PENGARUH E-MODUL BERBASIS FLIPBOOK TERHADAP MOTIVASI DAN
HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI CAHAYA DI SMPN 1 BRINGIN
PROPOSAL SKRIPSI
OLEH:
GUNTUR SISWO PUTRO
NIM: 20051011
PEMBIMBING:
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ILMU IPA
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
MODERN NGAWI
2024
DAFTAR ISI
A. HALAMAN JUDUL i
B. DAFTAR ISI ii
C. BAB I PENDAHULUAN 1
D. Latar Belakang 1
E. Batasan Masalah 7
F. Rumusan masalah 7
G. Tujuan penelitisan 7
H. Kegunaan penelitian 7
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN 8
A. Kajian Pustaka 8
1. Pembelajaran IPA 8
2. Modul Ajar 12
3. E-modul 15
4. Flipbook 16
5. Motivasi 19
6. Hasil Belajar Siswa 22
B. Kerangka Berfikir 24
C. Hipotesis Penelitian 27
BAB III METODE PENELITIAN 28
A. Tempat dan Waktu 28
B. Desain Penelitian 28
C. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel 30
D. Teknik Pengumpulan Data 32
E.DAFTAR PUSTAKA 57
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) menjadikan
negara Indonesia semakin maju (Ristati, 2017). Hal ini sesuai dengan
perkembangan zaman dalam dunia TIK dan telah mulai memperlihatkan
kemajuan dalam bidang pendidikan. Pendidikan saat ini sudah mulai
memanfaatkan perkembangan teknologi informasi untuk menunjang proses
pembelajaran. Terlihat dalam pemanfaatan perangkat komputer sebagai media
pembelajaran yang inovatif dan mampu merangsang pikiran, perasaan, minat serta
perhatian siswa sehingga proses pembelajaran dapat dilakukan dengan baik. Pada
kurikulum merdeka pemerintah telah memberikan arahan bahwasannya dalam
proses kegiatan pembelajaran itu harus menarik, efektif, inovatif dan
menyenangkan dengan memberikan proses pembelajaran intrakurikuler dengan
konten yang beragam agar siswa dapat lebih optimal dan memiliki cukup waktu
untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi (Ristati, 2017).
Pemanfaatan teknologi informasi menjadikan tujuan belajar dapat tercapai
dengan baik. Hal ini bisa dilihat dari kelebihan teknologi yang dapat diakses
dengan mudah sehingga waktu belajar lebih fleksibel, biaya lebih terjangkau
dengan wawasan yang luas dengan tampilan yang lebih menarik sehingga siswa
terhindar dari rasa jenuh selama mengikuti pembelajaran. Menurut Yunita, 2023
pengaruh pembelajaran merupakan pencapaian suatu tujuan dari beberapa
1
alternatif yang sudah ditentukan dari beberapa pilihan lainnya yang dapat
diartikan sebagai alat ukur keberhasilan dari tujuan yang sudah ditetapkan,
sehingga pembelajaran dapat memberikan keterampilan yang baru seperti halnya
pengetahuan khususnya pebelajaran IPA pada materi cahaya, dengan adanya TIK
kita bisa melihat bagaimana proses terbentuknya cahaya melalui animasi atau
video yang telah diposting sehingga kita mampu melihatnya secara mudah.
Pengalaman belajar yang menyenangkan melalui penyajian proses belajar
mengajar yang sudah dirancang sedemikian rupa sehingga mampu mencapai
tujuan belajar yang diharapkan. (Yunita, 2023)
Menurut Hasian aspek penting dari tujuan pembelajaran IPA salah satunya
adalah agar siswa mampu memahami bahan kajian mengenai hukum, konsep,
teori dan prinsip secara bermakna untuk menjelaskan fenomena dalam kehidupan
sehari-hari. Tujuan pembelajaran telah dikembangkan hingga mencangkup
beberapa aspek lain seperti sikap dan keterampilan berpikir ilmiah. Pada jenjang
SMP, media pembelajaran yang digunakan untuk menunjang proses kegiatan
belajar pada masa pelajaran cahaya harus mampu meningkatkan motivasi dan
hasil belajar siswa, seperti halnya adanya praktik secara langsung dalam materi
cahaya atau dengan menggunakan metode yang menarik seperti adanya video atau
animasi gerak yang menjadikan siswa antusias dalam belajar khususnya dalam
materi cahaya sehingga mampu mendorong motivasi siswa untuk belajar.
Motivasi dalam belajar sangat diperlukan sebagai daya penggerak dalam diri
siswa untuk melaksanakan kegiatan belajar sehingga mencapai tujuan dari
pendidikan. (Hasian, 2020).
2
Metode pembelajaran khususnya mata pelajaran IPA pada materi cahaya
yang digunakan guru di sekolah masih menggunakan model pembelajaran secara
langsung. Menurut Ria (2017) menyatakan model pembelajaran langsung yaitu
model pembelajaran yang digunakan guru pada umumnya dengan menggunakan
metode ceramah, tanya jawab, diskusi dan penugasan (Ria, 2017). Hal ini dapat
mempersulit siswa dalam memahami suatu konsep dan sulitnya mengembangkan
kemampuan ilmiahnya. Kemampuan siswa dalam memahami sebuah
pembelajaran untuk meningkatkan pemahaman konsep dan teori yang lebih baik
dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya dalam pemilihan model
pembelajaran yang efektif untuk diterapkan. Proses pembelajaran dalam mata
pelajaran IPA khususnya pada materi cahaya masih menggunakan model
pembelajaran yang berpusat pada guru, sehingga siswa beramsumsi bahwa
pembelajaran IPA pada materi cahaya sangat membosankan dan tidak
menyenangkan sehingga menimbulkan motivasi belajar siswa menurun dan
mampu mempengaruhi hasil belajar siswa.
Berdasaran hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan Sofiyan
selaku guru mata pelajaran IPA di SMPN 1 Bringin, diperoleh bahwa siswa
kurang antusias terhadap materi yang telah dijelaskan, mereka kesulitan dalam
memahami konsep, teori dan prinsip masih banyak siswa yang tidak aktif dalam
proses belajar mengajar. Guru telah menggunakan berbagai model pembelajaran,
namun motivasi dan hasil belajar siswa yang banyak digunakan adalah model
ceramah yang menyebabkan suasana pembelajaran di dalam kelas jadi
membosankan. Berdasarkan hasil wawancara tambahan dari siswa di SMPN 1
3
Bringin dalam pembelajaran IPA khususnya pada materi cahaya siswa merasa
bahwa pembelajaran cahaya itu membosankan dan tidak menyenangkan karena
dalam proses pembelajaran guru hanya menggunakan metode ceramah dan
memberikan tugas. Hal tersebut tentu berpengaruh pada semangat, motivasi dan
hasil belajar siswa yang kurang maksimal.
Menurut Santrock di dalam bukunya yang berjudul Perkembangan Anak
bahwasanya guru harus memberikan cara baru dan inovatif untuk proses belajar
mengajar dalam pemahaman konsep siswa. Pemahaman konsep merupakan aspek
kunci dari pembelajaran. Pemahaman konsep sangat erat hubungannya dengan
bagaimana siswa melakukan sesuatu, memahami kriteria dalam menggunakan
keterampilan, teknik maupun metode dalam belajar. Pemahaman konsep yang
baik didukung oleh model atau motode yang digunakan dalam proses belajar
mengajar. Proses belajar tersebut diharapkan adanya inovasi model pembelajaran
yang dapat membuat para siswa paham akan konsep materi yang telah diajarkan
sehingga motivasi dan hasil belajar siswa menjadi meningkat. Santrock (2018)
Adanya motivasi belajar siswa memiliki peran dalam menimbulkan
semangat dan hasil belajar siswa. Menurut Febrita (2019) salah satu cara untuk
menumbuhkan semangat ketertarikan atau minat dan meningkatkan motivasi
belajar pada siswa, yaitu dengan menggunakan media pembelajaran yang dapat
menumbuhkan minat para siswa. Guru harus bisa memilih mana media yang
digunakan untuk mata pelajaran tertentu dan harus disesuikan dengan tingkat
pendidikannya. Media sebagai penunjang dalam proses pembelajaran. Media yang
digunakan dapat mempengaruhi berhasil atau tidaknya kegiatan belajar. (Ragilia,
4
dkk, 2019)
Berdasarkan permasalahan yang dialami siswa karena metode
pembelajaran yang kurang efektif, masih menggunakan metode pembelajaran
yang berupa diskusi dan ceramah yang membosankan sehingga mempengaruhi
motivasi siswa dan kurangnya minat serta antusias pada siswa pada hasil belajar
siswa maka perlu dilakukan inovasi pemebelajaran melalui metode yang berbeda.
