Anda di halaman 1dari 10

PENGOLAHAN LIMBAH PADAT NON B3

Mengidentifikasi jenis limbah


Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun
domestik (rumah tangga). Dimana masyarakat bermukim, disanalah berbagai jenis limbah akan
dihasilkan. Ada sampah, ada air kakus (black water), dan ada air buangan dari berbagai aktivitas
domestik lainnya (grey water).
Limbah padat lebih dikenal sebagai sampah, yang seringkali tidak dikehendaki kehadirannya
karena tidak memiliki nilai ekonomis. Bila ditinjau secara kimiawi, limbah ini terdiri dari bahan
kimia Senyawa organik dan Senyawa anorganik. Dengan konsentrasi dan kuantitas tertentu,
kehadiran limbah dapat berdampak negatif terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan
manusia, sehingga perlu dilakukan penanganan terhadap limbah. Tingkat bahaya keracunan yang
ditimbulkan oleh limbah tergantung pada jenis dan karakteristik limbah.
Limbah padat atau sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya
suatu proses. Sampah merupakan didefinisikan oleh manusia menurut derajat keterpakaiannya,
dalam proses-proses alam sebenarnya tidak ada konsep sampah, yang ada hanya produk-produk
yang dihasilkan setelah dan selama proses alam tersebut berlangsung.Akan tetapi karena dalam
kehidupan manusia didefinisikan konsep lingkungan maka Sampah dapat dibagi menurut jenis-
jenisnya.
Sampah padat adalah segala bahan buangan selain kotoran manusia, urine dan sampah cair.
Dapat berupa sampah rumah tangga: sampah dapur, sampah kebun, plastik, metal, gelas dan lain-
lain. Menurut bahannya sampah ini dikelompokkan menjadi sampah organik dan sampah
anorganik. Sampah organik Merupakan sampah yang berasal dari barang yang mengandung
bahan-bahan organik, seperti sisa-sisa sayuran, hewan, kertas, potongan-potongan kayu dari
peralatan rumah tangga, potongan-potongan ranting, rumput pada waktu pembersihan kebun dan
sebagainya.
Berdasarkan kemampuan diurai oleh alam (biodegradability), maka dapat dibagi lagi menjadi:
1. Biodegradable: yaitu sampah yang dapat diuraikan secara sempurna oleh proses biologi
baik aerob atau anaerob, seperti: sampah dapur, sisa-sisa hewan, sampah pertanian dan
perkebunan.
2. Non-biodegradable: yaitu sampah yang tidak bisa diuraikan oleh proses biologi. Dapat
dibagi lagi menjadi:
3. Recyclable: sampah yang dapat diolah dan digunakan kembali karena memiliki nilai
secara ekonomi seperti plastik, kertas, pakaian dan lain-lain.
4. Non-recyclable: sampah yang tidak memiliki nilai ekonomi dan tidak dapat diolah atau
diubah kembali seperti tetra packs, carbon paper, thermo coal dan lain-lain.
5. Jenis-jenis Limbah

Berdasarkan karakteristiknya, limbah dapat digolongkan menjadi 4 macam, yaitu :


1. Limbah cair
2. Limbah padat
3. Limbah gas dan partikel
4. Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)

1.1 Limbah cair


Limbah cair adalah sisa dari suatu hasil usaha atau kegiatan yang berwujud cair (PP 82 thn
2001). Jenis-jenis limbah cair dapat digolongkan berdasarkan pada :
a.Sifat Fisika dan Sifat Agregat . Keasaman sebagai salah satu contoh sifat limbah dapat diukur
dengan menggunakan metoda Titrimetrik
b. Parameter Logam, contohnya Arsenik (As) dengan metoda SSA
c. Anorganik non Metalik contohnya Amonia (NH3-N) dengan metoda Biru Indofenol
d. Organik Agregat contohnya Biological Oxygen Demand (BOD)
e. Mikroorganisme contohnya E Coli dengan metoda MPN
f. Sifat Khusus contohnya Asam Borat (H3 BO3) dengan metoda Titrimetrik
g. Air Laut contohnya Tembaga (Cu) dengan metoda SPR-IDA-SSA
(Contoh limbah Cair )

