0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
45 tayangan57 halaman

E-Modul Flipbook Tingkatkan Motivasi Siswa

Proposal skripsi ini membahas pengaruh penerapan e-modul berbasis flipbook terhadap motivasi dan hasil belajar siswa pada materi cahaya di SMPN 1 Bringin. Berdasarkan latar belakang, pembelajaran IPA saat ini masih menggunakan metode ceramah yang kurang menarik bagi siswa sehingga perlu diinovasi dengan media pembelajaran interaktif seperti e-modul berbasis flipbook."

Diunggah oleh

bagus otnaimar
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
45 tayangan57 halaman

E-Modul Flipbook Tingkatkan Motivasi Siswa

Proposal skripsi ini membahas pengaruh penerapan e-modul berbasis flipbook terhadap motivasi dan hasil belajar siswa pada materi cahaya di SMPN 1 Bringin. Berdasarkan latar belakang, pembelajaran IPA saat ini masih menggunakan metode ceramah yang kurang menarik bagi siswa sehingga perlu diinovasi dengan media pembelajaran interaktif seperti e-modul berbasis flipbook."

Diunggah oleh

bagus otnaimar
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGARUH E-MODUL BERBASIS FLIPBOOK TERHADAP MOTIVASI DAN

HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI CAHAYA DI SMPN 1 BRINGIN

PROPOSAL SKRIPSI

OLEH:
GUNTUR SISWO PUTRO
NIM: 20051011

PEMBIMBING:

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ILMU IPA


SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
MODERN NGAWI
2024
DAFTAR ISI

A. HALAMAN JUDUL i

B. DAFTAR ISI ii

C. BAB I PENDAHULUAN 1

D. Latar Belakang 1
E. Batasan Masalah 7
F. Rumusan masalah 7
G. Tujuan penelitisan 7
H. Kegunaan penelitian 7

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN 8


A. Kajian Pustaka 8
1. Pembelajaran IPA 8
2. Modul Ajar 12
3. E-modul 15
4. Flipbook 16
5. Motivasi 19
6. Hasil Belajar Siswa 22
B. Kerangka Berfikir 24
C. Hipotesis Penelitian 27
BAB III METODE PENELITIAN 28
A. Tempat dan Waktu 28
B. Desain Penelitian 28
C. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel 30
D. Teknik Pengumpulan Data 32
E.DAFTAR PUSTAKA 57

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) menjadikan

negara Indonesia semakin maju (Ristati, 2017). Hal ini sesuai dengan

perkembangan zaman dalam dunia TIK dan telah mulai memperlihatkan

kemajuan dalam bidang pendidikan. Pendidikan saat ini sudah mulai

memanfaatkan perkembangan teknologi informasi untuk menunjang proses

pembelajaran. Terlihat dalam pemanfaatan perangkat komputer sebagai media

pembelajaran yang inovatif dan mampu merangsang pikiran, perasaan, minat serta

perhatian siswa sehingga proses pembelajaran dapat dilakukan dengan baik. Pada

kurikulum merdeka pemerintah telah memberikan arahan bahwasannya dalam

proses kegiatan pembelajaran itu harus menarik, efektif, inovatif dan

menyenangkan dengan memberikan proses pembelajaran intrakurikuler dengan

konten yang beragam agar siswa dapat lebih optimal dan memiliki cukup waktu

untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi (Ristati, 2017).

Pemanfaatan teknologi informasi menjadikan tujuan belajar dapat tercapai

dengan baik. Hal ini bisa dilihat dari kelebihan teknologi yang dapat diakses

dengan mudah sehingga waktu belajar lebih fleksibel, biaya lebih terjangkau

dengan wawasan yang luas dengan tampilan yang lebih menarik sehingga siswa

terhindar dari rasa jenuh selama mengikuti pembelajaran. Menurut Yunita, 2023

pengaruh pembelajaran merupakan pencapaian suatu tujuan dari beberapa

1
alternatif yang sudah ditentukan dari beberapa pilihan lainnya yang dapat

diartikan sebagai alat ukur keberhasilan dari tujuan yang sudah ditetapkan,

sehingga pembelajaran dapat memberikan keterampilan yang baru seperti halnya

pengetahuan khususnya pebelajaran IPA pada materi cahaya, dengan adanya TIK

kita bisa melihat bagaimana proses terbentuknya cahaya melalui animasi atau

video yang telah diposting sehingga kita mampu melihatnya secara mudah.

Pengalaman belajar yang menyenangkan melalui penyajian proses belajar

mengajar yang sudah dirancang sedemikian rupa sehingga mampu mencapai

tujuan belajar yang diharapkan. (Yunita, 2023)

Menurut Hasian aspek penting dari tujuan pembelajaran IPA salah satunya

adalah agar siswa mampu memahami bahan kajian mengenai hukum, konsep,

teori dan prinsip secara bermakna untuk menjelaskan fenomena dalam kehidupan

sehari-hari. Tujuan pembelajaran telah dikembangkan hingga mencangkup

beberapa aspek lain seperti sikap dan keterampilan berpikir ilmiah. Pada jenjang

SMP, media pembelajaran yang digunakan untuk menunjang proses kegiatan

belajar pada masa pelajaran cahaya harus mampu meningkatkan motivasi dan

hasil belajar siswa, seperti halnya adanya praktik secara langsung dalam materi

cahaya atau dengan menggunakan metode yang menarik seperti adanya video atau

animasi gerak yang menjadikan siswa antusias dalam belajar khususnya dalam

materi cahaya sehingga mampu mendorong motivasi siswa untuk belajar.

Motivasi dalam belajar sangat diperlukan sebagai daya penggerak dalam diri

siswa untuk melaksanakan kegiatan belajar sehingga mencapai tujuan dari

pendidikan. (Hasian, 2020).

2
Metode pembelajaran khususnya mata pelajaran IPA pada materi cahaya

yang digunakan guru di sekolah masih menggunakan model pembelajaran secara

langsung. Menurut Ria (2017) menyatakan model pembelajaran langsung yaitu

model pembelajaran yang digunakan guru pada umumnya dengan menggunakan

metode ceramah, tanya jawab, diskusi dan penugasan (Ria, 2017). Hal ini dapat

mempersulit siswa dalam memahami suatu konsep dan sulitnya mengembangkan

kemampuan ilmiahnya. Kemampuan siswa dalam memahami sebuah

pembelajaran untuk meningkatkan pemahaman konsep dan teori yang lebih baik

dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya dalam pemilihan model

pembelajaran yang efektif untuk diterapkan. Proses pembelajaran dalam mata

pelajaran IPA khususnya pada materi cahaya masih menggunakan model

pembelajaran yang berpusat pada guru, sehingga siswa beramsumsi bahwa

pembelajaran IPA pada materi cahaya sangat membosankan dan tidak

menyenangkan sehingga menimbulkan motivasi belajar siswa menurun dan

mampu mempengaruhi hasil belajar siswa.

Berdasaran hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan Sofiyan

selaku guru mata pelajaran IPA di SMPN 1 Bringin, diperoleh bahwa siswa

kurang antusias terhadap materi yang telah dijelaskan, mereka kesulitan dalam

memahami konsep, teori dan prinsip masih banyak siswa yang tidak aktif dalam

proses belajar mengajar. Guru telah menggunakan berbagai model pembelajaran,

namun motivasi dan hasil belajar siswa yang banyak digunakan adalah model

ceramah yang menyebabkan suasana pembelajaran di dalam kelas jadi

membosankan. Berdasarkan hasil wawancara tambahan dari siswa di SMPN 1

3
Bringin dalam pembelajaran IPA khususnya pada materi cahaya siswa merasa

bahwa pembelajaran cahaya itu membosankan dan tidak menyenangkan karena

dalam proses pembelajaran guru hanya menggunakan metode ceramah dan

memberikan tugas. Hal tersebut tentu berpengaruh pada semangat, motivasi dan

hasil belajar siswa yang kurang maksimal.

Menurut Santrock di dalam bukunya yang berjudul Perkembangan Anak

bahwasanya guru harus memberikan cara baru dan inovatif untuk proses belajar

mengajar dalam pemahaman konsep siswa. Pemahaman konsep merupakan aspek

kunci dari pembelajaran. Pemahaman konsep sangat erat hubungannya dengan

bagaimana siswa melakukan sesuatu, memahami kriteria dalam menggunakan

keterampilan, teknik maupun metode dalam belajar. Pemahaman konsep yang

baik didukung oleh model atau motode yang digunakan dalam proses belajar

mengajar. Proses belajar tersebut diharapkan adanya inovasi model pembelajaran

yang dapat membuat para siswa paham akan konsep materi yang telah diajarkan

sehingga motivasi dan hasil belajar siswa menjadi meningkat. Santrock (2018)

Adanya motivasi belajar siswa memiliki peran dalam menimbulkan

semangat dan hasil belajar siswa. Menurut Febrita (2019) salah satu cara untuk

menumbuhkan semangat ketertarikan atau minat dan meningkatkan motivasi

belajar pada siswa, yaitu dengan menggunakan media pembelajaran yang dapat

menumbuhkan minat para siswa. Guru harus bisa memilih mana media yang

digunakan untuk mata pelajaran tertentu dan harus disesuikan dengan tingkat

pendidikannya. Media sebagai penunjang dalam proses pembelajaran. Media yang

digunakan dapat mempengaruhi berhasil atau tidaknya kegiatan belajar. (Ragilia,

4
dkk, 2019)

Berdasarkan permasalahan yang dialami siswa karena metode

pembelajaran yang kurang efektif, masih menggunakan metode pembelajaran

yang berupa diskusi dan ceramah yang membosankan sehingga mempengaruhi

motivasi siswa dan kurangnya minat serta antusias pada siswa pada hasil belajar

siswa maka perlu dilakukan inovasi pemebelajaran melalui metode yang berbeda.

