Pendidikan Karakter: Nilai dan Tantangan
Pendidikan Karakter: Nilai dan Tantangan
PENDIDIKAN KARAKTER
“Nilai dan Karakter dalam Pendidikan”
Dosen Pengampu:
Dr. Rianawati, S.Ag., M.Ag.
Ustad Tri Wibowo, M.Pd.
Disusun oleh:
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan
rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah Pendidikan Karakter. Shalawat beserta salam kita haturkan kepada Nabi
Muhammad SAW yang telah membawa umat manusia dari zaman jahiliah menuju
zaman yang penuh dengan ilmu pengetahuan seperti yang dapat kita rasakan saat ini.
Makalah ini kami buat untuk membahas tentang “Nilai dan Karakter dalam
Pendidikan” untuk memenuhi tugas mata kuliah yang diampu oleh Ibu Dr.
Rianawati, S.Ag., M.Ag. dan Bapak Ustad Tri Wibowo, M.Pd.
Kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam pembuatan makalah ini,
untuk itu kami berharap pembaca dapat memberikan kritik dan saran yang sifatnya
membangun demi kesempurnaan makalah ini di masa yang akan datang.
Kelompok 8
ii
DAFTAR ISI
A. Kesimpulan ...............................................................................................21
B. Saran..........................................................................................................22
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu sistem terstruktur yang bertanggung jawab atas
misi yang luas, mencakup segala aspek yang terkait dengan perkembangan fisik,
kesehatan, keterampilan, pikiran, perasaan, kemauan, serta dimensi sosial,
termasuk masalah kepercayaan atau keimanan. Ini menggambarkan bahwa lembaga
pendidikan formal, seperti sekolah, memiliki tanggung jawab yang signifikan
dalam melaksanakan misi pendidikan tersebut. Terutama mengingat era saat ini
yang mengalami perubahan cepat, yang sangat berpengaruh pada anak didik dalam
hal berpikir, bersikap, dan berperilaku. Hal ini menjadi lebih penting, khususnya
bagi mereka yang sedang mengalami tahap perkembangan dan transisi mencari
identitas diri.
Dalam konteks pendidikan karakter, Indonesia membutuhkan sumber daya
manusia yang besar dan berkualitas untuk mendukung pelaksanaan program
pembangunan secara efektif. Pendidikan berkualitas menjadi kunci untuk mencapai
cita-cita bangsa dalam memiliki sumber daya manusia yang bermutu. Ketika
membahas karakteristik individu yang berkualitas dan hubungannya dengan
pendidikan, penilaian awal seringkali dilakukan berdasarkan prestasi akademis, di
mana kualitas diukur melalui pencapaian angka-angka. Oleh karena itu, tidak
mengherankan jika beberapa lembaga pendidikan kadang-kadang melakukan
tindakan tidak jujur dan manipulatif demi mencapai target yang telah ditetapkan.
Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 tentang Sistem Pendidikan
Nasional Pasal 3, yang menyatakan bahwa pendidikan nasional bertugas
mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa
yang bermartabat, dengan tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan
nasional bertujuan agar potensi peserta didik dapat berkembang, menjadikan
mereka manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara
yang demokratis serta bertanggung jawab.
1
Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, terlihat bahwa
pendidikan di setiap tingkat, termasuk Sekolah Menengah Pertama (SMP), harus
diatur secara terstruktur untuk mencapai sasaran tersebut. Ini terkait dengan
pembentukan karakter peserta didik, agar mereka dapat bersaing, beretika,
bermoral, sopan santun, dan berinteraksi secara baik dengan masyarakat. Ternyata,
keberhasilan seseorang tidak hanya bergantung pada pengetahuan dan keterampilan
teknis (hard skill) semata, tetapi lebih pada kemampuan mengelola diri dan
hubungan dengan orang lain (soft skill). Penelitian ini menunjukkan bahwa sekitar
20% keberhasilan seseorang ditentukan oleh hard skill dan sisanya, sekitar 80%,
dipengaruhi oleh soft skill. Fakta ini menandakan bahwa kesuksesan orang-orang
terkemuka di dunia lebih banyak terkait dengan kemampuan soft skill daripada hard
skill. Oleh karena itu, peningkatan mutu pendidikan karakter peserta didik menjadi
sangat penting.
Pendidikan yang sangat diperlukan saat ini adalah pendidikan yang mampu
menggabungkan pendidikan karakter dengan pendidikan yang dapat
mengoptimalkan pertumbuhan semua aspek anak, termasuk kognitif, fisik, sosial-
emosional, kreativitas, dan spiritual. Model pendidikan seperti ini bertujuan untuk
membentuk anak sebagai individu yang lengkap. Keunggulan anak didik tidak
hanya terletak pada aspek kognitif, tetapi juga pada karakter mereka. Anak yang
memiliki karakter unggul akan mampu mengatasi berbagai tantangan dalam hidup
dan menjadi pembelajar sepanjang hayat. Saat menentukan metode pembelajaran,
hal utama adalah menentukan perubahan apa yang diinginkan pada karakter anak
setelah mengikuti pembelajaran tersebut. Jika kita ingin mewujudkan karakter
tersebut dalam kehidupan sehari-hari, maka penting bagi kita untuk melibatkan
pendidik yang berhasil dalam mengajar dan membentuk karakter anak.