1.2 Limbah padat


Limbah padat berasal dari kegiatan industri dan domestik. Limbah domestik pada umumnya
berbentuk limbah padat rumah tangga, limbah padat kegiatan perdagangan, perkantoran,
peternakan, pertanian serta dari tempat-tempat umum. Jenis-jenis limbah padat: kertas, kayu,
kain, karet/kulittiruan, plastik, metal, gelas/kaca, organik, bakteri, kulit telur, dll
1.3 Limbah gas dan partikel
Polusi udara adalah tercemarnya udara oleh berberapa partikulat zat (limbah) yang mengandung
partikel (asap dan jelaga), hidrokarbon, sulfur dioksida, nitrogen oksida, ozon (asap kabut
fotokimiawi), karbon monoksida dan timah.
( Contoh limbah Gas / Partikel )

1.4 Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)


Suatu limbah digolongkan sebagai limbah B3 bila mengandung bahan berbahaya atau beracun
yang sifat dan konsentrasinya, baik langsung maupun tidak langsung, dapat merusak atau
mencemarkan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan manusia.Yang termasuk limbah
B3 antara lain adalah bahan baku yang berbahaya dan beracun yang tidak digunakan lagi karena
rusak, sisa kemasan, tumpahan, sisa proses, dan oli bekas kapal yang memerlukan penanganan
dan pengolahan khusus. Bahan-bahan ini termasuk limbah B3 bila memiliki salah satu atau lebih
karakteristik berikut: mudah meledak, mudah terbakar, bersifat reaktif, beracun, menyebabkan
infeksi, bersifat korosif, dan lain-lain, yang bila diuji dengan toksikologi dapat diketahui
termasuk limbah B3.

Limbah B3 dapat diklasifikasikan menjadi:


* Primary sludge, yaitu limbah yang berasal dari tangki sedimentasi pada pemisahan awal dan
banyak mengandung biomassa senyawa organik yang stabil dan mudah menguap
* Chemical sludge, yaitu limbah yang dihasilkan dari proses koagulasi dan flokulasi
* Excess activated sludge, yaitu limbah yang berasal dari proses pengolahan dengan lumpur aktif
sehingga banyak mengandung padatan organik berupa lumpur dari hasil proses tersebut
* Digested sludge, yaitu limbah yang berasal dari pengolahan biologi dengan digested aerobic
maupun anaerobic di mana padatan/lumpur yang dihasilkan cukup stabil dan banyak
mengandung padatan organik.
Macam Limbah Beracun
* Limbah mudah meledak adalah limbah yang melalui reaksi kimia dapat menghasilkan gas
dengan suhu dan tekanan tinggi yang dengan cepat dapat merusak lingkungan.
* Limbah mudah terbakar adalah limbah yang bila berdekatan dengan api, percikan api,
gesekan atau sumber nyala lain akan mudah menyala atau terbakar dan bila telah menyala akan
terus terbakar hebat dalam waktu lama.
* Limbah reaktif adalah limbah yang menyebabkan kebakaran karena melepaskan atau
menerima oksigen atau limbah organik peroksida yang tidak stabil dalam suhu tinggi.
* Limbah beracun adalah limbah yang mengandung racun yang berbahaya bagi manusia dan
lingkungan. Limbah B3 dapat menimbulkan kematian atau sakit bila masuk ke dalam tubuh
melalui pernapasan, kulit atau mulut.
* Limbah penyebab infeksi adalah limbah laboratorium yang terinfeksi penyakit atau limbah
yang mengandung kuman penyakit, seperti bagian tubuh manusia yang diamputasi dan cairan
tubuh manusia yang terkena infeksi.
* Limbah yang bersifat korosif adalah limbah yang menyebabkan iritasi pada kulit atau
mengkorosikan baja, yaitu memiliki pH sama atau kurang dari 2,0 untuk limbah yang bersifat
asam dan lebih besar dari 12,5 untuk yang bersifat basa.

