0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
37 tayangan11 halaman

Diskusi 5

Diunggah oleh

bagas giarto
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
37 tayangan11 halaman

Diskusi 5

Diunggah oleh

bagas giarto
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

E-LEARNING PADA MASA PANDEMI COVID-19

Disusun Oleh :

BAGAS GIARTO MULYA

PROGRAM STUDI ILMU HUKUM

UNIVERSITAS TERBUKA

PROVINSI SUMATERA SELATAN


KATA PENGANTAR

Penulis bersyukur ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat, taufiq,


dankarunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah kebidanan “E-
Learning pada masa pandemic Covid-19” dengan baik. Makalah ini, dapat
diselesaikandengan baik karena dukungan dan partisipasi berbagai pihak. Oleh
karena itu, penulismengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut
membantu terselesaikannya makalah ini yang tidak dapat kami sebutkan satu per-
satu.

Penulis menyadari bahwa tiada sesuatu yang sempurna di dunia ini,


begitupunmakalah yang telah penulis buat, baik dalam hal isi maupun
penulisannya. Akhir kata, penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat
sebagai sumbangan pemikiran kecil bagi kemajuan ilmu pengetahuan, baik di
Stikes Muhammadiyah Gombong maupun lingkungan masyarakat.

Lahat, 29 November 2021

Penulis
DAFTAR ISI

JUDUL ......................................................................................................................
.............i

KATA PENGANTAR ............................................................................................ii

DAFTAR ISI ..........................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................4

BAB III PENUTUP ................................................................................................7

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................iv


BAB I

PENDAHULUAN

Penyebaran pandemi virus corona atau COVID-19 telah


memberikantantangan tersendiri bagi lembaga pendidikan di Indonesia. Untuk
mengantisipasi penularan virus tersebut pemerintah mengeluarkan kebijakan
seperti socialdistancing, physical distancing, hingga pembatasan sosial berskala
besar (PSBB).Kondisi ini mengharuskan masyarakat untuk tetap diam di rumah,
belajar, bekerja,dan beribadah di rumah. Akibat dari kebijakan tersebut membuat
sektor pendidikanseperti sekolah maupun perguruan tinggi menghentikan proses
pembelajaran secaratatap muka. Sebagai gantinya, proses pembelajaran
dilaksanakan secara daring yang bisa dilaksanakan dari rumah masing-masing
siswa.

Sesuai dengan Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 tahun 2020 tentang


pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran
coronavirusdisease (COVID-19) menganjurkan untuk melaksanakan proses
belajar dari rumahmelalui pembelajaran daring. Kesiapan dari pihak penyedia
layanan maupun siswamerupakan tuntutan dari pelaksanaan pembelajaran daring.
Pelaksanaan pembelajarandaring ini memerlukan perangkat pendukung seperti
komputer atau laptop, gawai,dan alat bantu lain sebagai perantara yang tentu saja
harus terhubung dengan koneksi internet. Data Statistika 2019 menunjukkan
pengguna internet di Indonesia pada 2018sebanyak 95,2 juta, tumbuh 13,3% dari
2017 yang sebanyak 84 pengguna. 2 Pada tahun selanjutnya pengguna internet di
Indonesia akan semakin meningkat denganrata-rata pertumbuhan sebesar 10,2%
pada periode 2018-2023.

Pada tanggal 30 Januari 2020, WHO menetapkan Covid-19 sebagai


PublicHealth Emergency of International Concern (PHEIC) atau Kedaruratan
KesehatanMasyarakat yang Meresahkan Dunia (KKMMD). Penambahan jumlah
kasus COVID-19 berlangsung cukup cepat dan menyebar ke luar wilayah Wuhan
dan negara [Link] kasus terinfeksi terus meningkat cukup signifikan pada
waktu yang relatif cepat. Dalam kurun waktu 6 bulan, sudah 216 negara di dunia
terjangkit virus ini.
Menurut WHO, jumlah kasus terkonfirmasi positif pada tanggal 25 Juni telah
mencapai 9.296.202, dengan angka kematian mencapai 479.433 orang
([Link]