Setelah melakukan wawancara terhadap kendala yang dihadapi oleh beberapa
guru dan siswa di SMPN 1 Bringin maka dalam penelitian ini akan menerapkan
media pembelajaran yang berbeda. Media pembelajaran adalah media yang
digunakan untuk menyalurkan suatu pesan dari pengirim ke penerimanya
sehingga pesan tersebut dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat
siswa sehingga terjadi proses atau kegiatan belajar. Media memiliki pengaruh
penting dalam proses pembelajaran pesan agar efektif dan efisien, sehingga tujuan
pembelajaran dapat tercapai. Salah satu jenis media yang biasa digunakan dalam
pembelajaran adalah modul pembelajaran. Modul merupakan salah satu bahan
ajar untuk pembelajaran mandiri yang memungkinkan siswa belajar secara
sistematis tanpa bergantung pada orang lain. Salah satu jenis modul pembelajaran
yaitu e-modul berbasis flipbook.
E-modul yaitu seperangkat alat pembelajaran yang sudah dirancang secara
terstuktur dan khusus sehingga mudah digunakan dimana saja dan kapan saja
dengan bantuan jaringan internet serta mendukung tampilan audio-visual. E-
modul memiliki kelebihan seperti halnya dapat menumbuhkan motivasi bagi
siswa, bahan ajar yang disusun dapat disesuaikan berdasarkan tingkatan
5
akademik, lebih fleksibel dalam penggunaanya, terdapat fitur pendukung yaitu
audio-visual, serta animasi gerak. E-modul memiliki keunggulan yaitu para sisiwa
mampu belajar secara mandiri serta fleksibel dalam penggunaanya, serta memiliki
komponen di dalamnya yang dapat menarik minat siswa untuk belajar karena
memadukan berupa teks, musik, animasi video sehingga dapat memotivasi untuk
belajar dan mampu mempengaruhi hasil belajar siswa tersebut. (Nita, dkk, 2018)
E-modul berbasis flipbook dapat dibuat menggunakan aplikasi flipbook
maker. Aplikasi ini tidak hanya berupa teks, flipbook maker dapat menyisipkan
gambar, grafik, suara, link dan video pada lembar kerja. Dengan bentuk flilpbook
yang memanfaatkan efek transisi perpindahan halaman diharapkan dapat menarik
motivasi belajar siswa. Sehingga hasil belajar siswa lebih meningkat. E-modul
berbasis flipbook ini tersedia dalam bentuk software maka siswa dapat dengan
mudah mengaksesnya dimanapun mereka berada. Penelitian Seaemadi pada tahun
2016, menemukan bahwa penggunaan media pembelajaran dapat meningkatkan
hasil belajar siswa.
Berangkat dari fakta dan persoalan yang telah diuraikan di atas, penulis
tertarik untuk meneliti lebih lanjut dengan mengambil judul “PENGARUH E-
MODUL BERBASIS FLIPBOOK TERHADAP MOTIVASI DAN HASIL
BELAJAR SISWA PADA MATERI CAHAYA (STUDI DI SMPN 1
BRINGIN)
B. Batasan Masalah
1. Peneliti menggunakan e-modul berbasis flipbook dengan penelitian yang
dilakukan di SMPN 1 Bringin.
6
2. Motivasi dan hasil belajar siswa dilihat pada pengaruh dalam penggunan e-
modul berbasis flipbook.
3. Objek penelitian berupa pemahaman konsep, hukum, dan teori dilihat pada
ranah kognitif siswa dalam lingkup materi cahaya.
4. Penelitian dilakukan pada siswa kelas 8 di SMPN 1 Bringin.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan pada latar belakang masalah di atas, penulis
merancang pokok permasalahan sebagai acuan dalam penelitian ini, yaitu:
Bagaimana pengaruh e-modul berbasis flipbook terhadap motivasi dan hasil
belajar siswa pada materi cahaya di SMPN 1 Bringin?
D. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini mendeskripsikan pengaruh penggunaan e-modul
berbasis flipbook terhadap motivasi dan hasil belajar siswa pada materi cahaya di
SMPN 1 Bringin.
E. Kegunaan Penelitian
Kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Kegunaan Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan dalam
pembelajaran IPA khususnya materi mengenai cahaya dan dapat digunakan
sebagai contoh bagi penelitian selanjutnya.
2. Kegunaan Praktis
a. Bagi guru, sebagai upaya memperbaiki kualitas dalam mengajar IPA dan
mendorong untuk kreatif menggunakan e-modul berbasis flipbook terhadap
7
motivasi dan hasil belajar siswa.
b. Bagi siswa, diharapkan dalam penggunaan e-modul berbasis flipbook mampu
memicu motivasi dan hasil belajar siswa.
c. Bagi peneliti, bisa menjadi pengalaman peneliti dalam pembelajaran di
sekolah serta dapat menerapkan ilmu yang peneliti dapatkan semasa
perkuliahan.
8
BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN
A. Kajian Pustaka
1. Pembelajaran IPA
a. Hakikat IPA
Ilmu Pengatahuan Alam merupakan makna alam dan berbagai
fenomenanya/perilaku/karakteristik yang dikemas menjadi sekumpulan teori
maupun konsep melalui serangkaian proses ilmiah yang dilakukan manusia.
Teori maupun konsep yang terorganisir ini menjadi sebuah ispirasi
tercapainya teknologi yang dapat dimanfaatkan bagi kehidupan manusia.
(Alit, 2019). Menurut Alit IPA adalah suatu pengetahuan teoritis yang
diperoleh/disusun dengan cara yang khas/khusus, yaitu melakukan observasi
eksperimen, penyimpulan, penyusunan teori, eksperimentasi, observasi dan
demikian seterusnya kait-mengait antara cara yang satu dengan yang lain.
Dimensi Sains menurut Sitiatav (2018)
1) Sains adalah pengetahuan yang mempelajari, menjelaskan, serta
menginvestigasi fenomena alam dengan segala aspek yang bersifat
empiris.
2) Sains sebagai proses atau metode dan produk, dengan menggunkan
metode ilmiah yang syarat keterampilan proses, mengamati, mengajukan
masalah, mengajukan hipotesis, mengumpulkan dan menganalisis, serta
mengevaluasi data dan menarik keimpulan terhadap fenomena alam,
maka akan diperoleh produk sains, misalnya fakta, konsep, prinsip, dan
9
generalisasi yang kebenrannya bersifat tentatif.
3) Sains bisa dianggap sebagai aplikasi, dengan penguasaan pengetahuan
dan produk, sains dapat dipergunakan untuk menjelaskan, mengolah dan
memanfaatkan, memprediksi fenomena alam, serta mengembangkan
disiplin ilmu lainnya dan teknologi.
4) Sains mampu dianggap sebagai sarana untuk mengembangkan sikap dan
nilai-nilai tertentu, misalnya nilai, religius, skeptisme, objektivitas,
keteraturan, sikap keterbukaan, nilai praktis dan ekonomis, erta nilai
etika atau estetika.
Menurut Agustiana (2018) dalam Suastra (2002) mengemukakan bahwa
hakikat IPA meliputi empat unsur utama yaitu sebagai berikut.
1) Sikap, yaitu rasa ingin tahu tentang benda, fenomena alam, makhluk hidup,
serta hubungan sebab akibat yang menimbulkan masalah baru yang dapat
dipecahkan melalui prosedur yang benar, IPA bersifat open ended.
2) Proses, yaitu prosedur pemecahan masalah melalui metode ilmiah; metode
ilmiah meliputi penyusunan hipotesis, perancangan eksperimen atau
percobaan, evaluasi, pengukuran, dan penarikan kesimpulan.
3) Produk, yaitu berupa fakta, prinsip, teori, dan hukum.
4) Aplikasi, yaitu penerapan metode ilmiah dan konsep IPA dalam kehidupan
sehari-hari.
Berdasarkan pengertian para ahli di atas, dapat dikatakan bahwa Imu
Pengetahuan Alam (IPA) pada hakikatnya merupakan kumpulan pengetahuan
meliputi sikap, proses, produk, aplikasi, dan diperoleh dari gejala alam yang
10
diperoleh melalui serangkaian proses sistematis (menggunakan metode ilmiah)
sehingga menghasilkan prosuk berupa konsep, teori, prinsip, hukum ang
dipergunakan untuk menghasilkan pengetahuan berupa teknologi yang dapat
bermanfaat bagi kehidupan manusia.
b. Pembelajaran IPA
Menurut Hamzah, pembelajaran adalah proses kegiatan belajar mengajar
yang melibatkan guru dan siswa dalam pencapaian tujuan/indikator yang telah
ditentukan (Hamzah, 2019). Menurut Eveline Siregar dan Hartini Nara (2017)
mengungkapkan bahwa pembelajaran memiliki ciri sebagai berikut :
1) Merupakan upaya sadar dan direncana;
2) Pembelajaran harus membuat siswa belajar;
3) Tujuan harus ditetapkan terlebih dahulu sebelum proses dilaksanakan;
4) Pelaksanaannya terkendali, baik isinya, waktu, proses, maupun hasilnya.
