100% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
3K tayangan20 halaman

Ski Xi

Modul ini memberikan informasi umum tentang mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam untuk fase F kelas XI. Modul ini membahas tentang tujuan pembelajaran, capaian pembelajaran, profil pelajar, sarana dan prasarana pembelajaran, serta model pembelajaran yang digunakan yaitu student team achievement division. Modul ini juga membahas kompetensi inti yang meliputi tujuan pembelajaran, pemahaman bermakna, pertanyaan pemantik, dan kegiatan pembelajaran
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
3K tayangan20 halaman

Ski Xi

Modul ini memberikan informasi umum tentang mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam untuk fase F kelas XI. Modul ini membahas tentang tujuan pembelajaran, capaian pembelajaran, profil pelajar, sarana dan prasarana pembelajaran, serta model pembelajaran yang digunakan yaitu student team achievement division. Modul ini juga membahas kompetensi inti yang meliputi tujuan pembelajaran, pemahaman bermakna, pertanyaan pemantik, dan kegiatan pembelajaran
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

\

MODUL AJAR KURIKULUM MERDEKA


FASE F - KELAS XI MA/MAK

Selengkapnya bisa order ke guruidaman.com


Lengkap dengan CP ATP, PROTA, PROSEM, LKPD DAN BONUS LAINNYA
Atau WA ke 0895-0346-4208
MATA PELAJARAN : SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM
INFORMASI UMUM

A. IDENTITAS MODUL
Nama Madrasah : .....................................................................................
Nama Penyusun : .....................................................................................
Mata Pelajaran : Sejarah Kebudayaan Islam
Fase / Kelas / Semester : F - XI / 2
Elemen : Periode modern/zaman kebangkitan (1800 M-
sekarang)
Alokasi Waktu : .. JP x …Menit
Tahun Penyusunan : 2023

B CAPAIAN PEMBELAJARAN
Pada fase F kelas XI terdiri dari dua elemen yang terdiri dari periode
pertengahan/zaman kemunduran. Pada elemen pertama peserta didik mampu
mengevaluasi proses lahirnya Daulah Usmani, Mughal dan Syafawi, serta
perkembangan peradaban dan ilmu pengetahuan di tiga daulah ini, sebagai
inspirasi dalam menciptakan kehidupan yang harmonis, toleran dan moderat
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pada elemen kedua, yaitu periode
modern/zaman kebangkitan, peserta didik dapat menganalisis peran umat
Islam pada masa penjajahan, kemerdekaan, dan pasca kemerdekaan sebagai
inspirasi untuk menjadi muslim yang berwawasan global serta adaptif
terhadap perkembangan zaman di masa kini dan masa yang akan datang.
C. PROFIL PELAJAR PANCASILA (PPP) DAN PELAJAR RAHMATAN LIL ALAMIN
(PRA)
 Profil Pelajar Pancasila yang ingin dicapai adalah bertakwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bernalar kritis dan kreatif, mandiri,
bergotong royong, serta kebhinnekaan global.
 Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin yang ingin dicapai adalah taaddub,
tawassuth, tathawwur wa ibtikar, dan tasamuh.

D. SARANA DAN PRASARANA


Media : LCD proyektor, komputer/laptop, jaringan internet, dan lain
-lain
Sumber Belajar : LKPD, Buku Teks, laman E-learning, E-book, dan lain-lain

E. TARGET PESERTA DIDIK


Peserta didik regular dari umur 17-23 tahun (tahap operasional konkret)

F. MODEL DAN METODE PEMBELAJARAN


Pembelajaran dengan tatap muka menggunakan model student team
achievement devision (STAD).

Selengkapnya bisa order ke guruidaman.com


Lengkap dengan CP ATP, PROTA, PROSEM, LKPD DAN BONUS LAINNYA
Atau WA ke 0895-0346-4208
KO MP ETEN SI IN TI

A. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Menganalisis peran umat Islam pada masa kemerdekaan sebagai inspirasi
untuk mengamalkan sikap semangat juang tinggi.
2. Menganalisis peran umat Islam pasca kemerdekaan sebagai inspirasi untuk
mengamalkan sikap inovatif, kreatif dan dinamis.
B. PEMAHAMAN BERMAKNA
Peserta didik akan mempelajari peran tokoh-tokoh Islam dalam
kebangkitan nasional melalui organisasi yang didirikan
C. PERTANYAAN PEMANTIK
Apakah kamu mengetahui organisasi-organisasi islam yang berdiri sebelum
kemerdekaan?

D. KEGIATAN PEMBELAJARAN
KEGIATAN PENDAHULUAN
 Guru membuka pembelajaran dengan mengucapkan salam.
 Melakukan pembiasaan berdoa, memeriksa kehadiran, kerapihan pakaian,
posisi tempat duduk peserta didik dan kebersihan kelas.
 Guru memberikan motivasi, memberikan pertanyaan pemantik materi yang
akan diajarkan.
 Guru memotivasi peserta didik untuk tercapainya kompetensi dan karakter
yang sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila (bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa dan berakhlak mulia, bernalar kritis dan kreatif, mandiri,
bergotong royong, serta kebhinnekaan global) dan Profil Pelajar Rahmatan
Lil ‘Alamin (taaddub, tawassuth, tathawwur wa ibtikar, dan tasamuh)
Fase 1: Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
 Guru memotivasi peserta didik untuk semangat mengikuti pembelajaran
dengan melakukan ice breaking
 Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memberikan gambaran
terkait manfaat pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari.

KEGIATAN INTI
PERTEMUAN KE-1
Pengaruh Gerakan Pembaruan di Indonesia
Fase 2: Menyajikan/ menyampaikan informasi
 Guru menampilkan video pembelajaran tentang materi ini (Mengamati)
 Guru melakukan tanya jawab bersama peserta didik (Menanya)
 Guru memberikan umpan balik dan penguatan terhadap jawaban yang
peserta didik berikan.

Fase 3: Mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok belajar


 Guru membentuk peserta didik menjadi beberapa kelompok yang terdiri
dari 4 peserta didik secara heterogen.
 Guru membagikan LKPD dan menjelaskan tugas yang akan dikerjakan.
Selengkapnya bisa order ke guruidaman.com
Lengkap dengan CP ATP, PROTA, PROSEM, LKPD DAN BONUS LAINNYA
Atau WA ke 0895-0346-4208
Fase 4: Membimbing kelompok bekerja dan belajar
 Peserta didik berdiskusi untuk mengerjakan tugas yang telah diberikan oleh
guru pada LKPD (Mengeksplorasi dan Mengasosiasi)
 Guru membimbing peserta didik saat berdiskusi kelompok
 Guru mengarahkan peserta didik untuk berdiskusi dan membagi tugas
dalam diskusi kelompok.

Fase 5: Evaluasi
 Peserta didik bersama kelompok mempresentasikan hasil diskusi di depan
kelas secara bergantian (Mengomunikasikan)
 Guru membagikan lembar evaluasi kepada peserta didik
 Peserta didik mengerjakan soal evaluasi untuk penilaian secara mandiri

Fase 6: Memberi Penghargaan


 Guru memberikan apresiasi kepada setiap kelompok yang bersemangat
dan cepat selesai dengan memberikan bintang.

PERTEMUAN KE-2
Gerakan Pembaruan di Inonesia
Fase 2: Menyajikan/ menyampaikan informasi
 Guru menampilkan video pembelajaran tentang materi ini (Mengamati)

 Guru melakukan tanya jawab bersama peserta didik (Menanya)

 Guru memberikan umpan balik dan penguatan terhadap jawaban yang


peserta didik berikan.

Fase 3: Mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok belajar


 Guru membentuk peserta didik menjadi beberapa kelompok yang terdiri
dari 4 peserta didik secara heterogen.
 Guru membagikan LKPD dan menjelaskan tugas yang akan dikerjakan.

Fase 4: Membimbing kelompok bekerja dan belajar


 Peserta didik berdiskusi untuk mengerjakan tugas yang telah diberikan oleh
guru pada LKPD (Mengeksplorasi dan Mengasosiasi)
 Guru membimbing peserta didik saat berdiskusi kelompok
 Guru mengarahkan peserta didik untuk berdiskusi dan membagi tugas
dalam diskusi kelompok.