B. Rumusan Masalah
2
C. Tujuan
3
BAB II
PEMBAHASAN
4
proses pembelajaran karena dapat menunjang aspek kognitif peserta didik di
sekolah maupun diluar sekolah. Aspek afektif yaitu pembentukan suatu karakter
yang seseorang dalam dirinya, yang mencakup tentang sikap, motivasi dan
berpartisipasi.
Sedangkan Aspek psikomotorik yaitu lebih fokus terhadap kegiatan
motorik siswa dalam satu tingkat secara efektif dan efisien. Setiap apa saja yang
dilakukan oleh guru atau diberikan oleh guru maka siswa perlu memahami apa yang
di sampaikan dan kemudian menerapkannya. Karakter merupakan cara berpikir dan
prilaku dari masing-masing individu serta memiliki ciri khas tersendiri dan
berbeda-beda bagi setiap individu. Karakter yang baik adalah karakter yang sesuai
dengan nilai-nilai moral dan agama serta bisa membuat keputusan dan
mempertanggung jawabkan keputusan tersebut. Suatu karakter dinyatakan baik
apabila sesorang mencakup pengertian, peduli terhadap sesama, bertindak sesuai
dengan nilai etika, dan memiliki aspek kognitif, emosional dan prilaku dari
kehidupan moral. Sesorang yang mempunyai karakter baik berarti dapat
mempertanggung jawabkan keputusannya. Dalam karakter siswa terdapat banyak
perbedaan antara masing-masing siswa. Mereka memiliki banyak karakter yang
berbeda.
Sedangkan pendidikan karakter yaitu pendidikan yang menanamkan nilai-
nilai karakter kepada seluruh warga sekolah yang mempunyai komponen
pengetahuan, serta memiliki kesadaran atau kemauan untuk melaksanakan nilai-
nilai baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri dan lingkungan yang di
sekitar. Dalam pendidikan karakter tidak hanya pengetahuan yang dimiliki peserta
didik saja, akan tetapi juga kepribadian vang dimiliki oleh siswa. Disini lah peran
guru ikut serta dalam mendidik anak dan membangun karakter yang dimiliki oleh
siswa. Guru juga membangun mewujudkan pembelajaran dan sikap-sikap yang
baik sesuai dengan yang diharapkan oleh guru dan orang tua.
Adapun ayat Al-Qur’an menjelaskan:
5
Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat
kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan)
perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran
kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (Q.S. Al-Nahl:90)
6
4. Dalam kegiatan belajar di kelas guru memberikan tanggung jawab terhadap
siswanya yaitu dengan memberikan tugas kepada masing-masing siswa.
Supaya mereka bisa belajar bagaimana memilik tanggung jawab yang harus
dikerjakan dan di selesaikan. Selain itu siswa juga mampu bertanggung jawab
memacahkan suatu masalah yang guru berikan.
5. Peran guru juga terlibat saat murid berada di luar kelas, guru juga harus
memberikan nasihat supaya bisa menghargai dan berprilaku sopan dan santun
kepada seluruh warga yang yang di sekolah.
6. Guru juga wajib memberitahukan kepada siswa agar bisa mentaati peraturan
yang di tetapkan di sekolah dan dilarang melanggarnya, apabila ada yang
melanggar guru wajib memberikan sanksi atau teguran kepada yang
melanggar peraturan, hal ini dilakukan supaya bisa menanamkan nilai-nilai
karakter kepada siswa dan mereka mampu bertanggung jawab kepada
perlakukan yang mereka buat. Selain itu, guru juga mendisiplinkan anak
supaya anak bisa menjadi patuh terhadap peraturan di luar sekolah yaitu
dalam keluarga dan di lingkungan masyarakat sesuai dengan norma yang
berlaku di masyarakat.
Sebagai pelaku utama di sekolah, guru memiliki peran yang sangat penting
dalam pengembangan karakter peserta didik di sekolah. Dengan demikian guru
dituntut untuk memiliki kepribadian yang professional, hal ini dikarenakan sosok
guru menjadi tauladan baik bagi peserta didik dimana ia ditiru dan menjadi sumber
inspirasi dan motivasi. Saat seorang guru bersikap dan prilaku sangat berpengaruh
terhadap siswa. Sehingga saat mengucapkan sesuatu guru harus lebih berhati-hati,
karena akan mempengaruhi karakter dalam diri siswa.
Prilaku dan sikap seorang guru merupakan panutan bagi siswa. Seorang
guru memiliki kewajiban dalam mewujudkan generasi yang berkepribadian,
berbudaya, dan berakhlak baik. Supaya bisa mendapatkan siswa sesuai dengan yang
diharapkan. Guru merupakan seorang pendidik yang menjadi panutan bagi siswa-
siswinya, sehingga seorang guru mampu berprilaku yang sopan santun, dan
bijaksana dalam menyelesaikan masalah. Dalam suatu kegiatan pembelajaran,
7
teladan merupakan sifat awal yang mendasar. Ketika guru tidak dapat melakukan
secara membangun maka proses pembelajaran tidak akan efektif.