Setelah melakukan wawancara terhadap kendala yang dihadapi oleh beberapa

guru dan siswa di SMPN 1 Bringin maka dalam penelitian ini akan menerapkan

media pembelajaran yang berbeda. Media pembelajaran adalah media yang

digunakan untuk menyalurkan suatu pesan dari pengirim ke penerimanya

sehingga pesan tersebut dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat

siswa sehingga terjadi proses atau kegiatan belajar. Media memiliki pengaruh

penting dalam proses pembelajaran pesan agar efektif dan efisien, sehingga tujuan

pembelajaran dapat tercapai. Salah satu jenis media yang biasa digunakan dalam

pembelajaran adalah modul pembelajaran. Modul merupakan salah satu bahan

ajar untuk pembelajaran mandiri yang memungkinkan siswa belajar secara

sistematis tanpa bergantung pada orang lain. Salah satu jenis modul pembelajaran

yaitu e-modul berbasis flipbook.

E-modul yaitu seperangkat alat pembelajaran yang sudah dirancang secara

terstuktur dan khusus sehingga mudah digunakan dimana saja dan kapan saja

dengan bantuan jaringan internet serta mendukung tampilan audio-visual. E-

modul memiliki kelebihan seperti halnya dapat menumbuhkan motivasi bagi

siswa, bahan ajar yang disusun dapat disesuaikan berdasarkan tingkatan

5
akademik, lebih fleksibel dalam penggunaanya, terdapat fitur pendukung yaitu

audio-visual, serta animasi gerak. E-modul memiliki keunggulan yaitu para sisiwa

mampu belajar secara mandiri serta fleksibel dalam penggunaanya, serta memiliki

komponen di dalamnya yang dapat menarik minat siswa untuk belajar karena

memadukan berupa teks, musik, animasi video sehingga dapat memotivasi untuk

belajar dan mampu mempengaruhi hasil belajar siswa tersebut. (Nita, dkk, 2018)

E-modul berbasis flipbook dapat dibuat menggunakan aplikasi flipbook

maker. Aplikasi ini tidak hanya berupa teks, flipbook maker dapat menyisipkan

gambar, grafik, suara, link dan video pada lembar kerja. Dengan bentuk flilpbook

yang memanfaatkan efek transisi perpindahan halaman diharapkan dapat menarik

motivasi belajar siswa. Sehingga hasil belajar siswa lebih meningkat. E-modul

berbasis flipbook ini tersedia dalam bentuk software maka siswa dapat dengan

mudah mengaksesnya dimanapun mereka berada. Penelitian Seaemadi pada tahun

2016, menemukan bahwa penggunaan media pembelajaran dapat meningkatkan

hasil belajar siswa.

Berangkat dari fakta dan persoalan yang telah diuraikan di atas, penulis

tertarik untuk meneliti lebih lanjut dengan mengambil judul “PENGARUH E-

MODUL BERBASIS FLIPBOOK TERHADAP MOTIVASI DAN HASIL

BELAJAR SISWA PADA MATERI CAHAYA (STUDI DI SMPN 1

BRINGIN)

B. Batasan Masalah

1. Peneliti menggunakan e-modul berbasis flipbook dengan penelitian yang

dilakukan di SMPN 1 Bringin.

6
2. Motivasi dan hasil belajar siswa dilihat pada pengaruh dalam penggunan e-

modul berbasis flipbook.

3. Objek penelitian berupa pemahaman konsep, hukum, dan teori dilihat pada

ranah kognitif siswa dalam lingkup materi cahaya.

4. Penelitian dilakukan pada siswa kelas 8 di SMPN 1 Bringin.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan pemaparan pada latar belakang masalah di atas, penulis

merancang pokok permasalahan sebagai acuan dalam penelitian ini, yaitu:

Bagaimana pengaruh e-modul berbasis flipbook terhadap motivasi dan hasil

belajar siswa pada materi cahaya di SMPN 1 Bringin?

D. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini mendeskripsikan pengaruh penggunaan e-modul

berbasis flipbook terhadap motivasi dan hasil belajar siswa pada materi cahaya di

SMPN 1 Bringin.

E. Kegunaan Penelitian

Kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Kegunaan Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan dalam

pembelajaran IPA khususnya materi mengenai cahaya dan dapat digunakan

sebagai contoh bagi penelitian selanjutnya.

2. Kegunaan Praktis

a. Bagi guru, sebagai upaya memperbaiki kualitas dalam mengajar IPA dan

mendorong untuk kreatif menggunakan e-modul berbasis flipbook terhadap

7
motivasi dan hasil belajar siswa.

b. Bagi siswa, diharapkan dalam penggunaan e-modul berbasis flipbook mampu

memicu motivasi dan hasil belajar siswa.

c. Bagi peneliti, bisa menjadi pengalaman peneliti dalam pembelajaran di

sekolah serta dapat menerapkan ilmu yang peneliti dapatkan semasa

perkuliahan.

8
BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN

A. Kajian Pustaka

1. Pembelajaran IPA

a. Hakikat IPA

Ilmu Pengatahuan Alam merupakan makna alam dan berbagai

fenomenanya/perilaku/karakteristik yang dikemas menjadi sekumpulan teori

maupun konsep melalui serangkaian proses ilmiah yang dilakukan manusia.

Teori maupun konsep yang terorganisir ini menjadi sebuah ispirasi

tercapainya teknologi yang dapat dimanfaatkan bagi kehidupan manusia.

(Alit, 2019). Menurut Alit IPA adalah suatu pengetahuan teoritis yang

diperoleh/disusun dengan cara yang khas/khusus, yaitu melakukan observasi

eksperimen, penyimpulan, penyusunan teori, eksperimentasi, observasi dan

demikian seterusnya kait-mengait antara cara yang satu dengan yang lain.

Dimensi Sains menurut Sitiatav (2018)

1) Sains adalah pengetahuan yang mempelajari, menjelaskan, serta

menginvestigasi fenomena alam dengan segala aspek yang bersifat

empiris.

2) Sains sebagai proses atau metode dan produk, dengan menggunkan

metode ilmiah yang syarat keterampilan proses, mengamati, mengajukan

masalah, mengajukan hipotesis, mengumpulkan dan menganalisis, serta

mengevaluasi data dan menarik keimpulan terhadap fenomena alam,

maka akan diperoleh produk sains, misalnya fakta, konsep, prinsip, dan

9
generalisasi yang kebenrannya bersifat tentatif.

3) Sains bisa dianggap sebagai aplikasi, dengan penguasaan pengetahuan

dan produk, sains dapat dipergunakan untuk menjelaskan, mengolah dan

memanfaatkan, memprediksi fenomena alam, serta mengembangkan

disiplin ilmu lainnya dan teknologi.

4) Sains mampu dianggap sebagai sarana untuk mengembangkan sikap dan

nilai-nilai tertentu, misalnya nilai, religius, skeptisme, objektivitas,

keteraturan, sikap keterbukaan, nilai praktis dan ekonomis, erta nilai

etika atau estetika.

Menurut Agustiana (2018) dalam Suastra (2002) mengemukakan bahwa

hakikat IPA meliputi empat unsur utama yaitu sebagai berikut.

1) Sikap, yaitu rasa ingin tahu tentang benda, fenomena alam, makhluk hidup,

serta hubungan sebab akibat yang menimbulkan masalah baru yang dapat

dipecahkan melalui prosedur yang benar, IPA bersifat open ended.

2) Proses, yaitu prosedur pemecahan masalah melalui metode ilmiah; metode

ilmiah meliputi penyusunan hipotesis, perancangan eksperimen atau

percobaan, evaluasi, pengukuran, dan penarikan kesimpulan.

3) Produk, yaitu berupa fakta, prinsip, teori, dan hukum.

4) Aplikasi, yaitu penerapan metode ilmiah dan konsep IPA dalam kehidupan

sehari-hari.

