0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
220 tayangan22 halaman

Contoh Drama Singkat

Cerita ini menceritakan tentang seorang anak bernama Raka yang ditangkap karena terlibat narkoba. Dua temannya menjenguk Raka di kantor polisi. Raka mengaku menyesal dan bukan pengedar melainkan pemakai narkoba.

Diunggah oleh

suarahatirakyat12
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
220 tayangan22 halaman

Contoh Drama Singkat

Cerita ini menceritakan tentang seorang anak bernama Raka yang ditangkap karena terlibat narkoba. Dua temannya menjenguk Raka di kantor polisi. Raka mengaku menyesal dan bukan pengedar melainkan pemakai narkoba.

Diunggah oleh

suarahatirakyat12
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TAS DARI KAIN PERCA

Tas sekolah Yolanda telah sobek bagian bawahnya. Ia sudah berkali-kali


menambalnya. Mungkin beban buku yang dibawahnya terlalu berat atau tas itu memang
sudah saatnya diganti.

Yolanda : “Nenek, aku memerlukan tas baru. Tas sekolahku sudah sobek.”

Nenek : “Nenek belum punya uang, Yolanda. Bagaimana kalau kamu jahit saja
dahulu tas itu?”

Yolanda : “Tas itu sudah berkali-kali dijahit dan sobek lagi. Aku gunakan uang
tabunganku saja, ya, Nek.”

Nenek : “Yolanda, jangan kamu ambil uang tabunganmu. Biarkan uang tabunganmu
terkumpul banyak. Kelak dapat kamu gunakan untuk biaya sekolahmu.”

Yolanda : “Tetapi, sekarang Yolanda kan perlu tas, Nek.”

Nenek : “Yolanda nggak usah kuatir. Nanti Nenek buatkan tas dari kain perca. Nenek
punya banyak kain perca. Pasti hasilnya bagus.”

Yolanda : “Wah, nanti Yolanda diejek teman-teman memakai tas dari kain.”

Nenek : “Kamu tidak tahu. Sekarang kerajinan tangan dari kain perca sedang
diminati, seperti untuk taplak meja, sarung bantal kursi, dan penutup
kulkas. Sisa-sisa kain dapat kita manfaatkan menjadi sesuatu barang yang
menghasilkan. Walaupun dari sisa kain, kamu lihat saja nanti hasilnya, tas
itu pasti tidak kalah bagus dengan tas lainnya.”

Yolanda : “Baiklah, Nek. Terima kasih, Nenek.”

Yolanda mencium pipi neneknya yang sudah keriput.


BERJALAN-JALAN

Tokoh:
Aldo
Paman Andi
Ayah
Ibu

Aldo : (duduk di sebelah pamannya) “Paman, apakah besok ada acara?”


Paman Andi : “Tidak. Memang ada apa, Do?” (sambil memandang Aldo)
Aldo : “Aldo ingin jalan-jalan, Paman, tetapi ayah dan ibu tidak dapat
menemani.”
Paman Andi : “O, begitu. Memang Aldo ingin jalan-jalan ke mana?” (sambil tersenyum)
Aldo : (Terlihat bingung) “Ke mana saja, Paman. Yang penting Aldo bisa
berkeliling dan melihat tempat wisata yang menarik di Jakarta.”
Paman Andi : “Bagaimana kalau kita ke TMII?”
Aldo : (Matanya berbinar-binar) “Wah, asyik sekali, Paman! Tapi, apa Paman
mau menemani?”
Paman Andi : “Tentu saja, Do. Besok kita berangkat pagi-pagi biar tidak terjebak
macet.” (sambil menepuk pundak Aldo)
Aldo : “Hore! Akhirnya Aldo jalan-jalan!” (berteriak kegirangan)
(Ayah dan Ibu keluar dari kamar mendengar teriakan Aldo)
Ibu : “Ada apa, Do? Kok teriak-teriak?” (memandang Aldo)
Aldo : “Aldo diajak jalan-jalan ke TMII oleh Paman, Bu.”
Ibu : “Benar itu, An?” (memandang Paman Andi)
Paman Andi : “Iya, Kak.” (sambil tersenyum)
Ayah : “Kalau begitu, terima kasih, An. Aldo memang dari kemarin merengek-
rengek ingin jalan-jalan. Tapi, kami tidak bisa mengantar karena kami
besok harus menghadiri acara pernikahan kenalan kami.”
Paman Andi : “Tidak apa-apa, Kak. Kebetulan saya juga sudah lama tidak jalan-jalan.”
(memandang ayah)
Ayah : “Baiklah. Besok biar Ibu yang menyiapkan bekal. Bisa kan, Bu?”
(menengok ke arah Ibu)
Ibu : “Tentu saja.” (tersenyum)
Aldo : “Terima kasih, Bu.” (gembira)
Ayah dan Ibu kembali masuk ke kamar, sedangkan Paman Andi dan Aldo menonton
televisi)
GADIS KECIL PENJUAL KOREK API

Tokoh:
a. Gadis kecil : Badan kurus, bersuara lembut, pakaiannya compang-
camping, dan rambutnya kusut tak terurus, serta tidak
bersepatu.
b. Ayah : Pemabuk, gendut, tampak tidak peduli
c. Ibu Tiri : Galak dan pemarah
d. Nenek : Lembut, sangat tua, penyayang
e. Pelayan restoran : Memiliki sifat tidak ramah