Fase 5: Evaluasi
 Peserta didik bersama kelompok mempresentasikan hasil diskusi di depan
kelas secara bergantian (Mengomunikasikan)
 Guru membagikan lembar evaluasi kepada peserta didik.
 Peserta didik mengerjakan soal evaluasi untuk penilaian secara mandiri.

Fase 6: Memberi Penghargaan


 Guru memberikan apresiasi kepada setiap kelompok yang bersemangat
dan cepat selesai dengan memberikan bintang.

Selengkapnya bisa order ke guruidaman.com


Lengkap dengan CP ATP, PROTA, PROSEM, LKPD DAN BONUS LAINNYA
Atau WA ke 0895-0346-4208
PERTEMUAN KE-3
Organisasi-organisasi Islam di Indonesia
Fase 2: Menyajikan/ menyampaikan informasi
 Guru menampilkan video pembelajaran tentang materi tersebut
(Mengamati).
 Guru melakukan tanya jawab bersama peserta didik (Menanya).
 Guru memberikan umpan balik dan penguatan terhadap jawaban yang
peserta didik berikan.

Fase 3: Mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok belajar


 Guru membentuk peserta didik menjadi beberapa kelompok yang terdiri
dari 4 peserta didik secara heterogen.
 Guru membagikan LKPD dan menjelaskan tugas yang akan dikerjakan.

Fase 4: Membimbing kelompok bekerja dan belajar


 Peserta didik berdiskusi untuk mengerjakan tugas yang telah diberikan oleh
guru pada LKPD (Mengeksplorasi dan Mengasosiasi).
 Guru membimbing peserta didik saat berdiskusi kelompok.
 Guru mengarahkan peserta didik untuk berdiskusi dan membagi tugas
dalam diskusi kelompok.

Fase 5: Evaluasi
 Peserta didik bersama kelompok mempresentasikan hasil diskusi di depan
kelas secara bergantian (Mengomunikasikan).
 Guru membagikan lembar evaluasi kepada peserta didik.
 Peserta didik mengerjakan soal evaluasi untuk penilaian secara mandiri.

Fase 6: Memberi Penghargaan


 Guru memberikan apresiasi kepada setiap kelompok yang bersemangat
dan cepat selesai dengan memberikan bintang.
PERTEMUAN KE-4
Perkembangan Islam Pasca Kemerdekaan
Fase 2: Menyajikan/ menyampaikan informasi
 Guru menampilkan video pembelajaran tentang materi tersebut
(Mengamati).
 Guru melakukan tanya jawab bersama peserta didik (Menanya).
 Guru memberikan umpan balik dan penguatan terhadap jawaban yang
peserta didik berikan.

Fase 3: Mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok belajar


 Guru membentuk peserta didik menjadi beberapa kelompok yang terdiri
dari 4 peserta didik secara heterogen.
 Guru membagikan LKPD dan menjelaskan tugas yang akan dikerjakan.

Fase 4: Membimbing kelompok bekerja dan belajar


 Peserta didik berdiskusi untuk mengerjakan tugas yang telah diberikan oleh
guru pada LKPD (Mengeksplorasi dan Mengasosiasi).
 Guru membimbing peserta didik saat berdiskusi kelompok.
Selengkapnya bisa order ke guruidaman.com
Lengkap dengan CP ATP, PROTA, PROSEM, LKPD DAN BONUS LAINNYA
Atau WA ke 0895-0346-4208
 Guru mengarahkan peserta didik untuk berdiskusi dan membagi tugas
dalam diskusi kelompok.

Fase 5: Evaluasi
 Peserta didik bersama kelompok mempresentasikan hasil diskusi di depan
kelas secara bergantian (Mengomunikasikan).
 Guru membagikan lembar evaluasi kepada peserta didik.
 Peserta didik mengerjakan soal evaluasi untuk penilaian secara mandiri.

Fase 6: Memberi Penghargaan


 Guru memberikan apresiasi kepada setiap kelompok yang bersemangat
dan cepat selesai dengan memberikan bintang.

PENUTUP
 Guru membimbing peserta didik menyimpulkan pembelajaran yang telah
dilakukan.
 Melakukan refleksi dan tanya jawab untuk mengevaluasi kegiatan
pembelajaran yang telah dilaksanakan
 Guru mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan dan motivasi
tetap semangat belajar dan diakhiri dengan berdoa.

E. PEMBELAJARAN DIFERENSIASI
 Untuk siswa yang sudah memahami materi ini sesuai dengan tujuan
pembelajaran dan mengeksplorasi topik ini lebih jauh, disarankan untuk
membaca materi pada bab ini dari berbagai referensi yang relevan.
 Guru dapat menggunakan alternatif metode dan media pembelajaran
sesuai dengan kondisi masing-masing agar pelaksanaan pembelajaran
menjadi lebih menyenangkan (joyfull learning) sehingga tujuan
pembelajaran bisa tercapai.
 Untuk siswa yang kesulitan belajar topik ini, disarankan untuk belajar
kembali pada pembelajaran di dalam dan atau di luar kelas sesuai
kesepataan antara guru dengan siswa. Siswa juga disarankan untuk belajar
kepada teman sebaya.

F. ASESMEN / PENILAIAN
1. Asesmen Diagnostik (Sebelum Pembelajaran)
Untuk mengetahui kesiapan siswa dalam memasuki pembelajaran,
dengan pertanyaan:
Jawaban
No Pertanyaan
Ya Tidak
1.

2. Apakah kalian sudah siap melaksanakan


pembelajaran dengan berkelompok?

2. Asesmen Formatif (Selama Proses Pembelajaran)


Asesmen formatif dilakukan oleh guru selama proses pembelajaran
berlangsung,
Selengkapnya bisa order ke guruidaman.com
Lengkap dengan CP ATP, PROTA, PROSEM, LKPD DAN BONUS LAINNYA
Atau WA ke 0895-0346-4208
khususnya saat siswa melakukan kegiatan diskusi, presentasi dan refleksi
tertulis.
1) Teknik Asesmen : Observasi, Unjuk Kerja
2) Bentuk Instrumen : Pedoman/lembar observasi

3. Asesmen Sumatif
a. Asesmen Pengetahuan
Teknik Asesmen:
• Tes : Tertulis
• Non Tes : Observasi
Bentuk Instrumen:
• Asesmen tidak tertulis : Daftar pertanyaan
• Asesmen tertulis : Jawaban singkat
b. Asesmen Keterampilan
• Teknik Asesmen : Kinerja
• Bentuk Instrumen : Lembar Kinerja

Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan tepat dan benar!


1. Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan jawaban yang singkat
a) Jelaskan latarbelakang berkembangnya pembaruan di Indonesia!
b) Jelaskan pengaruh pembaruan Islam dalam bidang politik di
Indonesia!
c) Jelaskan pengaruh pembaruan Islam terhadap pekembangan
pendidikan di Indonesia!
d) Jelaskan dampak positif pembaruan Islam di Indonesia dalam bidang
sosial dan keagamaan!
e) Sebutkan ide-ide gerakan pembaruan yang digagas oleh para ulama
dan tokoh- tokoh pembaru Islam di Indonesia!
2. Jawablah pertanyaan berikut dengan baik dan benar
a) Jelaskan peranan para Ulama terhadap pembaruan dalam bidang
politik dan pendidikan!
b) Jelaskan jalur masuknya ide-ide pembaruan di Indonesia!
c) Jelaskan corak gerakan pembaruan di Indonesia!
d) Jelaskan konsep pembaruan yang digagas oleh KH. Ahmad Dahlan!
e) Jelaskan konsep pembaruan Nahdlatul Ulama dalam
memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan!
G. PENGAYAAN DAN REMEDIAL
Pengayaan
 Pengayaan diberikan kepada peserta didik yang telah mencapai kompetensi
dan tujuan pembelajaran.
 Program pengayaan dilakukan di luar jam belajar efektif.

Remedial
 Remedial diberikan kepada peserta didik yang belum mencapai kompetensi
dan tujuan pembelajaran
Selengkapnya bisa order ke guruidaman.com
Lengkap dengan CP ATP, PROTA, PROSEM, LKPD DAN BONUS LAINNYA
Atau WA ke 0895-0346-4208
 Guru melakukan pembahasan ulang terhadap materi yang telah diberikan
dengan cara/metode yang berbeda untuk memberikan pengalaman belajar
yang lebih memudahkan peserta didik dalam memaknai dan menguasai
materi ajar misalnya lewat diskusi dan permainan.
 Program remedial dilakukan di luar jam belajar efektif.

