Tanaman cabai termasuk tanaman semusim yang tergolong dalam suku
Solonaceae. Cabai memiliki banyak kandungan gizi dan vitamin, diantaranya
kalori, protein, lemak, karbohidrat, kalsium, vitamin A, B1 dan vitamin C. sari
cabai merupakan penguat semua organ tubuh termasuk jantung,
memperlancar peredaran darah serta dapat menambah kesuburan
(Suparman, 2006). Buah cabai dicirikan dengan bentuk buah yang panjang
dan ramping serta ujung buah lancip. Permukaan kulit buah cabai berkerut
dan cenderung mengeriting, dengan warna merah ketika buah masak. Daging
buah tipis dengan rasa pedas dan aroma yang menyengat. Daun berukuran
lebih kecil daripada cabai besar, dengan warna hijau sampai hijau tua.
Pertumbuhan tanaman mampu mencapai ketinggian 1,5 meter pada
penanaman ditanah (Cahyono, 2003).
Cabai keriting adalah salah satu jenis cabe yang sangat mudah dalam proses
penanamannya. Untuk mendapatkan hasil panen yang memuaskan pemilihan
bibit harus dilakukan dengan kualitas yang baik dan inggul. Cabe keriting
biasanya ditanam dengan lahan yang luas karena semakin besar lahan yang
ditanam keuntungan yang akan didapatkan juga semakin besar. Permintaan
cabe keriting semakin terus mengalami peningkatan. Cabe kriting biasanya
diproduksi untuk digunakan sebagai bahan pembuat saos sambal. Selain
diperlukan sebagai bahan produksi saos sambal kebutuhan cabe keriting juga
sering digunakan saat memasak. Berapa banyak cabe keriting yang
diperlukan dalam sehari? Bisinis restoran tentu membutuhkan cabe keriting
dalam jumlah yang sangat banyak apalagi kebutuhan cabe keriting dari setiap
wilayah yang berada di Indonesia. Selain cabe keriting sebenarnya banyak
variasi jenis cabe lainnya cabe keriting merupakan jenis cabe yang tidak
membutuhkan waktu lama dalam proses panennya. Proses panen cabe
keriting dapat dilakukan setiap seminggu sekali dengan hasil yang
memuaskan. Banyak masyarakat yang beranggapan jika budidya tanaman
cabe keriting sangat ribet dan membutuhkan waktu lama. Padahal tidak
demikian, proses penanaman cabe keriting sangat mudah dan hasil yang
diperoleh sangat menguntungkan. Dipasaran kebutuhan cabe keriting menjadi
salah satu jenis cabe yang masih diburuh oleh masyarakat secara luas.
Budidaya tanaman cabe keriting membutuhkan biaya yang tidak sedikit
namun jika harga cabe keriting saat waktu panen tiba dengan harga yang
tinggi, keuntungan yang diperoleh akan sangat menguntungkan. Untuk lebih
jelasnya dalam membudidayakan cabe keriting dibawah ini ada hitungan
analisa usaha yang perlu untuk diketahui.
RANCANGAN BIAYA PRODUKSI :
Perhitungan untuk luas penanaman 1 Ha (18.000 pohon) sebagai berikut :
1. Kebutuhan Tenaga Kerja / Persiapan Lahan
Sewa lahan = Rp 3.500.000
Pembersihan lahan = Rp 2.000.000
Pengguludan = Rp 3.0000
Pemasangan mulsa = Rp 75000
Penanaman = Rp 000
Total Persiapan Lahan (I) =
Rp10.000.000
2. Biaya pemeliharaan
Meliputi pemasangan ajir sampai siap panen, penyulaman, pengecoran,
pengikatan, penyemprotan dan perempelan daun yakni ;
3 orang x 100 HOK x Rp 90.000
Sub Total Biaya Pemeliharaan (II) = Rp 27.000.000
3. Biaya Saprodi
Benih 11 bungkus @10 gram x Rp 150.000 = Rp 650.000
Mulsa hitam perak 10 roll @ Rp 590.000 = Rp 900.000
Pupuk kandang 3000 kg x Rp 5000 = Rp 15.0000
Pupuk anorganik NP16-16 (mutiara biru) 200 kg x Rp 11.000 =Rp
2.200.000
Ajir 18.000 batang x Rp 500 = Rp 000.000
Bambu 20 batang x Rp 15.000 = Rp 000
Terpal uk 6x8 m @ Rp 300.00 x 2 lembar = Rp 6000
Pupuk organic MMC (Mosa Mandiri Corporation)
Mosa gold (POP) 50 botol @Rp 100.000 = Rp 5.00000
Agritec (PPC) 25 botol @Rp 40.000 = Rp 1.000.000
Hortech (ZPT) 25 botol Rp 100.000 = Rp 500.000
TOP BN (pestisida) 25 sachet @Rp 100.00 = Rp 500.000
Bio SPF (fungisida) 25 sachet @Rp 35.000 = Rp 000
Superglio (nematisida) 25 sachet @ Rp 40.000 = Rp 1.00000
Biaya Cadangan obat kimia = Rp 200.000
Total Biaya Saprodi (III) = Rp 48.725.000
Total Biaya Produksi (I + II + III) = Rp 85.725.000
Perkiraan keuntungan per panen :
Setiap tanaman menghasilkan 0,5 kg sampai 1,5 kg, jika rata-rata 1 tanaman
menghasilkan 0,5 kg cabe (hasil terendah ) maka prediksi panen 0,5 kg x
18.000 pohon = 9.000 kg atau 9 Ton. Dengan perkiraan harga jual minimal
Rp 20.000 maka hasil yang didapatkan adalah Rp 180.000.000.
1. Hasil laba = Total Produksi – Biaya Produksi
= Rp 180.000.000 –Rp 85.725.000
= Rp 94.275.000
2. Titik impas adalah keadaan dimana petani tidak rugi dan tidak untung :
Biaya Produksi / Total Produksi = Rp 85.725.000 /9.000 kg
= Rp 9.525