0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
105 tayangan14 halaman

Dasar Elektronika untuk Pemula

Dokumen tersebut membahas konsep dan komponen dasar elektronika. Terdapat dua jenis komponen utama yaitu komponen pasif seperti resistor, kapasitor, induktor dan transformator, serta komponen aktif seperti dioda dan transistor. Komponen penunjang seperti saklar, konektor dan relay juga dijelaskan. Rangkaian elektronika membutuhkan komponen-komponen tersebut untuk menjalankan fungsinya.

Diunggah oleh

Muhammad Fajri
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
105 tayangan14 halaman

Dasar Elektronika untuk Pemula

Dokumen tersebut membahas konsep dan komponen dasar elektronika. Terdapat dua jenis komponen utama yaitu komponen pasif seperti resistor, kapasitor, induktor dan transformator, serta komponen aktif seperti dioda dan transistor. Komponen penunjang seperti saklar, konektor dan relay juga dijelaskan. Rangkaian elektronika membutuhkan komponen-komponen tersebut untuk menjalankan fungsinya.

Diunggah oleh

Muhammad Fajri
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Minggu II

Konsep dan komponen dasar elektronika

1. Komponen Dasar Elektronika


1.1 Komponen Pasif
Komponen pasif ialah komponen-komponen elektronika yang tidak memerlukan tegangan
ataupun arus listrik agar dapat bekerja. Komponen pasif merupakan komponen-komponen
yang tidak dapat (dengan sendirinya) membangkitkan tegangan atau arus.

1.1.1 Resistor
Resistor adalah komponen elektronika yang didesain memiliki dua kutub dapat digunakan
untuk menahan arus listrik apabila di aliri tegangan listrik antara kedua kutub tersebut.
Resistor biasanya banyak digunakan sebagai bagian dari sirkuit elektronik. Tak cuma itu,
komponen yang satu ini juga yang paling sering digunakan di antara komponen lainnya.
Resistor adalah komponen yang terbuat dari bahan isolator yang didalamnya mengandung
nilai tertentu sesuai dengan nilai hambatan yang diinginkan.

Agar dapat menggunakan resistor dengan baik kita perlu mengetahui beberapa hal seperti
bahan pembuatnya, nilai resistansiya [dinyatakan dalam Ohm (Ω), kiloohm (kΩ), atau
megaohm (MΩ)], toleransi (dinyatakan sebagai penyimpangan  maksimum dan minimun
yang diizinkan dari nilai tertera).

Dr. Yulki i, S.Pd, M.Si Dr. Mona Berlian Sari, M.Si 1

fl

1.1.2 Kapasitor
Kapasitor adalah perangkat yang digunakan untuk menyimpan muatan listrik. Sebagai
akibatnya, kapasitor merupakan suatu penampang (reservoir) dimana muatan dapat disimpan
dan kemudian dilepaskan secara perlahan. 

1.1.3 Induktor
Sebenarnya setiap induktor dengan sembarang bentuk selalu mempunyai induktans, namun
umumnya harganya kecil, kecuali untuk perubahan arus dengan frekuensi yang cukup besar.
Suatu bentuk kawat yang sengaja dibuat agar mempunyai induktans relatif besar dinamakan
induktor, dan umumnya berupa kumparan kawat yang terdiri dari beberapa lilitan.

1.1.4 Transformator
Transformator merupakan suatu komponen pasif dengan 4 (empat) atau lebih ujung pada 2
(dua) bagian yang disebut bagian primer dan sekunder. Transformator digunakan untuk
mengubah tegangan bolak-balik pada primer menjadi tegangan bolak-balik pada sekunder,
dengan menggunakan prinsip uks magnetik. Tranformator juga digunakan untuk
transformasi impedansi.

