Contoh Drama Singkat
Contoh Drama Singkat
Yolanda : “Nenek, aku memerlukan tas baru. Tas sekolahku sudah sobek.”
Nenek : “Nenek belum punya uang, Yolanda. Bagaimana kalau kamu jahit saja
dahulu tas itu?”
Yolanda : “Tas itu sudah berkali-kali dijahit dan sobek lagi. Aku gunakan uang
tabunganku saja, ya, Nek.”
Nenek : “Yolanda, jangan kamu ambil uang tabunganmu. Biarkan uang tabunganmu
terkumpul banyak. Kelak dapat kamu gunakan untuk biaya sekolahmu.”
Nenek : “Yolanda nggak usah kuatir. Nanti Nenek buatkan tas dari kain perca. Nenek
punya banyak kain perca. Pasti hasilnya bagus.”
Yolanda : “Wah, nanti Yolanda diejek teman-teman memakai tas dari kain.”
Nenek : “Kamu tidak tahu. Sekarang kerajinan tangan dari kain perca sedang
diminati, seperti untuk taplak meja, sarung bantal kursi, dan penutup
kulkas. Sisa-sisa kain dapat kita manfaatkan menjadi sesuatu barang yang
menghasilkan. Walaupun dari sisa kain, kamu lihat saja nanti hasilnya, tas
itu pasti tidak kalah bagus dengan tas lainnya.”
Tokoh:
Aldo
Paman Andi
Ayah
Ibu
Tokoh:
a. Gadis kecil : Badan kurus, bersuara lembut, pakaiannya compang-
camping, dan rambutnya kusut tak terurus, serta tidak
bersepatu.
b. Ayah : Pemabuk, gendut, tampak tidak peduli
c. Ibu Tiri : Galak dan pemarah
d. Nenek : Lembut, sangat tua, penyayang
e. Pelayan restoran : Memiliki sifat tidak ramah
Latar Panggung
Jalan di kota dengan toko-toko dan restoran mewah. Tiang lampu dengan
lampu-lampu yang menyala. Salju mulai turun.
Gadis kecil : “Korek api, korek api. Belilah korek apiku. Korek api, korek api ...
belilah korek apiku!” (menyapa seorang ibu) “Ibu yang baik, Anda
memerlukan korek api?”
Ibu pejalan kaki : “Tidak, Nak. Aku masih punya banyak di rumah. Terima kasih.”
Gadis kecil : (Menyapa seorang bapak) “Bapak yang bijak, Anda membutuhkan
korek api?”
Bapak pejalan kaki : (dengan galak) “Tidak! Sama sekali tidak. Pergilah!”
Gadis kecil : “Korek api, korek api! Belilah korek apiku! Untuk menyalakan
tungku api penghangat rumahmu. Korek api, korek api! Belilah
korek apiku!
Gadis kecil itu mulai menggigil. Ia duduk karena letih di depan sebuah restoran.
Di dalamnya terlihat sebuah keluarga yang sedang menikmati makan malam yang
hangat.
Gadis kecil itu menatap ke dalam. Keluarga itu tampak terganggu. Seorang
pelayan keluar dari restoran.
Pelayan : “Pergi kau gadis kecil. Jangan ganggu tamuku!”
Gadis kecil : “Aku tidak mengganggu, Pak. Aku hanya menawarkan korek apiku.
Mungkin Bapak memerlukannya untuk menyalakan kompor supaya
bisa memasak masakan enak.”
Pelayan : (dengan kasar) “Pergi! Aku tidak butuh korek apimu!”
Si Gadis kecil berlalu dengan lesu. Di bawah tiang lampu ia berhenti. Kakinya
gemetar. Seluruh kakinya gemetar. Ia tidak sanggup lagi berjalan. Ia terduduk. Lalu,
terbayanglah ucapan ayahnya yang pemabuk dan tidak peduli padanya, ucapan ibu
tirinya yang pemarah, dan neneknya yang telah tiada.
