do not copy
AUDIT
BERBASIS RISIKO
BANK PEREKONOMIAN RAKYAT / BANK PEREKONOMIAN RAKYAT SYARIAH
IR. ZINSARI, MM, MBA
2024
do not copy
AUDIT BERBASIS RISIKO
PENGANTAR
Audit intern sebagai bagian dari sistem pengendalian intern harus mampu memberikan
penilaian mengenai terselenggaranya sistem pengendalian secara terkoordinasi dalam setiap tingkatan
manajemen. Satuan Kerja Audit Intern atau Pejabat Eksekutif fungsi Audit Intern harus memiliki kompetensi
kerja yang mumpuni yang mencakup perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan serta tindak lanjut audit.
Konsep audit berbasis risiko bertujuan untuk menguji efektifitas pengendalian risiko dan
penerapan tata kelola. Pelaksanaan audit menjadi lebih efisien dan tepat sasaran, karena mengacu pada
prioritas risiko yang dihadapi organisasi sehingga memungkinkan organisasi bilamana diperlukan alokasi
sumber daya agar menjadi lebih efektif dan efisien.
Pelatihan ini dimaksudkan untuk memberikan penguasaan audit dasar hingga audit berbasis
risiko bagi auditor intern BPR/BPRS, sehingga dapat melaksanakan audit intern secara terstruktur
dan mencapai tujuan yang maksimal.
IR. ZINSARI, MM, MBA
Dilarang menyalin dan/atau mengutip sebagian
atau seluruh isi modul ini dengan cara apapun
tanpa izin sah dari IR. ZINSARI, MM,MBA
do not copy
Consulting
AUDIT BERBASIS RISIKO
Isi Materi Pelatihan BANK PEREKONOMIAN RAKYAT
Topik 1 Sistem Pengendalian Intern
Topik 2 Pemeriksaan Intern
Topik 3 Wewenang, Tugas, Tanggung Jawab dan Ruang Lingkup Audit Intern
Topik 4 Norma Pemeriksaan
Topik 5 Proses Pelaksanaan Audit
Topik 6 Konsep Audit Berbasis Risiko
Topik 7 Identifikasi Risiko Proses Bisnis
Topik 8 Menyusun Program Audit Berbasis Risiko
Topik 9 Menyiapkan Kertas Kerja Audit
Topik 10 Laporan Pelaksanaan Fungsi Audit
TOPIK 1
SISTEM PENGENDALIAN
INTERN
Dilarang menyalin dan/atau mengutip sebagian atau seluruh isi dengan cara apapun tanpa izin sah dari penulis.
do not copy
SISTEM PENGENDALIAN INTERN - SPIN
Sistem pengendalian intern (SPIN) meliputi kebijakan, organisasi,
prosedur, metode dan ketentuan yang terkoordinasi secara menyeluruh pada
satuan kerja.
Sistem pengendalian intern BPR bertujuan untuk:
1. Pengamanan dana masyarakat.
2. Pencapaian tujuan dan sasaran kegiatan operasional yang
telah ditetapkan.
3. Pemanfaatan sumber daya secara ekonomis dan efisien.
4. Kebenaran dan keutuhan informasi.
5. Kepatuhan terhadap kebijakan, rencana, prosedur,
hukum, dan peraturan; dan pengamanan harta kekayaan.
do not copy
SISTEM PENGENDALIAN INTERN - SPIN
Pengendalian intern yang efektif
Pengendalian intern yang efektif sekurang-kurangnya meliputi:
1. Struktur organisasi yang memisahkan tanggung jawab fungsional secara tepat.
2. Wewenang dan prosedur pembukuan yang baik berguna untuk melakukan
pengawasan akuntansi yang cukup terhadap harta milik, hutang-hutang,
pendapatan-pendapatan dan beban-beban.
3. Menerapkan praktek-praktek yang sehat di dalam melakukan tugas-tugas dan
fungsi-fungsi setiap bagian dalam organisasi.
4. Tingkat kompetensi pegawai yang sesuai dengan tugas
dan tanggung jawab masing-masing.
do not copy
Consulting
SISTEM PENGENDALIAN INTERN - SPIN
Unsur-unsur Pengendalian Intern
Pengendalian intern dapat berjalan apabila tersedia unsur-unsur pengendalian yang
mamadai dan baik:
❑ Struktur organisasi
❑ Kebijakan-kebijakan
❑ Prosedur kerja
❑ Job description
❑ Limit wewenang
❑ Rencana kerja
❑ Akuntansi dan pelaporan
❑ Mitigasi risiko
❑ Pemeriksa intern
do not copy
THREE LINES OF DEFENSE
Pada dasarnya sistem pengendalian intern dimaksudkan untuk meminimalkan risiko dan
memaksimalkan pencapaian tujuan perusahaan. Pendekatan tiga lini pertahanan (three
lines of defense) banyak diadopsi oleh perusahaan dalam sistem pengendalian intern.
Lini Pertahanan Pertama
Satuan kerja yang melaksanakan fungsi front line operation (perkreditan, operasional, dll),
disebut juga Pemilik Proses Bisnis.
▪ Melaksanakan proses bisnis sesuai tugas dan tanggung jawabnya dengan mengikuti
kebijakan dan prosedur yang berlaku.
▪ Melakukan identifikasi dan penilaian risiko pada proses bisnis.
▪ Pejabat satuan kerja yang smenjalankan proses bisnis melakukan pengendalian yang
sesuai terhadap risiko yang terdapat pada proses bisnis demi tercapainya tujuan
organisasi.
do not copy
THREE LINES OF DEFENSE
Lini Pertahanan Kedua
Satuan kerja yang melaksanakan fungsi manajemen risiko, yang bertugas untuk
membantu pengendalian intern, termasuk manajemen risiko perusahaan secara
keseluruhan.
▪ Membantu menyusun kebijakan manajemen risiko.
▪ Melakukan koordinasi dengan lini pertahanan pertama terkait dengan identifikasi
sumber risiko, dampak risiko, kecenderungan risiko, dan pengendalian risiko.
▪ Secara periodik melakukan monitoring penerapan kebijakan manajemen risiko
keseluruhan maupun pada tiap proses bisnis.
Lini Pertahanan Ketiga
Satuan kerja atau pejabat yang melaksanakan fungsi audit intern. Auditor Intern akan
mengevaluasi serta menguji efektifitas pengendalian dan tata kelola yang dilaksanakan
oleh Lini Pertahanan Pertama dan Lini Pertahanan Kedua.
TOPIK 2
PEMERIKSAAN INTERN
|AUDIT INTERN
Dilarang menyalin dan/atau mengutip sebagian atau seluruh isi dengan cara apapun tanpa izin sah dari penulis.
do not copy
PEMERIKSAAN INTERN / AUDIT INTERN
Salah satu faktor yang penting bagi BPR dalam rangka penerapan prinsip kehati-hatian
dan penerapan tata kelola adalah melalui pelaksanaan audit intern yang efektif dan
memadai.
Audit intern merupakan bagian dari sistem pengendalian
intern dan merupakan segala bentuk kegiatan yang
berhubungan dengan audit dan pelaporan hasil audit
mengenai terselenggaranya sistem pengendalian secara
terkoordinasi dalam setiap tingkatan manajemen.
Audit intern harus dapat menempatkan fungsinya di atas
kepentingan berbagai pihak untuk memastikan terwujudnya
BPR yang sehat, berkembang secara wajar dan mampu
memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat.
do not copy
PEMERIKSAAN INTERN / AUDIT INTERN
Pemeriksaan intern adalah suatu penilaian sistematis dan independen untuk
menentukan apakah:
1. Informasi keuangan yang disajikan
wajar dan dapat dipercaya.