Dr. Yulki i, S.Pd, M.Si Dr. Mona Berlian Sari, M.Si 2


fl

fl

1.2. Komponent Aktif


Komponen pasif adalah komponen-komponen di dalam rangkaian elektronik yang
mempunya penguatan atau mengarahkan arus listrik. Komponen aktif hanya dapat bekerja
jika diberi arus listrik/catu data dari luar.

1.2.1 Dioda semikonduktor


Dioda adalah salah satu komponen aktif yang dihasilkan oleh persambungan antara bahan
semikonduktor tipe –P dan tipe –N. Komponen ini memberikan resistansi yang sangat
rendah terhadap aliran arus pada satu arah dan resistansi yang sangat tinggi pada arah yang
berlawanan. Karakteristik ini memungkinkan dioda digunakan dalam aplikasi-aplikasi yang
menuntut rangkaian untuk memberikan tanggapan yang berbeda sesuai dengan arah arus
yang mengalir didalamnya.

1.2.2 Transistor
Transistor merupakan komponen yang sangat penting dalam dunia elektronik modern.
Dalam rangkaian analog, transistor digunakan dalam ampli er (penguat). Rangkaian analog
melingkupi pengeras suara, sumber listrik stabil (stabilisator) dan penguat sinyal radio. Dalam
rangkaian-rangkaian digital, transistor digunakan sebagai saklar berkecapatan tinggi.

Dr. Yulki i, S.Pd, M.Si Dr. Mona Berlian Sari, M.Si 3


fl

fi
Beberapa transistor juga dapat dirangkai sedemikian rupa sehingga berfungsi sebagai logic
gate, memori dan fungsi rangkaian-rangkaian lainnya. Transistor adalah alat semikonduktor 
yg memiliki tiga terminal (base, emitor, collector) yang dipakai sebagai 
• penguat, 
• sebagai sirkuit pemutus dan penyambung (switching), 
• stabilisasi tegangan, 
• modulasi sinyal ,dll

1.2.2 Rangkaian terpadu (Integrated Circuit/IC)


Rangkaian terpadu (integrated circuit) adalah rangkaian kompleks yang dibuat pada sebuah
irisan kecil silikon. Rangkaian terpadu dapat memuat 10 hingga lebih dari 100.000 perangkat
aktif (transistor dan dioda). Bahkan beberapa aplikasi khusus (seperti penguat level tinggi),
rangkaian terpadu telah menggantikan sebagian besar rangkaian diskrit konvensional. IC
(Integrated Circuit) adalah Komponen Elektronika Aktif yang terdiri dari gabungan ratusan
bahkan jutaan Transistor, Resistor dan komponen lainnya yang diintegrasi menjadi sebuah
Rangkaian Elektronika dalam sebuah kemasan kecil.

Rangkaian terpadu dibagi menjadi dua kelas umum, linier (analog) dan digital
(TTL,  Transistor, Transistor logic). Contoh tipikal dari rangkaian terpadu linier adalah
operasional Ampli er (Op-Amp). Sedangkan contoh tipikal dari rangkaian terpadu digital
adalah gerbang-gerbang logika. Sejumlah perangkat menjembatani jurang pemisah antara
dunia analog dan digital seperti cinverter analog -  digital (ADC), converter digital – analog
(DAC), dan pencacah waktu (timer).

• Bentuk IC (Integrated Circuit), yaitu berkaki 3 (tiga) hingga ratusan kaki (terminal). 
• Fungsi IC yaitu penguat, Switching, pengontrol hingga media penyimpanan. 
• Pada umumnya, IC adalah Komponen Elektronika dipergunakan sebagai Otak dalam
sebuah Peralatan Elektronika. 
• IC merupakan komponen Semi konduktor yang sangat sensitif terhadap ESD (Electro
Static Discharge).