Ayah : “Kau anak tidak ada gunanya. Jangan dekat-dekat denganku!”
Ibu Tiri : “Kalau kau ingin menjadi anak berguna, juallah korek api ini hingga
habis. Jangan pulang sebelum habis. Kau tidak akan kubukakan
pintu kalau tidak membawa uang. Pergilah!”
Nenek : “Cucuku, gadis tercantik yang pernah Nenek lihat. Jangan bersedih.
Aku selalu bersamamu.”
Gadis kecil : (sambil mengulurkan tangan kepada neneknya) “Nenek! Nenek aku
ikut Nenek saja. Terlalu dingin di sini, Nek. Aku tidak kuat. Tunggu
aku, Nek.”
Nenek : “Ayo, cucuku yang cantik. Ayo!”
Gadis kecil : “Aku ikut, Nek ... “
Nenek mengulurkan tangannya dan disambut oleh si gadis kecil penjual korek api.
PENYESALAN
Babak I
Kantin hiruk pikuk. Joy duduk di sudut kanan bersama Rio menyantap bakso
tahu goreng. Rio dipanggil Dodi, anak kelas 1. Joy sendirian.
Rio : (datang terburu-buru) Joy, Joy ... Aku, aku ...!
Joy : Tenang, tenang dulu, Yo! (Rio menyeret kursi. Rio duduk dengan napas
terburu-buru)
Rio : Joy, gawat ... gawat sekali, Joy!
Rio : Apanya yang gawat?
Rio : Raka, Joy ... Raka ... (Rio menekan suaranya)
Joy : Kenapa dengan Raka? (suaranya meninggi)
Rio : Sst ... nanti terdengar orang lain. Ini menyangkut harga diri teman kita!
Joy : Iya, iya ... kenapa dengan Raka, Yo! Kenapa dia?
Rio : Dia ditahan! Dia tertangkap polisi!
Joy : Ya, Tuhan ...!
Rio : Tenang dulu, kawan! Tuh anak, ternyata jarang sekolah, menjauh dari kita,
nggak mau lagi temenan ama kita, ternyata melangkah lebih jauh ...
Joy : Maksudnya?
Rio : Lebih dari itu? Dia pengedar ...
Joy : Hah! Pengedar? (suaranya meninggi)
Rio : Sialan kamu ... jangan teriak begitu!
Joy : Apa yang harus kita perbuat?
Rio : Kita jenguk dia?
Babak II
Di ruang kepolisian. Rio dan Joy masuk ke ruangan kepolisian. Seorang polisi
yang sedang jaga mempersilahkan duduk.
Polisi : Ada perlu apa, Dik?
Rio : Mau menjenguk teman. Teman saya ditahan di sini?
Polisi : Siapa namanya?
Joy : Raka, Pak!
Polisi : Yang terlibat narkoba itu?
Joy dan Rio : Ya ...
Polisi : Kalian ... temannya?
Rio : Teman sekolahnya! Teman sekelasnya ...
Polisi : Oh! Mari ikut ke dalam! O, ya, isi dulu buku tamu itu! Di dalam, nanti tunggu
di tempat menjenguk tahanan, ya! (Rio dan Joy masuk ke ruangan tempat
keluarga menjenguk tahanan. Polisi datang lagi sambil menggiring Raka.
Tampak Raka kaget. Wajahnya pucat. Lesu dan pakaiannya acak-acakan).
Rio dan Joy : Rakaaa... (mereka berpelukan. Raka menangis)
Raka : Aku, aku kena sial!
Joy : Sudahlah, aku sudah tahu, kok! Tetapi, kenapa kamu bisa terlibat seperti
ini? Jadi, menghindar dari kami itu sekedar untuk jadi pengedar!
Raka : Demi Tuhan, aku bukan pengedar, aku pemakai!