Latar Panggung
Jalan di kota dengan toko-toko dan restoran mewah. Tiang lampu dengan
lampu-lampu yang menyala. Salju mulai turun.
Gadis kecil : “Korek api, korek api. Belilah korek apiku. Korek api, korek api ...
belilah korek apiku!” (menyapa seorang ibu) “Ibu yang baik, Anda
memerlukan korek api?”
Ibu pejalan kaki : “Tidak, Nak. Aku masih punya banyak di rumah. Terima kasih.”
Gadis kecil : (Menyapa seorang bapak) “Bapak yang bijak, Anda membutuhkan
korek api?”
Bapak pejalan kaki : (dengan galak) “Tidak! Sama sekali tidak. Pergilah!”
Gadis kecil : “Korek api, korek api! Belilah korek apiku! Untuk menyalakan
tungku api penghangat rumahmu. Korek api, korek api! Belilah
korek apiku!
Gadis kecil itu mulai menggigil. Ia duduk karena letih di depan sebuah restoran.
Di dalamnya terlihat sebuah keluarga yang sedang menikmati makan malam yang
hangat.
Gadis kecil itu menatap ke dalam. Keluarga itu tampak terganggu. Seorang
pelayan keluar dari restoran.
Pelayan : “Pergi kau gadis kecil. Jangan ganggu tamuku!”
Gadis kecil : “Aku tidak mengganggu, Pak. Aku hanya menawarkan korek apiku.
Mungkin Bapak memerlukannya untuk menyalakan kompor supaya
bisa memasak masakan enak.”
Pelayan : (dengan kasar) “Pergi! Aku tidak butuh korek apimu!”
Si Gadis kecil berlalu dengan lesu. Di bawah tiang lampu ia berhenti. Kakinya
gemetar. Seluruh kakinya gemetar. Ia tidak sanggup lagi berjalan. Ia terduduk. Lalu,
terbayanglah ucapan ayahnya yang pemabuk dan tidak peduli padanya, ucapan ibu
tirinya yang pemarah, dan neneknya yang telah tiada.
Ayah : “Kau anak tidak ada gunanya. Jangan dekat-dekat denganku!”
Ibu Tiri : “Kalau kau ingin menjadi anak berguna, juallah korek api ini hingga
habis. Jangan pulang sebelum habis. Kau tidak akan kubukakan
pintu kalau tidak membawa uang. Pergilah!”
Nenek : “Cucuku, gadis tercantik yang pernah Nenek lihat. Jangan bersedih.
Aku selalu bersamamu.”
Gadis kecil : (sambil mengulurkan tangan kepada neneknya) “Nenek! Nenek aku
ikut Nenek saja. Terlalu dingin di sini, Nek. Aku tidak kuat. Tunggu
aku, Nek.”
Nenek : “Ayo, cucuku yang cantik. Ayo!”
Gadis kecil : “Aku ikut, Nek ... “
Nenek mengulurkan tangannya dan disambut oleh si gadis kecil penjual korek api.
PENYESALAN

Babak I
Kantin hiruk pikuk. Joy duduk di sudut kanan bersama Rio menyantap bakso
tahu goreng. Rio dipanggil Dodi, anak kelas 1. Joy sendirian.
Rio : (datang terburu-buru) Joy, Joy ... Aku, aku ...!
Joy : Tenang, tenang dulu, Yo! (Rio menyeret kursi. Rio duduk dengan napas
terburu-buru)
Rio : Joy, gawat ... gawat sekali, Joy!
Rio : Apanya yang gawat?
Rio : Raka, Joy ... Raka ... (Rio menekan suaranya)
Joy : Kenapa dengan Raka? (suaranya meninggi)
Rio : Sst ... nanti terdengar orang lain. Ini menyangkut harga diri teman kita!
Joy : Iya, iya ... kenapa dengan Raka, Yo! Kenapa dia?
Rio : Dia ditahan! Dia tertangkap polisi!
Joy : Ya, Tuhan ...!
Rio : Tenang dulu, kawan! Tuh anak, ternyata jarang sekolah, menjauh dari kita,
nggak mau lagi temenan ama kita, ternyata melangkah lebih jauh ...
Joy : Maksudnya?
Rio : Lebih dari itu? Dia pengedar ...
Joy : Hah! Pengedar? (suaranya meninggi)
Rio : Sialan kamu ... jangan teriak begitu!
Joy : Apa yang harus kita perbuat?
Rio : Kita jenguk dia?
Babak II
Di ruang kepolisian. Rio dan Joy masuk ke ruangan kepolisian. Seorang polisi
yang sedang jaga mempersilahkan duduk.
Polisi : Ada perlu apa, Dik?
Rio : Mau menjenguk teman. Teman saya ditahan di sini?
Polisi : Siapa namanya?
Joy : Raka, Pak!
Polisi : Yang terlibat narkoba itu?
Joy dan Rio : Ya ...
Polisi : Kalian ... temannya?
Rio : Teman sekolahnya! Teman sekelasnya ...
Polisi : Oh! Mari ikut ke dalam! O, ya, isi dulu buku tamu itu! Di dalam, nanti tunggu
di tempat menjenguk tahanan, ya! (Rio dan Joy masuk ke ruangan tempat
keluarga menjenguk tahanan. Polisi datang lagi sambil menggiring Raka.
Tampak Raka kaget. Wajahnya pucat. Lesu dan pakaiannya acak-acakan).
Rio dan Joy : Rakaaa... (mereka berpelukan. Raka menangis)
Raka : Aku, aku kena sial!
Joy : Sudahlah, aku sudah tahu, kok! Tetapi, kenapa kamu bisa terlibat seperti
ini? Jadi, menghindar dari kami itu sekedar untuk jadi pengedar!
Raka : Demi Tuhan, aku bukan pengedar, aku pemakai!
Rio : Aku nggak mau tahu alasan kamu, Ka! Yang aku sesalkan, kenapa bisa
terjadi! Lu terjerumus ke dunia ini! Kita pernah berjanji, kan!
Joy : Iya, kenapa bisa terjadi, Ka!
Raka : Aku bosan jadi anak yang baik ... aku jadi anak baik juga gak pernah
dipuji, gak pernah diperhatikan. Orang tuaku malah makin leluasa
meninggalkan aku, malah makin asyik dengan kegiatannya. Karena
mereka berpikir aku baik-baik saja, aku penurut!
Rio : Ya, Tuhan ... segitunya kamu berpikiran? Apakah kebaikan, ketulusan,
kearifan itu untuk dipuji? Raka, kita pernah terjerumus ke hal yang
beginian, waktu kelas satu.
Raka : Aku emosi! Aku kesal sama orang tuaku!
Joy : Istighfar, Ka, istighfarrrr ...!
Raka : Aku kehilangan kendali!
Rio : Yang bisa mengendalikan diri kita bukan siapa-siapa! Bukan aku! Bukan
orang tuamu. Bukan! Tapi kamu sendiri!
Raka : Terus aku mesti gimana? Aku menyesal! Aku bukan pengedar!
Joy : Sesal kemudian tak ada gunanya! Niatkan dalam hati, jangan sekali-kali
lagi kamu menyentuh barang haram lagi. Dan jangan mengikuti kata hati
yang diliputi bisikan syaitan. Kita punya Tuhan, Ka! Kita adukan
segalanya pada Tuhan!
Rio : Ya, Kaa!
Raka : Kalian memang teman yang baik! Terima kasih! (Raka terdiam sejenak,
tangisnya terdengar. Ketika tangis meledak, Raka menghambur ke tubuh
kedua temannya).
KEHIDUPAN GALILEI

Judul asli : Leben des Galilei


Karya : Bertolt Brencht
Penerjemah : Frans Rahardjo
Para pelaku : Gal (Galilei)
And (Andrea), anak lelaki
Sar (Nyonya Sarti), Ibu Andrea, Pemilik Rumah