2. Kebijakan dan prosedur telah diikuti.
3. Peraturan perundang-undangan telah
ditaati.
4. Risiko-risiko telah diidentifikasi dan
diantisipasi.
5. Sumber daya telah digunakan secara
efisien dan ekonomis.
6. Tujuan perusahaan telah tercapai.
do not copy
PEMERIKSAAN INTERN / AUDIT INTERN
Peran Audit Intern
Audit Intern membantu tugas Direktur Utama dan Dewan Komisaris dalam melakukan
pengawasan operasional BPR yang mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan
pemantauan hasil audit.
Dalam melaksanakan hal ini, SKAI atau PE Audit Intern membuat analisis dan penilaian di
bidang keuangan, akuntansi, operasional, dan kegiatan lainnya paling sedikit dengan cara
pemeriksaan langsung dan analisis dokumen, serta memberikan saran perbaikan dan
informasi yang objektif tentang kegiatan yang diperiksa pada semua tingkatan
manajemen.
do not copy
KETENTUAN AUDIT INTERN
Independensi
SKAI/PE Audit Intern harus bertindak independen dalam melakukan audit dan
mengungkapkan pandangan serta pemikiran sesuai dengan profesinya dan standar audit
sebagaimana yang diatur dalam Pedoman Standar Pelaksanaan Fungsi Audit Intern
(SPFAI).
SKAI/PE Audit Intern harus independen terhadap fungsi operasional, yaitu
fungsi yang terkait dengan pemberian kredit, penghimpunan dana, dan
kegiatan operasional lainnya.
SKAI/PE Audit Intern mampu melaksanakan tugasnya tanpa pengaruh atau
tekanan dari pengurus BPR dan pihak ekstern.
Untuk mendukung independensi dan menjamin kelancaran audit serta
wewenang dalam memantau tindak lanjut, Kepala SKAI/PE Audit Intern
dapat berkomunikasi langsung dengan Dewan Komisaris untuk
menginformasikan berbagai hal yang berhubungan dengan audit.
do not copy
KETENTUAN AUDITOR INTERN
Etika Auditor Intern
1. Berperilaku jujur, santun, tidak tercela, objektif dan bertanggung jawab.
2. Memiliki dedikasi tinggi.
3. Tidak menerima dan tidak akan menerima apapun yang dapat mempengaruhi
pendapat profesionalnya.
4. Menjaga prinsip kerahasiaan sesuai ketentuan dan peraturan perundang-undangan.
5. Terus meningkatkan kemampuan profesionalnya.
Sikap Mental Auditor Intern
Auditor Intern harus memiliki sikap mental yang baik yang tercermin dari:
❑ Kejujuran,
❑ Objektivitas,
❑ Ketekunan, dan
❑ Loyalitasnya kepada profesi.
TOPIK 3
WEWENANG, TUGAS,
TANGGUNG JAWAB, DAN
RUANG LINGKUP
SKAI/PE AUDIT INTERN
Dilarang menyalin dan/atau mengutip sebagian atau seluruh isi dengan cara apapun tanpa izin sah dari penulis.
do not copy
Consulting
STRUKTUR ORGANISASI
Struktur Organisasi Zpro Consulting
Modal inti BPR ≥ Rp50 miliar Modal Inti BPR < Rp50 miliar
Wajib memiliki Satuan Kerja Audit Intern Wajib menunjuk 1 Pejabat Eksekutif fungsi
(SKAI) Audit Intern ( PE Audit Intern)
Kepala SKAI atau PE Audit Intern diangkat dan diberhentikan oleh
Direksi dengan mempertimbangkan pendapat dari Dewan
Komisaris dan dilaporkan kepada Otoritas Jasa Keuangan.
▪ Pengangkatan atau pemberhentian Kepala SKAI atau PE Audit
Intern wajib dilaporkan kepada OJK paling lambat 10 hari
kerja setelah tanggal pengangkatan atau pemberhentian.
▪ Laporan ditandatangani oleh Direktur Utama dan Komisaris
Utama.
do not copy
Consulting
STRUKTUR ORGANISASI
Laporan Pengangkatan
Materi laporan pengangkatan Kepala SKAI/PE Audit Intern paling sedikit mencakup:
a. Alasan pengangkatan.
b. Data identitas dan daftar riwayat hidup termasuk pas foto terakhir ukuran 4x6cm,
fotokopi Kartu Tanda Penduduk yang masih berlaku, contoh tanda tangan dan paraf
c. Fotokopi Surat Keputusan Pengankatan oleh Direktur Utama
d. Lampiran pendapat Dewan Komisaris thd pengangkatan Kepala SKAI/PE Audit Intern
e. Surat perjanjian kerja (apabila ada)
Laporan Pemberhentian
Materi laporan pemberhentian Kepala SKAI/PE Audit Intern paling sedikit mencakup:
a. Alasan pemberhentian
b. Fotokopi Surat Keputusan Direktur Utama mengenai pemberhentian Kepala
SKAI/PE Audit Intern
c. Lampiran pendapat Dewan Komisaris thd pemberhentian Kepala SKAI/PE Audit
Intern
do not copy
Consulting
STRUKTUR ORGANISASI
Kedudukan SKAI atau PE Audit Intern, Direktur Utama, dan Dewan Komisaris
1. Kepala SKAI/PE Audit Intern bertanggung jawab langsung kepada Direktur Utama.
2. Direksi dan Dewan Komisaris harus mendukung SKAI/PE Audit Intern agar tugas audit
intern dapat terlaksana secara efektif.
3. Direktur Utama bertanggung jawab untuk menjamin terselenggaranya pelaksanaan
fungsi audit intern dan memastikan tindak lanjut hasil temuan pemeriksaan SKAI/PE
Audit Intern.
4. Dewan Komisaris memiliki kewenangan untuk meminta Direksi menindaklanjuti hasil
temuan pemeriksaan SKAI/PE Audit Intern.
5. Dalam melaksanakan tugasnya, SKAI/PE Audit Intern wajib menyampaikan laporan
kepada Direktur Utama dan Dewan Komisaris dengan tembusan kepada anggota
Direksi yang membawahkan fungsi kepatuhan.
do not copy
Consulting
STRUKTUR ORGANISASI
Zpro Consulting
WEWENANG, TUGAS & TANGGUNG JAWAB SKAI / PE AI
1. Membantu tugas Direktur Utama dan Dewan Komisaris dalam melakukan
pengawasan operasional BPR yang mencakup perencanaan, pelaksanaan
maupun pemantauan hasil audit.
2. Membuat analisis dan penilaian di bidang keuangan, akuntansi, operasional
dan kegiatan lainnya paling sedikit dengan cara pemeriksaan langsung dan
analisis dokumen.
3. Mengidentifikasi segala kemungkinan untuk memperbaiki dan meningkatkan
efisiensi penggunaan sumber daya dan dana.
4. Memberikan saran perbaikan dan informasi yang objektif tentang kegiatan
yang diperiksa pada semua tingkatan manajemen.
do not copy
STRUKTUR ORGANISASI
Piagam Audit
Wewenang, tugas, dan tanggung jawab SKAI/PE Audit Intern harus dirumuskan dalam
suatu dokumen tertulis yang harus disetujui oleh Dewan Komisaris dan paling sedikit
mencantumkan:
1) Kedudukan SKAI/PE audit intern;
2) Kewenangan untuk melakukan akses terhadap catatan, karyawan, sumber daya,
dan dana, serta aset BPR lainnya yang berkaitan dengan pelaksanaan audit;
3) Ruang lingkup kegiatan audit intern; dan
4) Pernyataan bahwa auditor intern tidak boleh mempunyai wewenang atau tanggung
jawab untuk melaksanakan kegiatan operasional dari auditee.