Rio : Aku nggak mau tahu alasan kamu, Ka! Yang aku sesalkan, kenapa bisa
terjadi! Lu terjerumus ke dunia ini! Kita pernah berjanji, kan!
Joy : Iya, kenapa bisa terjadi, Ka!
Raka : Aku bosan jadi anak yang baik ... aku jadi anak baik juga gak pernah
dipuji, gak pernah diperhatikan. Orang tuaku malah makin leluasa
meninggalkan aku, malah makin asyik dengan kegiatannya. Karena
mereka berpikir aku baik-baik saja, aku penurut!
Rio : Ya, Tuhan ... segitunya kamu berpikiran? Apakah kebaikan, ketulusan,
kearifan itu untuk dipuji? Raka, kita pernah terjerumus ke hal yang
beginian, waktu kelas satu.
Raka : Aku emosi! Aku kesal sama orang tuaku!
Joy : Istighfar, Ka, istighfarrrr ...!
Raka : Aku kehilangan kendali!
Rio : Yang bisa mengendalikan diri kita bukan siapa-siapa! Bukan aku! Bukan
orang tuamu. Bukan! Tapi kamu sendiri!
Raka : Terus aku mesti gimana? Aku menyesal! Aku bukan pengedar!
Joy : Sesal kemudian tak ada gunanya! Niatkan dalam hati, jangan sekali-kali
lagi kamu menyentuh barang haram lagi. Dan jangan mengikuti kata hati
yang diliputi bisikan syaitan. Kita punya Tuhan, Ka! Kita adukan
segalanya pada Tuhan!
Rio : Ya, Kaa!
Raka : Kalian memang teman yang baik! Terima kasih! (Raka terdiam sejenak,
tangisnya terdengar. Ketika tangis meledak, Raka menghambur ke tubuh
kedua temannya).
KEHIDUPAN GALILEI
Kakek : Di sana di sini sama saja. Semuanya tak berarti. Yang kau cari adalah agama.
Tak ada obat yang paling mujarab selain agama.
Abu : Saya tidak sakit.
Kakek : Tak ada tempat yang paling teduh dan tak ada obat lelah selaina agama.
Abu : Saya tidak capek.
Kakek : Segala teka-teki silang pasti tertebak oleh agama. Inilah kunci segala rahasia.
Abu : Saya tak butuh semua itu. Saya butuh cermin tipu daya.
Kakek : Apa?
Abu : Cermin Tipu Daya.
Kakek : ... Apa itu Cermin Tipu Daya?
Abu : Cermin Tipu Daya adalah penangkis segala bala. Penyelamat segala Pangeran
dalam dongeng purbakala.
Kakek : Inilah dia. Cermin sejati. Bukan plastik. Terbuat dari air danau perbani.
Lihatlah! Semua tampak jelas di sini. Lihatlah!
Abu : Wajah siapakah ini?
Kakek : Wajahmu.
Abu : Wajah saya?
Kakek : Siapa lagi?
Abu : Begini tua?
Kakek : Kau begini jernih bercahaya
Abu : Begini tua. Lebih sengsara dari nyatanya. Begini miskin.
Kakek : Di sini kau miskin dan kaya sekaligus.
Abu : Saya tidak mengerti.
Kakek : Tak lama lagi kau akan mengerti, kalau mau mendengar apa yang saya baca.
Abu : Kalau saya tetap tidak mengerti.
Kakek : Kau adalah insan yang malang.
Abu : Kalau begitu, cobalah bacakan satu baris!
Kakek : Dia ... Tuhan.
Abu : Tuhan.
Kakek : Tuhan.
Abu : Tuhan.
Kakek : Yang menciptakan kita.
Abu : Tuhan.
Kakek : Yakinlah!
Abu : Kalau begitu. Dia yang memulai segala ini.
Kakek : Juga yang akan mengakhiri segalanya.
Abu : Mulai dan mengakhiri.