Panggung menggambarkan ruang kerja Galilei


Gal : Jadi kau sudah mengerti apa yang aku jelaskan kemarin?
And : Tentang apa?
Gal : Tentang kemarin.
And : Tentang Koppernikus dengan perputarannya itu.
Gal : Ya.
And : Belum. Bagaimana mungkin Anda harapkan aku ngerti? Aku masih sukar
memahami. Satu oktober nanti usiaku baru genap sebelas.
Gal : Apa salahnya kau memahami, Nak? Aku ingin agar orang mengerti apa
yang aku pikirkan. Untuk itu, aku bekerja dan uangnya kubelikan buku-
buku daripada kubayarkan tukang susu.
And : Tapi, kenyataannya aku selalu melihat, matahari terbit di timur dan
tenggelan di barat. Begitu selalu. Matahari tidak pernah mandeg. Tidak
pernah dan tidak akan mandeg.
Gal : Apa? Kaukatakan engkau melihat? Apa yang kau lihat? Sebenarnya
engkau tidak melihat apa-apa. Engkau sekedar membelalakkan matamu.
Membelalakkan mata belum berarti melihat. (Gal menaruh meja bundar
di tengah-tengah kamar) Nah, ini matahari. Duduklah. (And duduk di
kursi, Gal berdiri di belakangnya) Coba, katakan di mana mataharinya?
Di sebelah kanan atau di sebelah kiri?
And : Di sebelah kiri.
Gal : Bagus. Dan sekarang bagaimana caranya supaya matahari itu berada di
sebelah kanan?
And : Jika Anda memindahkan matahari itu ke sebelah kanan, tentu!
Gal : Cuma begitu saja? Tidak ada cara lain? (Gal mengangkat And sekaligus
dengan kursi yang didudukinya dan memindahkannya ke sebelah lain
dari meja bundar) Nah, sekarang di mana mataharinya?
And : Di sebelah kanan.
Gal : Dan apakah matahari itu tidak bergerak?
And : Tentu tidak!
Gal : Jadi, yang bergerak adalah ...
And : Aku
Gal : Salah! Kursinya!
And : Tapi, aku, kan melekat pada kursi itu?
Gal : Nah, kursi itu adalah bumi. Dan engkau berada di atas bumi itu. (Sar
masuk, mengatur tempat tidur sambil memperhatikan)
Sar : Apa yang sedang Anda ajarkan kepada anakku, Tuan Galilei?
Gal : Aku sedang mengajar dia melihat, Nyonya Sarti!
Sar : Dengan cara mengurung dia dalam kamar seperti ini?
And : Jangan ikut campur, Bu. Ibu, kan tidak mengerti apa yang sedang kami pelajari.
Sar : O, ya, tapi apakah kau sendiri mengerti pelajaran itu? (kepada Gal) Jangan
Anda ajari dia hal yang sukar-sukar. Sedang dua kali dua dia katakan lima.
Dia selalu salah wesel tentang apa yang Anda ajarkan kepadanya. Malah
kemarin dia memberi tahu aku, katanya bumi ini berputar mengeliling
matahari. Ia yakin benar karena katanya soal itu telah diselidiki dengan
seksama oleh orang yang bernama koppernikus.
And : (kepada Gal) Bukankah Koppernikus memang telah menyelidikinya dengan
seksama, Tuan Galilei? Lebih baik Anda jelaskan sendiri kepada Ibu.
Sar : Apa? (kepada Gal) Jadi, Anda sendiri telah mengajarkan omong kosong
semacam itu? Pantesan anakku ngomong kiri kanan di sekolah. Sampai-
sampai para rohaniawan mendatangi aku, gara-gara pertanyaannya yang
lancang yang bisa membawa bencana itu. Anda patut malu, Tuan Galilei.
Gal : (sambil sarapan) Penyelidikan kami cukup mempunyai dasar yang kuat, Nyonya
Sarti. Setelah melalui perdebatan yang sengit, akhirnya Andrea dan aku
sampailah pada suatu penemuan baru. Tak lama kita akan menyingkap tabir
rahasia yang menyelimuti bumi kita. Akan tampil suatu zaman baru. Zaman yang
jaya, di mana dibutuhkan kegairahan untuk hidup.
Sar : Ya ... mudah-mudahan dalam zaman baru itu nanti kita masih mampu
membayar tukang susu. Tuan Galilei, di luar ada orang muda, yang juga
mempelajarinya. Pakaiannya bagus dan membawa surat pujian. (Sar
menyerahkan surat). Semoga Anda tidak mengecewakan aku dan janganlah
Anda abaikan surat itu. Aku prihatin tentang rekening susu itu.
KAPAI-KAPAI

Kakek : Di sana di sini sama saja. Semuanya tak berarti. Yang kau cari adalah agama.
Tak ada obat yang paling mujarab selain agama.
Abu : Saya tidak sakit.
Kakek : Tak ada tempat yang paling teduh dan tak ada obat lelah selaina agama.
Abu : Saya tidak capek.
Kakek : Segala teka-teki silang pasti tertebak oleh agama. Inilah kunci segala rahasia.
Abu : Saya tak butuh semua itu. Saya butuh cermin tipu daya.
Kakek : Apa?
Abu : Cermin Tipu Daya.
Kakek : ... Apa itu Cermin Tipu Daya?
Abu : Cermin Tipu Daya adalah penangkis segala bala. Penyelamat segala Pangeran
dalam dongeng purbakala.
Kakek : Inilah dia. Cermin sejati. Bukan plastik. Terbuat dari air danau perbani.
Lihatlah! Semua tampak jelas di sini. Lihatlah!
Abu : Wajah siapakah ini?
Kakek : Wajahmu.
Abu : Wajah saya?
Kakek : Siapa lagi?
Abu : Begini tua?
Kakek : Kau begini jernih bercahaya
Abu : Begini tua. Lebih sengsara dari nyatanya. Begini miskin.
Kakek : Di sini kau miskin dan kaya sekaligus.
Abu : Saya tidak mengerti.
Kakek : Tak lama lagi kau akan mengerti, kalau mau mendengar apa yang saya baca.
Abu : Kalau saya tetap tidak mengerti.
Kakek : Kau adalah insan yang malang.
Abu : Kalau begitu, cobalah bacakan satu baris!
Kakek : Dia ... Tuhan.
Abu : Tuhan.
Kakek : Tuhan.
Abu : Tuhan.
Kakek : Yang menciptakan kita.
Abu : Tuhan.
Kakek : Yakinlah!
Abu : Kalau begitu. Dia yang memulai segala ini.
Kakek : Juga yang akan mengakhiri segalanya.
Abu : Mulai dan mengakhiri.
Kakek : Membangun dan meruntuhkan sekaligus
Abu : Saya jadi bodoh
Kakek : Kau memang bodoh. Dan ketika kau dihidupkan, ajal disisipkan dalam salah
satu tulang igamu. Dialah ... Tuhan.
Abu : Tuhan.
Kakek : Dialah ... Tuhan. Yang telah menciptakan jagad raya dan seisinya.
Maka bersyukurlah kepada-Nya!
Maka patuhlah kau kepada firman-firman-Nya!
Maka perbuatlah segala perintah-perintah-Nya!
Maka jauhilah segala larangan-larangan-Nya!
Barang siapa melanggar, neraka hukumannya.
Barang siapa patuh, surga upahnya.
PAHLAWAN TANPA TANDA JASA