Contoh dokumen
Piagam Audit tersedia
dalam folder pelatihan
do not copy
STRUKTUR ORGANISASI
Pelaksanaan Tanggung Jawab
Kepala SKAI/PE Audit Intern bertanggung jawab untuk:
1. Merencanakan audit, melaksanakan audit, mengatur, dan mengarahkan audit.
2. Mengevaluasi prosedur yang ada untuk memperoleh keyakinan bahwa tujuan dan
sasaran dari BPR dapat dicapai secara optimal.
SKAI/PE Audit Intern harus dapat:
1. Memberikan konsultansi kepada pihak intern BPR yang membutuhkan, terutama
menyangkut ruang lingkup tugasnya.
2. Memberikan tanggapan atas usulan kebijakan atau sistem dan prosedur untuk dapat
memastikan bahwa dalam kebijakan ataupun sistem yang baru tersebut telah
dimasukkan aspek-aspek pengendalian intern sehingga dalam pelaksanaannya dapat
tercapai tujuannya secara efektif dan efisien.
do not copy
Consulting
RUANG LINGKUP PEKERJAAN AUDIT INTERN
Ruang lingkup pekerjaan audit intern harus mencakup pemeriksaan dan penilaian atas
kecukupan dan efektivitas sistem pengendalian intern dari BPR yang bersangkutan dan
atas kualitas kinerja dalam melaksanakan tanggung jawab yang telah ditetapkan.
Ruang lingkup pekerjaan audit intern meliputi:
❑ Penilaian Kecukupan Sistem Pengendalian Intern
Untuk menentukan sampai seberapa jauh sistem yang telah
ditetapkan dapat diandalkan kemampuannya untuk
memberikan keyakinan yang memadai bahwa tujuan dan
sasaran BPR dapat dicapai secara efisien dan ekonomis.
❑ Penilaian Efektivitas Sistem Pengendalian Intern
Untuk menentukan sejauh mana sistem tersebut sudah
berfungsi seperti yang diharapkan.
❑ Penilaian Kualitas Kinerja
Untuk menentukan tujuan dan sasaran organisasi telah
tercapai.
do not copy
Consulting
RUANG LINGKUP PEKERJAAN AUDIT INTERN
Menilai Efektivitas
Sistem Pengendalian Intern
Auditor Intern melakukan pemeriksaan Pencapaian Tujuan dan Sasaran
dan penilaian atas efektivitas dari sistem Kegiatan Operasional yang telah
pengendalian intern yang dimaksudkan Ditetapkan
untuk memberikan keyakinan bahwa Auditor Intern harus menilai sejauh mana
pengendalian telah berjalan sesuai yang tujuan dan sasaran kegiatan operasional
telah ditetapkan sebagai berikut: tertentu telah dicapai secara konsisten
Pengamanan Dana Masyarakat sesuai dengan yang diharapkan.
Dalam hubungan ini, antara lain Auditor
Auditor Intern harus menilai kehandalan Intern harus mampu menilai kewajaran
sistem yang telah ditetapkan dalam perkembangan usaha BPR baik potensi
mengamankan dana yang dihimpun BPR maupun kendala yang mempengaruhinya.
dari masyarakat yang meliputi deposito
dan tabungan.
do not copy
RUANG LINGKUP PEKERJAAN AUDIT INTERN
Menilai Efektivitas
Sistem Pengendalian Intern
Kebenaran dan Keutuhan
Pemanfaatan Sumber Daya
Informasi
Auditor Intern harus menilai efisiensi
Auditor Intern harus menilai kebenaran
pemanfaatan sumber daya.
serta keutuhan dari informasi keuangan
Untuk itu antara lain diperlukan penilaian atas
dan kegiatan operasional termasuk
efisiensi, efektivitas, dan keamanan kegiatan
pencatatan aset, kewajiban, dan rekening
operasional tertentu seperti kegiatan dengan
memanfaatkan teknologi informasi. administratif BPR.
Selain itu Auditor Intern harus menilai Tujuan penilaian terhadap informasi dimaksud
optimalisasi pemanfaatan sumber daya dan adalah memastikan bahwa informasi tersebut
fasilitas yang kurang dimanfaatkan atau suatu akurat, handal, tepat waktu, lengkap, dan berguna
pekerjaan yang dinilai kurang produktif. baik bagi kepentingan BPR, masyarakat maupun
Otoritas Jasa Keuangan.
do not copy
RUANG LINGKUP PEKERJAAN AUDIT INTERN
Menilai Efektivitas
Sistem Pengendalian Intern
Kepatuhan Terhadap Kebijakan, Rencana, Prosedur, dan Peraturan Perundang-
Undangan
Auditor Intern harus menilai kesesuaian sistem yang telah ditetapkan terhadap kebijakan,
rencana, prosedur, dan peraturan perundang- undangan yang mungkin mempunyai
dampak yang signifikan terhadap operasional BPR, termasuk penilaian tentang aspek-
aspek kegiatan usaha BPR yang dapat mempengaruhi tingkat kesehatan atau dapat
menimbulkan permasalahan.
Pengamanan Aset
Auditor Intern harus menilai kehandalan sistem pengamanan aset termasuk dana serta
memeriksa keberadaan dari aset termasuk dana tersebut.
TOPIK 4
NORMA PEMERIKSAAN
Dilarang menyalin dan/atau mengutip sebagian atau seluruh isi dengan cara apapun tanpa izin sah dari penulis.
do not copy
NORMA PEMERIKSAAN
Dalam melaksanakan tugasnya, auditor
harus menerapkan norma-norma
pemeriksaan
Norma Umum Pemeriksaan
Norma Pelaksanaan Pemeriksaan
Norma Pelaporan Pemeriksaan
Norma Tindak Lanjut Pemeriksaan
do not copy
NORMA PEMERIKSAAN
Norma Umum Pemeriksaan
1. Ruang lingkup pemeriksaan lengkap terhadap obyek yg diperiksa mencakup :
▪ Pemeriksaan atas keuangan dan ketaatan pada aturan perundang-undangan.
▪ Penilaian tentang dayaguna dan kehematan penggunaan sarana yang tersedia.
▪ Penilaian tentang hasilguna atau manfaat yang direncanakan dari suatu kegiatan.
2. Status organisasi pemeriksa haruslah sedemikian rupa sehingga memungkinkan
dilaksanakannya tanggung jawab pemeriksaan.
3. Dalam segala hal yang berhubungan dengan tugas pemeriksaan, baik individu maupun
kolektif, harus bertindak dengan penuh integritas dan obyektivitas.
4. Para pemeriksa harus memiliki keahlian yang diperlukan dalam bidang tugasnya.
5. Pemeriksa wajib menggunakan keahliannya secara cermat dalam melakukan
pemeriksaan dan penyusunan laporan.
6. Pemeriksa wajib berusaha secara terus menerus agar organisasi pemeriksa dapat
berfungsi sebagaimana mestinya.
do not copy
NORMA PEMERIKSAAN
Norma Pelaksanaan Pemeriksaan
1. Pekerjaan pemeriksaan harus direncanakan sebaik-baiknya.
2. Para pelaksana pemeriksaan harus diawasi dan dibimbing dengan sebaik-baiknya.
3. Ketaatan pada peraturan perundang-undangan harus ditelaah dan dinilai secukupnya.
4. Sistem pengendalian manajemen harus dikaji dan dinilai secukupnya untuk
menentukan sampai seberapa jauh sistem itu dapat diandalkan kemampuannya untuk
menjamin kebenaran dan ketelitian informasi, ketaatan pada peraturan perundang-
undangan dan untuk mendorong pelaksanaan operasi yang berdayaguna dan
berhasilguna.
5. Pemeriksa harus waspada terhadap situasi atau transaksi yang dapat menunjukkan
kemungkinan adanya penyimpangan, penyalahgunaan wewenang serta tindakan yang
tidak sah.
