Anda di halaman 1dari 766

Tiraikasih Website http://kangzusi.

com/

Thay Kek Kie Hiap Toan Karya : Liang Ie Shen Saduran : OKT Sumber : TopMdi website Ebook oleh : Dewi KZ http://kangzusi.com/ atau http:// http://dewikz.byethost22.com/

Seri 1
Pada tiga puluh tahun yang lalu, dengan sebuah kereta keledai, penulis berangkat ke luar daerah perbatasan. Ialah pada bulan kesembilan dari musim ketiga, tanah datar ada belukar, hingga bumi nampaknya nempel dengan langit. Sesudah melalui beberapa puluh lie, sang maghrib telah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mendatangi. Di sekitar kita tidak ada rumah orang. Selagi kita mulai sibuk, tiba-tiba kita dengar tindakan kaki kuda di sebelah belakang. Dua penunggang kuda lagi mendatangi. Tapi, setelah mendekati kita, suara tindakan jadi kendor. Nyata orang tidak lewati kita. Diam-diam kita kuatirkan orang jahat. Dari dua penunggang kuda itu, yang kita lihat selagi kita menoleh ke belakang, yang satu berumur empat puluh tahun lebih, yang lainnya, tiga puluh lebih, dua-dua romannya keren, samar-samar kelihatan pedangnya masing-masing. Selagi kita berkuatir, tiba-tiba mereka liwati kita, kudanya dikaburkan, selagi liwat, mereka menoleh. Nampaknya mereka heran tapi mereka kabur terus. Belasan lie lagi kita sudah pergi, kita tetap tidak melihat rumah orang. Sekarang sang maghrib sudah datang, kita jadi bingung, lebih-lebih setelah melihat dua orang tadi. Di mana kita mesti bermalam? Lihat! tiba-tiba kusir berseru, seraya tangannya menunjuk ke depan. Sebuah bukit kecil berada di depan kita, di tengah itu, nampak satu kuil tua. Di situ banyak pepohonannya. Kita segera menuju ke sana, dan berhenti di antara pepohonan. Kita mendaki sedikit akan hampirkan kuil itu. Kita mengetok pintu sekian lama, baharu kita dengar jawaban seorang tua: Pintu tidak dikunci, masuk saja! Pekarangan dalam dan pendopo ada sunyi. Beberapa ekor lawa-lawa beterbangan sambil cecowetan. Di tengah pendopo, duduk bersila seorang niekouw, ialah pendeta perempuan yang usianya sudah lanjut. Dia duduk diam bagaikan patung. Selagi menantikan, kita lihat sebuah pohon besar, besarnya kira-kira sepelukan. Yang aneh ialah, di batang pohon itu ada dua buah tapak tangan yang dalam, tapak seperti dikorek.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sekian lama kita menunggu, niekouw itu tetap diam saja, maka dengan hati-hati, kita nanjak di tangga, selagi kita hampirkan bagian belakang orang alim itu, sekonyongkonyong dia menoleh dan kata sambil tertawa: Tuan-tuan tentulah sudah letih. Sedetik saja kita lihat, sepasang mata yang tajam dan bersinar, sebuah muka yang sudah keriputan, akan tetapi, kita percaya di masa mudanya, niekouw itu mesti cantik luar biasa. Pinnie masih belum selesai, kata pula niekouw itu, silakan Tuan-tuan menantikan sebentar di kamar samping sana. Kita masuk ke kamar yang ditunjukkan, kamar itu tak berperabot kecuali sebuah meja dengan beberapa patungnya. Di situ ada sebuah tokpan yang luar biasa dengan setangkai bunganya, yang harum. Di pojok tembok, ada sekumpulan rumput, entah pepohonan apa. Heran aku pikir, di tempat suci seperti ini, ada sebuah kuil dengan pendetanya perempuan. Sembari menantikan si pendeta, aku keluarkan sejilid kitab Wei Mo Tjhing, untuk dibaca guna menenteramkan hati. Sungguh kau rajin, Tuan! tiba-tiba aku dengar suaranya si pendeta selagi aku membaca belum lama. Apakah kau merasa aneh bahwa di tempat sesunyi ini ada sebuah kuil serta pendetanya? Mari kita pergi ke ruangan sana. Pinnie telah sediakan thee pahit untuk melenyapkan dahaga. Sembari minum, nanti pinnie tuturkan satu dan lain mengenai keadaanku. Kita terima baik undangan itu, sambil keringkan dua cawan thee. Segera juga niekouw tua ini bicara tentang agama Budha serta agama Lhama, yang ada suatu cabang dari Budhisme, hanya Lhamaisme ada kecampuran kebiasaan-kebiasaan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

setempat yang zaman modern anggap tahayul. Umpama satu pendeta dari Tionggoan, sukar tancap kaki di Tibet apabila dia tidak turut segala kepercayaan kaum Lhama. Atau kalau dia tidak mengerti ilmu telan golok muntahkan api, dia mesti punya suatu kepandaian lain yang istimewa, umpama obatobatan. Dan guruku adalah suatu niekouw, murid dari angkatan ketiga dari satu pendeta yang merantau ke Mongolia dan Tibet pada seratus tahun yang lampau. Guru besar itu dapatkan kedudukannya di sini karena ia bisa letaki burung di telapakan tangannya tanpa burung itu mampu terbang pergi. Maka akhirnya, guru besar itu bisa dirikan tiga buah biara, antaranya ini yang sekarang pinnie tempati. Selagi pendeta ini berkata demikian, hujan, yang sudah mulai turun sekian lama, menghembuskan angin ke dalam, menyingkap selembar kain penutup patung-patung di atas meja hingga kelihatanlah di situ sebuah patung lelaki yang romannya cakap dan gagah. Pendeta itu terkejut, matanya bersinar, tapi lekas juga menjadi tenang pula. Jangan heran Tuan, itulah gambarnya tunanganku, katanya kemudian. Kenapa satu niekouw mempunyai tunangan? Pendeta itu berikan keterangannya tanpa diminta lagi. Tunanganku telah terbinasa pada tiga puluh tahun yang lalu, binasa teraniaya di tangannya satu musuh, demikian penjelasannya. Dia ada satu murid dari Golongan Silat Thay Kek Pay, sejak muda ia telah merantau, tapi kemudian ia binasa di tangannya satu manusia rendah. Oh, tak sanggup aku menutur terlebih jauh. Cukup kalau pinnie terangkan, untuk tunanganku itu, sudah tiga puluh enam tahun lamanya, pinnie lakoni ini macam penghidupan sunyi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Angin di luar meniup makin keras, hujanpun tambah besar, suaranya terdengar nyata di pohon besar di luar kuil. Sekonyong-konyong tampangnya si pendeta berubah, agaknya terkejut. Ia lantas ambil beberapa biji tasbih, ia timpukkan itu keluar, ke udara. Mulanya ia menimpuk satu biji, lantas nyusul yang kedua. Ini yang belakangan kebentrok sama yang pertama, yang lagi jatuh turun. Keduanya lantas perdengarkan satu suara nyaring. Enam biji dia timpukkan, tiga kali terdengar suara beradu itu. Cuaca gelap, tapi semua tasbih bisa beradu satu dengan lain, itu menunjukkan ilmu kepandaiannya niekouw ini. Tasbih pinnie ini, dahulu di kalangan Kang-ouw, ada juga namanya yang kecil, kemudian si niekouw bersenyum. Ini dia yang dinamai piauw Bouw-nie-tjoe. Orang yang datang malam ini, sahabat atau lawan, mestinya kenal baik piauw pinnie ini! Sebelum ucapan itu berhenti, dari atas pohon besar berkelebat dua bayangan orang seraya terdengar suaranya juga: Soehoe, jangan lepas piauw! Inilah kita anak-anak yang datang! Bagaikan burung melayang, dua orang segera sampai di depannya niekouw tua itu. Aku tahu maksud kedatangan kau orang! kata si niekouw. Aku mesti turut kau orang untuk tugasku yang lagi belum selesai! Dua orang itu adalah dua penunggang kuda, yang tadi diketemukan di tengah jalan. Setelah dua orang itu memberi hormat dan duduk, niekouw itu melanjutkan kata-katanya: Kebenaran sekali Tuan datang ini malam! Besok pinnie sudah mesti ikut mereka ini, entah buat hidup terus atau terbinasa. Baiklah malam ini pinnie gunakan untuk memberi penuturan, agar anak-anak inipun sekalian mendapat tahu. Umpama kita terbinasa, Tuan, kau

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

nanti boleh siarkan tentang aku ini, perihal hebatnya balasmembalas di kalangan Rimba Persilatan Dan niekouw tua itu tuturkan riwayatnya, yang merupakan ceritera kita ini. Demikian Liang Yusheng, si penulis, akhirkan permulaannya. I Distrik In-koan di perbatasan kedua Propinsi Shoatang dan Hoopak, dulu pernah jadi aliran dari Sungai Hong Hoo ke laut, ketika kemudian aliran itu digeser, air toh masih menggenang di situ, luasnya beberapa ratus lie, di situ orang masih mondar-mandir untuk pengangkutan di muka air, sedang di bagian-bagian yang dalam, permukaan air penuh dengan gelagah, ganggang dan rumput air lainnya. Inilah dia Muara Kho Kee Po yang kesohor. Di sini Touw Kian Tek berpusat di zaman Kerajaan Soei, namanya sama kesohornya seperti Wa Kong Tjee dari Tjin Siok Po dan Thia Kauw Kim beramai. Di tepi Muara Kho Kee Po ini, ada satu dusun kecil, Kim Kee Tjoen namanya Dusun Ayam Emas. Di belakang dusun ini ada sebuah bukit kecil tetapi indah. Sedangkan di atas bukit itu, di tanah yang datar, pada pagi itu dalam musim Tjoen yang permai, dua pemuda dan satu pemudi, asyik berlatih silat dengan gembira. Mereka ada Yo Tjin Kong, Tjoh Ham Eng serta Lioe Bong Tiap; yang pertama dan kedua ada murid yang kedua dan ketiga dari Lioe-kauwsoe Lioe Kiam Gim, guru silat kenamaan dari cabang Thay Kek Pay, dan yang ketiga ada gadisnya guru silat itu, satu nona cantik dan gesit. Ham Eng dan Bong Tiap asyik adu kepandaian dan Tjin Kong sedang menonton sambil bersandar di cabang pohon, tampangnya berseri-seri. Cara berlatihnya kedua saudara seperguruan itu ada luar biasa. Ham Eng berlari-lari terputar-putar, tangannya mencekal tambang yang diikati dua belas butir bola pualam

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang kecil mungil, kalau tambangnya digentak atau dikedut, tambangnya lantas jadi lempang dan kaku bagaikan toya, dua belas bola kecilnya lantas bergerak-gerak, bersinar menyilaukan mata. Setelah lari dua putaran, dengan larinya makin keras, Ham Eng lantas berseru: Soemoay, kau juju dan seranglah! Lioe Bong Tiap mengejar, tangannya mencekal beberapa biji piauw besi namanya piauw besi, sebenarnya itu ada uang tang-tjhie zaman Kaisar Ham Hong. Ini ada gantinya Kim-tjhie-piauw, yang tajam di kedua muka, yang Lookauwsoe Lioe Kiam Gim dapatkan dari Thay-kek Teng di Shoatang. Thay-kek Teng ada satu ahli silat she Teng dari cabang Thay Kek Pay juga. Atas seruan soehengnya, sebelah tangannya Bong Tiap lantas bergerak, disusul sama menyambarnya sebiji piauw besi, tetapi si nona sendiri berseru: Yang ketiga! Gerakan tangannya adalah yang dinamai Hong hong tian tjie atau Burung hong pentang sayap. Segera terdengar satu suara keras, atas mana, Ham Eng berhenti berlari, akan lihat bola pualamnya. Ia dapatkan benar sekali, bolanya yang ketiga yang telah kena dihajar sampai ikatan kawat halusnya putus dan bolanya jatuh. Bagus! ia berseru dengan pujiannya sambil tertawa, sesudah mana, ia lari lagi. Bong Tiap mengejar pula tanpa bilang suatu apa, ia berlarilari dengan gunai ilmu entengi tubuh yang dinamai Pat pouw kan sian atau Delapan tindak mengejar tonggeret, lalu sembari lari ia menimpuk tiga kali, sekali ini sambil berseru: Yang kesatu! Keempat! Kedelapan! Sembari menyambit, ia berlompatan dengan tipu silat Koay bong hoan sin atau Ular naga jumpalitan. Lalu beruntun terdengar dua suara beradu, dua bola jatuh ke tanah. Tapi piauw yang ketiga dijepit antara dua jerijinya Ham Eng, siapa berbuat demikian sambil tertawa besar.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mukanya Bong Tiap menjadi merah. Dia telah menimpuk membikin tiga piauw bersinar sebagai tiga buah bintang. Ham Eng ketahui liehaynya sambitan itu, tapi dia pun hendak perlihatkan kepandaiannya, dia sengaja sambar yang ketiga dan tangkap itu. Untuk ini, ia berkelit dahulu, selagi piauw mendekati tenggorokannya, ia angkat tangan kirinya, jari telunjuk dan tengahnya lantas menjepit! Melihat demikian, Yo Tjin Kong serukan supaya mereka berhenti berlatih, kemudian ia berikan pertimbangannya dengan berkata: Soemoay punya permainan piauw sudah sempurna, hanya yang ketiga barusan, ditimpuknya secara terlalu terburu nafsu. Kau, Sam-soetee, masih banyak kelemahannya, gerakan Tiat-poan-kiomu masih lambat. Adalah lebih baik kau berkelit dengan Yan Tjeng Sip-pat-hoan. Dalam pertempuran, orang mesti berhati tenang tapi juga gesit. Meski adanya pertimbangan dari sang soeheng itu, Bong Tiap tidak puas. Dari tiga piauw, cuma dua yang mengenai, aku tetap kalah! katanya. Sam-soeheng, mari kita berlatih pula, dengan tangan kosong! Ia kepal tangannya, dan menghampirinya. Tjoh Ham Eng angkat pundak. Kau sudah menang, Soemoay, kenapa kau masih belum puas? katanya. Kau tidak lelah tetapi aku yang sudah letih. Biar besok saja aku layani pula padamu. Tidak, Soeheng! mendesak si nona. Usianya dua pemuda dan pemudi ini tidak berjauhan, Bong Tiap baharu enam belas, Ham Eng baharu delapan belas. Bong Tiap ada anak tunggal, atau anak macan, biar dia dididik keras, dia tetap sangat disayang ayahnya, hingga ada kalanya, keinginannya mesti diluluskan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Murid kepala dari Lioe Kauwsoe sudah lulus dan sudah merantau sejak sepuluh tahun yang lalu, umurnya sudah tiga puluh lebih, dan murid kedua, Yo Tjin Kong, sudah mendekati usia tiga puluh tahun. Bertiga mereka ini biasa berlatih bersama-sama. Bong Tiap belum insyaf perbedaan antara lakilaki dan perempuan, ia tak merasakan apa-apa, ia suka turuti adatnya, sedang Ham Eng di lain pihak, kadang-kadang suka godai soemoay ini. Demikian barusan, ia sengaja tangkap piauwnya Bong Tiap. Bong Tiap tak perduli orang mengalah, ia lantas saja menyerang dengan pukulan Tjit seng tjiang atau Telapakan Tujuh Bintang. Ham Eng sudah bersiap, baharu ia hendak menangkis, atau Yo Tjin Kong telah berseru: Jangan gaduh, he! Lihat, siapa itu datang? Tangannya pun menunjuk. Bong Tiap tarik pulang kepalannya, ia menoleh seperti juga Ham Eng, ke arah yang ditunjuk. Sebuah perahu kecil dan enteng lagi mendatangi di tengah muara, memecah gelagah, lajunya sangat pesat. Perahu itu tidak pakai layar dan angin ada angin melawan. Terang itu bukan perahu nelayan. Di atas perahu itu ada seorang lelaki dengan tubuh yang besar. Begitu lekas kendaraan itu mendekati pinggiran, penumpang itu enjot tubuhnya, lalu membarengi majunya perahu seperti berlompat, tubuhnya sendiri sudah meloncat ke darat, dengan tidak perdulikan lagi perahunya, dia berlari-lari terus ke arah rumah. Apakah Lioe Kiam Gim, Lioe Loo-soehoe ada di rumah? dia tanya sembari menghampirkan tiga saudara seperguruan itu. Kau siapa? Ada urusan apa kau cari Lioe Loo-soehoe? Ham Eng balik menanya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Orang itu kepriki pakaiannya. Jangan kau orang tanya aku siapa, ia menjawab. Asal aku sudah ketemu sama Lioe Loo-soehoe, dia pasti akan kenali aku. Aku cari Lioe Loo-soehoe untuk satu urusan sangat penting, yang mengenai nama baiknya perguruan kita. Hal ini, taruh kata aku beri tahu pada kau orang, tidak nanti kau orang bisa segera mengerti! Tiga orang itu melengak atas jawaban itu, tetapi Yo Tjin Kong, yang sudah punya sedikit pengalaman Kang-ouw, nampak kegesitan tubuh dan sikap orang itu, percaya orang tidak bermaksud jahat. Loo-soehoe ada di rumah, ia segera berkata. Tuan hendak menemui Loo-soehoe, silakan ikut siauwtee. Soeheng ini pun minta soemoaynya lekas pulang, akan memberi kabar. Orang itu manggut, ia lantas ikut Tjin Kong, yang sengaja mengajaknya ambil jalanan yang sukar, akan mendaki tempat yang penuh batu. Awas, jalanan licin, katanya sesampainya di jalanan yang batu-batunya berlumut. Ia hendak uji orang itu, ia sengaja bikin tubuhnya seperti terpeleset, supaya ia bisa betot ujung baju orang, untuk mana, ia gunakan kedua tangannya. Ia harap, umpama kalau ia tak mampu bikin orang terpeleset, sedikitnya tubuh dia itu akan seloyongan atau miring. Di luar dugaannya, orang itu tetap berjalan dengan tubuh tetap, melainkan mulutnya mengucap: Ya, jalanan licin, hati-hati! Berbareng dengan itu, dari sebelah atas seorang lompat turun, tubuhnya melayang dengan pesat, turunnya di sampingnya Yo Tjin Kong, tangan kanannya dipakai menarik si murid, tangan kirinya dengan jeriji terlonjor, dengan tipu Soen soei twie tjouw atau Menolak perahu mengikuti aliran air, menotok pada tetamu yang tidak dikenal, yang pakai baju abu-abu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Orang itu terperanjat dengan serangan yang tiba-tiba itu, belum sempat lihat orang punya muka, ia sudah enjot tubuhnya, akan loncat ke samping, dari sini baharulah ia mengawasi, tapi sebelum ia bisa melihat tegas, orang yang baharu sampai itu sudah mendahuluinya, ia berseru: Oh, kau, Kim Hoa? Sekejab saja, orang itu sudah maju untuk paykoei. Soepeh, maafkan siauwtit, katanya sembari memberi hormat sambil berlutut. Siauwtit belum sempat menemui Soepeh tetapi Soepeh sudah mendahului menemui padaku. Orang itu adalah Lioe Kiam Gim, si guru silat, yang telah datang dengan lekas karena kecerdikan dan kegesitannya Bong Tiap, yang sudah pulang dengan cepat, akan dului soehengnya memberi laporan, hingga ayahnya ini menyangka, orang asing itu barangkali ada seorang Kang-ouw, yang datang untuk mencari gara-gara, hingga dia anggap baiklah ia mendahului menemui di luar rumahnya. Siapa tahu, tetamu itu adalah soetit, atau murid keponakan. Kim Hoa hendak bicara sama itu soepeh, tapi si soepeh pegat ia. Sabar, mari kita bicara di rumah saja, demikian kata Lioe Loo-kauwsoe. Maka mereka bertiga, menuju ke rumah, tetapi, sesampai di sini, Kiam Gim ajak orang pergi ke latar di mana ada banyak pohon yang lioe, di bawah mana ada meja dan bangkubangku dari batu, piranti duduk berangin. Kim Hoa lantas duduk di sebelah bawah, tapi tidak menunggu sampai soepeh itu menegurnya, ia mendahului keluarkan sepucuk surat, untuk dihaturkannya. Kiam Gim baca surat itu, sesudah mana, air mukanya berubah dengan segera.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Surat itu datangnya dari Teng Kiam Beng, anaknya Thaykek Teng. Kiam Beng ada soeteenya atau adik seperguruan, menurut runtunan murid-murid, tetapi di lain pihak, soetee ini adalah ahli waris dari Thay Kek Pay, sebab dialah yang diangkat jadi tjiang-boen-djin, orang yang mewariskan dan meneruskan pegang pimpinan dari kaum atau golongannya. Bunyinya surat ada demikian penting, hingga guru silat ini jadi terkejut. Untuk ketahui duduknya perkara, baik kita mundur sedikit dari cerita ini. Ayah dari Lioe Kiam Gim ada suatu sanak jauh dari Shoatang Thay-kek Teng, akan tetapi, di sebelah itu, mereka tinggal bertetangga, mereka cocok satu sama lain, maka pergaulan mereka jadi rapat. Maka juga, ketika Kiam Gim berumur tujuh atau delapan tahun, ayahnya minta Thay-kek Teng suka ajarkan silat pada anak ini. Kiam Gim ada bertubuh kurus dan lemah luar biasa, karena itu Thay-kek Teng tidak lantas didik dia seperti murid-murid lain, hanya dia diperintahkan yakinkan Thay-kek-koen, guna lebih dahulu kuati tubuh. Tapi dia rupanya berjodoh sama ilmu silat, di sebelah rajin berlatih apa yang diajarkan, diam-diam ia perhatikan pelajarannya lain-lain murid. Hanya, belajar baharu satu tahun, oleh ayahnya, ia diajak pindah ke distrik tetangga, sebab ayah itu, yang tak berhasil hidup sebagai petani kecil, sedang pajak ada berat, pindah untuk bekerja membantui satu kenalannya, yang hendak tolong padanya. Empat tahun lewat dengan cepat. Pada suatu hari selagi Teng Loo-kauwsoe dan beberapa muridnya asyik pasang omong di depan rumahnya, jauh beberapa puluh tindak dari mereka, dua ekor kerbau tengah berkelahi, lantas yang satu, yang kalah, lari kabur, dan yang menang mengejarnya. Sedang begitu, di jalan besar, satu anak tanggung lagi berlari-lari mendatangi, ia agaknya tak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

perhatikan kedua ekor kerbau yang sedang main udak-udakan itu. Melihat demikian, Thay-kek Teng terperanjat, sampai ia menjerit, karena cepat sekali, itu bocah hampir ketabrak. Guru silat ini lantas loncat lari, untuk menolongi. Tapi, belum ia sampai kepada mereka, tiba-tiba ia dengar satu suara keras, kedua kerbau terpental masing-masing, dan dengan matanya yang liehay, ia telah saksikan sebabnya itu. Dengan Ya ma hoen tjong, atau Kuda liar memecah suri, suatu ilmu pukulan dari Thay-kek-koen, bocah itu tolak kerbau yang di depan dengan tangan kirinya dan kerbau yang di belakang dengan tangan kanannya, hingga dua binatang itu tak saling kejar pula, yang di depan terpental minggir, yang di belakang terdorong mundur. Gerakan kedua tangan itu, ada dengan pinjam tenaga lawan. Ah! berseru Thay-kek Teng, apabila ia sudah awasi bocah itu, seraya menghampiri. Kenapa kau ada di sini? Bagaimana caranya kau jadi peroleh tenaga besar dalam kepandaianmu ini? Itu bocah adalah Lioe Kiam Gim, yang sendirinya dengan rajin dan sungguh-sungguh meyakini terus pelajaran yang ia dapati dari gurunya, sampai ia insyaf sendiri, bahwa ia bisa berlatih dengan sempurna sambil insyaf sudah, akan kepentingannya. Hanya apa lacur, beberapa hari yang sudah, ayahnya telah menutup mata, karena mana, menurut pesan ayahnya, ia pulang untuk cari Thay-kek Teng. Apa mau, kebetulan sekali dua ekor kerbau adu tenaga, hingga ia telah perlihatkan tenaganya. Thay-kek Teng kagum sekali, tapi selagi ia hendak tanyakan keterangannya bocah itu, mendadak ada orang berlompat ke depan mereka dan orang itu satu bocah lebih kecil dari Lioe Kiam Gim datang menyerang anak piatu ini. Kapan ia telah lihat bocah kecil ini, ia tidak mencegah, ia malah berdiri sambil usut-usut kumisnya dan bersenyum.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lioe Kiam Gim tidak sempat berbuat apa-apa, terpaksa ia layani penyerang itu. Dengan In liong sam hian, atau Naga mega muncul tiga kali, anak kecil itu desak Lioe Kiam Gim, dada siapa ia serang. Ia ini tunggu sampai orang punya kepalan kiri hampir mengenainya, lantas ia pukul orang punya lengan. Ia gunai tipu silat Lam tjiak bwee atau Mencekal ekor burung gereja. Tapi dengan gesit, si penyerang tarik pulang tangannya, akan mulai dengan desakan lain. Kiam Gim melayani sekian lama, ia merasakan hebatnya desakan musuh, tapi ia melayani terus, sampai tiga puluh gebrak, di waktu mana, Teng Loo-kauwsoe lantas berseru: Cukup! Cukup! Sudah, Beng-djie, sudah cukup! Anak itu, yang dipanggil Beng-djie atau anak Beng, perhentikan serangannya dengan lantas, tapi setelah itu, ia sambar tangannya Kiam Gim, untuk ditarik sambil ia berseruseru dengan kegirangan: Aku dapat kawan! Aku dapat kawan! Bagus, Anak, bagus! Thay-kek Teng puji bocah she Lioe itu. Kau bisa layani anakku, bagus! Kau ada punya harapan besar! Kiam Gim lebih tua dua tahun dari Teng Kiam Beng, Kiam Beng dapat didikan langsung, tetapi toh ia bisa tandingi anaknya itu, ini membuktikan ia mempunyai bahan baik dan keuletan, maka guru silat itu jadi sangat girang. Sejak itu Thay-kek Teng terima Kiam Gim sebagai murid yang sah, malah Kiam Beng diperintah panggil soeheng padanya, sebab usianya yang lebih tua. Ia mengasih pelajaran yang sungguh-sungguh, malah ia turunkan tiga macam kepandaiannya yang liehay, ialah Thay-kek-koen, ilmu pedang Thay-kek-kiam dan ilmu melemparkan senjata rahasia Kimtjhie-piauw. Kiam Gim pun sangat bersyukur pada gurunya ini

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang ia pandang sebagai ayah sendiri, maklum ia ada anak yatim-piatu. Sepuluh tahun lebih Thay-kek Teng didik murid dan anaknya itu, ketika datang saatnya ia hendak menutup mata, ia pesan mereka dengan kata: Kita Kaum Thay Kek Pay, sejak kita diwarisi ilmu silat oleh guru besar kita Thio Sam Hong, ditugaskan untuk menolong yang lemah, maka itu, sadari bangsa Boan-tjioe merampas Tionggoan dan memerintah kita bangsa Han dengan sangat menindas, aku larang kau orang bekerja untuk bangsa Boan-tjioe, sedang di kalangan Kangouw, selagi merantau, aku ingin kau orang tindas yang galak dan bengis. Di lain pihak terhadap sesama kaum Boe-lim, Rimba Persilatan, jangan kau orang bertengkar, jangan bersikap keras, inilah akan menyebabkan hatiku tidak tentaram. Kau, Kiam Gim, kau harus bisa pimpin soeteemu! Itu waktu dua-dua Kiam Gim dan Kiam Beng sudah berumur dua puluh tahun lebih, tidak heran kalau mereka jadi tidak betah berdiam di rumah saja, maka kemudian, mereka pergi merantau, akan cari pengalaman. Di akhir pergerakan Thay Peng Thian Kok yang gagal, di sana-sini masih ada perserikatan-perserikatan rahasia Melawan Tjeng-tiauw untuk membangunkan Kerajaan Beng, masih ada guru-guru silat yang mendidik murid-muridnya tidak perduli Kaisar Kee Keng melarang keras kepada rakyat membuka rumah-rumah perguruan silat, sebabnya ialah raja ini kuatir rakyat Han nanti berontak pula. Tapi kemudian, pemerintah Tjeng ubah haluan dengan coba membaiki guruguru silat, ia anjurkan orang-orang bangsawan dan pembesarpembesar negeri bergaul dan bersahabat sama ahli-ahli silat. Inilah politik pemerintah Tjeng hingga akhirnya muncul pergerakan Pahkoentauw atau Boxer. Karena adanya sikap pemerintah itu, Kiam Gim dan Kiam Beng dapat keleluasaan dalam perantauannya, mereka jadi dapat banyak kenalan dan penghargaan, terutama di

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Shoatang dan Hoopak, di Hoopak, pusatnya adalah Kota Pooteng. Di sini kedudukan mereka berimbang sama kedudukannya Tjiong Hay Peng dari Heng Ie Pay, Kiang Ek Hian dari Bwee Hoa Koen dan Koan Ie Tjeng dari Ban Seng Boen. Sikap pemerintah itu sebaliknya menyebabkan perpecahan diantara ahli-ahli silat, yang terbagi dua: mereka yang tetap mencinta negeri (Kerajaan Beng), dan mereka yang suka atau kena dilagui oleh politik mengambil hati itu. Sebab pihak yang pertama jadi benci atau tak menyukai pihak kedua, yang dianggap sebagai golongan pengkhianat. Kiam Gim dan Kiam Beng taat kepada pesan guru mereka, mereka tak sudi dilagui oleh pemerintah Tjeng, akan tetapi di sebelah itu, di antara mereka, segera timbul perubahan. Kalau Kiam Gim adalah tetap ramah-tamah, Kiam Beng menjadi kepala besar, sebab ia anggap, dia adalah ahli waris dari Thay Kek Pay, dan ia puas benar dengan kepandaiannya, ia tak sudi mengalah terhadap siapa juga, hingga ia telah bentrok dengan Tjiong Hay Peng dari Heng Ie Koen. Dalam hal ini, sia-sia saja Lioe Kiam Gim memberi nasihat pada itu soetee. Mengenai bentrokan dari Kiam Beng dan Tjiong Hay Peng, halnya dimulai oleh kejadian yang berikut: Pada suatu tengah malam, seperti biasa Teng Kiam Beng melatih diri. Waktu itu, bulan dan bintang sedang guram. Tiba-tiba ia dengar sambaran angin lewat, disusul sama berkelebatnya satu bayangan di atas genteng tetangganya. Ia heran di waktu demikian ada kelayapan satu ya-heng-djin ialah orang yang biasa keluar malam. Ia segera menyangka bayangan itu ada satu penjahat atau tukang ganggu orangorang perempuan. Ia pun jadi tidak senang, sebab di sebelah kecurigaannya, ia anggap orang tidak pandang mata padanya. Maka terus ia loncat naik ke atas genteng, untuk menyusul, guna cari tahu bayangan itu siapa adanya atau apa maksudnya. Ia lantas dapat mencandak. Hanya anehnya, bayangan itu seperti punya mata di belakang. Ia tidak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menoleh ke belakang, tetapi ia seperti ketahui ada orang kuntit padanya, lantas ia lari dengan keras sekali, hingga kali ini, percuma Kiam Beng mengejar, tak perduli bagaimana dia pandai berlari cepat, dia tak mampu mencandak lagi, dia tetap ketinggalan beberapa tumbak jauhnya. Dengan tidak merasa, mereka sampai di luar Kota Pooteng. Di sini, bayangan itu lari masuk ke dalam pekarangan lebar dari suatu gedung besar, yang banyak pepohonannya. Segera bayangan itu menepuk tangan, satu kali. Sambil bersembunyi di belakang sebatang pohon, Kiam Beng pasang mata. Ia lihat munculnya bayangan yang kedua, siapa lantas saling berbisik dengan bayangan yang pertama. Habis itu, mereka hampirkan tembok pekarangan, loncat naik ke atas sebuah ranggon kecil. Terang mereka hendak cari tahu keadaan, pikir Kiam Beng, yang lalu maju sedikit, untuk bisa datang lebih dekat kepada mereka itu. Ia terus memasang mata dan kuping. Ia sembunyi di atas pohon dekat ranggon itu. Anak ayam itu berada di lauwteng ketiga, kata bayangan yang satu. Baharu saja aku tiupkan asap Ngo-kouw Hoanhoen-hio, sekarang dia tentu sudah pingsan. Kiam Beng dengar kata-kata itu, menjadi gusar dengan tiba-tiba. Ia memang paling benci penjahat perugul orang perempuan. Ngo-kouw Hoan-hoen-hio adalah hio, yang asapnya bisa menyebabkan orang tak sadar akan dirinya. Tidak tempo lagi, ia keluar dari tempat sembunyinya dan loncat ke ranggon itu. Dua bayangan itu terkejut dan loncat turun, tetapi jago Thay Kek Pay itu terus susul mereka dengan turun loncat ke bawah, hingga ia bisa datang dekat kepada mereka itu. Dua-dua bayangan itu memakai topeng hitam, hingga kelihatan saja sepasang mata mereka masing-masing, yang mencorong.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Eh, makhluk apa berani campur urusan tuan-tuan besarmu? mereka itu menegur. Ah, kawanan manusia rendah, sampai Teng Kiam Beng kau orang tidak kenali! berseru jago Thay Kek Pay ini. Lihat tanganku! Dua bayangan itu tidak takut, sebaliknya, yang satu mencabut pedang, yang lain mengeluarkan sepasang Poankoan-pit, yang panjangnya kira-kira tiga kaki, dengan apa mereka mendahului menerjang. Dengan tangan kosong, Kiam Beng lawan dua bayangan itu. Ia tidak takut sekalipun ia tidak bersenjata. Ia lantas berdaya, akan rampas gegaman orang itu. Dua bayangan itu ada liehay, inilah ternyata dari gerakgerakan mereka. Kiam Beng lihat orang bermula mainkan Tatmo Kiam-hoat dari Siong Yang Pay, ujung pedang sabansaban menikam ke arah tempat-tempat kematian. Dan Poankoan-pit, itu senjata yang mirip dengan pit atau potlot, ujungnya senantiasa mencari satu di antaranya tiga puluh enam jalan darah yang berbahaya. Ia gunai Khong tjhioe djip pek djim, ilmu dengan tangan kosong melawan senjata tajam, suatu ilmu dari Thay-kek-tjiang, tetapi ia tidak peroleh hasil, tak pernah ia mampu sambar senjata musuh, malah apa yang ia rasai aneh, terang-terang ia bakal tertikam atau tertotok, tiba-tiba dua bayangan itu tarik pulang senjata mereka, akan ditukar dengan gerakan lain. Hal ini terjadi beberapa kali, hingga ia anggap, orang rupanya jerih terhadapnya. Ia tidak tahu, coba ia berkelahi dengan satu lawan satu, ia bisa menang, tetapi ia dikepung dua musuh tangguh, kalau hendak dibikin celaka, ia sudah akan rubuh siang-siang. Ia tidak pernah menyangka bahwa orang ada kandung suatu maksud. Pertempuran sementara itu sudah mengagetkan orangorang di dalam gedung, segera datang serombongan orang yang bersenjata, yang pun bawa obor dan lentera, berikut

