BAB IX
BEA
METERAI
4 APN
KELOMPOK 10
TEGAR DIO ZAKIANSYAH
YUANNDA MEI TAKHAMO T.
A. PENDAHULUAN
Setelah 35 tahun, UU Bea Meterai Nomor
13 Tahun 1985 akhirnya digantikan oleh
UU Bea Meterai Nomor 10 Tahun 2020 yang
mulai berlaku pada 1 Januari 2021.
Tahun 2021 menjadi masa transisi dari
bea meterai lama Rp3.000 dan
Rp6.000 ke bea meterai Rp10.000.
Perubahan ini bertujuan untuk:
Memberikan kesetaraan antara dokumen kertas
dan elektronik.
Mendukung masyarakat dan UMKM dengan tarif
terjangkau serta menaikkan batas nominal
dokumen dari lebih dari Rp1 juta menjadi lebih
dari Rp5 juta.
Meningkatkan kesederhanaan dan efektivitas
melalui tarif tunggal dan penerapan meterai
elektronik.
PENGERTIAN
Bea Meterai adalah pajak atas dokumen.
Menurut Pasal 1 Ayat (2) UU Nomor 10 Tahun 2020, dokumen
adalah sesuatu yang ditulis, baik tulisan tangan, cetakan, atau
elektronik, yang dipakai sebagai alat bukti atau keterangan.
Tanda tangan mencakup paraf, teraan, cap, atau tanda tangan
elektronik sesuai undang-undang informasi dan transaksi
elektronik.
Meterai adalah label atau carik dalam bentuk tempel,
elektronik yang memiliki ciri dan unsur pengaman dikeluarkan
oleh Pemerintah Republik Indonesia, digunakan untuk
membayar pajak atas dokumen.
B. OBJEK BEA METERAI
1. OBJEK METERAI
Bea Meterai dikenakan atas:
Dokumen yang digunakan untuk menerangkan kejadian
perdata.
Dokumen sebagai alat bukti di pengadilan.
Dokumen perdata meliputi:
1) Surat perjanjian, keterangan, pernyataan, dan sejenisnya.
2) Akta notaris beserta salinan dan kutipannya.
3) Akta Pejabat Pembuat Akta Tanah beserta salinan dan
kutipannya.
5) Dokumen transaksi surat berharga dan kontrak berjangka.
6) Dokumen lelang berupa risalah lelang dan kutipannya.
7) Dokumen yang menyatakan jumlah uang lebih dari Rp5.000.000,
menyebutkan penerimaan uang, atau pengakuan pelunasan utang.
2. DOKUMEN YANG TIDAK TERUTANG
METERAI
Bea Meterai tidak dikenakan atas dokumen yang berupa:
A. Dokumen terkait lalu lintas orang dan barang, seperti:
1) Surat penyimpanan barang
2) Konosemen
3) Surat angkutan penumpang dan barang
4) Bukti pengiriman dan penerimaan barang
5) Surat pengiriman barang untuk dijual atas tanggungan pengirim
6) Surat sejenis lainnya
Segala bentuk ijazah.
Tanda terima pembayaran gaji, pensiun, tunjangan, dan
pembayaran lain terkait hubungan kerja.
Tanda bukti penerimaan uang negara dari kas negara, kas
pemerintah daerah, bank, dan lembaga lainnya yang ditunjuk
negara.
Kuitansi untuk pajak dan penerimaan lainnya dari kas negara,
kas pemerintah daerah, bank, dan lembaga lainnya yang
ditunjuk.
Tanda penerimaan uang untuk keperluan internal organisasi.
C. SAAT TERUTANG BEA METERAI
Bea Meterai terutang pada saat:
1. Dokumen dibubuhi tanda tangan, untuk:
Surat perjanjian beserta rangkapnya.
Akta notaris beserta grosse, salinan, dan kutipannya.
Akta Pejabat Pembuat Akta Tanah beserta salinan dan
kutipannya.
2. Dokumen selesai dibuat, untuk:
Surat berharga dengan nama dan dalam bentuk apa pun dan
Dokumen transaksi surat berharga, termasuk dokumen
transaksi kontrak berjangka, dengan nama dan dalam bentuk
apapun.
3. Dokumen diserahkan kepada pihak untuk siapa Dokumen tersebut
dibuat untuk:
Surat keterangan, surat pernyataan, atau surat lainnya yang sejenis,
beserta rangkapnya;
Dokumen lelang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf f;
Dokumen yang menyatakan jumlah uang.
4. Dokumen diajukan ke pengadilan, untuk dokumen yang digunakan
sebagai alat bukti di pengadilan.