6. Harus diperoleh bukti yang cukup, kompeten dan relevan sebagai landasan yang layak
untuk menyusun pertimbangan kesimpulan serta saran tindak pemeriksa.
7. Kertas kerja pemeriksaan yang merupakan sarana tertulis dari pekerjaan pemeriksaan
yang dilakukan harus dibuat oleh pemeriksa.
do not copy
NORMA PEMERIKSAAN
Norma Pelaporan Pemeriksaan
1. Pemeriksa Intern harus melaporkan hasil pemeriksaannya sesuai dengan penugasan yang
ditetapkan.
2. Laporan pemeriksaan harus dibuat secara tertulis disampaikan kepada pejabat yang
berwenang pada waktunya agar bermanfaat.
3. Tiap laporan pemeriksaan harus memuat ruang lingkup dan tujuan pemeriksaan, disusun
dengan baik, menyatakan informasi yang layak serta pernyataan bahwa pemeriksaan telah
dilaksanakan sesuai dengan norma pemeriksaan.
4. Setiap laporan pemeriksaan harus :
o Memuat temuan & kesimpulan pemeriksaan secara obyektif serta saran tindak yg
konstruktif.
o Lebih mengutamakan usaha perbaikan atau penyempurnaan daripada kritik.
o Mengungkapkan hal-hal yg masih merupakan masalah yg blm dpt diselesaikan hingga
akhir masa pemeriksaan.
o Mengemukakan pengakuan atas suatu prestasi dari suatu tindakan perbaikan yang telah
dilaksanakan, terutama bila perbaikan itu dapat diterapkan pada bagian lain.
o Mengemukakan penjelasan pejabat obyek yang diperiksa mengenai hasil pemeriksaan.
do not copy
NORMA PEMERIKSAAN
Norma Tindak Lanjut Pemeriksaan
Pemeriksa Intern harus mengikuti tindak lanjut atas
temuan-temuan pemeriksaan yang dilaporkan untuk
memastikan bahwa tindakan yang tepat telah diambil
dan dilaksanakan.
TOPIK 5
PROSES PELAKSANAAN
AUDIT
Dilarang menyalin dan/atau mengutip sebagian atau seluruh isi dengan cara apapun tanpa izin sah dari penulis.
do not copy
PERENCANAAN AUDIT
Rencana Audit Tahunan
Kegiatan audit intern untuk periode 1 tahun buku harus berdasarkan pada perencanaan
yang matang. Rencana audit disusun oleh SKAI atau PE Audit Intern dan disetujui oleh
Direktur Utama serta dilaporkan kepada Dewan Komisaris dan Komite Audit (apabila BPR
memiliki Komite Audit).
Proses perencanaan audit terdiri dari:
a. Penentuan tujuan audit
b. Penentuan jadwal kerja audit
c. Rencana sumber daya manusia dan anggaran
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam membuat jadwal kerja audit paling sedikit:
1. temuan audit periode sebelumnya; dan
2. evaluasi risiko untuk mengidentifikasi kegiatan yang material atau signifikan dari
unit kerja yang diaudit.
do not copy
PERENCANAAN AUDIT
1. Penentuan objek audit
Objek audit meliputi keseluruhan aktivitas BPR pada semua tingkatan manajemen.
Dengan mengidentifikasi objek audit, berarti juga mengidentifikasi subjek yang akan
diaudit. Penentuan objek audit berkaitan dengan material dan signifikansi satuan kerja
yang diaudit yang didasarkan pada pertimbangan potensi risiko dan temuan audit
sebelumnya.
2. Penentuan tujuan audit
Tujuan dari suatu pemeriksaan harus didefinisikan untuk menentukan fokus audit.
Tujuan harus dapat diukur dan sesuai dengan rencana serta anggaran operasi BPR.
3. Penentuan jadwal audit
Jadwal audit diperlukan sebagai dasar penetapan penugasan audit. Jadwal kerja audit
harus mencakup kegiatan yang akan diaudit, tanggal mulai dan waktu yang
dibutuhkan.
4. Rencana sumber daya manusia dan anggaran
Jumlah auditor, kualifikasi auditor dan biaya yang dibutuhkan.
do not copy
PERENCANAAN AUDIT
Contoh format rencana audit: form ini tersedia
dalam folder
lampiran
do not copy
PELAKSANAAN AUDIT
Pelaksanaan audit dapat dibedakan dalam
5 (lima) tahap kegiatan yaitu:
PERSIAPAN AUDIT
Persiapan audit Pelaksanaan audit harus dipersiapkan
dengan baik agar tujuan audit tercapai
Penyusunan
secara efisien. Langkah yang perlu
program audit diperhatikan pada tahap persiapan audit
meliputi:
Pelaksanaan ❑ Metode pendekatan
penugasan audit
❑ Penetapan penugasan
❑ Pemberitahuan audit
Pelaporan hasil audit
❑ Penelitian pendahuluan
Tindak lanjut
Hasil audit
do not copy
PELAKSANAAN AUDIT
Metode pendekatan: Penetapan penugasan:
Auditor Intern harus mampu menggunakan Penetapan penugasan audit dimaksudkan untuk
metode-metode pendekatan yang diperlukan memberitahukan kepada Auditee sebagai dasar
untuk pelaksanaan audit intern agar melakukan audit sebagaimana ditetapkan
pelaksanaan audit dapat berlangsung secara dalam rencana audit tahunan BPR.
efektif dan efisien.
Penetapan penugasan disampaikan kepada tim
Metode pendekatan tersebut paling sedikit audit dalam bentuk surat penugasan yang
memperhatikan aspek-aspek teknis seperti cara ditandatangani oleh Direktur Utama, yang
dan penetapan sampling, teknik pengujian antara lain menetapkan:
yang akan dilakukan, minimal bukti audit yang o Ketua dan anggota tim audit
diperlukan, dan cara mendapatkannya serta o Tujuan audit
memperhatikan konsep materialitas. o Waktu yang diperlukan
Contoh Surat Penugasan Audit
tersedia dalam folder
pelatihan
do not copy
PELAKSANAAN AUDIT
PERSIAPAN AUDIT
Pemberitahuan audit: Penelitian pendahuluan:
SKAI/PE Audit Intern menyampaikan surat Penelitian pendahuluan diperlukan untuk
pemberitahuan audit kepada Auditee sebelum audit memahami fungsi, struktur organisasi,
dilaksanakan. Dalam surat pemberitahuan tersebut wewenang dan tanggung jawab, kebijakan,
antara lain dikemukakan:
a. Rencana pertemuan awal dengan satuan kerja sistem dan prosedur operasional, risiko
Auditee, yang dimaksudkan untuk kegiatan dan pengendaliannya, indikator
menjelaskan tujuan audit serta sekaligus keberhasilan, aspek legal dan ketentuan
mendapatkan penjelasan dari kepala satuan lainnya.
kerja Auditee mengenai kegiatan dan fungsi
dari satuan kerja Auditee
b. Tim audit
c. Data dan informasi yang diperlukan
d. Permintaan kepada Auditee agar
mempersiapkan data, informasi, dan dokumen
yang diperlukan.
do not copy
PELAKSANAAN AUDIT
PENYUSUNAN PROGRAM AUDIT
Agar audit dapat dilaksanakan dengan sistematis, maka perlu disiapkan suatu program
audit yang meliputi prosedur pelaksanaan pemeriksaan.
Program audit paling sedikit mencakup:
1. Prosedur dalam rangka mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasikan, dan
mendokumentasikan informasi selama pelaksanaan audit.
2. Tujuan audit.
3. Luas, tingkat, dan metodologi pemeriksaan.
4. Jangka waktu pemeriksaan.
5. Identifikasi aspek-aspek teknis, risiko, proses dan transaksi yang harus diuji,
termasuk pengolahan data elektronik.