Berdasarkan pengertian para ahli di atas, dapat dikatakan bahwa Imu

Pengetahuan Alam (IPA) pada hakikatnya merupakan kumpulan pengetahuan

meliputi sikap, proses, produk, aplikasi, dan diperoleh dari gejala alam yang

10
diperoleh melalui serangkaian proses sistematis (menggunakan metode ilmiah)

sehingga menghasilkan prosuk berupa konsep, teori, prinsip, hukum ang

dipergunakan untuk menghasilkan pengetahuan berupa teknologi yang dapat

bermanfaat bagi kehidupan manusia.

b. Pembelajaran IPA

Menurut Hamzah, pembelajaran adalah proses kegiatan belajar mengajar

yang melibatkan guru dan siswa dalam pencapaian tujuan/indikator yang telah

ditentukan (Hamzah, 2019). Menurut Eveline Siregar dan Hartini Nara (2017)

mengungkapkan bahwa pembelajaran memiliki ciri sebagai berikut :

1) Merupakan upaya sadar dan direncana;

2) Pembelajaran harus membuat siswa belajar;

3) Tujuan harus ditetapkan terlebih dahulu sebelum proses dilaksanakan;

4) Pelaksanaannya terkendali, baik isinya, waktu, proses, maupun hasilnya.

Menurut Agustina, metode keilmuwan merupakan dasar pemahaman

terhadap hakikat IPA dapat diperoleh dan diterapkan melalui pembelajaran IPA.

Hakikat IPA menyatakan bahwa terdapat keterampilan proses intelektual yang harus

dimiliki oleh setiap individu dalam pembelajaran IPA yaitu (1) membangun 16

prinsip melalui induksi; (2) menjelaskan dan meramalkan; (3) pengamatan dan

mencatat data; (4) identifikasi dan mengendalikan variabel; (5) membuat grafik

untuk menemukan hubungan; (6) perancangan dan melaksanakan penyelidikan

ilmiah; (7) menggunakan teknologi dan matematika selama penyelidikan; (8)

menggambarkan simpulan dari bukti-bukti (Agustiana, 2014). Menurut Wahyudi

(2002) dalam Agustiana(2014) mengungkapkan bahwa terkait dengan produk dan

11
proses IPA, pembelajaran IPA harus menghantarkan siswa menguasai konsep-

konsep IPA dan keterkaitannya untuk dapat memecahkan masalah dalam kehidupan

sehari-hari yang sesuai dengan sikap IPA.

Siswa diharapkan tidak hanya sekedar tahu (knowing) dan hafal

(memorizing) tentang konsp-konsep IPA, tetapi harus mengerti dan paham (to

understand) terhadap konsep-konsep tersebut dan menghubungkan keterkaitan suatu

konsep dengan konsep lain. I Gusti Ayu Tri Agustiana(2014) menambahkan bahwa

dalam proses pembelajaran IPA, keempat unsur (sikap, proses, produk, dan aplikasi)

diharapkan dapat muncul sehingga siswa dapat mengalami proses pembelajaran

secara utuh, memahami fenomena alam melalui kegiatan pemecahan masalah,

metode ilmiah, dan meniru cara ilmuan bekerja dalam menemukan fakta baru.

Menurut Kemendiknas (2011) pembelajaran IPA adalah suatu pendekatan yang

menghubungkan atau menyatupadukan berbagai bidang kajian IPA menjadi satu

kesatuan bahasan.

Sitiatava (2018) 17 berpendapat bahwa pembelajaran berbasis sains adalah

proses transfer ilmu dua arah antara guru (sebagai pemberi informasi) dan siswa

(sebagai penerima informasi) dengan metode tertentu (proses sains). Puskur (2010)

mengungkapkan bahwa yang dimaksud dengan pembelajaran IPA terpadu

merupakan pendekatan yang mencoba menggabungkan antara berbagai bidang

kajian IPA yaitu fisika, kimia, dan biologi sehingga dalam pelaksanaannya tidak

terpisah-pisah lagi melainkan menjadi satu kesatuan. IPA diberikan secara terpadu

di sekolah diharapkan menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari diri sendiri

dan alam sekitar secara utuh. Tercapainya tujuan pelajaran IPA secara utuh, tidak

12
cukup mengajarkan pengetahuan IPA saja, tetapi juga proses bagaimana IPA itu

diperoleh melalui berbagai aktivitas belajar. Pemahaman pelajaran IPA tidak

berhenti pada fakta, konsep, prinsip, hukum, dan teori yang diperoleh, tetapi juga

dibutuhkan pembentukan sikap ilmiah tertentu dan penguasaan ketrampilan tertentu.

Pembelajaran IPA merupakan interaksi yang terjadi antara siswa dengan guru

beserta sumber belajar yang menggabungkan berbagai bidang kajian IPA agar siswa

mempelajari diri sendiri dan alam sekitar secara utuh melalui metode ilmiah untuk

memecahkan masalah serta mengaplikasikanya dalam kehidupan sehari-hari.

2. Modul Ajar

a. Pengertian Modul

Modul merupakan bahan ajar yang disusun secara sistematis dengan bahasa

yang mudah dipahami oleh siswa, sesuai usia dan tingkat pengetahuan mereka agar

mereka dapat belajar secara mandiri dengan bimbingan minimal dari pendidik (Andi

Prastowo, 2012). Penggunaan modul dalam pembelajaran bertujuan agar siswa

dapat belajar mandiri tanpa atau dengan minimal dari guru. Di dalam pembelajaran,

guru hanya sebagai fasilitator.

Pandangan serupa juga dikemukakan oleh Sukiman (2011) yang menyatakan

bahwa modul adalah bagian kesatuan belajar yang terencana yang dirancang untuk

membantu siswa secara individual dalam mencapai tujuan belajarnya. Siswa yang

memiliki kecepatan tinggi dalam belajar akan lebih cepat menguasai materi.

Sementara itu, siswa yang memiliki kecepatan rendah dalam belajar bisa belajar lagi

dengan mengulangi bagian-bagian yang belum dipahami sampai paham. Menurut

Rudi, dkk (2008) modul merupakan suatu paket program yang disusun dan didesain

13
sedemikian rupa untuk kepentingan belajar siswa. Pendekatan dalam pembelajaran

modul menggunakan pengalaman siswa.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat hal-hal

penting dalam mendefinisikan modul yaitu bahan belajar mandiri, membantu siswa

menguasai tujuan belajarnya, dan paket program yang disusun dan didesain

sedemikian rupa untuk kepentingan belajar siswa. Jadi dapat disimpulkan bahwa

modul merupakan paket program yang disusun dan didesain sedemikian rupa

sebagai bahan belajar mandiri untuk membantu siswa menguasai tujuan belajarnya.

Oleh karena itu, siswa dapat belajar sesuai dengan kecepatannya masing-masing

b. Karateristik Modul

Modul yang dikembangkan harus memiliki karakteristik yang diperlukan

sebagai modul agar mampu menghasilkan modul yang mampu meningkatkan

motivasi penggunannya. Menurut Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah

Kejuruan (2008), modul yang akan dikembangkan harus memperhatikan lima

karaktersistik sebuah modul yaitu self instruction, self contained, stand alone,

adaptif, dan userfriendly.

1) Self Instruction, siswa dimungkinkan belajar secara mandiri dan tidak

tergantung pada pihak lain. Self Intruction dapat terpenuhi jika modul tersebut:

memuat tujuan pembelajaran yang jelas; materi pembelajaran dikemas dalam

unit-unit kegiatan yang kecil/spesifik; ketersediaan contoh dan ilustrasi yang

mendukung kejelasan pemaparan materi pembelajaran; terdapat soal-soal

latihan, tugas dan sejenisnya; kontekstual; bahasanya sederhana dan

komunikatif; adanya rangkuman materi pembelajaran; adanya instrumen

14
penilaian mandiri (self 8 assessment); adanya umpan balik atas penilaian siswa;

dan adanya informasi tentang rujukan.

2) Self Contained , seluruh materi pembelajaran yang dibutuhkan termuat dalam

modul tersebut. Karakteristik ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk

mempelajari materi pembelajran secara tuntas.

3) Stand Alone, modul yang dikembangkan tidak tergantung pada bahan ajar lain

atau tidak harus digunakan bersama-sama dengan bahan ajar lain. Siswa tidak

perlu bahan ajar lain untuk mempelajari atau mengerjakan tugas pada modul

tersebut.

4) Adaptif, modul tersebut dapat menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan

dan teknologi, fleksibel/luwes digunakan diberbagai perangkat keras

(hardware). Modul yang adaptif adalah jika modul tersebut dapat digunakan

sampai kurun waktu tertentu.

5) User Friendly (bersahabat/akrab), modul memiliki instruksi dan paparan

informasi bersifat sederhana, mudah dimengerti, serta menggunakan istilah

yang umum digunakan. Penggunaan bahasa sederhana dan penggunaaan istilah

yang umum digunakan merupakan salah satu bentuk user friendly.

c. Sistematika Modul

Ada delapan komponen utama menurut Sungkono (2003) yang perlu

terdapat dalam modul yaitu tinjauan mata pelajaran, pendahuluan, kegiatan belajar,

latihan, rambu-rambu jawaban latihan, rangkuman, tes formatif, dan kunci jawaban

tes formatif.

