0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
99 tayangan5 halaman

Tragedi Bom Sarinah 2016

Tragedi Bom Sarinah merupakan serangan terorisme yang menewaskan 8 orang dan melukai 25 orang di Jakarta pada 2016. Serangan ini menimbulkan kerusakan fisik dan psikologis serta meningkatkan ancaman terorisme di Indonesia. Ideologi teroris didasarkan pada penyimpangan terhadap ideologi Pancasila Indonesia.

Diunggah oleh

Andani Dwi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
99 tayangan5 halaman

Tragedi Bom Sarinah 2016

Tragedi Bom Sarinah merupakan serangan terorisme yang menewaskan 8 orang dan melukai 25 orang di Jakarta pada 2016. Serangan ini menimbulkan kerusakan fisik dan psikologis serta meningkatkan ancaman terorisme di Indonesia. Ideologi teroris didasarkan pada penyimpangan terhadap ideologi Pancasila Indonesia.

Diunggah oleh

Andani Dwi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TRAGEDI BOM SARINAH

SERANGAN TERORISME DAN IDEOLOGI DI JAKARTA TAHUN 2016

Sumber : National Tempo Journalis

Andani Dwi Wardani, 21040284014


Prodi Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Surabaya

I. LATAR BELAKANG
Negara tidak dapat lepas dari tindakan-tindakan melanggar hukum baik secara pidana maupun
perdata. Namun yang menjadi keresahan masyarakat adalah maraknya tindakan pidana. Tindakan yang
dapat mengganggu kepentingan orang lain in dapat terjadi kapan saja dan dimana saja.
Bahkan tindakan in dapat menghilangkan nyawa orang lain dan mengancamstabilitas Negara. Beberapa
tahun terakhir, Indonesia dikejutkan dengan maraknya kasus bom yang terjadi di restoran, hotel, bahkan
kedutaan besar pun tak luput dari serangan bom. Hal ini dikategorikan sebagai kasus pidana terorisme
dan mulai meniadi trademark bag Indonesia dengan sebutan sebagai Negara teroris.
Dengan berkedok untuk menegakan agama terror demi terror teriadi dan menimbulkan keresahan, salah
satunya Tragedi Bom di Sarina dan penembakan oleh teroris yang baru-baru saja terjadi pada 14 Januari
2016 di Jakarta. Peristiwa tersebut teriadi di sekitaran tempat parkir Menara Cakrawala gedung sebelah
utara Sarinah dan sebuah pos polisi. Setidaknya terdapat 25 korban luka dan 8 orang yang tewas.
II. PEMBAHASAN

A. Tragedi Bom Sarinah


Tragedi Bom Sarinah merupakan peristiwa yang menyertakan 6 ledakan, dan juga penembakan di
daerah sekitar Plaza Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Indonesia pada tanggal
14 Januari 2016. Ledakan terjadi di dua tempat, yakni daerah tempat parkir Menara Cakrawala, gedung
sebelah utara Sarinah, dan sebuah pos polisi di dean gedung tersebut. Sekitar 8 orang (4 pelaku dan 4
warga sipil) dilaporkan tewas dan 24 lainnya luka-luka akibat serangan ini. 7 orang terlibat sebagai
pelaku penyerangan, dan organisasi Negara Islam Irak dan Syam mengklaim bertanggung jawab
sebagai pelaku penyerangan.