Kakek : Membangun dan meruntuhkan sekaligus
Abu : Saya jadi bodoh
Kakek : Kau memang bodoh. Dan ketika kau dihidupkan, ajal disisipkan dalam salah
satu tulang igamu. Dialah ... Tuhan.
Abu : Tuhan.
Kakek : Dialah ... Tuhan. Yang telah menciptakan jagad raya dan seisinya.
Maka bersyukurlah kepada-Nya!
Maka patuhlah kau kepada firman-firman-Nya!
Maka perbuatlah segala perintah-perintah-Nya!
Maka jauhilah segala larangan-larangan-Nya!
Barang siapa melanggar, neraka hukumannya.
Barang siapa patuh, surga upahnya.
PAHLAWAN TANPA TANDA JASA
Ayah : Hei, kalian jangan bilang begitu! Kalian harus tahu! Tanpa
Pak Tohir, ayah belum tentu bisa sekolah. Dan ... menjadi
seperti sekarang ini.
Pak Tohir : Anak-anakmu sudah besar. Saya kan guru. Jadi, sudah
sewajarnya kalau saya membimbin para murid.
(diam sejenak)
Ayah : Ketika akan masuk SMP pun, ayah diantar oleh Pak Tohir
naik sampan.
(tiba-tiba dua buah sepeda motor melanggar mobil yang ditumpangi ayah, Pak Tohir,
Agus, dan Anis)
Cepat keluar dari mobil! Kalau tidak, bapak tua ini akan
celaka! (sambil mencengkram lengan Pak Tohir)
Pak Tohir : Aduh ... jantungku sakit! (sambil menekan dadanya dan
terhuyung-huyung keluar dari mobil dan jatuh tersungkur
dari mobil) Aduh, aduh, sakit sekali! (melihat keadaan
Pak Tohir, banyak pengendara mobil yang datang
hendak menolong. Para pengendara sepeda motor itupun
segera melarikan diri)
Ayah : Terima kasih, Pak. Wah, kalau tidak ada Bapak, entah
apa jadinya kami. Berkat keberanian dan kecerdikan
Bapak, kami terselamatkan dari penjahat.
Ayah : Nah, Agus, Anis. Sekali lagi Pak Tohir telah berjasa
kepada ayah dan kalian. Sekarang kalian mengalami
sendiri diselamatkan oleh Pak Tohir.
Nama Anggota Kelompok:
SUMANTRI
ABD. BASIT
NOVAYANTI
ALDI YANA PUTRA
NURHANI
AHMAD RENALDI
Niswah : “Nad, tidak lama lagi kita akan ujian, ya?”
Agung : “Ah, untuk apa belajar. UN-nya kan masih minggu depan.”
Alfiranti : “Dasar pemalas! Kalau kamu tidak mau belajar kamu pasti tidak akan tahu
soal-soal di ujian nanti.”
Agung : “Biarkan saja. Pasti nanti ibu guru akan membantu kita di ujian nanti.”
Fadil : “Karena yang aku dengar, kepala sekolah ingin melihat kemampuan kita
dalam belajar.”
Farhan : “Dengar itu! Agung, kalau kamu tidak lulus, kamu akan tinggal kelas
bersama adik-adik kelas kita nanti.”
Agung : “Baiklah, mulai sekarang aku akan belajar dengan tekun dan rajin, supaya
aku bisa naik kelas.”
Baju Bidadari
Suatu hari Putri ke mal bersama ibunya. Putri ingin sekali memilih baju bidadari
yang ia lihat di toko itu.
Putri : “Bu, baju itu bagus sekali, ya.”
Ibu : “Kamu pasti cantik jika mengenakannya. Tapi sayang harganya mahal
sekali.”
Putri : “Iya, harganya selangit! Aku tidak akan pernah bisa memilikinya.”
Ibu : “Jangan sedih dulu, kamu kan punya uang jajan. Mulai besok coba kamu
tabung uang jajanmu. Semakin lama, uangmu akan semakin bertambah dan
cukup untuk membei baju itu.”