Dengan demikian, peran guru sangatlah penting dalam mendidik dan
membimbing peserta didik sehingga memiliki karakter yang baik. Guru harus
memiliki kepribadian yang baik, hal ini dikarenakan sosok guru merupakan contoh
teladan yang bisa di tiru siswa. Peranan guru di dalam suatu kelas harus bisa
menanamkan nilai-nilai karakter yang paling utama dan sikap menghargai sesama
di lingkungan sekolah dan masyarakat. Sebagai seorang guru yang menjadi panutan
bagi peserta didik, maka guru harus bisa menjadi contoh yang baik terhadap siswa.
Misalnya dengan mentaati peraturan yang ada di sekolah yaitu dengan datang tepat
waktu dan ikut serta dalam menjaga kebersihan lingkungan sekolah.
Guru mampu berprilaku dan dan bersikap yang baik terhadap sesama
warga di sekolah. Dengan demikian guru akan menjadi panutan yang baik yang bisa
di tiru oleh siswa. Dalam proses pembelajaran guru mengembangkan kemampuan
tingkat belajar siswa yang merupakan tujuan utama dari seorang pendidik, dengan
demikian dapat membantu siswa untuk mencapai dan memperoleh hasil yang
diharapkan. Dalam kegiatan ini guru melakukan pendekatan terhadap siswa, yaitu
dengan mengenali tingkah laku dan kepribadian dari siswa sehingga guru lebih
mendalami karakter-karekter terhadap siswa-siswanya pastinya berbeda-beda.
Karakter yang perlu ditingkatkan pada siswa yaitu kedisiplinan dan sikap yang
religius. Sikap disiplin yaitu harus ditanamkan dari usia dini, supaya siswa dapat
mentaati peraturan tata tertib di lingkungan manapun mereka berada.
Sikap yang religius juga harus ditanamkan sejak usia dini dimana siswa
diajarkan untuk selalu senantiasa beribadah sesuai dengan agama yang dianutnya.
Sikap religius sangat perlu ditingkatkan sejak usia dini. Dalam proses pembelajaran
guru hendaknya merancang model pembelajaran yang mampu membuat siswa
terlibat langsung dalam kegiatan proses pembelajaran. Misalnya di dalam
pembelajaran guru mengajar siswa untuk melakukan observasi langsung di kuar
kelas. Dengan demikian, siswa akan tertarik dengan pembelajaran yang
berlangsung dan tidak merasa bosan. Sehingga membuat anak merasa senang
engikuti pembelajaran dan dapat diterima oleh semua siswa.
8
Sebagai seorang guru wajib memberikan suatu nasehat kepada siswa-
siswa supaya siswa memiliki sifat sopan, mentaati aturan yang berlaku di sekolah.
Tidak hanya memberikan suatu nasehat guru juga memberikan hukuman bagi siswa
yang melanggar peraturan yang ada di sekolah. Tidak hanya itu saja guru juga harus
bisa memberikan solusi-solusi yang baik kepada siswanya. Guru juga harus
memberikan dukungan terhadap siswa supaya mereka memiliki semangat dalam
belajar. Selain itu siswa dapat mengikuti peraturan-peraturan yang ada di sekolah.
Menjadi seorang guru tidaklah mudah guru harus bisa membuat siswa memiliki
nilai-nilai karakter yang bisa membuat siswa menjadi teladan dan bisa menanamkan
nilai-nilai karakter yang bisa di harapkan oleh seorang guru.
Pendidikan karakter merupakan pembelajaran yang memberikan nilai-
nilai karakter terhadap seluruh warga di sekolah. Disinilah Peran guru sangatlah
penting dalam pendidikan karakter siswa. Menjadi seorang guru tidaklah mudah,
seorang guru tidak hanya mampu mentransfer ilmu saja kepada siswanya, akan
tetapi guru harus memiliki tiga aspek yaitu aspek kognitif, aspek psikomotorik,
aspek afektif. Selain itu guru juga harus harus memiliki kepribadian yang baik, hal
ini dikarenakan sosok guru merupakan contoh teladan yang bisa di tiru siswa.
Sebagai pendidik guru mampu memiliki peran untuk memberikan
dukungan atau motivasi kepada siswa untuk terus belajar supaya karakter yang
terdapat dalam diri siswa dapat terbentuk dan bisa berkembang sesuai harapan guru.
Guru mampu berprilaku dan dan bersikap yang baik terhadap sesama warga di
sekolah. Dengan demikian guru akan menjadi panutan yang baik yang bisa di tiru
oleh siswa. Dalam proses pembelajaran guru mengembangkan kemampuan tingkat
belajar siswa yang merupakan tujuan utama dari seorang pendidik. dengan
demikian dapat membantu siswa untuk mencapai dan memperoleh hasil yang
diharapkan. Guru mempunyai kedudukan yang amat berpengaruh dalam
berjalannya proses pendidikan. Tanpa seorang pendidik proses belajar mengajar
tidak akan berlangsung dengan baik.