Menurut Agustina, metode keilmuwan merupakan dasar pemahaman
terhadap hakikat IPA dapat diperoleh dan diterapkan melalui pembelajaran IPA.
Hakikat IPA menyatakan bahwa terdapat keterampilan proses intelektual yang harus
dimiliki oleh setiap individu dalam pembelajaran IPA yaitu (1) membangun 16
prinsip melalui induksi; (2) menjelaskan dan meramalkan; (3) pengamatan dan
mencatat data; (4) identifikasi dan mengendalikan variabel; (5) membuat grafik
untuk menemukan hubungan; (6) perancangan dan melaksanakan penyelidikan
ilmiah; (7) menggunakan teknologi dan matematika selama penyelidikan; (8)
menggambarkan simpulan dari bukti-bukti (Agustiana, 2014). Menurut Wahyudi
(2002) dalam Agustiana(2014) mengungkapkan bahwa terkait dengan produk dan
11
proses IPA, pembelajaran IPA harus menghantarkan siswa menguasai konsep-
konsep IPA dan keterkaitannya untuk dapat memecahkan masalah dalam kehidupan
sehari-hari yang sesuai dengan sikap IPA.
Siswa diharapkan tidak hanya sekedar tahu (knowing) dan hafal
(memorizing) tentang konsp-konsep IPA, tetapi harus mengerti dan paham (to
understand) terhadap konsep-konsep tersebut dan menghubungkan keterkaitan suatu
konsep dengan konsep lain. I Gusti Ayu Tri Agustiana(2014) menambahkan bahwa
dalam proses pembelajaran IPA, keempat unsur (sikap, proses, produk, dan aplikasi)
diharapkan dapat muncul sehingga siswa dapat mengalami proses pembelajaran
secara utuh, memahami fenomena alam melalui kegiatan pemecahan masalah,
metode ilmiah, dan meniru cara ilmuan bekerja dalam menemukan fakta baru.
Menurut Kemendiknas (2011) pembelajaran IPA adalah suatu pendekatan yang
menghubungkan atau menyatupadukan berbagai bidang kajian IPA menjadi satu
kesatuan bahasan.
Sitiatava (2018) 17 berpendapat bahwa pembelajaran berbasis sains adalah
proses transfer ilmu dua arah antara guru (sebagai pemberi informasi) dan siswa
(sebagai penerima informasi) dengan metode tertentu (proses sains). Puskur (2010)
mengungkapkan bahwa yang dimaksud dengan pembelajaran IPA terpadu
merupakan pendekatan yang mencoba menggabungkan antara berbagai bidang
kajian IPA yaitu fisika, kimia, dan biologi sehingga dalam pelaksanaannya tidak
terpisah-pisah lagi melainkan menjadi satu kesatuan. IPA diberikan secara terpadu
di sekolah diharapkan menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari diri sendiri
dan alam sekitar secara utuh. Tercapainya tujuan pelajaran IPA secara utuh, tidak
12
cukup mengajarkan pengetahuan IPA saja, tetapi juga proses bagaimana IPA itu
diperoleh melalui berbagai aktivitas belajar. Pemahaman pelajaran IPA tidak
berhenti pada fakta, konsep, prinsip, hukum, dan teori yang diperoleh, tetapi juga
dibutuhkan pembentukan sikap ilmiah tertentu dan penguasaan ketrampilan tertentu.
Pembelajaran IPA merupakan interaksi yang terjadi antara siswa dengan guru
beserta sumber belajar yang menggabungkan berbagai bidang kajian IPA agar siswa
mempelajari diri sendiri dan alam sekitar secara utuh melalui metode ilmiah untuk
memecahkan masalah serta mengaplikasikanya dalam kehidupan sehari-hari.
2. Modul Ajar
a. Pengertian Modul
Modul merupakan bahan ajar yang disusun secara sistematis dengan bahasa
yang mudah dipahami oleh siswa, sesuai usia dan tingkat pengetahuan mereka agar
mereka dapat belajar secara mandiri dengan bimbingan minimal dari pendidik (Andi
Prastowo, 2012). Penggunaan modul dalam pembelajaran bertujuan agar siswa
dapat belajar mandiri tanpa atau dengan minimal dari guru. Di dalam pembelajaran,
guru hanya sebagai fasilitator.
Pandangan serupa juga dikemukakan oleh Sukiman (2011) yang menyatakan
bahwa modul adalah bagian kesatuan belajar yang terencana yang dirancang untuk
membantu siswa secara individual dalam mencapai tujuan belajarnya. Siswa yang
memiliki kecepatan tinggi dalam belajar akan lebih cepat menguasai materi.
Sementara itu, siswa yang memiliki kecepatan rendah dalam belajar bisa belajar lagi
dengan mengulangi bagian-bagian yang belum dipahami sampai paham. Menurut
Rudi, dkk (2008) modul merupakan suatu paket program yang disusun dan didesain
13
sedemikian rupa untuk kepentingan belajar siswa. Pendekatan dalam pembelajaran
modul menggunakan pengalaman siswa.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat hal-hal
penting dalam mendefinisikan modul yaitu bahan belajar mandiri, membantu siswa
menguasai tujuan belajarnya, dan paket program yang disusun dan didesain
sedemikian rupa untuk kepentingan belajar siswa. Jadi dapat disimpulkan bahwa
modul merupakan paket program yang disusun dan didesain sedemikian rupa
sebagai bahan belajar mandiri untuk membantu siswa menguasai tujuan belajarnya.
Oleh karena itu, siswa dapat belajar sesuai dengan kecepatannya masing-masing
b. Karateristik Modul
Modul yang dikembangkan harus memiliki karakteristik yang diperlukan
sebagai modul agar mampu menghasilkan modul yang mampu meningkatkan
motivasi penggunannya. Menurut Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah
Kejuruan (2008), modul yang akan dikembangkan harus memperhatikan lima
karaktersistik sebuah modul yaitu self instruction, self contained, stand alone,
adaptif, dan userfriendly.
1) Self Instruction, siswa dimungkinkan belajar secara mandiri dan tidak
tergantung pada pihak lain. Self Intruction dapat terpenuhi jika modul tersebut:
memuat tujuan pembelajaran yang jelas; materi pembelajaran dikemas dalam
unit-unit kegiatan yang kecil/spesifik; ketersediaan contoh dan ilustrasi yang
mendukung kejelasan pemaparan materi pembelajaran; terdapat soal-soal
latihan, tugas dan sejenisnya; kontekstual; bahasanya sederhana dan
komunikatif; adanya rangkuman materi pembelajaran; adanya instrumen
14
penilaian mandiri (self 8 assessment); adanya umpan balik atas penilaian siswa;
dan adanya informasi tentang rujukan.
2) Self Contained , seluruh materi pembelajaran yang dibutuhkan termuat dalam
modul tersebut. Karakteristik ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk
mempelajari materi pembelajran secara tuntas.
3) Stand Alone, modul yang dikembangkan tidak tergantung pada bahan ajar lain
atau tidak harus digunakan bersama-sama dengan bahan ajar lain. Siswa tidak
perlu bahan ajar lain untuk mempelajari atau mengerjakan tugas pada modul
tersebut.
4) Adaptif, modul tersebut dapat menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi, fleksibel/luwes digunakan diberbagai perangkat keras
(hardware). Modul yang adaptif adalah jika modul tersebut dapat digunakan
sampai kurun waktu tertentu.
5) User Friendly (bersahabat/akrab), modul memiliki instruksi dan paparan
informasi bersifat sederhana, mudah dimengerti, serta menggunakan istilah
yang umum digunakan. Penggunaan bahasa sederhana dan penggunaaan istilah
yang umum digunakan merupakan salah satu bentuk user friendly.
c. Sistematika Modul
Ada delapan komponen utama menurut Sungkono (2003) yang perlu
terdapat dalam modul yaitu tinjauan mata pelajaran, pendahuluan, kegiatan belajar,
latihan, rambu-rambu jawaban latihan, rangkuman, tes formatif, dan kunci jawaban
tes formatif.
1) Tinjauan Mata Pelajaran Tinjauan mata pelajaran berupa paparan umum
15
mengenai keseluruhan pokok-pokok isi mata pelajaran yang mencakup
deskripsi mata pelajaran, kegunaaan mata pelajaran, kompetensi dasar, bahan
pendukung lainnya (kaset, kit, dll), petunjuk belajar.