Program audit merupakan dokumentasi prosedur bagi Auditor Intern dalam
mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasikan, dan mendokumentasikan informasi
selama pelaksanaan audit, termasuk catatan untuk pemeriksaan yang akan datang.
do not copy
PELAKSANAAN AUDIT
PELAKSANAAN PENUGASAN AUDIT
Tahap pelaksanaan audit meliputi kegiatan mengumpulkan, menganalisis, menginter-
pretasikan, dan mendokumentasikan bukti-bukti audit serta informasi lain yang dibutuhkan
sesuai dengan prosedur yang digariskan dalam program audit untuk mendukung laporan
hasil audit.
Proses Audit: Evaluasi Hasil Audit:
Proses audit meliputi kegiatan sebagai berikut: Dalam mengevaluasi hasil audit tersebut,
a. Mengumpulkan bukti dan informasi yang
cukup dan relevan.
PE Audit Intern atau tim audit harus:
b. Memeriksa, mengevaluasi, dan o menyusun kesimpulan pada tiap tingkat
mengkonfirmasi semua bukti dan informasi program audit,
untuk memastikan kesesuaian dengan sistem o mengevaluasi hasil audit terhadap
dan prosedur. sasaran audit, dan
c. Menetapkan metode dan teknik sampling
yang digunakan sesuai dengan keadaan.
o menyusun ikhtisar temuan serta
d. Mendokumentasikan kertas kerja audit. rekomendasi hasil audit.
e. Membahas hasil audit dengan auditee.
do not copy
PELAKSANAAN AUDIT
Evaluasi Hasil Audit:
1. Kesimpulan dari Pelaksanaan Program 3. Ikhtisar Temuan dan Rekomendasi Hasil
Audit Audit
Setelah program dan prosedur audit Auditor Intern harus membuat ikhtisar temuan
dilaksanakan, Auditor Intern harus menyusun dan rekomendasi hasil audit. Apabila ditemukan
kesimpulan terhadap hasil audit sesuai dengan kelemahan atau penyimpangan maka dalam
sasaran atau tujuan dari program dan prosedur ikhtisar tersebut paling sedikit harus
audit tersebut. mengungkapkan:
1) fakta atau keadaan yang sebenarnya
2. Evaluasi Hasil Audit terhadap Sasaran terjadi;
Audit 2) keadaan yang seharusnya terjadi
Apabila Auditor Intern dalam melakukan 3) penyebab terjadinya penyimpangan
pengujian menemukan penyimpangan maka 4) dampak dari terjadinya penyimpangan
penyimpangan tersebut harus dievaluasi 5) langkah perbaikan yang telah dilakukan
berdasarkan analisis sebab akibat. Auditee
6) rekomendasi Auditor Intern
do not copy
PELAKSANAAN AUDIT
MEMO AUDIT
Sebagai media konfirmasi atas temuan audit, meminta tanggapan dan konfirmasi
auditee untuk tindak lanjut.
Format memo audit
tersedia dalam folder
pelatihan
do not copy
PELAKSANAAN AUDIT
PELAPORAN HASIL AUDIT
❑ Auditor Intern berkewajiban untuk menuangkan hasil audit
dalam bentuk laporan tertulis.
❑ Laporan tersebut harus memenuhi standar pelaporan,
memuat kelengkapan materi, dan melalui proses
penyusunan yang baik.
❑ Disusun oleh SKAI atau PE Audit Intern dan disampaikan
kepada Direktur Utama dan Dewan Komisaris dengan
tembusan kepada Anggota Direksi yang membawahkan
fungsi kepatuhan.
do not copy
PELAKSANAAN AUDIT
TINDAK LANJUT HASIL AUDIT
SKAI atau PE Audit Intern harus memantau dan 1. Pemantauan Atas Pelaksanaan Tindak Lanjut
menganalisis serta melaporkan perkembangan Pemantauan atas pelaksanaan tindak lanjut dilakukan
pelaksanaan tindak lanjut perbaikan yang telah unutuk mengetahui perkembangannya dan
dilakukan Auditee. mengingatkan Auditee apabila Auditee belum dapat
melaksanakan komitmen perbaikan menjelang atau
Tindak lanjut tersebut meliputi: sampai batas waktu yang dijanjikan.
2. Analisis Kecukupan Tindak Lanjut
Dari hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut,
dilakukan analisis kecukupan atas pemenuhan
komitmen yang telah dilaksanakan Auditee.
3. Laporan Tindak Lanjut
Dalam hal pelaksanaan tindak lanjut tidak
dilaksanakan oleh Auditee maka SKAI atau PE Audit
Intern memberikan laporan tertulis kepada Direktur
Utama dan Dewan Komisaris untuk tindakan lebih
lanjut.
TOPIK 6
KONSEP AUDIT BERBASIS
RISIKO
Dilarang menyalin dan/atau mengutip sebagian atau seluruh isi dengan cara apapun tanpa izin sah dari penulis.
do not copy
KONSEP AUDIT BERBASIS RISIKO
Audit Berbasis Risiko (Risk Based Internal Audit) merupakan suatu pendekatan dalam
melaksanakan audit berdasarkan prioritas tingkat risiko yang ada pada proses bisnis
dalam perusahaan.
Pelaksanaan audit berbasis risiko dilakukan untuk mengaudit tindak pengendalian dan
respons risiko yang ada dari sebuah risiko pada suatu proses bisnis. Konsep ini
mengharuskan satuan kerja pemilik risiko melakukan pemetaan risiko dan koordinasi
dengan satuan kerja fungsi manajemen risiko yang mencakup identifikasi risiko, penilaian
risiko pada setiap proses bisnis, termasuk melakukan pengendalian risiko.
❑ Pemetaan risiko perusahaan didasarkan pada identifikasi
dan pengukuran risiko pada setiap aktifitas dalam setiap
proses bisnis.
❑ Hasil pemetaan risiko menjadi dasar dalam penyusunan
lingkup audit yang dilakukan oleh organisasi.
do not copy
KONSEP AUDIT BERBASIS RISIKO
Mengapa Perlu Menerapkan Konsep Audit Berbasis Risiko?
1) Pendekatan audit berbasis risiko memungkinkan auditor intern melakukan
identifikasi risiko secara lebih tepat dan strategi pengujian pengendalian secara
akurat untuk mengetahui efektifitas dari pengendalian yang diterapkan terhadap
risiko yang melekat pada proses bisnis.
2) Pelaksanaan audit menjadi lebih efisien dan tepat sasaran, karena mengacu pada
prioritas risiko yang dihadapi perusahaan.
3) Memungkinkan perusahaan untuk secara konsisten meningkatkan pengelolaan risiko
pada setiap proses bisnis.
TOPIK 7
IDENTIFIKASI RISIKO
PROSES BISNIS
Dilarang menyalin dan/atau mengutip sebagian atau seluruh isi dengan cara apapun tanpa izin sah dari penulis.
do not copy
KONSEP AUDIT BERBASIS RISIKO
Pemetaan Proses Bisnis
Proses bisnis adalah serangkaian aktivitas yang saling terkait dengan urutan spesifik
untuk menghasilkan produk atau layanan tertentu, atau menyelesaikan suatu masalah
tertentu.
Dalam kaitannya dengan sistem pengendalian intern, pemetaan proses bisnis perlu
dilakukan. Melalui pemetaan proses bisnis dapat diidentifikasi risiko pada setiap aktivitas,
sehingga dapat dilakukan tindakan pengendalian risiko.