Berdasarkan tingkat toksisitasnya (kadar racun), limbah dibedakan menjadi 2 macam , yakni
Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)
Limbah B3 merupakan limbah yang mengandung zat berbahaya dan bercun. Pada jumlah
konsentrasi tertentu limbah B3 dapat menyebabkan kerusakan lingkungan serta bahaya pada
manusia. Limbah B3 yang tidak ditangani dengan baik dan pembuangannya secara sembarangan
dapat menyebabkan gangguan pada mahluk hidup berupa kerusakan kulit, kesulitan bernapas,
dan juga dapat menimbulkan kematian dan kepunahan pada beberapa jenis organisme. Bahan
yang termasuk ke dalam limbah B3 diantaranya adalah benzena, asam sulfat, sulfur dioksida,
karbon monoksida, dan nitrogen monoksida. Limbah B3 diantaranya mempunyai sifat eksplosif
(mudah meledak), beracun, berbahaya, mutagenik (menyebabkan perubahan pada gen), dan
teratogenik (menyebabkan gangguan pada gen).
Limbah Non-B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)
Limbah non-B3 merupakan limbah yang tidak mengandung bahan berbahaya dan beracun.
Contoh dari limbah non-B3 adalah sisa-sisa sayuran dan daun yang gugur.
Berdasarkan asalnya, limbah dibagi menjadi tiga macam.
1. Limbah Keluarga (Rumah Tangga)
Limbah keluarga biasanya berasal dari sisa-sisa aktivitas keluarga. Limbah yang dihasilkan
keluarga biasanya berupa sampah, baik sampah organik maupun sampah anorganik, detergen,
dan kotoran manusia. Sampah organik contohnya adalah sisa sayuran dan buah-buahan.
Sedangkan sampah anorganik contohnya dalah kaleng dan plastik bekas.
2. Limbah Pertanian
Limbah pertanian dapat berasal dari sisa penggunaaan pupuk (baik pupuk organik maupun pupuk
kimia) maupun sisa-sisa pestisida.
Sisa penggunaan pupuk dapat larut dalam air, kemudian terbawa menuju sungai dan mengendap
pada beberapa tempat di sungai. Adanya endapan pupuk ini menyebabkan menumpuknya unsur-
unsur hara di perairan tersebut. Akibatnya tanaman air seperti ganggang akan subur dan
mendominasi pada perairan tersebut. Populasi ganggang yang banyak ini akan mengurangi
kandungan oksigen dan menghalangi sinar matahari yang diperlukan oleh tumbuhan air lainnya.
Tidak adanya oksigen dan sinar matahari yang masuk ini akan menyebabkan kematian bagi
organisme lain yang hidup di perairan tersebut. Peristiwa ini disebut dengan eutrofikasi.
Selain itu limbah pertanian yang dapat mencemari perairan adalah DDT (sejenis pestisida).
Penggunaan DDT yang berlebihan pada pertanian dapat memberikan dampak pada ekosistem.
DDT mempunyai sifat larut dalam lemak, hal ini menyebakan organisme yang terdapat pada
rantai makanan di perairan yang tercemar dalam tubuhnya akan terakumalasi DDT. Akumalasi
ini jumlahnya akan semakin besar pada organisme-organisme yang berada di puncak rantai
makanan.
3. Limbah Industri
Bidang industri selain memberikan dampak yang luar biasa juga memberikan dampak yang
merugikan, yaitu limbah industri. Limbah industri yang dihasilkan pun sebagian besar adalah
limbah yang tergolong berbahaya dan beracun (B3). Limbah industri ini perlu mendapatkan
pengolahan terlebih dulu sebelum dibuang ke dalam lingkungan. Hal ini dimaksudkan agar zat
berbahaya yang terkadung di dalamnya tidak ikut terbuang ke lingkungan. Pembungan limbah ke
lingkungan tanpa pengolahan dapat menyebabkan pencemaran dan membunuh organisme yang
ada di dalamnya.
Menentukan metoda pengolahan limbah
Dalam menetukan metoda pengolahan limbah padat ini , tentunya sebagian besar para industrian
di Indonesia ini atau bahkan kita mengenal tentang 4R , yakni Reuse , Recycle , Recovery dan
Reduse. Dalam memperlakukan Limbah, baik Limbah B3 dan non-B3, kita harus berpegang
pada 3R + 1R. pemanfaatan limbah B3. 3R ini sesuai dengan peraturan dimaksud kepada
Menteri Lingkungan Hidup Nomor 02 tahun 2008, yakni :
1. Reuse
Reuse adalah penggunaan kembali limbah B3 dengan tujuan yang sama tanpa melalui proses
tambahan kimia, fisika, biologi, dan / atau termal
2. Recycle
Recycle adalah mendaur ulang komponen yang berguna melalui proses tambahan dalam kimia,
