UJIAN TENGAH SEMESTER GASAL 2023
MID EXAM OF FIRST SEMESTER 2023
FAKULTAS (Faculty): HUKUM (Law)
JURUSAN (Department): PRODI ILMU HUKUM (Bachelor of Law)
Hukum Acara Pidana Selasa/17 Oktober 2023 –
Mata Uji - Course Hari/Tanggal – Day/Date
(Criminal Procedure Law) Selasa/31 Oktober 2023
Smt/Kelas - Class 3/C Jam ke - Session (TAKE HOME)
Penguji - Examiner Dr. Muhammad Rustamaji,
Waktu - Duration 2 pekan
S.H., M.H
Petunjuk – Guidance:
BERDOALAH SEBELUM MULAI
SEGALA BENTUK KECURANGAN TIDAK AKAN MENDAPATKAN NILAI
Capaian Pembelajaran Mata Kuliah – Course Learning Outcomes (CPMK - CLO):
1. [CLO 01] Mampu menguasai Hukum Acara Pidana, baik konsep, prinsip-prinsip dasar, ilmu, teori
maupun filsafat hukum secara umum, dengan metode terbimbing dan memanfaatkan berbagai sumber
belajar dan media pembelajaran berbasis IPTEKS, dan potensi lingkungan setempat, sesuai standar isi,
proses dan penilaian yang dapat menunjukkan hasil kamampuan tulis maupun berargumentasi dalam
pembelajaran daring (dalam jaringan) maupun luring (luar jaringan).
2. [CLO 02] Mampu menguasai Hukum Acara Pidana, baik konsep teoretis tentang formulasi
penyelesaian masalah hukum secara prosedural dengan metode terbimbing dan memanfaatkan berbagai
sumber belajar dan media pembelajaran berbasis IPTEKS, dan potensi lingkungan setempat, sesuai
standar isi, proses dan penilaian yang dapat menunjukkan hasil kamampuan menyelesaikan masalah
hukum, dalam pembelajaran daring (dalam jaringan) maupun luring (luar jaringan).
3. [CLO 03] Mampu menguasai Hukum Acara Pidana, baik prinsip-prinsip penyelesaian
permasalahan hukum melalui pemanfaatan laboratorium ilmu hukum (litigasi dan nonlitigasi) beserta
landasan hukumnya dengan metode terbimbing dan memanfaatkan berbagai sumber belajar dan media
pembelajaran berbasis IPTEKS, dan potensi lingkungan setempat, sesuai standar isi, proses dan penilaian
yang dapat menunjukkan hasil kamampuan pemanfaatan laboratorium ilmu hukum, dalam pembelajaran
daring (dalam jaringan) maupun luring (luar jaringan).
4. [CLO 04] Mampu menguasai Hukum Acara Pidana, baik dasar-dasar metode penelitian hukum
maupun dasar-dasar kewirausahaan di bidang hukum, prinsip-prinsip penggunaan Teknologi dan
Komunikasi (TIK) dalam penelitian hukum dan/atau kewirausahaan di bidang hukum dengan metode
terbimbing dan memanfaatkan berbagai sumber belajar dan media pembelajaran berbasis IPTEKS, dan
potensi lingkungan setempat, sesuai standar isi, proses dan penilaian yang dapat menunjukkan hasil
kamampuan melaksanakan penelitian di bidang hukum maupun melaksanakan kewirausahaan di bidang
hukum, dalam pembelajaran daring (dalam jaringan) maupun luring (luar jaringan).
5. [CLO 05] Mampu menguasai penerapan hukum dan memanfaatkan ilmu Hukum Acara Pidana, baik
dengan metode terbimbing dan memanfaatkan berbagai sumber belajar dan media pembelajaran berbasis
IPTEKS sesuai standar isi, proses. dan penilaian sehingga mahasiswa mengembangkan keterampilan
abad ke-21 dalam penyelesaian masalah hukum serta mampu beradaptasi terhadap situasi yang dihadapi.