Dr. Yulki i, S.Pd, M.Si Dr. Mona Berlian Sari, M.Si 4


fl

fi

1.3 Komponen penunjang


1.3.1 Saklar
Saklar adalah  Komponen yang digunakan untuk menghubungkan dan memutuskan aliran
listrik. Dalam Rangkaian Elektronika, Saklar sering digunakan sebagai ON/OFF dalam
peralatan Elektronika. Fungsi saklar adalah sebagai pemutus arus listrik.

13.2 Konektor
Konektor (Connector) dalam teknik elektronika adalah suatu komponen Elektro-Mekanikal
yang fungsinya untuk menghubungkan satu rangkaian elektronika ke rangkaian elektronika
lainnya ataupun untuk menghubungkan suatu perangkat dengan perangkat lainnya. Pada
umumnya, Konektor ini terdiri dari Konektor Plug (male) dan Konektor Socket (female).

1.3.3 Relay
Relay adalah Saklar (Switch) yang dioperasikan secara listrik dan merupakan komponen
Electromechanical (Elektromekanikal) yang terdiri dari 2 bagian utama yakni Elektromagnet
(Coil) dan Mekanikal (seperangkat Kontak Saklar/Switch). Relay menggunakan Prinsip
Elektromagnetik untuk menggerakkan Kontak Saklar sehingga dengan arus listrik yang kecil
(low power) dapat menghantarkan listrik yang bertegangan lebih tinggi. Sebagai contoh,
dengan Relay yang menggunakan Elektromagnet 5V dan 50 mA mampu menggerakan
Armature Relay (yang berfungsi sebagai saklarnya) untuk menghantarkan listrik 220V 2A.

Dr. Yulki i, S.Pd, M.Si Dr. Mona Berlian Sari, M.Si 5


fl

2. Konsep rangkaian elektronika


2.1. Besaran Listrik
2.1.1 Arus Listrik
Arus listrik data di defenisikan sebagai aliran muatan persatuan waktu. Besarnya arus listrik,
sebanding dengan jumlah elektron yang mengalir pada rentang waktu tertentu. Semakin
banyak elektron yang mengalir, semakin besar pula arus yang dihasilkan.Banyaknya elektron
dipengaruhi oleh beda potensial yang terpasang pada rangkaian, sehingga untuk
menghasilkan arus yang besar, diperlukan beda potensial yang besar. Arus liatris dirumuskan
sebagai berikut:
I = ΔQ /Δt
Keterangan:
I = arus listrik (A)
Q = muatan total (C)
t = waktu (s)

2.1.2 Tegangan Listrik

Gambar 2.1. Sumber Tegangan AC dan DC



Sumber tegangan listrik atau sumber potensial listrik merupakan komponen yang
penting dalam rangkaian listrik. Dengan adanya sumber tegangan listrik, maka akan muncul
beda potensial yang dapat menggerakkan elektron pada suatu rangkaian. Jika sumber
tegangan dihilangkan, maka tidak akan muncul listrik pada suatu rangkaian. Sumber
tegangan listrik memiliki beda potensial sehingga menggerakan pergerakan elektron pada
suatu rangkaian. Semakin besar beda potensial pada ujung-ujung sumber listrik, maka
semakin besar pula arts listrik yang dihasilkan ada suatu rangkaian. Persamaan tegangan
listrik, dituliskan sebagai berikur.
V = d W /dQ

Dr. Yulki i, S.Pd, M.Si Dr. Mona Berlian Sari, M.Si 6

fl

Keterangan:
V = potensial listrik
W= energy listrik (J)
Q = muatan listrik

Ditinjau dari arah pergerakan elektron, sumber tegangan listrik dibagi menjadi DC (direct
current) dan AC (alternating current).