H. REFLEKSI GURU DAN PESERTA DIDIK


Refleksi Guru:
Pertanyaan kunci yang membantu guru untuk merefleksikan kegiatan
pengajaran di kelas, misalnya:
 Apakah didalam kegiatan pembukaan siswa sudah dapat diarahkan
dan siap untuk mengikuti pelajaran dengan baik?
 Apakah dalam memberikan penjelasan teknis atau intruksi yang
disampaikan dapat dipahami oleh siswa?
 Bagaimana respon siswa terhadap sarana dan prasarana (media
pembelajaran) serta alat dan bahan yang digunakan dalam
pembelajaran mempermudah dalam memahami materi pada bab ini?
 Bagaimana tanggapan siswa terhadap materi atau bahan ajar yang
disampaikan sesuai dengan yang diharapkan?
 Bagaimana tanggapan siswa terhadap pengelolaan kelas dalam
pembelajaran?
 Bagaimana tanggapan siswa terhadap latihan dan penilaian yang telah
dilakukan?
 Apakah dalam kegiatan pembelajaran telah sesuai dengan alokasi
waktu yang direncanakan?
 Apakah dalam berjalannya proses pembelajaran sesuai dengan yang
diharapkan?
 Apakah 100% siswa telah mencapai penguasaan sesuai tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai?
 Apakah arahan dan penguatan materi yang telah dipelajari dapat
dipahami oleh siswa.

Refleksi Peserta Didik:


No Pertanyaan Refleksi Jawaban Refleksi
1 Pada bagian mana dari materi bab ini yang
dirasa kurang dipahami?
2 Apa yang akan kamu lakukan untuk
memperbaiki hasil belajar pada materi ini?
3 Kepada siapa kamu meminta bantuan
untuk lebih memahami materi ini?
4 Berapa nilai yang akan kamu berikan
terhadap usaha yang kamu lakukan untuk
memperbaiki hasil belajarmu? (jika nilai
yang diberikan dalam pemberian bintang 1-
bintang 5)

Selengkapnya bisa order ke guruidaman.com


Lengkap dengan CP ATP, PROTA, PROSEM, LKPD DAN BONUS LAINNYA
Atau WA ke 0895-0346-4208
LAM PI RAN - LAM PI RAN

LAMPIRAN 1
LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD)
1. Kegiatan 1
a. Buatlah Essai tentang berdirinya organisasi-organisasi Islam di Indonesia di
Buku Catatan
b. Buatlah Media Power Point yang memuat materi peranan organisasi-
organisasi Islam dalam melakukan pembaruan dalam bidang pendidikan,
sosial dan keagamaan, kemudian dipresentasikan di depan kelas.
2. Kegiatan 2
a. Tuliskan cerita singkat biografi para pendiri organisasi Islam di Indonesia.
b. Carilah beberapa hasil pembaruan di Indonesia yang dilakukan oleh
organisasi- organisasi Islam dengan mengisi kolom di bawah ini :
No. Nama Organisasi Pembaruan di Indonesia
1
2
3
4
c. Setelah kalian memahami uraian mengenai sejarah pembaruan di Indonesia,
tuliskan keteladanan yang diberikan oleh para pendiri organisasi Islam di
Indonesia!
No. Nama Tokoh Pendiri Organisasi Peranan Pembaruan di
Indonesia
1
2
3
4
5

LAMPIRAN 2
BAHAN AJAR
A. Pengaruh Gerakan Pembaruan Islam di Indonesia
Islam merupakan agama yang pertama menyeru pada perubahan, atas apa
dan bagaimana perlunya perubahan secara hanif untuk menuju pada kebenaran
yang hakiki, dengan mengakui adanya perubahan menuju modernisasi.
Gerakan pembaruan Islam telah berjalan melalui sejarah yang panjang.
Perkembangan pembaruan Islam paling sedikit telah melewati beberapa tahapan
yang berbeda. Gerakan tersebut juga menyajikan model yang berbeda. Terdapat
proses perpaduan yang berkesinambungan dalam berkembangnya proses
pembaruan. Dampak pembaharuan dalam bidang politik dan pendidikan di Timur
Tengah menjadi virus ampuh yang terus menyebar di Indonesia. Gejala ini
memotivasi bangsa Indonesia untuk menghadirkan semangat baru dalam
Selengkapnya bisa order ke guruidaman.com
Lengkap dengan CP ATP, PROTA, PROSEM, LKPD DAN BONUS LAINNYA
Atau WA ke 0895-0346-4208
berpolitik dan membangun pendidikan yang lebih dinamis sesuai dengan tuntutan
zaman.
Gerakan pembaruan Islam di Indonesia mulai bergeliat di awal abad ke-20
M. Pengaruh gerakan Islam yang sudah berlangsung di Timur Tengah secara
perlahan memberikan pengaruhnya di Indonesia. Gagasan Pan-Islamisme yang
dicetuskan oleh Sayyid Jamaluddin Al-Afghani dipahami baik oleh tokoh-tokoh
gerakan pembaruan di Indonesia. Gerakan ini berdampak luas terhadap
munculnya gerakan nasionalisme di Indonesia sehingga masyarakat Indonesia
tergerak untuk bangkit dan bersatu memperkuat ukhuwah islamiyah.
Berbagai upaya pembaruan ditempuh oleh para ulama-ulama Indonesia.
Munculnya organisasi-organisasi sosial keagamaan Islam telah menumbuhkan
benih- benih nasionalisme dalam pengertian modern. Tokoh-tokoh organisasi juga
menyadari betapa pentingnya lembaga pendidikan untuk menopang generasi
muda penerus bangsa. Bangsa Indonesia mulai menyusun strategi untuk bangkit
melawan penjajah. Umat Islam harus berperan aktif dalam perjuangan untuk
memperoleh kemerdekaan Indonesia. Gerakan pembaruan dalam bidang politik
mulai bangkit dengan bersatunya berbagai organisasi sosial keagamaan di
Indonesia. Para ulama dan tokoh organisasi dan masyarakat bahu membahu dan
berjuang bersama melawan penjajah.
Setelah para tokoh pembaru Islam berhasil memperbarui sistem
pendidikan di Universitas Al-Azhar. Gaung Al-Azhar terus menggema ke seluruh
penjuru dunia. Pengaruh pembaruan dalam bidang pendidikan di Indonesia
berhasil tergugah sehingga cara pandang bangsa Indonesia tergerak lebih maju.
Perlahan dan pasti sistem pendidikan di Indonesia mengalami perubahan dan
pencerahan. Pendidikan tidak hanya difokuskan pada pembelajaran
keagamaan, namun juga pembelajaran dalam bidang ilmu
pengetahuan umum.

B. Gerakan Pembaruan Islam di Indonesia


Menurut Nurcholish Madjid modernisasi adalah pengertian yang identik,
dengan pengertian rasionalisasi. Dan hal ini berartiproses perombakan pola
berfikir dan tata kerja lama yang tidak aqliyah (rasional), dan menggantikannya
dengan pola berfikir dan tata kerja baru yang aqliyah. Kegunaannya ialah untuk
memperoleh daya guna dan efisiensi yang maksimal. Jadi sesuatu dapat disebut
modern kalau ia bersifat rasional, ilmiah dan bersesuaian dengan hukum-hukum
yang berlaku dalam alam.
Di awal abad XX pemikiran pembaruan sudah mewarnai arus pemikiran
gerakan Islam di Indonesia. Namun melihat dari perkembangan pembaruan di
Indonesia, pembaruan di Indonesia tidak hanya dipengaruhi oleh pembaruan dari
luar negeri. Hal tersebut diasumsikan bahwa pergerakan pembaruan yang terjadi
di Indonesia banyak dipengaruhi oleh pemikiran nasionalisme kebangsaan.
Pembaruan dalam Islam juga diwujudkan dalam bentuk pendidikan. Pembaruan
dalam pendidikan didasari argumentasi bahwa lembaga pendidikan merupakan
media yang paling efektif untuk menumbuhkan gagasan-gagasan baru.
Pembaruan di Indonesia dipelopori oleh tokoh-tokoh organisasi keagamaan
dan sosial, di antaranya KH. Ahmad Dahlan (Muhammadiyah), Hadratus Syekh
Hasyim Asy’ari (Nahdlatul Ulama) H. Ahmad Surkati (Al-Irshad), Zamzam (Persis).
Para ulama tersebut banyak belajar ilmu agama di Indonesia dan menimba ilmu di
Makkah. Di antara tokoh lainnya adalah HOS Tjokroaminoto (Syarekat Islam) yang
dikenal menggali inspirasi dari ide-ide pembaruan Islam dari anak benua India.