1) Tinjauan Mata Pelajaran Tinjauan mata pelajaran berupa paparan umum

15
mengenai keseluruhan pokok-pokok isi mata pelajaran yang mencakup

deskripsi mata pelajaran, kegunaaan mata pelajaran, kompetensi dasar, bahan

pendukung lainnya (kaset, kit, dll), petunjuk belajar.

2) Pendahuluan Pendahuluan dalam modul merupakan pembukaan pembelajaran

suatu modul yang berisi:

a. Deskripsi singkat isi modul

b. Indikator yang ingin dicapail

c. Memuat pengetahuan dan keterampilan yang sebelumnya sudah diperoleh.

d. Relevansi, yang terdiri atas:

1) Urutan kegiatan belajar logis

2) Petunjuk belajar

3) Kegiatan Belajar Kegiatan belajar memuat materi yang harus dikuasai

siswa. Bagian ini terbagi menjadi beberapa sub bagian yang disebut

kegiatan belajar. Di dalam kegiatan belajar tersebut berisi uraian, contoh,

latihan, ramburambu jawaban latihan, rangkuman, tes formatif, kunci

jawaban tes formatif dan tindak lanjut Direktorat tenaga kependidikan

(2008) menjelaskan struktur penulisan suatu modul sering dibagi menjadi

tiga bagian yaitu bagian pembuka, bagian isi, dan bagian penutup.

3. E-modul

E-modul merupakan seperangkat media pengajaran elektornik atau

digital non cetak yang digunakan untuk keperluan belajar mandiri dan tersusun

secara sistemtis (Fausih, 2015). E-modul merupakan alat atau sarana

pembelajaran yang berisi materi, metode, batasan-batasan dan cara

16
mengevaluasi yang dirancang secara sistematis dan menarik untuk mencapai

kompetensi yang diharapkan sesuai dengan tingkat kompleksitasnya secara

elektronik.

Kemudahan mengakses e-modul sangat membantu siswa dalam

memperoleh sumber belajar (Sitorus, 2019). Cukup dengan menggunakan

gawai seperti telepon genggam, android, e-modul dapat diakses dengan

mudah. E-modul dapat juga diakses secara offline terutama untuk daerah

dengan kendala sinyal maupun siswa yang terhambat ketersediaan kuota

internet. Isi e-modul selain berupa teks gambar dapat juga disertakan rekaman

suara, video dan tautan sumber belajar.

Desain materi pembelajarn di e-modul setidaknya harus

memperhatikan lima hal yaitu inforasi verbal, kemampuan intelektual, strategi

kognitif, sikap dan keterampilan motorik (Fadli, 2020). Apabila ingin

memperjelas isi materi dari e-modul tersebut dapat disisipkan rekaman suara

maupun video pembelajaran, baik yang dibuat sendiri maupun video

pembelajaran, baik yang dibuat sendiri ataupun yang sudah tersedia. Dengan

demikian, belajar siswa dapat lebih teratah dan memiliki sumber belajar yang

sangat mendukung.

4. Flipbook

Media pembelajaran, menurut Hamalik (2011) dalam proses belajar

mengajar dapat membangkitkan motivasi dan hasil belajar siswa serta

membawa pengaruh psikologi terhadap siswa. Salah satu media pembelajaran

yang dapat digunakan dalam pembelajaran IPA di kelas salah satunya adalah

17
media flipbook. Flipbook menurut Nurseto (2011)merupakan lembaran-

lembaran kertas menyerupai album atau kalender berukuran 21 x 28 cm.

Flipbook merupakan lembaran-lembaran kertas menyerupai album atau

kalender berukuran 11 x 13 m. Media ini bisa digunakan perindividu atau

kelompok, tetapi hanya sampai 4-5 orang.

Sarana pendukung kegiatan pembelajaran online, flipbook merupakan

sejenis buku elektronik yang dapat digunakan sebagai salah satu sumber

belajar dalam kegiatan online yang dibuat dari aplikasi flipbook maker.

Keunggulan dari aplikasi ini yaitu dapat memberi efek flip, maksudnya dapat

dibolak-balik sehingga seperti membaca buku sesungguhnya, aplikasi ini

mudah digunakan, tidak hanya berupa tulisan saja tetapi dapat juga disertai

gambar, suara maupun vdeo, produk yang dapat dihasilkan dapat

dipublikasikan pada website berbentuk SWF atau Flash, dan HTML.

Secara umum menurut Anwar (2014), proses produksi media flipbook

terdiri dari tiga tahap, yaitu pra produksi, produksi dan pasca produksi.

Adapun rinciannya adalah sebagai berikut:

a. Tahap pra produsi meliputi kegiatan perencanaan dalam tahap persiapan

pembuatan flipbook. Adapun tahapannya adalah sebagai berikut:

1) Menelaah tujuan pembelajaran. Hal ini menjadi acuan dari penyusunan isi dari

flipbook tersebut.

2) Menyusun jabaran materi untuk dijadikan sebagai isi dari flipbook

3) Materi yang telah dijabarkan, disusun menjadi rangkuman yang mewakili dari

indikator pembelajaan dari materi tersebut.

18
4) Mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan untuk pembuatan fisik

flipbook, seperti kertas (boleh menggunakan berbagai jenis kertas) serta bahan

lainnya untuk hiasan flipbook, gunting dan lain-lain.

b. Tahap produksi meliputi kegiatan langkah-langkah pembuatan flipbook.

Adapaun riciannya adalah:

1) Pembuatan flipbook bisa manual atau dibuat secara hand made, atau bisa

dengan bantuan aplikasi komputer, misalnya aplikasi Ms. Powerpoint,

Photoshop dan lain-lain.

2) Mengatur ukuran kertas yang akan dijadikan flipbook. Adapun ukuran yang

dipakai biasanya berkisar 10cm x 13 cm, seperti ukuran kalender kecil.

3) Menentukan desain flipbook sesuai keinginan.

4) Memasukkan materi-materi yang telah dirangkum pada tahap pra produksi.

5) Membubuhkan hiasan-hiasan maupun gambar sesuai kebutuhan.

c. Tahap pasca produksi adalah tahap akhir dari pembuatan media. Tahap ini

merupakan sentuhan akhir sebelum dimanfaatkan. Adapun tahap pasca

produksi antara lain meliputi:

1) Editing, hal ini dilkaukan untuk mengecek kembali isi maupun desain

flipbook.

2) Revisi kekurangan yang ada dalam isi maupun desain flipbook sehingga sesuai

dengan perencanaan yang telah dibuat.

3) Flipbook sudah bisa untuk digunakan sebagai media pembelajaran. Flipbook

ini busa digunakan secara indivisu maupun kelompok.

Metode pembelajaran dengan menggunakan e-model berbasis flipbook

19
diharuskan mampu meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Hal ini

disesuaikan dengan kurikulum 2013 yang diharapkan mampu memberikan

perubahan yang terjadi dari dunia pendidikan. Metode pembelajaran

menggunakan e-modul berbasis flipbook bersifat efektif, efisien dan menarik

untuk generasi sekarang karena sifatnya bukan hanya berupa teks, melainkan

terdapat gambar, audio, video. Sehingga hal tersebut seharusnya mampu

meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa khususnya di SMPN 1 Bringin.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Edi W. & Dona D.P. (2018),

menunjukkan bahwa e-modul dengan menggunakan flipbook maker dianggap

layak untuk digunakan dalam pembelajaran. Kemudian penelitian lain yang

dilakukan oleh Silvia O. & Sunaryo s. (2020) menunjukkan bahwa e-modul

berbasis flipbook sanngat layak dan efektif digunakan untuk meningkakan

motivasi belajar siswa. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Riris N.,

Susilo, dan Lisdiana (2014) menunjukkan bahwa modul yang yang

dikembngkan dinyatakan layak, efektif dan praktis digunkanan dalam

pembelajaran IPA di sekolah.

5. Motivasi Siswa

Istilah motivasi menurut Isbandi Rukminto Adi (1994) yaitu berasal

dari kata motif yang dapat diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri

infvidu, yang menyebabkan individu tersebut bertindak atau berbuat. Motif

tidak dapat diamati secara langsung, tetpi dapat diinprestasikan dalam tingkah

lakunya, berupa rangsangan, dorongan, atai pembangkit tenaga munculnya

suatu tingkah laku tertentu. Motivasi adalah perubahan energi dalah diri

20
pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk

mencapai tujuan. Motivasi merupakan sebuah usaha yang harus disadari

seseorang dan menggerakannya serta mengarahkan untuk melakukan sesuatu

hal agar terdorong untuk mencapai hasil atau tujuan tertentu. Motivasi

merupakan keinginan, kemauan, kehendak, dan daya yang mendorong

seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan tertentu (Warti, 2016).