2.1.2.1 Sumber tegangan DC

Gambar 2.2. Aliran elektron pada baterai

Sumber tegangan DC dapat dihasilkan dari baterai. Cara kerja baterai dimulai dari reaksi
kimia di dalam baterai yang mengakibatkan terjadi penumpukan elektron pada anoda
sehingga terjadi beda potensial antara dinoda dan katoda seperti pada Gambar 2.2. Akibat
perbedaan potensial tersebut, elektron mencoba untuk menuju ke kutub positif (katoda).
Karena adanya elektrolit menyebabkan elektron tidak dapat berpindah secara langsung ke
kutub katoda sehingga harus keluar menuju lintasan eksternal melalui konduktor (kabel).
Arah pergerakan elektron ini selalu searah. Sedangkan, arus listrik mengalir berlawanan arah
dengan gerak elektron (dari anoda ke katoda).

2.1.2.2 Sumber tegangan AC


Sumber tegangan AC menghasilkan pergerakan elektron dimana arah pergerakannya bolak-
balik. Dengan kata lain, sumber tegangan AC adalah generator dimana penggeraknya
berasal dari berbagai sumber, antara lain angin, air, dll. Berikut ilustrasi bagaimana sumber
tegangan AC dihasilkan dari induksi elektromagnetik dengan cara memutar kumparan di
dalam medan magnet tetap.

Dr. Yulki i, S.Pd, M.Si Dr. Mona Berlian Sari, M.Si 7

fl

Gambar 2.3. Ilustrasi Prinsip Kerja Sumber Tegangan AC

Gambar 2.3 menunjukan jika loop kawat berputar pada medan magnet, maka akan terjadi
perubahan uks atau jumlah garis-garis gaya magnet sehingga menghasilkan gaya gerak
listrik. Fluks dapat di defenisikan sebagai banyaknya garis medan yang menembus bidang.
Perubahan uks dapat ditulis sebagai berikut:
ϵ = − N(d ϕ /d t)
Keterangan:
ϵ = gaya gerak listrik (GGL) induksi (V)
(d ϕ /d t) = perubahan uks (Wb/s)

Sebagaimana persamaan diiatas, maka persamaan uks dapat ditulis sebagai berikut:
ϕ = BA cos (ωt)
Keterangan:
ϕ = uks magnetic
B = medan magnet (T)
A = luas penampang (m2)
ω = kecepatan sudut (rad/s)

Dr. Yulki i, S.Pd, M.Si Dr. Mona Berlian Sari, M.Si 8


fl
fl
fl
fl

fl

fl

Fluks magnetik dipengaruhi oleh medan magnet, luas penampang, dan sudut perputaran.
Dalam kehidupan sehari-hari, listrik AC data dihasilkan dengan memutar kumparan yang
ada di dalam medan magnet sehingga dihasilkan suatu GGL induksi.
ϵ = NBAω sin ωt
Berikut sumber tegangan AC dihasilkan akibat perubahan sudut antara kumparan dan
medan magnet. Jika dilihat dari hasil tegangan yang dihasilkan, ternyata nilai dapat berubah-
rubah dari positif ke negatif kemudian kembali ke positif dan seterusnya.

Gambar 2.4. Perubahan Nilai Tegangan Terhadap Sudut

2.2. Hukum Dasar Rangkaian Listrik


2.2.1 Hukum Ohm
Listrik dibangun dari tiga besaran utama, yaitu tegangan, arus, dan hambatan. Ketiganya
dihubungkan dalam hukum Ohm yang menyatakan bahwa arus listrik yang dihasilkan pada
suatu rangkaian tertutup sebanding dengan beda potensial dan hambatan pada bahan
konduktor yang bersifat konstan. Sehingga beda potensial setara dengan kuat arus (V ~ I).
Sumber tegangan listrik memiliki potensial positif (+) dan negative (-). Artinya terdapat
perbedaan potensial antarujung sumber potensial.