Putri : “Ibu benar! Aku akan menabung dari uang jajan. O, ya Bu, Tante Meisya
kan pernah mengajari aku cara membuat kalung. Tante Meisya juga
mengajari cara membuat gelang dari pernak-pernik lucu. Bagaimana kalau
aku membuat kerajinan tangan itu dan menjualnya kepada teman-teman.”
Ibu : “Itu ide bagus. Ibu akan membantu kamu membuatnya. Dengan begitu,
jumlah dan gelang yang kamu juga akan lebih banyak.”
Seminggu kemudian.
Putri : “Ibu, semua temanku suka dengan kalung dan gelang yang kita buat.”
Ibu : “Betulkan, Putri? Itu merupakan kabar yang baik.”
Putri : “Aku bahkan menerima banyak sekali pesanan dari teman-teman dan ibu
Guru. Kata mereka, kerajinan tangan yang aku buat sangat indah.”
Ibu : “Anak Ibu memang hebat. Sekarang berapa uang yang sudah terkumpul
dari hasil penjualan kalung dan gelang?”
Putri segera menghitungnya.
Putri : “Horeee ...! Uangnya sudah cukup untuk membeli baju bidadari. Antar aku
ke mal sore nanti, ya, Bu. Aku akan membeli baju bidadari itu!”
Ibu : “Iya, Ibu akan mengantarmu.”
Putri : “Akhirnya aku bisa punya baju bidadari. Terima kasih, Ibu sudah
membantuku.”
Ibu : “Iya, sayang! Lalu, bagaimana dengan usaha penjualan kalung dan galang
yang telah kamu lakukan ini?’
Putri : “Selama masih ada yang suka, aku akan membuat terus. Uangnya akan aku
tabung.”
Ibu : “Boleh saja kamu mempunyai keinginan seperti itu, tapi jangan
mengganggu pelajaran, ya.”
Putri : “Iya, Bu!”
Diam
Alur Drama
Pada pagi hari itu tepatnya di depan rumah Ani, Nani, Jordi dan Dendi sedang
berkumpul. Tidak lama kemudian si Ani keluar dari rumahnya mendengar ketiga
temannya itu sedang ngobrol didepan halaman rumahnya.
Nani berusaha untuk menyadarkan Jordi yang diusianya sudah menginjak 17 tahun, tapi
sikapnya masih saja seperti anak-anak.
Nani : Jordi, kamu tu kan udah dewasa, mestinya tabiat buruk yang selama ini
melekat pada diri kamu itu sudah beransur menghilang, ini nggak malah
sepertinya makin menjadi.
Ani : Tuh.. dengerin kata si Nani, harusnya kamu tuh bisa bersikap lebih
dewasa, dan kebiasaan kamu yang suka ngejahilin orang itu sedikit demi
sedikut harus kamu hilangin.
Karena Jordi anaknya memang keras kepala dan suka menganggu orang lain, maka dia
tidak mengedahkan nasehat teman-temannya.
Jordi : Ah ... masa bodoh kalian!
Melihat sikap si Jordi yang tidak juga sadar diri tentang kebiasaan buruknya, Dendi pun
berusaha menyadarkan Jordi.
Dendi : Iseng itu emang boleh aja sih, Jordi. Tapi, kalau berlebihan kan nggak
baik juga. Lela tu anaknya baik dan pendiam, terus kenapa tega amat
kamu mau ngerjain dia. Emang salah dia apa?
Ani : Bener banget apa yang Dendi bilang. Justru kalau aku pas ngelihat Lela
itu yang ada di hati ini malah rasa hiba.
Jordi : Iba? Emang kenapa kok harus ngerasa iba?
Ani : Lela itu kan sudah nggak punya Ibu. Dia sehar-hari menghabiskan
waktunya untuk membantu ayahnya dagangan di pasar.