Menurut Purwa Atmaja Prawira, 2017 motivasi belajar siswa adalah

keseluruhan daya penggerak yang terdapat dalam diri siswa yang

mendorong,memantapkan,dan mengarahkan untuk melakukan aktifitas pada

kegiatan belajar siswa sebagai hasil pengalamannya sendiri guna mencapai

suatu tujuan dan memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru. Setiap

diri siswa memiliki daya pergerakan atau motivasi yang harus selalu di

kembangkan oleh guru untuk memantapkan dan mengarahkan siswa untuk

melakukan aktivitas dalam proses pembelajaran guna mencapai tujuan

pembelajaran dan adanya perubahan tingkah laku pesrta didik kearah yang

lebih baik. Jadi, motivasi belajar siswa harus selalu ditingkatkan oleh guru

Ilmu Pengetahuan Alam, karena motivasi belajar yang dimiliki setiap siswa

berbeda-beda. Penelitian Hamzah, 2017 menegaskan bahwa motivasi belajar

adalah dorongan internal dan ekternal pada siswa yang sedang belajar

sehingga mengadakan perubahan tingkah laku dengan indicator sebagai

berikut:

a. Adanya hasrat dan keinginan untuk sukses dan berhasil.

b. Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar.

21
c. Adanya harapan dan cita-cita masa depan.

d. Adanya penghargaan dalam kelompok.

e. Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar.

f. Adanya lingkungan yang kondusif, sehingga siswa dapat belajar dengan

baik.

Motivasi merupakan suatu proses yang bertujuan untuk memenuhi

kebutuhan tertentu dengan cara menggiatkan motif menjadi perbuatan atau

tingkah laku. Dalam kegiatan pembelajaran, motivasi dapat diartikan sebagai

penggerak pada diri siswa untuk melaksanakan proses atau kegiatan belajar

untuk mencapai tujuan yag telah ditetapkan. Oleh karena itu, sebagai sarana

untuk meningkatkan motivasi siswa maka diperlukan media dan bahan ajar

yang baik yang mendukung kegiatan pembelajaran daring seperti e-modul.

(Palupi, 2014)

Pada penelitian ini, motivas yang digunakan berupa motivasi belajar

pada materi cahaya yang menggunakan metode pembelajaran e-modul

berbasis flipbook. Motivasi belajar merupakan suatu hal berupa dorongan dan

hasrat yang mengarahkan siswa untuk meningkatkan suatu pemahaman

konsep dan teori yang lebih baik sehingga bisa mencapai tujuan pembelajaran

tersebut. Motivasi belajar siswa dapat dilihat dari motivasu belajar yang tingi,

motivasi belajar rendah dan motivasi belajar tinggi. Siswa yang memiliki

motivasi belajar rendah berarti adanya ada permasalahan. Salah satu

permasalahan yang terjadi karena metode pembelajaran yang membosankan

sehingga minat dan motivasi belajar siswa menjadi rendah, dan juga

22
sebaliknya apabila siswa memiliki motivasi belajar tinggi intensitas dan upaya

dalam belajar semakin meningkat dan mampu mempengaruhi hasil belajar

siswa.

Fungsi motivasi yang berkenaan dengan proses pembelajaran, antara

lain sebagai berikut:

1. Mendorong siswa untuk berbuat, artinya motivasi bisa dijadikan sebagai

penggerak. Motivasi dalam hal ini merupakan penggerak dari setiap

kegiatan yang akan dikerjakan.

2. Menentukan arah perbuatan ke arah tujuan yang hendak dicapai, dengan

demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus

dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuan.

3. Menyeleksi perbuatan, yaitu menentukan perbuatan-perbuatan apa yang

harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan dengan menyisikan

perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.

6. Hasil Belajar Siswa

Hasil belajar yaitu perubahan-perubahan yang terjadi pada siswa, baik

yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik sebagai hasil dari

kegiatan belajar. Pengertian tentang hasil belajar sebagaimana di uraikan

diatas di pertegas lagi oleh Nawawi, 2017 yang menyatakan bahwa hasil

belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari

materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam skor yang di peroleh dari

hasil tes mengenal sejumlah materi pelajarn tertentu.

Secara sederhana, yang dimaksud dengan hasil belajar siswa adalah

23
kemamapuan yang diperolah anak setelah melalui kegiatan belajar, karena

belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk

memperolah suatu bentuk perubahan perilaku yang relati menetap. Dalam

kegiatan pembelajaran atau kegiatan intruksional, biasanya guru menetapkan

tujuan pembelajaran. Anak yang berhasil dalam belajar adalah yang berhasil

mencapai tujua-tujuan pembelajaran atau tujuan intruksional.

Hasil belajar siswa tersebut menjadikan siswa paham akan materi yang

telah dipelajari dalam proses belajar mengajar yang telah dijalani. Pemahaman

dari hasil belajar tersebut mampu meningkatkan hafalan dan ingatan siswa.

Wahidmurni (2010) menjelaskan bahwa seorang dapat dikatakan telah

berhasil dalam belajar jika siswa mampu menunjukkan adanya perubahan

dalam dirinya. Perubahan-perubahan tersebut diantaranya dari segi

kemampuan berpikirnya, keterampilannya, atau sikapnya terhadap suatu

objek.

Cara mengetahui apakah hasil belajar yang di capai telah sesuai dengan

tujuan yang dikehendaki dapat diketahui melalui evaluasi. Sebagaimana

dikemukakan oleh Sunal, bahwa evaluasi merupakan proses penggunaan

informasi untuk membuat pertimbangan seberapa efektif suatu program telah

memenuhi kebutuhan siswa. Selain itu, dengan dilakukannya evaluasi atau

penilaian ini dapt dijadikan feedback atau tindak lanjut, atau bahkan cara

untuk mengukur tungkat penguasaan siswa. Kemajuan prestasi belajar siswa

tidak saja diukur dari tingkat penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga sikap

dan keterampilan. Penilaian hasil belajar siswa mencakup segala hal yang

24
dipelajari disekolah, baik itu pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang

berkaitan dengan mata pelajaran yang diberikan siswa

Adanya e-modul berbasis flipbook terhadap motivasi dan hasil belajar

siswa pada materi cahaya harus mampu memberikan perubahan atas motivasi

dan hasil belajar siswa. Penilaian hasil belajar mengisyaratkan hasil belajar

sebagai program atau objek penilaian pada hakikatnya menilai penguasaan

siswa terhadap tujuan-tujuan intruksional. Hal ini menggambarkan

kemampuan siswa setelah menerima pembelajaran atau menyelesaikan

pengalaman belajarnya. Berdasarkan pernyatataan diatas, diketahui bahwa

hasil belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi kepada siswa meliputi

kognitif, afektif dan psikomotor yang dimiliki oleh siswa. Karena pada

hakikatnya hasil dari seorang siswa yang belajar adalah perubahan, baik

perubahan itu menuju arah peningkatan, pengembangan, ataupun penurunan.

B. Kerangka Berpikir

Langkah yang dilakukan peneliti adalah membentuk dua kelas yaitu

kelas eksperimen yang diajar dengan menggunakan metode pembelajaran e-

modul berbasis flipbook dan kelas kontrol yang diajar dengan menggunakan

metode pembelajaran Direct Instruction (DI). Adapun kerangka pikir dari

penelitian ini dijelaskan pada alur melalui gambar berikut:

25
Landasan Ideal Fakta Lapangan
1. Pembelajaran pada mata pelajaran IPA 1. Pembelajaran masih berpusat pada
sehrusnya berpusat pada pendekatan yang guru.
lebih scientific dan berpusat pada siswa. 2. Model yang digunakan masih
2. Model pembelajaran dalah salah satu cara konvensional.
yang dapa diterapkan guru untuk mencapai 3. Motivasi belajar siswa yang masih
tujuan pembelajaran. belum aktif sehingga memengaruhi
3. Motivasi belajar siswa adalah keseluruhan aktivitas belajar siswa belum terlihat
daya penggerak yang terdapat dalam diri keterampilan yang maksimal.
siswa yang mendorong, memantapkan dan 4. Hasil belajar siswa pada materi cahaya
mengarahkan untuk melakukan aktivitas masih rendah.
belajar.
4. Hasil belajar siswa digunakan untuk
menentukan kompetensi atau kemampuan
tertentu untuk yang dicapai oleh siswa dalam
Harapan
mengikuti pembelajaran.
1. Adanya Penerapan
pengaruh e-modul
e-modul berbasis flipbook
berbasis padaterhadap
flipbook materi cahaya.
motivasi dan hasil
belajar siswa.
2. Motivasi dan hasil belajar siswa dapat meningkat.
Solusi

Penerapan e-modul berbasis flipbook yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi


dan hasil belajar siswa pada materi IPA.

26
B. Hipotesis Penelitian

Hipoteses penelitian adalah proposisi atau pernyataan yang dikemukakan

dalam sebuah penelitian untuk menguji atau menyelidiki hubungan antara variael

atau fenomena yang sedang diteliti. Hipotesis penelitian berfungsi sebagai

dugaan atau asumsi awal yang harus diuji melalui pengumpulan dan analisis data

dalam rangka mencapai pemahaman yang lebih baik tentang subjek penelitian.