Identifikasi Risiko
Hasil identifikasi risiko dituangkan dalam Pemetaan proses bisnis dan identifikasi
suatu dokumen yang paling sedikit risiko dapat dilakukan oleh satuan kerja
memuat: terkait berkoordinasi dengan Satuan Kerja
a. Tahapan proses atau Pejabat Eksekutif fungsi Manajemen
b. Hasil identifikasi risiko Risiko.
c. Sumber risiko
do not copy
KONSEP AUDIT BERBASIS RISIKO
Contoh Identifikasi Risiko Contoh Form Identifikasi
Risiko tersedia dalam folder
pelatihan
do not copy
KONSEP AUDIT BERBASIS RISIKO
Matrik Kendali Risiko
Identifikasi risiko sebagai dasar pembuatan suatu matrik kendali risiko. Dengan adanya matrik
kendali risiko akan memudahkan perusahaan untuk mengevaluasi kecukupan rancangan
pengendalian atas risiko.
Proses Bisnis :
Kecende
Tahapan Identifikasi Tindakan Risiko
No Sumber risiko Dampak risiko rungan
bisnis risiko pengendalian akhir
risiko
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
Keterangan pengisian:
(1) Nomor urut risiko
(2) Tahapan dalam proses bisnis
(3) Hasil identifikasi risiko pada tahapan proses tersebut, dapat berupa perkiraan atau historis kejadian risiko.
(4) Penyebab terjadinya risiko tersebut, berupa hasil analisis penyebab timbulnya risiko atau akar permasalahannya.
(5) Dampak dari risiko tersebut, berupa akibat dari kejadian, misalnya timbulnya permasalahan dan/atau kerugian
(6) Hasil pengukuran risiko, 1 = sangat rendah, 2 = rendah, 3 = sedang, 4 = tinggi, 5 = sangat tinggi
(7) Bentuk tindakan pendendalian yang telah disiapkan dan/atau dilakukan
(8) Risiko akhir yang diharapkan setelah dilakukannya tindakan pengendalian
do not copy
IDENTIFIKASI RISIKO
Contoh Matrik Kendali Risiko Contoh Matrik Kendali
Risiko tersedia dalam
folder pelatihan
TOPIK 8
MENYUSUN PROGRAM AUDIT
BERBASIS RISIKO
Dilarang menyalin dan/atau mengutip sebagian atau seluruh isi dengan cara apapun tanpa izin sah dari penulis.
do not copy
MENYUSUN PROGRAM AUDIT
PROGRAM AUDIT
Program audit merupakan dokumentasi prosedur bagi Auditor Intern dalam
mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasikan, dan mendokumentasikan informasi
selama pelaksanaan audit, termasuk catatan untuk pemeriksaan yang akan datang.
Tujuan Penyusunan Program Audit
1. Agar audit dapat dilaksanakan secara sistematis.
2. Memastikan risiko prioritas yang akan diaudit telah diinventarisasi.
3. Memastikan langkah-langkah pengujian audit berdasarkan ruang lingkup dalam
rangka mencapai tujuan audit secara efektif, efisien dan berkualitas.
4. Menjadi dasar penugasan tim audit yang tepat.
5. Membantu auditor baru yang belum terlatih dalam tahap-tahap pelaksanaan audit.
do not copy
MENYUSUN PROGRAM AUDIT
Cakupan Program Audit
Program audit paling sedikit mencakup:
1. Tujuan audit
2. Luas, tingkat, dan metodologi pemeriksaan
3. Periode pemeriksaan
4. Identifikasi aspek-aspek teknis, risiko, proses dan transaksi yang harus diuji,
termasuk pengolahan data elektronik.
5. Prosedur dalam rangka mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasikan, dan
mendokumentasikan informasi selama pelaksanaan audit.
Program audit dapat dilengkapi dengan:
1. Gambaran umum tentang objek audit
2. Temuan-temuan signifikan pada pelaksanaan audit sebelumnya, baik yang
dilakukan oleh Auditor Intern maupun Otoritas Jasa Keuangan.
Contoh program audit
tersedia dalam folder
pelatihan
do not copy
MENYUSUN PROGRAM AUDIT
Tujuan Audit
Tujuan audit adalah uraian mengenai apa yang ingin diperoleh dari kegiatan audit
tersebut. Berikut ini adalah contoh perumusan tujuan audit.
Satuan Kerja Objek Audit Tujuan Audit
Kredit Pemberian kredit Memberikan keyakinan bahwa proses pemberian kredit
telah dilaksanakan sesuai kebijakan dan tata kelola yang
baik, serta risiko telah dimitigasi dengan baik.
Penghimpunan Deposito Memberikan keyakinan bahwa pelaksanaan penghimpunan
Dana deposito sesuai kebijakan dan prosedur, tidak ada benturan
kepentingan, hak deposan terjamin dan risiko telah
dimitigasi dengan baik.
Operasional Kas Memberikan keyakinan bahwa pengelolaan kas telah sesuai
kebijakan dan prosedur serta risiko telah dimitigasi dengan
baik.
do not copy
MENYUSUN PROGRAM AUDIT
Luas Pemeriksaan
Luas pemeriksaan mencakup cakupan pemeriksaan, populasi data dan sampling yang
akan digunakan.
Berikut ini adalah contoh pemrumusan luas pemeriksaan:
Satuan kerja : Kredit
Objek audit : Pemberian kredit
Tujuan audit : Memberikan keyakinan bahwa proses pemberian kredit telah dilaksanakan sesuai
kebijakan dan tata kelola yang baik, serta risiko telah dimitigasi dengan baik.
Luas audit : Proses pemberian kredit yang mencakup seluruh berkas pemberian kredit
(permohonan kredit termasuk dokumen persyaratan, lembar survey, hasil download
ideb, proposal kredit, opini manrisk, reviu kepatuhan, keputusan komite kredit,
dokumen perikatan kredit, bukti pencairan kredit, reviu oleh Dewan Komisaris (jika
ada)
Sampling: 20 debitur terbesar
do not copy
MENYUSUN PROGRAM AUDIT
Tingkat Pemeriksaan
Tingkat pemeriksaan merupakan gambaran fokus pemeriksaan, misalnya a) kepatuhan
terhadap kebijakan dan prosedur, b) keakuratan dan ketelitian dalam pencatatan c)
kecukupan dalam pengendalian risiko.
Berikut ini adalah contoh pemrumusan tingkat pemeriksaan:
Satuan kerja : Kredit
Objek audit : Pemberian kredit
Tujuan audit : Memberikan keyakinan bahwa proses pemberian kredit telah dilaksanakan sesuai
kebijakan dan tata kelola yang baik, serta risiko telah dimitigasi dengan baik.
Tingkat : Kepatuhan terhadap kebijakan dan prosedur serta jecukupan dalam pengendalian
pemeriksaan risiko.
Periode Pemeriksaan
Periode pemeriksaan adalah rentang waktu data dari proses bisnis yang akan diperiksa.
do not copy
MENYUSUN PROGRAM AUDIT
Metodologi Pemeriksaan
Metodologi pemeriksaan merupakan cara-cara atau metode pemeriksaan yang akan
dilakukan saat audit.
Berikut ini adalah contoh pemrumusan metodologi pemeriksaan:
Metodologi : Secara umum pemeriksaan akan dilakukan terhadap sample data dan informasi berdasarkan
pemeriksaan potensi risko yang tertuang dalam matrik kendali risiko.
Pelaksanaan audit akan dilakukan sbb:
1. Koordinasi dengan satuan kerja yang diaudit untuk memperoleh pemahaman
a. Kebijakan dan prosedur yang mendasari pemberian kredit
b. Proses pemberian kredit
c. Permasalahan dalam pemberian kredit
2. Memperoleh data/dokumen relevan
3. Melakukan evaluasi dan analisis untuk memperoleh keyakinan kelengkapan dan kesesuaian
proses pemberian kredit
4. Melakukan diskusi dan klarifikasi dengan Pejabat/Pegawai Satuan Kerja Kredit atas hasil
evaluasi dan analisis yang telah dilakukan.
