirahatannya yang
terakhir! Setelah itu, Kakak serahkan diri Kakak kepada pihak yang berwajib karena telah
terlibat narkoba!”
Ratih : “Baiklah, kakak akan lakukan semua itu. Maafkan Kakak, ya!” (memeluk Seli).
Akhirnya, Ratih harus menjalani hidupnya di penjara. Seli terus kuliah sambil meneruskan
usaha Ibunya berjualan kue. Sang Ibu telah meninggalkan mereka untuk selama-lamanya.
Penyesalan selalu ada di akhir.