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

teriakan mereka berulang-ulang: Tangkap penjahat! Tangkap penjahat! Hanya sesudah datang dekat, mereka tidak berani menyerang, mereka mengurung dari jauh-jauh saja, kecuali dua orang yang dandan sebagai kepala tjinteng, yang satu memegang tumbak, yang lain sepasang golok. Mereka ini tidak punya guna, baharu mereka hampirkan kedua bayangan, dua-duanya kena disapu kakinya hingga mereka rubuh terpental! Teng Kiam Beng tidak harap bantuannya sekalian tjinteng itu, dengan sepasang tangan kosong, ia terus layani musuhmusuhnya, hingga mereka telah bergebrak lebih dari lima puluh jurus. Segera datang satu serangan Poan-koan-pit kepada pundak kanan Kiam Beng, sepasang senjata itu bergerak dengan berbareng. Guru silat ini mendak, kakinya menggeser, sebelah tangannya balas menotok, tapi, belum sampai ia peroleh maksud, pedang menyambar dari belakangnya, hingga ia mesti kelit ke kiri, tubuhnya diputar, dengan begitu ia bisa balas menyerang si pemegang pedang itu, ia mengarah muka. Penyerang itu buang mukanya ke belakang, tubuhnya turut, tapi begitu lekas pindahkan kaki kanan ke kanan, pedangnya menyabet kakinya orang itu. Ia menyerang sambil mendekam. Dengan tabah Kiam Beng loncat untuk berkelit. Berbareng dengan itu, si pemegang pedang berseru: Misah! Ini adalah ucapan rahasia, yang berarti menyingkir. Ia pun terus loncat mundur, akan lari, ke pepohonan yang lebat, perbuatannya diturut oleh kawannya. Sikapnya dua bayangan itu ada mengherankan, karena dalam pertempuran, mereka menang di atas angin. Apa yang mengancam mereka ialah rombongannya tuan rumah tetapi mereka ini tidak mengurung untuk menyerang. Kiam Beng tidak pikirkan itu, ia hanya maju, untuk mengejar. Ia baharu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bergerak atau mendadak beberapa cahaya berkeredepan dari tempat lebat, menyambar kepadanya. Ia tahu adanya senjata rahasia, ia berkelit dengan lompat jumpalitan Yan Tjeng Sippat-hoan atau Yan Tjeng jumpalitan delapan belas kali, disusul sama Koen tee tong, atau Bergulingan di tanah begitu lekas tubuhnya mengenai bumi. Ia bergerak sangat gesit, tidak urung paha kanannya toh ketusuk sebatang senjata rahasia, yang membikin ia kaget, karena ia rasai kakinya jadi kaku dan gatal. Di lain pihak, di detik itu juga, kedua bayangan, yang bertopeng, lenyap di tempat lebat itu. Kejar! Kejar! berulang-ulang berseru kawanan tjinteng, yang aksinya baik, tapi untuk nyerbu ke tempat lebat, mereka tidak berani. Seorang berumur kurang-lebih lima puluh tahun, yang dandan sebagai satu sasterawan, lantas hampirkan Kiam Beng kepada siapa ia memberi hormat sambil menjura dengan dalam seraya terus mengatakan: Tuan, terima kasih untuk bantuan kau ini, yang aku tak nanti lupakan. Kiam Beng lekas-lekas membangunkan orang tua itu. Mari, Tuan, mari mampir! kemudian kata si tuan rumah, yang terus saja pimpin jago Thay Kek Pay itu, untuk diajak masuk ke dalam, di mana orang melayaninya dengan hormat dan telaten, ada yang suguhi thee, ada yang sediakan hoentjwee. Teng Kiam Beng tidak gemar bergaul sama orang-orang sebangsa hartawan ini, setelah hirup thee, ia berniat pamitan, apa mau, baharu saja ia bangun untuk berdiri, tiba-tiba ia rasai kakinya lemas, tanpa ia ingin, ia rubuh sendiri. Untuk bisa bangun, orang mesti pepayang padanya. Sekarang baharu ia insyaf, tadi ia sudah terkena senjata rahasia, terus ia raba pahanya, dari mana ia cabut senjata rahasia itu, yang masih menancap, tatkala ia periksa senjata itu, ia berseru: Oh, Tok-tjie-lee! Karena itu ada senjata rahasia yang dipakaikan racun.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Senjata apa itu? Adakah itu berbahaya? tanya tuan rumah yang agaknya kaget. Ini ada senjata rahasia yang dipakaikan racun, sahut Teng Kiam Beng sambil kerutkan alis, air mukanya pucat, suaranya separuh merintih. Di kalangan Kang-ouw, ini ada satu senjata jahat, racunnya ada racun dari Tanah Biauw, atau Sin-kiang, racunnya segera bekerja begitu mengenai darah! Luka ini tak dapat disembuhkan kecuali dengan obat kepunyaan si penyerang gelap sendiri. Rasanya aku tak dapat lagi keluar dari rumah ini. Tuan rumah periksa senjata rahasia itu dan juga lukanya. Tin-djie, pergi lekas ke lauwteng belakang pada Djie-ienio! ia berkata. Kau minta obat Pek-giok Seng-kie Poat-tokkoh, kita nanti coba itu! Kemudian pada Kiam Beng, ia tambahkan: Di masa muda, aku pernah pangku suatu pangkat kecil di Pakkhia, di sana aku kenal satu thaykam tua siapa presen aku setengah botol kecil obat itu. Itu ada obat di dalam istana, katanya untuk sembuhkan segala racun atau gigitan binatang berbisa, juga buat obati luka-luka senjata rahasia. Di istana orang sediakan obat ini guna berjaga-jaga, kuatir ada penyerangan gelap. Sebegitu jauh aku belum pernah pakai obat ini, sekarang marilah kita coba. Tidak ada jalan, Kiam Beng terpaksa pakai obat itu, hanya aneh, begitu lekas lukanya dipakaikan kohyo itu, ia merasakan hawa adem, sampai ke hatinya, lalu kakinya itu, ia bisa gerakgerakkan juga. Sekarang silakan Tuan tinggal sama aku di sini, kemudian tuan rumah berkata pula. Selama racun belum punah semua, Tuan mesti beristirahat di sini, buat beberapa hari, kalau tidak, luka akan kumat lagi dan itulah berbahaya. Kiam Beng tahu liehaynya racun itu, terpaksa ia terima baik undangan itu, untuk mana ia menghaturkan terima kasih. Karena ia tinggal menumpang, lantas ia dapat tahu, bahwa

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tuan rumahnya ada Soh Sian Ie, hartawan di Poo-teng, yang punya beberapa ribu bauw sawah. Selama beberapa hari, Kiam Beng dirawat dengan sempurna, tuan rumah senantiasa temani ia, untuk pasang omong, dari ilmu surat sampai segala urusan di Kota Raja. Ia memang mengerti sedikit tentang syair, sedang sawah ia punyai sejumlah bauw. Ia pun lihat orang itu manis budi. Malah beberapa kali ada orang-orang melarat datang untuk mohon derma, beras, peti mati, dan lainnya, dan semua orang itu disambut sendiri oleh Sian Ie, yang luluskan semua permintaan. Maka ia percaya, hartawan ini juga budiman. Di hari keempat, setelah sembuh betul, Teng Kiam Beng pamitan, Soh Sian Ie serta orang-orangnya antar dia sampai tiga lie, selagi ia mengucapkan terima kasih,, Sian Ie sendiri berulang-ulang panggil dia enghiong besar, tuan penolong yang baik hati, dan Ini budi besar tidak nanti aku lupakan! katanya. Dia tanya alamatnya, dia tanya, jago itu suka atau tidak bersahabat sama dia. Tentu saja Kiam Beng menjawab bahwa ia suka bersahabat, karena ia sudah terima budi. Hanya, selagi ia berjalan pulang dengan bersyukur, di rumahnya Soh Sian Ie, hartawan itu sendiri lagi duduk berkumpul dalam kamar rahasianya bersama dua orang yang itu malam jadi bayangan dan memakai topeng, yang berpura-pura menjadi penjahat tukang perugul orang perempuan. Karena Soh Sian Ie sedang main sandiwara! Dua orang bertopeng itu ada tauw-teng wie-soe, pahlawan kelas satu, dari istana Kerajaan Tjeng. Yang bersenjatakan pedang, Boan Eng Tjin, dan yang pegang Poankoan-pit ada Ouw It Gok. Mereka sengaja dipinjam oleh Tjongtok Tee Kie dan Tit-lee, buat jalankan peranan, akan pedayakan Teng Kiam Beng, supaya ahli silat Thay Kek Pay ini bisa ditempel agar nanti tenaganya bisa dipakai oleh negeri guna hadapi musuh-musuh gelap bangsa Han.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Teng Kiam Beng rubuh dalam tipu-daya kita! kata Bong Eng Tjin sambil bertepuk tangan dan tertawa gembira. Dia jadi ahli Thay Kek Koen bukan namanya, dia benar-benar liehay, jikalau bukan kita berdua, dia tak dapat dilayani. Teng Kiam Beng memang bukan orang sembarangan, tetapi ia tak ada di atasan kita, It Gok turut bicara. Coba aku merdeka, akan turuti hatiku, tidak nanti aku tak ada di atasan Kiam Beng, It Gok perkenankan ia berlaku jumawa. Kalau tidak Tee Tjongtok memesan wanti-wanti, aku pasti bikin dia mampus! Kalau dia mampus runtuhlah daya-upaya kita! Soh Sian Ie tertawa. Laginya, buat apa menyingkirkan hanya dia seorang? Bukankah kita hendak pakai tenaganya untuk buyarkan persatuan dari kaum pencinta negeri kalangan Kangouw di Shoatang dan Hoopak ini? Aku kagumi kau orang berdua, terutama kau, Saudara Ouw, karena senjata rahasiamu tepat mengenai anggotanya yang tak membahayakan jiwanya. Sedang kau, Saudara Bong, sempurna sekali gunai ilmu pedang Heng Ie Pay dan Boe-kek kiam-hoat yang kau dapat curi pelajari, hingga dengan begitu, kau pasti akan bikin Kiam Beng bingung mengenai boegeemu! Dan aku kagumi kau, Loosianseng! Bong Eng Tjin tertawa pula. Pandai sekali kau dengan angkatanmu, enghiong besar dan tuan penolong, hingga dia tidak curiga suatu apa terhadap kau, hingga kau sekarang bisa jadi sahabatnya! Tiga orang itu tertawa dengan gembira sekali. Selagi tiga orang beriang-gembira, Kiam Beng sampai di rumahnya dengan tidak lama kemudian, datang orang-orang menyambanginya, karena selama tiga hari ia lenyap dengan tiba-tiba, orang jadi heran, sibuk dan berkuatir juga, di antara sahabat-sahabat itu ada Tjiong Hay Peng, Kiang Ek Hian dan Koan Ie Tjeng, semua mereka ini menanyakan, apa yang sudah terjadi.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Aku telah hadapi orang-orang jahat tidak dikenal, Kiam Beng kata, dan ia tuturkan pengalamannya. Dua orang itu ada liehay sekali, coba bukan aku, tidak saja aku akan cuma terkena senjata rahasia, jiwakupun bisa melayang di tangan mereka, di pedang atau Poan-koan-pit! Mendengar keterangan itu, semua tetamu menjadi heran. Rata-rata mereka itu nyatakan bahwa mereka belum pernah dengar perihal dua tjay-hoa-tjat itu penjahat tukang perkosa orang perempuan. Mereka juga menduga dengan sia-sia belaka. Teng Kiam Beng turut berpikir, ketika mendadak ia tanya Tjiong Hay Peng: Di antara murid-murid Heng Ie Pay mu ada atau tidak seorang yang jangkung-kurus, yang pandai mainkan ilmu pedang Boe-kek Kiam-hoat? Tjiong Hay Peng, Ketua dari Heng Ie Pay, terperanjat. Apa? Murid dari Heng Ie Pay? ia tegaskan dengan mata melotot. Belum pernah ada orang Heng Ie Pay yang jadi tjayhoa-tjat! Dijawab secara demikian, Kiam Beng tertawa dingin. Ada atau tidaknya muridmu yang jadi tjay-hoa-tjat, aku tidak tahu! katanya. Tapi itu orang bertopeng, yang bersenjatakan pedang dan pakai topeng di waktu melawan aku, terang-terang telah gunai Boe-kek Kiam-hoat! ia berdiam sebentar, lalu ia teruskan: Bukan melainkan orang itu yang memegang Poan-koan-pit juga gerak-gerakan tubuh seperti pelajaran golonganmu! Dalam sengitnya, Kiam Beng sudah utarakan juga sangkaan belaka. Tjiong Hay Peng jadi sangat gusar, sehingga ia keprak meja. Teng Kiam Beng, terang kau sengaja memfitnah aku! ia berseru. Kiam Beng pun gusar.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Aku melihat dengan mata sendiri, bagaimana itu bisa jadi keliru? ia membalik. Hm, kalau tidak tangan kosongku ini yang liehay, siang-siang aku telah mesti tewas di tangan mereka! Melihat kedua pihak telah jadi sangat panas, yang lainnya maju sama tengah, untuk menyabarkan mereka. Tjiong Hay Peng tidak puas. Aku akan segera membikin penyelidikan! kata Ketua Heng Ie Pay ini dalam murkanya. Aku nanti segera kirim kabar pada semua muridku, pada sahabat-sahabat juga, jikalau ada muridku yang berbuat jahat, atau memperkosa orang perempuan, aku nanti kutungi tubuh mereka jadi delapan potong dan tikamkan mereka tiga lobang! Kalau tidak, kau mesti haturkan maaf pada Heng Ie Pay dengan adakan perjamuan! Setelah kata begitu, jago Heng Ie Pay ini lantas ngeloyor pergi. Demikianlah sebab-sebab permulaan dari perselisihan antara Kiam Beng dengan Tjiong Hay Peng, orang-orang lain tak dapat menghindarkannya. Selama itu, persahabatan antara Kiam Beng dan Soh Sian Ie menjadi tambah kekal setiap hari, karena hampir setiap hari Sian Ie kirim orangnya untuk menyampaikan bingkisan apa saja atau dia diundang untuk dijamu. Lioe Kiam Gim lihat sikapnya itu saudara angkat, ia pernah berikan peringatan atau nasihat, ia minta saudara ini waspada, agar dia tak sampai terjebak. Ia kata: Keluarga Soh ada hartawan dari Poo-teng, orang sebangsa dia yang budiman sukar dipatinya, sebaliknya kita orang Kang-ouw, kita biasa tolong si lemah yang tidak berdaya, cara bagaimana kita boleh bersahabat sama dianya? Saudara, aku harap karena sikapmu ini, jangan kau terbitkan kerenggangan di antara kita kaum Kang-ouw!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kau terlalu kukuh, Saudaraku! Kiam Beng sahuti saudaranya itu. Keluarga Soh betul-betul dermawan! Mustahil di antara mereka itu benar-benar tidak ada yang hatinya sucimurni? Selang beberapa hari, Soh Sian Ie bikin pesta shedjit, atau ulang tahun yang ke-51, pesta dirayakan di dalam taman bunga, selagi pesta berjalan, hartawan inipun membagi amal, pada orang-orang tua yang melarat: yang berumur lima puluh lebih mendapat dua tjhie perak, siapa berumur enam puluh lebih, didermakan lima tjhie, dan siapa berumur di atas tujuh puluh, memperoleh satu tail perak. Kiam Beng saksikan amal orang itu, maka sepulangnya dari pesta, ia kata kepada Kiam Gim: Kau lihat, kalau dia ada markis, bagaimana dia bisa begitu dermawan terhadap orangorang tua miskin itu, yang malah ia sangat hormati? Kiam Gim tidak mau bantah saudara muda itu, tapi selang tiga hari, dia hampirkan soetee itu seraya bawa satu bocah umur enam atau tujuh tahun, dengan sikap beda dari biasanya, ia kata: Soetee, sejak kecil kau hidup dalam keluarga yang berada, kau tidak kenal kesengsaraannya orang miskin! Kau lihat ini bocah, kau tahu dia siapa? Dia ini adalah bocah yatim-piatu dari kuli taninya Soh Sian Ie! Ayahnya garap tiga bauw sawahnya Soh Sian Ie, syukur buat ia, kalau dia sanggup membayar cukai saja. Lagi tahun yang sudah, karena musim paceklik, ayahnya terpaksa pinjam sepuluh tail perak dari Soh Sian Ie, bunganya begitu berat, belum satu tahun, jumlah itu naik jadi lima puluh tail. Mati daya, ayah itu telah gantung diri hingga binasa. Sudah begitu, rumahnya yang bobrok pun disita Soh Sian Ie, karena rumah itu adalah milik pertanggungan. Dia ini sudah tidak punya ibu, maka itu, sebab tidak punya tempat bernaung lagi, aku bawa ia pulang. Ini adalah kejadian yang aku kebetulan dapat tahu, entah berapa banyaknya yang di luar tahu kita!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kiam Gim berhenti sebentar, lalu ia tambahkan: Apakah Soetee ketahui, bagaimana Keluarga Soh itu dirikan rumah tangganya yang mewah? Dia sudah berkongkol sama pembesar-pembesar negeri, dia telah selundupkan candu, setelah punya banyak uang, ia beli pangkat, ia memangku jabatan, hingga kembali ia bisa kumpulkan banyak uang, buat dipakai beli sawah dan kebun, hingga kekayaannya jadi bertambah-tambah. Ia bisa dapatkan nama dermawan karena kecerdikannya, karena ia keluarkan sedikit uang, seperti buat betuli jembatan atau jalan besar, atau ia mengamal pada orang-orang tua melarat! Apa artinya akan dermakan sedikit uang kalau di lain pihak, dengan sedikit uang, ia coba mengamal untuk kelabui orang banyak? Memang Soh Sian Ie tidak menagih sendiri uang atau hasil uang yang dipinjamkannya dan uang sewaan tanahnya, diapun tidak aniaya kuli-kuli taninya, ia boleh bersikap sebagai orang budiman, tetapi orang-orangnya atau gundal, mereka ini bersikap sangat telengas dan kejam! Bukti atau keterangan yang dimajukan soeheng ini ada kuat, walaupun demikian, Kiam Beng anggap saudaranya telah terlalu bersikap keras, hingga Kiam Gim jadi kewalahan, ia pulang dengan ajak itu bocah yatim-piatu, yang ia jadikan muridnya dan rawat dengan baik, hingga di belakang hari, bocah ini jadi muridnya yang terpandai. Lewat setengah bulan sejak Tjiong Hay Peng pulang dengan ngambek, guru-guru silat dan piauwsoe dari Kota Pooteng kesohor telah terima undangan dari jago Heng Ie Pay itu, untuk hadirkan suatu pesta perjamuan. Kiam Beng pun terima undangan. Ia menyangka buahnya tuduhan terhadap orang she Tjiong itu, meskipun demikian, ia kirim balasannya, dan di harian pesta, ia datang bersama beberapa sahabatnya. Setelah pertemuan dimulai, Tjiong Hay Peng angkat bicara. Aku tidak punyai kepandaian suatu apa tetapi aku toh ditugaskan untuk memimpin kaumku Heng Ie Pay, demikian

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

katanya. Dengan sebenarnya, aku tidak sanggup pegang pimpinan, maka syukur Heng Ie Pay mempunyai aturan-aturan yang dipegang keras, yang pun ditaati oleh kaum kita. Begitu sejak pegang pimpinan, kaum kita belum pernah lakukan apaapa yang mendatangkan malu bagi Heng Ie Pay, sedang terhadap kaum Kang-ouw, kita semua bisa hidup damai. Maka sayang sekali, pada setengah bulan yang baru lewat, karena kejar tjay-hoa-tjat, Toako Teng Kiam Beng, sudah kena dilukai dan dihinakan orang dan dalam hal itu, ia menuduh kita Kaum Heng Ie Pay. Seperti aku sudah janji, aku sudah lantas bertindak, akan cari tahu tuduhan itu. Tentang kedua tjayhoa-tjat, aku tidak dengar suatu apa, tetapi dari berbagai pihak kaumku, aku telah terima laporan, tidak ada orangku yang main gila. Di Kota Poo-teng sendiri, Teng Toako mestinya percaya aku, tapi sebaliknya ia sangsikan kejujuranku. Di sebelah itu, mestinya percaya tidak nanti ada muridku, atau cucu muridku, yang punya kepandaian akan pecundangi ahli waris dari Thay Kek Pay, meskipun dengan cara curang! Oleh karena itu sekarang aku adakan pertemuan ini untuk bersihkan diri, guna minta Teng Toako menghaturkan maaf kepada pihakku! Teng Kiam Beng tercengang atas ucapan tajam dari Tjiong Hay Peng. Memang, itu adalah hebat. Kalau ia tetap sangka Hay Peng, itu membuktikan Heng Ie Pay, itulah terlebih celaka pula, karena ia kena dirubuhkan oleh angkatan muda Heng Ie Pay. Meskipun demikian, ia toh tidak gampang-gampang hendak menyerah kalah. Kau menyangkal, kau punya bukti-buktinya, ia kata kemudian. Tapi aku, aku telah saksikan sendiri bagaimana orang telah bersilat dengan caranya Heng Ie Pay dan Boe-kek Kiam-hoat. Pendeknya, kecuali dua orang bertopeng itu dapat ditangkap, untuk dihadapkan ke muka kita beramai, aku tak sudi menghaturkan maaf!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mendengar demikian, dengan tidak buka lagi baju luarnya yang gerombongan, Tjiong Hay Peng hampirkan Teng Kiam Beng, sembari angkat kedua kepalannya, untuk memberi hormat, ia kata: Kalau tetap Teng Toako tidak niat haturkan maaf, baiklah kita turut saja aturan umum, aku mohon pengajaran dua-tiga gebrak dari kau! Itu ada tantangan untuk pieboe, adu kepandaian. Kalau Tjiong Toako berniat berikan pengajaran padaku, mustahil aku berani tak terima! kata Kiam Beng sembari tertawa jumawa. Tapi, belum ia tutup mulutnya, tangannya Tjiong Hay Peng sudah bergerak, menyerangnya. Semua tetamu lain jadi terperanjat, mereka tidak sangka, pertempuran sudah lantas dimulai secara demikian getas, hingga mereka tak sempat lagi malang di tengah. Tjiong Hay Peng mulai dengan Tok pek Hoa San atau Dengan sebelah tangan membelah Gunung Tay San. Adalah kepalan kanannya, yang mengarah batok kepalanya Teng Kiam Beng. Kiam Beng elakkan kepalanya sambil lompat ke samping kiri, tapi dari sini, sambil putar sedikit tubuhnya, ia mendesak dengan tangan kanan melintang sebagai ancaman dan tangannya kiri menyerang pundak lawan. Hay Peng turuti geser tubuh. Dengan Lek tok tjian kim, atau Tenaga melawan seribu kati, ia singkirkan tangan kanan lawan, lalu dengan membarengi, ia sodok iga kanannya Kiam Beng dengan kepalan kirinya. Dengan Tjiam liong tjhioe, atau Tangan menabas naga, Kiam Beng babat lengan orang yang menyerangnya. Ini adalah tangkisan yang berupa serangan yang berbahaya sekali. Dalam saat yang hebat itu, selagi kedua tangan hampir kebentrok satu dengan lain, tiba-tiba seorang lompat kepada

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mereka, nyelak sama tengah, kedua tangannya dipakai menangkis dua-dua serangan. Tangkisan ini ada berbahaya tetapi pun hebat, kapan tangannya kedua lawan bentrok dengan dua tangannya ini orang ketiga, mereka pada mundur sendirinya. Tjiong Hay Peng menjadi gusar setelah ia kenali orang yang nyelak sama tengah itu ialah Lioe Kiam Gim, soeheng dari Teng Kiam Beng, karena ia lantas sangka, soeheng ini niat bantui soeteenya, akan tetapi, sebelum ia sempat bertindak apa-apa, Kiam Gim sudah mendahului menjura terhadap dia, dengan suara nyaring, orang she Lioe ini kata: Kita Kaum Thay Kek Pay belum lakukan pembukaan secara resmi di Kota Poo-teng ini, kita belum punya murid yang menjadi ahli waris kaum kita, maka itu sekarang aku, sebagai soeheng dari Teng Kiam Beng, aku wakilkan golonganku akan menghaturkan maaf pada Tjiong Hay Peng dari Heng Ie Pay! Pernyataan Lioe Kiam Gim itu bikin suasana jadi reda dengan sekejab. Tjiong Hay Peng lantas membalas hormat sambil ucapkan kata-kata merendah. Kenapa Ketua dari Heng Ie Pay berbuat demikian? Itulah pertama karena Kiam Gim punya sikap laki-laki, sedang tadinya, dia memang hargai orang she Lioe itu, dan kedua, itu ada cara pemecahan yang ia memang inginkan, karena dengan begitu, mukanya Kaum Heng Ie Pay menjadi terang pula. Sebagai soeheng, Kiam Gim berhak bertindak secara demikian. Tepat, Lioe Lauwtee, Kiang Ek Hian dari Bwee Hoa Pang berseru. Bagus sekali tindakan kau ini! Sebenarnya, urusan ini kecil sekali dan tidak ada harganya untuk diperbesar. Kiam Beng bilang, dua binatang itu pergunakan Boe-kek Kiam-hoat, aku percaya kebenarannya itu. Memang, di antara orangorang Kang-ouw, suka ada mereka yang curi beberapa jurus ilmu silat orang dan dua binatang itu, entah dari mana

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mencaploknya! Saudara Kiam Beng belum pernah yakinkan Heng Ie Pay, bisa sekali dia kena dikelabui, hingga ia keluarkan tuduhannya. Dan Tjiong Lauwtee, bisa dimengerti yang dia jadi tidak senang karena tuduhan itu mengenai kehormatan dia punya golongan. Di mana perdamaian telah didapat, baik hal ini tidak dibuat ganjelan, hanya mari, bersama-sama kita lanjutkan usaha kita akan cari tahu siapa adanya dua binatang itu! Saudara-saudara, hayo kita minum! Dan Kiang Ek Hian padukan cawannya Kiam Beng dan Hay Peng. Jago she Kiang ini menduga benar dengan kata-katanya itu, karena betul, dua orang bertopeng itu gunakan beberapa jurus tipu-silat curiannya. Biarpun perdamaian telah didapat, tampangnya Teng Kiam Beng masih pucat, saking tidak puas. Ia ada ahli waris dari Thay Kek Pay, sekarang soehengnya wakilkan ia menghaturkan maaf, inilah yang ia sangat tidak setujui. Ia pun masih mendongkol karena Tjiong Hay Peng berlaku galak demikian terhadapnya di depan sekian banyak tetamu. Ia anggap bahwa ia sudah kena dibikin rubuh. Hanya, karena orang banyak anggap pemecahan itu ada tepat, terpaksa ia tutup mulut. Sejak itu, perhubungan di antara Kiam Beng dan Hay Peng jadi renggang sendirinya, malah persahabatannya dengan yang lain-lain juga jadi semakin tawar, tetapi di sebelah itu, pergaulannya dengan Soh Sian Ie jadi bertambah rapat, setiap dua atau tiga hari, mesti ada orangnya Keluarga Soh yang datang kepada Kiam Beng, atau Sian Ie sendiri yang datang berkunjung, untuk pasang omong. Soh Sian Ie cerdik sekali, kalau dia dengar Kiam Beng utarakan mendongkolnya pada Hay Peng, ia jawab dengan ringkas: Mengenai kau orang kaum Rimba Persilatan, aku tidak berani omong suatu apa. Akan tetapi, pada suatu hari, selagi mereka bicara dengan asyik, sekonyong-konyong Soh Sian Ie tanya: Lauwhia,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

namanya ilmu silat Thay Kek Pay ada sangat kesohor, kenapa di Poo-teng sini, Lauwhia tidak mau resmikan adanya golonganmu? Kiam Beng manggut-manggut waktu ia menjawab: Sebenarnya aku telah pikirkan itu hanya sekarang belum sampai waktunya. Aku masih mesti merantau, akan cari pengalaman. Aku membutuhkan dasar yang kuat betul sebelumnya aku angkat diri. Begini juga ada pikiran soehengku, yang ingin kita tidak bertindak secara sembrono. Soh Sian Ie tertawa berkakakan atas keterangan itu. Tetapi peribahasa mengatakan: Macan tutul mati meninggalkan kulit, manusia mati meninggalkan nama! katanya. Lauwhia ada turunan sah dari Thay Kek Pay, sudah seharusnya Lauwhia angkat diri, guna wakilkan leluhur, supaya Thay Kek Pay ada ahli warisnya, supaya sekalian leluhurmu itu pun bisa dimuliakan namanya. Harus diakui, bahwa soehengmu ada kesohor jujur dan namanya terjunjung, tetapi biar bagaimana, ia tetap ada orang luar, ia tak dapat menjadi anak berbakti atau cucu bijaksana. Teng Kiam Beng ketarik hatinya mendengar kata-kata yang beralasan itu. Kalau Thay Kek Pay mesti punyai tjiang-boendjin, ahli waris yang menjadi ketua golongan, orang yang sah untuk itu adalah dia sendiri. Kiam Gim ada soeheng tetapi ia dari lain she, kecuali bila sudah tidak ada turunan dari Keluarga Teng. Demikian, dengan tidak pikir panjang lagi, ia lantas turut sarannya Soh Sian Ie. Untuk ini, Sian Ie membantu banyak sekali, dengan tenaga, dengan uang, dan dengan pengaruh pembesar negeri, malah dengan angkat juga orang she Teng ini menjadi penasihat ilmu silat, atau Kok-soet Kouw-boen, dari Istana Tjongtok dari Tit-lee. Kiam Beng coba tampik keangkatan itu, tetapi ia semakin hargakan Sian Ie sebagai sahabat yang jujur dan setia. Mengenai tindakannya Kiam Beng yang angkat diri jadi tjiang-boen-djin dari Thay Kek Pay, golongan ahli silat lainnya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tidak ada yang taruh perhatian besar, sedikit sekali kaum Rimba Persilatan yang kunjungi dia, buat memberi selamat atau mengutarakan pujian, malah Lioe Kiam Gim sendiri, nampanya tidak ada perhatiannya, saudara ini tidak bilang suatu apa. Hanya pada suatu malam malaman besoknya soetee ini hendak resmikan pendiriannya Lioe Kiam Gim datang dengan tiba-tiba. Saudara ini ada gendol satu pauwhok kecil, di pinggangnya tergantung pedangnya, dengan air muka sungguh-sungguh yang tercampur kemasygulan, dia berkata: Soetee, aku kasih selamat pada kau karena kau hendak angkat namanya kaum kita. Mengenai tindakanmu aku tidak bisa bilang suatu apa. Seperti Soetee ketahui sendiri, aku dipiara dan dididik Soehoe sampai aku berusia dewasa, budinya Soehoe tak dapat aku lupakan. Hanya, mengenai kau ini, aku hendak sampaikan anggapan umum terhadapmu. Kau dianggap sudah nanjak ke cabang yang tinggi karena kau andali pengaruh pembesar negeri, karena kau berniat menjagoi sendiri. Aku tidak percaya omongan orang itu, aku percaya kau bukan bangsa penjilat dan jumawa, tetapi aku toh ingin sekali, janganlah kau kasih dirimu diangkat-angkat hingga kau jadi tersesat, lupa pada diri sendiri! Aku pun hendak beritahukan padamu, mendirikan kaum sendiri bukan pekerjaan gampang. Buat terima murid, akan angkat diri jadi soehoe, kau mesti ber-hati-hati, kau mesti jaga jangan sampai kau dipermainkan oleh murid yang buruk, sebab bisa jadi ada bangsa kurcaci, yang nanti datang buat berguru pada kau, lalu di belakang hari, dia cemarkan nama perguruan. Aku kuatirkan ini, dari itu, aku minta kau waspada. Soetee, bukankah dulu kau pernah tanya aku, aku sudi atau tidak menjadi tjiang-boen-djin akan gantikan kedudukan Soehoe? Pasti sekali aku tidak berani terima itu, kesatu aku belajar belakangan dari kau, kedua sudah seharusnya sebagai anak, kaulah yang mewariskannya. Di sebelah itu kau ketahui sendiri, aku jadi soeheng pun disebabkan usiaku lebih tua dua tahun daripadamu. Soetee, mengenai kita, paham di antara kaum Kang-ouw mesti ada kekeliruannya, apabila aku tetap

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berdiam di sini, itu bisa jadi lebih hebat pula, maka itu, sekarang juga aku hendak pulang ke Shoatang. Gelombang di kalangan Kang-ouw, aku telah rasai cukup, dari itu aku pikir baiklah aku pulang ke kampungku, akan beristirahat. Soetee, sampai di sini saja, aku berangkat! Baharu Kiam Beng hendak mencegah, atau soeheng itu sudah meloncat untuk pergi dengan cepat. Tapi ia coba menyusul. Justeru itu, kelihatan Kiam Gim balik pula seraya terus kata: Barusan aku lupa kasih tahu sepatah kata pada kau, yaitu untuk selanjutnya kau jangan cari persetorian pula! Habis itu, soeheng ini kabur pula, tanpa sang soetee dapat candak ia. Hingga soetee ini kembali masygul. Sejak angkat diri menjadi tjiang-boen-djin dari Thay Kek Pay, setelah berselang dua puluh tahun, di sebelah namanya jadi tambah kesohor, Teng Kiam Beng juga bisa bawa diri, jarang ia mencoba-coba kepandaian orang lain. Akan tetapi, di samping itu, pergaulannya sama Soh Sian Ie terus bertambah rapat, malah kemudian, ia bergaul juga sama pembesarpembesar negeri. Di sebelahnya Kiam Beng, Lioe Kiam Gim pulang ke Shoatang dan terus menikah. Kiam Beng sendiri sudah menikah, dengan nona yang dipilih oleh ayahnya. Isterinya Kiam Gim ada Lauw In Giok, gadisnya Lauw Tian Peng dari Kaum Ban Seng Boen. Ia tinggal bersama isterinya, di rumah mertuanya, di dalam Dusun Kim Kee Tjoen di Kho Kee Po, yang berada di perbatasan Hoopak. Dua puluh satu tahun telah lewat sejak Kiam Gim beristirahat, selama itu, ia telah punyakan tiga murid, sedang muridnya yang kepala adalah Law Boe Wie, itu bocah yatim-piatu anak petaninya Soh Sian Ie di Poo-teng. Nama Boe Wie ini, Kiam Gim yang sengaja berikan, artinya: jangan takut. Dia toh anak yang dipungut dari dunia kesengsaraan. Boe Wie sudah merantau sejak delapan tahun yang lalu. Di dalam tiga tahun yang pertama, masih ada kabar-ceritanya, tapi selanjutnya, setelah terkabar