Jordi baru tahu kalau ternyata Lela sudah tidak memiliki ibu. Mendengar kabar tersebut,
keinginan Jordi untuk menjahili Lela pun pupus.
Jordi : Oh.. begitu ya.. kasihan ya si Lela! Ya sudah deh, aku janji nggak
bakalan ngejahilin atau ngerjain Lela lagi.
Nani : Bagus itu, tapi jangan hanya sama Lela dong! Sama siapapun kamu
nggak boleh bersikap jahil. Itu kan perbuatan dosa.
Ani : Bener itu!
Jordi : Ah.. kalian dikit-dikit dosa!
Semenjak itu, Jordi sudah tidak pernah menganggu Lela lagi, namun perangai buruknya
masih saja tidak berubah. Jordi sering membuat onar di kampungnya dan juga di
sekolahan.
Pada suatu hari mereka bertiga (Diva, Janah, Rika) sedang berkumpul disebuah taman di sekolah
mereka pada saat jam istirahat.
Setelah itu, Diva lantas pamitan sama teman-temannya untuk ke toilet karena dia ingin buang air
kecil.
Diva : Eh.. Rik, Jan, maaf ya.. aku mau ke toilet dulu nih, aku sudah nggak tahan nih,,,
maaf ya....
Janah : Iya, buruan!
Janah : Rik, kamu nggak boleh membuang banyak waktumu untuk hal-hal yang kurang
bermanfaat Rik, kamu harus mau belajar dengan giat biar kalau ditanya bisa
jawab. Kamu perhatian teman kita, Diva, dia hampir selalu bsia mengerjakan soal
dengan sangat baik, apalagi kalau cuman diatanya hal-hal yang mudah.
Rika : Betul sih, tapi mau gimana lagi orang aku malas banget kalau mau belajar.
Janah : Kalau kamu malas, sampai kapanpun kamu akan seperti itu. Kamu mau nanti
kamu tidak lulus?
Rika : Nggak tau deh, kalian itu gimana sih kok selalu punya semangat untuk belajar
gitu? Kalau aku baru mau buka buku aja udah malas banget rasanya.
Janah : Mulai setahap demi tahap. Untuk pertama kali mungkin kamu agak kesulitan
membiasakan diri dengan belajar dirumah. Kamu harus bisa mengawaliinya secara
perlahan.
Janah dan Rika akhirnya segera berjalan menuju ruangan kelas karena sebentar lagi lonceng akan
segera berbunyi mengingat sudah jam 10:25.
Sahabat Selamanya
Setelah beberapa waktu silam siswa telah melaksanakan ujian sekolahan. Dalam
tokoh ini sebut saja dengan nama Handoko. Dia salah satu murid teladan yang ada
disekolahnya dan dia mempunyai sahabat Dodi, Nikmah, dan Roni. Suatu hari dia
dipanggil kepala sekolah untuk menemui beliau. Begitu juga dengan teman lainnya yang
secara bergiliran.
Setelah keluar dari ruang kantor guru, Handoko terlihat sangat girang dan berlari-
lari kesana kemari, pasalnya dia mendapat nilai Ujian Nasional yang bagus, sementara
itu teman temannya juga mendapatkan nilai yang bagus juga.
Handoko : “Yes.. yes.., akhirnya aku lulus dengan nilai yang sangat bagus!”
Dodi : Alhamdulillah kita berempat lulus dengan nilai yang memuaskan, ini
berkat keseriusan kita ketika belajar selama ini.
Nikmah : Tentu saj kita sudah mengorbankan banyak waktu demi belajar.
Handoko : Roni kamu ngelamunin apa?? (sambil menepuk bahu Roni karena sejak
awal ngelamun sendiri).
Roni : Teman-teman, kita kan sudah hamper lulus SMP nih, pastinya kita akan
berpisah karena aku akan melanjutkan pendidikan ke SMA di luar kota.
Dodi : Betul juga aku juga akan melanjutkan pendidikan diluar negeri,
bagaiman dengan kamu Nikmah?