9
B. Nilai-nilai yang seharusnya ditamankan dalam Kurikulum Pendidikan
Pendidikan hingga kini masih dipercaya sebagai media yang ampuh dalam
membangun kecerdasan dan kepribadian anak manusia menjadi lebih baik. Bangsa
Indonesia tidak ingin menjadi bangsa terbelakang, terutama dalam menghadapi
zaman yang terus berkembang di era kecangihan teknologi dan komunikasi.
Perbaikan Sumber Daya Manusia terus dilakukan sebagai daya upaya untuk
memajukan budi pekerti yang beradab (kekuatan batin) dan pikiran sebagaimana
yang tercantum dalam Undang-Undang Sistem pendidikan Nasional Nomor 20
tahun 2003, pasal 3 menyatakan bahwa Pendiikan Nasional berfungsi untuk
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat. dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa (Ki Hajar Dewantara,
1977: 3).
Secara umum pendidikan saat ini masih mengutamakan kecerdasan
kognitif, hal ini dilihat dari sekolah-sekolah yang mempunyai peserta didik dengan
lulusan nilai tinggi tetapi tidak sedikit yang mempunyai nilai tinggi justru tidak
memiliki perilaku cerdas, dan kurang mempunyai mental kepribadian yang baik,
sebagaimana nilai akademik yang di raih di bangku sekolah dan melihat dari
kelulusan peserta didik yang ditentukan oleh hasil Ujian Akhir Nasional. Tujuan
pendidikan karakter adalah:
1. Mengembangkan potensi kalbu/nurani/afekti f peserta didik sebagai manusia
dan warganegara yang memiliki nilai-nilai karakter bangsa;
2. Mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan
sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius.
3. Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai
generasi penerus bangsa;
4. Mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri,
kreatif, berwawasan kebangsaan; dan
5. Mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar
yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa
kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (Judiani, 2010:283).
10
Kasus tentang kurangnya penanaman nilai-nilai karakter yang baik pada
peserta didik terlihat pada beberapa kasus pelaksanaan Ujian Nasional yang lebih
mementingkan aspek Intelektualnya dari pada aspek kejujuran. Tingkat kejujuran
Ujian Nasional itu hanyalah 20% karena masih ditemukan peserta didik yang
menyontek dalam berbagai cara dalam mengerjakan Ujian Nasional. Pendidikan
Saat ini belum memberikan pendidikan secara instens untuk moralitas dan
kepribadian yang unggul. Masalah kurangnya nilai-nilai karakter tersebut maka
pemerintah telah menempuh berbagai kebijakan dimana salah satunya adalah
Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa tahun 2005-2025. Hal ini
mengandung arti bahwa setiap upaya pembangunan selalu diarahkan untuk
memberi dampak positif terhadap pengembangan karakter.
Karakter yang akan dikembangkan pada diri peserta didik dijadikan
pedoman dan dipraktekkan dalam kehidupan sosial, artinya pada diri peserta didik
ada proses mulai dari mendengar, melihat, memahami, menyadari dan mengambil
keputusan untuk melakukannya. Karakter pada dasarnya diperoleh lewat interaksi
dengan orang tua, guru, teman, dan lingkungan. Karakter diperoleh dari hasil
pembelajaran secara langsung atau pengamatan terhadap orang lain.
Pendidikan karakter mengandung 18 nilai penting dalam kurikulum 2013,
dari 18 nilai tersebut adalah sebagai berikut: nilai Religius, jujur, toleransi, disiplin,
kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan,
cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar
membaca, peduli lingkungan, peduli social dan tanggung jawab. Pemerintah
mengupayakan dan memberlakukan 18 nilai pendidikan karakter mulai dari
sekolah tingkat usia dini, sekolah dasar, sekolah menengah maupun sekolah tingkat
atas baik sekolah swasta maupun sekolah negeri untuk melaksanakan kurikulum
berbasis karakter. Salah satu sekolah yang sudah menerapkan pendidikan karakter
dalam kurikulum 2013 adalah SMAN I Pontianak.
Pelanggaran moral yang dilakukan peserta didik SMAN I Pontianak
sebagian besar disebabkan oleh cara mengajar guru yang membosankan dan keadan
peserta didik jauh dari didikan orang tua. Sebagian orang tua meninggalkan anak-
anaknya dikarenakan urusan pekerjaan. Hal ini tidak heran jika ditemukan peserta
11
didik melakukan tindakan penyimpangan baik di sekolah maupun di lingkungan
masyarakat.
Program pendidikan karakter terus dilakukan oleh pihak sekolah. Ada dua
cara yaitu: Pembinaan di sekolah dan pembinaan karakter berdasarkan lokasi atau
wilayah. Pembinaan dilakukan oleh guru bersama dengan orang tua peserta didik
untuk mempermudah sekolah dalam usaha perbaikan moral peserta didik, di sisi
lain pihak sekolah perlu menjaga nilai-nilai karakter mulai dari pimpinan sekolah
sampai dengan jajarannya.