fisika, biologi, dan / atau termal menghasilkan produk yang sama atau produk yang berbeda
3. Pemulihan
Pemulihan adalah pemulihan komponen berguna untuk proses kimia, fisika, biologi, dan / atau
termal
1R lagi pertanyaannya adalah Reduce, mengurangi, atau dalam hal ini adalah untuk
meminimalkan dampak pencemaran terhadap lingkungan. Konstruksi bahwa jika limbah B3
tidak dapat menggunakan kembali, daur ulang, dan pemulihan, itu harus di Kurangi.pengurangan
limbah B3 harus dilakukan secara sinergis antara mereka yang berhubungan, yaitu, generator
dari prosesor limbah kolektor, atau penerima manfaat limbah, dan Pemerintah, tentu saja.
Dalam pengurangan PT. Logam Jaya Abadi oleh divisi Transporter dan proaktif memberikan
kontribusi yang cukup untuk membantu menjembatani antara produsen dan penerima limbah
pengolahan limbah / yang telah menerapkan konsep zero waste melalui co-processing yang
sudah memiliki lisensi dari Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia.
Pemilihan proses yang tepat didahului dengan mengelompokkan karakteristik kontaminan dalam
air limbah dengan menggunakan indikator parameter yang sudah ditampilkan di tabel di atas.
Setelah kontaminan dikarakterisasikan, diadakan pertimbangan secara detail mengenai aspek
ekonomi, aspek teknis, keamanan, kehandalan, dan kemudahan peoperasian. Pada akhirnya,
teknologi yang dipilih haruslah teknologi yang tepat guna sesuai dengan karakteristik limbah
yang akan diolah. Setelah pertimbangan-pertimbangan detail, perlu juga dilakukan studi
kelayakan atau bahkan percobaan skala laboratorium yang bertujuan untuk:
1.Memastikan bahwa teknologi yang dipilih terdiri dari proses-proses yang sesuai dengan
karakteristik limbah yang akan diolah.
2.Mengembangkan dan mengumpulkan data yang diperlukan untuk menentukan efisiensi
pengolahan yang diharapkan.
3.Menyediakan informasi teknik dan ekonomi yang diperlukan untuk penerapan skala
sebenarnya.
Mengolah Limbah Padat
Pengolahan limbah padat dapat dilakukan dengan berbagai cara yang
tentunya dapat menjadikan limbah tersebut tidak berdampak buruk bagi lingkungan
ataupun kesehatan. Menurut sifatnya pengolahan limbah padat dapat dibagi menjadi
dua cara yaitu pengolahan limbah padat tanpa pengolahan dan pengolahan limbah
padat dengan pengolahan.
Limbah padat tanpa pengolahan : Limbah padat yang tidak mengandung
unsur kimia yang beracun dan berbahaya dapat langsung dibuang ke tempat tertentu
sebagai TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Limbah padat dengan pengolahan :
Limbah padat yang mengandung unsur kimia beracun dan berbahaya harus diolah
terlebih dahulu sebelum dibuang ke tempat-tempat tertentu.
Pengolahan limbah juga dapat dilakukan dengan cara-cara yang sedehana
lainnya misalnya, dengan cara mendaur ulang, Dijual kepasar loakatau tukang
rongsokan yang biasa lewat di depan rumah – rumah. Cara ini bisa menjadikan
limbah atau sampah yang semula bukan apa-apa sehingga bisa menjadi barang yang
ekonomis dan bisa menghasilkan uang. Dapat juga dijual kepada tetangga kita yang
menjadi tukang loak ataupun pemulung. Barang-barang yang dapat dijual antara lain
kertas-kertas bekas, koran bekas, majalah bekas, botol bekas, ban bekas, radio tua,
TV tua dan sepeda yang usang.
Dapat juga dengan cara pembakaran. Cara ini adalah cara yang paling mudah
untuk dilakukan karena tidak membutuhkan usaha keras. Cara ini bisa dilakukan
dengan cara membakar limbah-limbah padat misalnya kertas-kertas dengan
menggunakan minyak tanah lalu dinyalakan apinya. Kelebihan cara membakar ini
adalah mudah dan tidak membutuhkan usaha keras, membutuhkan tempat atau lokasi
yang cukup kecil dan dapat digunakan sebagai sumber energi baik untuk pembangkit
uap air panas, listrik dan pencairan logam.
Dalam memproses pengolahan limbah padat terdapat empat proses yaitu
pemisahan, penyusunan ukuran, pengomposan, dan pembuangan limbah.
1. Pemisahan
Karena limbah padat terdiri dari ukuran yang berbedan dan kandungan bahan
yang berbeda juga maka harus dipisahkan terlebih dahulu, supaya peralatan