(dalam sebuah mobil yang sedang melaju)

Ayah : Anak-anak, Pak Tohir ini sangat berjasa bagi ayah.


Berkat Pak Tohir, ayah berhasil seperti sekarang ini.

Agus : Ah, ayah. Semua guru kan berjasa bagi murid-muridnya.


Itu sudah biasa.

Anis : Iya, Ayah kan cuma membesar-besarkan jasa Pak Tohir.

Ayah : Hei, kalian jangan bilang begitu! Kalian harus tahu! Tanpa
Pak Tohir, ayah belum tentu bisa sekolah. Dan ... menjadi
seperti sekarang ini.

Pak Tohir : Anak-anakmu sudah besar. Saya kan guru. Jadi, sudah
sewajarnya kalau saya membimbin para murid.

(diam sejenak)

Ayah : Anak-anakku, dulu Pak Tohir inilah yang membujuk


kakek. Pak Tohir meyakinkan kakek agar ayah diizinkan
bersekolah. Bahkan, peralatan sekolahpun Pak Tohirlah
yang menyediakan.

Agus : Hanya itu, Yah?

Ayah : Ketika akan masuk SMP pun, ayah diantar oleh Pak Tohir
naik sampan.

Anis : Lalu di mana hebatnya?

(tiba-tiba dua buah sepeda motor melanggar mobil yang ditumpangi ayah, Pak Tohir,
Agus, dan Anis)

Ayah : Hai, awas (ayah berteriak)

(Kedua sepeda motor itu lalu menghadang mobil yang


dilanggarnya. Pengendara sepeda motor meminta ayah
membuka kaca pintu mobil)

Pengendara sepeda motor : (sambil berteriak)

Cepat keluar dari mobil! Kalau tidak, bapak tua ini akan
celaka! (sambil mencengkram lengan Pak Tohir)

Pak Tohir : Aduh ... jantungku sakit! (sambil menekan dadanya dan
terhuyung-huyung keluar dari mobil dan jatuh tersungkur
dari mobil) Aduh, aduh, sakit sekali! (melihat keadaan
Pak Tohir, banyak pengendara mobil yang datang
hendak menolong. Para pengendara sepeda motor itupun
segera melarikan diri)

Seorang pengendara mobil : Ayo kita gotong Bapak ini!

Seorang pengendara mobil : Ayo, ayo

lain (tiba-tiba dengan sigap Pak Tohir berdiri)

Pak Tohir : Terima kasih, terima kasih! Saya tidak apa-apa.

Ayah : Lho, Pak?

Pak Tohir : (sambil tersenyum) Saya tadi hanya berpura-pura untuk


menarik perhatian para pengendara mobil lainnya.
Maksud saya agar para penjahat itu takut dan lari.
Ternyata usaha saya berhasil.

Ayah : Terima kasih, Pak. Wah, kalau tidak ada Bapak, entah
apa jadinya kami. Berkat keberanian dan kecerdikan
Bapak, kami terselamatkan dari penjahat.

Agus : Saya juga mengucapkan terima kasih, Pak.

Anis : Saya juga, Pak.

Ayah : Nah, Agus, Anis. Sekali lagi Pak Tohir telah berjasa
kepada ayah dan kalian. Sekarang kalian mengalami
sendiri diselamatkan oleh Pak Tohir.
Nama Anggota Kelompok:
SUMANTRI
ABD. BASIT
NOVAYANTI
ALDI YANA PUTRA
NURHANI
AHMAD RENALDI
Niswah : “Nad, tidak lama lagi kita akan ujian, ya?”

Nadiya : “Iya. Jadi, kita harus rajib belajar.”

Tiba-tiba Alfiranti datang menghampiri Niswah dan Nadiya.

Alfiranti : “Hai Nis, Nad. Kalian sedang apa?”

Niswah : “Kita sedang membicarakan ujian nanti.”

Kemudian Farhan dan Fadil menghampiri teman-temannya.

Fadil : “Hai, bagaimana persiapan kalian menghadapi UN minggu depan?”

Farhan : “Persiapanku hanya dengan rajin belajar.”

Agung : “Ah, untuk apa belajar. UN-nya kan masih minggu depan.”

Alfiranti : “Dasar pemalas! Kalau kamu tidak mau belajar kamu pasti tidak akan tahu
soal-soal di ujian nanti.”

Nadiya : “Pantas saja nilaimu selalu jelek.”

Farhan : “Betul itu apa yang dikatakan Nadiya.”

Agung : “Biarkan saja. Pasti nanti ibu guru akan membantu kita di ujian nanti.”

Fadil : “Tidak! Kita tidak akan mendapat bantuan dari guru.”

Niswah : “Kenapa kita tidak mendapat bantuan dari guru?”

Fadil : “Karena yang aku dengar, kepala sekolah ingin melihat kemampuan kita
dalam belajar.”

Nadiya : “Berarti kita harus belajar dengan bersungguh-sungguh.”

Alfiranti : “Ya, kita harus belajar dengan tekun dan rajin!”

Farhan : “Dengar itu! Agung, kalau kamu tidak lulus, kamu akan tinggal kelas
bersama adik-adik kelas kita nanti.”

Agung : “Baiklah, mulai sekarang aku akan belajar dengan tekun dan rajin, supaya
aku bisa naik kelas.”

Farhan : “Gitu, dong. Itu baru anak rajin.”