Ada dua jenis hipotesis penelitian yang umum, yaitu:

a. Hipotesis Nol (Hᴏ) : Pernyataan yang mengasumsikan bahwa tidak ada

hubungan atau perbedaan yang signifikan antara variabel-variael yang diuji

dalam penelitian.

b. Alternatif Hipotesis (H1 atau Ha) : Pernyataan yang mengansumsikan bahwa

ada hubungan atau perbedaan yang signifikan antara variabel-variabel yang

diuji dalam penelitian. Dari permasalahan yang ada pada penelitian ini, maka

penulis dapat memberikan hipotesis sebagai berikut:

Hᴏ: Tidak ada pengaruh dalam penggunaan media pembelajar e-modul

berbasis flipbook untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa

pada materi cahaya di kelas VIII SMPN 1 Bringin.

H1: Adanya pengaruh dalam penggunaan media pembelajar e-modul berbasis

flipbook untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada materi

cahaya di kelas VIII SMPN 1 Bringin.

27
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat penelitian ini dilakukan pada siswa kelas VIII SMPN 1 Bringin

yang beralamat di Jalan Krompol, Kecamatan Bringin, Kabupaten Ngawi.

Waktu penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran

2023/2024. Berikut tabel waktu penelitian:

MARET
Kegiatan 1 2 3 4
8C 8D 8C 8D 8C 8D 8C 8D
Data Awal √ √
Pretest √ √
Mengisi materi cahaya
√ √ √ √
berbasis flipbook
Postest √ √
Data Akhir √ √
Alasan peneliti memilih penelitian di SMP Negeri 1 Bringin sebagai

tempat penelitian karena permasalahan yang akan diteliti dapat ditemukan di

lokasi tersebut. Selain itu, lokasi penelitian ini juga mudah dijangkau oleh

peneliti.

B. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif berdasarkan

informasi statistika. Pendeketan penelitian yang menjawab permasalahan

penelitian memerlukan pengukuran yang cermat terhadap variabel-variabel dari

objek yang diteliti untuk menghasilkan kesimpulan yang daat digeneralisasikan

terlepas dari konteks waktu, tempat dan situasi.

28
Menurut Sugiyono (2016) metode penelitian kuantitatif dapat diartikan

sebagai metode penelitian berlandasrkan pada filsafat positivisme, digunakan

untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel

umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instruen

penelitian, analisis data bersifat kuantitatif atau statistik dengan tujuan untuk

menguji hipotesis yang telah ditetapkan.

Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa

pendekatan kuantitatif merupakan suatu pendekatan di dalam penelitian untuk

menguji hipotesis dengan menggunkan uji statistik yang akurat. Berdasarkan

latar belakang dan rumusan masalah yang disebutkan, penelitian ini

menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mengukur pengaruh e-modul

berbasis flipbook terhadap motivasi dan hasil belajar siswa

Desain penelitian ini yang digunakan adalah pretest-posttest group

design. Desain penelitian pretest-posttest group design ini terdapat dua

kelompok yang dipilih dengan sampling jenuh, kemudian diberi Prestest untuk

mengetauhi keadaan awal adakah perbedaan antara kelompok eksperimen dan

kelompok kontrol (Sugiyono, 2011). Hasil pretest yang baik bila nilai

kelompok eksperimen tidak berbeda secara signifikan. Posttest dilakukan untuk

mengetahui pemahaman konsep yang digunakan dalam penelitian antara

kelompok eksperimen dan kelompok. Desain penelitian tersebut disajikan

dalam tabel:

29
Tabel 3.1

Pretest-Posttest Group Design

Kelas Pretest Perlakuan Posttest

Eksperimen X1 P1 Y1

Kontrol X2 P2 Y2

Keterangan:

XI : Pretest di kelas eksperimen

Y2 : Posttest di kelas kontrol

X2 : Pretest di kelas kontrol

Y1 : Posttest di kelas eksperimen

P1: Perlakuan di kelas eksperimen menggunakan model pembelajaran e-

modul berbasis flipbook.

P2 : Perlakuan di kelas kontrol menggunkan model pembelajaran direct

instructio.

C. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel

1. Populasi

Menurut Sugiyono (2016) populasi adalah wilayah generalisasi

yang terdiri atas objek/subjek, yang mempunyai kualitas dan

karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti unutuk mempelajari

dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi juga bukan sekadar

jumlah yang ada pada objek atau subjek yang dipelajari, tetapi meliputi

karakteristik yang dimiliki oleh objek atau objek itu. Populasi yang

akan diteliti dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII di SMPN 1

30
Bringin, Ngawi sebanyak 60 siswa. Adapaun jumlah siswa kelas VIII

SMPN 1 Bringin sebagai berikut:

No Kelas Jumlah Siswa


1. VIII C 30
2. VIII D 30
Jumlah 60

2. Sampel

Menurut Sugiyono (2016) sampel adalah bagian dari jumlah dan

karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar,

dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi,

misalnya karena keterbatasan dana, tenaga, waktu maka peneliti dapat

menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Sampel dalam

penelitian ini adalah siswa kelas VIII C dan kelas VIII D di SMPN 1

Bringin, Ngawi.

3. Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan teknik

non probability sampling dengan metode pengambilam sampel yang

dilakukan adalah metode puposive sampling. Menurut Sugiyono (2016)

purposive sampling adalah teknik penentuan sampel dengan

pertimbangan tertentu. Pertimbangan sampel yang ditetapkan ialah

siswa kelas VIII C di SMPN 1 Bringin, Ngawi yang telah melakukan

pembelajaran menggunakan metode pembelajar e-modul berbasis

flipbook dan untuk kelas VIII D di SMPN 1 Bringin, Ngawi yang masih

menggunakan metode pembelajaran secara DI (Direct Instruction).

31
Pertimbangan tersebut diambil karena responden memiliki pengalaman

menggunakan metode pembelajaran tersebut, sehingga memudahkan

peneliti untuk mendapatkan data primer yang akurat.

D. Teknik Pengumpulan Data

Menurut Margono (2010) menyatakan bahwa teknik pengumpulan

data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian. Penggunaan

teknik dan alat pengumpul data yang tepat memungkinkan diperolehnya

data yang objektif. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik

pengumpulan data sebagai berikut:

1. Observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematik

terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian, (Joko Subagyo,

2015). Observasi digunakan untuk mengetahui aktivitas siswa

selama proses belajar mengajar berlangsung. Observasi yang

digunakan dalam penelitian ini adalah observasi partisipan yaitu

peneliti terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Hasil observasi

didapat dari penelitian pada proses pembelajaran berlangsung serta

tujuan pembelajaran untuk mendapatkan informasi pada obyek

penelitian.

2. Tes merupakan instrumen pengumpul data adalah serangkaian

pertanyaan atau latihan yang digunakan untuk mengukur

keterampilan, pengetahuan, inteligensi, kemampuan, atau bakat

yang dimiliki oleh individu atau kelompok.

32
Dari 35 soal tersebut, telah terdapat kisi-kisi tes kompetensi berpikir yang telah disiapkan sebelum membuat

sebuah soal. Berikut kisi-kisi kompetensi berpikir kritis siswa:

Nomor
Sub Pokok
No Kompetensi Dasar Indikator Butir Jumlah
Bahasan
Soal

1. Menyelidiki sifat-sifat Pemantulan cahaya Disajikan sebuah argumentasi 1

cahaya dan hubungannya tentang bayangan yang dibentuk

dengan berbagai bentuk oleh cermin datar, siswa diminta

cermin dan lensa dapat menentukan sebuah

pilihan yang tepat.

Disajikan sebuah pernyataani 2

tentang cahaya, siswa diminta

dapat menentukan sebuah

33
pilihan yang tepat.

Disajikan sebuah argumentasi 3

tentang salah satu bukti cahaya

merambat lurus, siswa diminta

dapat menentukan sebuah

pilihan yang tepat.

Disajikan sebuah argumentasi 4

tentang sumber cahaya, siswa

diminta untuk menentukan

cahaya yang dipantulkan.

Disajikan sebuah deskripsi 5

Seberkas sinar yang datang

menyebar jika jatuh pada

permukaan cermin datar, siswa

34
diminta dapat menentukan

pilihan yang tepat.

Disajikan sebuah argumentasi

tentang titik bayangan maya, 6

siswa diminta dapat menentukan

titik potong yang tepat.

Disajikan sebuah argumentasi

tentang Sebuah benda terletak 7

di luar P dan O cermin cekung,

siswa diminta menentukan

bayangan yang terbentuk cermin

itu.

Disajikan sebuah argumentasi

tentang jalannya sinar istimewa 8

35
pada cermin cembung, siswa

diminta menentukan titik fokus

yang akan dipantulkan.

Disajikan sebuah argumentasi

tentang cermin cekung dengan 9

jari-jari 40cm diletakkan sebuah

benda pada jarak 10cm dari

cermin, siswa diminta dapat

menentukan bayangan yang

terbentuk bersifat apa.