Nilai-nilai karakter yang dapat ditunjukkan oleh guru misalnya datang
tepat waktu (disiplin waktu), bekerja keras, sopan, jujur dan lain sebagainya.
Sedangkan nilai-nilai karakter siswa dapat dilihat dari berbagai kegiatan siswa
misalnya ketika guru memerintahkan siswa mengerjakan soal, siswa terlihat bekerja
keras untuk memecahkan soal tersebut. ketika ada tugas pekerjaan rumah, jika
siswa lupa mengerjakan atau mengalami kesulitan maka akan berkata jujur kepada
guru. Penerapan pendidikan karakter SMAN I Pontianak yang telah berlangsung
lama belum mampu mendukung pencapaian prestasi siswa. Hal ini disebabkan
karena penerapan pendidikan karakter terdapat kendala atau hambatan. Selain itu,
dukungan orangtua dan komite sekolah sangat penting untuk mencapai
keberhasilan pendidikan karakter
Penerapan pendidikan karakter di sekolah tidak dapat dilakukan dengan
cara parsial akan tetapi harus secara komperhensif, supaya unsur nilai karakter yang
hendak di terapkan pada siswa secara keseluruhan di pahami dan dimengerti oleh
siswa baik melalui perkataan dan perilaku. Pedekatan komperhensif adalah cara
yang sangat tepat dalam pendidikan karakter mengingat keadaan yang terus
berubah, sehingga penting dilakukan adaptasi dengan kondisi yang ada (Nuril
Furkan, 2013:83-84). Untuk mendukung implementsi pendidikan karakter yang
baik maka perlu dilakukan tiga hal yaitu:
Pertama, penelitian ini menemukan bahwa Proses pembentukan karakter
siswa ada dalam penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai
dengan materi dan tujuan yang hendak dicapai. Guru-guru di sekolah terutama di
SMAN 1 Pontianak sudah menyusun perangkat pembelajaran. Menyusun Rencana
12
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang akan digunakan selama satu tahun menjadi
pedoman dalam pelaksanaan pembelajaran di dalam kelas. Penyusunan Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) paling penting dalam hal mengajar.
Terkait materi yang akan dibahas dan langkah-langkah dalam setiap
kegiatan sudah terencana dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang
menjadi pedoman guru dalam mengajar di kelas. Pembentukan karakter siswa
ditunjukkan pada format penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berkarakter sebagai jangka
pendek yang mencakup komponen program kegiatan belajar dan proses
pelaksanaan program Sesuai dengan analisis dokumen terhadap RPP yang disusun
oleh guru, di dalam RPP telah mencakup komponen program belajar seperti KI,
KD, Indikator, tujuan pembelajaran, model, strategi, metode, media, langkah-
langkah pembelajaran, sumber belajar dan lain sebagainya. Pengintegrasian
pendidikan karakter dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sudah cukup
baik, karena guru menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sudah
memodifikasi kegiatan pembelajaran dan strategi untuk mengembangkan karakter
peserta didik.
Kedua, Pelaksanaan pembelajaran yang berlangsung di kelas berbagai
model pembelajaran yang dilakukan tiap-tiap guru memiliki khasnya masing-
masing. Hal ini terlihat dari mulai kegiatan pendahuluan, kegiatan inti yang
meliputi kegiatan eksplorasi, elaborasi, konfirmasi, dan kegiatan penutup. Tahap
pelaksanaan terlihat proses penanaman nilai–nilai pendidikan karakter dalam
pembelajaran, pada awal sebelum pelaksanaan hingga akhir pelaksanaan
pembelajaran. Metode ceramah yang diterapkan oleh guru secara garis besar
meliputi penjelasan materi, arahan pemahaman, pembiasaan serta tauladan.
Pelaksanaan pendidikan karakter memang harus di terapkan dalam kegiatan
pembelajaran hal ini dilakukan untuk menunjang pembentukan karakter peserta
didik. Kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup memliki
pelaksanaan karakter.
Guru dalam mengembangkan nilai nilai karakter harus membimbing
peserta didik agar berperan aktif dalam upaya membangun pengetahuannya sendiri.
13
Dalam membangun pengetahuannya sendiri, pada kegiatan inti pembelajaran, guru
menerapkan berbagai metode pembelajaran. Pendidikan karakter berlangsung
efektif, guru mengimplementasikan berbagai metode pembelajaran, salah satunya
adalah metode diskusi. Kegiatan diskusi, guru berperan untuk mengarahkan peserta
didik. Kegiatan diskusi dan presentasi sebagai salah satu cara untuk menanamkan
nilai-nilai karakter. Adanya kegiatan diskusi kelompok yang dilakukan oleh peserta
didik diharapkan mampu menumbuhkan nilai karakter dalam diri peserta didik
yaitu berupa kerja keras, gotong royong, komunikatif, toleransi, serta menghargai
kreasi teman. Ketiga, Guru melakukan pengevaluasian setiap pertemuan
pembelajaran dengan mengikuti ketentuan kurikulum 2013.