6. [CLO 06] Mampu melaksanakan kerja praktik Hukum Acara Pidana, baik penyelesaian
permasalahan hukum di laboratorium ilmu hukum untuk pembelajaran secara terbimbing, dan
melaksanakan kewirausahaan yang memenfaatkan bidang hukum, memperoleh bahan hukum dalam
praktik penyelesaian permasalahan hukum secara mandiri, dan berwirausaha yang memanfaatkan kajian
hukum.
7. [CLO 07] Mampu menyelesaikan masalah-masalah di bidang Hukum Acara Pidana, baik melalui
penelitian ilmiah dengan metodologi penelitian hukum yang tetapt secara terbimbing dan
mempresentasikan hasilnya.
8. [CLO 08] Mampu mengidentifikasi dan memilih beberapa keputusan strategis berdasarkan analisis
informasi dan data dalam pelaksanaan penyelesaian permasalahan di sector Hukum Acara Pidana
maupun dalam menjalankan kewirausahaan berbasis ilmu hukum.
9. [CLO 09] Mampu mengkomunikasikan ilmu Hukum Acara Pidana dan produk hukum baik secara
tertulis maupun lisan secara efektif dari proses berpikir logis, kritis, sistematis, dan inovatif dalam
menerapkan IPTEK pada kehidupan masyarakat global dan berbudaya serta menunjukkan kinerja
mandiri, bermutu, dan terukur dengan memperhatikan etika ilmiah agar siap memasuk di dunia kerja
sebagai sarjana hukum.
10. [CLO 10] Mampu mengambil keputusan strategis dan bertanggung jawab dalam ranah Hukum Acara
Pidana, berdasarkan analisis informasi dan data dengan metode terbimbing, dan dapat menunjukkan hasil
memelihara dan mengembangkan jaringan kerja dengan pihak terkait, baik di dalam maupun di luar
lembaganya.
11. [CLO 11] Mampu memformulasikan, mendokumentasikan dan menemukan kembali data untuk proses
evaluasi diri dalam memberikan petunjuk dalam memilih berbagai alternatif solusi hukum serta dalam
rangka menjamin kesahihan, mencegah plagiasi, dan pertanggungjawaban terhadap pencapaian hasil
kerja mandiri maupun kelompok kerjanya.
12. [CLO 12] Mampu menunjukkan sikap ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan beragama,
menjunjung tinggi nilai kemanusiaan berdasarkan moral dan etika, serta tanggung jawab sebagai warga
negara yang baik berdasarkan Pancasila dengan menghargai perbedaan, peduli terhadap masyarakat dan
lingkungan, mentaati hukum, dan berkontribusi terhadap peningkatan mutu kehidupan bermasyarakat
dan bernegara berdasarkan profesinya di bidang hukum.
13. [CLO 13] Mampu mengembangkan diri berdasarkan bidang keahlian secara mandiri dan berkelanjutan
dengan menginternalisasi nilai-nilai, norma, etika akademik, tanggung jawab profesi, kejuangan, dan
kewirausahaan, serta kecakapan hidup (life skills).
Soal Tipe A–Type A Questions (Tipe Uraian)
Nilai - CPMK -
No. Soal - Questions
Score CLO
1 Pada kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum Presiden BEM 10 1&2
salah satu Fakultas di universitas ternama di Kota Bengawan, informasi yang
tersebar melalui sosial media Twitter dan koran lokal setempat mengerucut pada
adanya tiga korban yang berjenis kelamin sejenis. Kasus posisi demikian,
sebenarnya menjelaskan kelemahan pendapat Simon berkenaan dengan definisi
Hukum Acara Pidana. Silakan Saudara jelaskan kelemahan pandangan Simon
demikian.
