CONTOH 2
ANALISIS TIME SERIES
Analisis time series adalah perbandingan data-data keuangan dengan periode
sebelumnya (perbandingan dengan data historis). Berikut data historis Laporan
Keuangan Bank Syariah Mandiri dalam bentuk rasio dengan rentang waktu lima tahun
sejak 2009 hingga 2013 :
Rasio 2009 2010 2011 2012 2013
FDR 83,07% 82,66% 86,18% 94,41% 89,40%
ROE 18,18% 20,71% 17,93% 19,27% 13,39%
ROA 1,32% 1,29% 1,13% 1,49% 1,02%
BOPO 52,64% 57,56% 61,30% 59,57% 67,17%
CAR 12,47% 10,41% 14,75% 13,84% 14,40%
ATTM 34,06% 55,49% 44,12% 50,99% 52,91%
Analisis Time Series
FDR ROE ROA BOPO CAR ATTM
Rasio Likuiditas
Jika melihat grafik diatas, dapat dilihat bahwa FDR BSM selama tahun 2009-2013
mengalami pergerakan yang tidak signifikan. Rasio FDR tertinggi dicapai pada tahun
2012, yaitu sebesar 94,41%. Kenaikan ini bisa disebabkan karena BSM
melakukan ekspansi besar dalam melakukan penyaluran pembiayaannya.
Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas diwakili oleh ROA, ROE dan BOPO. Grafik ROA diatas menunjukkan
bahwa pada tahun 2010-2012, BSM mampu meningkatkan laba bersih dari total asset yang
dimiliki. Dalam hal ini rasio ROA yang tinggi menunjukkan efisiensi manajemen aset
yang berarti pula efesiensi manajemen. Namun pada tahun 2013, BSM mengalami
penurunan. BSM turun cukup besar dari angka 1,49% menjadi 1,02%. Penyebab penurunan
ROA ini dapat dilihat dari adanya penurunan laba pada tahun tersebut di laporan laba
rugi. Terlihat bahwa meskipun pendapatan usaha relatif stabil namun komponen biaya
mengalami kenaikan, terutama biaya penyisihan penghapusan aktiva produktif.
ROE BSM dari tahun mengalami fluktuasi, akan tetapi jika didasarkan pada ROE tahun 2010
maka BSM mengalami trend penurunan rasio ini.
Grafik BOPO BSM juga mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun, namun jika dilihat
dari posisi BOPO dari tahun 2010 dan tahun 2013, BSM cenderung mengalami
penurunan efesiensi manajemen operasional hal ini terlihat dari meningkatnya
rasio BOPO.
Rasio Permodalan
Rasio CAR BSM mengalami perubahan dari waktu ke waktu, dengan posisi terendah
pada tahun 2010 dan posisi tertinggi pada tahun 2011. Kenaikan atau penurunan rasio
CAR ini dapat dimungkinkan karena adanya perubahan komposisi modal dan
aktiva yang dimilki BSM.
Rasio Aktiva tetap Terhadap Modal BSM mengalami fluktuasi pada periode 2009-
2013. Namun BSM masih mampu menstabilkan fluktuasi dalam rentang 34% hingga
55%. Rasio ATTM yang semakin tinggi menandakan bahwa bank terlalu besar
melakukan investasi pada aktiva tetap, sebaiknya rasio ini dijaga pada kisaran
50%. Hal ini mengingat bahwa perbankan dianggap mampu menjadi lembaga
intermediary apabila telah melakukan fungsi penyaluran dana yang
didapatkannya. Yang berarti bank seharusnya memiliki komposisi aktiva
produktif yang lebih besar.