Baju Bidadari

Suatu hari Putri ke mal bersama ibunya. Putri ingin sekali memilih baju bidadari
yang ia lihat di toko itu.
Putri : “Bu, baju itu bagus sekali, ya.”
Ibu : “Kamu pasti cantik jika mengenakannya. Tapi sayang harganya mahal
sekali.”
Putri : “Iya, harganya selangit! Aku tidak akan pernah bisa memilikinya.”
Ibu : “Jangan sedih dulu, kamu kan punya uang jajan. Mulai besok coba kamu
tabung uang jajanmu. Semakin lama, uangmu akan semakin bertambah dan
cukup untuk membei baju itu.”
Putri : “Ibu benar! Aku akan menabung dari uang jajan. O, ya Bu, Tante Meisya
kan pernah mengajari aku cara membuat kalung. Tante Meisya juga
mengajari cara membuat gelang dari pernak-pernik lucu. Bagaimana kalau
aku membuat kerajinan tangan itu dan menjualnya kepada teman-teman.”
Ibu : “Itu ide bagus. Ibu akan membantu kamu membuatnya. Dengan begitu,
jumlah dan gelang yang kamu juga akan lebih banyak.”
Seminggu kemudian.
Putri : “Ibu, semua temanku suka dengan kalung dan gelang yang kita buat.”
Ibu : “Betulkan, Putri? Itu merupakan kabar yang baik.”
Putri : “Aku bahkan menerima banyak sekali pesanan dari teman-teman dan ibu
Guru. Kata mereka, kerajinan tangan yang aku buat sangat indah.”
Ibu : “Anak Ibu memang hebat. Sekarang berapa uang yang sudah terkumpul
dari hasil penjualan kalung dan gelang?”
Putri segera menghitungnya.
Putri : “Horeee ...! Uangnya sudah cukup untuk membeli baju bidadari. Antar aku
ke mal sore nanti, ya, Bu. Aku akan membeli baju bidadari itu!”
Ibu : “Iya, Ibu akan mengantarmu.”
Putri : “Akhirnya aku bisa punya baju bidadari. Terima kasih, Ibu sudah
membantuku.”
Ibu : “Iya, sayang! Lalu, bagaimana dengan usaha penjualan kalung dan galang
yang telah kamu lakukan ini?’
Putri : “Selama masih ada yang suka, aku akan membuat terus. Uangnya akan aku
tabung.”
Ibu : “Boleh saja kamu mempunyai keinginan seperti itu, tapi jangan
mengganggu pelajaran, ya.”
Putri : “Iya, Bu!”
Diam

Judul asli : La Silence


Karya : Jean Murriat
Penyadur : Bakdi Soemanto
Tokoh : 1. Aleks
2. Irna
3. Dawud
Pentas : Menggambarkan sebuah ruangan kamar tamu. Ada beberapa meja dan
kursi. Ada sebuah pintu di sebelah kiri untuk keluar dan masuk. Di atas meja
ada beberapa buku. Saat itu sore hari, kira-kira pukul 18.00. Lampu belum
dinyalakan.”
Irna : “Cukup, tak u ...”
Aleks : “Cukup, kau ... “
Irna : “Sudah.”
Dawud : (tiba-tiba masuk) “Sudah. Setiap kali ketemu begini. Di sekolah, di kantin, di
sini, di rumah Amroq, di rumah Pak Juweh, di rumah ... “
Irna : “Sudah. Kau juga sama saja. Marah selalu. Di sini, di sana, dan ... “
Aleks : “Kau juga mulai lagi. Masalahnya itu apa? Dipecahkan. Tidak asal ngomong,
asal ... “
Dawud : “Diam!”
(Semuanya diam sejenak dan beberapa jenak)
Aleks : “Ini jadi ...”
Irna : “Diam. Dawud bilang apa? Masak nggak dengan bahwa dia ... “
Dawud : “Diam, Irna. Kalau kau terus-terus begitu, berkeringat tanpa guna.
Padahal ...”
Aleks : “Kau juga ngomong melulu. Nggak konsekuen itu namanya. Absurd. Buat
larangan dilanggar sendiri. Huh. Dasar ... “
Irna : “Kau mulai lagi. Komentar itu secukupnya. Tidak ngelantur ke sana ke
sini ...”
Aleks : “Diam, Irna, diaaam!”
Dawud : “Kau juga diam dulu, jangan menyuruh melulu, nggak memberi contoh ... “
Irna : “Kau sendiri mesti diam dulu, baru yang lain, Wud.”
Diam semua. Tiba-tiba meledak tawa mereka bersama-sama.
Judul : Nasehat Dari Sahabat
Tema : Sosial (persahabatan)
Jumlah pemeran : 4 orang
Karakter :
Ani : Baik (suka menasehati)
Nani : Baik (suka dengan kebaikan)
Jordi : Jahat (suka menjahili orang)
Dendi : Baik (suka menegur temannya ketika salah)

Alur Drama
Pada pagi hari itu tepatnya di depan rumah Ani, Nani, Jordi dan Dendi sedang
berkumpul. Tidak lama kemudian si Ani keluar dari rumahnya mendengar ketiga
temannya itu sedang ngobrol didepan halaman rumahnya.

Naskah Dialog Drama


Ani : Hai, ada apa ini? Kok tumben kalian pada gerumpi di depan rumah aku..
nggak manggil aku lagi?!
Nani : Aku tadinya sih mau manggil kamu, tapi kamunya aja yang sudah keburu
nongol. Nggak ada acara kamu hari ini, An?
Ani : Nggak ada tuh.. emang mau ngajak kemana kok kayaknya mau ngajak
aku jalan gitu?
Nani : Nggak kok, aku cuman nanya aja.. ya, sapa tahu aja kamu mau ke mana
gitu, kan biasanya kamu padat acara.
Ani : Nggak ada kok, hari ini aku stay di rumah aja.

Tiba-tiba Jordi menyampaikan idenya kepada teman-temannya untuk ngejahilin Lela


yang biasanya lewat didepan rumah Ani.

Jordi : Eh teman-teman, aku ada ide nih!


Dendi : Ide apaan tu?
Jordi : Bisanya jam segini kan Lela pasti lewat sini, gimana kalau kita kerjain
dia. Setuju nggak kalian?
Dendi : Ngerjain Lela? Ah.. kamu ini jahat amat sih jadi orang!
Ani : Iya tuh.. kenapa sih dari dulu kamu tuh nggak pernah berubah, Di. Dari
dulu kerjaannya pengen ngejahilin orang terus!
Jordi : Biarin.. kan itu emang hobiku.

Nani berusaha untuk menyadarkan Jordi yang diusianya sudah menginjak 17 tahun, tapi
sikapnya masih saja seperti anak-anak.
Nani : Jordi, kamu tu kan udah dewasa, mestinya tabiat buruk yang selama ini
melekat pada diri kamu itu sudah beransur menghilang, ini nggak malah
sepertinya makin menjadi.
Ani : Tuh.. dengerin kata si Nani, harusnya kamu tuh bisa bersikap lebih
dewasa, dan kebiasaan kamu yang suka ngejahilin orang itu sedikit demi
sedikut harus kamu hilangin.