2) Pendahuluan Pendahuluan dalam modul merupakan pembukaan pembelajaran
suatu modul yang berisi:
a. Deskripsi singkat isi modul
b. Indikator yang ingin dicapail
c. Memuat pengetahuan dan keterampilan yang sebelumnya sudah diperoleh.
d. Relevansi, yang terdiri atas:
1) Urutan kegiatan belajar logis
2) Petunjuk belajar
3) Kegiatan Belajar Kegiatan belajar memuat materi yang harus dikuasai
siswa. Bagian ini terbagi menjadi beberapa sub bagian yang disebut
kegiatan belajar. Di dalam kegiatan belajar tersebut berisi uraian, contoh,
latihan, ramburambu jawaban latihan, rangkuman, tes formatif, kunci
jawaban tes formatif dan tindak lanjut Direktorat tenaga kependidikan
(2008) menjelaskan struktur penulisan suatu modul sering dibagi menjadi
tiga bagian yaitu bagian pembuka, bagian isi, dan bagian penutup.
3. E-modul
E-modul merupakan seperangkat media pengajaran elektornik atau
digital non cetak yang digunakan untuk keperluan belajar mandiri dan tersusun
secara sistemtis (Fausih, 2015). E-modul merupakan alat atau sarana
pembelajaran yang berisi materi, metode, batasan-batasan dan cara
16
mengevaluasi yang dirancang secara sistematis dan menarik untuk mencapai
kompetensi yang diharapkan sesuai dengan tingkat kompleksitasnya secara
elektronik.
Kemudahan mengakses e-modul sangat membantu siswa dalam
memperoleh sumber belajar (Sitorus, 2019). Cukup dengan menggunakan
gawai seperti telepon genggam, android, e-modul dapat diakses dengan
mudah. E-modul dapat juga diakses secara offline terutama untuk daerah
dengan kendala sinyal maupun siswa yang terhambat ketersediaan kuota
internet. Isi e-modul selain berupa teks gambar dapat juga disertakan rekaman
suara, video dan tautan sumber belajar.
Desain materi pembelajarn di e-modul setidaknya harus
memperhatikan lima hal yaitu inforasi verbal, kemampuan intelektual, strategi
kognitif, sikap dan keterampilan motorik (Fadli, 2020). Apabila ingin
memperjelas isi materi dari e-modul tersebut dapat disisipkan rekaman suara
maupun video pembelajaran, baik yang dibuat sendiri maupun video
pembelajaran, baik yang dibuat sendiri ataupun yang sudah tersedia. Dengan
demikian, belajar siswa dapat lebih teratah dan memiliki sumber belajar yang
sangat mendukung.
4. Flipbook
Media pembelajaran, menurut Hamalik (2011) dalam proses belajar
mengajar dapat membangkitkan motivasi dan hasil belajar siswa serta
membawa pengaruh psikologi terhadap siswa. Salah satu media pembelajaran
yang dapat digunakan dalam pembelajaran IPA di kelas salah satunya adalah
17
media flipbook. Flipbook menurut Nurseto (2011)merupakan lembaran-
lembaran kertas menyerupai album atau kalender berukuran 21 x 28 cm.
Flipbook merupakan lembaran-lembaran kertas menyerupai album atau
kalender berukuran 11 x 13 m. Media ini bisa digunakan perindividu atau
kelompok, tetapi hanya sampai 4-5 orang.
Sarana pendukung kegiatan pembelajaran online, flipbook merupakan
sejenis buku elektronik yang dapat digunakan sebagai salah satu sumber
belajar dalam kegiatan online yang dibuat dari aplikasi flipbook maker.
Keunggulan dari aplikasi ini yaitu dapat memberi efek flip, maksudnya dapat
dibolak-balik sehingga seperti membaca buku sesungguhnya, aplikasi ini
mudah digunakan, tidak hanya berupa tulisan saja tetapi dapat juga disertai
gambar, suara maupun vdeo, produk yang dapat dihasilkan dapat
dipublikasikan pada website berbentuk SWF atau Flash, dan HTML.
Secara umum menurut Anwar (2014), proses produksi media flipbook
terdiri dari tiga tahap, yaitu pra produksi, produksi dan pasca produksi.
Adapun rinciannya adalah sebagai berikut:
a. Tahap pra produsi meliputi kegiatan perencanaan dalam tahap persiapan
pembuatan flipbook. Adapun tahapannya adalah sebagai berikut:
1) Menelaah tujuan pembelajaran. Hal ini menjadi acuan dari penyusunan isi dari
flipbook tersebut.
2) Menyusun jabaran materi untuk dijadikan sebagai isi dari flipbook
3) Materi yang telah dijabarkan, disusun menjadi rangkuman yang mewakili dari
indikator pembelajaan dari materi tersebut.
18
4) Mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan untuk pembuatan fisik
flipbook, seperti kertas (boleh menggunakan berbagai jenis kertas) serta bahan
lainnya untuk hiasan flipbook, gunting dan lain-lain.
b. Tahap produksi meliputi kegiatan langkah-langkah pembuatan flipbook.
Adapaun riciannya adalah:
1) Pembuatan flipbook bisa manual atau dibuat secara hand made, atau bisa
dengan bantuan aplikasi komputer, misalnya aplikasi Ms. Powerpoint,
Photoshop dan lain-lain.
2) Mengatur ukuran kertas yang akan dijadikan flipbook. Adapun ukuran yang
dipakai biasanya berkisar 10cm x 13 cm, seperti ukuran kalender kecil.
3) Menentukan desain flipbook sesuai keinginan.
4) Memasukkan materi-materi yang telah dirangkum pada tahap pra produksi.
5) Membubuhkan hiasan-hiasan maupun gambar sesuai kebutuhan.
c. Tahap pasca produksi adalah tahap akhir dari pembuatan media. Tahap ini
merupakan sentuhan akhir sebelum dimanfaatkan. Adapun tahap pasca
produksi antara lain meliputi:
1) Editing, hal ini dilkaukan untuk mengecek kembali isi maupun desain
flipbook.
2) Revisi kekurangan yang ada dalam isi maupun desain flipbook sehingga sesuai
dengan perencanaan yang telah dibuat.
3) Flipbook sudah bisa untuk digunakan sebagai media pembelajaran. Flipbook
ini busa digunakan secara indivisu maupun kelompok.
Metode pembelajaran dengan menggunakan e-model berbasis flipbook
19
diharuskan mampu meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Hal ini
disesuaikan dengan kurikulum 2013 yang diharapkan mampu memberikan
perubahan yang terjadi dari dunia pendidikan. Metode pembelajaran
menggunakan e-modul berbasis flipbook bersifat efektif, efisien dan menarik
untuk generasi sekarang karena sifatnya bukan hanya berupa teks, melainkan
terdapat gambar, audio, video. Sehingga hal tersebut seharusnya mampu
meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa khususnya di SMPN 1 Bringin.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Edi W. & Dona D.P. (2018),
menunjukkan bahwa e-modul dengan menggunakan flipbook maker dianggap
layak untuk digunakan dalam pembelajaran. Kemudian penelitian lain yang
dilakukan oleh Silvia O. & Sunaryo s. (2020) menunjukkan bahwa e-modul
berbasis flipbook sanngat layak dan efektif digunakan untuk meningkakan
motivasi belajar siswa. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Riris N.,
Susilo, dan Lisdiana (2014) menunjukkan bahwa modul yang yang
dikembngkan dinyatakan layak, efektif dan praktis digunkanan dalam
pembelajaran IPA di sekolah.
5. Motivasi Siswa
Istilah motivasi menurut Isbandi Rukminto Adi (1994) yaitu berasal
dari kata motif yang dapat diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri
infvidu, yang menyebabkan individu tersebut bertindak atau berbuat. Motif
tidak dapat diamati secara langsung, tetpi dapat diinprestasikan dalam tingkah
lakunya, berupa rangsangan, dorongan, atai pembangkit tenaga munculnya
suatu tingkah laku tertentu. Motivasi adalah perubahan energi dalah diri
20
pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk
mencapai tujuan. Motivasi merupakan sebuah usaha yang harus disadari
seseorang dan menggerakannya serta mengarahkan untuk melakukan sesuatu
hal agar terdorong untuk mencapai hasil atau tujuan tertentu. Motivasi
merupakan keinginan, kemauan, kehendak, dan daya yang mendorong
seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan tertentu (Warti, 2016).
Menurut Purwa Atmaja Prawira, 2017 motivasi belajar siswa adalah
keseluruhan daya penggerak yang terdapat dalam diri siswa yang
mendorong,memantapkan,dan mengarahkan untuk melakukan aktifitas pada
kegiatan belajar siswa sebagai hasil pengalamannya sendiri guna mencapai
suatu tujuan dan memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru. Setiap
diri siswa memiliki daya pergerakan atau motivasi yang harus selalu di
kembangkan oleh guru untuk memantapkan dan mengarahkan siswa untuk
melakukan aktivitas dalam proses pembelajaran guna mencapai tujuan
pembelajaran dan adanya perubahan tingkah laku pesrta didik kearah yang
lebih baik. Jadi, motivasi belajar siswa harus selalu ditingkatkan oleh guru
Ilmu Pengetahuan Alam, karena motivasi belajar yang dimiliki setiap siswa
berbeda-beda. Penelitian Hamzah, 2017 menegaskan bahwa motivasi belajar
adalah dorongan internal dan ekternal pada siswa yang sedang belajar
sehingga mengadakan perubahan tingkah laku dengan indicator sebagai
berikut:
a. Adanya hasrat dan keinginan untuk sukses dan berhasil.
b. Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar.