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bahwa ia menuju ke Liauw-tong, ia seperti lenyap, sia-sia saja gurunya coba cari tahu tentang dia. Muridnya Kiam Gim yang kedua ada Yo Tjin Kong, dia diperkenalkan oleh pihak Lauw, pihak mertuanya. Diapun pernah merantau tetapi lebih banyak berdiam di rumah. Murid ketiga adalah si anak muda yang kita kenal dalam pasal pertama, yaitu Tjoh Ham Eng, yang lagi berlatih silat sama Lioe Bong Tiap, puteri satu-satunya dari Lioe Kauwsoe. Ham Eng adalah anak nomor tiga dari Toa-kauwsoe Tjoh Lian Tjhong, yang ada sahabat kekal dari Kiam Gim, siapa percayakan anaknya kepada ahli silat Thay Kek Pay itu. Ia adalah satu anak yang baik dan disayang oleh gurunya. Demikian, Kiam Gim tidak hidup kesepian bersama dua murid dan satu puterinya itu. Begitulah, dua puluh satu tahun telah lewat tanpa terasa, sampai hari itu mendadak Lioe Kiam Gim kedatangan Kim Hoa, murid kepala dari Teng Kiam Beng. Kim Hoa ini murid yang datang belajar sesudah ia sendiri mengerti silat, maka itu, ia terlebih tua daripada murid-muridnya Kiam Gim. Dan ia datang membawa kabar yang penting dan hebat, yang menyebabkan soepehnya kaget. Eh, Kim Hoa, kenapa perkara jadi hebat begini? tanya Kiam Gim kemudian. Dari mana munculnya barang upeti itu? Kenapa perampasan terjadi di Djiat-hoo? Kenapa gurumu boleh menyangka kepada Tjiong Hay Peng dari Heng Ie Pay? Hayo kau cerita biar jelas, dalam suratnya ini, gurumu suruh aku tanyakan keteranganmu saja. Lioe Bong Tiap sangat ketarik hatinya, hingga ia campur bicara. Tapi, Ayah, coba kasih tahu lebih dahulu, apa soesiok bilang dalam suratnya? tanya ia. Kiam Gim suka jawab anaknya itu:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Menurut soesiokmu, katanya, seraya letakkan suratnya Kiam Beng, pada sebulan berselang, soesiokmu mengantarkan barang upeti ke Djiat-hoo, untuk disampaikan kepada Istana Lie Kiong di Sin-tek, tetapi belum sampai di Sintek, baharu sampai di luar Kota Hee-poan-shia, gangguan sudah datang. Kota Hee-poan terpisah kira-kira dua ratus lie dari Sin-tek, dan tempat kejadian itu ada kira tiga puluh lie dari Kota Hee-poan itu. Perampasnya adalah seorang tua dengan lidah Liauw-tong, yang datang bersama sejumlah muridnya. Soesiok coba susul mereka sampai di tempat yang dinamakan Sha-tjap-lak Kee-tjoe, di sana orang tua itu dan rombongannya bisa melenyapkan diri secara tiba-tiba. Tidak lama sekembalinya soesiokmu ke Poo-teng, dia lantas terima surat pengumuman kaum Kang-ouw, yang ingin usir dia dari Poo-teng! Yang hebat adalah bendera Thay-kek-kie dari Golongan Teng Pay, atau Thay Kek Piauw, sudah kena dirampas oleh perampas itu! Entah orang dari golongan mana, yang sudah datang menerbitkan gara-gara itu! Apa yang terjadi di Hee-poan, siauwtit tidak lihat sendiri, Kim Hoa menambahi soepehnya itu. Ketika itu, siauwtit tidak turut. Soehoe ajak djie-soetee dan sam-soetee serta dua boesoe, guru silat, untuk temani dia. Mengenai barang upeti itu, ceritanya panjang. Bukankah Soepeh masih ingat itu orang yang bernama Soh Sian Ie, yang sering kunjungi Soehoe? Dia sekarang sudah berumur tujuh puluh lebih, dan selalu keram diri dalam rumahnya, akan icipi keberuntungannya orang hidup mewah, hingga ia jarang datang pula kepada Soehoe. Anaknya Soh Sian Ie yang ketiga, namanya Tjie Tiauw, yang kerja dalam kantor Tjongtok. Dia ini pada suatu hari datang pada Soehoe, buat minta Soehoe pergi lindungi barang upeti kepunyaannya Tjongtok, buat di bawa ke Istana Raja di Sintek. Ini tahun, seperti biasanya Raja pergi ke Sin-tek untuk menyingkir dari musim panas di Kota Raja, untuk sekalian berburu di musim rontok. Di Sin-tek, Raja Boan ada punya satu daerah hutan yang besar, piranti raja berburu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pemburuan inipun ada satu ketika untuk raja-raja Boan berlatih menunggang kuda dan memanah. Sebenarnya Tjongtok serahkan tugas kepada Soh Tjie Tiauw, untuk antar upeti itu, tetapi Tjie Tiauw, dengan pakai nama ayahnya, sudah minta pertolongan Soehoe. Selagi Kim Hoa baharu bicara sampai di situ, tiba-tiba Lioe Kauwsoe angkat kepalanya dengan mata mendelik, dengan bengis, ia berseru: Sahabat baik, turunlah! Menyusul seruan itu, dari atas sebatang pohon, meloncat turun seorang, yang tubuhnya melayang. Dan menyusul turunnya orang itu, Kim Hoa di kiri sudah lantas lompat menyerang dengan tiga buah Kim-tjhie-piauw, tapi yang dipakai ada Lauw Hay say kim tjhie atau Lauw Hay menyebar uang emas, tiga batang piauwnya menyambar ketiga jurusan, atas, tengah dan bawah. Orang itu bertubuh sangat gesit, dengan gerakan Yan tjoe tjoan in atau Walet tembusi mega, ia loncat tinggi dua tumbak, dengan begitu, ia meloloskan diri dari dua piauw, sedang piauw yang ketiga, ia jejak dengan kakinya, hingga piauw itu jatuh ke tanah! Nyata, dia pakai sepatu besi! Kim Hoa, yang menyerang, datang terlebih lambat daripada ketiga piauw, dengan Tjin pouw tjit seng atau Tindakan tujuh bintang, tangan kanannya membabat kedua kaki orang itu. Cepat luar biasa, sambil membungkuk, orang itu tangkis serangan berbahaya ini, kemudian, sebelum Kim Hoa sempat ubah jalan persilatannya, ia mendahului lompat jumpalitan tinggi, akan turun di belakangnya orang itu maka itu, Kim Hoa segera putar tubuhnya, lalu dengan Tek seng hoan tauw, atau Mengambil bintang untuk menukar bintang, ia menyerang dengan berbareng, tangan kanan ke arah embunembunan, tangan kiri ke arah dua mata.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Gesit luar biasa orang itu kelit tubuhnya, tapi sekarang sambil berseru: Tahan! Tahan! Aku ada murid Heng Ie Pay yang ingin bertemu sama Lioe Tjianpwee! Kim Hoa tidak sempat menunda penyerangannya, ia merangsek dengan gencar, atas mana orang itu bela diri dengan gerak-gerakan ilmu silat Heng Ie Pay yang dia sebutkan. Berhenti! Lioe Kiam Gim berseru! Kim Hoa hentikan penyerangannya dengan lantas, atas mana orang itu lantas saja menjura di hadapan guru silat itu seraya mengucapkan bahwa ia, orang yang terlebih muda tingkatannya, menghormati orang yang terlebih tua derajatnya itu. Lioe Kiam Gim menghampiri sambil empos semangatnya dengan Thay kek seng liang gie atau Thay-kek menciptakan im dan yang, ia ulur kedua tangannya mencekal kedua bahunya orang itu yang ia angkat seraya berkata: Silakan bangun! Silakan bangun! Enteng tampaknya, tubuh orang itupun telah terangkat naik. Lantas orang itu perkenalkan diri sebagai Ong Tjay Wat, keponakan murid dari Tjiong Hay Peng dari Heng Ie Pay, kemudian dengan cara merendah tapi pun mengandung kejumawaan, ia kata: Soesiokku dengar Lioe Lootjianpwee hendak campur tahu urusan ini, dari itu sengaja dia utus aku untuk menyampaikan kata-kata bahwa, kalau Lootjianpwee hendak mengulurkan tangan, seharusnya kita orang undurkan diri, hanya mengingat yang soeteenya Lootjianpwee sudah mengekor pada pembesar negeri, hingga dia melupai kehormatan kaum Kang-ouw, Soesiok percaya, Lootjianpwee pastinya tidak akan suka turut kecipratan air butek. Tapi, andaikata Lootjianpwee hendak mengulur tangan juga, maka

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

apabila di belakang hari ada terjadi suatu apa, harap Lootjianpwee tidak sesalkan kita! Lioe Kiam Gim tidak jadi gusar karena ucapan itu, di lain pihak dia tanya Ong Tjay Wat tentang keadaan Tjiong Hay Peng selama belakangan ini, perihal lain-lain jago Heng Ie Pay itu, tentang kebahagiaannya Tjay Wat sendiri, hingga Tjay Wat jadi bingung sendiri karenanya. Dalam terdesaknya, Tjay Wat sampai cuma bisa kata: Lootjianpwee, aku mengharap sepatah kata balasan dari kau. Jangan kesusu, jangan kesusu! Kau datang dari tempat jauh, biar bagaimana aku mesti minta kau beristirahat di sini untuk satu malam, besok aku temani kau mengunjungi soesiokmu. Maafkan aku, Lootjianpwee, tapi aku masih punya lain urusan penting untuk mana aku mesti segera berlalu dari sini, Ong Tjay Wat tetap menolak. Kalau begitu, kata Lioe Kauwsoe dengan sungguhsungguh, tolong kau sampaikan pada Tjiong Soehoe, pasti sekali aku si orang she Lioe nanti bertindak dengan ikuti tata tertib kita, kaum Kang-ouw! Lantas jago tua ini antar tetamunya keluar, kemudian sekembalinya ke dalam, ia tanya muridnya: Kau or-ang lihat, apakah benar-benar dia dari Heng Ie Pay? ,Dia ada dari Heng Ie Pay, sahut Tjin Kong, sedang Kim Hoa bilang: Aku dengar dia serukan berhenti, tapi aku sengaja masih serang dia, dengan begitu, bukan maksudku akan tempur terus adanya. Menurut aturan, memang aku mesti lantas berhenti menyerang. Karena ia sebut diri dari pihak Heng Ie Pay, aku jadi hendak mencoba terlebih jauh. Dari gerak-gerakannya itu, dia benar dari Heng Ie Pay. Selagi Soemoay dan Kim Soeheng menyerang, aku sengaja tidak turut ambil bagian, Yo Tjin Kong tambahkan,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dengan begitu, aku hendak saksikan gerak-gerakannya. Gerakan tubuhnya enteng, kelitannya, tangkisannya, semua ada dari Heng Ie Pay. Kenapa Soehoe menanyakan ini? Apakah Soehoe dapat lihat apa-apa yang luar biasa? Lioe Kiam Gim urut-urut kumis-jenggotnya, ia bersenyum. Memang tidak gampang untuk melihat dasar ilmu silat orang, ia menyahut.-Siapa peroleh ilmu curian sekedarnya, dia memang bisa gunai itu untuk bertempur, hanya cara menggunakannya tak leluasa seperti ilmu silat kaumnya sendiri. Untuk melihat itu, kita mesti guna. tempo ketika ia sedang terdesak, itu waktu akan terbukti ketangkasannya. Tadi dia didesak oleh Kim Hoa, sehabis dia elakkan piauw dari Tiap-dj ie. Dia elakkan diri bukan dengan tipu Heng Ie Pay, hanya dengan tipu berkelitnya Gak Kee Koen, dari KaumKeluarga Gak. Piauw dari Tiap-djie tak dapat dicela, cuma masih kurang latihan dan pengalaman, siapa sempurna ilmu kegesitannya Keng kong tee tjiong soet, ia bisa egos tubuhnya dengan gampang. Aku pun sangsikan dia selama aku angkat dia bangun. Kim Hoa berempat berdiam. Mengenai soal ini, tentu saja mereka punya pengetahuan atau pengalaman masih sangat kurang. Besok aku turut kau pergi ke Poo-teng, kemudian Lioe Loo-kauwsoe kata kepada keponakan muridnya, setelah ia berdamai sama anak dan murid-muridnya. Aku lihat, soal ini sulit sekali. Umpama kaum Kang-ouw musuhkan gurumu karena gurumu mengekor pada pembesar negeri, aku nanti coba datang sama tengah, untuk mengakurkannya. Samasama kaum Rimba Persilatan, tak boleh kita orang saling bentrok. Sudah lama aku undurkan diri tetapi aku percaya, Tjiong Hay Peng beramai nanti masih sudimemandang kepadaku. Lioe Kiam Gim buktikan kata-katanya ini pada besok paginya. Ia berangkat bersama Kim Hoa sesudah pesan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

murid-muridnya akan baik-baik berdiam di rumah. Lioe Toanio, Lauw In Giok antar suaminya sampai di luar rumah. Kiam Gim pergi dengan hati tetap, sebab ia percaya, isterinyaakan sanggupjaga rumah, sedang Yo Tjin Kong sudah wariskan kepandaiannya tujuh atau delapan bagian. Dan Ham Eng dan Bong Tiap, sekalipun belum sempurna, mereka rasanya sudah bisa bantu In Giok dan Tjin Kong. Tak pemah ia sangka bahwa ombak bakal bergelombang hebat! II Sejak berangkatnya Lioe Kiam Gim, Lioe Toanio mesti wakilkan suaminya mengurus seantero rumah tangga. Di bagian luar, Yo Tjin Kong bantu soebonya. Si nona kecil, Bong Tiap, setiap hari berlatih atau bermain-main saja sama Ham Eng, sam-soehengnya, tapi sekarang mereka jadi terlebih binal, hingga leluasa sekali mereka pergi ke hutan mengacau sarang burung atau ke muara akan main perahu. Toanio dan Tjin Kong mengantapkan saja, Cuma kadang-kadang mereka merasa sedikit kuatir. Setelah ia sekarang berusia delapan belas tahun. Ham Eng suka merasa kehilangan apabila untuk sedikit waktu dia tidak lihat atau berkumpul sama Bong Tiap, sementara si nona tetap merasa merdeka, tidak pernah dia merasa likat, malah ada waktunya dia tepuk si suheng apabila si suheng bengong sambil berkata, Eh, eh, kenapa sih kau nampaknya tolol?. Sesudah ditegur secara demikian, baharu Ham Eng sadar dengan gelagapan. Demikianlah hari itu, Bong Tiap dan Ham Eng main perahu di Kho Kee Po. Mereka singkirkan gelagah dan ganggang, mereka gayuh perahu sampai ke tengah muara di mana ada beberapa pulau, dari sana mereka dengar datangnya nyanyian kaum nelayan, rupanya nona-nona tukang ikan bemyanyi saling sahut-sahutan. Di udara ada burung-burung laut yang berterbangan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ham Eng bengong mendengar nyanyian dan matanya mengawasi ke udara. Soemoay, soemoay, tiba-tiba dia bertanya, di sini ada begini permai, maukah kau kalau kita berdua selamanya bermain-main seperti sekarang ini?. Bong Tiap tertawa cekikikan mendengar pertanyaan itu. Selamanya bermain-main seperti sekarang ini? ia ulangi. Kau sering bilang aku ada satu bocah cilik, tapi lihat sekarang, apa kau sekarang bukan terlebih cilik daripadaku? Tunggu sebentar, apabila perutmu sudah ngericik karena lapar, apa kau tidak nanti lekas-lekas lari pulang akanmintamakan! Bagaimana kita bisa selamanya main-main disini? Soemoay itu tidak mengert., maka Ham Eng lebih-lebih melengaknya! Bong Tiap tertawa, sambil tertawa ia gayuh perahunya yang laju pesat, sesudah maju sampai beberapa puluh tumbak, sekonyong-konyong ia dengar suara ribut di sebelah depan, hingga ia angkat kepalanya akan mengawasi. Di sebelah depan sana ada beberapa perahu nelayan dengan nelayan-nelayannya lagi menjaring, sedangnya begitu, sebuah perahu kecil, dengan digayuh keras, nyerbu antaraperahu-perahu nelayan itu, air jadi berombak keras dan muncrat ke atas. Itu ada suatu gangguan untuk tukangtukang tangkap ikan itu, karena sekalipun ikan yang sudah masuk ke dalam jaring tentu pada lari keluar pula. Maka itu, nelayan-nelayan itu jadi kaget dan gusar, hingga mereka mendamprat dan menegur pada orang-orang di atas perahu kecil itu. Nampak demikian, Bong Tiap dan Ham Eng turut menjadi gusar. Soeko, mari kita ajar adat pada mereka itu! kata sang soemoay. Mereka tak dapat diantap main gila di Kho Kee Po ini! Kenapa mereka ganggu itu kawanan nelayan? Soeko, pergi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kau lawan dia, aku nanti bersiap dengan Kim-tjhie-piauw! Lihat, mereka lagi mendatangi kemari, mari kitapegat! Selagi Ham Eng belum sahuti si nona, perahu di depan sudah datang dekat dan terus melesat melewati perahu mereka, air muncrat tinggi, hjngga mengenai dua anak muda ini. Dalam murkahnya, Bong Tiap sudah lantas gunaigala gaetannya, akan sam-bar cartel kendaraan air orang, hingga perahu jadi tiba-tiba berhenti dengan tiba-tiba, sedang Ham Eng segera putar kemudinya untuk bikin kedua perahu jadi berhadapan. Di dalam perahu itu ada empat orang. Yang berdiri di muka ada seorang berumur tiga puluh lebih. Yang bercokol di buntut perahu ada si jurumudi, seorang muda usia dua puluh lebih. Dua yang lain, lagi rebah dengan anteng di dalam perahu, roman mereka tidak kelihatan tegas, mereka seperti juga tak tahu bahwa telah terjadi suatuapa. Adalah orang. di kepala perahu, yang menjadi gusar. Eh, bocah-bocah cilik, apakah kau orang hendak cari mampus? dia membentak. Kalau kau orang hendak pelesiran, pergilah pulang dan pelesiran dengan soeniomu tapi jangan di sini kau orang cari malu untuk orang tuamu. Oh, orang-orang tidak tahu aturan! Ham Eng segera membaliki. Nanti tuan kecilmu ajar adat pada kau orang! Lekas angkat kaki dari Kho Kee Po ini, atau apabila tidak, kepalannya tuan kecilmu ini nanti tidak kenal orang! Baik, aku justeru mau kenal kepalannya si tuan kecil! jawab or-ang itu, yang segera loncat ke perahunya dua anak muda itu, hingga perahu ini jadi goncang dan limbung. Tapi Bong Tiap segera pentang kedua kakinya, ia menancap kuda-kuda hingga perahu jadi diam, tak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bergeming. Itu ada kuda-kuda Kim Han tan tjiang atau Kaki kecil injak pelatok dan gerakan Lek to tjian kin atau Tenaga menekan seribu kati. Sengaja Lioe Kiam Gim ajarkan kedua ilmu ini karena ia kuatir gadisnya, sebagai orang perempuan, nanti kurang tenaga. Dan hari ini, kepandaian itu telah diuji. Orang itu sampai untuk segera menerjang, gerakannya sangat gesit, ia hendak jambak Ham Eng untuk diangkatdan dilemparkan ke muka air! Kelihatannya ia tak pandang sama sekali bocah itu. Kecerobohan orang itu adalah apa yang Ham Eng inginkan. Dia muda, tapi Ham Eng ada satu puteranya satu ahli silat dan telah terpimpin baik oleh Lioe Kiam Gim ia sudah belajar enam atau tujuh tahun, maka tak dapat ia dipandang sebagai bocah yang kebanyakan. Melihat serangan itu, dengan gesit ia mendak, sebelah kakinya dimajukan, hingga ia jadi nyelundup di bawah tangan musuh, Sementara tangannya sendiri dipakai menangkap, menanggapi lengan kanannya itu, lalu dengan tidak kalah sebatnya, ia gunai tipu Soen tjhioe tjian oh atau Mengulur tangan menuntun kambing, untuk membetot dan melepas! Ini adalah suatu gerakan yang tidak disangka-sangka, maka itu orang menjadi kaget, sia-sia saja ia coba berontak, tahutahu tubuhnya telah terangkat dari perahu dan terlempar, tercebur ke dalam air! Byaar! demikian suara di muka air. Ha-ha-ha-ha! Ham Eng tertawa. Kau hendak kenal tuan kecilmu, sekarang kau telah belajar kenal!. Tapi sebelum pemuda ini tutup mulutnya, atau seorang lain sudah loncat pula ke perahunya. Ini orang tidak sembrono seperti yang pertama, ia terus berdiri mengawasi pemuda itu, kemudian baharulah ia berkata: Sahabat kecil, kau liehay juga! Adakah ini pelajaran yang kau dapat dari soeniomu? Perkataan -

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

soeniomu atau gurumu telah dikeluarkan dengan lagu suara menghina. Aku juga ingin belajar kenal denganmu! Habis kata begitu, orang itu buka kedua tangannya seraya pasang bhe-sie. Ham Eng tidak kenal sikap orang itu, tapi baharu saja secara getas ia rubuhkan satu musuh, ia jadi berani sekali, tanpa berkata apa-apa, ia maju menyerang dengan tangan terbuka-dengan Tjin-pou Tjit-sen-tjiang atau Majukan tujuh bintang. Lawan itu berlaku tenang, tetapi sebat. Begitu lekas tangannya si pemuda sampai, ia geser sedikit sebelah kakinya ke samping depan, jangannya dipakai menabas lengan Ham Eng. Syukur Ham Eng pun awas dan cerdik, ia lekas-lekas singkirkan bahaya dengan Tjhioe hoei pie pee atau Tangan mementil piepee. Sampai- di situ, keduanya lantas saling menyerang, dasar Ham Eng masih bungasan, ia kalah ulet dan cerdik, ia lantas nampak keteter. Sejak tadi Bong Tiap mengawasi saja, tangannya telah jadi gatal, sekarang melihat soehengnya terdesak, tidak tempo lagi ia buktikan janjinya untuk membantu. Ia keluarkan tiga batang Kim-tjhie-piauw, dengan cepat sekali ia menyerang ke arah tiga jurusan: Satu ke tenggorokan, dua ke kiri dan kanan! Serangan itu di luar sangkaan musuh, apapula si nona menyerang dengan sebelah tangan, dengan sebat ia berkelit ke kanan, dengan begitu tenggorokannya luput dari bahaya, demikian pun anggotanya sebelah kanan, akan tetapi lengan kirinya segera menjadi korban, malah segera juga ia rasai tangannya itu jadi gemetaran dan kaku. Ia kaget dan gerakannya turut jadi kendor karenanya, tidak heran apabila ia kena didesak Ham Eng dan kakinya si pemuda bikin ia terpental, nyebur ke air, hingga terdengarlah suara menyebur yang keras dibarengi dengan muncratnya air muara!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ah, perempuan tidak tahu malu! demikian terdengar cacian dari perahu lawan. Sudah tidak mampu melawan, kau main senjata gelap! Kau punya senjata rahasia, apakah aku tidak? Nah, kau sambutlah! ltuiah suara si pengemudi anak muda, ia mendamprat seraya tangannya diayun, hingga terlihatlah beberapa benda berkeredepan menyambar ke arah Tjoh Ham Eng. Nyata ia sudah gunai Thie-lian-tjie atau biji terataf emas. Ham Eng kaget bukan rriain, ia sebenarnya belum sempat tarik pulang kakinya, ketika serangan datang, di luar kehendaknya sendiri, iamenjerit: Celaka aku! Dalam keadaan berbahaya bagi Ham Eng itu, sekonyongkonyong ada sambaran suara nyaring dan Thie-lian-tjie lantas meluruk jatuh ke muka air, karena Bong Tiap kembali perlihatkan kepandaiannya menggunai Kim-tjhie-piauw, ini kali ia gunai tipu sambitan Lauw Hay say kim tjhie atau Lauw Hay menyebar uang emas. Maka Thie-lian-tjie tidak mengenai sasarannya dan runtuh di tengah jalan. Ham Eng jadi lega hatinya, ia bersyukur. Di pihak lawan sekarang orang anteng, di dalam perahu, lantas munculkan diri. Tahan! Tahan! ia berseru berulang-ulang. Untuk layani dua bocah kenapa mesti pakai senjata rahasia? Si pengemudi muda lantas berdiarn, dan Bong Tiap juga segera awasi or-ang yang baharu perlihatkan diri ini, ialah seorang tua umur kurang lebih lima puluh tahun, kumis dan jenggotnya panjang, matanya tajam, romannya keren. Anak-anak, tidak ada celaannya benar-benar permainanmu itu! kata orang tua itu sambil tertawa seraya urut-urut kumisjenggotnya. Hanya melainkan dengan kepandaianmu itu, buat jadi orang-orang Kang-ouw tukang campur urusan lain orang, itulah tidak gampang! Mari kau or-ang maju berdua,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dan kau Nona, kau boleh keluarkan Kim-tjhie-piauw! Dari pihakku, aku tak nanti izinkan orang gunai sebelah saja dari senjata gelapnya! Ham Eng setujui itu tantangan. Soehoe dan soehengnyajuga, memang sering omong perihal bertempur satu sama satu, itulah aturan atau keharusan di kalangan Kang-ouw, bahwa siapa mau kerubutan, harus malu sendiri. Soemoay, kau mundur! ia teriaki Bong Tiap. Biar aku yang belajar kenal sama ini enghiong tua! Bong Tiap menjebi. Bukankah mereka itu kalah satu datang satu? mengejeknya. Memang juga siapa kesudi an gunai senjata rahasia? Mereka mendahului tek pakai aturan tapi sekarang mereka berani menegur kita- cis! _ Sekalipun demikian, nona manis ini mundur si orang tua tertawa berkakakan. Di antara suara tertawa orang tua itu lompat melesat ke perahunya Ham Eng, akan hampirkan ini anak muda. Ham Eng tidak puas dengan itu sikap jumawa, yang sangat memandang enteng kepadanya. Ia pun segera ingat keterangan gurunya berhubung sama pertempurannya Kim Hoa, sang soeheng, dengan Ong Tjay Wat. Bahwa paling tepat menyerang musuh selagi berlompat dan belum sempat taruh kaki. Maka sekarang, justeru orang lompat, ia pun lompat maju, tangan kanannya membabat kedua kaki si orang tua. Di luar dugaan bocah ini, lawan tua itu terlebih liehay daripada Ong Tjay Wat, dia tidak berkelit untuk babatan itu, hanya kakinya yang kanan didahului dipakai menendang mukanya Ham Eng! Ham Eng terperanjat, ia berkelit, dengan begitu serangannya jadi batal sendirinya, hingga tubuh si orang tua bisa turun terus ke perahu, kaki kirinya segera menginjak papan perahu, hingga kaki kanannya dapat menyusul turua, akan tetapi, gesit luar biasa kaki kirinya melayang naik

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

umpema kilat, atas mana tak ampun lagi Ham Eng terdupak terpelanting ke muka air! Karena itu adalah tipu Wan yoh hoan twie atau tendangan Kaki burung wan-yoh saling susul. Bong Tiap kaget berbareng gusar, hingga ia lupakan aturan Kang-ouw, maka kembali ia menyerang dengan senjata rahasianya. Tapi si orang tua itu gesit bagaikan angin, tubuhnya berkelit berkelebatan, hingga semua piauw jatuh ke air, sesudah mana ia berdiri diam sambil tertawa berkakakan dan akhirnya kata: Ah! Tidak ada yang kena!. Selagi orang tua ini tertawa terbahak-bahak, karena ia sangat puas bisa ejek Bong Tiap, kelihatan satu . perahu sedang mendatangi pesat sekali ke arah mereka, hingga perahu itu sampai dengan luar biasa cepat. Di kepala perahu itu ada berdiri seorang laki-laki umur kira-kira tiga puluh tahun, kepalanya mirip dengan kepala macan tutul, mukanya berewokan lebat, kedua tangannya berpeluk tangan, kedua matanya terbuka lebar dan sorot matanya tajam bercahaya, sikapnya keren. Si orang tua berhenti tertawa dengan tiba-tiba, ia mengawasi orang yang baharu datang itu. Ia, seperti tiga kawannya, yang sudah berkumpul pula di atas perahu mereka, agaknya heran atau tidak mengerti. Mereka tidak kenal orang ini. Mereka tahu, dalam Keluarga Lioe, tidak ada murid atau orang semacam ini. Mereka menduga-duga, orang itu ada penumpang perahu biasa sajaatau dm hendak campur urusan orang lain. Maka semua lantas mengawasi. Ham Eng sudah lantas naik ke perahunya. Tapi, seperti soemoaynya, diapun diam. mengawasi saja perahu yang lagi mendatangi itu. Setelah perahu datang cukup dekat, si orang tua, yang mengawasi dengan tajam, dengan mendadak kasih dengar

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

suaranya yang keras dan nyaring umpama guruh: He, siapa sih? Mau apa kau datang kemari? Orang itu berdiri sedakap di atas perahunya, romannya tenang, malah dingin. Ada urusan apa maka kau orang bertempur di muka air? dia tanya. Aku telah lihat kau orang dari jauh-jauh! Eh, orang sudah jenggotan? Eh, kenapa kau layani segala bocah cilik? Apakah mereka berlaku kurang ajar terhadap kau, Lauwko? Nanti aku bikin kau orang akur! Apakah kau tidak takut ditertawai orang Kang-ouw kalau kau layani segala bocah? Sejak tadi ia menegur, orang tua itu telah lihat tubuhnya dari kepala sampai di kaki, dari itu, ia segera lihat caranya dia berdiri, hingga ia jadi terkejut. Sikap itu mirip dan tidak mirip dengan sikapnya Kaum Thay Kek Pay tetapi sudah terang aneh seorang umur kurang-lebih tiga puluh tahun, bisa bersikap demikian. Paling tinggi umumyabaharutiga puluh tahun tapi dia seperti keluaran latihan dua atau tiga puluh tahun. pilar orang tua ini. Murid siapakah diaini? Bong Tiap juga awasi orang itu, ia heran dan mengingatingat. la rasa pernah lihat orang ini tapi lupa, entah di mana. Orang asing itu tertawa dingin melihat si orang tua diam saja. Sahabat baik, bagaimana? dia menegur, sembari tertawa tawar. Coba omong terus terang, kau sudi sudahi urusan ini atau tidak? Apakah kau tetap hendak perhinakan dua bocah ini? Mukanya si orang tua jadi keren, baharu sekarang ia tertawa menyindir. Mendengar lagu suaramu, Lauwko, kau seperti hendak campur tahu urusan kita ini! katanya. Baik aku jelaskan padamu, kita ada punya urusan kita sendiri, urusan itu tidak mengenai Lauwko seorang luar, dari itu tak sudi aku bikin pakaianmu kecipratan air kotor dari muara ini!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Baik Lauwko kembali dengan perahu, supaya selanjutnya kita menjadi sahabat. Belum pernah di kalangan Kang-ouw aku ketemu orang nganggur seperti Lauwko ini, aku kuatir, rase kau tak dapat cekuk, kau akan ketempelan baunya yang tidak sedap! Orang asing itu gusar. Orang di kolong langit mesti campur tahu orang di kolong langit! jawabnya. Aku melainkan tahu toelai perbuatan tidak pantas, aku larang sikuat perhinakan si lemah, yang banyak menindas yang sedikit, si tua Bangka ganggu si muda! Sahabat, bagaimana pikiranmu? Matanya si orang tua jadi mendelik. Oh, aku tidak sangka, Lauwko, kau hendak urus urusan di dunia! ia berseru. Nah, terserah kepada kau, kita bersedia akan turut segala perintahmu! Ucapan ini ditutup sama gerakan tubuh seperti kilat, tahutahu si or-ang tua dari perahunya Bong Tiap sudah mencelat tinggi, hendak berlompat ke perahu orang asing itu, sedang si orang asing dari perahunya sendiri melesat ke perahunya si nona, malah dia ini mendahului sampai! Maka segeralah terdengar satu suara nyaring di perahunya Bong Tiap, papan perahu siapa, bagian atasnya, lantas terbelah, karena keinjak oleh tubuh yang besar dan berat dari si orang tua, tubuh siapa sudah kebentrok keras dengan tubuh si or-ang asing! Orang tua itu segera gulingkan tubuhnya di atas perahu, kapan ia telah enjot bangun, segera ia enjot bangun, untuk lompat ke perahunya sendiri. Ia rupanya insyaf, perahunya si nona terlalu sempit untuk suatu pertempuran. Si orang asing turun ke perahunya Bong Tiap dengan tidak rubuh, kapan ia lihat si orang tua pindah kendaraan air, tak terlambat lagi, ia loncat menyusul, hingga sekarang ia berada bersama dalam perahu si tua itu! Malah dengan lantas, keduanya sudah mulai saling menyerang.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Segera juga ternyata, orang tua itu bergerak-gerak dalam ilmu silat Pak Pay, Golongan Utara, tangannya mainkan ilmu Pek-kwa-tjiang, sedang si orang asing, yang berkepala mirip macan tutul (pa-tjoe-tauw), campur-aduk permainannya, yaitu ilmu Thay Kek Pay teraduk dengan Sha-tjap-lak kim-na-hoat dari Golongan Eng Djiauw Boen si Kuku Garuda dari Kwangwa dan Ban Seng Boen punya ilmu golok Ngo-houw toanpek-tjiang ialahLimaharimau merampas roh. Dan pada itu juga tercampurlagi dengan Tiam-hiat-hoat atau ilmu menotok jalannya darah. Hingga orang tua itu jadi heran, cara bagaimana seorang berumur kurang lebih tiga puluh tahun sudah punyakan semua kepandaianmu. Maka tidak perduli, Maka tidak perduli, bagaimana dia liehay danberpengalaman, selang lima puluh gebrak kira-kira, orang tua itu lantas saja kewalahan, dari pihak si penyerang, ia sekarang jadi pihak sipembeladiri. Pek-kwa-tjiang dari Golongan Utara adalah ilmu piranti mendesak, sekarang dia berbalik kena didesak, dari itu terpaksa ia mesti melakukan penjagaan saja. Sekalipun demikian, ia tetap terdesak, karena lawan itu agaknya tidak sudi mengasih kelonggaran padanya. Dia ini gerakkan dua-dua tangan kiri dan kanannya secara hebat. Mula dengan tangan kirinya dipakai membacok tangan kanannya itu orang asing, orang asing itu mengancam dengan kaki kanannya disusul dengan sambaran tangan kanan. Tujuannya ialah perutnya siorang tua, dia ini gerakkan tangan kanannya untuk punahkan tangan musuh, dilain pihak perutnya dibikin kempes dengan disedot kedalam, sekalipun demikian perut ini masih mendapat tekanan keras. Pa tjoe-tauw atau si kepalan macan tutul telah mendesak lebih jauh dengan tangan kirinyakearah muka lawan. Orang tua itu gerakkan kedua tangannya ke atas, untuk menggencet tangan kiri musuh itu, tetapi tangan kiri ini ditarik turun dengan cepat, disusul sama sambaran tangan kanannya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ke arah pipi, dalam gerakan Tiam-tjoe-twie atau Tusukan pahat. Sekali ini orang tua itu tak sempat menangkis pula, dia kalah gesit, maka pipinya itu kena terhajar, dari itu ketika disusul dengan satu dorongan pada tubuhnya, tubuhnya jadi limbung, sebagai layangan putus, tubuh itu terpental, kecebur ke muka air! Hingga air menerbitkan suara berisik dan muncrat tinggi dan lebar! Selagi Ham Eng dan Bong Tiap kagum menyaksikan pertempuran dahsyat itu, sekonyong-konyong mereka dibikin terkejut dengan limbungnya perahu mereka yang tersundul naik sebab diluar dugaan setelah siorang tua tercemplung kedalam air, ia selulup dan menyundul perahu mereka. Di saat kedua anak muda itu hampir terjerunuk ke muka air karena mereka tidak bisa pertahankan diri lebih lama, tiba-tiba si orang asing lompat pada mereka, klu dengan masingmasing sebelah tangannya, ia angkat mereka melompat. ke perahunya sendiri, untuk ditempatkan di dalam perahunya, kemudian sambil serukan: Lekas kau orang pergi pulang! Ia sendiri segera terjun ke air, hingga, di antara muncratnya air, tubuhnya lantas terlenyap ke dalam air, akan di lain saat, ia muncul di dekat si orang tua, yang telah perlihatkan diri di dekat perahunya kediia anak muda itu. Sambil perdengarkan bentakan, orang tua itu bikin gerakan hingga air menyambar si orang asing. Ternyata ia bikin perlawanan di dalam air, ia mencoba menyerang terlebih dahulu. AJkan tetapi orang asing itu lolos dari serangan, karena ia melesat tiga .tumbak jauhnya, ke arah perahunya si orang tua, di mana ia selulup, atas mana, sesaat saja terdengarlah suara berisik. Karena perahunya si orang tua telah disundul naik, terbalik dan karam, hingga tiga orang di dalam perahu itu, tak ampun lagi, tercebur ke dalam air, hingga dua antaranya mesti mandi pula! Orang asing itu membik1 pembalasan untuk si pemuda dan si pemudi, hanya, kalau kendara* aimya dua