pengolahan menjadi awet.
Sistem pemisahan ada tiga yaitu diantaranya :
Sistem Balistik. Adalah sistem pemisahan untuk mendapatkan keseragaman
ukuran / berat / volume.
Sistem Gravitasi. Adalah sistem pemisahan berdasarkan gaya berat misalnya barang yang
ringan / terapung dan barang yang berat / tenggelam.
Sistem Magnetis. Adalah sistem pemisahan berdasarkan sifat magnet yang
bersifat agnet, akan langsung menempel. Misalnya untuk memisahkan
campuran logam dan non logam.
2. Penyusunan Ukuran
Penyusunan ukuran dilakukan untuk memperoleh ukuran yang lebih kecil
agar pengolahannya menjadi mudah.
3. Pengomposan
Pengomposan dilakukan terhadap buangan / limbah yang mudah membusuk,
sampah kota, buangan atau kotoran hewan ataupun juga pada lumpur pabrik.
Supaya hasil pengomposan baik, limbah padat harus dipisahkan dan
disamakan ukurannya atau volumenya.
4. Pembuangan Limbah
Proses akhir dari pengolahan limbah padat adalah pembuangan limbah yang
dibagi menjadi dua yaitu :
a) Pembuangan Di Laut
Pembuangan limbah padat di laut, tidak boleh dilakukan pada sembarang
tempat dan perlu diketahui bahwa tidak semua limbah padat dapat
dibuang ke laut. Hal ini disebabkan :
1. Laut sebagai tempat mencari ikan bagi nelayan.
2. Laut sebagai tempat rekreasi dan lalu lintas kapal.
3. Laut menjadi dangkal.
4. Limbah padat yang mengandung senyawa kimia beracun dan
berbahaya dapat membunuh biota laut.
b) Pembuangan Di Darat Atau Tanah
Untuk pembuangan di darat perlu dilakukan pemilihan lokasi yang harus
dipertimbangkan sebagai berikut :
1. Pengaruh iklim, temperatur dan angin.
2. Struktur tanah.
3. Jaraknya jauh dengan permukiman.
4. Pengaruh terhadap sumber lain, perkebunan, perikanan,
peternakan, flora atau fauna.
Mengidentifikasi Hasil proses pengolahan
Berdasarkan penjelasan sebelumnya , kita dapat mengambil / mengidentifikasi suatu kesimpulan
Bahwa hasil dari pengolahan limbah itu , tergantung pada cara kita mengolah limbah itu sendiri .
Artinya , jika kita mengolah limbah tersebut dengan benar tentunya kita akan mendapat hasil dari
proses pengolahn lin\mbah tersebut dengan memuaskan, dan sebaliknya , jika kita mengolah
dengan sembarangan tentunya hasil proses pengolahan limbah tersebut kurang baik dan kurang
memuaskan juga bisa tidak mendapat apapun ( Gagal ).
Hasil dari pengolahan limbah tersebut bermacam - macam .
Contoh nya :
A. Limbah cair : -. Air bersih , dll
B. Limbah gas : -. Gas oksigen , CO2 , dll
C. Limbah padat :
• Plastik
• Alat rumah tangga ( gayung , ember , dll)
Sebagian dari limbah B3 yang telah diolah atau tidak dapat diolah dengan teknologi yang
tersedia harus berakhir pada pembuangan (disposal). Tempat pembuangan akhir yang banyak
digunakan untuk limbah B3 ialah landfill (lahan urug) dandisposal well (sumur pembuangan). Di
Indonesia, peraturan secara rinci mengenai pembangunan lahan urug telah diatur oleh Badan
Pengendalian Dampak Lingkungan (BAPEDAL) melalui Kep-04/BAPEDAL/09/1995.
• Landfill untuk penimbunan limbah B3 diklasifikasikan menjadi tiga jenis yaitu: (1)secured
landfill double liner, (2) secured landfill single liner, dan (3) landfill clay liner dan masing-
masing memiliki ketentuan khusus sesuai dengan limbah B3 yang ditimbun.
• Dimulai dari bawah, bagian dasar secured landfill terdiri atas tanah setempat, lapisan
dasar, sistem deteksi kebocoran, lapisan tanah penghalang, sistem pengumpulan dan pemindahan
lindi (leachate), dan lapisan pelindung. Untuk kasus tertentu, di atas dan/atau di bawah sistem
pengumpulan dan pemindahan lindi harus dilapisi geomembran. Sedangkan bagian penutup
terdiri dari tanah penutup, tanah tudung penghalang, tudung geomembran, pelapis tudung
drainase, dan pelapis tanah untuk tumbuhan dan vegetasi penutup. Secured landfill harus dilapisi
sistem pemantauan kualitas air tanah dan air pemukiman di sekitar lokasi agar mengetahui
apakah secured landfill bocor atau tidak. Selain itu, lokasi secured landfill tidak boleh
dimanfaatkan agar tidak beresiko bagi manusia dan habitat di sekitarnya.

Anda mungkin juga menyukai