Karena Jordi anaknya memang keras kepala dan suka menganggu orang lain, maka dia
tidak mengedahkan nasehat teman-temannya.
Jordi : Ah ... masa bodoh kalian!
Melihat sikap si Jordi yang tidak juga sadar diri tentang kebiasaan buruknya, Dendi pun
berusaha menyadarkan Jordi.

Dendi : Iseng itu emang boleh aja sih, Jordi. Tapi, kalau berlebihan kan nggak
baik juga. Lela tu anaknya baik dan pendiam, terus kenapa tega amat
kamu mau ngerjain dia. Emang salah dia apa?
Ani : Bener banget apa yang Dendi bilang. Justru kalau aku pas ngelihat Lela
itu yang ada di hati ini malah rasa hiba.
Jordi : Iba? Emang kenapa kok harus ngerasa iba?
Ani : Lela itu kan sudah nggak punya Ibu. Dia sehar-hari menghabiskan
waktunya untuk membantu ayahnya dagangan di pasar.

Jordi baru tahu kalau ternyata Lela sudah tidak memiliki ibu. Mendengar kabar tersebut,
keinginan Jordi untuk menjahili Lela pun pupus.

Jordi : Oh.. begitu ya.. kasihan ya si Lela! Ya sudah deh, aku janji nggak
bakalan ngejahilin atau ngerjain Lela lagi.
Nani : Bagus itu, tapi jangan hanya sama Lela dong! Sama siapapun kamu
nggak boleh bersikap jahil. Itu kan perbuatan dosa.
Ani : Bener itu!
Jordi : Ah.. kalian dikit-dikit dosa!

Semenjak itu, Jordi sudah tidak pernah menganggu Lela lagi, namun perangai buruknya
masih saja tidak berubah. Jordi sering membuat onar di kampungnya dan juga di
sekolahan.

Naskah Drama 4 Orang Tentang Persahabatan – SELESAI


Judul Drama : Pendidikan
Tema Drama : Pendidikan
Jenis Drama : Drama Singkat
Jumlah pemeran : 3 (tiga) orang
Karakter/penokohan :
Devi Silahi sebagai Diva (Inspirator)
Janah Azizah sebagai Janah (Penyemangat)
Dwi Artika sebagai Rika (Pemalas)

Pada suatu hari mereka bertiga (Diva, Janah, Rika) sedang berkumpul disebuah taman di sekolah
mereka pada saat jam istirahat.

Teks Dialog Drama

Diva : Apa kabar kalian semuanya hari ini?


Janah : Baik
Diva : Kamu Rika?
Rika : Aku baik-baik aja, kamu sendiri apa kabar?
Diva : Alhamdulillah, aku juga baik-baik aja.
Janah : Kok pas dianyain sama Pak Darto tadi kamu nggak bisa jawab Rik?
Rika : Ya emang aku nggak bisa, mau gimana lagi?
Diva : Itu artinya kamu nggak belajar, iya kan?
Rika : Iya sih..
Diva : Belajar itu kan penting Rik, kamu jangan menghabiskan waktu untuk bermain saja
dong. Luangkan waktu untuk belajar sewaktu dirumah.

Setelah itu, Diva lantas pamitan sama teman-temannya untuk ke toilet karena dia ingin buang air
kecil.
Diva : Eh.. Rik, Jan, maaf ya.. aku mau ke toilet dulu nih, aku sudah nggak tahan nih,,,
maaf ya....
Janah : Iya, buruan!
Janah : Rik, kamu nggak boleh membuang banyak waktumu untuk hal-hal yang kurang
bermanfaat Rik, kamu harus mau belajar dengan giat biar kalau ditanya bisa
jawab. Kamu perhatian teman kita, Diva, dia hampir selalu bsia mengerjakan soal
dengan sangat baik, apalagi kalau cuman diatanya hal-hal yang mudah.
Rika : Betul sih, tapi mau gimana lagi orang aku malas banget kalau mau belajar.
Janah : Kalau kamu malas, sampai kapanpun kamu akan seperti itu. Kamu mau nanti
kamu tidak lulus?
Rika : Nggak tau deh, kalian itu gimana sih kok selalu punya semangat untuk belajar
gitu? Kalau aku baru mau buka buku aja udah malas banget rasanya.
Janah : Mulai setahap demi tahap. Untuk pertama kali mungkin kamu agak kesulitan
membiasakan diri dengan belajar dirumah. Kamu harus bisa mengawaliinya secara
perlahan.

Rika : Caranya gimana?


Janah : Luangkan 5-10 menit, dan pastikan kamu memaksakan diri untuk membuka buka
selama 5-10 menit tersebut.
Rika : Gitu ya? Emang 5-10 menit udah bisa buat kita ngerti apa yang kita pelajari? Itu
kan kamu, kalau aku mana bisa paham cuman baca buka 5-10 menit?
Janah : Maksud aku, 5-10 menit itu cuman sebagai permulaan. Dengan begitu kan kamu
akan terbiasa baca buku ampe lama, dan akhirnya kamu akan serasa nyaman
belajar hingga berjam-jam.
Rika : Oh.. gitu... Ya udah deh, aku coba nanti.
Janah : Betul ya! Tuh, lihat teman kita, si Diva. Dia selalu menjadi salah satu yang terbaik
dikelas kita. Bukan mau membanding-bandingkan kamu dengan dia sih, tapi
mestinya Diva kan bisa menjadi inspirasi buat kamu.
Rika : Iya.. iya, aku akan belajar.
Janah : Sip deh kalau gitu. Eh, udah mau masuk kelas nih. Yuk, tar telah lagi. Si Diva kok
belum dateng ya?
Rika : Ya udah, kita tunggu dikelas aja deh, siapa tahu dia malah udah ada dikelas.
Janah : Ok, yuuuukkk..

Janah dan Rika akhirnya segera berjalan menuju ruangan kelas karena sebentar lagi lonceng akan
segera berbunyi mengingat sudah jam 10:25.
Sahabat Selamanya

Handoko : murid teladan, baik, ramah, sopan, suka menolong


Dodi :: baik, ramah, sopan, suka menolong
Roni :: baik, ramah, sopan, suka menolong
Nikmah :: baik, ramah, sopan, suka menolong

Setelah beberapa waktu silam siswa telah melaksanakan ujian sekolahan. Dalam
tokoh ini sebut saja dengan nama Handoko. Dia salah satu murid teladan yang ada
disekolahnya dan dia mempunyai sahabat Dodi, Nikmah, dan Roni. Suatu hari dia
dipanggil kepala sekolah untuk menemui beliau. Begitu juga dengan teman lainnya yang
secara bergiliran.
Setelah keluar dari ruang kantor guru, Handoko terlihat sangat girang dan berlari-
lari kesana kemari, pasalnya dia mendapat nilai Ujian Nasional yang bagus, sementara
itu teman temannya juga mendapatkan nilai yang bagus juga.