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

anak muda ini tidak samPa karam, adalah kepunyaan si orang sudah terbalik. Kepandaian berenangdan selulup si orang asing itu begitu liehay hingga musuhnya tidak dapat dekati padanya. Itu waktu sejumlah perahu nelayan telah mendatangi mereka lagi bertarung di muka air, dia orang itu ada mendongkol karena tadi mereka sudah diganggu oleh empat orang yang tidak dikenal orang itu, malah beberapa nelayan muda lantas saja menimpuk dengan tempuling mereka, untuk bantu si orang asing yang jadi pembela mereka. Maka empat orang tidak dikenal itu jadi repot, mereka mesti kelit sana dan kelit sini. Si orang tua jadi sibuk, ia mengerti bahwa mereka terancam bahaya. Untuk layani si orang asing saja ada sukar, sudah di situ ada kedua anak muda, Kim-tjhie-piauw siapa harus dimalui, juga sekarang ada nelayan-nelayan itu dengan tempulingnya. Angin keras! Berhenti!si orang tua segera berseru, dalam bahasa rahasianya orang Karig-ouw, kaum Sungai-telaga. Itu berarti bahwa bahaya lagi mengancam mereka. Ia pun segera mendahului, akan selulup, akan menghilang pergi, hingga tiga kawannya lantas susul padanya. Si orang asing muncul di muka air. Pulang! Lekas pulang! katanya pada Ham Eng dan Bong Tiap, yang masih saja mengawasi mereka sesudah mana, ia silam. Cepat sekali, kedua anak muda ini lihat orang telah saling kejar jauh sekali jaraknyadari mereka, sedang di depan mereka, air lantas jadi tenang pula. Ham Eng merasakan dirinya seperti lagi mimpi, ia tampak pakaiannya basah dan tubuhnya merasa dingin, tapi lekas ia pegang kemudi, akan gayuh perahunya pergi. Mari kita lekas pulang! katanya pada Bong Tiap.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Had sudah fnulai sore. Bong Tiap manggut la pun kuatir ibunya meng-harap-harap. Selagi mendekati pinggiran, dua anak muda ini segera dengar suara panggilan: Bong Tiap! Bong Tiap! Ham Eng! Ham Eng! Dan suara itu seperti suara mendesak. Ya! Ham Eng menyahuti. Ia kenali suara dari djisoehengnya. Ah, Ham Eng, soeheng yang kedua itu kemudian kata. Kau kenapa? Kenapa kau nyebur ke air? Hebat, Soeheng, sahut Ham Eng, yang terus tuturkan kejadian barusan. Kalau begitu, mari lekas pulang! kata djie-soeheng itu. Perihal ini perlu segera diberitahukan pada Soebo! Tiba-tiba: Bong Tiap! Bong Tiap! Ham Eng! Ham Eng! Itulah suara sang soebo atau Lioe Toanio, maka segera Bong Tiap menyahuti: Ibu! Ibu, orang telah permainkan kita!. Lioe Toanio tidak lantas jawab puterinya, ia hanya awasi Ham Eng. Ah, kau bertempur di air? nyonya guru itu kata. Tentu kau telah dibikin kecebur! Lihat,celanamu pecah! Apakau kau tidak terluka? Benar, Soebo, Ham Eng menyahut, seraya terus tuturkan kejadian tadi. Cukup, Anak! Lioe Toanio berkata. Sekarang marilah pulang! Kau mesti lekas salin pakaian, atau kalau kau terluka, lekas kau pakai obat gosok! Tjin Kong, pergi kau layani saudaramu ini. Kau, Anak, man ikut aku! Sampai di situ, berempat mereka pulang. Adalah di rumah, sebelumnya siap dengan barang daharan, Lioe Toanio suruh anak dan muridnya ulangi penuturan mereka yang jelas. Yang terutama menarik adalah halny a si orang asing dengan kepala

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

seperti kepalamacan tutul. Bong Tiap dengan bernafsu puji orang asing itu, yang ia katakan kepandaiannya ia belum pernah lihat, hingga ia lupa bahwa ayahnya justeru seorang guru silat yangliehay! Dan yang aneh, Ibu, kata si nona akhirnya, gerakgerakannya mirip dengan apa yang Ayah dan Ibu ajarkan kepadaku Thay Kek Pay kecampur Ban Seng Boen. Lioe Toanio berdiam, ia berpikir, sambil ngoceh sendirinya: Oh, or-ang berkepala mirip macan tutul, berewokan, umurnya kurang lebih tiga puluh tahun!. Ia agaknya bersangsi, ia seperti ingat suatu apa. Dan ia bicara dengan lidah apa? tanyanya kemudian. Hoo-pak atau Shoatang? Apakah Ibu kenal orang itu? Bong Tiap balik tanya. Dia bukan berlidah Shoatang atau Hoo-pak, entahlah lagu suara mana, rasa-rasanya dia bicara dengan lagu suaranya si saudagar djinsom dari Kwan-gwa yang duluan datang beli djinsom dari Ayah. Nyonya itu berdiam pula. Aku hendak duga seseorang, tetapi lagu suaranya, boegeenya, bikin aku sangsi, katanya. Tapi mereka yang ganggu kau orang, aku tahu asal-usulnya mereka. Siapa mereka, Ibu? Bong Tiap tanya. Apakah mereka ada Ong Tjay Wat dan persaudaraan Lo? Tjin Kong turut tanya sebelum guru perempuannya sahuti si nona. Kalau bukan mereka, siapa lagi? sahut sang soebo sambil manggut. Kau tidak tahu, Anak, selagi kau bertempur di muara, aku juga dapat kunjungan tetamu yang tidak diundang..

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bong Tiap dan Ham Eng terkejut, si nona lantas minta keterangan, tanyanya kemudian. Hoo-pak atau Shoatang? Apakah Ibu kenal orang itu? Bong Tiap balik tanya. Dia bukan berlidah Shoatang atau Hoo-pak, entahlah lagu suara mana, rasa-rasanya dia bicara dengan lagu suaranya si saudagar djinsom dari Kwan-gwa yang duluan datang beli djinsom dari Ayah. Nyonya itu berdiam pula. Aku hendak duga seseorang, tetapi lagu suaranya, boegeenya, bikin aku sangsi, katanya. Tapi mereka yang ganggu kau orang, aku tahu asal-usulnya mereka. Siapa mereka, Ibu? Bong Tiap tanya. Apakah mereka ada Ong Tjay Wat dan persaudaraan Lo? Tjin Kong turut tanya sebelum guru perempuannya sahuti si nona. Kalau bukan mereka, siapa lagi? sahut sang soebo sambil manggut. Kau tidak tahu, Anak, selagi kau bertempur di muara, aku juga dapat kunjungan tetamu yang tidak diundang. Bong Tiap dan Ham Eng terkejut, si nona lantas minta keterangan. Tetamu tidak diundang itu bukannya suatu ahli silat, dia malah satu bocah ialah Ong Siauw Sam, anak tunggal dari OngToa-ma, tetangganya LioeToanio, yang bekerja di sebuah warung arak kecil di Kim-kee-tin. Biasanya bocah ini pulang setiap tengah bulan dengan menenteng sedikit oleh-oleh untuk ibunya, karena ia berbakti. Biasanyajarang ia mampir pada Lioe Toanio, tapi kali ini ia berkunjung. Lioe Toanio ada manis budi, ia girang menerima bocah itu, ia tanya ini dan itu dengan gembira, tapi Siauw Sam, setelah menjawab beberapa pertanyaan dengan ringkas lantas bilang: Toanio, ada satu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tetamu yang minta aku sekalian sampaikan sepucuk surat untuk kau. Dan lantas, ia serahkan surat itu. Toanio kaget menerima surat itu, dan kaget setelah membacanya. Tetamu macam apakah orang itu? ia tanya Siauw Sam. Kemarin kita kedatangan tetamu-tetamu dari satu rombongan, Siauw Sam kasih keterangan. Mereka ada yang tua ada yang muda, sembari minum arak mereka tanya aku kenal atau tidak pada Lioe Loo-kauwsoe, setelah aku kata kenal, seorang tua di antaranya lantas minta kertas, pit dan bak, terus menulis surat dan ia minta aku yang sampaikan, kalau tidak ada Loo-soehoe sendiri, boleh pada Toanio. Demikian Lioe Toanio, yang terus bacakan surat yang ia maksudkan itu. Itulah surat yang ringkas-terang dan kasar. Begini bunyinya: Kauwsoe Lioe Kiam Gim, suami-isteri! Soeteemu, Teng Kiam Beng, telah menentang kita kaum Kang-ouw, ia tempel pembesar negeri, hingga kita jadi tidak puas, maka itu di Djiat-hoo, kita ajar sedikit adat padanya. Kabamya Kauwsoe niat campur tahu urusan ini, dari itu kita telah dikirim untuk datangi kau orang. Tak usah kita orang banyak bicara, biarlah kepandaian kita yang nanti memberi putusan. Besok sore jam Hay-sie, kita menantikan di dalam rimba pohon lioe di depan rumahmu! Jangan kau orang ajakajak Sam-boen djin-ma, atau ancaman bencana akan jadi terlebih hebat. Kau orang pasti mengerti aturan kita kaum Kang-ouw. Juga Loo-kee Soe Houw tak dapat lupai budi pengajaran pada dua puluh tahun yang lampau, mereka pun datang untuk sekalian membalas budi ini! Nah, sampai besok malam, Hormat,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lo Toa Houw Ong Tjay Wat, dkk Mefeka ada kawanan tidak tahu mampus!kataLioeToanio kemudian dengan sengit Kiam Gim tidak ada di rumah tapi aku bersedia akan sambut mereka, aku akan bikin mereka tidak kecewa! Habis itu, Lioe Toanio lantas tuturkan permusuhannya sama Loo-kee Soe Houw, Empat Harimau Keluarga Lo, karena mana iapun jadi kenal Lioe Kiam Gim dan akhirnya jadi menikah. Itu adalah kejadian pada dua puluh tahun yang lampau. Ketika itu Lioe Toanio atau Nona Lauw In Giok, baharu berumur dua puluh dua tahun. Dia ada gadis tunggal yang disayangi dari Kauwsoe Lauw Tian Peng, Ketua dari Golongan Ahli Silat Ban Seng Boen. Dia telah dapat warisan ilmu silat keluarganya dan sering ikut ayahnya merantau. Begitu pada suatu hari, ia turut pergi ke Hauw-gie di Shaosay, akan sambangi suatu sahabat. Selagi lewat di Djie-tjoe, mereka saksikan sekawanan berandal lagi begal serombongan saudagar, mereka tolongi kawanan saudagar itu. Apa mau, rombongan berandal itu ada liehay, terutama lima antaranya. Mereka kena terkurung hingga sukar mereka loloskan diri, hanya dengan belakang madapi belakang, mereka bisa terns bikin perlawanan. Selagi mereka mandi keringat, datanglah bala-bantuan yang tidak disangkasangka. Satu penunggang kuda kabur mendatangi. Dia berusia kirakira tiga puluh tahun, dia menggendol satu pauwhok kecil serta pedang di pinggangnya. Ia tahu apa artinya pertempuran itu, ia kagum melihat In Giok punya permainan golok Ban Seng Boen, sedang dengan Koan Ie Tjeng, Ketua dari Ban Seng Boen di Poo-teng, Hoo-pak, ia kenal balik. Maka

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tidak tempo lagi ia loncat turun turun dan kudanya, hunus pedangnya ceburkan diri dalam pertempuran itu. Ia ambil pihaknya itu ayah dan anak. Lekas sekali jalannya pertempuran jadi berubah. Dengan orang asing ini menyerang dari luar perhatian berandal jadi terpecah, dan Lauw Tian Peng serta puterinya telah lantas dapat semangat baru, tenaga mereka tambah dengan seKejab. Mulai dari kaburnya kawanan liauwlo, juga lima pemimpin mereka segera turut angkat kaki. Untuk ini mereka berikan satu tanda rahasia, ialah suitan mulut. Nona Lauw ikuti ayahnya sejak umur enam belas, belum pernah ia tampak kekalahan, sekarang ia kena didesak, tidak heran ia ada sangat mendongkol dan gusar, maka satu kali terlepas dari kurungan, ia umbar nafsu amarahnya, Ia kejar lima musuhnya, ia candak satu, yang lari paling belakang, kapan ia telah loncat menyambar sama goloknya, musuh itu bingung dan menjerit, sebelah lengannya putus dan jatuh ke tanah! Lauw Tian Peng lihat puterinya kejar musuh, iahendakmencegah, apa mau ia sudah terlambat, musuh sudah kena dibacok, malah selagi tubuh or-ang sempoyongan hendak rubuh, In Giok pun telah membarengi dengan tendangannya pada dada orang itu, sedang sepatunya berujung besi! Tian Peng sambar anaknya untuk ditarik mundur, sehingga musuh dapat kesempatan akan panggul pergi Kawannya yang terluka, sedang salah satu musuh, sambil lari dengan mata melotot, berseru: Nona, kau kejam sekali! Selama masih hidup, Loo-kee Ngo Houw akan ingat baik-baik budi kebaikan ini!. Ah, Bocah!Tian Pengsesalkan anaknya dia bukannya gusar pada musuh. Kenapa kau kejar musuh dan kutungi juga sebelah tangannya? Kau tahu hebatnya kaum Kang-ouw dan bahwa musuh tak dapat ditanam bibit permusuhannya!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Memang, seumumya, Lauw Tian Peng, belum pernah sudi lukai orang secara hebat, maka itu ia tidak sangka, gadisnya justeru berbuat demikian. Tapi, karena hal sudah terjadi, jago ini tak sesalkan puterinya lebih lama, hanya segera ia hampirkan penolongnya, untuk haturkan terima kasihnya yang hangat. Nyata penolong itu murid kepala dari Thay Kek Teng ialah Lioe Kiam Gim, hingga tidaklah heran kalau ilmu goloknya liehay sekali. Karena perkenalan ini, Kiam Gim pun jadi tahu, bahwa Lauw Tian Peng ada terhitung angkatan terlebih tua, dan pernah pamannya, sebab dia adalah paman jauh dari Koan Ie Tjeng. Dan Ketua Ban Seng Boen ini juga kenal Thay Kek Teng, gurunya. Tatkala itu Lioe Kiam Gim baharu habis berpisahan dengan soeteenya Teng Kiam Beng, ia merantau untuk pesiar, siapa tahu, ia ketemu sama Lauw Tian Peng, ia telah bantui jago ini dan justeru Nona Lauw In Giok masih merdeka, Tian Peng lantas jodohkan puterinya pada pemuda ini, hingga selanjutnya, berdua mereka menjadi suami-isteri. Kemudian Kiam Gim dan In Giok dapat tahu, bahwa Lo-kee Ngo Houw, atau Lima Harimau dari Keluarga Lo, adalah persaudaraan berandal yang mengacau di Soe-tjoan Barat dan sekitarnya, belakangan mereka pindah ke Utara, pernah mereka satrukantentara negeri, mengganggu kaum saudagar pelancongan dan memeras rakyat, hingga mereka diterima menakluk oleh negeri, hanya entah kenapa, tahu-tahu mereka bersarang di gunung di Djie-tjoe ini menjadi berandal pula. Kemudian lagi, Kiam Gim dan isterinya tinggal menetap di Kho Kee Po. Ini adalah atas kehendak Lauw Tian Peng, supaya ayah ini atau mertua ini, kalau perlu, bisa lindungi keselamatan mereka dari gangguan musuh. Itu waktu Tian Peng telah dapat tahu, Lo-kee Ngo Houw sudah berubah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menjadi Lo-kee Soe Houw, karena Harimau Ketiga, Lo Sam Houw, korbannya In Giok, sudah binasa, jiwanya tak tertolong dari luka hilang sebelah lengannya dan dadanya tertendang sepatu besi. Katanya Empat Harimau itu kabur ke Djiat-hoo di mana mereka umpetkan diri, tetapi Tian Peng tak ketahui, bahwa mereka sebenarnya bemaung dalam Keraton Sin-tekkiong menjadi pahlawannya Kaisar Boan. Dua puluh satu tahun lamanya Lioe Kiam Gim tinggal di Kho Kee persaudaraan Lo juga berlatih terus, hingga sekarang Toa Houw jadi liehay begini. Baharu sekarang nyonya mi berpikir untuk tidak ngotot melayani terus, ia insyaf bahayanya akan bertempur lebih lama pula, di satu pihak jadi kuatirkan Bong Tiap dan rumahnya. di lain pihak, ia takut semua musuh nanti turun tangan Bagaimana la bisa melawan kalau mereka meluruk semua? Sekonyong-konyong Lioe Toanio dengar tindakan kaki yang berlari-lari, ke arah rumahnya. Rupanya musuh tukar siasal setelah dapat kenyataan, nyonya ini sudah bisa dibikin terpatek di situ ia menjadi gusar! Jadi nyata dugaannya, musuh mengarah dua tujuan kepada ia sendiri, kepada rumahnya Itulah berbahaya! Di sebelah kekuatirannya, bukan kepalang gusarnya Lioe Toanio, hingga dengan hebat ia menyerang. Ia pun segera mcnegur Oh. orang-orang tak punya muka, kau orang bikin rusak kaum Kang-ouw! Kau orang boleh satrukan aku, kenapa kau orang juga arah rumahku? Ha-ha-ha! Lo Toa Houw menyambutnya dengan berkakakan. Dugaanmu tepat! Inilah maksudku, uiilah tindakanku! Aku justeru hendak menghina anak daramu! Apa kau mau? Hutang darah dua puluh tahun rnesu dilunaskan berikut bunga! Toanio bisa tertawa nyaring, tetapi hatinya, melainkan dia yang tahu sendiri. Kalau ayam biang sangat sayangi anaknya, apa pula manusia, satu ibu?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Baik, aku akan adu jiwakul demikian teriakannya. Ia segera menyerang seperti kalap dengan goloknya, yang senantiasa kecampuran ilmu-ilmu tikaman Thay-kek-kiam. Ia keluarkan serangannya Pwee lak Tjap sie afau delapan kali delapan jadi cnam puluh empat bacokan dan tikaman, guna singkirkan kedua musuhnya. Lo Toa Houw tidak takut, ia mainkan tumbaknya dcngan sempuma akan menghalau sesuatu serangan, selama itu, saban-saban ia tertawa terbahak-bahak, sedang di sebelahnya, Ong Tjay Wat mendesak tidak kurang serunya. Orang Heng Ie Pay ini jadi| dapat angin karena berkawan dengan toako dari Keluarga Lo. Tumbaknya Lo Toa Houw jadi liehay sekali, saban-saban senjata itu mencoba akan keprak terlepas goloknya si nyonya atau ujungnya mencari jalan darah, untuk menotok. Apabila berhasil, dua-dua macam serangan akan bikin nyonya itu tidak berdaya. Bagus! Nyonya Lioe Kiam Gim berseru kapan ia saksikan cara menyerang orang itu. Ia tidak takut, ia mendesak terus. Dengan Peh tjoe tjoet tong atau Ular putih keluar dan guha, ia mencoba babat jeriji tanganorang yang mencekal pedang. Ayo! berseru Lo Toa Houw, yang terpaksa musti mundur seraya tarik pulang tumbaknya, tapi tidak urung ia kalah gesit, jeriji mania dari tangan kanannya telah kena terbabat Ikuturtg, hingga ia merasakan saktt dan kaget sampai ia bikin terlepas tumbaknya itu. Toanio lihat orang mundur, ia barengi berlompat tinggi akan lewati kepalanya Tjay Wat, untuk tarik pulang. Pegat dial Pegat dia! Toa Houw berseru dengan kaget kapan ia tampak musuh hendak kabur dengan tangan berketel-ketel darah, ia berjongkok akan jumput tumbaknya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ong Tjay Wat tidak sangka orang bisa loncati dia, dia jadi sangat mendongko!. Ia anggap sial-dangkalan diloncati orang perempuan ia percaya benar akan tahayul. Maka ia lantas berlompat akan susul nyonya itu. Dalam boegee, ia kalah daripada Lo Toa Houw, tetapi dalam keng-kong-soet, ilmu entengi tubuh, ia menang jauh. Kegesitannya sudah ternyata selama ia kelit tiga batang Kim-tjhie-piauw dari Lioe Bong Tiap. Ada sulit untuk Lioe Toanio menyingkir pulang. Benar iaberhasil loncati Ong Tjay Wat, akan tetapi, baharu kakinya injak tanah, dua musuh pegat ia dengan babatan golok mereka masing-masing, hingga ia rnesu* layani mereka ini. Ia baharu lewat tiga jurus, Tjay Wat sudah sampai di belakangnya, akan terjang pula padanya. Maka di lain saat, ia sudah terkurung pula. Dua pemegat dari Lioe Toanio ada berumur masing-masing dua puluh dan tiga puluh tahun. Mereka mi adalah yang pernah tempur Ham Eng dan Bong Tiap di tengah muara Boegee mereka tidak rendah, tapi menghadapi istermya Lioe Kiam Gim, mereka mesti main mundur apabila mereka tidak mau jadi korban golok, Hanya, si nyonya lagi lagi kena dirongrong oleh Ong Tjay Wat yang licik. Dua-dua Toa Houw dan Ngo Houw sudah bebat luka-luka mereka, mereka ini merangsek pula. Sekarang Toa Houw majui tangan kirinya di muka. Oleh karena mereka sudah terluka, sekalipun berkelahi, mereka tidak garang lagi seperti semuia. Maka itu, dikepung berempat, Toanio tidak terdesak sebagai tadi. Hanya untuk loloskan diri, inilah sulit. Cuma dengan pelahan-lahan, dapat ia mendekati bahagian luar dari rimba itu. Dua orang yang memegat sedikit ketinggalan di belakang, yang mudaan lantas keluarkan Thie-lian-tjte, untuk bokong si nyonya, tapi ia tidak sepandai Bong Tiap dengan piauwnya, duri besinya itu tidak mendatangkan hasil.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sekarang Lo Toa Houw pun kena ditinggal si nyonya, hingga tinggal Ong Tjay Wat yang larinya pesat, yang bisa menyusul, malah ujung pedangnya sudah ancam bebokongnya musuh. Ia bisa berbuat begini karena larinya yang pesat, hingga ia dapat candak musuhnya. Lioe Toanio dengar angin menyambar di belakangnya. Ia menduga pada serangan musuh. Dengan tiha-tiba ia loncat nyamping kakinya menahan. lalu sambil putar sedikit tubuh, ia menikam balik, ke arah tenggorokan. Ini ada suatu gerakan yang liehay. yang meminta kegesitan. Oag Tjay Wat lihat serang an musuh, ia hendak menangkis, hanya sayang. daiam hal mainkan senjata ia kalah eesit, ia tidak segesit ilmunya entengi tubuh atau lari pesat. Ia terkesiap hatinya. Rata! Maju! Maju! demikian tiba-tiba Lo Toa Houw berseru-seru seraya tumbaknya dipakai menangkis goloknya si nyonya. Ia telah memburu dan mencandak lawan. Lauw In Giok tidak tabu musuh hendak berbuat apa, karena itu, untuk sedetik, ia berlaku aval, dengan begitu, Tjay Wat jadi terluput dari bahaya. seiagi dia ini keluarkan keringat dingin saking kaget, Toa Houw telah berdiri di dampingnya. Cepat sekali, Lioe Toanio sudah lari sampai di iuar rimba. Ia masih menduga-duga apa maksudnyajeritan musuh barusan. Selekasnyaberada di luar, dari mana ia bisa memandang ke rumahnya, ia kaget bukan main. Di sana asap menggulung naik, api telah berkobar, meskipun belum besar. Ia insyaf apa artinya itu, maka itu, matanya menjadi merah. Ingin ia bisa terbang, akan segera sampai di rumahnya, akan basmi musuh, guna lampiaskan kesengitannya. Tahan! Kau hendak lari kemana? sekonyong-konyong suara membentak di depannya Lioe Toanio, seiagi ia berlari pulang. Suara itu ada suara dalam, dari seorang yang Toa

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Houw, dari belakang, teriaki: Djieko, awas! Pegat itu perempuan busuk! Toanio gusar, tan pa buka suara lagi. ia maju membabat tangan musuh. Ia gunai Hong hong tian tjie atau Burung hong pentang sayap. Musuh di depan itu, yang membentak, tidak gentar dengan itu babatan, hanya ketika golok mendatangi, tiba-tiba ia gcscr tubuhnya seraya tangannya bergcrak, tahu-tahu pedangnya dari atas membacok ke bawah, untuk menabas kutung lengannya si nyonya gagah. Lioe Toanio tidak sangka musuh ada demikian liehay, ia lekas tarik pulang goloknya, tidak urung kedua senjata telah beradu keras, sampai si nyonya limbung! Baiknya ia cerdik, segera ia terusi, akan lompat jauh, sampai setumbak lebih. Adalah di sini, scmbari putar tubuh dan goloknya di depan dada, ia lantas mengawasi musuh itu. Eh, Djieko, kenapa tidak segera turun tangan? menegur Lo Toa Houw, yang sudah lantas sampai di dekat orang yang mencoba rintangi Lioe Toanio itu. Itu waktu Lauw In Giok sudah bisa lihat tegas orang ini. yang bersenjatakan sebatang pedang panjang la tadinya menyangka pada Lo Djie Houw, sebab orang toh dibahasakan djieko, tidak tahunya, orang ini ada seorang tua yang tubuhnya jangkung dan kurus sedang sepasang matanya ada bersorot tajam, dengan mata itu ia diawasi. Ia lantas mengerti, ia bukan lagi hadapi orang sebangsa Persaudaraan Lo itu. Orang tua itu hunjuk sikap jumawa, waktu Lo Toa Houw dekati dia, dia suruh jago she Lo itu mundur, begitupun semua kawannya dia ini. Melawan mi perempuan busuk, kenapa mesa pakai banyak orang? demikian suaranya, yang katak. Mundur! Mundur Mukanya Lo Toa Houw menjadi merah, satu tanda ia ada mendongkol, tetapi scpcrti orang di bawah pengaruh, ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

terpaksa mundur, bersama orang-orangnya, ia berdin diam saja, mengawasi ke depan. Orang tua ini adalah orang yang sarankan akan pancing keluar pada Lioe Toanio sambil berbarengdi lain pihak satroni orang punya rumah. Kalau Lo Toa Houw ada jadi pahlawan keraton peristirahatan kaisar di Sin-tek, Sin-tek Lie-kiohg, dia adalah pahlawan istimewa dari Keraton Kerajaan Tjeng. Sekarang tak dapat Lioe Toanio menahan sabar, sebagai jago betina dari Ban Seng Boen, ia merasa terhina oleh sikap musuh tidak dikenal itu. dari itu, tanpa ayal lagi, malah dengan tidak mengucap suatu apa, ia segera maju menyerang dengan golok Toan-boen-toonya. Musuh itu benar-benar liehay. Dengan tenang, tetapi dengan sungguh-sungguh, ia menangkis serangan. Pedangnya, dengan berat tetapi sebat, mengelakkan sesuatu bacokan atau babatan. Dengan caranya ini, ia bikin golok lawannya jadi tidak berdaya. Lioe Toanio menjadi sibuk kapan ia dapat kenyataan musuh tak dapat didesak. jangan kata dikalahkan. terutama karena dia sudah mulai lelah. Justcru itu, musuh pun menukar siasat. Berbareng dengan satu seruan. orang tua itu mulai dengan rangsekannya, pedangnya mainkan ilmu Tat Mo Kiam-hoat dari Siong Yang Pay. Serangannya itu adalah yang dibilang hebat bagaikan turunnya hujan besar. Dan sesuatu tusukan senantiasa mengarah bahagian anggota-anggota yang berbahaya! Sebenamya, kepandaian antara dua musuh ini tidak beda seberapa, hanya yang hebat bagi Lauw In Giok adalah dia sudah letih; sesudah gagal dengan desakannya, ia sekarang dibikin repot dengan rangsekan musuh. Sudah terang, musuh ini menggunai siasat yang bermula ia kasih dirinya didesak dan baharu sekarang ia lakukan serangan membalas

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dalam ancaman lawan itu, Lioe Toanio berlaku nekat. Selagi terdesak, dengan tiba-tiba ia gunai serangan Koay niauw hoa in atau Burung ajaib membalik mega. Ia putar goloknya dan membabat. Sang lawan lagi mainkan tipu tikaman Loo souw hie kirn atau Orang tua mcncntcng kirn kctika si Nyonya Lioe menyerang secara dcmikian mendadak dan hebat, ia tetap tenang, dengan sabar ia mundur, pcdangnya yang panjang dipakai merapati golok musuh, scsudah mana, dengan tipu. silat Soen soei twie tjouw atau Menolak pcrahu dengan ikuti aliran air, pcdangnya itu ia serodoti maju, untuk ujungnya yang tajam menikam tenggorokan lawan! Lioe Toanio insyaf pada bahaya, hatinya terkesiap, cepat sekali, ia mencelat mundur dua tindak, bcrbareng dengan mana, tangannya yang mencekal golok, terayun, hingga segeraiah nienyusui mclesatnya golok itu. Sebab ia telab berlaku nekat, ia menyambit musuh dengan golok! Musuh tua itu kelihatan terkejut, matanya bersinar, akan tetapi dia pun bisa lompat mundur dengan tidak kurang gesitnya, hingga akhirnya, golok cuma lewat di atas pundaknya, hingga ia luput dari bahaya. Tapi ia mendongkol karena serangan yang hebat itu, ia segera balas menyerang dengen beberapa biji senjata rahasianya Tok-tjie-leeyang beracun. Ketika tadi ia habis menyerang, Lauw In Giok telah tcrusi loncat pu la, dari itu, ia jadi telah pisahkan diri enam-tujuh tumbak dari musuh itu, maka sekarang, melihat datangnya serangan gelap, ia dapat ketika untuk egos tubuh, ke kiri dan kanan, akan elakkan sesuatu senjata rahasia itu; walaupun ia sudah lelah, ia masih dapat hindarkan diri dari bahaya maut. Lo Toa Houw sementara itu jadi berada dekat dengan nyonya ini, sadari tadi ia memang nonton saja, maka sekarang, melihat ada ketikanya, dengan sekonyong-konyong ia loncat pada nyonya itu sambil teruskan menyerang dengan tumbaknya, hanya sekarang ia pakai tipu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pukulan toya Houw-bwee-koen atau Ekor Harimau. Tipu pukulan ini, kecuali menikam, pun bisa mengetok jalan dengan t iam-h iat, totokan jalan darah. Bukan kepalang kagetnya Lioe Toanio, ia tak dapat berkelit lagi, maka untuk tolong diri, ia pertahankan ambekannya, ia menahan napas. Ia tidak kena tertikam tetapi ia telah terbentur, dengan sendirinya, ia lantas merasai tubuhnya jadi sedikit gemetaran dan beku. Puas sekali hatinya Lo Toa Houw dengan hasilnya itu, dari itu ia segera maju pula, untuk ulangi serangannya selagi si nyonya sudah tidak berdaya j itu. Satu kali saja ia dapat menikam, akan habislah lelakon hidupnya jago perempuan itu. . Dalam saat berbahaya bagi Lauw In Giok itu, tiba-tiba satu bayangan loncat melesat dari samping. Rupanya bayangan itu datang dari tegalan, tetapi tanpa ketahuan. Bayangan itu melesat bagaikan burung, enteng dan cepat sekali, tahu-tahu ia sudah sampai pada si orang she Lo, selagi ia lewati si nyonya, tangannya menyambar kepala orang. Lo Toa Houw tertegun, ia gelagapan, tanpa merasa lagi, ia rubuh terguling! Oh, Anak, kiranya kau! demikian teriakannya Lioe Toanio, yang heran berbareng girang ketika ia telah lihat rupanya bayangan itu, yang menjadi tuan penolongnya. Ia menjadi berdiri tercengang, hingga ia lupa bahwa ia seharusnya lekas pulang, untuk tengok rumahnya. Tidaklah aneh jikalau Nyonya Lioe Kiam Gim menjadi bagaikan dipagut ular itu. Orang yang tolong dia adalah orang yang dia tidak pernah sangka-sangka. sebab ia ini adalah or-ang yang sudah meninggalkan rumahnya hampir sepuluh tahun lamanya, yang kabarnya sudah pergi ke Liau w-tong dan kemudian tidak ada kabar ceritanya lagi ialah murid kepala dari Lioe Kiam Gim murid yang diterima di Poo-teng pada lebih daripada dua puluh tahun yang lalu. Yaitu Law Boe Wie!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan terbitkan satu suara nyaring, Law Boe Wie hunus pedang panjangnya, yang bersinar laksana perak, lalu dengan pedangnya itu, ia menuding pada musuhnya. Soenio, beberapa ekor anak kelinci ini serahkanlah kepada muridmu! Silakan Soenio pulang lebih dahulu! katanya pada isteri gurunya yang berbareng pun menjadi gurunya. Kemudian ia sontek tumbaknya Lo Toa Houw dengan kakinya, hingga tumbak itu mencelat pada sang soenio, siapa sambut itu dengan gapah. Hingga sekarang nyonya ini jadi dapatkan ganti dari golokknya, yang tadi ia pakai menyambit musuhnya, si orang tua yang iiehay. Baharu sekarang Lioe Toanio dapat pulang ketabahannya, sedang tubuhnya pun sudah tidak sesemutan lagi. Muridku, kau hati-hati! ia segera pesan. Jangan kuatir, Soenio, sahut sang murid sambil tertawa. Nyonya guru itu lantas putar tubuhnya, untuk pergi. Sementara itu, kedatangannya or-ang Ssing ini telah membuat musuh jadi tercengang, tetapi selagi sang murid dan soenionya bicara, Lo Ngo Houw sudah berlompat kepada kandanya Toa Houw, apabila ia sudah tengok kanda itu, ia kaget hingga ia keluarkan jeritan. Toa Houw rebah sebagai mayat, batok kepalanya pecah remuk, darahnya melulahan! Sakit rasa hatinya Ngo Houw, tapi ia segera geraki goloknya, ia niat rintangi Lioe Toanio, akan tetapi Law Boe Wie mendahului menangkis goloknya, hingga mau atau tidak, ia mesti layani ini bayangan yang tangguh. Di antara saudara-saudaranya, Ngo Houw ada yang terlemah, sudah begitu, ia pun sedang terluka, dari itu, sebelum si orang tua sempat datang padanya, baharu dua gebrak, pedangnya Boe Wie sudah sampok tcrpcntal goloknya dan kakinya bayangan ini sudah menyapu patah berisnya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