Ketiga, evaluasi yang dilaksanakan meliputi tes dan non tes. Penilaian
terhadap ranah kognitif, afektif dan psikomotor perlu dilakukan dalam
pembelajaran. Evaluasi atau penilaian aspek kognitif dapat dilakukan dengan
berbagai cara, seperti: penugasan terstruktur, tugas mandiri, pos-tes, tanya jawab
dan lain sebagainya. Evaluasi pendidikan karakter dalam proses pembelajaran
berlangsung dilakukan dengan cara pengamatan langsung mulai dari kegiatan awal
pembelajaran sampai di akhir pembelajaran.
Kegiatan evaluasi atau tahap penilaian sangat perlu dilakukan untuk
mengetahui sejauh mana tingkat pemahaman siswa baik dalam bersikap maupun
dalam ranah kognitif. Penilaian dalam Pendidikan menitikberatkan pada penilaian
kepribadian. Penilaian kepribadian dilakukan dengan cara mengamati perubahan
perilaku dan sikap guna menilai perkembangan dan kepribadian siswa.
Instrument/alat yang digunakan dalam penilaian sikap yaitu Rubrik dalam hal ini
pemberian nilai berupa pemberian skor oleh guru selama pembelajaran.
Evaluasi merupakan hal yang paling penting dalam kegiatan pembelajaran.
Evaluasi bisa memberikan data kemampuan siswa Selama kegiatan proses belajar
mengajar berlangsung. Teknik evaluasi atau penilaian hasil pembelajaran yang
berdimensi pendidikan karakter yang dilakukan oleh guru menggunakan teknik
penilaian sikap dan tes langsung. Penilaian sikap dilakukan dengan cara
mengamati, melihat agar mengetahui sikap siswa dalam proses pembelajaran di
dalam kelas dan di luar kelas sedangkan penilaian tes langsung dilakukan dengan
14
cara menguji secara lisan maupun tertulis, untuk menguji pengetahuan dan
keaktifannya selama kegiatan pembelajaran. Dengan menggunakan teknik tersebut
mempermudah memberikan data tindakan siswa dalam keseharian.
Penilaian sikap merupakan salah satu penilaian yang diterapkan dalam
penilaian pendidikan karakter yaitu untuk menilai sikap siswa. Dalam penilaian
sikap yang menjadi objek penilaian guru dalam proses pembelajaran adalah sikap
siswa terhadap materi pelajaran, sikap siswa terhadap guru, sikap siswa terhadap
proses pembelajaran, dan sikap siswa berkaitan dengan nilai atau norma yang
berhubungan dengan suatu materi pelajaran. Berdasarkan hasil temuan teknik
penilaian yang digunakan oleh guru untuk hasil pembelajaran yang berdimensi
karakter masih sederhana yaitu menggunakan pengamatan/observasi. Instrument
Rubrik yang digunakan oleh guru dapat membantu guru dalam memberikan
penilaian. Selanjutnya dari hasil pengamatan guru memberikan hasil skor penilaian
sikap peseta didik.
Pengamatan atau observasi dalam penilaian sikap tetap ditambahkan poin
plus (+) terkait keaktifan di kelas, semangat pada waktu pembelajaran, respon
mereka terhadap guru, kerapian, sikap disiplin menjadi pertimbangan dalam
penilaian. Penilaian dalam pembelajaran yang berdimensi karakter terdapat
Penilaian sikap yang dilakukan adalah dengan pengamatan, untuk penilaian
biasanya dikomunikasikan bersama guru-guru atau wali kelas yang bersangkutan.
Evaluasi hasil pembelajaran dalam data dokumentasi terlihat menggunakan teknik
non-tes yaitu penilaian sikap yang meliputi teknik observasi perilaku dan tes
langsung. Rubrik adalah instrumen yang digunakan oleh guru untuk mengetahui
sikap peserta didik berupa pemberian skor pada siswa. Teknik tersebut digabungkan
untuk memberikan penilaian sikap siswa yang diharapkan mengembangkan
karakter peserta didik.
Penilaian sikap merupakan teknik penilaian yang sulit, karena yang dinilai
bukan satu atau dua orang siswa melainkan banyak siswa. Setiap siswa memiliki
sikap yang berbeda-beda, bahkan tidak sama setiap harinya. Salah satu yang
menjadi hambatan dalam penilaian sikap ini adalah banyaknya jumlah siswa dan
juga guru. Kelemahan guru dalam menghafal semua nama siswanya, sehingga
15
penilaian menjadi lebih sulit. Hambatan tersebut menjadi tidak berarti ketika guru
memiliki strategi tersendiri dalam melakukan penilaian ditambah lagi dengan
kondisi dan lingkungan sekolah yang mendukung. Kondisi dan lingkungan sekolah
memang sangat penting dalam mempengaruhi proses pembelajaran. Apabila
sekolah memiliki kondisi dan lingkungan yang kondusif maka mendukung jalannya
proses pembelajaran. Pembelajaran akan berjalan efektif termasuk dalam evaluasi
hasil pembelajaran siswa.