Handoko : “Yes.. yes.., akhirnya aku lulus dengan nilai yang sangat bagus!”
Dodi : Alhamdulillah kita berempat lulus dengan nilai yang memuaskan, ini
berkat keseriusan kita ketika belajar selama ini.
Nikmah : Tentu saj kita sudah mengorbankan banyak waktu demi belajar.
Handoko : Roni kamu ngelamunin apa?? (sambil menepuk bahu Roni karena sejak
awal ngelamun sendiri).
Roni : Teman-teman, kita kan sudah hamper lulus SMP nih, pastinya kita akan
berpisah karena aku akan melanjutkan pendidikan ke SMA di luar kota.
Dodi : Betul juga aku juga akan melanjutkan pendidikan diluar negeri,
bagaiman dengan kamu Nikmah?
Nikmah : Aku akan meneruskan ke pondok luar kota, kalau kamu kemna
Handoko?
Handoko : Aku akan meneruskan ke SMA favoit tunas muda yang ada di kota ini.
Tidak terasa persahabatan ini kita rajut sejak TK hingga sekarang dan
harus terpencar sendiri-sendiri (sambil meremurungkan muka).
Dodi : Sudahlah, Ko. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan dan itu terjadi
pada kita sekarang. Bagaimana pun juga itulah hidup kita terus
memikirkan masa depan kita. Mari kita saling memaafkan untuk menjalin
silaturrahmi ini menjadi baik.
Kemudian keempat remaja itu saling memaafkan karena harus berpisah untuk
sementara dan pada akhirnya mereka memutuskan persahabatannya tidak putus di sini
saja. Meskipun jarak dan waktu sulit ketemu, semoga suatu saat ada waktu yang indah
untuk ditemukan.
Judul:Sahabat Selamanya
Tema:Persahabatan
Pemeran:Fadli, Dhani, Tantri, Eros, Ibu Rosidah

Sinopsis Drama :

Pagi yang cerah di SMA Negeri 20 Bandar Lampung. Di lorong sekolah berbincanglah
tiga orang sahabat yakni Fadli, Dhani, dan Tantri. Mereka berbincang
tentang banyak hal. Akan tetapi perbincangan mereka mengerucut
hingga ke satu topik penting. Topik tersebut adalah tentang keanehan
yang terjadi pada salah satu sahabat terbaik mereka yakni Eross.
Kecurigaan ketiga sahabat tersebut terhadap keanehan Eross bukannya
tidak beralasan. Eross yang selama ini dikenal sebagai pribadi yang
periang dan ceria, kini tiba-tiba menjadi pendiam dan pemurung. Hal ini
yang menjadi topik perbincangan utama mereka di lorong kelas 12 IPA 1
di pagi itu.

Fadli:Teman-teman, kalian merasa ada yang aneh pada Eross?


Dhani : Aneh bagaimana maksudmu Fadli?
Fadli:Iya aneh, tak biasa-biasanya Eross begini kan? Dua minggu terakhir ini
kuperhatikan ia selalu saja melamun, murung, dan cenderung pendiam.
Padahal kan kalian tahu sendiri kalau dia itu anak yang periang.
Tantri:Kamu benar Fadli. Aku juga merasakan ada yang aneh pada Eross. Aku khawatir
kalau ia sedang mengalami hal buruk.
Dhani:Benar juga ya. Eross akhir-akhir ini seringkali merespon kita seadanya saja. Ia
juga cenderung diam dan seringkali menghindar dari kita. Jangan-jangan
ada kesalahan yang telah kita perbuat kepada Eross? Atau mungkin saja
ia marah pada salah satu diantara kita?
Fadli:Hmmm, kita tidak akan tahu apa penyebab keanehan yang terjadi pada Eross,
kecuali kita tanyakan langsung padanya.
Tantri:Jangan dulu Fadli! Aku rasa menanyakan langsung padanya bukanlah solusi
yang tepat. Bisa jadi saat ini dirinya sedang dirundung masalah yang
cukup rumit yang bersifat personal. Sehingga sangat tidak
memungkinkan bagi kita untuk mendengar pengakuan jujur darinya.

Beberapa saat kemudian, lewatlah Eross di hadapan Fadli, Dhani, dan Tantri.

Dhani:Hei Eross! Kemana saja kamu? Sini bergabung dengan kami!


Eross:Hei Dhan, Fadli, Tantri. Aku baru saja ada keperluan. Maaf, tidak bisa berangkat
ke sekolah bersama-sama. Ya sudah, aku ke ruangan BK dulu ya.
Fadli:Setelah urusanmu selesai, segera bergabung bersama kami ya!
Eross:Ya, lihat saja nanti! (berjalan cepat menuju ruang BK)
Dhani:kalian lihat! Sikapnya aneh bukan?
Fadli:Betul Dhan, kenapa ia menghindar pada kita?
Tantri:Eross terburu-buru menuju ruang BK. Ada apa ya sebenarnya?
Dhani:Pasti ada masalah yang menyangkut dirinya.
Fadli:Persis seperti apa yang aku pikirkan Dhan. Tapi masalah apa ya?
Tantri:itu yang mesti kita cari tahu!
Fadli:begini saja, bagaimana kalau kita tanyakan langsung perihal masalah yang
sedang dihadapi oleh Eross kepada Ibu Rosidah, guru BK kita!
Tantri:Aku setuju. Pada jam istirahat kedua, kita akan tanyakan langsung kepada bu
Rosidah di ruang BK.
Dhani:Baiklah, kita telah sepakat.

Detik demi detik pun berlalu dan akhirnya jam istirahat kedua pun tiba. Seusai shalat
dhuhur berjamaah di mushala, ketiga sahabat itu pergi menuju ruang BK
untuk menemui ibu Rosidah. Sambil berjalan cepat menuju ruang BK,
perbincangan kecil pun terjadi.

Tantri:Kalian bertemu Eross tidak sewaktu di mushala tadi?


Dhani:Ya, dia ada di shaf paling depan.
Fadli:sewaktu aku dan Dhani bergegas meninggalkan mushala, ia terlihat masih
khusyuk berdoa. Ia terlihat sangat serius meminta sesuatu pada Tuhan.
Dhani:Ya, sepertinya ia sedang ada masalah yang cukup serius.