hingga ia rubuh sambil keluarkan jeritan hebat dan mcngenkan, sekctika juga, ia pingsan! Lioe Toanio masih sempat saksikan itu pertempuran yang hebat tetapi sekejaban saja, bukan main kagum dan girangnya akan muridnya itu, maka dengan bawa tumbaknya, ia tcrus berlalu dengan had lcga sekal i. Hanya ia mesti pulang dengan bcrlari-lari lekas, karena ia lihat, asap sudah mulai mengepul tebal dan api lagi mulai bcrkobar. Sampai di situ, majulah si orang tua, malah dengan satu tikamannya. Law Boe Wie tangkis itu serangan, dengan keras sekali, hingga kedua senjata beradu dengan hebat, hingga menerbitkan suara nyaring sekali, lelatu api sampai muncrat meletik. Berhubung dengan itu, si orang tua mundur duatindak, ia rasai telapakan tangannyasakit. Di lain pihak, lawan yang baharu itu berdiri tegak dihadapannya. Tapi ia tidak jadi jerih, ia malah lantas menuding. Mendengar suaramu, berkata ia, kau adalah muridnya Lioe Kiam Gim. Sekalipun soeniomu bukan tandinganku, maka perlu apa kau banyak tingkah di sini? Baik kau angkat kaki siang-siang! Kita datang untuk menuntut balas, kau tidak punya urusan di sini! Pergi ambil jalanmu yang lurus, kita tidak akan ganggu kau! Boe Wie tidak gubris kata-katanya orang itu, ia mengawasi dengan tajam. Eh, kau kiranya pandai menimpuk dengan Tok-tjie-lee! katanya, dengan mcngejek. Kau bisa mainkan Tat Mo Kiamhoat! Malah kau pun pandai menggunai beberapa jurus ilmu pedang Heng Ie Pay asal curian! Hm! Kau sangka aku .tidak kenal kau? Jangan harap aku nanti angkat kaki siang-siang! Malah kau, apabila kau hendak berlalu, aku tidak akan izinkan! Melihat romannya atau usia, dan duduknya hal, pula melihat gerak-gerakan tangan orang itu, muridnya Lioe Kauwsoe ini segera menduga pada orang yang dulu gurunya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

cari tetapi tak dapat diketemukan. Maka itu, cara bagaimana ia hendak gampang-gampang kasih lolos orang ini? Orang tua itu tidak hendak banyafc omong pula, ia lompat maju dengan serangannya. Ia pun telah menduga-duga, siapa orang ini, karena Lo Soe Houw pemah omong tentang seorang dengan roman sebagai dia ini, yang merintangi pihak mereka selama pertempuran di muka muara. Ia insyaf bahwa orang ini pandai silat dan berenang, buktinya ia saksikan barusan saja nasibnya Toa Houw dan Ngo Houw. Ia heran, bagaimana Lioe Kiam Gim mcmpunyai murid liehay begini. Ia belum pernah menempur Kiam Gim sendiri, hanya pernah layani Teng Kiam Beng, soetee dari Kiam Gim, dan sekarang, ia dapati bayangan ini tak di bawahnyaTeng Kiam Beng itu. Tapi Boe Kek Kiam-hoatnya belum pernah ketemu tandingannya, ia hendak coba ilmu pedangnya itu akan layani si kepala bagaikan kepala macan tutul ini. Pertarungan sudah lantas ambil tempat. Orang tua itu mengerti musuh ada liehay dan tenaganya bcsar, ia segera hunjuk kepesatan tubuhnya dan kegesitan main pedangnya. Ia lompat ke kiri dan ke kanan, ia menikam atau menyabet, gerakannya bagaikan kilat berkelebat Sama sekali ia tidak kasih ketika akan pedangnya kebentrok pedang musuh itu. Pertempuran telah berjalan sekian lama, tidak perduli si orang tua hunjuk kdiehayannya, ia sama sekali tak dapat desak Law Boe Wie, siapa telah perlihatkan kepandaian seperti mengikuti kebisaan orang. Boe Wie gunai beberapa macam ilmu pukulan yang luarbiasa, yang berbedaan sadari lain, tetapi dasarnya tetap ada Thay-kek-koen (yang pun disebut Bian-koen lemas tetapi ulet dan keras). Berselang lagi sekian lama. walaupun ia belum terdesak, si orang tua sudah mulai bernapas sengal-sengal, keringatnya sudah mulai mengalir, jtdatnya basah paling dulu. Ia mengerti bahwa ia terancam bahaya. maka itu, lekas ia ben tanda kepada Ong Tjay Wat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

supaya kawan itu membantunya. Sekarang ia tidak lagi jumawa, dan ia pun lepaskan janjinya tadi bahwa orang mesti bertempur satu sama satu, tidak boleh main keroyok. Ong Tjay Wat telah rasai desakan goloknya Lioe Toanio, nyalinya telah menjadi ciut, sampai itu waktu, ia masih belum cukup beristirahat, sekarang ia saksikan liehaynya orang tidak dikenal itu, ia jerih bukan main, tetapi si orang tua sudah berikan tanda, dengan terpaksa ia maju juga, hanya ia berkelahi dengan lebih banyak membela diri. Ia sudah pikir, begitu lekas orang tua itu keok. ia akan mendahului angkat langkah panjang! Demikianlah pikirannya Ong Tjay Wat Apalagi kedua kawannya, malah mereka ini sengaja berpurapura tidak lihat tandanya si orang tua, mereka berdiri diam saja di kejauhan. Mereka pun pikir, asal si orang tua kalah. mereka akan kabur. Melainkan yang satu menyiapkan beberapa potong senjata rahasia Thie-Kan-tjie, untuk dipakai membarengi menyerang andai kata orang tua itu peroleh kemenangan! Law Boe Wie tidak gentar melihat Ong Tjay Wat datang mengepungnya, sebaliknya, ia geraki pedangnya dengan terlebih sebat dan keras. Di sebelah itu, tangannya yang kirijeriji tengah dan jeriji manisnya, senantiasa turut main juea. akan cari jalan darah untuk ditotok. Dua jarinya ini malah terlebih liehay daripada pedangnya yang tajam itu. Sebentar saja Boe Wie telah mengcrti bahwa Tjay Wat jerih dan licik, oleh karena itu, ia lebih banyak pusatkan pcrhatiannya kepada si or-ang tua. Kembali iewat beberapa jurus, sampai di sini, si orang tua mesti ambil putusan bukan untuk rubuhkan musuh atau nekat. hanya guna ulur kedua kaki panjangnya. Ia insyaf, berkclahi lebih jauh tidak menguntungkan, babkan bakal mencelakai dirinya. Ia anggap, angkat kaki paling selamat. Law Boe Wie lihat orang hendak tinggalkan, ia tidak mau mengerti, selagi orang putar tubuh untuk menyingkir, ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

barengi menyerang, kakinya berlompat, pedangnya menikam. Itu adalah gerakan Liong tjoa tjie tjauw atau Naga dan ular lari berbareng. Ujung pedang sudah lantas menghampirkan batok kepala musuh. Si orang tua lihat ancaman bahaya itu, dengan sangat terpaksa putar tubuh, ia menangkis, maka tak dapat dicegah pula yang kedua senjata jadi bcradu, hingga terdcngar suara yang nyaring. Begitu lekas kedua senjata kebentur satu dengan lain, Law Boe Wie segera putar ugel-ugclan tangannya sambil menarik ke samping, menyusul mana pedang panjang dari lawan jadi terlepas dari cekalan dan terpental. Tapi ia tidak berhenti sampai di situ. Ia pun merangsek, dua jari tangan kirinya disodorkan bagaikan kilat berkelebat. Si orang tua terkejut karena pedangnya terlepas dan terlempar, selagi ia belum sadar apa yang bakal tcrjadi terlebih jauh, dua jari musuh sudah mengenai samping iganya, tak sampai ia menjcrit, tubuhnya lantas sempoyongan. Boe Wie masih belum mau berhenti, ia maju pula, akan susul tubuh musuh itu, yang ia segera jambak dengan tangan kirinya scsudah mana, ia angkat tubuh orang itu! Orang tua jangkung kurus itu tetap tidak bcrsuara, iapun tidak berdaya, karena ia sudah kena ditotok jalan darahnyaHoen-hian-hiat, hingga ia jadi minp dengan satu mayat, apabila ia tak segera ditolong, dalam tempo enam jam baharu ia bisa sadar sendiri. Di pihak orang tua ini, dua kawannya yang memasang mata, sudah lantas ambil langkah seribu, begitu lekas mereka lihat jagonya itu memutar tubuh, sedang Ong Tjay Wat, yang semangatnya seperti terbang karena menyaksikan cabang atasnya itu mati kutunya, pun angkat kaki tanpa ayal-ayalan lagi.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Law Boe Wie lihat orang lad, ia tidak hendak mengejar, karena ia tahu, dengan itu jalan ia bakal sia-siakan tempo. Ia percaya, Tjay Wat itu bisa lari keras, sukar untuk ia dapat mcncandak dalam sedetik. Maka ia rogoh sakunya dan keluarkan dua potong pisau belati kecil tidak ada lima dim panjangnya yang ia lekas pakai menimpuk, kemudian samar-samar ia dengar jeritannya musuh itu, siapa rupanya terluka tidak hebat, sebab dia masih bisa lari terus ke dalam tempat lebat. Sampai di sini, medan pertempuran itu jadi sunyi-senyap, langit pun guram, sedang angin adalah angin dingin yang halus sambarannya. Law Boe Wie bersenyum puas, akan tetapi ia tidak dapat berdiam lama di situ. Ia lihat cahaya api di arah rumah gurunya, itu ada tanda bahaya untuknya. Ia pun mendugaduga, soebonya sudah berhasil atau belum dalam menolong rumahnya itu. Maka ia perlu membantu terlebih jauh. Tapi ia masih cekali si orang tua. Bisakah ia berlari-lari dengan bawabawa musuh itu? Ia bersangsi sesaat, lantas ia turunkan tubuhnya musuh itu, dikasih berdiri, lalu tangan kanannya merogoh ke dalam sakunya si orang tua. Ia ambil entah barang apa, yang ia sesapkan ke dalam sakunya sendiri. Sesudah ini segera ia lari ke arah rumah gurunya. Benarlah dugaannya, sang soebo, bersama soemoaynya, masih belum lolos dari mara bahaya. Sementara itu, siapakah si orang yang liehay itu? Dia adalah pemegang peranan pada kejadian dua puluh tahun yang lampau, ketika Teng Kiam Beng kena dipancing datang ke gedung Soh Sian Ie. Si pemancing menyamar sebagai dua tjay-hoa-tjat, penjahat cabul, yang memakai topeng, hingga orang she Teng itu kena terjebak, hingga karenanya, Kiam Beng jadi bentrok sama Tjiong Hay Peng, sampai ia pun berpisah dari soehengnya. Seperti sudah dijelaskan di sebelah atas, dia ada pahlawan dari Raja Boan. Dia adalah Bong Eng

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tjin, sedang kawannya yang bersenjatakan Poan-koan-pit, ada Ouw It Gok. Kebisaannya beberapa jurus ilmu pedang Heng Ie Pay ada hasil curiam, dia sendiri sebenarnya ada murid yang murtad dari Thio Tjeng Kie, tjiang-boen-djin atau ahli waris turunan ketiga dari Siong Yang Pay. Barang-barang upeti yang dilindungi Teng Kiam Beng bukannya dibegal oleh kawanan Bong Eng Tjin, melainkan pcrbuatannya orang tain, tetapi kawanan ini punya rencana lain. Tugas mereka adalah mencegah Lioe Kiam Gim datang ke Utara, untuk bantu saudaranya, agar jago she Lioe ini tidak mcrusak maksud mereka memecah-belah kaum Rimba Persilatan. Demikian mereka Sudan datang mengacau, atau mengganggu, Keluarga Lioe, dcngan caranya yang licik tapi hebat: Jikalau di dalam rimba yanghoe sudah terjadi suatu pertarungan yang dahsyat, di rumah Keluarga Lioe sendiri sudah lerjadi pertempuran yang tidak kurang hebatnya, dan kalau pertarungan di dalam rimba selcsai dengan cepat, adalah di rumah itu masih bcrlaku sampai sekian lama lagi. Bong Eng Tjin sudah atur rencana penycrangannya secara begini: la pecah rombongannya menjadi dua. Lebih dahulu daripada itu, ia kirim surat undangan akan menantang berkelahi satu dengan satu, secara or-ang-orang terhormat. Rombongan yang pertama adalah yang melakukan pertandmgan di rimba yanglioe, yang kedua adalah yang satroni rumahnya Lioe Kiam Gim. Kecuali Lioe Toanio, ia pandang tak mata juga murid-muridnya, dari itu ia sendiri pimpin Qng Tjay Wat. Lo Toa Houw dan Lo Ngo Houw serta dua kawan lagi, dan Lo Djie Houw serta Lo Soe Houw pimpin beberapa kawan pula. Tapi rencananya ini justeru menolong Yo Tjin Kong. Malam itu, seperti diketahui, yang berdiam di rumah Lioe Kiam Gim ada sang puteri sendiri, Bong Tiap, bersama sang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

keponakan, Lauw Hie Hong,dan kedua murid, YoTjin Kong danTjoh Ham Eng. Ketikaitu,mereka mempunyai masingmasing pikirannya sendiri. Hie Hong diminta bantuannya oleh bibinya, ia tahu, ia mesti tanggung jawab atas keselamatan keluarga bibinya itu. Bagaimana bila ia gagal? YoTjin Kong sibuk sendirinya, iapun berkuatir. Toa-soeheng mereka tidak ada, maka itu, iapun bertanggung jawab. Biar Hie Hong ada sanak dekat, ia sendiri ada wakil murid kepala, ia tidak dapat bebaskan diri. Hie Hong pun bukannya murid Kaum Thay Kek. Bong Tiap sebaliknya ada bergembira, ia bersemangat, ia hanya merasa tegang sendiri kapan ia ingat, bahwa ini ada pertempurannya yang pertama kali. Ham Eng juga bersemangat, hanya di sebelah itu, ia pikiri sang soemoay, ia kuatir soemoay ini nanti terluka atau kena diculik. Cuma satu perasaan ada pada empat anak muda ini, ialah mereka mesti siap akan nantikan serangan badai dan hujan lebat, karena mana, mereka lalu berdamai akan atur penjagaan, di atas genteng dan di dalam rumah. Untuk menjaga genteng, Tjin Kong dan Hie Hong saling berebut, tapi akhirnya, si orang she Yo yang naik ke atas, karena ia kemukakan alasan: Urusan Kaum Thay Kek mesti muridmurid Thay Kek Pay sendiri yang menanggung jawabnya, dari itu, Saudara Lauw, kau baik menjaga di dalam rumah saja. Hie Hong akhirnya mengalah, tetapi ia tidak puas, dalam hatinya, ia kata: Oh, kau bicara tentang kaum! Apakah kau sangka aku Kaum Ban Seng Boen tidak sanggup menempuh badai dan gelombang? Seberangkatnya Lioe Toanio, empat anak muda itu lantas mulai dengan penjagaan mereka. Mereka pasang mata dan kuping, sedikit saja suara berkelisik menyebabkan mereka

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bersiap. Mereka mesti menanti lama juga, akhir-akhirnya musuh telah datang! Mereka itu muncul hampir bareng temponya dengan dikepungnya Lioe Toanio di dalam rimba. Yang muncul paling pertama ada Lo Soe Houw, Harimau Keempat dari Persaudaraan Lo. Ia datang dari bclakang, terus saja ia loncat naik ke atas genteng, ketika Yo Tjin Kong ketahui datangnya, ia sudah beradadi belakangnya pemuda ini. Musuh datang! Tjin Kong segera beri tanda, dengan suitan dan teriakannya, setelah mana, ia tidak sempat buka mulutnya lebih jauh. Soe Houw sudah lantas menerjang dengan sepasang tempulingnya, Ngo-bie Hoen-tjoei-tjie. Menurut rencana, Tjin Kong mesti lekas turun, akan bersatu dengan . soemoaynya sekalian, tetapi sekarang, ia tidak bisa jalankan rencana itu. Di luar sangkaan, lagi beberapa orang, turut loncat naik; sedang Soe Houw merintanginya, dari itu, ia mesti lawan musuh itu, terutama Soe Houw sendiri, yang mendahului serang ia. Senjata Soe Houw, yang sesuatunya bercagak figa, mirip dengan sha-tjee, semua ujungnya sangat tajam. Biasanya senjata Ini dipakai di dalam air, tetapi si Harimau Keempat bisa pakai itu di dalam air dan di darat. Sulit untuk Tjin Kong lawan musuh she Lo itu, tidak perduli ia sudah wariskan enam sampai tujuh bagian kepandaian gurunya, karena di sebelah kurang pengalaman pertempuran, ia juga tidak kenai gegaman musuh itu. Dari itu, setelah beberapa gebrakan, ia melainkan bisa gunai kepandaiannya mainkan pedang untuk lebih banyak bela diri. Sedangkan Tjin Kong sibuk, satu bayangan lain mencelat naik, tapi bayangan ini segera perdengarkan suaranya: Saudara Yo, jangan takut! Siauwtee nanti bantu kau! Itulah Lauw Hie Hong dengan goloknya Toan-boen-too.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sembari berkelahi, Tjin Kong kerutkan alis. Tak puas ia atas datangnya sahabat ini. Ia duga Hie Hong datang tentu disebabkan orang she Lauw ini sangka ia jerih karena tadi ia berteriak dengan pertandaannya. Tapi datangnya sahabat ini, ia duga, Hie Hong datang tentu disebabkan itu dugaan, ia hanya ingin menunjukkan ilmu silatnya Kaum Ban Seng Boen. la tidak senang tadi Tjin Kong menyebut-nyebut golongan, sedang ia sendiri anggap, Thay Kek Pay dan Ban Seng Boen ada seperti segolongan saja Atas datangnya bala bantuan itu, Tjin Kongtidak bilangsuatuapa, Hie Hong sendiri, sebaliknya tidak dapat membantuorangshe Yo itu, karenaia segeradiserbu oleh duakawannya Soe Houw, kawan siapa ada lima, sedang yang tiga lagi, terus loncat turun ke bawah genteng. Dari tiga musuh yang loncat turun ini, yang satu ada muridnya Bong Eng Tjin, yang dua ada murid-muridnya Lo Toa Houw, kepandaian mereka tidak lemah. Ketika mereka sampai di bawah, mereka lantas diserang oleh Lioe Bong Tiap dan Tjoh Ham Eng, yang sudah siap sedia di saat mendengar pertandaan dari Yo Tjin Kong. Tandingan dari Bong Tiap ada seorang dengan tubuh besar dan tinggi melebihi si nona. Sesudah bebcrapa jurus, nona ini jadi gembira. Nyata ia tak kena didesak musuh yang dari tubuhnya bukan tandingannya. Maka itu, ia lantas saja pikir untuk lekas rubuhkan musuhnya itu. la segera mendesak. Ilmu silat pedang dari Thay Kek Pay berpokok dengan ketenangan, atau lebih tegas: Musuh diam, kita diam; musuh bergerak, kita mendahuluinya. Kalau orang hendak mendahului bergerak, ia sudah mesti pandai betul. Tidak demikian dengan Nona Lioe ini. la belum mengatasi kesempurnaan, sekarang ia bergerak terlebih dahulu, maka ia dengan sendirmya hunjuk kelemahan terhadap musuh. Dengan Kie hoh liauw thian, atau Mengangkat api untuk menyuluhi langit, Bong Tiap hendak tikam tenggorokan orang. Justeru itu waktu, sang lawan lagi siapkan Teng yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tjiam, atau Jarum pedoman. Dari Tat Mo ICiam-hoat dari Siong Yang Pay, maka ia telah bersiap untuk menyambut tikaman. Ketika ujung pedang mendatangi, ia mundur satu tindak, kaki kirinya dikesampingkan, berbareng dengan itu, tangan kanannya ialah pedangnya -menyambar ke kuping kanan orang itu. Tidak ada ketika atau jalan lagi, untuk Bong Tiap menangk i s, terpaksa ia mundur dengan gugup. Selagi ia mundur, kaki kiri musuh sudah icrangkat, ujung kakinya segera mengenai dengkulnya, atas mana, tidak ampun lagi, nona itu kena terdupak terpental sampai lima-enam tindak dan rubuh dengan terbanting keras, sambil menerbitkan suara juga. Lawan itu tidak berhenti sampai di situ saja, menampak musuh rubuh, ia lompat maju, untuk susuli penyerangannya terlebih jauh, tetapi belum sampai ia menyerang, beberapa Kim-tjhie-piauw, dengan berkeredepan, telah menyambarnya. Sebab Nona Lioe itu, walaupun dia sudah jatuh, masih dapat kesempatan menimpuk dengan senjata rahasianya itu, yang ia siapkan dengan cepat. Sambil keluarkan seruan kaget, musuh itu loncat mundur pula. Serangan piauw dari jarak dekat, kepandaiannya Bong Tiap sudah boleh juga, akan tetapi musuh ini bukan orang sembarangan. Dengan Tjay hong sie ek, atau Burung hong mementang sayap, ia menangkis ke kiri dan kanan, ia sampok jatuh dua batang piauw, hanya apa celaka, senjata rahasia itu datang di tiga jurusan, selagi ia berlompat, piauw yang ketigajusteru mengenai pahanya, hingga ia perdengarkan seruannya babna kaget dan sakit, karena ia terluka, tetapi karena ia ada tangguh, ia mclainkan sempoyongan saja, tidak sampai ia rubuh. Selama itu, Tjoh Ham Eng sibuk bukan main,selagi ia mesti lay an i dua musuh, ia kuatirkan soemoaynya, ketika melihat Bong Tiap rubuh, ia kaget sampai berseru, berbareng dengan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mana, ia berlompat mundur, niatnya untuk tolongi adik seperguruannya. Tapi kedua lawannya mencegahnya, keduanya menghalangi, menyerang dengan berbareng: yang satu dengan ruyung lemasnya, Djoan-pian, yang lain dengan toya besinya, mereka datang dari kiri dan kanan. Ham Eng mesti bela diri, ia menangkis dengan cepat tetapi, hampirhampir pedangnya kena dilibat dan disampok terlepas oleh ruyung musuh. Dalam saat berbahaya itu dari Bong Tiap dan Ham Eng, dari atas genteng ada berlompat turun beberapa bayangan, yang saling menyusul, semuanya memburuh ke dalam rumah. Yang pertama ada Hie Hong, yang kedua, Tjin Kong, dan yang ketiga, Lo Soe Houw. Di belakangnya hari mau ini ada konco-konconya. Di atas genteng barusan, kedua musuh yang rintangi Hie Hong bukannya orang-orang liehay, mereka ada sebawahan Soe Houw, dari itu,| orang she Lauw itu bisa desak mereka, sesudah mana, Hie Hong loncat pada Tjin Kong, untuk serang musuhnya dia ini. Atas ini, Soe Houw lompat mundur, hingga karenanya Tjin Kong jadi terlepas dari kepungan. Saudara Lauw, turun, turun! Tjin Kong lalu serukan kawannya. Paling perlu adalah melindungi soemoay! Kenapa kau tinggalkan dia? Ah, kau tidak kenal budi! pikir Hie Hong, yang tidak puas akan sikap orang itu. Akan tetapi Tjin Kong omong dari hal yang benar. Dua kawannya di bawah adalah orang-or-ang dengan usia terlalu muda, sedang Bong Tiap ada adik misannya piauw-moay kalau adik itu bercelaka, bagaimana nanti iabertemu sama bibinya? Maka itu, dengan tidak bilang suatu apa, ia pergi loncat turun. Begitu lekas sudah datang defeat. Hie Hong gunai goloknya akan serang musuh yang bersenjatakan Djoan-pian. Musuh itu benar-benar liehay. ketika golok Toan-boen-too menyambar,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ia tidak kelit, hanya ia rintangi itu dengan ruyungnya yang lemas, ia melibat. la bersenjatakan panjang, musuh pendek, ia menangdi atas angin. Dengan sebat, ia menarik, ia hendak bikin goloknya Hie Hong terbetot tcrlepas, orangnya nibuh. Lauw Hie Hong ada keluaran Ban Seng Bocn, ia punyakan pelajaran Iwee-kang dan gwakang dengan berbareng. terutama gwakang, hingga tenaganya besar sekali, maka itu, kuda-kudanya tangguh. Ia telah lihat sikapnya musuh, ia lalu gunai akal. Demikian, ia sengaja antap goloknya kena dilibat, selagi ia berdiri tcgar. ia tunggu musuh betot ia, ketika ia tampak tangan dan kaki musuh bcrgerak, ia lalu mcndahului membctot dengan keras. Musuh tidak sangka gerakan macam ini dari lawannya, kuda-kudanya digempur, ia kena tertarik hingga ia sempoyongan dan ngusruk ke depan lawan, dari itu Hie Hong bisa gunai ketikanya akan hajar pundak orang dengan belakang golok. Aduh!* musuh itu menjerit, ruyungnya teriepas, tubuhnya rubuh, ia pingsan. Adalah di waktu itu, Tjin Kong dan See Houw serta dua kawannya dia ini, loncat turun, akan menyusul. Maka bersama-sama Tjin Kong, Hie Hong persatukandiri dengan Ham Eng dan Bong Tiap. Mereka mundur ke tembok, untuk pertahankan diri di situ. Ini ada rencana mereka apabila mereka terdesak. Lawannya Bong Tiap, yang terluka piauw, telah maju pula, akan tetapi Tjin Kong desak ia, selagi ia repot kclabakan, Ham Eng dupak ia rubuh sampai bergelindingan beberapa tindak. Tjin Kong ada berempat, senjata mereka ada tiga pedang panjang dan sebuah golok. Di sebelah itu, asal ada ketika Bong Tiap pun gunai senjata rahasianya. Penyerang ada berjumlah lebih besar, akan tetapi mereka tidak sanggup berbuat banyak, terutama sebab rumahnya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sempit, hingga mereka tak dapat bcrgerak dengan leluasa. Akan tetapi mereka ini bukannya bangsa tolol, dari itu, mereka lantas mencari akal. Begitulah satu musuh lari, ke belakang, di sana mereka nyalakan api, untuk membakar rumah, hingga di lain saat, api mulai berkobar, asap lantas mengebul. Dengan ini jalan, mereka pun hendak paksa penghuni rumah noblos keluar, supaya mereka bisa kepung dia orang itu. Ini daya keji telah memberi hasil. Tatkala asap menghembus ke dalam, orang mulai batukbatuk, air mata meleleh keluar, sukar untuk membuka mata dengan merdeka. Oh, kawanan terkutuk! Yo Tjin Kong mendamprat saking mendongkolnya. Janji adalah satu pertempuran secara lakilaki, kenapa sekarang kau orang berkawan dan turunkan ini tangan jahat? Manusia-manusia tak punya muka! Lo Soe Houw sambut dampratan itu dengan tertawaaya bergelak-geiak. Bocah, api belum berkobar besar, kenapa kau sudah panas terlebih dahulu? ia mcmbaliki. Kau sabar saja, tunggu lagi sebentar, nanti ada yang layani kau satu sama satu! Kita tidak kuatir kau nanti bisa kabur! Itulah tak akan terjadi! demikian dengan sekonyongkonyong terdengar suara jawaban suaranya seorang perempuan tetapi cukup angker. Di sini masih ada aku! Aku tidak akan membiarkan kau orang kecele, sahabat-sahabat baik! Lo Soe Houw kaget, apapula kapan ia lihat berkelebatnya satu bayangan, hingga dengan lekas-lekas ia berkelit, kemudian ia putar tubuhnya, untuk awasi bayangan itu, roman siapa menyebabkan ia bergidik! Dia? Kenapa dia bisa ada di sini? Bukankah dia sedang dirongrong di dalam rimba yanglioe? Mustahil, di bawah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kepungan, dia masih bisa loloskan diri? Kenapa tidak ada yang kejardiaini? Demikian kata-kata dalam hati Harimau Keempat itu, yang kenali Lioe Toanio si bayangan dengan seruannya yang angker. Sedang yang menambah kagetnya adalah gegaman di tangan Nyonya Lioe itu -bukannya Toan-boen-too hanya sebatang tumbak, malah pun tumbaknya Lo Toa Houw, kandanya! Tapi ia menjadi sangat gusar. Perempuan busuk! ia segera mencaci.Kenapa kau bisa pulang dengan masih hidup? Mana toakoku? Lauw In Giok tidak jadi gusar karena cacian itu, sebaHknya, ia tertawa. Kau punya toako? ia kata. Toakomu ada di sana! Dia telah bingkiskan aku tumbak ini disertai satu batok kepala manusia! Soe Houw kaget berbareng sangsi. akan tetapi keadaan sudah sampai di puncaknya kehebatan, maka itu, ia kertak gigi, ia lantas menyerang dengan tcmpulingnya. Ia ada sangat sengit. Kau bisa kabur pulang ke rumahmu tetapi kau tak nanti dapat lolos dari rumahmu ini! ia berseru membarengi tikamannya. Lo Soe Houw kehendaki jiwa or-ang, tetapi di luar dugaanya, Nyonya Lioe ini bisa gunai tumbaknya bagaikan ular naga keluar dari laut, atau ular raksasa melilit cabang pohon, hingga ia jadi sangat terkejut Sungguh dia liehay sekali! katanya dalam hati. Karena ini, segera ia perdengarkan suitannya, atas mana Lo Djie Houw loncat turun dari atas genteng, buat serbu si nyonya rumah. Dia ini menggunai golok yang berat Lioe Toanio sebal melayani semua musuh itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Anak-anak, maju! ia berteriak dengan tiba-tiba, ia sendiri mendahuiui mendesak. Ham Eng dan Bong Tiap sambut itu anjuran, mereka merangsek, di samping mereka, Tjin Kong dan Hie Hong turut membukajalan. Ketika rombongan ini sampai di thia depan, yang lebih lega, mereka kembali kena dikurung musuh, yang telah candak mereka. Soe Houw dan Djie Houw kerubuti Lioe Toanio, orangorang merangsek Tjin Kong berempat, sckarang ini keadaan mereka hampir berimbang. Pcgangannya Lioe Toanio ada golok Kaum Ban Seng Boen, tetapi ia pun bisa gunai segala macam alat lainnya, sedang pengalamannya, pendcngarannya, ada luas, dari itu, ia bisa gunai tumbaknya Lo Toa Houw, malah ia keluarkan ilmu tumbak Kim-tjhio Djie-sie-sie yang punyakan dua puluh empat tipu serangan. Ia menangkis, ia pun bias balas menyerang, hanya ia tidak bias gunai itu seperti Toa Houw, yang dengan itu berbareng bisa menotok jalan darah. Di sebelah itu, ia sudah letih, bekas layani Bong Eng Tjin beramai, bekas ia berlari-lari jauh. Benar ia tidak mampu rubuhkan dua lawannya ini, tetapi kedua lawannyapun kewalahan untuk bikin ia tidak berdaya. Selama pertempuran itu, api berkobar bertambah besar. sudah mulai berkobar ke sebelah dalam, hingga rumahnya Lioe Kiam Gim sudah seperti terkurung saja oleh si ayam jago merah, bcberapa kali terdengar suara nyaring dari bambu yang terbakar meledak, hingga suaranya saru dengan suara beradunya berbagai senjata tajam. Apabila pertarungan berjalan terus lagi sekian lama, bisabisa mereka jadi korbannya api, sebab pihak penghuni tak dapat nerobos keluar, pihak lawan coba terus mempertahankan, mencegah.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dalam saat yang sangat berbahaya itu, sekonyong-konyong ada datang satu orang baru, yang muncul di antara asap menebul, tangan kirinya mengangkat satu tubuh manusia, tangan kanannya mencekal sebatang pedang panjang, malah pedang ini segera dipakai menerjang Lo Soe Houw. Harimau Keempat elakkan diri dengan lompat mundur, matanya dipentang guna lihat si penyerang, sesudah mana, ia menjadi kaget bukan kepalang. Oleh sebab pcnyerang itu adalah bekas musuh tangguhnya di muka muara, yang kepalanya mirip dengan kepala macan tutul, sedang tubuh di tangan kirinya ia kenali ada pemimpinnya si jago tua kurus dan jangkung Bong Eng Tjin! Maka seteiah keluarkan satu teriakan, ia putar tubuhnya, ia loncat keluar, untuk sipat kuping. Bukankah ia ada pecundangnya si kepala macan tutul itu dan ia telah dikejar di air jauhnya belasan lie dan melulu karena kelicinannya, ia bisa loloskan diri? Sekarang mana ia berani lawan pula musuh itu? Lo Djie Houw adalah lain, apapula ia tampak, orang ada gunai hanya sebelah tangan. Ia maju menyerang, ia harap bisa tolong pemimpinnya itu. Siapa tahu, baharu satu kali saja ia ditangkis, ia sudah terkejut, tangannya terpental dan sesemutan. Selagi ia kaget, orang telah teruskan serang ia, dengan tusukan Lie Kong sia tjio atau Lie Kong memanah batu, mengarah tenggorokannya. Ia tidak bisa menangkis, maka itu, sambil berseru, ia loncat mundur. Tapi ia mundur ke dekat Lioe Toanio, yang lagi merangsek, nyonya ini segera tusuk ia dengan Pek tjoa touw sin atau Ular putih muntahkan bisa. Rubuh kau! berseru si nyonya. Benar-benar Harimau Kedua ini rubuh, karena tanpa berdaya, dadanya sudah jadi tameng tumbaknya Lo Toa Houw, tumbaknya sang kanda, maka dengan mandi darah, ia rubuh dengan tidak bisa berkutik lagi.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sampai di situ, pertempuran jadi berubah lain. Semua musuh jadi kaget dan keder, dengan ketakutan, mereka berlomba singkirkan diri, tapi dalam kekalutan itu Hie Hong dan Tjin Kong berhasilmerubuhkan lagi seorang satu. Coba tidak Lioe Toanio mencegah, musuh hendak dikejar terus. Oleh karena api telah menghebat, semua orang kumpul di pekarangan depan, yang merupakan sebuah tegalan. Di waktu sang fajar mendekati, mereka awasi saja apt lagi makan habis seluruh rumah. Di sini Yo Tjin Kong baharu lihat tegas tuan penolongnya, hingga ia tercengang. Kiranya kau, Soeheng! ia berseru. Bong Tiap sebaliknya berseru: Ibu, inilah hoohan yang kemarin ini bantu kita di muara!. Tapi sang ibu tarik tangan puterinya itu. Kau tidak kenali Toa-soehengmu ini? ibu itu kata. Di waktu masih kecil, ia suka empo-empo kau! Nona itu melengak. Tidak heran kalau ia tidak ingat soeheng ini, sebab di waktu Law Boe Wie meninggalkan Keluarga Lioe, ia baharu berumur lima atau enam tahun. Sedang Ham Eng, dia datang selang beberapa tahun sesudah berlalunya soeheng ini. Boe Wie sudah lantas hunjuk hormatnya pada soebonya, dan Tjin Kong semua sebaliknya mengasih hormat pada soeheng ini. Lioe Toanio akhirnya tertawa besar. Dengan dapati murid semacam kau, biarpun rumahku hangus ludas, aku puas! katanya. Anak,kali ini kita bergantung kepada kau! Boe Wie hendak jawab guru perempuannya itu, ketika mendadakan ia lihat sang soebo rubuh sendirinya, hingga ia kaget bukan main, begitupun Bong Tiap dan yang lain-lain.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ternyata Nyonya Lioe Kiam Gim sudah jadi korbannya pertarungan ini. Ia telah berkelahi melewati batas, sudah begitu, ia pemah ditotok oleh Toa Houw, hingga ia peroleh lukadi dalarn, benar lukanya tidak hebat, tapi tadi ia berlari-lari jauh, sesampainya di rumah, ia pun dikepung Djie Houw dan Soe Houw, melulu dengan kuatkan hati, ia masih sanggup pertahankan diri. Di sebelah itu, ia ada gusar dan sangat mendongkol, sedang akhirnya, ia gi rang luar biasa, lantaran ia tcrtawa besar, seluruh anggotanya bergerak, begitupun asabatnya, maka dengan sekonyong-konyong ia mata gelap dan rubuh. Bong Tiap tubruk ibunya, ia memanggi 1-manggil, tempo ia dapati ibu itu diam saja dan kedua matanya rapat, ia mcnangis menggerung-gerung. Boe Wie bercmpat merubungi soebo itu, semua sangat berkuatir, tapi kemudian, kapan sang toa-soeheng sudah awasi air mukanya Nyonya Lioe, ia kata: Jangan kuatir! Soenio tidak kenapa-apa, ia melainkan terlalu lelah. Kalau sudah dapat beristirahat, Soenio akan dapat pulang kesehatannya. Tapi toa-soeheng ini masih belum tahu, soebo itu telah dapat luka di dalam badan. Laludiambil putusan akan tolong Lioe Toanio dengan bawa ia ke rumahnya Louw Hie Hong di kampung tetangga, seperjalanan perahu kira-kira setengah jam, Tjin Kong akan ditinggalkan untuk ia urus rumah yang terbakar itu. Selama itu sudah banyak penduduk kampung yang keluar, mcreka bantu padamkan api. Mereka tahu ada pcrtempuran, saking takut, mereka umpetkan diri, sesudah dengar suaranya Tjin Kong, yang kasih mereka bangun, semua lantas bangun dan keluar. Lioe Toanio lantas dipondong, dibawa ke perahu. Ia masih belum sadar, maka Boe Wie suruh Bong Tiap coba uruti dia,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