2 Pada kasus ’Baekuni’ yang dijelaskan pada buku ’Babeh Duka Anak Jalanan’, 20 1, 3 & 4
terdapat beberapa detail pengungkapan peristiwa sebelum ditemukannya pelaku,
yaitu: penemuan jenazah korban, pemeriksaan sidik jari di TKP dan benda-benda
yang diduga untuk melakukan pembunuhan, pemeriksaan cairan termasuk
golongan darah korban yang ternyata berbeda dengan golongan darah Baekuni
alias Babeh, senjata tajam yang digunakan untuk mutilasi, hingga pembongkaran
makam (ekshumasi) di Magelang atas korban di bawah pohon mahoni. Pada
konteks kasus demikian, jelaskan mengapa Hukum Acara Pidana memerlukan
ilmu bantu dan mengapa hakim bersikap aktif dalam persidangan pidana? Atas
dua pertanyaan tersebut silakan kaitkan jawaban Saudara dengan tujuan Hukum
Acara Pidana.
3 Pada upaya pengungkapan kasus pembunuhan Brigadir J yang dikenal dengan 30 4
‘kasus Duren Tiga’, silakan secara detail jelaskan dengan argumentasi yang kuat
mengenai ilmu bantu apa saja yang dimanfaatkan dalam pengungkapan kasus
pembunuhan atas diri Brigadir J tersebut?
4 Pada kasus perampokan (pencurian dengan kekerasan) di salah satu rumah mewah 25 2&5
Pulomas, yang menyekap 11 orang di kamar mandi sehingga mengakibatkan 6
orang meninggal dunia karena asfiksia, selain hilangnya harta benda korban, salah
seorang Terpidana dijatuhi pidana penjara selama 5 tahun (1 tahun=360 hari),
namun pernah mengajukan bail 1 bulan (1 bulan=30 hari), pernah menjalani
tahanan rutan 3 bulan, tahanan kota 60 hari dan tahanan rumah 60 hari. Berapa
hari lagi sang Terpidana menjalani hukumannya yang sudah inkracht van guisde
tersebut?
5 Pasal 77 KUHAP yang mengatur mengenai Praperadilan, pada konteks kekinian 15 5
telah mengalami perluasan dengan Putusan Nomor: 04/Pid. Prap/2015/ PN.Jkt.
Sel dan Putusan MK Nomor: 21/PUU-XII/2014. Meskipun atas Putusan Hakim
Sarpin pada kasus Budi Gunawan demikian mendapatkan kritik dari Prof.
Komariah Emong Sapardjaja, melalui tulisannya pada Padjadjaran Jurnal Ilmu
Hukum (Journal of Law) bertajuk ”Kajian dan Catatan Hukum Atas Putusan Pra-
peradilan Nomor: 04/Pid.Prap/2015/PN.Jkt.Sel Tertanggal 16 Februari 2015 Pada
Kasus Budi Gunawan: Sebuah Analisis Kritis”. Silakan jelaskan argumentasi
Saudara mengenai perluasan Pasal 77 KUHAP (berkaitan dengan praperadilan)
demikian, dan dampaknya dalam proses penegakan hukum pidana?
Silakan jawaban Saudara langsung dikerjakan pada bagian bawah file ini dan setelah selesai silakan diunggah
melalui google drive yang telah disediakan.
https://drive.google.com/drive/folders/12CA9BH6J2RjOVTn86NR6qyj1rbF5vuDS
Nama Lengkap Etika Vinata Lestari
NIM E0022140
Kelas C
JAWABAN
1. Kelemahan pandangan Simon dalam konteks hukum acara pidana dapat melibatkan
beberapa aspek, seperti:
a) Bahwa salah satu kelemahan yang mungkin muncul adalah terkait dengan presumsi kesalahan.
Pandangan Simon mungkin mengabaikan prinsip dasar dalam hukum pidana yang
menyatakan bahwa seseorang dianggap tidak bersalah sampai terbukti bersalah. Jika sosial
media dan koran lokal secara cepat menggambarkan seseorang sebagai pelaku tanpa proses
hukum yang adil, itu bisa melanggar prinsip presumsi kesalahan.
b) Kelemahan lainnya yang mungkin terkait dengan pandangan Simon adalah ketidakmampuan
untuk memberikan perlindungan yang memadai terhadap hak-hak individu. Dalam kasus
pelecehan seksual, terdapat hak-hak individu yang harus dijaga, termasuk hak atas privasi dan
hak atas pembelaan yang adil.
c) Simon mungkin gagal mempertimbangkan dampak besar yang opini publik dan media sosial
dapat memiliki pada kasus hukum. Keputusan hukum harus didasarkan pada bukti yang kuat
dan proses yang adil, bukan sekadar tekanan opini publik.