21
c. Adanya harapan dan cita-cita masa depan.
d. Adanya penghargaan dalam kelompok.
e. Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar.
f. Adanya lingkungan yang kondusif, sehingga siswa dapat belajar dengan
baik.
Motivasi merupakan suatu proses yang bertujuan untuk memenuhi
kebutuhan tertentu dengan cara menggiatkan motif menjadi perbuatan atau
tingkah laku. Dalam kegiatan pembelajaran, motivasi dapat diartikan sebagai
penggerak pada diri siswa untuk melaksanakan proses atau kegiatan belajar
untuk mencapai tujuan yag telah ditetapkan. Oleh karena itu, sebagai sarana
untuk meningkatkan motivasi siswa maka diperlukan media dan bahan ajar
yang baik yang mendukung kegiatan pembelajaran daring seperti e-modul.
(Palupi, 2014)
Pada penelitian ini, motivas yang digunakan berupa motivasi belajar
pada materi cahaya yang menggunakan metode pembelajaran e-modul
berbasis flipbook. Motivasi belajar merupakan suatu hal berupa dorongan dan
hasrat yang mengarahkan siswa untuk meningkatkan suatu pemahaman
konsep dan teori yang lebih baik sehingga bisa mencapai tujuan pembelajaran
tersebut. Motivasi belajar siswa dapat dilihat dari motivasu belajar yang tingi,
motivasi belajar rendah dan motivasi belajar tinggi. Siswa yang memiliki
motivasi belajar rendah berarti adanya ada permasalahan. Salah satu
permasalahan yang terjadi karena metode pembelajaran yang membosankan
sehingga minat dan motivasi belajar siswa menjadi rendah, dan juga
22
sebaliknya apabila siswa memiliki motivasi belajar tinggi intensitas dan upaya
dalam belajar semakin meningkat dan mampu mempengaruhi hasil belajar
siswa.
Fungsi motivasi yang berkenaan dengan proses pembelajaran, antara
lain sebagai berikut:
1. Mendorong siswa untuk berbuat, artinya motivasi bisa dijadikan sebagai
penggerak. Motivasi dalam hal ini merupakan penggerak dari setiap
kegiatan yang akan dikerjakan.
2. Menentukan arah perbuatan ke arah tujuan yang hendak dicapai, dengan
demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus
dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuan.
3. Menyeleksi perbuatan, yaitu menentukan perbuatan-perbuatan apa yang
harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan dengan menyisikan
perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.
6. Hasil Belajar Siswa
Hasil belajar yaitu perubahan-perubahan yang terjadi pada siswa, baik
yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik sebagai hasil dari
kegiatan belajar. Pengertian tentang hasil belajar sebagaimana di uraikan
diatas di pertegas lagi oleh Nawawi, 2017 yang menyatakan bahwa hasil
belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari
materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam skor yang di peroleh dari
hasil tes mengenal sejumlah materi pelajarn tertentu.
Secara sederhana, yang dimaksud dengan hasil belajar siswa adalah
23
kemamapuan yang diperolah anak setelah melalui kegiatan belajar, karena
belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk
memperolah suatu bentuk perubahan perilaku yang relati menetap. Dalam
kegiatan pembelajaran atau kegiatan intruksional, biasanya guru menetapkan
tujuan pembelajaran. Anak yang berhasil dalam belajar adalah yang berhasil
mencapai tujua-tujuan pembelajaran atau tujuan intruksional.
Hasil belajar siswa tersebut menjadikan siswa paham akan materi yang
telah dipelajari dalam proses belajar mengajar yang telah dijalani. Pemahaman
dari hasil belajar tersebut mampu meningkatkan hafalan dan ingatan siswa.
Wahidmurni (2010) menjelaskan bahwa seorang dapat dikatakan telah
berhasil dalam belajar jika siswa mampu menunjukkan adanya perubahan
dalam dirinya. Perubahan-perubahan tersebut diantaranya dari segi
kemampuan berpikirnya, keterampilannya, atau sikapnya terhadap suatu
objek.
Cara mengetahui apakah hasil belajar yang di capai telah sesuai dengan
tujuan yang dikehendaki dapat diketahui melalui evaluasi. Sebagaimana
dikemukakan oleh Sunal, bahwa evaluasi merupakan proses penggunaan
informasi untuk membuat pertimbangan seberapa efektif suatu program telah
memenuhi kebutuhan siswa. Selain itu, dengan dilakukannya evaluasi atau
penilaian ini dapt dijadikan feedback atau tindak lanjut, atau bahkan cara
untuk mengukur tungkat penguasaan siswa. Kemajuan prestasi belajar siswa
tidak saja diukur dari tingkat penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga sikap
dan keterampilan. Penilaian hasil belajar siswa mencakup segala hal yang
24
dipelajari disekolah, baik itu pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang
berkaitan dengan mata pelajaran yang diberikan siswa
Adanya e-modul berbasis flipbook terhadap motivasi dan hasil belajar
siswa pada materi cahaya harus mampu memberikan perubahan atas motivasi
dan hasil belajar siswa. Penilaian hasil belajar mengisyaratkan hasil belajar
sebagai program atau objek penilaian pada hakikatnya menilai penguasaan
siswa terhadap tujuan-tujuan intruksional. Hal ini menggambarkan
kemampuan siswa setelah menerima pembelajaran atau menyelesaikan
pengalaman belajarnya. Berdasarkan pernyatataan diatas, diketahui bahwa
hasil belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi kepada siswa meliputi
kognitif, afektif dan psikomotor yang dimiliki oleh siswa. Karena pada
hakikatnya hasil dari seorang siswa yang belajar adalah perubahan, baik
perubahan itu menuju arah peningkatan, pengembangan, ataupun penurunan.
B. Kerangka Berpikir
Langkah yang dilakukan peneliti adalah membentuk dua kelas yaitu
kelas eksperimen yang diajar dengan menggunakan metode pembelajaran e-
modul berbasis flipbook dan kelas kontrol yang diajar dengan menggunakan
metode pembelajaran Direct Instruction (DI). Adapun kerangka pikir dari
penelitian ini dijelaskan pada alur melalui gambar berikut:
25
Landasan Ideal Fakta Lapangan
1. Pembelajaran pada mata pelajaran IPA 1. Pembelajaran masih berpusat pada
sehrusnya berpusat pada pendekatan yang guru.
lebih scientific dan berpusat pada siswa. 2. Model yang digunakan masih
2. Model pembelajaran dalah salah satu cara konvensional.
yang dapa diterapkan guru untuk mencapai 3. Motivasi belajar siswa yang masih
tujuan pembelajaran. belum aktif sehingga memengaruhi
3. Motivasi belajar siswa adalah keseluruhan aktivitas belajar siswa belum terlihat
daya penggerak yang terdapat dalam diri keterampilan yang maksimal.
siswa yang mendorong, memantapkan dan 4. Hasil belajar siswa pada materi cahaya
mengarahkan untuk melakukan aktivitas masih rendah.
belajar.
4. Hasil belajar siswa digunakan untuk
menentukan kompetensi atau kemampuan
tertentu untuk yang dicapai oleh siswa dalam
Harapan
mengikuti pembelajaran.
1. Adanya Penerapan
pengaruh e-modul
e-modul berbasis flipbook
berbasis padaterhadap
flipbook materi cahaya.
motivasi dan hasil
belajar siswa.
2. Motivasi dan hasil belajar siswa dapat meningkat.
Solusi
Penerapan e-modul berbasis flipbook yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi
dan hasil belajar siswa pada materi IPA.
26
B. Hipotesis Penelitian
Hipoteses penelitian adalah proposisi atau pernyataan yang dikemukakan
dalam sebuah penelitian untuk menguji atau menyelidiki hubungan antara variael
atau fenomena yang sedang diteliti. Hipotesis penelitian berfungsi sebagai
dugaan atau asumsi awal yang harus diuji melalui pengumpulan dan analisis data
dalam rangka mencapai pemahaman yang lebih baik tentang subjek penelitian.
Ada dua jenis hipotesis penelitian yang umum, yaitu:
a. Hipotesis Nol (Hᴏ) : Pernyataan yang mengasumsikan bahwa tidak ada
hubungan atau perbedaan yang signifikan antara variabel-variael yang diuji
dalam penelitian.
b. Alternatif Hipotesis (H1 atau Ha) : Pernyataan yang mengansumsikan bahwa
ada hubungan atau perbedaan yang signifikan antara variabel-variabel yang
diuji dalam penelitian. Dari permasalahan yang ada pada penelitian ini, maka
penulis dapat memberikan hipotesis sebagai berikut:
Hᴏ: Tidak ada pengaruh dalam penggunaan media pembelajar e-modul
berbasis flipbook untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa
pada materi cahaya di kelas VIII SMPN 1 Bringin.