walaupun dcmikian, ia tetap diam saja, cumakarena ia masih bcrnapas dan nadinya jalan baik, hati mereka tidak terlalu berkuatir lagi. Nyonya itu lantas diantap, untuk dapat mengaso. Perahu adakecil, di situ bcrkumpul Hie Hong, Bong Tiap dan Ham Eng, tubuh Lioe Toanio pun direbahkan, sudah begitu, Boe Wie ada bawa-bawa korbannya si tua, yang jangkung kurus. Soeheng, buat apa bawa-bawa dia, bukankah berabe? tanya Bong Tiap. Bukankah lebih baik dupak saja dia ke dalam sungai? Boe Wie awasi itu soemoay. Itulah tidak dapat dilakukan, ia jawab.Dia ini ada punya kepentingan besar dengan Loo-soehoe. Justeru karena dia, aku telah datang kemari. Semua orang heran, semua awasi soeheng ini. Boe Wie bisa mengerti keheranan sekalian saudara seperguruan itu, memang ia datang secara sangat tiba-tiba, begitupun halnya ia bantu Ham Eng dan Bong Tiap dalam pertempuran di muara. Halnya Bong Eng Tjin ini pun pasti ada sangat menarik perhatiannya sekalian saudara angkat itu. Ia harus menerangkannya semua itu. Akan tetapi, lebih penting adalah tentang Boe Wie sendiri, yang pergi seperti menghilang, maka sebelum menutur terlebihjauh, baik kita ikuti dia dahulu. Sudah diketahui, Law Boe Wie ada anaknya seorang tani di luar Kota Poo-teng, yang ditolong Lioe Kiam Gim semasa ia berumur enam-tujuh tahun, bagaimana ia sudah dipelihara dan dididik dalam ilmusilat. Ia terlatih sempurna sesudah Lioe Loo-kauwsoe undurkan diri dan tinggal menyendiri di Kim-keetjoen di Kho Kee Po.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ketika ia masuk umur dua puluh tahun, ia sudah belajar tiga atau empat belas tahun lamanya, hingga delapan atau sembilan bagian kepandaian gurunya, ia sudah wariskan, sedang dari Lauw In Giok, sang soebo, ia peroleh kepandaian dari Ban Seng Boen. Dalam usia semuda itu, ia sudah punya kepandaian dari dua cabang ilmu silat yang kesohor, maka orang gagah sebagai ia jarang ada. Walaupun ia sudah undurkan diri, semangatnya Lioe Kiam Gim belum padam, melulu disebabkan sikap dari soeteenya Teng Kiam Beng, ia jadi sungkan muncul pula, maka ia bersyukur, yang ia dapatkan murid sebagai Boe Wie, siapabisadiperintah merantau untuk wakilkan ia, untuk si murid sendiri cari pengaiaman dan persahabatan. Demikian ketika mu-rid ini sudah berumur dua puluh lima tahun, ia pilih suatu han baik, untuk murid itu meninggalkan rumah perguruan. Itu hari ra pesan murid ini supanya menjunjung cita-cita Thay-kek Teng, buat perhatikan pesanannya, terutama supaya sang murid jangan sekali-sekali bekerja pada bangsa Boan. Hanya kalau ada ketikanya, tidak ada halangannya untuk kau pergi ke Poo-teng dan sambangi soesiokmu Teng Kiam Beng, demikian pesannya terakhir. Begitulah Boe Wie merantau. Seiama sepuluh tahun, iaturut pesan gurunya, tapi pun ada kalanya, ia jalan sendiri. Yang terang adalah ia benci bangsa Boan atau pemerintahnya, karena mana, ia pun tak sudi sambangi soesioknya Teng Kiam Beng. Salah satu sebab dari ini adalah kebentjiannya kepada Soh Sian le, si hartawan Boan yang kejam, justeru dari, orang Boan ini ada sahabat kekal dari sang soesiok. Merantau belum lama, Boe Wie telah tertarik oleh salah satu sahabatnya, hingga ia masuk menjadi anggota dari Pie Sioe Hwee perkumpulan rahasia Pisau Belati. yang utamakan pembunuhan kepada pembesar-pembesar rakus dan jahat.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Di zaman pergerakan mulai Thay PengThian Kok, Pie Sioe Hwee turut ambil bagian sebagai anak cabang, setelah gerakan Thay Peng itu gagal, Pie Sioe Hwee turut umpetkan diri, anggotanya semuajadi orang gelap, selanjutnya mereka bekerja secara diam-diam. Sebagai anggota Pie Sioe Hwee, beberapa kali pernah Boe Wie lakukan penyerangan gelap pada pernbesar-pembcsar kejam yang dimusuhi, hanya saban-saban ia nampak kegagalan; satu kali ia dapat binasakan satu tiehoe, tapi berbareng dengan itu, ia meninggalkan korban dua kawannya, sedang di lain harinya, menyusul lain-lain korban lagi, sebab di hari kedua itu, pembcsar negeri melakukan pembersihan, seratus lebih rakyat tak bersalah-dosa, kena ditawan. Kemudian di han ketiga, datang tiehoe yang baru, dia ini ternyata ada lebih kejam pula, karena orang-orang baharu tersangkasaja, dia telah jatuhkan hukuman mati. Korbankorban rakyat itu membuat Boe Wie menangis di dalam hati. Sesudah ini, Boe Wie juga lantas dicari oleh pembesar negeri. Di antara kaki-tangan pembesar negeri ada or-angorang yang pandai, yang kesudian jadi pengkhianat bangsa Han, dari itu, ia jadi nampak kesulitan. Sekarang ia tidak lagi merantau, ia hanya mengungsi, ia jadi pelarian. la mesti pergi ke sana dan sini. Oleh karena Derduka, tubuhnya jadi kurus. Paling belakang, ia menyingkir jauh ke Djiat-hoo di BaratSelatan. Pada suatu malam, ia menumpang di rumah satu penduduk di kakinya Bukit Yan San. Tuan rumah ada satu anggota Pie Sioe Hwee yang tidak pernah muncul, karena tugasnya adalah menyembunyikan kawan-kawan dalam pengungsian. Berada seorang diri, dengan kupingnya dengar suara berbagai binatang alas di atas gunung, dengan sang angin menghembus-hembus, Boe Wie pikirkan penghidupan tak ketentuan itu, hingga ia tidak tahu, bagaimana nanti hari depannya. Ia pun pikirkan tujuannya Pie Sioe Hwee. Apa tidak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ada Iain jalan dari pad a selalu mesti lakukan pembunuhan gelap? Tidakkah pembunuhan gelap bukan suatu daya sempurna? Maka iajadi bersangsi. Tiba-tiba ia mendengar ketokan pada jendela. Bercekat hatinya pelarian ini, hingga segera ia pikir, untuk meloncat keluar. Tapi justeru itu, ia dengar suara rendah tapi angker, suaranya seorang tua: Bunga merah dan daun hijau adalah satu keluarga. Mendengar ini, Boe Wie tercengang. Tapi ia segera tanya: Kapankah, berbuahnya? Kapankah mekarnya? Suara yang dalam itu menjawab: Berbuah pada Pee-gwee Tjap-gouw, mekar pada Tjhia-gwee Tjap-gouw* Bunga merah dan daun hijau saling bercahaya seperti orang bersemangat dan orang berhati mulia adalah sekeluarga. Mendengar itu, Boe Wie bertepuk tangan satu kali, ia tertawa satu kali juga, atas mana, terlihatkan seorang tua, dengan kumis ubanan, mencelat masuk ke dalam rumah. Sebab kata-kata mereka adalah kata-kata rahasia dari Pie Sioe Hwee. Dengan tajam Boe Wie awasi or-ang tua itu, yang bajunya wama biru ada gerombongan, sedang itu waktu, di pcrmulaan musim dingin, bulan sepuluh, angin Utara ada dingin sekali. Dari kumisnya yang putih, ia menduga pada usia atas enam puluh tahun. Ia pikir, bagaimana orang ini punyakan tubuh kuat. Maka ia percaya, dia ini mesti ada mcmpunyai kepandaian tinggi, hanya ia tidak ingat Pie Sioe Hwee mempunyai anggota . tertua seperti orang ini. Orang tua itu juga mengawasi Boe Wie akanakhirnya ia bersenyum. Apakah kau dari Golongan Hok? ia tanya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Benar, sahut Boe Wie, yang terus turunkan kedua tangannya, sebagai tanda hormat. Bagaimana Tjianpwee ketahui itu? Orang tua itu tertawa. llKau tidak kenal aku, aku sebaliknya kenal kau! ia jawab. Kau toh ketahui, bukan, di antara tiga pendirinya Pie Sioe Hwee ada satu yang dipanggil In Tiong Kie? Hatinya Boe Wie jadi bercekat. Jadinya Tjianpwee adalah Loo-tjianpwee In Tiong Kie? ia tegaskan. Memangdalam kalangan Pie Sioe Hwee ada pemecahan golongan atau tingkatan untuk anggota-anggotanya, terbagi delapan, dengan kata-kata Kim auw hok kouw, Han tjok tiong kong, artinya: Tanah daerah kembali kuat, kebangsaan Han bercahaya pula. Dan In Tiong Kie -yang berarti Keanehan dalam Awan masuk dalam Golongan Kim. Dan dahulu pemah bunuh satu pwee-lek, pangeran bangsa Boan, dalam satu malam, melawan empat pahlawan istana, ia sudah binasakan tiga antaranya, karena hendak ditangkap, ia buron cntah kemana, hingga orang sangka ia sudah meninggal dunia, siapa tahu, malam ini ia muncul di Djiat-hoo lagi. Tidak berayal lagi, Boe Wie hunjuk hormat pula, setelah mana ia tanyakan maksud kedatangan tjianpwee ini orang yang terlebih tinggi tingkatannya hingga ia ketahui, orang benar datang untuk ia sendiri. Ketika dahulu aku pun mesti menyingkirkan diri seperti kau sekarang ini, aku ketemu satu sahabat asal Kwan-gwa, In Tiong Kie terangkan. Sahabat ini telah ajak aku menyingkir lebih jauhke Liauw-tong. Sahabatku itu juga ada seorang luar biasa. Ia tidak setujui tujuannya Pie Sioe Hwee, yang main lakukan pembunuhan gelap. Sesudah satu hari dan satu malam kita berunding, akhimya aku dapat dibikin insyafdan, aku lepaskan cita-citaku, karena mana, aku terns tidak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kembali pada Pie Sioe Hwee. Sahabatku itu tidak berhati dingin, dia hanya lagi tunggu ketika, akan bergerak pula. Paling belakang ini, aku dengar Pie Sioe Hwee ada punya satu anggota angkatan muda, yang ada gagah dan berani, yang katanya ada ahli waris dari Thay Kek Pay, siapa berulangulang sudah terjang bahaya. Aku sayangi pemuda itu, aku kuatir dia menjadi korban, justru aku pikir untuk cari dia, datang kabar bahwa ia lagi diuber-uber pembesar negeri, maka itu, aku lantas berangkat untuk cari dia. Mendengar ini, Boe Wie awasi dengan tajam pada orang tua itu, matanya bercahaya. Apakah Loo-tjianpwee suka ulangi padaku kat-katanya itu orang luar biasa yang menjadi sahabat Loo-tjianpwee? tanyaia. Tanpa pembunuhan gelap habis kita ada mempunyai daya apa lagi? In Tiong Kie tertawa berkakakan. Aku sudah duga, pasti kau bakal menanya begini, Lauwtee! berkata ia Boe Wie pasang kupingnya, matanya terns mengawasi. Ketika aku bertemu orang luar biasa itu, itu adalah di Gunung Siauw Hin An Nia, si orang tua lantas bercerita. Aku sudah ditunjuki suatu pemandangan yang luar biasa sekali, yang sangat menarik hati. Itu adalah pertempurannya semut yang kecil dengan serigala yang besar. Boe Wie heran hingga ia pentang matanya dan memotong: Bagaimana semut bisa berkelahi melawan serigala? ia tanya. Tapi itulah benar terjadi, jawab In Tiong Kie sambil tertawa. Aku pun tak percaya itu apabila aku tak menyaksikannya sendiri. Kejadian pun ada sangat kebetulan. Beberapa ekor serigala mendekam beristirahat di bawah sebuah pohon, rupanya mereka terpisah dari kawan dan sedang lelah, di situ memang ada banyak semut hitam. Sekcjab saja, beberapa ekor serigala itu telah dikerumuni rombongan semut itu, mereka mengamuk hebat, tetapi semut datang semakin banyak, sampai tubuh mereka seperti tidak kelihatan, apa yang tertampak ada gumpalan hitam .saja.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Serigala-serigala itu bergulingan, tetapi ini tidak menolong. Lewat sekian waktu, tubuh mereka berdiam, akan kemudian, tinggallah mereka punya tulang-tulang yang putih. Boe Wie. ulur lidahya. Begitu liehay semut itu. kalau tidak, kita pun bisa jadi korbannya kawanan semut itu. Aku tercengang dan kagum atas apa yang aku saksikan itu. Setelah itu, sahabaku itu bilang padaku: Semut ada satu binatang kecil sekali, dengan dipencet dua jari, dia akan sudah terbmasa remuk-hancur, akan tetapi, apabila dia dapat kawan dan berombongan besar, mereka jadi sangat liehay. Inilah buktinya! Kalau rombongan semut ada demikian liehay, apapula manusia? Orang tua ini berhenti sebentar, ia pandang pemuda di depannya. Sampai di situ, Lauwtee, kemudian ia menyambung lagi. Sahabatku si orang luar biasa itu hunjuk, manusia, apabila ia cuma terdiri dari beberapa orang, tidak perduli mereka gagah dan pandai bagaimana, sukar untuk mereka robohkan satu kerajaan yang sudah dalam dan kuat dasarnya. Pembunuhan gelap? Cuma satu pembcsar yang binasa, lalu datang lagi; beberapa pembesar, demikian seterusnya, .tidak terhitung jumlahnya. Kau sendiri umpamanya, berapa pembesar kau pernah binasakan? Sahabatku itu lalu menunjuk pada hikayat, pada pergerakannya Lie Giam di akhir Kerajaan Beng, pada pergerakan Kaum Thay Peng kita. Benar pemerintah tak dapat digempur tetapi toh sudah tergoncang juga. Tidak demikian kalau kita bekerja dengan seorang atau dua orang dengan rombongan yang sangat kecil. Boe Wie memandang dengan berdiam, terang otaknya sedang bekerja. Jadinya Loo-tjianpwee inginkan aku juga meninggalkan Pie Sioe Hwee? akhimya ia kata In Tiong Kie urut-urut kumisnya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang putih. Ya, Lauwtee, demikianlah ada maksudku ia jawab. Agaknya ia merasa pasti bahwa setelah dengar perkataannya itu, si anak muda akan dengar nasihatnya itu. Akan tetapi, di luar dugaannya, Law Boe Wie berpikir Iain. Setelah hidup terkatung-katung, pemuda ini jadi waspada, ia bercuriga terhadap siapa juga. Bukankah In Tiong Kie walaupun dia ada salah satu pendin Pie Sioe Hwee sudah lama keluar dari perkumpulan itu? Dan siapa tahu, apa gawenya sekarang ini bekas jago tua? Kalau In Tiong Kie insyaf tujuan Pie Sioe Hwee keliru, kenapadiadiam saja, kenapa dia tidak kemukakan itu kepada perkumpulannya? Dan kenapa In Tiong Kie justeru bemaung di Djiat-hoo, tanah airnya bangsa Boan? Maka, apa tidak bisa jadi, sekarang In Tiong Kie sudah berserikat sama bangsa Boan itu? Apakah bukan ia sedang hendak diperdayakan? Dugaan Boe Wie terhadap In Tiong Kie adalah meleset. Benar jago tua itu sedang undurkan diri tetapi dia memang ada berpemandangan lebih luas daripada orang-orang Pie Sioe Hwee. Dia memang bermaksud baik dengan nasihatnya ini terhadap ini anak muda. Adalah si anak muda sendiri, yang pikirannya lain. Sesudah mengawasi dengan dingin, Boe Wie kata: Terima kasih banyak, Loo-tjianpwee, ke Kwan-gwa tak nanti aku pergi! In Tiong Kie tercengang, sikapnya jadi tawar. Lalu, iapun menghela napas dengan tiba-tiba. Jikalau begini putusanmu, Lauwtee, baiklah, aku hendak pergi saja! berkata iakemudian. Umpama kata di lain waktu kau sudah sadar, kau boleh cari aku di Oey-See-Wie di Samseng, Ielan. Andaikata di sana kau tak dapat cari aku, kau bilang saja bahwa kau hendak cari Pek-djiauw Sin Eng Tokkoh Loo-enghiong, pasti kau akan menemui dia itu. Asa] kau

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ketemu loo-enghiong itu, kau bilang bahwa kau hendak can aku, itu sudah cukup! Nah, Lauwtee, kau pikirlah pula baikbaik. aku hendak pergi sekarangi Pengutaraan selamat tinggal itu ditutup dengan satu loncatan tenang tetapi gesit sekali, hingga selanj utn ya cuma suara angin yang terdengar pula, begitu pun suaranya binatang-binatang alas di atas gunung. Boe Wie berdiri bagaikan patung, matanya mengawasi keluar, kemudian ia pergi ke pekarangan depan, akan awasi sang salju sampai sekian lama. Besok paginya, ini anak muda rubuh karena serangan demam yang hebat, rupanya tadi malam ia kemasukan angin jahat dan jadi jatuh sakit. Syukur buat dia, tuan rumahnya yang bemama The Sam, serta isterinya, ada baik hati dan suka rawat ia dengan sungguh-sungguh, maka selang dua hari, panasnya lenyap separuhnya, hanya karena itu, tubuhnyajadi lemah. Selama dua hari itu Law Boe Wie senantiasa pikirkan katakatanya In Tiong Kie si orang tua itu, ia pun kuatirkan munculnya orang-orang polisi. Benar ia tidak takut yang ia nanti kena dibekuk, tetapi ia kuatir tuan rumahnya nanti terembet-rembet. Maka ia telah ambil putusan, asal sudah segar lagi sedikit, ia hendak angkat kaki. Di lain malamnya, Boe Wie rasai panasnya jadi lebih banyak kurang, dari itu ia mulai pikir akan berangkat besok saja. Apa mau, malam itu ada membawa lelakon. Habis makan obat, ia rebahkan din, ia ingin tidur agar dapat beristirahat, siapa tahu, karena senantiasa ingat besok ia hendak merantau pula, ia sukar pulas. Sampai tengah malam, sesudah lelah, baharulah ia Iayap-layap. Matanya meram melek, tidak demikian dengan kupingnya yang jeli.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiba-tiba ia dengar suara berkeresek, suara itu pelahan akan tetapi segera ia dapat kenali, itu bukan suaranya daun rontok, hanya tindakan kaki satu ya-heng-djin, ialah orang biasa berjalan di waktu malam, kepandaian siapa belum sempurna betul, baharu jadi tujuh atau delapan bagian. Di saat murid Thay Kek Pay ini hendak berbangkit, sekonyong-konyong ada menyambar angin dari jendela, dari mana pun berkelebatsatu cahaya putih bagaikan rantai perak, menuju pada pembaringannya, pada tubuhnya sendiri. Ia kaget tetapi ia tabah, ia tidak lupai kcpandaiannya, maka ia ulur tangannya, akan tanggapi benda putih itu ketika si benda lewati sedikit padanya. Nyata itu ada sebuah piauw. Begitu lekas senjata rahasia itu sudah tergenggam dalam tangan kanannya, dengan gerakan Lee hie ta teng atau Ikan trambra meletik, ia berloncat turun dari pembaringannya, tangannya dibarengi diayun ke arah jendela. Sahabat, ini aku kembalikan bingkisanmu! katanya. Di luar segera terdengar suara nyaring, tanda bahwa timpukan itu tidak mengenai sasarannya dan jatuh ke tanah, hanya setelah itu, di luar jendela lantas berpeta dua bayangan orang serta terdengar suara tertawanya nyaring, disusul sama ucapan: Ha, benar-benar dia ada di sini! Menyusul kata-kata itu, dua bayangan tersebut lompat masuk ke dalam! Law Boe Wie segera menduga pada orang polisi, bahna kaget, ia sampai keluarkan keringat dingin. Ia segera teringat pada tuan rumahnya, yang ia kuatir nanti dapat susah karena urusannya sendiri. Tapi bahaya sudah datang, ia tidak boleh berayal, ia tidak bisa banyak pikir lagi maka ita, segera ia hunus pedangnya yang selamanya belum pernah terpisah jauh dari tubuhnya. Dengan si-apkan senjatanya, ia awasi dengan tajam pada dua bayangan itu. Dua orang itu berpotongan sedang, roman mukanya rada minp satu dengan lain, boleh

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

jadi mereka engko dan adik. Mereka masing-masing bersenjatakan Thie-tjio dan scbatang golok Tan-too, ialah dua macam gegaman yang biasa dipakai oleh orang-orang polisi. Sahabat, kau telah kepergok, demikian salah seorang berkata. Dia berusia pertengahan.Baik kau berlaku gagah sebagai orang Kang-ouw sejati, kau turut aku pergi ke kantor pembesar ncgeri, supaya kau tidak membikin sukar pula pada kita duasaudara. Boe Wie memandang dengan mata melotot. Tahu pastilah ia sekarang bahwa ia lagi berhadapan sama orang-orang polisi. Maka ia jadi mendongkol: Ngaco! ia membentak. Kau orang bangsa elang dan anjingnya pembesar negeri mau bicara tentang kehormatan orang Kang-ouw? Hm! Di sini toaya ada, jikalau kau ada mempunyai kepandaian, kau orang boleh bawa pergi! Sembari mengucap demikian, Boe Wie maju dengan matanya mengawasi dengan tajam. Dua orang itu benar berani, mereka tertawa pula. Jikalau demikian, sahabat baik, berkata mereka, harap kau tidak mengatakan aku dua Saudara Giam ada berlaku kasar kepadamu! Mendengar disebutnya Persaudaraan Giam, Boe Wie berdiri diam. Oh, kiranya kau orang ada Giam-kee Heng-te, Persaudaraan Giam! is tegaskan. Kau orang jadinya ada orang-orang polisi Pakkhia yang kcnamaan! Maafkan aku yang sudah tidak kenali kau or-ang! Dari tempat ribuan lie kau orang telah susul aku, benar-benar kau or-ang telah bercapelelah. Sahabat-sahabat baik, cara bagaimana aku bcrani membuat kau orang kcccle? Sahabat-sahabat, aku bersedia akan iringi kau orang, supaya kau orang peroleh kcnaikan pangkat dan kebahagiaan, hanya ia bersenyum ewah, ia angkat tangannya, yang mcncekal pedang, hanya sayang sekali, senjataku ini menampik!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dua saudara Giam itu juga tertawa tawar. Dua saudara ini, Tjin San dan Tjin Hay, memang terkenai, tetapi Boe Wie tidak takuti mereka, apapula ia memang paling benci hamba-hamba wet. Ia tidak jerih sekalipun ia sedang sakit. Sahabat baik, kau manis sekali! kata Tjin San. Kau mempunyai senjata, kitajuga! Baiklah, Sahabatku, lain tahun pada hari ini harian sembahyang kau satu tahun! Habis berkata begitu, dua saudara Giam itu geraki senjata mereka, akan tetapi Boe Wie mcndahului dengan Peh tjoa touw sim atau Ular putih mcnghcmbuskan bisa untuk tikam dadanya orang yang mcnjadi kanda. Dengan Heng kee kirn Hang atau Melintang di atas penglari emas, Giam Tjin San tangkis tusukan itu, tetapi setclah senjata mereka beradu, keduanya mundur beberapa tindak. Aku tidak sangka, penyakitan seperti dia, punya tenaga begitu besar,Tjin San berpikir. Sedang Boe Wie pun tidak nyana, hamba wet dari Pakkhia ini ada dcmi k ian tangguh. Habis mundur, Giam Tjin San maju pula, maka itu, keduanya sudah lantas bcrtcmpur. Giam Tjin Hay maju akan bantui engkonya. Thie-tjio dari Tjin San ada liehay, tidak kurang 1 iehaynya tan-too dari Tjin Hay, sebab dia ini mainkan itu dengan tangannya yang kiri. Sang adik ini adalah seorang kidal. Dan mclayani seorang kidal memang rada sulit. Boe Wie sedang sakit, tetapi kepandaiannya ilmu Thay Kek Pay mcnolong dia. Ilmu silat ini berpokok tenang, maka itu dengan ketenangan, kesabaran, ia bisa layani musuh. Coba ia tidak sedang sakit, dengan gampang ia bisa kalahkan dua orang polisi itu. Syukur tadi ia telah keluarkan keringat, dengan begitu, ia jadi dapat tenaga- Tapi, dasar lemah, ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kurang keuletan, tubuh kosong membuat asabatnya lemah juga, ia lantas merasakan pusing. Sesudah kira-kira lima puluh gebrak, Boe Wie merasai ia semakin lemah, karena ini, ia memikir untuk gunai tipu, kalau tidak, ia bisa celaka di tangan dua hamba negeri itu. Di waktu ia menangkis ke kanan, ia sengaja berlaku ayal, dengan begitu dadanya jadi terbuka. Giam Tjin San lihat lowongan itu, ia tidak bersangsi, akan dengan Koay bong hoan sin atau Ular naga jumpalitan, dengan Thie-tjionya menyerang dada musuh itu. Boe Wie tidak menangkis, ia mclainkan tarik tubuhnya ke belakang sedikit, tapi di sebelah itu, gesit luar biasa, ia putar balik tangan kanannya, pedangnya, dari luar ke dalam. Ini adalah Hoei ma kiam, atau Loh-bee pedang. Lalu dengan Giok lie touw tjiam, atau Bidadari melempar jarum, ia teruskan menikam ulu hatinya. Tjin San kaget, ia pun tidak sempat gunai pula senjatanya, terpaksa ia egos kaki kanannya, akan buang diri ke kanan dengan mundur sedikit, hingga tubuhnya jadi sempoyongan, sekalipun demikian, ia masih kurang sebat, ujung pedang telah mengenai lengannya, hingga darahnya lantas bercucuran; dengan kesakitan, ia jatuhkan diri, akan menyingkir sambil bergulingan ke arah pintu. Boe Wie niat susul musuh itu, akan tetapi, seumpama cengcorang hendak menawan tonggeret, burung gereja ada di belakangnya, demikian Tjin Hay si kidal,dia ini menyambar 4engan goloknya, untuk tolongi saudaranya. Dia membacok bebokong dengan tipu Lian-hoan Tjin-pou-samtoo atau Tiga bacokan saling susul. Murid Thay Kek Pay itu dengar sambaran angin di belakang, ia tidak sempat putar tubuhnya lagi, maka untuk singkirkan bahaya, kembali ia gunai Hoei-ma-kiam dengan apa ia tangkis golok lawan. Karena ini, sekarang ia mesti

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

layani satu sama satu pada si orang she Giam yang kedua. Tapi iatetap lelah, kepalanya pusing, kakinya limbung. Tjin San lolos dari ancaman kepungan, dengan hati lega, ia lompat bangun. Ia Iupai lukanyadi lengan, ia balik maju, akan bantu adiknya mengepung musuh. Bukan main sibuknya Law Boe Wie. Untuk satu Giam Tjin Hay, ia sudah kewalahan, bagaimana kalau Giam Tjin San kerubuti ia? Selagi Tjin San mendatangi dekat, dengan tiba-tiba ia menjerit dan rubuh terguling, hampir berbareng dengan mana, Tjin Hay juga menjerit, dia ini segera loncat keluarkalangan. The Sam dan isterinya sudah tidur ketika pertcmpuran dimulai, suara berisik menyebabkan mereka tersadar, maka mereka kaget sekali dan berkuatir, kapan mereka mengintip dan lihat kawan mereka, si penumpang, lagi dikepung musuhmusuh. Mereka tidak punya kepandaian berarti, nyali mereka suami-isteri ada kecil, dari itu mereka tidak lantas maju, untuk membaniui. Di matanya dua saudara Giam, mereka jugadisangka ada pcnduduk biasa saja, mereka tidak dicurigai. Siapa tahu, mereka ini cerdik, mereka tunggu waktu, di saat Boe Wie tcrancam, selagi musuh-musuhnya membelakangi mereka, keduanya muncul dengan berbareng, dengan pisau belati mereka menimpuk. Tjin San kena tertikam bebokongnya, itulah sebabnya kenapa ia rubuh sendirinya. la jadi korbannya nyonya The Sam. Pisaunya The Sam scndiri mengenai lengannya Tjin Hay, lcngan kanan, yang tens mcngucurkan darah. Kanda itu tidak binasa karenanya, malah ia jadi sangat gusar, maka dengan kuati hati, ia lompat bangun, ia terjang suami-isteri pembokong itu. Percuma saja tuan dan nyonya rumah mencoba bikin perl a wan an. sambil keluarkan jeritan mengerikan, mereka rubuh saiing ganti di bawah hajaran sepasang Thie-tjio dari si orang polisi dari Pakkhia. Boe Wie kuatir tuan rumahnya turut bercelaka karena ia, siapa tahu, sekarang mereka itu berkorban sekali. Ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menyesal, karena lelahnya, sebab kepala pusing, ia tidak dapat menolong suami-isteri itu. Tapi ia pun sengit, hingga seperti kalap, ia terjang Tjin Hay siapa sedang kesakitan, sampai goloknya tak dapat digunai sebagai bermula, hingga dalam repotnya, dia kena dibabat pedang beberapa kali, hingga dia rubuh dengan mandi darah. Cepat Boe Wie lompat pada The Sam dan isteri; untuk perihnya hati, iadapati mereka sudah mandi darah, tubuh mereka rebah di samping tubuhnya Tjin San. Rupanya dia ini, sehabis lampiaskan sakit hatinya pada suami-isteri itu, rubuh pula saking lelah dan sakit. Sahabat baik, kau menang. kata Tjin San dengan lemah, matanya separuh tertutup. Ia lihat musuhnya dan mengenalinya. Tapi kau jangan berpuas hati, karena sarangmu di Kang-lam sudah digulung! Percaya, kau juga tidak terus bakal lolos. Habis kata begitu, Tjin San tarik napasnya yang penghabisan, mukanya kasih lihat senyuman iblis. Boe Wie hampirkan The Sam akan raba tubuhnya. Aku sudah tidak berdaya lagi, kata tuan rumah dengan suara pelahan sekali. Pergilah kau, lekasan! Aku belum kasih tahu kau tentang kabar yang aku dapat kemarin. Memang sarang kita di Shoatang sudah kena diubrak-abrik! Pergilah kau, lebih baik ke Liauw-tong!. Ia berkelejat kaki tangannya, ia pun susul Tjin San kelain dunia. Rohnya Nyonya The Sam sendiri sudah pergi terlebih dahulu. Melihat mayat-mayat itu, air mata Boe Wie meleleh keluar. Ia sudah bebas, tapi ia telah celakai tuan rumah suami-isteri. Dengan begini menjadi lebih nyata, ia benar tak dapat berdiam lebih lama pula di Kwan-lwee! Maka ia jadi ingat In Tiong Kie serta kata-katanya orang tua itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Biar aku pergi ke Shoatang akan lihat apa aku bisa bikin di sana begitu ia ambil putusan. Maka setelah siap, malammalam juga ia angkat kaki. IV Sesampainya di Liauw-tong, Boe Wie telah lewati tempo beberapa bulan untuk pergi sana dan pergi smi, baharu ia sampai di Oey-see-wie, di mana ia berhasil-menemui Tok-koh It Hang, jago tua yang bergelar Pek-djiauw Sin Eng, si Garuda Malaikat Seratus Cakar. Di sini tak usahlah dituturkan perihal perantauannya beberapa bulan itu. Hanya, selama berada di Liauw-tong, berubahlah pandangannya terhadap bangsa Boan seumumnya. Nyata bangsa itu berbeda sikap daripada pemerintahnya. Mereka hidup bertani, raj in dan ramahtamah, sama seperti bangsa Han sendiri. Yang busuk atau jahat, adalah golongan pembesar negeri atau tuan tanah, dan golongan ini pun dibenci mereka. Sekarang tak lagi ia merasa heran, kenapa In Tiong Kie menyingkir ke daerah perbatasan ini dan betah berdiam di sini. Mulanya bertemu sama Tok-koh It Hang, Boe Wie tidak sebut-sebut In Tiong Kie, iapun tidak pakai cara kunjungannya orang Kang-ouw, sebaliknya ia berpura-pura sebagai satu pengungsi. Sebab sudah biasanya bagi ia untuk waspada. Selama itu, ia belum tahu, jago tua itu ada orang macam apa. Tok-koh It Hang bukan melainkan pandai silat, pengalamannya pun luas, matanya tajam, satu kali saja ia lihat tampangnya si pelarian ini, ia percaya orang bukannya orang sembarangan. Ia terutama lihat tegas sinar mata yang tajam dari orang ini. Maka ia pun curiga dan sangka orang hendak can tahu hal-ihwalnya. Karena ini, tidak ayal lagi, ia ajak Boe Wie main-main untuk beberapa jurus saja. Tadinya Boe Wie menampik, ia merendah, tetapi iasebenarnyaingin ketahui kepandaiannya jago tua itu, maka akhirnya, ia terima tantangan. Adalah setelah keduanya bergebrak, Boe Wie mengerti, lawan tua ini ada jauh lebih