2. Ilmu bantu diperlukan dalam proses penyelidikan dan persidangan pidana dengan
beberapa alasan:
a. Guna pengumpulan dan Analisis Bukti: Ilmu bantu, seperti ilmu forensik, digunakan untuk
mengumpulkan dan menganalisis bukti-bukti fisik seperti sidik jari, golongan darah, dan
senjata tajam yang digunakan. Ini penting dalam menentukan kesalahan atau keterlibatan
tersangka. Hukum acara pidana memerlukan standar yang ketat dalam mengelola dan
memasukkan bukti-bukti ini dalam persidangan.
b. Ekshumasi: Dalam kasus ekshumasi, di mana makam korban dibongkar untuk tujuan
penyelidikan, ilmu bantu seperti forensik pemakaman diperlukan untuk mengidentifikasi atau
mengumpulkan bukti tambahan. Hukum acara pidana mengatur prosedur yang harus diikuti
dalam pelaksanaan ekshumasi agar bukti yang ditemukan dapat diterima di pengadilan.
c. Logika: adalah berpikir dengan akal budi yang sehat berdasarkan alam pikiran manusia secara
sehat. Peranan logika ini penting dalam hukum acara pidana, khususnya dalam persangkaan
dan/atau pembuktian, baik di tingkat penyelidikan maupun di tingkat pemeriksaan di depan
sidang persidangan. Berkaitan dengan hal tersebut, dapat diuraikan hal-hal sebagai berikut.
Apabila timbul suatu persangkaan bahwa hukum pidana dilanggar, maka pada:
Fase pertama adalah "Oientasi" Pada fase ini, para pejabat penyidik harus bertindak
untuk mencari dan mengumpulkan bahan-bahan keterangan dan bukti-bukti yang
selengkap-lengkapnya dan meninjau kenyataan-kenyataan di tempat kejadian perkara
(TKP). Misalnya dalam hal terjadinya penganiayaan atau pembunuhan, maka harus
dicari bekas-bekas tanda penganiayaan atau tetesan darah dan sebagainya.
Fase kedua adalah "Hipotesrs" (Kesimpulan sementara) Setelah mengumpulkan
bahan-bahan di tempat kejadian perkara (TKP), selanjutnya harus disusun suatu
hipotesis yaitu apakah kejadian tersebut merupakan penganiayaan, pembunuhan
ataukah bunuh diri dan sebagainya.
Fase ketiga adalah "Verivicasi" (mencocokkan) Kemudian hal tersebut dicocokkan
satu sama lain, misalnya dengan bahan-bahan keterangan yang diperoleh dari saksi-
saksi (dalam hal ini verifikasi dari ahli ilmu pengetahuan pembantu di atas).
d. Psikologi: adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami sesama manusia, dengan
tujuan untuk dapat memperlakukannya secara tepat. Peranan psikologi ini sangat penting
sebagaimana telah diuraikan di atas bahwa hukum acara pidana dapat melibatkan beberapa
orang, baik ia sebagai tersangka, terdakwa ataupun terpidana, maupun seseorang itu bertindak
sebagai saksi. Berkaitan dengan haltersebut, penyidik (dalam proses penyidikan yang
memeriksa tersangka maupun saksi-saksi), penuntut umum dan hakim (yang memeriksa
terdakwa dan saksi-saksi).
e. Kriminalistik yaitu suatu pengetahuan yang berusaha untuk menyelidiki kejahatan dalam arti
seluas-luasnya, berdasarkan bukti-bukti dan keterangan-keterangan dengan menggunakan
hasil yang diketemukan oleh ilmu pengetahuan yang dikenal dengan nama ilmu-ilmu forensik.