H1: Adanya pengaruh dalam penggunaan media pembelajar e-modul berbasis
flipbook untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada materi
cahaya di kelas VIII SMPN 1 Bringin.
27
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat penelitian ini dilakukan pada siswa kelas VIII SMPN 1 Bringin
yang beralamat di Jalan Krompol, Kecamatan Bringin, Kabupaten Ngawi.
Waktu penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran
2023/2024. Berikut tabel waktu penelitian:
MARET
Kegiatan 1 2 3 4
8C 8D 8C 8D 8C 8D 8C 8D
Data Awal √ √
Pretest √ √
Mengisi materi cahaya
√ √ √ √
berbasis flipbook
Postest √ √
Data Akhir √ √
Alasan peneliti memilih penelitian di SMP Negeri 1 Bringin sebagai
tempat penelitian karena permasalahan yang akan diteliti dapat ditemukan di
lokasi tersebut. Selain itu, lokasi penelitian ini juga mudah dijangkau oleh
peneliti.
B. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif berdasarkan
informasi statistika. Pendeketan penelitian yang menjawab permasalahan
penelitian memerlukan pengukuran yang cermat terhadap variabel-variabel dari
objek yang diteliti untuk menghasilkan kesimpulan yang daat digeneralisasikan
terlepas dari konteks waktu, tempat dan situasi.
28
Menurut Sugiyono (2016) metode penelitian kuantitatif dapat diartikan
sebagai metode penelitian berlandasrkan pada filsafat positivisme, digunakan
untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel
umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instruen
penelitian, analisis data bersifat kuantitatif atau statistik dengan tujuan untuk
menguji hipotesis yang telah ditetapkan.
Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
pendekatan kuantitatif merupakan suatu pendekatan di dalam penelitian untuk
menguji hipotesis dengan menggunkan uji statistik yang akurat. Berdasarkan
latar belakang dan rumusan masalah yang disebutkan, penelitian ini
menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mengukur pengaruh e-modul
berbasis flipbook terhadap motivasi dan hasil belajar siswa
Desain penelitian ini yang digunakan adalah pretest-posttest group
design. Desain penelitian pretest-posttest group design ini terdapat dua
kelompok yang dipilih dengan sampling jenuh, kemudian diberi Prestest untuk
mengetauhi keadaan awal adakah perbedaan antara kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol (Sugiyono, 2011). Hasil pretest yang baik bila nilai
kelompok eksperimen tidak berbeda secara signifikan. Posttest dilakukan untuk
mengetahui pemahaman konsep yang digunakan dalam penelitian antara
kelompok eksperimen dan kelompok. Desain penelitian tersebut disajikan
dalam tabel:
29
Tabel 3.1
Pretest-Posttest Group Design
Kelas Pretest Perlakuan Posttest
Eksperimen X1 P1 Y1
Kontrol X2 P2 Y2
Keterangan:
XI : Pretest di kelas eksperimen
Y2 : Posttest di kelas kontrol
X2 : Pretest di kelas kontrol
Y1 : Posttest di kelas eksperimen
P1: Perlakuan di kelas eksperimen menggunakan model pembelajaran e-
modul berbasis flipbook.
P2 : Perlakuan di kelas kontrol menggunkan model pembelajaran direct
instructio.
C. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel
1. Populasi
Menurut Sugiyono (2016) populasi adalah wilayah generalisasi
yang terdiri atas objek/subjek, yang mempunyai kualitas dan
karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti unutuk mempelajari
dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi juga bukan sekadar
jumlah yang ada pada objek atau subjek yang dipelajari, tetapi meliputi
karakteristik yang dimiliki oleh objek atau objek itu. Populasi yang
akan diteliti dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII di SMPN 1
30
Bringin, Ngawi sebanyak 60 siswa. Adapaun jumlah siswa kelas VIII
SMPN 1 Bringin sebagai berikut:
No Kelas Jumlah Siswa
1. VIII C 30
2. VIII D 30
Jumlah 60
2. Sampel
Menurut Sugiyono (2016) sampel adalah bagian dari jumlah dan
karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar,
dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi,
misalnya karena keterbatasan dana, tenaga, waktu maka peneliti dapat
menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Sampel dalam
penelitian ini adalah siswa kelas VIII C dan kelas VIII D di SMPN 1
Bringin, Ngawi.
3. Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan teknik
non probability sampling dengan metode pengambilam sampel yang
dilakukan adalah metode puposive sampling. Menurut Sugiyono (2016)
purposive sampling adalah teknik penentuan sampel dengan
pertimbangan tertentu. Pertimbangan sampel yang ditetapkan ialah
siswa kelas VIII C di SMPN 1 Bringin, Ngawi yang telah melakukan
pembelajaran menggunakan metode pembelajar e-modul berbasis
flipbook dan untuk kelas VIII D di SMPN 1 Bringin, Ngawi yang masih
menggunakan metode pembelajaran secara DI (Direct Instruction).
31
Pertimbangan tersebut diambil karena responden memiliki pengalaman
menggunakan metode pembelajaran tersebut, sehingga memudahkan
peneliti untuk mendapatkan data primer yang akurat.
D. Teknik Pengumpulan Data
Menurut Margono (2010) menyatakan bahwa teknik pengumpulan
data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian. Penggunaan
teknik dan alat pengumpul data yang tepat memungkinkan diperolehnya
data yang objektif. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik
pengumpulan data sebagai berikut:
1. Observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematik
terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian, (Joko Subagyo,
2015). Observasi digunakan untuk mengetahui aktivitas siswa
selama proses belajar mengajar berlangsung. Observasi yang
digunakan dalam penelitian ini adalah observasi partisipan yaitu
peneliti terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Hasil observasi
didapat dari penelitian pada proses pembelajaran berlangsung serta
tujuan pembelajaran untuk mendapatkan informasi pada obyek
penelitian.
2. Tes merupakan instrumen pengumpul data adalah serangkaian
pertanyaan atau latihan yang digunakan untuk mengukur
keterampilan, pengetahuan, inteligensi, kemampuan, atau bakat
yang dimiliki oleh individu atau kelompok.
32
Dari 35 soal tersebut, telah terdapat kisi-kisi tes kompetensi berpikir yang telah disiapkan sebelum membuat
sebuah soal. Berikut kisi-kisi kompetensi berpikir kritis siswa:
Nomor
Sub Pokok
No Kompetensi Dasar Indikator Butir Jumlah
Bahasan
Soal
1. Menyelidiki sifat-sifat Pemantulan cahaya Disajikan sebuah argumentasi 1
cahaya dan hubungannya tentang bayangan yang dibentuk
dengan berbagai bentuk oleh cermin datar, siswa diminta
cermin dan lensa dapat menentukan sebuah
pilihan yang tepat.
Disajikan sebuah pernyataani 2
tentang cahaya, siswa diminta
dapat menentukan sebuah
33
pilihan yang tepat.
Disajikan sebuah argumentasi 3
tentang salah satu bukti cahaya
merambat lurus, siswa diminta
dapat menentukan sebuah
pilihan yang tepat.
Disajikan sebuah argumentasi 4
tentang sumber cahaya, siswa
diminta untuk menentukan
cahaya yang dipantulkan.
Disajikan sebuah deskripsi 5
Seberkas sinar yang datang
menyebar jika jatuh pada
permukaan cermin datar, siswa
34
diminta dapat menentukan
pilihan yang tepat.
Disajikan sebuah argumentasi
tentang titik bayangan maya, 6
siswa diminta dapat menentukan
titik potong yang tepat.
Disajikan sebuah argumentasi
tentang Sebuah benda terletak 7
di luar P dan O cermin cekung,
siswa diminta menentukan
bayangan yang terbentuk cermin
itu.
Disajikan sebuah argumentasi
tentang jalannya sinar istimewa 8
35
pada cermin cembung, siswa
diminta menentukan titik fokus
yang akan dipantulkan.
Disajikan sebuah argumentasi
tentang cermin cekung dengan 9
jari-jari 40cm diletakkan sebuah
benda pada jarak 10cm dari
cermin, siswa diminta dapat
menentukan bayangan yang
terbentuk bersifat apa.
Disajikan sebuah argumentasi
tentang seberkas cahaya datang 10
menuju pusat optik lensa
cembung, siswa diminta
36
menentukan sebuah pilihan
yang tepat.
Disajikan sebuah argumentasi
tentang peristiwa pembiasaan
cahaya dapat terjadi, siswa 11
diminta menentukan cahaya bisa
merambat terjadi karena apa.