Dr. Yulki i, S.Pd, M.Si Dr. Mona Berlian Sari, M.Si 9


fl

Gambar 2.5. Rangkaian tertutup

Hukum Ohm Berasal dari salah satu hasil percobaan laboratorium yang dilakukan oleh
George Simon Ohm (1787-1854) adalah hubungan arus dan tegangan yang kemudian
dikenal dengan hukum Ohm. Hukum Ohm sendiri berbunyi, “Kuat arus yang mengalir
dalam suatu penghantar atau hambatan besarnya sebanding dengan beda potensial atau
tegangan antara ujung-ujung penghantar tersebut. Pernyataan itu bisa dituliskan sebagai
berikut yaitu I ∞ V.” Dimana I adalah arus listrik yang mengalir di dalam sebuah penghantar
dalam satuan ampere. Sementara V adalah tegangan listrik yang ada di kedua ujung
penghantar dalam satuan volt. Kemudian R adalah nilai hambatan listrik atau resistensi yang
ada di suatu penghantar dalam satuan Ohm.

2.2.2 Hukum Kirchoff


Gustav Robert  Kirchhoff merumuskan  Hukum Rangkaian, yang sekarang digunakan
pada  Rekayasa Listrik, pada  1845, saat dia masih berstatus mahasiswa. Hukum ini
merupakan hukum kekekalan muatan listrik yang menyatakan bahwa jumlah muatan listrik
yang mengalir tidaklah berubah. Jadi, pada suatu percabangan, laju muatan listrik yang
menuju titik cabang sama besarnya dengan laju muatan yang meninggalkan titik cabang itu.
Nah, di sika, laju muatan listrik adalah kuat arus listrik. Oleh karena itu, bunyi Hukum I
Kirchhoff lebih umum ditulis: 

Jumlah kuat arus listrik yang masuk ke suatu titik cabang akan sama dengan  jumlah
kuat arus listrik yang meninggalkan titik itu.

Hukum I Kirchhoff biasa disebut Hukum Arus Kirchhoff atau  Kirchhoff's Current
Law (KCL).

Hukum Kirchoff menyatakan bahwa jumlah arus yang memasuki percabangan/simpul sama
dengan jumlah arus yang meninggalkan percabangan tersebut (Hukum Kirchoff I) dan
Jumlah aljabar semua arus yang memasuki sebuah percabangan sama dengan nol (Hukum
Kirchoff II).

Dr. Yulki i, S.Pd, M.Si Dr. Mona Berlian Sari, M.Si 10


fi
fl

Σi = 0
Σ Arus masuk = Σ arus Keluar

Hukum Kirchoff II berlaku pada rangkaian yang tidak bercabang yang digunakan untuk
menganalisis beda potensial (tegangan) pada suatu rangkaian tertutup. Hukum II Kirchhoff
biasa disebut Hukum Tegangan Kirchhoff atau  Kirchhoff’s Voltage Law  (KVL). Bunyi
Hukum II Kirchhoff adalah:

Jumlah aljabar beda potensial (tegangan) pada suatu rangkaian tertutup adalah sama
dengan nol.

Versi lain Hukum II Kirchhoff, yaitu pada rangkaian tertutup, berbunyi: jumlah aljabar GGL
(ε) dan jumlah penurunan tegangan (IR) sama dengan nol. Secara matematis dapat
dirumuskan sebagai:  Σ ε+Σ IR  = 0. Hukum II Kirchhoff ini menjelaskan bahwa jumlah
penurunan beda potensial sama dengan nol artinya tidak ada energi listrik yang hilang dalam
rangkaian atau semua energi listrik diserap dan digunakan. 

Untuk menganalisis suatu rangkaian listrik menggunakan Hukum II Kirchhoff diperlukan


beberapa aturan atau perjanjian.

• Pilih loop untuk masing-masing lintasan tertutup dengan arah tertentu. Pada dasarnya
pemilihan arah loop bebas (searah jarum jam atau berlawanan arah jarum jam) namun jika
memungkinkan usahakan searah dengan arah arus.