llmu forensik yaitu ilmu pengetahuan yang dapat memberikan keterangan atau kesaksian bagi
peradilan secara meyakinkan menurut kebenaran-kebenaran ilmiah, yang dapat mendukung
pengadilan, yang dalam hal inihakim, dalam menetapkan keputusannya. llmu-ilmu
pengetahuan yang termasuk kriminalistik adalah:
a) llmu Kedokteran Forensik (llmu Kedokteran Kehakiman) llmu Kedokteran Forensik
(llmu Kedokteran Kehakiman) ini mempelajari masalah manusia/orangnya dalam
hubungannya dengan masalah tindak pidana. llmu ini bertujuan untuk mencari sebab-
sebab yang menimbulkan luka atau kematian korban. Lebih rinci lagi, llmu
Kedokteran Forensik (llmu Kedokteran Kehakiman) antara lain mempelajari masalah:
sebab-sebab kematian, identifikasi keadaan mayat post mortem, luka yang diderita,
abortus, perzinahan, perkosaan, pemeriksaan noda darah.
b) Toksikologi Forensik ialah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang racun yang
ada hubungannya dengan peradilan. Apabila kematian seseorang ada hubungannya
dengan racun dan kematian tersebut dapat menimbulkan dugaan karena suatu
kejahatan, penyidik dalam mengadakan penyidikan dapat memakai toksikologi
forensik. Hukum Acara Pidana
c) llmu Kimia Forensik merupakan ilmu pengetahuan yang dapat membantu peradilan,
dan dalam fungsinya memakai dasar ilmu kimia analitika sebagai sarana utamanya.
Terutama penyidikan yang menyangkut masalah narkotika, psikotropika, pemalsuan
barang yang berhubungan dengan zat kimia, noda-noda yang tertinggal dalam berbagai
kejahatan. Pada prinsipnya yang meniadi objek ilmu ini adalah yang berbentuk saksi
diam.
d) llmu Alam Forensik merupakan ilmu pengetahuan yang dapat membantu peradilan
di dalam fungsinya memakai dasar-dasar ilmu pengetahuan alam yang timbul dalam
suatu tindak pidana. llmu pengetahuan yang dapat digolongkan ilmu dam forensik ini
antara lain:
Balistik Kehakiman llmu ini mempelajari tentang senjata api yaitu untuk mengetahui
ienis senjata api yang digunakan, kaliber senjata api, jenis peluru, jarak tembak, dan
sebagainya.
Dactyloscople Dactyloscopie ini mempelaiari tentang sidik jari. Suatu tindak pidana
terdapat sidik jari, maka dengan ilmu pengetahuan ini dapat diusut sidik jari siapa yang
tertinggal itu dan bagaimana hubungannya dengan tindak pidana itu sendiri.
Berkaitan dengan sidik jari, perlu dicatat bahwa tidak ada dua orang yang memiliki
sidik jari yang sama dan sidik jari seseorang tidak akan berubah selama hidupnya. llmu
pengetahuan ini termasuk dalam lapangan ilmu pengetahuan alam, sebab di dalam
mempelajari dan meneliti sidik iari dipakai rumus-rumus perhitungan-perhitungan serta cara-
cara menurut ilmu pasti dan ilmu alam. Peristiwa-peristiwa lain yang perhitungannya maupun
cara pemeriksaannya menurut ilmu alam, misalnya dalam peristiwa tabrakan di darat.
f. Psikiatri (Psychlatrle). Pada dasarnya psikiatri ini merupakan ilmu yang mempelajari iiwa
manusia, tetapi mempelaiari jiwa manusia yang sakit.
g. Kriminologi ialah ilmu pengetahuan yang mempelaiari sebab-sebab keiahatan dan bagaimana
pemberantasannya.
h. Hukum Pidana, sendirinya hukum acara pidana membutuhkan ilmu pengetahuan hukum
pidana, sebab tugas hukum acara pidana adalah untuk mempertahan hukum pidana.