Ada beberapa jalur masuknya ide-ide pembaruan dari luar ke Indonesia, di


Selengkapnya bisa order ke guruidaman.com
Lengkap dengan CP ATP, PROTA, PROSEM, LKPD DAN BONUS LAINNYA
Atau WA ke 0895-0346-4208
antaranya adalah:
1. Jalur haji dan mukim, yakni tradisi tokoh-tokoh umat Islam Indonesia yang
menunaikan ibadah haji ketika itu bermukim untuk sementara waktu guna
menimba dan memperdalam ilmu keagamaan atau pengetahuan lainnya.
Sehingga ketika mereka kembali ke tanah air, kualitas keilmuan dan
pengamalan keagamaan mereka umumnya semakin meningkat. Ide-ide baru
yang mereka peroleh tak jarang kemudian juga mempengaruhi orientasi
pemikiran dan dakwah mereka di tanah air. Kepulangan para ulama yang
sudah pernah menimba ilmu di Makkah sangat kuat pengaruhnya di kalangan
masyarakat Indonesia. Sehingga gerakan-gerakan pembaruan Islam yang
dibawa oleh para ulama yang pulang dari Makkah berkembang dengan pesat.
2. Jalur publikasi, yakni berupa jurnal atau majalah-majalah yang memuat ide-ide
pembaruan Islam baik dari terbitan Mesir maupun Beirut. Wacana yang
disuarakan media tersebut kemudian menarik muslim nusantara untuk
menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia bahkan lokal, seperti pernah
muncul jurnal al-Imam, Neracha dan Tunas Melayu di Singapura, di Sumatera
Barat juga terbit al-Munir.
3. Peran mahasiswa yang sempat menimba ilmu di Timur Tengah. Para
pemimpin gerakan pembaruan Islam awal di Indonesia hampir merata adalah
alumni pendidikan Timur Tengah. Peran besar mahasiswa-mahasiswa alumni
Timur Tengah sampai sekarang masih berjalan. Bisa dikatakan bahwa alumni-
alumni dari Timur Tengah masih mendapatkan tempat khusus di kalangan
masyarakat, khususnya kalangan akademik.

Secara umum munculnya pembaruan Islam di Indonesia merupakan wujud


respon terhadap kondisi bangsa Indonesia yang sedang mengalami invasi politik,
kultural dan intelektual dari dunia Barat. Dalam situasi dan kondisi seperti itu
muncul kesadaran nasional sebagai anak bangsa yang terjajah oleh penguasa
asing dan tampaknya memicu kebersamaan untuk menempatkan prioritas
nasional sebagai wujud kepeduliannya
Dengan demikian berkembangnya gerakan pembaruan Islam di Indonesia
di tengah-tengah masyarakat, secara umum pada awal abad XX tersebut, corak
gerakan keagamaan Islam di Indonesia dapat dibagi dengan beberapa kelompok
sebagai berikut:
1. Tradisionalis-konservatis, yakni mereka yang menolak kecenderungan
westernisasi (pembaratan) dengan mengatasnamakan Islam yang secara
pemahaman dan pengamalan melestarikan tradisi-tradisi yang bercorak lokal.
Pendukung kelompok ini rata-rata dari kalangan ulama, tarekat dan penduduk
pedesaan;
2. Reformis-modernis, yakni mereka menegaskan relevansi Islam untuk semua
lapangan kehidupan baik privat maupun publik. Islam dipandang memiliki
karakter fleksibilitas dalam berinteraksi dengan perkembangan zaman;
3. Radikal-puritan, seraya sepakat dengan klaim fleksibilitas Islam di tengah arus
zaman, mereka enggan memakai kecenderungan kaum modernis dalam
memanfaatkan ide-ide Barat. Mereka lebih percaya pada penafsiran yang
disebutnya sebagai murni Islami. Kelompok ini juga mengkritik pemikiran dan
cara-cara implementatif kaum tradisionalis. Sebagai pengayaan, menarik jika
tipologi ini dikomparasikan dengan kasus gerakan Islam yang berkembang di
Turki.

C. Organisasi-organisasi Islam di Indonesia

Selengkapnya bisa order ke guruidaman.com


Lengkap dengan CP ATP, PROTA, PROSEM, LKPD DAN BONUS LAINNYA
Atau WA ke 0895-0346-4208
Organisasi Islam di Indonesia adalah organisasi Islam di Indonesia yang
bergerak di bidang keagamaan, pendidikan, sosial, dan ekonomi. Keberadaaan
organisasi- organisasi Islam di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peranannya
pada zaman perjuangan kemerdekaan. Peranan para ulama Islam yang tergabung
dalam berbagai organisasi akan perjuangan mencapai kemerdekaan sangat besar
dan tidak bisa diabaikan.
Berikut ini adalah organisasi-organisasi Islam yang dibentuk pada masa
sebelum kemerdekaan:
1. Jam’iyatul Khair (1905 M)
Didirikan pada 17 Juli 1905 di Jakarta, organisasi ini awalnya beraktivitas di
bidang pendidikan dasar dan mengirim para pelajar ke Turki dan merupakan satu-
satunya organisasi pendidikan modern di Indonesia. Guru-gurunya didatangkan
dari Tunisia, Sudan, Maroko, Mesir dan Arab. Korespondensi mereka dengan tokoh
- tokoh pergerakan dan juga surat kabar di luar negeri turut menyebarkan kabar
mengenai kekejaman pemerintah Belanda. Guru yang terkenal dari sini adalah
Syekh Ahmad Surkati dari Sudan, yang menekankan bahwa tidak ada perbedaan di
antara sesama umat muslim yang berkedudukan sama. Para tokoh ulama
Indonesia kebanyakan lahir dari organisasi ini seperti KH. Ahmad Dahlan, H.O.S.
Tjokroaminoto, H. Samanhudi, dan H. Agus Salim.

2. Syarekat Islam (1905 M)


Syarikat Islam Indonesia (SI-Indonesia) adalah organisasi massa tertua
yang berdiri sejak era kolonialisme, didirikan Oleh Haji Samanhudi pada tanggal 16
Oktober 1905, awal berdirinya SI-Indonesia benama Sarekat Dagang Islam (SDI),
organisasi yang didirikan sebagai wadah perkumpulan dan pergerakan bagi para
pedagang muslim pribumi guna menandingi monopoli pedagang Tionghoa masa
itu, sikap imprialisme pemerintah kolonial Hindia Belanda terhadap pedagang
pribumi membuat Haji Samanhudi yang juga berprofesi sebagai seorang saudagar
bergerak dengan cepat menyebarkan berita berdirinya SDI, salah satunya melalui
buletin Taman Pewarta (1902-1915).
Konggres Sarekat Islam yang Pertama di Surabaya pada tanggal 10
November 1912. Namun setahun sebelumnya Sarekat Dagang Islam SDI berganti
nama menjadi Sarekat Islam, pergantian nama juga merubah ruang pergerakan
Sarekat Islam dalam arti luas, mencakup berbagai aspek sosial, politik, ekonomi,
pendidikan dan keagamaan. Pergantian nama di tubuh Sarekat Islam di bahas
dalam Kongres Sarekat Islam yang pertama di Surabaya pada tanggal 20 Januari
1913.

3. Persatuan Umat Islam (1911 M)


Persatuan Umat Islam (PUI) didirikan oleh KH. Abdul Halim, yang
merupakan seorang ulama pengasuh di Pondok Pesantren Majalengka, Jawa
Barat pada tahun 1911. PUI adalah gabungan dari dua organisasi Islam yang ada
di Jawa Barat yaitu Persyarikatan Umat Islam dan organisasi Al-Ittihad Al-
Islamiyah pimpinan KH. Ahmad Sanusi di Sukabumi. PUI kemudian mendirikan
banyak sekolah serta pondok pesantren di Jawa Barat.