5. Melakukan pembahasan hasil audit (exit meeting) dengan Kepala Cabang/Kepala Satuan
Kerja Kredit untuk memperoleh kesepakatan dan/atau kesimpulan hasil audit, serta tindak
lanjut perbaikan apabila diperlukan.
do not copy
MENYUSUN PROGRAM AUDIT
Identifikasi Aspek-aspek yang Harus Diuji
Berdasarkan gambaran umum tentang objek audit dan/atau hasil temuan audit
sebelumnya, inventarisasi hal-hal yang harus dilakukan pengujian pada saat
melaksanakan audit, antara lain:
1. Aspek-aspek teknis atau proses bisnis
Hal-hal teknis ataupun proses bisnis yang perlu dipastikan pelaksanaannya sesuai
ketentuan, baik peraturan perundang-undangan, kebijakan dan prosedur yang
berlaku.
2. Risiko yang perlu diuji efektifitas pengendaliannya
Identifikasi risiko dapat diambil dari matrik kendali risiko atau hasil identifikasi risiko
dari proses bisnis, termasuk hal-hal yang pernah terjadi. Pilih berdasarkan tingkat
risiko yang lebih tinggi.
3. Aspek pengelolaan data elektronik
Hal-hal yang mungkin dapat terjadi kesalahan pada pengolahan data elektronik, pada
saat input, pengaksesan, penyimpanan, pemrosesan data, dan penyajian informasi.
TOPIK 9
MENYIAPKAN
KERTAS KERJA AUDIT
Dilarang menyalin dan/atau mengutip sebagian atau seluruh isi dengan cara apapun tanpa izin sah dari penulis.
do not copy
KERTAS KERJA AUDIT
Kertas Kerja Audit adalah media untuk mendokumentasikan catatan pelaksanaan
program audit. Kertas Kerja Audit dapat berupa kertas atau softcopy yang disimpan dalam
pita magnetic atau media penyimpanan data elektronik lainnya.
Fungsi Kertas Kerja Audit Isi Kertas Kerja Audit
❑ Membantu auditor dl melaksanakan tugas. Kertas kerja audit paling sedikit memuat:
❑ Membantu auditor dalam pembuatan o Periode pemeriksaan
laporan hasil audit. o Satuan kerja yang diperiksa
❑ Mendukung opini auditor. o Tanggal pemeriksaan
❑ Untuk memperoleh gambaran apakah
o Nama pemeriksa
tujuan audit telah tercapai sesuai dengan
o Temuan pemeriksaan
yang direncanakan.
❑ Membantu pihak lain yang berkepentingan o Tanggapan/tindak lanjut auditee
dalam memeriksa hasil audit, dan menilai o Tanda tangan/paraf auditor, auditee,
kemampuan atau kualitas SKAI/PE Audit pejabat
Intern dalam melaksanakan tugasnya.
do not copy
KERTAS KERJA AUDIT
Contoh kertas kerja
audit tersedia dalam
folder pelatihan
do not copy
KERTAS KERJA AUDIT
Pastikan Kertas Kerja Audit telah
memadai untuk mencatat/merekam
pelaksanaan program audit.
Pengawasan Kertas Kerja Audit
Kertas kerja audit harus berada dalam pengawasan SKAI/PE Audit Intern dan hanya
boleh diakses oleh yang berwenang.
Pengambilan, peminjaman, dan pembuatan salinan oleh pihak lain, seperti satuan kerja
lain di BPR dan auditor ekstern harus dengan persetujuan Kepala SKAI/PE Audit Intern
dengan tetap memperhatikan ketentuan mengenai rahasia bank.
do not copy
KERTAS KERJA AUDIT
Penyimpanan Kertas Kerja Audit
Penyimpanan kertas kerja audit harus dipisahkan menjadi:
Arsip Dinamis arsip yang digunakan secara langsung dalam kegiatan pencipta arsip
dan disimpan selama jangka waktu tertentu
Arsip Aktif arsip yang frekuensi penggunaannya tinggi dan/atau terus menerus
Arsip Inaktif arsip yang frekuensi penggunaannya telah menurun
SKAI/PE Audit Intern harus membuat ketentuan mengenai tata cara penyimpanan arsip
tersebut yang disesuaikan dengan ketentuan termasuk penetapan jadwal retensi.
TOPIK 10
LAPORAN PELAKSANAAN
FUNGSI AUDIT
Dilarang menyalin dan/atau mengutip sebagian atau seluruh isi dengan cara apapun tanpa izin sah dari penulis.
do not copy
LAPORAN PELAKSANAAN FUNGSI AUDIT INTERN
Laporan terkait pelaksanaan fungsi audit intern terdiri dari laporan intern BPR dan laporan
kepada Otoritas Jasa Keuangan
Laporan Intern BPR Laporan kepada OJK
Auditor Intern berkewajiban untuk a. Laporan pengangkatan atau
menuangkan hasil audit dalam bentuk pemberhentian Kepala SKAI/PE Audit
laporan tertulis, yaitu: Intern
a. Laporan hasil audit b. Laporan pelaksanaan dan pokok-
b. Laporan perkembangan pelaksanaan pokok hasil audit intern
tindak lanjut perbaikan yang telah c. Laporan khusus, jika ada
dilakukan Auditee. d. Laporan hasil kaji ulang oleh pihak
ekstern bagi BPR dengan modal inti
paling sedikit Rp50 miliar.
Contoh format laporan
tersedia dalam folder
pelatihan
do not copy
Laporan Hasil Audit
Laporan hasil audit harus dapat berfungsi sebagai dokumen formal yang mencerminkan
tanggung jawab Auditor Intern dan Auditee atas kegiatan yang dilakukan.
Laporan tersebut harus memenuhi standar pelaporan, memuat kelengkapan materi, dan
melalui proses penyusunan yang baik.
❑ Proses penyusunan laporan perlu dilakukan dengan cermat
agar dapat disajikan laporan yang akurat dan berguna bagi
Auditee.
❑ Proses tersebut berupa kompilasi dan analisis temuan audit.
❑ Temuan audit yang akan dituangkan dalam laporan harus
dikompilasi dan dianalisis tingkat signifikansinya.
do not copy
Laporan Hasil Audit
Laporan hasil audit paling sedikit 5. Konstruktif
harus memenuhi standar sebagai Laporan harus konstruktif dan dapat memberikan
saran perbaikan atau arah bagi Auditee untuk dapat
berikut. melakukan perbaikan.
1. Tertulis 6. Ditandatangani oleh Auditor Intern
Laporan harus memuat hasil audit sesuai dengan Tanda tangan Auditor Intern dimaksudkan sebagai
ruang lingkup penugasan. bentuk tanggung jawab atas kebenaran isi laporan
2. Diuraikan secara singkat dan mudah dipahami yang dibuat.
Laporan harus dibuat secara singkat yang memuat 7. Tepat waktu
beberapa hal pokok atau yang dianggap penting dan Laporan harus dibuat dan disampaikan tepat waktu
hal-hal yang perlu untuk dilakukan perbaikan oleh atau dalam batas waktu yang masih relevan dengan
Auditee. materi laporan.
3. Didukung kertas kerja yang memadai 8. Sistematis
Laporan yang memuat temuan audit harus didukung Laporan harus dituangkan secara sistematis yang
kertas kerja yang memadai agar dapat antara lain memuat objek audit, periode audit,
dipertanggungjawabkan. temuan audit, kesimpulan, dan rekomendasi serta
4. Objektif tanggapan Auditee.
Laporan harus objektif dan berdasarkan fakta serta
tidak memihak kepada kepentingan tertentu.
do not copy
Laporan Hasil Audit
1. Laporan Hasil Audit
Setiap pelaksanaan Surat Penugasan Audit, SKAI/PE Audit Intern membuat laporan
hasil audit.