16
dan PKn yang dimaksud lebih pada fasilitasi internalisasi nilai-nilai di dalam
tingkah laku sehari-hari melalui proses pembelajaran dari tahapan perencanaan,
pelaksanaan, dan penilaian. Pengenalan nilai-nilai sebagai pengetahuan melalui
bahan-bahan ajar tetap diperkenankan, tetapi bukan merupakan penekanan. Yang
ditekankan atau diutamakan adalah penginternalisasian nilai-nilai yang melalui
kegiatan- kegiatan di dalam proses pembelajaran. Pembelajaran yang dimaksud
adalah pembelajaran langsung dan tak langsung.
Proses pembelajaran langsung adalah proses pendidikan di mana peserta
didik mengembangkan pengetahuan, kemampuan berpikir dan keterampilan
psikomotorik melalui interaksi langsung dengan sumber belajar yang dirancang
dalam silabus dan RPP berupa kegiatan-kegiatan pembelajaran. Dalam
pembelajaran langsung tersebut peserta didik melakukan kegiatan belajar
mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi atau menganalisis,
dan mengkomunikasikan apa yang sudah ditemukannya dalam kegiatan analisis.
Proses pembelajaran langsung menghasilkan pengetahuan dan keterampilan
langsung atau yang disebut dengan instructional effect.
Pendidikan karakter yang terintegrasi di dalam proses pembelajaran
dilaksanakan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi
pembelajaran pada semua mata pelajaran dan ada beberapa tahap sebagai berikut:
1. Tahap perencanaan
Pada tahap ini silabus, RPP, dan bahan ajar disusun. Baik silabus,
RPP, dan bahan ajar dirancang agar muatan maupun kegiatan
pembelajarannya memfasilitasi/ berwawasan pendidikan karakter. Cara yang
mudah untuk membuat silabus, RPP, dan bahan ajar yang berwawasan
pendidikan karakter adalah dengan mengadaptasi silabus, RPP, dan bahan
ajar yang telah dibuat/ada dengan menambahkan/mengadaptasi kegiatan
pembelajaran yang bersifat memfasilitasi dikenalnya nilai-nilai, disadarinya
pentingnya nilai-nilai, dan diinternalisasinya nilai-nilai.
2. Tahap Pelaksanaan
Tugas-tugas belajar dari tahapan kegiatan pendahuluan, inti, dan
penutup, dipilih dan dilaksanakan agar peserta didik mempraktikkan nilai-
17
nilai karakter yang ditargetkan. Selain itu, perilaku guru sepanjang proses
pembelajaran harus merupakan model pelaksanaan nilai-nilai bagi peserta
didik.
3. Tahap penilaian
Teknik dan instrumen penilaian yang dipilih dan dilaksanakan tidak
hanya mengukur pencapaian akademik/kognitif siswa, tetapi juga mengukur
perkembangan kepribadian siswa. Bahkan perlu diupayakan bahwa teknik
penilaian yang diaplikasikan mengembangkan kepribadian siswa sekaligus.
Penilaian dilakukan secara terus menerus, setiap saat guru berada di
kelas atau di sekolah. Model anecdotal record (catatan yang dibuat guru
ketika melihat adanya perilaku yang berkenaan dengan nilai yang
dikembangkan) selalu dapat digunakan guru. Selain itu, guru dapat pula
memberikan tugas yang berisikan suatu persoalan atau kejadian yang
memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan nilai yang
dimilikinya. Sebagai contoh, peserta didik dimintakan menyatakan sikapnya
terhadap upaya menolong pemalas, memberikan bantuan terhadap orang
kikir, atau hal-hal lain yang bersifat bukan kontroversial sampai kepada hal
yang dapat mengundang konflik pada dirinya.
Lickona mengemukakan strategi pembelajaran dalam
pengintegrasian pendidikan karakter dalam pembelajaran sebagai berikut :
a. Guru peduli pada peserta didik, dengan menjadi teladan dan memberi
tuntunan moral.
b. Menciptakan komunitas kelas yang peduli satu dengan yang lainnya.
c. Membantu peserta didik mengembangkan daya pkir moral,
disiplin diri, dan hormat pada orang lain.
d. Melibatkan peserta didik dalam pembuatan keputusan.
e. Menggunakan Cooperative learning untuk memberi kesempatan pada
peserta didik mengembangkan kompetensi moral dan sosialnya.
f. Membiasakan peserta didik membaca buku-buku yang mengandung
nilai-nilai hidup.