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

liehay daripada ia, terpaksa siang-siang ia keluarkan kepandaiannya ilmu Thay Kek Pay untuk bisa melayani terlebih jauh. Setelah berselang sedikit waktu. Boe Wie insyaf benarbenar bahwa ia bukan tandingannya jago tua itu. Jangan kata tubuhnya, bajunya saja ia tidak mampu langgar. Di sebelah itu, ia sendiri merasai tangannya sesemutan, entah dengan cara bagaimana ia diserangnya. Dengan sendirinya, ia keluarkan keringat dingin. Di saat muridnya Lioe Kiam Gim hendak loncat keluar kalangan, mcndadakan si orang tua berseru: Kau sebenamya keluaran Thay Kek Pay mana? Lekas bilang supaya tidak terbit salah mengerti! Sampai di situ, Boe Wie tunduk benar-bcnar. maka ia terus perkcnalkan dirinya, mendengar mana, si orang tua tertawa berkakakan. Jadinya kau ada mund kepala dan Lioe Kiam Gim? Pantas kau begird liehay! bcrkata ia. Sudah beberapa puluh jurus aku lawan kau, baharulah di dua jums yang terakhir aku bisa atasi padamu. Dalam halnya kau ini, bukannya ilmu silat Thay Kek yang kurang sempurna, itu adalah latihan kau sendiri yang masih kurang. Keduanya sekarang bicara secara asyik sekali, sampai Boe Wie tanya, Pek-djiauw Sin Eng ada punya perhubungan apa dengan In Tiong Kie. Ditanya begini, Tok-koh It Hang heran, ia mengawasi dengan tajam. Apakah kau ada dari pihak Pek Sioe H wee?- akhimya ia tegaskan. Boe Wie cuma bersangsi-sebentaran, ia lantas manggut. Benar, ia jawab. Teetjoe ada dari Golongan Hok. Bagaimana Lootjianpwee bisa menduga begitu jitu?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jago tua itu tertawa. In Tiong Kie pernah beritaliukan aku, bahwa kau ada satu angkatan mudayang gagah dari Pie Sioe Hwee, ia jawab. Karena tcrkabar kau lagi diarah oleh pemerintah Boan, pada beberapa bulan yang lalu, In Tiong Kie sudah pergi ke Kwangwa untuk can kau. Kau sebut dia itu, mestinya kau telah bertemu dengannya. Sekarang kau telah sampai di sana, baik untuk sementara kau jangan pulang dulu. Boe Wie berpikir ia berpikir dengan keras, lalu ia berbangkit, akan terus menjura pada tuan rumahnya. Taruh kata tee-tjoe berniat pulang, itu tak dapat dilakukan lagi, kata ia Sekarang tee-tjoe insyaf, tee-tjoe tidak pikir pula untuk lakukan pembuhuhan-pembunuhan gclap. Malah teetjoe ingin tetap tinggal di sini. Tee-tjoe mohon Lootjianpwee tcnma aku sebagai murid, untuk aku menambah pengetahuan. Boe Wie hendak berlutut, tapi Tok-koh It Hang segera mencegahnya dengan cepat cekal lengannya, untuk dikasih bangun. Tidak, Lauwtee, tak berani aku terima kau sebagai muridku, berkata ia. Aku tidak punya kepandaian untuk diturunkan kepada kau. Aku belum kenal pribadi dengan Lioe Loo kauwsoe, tetapi dia adalah orang yang aku kagumi, dari itu, tak dapat aku terima murid kepalanya, sebagai muridku. Aku tidak bisa. Walaupun orang menolak, Boe Wie masih mendesak. Ia kata ia bukan hendak meninggalkan Lioe Kiam Gim sebagai guru, tetapi ia tak ingin kembali ke Kwan-lwee, ia ingin tetap tinggal di Kwan-gwa ini, dari itu, pantas kalau ia yakinkan ilmu silat terlebih jauh, sedang buat cari guru yang pandai, itulah sukar sekali. Ia juga hunjuk, dahulu gurunya pernah pesan untuk ia menambah pelajaran dari Iain-lain cabang kaum

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

persilatan, jadi tidak ada halangannya untuk ia berguru pada lain ahli silat. Oi dalam kalangan persilatan, memang ada aturan umum, bi la dengan pcrsctujuannya sang guru, sang mu-rid boleh bclajar lebih jauh pada Iain-lain guru. Lioe Kiam Gim taat pada itu aturan, maka itu, ia berikan kemerdekaan dan izinnya pada mu-rid kepalanya ini. Tok-koh It Hang bukannya tak sudi dapat murid sebagai Law Boe Wie, adalah itu aturan umum, yang ia tidak berani langgar, tapi sekarang ia dengar keterangannya pemuda ini yang ia percaya-hatinya jadi girang. Hanya karena Boe Wie benar-benar lichay, ia tidak pandang dia sebagai murid yang biasa, ia pandang sebagai separuh kawan saja. Kau tidak ingin kembali kepada Pie Sioe Hwee, itulah tepat, Lauwtee, kemudian ia kata. Pembunuhanpembunuhan gelap bukannya daya untuk mewujudkan usaha besar. Hanya, apabila kau jadi tawar karenanya, itu pun keliru. Tanpa menumpahkan darah, cara bagaimana bangsa Ouw itu bisa digulingkan dan diusir? Tanpa tindakan itu, bagaimana bisa ditumpas itu segolongan orang-orang berpengaruh yangjahat dan kejam? Darah mesti dikucurkan secara berharga, bukan seperti caranya Pie Sioe Hwee. Boe Wie ketarik dengan perundingannya ini guru baru, hatinya jadi terbuka. Aku ada lagi satu contohnya, Tok-koh It Hang berkata lebih jauh. Berbatasan dengan daerah Liauw-tong ini ada sebuah negeri yang dinamakan Rusia, rajanya dipanggil czar. Raja itu ada kejam, banyak rakyatnya yang dibuang ke batas Liauw-tong, ialah Siberia, dari itu, ada di antara rakyat itu yang nyelundup ke Liauw-tong. Menurut pelarian ini, Russia juga punyakan semacam perkumpulan mirip Pie Sioe Hwee, yang bertujuan menggulingkan rajanya. Kau harus mengerti, perkumpulan rahasia itu ada terlebih besar dari perkumpulan kita. Kita hanya binasakan satu-dua pembesar negeri, tapi dia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bisa binasakan rajanya Itu telah terjadi belum seberapa lama ini. Tapi, satu raja telah binasa, Iain raja muncul sebagai gantinya, perkumpulan itu tetap tak dapat capai maksudnya. Maka kemudian orang Rusia namakan pembunuh gelap yang berani itu sebagai pendekar lacur yang tak berharga satu sen! Mendengar ini, Boe Wie menyengir. Demikian selanjutnya, Boe Wie tinggal menumpang sama Tok-Koh It Hans, yang terima dirinya sebagai separuh guru, hingga ia sendiri jadi sebagai separuh murid, tapi toh ia telah terima pelajaran sepenuhnya. Tok-koh It Hang bergelar Pek-Djiauw Sin Eng, bisa dimengerti kepandaiannya yang tinggi. Ilmu silatnya berdasarkan Golongan Eng Djiauw Boen Cakar Garuda, di sebelah itu, ia ciptakan sendiri ilmu pukulan kim-na-tjhioe-hoat yang terdiri dan delapan kali delapan -enam puluh empat jums. Ia utamakan kegesitan tubuh, seperti garuda melayang menyambar. Tapi kim-na-hoat ini scbaliknya da ri pad a Thaykek-koen. Kalau Thay-kek-koen ada dengan lemas melawan yang keras, kim-na-hoat adalah sambil menyerang, membela diri. kim-na-hoat gabungkan luar dan dalam jadi satu. Ia dapati julukannya justeru karena kegesitannya itu bagaikan garuda Tok-koh ada she atau nama keluarga asal orang asing (Ouw) tetapi itu dari barat-selatan telah masuk ke Tionggoan sejak AhalaTong, hingga di zaman itu sudah diakui sebagai nama keluarga orang Han. Umpama ma-tua dari Tong Thay-tjong Lie Sie pin, ia ada orang she Tok-koh. Tok-koh It Hang ada asal Kwan-Iwee, karena singkirkan diri, ia jadi tinggal menetap di Liauw-tong. Ia pun tadinya beranggapan sebagai Boe Wie, ia duga sukar untuk ia tinggal sekian lama di tempat baru ini, anggajjjlflfiya jadi berubah. Sebab urnumnyaroRyat Boan ada sama seperti di Tionggoan,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

rupanya ini disebabkan, penduduk Liauw-tong adalah bangsanya sendiri dan dari itu, tidak perlu ditilik keras. Beberapa tahun Law Boe Wie tinggal bersama Tok-koh It Hang, tidak pernah ia abaikan ilmu silatnya, tidak heran, kalau ia peroleh kemajuan. Di samping itu, ia terus suka berunding s%na gurunya itu, terutama mengenai pemerintah Boan serta sepak-terjang kebangsaan dari rakyat Tiongkok asli, umpama Lie Tjoe Sen dan Ang Sioe Tjoan dari Thay Peng Thian Koife Itu waktu, sehabis kegagalan Kaum Thay Peng, kedudukan pemerintah Boan makin kuat, karena bangsa asing mcmbantu padanya. Cita-citanya Tok-koh It Hang adalah mengumpul kawan, tidak fcekerja sama-sama pemerintah, flfnenunggu waktu, buat justeru bikin terguling pemerintah itu. Boe Wie memang sudah punya dasar baik, dalam tempo empat-lima tahun saja, ia telah bisa wariskan Tok-koh It Hang punya enam puluh empat juros kim-na-tjhioe-hoat, serta tujuh puluh dua jalan ilmu pedang Hoei Eng Tjiong-soan Kiam atau Burung garuda terbang berputaran. Malah dari In Tiong kie, yang dating kepadanya setelah setengah tahun ia sampai di Liauw-tong, ia dapat pelajaran kepandaian mengenai senjata rahasia dengan mendengar suara anginnya saja. Dua-dua Tok-koh It Hang dan In Tiong Kie kagumi dan hormati Lioe Kiam Gim, tetapi mercka tidak sukai Teng Kiam Beng, soeteenya orang itu, apapula sekembalinya dari Kwan-I wee Tionggoan In Tiong Kie telah bawa cerita bahwa ahli waris Thay Kek Pay itu yang kesohor Thay-kek-kiamnya, Thay-kek-koen dan Kim-tjhie-piauw sudah jadi angkuh terhadap kaum Kang-ouw dan telah bergaul rapat dengan pihak pembesar negeri, hingga dengan sendirinya dia itu jauhkan diri dari Rimba Persilatan. Pun ada banyak orang Kang-ouw yang tidak puas terhadap orang she Teng jtu. Pastilah akan ada satu hari, dengan sepasang telapakan tanganku yang hanya berdaging ini, aku nanti coba-coba

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

semua tiga macam kepandaiannya itu! kata Tok-koh It Hang sambil tertawa apabila ia dengar keterangan sahabatnya. Law Boe Wie dengar perkataannya jago tua ini, hatinya bercekat, akan tetapi ia diam saja. Ia memang tidak puas terhadap sepak-terjangnya soesioknya itu, sudah begitur, ia juga tidak ketahui jelas keadaan orang. Lima tahun sudah lewat sejak Boe Wie ikuti Tok-koh It Hang, perubahan telah banyak terjadi. Sarangnya Pie Sioe Hwee telah digulung sejak lama, maka itu pengawasan pembesar negera terhadap perkumputan rahasia itu telah jadi kurangan, apa pula Boe Wie yang tadinya dikepung-kepung, seperti lenyap dari muka bumi. Karena ini, dengan tidak sangsi-sangsi, Boe Wie bersedia akan kembal i ke Kwan-Iwee, ketika gurunya tugaskan dia merantau akan cari kawan-kawan sekerja. Hanya, bcgitu lekas ia mcmasuki Kwan-lwee, ia dengar satu perkara penting sebab mana ia terpaksa tunda dulu tugasnya. Perkara apakah yang penting itu? Itu adalah halnya itu perampasan barang upeti yang dilindungi Teng Kiam Beng, yang kena dibegal di tempat tiga puluh lie di Hee-poan-shiadi Djiat-hoo, bahwa yang lakukan itu ada scorang tua dengan lidah Liauw-tong. Kejadian itu ada menggemparkan, karena Teng Kiam Beng, ahli waris Thay Kek Pay, kena dibikin malu. Caranya adalah, si or-ang tua asal Liauw-tong bertangan kosong tetapi Kiam Beng sudah gunai pedangnya, kepalannya, dan piauwnya juga dengan sia-sia. Kemudian menyusul kabar bahwa Lioe Kiam Gim, soeheng dan Teng Kiam Beng, yang telah hidup menyendiri di Kho Kee Po, sudah berangkat ke Utara, untuk mana. Lioe Kiam Gim telah minta bantuannya orang-orang tua yang kenamaan. Kejadian itu telah jadi buah pembicaraan urnum, terutama karena orang menduga-duga, siapa si orang . tua Liauw-tong itu, apa Lioe Kiam Gim bakal adu kepandaian sama or-ang tua

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

itu, dan bagaimana nanti kesudahannya, siapa menang, siapa kalah? Oleh karena si begai tua disebut asal Li auw-tong. Law Boe Wie segera juga sangka separuh gurunya Tok-koh It Hang. Jago tua ini pemah kata ia hendak coba-coba Teng Kiam Beng deagan tangan kosong saja. Kalau ini dugaan benar, itulah hebat, scbab dua-dua Kiam Gim dan It Hang adalah gurunya sendiri. Kalau dua harimau berkelahi. sal ah satu mesti celaka. Dan kedua guru itu sama-sama liehay! Orang lain boleh menonton, tetapi aku tidak! pikir Boe Wie. Aku mesti damaikan mereka! Lantaran ini, seteiah bersangsi lama, Boe Wie ambil putusan akan pergi ke Djiat-hoo. akan can dua-dua gurunya itu, akan tetapi, justcru beg-itu, mendadakan ia tcrima satu kabar Iain, hingga ia mesti batalkan dahulu keberangkatannya ke Djiat-hoo dan mesti segera pergi ke Kho Kee Po! Selama bikin perjalanan ini. Law Boe Wie tidak pakai namanya Tok-koh It Hang. Sebabnya ialah: kesatu, Tok-koh It Hang sudah asing dengan keadaan di Tionggoan, dan kedua, di sebelah itu, namanya Boe Wie ada tersohor dan dia sudah punya banyak kenalan atau sahabat, karena, dia adalah tokoh terkenal dari Pie Sioe Hwee. Boe Wie terima kabar penting itu selagi ia berada di pusat Hay Yang Pang di Pou-tay, Shoatang, sebagai tetamu dari wakdl kepala kaum itu, sebab pemimpinnya lagi berpergian. Untuk berpisah dari satu sahabat itu, guna cegah rahasia bocor, ia tidak berani sebut terang-terang hendak pergi ke Djiat-hoo. Hoe-totjoe atau wakil Ketua dari Hay Yang Pang bernama Ie Tjee Ban, ia sudah berumur lima puluh tahun lebih tapi dengan Boe Wie, ia berbahasa.-.. cngko dan adik, pcrhubungan yang rapat ini bukan sebab pcrkcnalan saja hanya mereka pcrnah saling bantu, dan wakil ketua itu sangat hargai Boe Wie yang kosen dan djiatsim, scbagaimana Boe Wie meenghargai kejujuran orang. Sebenarnya Boe Wie belum

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tahu jelas asal-usulnya Ie Tjee Ban kecuali ia dengar, dia ini ada keluarga golongan RimbaHijau. Law Boe Wie mesti berangkat dengan tiba-tiba, tapi Ie Tjee Ban tak izinkan dia pergi sebelum mereka dahar dan minum arak dulu, maka kesudahannya, berdua mereka duduk berjamu. Mereka masing-masing tenggak beberapa cawan, mereka dahar dan mengobrol dengan asyik, sampai satu kali, tuan rumah timbulkan satu soal. Lauwtee, demikian kata tuan rumah itu, kau muda dan gagah, dimana-mana orang hormati kau, tetapi aku, si tuabangka, orang pandang tak berguna. Ada orang ajak aku bckerja untuk dianya, orang bujuki aku bahwa hari depanku penuh pengharapan. Terang orang tak lihat aku karena aku jadi wakil dari suatu kawanan kecil. Aku hilang muka! Urusan apakah itu, Lauwko? tanya Boe Wie dengan heran. Kenapa Lauwko mesti hi lang muka? Kita toh merdeka, kita tidak mcngandal i pangreh-praja? Kau benar, Lauwtee, tetapi or-ang telah bujuki aku, katanya sayang aku jadi wakil saja. Sebaliknya, mereka ingin aku bckerja untuknya, katanya, hari depanku penuh pengharapan. Teranglah dengan itu orang pandang enteng padaku! Boe Wie tidak mengcrti, ia minta keterangan. Itulah ketuaku yang lama, yang ajak aku! kata Ie Tjee Ban kemudian. Sebaliknya aneh! Ketua itu telah menghilang dua puluh tahun lebih, atau sekarang ia muncul sebagai pahlawan dari Istana Raja Boan. Dia ajak aku bekerja ke Inkoan, katanya sebab aku ketahui baik Propinsi Shoatang ini. Hatinya Boe Wie bercekat. In-koan ada distrik di mana ada tinggal gurunya: Lioe Kiam Gim. Kho Kee Po masuk dalam wilayah distrik itu. Ia tidak ketahui jelas hati Ie Tjee Ban, dari itu, ia pun tidak tahu hal ketua lama dari sahabat ini.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Untuk apa minta bantuan Lauwko diminta? ia tanya. Siapa tahu? jawab Ie Tjee Ban. Dia tidak mau menerangkarmya, dia cuma kata urusan penting. Aku percaya, itu ada hal untuk bikin or-ang celaka. Meski demikian, Ketua Muda Hay Yang Pang ini berikan keterangannya lebih jauh. Kau pasti tidak tahu, karena itu mengenai hal dua puluh tahun yang lalu, ketika kau masih kecil, kata ia. Itu waktu di daerah Seetjoan Barat, Lo-kee Ngo Houw, atau Lima Saudara Harimau She Lo, ada sangat kesohor. Dan aku ada salah satu kacungnya. Mereka berkepandaian ti nggi tapi aku tidak tahu hal-ihwal mereka, mereka mirip dengan orang Rimba Hijau. Di Seetjoan Barat, mereka tidak bisa tancap kaki, mereka buron ke Utara, tapi di sini, mereka bisa bekerja sama pembesar negeri, kedua pihak tidak saling ganggu, bila mereka peroieh hasil, mereka bagi hasil itu kepada pangreh-praja setempat. Mereka biasa membegal dan memeras penduduk. Belakangan aku dengar di Djie-tjoe, Shoasay, mereka kena dilabrak satu nona, malah Lo Sam Houw, hilang jiwanya. Kejadian mi membuat rombongan mereka buyar, maka kemudian, aku masuk dalam Hay Yang Pang. Karena hilang satu saudaranya, Lo-kee Ngo Houw berubah jadi Lo-kee Soe-houw -Empat Harimau She Lo. Mereka menghilang, sampai tahu tahu, sekarang mereka jadi pahlawan Raja Boan. Sebenarnya aku jemu bercampur pula sama mereka, apa mau, mereka telah datang can aku, mereka hen dak gunakan aku scbagai pcrkakas. Coba tidak bukan pada kau, Lauwtee, sungguh aku tak sudi merijeiaskan ini. Tapi keterangan itu pun sudah cukup untuk Boe Wie. la malah ketahui lebih banyak tentang permusuhan antara Keluarga Lo dan Keiuaiga Lioe Kiam Gim dan In Giok bersama Lauw Tian Peng adalah hajar Lima Harimau Keluarga Lo itu. Kebinasaan Sam Houw di tangan In Giok menyebabkan orang katakan si nona ada nona gagah yaag ajaib! Pun, waktu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

hendak mulai pergi merantau, Kiam Gim pesan muridnya ini sekalian dengar-dengar perihal pcrsaudaraan Lo itu, maka kebetuIan sekali, sekarang ia dengar kabar penting itu. Ini tahun ada tahun luar biasa untuk aku! kata Ie Tjee Ban, sesudah ia tenggak beberapa cawan pula. Sudah aku ketemui ketua lamaku,. juga ketuaku sendiri telah dapat maiu dari seorang tua yang tidak dikenal, sesudah mana orang datarg untuk bersahabat sama dia. uPantas kemarin ini Toa-totjoe pergi dan terus tidak kembali, Boe Wie kata. Ya, itulah sebabnya, Ie Tjee Ban bilang. uIa mau pergi ke pusat kita di Lek-shia, akan can tahu tentang or-ang tua itu. Lauwtee tentu belum tahu duduknya hai, nanti aku tuturkan. Toa-totjoe telah terima laporan ada beberapa orang asing, yang rornannya mencurigai, lagu-suaranya beda satu dari lain, dandanannyajuga berlainan. Mereka tidak bawa barang berharga tetapi sembunyikan senjata. Mereka tidak memasuki Kota Pou-tay untuk mondok, hanya pergi ambil tempat di kuil rusak beberapa lie di luar kota. Atas itu, Toa-totjoe larang orang banyak omong, ia sendiri ajak dua kawan, untuk pergi bikin penyel jdjkan secara diam-diam ke kuil itu. Kebetulan dari Lek-shia ada datang dua saudara kita, yang ilmu silatnya boleh diandali. Siapa tahu, sesampainya di kuil, mereka kena dipermainkan. Mereka bcrtiga memang tak dapat dibandingkan dengan kau, Lauwtee, tetapi mereka boleh diandalkan, tapi mereka toh kecele. Malam itu tidak ada cahaya rembulan. Mereka sampai kira-kira jam tiga lewat. Dari atas genteng di mana mereka mendekam, mereka dengar suara menggeros keras. Dengan gelantungi tubuh di payon, Toa-totjoe mengintip ke dalam. Kuil ada gelap, ia tidak lihat suatu apa. Tiba-tiba ia rasakan sebelah kakinya, yang dicanteldi payon, ada yang tank, maka segera-ia putar tubuhnya, akan naik pula ke genteng. Antara berkesiurnya angin dengar suara anjing dari kejauhan. Tidak jauh

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

daripadanya, dua kawannya lagi memandang ke sekelilingnya. IaJantas tanya dua kawan itu, mereka Jiflm apa dan kenapa mereka tarik kakinya. Ditanya begitu, kedua kawan itu mengawasi, mereka kelihatannya heran dan duka. Mereka tidak tarik kakinya Toa-totjoe, malah mereka sendiri mcrasa scperti ada kebut dengan pelahan. Bertiga, rnerekajadi melengak. Justeru itu, dari samping, mereka dengar satu suara dalam dari seorang tua: Aku di sini, kau orang nyata tak dapat lihat padaku! Buat apa kau orang keheranan tak keruan? Mereka terperanjat, mereka menoleh dengan segera. Mereka lihat seorang tua berdiri di dekat mereka! Orang tua ini lantas tertawa, ia kata pula: Bukanlah gampang bahwa Tuan yang terhormat datang dari tempat yang jauh, silakan kita turun ke pekarangan kosong di bawah sana untuk mainmain! Kenapa eh -kenapa kau orang bersangsi? Apa kau orang takut? Apa kau orang jerih melihat banyak kawanku? Tidak, asal aku suruh seorang saja bantui aku, aku berlaku tak pantas pada kau orang, sahabat-sahabatku! Bercerita sampai di situ, Ie Tjee Ban berhenti sebentar, ia hirup pula araknya. Atas tantangan itu, Toa-totjoe jadi gusar dan terpaksa menerimanya, kemudian ia melanjutkan. Mereka turun ke tanah dan lantas bertempur. Belum ada sepuiuh jurus, Toatotjoe sudah dibikm sibuk dan mandi keringat oleh pedangnya orang itu yang sambar sana dan sambar sini, ke bagian anggota-anggota yang berbahaya, tapi toh tidak pemah ujung pedang mengenai sasarannya. Di sebelah itu, sambil bertempur, orang tua itu saban-saban ngoceh, menganjurkan kedua kawan Toa-totjoe maju akan bantu Toa-totjoe mengepung padanya. Tentu saja kedua kawan itu jadi gusar, hingga mereka tak takut nanti ditertawai or-ang, mereka maju, akan mengerubuti. Mereka bertiga, tapi akhirnya, mereka sendiri yang kena dibikin repot, sampai sukar untuk mereka meloloskan diri. Sementara itu, rombongannya si orang tua muncul semua, mereka berdiri menonton, mereka

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pada tertawa, tidak ada satu yang bantui orang tua itu. Untuk setengah jam, Toa-totjoe bertiga di buat pcrmai nan, selagi mereka sangat malu, jengkel dan mendongkol, tiba-tiba si orang tua menghentikan pertandingan dan mengajak ikat persahabatan. Dia mengaku dari Heng Ie Pay, bahwa dia kebetulan lewat di Pou-tay, sama sekali mereka tidak bcrniat kurang baik. Orang tua itu tanya kedudukannya Toa-totjoe di dalam Hay Yang Pang, habis itu dia nyatakan, sama-sama orang Kang-ouw, ia harap kedua pihak suka saling bantu. Secara begini, Toa-torjoe terlolos dari bahaya, ia menghaturkan maaf, kemudian ia ajak dua kawannya pulang. Ketika ditanya she dan namanya, orang tua itu menampik, ia hanya bilang, bila ada ketikanya, ia akan.datang mengunjungi. Orang tua itu ngaku dari Heng Ie Pay, ia benar perlihatkan bebcrapa jurus pukulan kaum itu, tetapi dua sahabatnya Toatotjoe bilang, permainannya tidak terlalu lancar, sebab kalau didcsak, dia itu keluarkan ilmu silat Siong Yang Pay. Entah apa sebabnya itu? Mendengar itu, Boe Wie agaknya terperanjat Oh! ia berseru dengan tiba-tiba. Bukankah orang tua itu jangkung-kurus dan pedangnya ada Tjit-seng-kiam yang panjang? ia tanya. Ie Tjee Ban letakkan cangkir araknya, ia terkejut Benar! Eh, bagaimana Lauwtee kenal dia? dia pun tanya. Selama beberapa tahun merantau, aku pernah dengar orang omong tentang orang tua itu, sahut Boe Wie. Dia itu katanya teiah peroleh kesempumaannya ilmu pedang Tat-mokiam dari Siong Yang Pay serta telah berhasil mcncuri pclajari beberapa jurus ilmu pedang Boe-kek-kiam dari Heng Ie Pay, kalau iasedang bertempur, selamanya ia gunai dulu ilmu pedang curiannya itu. Orang yang Lauwko sebutkan itu mirip dengan orang tua tersebut, dari itu aku menanyakannya. Aku cuma pernah dengar namanya belum pemah aku ketemu padanya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Otaknya Ie Tjee Ban sudah terpcngaruh arak, ia tidak menanyakan lebih jauh, maka itu, sctclah bicara pula scbcntaran, untuk kasih sclamat jalan pada Boe Wie, mereka masuk tidur. Tapi malam itu Boe Wie tidak bisa tidur pulas, ia melek mata tcrus sampai terang tanah. Selama itu, ia sudah susun rapi keterangannya Ie Tjee Ban. Lo-kce Soe Houw hendak bckcrj a di In-koan, tidak salah lagi, mereka itu tcntu hendak menuntut balas terhadap Keluarga Lioe. Si orang tua gagah itu muncuk berbarcngan, dia pun hendak ajak orang bekerja, mestinya dia ada punya hubungan sama Lo-kee Soe Houw. Ia pun percaya, orang tua itu mesti ada si orang tua yang dulu di rumahnya Soh Sian Ie sudah pancing soesioknya Teng Kiam Beng, karena mana, Teng Kiam Beng jadi bercidera dengan Tjiong Hay Peng, ahli waris atau Ketua dari Heng Ie Pay. Distrik Pou-tay ini memang ada jalan terusan ke In-koan. Soehoe telah pergi ke Utara, dengan begitu, Soenio mesti berada sendirian di rumah, pilar ia terlebih jauh. Soenio ada wariskan kepandaian golok Ngo-houw Toan-boen-too dari Ban Seng Boen, akan tetapi ia berscndirian saja, mana ia sanggup layani banyak musuh jahat? Sampai itu waktu, Boe Wie tidak pikir bahwa Yo Tjin Kong masih berguru dan Bong Tiap sudah tambah usianya, di scbelah siapa pun tambah Ham Eng. Maka itu ia jadi tambah joiatir, hingga ia rebah gulak-gulik saja, ia tak dapat tidur, hingga iamenyesal tidak bisa segera sampai di Kho Kee Po. Demikiari sebabnya, ia membatalkan dulu perj alanannya ke Djiat-hoo, Law Boe Wie sudah segera menuju ke In-koan di mana ia sampai di Muara Kho Kee Po, di saat ia dapat tolong Bong Tiap dan Ham Eng dari gangguannya musuh-musuhnya Keluarga Lioe, sampai itu malam ia telah tolongi juga soenionya, dengan ia berhasil menawan Bong Eng Tjin si orang tua yang licin. Sayang, karena liciknya musuh,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

rumahnya Lioe Kauwsoe telah habis dimakan api dan Lioe Toanio, saking lelah, mendongkol dan karena 1ukanya di dalam, akhimya turut rubuh juga. Biar bagaimana aku toh datang sedikit teriambat, kata Boe Wie di akhir penuturannya sambil mcnghcla napas. Aku tidak sempat kisiki Soemoay untuk bersiap hingga Soenio mesti bercapek-lelah. Aku percaya, setelah beristirahat Soenio akan dapatkan kesegarannya pula, dari itu, tak usah Soemoay kuatir, ia menghibur. Bong Tiap sudah mengerti keadaan, maka itu sambil memberi hormat, ia haturkan terima kasih mewakilkan ayah dan ibunya. Beruntung kau datang, Soeheng, katanya. Bila tak ada kau, entah bagaimana jadinya dengan kita semua. Boe Wie sibuk karena soemoay itu paykoei terhadapnya, sedang untuk mencegah, dengan cekal tangannya si nona, ia likat la tak dapat empo dan pondong si soemoay seperti duludulu. Soemoay, Soemoay katanya Ini ada urusan kecil, kita ada di antara orang sendiri, jangan kau pakai adatperadatan. Lantas Boe Wie ingat pengalamannyadi waktu masih kecil, ketika ia berkumpul sama guru dan soenio serta soemoay dan soeteenya. sama-sama berlatih silat, sampai belasan tahun ia merantau. Tahun dan bu Ian mengejar-ngejar manusia, sekarang aku telah tambah usia! katanya pula. Ia menghela napas. Tapi ia toh baharu berumur tiga puluh tahun. dan sedang gagahnya. Rupanya ia terpengaruh pengalamannya dan sekarang Hiat soemoay itu sudah jadi gadis remaja! Soeheng, kau keliru Tjin Kong kata. Kau belum tua, hanya kepandaiamu yang bertambah! Romanmu menghunjukkan kemudaanmu, begitupun caranya kau gunai pedangmu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

barusan! Dan soetee ini tertawa. Boe Wie turut tertawa. Sementara itu orang telah sampai di rumahnya Hie Hong, di mana Lioe Toanio dipernahkan. Lioe Toanio masih tetap belum sadar, maka Boe Wie minta Bong Tiap unut pula padanya, sedang Tjin Kong cekok ia dengan obat yang dicampun arak. Tiga atau empat jam kemudian, tiba-tiba Lioe Toanio ingat akan dirinya. Tiap-djie, Tiap-djie! ialah kata-katanya yang pertama keluar dan mulutnya. Ketika ia geraki tubuhnya, nyata ia tidak bisa bangun. Maka ia cuma bisa pentang kedua matanya, akan awasi semua orang di sekitamya. Matanya bercahaya, rupanya, ia segera ingat pertempuran tadi. Bagaimana, Ibu? Bong Tiap tanya. Lioe Toanio coba geraki tubuhnya, ia merasakan lemas, hingga ia jadi kaget sendirinya, sampai ia keluarkan keringat dingin, hatinya mencelos. Ia pentang pula matanya. Kau orang semua mundur dulu, kecuaii Tiap-djie, aku hendak bicara sama ia, katanya. suaranya dalam. Coba buka bajuku, kata Lioe Toanio pada gadisnya, sesudah mcreka berada berdua saja. Bong Tiap menurut, tapi lantas saja ia terkejut ketika ia lihat sebuah titik hitam di bawah tete kin dari ibunya. hu ada tanda darah man pada jajandarah Djie-khie-hiat. Itu ada bagian anggota yang kena serangannya tumbak dari LoToa Houw. Lioe Toanio lamas kasih jalan napasnya akan kumpul semangamya, akan tetapi ia tak berhasil menyingkirkan tanda matang biru itu. Ia insyaf artinya itu, karcna ia ada satu ahli silat, dari itu, mukanya lantas jadi pucat.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ludeslah sekarang kepandaian silatku, kata ia sambil bersenyum pada anak daranya. Umpama kata aku bisa diobati scmbuh, aku tetap bercacat, aku tak lagi bisa bersilat. Totokan dari Lo Toa Houw ada iiehay sekali, dia telah gempur rusak khiekangku. Kalau aku ditolong pada waktu baharu saja terluka, dengan diunit saja, akibatnya tidak sehebat ini. Aku telah bcrkelahi melewati batas, cara bagaimana tubuhku tidak jadi lemah? Ah, Anak, sayang kepandaianku dari beberapa puluh tahun. Bong Tiap berduka bukan main, tetapi meski demikian, ia terhibur juga, karena jiwa ibunya masih tertolong. Anak, pergi kau ambil golokku Ngo-houw Toan-boen-too, kemudian sang ibu surah anaknya. Bong Tiap kaget. Ibu, buat apakah itu? tanya ia. Lioe Toanio tertawa meringis. Anak toloH katanya. Mustahil aku hendak berlaku nekat! Aku tidak tega meninggalkan kau! Pergi ambil golokku hu, aku hendak lihat satu kali lagi. Kau kembaii bersama mereka semua. Bong Tiap menurut, ia lekas undurkan diri, ketika ia batik bersama Ngo-houw Toan-boen-too, Boe Wie bertiga ikuti dia, tetapi ketiga murid ini semua hunjuk roman duka, karena mereka sudah dapat tahu, jago betina itu tidak lagi menjadi jago betina. Mereka semua berdiam mengawasi soebo mereka. Sinar matanya Lioe Toanio bersinar ketika iasuruh gadisnya bawa golok kepadanya. Itu adalah senjata yang untuk banyak tahun tidak pemah berpisah darinya. Dan Bong Tiap agak bergemetaran ketika ia serahkan golok itu pada ibunya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lioe Toanio berniat bangun, tetapi ia tak dapat geraki tubuhnya, maka itu, ia cuma ulur tangan kanannya. Ia minta gadisnya bantu ia. Ia raba goloknya, ia sentil itu, hingga sang senjata terbitkan suara nyaring. Bagus, bagusl katanya, tetapi napasnya mengorong. Golok itu tajam dan mcngkilap. Lioe Toanio gapekan Hie Hong, supaya keponakan itu datang dekat padanya. Golokku ini telah temani aku berberapa puluh tahun lamanya, berkata ia, dipadu dengan KiamGim, dia adalah kawanku yang terlebih tua jangan kau orang tidak pandang mata pada golokku ini, ada sejumlah orang gagah dari kalangan Kang-ouw yang telah tunduk di bawahnya. Umpama Lo Djie Houw, lengannya adalah aku yang bikin locot! Adalah engkongnya Tiap-djie yang berikan golok itu kepadaku, ia bikinnya ketika aku berumur satu tahun lantas setiap tahundilebur dan dilebur lagi, saban-saban ditambah beratnya, setelah aku masufcumur sepuhih tahun, baharu aku diizinkan menggunakannya. Golok ini bukannya mustika, tapi tajamnya bukan main, apabila dipakai melukai orang, darahnya tidak menjadi karatan. Dan sekarang aku tak dapat pakai lebih jauh golok ini. Lioe Toanio berhen ti bicara untuk bernapas. Sebenamya aku niat wariskan golok ini pada Tiap-djie, ia menyambungi kemudian, tetapi Tiap-djie sudah punyakan pedang tajam buatan ayahnya sendiri, sedang Boe Wie sudah punyakan senjatanya juga, sedang Kaum Thay-kek biasa wariskan pedang saja, maka golokku ini, sekarang aku serahkan pada Hie Hong saja. Dia ada turunan Ban Seng Boen. dan Ngo-houw Toan-boen-too adalah goloknya Kaum Ban Seng Boen sendiri. Golok ini aku tidak dapat bawa ke lobang kubur, dengan aku berikan pada Hie Hong, aku bisa balas budinya, tadi malam dia sudah bantui kita Hie Hong, man!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hie Hong girang berbarcog berduka, dengan menjura, ia samburi golok dari bibinya itu. Tidak nanti aku sia-siakan pengharapan kau. Loodjinkee katanya dengan janjinya. Aku akan simpan baik-baik golok ini Bagus, Anak,kata Lioe Toann?. yang napasnya memburu. Coba kau sentil sekali lagi, kasih aku dengar! -Nah, sudah, kau simpanlah! Semua orang menjadi sangat terharu. Dasar Soenio mcnyayangi keponakan sendiri pikir Yo Tjin Kong, murid kcdua dari Lioe Kiam Gim. la mcrasa tidak enak scndirinya Tadi malam, ia juga tclah adu jiwanya tapi sekarang soenio ini tidak sebut-sebut dia. Ia rada jelus, ia harapkan golok itu, hingga untuk sesaat, ia lupa Toan-boentoo ada goloknya Kaum Ban Seng Boen, yang tak dapat diberikan pada orang dari lain kaum. Benar Lioe Toanio ada guru perempuannya tapi ia sendiri ada muridnya Lioe Kiam Gim dari Thay Kek Pay, seharusnya ia bersenjatakan pedang. Setelah bcrdiam sekian lama. Lioe Toanio menghela napas pula. Beginilah penghidupan, katanya. Sejak hari ini, untuk selama-lamanya aku akan pisahkan diri dari Rimba Persilatan. Sekarang kau orang insyaf bagaimana liehaynya geiombang dan badai dalam kalangan Sungai-Telaga. maka selanjutnya. kau orang harus lebih waspada dan berhati-hati. Sayang sekali aku tidak tahu dengan kepergiannya ini, entah bagaimana dengan Kiam Gim. Tak bisa aku tak pikirkan dia. Air matanya nyonya ini meleleh keluar, ia batuk-batuk dua kali, setelah diam sesaat ia berkata pula: Bicara halnya Kiam Gim pergi ke Utara ini.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

aku jadi ingat halnya soesiok kau dahutu telah jadi korban dua musuhnya yang memakai topeng. Boe Wie bilang, satu dari dua musuh itu adalah si orang tua yang semalam bersenjatakan pedang panjang, maka setelah dia kena ditangkap, pergi kau orang dengar pengakuannya! Pergilah kau orang, kecuali Tiap-djie, yang mesti temani aku. Nyonya itu rapati matanya, tapi mulutnya tertawa meringis. Lioe Toanio Lauw In Giok ceburkan diri dalam dunia Kangouw sejak umur enam belas tahun, sampai umur dua puluh dua, baharu ia menikah sama Lioe Kiam Gim, setelah mana, ia tinggal menyendiri di Kho Kee Po. Selama enam tahun, dengan goloknya Ngo-houw Toan-boen-too, ia telah ketemui banyak orang gagah. Kalau ia undurkan diri karena pernikahannya, tidak demikian dengan suaminya. Kiam Gim mundur bcrduka karena sikap soeteenya. Tapi sekarang si nyonya mesti mundur betul-betul, karena lukanya yang hebat itu, maka itu, ia ada masygul dan menyesal bukan main. Boe Wie berempat undurkan diri dengan masing-masing sangat bersusah had, mereka pergi tengok orang tawanan mereka. Sejak tadi malam kena ditotok jalan darahnya Oen-hianhiat, untuk lima jam, Bong Eng Tjin mesti rebah bagaikan mayat saja. Kalau dia diantap terus enam jam, dia bakal sadar sendirinya, tapi kalau dia ditolongi, dia bisa mendusindi segala saat. Sekarang, lima jam telah berlalu, maka itu, dengan sendirinya, ia sadar dengan layap-layap. ia tahu ia berada dalam tangan musuh tetapi ia ada berkepala batu, atas pertanyaannya Boe Wie, ia tidak mau omong terus terang, percuma orang bujuk dia. Akhir-akhirnya Boe Wie bersenyum ewah. Apakah kau tetap menyangka aku tidak tahu halihwalmu? kata muridnya jago tua dari Thay Kek Pay