4. Muhammadiyah (1912 M)
Organisasi Muhammadiyah didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan di Kampung
Kauman Yogyakarta pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H atau 18 November 1912.
Kelahiran dan keberadaan Muhammadiyah pada awal berdirinya tidak lepas dan
merupakan menifestasi dari gagasan pemikiran dan amal perjuangan Kyai Haji
Ahmad Dahlan (Muhammad Darwis) yang menjadi pendirinya. Setelah
Selengkapnya bisa order ke guruidaman.com
Lengkap dengan CP ATP, PROTA, PROSEM, LKPD DAN BONUS LAINNYA
Atau WA ke 0895-0346-4208
menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci dan bermukim yang kedua kalinya pada
tahun 1903, Kyai Dahlan mulai menyemaikan benih pembaruan di Tanah Air.
Gagasan pembaruan itu diperoleh Kyai Dahlan setelah berguru kepada ulama-
ulama Indonesia yang bermukim di Mekkah seperti Syeikh Ahmad Khatib dari
Minangkabau, Kyai Nawawi dari Banten, Kyai Mas Abdullah dari Surabaya, dan
Kyai Fakih dari Maskumambang; juga setelah membaca pemikiran-pemikiran para
pembaru Islam seperti Ibn Taimiyah, Muhammad bin Abdil Wahhab, Jamaluddin Al
-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha.
Dengan modal kecerdasan dirinya serta interaksi selama bermukim di
Saudi Arabia dan bacaan atas karya-karya para pembaru pemikiran Islam itu telah
menanamkan benih ide-ide pembaruan dalam diri Kyai Dahlan. Jadi sekembalinya
dari Arab Saudi, KH. Ahmad Dahlan justru membawa ide dan gerakan pembaruan,
bukan malah menjadi konservatif.
Embrio kelahiran Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi untuk
mengaktualisasikan gagasan-gagasannya merupakan hasil interaksi Kyai Dahlan
dengan kawan-kawan dari Boedi Oetomo yang tertarik dengan masalah agama
yang diajarkan Kyai Dahlan, yakni R. Budihardjo dan R. Sosrosugondo. Gagasan itu
juga merupakan saran dari salah seorang siswa Kyai Dahlan di Kweekscholl Jetis
di mana Kyai mengajar agama pada sekolah tersebut secara ekstrakulikuler, yang
sering datang ke rumah Kyai dan menyarankan agar kegiatan pendidikan yang
dirintis Kyai Dahlan tidak diurus oleh Kyai sendiri tetapi oleh suatu organisasi agar
terdapat kesinambungan setelah Kyai wafat.
Kelahiran Muhammadiyah sebagaimana digambarkan itu melekat dengan
sikap, pemikiran, dan langkah KH. Ahmad Dahlan sebagai pendirinya, yang mampu
memadukan paham Islam yang ingin kembali pada Alquran dan Sunnah Nabi
dengan orientasi tajdid yang membuka pintu ijtihad untuk kemajuan, sehingga
memberi karakter yang khas dari kelahiran dan perkembangan Muhammadiyah di
kemudian hari.
KH. Ahmad Dahlan, sebagaimana para pembaru Islam lainnya, tetapi
dengan tipikal yang khas, memiliki cita-cita membebaskan umat Islam dari
keterbelakangan dan membangun kehidupan yang berkemajuan melalui tajdid
(pembaruan) yang meliputi aspek-aspek tauhid (‘aqidah), ibadah, mu’amalah, dan
pemahaman terhadap ajaran Islam dan kehidupan umat Islam, dengan
mengembalikan kepada sumbernya yang asli yakni Alquran dan Sunnah Nabi yang
Shahih, dengan membuka ijtihad.

5. Al-Irsyad Al-Islamiyah (1914 M)


Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah (Jam’iyat al-Islah wal Irsyad al-
Islamiyyah) berdiri pada 15 Syawwal 1332 H/6 September 1914. Tanggal tersebut
mengacu pada pendirian Madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyyah yang pertama, di
Jakarta. Pengakuan hukumnya sendiri baru dikeluarkan pemerintah Kolonial
Belanda pada 11 Agustus 1915.
Tokoh sentral pendirian Al-Irsyad adalah Al-’Alamah Syekh Ahmad Surkati
Al-Anshori, seorang ulama besar Mekkah yang berasal dari Sudan. Pada mulanya
Syekh Surkati datang ke Indonesia atas permintaan perkumpulan Jami’at Khair
yang mayoritas anggota pengurusnya terdiri dari orang-orang Indonesia keturunan
Arab golongan sayyid, dan berdiri pada 1905.
Al-Irsyad di masa-masa awal kelahirannya dikenal sebagai kelompok
pembaharu Islam di Indonesia, bersama Muhammadiyah dan Persatuan Islam
(Persis). Tiga tokoh utama organisasi ini: Ahmad Surkati, Ahmad Dahlan, dan
Ahmad Hassan (A. Hassan), sering disebut sebagai “Trio Pembaharu Islam

Selengkapnya bisa order ke guruidaman.com


Lengkap dengan CP ATP, PROTA, PROSEM, LKPD DAN BONUS LAINNYA
Atau WA ke 0895-0346-4208
Indonesia.”
Sejak awal berdirinya, Al-Irsyad Al-Islamiyyah bertujuan memurnikan tauhid,
ibadah dan amaliyah Islam. Bergerak di bidang pendidikan dan dakwah. Untuk
merealisir tujuan ini, Al-Irsyad sudah mendirikan ratusan sekolah formal dan
lembaga pendidikan non-formal yang tersebar di seluruh Indonesia.

6. Persatuan Islam (1923 M)


Persatuan Islam (PERSIS) adalah sebuah organisasi Islam di Indonesia.
Persis didirikan pada 12 September 1923 di Bandung oleh sekelompok Islam yang
berminat dalam pendidikan dan aktivitas keagamaan yang dipimpin oleh Haji
Zamzam dan Haji Muhammad Yunus.
Persis didirikan dengan tujuan untuk memberikan pemahaman Islam yang
sesuai dengan aslinya yang dibawa oleh Rasulullah Saw dan memberikan
pandangan berbeda dari pemahaman Islam tradisional yang dianggap sudah tidak
orisinil karena bercampur dengan budaya lokal, sikap taklid buta, sikap tidak kritis,
dan tidak mau menggali Islam lebih dalam dengan membuka Kitab-kitab Hadis
yang shahih. Oleh karena itu, lewat para ulamanya seperti Ahmad Hassan yang
juga dikenal dengan Hassan Bandung atau Hassan Bangil, Persis mengenalkan
Islam yang hanya bersumber dari Alquran dan Hadis (sabda Nabi).
Persis bukan organisasi keagamaan yang berorientasi politik namun lebih
fokus terhadap Pendidikan Islam dan Dakwah dan berusaha menegakkan ajaran
Islam secara utuh tanpa dicampuri khurafat, syirik, dan bid’ah yang telah banyak
menyebar di kalangan awwam orang Islam.