Disajikan sebuah argumentasi
tentang sebekas sinar datang
dari udara ke air, siswa diminta 12
dapat menentukan jalannya
sinar dalam air yang benar.
Disajikan sebuah deskripsi
sudut bias, siswa diminta
37
menentukan pilihan yang tepat.
Disajikan sebuah argumentasi 13
bayangan yang akan dibentuk
oleh lensa cekung, siswa
diminta untuk menentukan 14
sifatnya.
Disajikan sebuah argumentasi
tentang dasar kolam yang berair
jernih selalu tampak lebih
dangkal, siswa diminta untuk 15
menentukan penyebabnya.
Disajikan sebuah argumentasi
tentang bayangan yang dibentuk
oleh lensa cekung, siswa
38
diminta untuk menentukan
pilihan yang tepat. 16
Disajikan sebuah argumentasi
tentang peristiwa dispersi
cahaya, warna merah, siswa
diminta untuk menentukan
pilihan yang tepat. 17
Disajikan sebuah argumentasi
tentang pelangi yang dapat
dilihat, siswa diminta untuk
menentukan pilihan yang tepat.
Disajikan sebuah pernyataan 18
pada prisma yang salah satu
bidang batasnya jatuh sinar
39
datang dan membuat sudut
jatuh/datang tertentu, siswa
diminta untuk menentukan 19
sebuah pilihan yang tepat.
Disajikan sebuah argumentasi
tentang cermin cekung, siswa
diminta untuk menentukan
sebuah pilihan yang tepat.
Disajikan sebuah pernyataan
tentang sinar istimewa yang 20
terjadi pada cermin cembung,
siswa diminta untuk
menentukan sebuah pilihan
yang tepat. 21
40
Disajikan sebuah masalah dasar
sungai yang airnya jernih
tampak dangkal dari yang
sesungguhnya. siswa diminta
untuk menentukan penyebabnya
yang tepat. 22
Disajikan sebuah deskripsi
tentang syarat terjadinya
pemantulan sempurna berkas
cahaya, siswa diminta untuk
menentukan sebuah pilihan
yang tepat. 23
Disajikan sebuah deskripsi sifat
bayangan yang dibentuk oleh
41
benda yang terletak di depan
cermin cembung, siswa diminta
untuk menentukan sebuah
pilihan yang tepat.
Disajikan sebuah deskripsi 24
tentang bukti bahwa cahaya
merambat secara lurus, siswa
diminta untuk menentukan
sebuah pilihan yang tepat.
Disajikan sebuah deskripsi
tentang sifat-sifat bayangan 25
yang dibentuk cermin datar,
siswa diminta untuk
menentukan sebuah pilihan
42
yang tepat.
Disajikan sebuah deskripsi
tentang bagian mata yang 26
menerima bayangan yang
dibentuk oleh lensa, siswa
diminta untuk menentukan
sebuah pilihan yang tepat.
Disajikan sebuah deskripsi
dengan menggunakan lup dan 27
pengamatan dilakukan dengan
mata tak berakomodasi, sifat
bayangan yang terbentuk, siswa
diminta untuk menentukan
sebuah pilihan yang tepat.
43
Disajikan sebuah deskripsi
tentang sifat bayangan akhir 28
yang dibentuk oleh mikroskop,
siswa diminta untuk
menentukan sebuah pilihan
yang tepat.
Disajikan sebuah argumentasi
tentang diafragma, siswa
diminta untuk menentukan 29
fungsi dari diafragma tersebut.
Disajikan sebuah deskripsi
tentang bagian mata yang paling
peka terhadap cahaya dan
bayangan yang diihat mata,
44
siswa diminta untuk
menentukan sebuah pilihan 30
yang tepat.
Disajikan sebuah pernyataan
tentang bayangan cahaya, siswa
diminta untuk menentukan 31
bayangan tersebut.
Disajikan sebuah deskripsi
tentang sifat sifat cahaya
polikromatis, siswa diminta
untuk menentukan sifat cahaya
tersebut.
Disajikan sebuah masalah 32
tentang sebuah benda diletakkan
45
pada jarak 90cm di depan
sebuah cermin cekung dengan
jarak titik api 6cm sehingga
terbentuk bayangan, siswa 33
diminta untuk menentukan sifat
bayangan tersebut.
Disajikan sebuah deskripsi
tentang punctum remotum mata
dewasa normal terletak pada 34
jarak berapa, siswa diminta
untuk menentukan jarak
punctum remotum pada mata
tersebut.
46
35
47
Tes yang akan digunakan adalah tes berupa soal uraian berjumlah 30
butir soal:
1. 2. Bayangan yang dibentuk oleh c. (2) dan (4)
cermin datar selalu bersifat... d. (3) dan (4)
a. Nyata,tegak, dan sama 4. Salah satu bukti cahaya
besar merambat lurus adalah.....
b. Maya, tegak, dan sama a. Terjadinya gerhana
besar matahari dan bulan
c. Nyata, terbalik, dan b. Terbentuknya bayangan
diperbesar maya
d. Maya, terbalik, dan c. Terjadinya perbesaran
diperkecil bayangan
3. Perhatikan beberapa d. Terjadinya pelangi pada
pernyataan berikut: siang hari
I. Cahaya akan membias 5. Benda berikut yang
jika laju rambatanya sebeneranya bukan sumber
berubah cahaya, namun hanya
II. Dispersi akan memantulkan cahaya
menghasilkan warna adalah.....
beda a. Bintang
III. Spion mobil berfungsi b. Matahari
sebagai reflektor c. Planet venus
IV. Cermin cekung dapat d. Kunang-kunang
membiaskan cahaya
Pernyataan yang benar 6. Seberkas sinar yang datang
ditunjukkan oleh nomor.... menyebar jika jatuh pada
a. (1) dan (2) permukaan cermin datar
b. (1) dan (3) akan......
a. Dipantulkan sejajar c. Dipantulkan kembali
b. Dipantulkan menyebar d. Dipantulkan melalui titik
c. Dipantulkan mengumpul pusat cermin
d. Dibiaskan mengumpul 10. Di depan cermin cekung
7. Titik bayangan maya adalah dengan jari-jari 40cm
titik potong.... diletakkan sebuah benda
a. Sinar-sinar datang yang pada jarak 10cm dari cermin.
divergen Bayangan yang terbentuk
b. Sinar-sinar datang yang bersifat.....
konvergen a. Maya, tegak, dan
c. Perpanjangan sinar-sinar diperbesar
pantul yang divergen b. Maya, terbalik, dan
48
d. Perpanjangan sinar-sinar diperkecil
pantul yang konvergen c. Nyata, tegak, dan
8. Sebuah benda terletak di luar diperbesar
P dan O cermin cekung. d. Nyata, terbalik, dan sama
Bayangan yang terbentuk besar
cermin itu besifat....... 11. Seberkas cahaya datang
a. Nyata, terbalik, dan menuju pusat optik lensa
diperkecil cembung, maka cahaya
b. Nyata, terbalik, dan tersebut akan....
diperbesar a. Dipantulkan
c. Nyata, tegak, dan sama b. Diteruskan
besar c. Dipantulkan sejajar
d. Nyata, tegak, dan sumbu utama
diperesar d. Dibiaskan sejajar sumbu
9. Jalannya sinar istimewa pada utama
cermin cembung yang 12. Peristiwa pembiasaan
menuju titik fokus akan cahaya dapat terjadi apabila
dipantulkan... cahaya merambat....
a. Sejajar sumbu utama a. Menurut garis lurus
b. Seaolah-olah berasal dari b. Melalui ruang hampa
titik fokus c. Melalui dua medium
yang berbeda kerapatan
d. Melalui udara ke medium a. Cahaya yang datang dari
zat lainnya udara dibiaskan
13. Jika sebekas sinar datang dari mendekati garis normal
udara ke air, jalannya sinar ketika memasuki air
dalam air yang benar adalah.... b. Cahaya yang berasal dari
a. Lurus dengan sinar matahari dasar kolam dibiaskan
b. Dibaiskan mendekatkan menjauhi garis normal
garis normal ketika keluar dari
c. Dibiaskan menjauhi garis permukaan air
normal c. Cahaya ketika memasuki
d. Dibiaskan beimpit dengan air dibiaskan menjauhi
garis normal garis normal
14. Sudut bias adalah sudut antara d. Cahaya ketika keluar dari
sinar... permukaan air dibiaskan
a. Bias dengan garis mendekati garis normal
normal 17. Bayangan yang dibentuk
b. Bias dengan sinar oleh lensa cekung akan....
datang a. Selalu maya
c. Bias dengan bidang b. Selalu nyata
batas c. Tergantung jaraknya dari
d. Datang dengan sinar
49
bias pusat optik lensa
15. Bayangan yang akan dibentuk d. Selalu berbentuk di
oleh lensa cekung selalu tempat tak terhingga
bersifat.... 18. Pada peristiwa dispersi
a. Nyata, tegak, dan diperbesar cahaya, warna merah
b. Nyata, terbalik, dan memiliki.....