Hukum Acara Pidana memerlukan penggunaan ilmu bantu, seperti analisis forensik dan tes sidik
jari, untuk menyediakan bukti yang kuat dan akurat. Dalam kasus 'Baekuni', penemuan jenazah
korban, pemeriksaan TKP, serta pengujian golongan darah adalah contoh ilmu bantu yang digunakan
untuk memahami peristiwa dan mencari bukti yang dapat mengarah pada tersangka yang tepat.
Peran Aktif Hakim dalam Persidangan Pidana:
a) Hakim memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa persidangan berjalan sesuai
dengan prosedur hukum yang berlaku. Mereka harus memastikan bahwa bukti yang diajukan
sesuai dengan hukum, termasuk hasil ilmu bantu seperti forensik.
b) Hakim harus menilai bukti dan fakta dalam kasus untuk memutuskan apakah terdakwa
bersalah atau tidak bersalah. Dalam konteks "Baekuni," penilaian hakim tentang bukti forensik
dan analisisnya akan sangat penting dalam menentukan hasil akhir.
c) Hakim harus memastikan bahwa hak-hak terdakwa dan korban dihormati selama persidangan.
Ini mencakup hak untuk didengar, hak atas pembelaan, dan hak atas perlindungan dari bukti-
bukti yang diperoleh secara ilegal.
d) Hakim memiliki peran kunci dalam menilai bukti yang diajukan dalam persidangan. Mereka
harus mengambil keputusan tentang keabsahan dan relevansi bukti serta apakah bukti tersebut
cukup untuk membuktikan kesalahan atau keterlibatan terdakwa.
Tujuan Hukum Acara Pidana :
Tujuan dari hukum acara pidana adalah untuk mencari dan mendapatkan atau
setidaktidaknya mendekati kebenaran materiil, ialah kebenaran yang selengkap-
lengkapnya dari suatu perkara pidana dengan menerapkan ketentuan hukum acara pidana
secara jujur dan tepat, dengan tujuan untuk mencari siapakah pelaku yang dapat
didakwakan melakukan suatu pelanggaran hukum, dan selanjutnya meminta pemeriksaan
dan putusan dari pengadilan guna menentukan apakah terbukti bahwa suatu tindak pidana
telah dilakukan dan apakah orang yang didakwa itu dapat dipersalahkan.
3. Ilmu bantu yang digunakan dalam kasus Ferdy Sambo :
a) Ilmu Forensik: Ilmu forensik sangat penting dalam mengumpulkan dan menganalisis bukti
fisik. Ini termasuk pemahaman tentang forensik DNA untuk mengidentifikasi pelaku atau
korban, analisis serologis untuk mencari jejak darah atau cairan tubuh lainnya, dan
pemahaman tentang jejak kaki atau cetakan sidik jari yang mungkin ditemukan di TKP
(Tempat Kejadian Perkara).
b) Otopsi: Otopsi medis digunakan untuk mengungkap penyebab kematian korban. Ini
melibatkan penelitian pihak berwenang untuk memeriksa cedera, racun, atau penyakit
yang mungkin terkait dengan kematian.
c) Ilmu Kriminalistik: Ilmu kriminalistik membantu dalam merekonstruksi kejadian
kejahatan. Ini termasuk pemahaman tentang pola-pola kejahatan, analisis peluru dan
senjata api, serta pemahaman tentang bagaimana pelaku mungkin masuk dan keluar dari
TKP.
d) Psikologi Forensik: Ilmu psikologi forensik digunakan untuk memahami perilaku pelaku
kejahatan dan mengembangkan profil pelaku. Ini dapat membantu penyidik dalam
mengarahkan penyelidikan.
e) Ilmu Ballistik: Dalam kasus yang melibatkan senjata api, ilmu ballistik digunakan untuk
mengidentifikasi senjata yang digunakan dalam kejahatan, melacak lintasan peluru, dan
menentukan apakah senjata tertentu terkait dengan kejahatan.
f) Ilmu Sumber Daya Digital: Ilmu ini berguna untuk mengumpulkan dan menganalisis bukti
digital seperti pesan teks, email, atau data di perangkat elektronik yang mungkin terkait
dengan kasus.