Dampak dari adanya COVID-19 menyebabkan perekonomian di Indonesia


menjadi merosot, menjatuhkan nilai tukar rupiah, harga barang naik, terutama
alat-alat kesehatan. Penanggulangan ekstrem seperti Lockdown suatu daerah
bahkan suatu negara pun dilakukan sebagai upaya untuk meminimalisir
penyebaran penyakit tersebut (Zahrotunni’mah, 2020 : 248). Menurut Hongyue
dan Rajib (dalam Ginting :2020), dampak pandemik terhadap perekonomian,
sosial, keamanan, serta politik akan mempengaruhi kondisi psikologis dan
perubahan perilaku yang sifatnya lebihluas dalam jangka waktu yang lebih
panjang. Perubahan perilaku tersebut mencakup perilaku hidup sehat, perilaku
menggunakan teknologi, perilaku dalam pendidikan, perilaku menggunakan
media sosial, perilaku konsumtif, perilaku kerja, dan perilakusosial keagamaan.
Menurut Roycnhansyah (2020), perilaku masyarakat pada masa pandemi
mengalami perubahan diantaranya yaitu WFH, everything virtual, transportmode
choice, sampai dengan controll access. Penggunaan teknologi yang tadinyalebih
banyak sebagai pendukung kerja sekunder atau malah rekreasi, berubah
menjadifasilitas kerja utama. Hal ini juga berdampak pada sistem pendidikan di
Indonesia. Dalam sektor pendidikan misalnya, pengajar dan peserta didik akan
terbiasa melakukan interaksi pembelajaran jarak jauh.

Banyak aplikasi pembelajaran online yang bisa diterapkan dalam dunia


pendidikan akhir – akhir ini. Menurut pendapat Molinda (2005), yang dikutip oleh
Arizona (2020 : 66), Pembelajaran online merupakan bentuk pembelajaran/
pelatihan jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi telekomunikasi dan
informasi, misalnyainternet, CD-ROOM (secara langsung dan tidak langsung).
Pembelajaran online menghubungkan pembelajar (peserta didik) dengan sumber
belajarnya (database, pakar/instruktur, perpustakaan) yang secara fisik terpisah
atau bahkan berjauhannamun dapat saling berkomunikasi, berinteraksi atau
berkolaborasi (secaralangsung/ synchronous dan secara tidak langsung/
asynchronous)
Salah satu aplikasi gratis dan familiar diterapkan adalah aplikasi
GoogleClassroom. Menurut Arizona (2020 : 66), Pembelajaran online yang
diterapkandengan menggunakan media goggle calssroom memungkinkan
pengajar dan pesertadidik dapat melangsungkan pembelajaran tanpa melalui tatap
muka di kelas dengan pemberian materi pembelajaran (berupa slide power point,
e-book, video pembelajaran, tugas (mandiri atau kelompok), sekaligus penilaian.
Pengajar dan peserta didik dalam aplikasi ini dimungkinkan untuk berinteraksi
melalui forumdiskusi (stream) terkait dengan permasalahan materi dan jalannya
pembelajaransecara interaktif.
BAB II

PEMBAHASAN

E-Learning merupakan sebuah metode pembelajaran berbasis internet atau


belajar online yang harus dijalani semua siswa-siswi hingga mahasiswa-
mahasiswa diIndonesia bahkan seluruh wilayah didunia yang terpapar pandemic
Covid-19 guna menyambung proses belajar tatap muka yang terkendala karena
social distancing atau tidak berkerumun untuk membantu mencegah penyebaran
[Link] Indonesia,sistem e-learning bukan lagi sesuatu yang asing, hanya
saja tidak semua sekolah pernah menerapkan sistem ini, terutama sekolah-sekolah
yang berada di daerah terpencil atau didesa-desa. Pada dasarnya, e-learning
memiliki dua tipe yaitu synchronous dan asynchronous. Synchronous berarti pada
waktu yang sama.

Proses pembelajaran terjadi pada saat yang sama antara pendidik dan
pesertadidik. Hal ini memungkinkan interaksi langsung antara pendidik dan
peserta didik secara online. Dalam pelaksanaan, synchronous training
mengharuskan pendidik dan peserta didik mengakses internet secara bersamaan.
Pendidik memberikan materi pembelajaran dalam bentuk makalah atau slide
presentasi dan peserta didik dapatmendengarkan presentasi secara langsung
melalui internet. Peserta didik juga dapatmengajukan pertanyaan atau komentar
secara langsung ataupun melalui chat [Link] training merupakan
gambaran dari kelas nyata, namun bersifat maya(virtual) dan semua peserta didik
terhubung melalui internet. Synchronous trainingsering juga disebut sebagai
virtual classroom (Hartanto, 2016).

Proses belajar berbasis e-learning siswa-siswi membutuhkan sarana dan


prasarana yang mendukung agar pembelajaran dapat berlangsung dan
memilikikualitas pembelajaran yang lebih baik (Rustiani,dkk., 2019). Sarana dan
prasaranatersebut diantaranya adalah smartphone (handphone pintar),
komputer/laptop,aplikasi, serta jaringan internet yang digunakan sebagai media
dalam berlangsungnya pembelajaran berbasis [Link], tidak semua
keluarga/orang tua mampumemenuhi sarana dan prasana tersebut mengingat
status perekonomian yang tidak
merata. Sehingga proses pemberlajaran berbasis e-learning tidak tersampaikan
dengan sempurna. Seperti yang dialami oleh sebagian orang tua murid di SD
Banyuajuh 6 Kamal, kurangnya fasilitas membuat anak mereka tidak bisa
mengikuti pembelajaran dengan sebagaimana mestinya.