Sesampainya di ruang BK

Tantri:Aku jadi makin penasaran. Jawabannya ada di ruangan ini. (sambil menunjuk
ruang BK yang tertera nama ibu Rosidah, S.Pd. di pintu ruangan)
Fadli:Assalamualaikum (mengetik pintu)
Ibu Rosidah:Waalaikumsalam. Silahkan masuk!
Fadli:Terima kasih bu.
Ibu Rosidah:Oh, kalian. Ada apa? Silahkan duduk.
Fadli, Dhani, Tantri:Terima kasih bu.
Ibu Rosidah:Ada yang bisa ibu bantu? Kalian sampai ke ruangan ibu di jam istirahat
begini.
Tantri:Begini bu, langsung saja ke topik pembicaraan yang ingin kami utarakan. Saya
ingin bertanya soal Eross. Akhir-akhir ini ia berubah menjadi lebih
pendiam, pemurung, dan seringkali menghindar dari kami, padahal kami
ini sahabatnya.
Fadli: Betul bu, sebenarnya apa yang terjadi dengan Eross?

Dhani: kami merasa ada yanga aneh bu.


Bu Rosidah :Hmm, sebenarnya ibu sudah menangkap maksud kalian menemui ibu
sebelum kalian mengutarakannya. Sebenarnya Eross meminta ibu untuk
merahasiakan ini kepada siapapun, termasuk kalian. Tapi ya sudahlah,
ibu percaya karena kalian ini adalah sahabat terdekat Eross.
Fadli:Masalah apa yang sedang dialami sahabat kami bu?
Bu Rosidah :Saat ini Eross tengah dirundung masalah perekonomian keluarga yang
cukup pelik. Sudah hampir setahun ayahnya tidak bekerja. Karena
perusahaan di tempat ayah Eross bekerja gulung tikar. Sementara
kebutuhan hidup semakin bertambah dan menuntut agar bisa terpenuhi.
Kesulitan perekonomian tersebut berimbas pada masalah lain
diantaranya adalah sulitanya keluarga Eross untuk membayar uang
sekolahnya dan juga adik-adiknya.
Tantri:Hmm, begitu ya bu? Sudah berapa bulan Eross tidak membayar uang sekolahnya
bu?
Bu Rosidah:8 bulan Tantri. Sekolah sudah memberikan keringanan batas waktu
pembayaran berkali-kali. Akan tetapi untuk saat ini, sulit bagi kami untuk
mempertimbangkan keberlangsungan stidi Eross di sekolah ini.
Fadli:Apa tidak ada solusi lain bu, seperti misalnya beasiswa dan lain sebagainya?
Bu Rosidah:Ibu rasa sangat sulit Fadli, Sekolah di tahun ini tidak menganggarkan
beasiswa seperti yang kamu maksudkan.
Tantri:Begini bu, saya ada usulan. Bagaimana kalau sekolah menerapkan sistem
subsidi silang. Besaran SPP disesuaikan dengan pendapatan orang tua
wali. Masalah teknis saya serahkan kepada pihak sekolah.
Bu Rosidah :Masya Allah, ide mu cemerlang sekali Tantri. Kalau soal itu ibu bisa
membawa ide mu ke pihak komite sekolah.
Dhani:Kalau bisa secepatnya bu. Eross tidak bisa menunggu lebih lama lagi kan?
Bu Rosidah: Ibu janji akan membantu kalian dan juga Eross, sesegera mungkin.

2 minggu kemudian, di ruang kelas pada saat jam istirahat pertama.


Fadli:Dhani, Tantri, dan Eross. Kita semua dipanggil untuk menghadap ibu Rosidah di
ruangannya.
Eross:Ada masalah apa Fadli?
Fadli:Sudah, ayo segera menghadap. Aku khawatir beliau akan marah kalau kita tidak
cepat.

Keempat sahabat itu berjalan cepat menuju ke ruang BK. Sesampainya di ruangan Bu
Rosidah Dhani pun mengetuk pintu ruangan.

Dhani:Assalamualaikum (seraya mengetuk pintu)


Bu Rosidah:Waalaikumsalam, silahkan masuk!
Tantri:Permisi bu, ibu memanggil kami?
Bu Rosidah:Ya Tantri, silahkan duduk. Ada yang ingin ibu sampaikan kepada kalian,
terutama pada Eross.
Eross:Menyangkut saya bu? Oh iya, mengenai SPP sekolah. Ayah saya berjanji akan
segera melunasinya begitu dapat uang pinjaman. Saya mohon izinkan
saya untuk tetap bersekolah di sini bu!
Bu Rosidah:Tenang dulu Eross. Ibu akan menyampaikan kabar gembira kepada kamu
dan teman-temanmu. Begini, dua minggu lalu Tantri mengusulkan
sebuah ide cemerlang yakni suatu konsep subsidi silang pembayaran
SPP. Pembayaran SPP tersebut besarannya disesuaikan dengan
pendapatan orang tua / wali murid. Hal ini memungkinkan siswa tidak
mampu untuk tetap bisa bersekolah. Bahkan diantara mereka ada
beberapa yang tidak diwajibkan membayar uang SPP. Nah, salah satu
siswa tersebut adalah Eross. Kamu juga tidak perlu membayar SPP
beberapa bulan lalu yang menunggak. Pihak sekolah telah
membebaskan tunggakan SPP-mu selama delapan bulan itu.
Eross:Alhamdulillah ibu, terima kasih banyak. (sembari menagis haru)
Bu Rosida :Ya, bersyukurlah pada Allah dan berterima kasihlah pada sahabat-
sahabatmu yang peduli kepadamu. Fadli, Dhani, dan Tantri telah
berupaya membantu kamu sejauh ini.
Eross:Terima kasih Dhan, Fadli. Maaf selama ini aku tidak menceritakan hal ini kepada
kalian. Aku malah menghindar dari kalian. (sembari memeluk Fadli dan
Dhani)
Dhani:Sudahlah kawan, jangan dipikirkan! Bukankah kita ini teman? (menangis haru)
Fadli:(menangis haru sambil menepuk-nepuk pundak Eross, tidak berbicara sepatah
kata pun)
Tantri :(menangis sambil terus menerus mengusapkan lembaran tisu untuk menyeka air
mata harunya).

Setelah urusan keempat sahabat itu selesai, mereka meninggalkan ruang BK dengan
mata berkaca-kaca. Mereka pun kembali ke kelas dengan perasaan lega
karena permasalahan telah diselesaikan dengan baik

Anda mungkin juga menyukai