4. Untuk menghitung berapa hari lagi terpidana harus menjalani sisa hukumannya:
Hukumannya adalah 5 tahun, yang setara dengan 5 x 360 hari = 1.800 hari.
Terpidana sudah menjalani bail selama 1 bulan = 30 hari.
Terpidana sudah menjalani tahanan rutan selama 3 bulan = 3 x 30 hari = 90 hari.
Terpidana sudah menjalani tahanan kota selama 60 hari.
Terpidana sudah menjalani tahanan rumah selama 60 hari.
Sehingga dapat diketahui bahwa jumlah keseluruhannya 30 hari (bail) + 90 hari (tahanan
rutan) + 60 hari (tahanan kota) + 60 hari (tahanan rumah) = 240 hari.
Total hukuman: 1.800 hari (hukuman) - 240 hari (periode yang sudah dijalani) = 1.560 hari
atau setara dengan 4 tahun 4 bulan.
5. argumentasi Saudara mengenai perluasan Pasal 77 KUHAP (berkaitan dengan
praperadilan)
Pasal 77 KUHAP adalah bagian dari Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) di
Indonesia yang mengatur mengenai Praperadilan. Praperadilan adalah sebuah mekanisme hukum
yang memungkinkan seseorang untuk mengajukan permohonan kepada pengadilan agar dapat
menguji sah atau tidaknya suatu penetapan atau perbuatan pejabat yang berkaitan dengan penyidikan,
penuntutan, atau pemeriksaan terhadap dirinya.
Perluasan Pasal 77 KUHAP, yang disebutkan dalam Putusan Nomor 04/Pid.Prap/2015/PN.Jkt.Sel
dan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 21/PUU-XII/2014, mungkin mengacu pada pembaharuan
atau interpretasi hukum yang memperluas cakupan praperadilan. Dampak dari perluasan ini dalam
proses penegakan hukum pidana dapat mencakup:
a. Perlindungan Hak Individu: Perluasan Pasal 77 KUHAP dapat meningkatkan perlindungan
hak individu terhadap tindakan pejabat yang mungkin melanggar hak-hak mereka selama
proses penyidikan dan penuntutan. Ini memungkinkan individu untuk menguji sahnya
tindakan tersebut.
b. Dengan perluasan Pasal 77 KUHAP, penegak hukum diharapkan lebih akuntabel terhadap
tindakan mereka selama proses penegakan hukum. Mereka harus memastikan bahwa tindakan
mereka sesuai dengan hukum dan hak-hak individu terlindungi.
c. Proses praperadilan dapat meningkatkan transparansi dalam penegakan hukum dan
memastikan bahwa prosesnya berjalan secara adil. Ini dapat mencegah penyalahgunaan
kekuasaan oleh penegak hukum.
Dampak :
a. Dampak positif dari perluasan Pasal 77 KUHAP adalah meningkatnya kualitas putusan
hukum. Ketika pihak yang merasa hak-haknya dilanggar memiliki kesempatan untuk
mengajukan praperadilan, ini memaksa sistem peradilan untuk lebih cermat dan akurat dalam
mengambil keputusan, sehingga dapat meminimalkan kesalahan atau ketidakadilan.
b. Jika praperadilan menghasilkan keputusan yang menggugurkan tindakan tertentu, maka ini
dapat berdampak pada kasus pidana yang sedang berlangsung. Penuntutan mungkin akan
terpengaruh oleh hasil praperadilan. Namun, perluasan Pasal 77 KUHAP juga dapat
memunculkan tantangan, seperti kemungkinan penundaan proses penegakan hukum dan
potensi penyalahgunaan mekanisme praperadilan.