B. Kronologi Menurut Saksi Mata Terjadinya Bom Sarinah


Menurut Yanuar (36) pengeboman terjadi sekitar pukul 10 pagi waktu setempat, sejumlah
pengebom meledakkan bom di dekat pusat perbelanjaan Sarinah di pusat Jakarta. Pengeboman ini
mengakibatkan kerusakan bangunan dan kendaraan di sekitar area tersebut.
Menurut Yadi (40) Serangan Bersenjata: Setelah pengeboman, penyerang bersenjata mulai
menyerang orang-orang yang berada di sekitar Sarinah dan melarikan diri ke beberapa tempat di
sekitarnya. Mereka menembaki orang-orang dan melukai beberapa orang yang berusaha melarikan diri.
Pasukan kepolisian dan aparat keamanan segera merespons serangan ini. Mereka mengevakuasi warga
sipil dari area berbahaya dan melancarkan pengejaran terhadap para penyerang.
Pasukan polisi tiba mengepung lokasi dan membatasi dengan garis polisi. Daerah yang dikepung
di antaranya meliputi Gedung Jaya, Starbucks, Djakarta Theater, Menara Cakrawala. Lalu, suara
ledakan beberapa kali terdengar dari arah Starbucks, Djakarta Theater dan Menara Cakrawala hingga
enam kali. Polisi lalu mengepung dan memburu pelaku. Dari pantauan di lokasi, sekitar pukul 12.00
ledakan ketujuh terdengar. Setengah jam kemudian ledakan kedelapan terdengar dari seputar Starbucks
dan Menara Cakrawala. Polisi menggunakan drone untuk memantau Menara Cakrawala yang diduga
digunakan pelaku untuk mengintai. Sekitar pukul 13.00, polisi membersihkan lokasi dari massa yang
menonton pengepungan. Di belakang Gedung Jaya, sebuah mobil dengan nomor polisi B 2173 PZ
terparkir mencurigkan.Polisi menjauhkan massa penonton dari mobil warna perak itu. Tim penjinak
bom memeriksa mobil dan ternyata tak ada hal yang membahayakan.
Polisi segera membawa pergi mobil warna perak itu. Sekitar pukul 13.40, pengepungan sclesai.
Tapi polisi masih mengamankan seputar lokasi kejadian. Menurut Divisi Humas Polri, lewat akun
Facebook-nya menyebut, pelaku total ada 7 orang, 3 tertembak mati dan 4 dilumpuhkan dan ditangkap.
Korban tewas, sementara in mencapai enam orang. Jasad korban tewas dibawa ke RS Polri Kramat Jati,
Jakarta Timur.
C. Dampak Tragedi Bom Sarinah
Akibat terjadinya serangan di persimpangan Sarinah, Starbucks menutup seluruh gerainya yang
berada di Jakarta tidak hanya Starbucks yang menutup gerainya namun sejumlah pusat perbelanjaan
juga pun harus ditutup bahkan pusat perbelanjaan di Tanggerang pun harus di jaga ketat . Selain itu,
nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika sempat anilok akibat peristiwa ini. Pengamanan kawasan
vital di seluruh Jakarta ditingkatkan setelah peristiwa ini, seperti Gedung DPR/MPR dan gedung Balai
Kota Provinsi DKI Jakarta. Pengamanan di provinsi lain di Indonesia seperti Jawa Barat, Jawa Timur,
dan Bali, turut ditingkatkan.

D. Tindakan Terorisme
Istilah terorisme pada awalnya digunakan untuk menunjuk suatu mush dari sengketa teritorial atau
kultural melawan ideologi tau agama yang melakukan aksi kekerasan terhadap publik. Istilah terorisme
dan teroris sekarang in memiliki arti politis dan sering digunakan untuk mempolarisasi efek yang mana
terorisme tadinya hanya untuk istilah kekerasan yang dilakukan oleh pihak musuh, dari sudut pandang
yang diserang. Polarisasi tersebut terbentuk dikarenakan ada relativitas makna terorisme yang mana
menurut Wiliam D Purdue ( 1989 ), "The use word terorism is one method of delegitimation often use
by side that has the military advantage".
Sedangkan teroris merupakan individu yang secara personal terlibat dalam aksi terorisme.
Penggunaan istilah teroris meluas dari warga yang tidak puas sampai pada non komformis politik. Aksi
terorisme dapat dilakukan ole individu, sekelompok orang atau negara sebagai alternatif dari rnyataan
perang secara terbuka. Negara yang mendukung kekerasan terhadap penduduk sipil menggunan istilah
positif untuk kombatan mereka, misalnya antara lain paramiliter, pejuang kebebasan atau patriot.
Kekerasan yang dilakukan oleh kombatan negara, bagaimanapun lebih diterima daripada yang
dilakukan oleh " teroris " yang mana tidak mematuhi hukum perang dan karenanya tidak dapat
dibenarkan melakukan kekerasan. Negara yang terlibat dalam peperangan juga sering melakukan
kekerasan terhadap penduduk sipil dan tidak diberi label sebagai teroris. Meski kemudian muncul istilah
State Terorism, namun mayoritas membedakan antara kekerasan yang dilakukan oleh negara dengan
terorisme, hanyalah sebatas bahwa aksi terorisme dilakukan secara acak, tidak mengenal kompromi,
korban bisa saja militer atau sipil, pria, wanita, tua, muda bahkan anak-anak, kaya miskin, siapapun
dapat diserang.