Disajikan sebuah argumentasi

tentang seberkas cahaya datang 10

menuju pusat optik lensa

cembung, siswa diminta

36
menentukan sebuah pilihan

yang tepat.

Disajikan sebuah argumentasi

tentang peristiwa pembiasaan

cahaya dapat terjadi, siswa 11

diminta menentukan cahaya bisa

merambat terjadi karena apa.

Disajikan sebuah argumentasi

tentang sebekas sinar datang

dari udara ke air, siswa diminta 12

dapat menentukan jalannya

sinar dalam air yang benar.

Disajikan sebuah deskripsi

sudut bias, siswa diminta

37
menentukan pilihan yang tepat.

Disajikan sebuah argumentasi 13

bayangan yang akan dibentuk

oleh lensa cekung, siswa

diminta untuk menentukan 14

sifatnya.

Disajikan sebuah argumentasi

tentang dasar kolam yang berair

jernih selalu tampak lebih

dangkal, siswa diminta untuk 15

menentukan penyebabnya.

Disajikan sebuah argumentasi

tentang bayangan yang dibentuk

oleh lensa cekung, siswa

38
diminta untuk menentukan

pilihan yang tepat. 16

Disajikan sebuah argumentasi

tentang peristiwa dispersi

cahaya, warna merah, siswa

diminta untuk menentukan

pilihan yang tepat. 17

Disajikan sebuah argumentasi

tentang pelangi yang dapat

dilihat, siswa diminta untuk

menentukan pilihan yang tepat.

Disajikan sebuah pernyataan 18

pada prisma yang salah satu

bidang batasnya jatuh sinar

39
datang dan membuat sudut

jatuh/datang tertentu, siswa

diminta untuk menentukan 19

sebuah pilihan yang tepat.

Disajikan sebuah argumentasi

tentang cermin cekung, siswa

diminta untuk menentukan

sebuah pilihan yang tepat.

Disajikan sebuah pernyataan

tentang sinar istimewa yang 20

terjadi pada cermin cembung,

siswa diminta untuk

menentukan sebuah pilihan

yang tepat. 21

40
Disajikan sebuah masalah dasar

sungai yang airnya jernih

tampak dangkal dari yang

sesungguhnya. siswa diminta

untuk menentukan penyebabnya

yang tepat. 22

Disajikan sebuah deskripsi

tentang syarat terjadinya

pemantulan sempurna berkas

cahaya, siswa diminta untuk

menentukan sebuah pilihan

yang tepat. 23

Disajikan sebuah deskripsi sifat

bayangan yang dibentuk oleh

41
benda yang terletak di depan

cermin cembung, siswa diminta

untuk menentukan sebuah

pilihan yang tepat.

Disajikan sebuah deskripsi 24

tentang bukti bahwa cahaya

merambat secara lurus, siswa

diminta untuk menentukan

sebuah pilihan yang tepat.

Disajikan sebuah deskripsi

tentang sifat-sifat bayangan 25

yang dibentuk cermin datar,

siswa diminta untuk

menentukan sebuah pilihan

42
yang tepat.

Disajikan sebuah deskripsi

tentang bagian mata yang 26

menerima bayangan yang

dibentuk oleh lensa, siswa

diminta untuk menentukan

sebuah pilihan yang tepat.

Disajikan sebuah deskripsi

dengan menggunakan lup dan 27

pengamatan dilakukan dengan

mata tak berakomodasi, sifat

bayangan yang terbentuk, siswa

diminta untuk menentukan

sebuah pilihan yang tepat.

43
Disajikan sebuah deskripsi

tentang sifat bayangan akhir 28

yang dibentuk oleh mikroskop,

siswa diminta untuk

menentukan sebuah pilihan

yang tepat.

Disajikan sebuah argumentasi

tentang diafragma, siswa

diminta untuk menentukan 29

fungsi dari diafragma tersebut.

Disajikan sebuah deskripsi

tentang bagian mata yang paling

peka terhadap cahaya dan

bayangan yang diihat mata,

44
siswa diminta untuk

menentukan sebuah pilihan 30

yang tepat.

Disajikan sebuah pernyataan

tentang bayangan cahaya, siswa

diminta untuk menentukan 31

bayangan tersebut.

Disajikan sebuah deskripsi

tentang sifat sifat cahaya

polikromatis, siswa diminta

untuk menentukan sifat cahaya

tersebut.

Disajikan sebuah masalah 32

tentang sebuah benda diletakkan

45
pada jarak 90cm di depan

sebuah cermin cekung dengan

jarak titik api 6cm sehingga

terbentuk bayangan, siswa 33

diminta untuk menentukan sifat

bayangan tersebut.

Disajikan sebuah deskripsi

tentang punctum remotum mata

dewasa normal terletak pada 34

jarak berapa, siswa diminta

untuk menentukan jarak

punctum remotum pada mata

tersebut.

46
35

47
Tes yang akan digunakan adalah tes berupa soal uraian berjumlah 30

butir soal:

1. 2. Bayangan yang dibentuk oleh c. (2) dan (4)


cermin datar selalu bersifat... d. (3) dan (4)
a. Nyata,tegak, dan sama 4. Salah satu bukti cahaya
besar merambat lurus adalah.....
b. Maya, tegak, dan sama a. Terjadinya gerhana
besar matahari dan bulan
c. Nyata, terbalik, dan b. Terbentuknya bayangan
diperbesar maya
d. Maya, terbalik, dan c. Terjadinya perbesaran
diperkecil bayangan
3. Perhatikan beberapa d. Terjadinya pelangi pada
pernyataan berikut: siang hari
I. Cahaya akan membias 5. Benda berikut yang
jika laju rambatanya sebeneranya bukan sumber
berubah cahaya, namun hanya
II. Dispersi akan memantulkan cahaya
menghasilkan warna adalah.....
beda a. Bintang
III. Spion mobil berfungsi b. Matahari
sebagai reflektor c. Planet venus
IV. Cermin cekung dapat d. Kunang-kunang
membiaskan cahaya
Pernyataan yang benar 6. Seberkas sinar yang datang
ditunjukkan oleh nomor.... menyebar jika jatuh pada
a. (1) dan (2) permukaan cermin datar
b. (1) dan (3) akan......

a. Dipantulkan sejajar c. Dipantulkan kembali


b. Dipantulkan menyebar d. Dipantulkan melalui titik
c. Dipantulkan mengumpul pusat cermin
d. Dibiaskan mengumpul 10. Di depan cermin cekung
7. Titik bayangan maya adalah dengan jari-jari 40cm
titik potong.... diletakkan sebuah benda
a. Sinar-sinar datang yang pada jarak 10cm dari cermin.
divergen Bayangan yang terbentuk
b. Sinar-sinar datang yang bersifat.....
konvergen a. Maya, tegak, dan
c. Perpanjangan sinar-sinar diperbesar
pantul yang divergen b. Maya, terbalik, dan

48
d. Perpanjangan sinar-sinar diperkecil
pantul yang konvergen c. Nyata, tegak, dan
8. Sebuah benda terletak di luar diperbesar
P dan O cermin cekung. d. Nyata, terbalik, dan sama
Bayangan yang terbentuk besar
cermin itu besifat....... 11. Seberkas cahaya datang
a. Nyata, terbalik, dan menuju pusat optik lensa
diperkecil cembung, maka cahaya
b. Nyata, terbalik, dan tersebut akan....
diperbesar a. Dipantulkan
c. Nyata, tegak, dan sama b. Diteruskan
besar c. Dipantulkan sejajar
d. Nyata, tegak, dan sumbu utama
diperesar d. Dibiaskan sejajar sumbu
9. Jalannya sinar istimewa pada utama
cermin cembung yang 12. Peristiwa pembiasaan
menuju titik fokus akan cahaya dapat terjadi apabila
dipantulkan... cahaya merambat....
a. Sejajar sumbu utama a. Menurut garis lurus
b. Seaolah-olah berasal dari b. Melalui ruang hampa
titik fokus c. Melalui dua medium
yang berbeda kerapatan

d. Melalui udara ke medium a. Cahaya yang datang dari


zat lainnya udara dibiaskan
13. Jika sebekas sinar datang dari mendekati garis normal
udara ke air, jalannya sinar ketika memasuki air
dalam air yang benar adalah.... b. Cahaya yang berasal dari
a. Lurus dengan sinar matahari dasar kolam dibiaskan
b. Dibaiskan mendekatkan menjauhi garis normal
garis normal ketika keluar dari
c. Dibiaskan menjauhi garis permukaan air
normal c. Cahaya ketika memasuki
d. Dibiaskan beimpit dengan air dibiaskan menjauhi
garis normal garis normal
14. Sudut bias adalah sudut antara d. Cahaya ketika keluar dari
sinar... permukaan air dibiaskan
a. Bias dengan garis mendekati garis normal
normal 17. Bayangan yang dibentuk
b. Bias dengan sinar oleh lensa cekung akan....
datang a. Selalu maya
c. Bias dengan bidang b. Selalu nyata
batas c. Tergantung jaraknya dari
d. Datang dengan sinar