Nikmah : Aku akan meneruskan ke pondok luar kota, kalau kamu kemna
Handoko?
Handoko : Aku akan meneruskan ke SMA favoit tunas muda yang ada di kota ini.
Tidak terasa persahabatan ini kita rajut sejak TK hingga sekarang dan
harus terpencar sendiri-sendiri (sambil meremurungkan muka).
Dodi : Sudahlah, Ko. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan dan itu terjadi
pada kita sekarang. Bagaimana pun juga itulah hidup kita terus
memikirkan masa depan kita. Mari kita saling memaafkan untuk menjalin
silaturrahmi ini menjadi baik.
Kemudian keempat remaja itu saling memaafkan karena harus berpisah untuk
sementara dan pada akhirnya mereka memutuskan persahabatannya tidak putus di sini
saja. Meskipun jarak dan waktu sulit ketemu, semoga suatu saat ada waktu yang indah
untuk ditemukan.
Judul:Sahabat Selamanya
Tema:Persahabatan
Pemeran:Fadli, Dhani, Tantri, Eros, Ibu Rosidah
Sinopsis Drama :
Pagi yang cerah di SMA Negeri 20 Bandar Lampung. Di lorong sekolah berbincanglah
tiga orang sahabat yakni Fadli, Dhani, dan Tantri. Mereka berbincang
tentang banyak hal. Akan tetapi perbincangan mereka mengerucut
hingga ke satu topik penting. Topik tersebut adalah tentang keanehan
yang terjadi pada salah satu sahabat terbaik mereka yakni Eross.
Kecurigaan ketiga sahabat tersebut terhadap keanehan Eross bukannya
tidak beralasan. Eross yang selama ini dikenal sebagai pribadi yang
periang dan ceria, kini tiba-tiba menjadi pendiam dan pemurung. Hal ini
yang menjadi topik perbincangan utama mereka di lorong kelas 12 IPA 1
di pagi itu.
Beberapa saat kemudian, lewatlah Eross di hadapan Fadli, Dhani, dan Tantri.
Detik demi detik pun berlalu dan akhirnya jam istirahat kedua pun tiba. Seusai shalat
dhuhur berjamaah di mushala, ketiga sahabat itu pergi menuju ruang BK
untuk menemui ibu Rosidah. Sambil berjalan cepat menuju ruang BK,
perbincangan kecil pun terjadi.
Sesampainya di ruang BK
Tantri:Aku jadi makin penasaran. Jawabannya ada di ruangan ini. (sambil menunjuk
ruang BK yang tertera nama ibu Rosidah, S.Pd. di pintu ruangan)
Fadli:Assalamualaikum (mengetik pintu)
Ibu Rosidah:Waalaikumsalam. Silahkan masuk!
Fadli:Terima kasih bu.
Ibu Rosidah:Oh, kalian. Ada apa? Silahkan duduk.
Fadli, Dhani, Tantri:Terima kasih bu.
Ibu Rosidah:Ada yang bisa ibu bantu? Kalian sampai ke ruangan ibu di jam istirahat
begini.
Tantri:Begini bu, langsung saja ke topik pembicaraan yang ingin kami utarakan. Saya
ingin bertanya soal Eross. Akhir-akhir ini ia berubah menjadi lebih
pendiam, pemurung, dan seringkali menghindar dari kami, padahal kami
ini sahabatnya.
Fadli: Betul bu, sebenarnya apa yang terjadi dengan Eross?
Keempat sahabat itu berjalan cepat menuju ke ruang BK. Sesampainya di ruangan Bu
Rosidah Dhani pun mengetuk pintu ruangan.
Setelah urusan keempat sahabat itu selesai, mereka meninggalkan ruang BK dengan
mata berkaca-kaca. Mereka pun kembali ke kelas dengan perasaan lega
karena permasalahan telah diselesaikan dengan baik