E. Hubungan Terorisme dengan Bom Sarinah


Terorisme sebagai respon aksi terror bom Sarinah terus mendapatkan pro dan kontra dari
masyarakat. Peneliti Hukum Konstitusi dari Asosiasi Sarjana Hukum Tata Negara (ASHTN) Indonesia,
Mei Susanto mengingatkan agar pemerintah tidak terkesan memanfaatkan tragedi bom Sarinah sebagai
pemantik disegerakannya revisi UU Terorisme ini. Beberapa hari setelah ledakan bom Sarinah, para
pimpinan Lembaga Negara termasuk Presiden Jokowi langsung menyepakati revisi ini. Diakui dia,
ancaman terorisme bagi masyarakat dan negara memang nyata bukan imajinasi kosong belaka. Bahkan
beberapa negara maju seperti Amerika, Prancis dan Turkipun turut menjadi korban terorisme itu.
Namun bukan berarti dengan tragedi bom ini terkesan ada sikap reaktif seperti ingin segera proses revisi
UU No 15 Tahun 2003.
F. Hubungan Ideologi Dangan Bom Sarinah
Terorisme di Indonesia tumbuh subur karena didukung oleh perilaku sebagian masyarakat
yang bertentangan dengan filosofi Pancasila. Setiap sila telah diselewengkan: Ketuhanan Yang Maha
Esa yang memberikan kebebasan kepada setiap orang untuk memeluk agama menurut keyakinan dan
kepercayaannya, telah diracuni oleh pemikiran-pemikiran salah yang hanya mengistimewakan agama
tertentu saja. Salah satunya adalah Tragedi Bom Sarinah, peristiwa teroris ini terjadi karena adanya
penyimpangan ideologi pancasila karena kurang pemahaman akan ideologi pancasila tu sendiri
sehingga membuat para teroris melakukan penyimpangan ini.
Ideologi Pancasila menjunjung tinggi persatuan bangsa dengan menempatkan terwujudnya
persatuan bangsa itu di atas kepentingan pribadi, kelompok, atau golongan. Kerakyatan yang dipimpin
oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, kini tercabik-cabik ditarik ke sana
kemari demi kepentingan politik praktis. Serta, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, tinggal
slogan kosong karena adanya jurang pemisah yang amat dalam antara si-kaya dan si-miskin, yang
menimbulkan kecemburuan sosial.
Lantas mengapa terorisme mash tetap berlanjut di Indonesia seperti Tragedi Bom Sarinah,
padahal Indonesia memiliki Pancasila sebagai ideologi kehadiran terorisme seakan menggerus ideologi
Pancasila yang selama ini dijadikan landasan hidup bagi masyarakat Indonesia dalam berbangsa dan
bernegara. Sumber pokok kesalahan tidak terletak pada Pancasila. Tak ada yang salah dengan Pancasila
karena isi Pancasila tidak melenceng dari nilai-nilai yang ada. Kesalahan yang sesungguhnya terletak
pada penerapan Pancasila sebagai ideologi. Hal itu terjadi karena banyakya orang Indonesia tidak dapat
menerapkan nilai-nilai Pancasila dengan benar. Terlebih para teroris, mereka adalah orang-orang yang
tidak konsisten dalam melaksanakan isi pancasila. Mereka mengerti dan memahami Pancasila namun
tidak menerapkannya dalam kehidupan mereka.
III. KESIMPULAN

Kesimpulan yang didapat dari kepenulisan ini yakni kejadian bom di Sarinah, Jakarta pada
tahun 2016 adalah bahwa itu merupakan serangan teroris yang menyebabkan kerusakan fisik,
kehilangan nyawa, dan dampak psikologis yang signifikan. Serangan ini menggarisbawahi ancaman
terorisme di Indonesia dan pentingnya kerjasama internasional dalam melawan terorisme.
Terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan
teror terhadap sekelompok masyarakat. Tragedi Sarinah terjadi pada tanggal 11 Januari 2016,
menimbulkan banyak korban jiwa dan dampak akan keadaan negara. Pancasila sebagai ideologi bangsa
yang dapat menjadi filter bagi masuknya berbagai ancaman dari luar dirasa kurang berhasil. Hal itu
dikarenakan kurangnya penerapan nilai-nilai dalam pancasila.

IV. DAFTAR PUSTAKA

Humas Sekretariat Kabinet Indonesia. (2016). Inilah Penjelasan Kapolda Metro Jaya Soal
Aksi Bom Bunuh Diri di Kawasan Sarinah, Jakarta.
NEWS, B. (2016). Polri: Korban ledakan di Sarinah 7 tewas, 5 adalah pelaku.
Wulandari, F. (2017). TRAGEDI SARINAH DALAM PEMBERITAAN MAJALH TEMPO.

Anda mungkin juga menyukai