7. Nahdlatul Ulama (1926 M)


Nahdlatul Ulama (NU), merupakan sebuah organisasi Islam terbesar di
Indonesia dan dunia. Organisasi ini berdiri pada 16 Rajab 1344 H/31 Januari 1926
dan bergerak di bidang keagamaan, pendidikan, sosial, dan ekonomi. Kehadiran
NU merupakan salah satu upaya melembagakan wawasan tradisi keagamaan
yang dianut jauh sebelumnya, yakni paham Ahlussunnah wal Jamaah.
NU sebagaimana organisasi-organisasi pribumi lain baik yang bersifat
sosial, budaya atau keagamaan yang lahir di masa penjajah, pada dasarnya
merupakan perlawanan terhadap penjajah. Hal ini didasarkan, berdirinya NU
dipengaruhi kondisi politik dalam dan luar negeri, sekaligus merupakan
kebangkitan kesadaran politik yang ditampakkan dalam wujud gerakan organisasi
dalam menjawab kepentingan nasional dan dunia Islam umumnya.
Kalangan pesantren gigih melawan kolonialisme dengan membentuk
organisasi pergerakan, seperti Nahdlatut Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada
tahun 1916. Kemudian tahun 1918 didirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga
dengan Nahdlatul Fikri (Kebangkitan Pemikiran), sebagai wahana pendidikan
sosial politik kaum dan keagamaan kaum santri. Selanjutnya didirikanlah
Nahdlatut Tujjar, (Pergerakan Kaum Sudagar) yang dijadikan basis untuk
memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdlatul Tujjar itu, maka
Taswirul Afkar, selain tampil sebagi kelompok studi juga menjadi lembaga
pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota.
Dalam sejarahnya, NU tampil sebagai organisasi Islam yang moderat di
Indonesia dan mampu menerima tradisi-tradisi lokal serta beradaptasi terhadap
perubahan jaman. Di NU dikenal luas maqolah “Al Muhafadhah ‘alal qadimial
shalih wa al akhdu bi al jadid al ashlah” atau “Memelihara hal lama yang masih
baik dan mengambil hal baru yang lebih baik.”
Sikap NU terbuka atas keragaman dan perbedaan, karena dipengaruhi
Selengkapnya bisa order ke guruidaman.com
Lengkap dengan CP ATP, PROTA, PROSEM, LKPD DAN BONUS LAINNYA
Atau WA ke 0895-0346-4208
budaya Nusantara. NU juga memiliki prinsip tawasut (moderat), tasamuh (toleran)
serta tawazun (proporsional) dalam menyikapi berbagai persoalan, baik sosial,
politik maupun keagamaan. Prinsip ini mendasari dan sekaligus memagari NU
sehingga tidak jatuh dalam sikap radikal atau ekstrem (tatharruf).
Dalam menegaskan prisip dasar orgasnisai, KH. Hasyim Asy'ari
merumuskan Kitab Qanun Asasi (prinsip dasar), kemudian juga merumuskan kitab
I'tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. Kedua kitab tersebut kemudian diejawantahkan
dalam Khittah NU, yang dijadikan dasar dan rujukan warga NU dalam berpikir dan
bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan politik.
Nadhlatul Ulama (NU) menorehkan sejarah tersendiri bagi perjuangan
bangsa Indonesia. Jauh-jauh hari sebelum gaung mempertahankan NKRI
menggema, para ulama telah bergerak terlebih dahulu. Para ulama, kyai, santri,
warga nahdliyin memberikan kontribusi nyata dalam mengawal perjuangan
kemerdekaan, mempertahankan dan mengisinya dengan spirit yang tak kenal lelah
dan pamrih.
Perjuangan semakin menggelora setelah keluar fatwa jihad yang
dikumandangkan Hadharatus Syekh KH. Hasyim Asy’ari dan lebih dikenal dengan
Resolusi Jihad tanggal 22 Oktober 1945. Peristiwa penting yang merupakan
rangkaian sejarah perjuangan Bangsa Indonesia melawan kolonialisme. Peristiwa
tersebut kini diperingati sebagai Hari Santri Nasional.
Pada tanggal 9 November 1945 Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari
sebagai pemimpin tertinggi Laskar Hizbullah menggalang kekuatan dari seluruh
penjuru Surabaya untuk menghadapi setiap kemungkinan dengan penolakan
terhadap sekutu NICA (Netherlands-Indies Civil Administration). KH. Abbas Abdul
Jamil (Buntet) memimpin Komando Pertempuran dibantu oleh KH. Wahab
Hasbullah, Bung Tomo, Roeslan Abdul Ghani, KH. Mas Mansur dan Cak Arnomo.
Bung Tomo berpidato dengan disiarkan radio, membakar semangat para pejuang
dengan pekik takbirnya untuk bersiap syahid fi sabililah. Peristiwa heroik pada
tanggal 10 November 1945 yang diperingati sebagai hari Pahlawan tidak lepas
dari rangkaian panjang semangat resolusi jihad yang dicetuskan di markas NU,
Jalan Bubutan VI No. 2 Surabaya.
Kiranya kegigihan perjuangannya, Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari
dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional yang ditetapkan oleh Presiden Soekarno
dalam Keppres nomor 249 tahun 1945.

8. Majelis Islam A’la Indonesia (1937 M)


Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) merupakan wadah bagi ormas-ormas
Islam di Indonesia pada zaman sebelum kemerdekaan. MIAI didirikan pada Selasa
Wage, 15 Rajab 1356 atau 21 September 1937 atas prakarsa KH. Hasyim Asy’ari.
Di antara organisasi Islam anggota MIAI adalah Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama
(NU), Al Irsyad, Partai Arab Indonesia (PAI), Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII),
Al Khoiriyah, Persyarikatan Ulama Indonesia (PUI), Al-Hidayatul Islamiyah,
Persatuan Islam (Persis), Partai Islam Indonesia (PII), Jong Islamiaten Bond, Al-
Ittihadiyatul Islamiyah dan Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA).
Pada awalnya MIAI hanya menjadi koordinator (mediator) untuk berbagai
kegiatan, kemudian dikembangkan sebagai wadah untuk mempersatukan para
umat Islam tanah air untuk menghadapi politik Belanda yang memecah belah para
ulama dan partai Islam. Pada periode 1939-1945 para ulama bergabung bersama
dalam satu majelis.
Pada tahun 1943 MIAI dibubarkan, karena penjajah yang berkuasa pada
saat itu menganggap MIAI sudah tidak relevan dengan kebijakan penjajah. Oleh
Selengkapnya bisa order ke guruidaman.com
Lengkap dengan CP ATP, PROTA, PROSEM, LKPD DAN BONUS LAINNYA
Atau WA ke 0895-0346-4208
sebab itu dibuat kebijakan baru yang bisa mengakomodasi kebijakan penjajah
terhadap umat Islam. Untuk merealisasikannya, maka diganti dengan Majelis
Syuro Muslimin Indonesia (MASYUMI) sebagai organisasi baru yang menjadi salah
satu tempat aspirasi umat Islam.
D. Perkembangan Islam di Indonesia Pasca Kemerdekaan
1. Masa Orde Lama
Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) merupakan perwakilan
daerah seluruh kepulauan Indonesia. Dalam sidang PPKI, M. Hatta berhasil
meyakinkan bahwa tujuh kata dalam anak kalimat yang tercantum dalam sila
pertama Pancasila “Ketuhanan yang maha Esa dengan kewajiban menjalankan
syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dengan segala konsekuensinya
dihapuskan dari konstitusi.
Namun hal yang sedikit melegahkan hati para nasionalis Islam adalah
keputusan tentang diadakannya Kementerian Agama yang akan menangani
masalah keagamaan (lihat B.J. Boland, Pergumulan Islam di Indonesia (Jakarta :
Grafiti Preaa, 1985), h. 110; bandingkan dengan Badri Yatim, op tit, h. 266).
Meskipun Departemen Agama dibentuk, namun hal tersebut tidak
meredakan konflik ideologi pada masa setelahnya. Setelah dikeluarkannya
maklumat tentang diperkenankannya mendirikan partai partai politik, tiga
kekuatan yang sebelumnya bertikai muncul kembali, yaitu; Majelis Syuro Muslimin
Indonesia (Masyumi) 7 November 1945 lahir sebagai wadah aspirasi umat Islam,
Partai Sosialis yang mengkristalkan falsafah hidup Marxis berdiri 17 Desember
1945, dan Partai Nasional Indonesia yang mewadahi cara hidup nasionalis
“sekuler” muncul pada 29 Januari 1946. Partai-partai yang berdiri pada saat itu
dapat dikategorikan dalam tiga aliran utama ideologi yang ada tersebut.
Sejak tahun 1950 sampai 1955 PNI dan Masyumi terlibat perselisihan men-
genai peran Islam dan peran komunis. Tetapi kalangan muslim sendiri saling
berseberangan. Misalnya pada tahun 1952 Nahdatul Ulama (NXJ) menarik diri dari
Masyumi dan menjadi partai politik yang mandiri. Terjadi pula perselisihan antara
kaum tua dan kaum muda dan antara Muhammadiyah dan NU mengenai. orientasi
keagamaan. Pergolakan yang tidak terselesaikan antara beberapa partai politik
yang mengantarkan sebuah pemilihan nasional (pemilu) tahun 1955 yang terbukti
sebagai sebuah peristiwa yang menentukan dalam sejarah Indonesia. Pemilihan
umum tahun 1955 tersebut mengkonsolidasikan bentuk baru ideologi Indonesia
dan organisasi sosial, bahkan mengembangkan sebuah kelanjutan dari masa lalu
yang nyata Indonesia. Sejak masa itu sampai sekarang, beberapa partai muslim
telah berjuang untuk menyadari bahwa meskipun Indonesia secara mayoritas
dalam adalah sebuah masyarakat muslim, namun partai muslim merupakan
sebuah mirioritas politik.
Perdebatan mengenai hasil perundangan terakhir Piagam Jakarta terus
berlanjut hingga periode pasca kemerdekaan dan menjadi argumen bagi gerakan-
gerakan separatis, seperti Darul Islam (Ainal dan Samsu Rizal Pangabean, 2004:
65) di Jawa Barat dari 1948 hingga 1962 dan juga di Sulawesi Selatan dan Aceh.
Dalam Majelis Konstituante, sejak berakhirnya pemilu 1955 yang dilaksanakan
berdasarkan UUDS 1950, kalangan islamis melahirkan tantangan lain bagi negara
model Pancasila ini. Karena tidak ada satu pihak pun yang memenuhi 2/3 suara
yang dibutuhkan untuk pengesahan, Soekarno akhirnya membubarkan Majelis
Konstituante dengan mengeluarkan Dek- rit Presiden pada 5 Mi 1959 (lihat
Mohammad Atho Mudzar, Islam and Islamic Law in Indonesia: A Socio-Historical
Approach).
Perkembangan Islam pada masa orde lama, (masa berlakunya UUD 1945,
Selengkapnya bisa order ke guruidaman.com
Lengkap dengan CP ATP, PROTA, PROSEM, LKPD DAN BONUS LAINNYA
Atau WA ke 0895-0346-4208
Konstitusi RIS 1949 dan UUDS 1950) berada pada tingkat pengaktualisasian
ajaran agama untuk dijadikan sebuah dasar dalam bernegara. Sehingga
pergolakan ideologi antara golongan muslim dan golongan nasionalis saling tarik
ulur untuk memperjuangkan berlakunya rumusan ideologi masing-masing.
Sedangkan pada masa demokrasi terpimpin (1959 - 1966) golongan Islam
mendapat tekanan melalui dominasi peranan golongan komunis yang
membonceng kepada pemerintah.