• Pada suatu cabang, jika arah loop sama dengan arah arus maka penurunan tegangan (IR)
bertanda positif, jika berlawanan arah maka penurunan tegangan (IR)  bertanda negatif.
Kalo misalkan arah loop searah jarum jam terus arah arusnya juga searah jarum jam, maka
nanti penurunan tegangan (IR) positif karena sama-sama searah jarum jam.

• Jika saat mengikuti arah loop, kutub sumber tegangan yang lebih dulu dijumpai adalah
kutub positif maka GGL bertanda positif. Sebaliknya, jika kutub yang lebih dahulu
dijumpai adalah kutub negatif maka GGL bertanda negatif.

Dr. Yulki i, S.Pd, M.Si Dr. Mona Berlian Sari, M.Si 11


fl
3. Konsep sensor
Secara umum sensor didefinisikan sebagai piranti yang mengubah besaran-besaran
fisis (seperti: magnetik, radiasi, mekanik, dan termal) atau kimia menjadi besaran listrik
(Gerald 2008), seperti terlihat pada Gambar 3.1.

Gambar 3.1. Definisi sensor (Gerald 2008)

Kemampuan suatu sensor atau sistem sensor ditentukan oleh interaksi yang kuat dari tiga
komponen utama pembentuknya, seperti struktur sensor, teknologi manufaktur dan algoritma
pengolah sinyalnya. Perkembangan teknologi sensor juga dipengaruhi oleh perkembangan
dari ketiga bidang ini (Gambar 3.2).

Gambar 3.2. Tiga komponen utama pembentuk teknologi sensor (Traenlker 2001)

Dr. Yulki i, S.Pd, M.Si Dr. Mona Berlian Sari, M.Si 12


fl

Bagian inti suatu sistem sensor adalah elemen sensor. Bagian ini mengubah besaran
sika atau kimia yang diukur menjadi sinyal analog elektronik (Gambar 3.3). Sinyal analog
ini oleh unit pra pengolah sinyal diubah menjadi sinyal digital.

Gambar 3.3. Struktur dasar suatu sistem sensor (Traenlker 2001).

Dengan semakin murahnya piranti pengubah sinyal analog ke digital, sistem pengolah
sinyal semakin bergeser dari sistem level tinggi ke level sensor. Adanya fasilitas pengolahan
sinyal digital pada sensor berkontribusi pada peningkatan kemampuan sensor, misalnya untuk
mengatasi variasi keluaran sensor akibat proses fabrikasi yang dapat dilakukan dengan
mudah saat konfigurasi sensor. Untuk memudahkan integrasi antara sistem sensor dengan
sistem level yang lebih tinggi diperlukan suatu sistem antarmuka yang tepat. Sistem ini
dipenuhi oleh bus sensor.
Dalam perkembangan belakangan ini, sistem sensor dilengkapi dengan sistem tes
mandiri (selft test) dan sistem kalibrasi mandiri (self calibration) yang terintegrasi dalam
proses desain. Desain sensor semacam ini memberikan banyak keuntungan, antara lain
peningkatan kehandalan dan mereduksi biaya instalasi dan biaya pemeliharaan. Struktur
sensor dengan sistem tes mandiri dan kalibrasi mandiri berbeda dengan struktur sistem sensor
standar, karena disini diperlukan informasi tambahan tentang perilaku sensor (Gambar 3.4).
Secara umum, diperlukan informasi khusus tentang perilaku sensor dan batasan kemampuan
sensor (Traenlker 2001).

Dr. Yulki i, S.Pd, M.Si Dr. Mona Berlian Sari, M.Si 13


fi

fl

Gambar 3.4. Struktur sensor dengan tes mandiri dan kalibrasi mandiri (Traenlker 2001).

Keadaan sensor dapat dimonitor dengan membandingkan keluaran sensor dengan


nilai keluaran yang diprediksi berdasarkan hubungan yang telah diketahui sebelumnya.

Dr. Yulki i, S.Pd, M.Si Dr. Mona Berlian Sari, M.Si 14


fl

Anda mungkin juga menyukai