5. Dokumen digunakan di Indonesia, untuk dokumen yang dibuat di luar
negeri.
D. PIHAK YANG TERUTANG
1. Dokumen sepihak: Bea Meterai ditanggung oleh penerima
dokumen.
2. Dokumen dua pihak atau lebih: Bea Meterai ditanggung oleh
masing-masing pihak atas dokumen yang diterima.
3. Surat berharga: Bea Meterai ditanggung oleh penerbit surat
berharga.
4. Dokumen alat bukti di pengadilan: Bea Meterai ditanggung oleh
pihak yang mengajukan dokumen.
5. Dokumen dari luar negeri yang digunakan di Indonesia: Bea
Meterai ditanggung oleh penerima manfaat dokumen.
6. Pihak terutang dapat bersepakat mengenai pembayaran Bea
Meterai.
D. PEMUNGUT BEA METERAI
Pemungutan atas dokumen yang dilakukan oleh pemungut Bea
Meterai seperti perusahaan perbankan dan ritel.
Pemungut wajib memungut Bea Meterai yang terutang,
menyetorkannya ke kas negara, dan melaporkannya ke Direktorat
Jenderal Pajak.
Pemungut yang tidak memenuhi kewajiban akan dikenakan surat
ketetapan pajak dan sanksi administratif sebesar 100% dari Bea
Meterai yang tidak atau kurang dipungut dan/atau disetor.
E. CARA PELUNASAN BEA METERAI
Pembayaran Bea Meterai
yang terutang pada dokumen
dilakukan dengan
menggunakan:
Meterai
Surat Setoran Pajak
F. PEMETERAIAN KEMUDIAN
Pemateraian Kemudian dilakukan untuk:
1. Dokumen perdata yang Bea Meterainya tidak dibayar
2. Dokumen digunakan sebagai alat pembuktian di
pengadilan Bea Meterai yang wajib dibayar melalui
Pemeteraian Kemudian ditentukan sebesar Bea
Meterai yang tertuang atas dokumen dengan sanksi
administratif 100% dari bea meterai yang terutang.
G. FASILITAS DAN SANKSI
11.. FASILITAS PEMBEBASAN
Bea Meterai yang terutang dapat dibebaskan, baik sementara
maupun selamanya, untuk:
Dokumen pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan dalam
rangka pemulihan daerah akibat bencana alam.
Dokumen pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan untuk
kegiatan keagamaan dan/atau sosial non-komersial.
Dokumen untuk mendukung program pemerintah atau kebijakan
moneter dan jasa keuangan.
Dokumen terkait pelaksanaan perjanjian internasional yang telah
mengikat berdasarkan peraturan perundang-undangan atau asas
timbal balik.
Tindakan Pelanggaran dan Sanksi Bea Meterai
1. Pemalsuan dan Peniruan Meterai:
SANKSI
- Meniru atau memalsu Meterai dengan maksud untuk menggunakannya atau meminta orang lain
menggunakannya seolah-olah asli.
- Membuat Meterai menggunakan cap asli secara melawan hukum, termasuk Meterai elektronik.
- Sanksi: Penjara hingga 7 tahun dan denda hingga Rp500.000.000.
2. Penggunaan dan Peredaran Meterai Palsu:
- Memakai, menjual, menawarkan, menyerahkan, memiliki persediaan untuk dijual, atau memasukkan
Meterai palsu atau dibuat secara melawan hukum.
- Mengedarkan barang yang dibubuhi Meterai palsu seolah-olah asli.
- Sanksi: Penjara hingga 7 tahun dan denda hingga Rp500.000.000.
3. Penggunaan Ulang Meterai:
- Menghilangkan tanda pemakaian pada Meterai yang sudah digunakan untuk memakainya kembali.
- Menghilangkan tanda tangan, ciri, atau tanda pemakaian pada Meterai yang sudah digunakan.
- Memakai, menjual, menawarkan, menyerahkan, memiliki persediaan untuk dijual, atau memasukkan
Meterai yang telah dihapus tanda pemakaiannya seolah-olah belum dipakai.
- Sanksi: Penjara hingga 3 tahun dan denda hingga Rp200.000.000.
SIMPULAN
Bea meterai merupakan pajak atas dokumen tertentu yang
terutang meterai Rp10.000. Pembayaran meterai dengan cara
menggunakan meterai dan Surat Setoran Pajak. Pemeteraian
Kemudian dilakukan atas dokumen perdata yang tidak dibayar
dan dokumen yang digunakan sebagai alat bukti di pengadilan.
S E S I D I S K U SI
TERIMA KASIH