Pemaduan penggunaan sumber belajar tradisional (offline) dan online


adalah suatu keputusan demokratis untuk menjembatani derasnya arus penyebaan
sumber belajar elektronik (e-learning) dan kesulitan melepaskan diri dari
pemanfaatansumber-sumber belajar yang digunakan dalam ruang kelas. Artinya,
e-learning bagaimanapun canggihnya teknologi yang digunakan belum mampu
menggantikan pelaksanaan pembelajaran tatap muka karena metode interaksi
tatap mukakonvensional masih jauh lebihefektif dibandingkan pembelajaran
online [Link] itu, keterbatasan dalam aksesibilitas Internet,
perangkat keras(hardware) dan perangkat lunak (software), serta pembiayaan
sering menjadihambatan dalam memaksimalkan sumber-sumber belajar online
(Yaumi, 2018).

Keefektifan Pembelajaran Online Salma, dkk (2013 :105) menjelaskan


persiapan sebelum memberikan layanan belajar merupakan salah satu faktor
penentudalam keberhasilan belajar, terutama pada online learning di mana adanya
jarak antara pebelajar dan pemelajar. Pada pemberlajaran ini pemelajar harus
mengetahui prinsipprinsip belajar dan bagaimana pebelajar belajar. Rovai
(Mahardika:2002)menyatakan bahwa alat penyampaian bukanlah faktor penentu
kualitas belajar,melainkan disain mata pelajarn menentukan keefektifan belajar.
Salah satu alasanmemilih strategi pembelajaran adalah untuk mengangkat
pembelajaran [Link] efektif atau tidaknya pembelajaran dapat
diidentifikasi melalui perilaku-perilaku antara pemelajar dan pembelajar.
Bagaimana respon pebelajar terhadap apa yang disampaikan oleh pemelajar.

Keefektifan dalam KBBI adalah keadaan berpengaruh, hal berkesan,


keberhasilan tentang usaha atau tindakan, hal mulai berlakunya tentang undang-
udang atau [Link] Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
mengeluarkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 Tentang Pelaksanaan
Kebijakan
Pendidikan Dalam Masa Darurat Penyebaran Coronavirus Disease (Covid19)
yang berlaku untuk seluruh masyarakat yang mengenyam pendidikan di
[Link] keharusan belajar dalam jaringan yang menjadi kendala
lainnyaadalahkurangnya fasilitas penunjang pembelajaran online seperti yang
dialami oleh beberapa murid di SD Banyuajuh 6 kamal memang dapat dikatakan
sebagai sebuahkendala dalam proses berlangsungnya pembelajaran, namun usaha
tetap harusdilakukan semaksimal mungkin, mengingat, sebagai orang tua wajib
memberikanyang terbaik untuk anakanaknya termasuk harta berupa pendidikan.
Disisi lain,tingkat semangat belajar murid juga memicu akan efektif atau tidaknya
pembelajaranonline ini mengingat budaya belajar tatap muka yang masih melekat
dalam dirisehingga, selama kegiatan belajar online ini tidak jarang banyak murid
yang merasa jenuh atau bosan, sehingga membuat hasil belajar yang diharapkan
tidaklah efektif.
BAB III

PENUTUP

Pembelajaran e-learning akan terus harus dilakukan mengingat belum


tuntasnya wabah Covid-19 di Indonesia dan membantu pencegahan penyebaran
Covid-19sehingga sampai saat ini masih belum ditentukan kapan akan masuk
sekolah kembaliuntuk pembelajaran tatap muka. Kurang nya sarana dan prasarana
yang dipengaruhioleh faktor ekonomi dan ketidaksiapan teknologi juga menjadi
suatu hambatan dalam berlangsungnya kegiatan belajar [Link] hasil
belajar yang diberikan oleh pemelajar tidak 100% lancar atau efektif.
DAFTAR PUSTAKA

Dewi, Wahyu Aji Fatma. (2020) Dampat Covid Terhadap Implementasi


Pembelajaran Daring di Sekolah Dasar Edukatif Jurnal Ilmu Pendidikan Vol 2 No
1April 2020.

Faisal, Sanafiah, (2001). Format – format Penelitian, Jakarta : PT. Raja


Grafindo Persada.

Anda mungkin juga menyukai