18
g. Mengembangkan kesadaran atau dorongan pada peserta didik untuk
melakukan hal baik.
h. Mengajarkan nilai yang harus diketahui peserta didik, cara
mempraktekkannya hingga menjadi suatu kebiasaan, dan menekankan
bahwa setiap orang punya tanggung jawab untuk mengembangkan
karakternya sendiri.
i. Mengajarkan peserta didik menyelesaikan konflik.
j. Guru menghindari penggunaan kata-kata yang bernada menyalahkan,
melainkan memancing peserta didik untuk berani mengakui kesalahan
dan menggali makna belajar dari kesalahan yang dilakukan. Anak didik
dilatih untuk menyadari bahwa tindakan yang dilakukan merupakan
pilihan pribadi. Jadi kesalahan atau kegagalan yang dialami tidak boleh
ditujukan pada orang lain.
k. Materi dalam pembelajaran karakter diambil dari hal-hal yang
berlangsung di sekitar kehidupan peserta didik di lingkungan sekolah.
l. Hal terpenting dalam strategi di ruang kelas adalah kesempatan yang
diberikan pada anak didik untuk mendiskusikan suatu masalah/
peristiwa dari sudut pandang moral. Frekuensi kegiatan diskusi yang
cukup banyak di kelas akan menciptakan kesempatan pada peserta
didik.
m. Mengembangkan daya pikir/analisa secara moral. Yang terpenting
dalam proses diskusi bukanlah memberikan penilaian tentang benar
atau salahnya suatu persoalan, namun untuk mencermati atau
menganalisa hal-hal yang baik dan salah yang terdapat dalam persoalan
tersebut.
n. Peserta didik dapat mencari dan menemukan sendiri nilai-nilai yang
hidup di masyarakat. Peserta didik akan melihat dan mengalami
langsung nilai yang tumbuh di lingkungan masyarakat, yang dapat
membuatnya binging. Melalui diskusi, peserta didik melakukan proses
penjernihan nilai untuk menemukan makna nilai-nilai tersebut.
19
Langkah berikutnya adalah dengan melalui pembelajaran tidak
langsung. Pembelajaran tidak langsung adalah proses pendidikan yang terjadi
selama proses pembelajaran langsung tetapi tidak dirancang dalam kegiatan
khusus. Pembelajaran tidak langsung berkenaan dengan pengembangan nilai
dan sikap. Berbeda dengan pengetahuan tentang nilai dan sikap yang
dilakukan dalam proses pembelajaran langsung oleh mata pelajaran tertentu,
pengembangan sikap sebagai proses pengembangan moral dan perilaku
dilakukan oleh seluruh mata pelajaran dan dalam setiap kegiatan yang terjadi
di kelas, sekolah, dan masyarakat. Kegiatan pembelajaran tidak langsung ini
terwujud dalam pengembangan diri dan ekstra kurikuler sekolah.
20
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan dari teks di atas adalah bahwa pendidikan memiliki peran
yang sangat penting dalam membentuk karakter dan mengembangkan potensi
peserta didik. Pendidikan bukan hanya tentang transfer pengetahuan dan
keterampilan teknis, tetapi juga tentang pembentukan karakter yang berlandaskan
nilai-nilai moral, etika, dan soft skill. Dalam konteks Indonesia, pendidikan karakter
menjadi kunci untuk mencapai cita-cita bangsa dalam memiliki sumber daya
manusia yang berkualitas dan bermartabat.
Dalam melaksanakan misi pendidikan, lembaga pendidikan formal, seperti
sekolah, memiliki tanggung jawab besar untuk mengoptimalkan pertumbuhan
semua aspek anak, termasuk kognitif, fisik, sosial-emosional, kreativitas, dan
spiritual. Keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh hard skill, tetapi juga
oleh kemampuan soft skill. Oleh karena itu, peningkatan mutu pendidikan karakter
peserta didik menjadi sangat penting.
Pentingnya pendidikan karakter juga sesuai dengan Undang-Undang
Dasar 1945 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3, yang menekankan
pengembangan kemampuan, pembentukan karakter, dan peradaban bangsa yang
bermartabat. Dalam upaya mencapai tujuan tersebut, diperlukan metode
pembelajaran yang berfokus pada perubahan karakter anak dan melibatkan
pendidik yang berhasil dalam mengajar dan membentuk karakter.
Dengan demikian, kesimpulan utama adalah bahwa pendidikan karakter
menjadi landasan penting dalam menciptakan sumber daya manusia yang unggul
dan berkualitas, serta berperan penting dalam menghadapi perubahan cepat dalam
era saat ini.
21
B. Saran
Demikian Makalah Pendidikan Karakter yang berjudul, Nilai dan
Karakter dalam Pendidikan yang kami susun. Kami menyadari masih terdapat
banyak kesalahan dalam Makalah yang kami susun. Oleh karena itu kami
mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif demi terciptanya kesempurnaan
makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca maupun penyusun.
22
DAFTAR PUSTAKA
23
Judian Sri. (2010). Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar
Melalui Penguatan Pelaksanaan Kurikulum. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan,
Vol. 16 No. 9:283.
Kurniawan, Syamsul, Pendidikan Karakter: Konsepsi & Implementasnya
secara Terpadu di Lingkungan Keluarga, Sekolah, Perguruan Tinggi dan
Masyarakat, Yogyakarta: Arruzz Media, 2014.
Kusoema, Doni, Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman
Global, Jakarta: Grasindo, 2010.
Lickona, Thomas, Marvin W. Berkowitz & Melinda C Bier,What Works
In Character Education: A research-driven guide for educators, Washington DC:
Character Education Partnership, 2005.
Lickona, Thomas¸ Mendidik untuk Membentuk Karakter, Jakarta: Bumi
Aksara, 2012.
24