49
bias pusat optik lensa
15. Bayangan yang akan dibentuk d. Selalu berbentuk di
oleh lensa cekung selalu tempat tak terhingga
bersifat.... 18. Pada peristiwa dispersi
a. Nyata, tegak, dan diperbesar cahaya, warna merah
b. Nyata, terbalik, dan memiliki.....
diperbesar a. Indeks bias terbesar dan
c. Maya, terbalik, dan panjang gelombang
diperkecil terkecil
d. Maya, tegak, dan diperkecil b. Indeks bias terbesar dan
16. Dasar kolam yang beair jernih panjang gelombang
selalu tampak lebih dangkal terbesar
dari sebenarnya. Hal ini c. Indeks bias terkecil dan
disebabkan oleh..... panjang gelombang
terkecil

d. Indeks bias terkecil dan 22. Pernyataan berikut yang


panjang gelombang besar bukan merupakan sinar
19. Pelangi hanya dapat dilihat jika... istimewa yang terjadi pada
a. Kita membelakangi matahari cermin cembung adalah....
dan di depan kita terjadi a. Sinar datang sejajar sumbu
gerimis utama dipantulkan seolah-
b. Kita mengadapat matahari dan olah dari titik fokus utama
di hadapan kita terjadi hujan cermin
c. Menhadap matahari dan di b. Sinar datang menuju titik
belakang kita terjadi gerimis pusat kelengkungan
d. Membelakangi matahari dan dipantulkan melalui titik
di belakang kita terjadi hujan itu juga
20. Pada prisma yang salah satu c. Sinar datan menuju titik
bidang batasnya jatuh sinar fokus utama cermin
datang dan membuat sudut cembung dipantulkan
jatuh/datang tertentu, pernyataan sejaajr sumbu utama
berikut yang benar adalah... d. Sinar datang sejajar sumbu
a. Besar sudut deviasinya tetap utama dipantulkan seolah-
b. Sudut bias terakhir akan olah dari pusat
semakin besar jika sudut kelengkungan cermin
datang pertamanya semakin 23. Dasar sungai yang airnya
kecil jernih tampak dangkal dari
c. Tidak akan pernah terjadi yang sesungguhnya.
sudut deviasi minimum Peristiwa ini disebabkan
d. Semakin kecil sudut datang, oleh...
akan semakin kecil pula sudut a. Pembiasaan cahya dari air
biasnya ke udara menjauhi garis
21. Cermin cekung dapat digunakan

50
untuk normal
a. Kaca spion b. Pemantulan sempurna
b. Cermin hias c. Pembiasan cahaya dari
c. Reflektor udara ke air menjauhi
d. Memperbesar bayangan garis normal
d. Pembiasan cahaya daru air
ke dara mendekati garis
normal

24. Syarat terjadinya pemantulan a. Maya, tegak, sama besar,


sempurna berkas cahaya adalah... dan terbalik atas-bawah
a. Sudut datang membentuk b. Maya, tegak, sama besar,
sudut ktitis dan terbalik kiri-kanan
b. Sudut datang sama dengan c. Nyata, tegak, sama besar,
sudut batas dan terbalik atas-bawah
c. Sinar datang dari medium d. Nyata, sama besar, dan
yang rapat ke medium yang terbalik kiri-kanan
lebih renggang 28. Bagian mata yang menerima
d. Sinar datang dari medium bayangan yang dibentuk oleh
renggang ke medium yang lensa adalah....
lebih rapat a. Retina c. pupil
25. Sifat bayangan yang dibentuk b. Kornea d. iris
oleh benda yang terletak di 29. Dengan menggunakan lup
depan cermin cembung adalah... dan pengamatan dilakukan
a. Nyata, tegak, dan dengan mata tak
diperbesar berakomodasi, sifat bayangan
b. Nyata, terbalik, dan yang terbentuk adalah....
diperkecil a. Nyata, tegak, diperkecil
c. Maya, tegak, dan b. Maya, terbalik, dan
diperkecil diperbesar
d. Maya, tegak, dan c. Maya, tegak, diperbesar
diperbesar d. Nyata, tegak, diperbesar
26. Bukti bahwa cahaya merambat 30. Sifat bayangan akhir yang
secara lurus adalah.... dibentuk oleh mikroskop
a. Bayangan benda memiliki adalah....
bentuk menyerupai benda asli a. Maya, tegak, diperbesar
b. Cahaya lilik tampak dari b. Nyata, terbalik,
kejauhan diperkecil
c. Sudut-sudut ruangan tetap c. Nyata, tegak, diperbesar
tampak terang walaupun tidak d. Maya, terbalik, diperkecil
terkena langsung cahaya
matahari
d. Kelanjan cahaya mencapai 3 x

51
10² m/s
27. Sifat-sifat bayangan yang
dibentuk cermin datar adalah....

31. Diafragma kamera berfungsi b. Bergerak dengan


untuk...... kelajuan yang lebih
a. Mengatur banyaknya besar dari kelajuan
cahaya yang masuk ke cahaya
dalam kamera c. Merambat lurus
b. Menentukan kepekaan d. Tidak dapat diuraikan
cahaya pada lensa menjadi spektrum
c. Mengatur jarak bayangan warna
pada kemara 35. Sebuah benda diletakkan
d. Mengatur ketajaman pada jarak 90cm di
gambar yang diperoleh depan sebuah cermin
32. Bagian mata yang paling peka cekung dengan jarak titik
terhadap cahaya dan bayangan api 6cm sehingga
yang diihat mata adalah.... terbentuk bayangan yang
a. Iris c. Pupil sifatnya....
b. Kornea d. Retina a. Maya, tegak, dan
33. Pernyataan berikut yang benar diperkecil
adalah.... b. Nyata, terbalik, dan
a. Bayangan maya adalah titik diperbesar
potong sinar-sinar pantul c. Maya, tegak, dan
b. Bayangan nyata adalah titik diperbesar
potong perpanjangan sinar- d. Nyata, terbalik,dan
sinar pantul diperbesar
c. Bayangan maya adalah titik 36. Punctum remotum mata
potong perpanjangan sinar- dewasa normal terletak
sinar pantul pada jarak sekitar...
d. Bayangan nyata adalah titik a. 0 cm
potong perpanjngan sinar- b. 25 cm
sinar datang c. 50 cm
34. Berikut ini yang bukan d. Tak berhingga
merupakan sifat-sifat cahaya
polikromatis adalah....
a. Merupakan gelombang
elektromagnetik

52
53
DAFTAR PUSTAKA

Adinda,dkk Pengaruh Penggunaan Media Flash Flipbook terhadap Motivasi Belajar


Siswa Dalampembelajaran Mata Pelajaransejarah Kelas Xismanegeri 11
Pontianak, Jurnal Pendidikan dan Konseling Vol. 5 No. 1 Tahun 2022.

Asmi, A. R., & Surbakti, A. (2018), Pengembangan E-modul Berbasis Flipbook Maker
Materi dalam jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, Volume 27 Nomor 2.

Aziz Fanani, Pengembangan E-modul Pembelajaran, Program Pascasarjana, 2022

Fauziah, M. (2014), Pengembangan Media E-modul Mata Pelajaran Produktif Pokok


Bahasan Instalasi Jaringan LAN untuk Siswa Kelas IX Jurusan Teknik
Komputer Jaringan di SMK Negeri 1 Labang Bangkalan Madura, Jurnal
Mahasiswa Teknologi Pendidikan, Volume 5, Nomor 3.

Heny Sholikhatul, Pengembangan E-modul Berbasis Flipbook untuk Meningkatkan


Motivasi dan Hasil Belajar Siswa SMP Tema Cahaya, Indonesian Journal of
Natural Science Education (IJNSE) Volume 4. Nomor 2, 2021.

Intan Widyasari, dkk, Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Flipbook Pada


Materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel Di Kelas VIII SMP, Jurnal
Derivat, Volume 8 No. 1, 2021.

Nita Sunarya Herawati, dkk, Pengembangan Modul Elektronik (E-modul) Interaktif


Pada Mata Pelajaran Kimia Kelas XI SMA, Jurnal Inovasi Teknologi
Pendidikan, Volome 5, No. 2, 2018.

Palupi, R. (2014) Hubungan Antara Motivasi Hasil Belajar dan Persepsi Siswa
Terhadap Kinerja Guru Dalam Mengelola Kegiatan Belajar Dengan Hasil
Belajar IPA Siswa Kelas VIII di SMPN 1 Pacitan, Jurnal Teknologi
Pendidikan dan Pembelajaran, Volume 2 Nomor 2.

Ristanti, Peran Teknologi Informasi Komunikasi Dalam Pengembangan Kemajuan

54
Pendidikan, 2017
Sugiantoro, D., Abdullah, A.G., Evyanti, S., & Muladi, Y. (2013), Modul Virtual:
Multimedia Flipbook Dasar Teknik Digital. Jurnal Innovation of Vocational
Technology Educatecno, Volume 9 Nomor 2.

55

Anda mungkin juga menyukai