2. Masa Orde Baru


Munculnya orde baru dianggap sebagai kemenangan bagi umat Islam
karena ada andil dalam pembentukannya. Sehingga umat Islam menarah banyak
harapan pada pemerintah, khususnya kesempatan untuk berkiprah di bidang
politik. Namun realitasnya hal tersebut tidak mendapat perhatian dari pemerintah
rezim baru orde baru karena pemerintah orde bara lebih berorientasi pada
pembangunan ekonomi. Hal ini semakin menguat lagi dengan adanya campur
tangan pemerintah terhadap partai politik, pemerintah menghendaki partai politik
diciutkan menjadi dua ditambah partai golkar. Partai Islam disatukan ke dalam
Partai Persatuan Pembangunan (PPP: 5 Januari 1973) dan partai-partai nasional
serta partai Kristen dan Katolik digabungkan dalam Partai Demokrasi Indonesia
(PDI: 10 Januari 1973) (lihat Jamhari “Islam di Indonesia” dalam Ensiklopedi
Tematis Dunia Islam: Dimamika Masa KM Jilid 6 (Cet. Ill; Jakarta: Ichtiar Baru van
Hoeve, 2005), h. 345.)
Awal 1970-an merupakan periode penting bagi perkembangan Islam di
Indonesia. Menjelang diadakannya pemilihan umum pertama pada masa orde
bara, Nurcholis Madjid sebagai intelektual menggagas perlunya pembaraan
pemikiran dalam Islam. Gagasan Cak Nur tersebut menunjukkan secara jelas
penolakan terhadap pandangan yang menjadikan Islam sebagai landasan ideologi
poiitik dengan jargon “Islam yes, partai Islam no”. Selain beliau, masih ada
beberapa pembaharu seperti Harun Nasution dan Abd Rahman Wahid juga
berperan dalam gagasan tersebut. Di samping perkembangan pemikiran
keislaman oleh cendikiawan Muslim di lingkungan Islam seperti di IAIN, pesantren,
organisasi Islam, corak pemikiran di IAIN mulai pertengahan 1980-an sampai
dengan pertengahan 1990-an, menjadi salah satu kiblat perkembangan pemikiran
Islam di Indonesia. Perkembangan pemikiran keagamaan di IAIN ditandai dengan
maraknya kajian keagamaan yang menggunakan pendekatan ilmu sosial (lihat
Jamhari “Islam di Indonesia” dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam: Dimamika
Masa KM Jilid 6 (Cet. Ill; Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 2005), h. 345.

Selengkapnya bisa order ke guruidaman.com


Lengkap dengan CP ATP, PROTA, PROSEM, LKPD DAN BONUS LAINNYA
Atau WA ke 0895-0346-4208
Pada bidang pendidikan Islam, pesantren merupakan institusi pendidikan
keagamaan yang pertama di Indonesia. Pada awalnya pesantren lebih merupakan
lembaga keagamaan daripada lembaga pendidikan agama. Seiring dengan
perkembangan zaman pesantren berkembang menjadi lembaga pendidikan agama
yang mengajarkan materi keagamaan, namun pada perkembangan selanjutnya
pesantren mengadopsi sistem modern sehingga pesantren tidak hanya mengajarkan
ilmu keagamaan, tetapi juga pelajaran umum dengan menggunakan teknologi maju.
Pada masa ini pula, perkembangan yang perlu dicatat adalah munculnya ide
reformasi fiqh yang diusulkan oleh ulama Indonesia, misalnya Hasbi al-Shiddieqy dan
Hazairin, yang keduanya meninggal dunia pada 1975. Hasbi al-Shiddieqy mengajukan
konsep “Fiqh Indonesia” dan berusaha menekankan pentingnya merevisi fiqh
tradisional yang tidak mempertimbangkan karakteristik komunitas Islam di Indonesia.
Sedangkan Hazairin mengajukan konsep “Fiqh Mazhab Nasional” dengan rujuan agar
lebih relevan dengan adat dan budaya di Indonesia (lihat Nour- ouzzaman Shiddieqy,
Fiqh Indonesia: Peng- gagas dan Gagasannya (Jakarta: PustakaPe- lajar, 1997), h.
215). Selain itu konsep “Reaktualisasi Ajaran Islam” juga disampaikan oleh Munawir
Sjadzali sebagai upaya reinterpretasi terhadap doktrin Islam. Menyusul konsep “ Fiqh
Sosial” yang diajukan oleh Ali Yafie.

3. Masa Reformasi
Runtuhnya Orde baru pada 21 Mei 1998, bersamaan dengan munculnya
berbagai gerakan sosial. Isu Piagam Jakarta dan tuntutan untuk memperbesar peran
syariah dalam negara kembali muncul ke permukaan. Khusus untuk isu penerapan
syariah, secara umum ada dua tipe gerakan Islam yang berargumen tentang hal
tersebut (An-Na'im, 2007: 399). Namun, perubahan struktural yang dibawa oleh
pengesahan otonomi daerah 1999 menambah kerumitan siruasi ini karena kebijakan
tersebut memberikan ruang bagi komunitas lokal untuk menerapkan syariah di
tingkat kabupaten dan provinsi, tanpa memperhatikan sikap dan posisi pemerintahan
pusat.
Menyusul lengsernya rezim Soeharto, muncul kembali seputar hubungan
Islam, negara, masyarakat serta peran Islam dalam Indonesia Baru. Banyak partai
Islam seperti PPP dan Partai Bulan Bintang (PBB) yang beipartisipasi dalam Pemilu
1999, kembali mengusung isu Piagam Jakarta dalam sidang Tahunan MPR. Namun
usaha untuk mengamandemen UUD 1945 dengan memasukkan kembali tujuh kata
dalam Piagam Jakarta gagal diwujudkan karena seimia fraksi lain di MPR
menolaknya (An-Na'im, 2007: 431).
Selama periode ini pula sejumlah daerah di Indonesia menuntut penerapan
syaiiat Islam secara formal. Selain Aceh yang sudah diberikali hak otonomi untuk
menerapkan syariat Islam, provinsi- provinsi lain (misalnya provinsi Sulawesi Selatan,
Riau, Banten dan beberapa kabupaten lain) juga menyampaikan tuntutan untuk
menerapkan syariat Islam. Sekalipun tuntutan tersebut disuarakan dari waktu ke
waktu, tidak terdapat konsep yang jelas tentang syariat yang akan diberlakukan. Oleh
karena itu, penerapan syariat Islam pada faktanya bukanlah masalah yang sederhana.
Di antara keramitan yang muncul di dalamnya adalah kalangan umat Islam sendiri
masih terjadi perdebatan sengit mengenai apa yang dimaksud dengan syariat dan
bagaimana bentuk konkrit rumusan syariat.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa persoalan hubungan Islam, negara, dan
masyarakat yang mewarnai perkembangan Islam di Indonesia masih sangat kon-
troversial, seringkali bersifat simbolik yang menyelubungi persoalan politik dan sosial
Selengkapnya bisa order ke guruidaman.com
Lengkap dengan CP ATP, PROTA, PROSEM, LKPD DAN BONUS LAINNYA
Atau WA ke 0895-0346-4208
lainnya, tanpa adanya kejelasan sikap dan pandangan para tokohnya, yang
mendasari penolakah terhadap klaim dan penegasan pihak lain yang ditentangnya.
Selain itu, meskipun Islam tidak pemah menjadi agama resmi negara, diskursus
keislaman mempengarulii dan dipengaruhi oleh kebijakan negara, kendati masih
adanya ambivalensi di kalangan kelompok Islam sendiri.