diperbesar a. Indeks bias terbesar dan
c. Maya, terbalik, dan panjang gelombang
diperkecil terkecil
d. Maya, tegak, dan diperkecil b. Indeks bias terbesar dan
16. Dasar kolam yang beair jernih panjang gelombang
selalu tampak lebih dangkal terbesar
dari sebenarnya. Hal ini c. Indeks bias terkecil dan
disebabkan oleh..... panjang gelombang
terkecil
d. Indeks bias terkecil dan 22. Pernyataan berikut yang
panjang gelombang besar bukan merupakan sinar
19. Pelangi hanya dapat dilihat jika... istimewa yang terjadi pada
a. Kita membelakangi matahari cermin cembung adalah....
dan di depan kita terjadi a. Sinar datang sejajar sumbu
gerimis utama dipantulkan seolah-
b. Kita mengadapat matahari dan olah dari titik fokus utama
di hadapan kita terjadi hujan cermin
c. Menhadap matahari dan di b. Sinar datang menuju titik
belakang kita terjadi gerimis pusat kelengkungan
d. Membelakangi matahari dan dipantulkan melalui titik
di belakang kita terjadi hujan itu juga
20. Pada prisma yang salah satu c. Sinar datan menuju titik
bidang batasnya jatuh sinar fokus utama cermin
datang dan membuat sudut cembung dipantulkan
jatuh/datang tertentu, pernyataan sejaajr sumbu utama
berikut yang benar adalah... d. Sinar datang sejajar sumbu
a. Besar sudut deviasinya tetap utama dipantulkan seolah-
b. Sudut bias terakhir akan olah dari pusat
semakin besar jika sudut kelengkungan cermin
datang pertamanya semakin 23. Dasar sungai yang airnya
kecil jernih tampak dangkal dari
c. Tidak akan pernah terjadi yang sesungguhnya.
sudut deviasi minimum Peristiwa ini disebabkan
d. Semakin kecil sudut datang, oleh...
akan semakin kecil pula sudut a. Pembiasaan cahya dari air
biasnya ke udara menjauhi garis
21. Cermin cekung dapat digunakan
50
untuk normal
a. Kaca spion b. Pemantulan sempurna
b. Cermin hias c. Pembiasan cahaya dari
c. Reflektor udara ke air menjauhi
d. Memperbesar bayangan garis normal
d. Pembiasan cahaya daru air
ke dara mendekati garis
normal
24. Syarat terjadinya pemantulan a. Maya, tegak, sama besar,
sempurna berkas cahaya adalah... dan terbalik atas-bawah
a. Sudut datang membentuk b. Maya, tegak, sama besar,
sudut ktitis dan terbalik kiri-kanan
b. Sudut datang sama dengan c. Nyata, tegak, sama besar,
sudut batas dan terbalik atas-bawah
c. Sinar datang dari medium d. Nyata, sama besar, dan
yang rapat ke medium yang terbalik kiri-kanan
lebih renggang 28. Bagian mata yang menerima
d. Sinar datang dari medium bayangan yang dibentuk oleh
renggang ke medium yang lensa adalah....
lebih rapat a. Retina c. pupil
25. Sifat bayangan yang dibentuk b. Kornea d. iris
oleh benda yang terletak di 29. Dengan menggunakan lup
depan cermin cembung adalah... dan pengamatan dilakukan
a. Nyata, tegak, dan dengan mata tak
diperbesar berakomodasi, sifat bayangan
b. Nyata, terbalik, dan yang terbentuk adalah....
diperkecil a. Nyata, tegak, diperkecil
c. Maya, tegak, dan b. Maya, terbalik, dan
diperkecil diperbesar
d. Maya, tegak, dan c. Maya, tegak, diperbesar
diperbesar d. Nyata, tegak, diperbesar
26. Bukti bahwa cahaya merambat 30. Sifat bayangan akhir yang
secara lurus adalah.... dibentuk oleh mikroskop
a. Bayangan benda memiliki adalah....
bentuk menyerupai benda asli a. Maya, tegak, diperbesar
b. Cahaya lilik tampak dari b. Nyata, terbalik,
kejauhan diperkecil
c. Sudut-sudut ruangan tetap c. Nyata, tegak, diperbesar
tampak terang walaupun tidak d. Maya, terbalik, diperkecil
terkena langsung cahaya
matahari
d. Kelanjan cahaya mencapai 3 x
51
10² m/s
27. Sifat-sifat bayangan yang
dibentuk cermin datar adalah....
31. Diafragma kamera berfungsi b. Bergerak dengan
untuk...... kelajuan yang lebih
a. Mengatur banyaknya besar dari kelajuan
cahaya yang masuk ke cahaya
dalam kamera c. Merambat lurus
b. Menentukan kepekaan d. Tidak dapat diuraikan
cahaya pada lensa menjadi spektrum
c. Mengatur jarak bayangan warna
pada kemara 35. Sebuah benda diletakkan
d. Mengatur ketajaman pada jarak 90cm di
gambar yang diperoleh depan sebuah cermin
32. Bagian mata yang paling peka cekung dengan jarak titik
terhadap cahaya dan bayangan api 6cm sehingga
yang diihat mata adalah.... terbentuk bayangan yang
a. Iris c. Pupil sifatnya....
b. Kornea d. Retina a. Maya, tegak, dan
33. Pernyataan berikut yang benar diperkecil
adalah.... b. Nyata, terbalik, dan
a. Bayangan maya adalah titik diperbesar
potong sinar-sinar pantul c. Maya, tegak, dan
b. Bayangan nyata adalah titik diperbesar
potong perpanjangan sinar- d. Nyata, terbalik,dan
sinar pantul diperbesar
c. Bayangan maya adalah titik 36. Punctum remotum mata
potong perpanjangan sinar- dewasa normal terletak
sinar pantul pada jarak sekitar...
d. Bayangan nyata adalah titik a. 0 cm
potong perpanjngan sinar- b. 25 cm
sinar datang c. 50 cm
34. Berikut ini yang bukan d. Tak berhingga
merupakan sifat-sifat cahaya
polikromatis adalah....
a. Merupakan gelombang
elektromagnetik
52
53
DAFTAR PUSTAKA
Adinda,dkk Pengaruh Penggunaan Media Flash Flipbook terhadap Motivasi Belajar
Siswa Dalampembelajaran Mata Pelajaransejarah Kelas Xismanegeri 11
Pontianak, Jurnal Pendidikan dan Konseling Vol. 5 No. 1 Tahun 2022.
Asmi, A. R., & Surbakti, A. (2018), Pengembangan E-modul Berbasis Flipbook Maker
Materi dalam jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, Volume 27 Nomor 2.
Aziz Fanani, Pengembangan E-modul Pembelajaran, Program Pascasarjana, 2022
Fauziah, M. (2014), Pengembangan Media E-modul Mata Pelajaran Produktif Pokok
Bahasan Instalasi Jaringan LAN untuk Siswa Kelas IX Jurusan Teknik
Komputer Jaringan di SMK Negeri 1 Labang Bangkalan Madura, Jurnal
Mahasiswa Teknologi Pendidikan, Volume 5, Nomor 3.
Heny Sholikhatul, Pengembangan E-modul Berbasis Flipbook untuk Meningkatkan
Motivasi dan Hasil Belajar Siswa SMP Tema Cahaya, Indonesian Journal of
Natural Science Education (IJNSE) Volume 4. Nomor 2, 2021.
Intan Widyasari, dkk, Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Flipbook Pada
Materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel Di Kelas VIII SMP, Jurnal
Derivat, Volume 8 No. 1, 2021.
Nita Sunarya Herawati, dkk, Pengembangan Modul Elektronik (E-modul) Interaktif
Pada Mata Pelajaran Kimia Kelas XI SMA, Jurnal Inovasi Teknologi
Pendidikan, Volome 5, No. 2, 2018.
Palupi, R. (2014) Hubungan Antara Motivasi Hasil Belajar dan Persepsi Siswa
Terhadap Kinerja Guru Dalam Mengelola Kegiatan Belajar Dengan Hasil
Belajar IPA Siswa Kelas VIII di SMPN 1 Pacitan, Jurnal Teknologi
Pendidikan dan Pembelajaran, Volume 2 Nomor 2.
Ristanti, Peran Teknologi Informasi Komunikasi Dalam Pengembangan Kemajuan
54
Pendidikan, 2017
Sugiantoro, D., Abdullah, A.G., Evyanti, S., & Muladi, Y. (2013), Modul Virtual:
Multimedia Flipbook Dasar Teknik Digital. Jurnal Innovation of Vocational
Technology Educatecno, Volume 9 Nomor 2.
55