Penyampaian Laporan:
Laporan hasil audit disampaikan kepada:
Isi Laporan:
1. Direktur Utama, untuk mendapatkan
❑ Tujuan dan pendekatan audit
disposisi
❑ Temuan audit, yang meliputi:
o rumusan temuan audit 2. Komisaris, sebagai laporan
3. Direktur Kepatuhan, sebagai
o rekomendasi tindak lanjut
tembusan
o tanggapan auditee
4. Komite Audit (jika ada), sebagai
o komitmen auditee
tembusan
❑ Hasil pengecekan komitmen
5. Auditee, sebagai arsip dan
auditee
pelaksanaan tindak lanjut oleh
auditee.
6. SKAI, sebagai arsip
do not copy
Laporan Hasil Audit
Contoh Format Laporan Hasil Audit Format laporan ini
tersedia dalam folder
pelatihan
do not copy
Laporan Pelaksanaan dan Pokok-pokok Hasil Audit Intern
2. Laporan Pelaksanaan dan Pokok-pokok Hasil Audit
Dalam rangka pelaksanaan fungsi audit intern, BPR wajib
menyampaikan laporan pelaksanaan dan pokok-pokok hasil audit
intern termasuk informasi hasil audit yang bersifat rahasia
kepada Otoritas Jasa Keuangan.
Ketentuan Laporan:
1. Laporan berupa rangkuman dari seluruh laporan hasil audit
pada tahun buku yang disusun oleh SKAI/PE Audit Intern
yang dilaporkan kepada Direktur Utama dan Dewan Komisaris
serta tembusannya kepada Direktur yang membawahkan
fungsi kepatuhan.
2. Ditandatangani oleh Direktur Utama dan Komisaris Utama
serta disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan paling
lambat pada tanggal 31 Januari tahun berikutnya.
do not copy
Laporan Pelaksanaan dan Pokok-pokok Hasil Audit Intern
Laporan pelaksanaan dan pokok-pokok hasil audit intern
memuat materi paling sedikit:
1. Ruang lingkup dan waktu pelaksanaan audit.
2. Temuan audit yaitu pengungkapan secara jelas fakta yang terjadi, keadaan yang seharusnya, serta
dampak dan penyebab terjadinya penyimpangan.
3. Kesimpulan SKAI/PE Audit Intern atas hasil audit yang menyatakan kesesuaian atau penyimpangan
yang terjadi pada BPR berdasarkan hasil audit.
4. Pernyataan auditor bahwa audit telah dilakukan sesuai pedoman standar pelaksanaan fungsi audit
intern BPR.
6. Rekomendasi mengenai langkah-langkah perbaikan yang diusulkan oleh SKAI/PE Audit Intern terhadap
hasil temuan audit.
7. Tanggapan auditee yang dapat berupa persetujuan atau penolakan terhadap hasil audit beserta
alasannya.
8. Tindak lanjut auditee yang ditentukan oleh SKAI/PE Audit Intern terhadap temuan audit pada auditee.
9. Komitmen auditee yang telah disepakati oleh SKAI/PE Audit Intern dengan auditee untuk dijalankan
dalam rangka memperbaiki kondisi BPR.
10. Hasil pemantauan komitmen auditee yang dilakukan oleh SKAI/PE Audit Intern terhadap realisasi
komitmen yang telah dijanjikan oleh auditee.
do not copy
Laporan Pelaksanaan dan Pokok-pokok Hasil Audit Intern
Contoh Format Laporan: Format laporan ini
tersedia dalam
folder pelatihan
do not copy
Laporan Khusus
3. Laporan Khusus
Laporan khusus dibuat dalam hal terdapat temuan audit intern
yang diperkirakan dapat mengganggu kelangsungan usaha
BPR.
Temuan audit intern yang diperkirakan dapat mengganggu
kelangsungan usaha BPR adalah temuan audit yang memenuhi
kondisi antara lain:
a. Menurunkan rasio permodalan
b. Terindikasi tindak pidana
c. Dapat menyebabkan BPR ditempatkan dalam status
pengawasan khusus (BPR dalam Resolusi).
do not copy
Laporan Khusus
Penyampaian Laporan kepada OJK
a) Laporan disusun oleh SKAI/PE Audit Intern dan ditandatangani oleh Direktur Utama
dan Komisaris Utama serta disampaikan kepada OJK paling lambat 10 hari kerja
setelah ditemukannya temuan yang memenuhi kondisi di atas oleh SKAI atau PE
Audit Intern.
b) Dalam hal Direktur Utama berada dalam kondisi berhalangan sementara, laporan
dapat ditandatangani oleh Dewan Komisaris dengan dilampirkan bukti berhalangan
sementara dari Direktur Utama.
c) Laporan ditembuskan kepada Direktur yang membawahkan fungsi kepatuhan.
Ruang Lingkup Laporan Khusus
1. Temuan audit intern yang diperkirakan dapat menyebabkan BPR mengalami
kesulitan yang mengganggu kelangsungan usahanya.
2. Bukti pendukung temuan audit
3. Tindak lanjut temuan audit
do not copy
Laporan Kaji Ulang
4. Laporan Kaji Ulang
BPR dengan modal inti paling sedikit Rp50 miliar wajib
menyampaikan laporan hasil kaji ulang oleh pihak ekstern.
Ketentuan Laporan:
1. Pihak ekstern adalah akuntan publik dan/atau kantor
akuntan publik yang terdaftar di OJK dan tidak melakukan
audit terhadap laporan keuangan BPR yang bersangkutan
dalam 3 tahun terakhir.
2. Kaji ulang dilakukan paling sedikit sekali dalam 3 tahun.
3. Laporan hasil kaji ulang disampaikan kepada OJK paling
lambat 1 bulan setelah hasil kaji ulang oleh pihak ekstern
diterima oleh BPR.
do not copy
Laporan Kaji Ulang
Ruang Lingkup Laporan Kaji Ulang
Laporan hasil kaji ulang paling sedikit mencakup:
1. Pendapat tentang hasil kerja SKAI/PE Audit Intern
2. Kepatuhan SKAI/PE Audit Intern terhadap pedoman standar pelaksanaan fungsi
audit intern BPR.
3. Penilaian terhadap sistem pengendalian intern
4. Saran perbaikan yang mungkin dilakukan
do not copy
AUDIT BERBASIS RISIKO
Terima kasih telah mengikuti pelatihan bersama saya...
IR. ZINSARI, MM, MBA
do not copy
Consulting
sekilas tentang narasumber
Zinsari adalah seorang praktisi sekaligus teknolog di bidang
pendidikan dan pelatihan kompetensi kerja, seorang insinyur
teknik elektro yang juga mengenyam pendidikan di bidang
manajemen, keuangan dan perbankan. Memulai karir sebagai
guru SMA, praktisi teknologi informasi, dosen perbankan,
hingga level manajemen puncak di perbankan. Memiliki
pengalaman kerja lebih 15 tahun di bidang teknologi informasi,
lebih dari 20 tahun di bank perekonomian rakyat dan
pengalaman memberi pelatihan dan asesmen kompetensi lebih
dari 15 tahun.
Melatih lebih dari 20.000 peserta baik di sektor jasa keuangan,
akademisi, birokrat dan praktisi di berbagai institusi maupun
sektor industri.
Zinsari juga seorang Master Asesor, Lead Asesor, Master Trainer,
Penyusun SKKNI, Penyusun modul pelatihan, Pembuat Materi
Uji dan seorang Penulis.
IR. ZINSARI, MM, MBA....