LAMPIRAN 3
GLOSARIUM
Fatwa : jawab (keputusan) pendapat yang diberikan oleh mufti tentang
suatu masalah
Hakiki : benar, sebebenar, sesungguhnya
Hanif : berpegang teguh pada agama (Islam)
Ijtihad : pendapat; tafsiran
Invasi : hal atau perbuatan memasuki wilayah negara lain dengan
mengerahkan angkatan bersenjata dengan maksud menyerang
atau menguasai negara tersebut; penyerbuan ke dalam wilayah
negara lain.
Komunis : penganut paham komunisme
Konservatisme : paham politik yang ingin mempertahankan tradisi dan stabilitas
sosial, melestarikan pranata yang sudah ada, menghendaki
perkembangan setapak demi setapak, serta menentang
perubahan yang radikal
Kultural :berhubungan dengan kebudayaan
Modernisasi : proses pergeseran sikap dan mentalis sebagai warga masyarakat
untuk dapat hidup sesuai dengan tuntutan masa kini
Modernisme : gerakan yang bertujuan menafsirkan kembali doktrin tradisional,
menyesuaikannya dengan aliran modern dalam filsafat, sejarah,
dan ilmu pengetahuan
Muamalahq : hal-hal yang termasuk urusan kemasyarakatan(pergaulan, perdata,
dan sebagainya)
Mukim : penduduk tetap
Nasionalisme : paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri
Orde : sistem (pemerintahan)
Puritan :orang yang hidup saleh dan yang menganggap kemewahan dan
kesenangan sebagai dosa
Radikal : aat keras menuntuk perubahan (undang-undang, pemerintahan)
Reformasi : perubahan secara drastis untuk perbaikan (bidang sosial, politik,
atau agama) dalam suatu masyarakat atau negara
Rezim : tata pemerintahan negara; pemerintahan yang berkuasa
Separatis : Orang (golongan) yang menghendaki pemisahan diri dari suatu
persatuan
Syekh : Guru Spiritual
Tajdid : pembaruan, modernisasi, restorasi
Westernisasi : Kebarat-Baratan

LAMPIRAN 4
DAFTAR PUSTAKA
Kementrian Agama. 2022. Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam No. 3211
Tahun 2022 tentang Capaian Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan
Selengkapnya bisa order ke guruidaman.com
Lengkap dengan CP ATP, PROTA, PROSEM, LKPD DAN BONUS LAINNYA
Atau WA ke 0895-0346-4208
Bahasa Arab Kurikulum Merdeka pada Madrasah. Jakarta.
Sulaiman, Moh. SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM MA KELAS XI. Jakarta: Kementerian
Agama, 2020.

Mengetahui, ......................, ..............., 20 .....


Kepala Madrasah Guru Mata Pelajaran

(...........................................) (...........................................)

Selengkapnya bisa order ke guruidaman.com


Lengkap dengan CP ATP, PROTA, PROSEM, LKPD DAN BONUS LAINNYA
Atau WA ke 0895-0346-4208

Common questions

Didukung oleh AI

The educational and organizational reforms spearheaded by Islamic thinkers contributed to the socio-political landscape of post-independence Indonesia by promoting modern educational systems that balanced religious and secular knowledge. These reforms enabled the development of a knowledgeable and politically active populace that played a critical role in shaping the newly independent nation's governance structures. They fostered global perspectives and adaptability to societal needs, ultimately facilitating Indonesia's transition into a modern, pluralistic society .

Traditionalist-conservatist movements in Indonesia typically rejected Western influences, emphasizing the preservation of local traditions and Islamic orthodoxy. They focused on maintaining familiar religious practices and resisted changes that could lead to Westernization. In contrast, reformist-modernist movements were more open to Western ideas, advocating for the application of Islamic principles in all areas of life, including those influenced by Western modernization, such as science, technology, and politics. These movements believed that Islam had the flexibility to accommodate and benefit from Western advancements .

Ulama's social and religious activism had a crucial impact on the early 20th-century nationalist movements in Indonesia by intertwining religious identity with nationalist ambitions. Their activism helped bridge the traditional religious communities and the emerging nationalist movements, creating a united front against colonial oppression. Through their leadership in organizations and educational reforms, the ulama catalyzed the rise of a politically conscious Islamic populace that was pivotal in the fight for independence. This activism laid the groundwork for a national identity that integrated Islamic values with the quest for sovereignty .

Islamic organizations in pre-independence Indonesia had a substantial impact on the national struggle for freedom by providing platforms for political mobilization and education. Organizations like Jam'iyatul Khair, Muhammadiyah, and Nahdlatul Ulama supported the fight against colonial rule by fostering a sense of unity and national identity among Indonesians. They educated the masses and equipped them with both religious and political awareness needed to resist the colonial powers actively. Furthermore, these organizations played a decisive role in organizing social and political movements that demanded independence .

The return of scholars from the Middle East, notably those educated at institutions like Al-Azhar, had a profound impact on Islamic thought and practice in Indonesia by introducing more formalized and scholarly interpretations of Islam. Their exposure to new theological and socio-political ideas invigorated local religious practices with fresh perspectives on Islamic modernism and reform. These returning scholars helped establish educational institutions and movements that emphasized rational, scientific, and knowledge-based forms of Islamic education, which departed from purely traditional practices .

The curriculum recommends employing student-centered pedagogical strategies like the Student Team Achievement Divisions (STAD), which encourage collaborative learning and critical thinking. These strategies involve using multimedia resources, group discussions, and role-playing to engage students actively. Such approaches are designed to help students analyze the historical contexts, understand different perspectives, and discuss how the Islamic revival during the modern period has shaped current social and political dynamics .

Combining religious education with general sciences in Islamic educational reform is significant for fostering a generation that is religiously literate and scientifically informed. This integrated approach equips students with comprehensive knowledge that addresses both traditional and contemporary challenges. It allows for the development of well-rounded individuals who can engage critically with both spiritual and empirical aspects of life, thereby enhancing their ability to contribute positively to national development and global discourse .

Islamic educational reforms significantly shaped modern Indonesian society through the restructuring and modernization of educational institutions, such as those inspired by Al-Azhar. These reforms introduced modern curricula that integrated religious and secular subjects, thereby producing a generation of Indonesians with both traditional Islamic and contemporary scientific knowledge. This dual focus helped build intellectual leadership and facilitated the subsequent nationalist movements by educating leaders who were well-versed in global and local issues .

Early Islamic reformist movements in Indonesia faced challenges such as resistance from traditionalist groups who were skeptical of modern interpretations and innovations in religious practices. Reformists had to navigate the delicate balance between respecting entrenched practices and introducing new ideas that encouraged rationalism and modernization. They also dealt with the broader societal challenge of adopting Western-infused modernization processes and ensuring these align harmoniously with Islamic principles without losing cultural integrity .

The Pan-Islamism ideology by Sayyid Jamaluddin Al-Afghani played a significant role in influencing nationalistic movements in Indonesia by mobilizing unity among Muslims to strengthen Islamic brotherhood (ukhuwah islamiyah) and resist colonization. This ideology encouraged Indonesian Muslims to adopt new ideas on unity and nationalism, which subsequently spurred various movements and organizations that fought for independence by integrating religious and nationalistic motivations. The influence is evident in the emergence of social and religious organizations that aimed to enhance both national identity and Islamic identity through education and reform .

Anda mungkin juga menyukai