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kemudian. Kau adalah murid murtad dari Siong Yang Pay! Kau ada anjingnya bangsa Boan! Kau adalah manusia cabul dari kaum Kang-ouw! Dahulu soesiokku mengasih ampun kepada kau, sekarang aku tidak! Dicaci secara demikian, Bong Eng Tjin menjadi gusar. Ya, aku ada orang Siong Yang Pay! Habis kau mau apa? ia berseru. Ha, bocah, matamu picak! Cara bagaimana kau berani bilang aku ada manusia cabul dari kaum Kang-ouw? Dengan kepandaianmu, kau kalahkan aku, aku tidak akan bilang suatu apa, tetapi janganlah kaungaco-belo! Kau bilang dahulu soesiokmu kasih ampun padaku? Hm! Jangan membabi-buta! Pergilah kau tanya dia, siapa yang ketika itu dikasih ampun! Lantas Eng Tjin tutup pula mulutnya, ditanya bagaimanapun juga, ia bungkam. Akan tetapi dengan begitupun sudah cukup untuk Law Boe Wie mendapat kepastian, benarlah mi orang yang telah permamkan soesioknya, maka diam-dtam ia kedipi mata pada tiga kawannya, untuk mereka undurkan diri, kemudian ia tutup pjntu. Lalu, dengan sekonyong-konyong, ia dekati orang tua itu. Kau ada satu laki-laki maka coba kau bilang, kau punya perhubungan apa dengan Keluarga Soh dari Poo-teng? ia tanya. Apa itu Keluarga Soh dari Poo-teng? Aku tidak tahu! sahut Bong Eng Tjin sambil ia mendelik. Ha, kau tidak kenal Keluarga Soh dari Poo-teng? BoeWie tertawa. Aku lihat rupanya kau tetap tidak kenal walaupun jiwamu secara kecewa akan dipakai menebus dosanya! Apakah kau ketahui, kenapa Ouw Toakomu tidak datang? Apa benar kau tidak tahu, bahwa kaulah yang disuruh jual jiwamu? Mendengar demikian, Bong Eng Tjin melengak.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Eh, apa kau bilang? ia tanya. Apa yang aku bilang adalah apa yang aku bilang! jawab Boe Wie dengan tertawa sindirnya. Di kalangan Kang-ouw, siapa berkorban untuk sahabatnya, pengorbanan itu ada harganya, akan tetapi lain dengan kau-kau bakal terbinasadengan tidak keruan juntrungannya! Kau barangkali tidak menyayangi jiwamu. tidak demikian dengan aku aku sebaliknyaberkasihan Sambil berkata demikian, diam-diam Boe Wie lirik air muka orang. Tampangnya Bong Eng Tjin mcnjadi sebentar merah dan scbcntar pucat, terang ia terperanjat dan hcran. Mcnampak demikian, sambil terus tertawa menyindir, Boe Wie tambahkan: Baik aku omong terus terang kepadamu! Kau mestrnya ketahui baik bahwa soesiokku serta Keluarga Soh, ayah dan anak, ada bersahabat kekai seperti saudara angkat. Dan kau mestinya ketahui baik, orang she Soh itu ada mcmpunyai perhubungan macam apa dcngan pembesar negeri! Orang she Soh itu dan pembesar negeri, yang berkongkol saw dcngan lain, sengaja kirimkan kcmari untuk kau ju-al jiwamu! Bersama itu sejumlah sisa kantong nasi ialah orang-orang tidak berguna kau dikirim kemari guna bokong Keluarga Lioe, berbareng dengan itu, soesiokku telah dibentahukan agar ia sampaikan warta kemari untuk kita siap sedia! Ini dia yang dinamakan meminjam goiok untuk mcmbunuh orang. Apakah benar kau tidak mengerti tipu daya teji itu? Inilah kelicmannya Ouw Toakomu! Apa betul-betul kau tidak mengerti? Kau toh ditugaskan juga meniliki lain orang? Boe Wie sudah karang satu cerita, tetapi ceritanya ini beralasan. Itulah sebab tadi malam, dari tubuhnya Bong Eng Tjin, ia-tdah dapatkan sepucuk surat rahasia Itu adalah suratnya Soh Tjie Tjiauw dan Ouw It Gok dengan mana Bong Eng Tjin diperintah bokong Keluarga Lioe berbareng memasang mata kepada satu pahlawan Iain yang mendapat suatu tugas. Boe

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Wie berpengalaman luas, ia tahu, di an tar a pah 1 a wan-pah I a wan Boan ada kccurigaan atau kcjclusan, bahwa mereka itu saling intip satu dengan lain. Itu ada suatu tipu daya dari si Raja Boan, untuk dia bisa kcndalikan semua pahlawannya. Dan ini adalah suatu rahasia dari Eng Tjin. Mukanya Bong Eng Tjin jadi guram, ia percaya betul obrolannya Boe Wie. Saudara yang baik, terima kasih untuk keterangan kau ini! katanya akhirnya. Baiklah, kau dengar aku! Kau bilang Keluarga Soh dan soesiokmu ada seperti saudara angkat! Oh, Sahabat, itu dugaan yang meleset sangat jauh! Keluarga itu sengaja tempel soesiokmu supaya dengan begitu, soesiokmu jadi renggang perhubungannya sama kaum Kang-otfw. Soesiokmu niat ajak gurumu, hal itu tidak disetujui sama Keluarga Soh, akan tetapi belakangan, keluarga itu tukar sikap, maka ia lantas menyetujuinya. Keluarga itu tidak takut, asal gurumu hendak lakukan suatu apa, yang tidak baik untuk mereka, dengan lantas gurumu tak akan lolos dari gcnggaman tangan mereka! Kelihatannya, kau dan soesiokmu, telah digunai juga oleh Keluarga Soh, apabila itu benar, aku juga hendak nasihati kepada kau or-ang untuk waspada! Dari berjongkok, Boe Wie berlompat bangun setelah mendengar keterangan orang itu. Ia bersenyum ewah. Terima kasih untuk keteranganmu! Terima kasih untuk nasihatmu! katanya, yang kembali dekati jago tua itu, akan dengan tiba-tiba totok tubuh orang dengan jeriji tangannya, atas mana, Bong Eng Tjin segera bergulingan mampet jalan napasnya. Akan tetapi, walaupun demikian, mukanya masih hunjuk senyuman iblis. Boe Wie telah berikan orang totokan Djie-khie-hiat yang liehay, yang mcminta korban jiwa, sesudah mana, ia panggil saudara-saudaranya, akan urus mayat musuh itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Segera Boe Wie beritahukan saudara-saudaranya tentang bahaya yang mengancam guru mereka, di sebelah itu, ia berkuatir buat sepak-teigangnya Tok-koh It Hang, guru setengah itu ia kuatir mereka nanti bergebrak. Kekuatiran lain adalah sang guru nanti kena dijebak oleh Keluarga Soh yang licin dan licik. Perlu aku lekas susul Soehoe, ia menyatakan kemudian. Aku suka ikut, Soeheng, kata Bong Tiap, yang kuatirkan ayahnya. Ia juga ingin bantu soeheng itu, agar si soeheng tidak bersendirian. Perihal ibunya, ia sudah dapat kepastian ibu ini telah menjadi cacat, ia jadi tak usah kuatirkan apa-apa lagi. Berbareng dengan itu, dengan perjalanan ini ia jadi bakal dapat pengalaman. Melihat si nona hendak ikut pergi, Ham Eng juga nyatakan suka turut. Bong Tiap deliki saudara seperguruan itu. Buat apa kau turut? kata dia Baiklah kau diam di rumah untuk temani Ibu! Bukankah Ibu sangat sayangi kau? Kenapa kau tidak hendak kawani Ibu? Ham Eng berdiam tetapi terang ia tidak senang diam di rumah. Boe Wie pandang dua anak muda itu dengan bergantian, segera ia berkata: Baik juga kalau Ham Eng turut! Tentang Socnio, kau jangan kuatir, aku bisa atur! Ia lantas berpaling pada Hie Hong dan kata: Saudara Lauw, aku serahkan Soenio kepada kau! Bukankah kau pernah bilang bahwa kau hendak pergi ke Shoasay pada pamanmu? Kau boleh sekalian ajak Soenio ke sana. Memang pernab Hie Hong menyatakan demikian, karena ia lihat rumah bibinya sudah musnah dan ia kuatir pihak Lo nanti datang untuk menuntut balas, dengan pergi pada Lauw In Eng, adik kandungdari Lioe Toanio, yang sekarangjadi ahfi waris Ban Seng Boen, kekuatirannya bisa diperkurang, karena In Eng ada kenamaan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hie Hong setujui pikirannya Boe Wie. . Baik, Saudara Law, ia nyatakan. Dengan andali golok Ngo-houw Toan-boen-too yang Bibi hadiahkan padaku dan dengan periindungan saudara-saudara sekaumdi sepanjang jalan, aku percaya aku bisa mcngantar dengan tidak kurang suatu apa sampai di Shoasay. Aku suka kawani Saudara Lauw pergi antara Soebo! bcrkata Yo Tjin Kong, yang sadari tadi diam saja. Tapi scbenamya la kuarir Hie Hong tidak sanggup melindungi soenionya itu dan ia ingin sekalian perlihatkan kcpandaian Kaum Thay Kek Pay. Pcngutaraannya Tjin Kong membuat Bong Tiap bertiga jadi girang, hati mcreka menjadi iega. Dcmikian diputuskan, Hie Hong dan Tjin Kong mengiringi Lioe Toanio beristirahat di Shoasay, sedang Law Boe Wie bersama Bong Tiap dan Ham Eng bcrangkai ke Utara. Dua-dua pihak tidak pcrnah menyangka bahwa hampir-hampir ia orang berpisahan untuk tidak bertemu pula. V Ketika hari itu Lioe Kiam Gim bersama keponakan muridnya, Kim Hoa, berangkat ke Utara, mereka tokukan perjalanan cepat sekali. Selang belasan hari, dengan tidak tampak suatu halangan, mereka telah sampai di Poo-teng. Sesudah lewat dua puluh tahun lebih, kelihatan Kota Poo-teng jadi berubah: adajalan-jalan yang lebih ramai, adajalan-jalan yang jadi lebih sunyi. Ada sahabatsahabatnya guru silat ini, yang sudah tidak berada Iagi di kota itu. Scgala apa telah berubah, kecuali sewenang-wenangnya bangsa Ouw kata Lioe Kiam Gim sambi 1 menghela napas, seraya urut-urut kumisnya. Dan ketika ia berhadapan sama

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kiam Beng, ia sampai tidak lantas dapat mcngucapkan katakata hanya air matanya menetes jatuh. Soetee, apa kau ada baik? dcmikian pcrkatannya yang ringkas sekali ketika kemudian ia bisa juga buka mulutnya. Ia ada sangat terharu. Teng Kiam Beng ada bcroman sangat kucel, tidak tampak sifat jumawanya, mirip dengan seorang habis sakit, atau seperti ayam jago pecundang. Terang dia likat menemui saudara seperguruannya ini. Kau kcnapa, Soetee? kemudian Kiam Gim tanya pula. Apakah kau tidak terluka? Ditanya demikian, sepasang matanya Kiam Beng bcrsinar dengan tiba-tiba. Soeheng, katanya, walaupun orang telah rusaki nama Thay Kek Pay, akan tetapi dengan kepandaian yang aku punyakan, tidaklah gampang-gampang untuk orang cclakai aku, hanya sayang, bendera Thay Kek Kie, orang telah cabut! Kiam Beng masih bclum insyaf bahwa orang tidak niat lukai dia, bahwa iahendakdigoda saja, diganggu. Lioe Kiam Gim menghela napas. Soetee, katanya, bukan aku hendak membangkitbangkit, tetapi coba dulu dengar perkataanku, tidak nanti sampai terjadi seperti ini. Dengan bersahabat dengan Keluarga Soh, bukankah kau jadi seperti cari pusing sendiri? Benar kau melindungi upeti akan tetapi aku percaya, orang melainkan tidak puas dan karenanya orang hendak coba-coba padamu! la tidak mau menyesali terlebih jauh, karena mereka sudah sama-sama berusia lima puluh tahun lebih. Maka ia tambahkan: Soetee, aku menyesal dahulu kita berpisahan, karena diantara kita terbit perbedaan faham.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sekarang aku datang untuk mencari jalan perdamaian, guna lenyapkan ketegangan. Kiam Beng jengah, akan tetapi ia kata: Soeheng benar, akan tetapi di sebelah itu, aku telah terima budinya pihak Soh. Coba dulu sewaktu terluka senjata rahasia beracun tidak ada dia yang tolong obati aku, pasti sekarang lukaku itu tidak dapat dikcmbalikan. Menjadi manusia, orang mesti bisa bedakan kebaikan dari kejahatan, karena orang telah tolong aku, mana bisa aku tidak balas bantu padanya? Selama dua puluh tahun, pihak Soh tidak pernah berbuat tak selayaknya terhadap aku, hanya siapa tahu, sekarang telah terjadi ini gangguan kepadaku! Menampak orang tidak mau akui semua kekeliruannya, Kiam Gim tidak mau mendesak lebih jauh, ia hanya minta adik seperguruanttu tuturkan duduknya kejadian. Kiam Beng tidak mau menuturkan dengan jelas, ia bilang saja bahwa ia sudah dibegal di tempat tiga puluh lie di luar Kota Hee-poan-shia di Djiat-hoo, bahwa begalnya ada seorang rua yang bicara dengan lidah Liauw-tong, kepandaian siapa tidak tercela tetapi tidak diketahui dari golongan mana. Kiam Gim terima keterangan itu sambil bersenyum. la tahu baik perangainya soetee ini, yang angkuh, yang suka bicara banyak dalam hal kepuasan tetapi tak mau banyak omong dalam hal kegagalan. tetapi karena urusan ini ia anggap penting,ia toh masih menanyakan melit tentang kepandaiannya si orang tua, bagaimana gerak-gerakannya. Apabilasang soetee telah jelaskan. pihak lawan hanya menggunai tangan kosong, akhimya soeheng mi berkata: Itu adalah ilmu silat bahagian dalam dan luar yang telah tergabung menjadi satu, adalah tenaga Siauw-thian-seng atau Bintang Kecil yang dipergunakan untuk singkirkan segala seranganrnu. Kepandaian itu mirip dengan Sha-tjap-lak-tjhioe Kim-na-hoat dari Golongan Eng Djiauw Boen Bicara tentang Kaum Eng Djiauw Boen, di Hoolam ada Tang Kie Eng dan d,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hoo pa kada Hek Eng Ho- Di Liauw-tong, tidak pernah aku dengar ada or-ang yang paham kim-na-hoat. Aku kenal Tang Kie Eng dan Hek Eng Ho, aku pemah berunding dengan mereka, aku tahu benar, kepandaian mereka berimbang sama kepandaian kita, tapi sekarang ada orang yang melebihkan Soetee, dia mesti ada orang luar biasa dari Eng Djiauw Boen. Dia ada satu lawan yang tangguh, Soetee, tetapi walaupun demikian, tidak usah kita jadi gentar. Kiam Gim percaya, apabila ia berhadapan sama lawannya Kiam Beng, umpamanya ia tidak bisa peroieh kemenangan, i a toh tidak nanti sampai kena dikaiahkan. Tapi, mendengar pcngutaraannya itu, ia lihat muka saudaranya jadi pucat, ia mengerti, saudara itu malu, maka ia iekas ubah pcmbicaraannya. Eh, Soetee, bagaimana dengan Tee-hoe? Berapakah anakanakmu? ia tanya. Ditanya begitu, air mukanya Kiam Beng pulih dengan cepat. Isteriku telah meninggal dunia sejak beberapa tahun yang lata, ia menyahut. Kita orang terpisah terlalu jauh, hingga aku tidak dapat kesempatan untuk mengabarkan kau, Soeheng. Tiba-tiba, air mukanya kerabali berubah, agaknya ia sangat berduka Anakku melainkan satu, ia sekarang telah pergi mencari jaiannya sendiri. Soeheng, ketika kita orang berpisah, anak itu sudah bisa memanggil peh-hoe kepadamu. Selama dua puluh tahun, aku cuma dapati ia seorang, tetapi sekarang, entah dia ada di mana, Kiam Gim heran. Setelah satu anak menjadi dewasa, kita yang menjadi ayah-bunda tidak ketahui lagi cita-citanya, ia menyahut. Di waktu kecilnya, Hiauw ada dengar kata, akan tetapi tambah tinggi usianya, tambah berubah perangainya. Pada suatu hari ia meninggalkan rumah-tangga, ia pergi jauh, tanpa pamitan lagi, ia melainkan meninggalkan sepucuk surat dalam mana ia nyatakan, ia tidak sudi berdiam nganggur di Poo-teng, bahwa ia ingin pergi mencari pengetahuan dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pengalaman. Ia kata ia tak sanggup menungkuli hari-hari yang tawar. Sebenarnya, dalam usia muda, siapa yang tidak ingin terbang merdeka bagaikan burung garuda? Bukankah kita bcrdua, dahulupun ada sangat bersemangat, ingin merantau dan ciptakan nama dalam dunia Sungai-Telaga? Hanya kita orang dapat keluar sesudah dapat perkenan dari guru kita! Tidak demikian dengan Hiauw, tanpa mengucap sepatah kata, ia angkat kakinya! Dia pergi dalam usia dua puluh satu tahun, aku pun sudah tunangkan dia, kepergiannya itu membikin aku berduka. Suaranya Kiam Beng makin lama jadi makin perl ah an, nyata ia terharu scndirinya. Kiam Gim bisa mengarti kesukarannya soetee ini sebagai satu ayah, maka itu, ia tidak mau omong terlebih banyak tentang anaknya, ia melainkan menghiburi. Putera dari Teng Kiam Beng ada bernama Teng Hiauw, dia ada lebih tua sepuluh tahun daripada Lioe Bong Tiap, karena ia sudah masuk umur dua puluh enam tahun, Kiam Beng menikah lebih dahulu daripada soehengnya. Teng Hiauw ada berpendapat lain daripada ayahnya. Selagi ia masih kecil, karena ayahnya terpisah dari kaum persilatan lainnya, ia jadi kckurangan kawan, hingga ia jadi kcsepian. Tapi ia tetap kenal beberapa anak muda, dari siapa ia telah dengar tentang persahabatan ayahnya dengan Soh Sian Ie, ia jadi tidak senang terhadap sikap ayahnya itu. Di lain pihak, ia tidak puas dengan putusan ayahnya, yang sudah tunangkan ia dengan gadisnya satu hartawan sedang ia sebenarnya menaruh hati pada cucu percmpuan dari Kiang Ek Hian dari kalangan Bwee Hoa Koen. Mengenai cita-citanya ini, yang terintang, ia jadi makin tidak puas. Maka akhirnya, karena tak dapat bersabar lebih jauh, ia berlalu tanpa perkenan lagi. Ia tidak membutuhkan pesan atau surat perantaraan dari ayahnya lagi, ia hendak merantau dengan andali diri sendiri.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Demikianlah, mengetahui kesukaran hati sang soetee, Kiam Gim kemudian bicarakan soal kedatangannya ini ke Utara. Soetee, tanyanya, sama sekali ada berapa orang kawannya begal itu? Sesudah berhasil dengan perampasannya, karena mereka ada bawa banyak barang, mereka pasti tidak terlalu leluasa dengan kepergiannya, maka itu, apa Soetee tidak dapat cari tahu tentang mereka? Ditanya begitu, Kiam Beng kerutkan sepasang alisnya. Aku menyangka padaTjiong Hay Peng dari Heng Ie Pay! iamenjawab. Aku duga, mereka adalah orang-orang jahat yang dianjur-anjurkan oleh Tjiong Hay Peng! Bukankah Soeheng ketahui, Hay Peng tidak senang terhadap aku? Itu hari, dia sendiri tidak muncul. Si orang tua beriidah Liauw-tong itu cuma berkawan kira-kira sepuluh orang, akan tetapi mereka semua bukannya orang-orang sembarangan, sebagaimana dua guru silat dan dua muridku, yang turut aku, semua kena mereka bikin tidak berdaya. Jangan bicarakan pula tentang pegawai-pegawai negeri yang turut mengiringi. Rupanya Kiam Beng anggap ia sudah angkat terlalu tinggi pada musuhnya, maka bicara sampai di situ, lekas-lekas ia menambahkan, suaranya keras: Walaupun demikian, aku tidak takut pada mereka! Aku telah kuntit mereka itu! Hanya, apa yang aneh, sesudah mengikuti sampai jauhnya seratus lie lebih dari Kota Hee-poan-shia, dengan tiba-tiba mereka lenyap di tempat yang dipanggil Sha-tjap-Iak Kee-tjoe. Kau barangkali tidak ketahui, Soeheng, rumahnya Tjiong Hay Peng justeru bcrada di Sha-tjap-lak Kee-tjoe itu! Kiam Gim perdcngarkan suara Oh! tetapi ia terus tutup mulut. Kiam Beng tidak puas melihat sikapnya soeheng mi. Kau lihat, Soeheng, ia tanya,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

apa yang mcncurigai dalam hal ini? Jadinya kau telah sangka Tjiong Hay Peng, soeheng itu jawab. Sctelah itu, kau pcrnah atau tidak pergi padanya, untuk menanyakan? Kenapa tidak, Soeheng? sang soetee jawab. Aku telah kunjungi padanya, tetapi ia tidak sudi menemui aku, ia kata, seumur hidupnya, ia tidak suka berteman sama pegawai negeri! Sepasang alisnya Kiam Gim bergerak apabila ia telah dengar keterangan itu. Habis, ada atau tidak kau pcrnah ben tahukan pembesar negeri tcntang sangkaan kau itu? ia tanya. Air mukanya Kiam Beng berubah pula untuk kesekian kalinya. Ah, Soeheng, mengapa kau pun lihat begini macam padaku? tanyanya. Biarpun aku bodoh. aku bukannya satu siauwdjin! Umpama kata benar pembegalan itu telah dilakukan oleh Tjiong Hay Peng, aku punya pedang dan piauw untuk memaksa minta pulang barang-barang upeti itu! Atau sedikitnya aku undang sahabat-sahabat dari Rimba Persilatan guna memutuskan siapa yang bersalah, siapa yang benar. Di dalam halnya kita kaum Rimba Persilatan, bukankah kita punya tata kehormatan sendiri? Maka itu, tidak I ah perlu digunainya pengaruh pembesar negeri! Kau keiiru, Soetee, Kiam Gim kata dengan cepat. Sama sekali aku tidak pandang rendah padamu. Aku cuma tanya padamu. Aku justeru kuatirkan pembesar negeri campur tahu urusan ini karena yang tersangkut adalah barang-barang upeti. Kau benar, Soetee, dalam urusan kita kaum Rimba Persilatan, pembesar negeri tidak perlu campur tahu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hatinya Lioe Loo-kauwsoe menjadi lega sekali, scdang tadinya ia kuatir, karena kesesatan di satu waktu, soetee itu nanti seret tangannya pangreh praja. Sekarang temyata, soetee itu masih punyakan kehormatannya, dia cuma dipengaruhi oleh keangkuhannya. Lantas soeheng ini berpikir, ia angkat tangannya kejidatnya. Soetee, katanya kemudian, kau telah curigai Tjiong Hay Peng, terutama karena kejadian ada di tempat yang termasuk kalangan pengaruhnya, karena itu sangkaan kita benar atau tidak dia harus dikunjungi. Siapa tahu, di sana kita justeru akan peroleh keterangan. Sekarang begini saja. Besok mari kita pergi ke Djiat-hoo, dengan andali mukaku, aku percaya dia tidak akan tidak terima padaku. Kiam Gim urut-urut kumisnya, ia menambahkan dengan cepat: Soetee, demikian katanya, kau antar upeti, kau bakal lewat di kalangan pengaruhnya Tjiong Hay Peng, seharusnya, sebelumnya itu, kau mesti kirim salah satu muridmu pergi membawa karcis nama padanya. Dengan jalan ini, kita sudah tidak berlaku tidak hormat. Kau sebaliknya kunjungi dia sesudahnya kejadian, bisa mengerti yang dia merasa kurang puas. Soetee tentu lebih mengerti daripada aku, siapa merantau, dia paling dulu mesti utamakan tata kehormatan, siapa melulu andali boegee, itulah keliru. Kiam Beng jengah, tetapi ia toh menyahut: Meskipun demikian, katanya, pada mulanya aku tidak berniat berlaku demikian. Begitulah dipastikan, besok soeheng dan soetee itu bakal pergi ke Djiat-hoo. Pada itu malam, ada datang orangnya Keluarga Soh, yang menanyakan, perlu atau tidak pihak Soh kirim orang untuk

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pergi bersama. Entah bagaimana caranya, Keluarga Soh itu sudah lantas saja ketahui niat keberangkatannya orang itu. Di sebelah itu, wakil itu pun undang Lioe Kiam Gim untuk satu perjamuan. Kiam Gim dengan lantas wakilkan soeteenya tampik itu tawaran bantuan dan undangan juga. Tapi ia bicara dengan manis serta jelaskan, dalam urusan di kalangannya Kang-ouw, kepergiannya banyak orang adalah tidak perlu. Ia mengucap terima kasih atas undangan itu. Bantuan pihak Soh ditolak, tetapi dua guru silat, yang dulu tunrt Kiam Beng dan mendapat luka juga, mendesak mohon diajak. Sebelumnya menerima baik, Kiam Gim cari tahu dulu tentang mereka itu, yang kemudian ternyata ada Lie Kee Tjoen mnridnya Tjiang Han Tek dari Kaum Ngo Heng Koen dan Hoo Been Yauw muridnya Tjian Djie Sianseng dari Kaum Ouw Tiap Tjiang, dua-dua ada dari pihak golongan kenamaan. Juga murid kedua dan murid ketiga dari Kiam Beng, diajak bersama, sedang Kim Hoa, si murid kepala, ditinggai untuk jaga rumah. Demikian di hari kedua, rombongannya Kiam Gim ini berangkat, Hawa udara di Djiat-hoo beda dengan iklim di Kanglam. Orang keluar dari Selat Hie Hong Kauw, jalan di sepanjang Sungai Loan Hoo, melewati Lo-sie-boen, dari situ menuju ke Hee-poan-shia. Ketika itu ada di bulan ketigadari musim Tjoen. Di waktu demikian di Kanglam, pohon dan bunga sedang segarnya, burung-burung gembira beterbangan, akan tetapi di Kwan-gwa ini, angin dingin sedang membadai, hujan dari salju sedang turunnya, atau kadang-kadang angin keras diseling dengan terbang berhamburannya batu halus atau pasir. Meski juga hawa udara ada demikian buruk, rombongannya Kiam Gim lakukan perjalanan dengan tetap bersemangat. Sesudah melalui perjalanan sepuluh hari iebih, rombongannya Kiam Beng sampai di Hee-poan-shia pada

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

waktu Icwat tengah hari. Coba udara ada terang, dengan iarikan kuda mereka, di maghrib itu, mereka bakal sampai di Sha-tjap-lak Kee-tjoe, ditempat kediamannya Tjiong Hay Peng, akan tetapi mereka tidak berbuat demikian. Dan mereka juga tidak singgah di dalam kota. Mereka hanya jalan terus. dengan perlahan-lahan,sampai di luar kota, di tempat pembegaJan. Di sini baharulah mereka berhenti, untuk Lioe Kiam Gim perhatikan letaknya tempat itu. Itu adalah suatu tanah pegunungan, cabang dari Gunang Yan San, yang banyak pengkolannya, sedang di sampingnya ada aliran Sungai Loan Hoo. Tempat itu merupakan satu selat mirip dengan piring. Di sini, hawa udara agak hangat, salju telah pada lumer. Di kedua tepi ada rimba dengan pepohonan dan rumput, yang daun-daunnya, atau cabangnya, memain dengan sampokan angin, daun dan pasimya pada rontok dan jatuh ke tanah. Di atas kudanya, Kiam Gim memandang ke empat penjuru, sedang Kiam Beng, mengawasi jauh ke depan, air mukanya menjadi merah dan padam bergantian, suatu tanda ia malu dan mendongkol dengan berbareng, karcna teringatlah ia pada saat pembegalan. Sesudah lewat sckian lama, tiba-tiba Kiam Gim tahan kudanya dan sambil menoleh pada adiknya seperguruan, ia berkata: Soetee, kecurigaan kau beralasan! Kiam Beng pun tahan kudanya dengan tiba-tiba, ia mengawasi sambii hunjuk roman heran. Kau lihat apakah, Soeheng? ia tanya. Kiam Gim lantas gerak-geraki tangannya, akan rnenunjuknunjuk. Lihatlah tempat ini, sabut dia. Di Timur, tempat ini menyambung dengan Kota Koan-shia, di Barat dengan Sintek, di Sclatan dengan Liong-hin, dan Utara dengan Pengtjoan. Sin-tek dan Koan-shia adalah kota-kota yang ramai dari Djiat-hoo, maka itu, kawanan begal tak nanti da tang dari

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

arah dua kota itu dan juga tidak akan menyingkir ke arah sana. Kawanan itu Jberlldah Liauw Tong semua, sedang kau orang sendiri datang dari Selatan, dari itu, mereka juga tidak mestinya muncul dari Liong-hin. Jadinya, jalan satu-satunya untuk mereka adalah jalan Utara, yaitu Peng-tjoan. Dan Shatjap-lak Kee-tjoe justeru bcrada di antara Peng-tjoan dan Heepoan-shia. Bukankah kawanan begal benar datang dari sana? Kiam Beng nampaknya gusar. Kalau begitu, Soeheng, katanya, apakah tidak boleh jadi, perbuatan itu ada perbuatannya Tjiong Hay Peng? Jadinya sangkaanku tidak meleset? Kiam Gim berdiam, dia berpikir. Biar bagaimana, aku masih belum mau percaya Tjiong Hay Peng bisa berbuat demikian, ia menjawab kemudian. Hanya, paling sedikitnya, dia mcsti ketahui baik tentang kawanan begal itu. Orang-orang yang tempur kau bukannya orangorang Kang-ouw dari tingkat sembarangan. Kalau benar mereka datang dari arah Sha-tjap-lak Kee-tjoe, tidak ada alasan yang dia tidak mendapat tahu. Mari, Soetee, malam ini juga kita orang mesti sampai di Sha-tjap-lak Kee-tjoe! Di saat rombongan ini hendak cambuk kuda mereka, untuk di larikan, tiba-tiba mereka dengar suara kelenengan yang datangnya dan dalam rimba, suara mana disusul dengan berketoprakannya kaki kuda. Lie Kee Tjoen bersama Teng Kiam Beng dan muridmuridnya menjadi terperanjat, mereka lantas bcrsiap, untuk loncat turun dari kuda, guna hunus senjata mereka masingmasing. Kiam Gim sebaliknya berlaku tabah, ia mencegah. Jangan sembarangan, jangan geraki senjata! katanya, yang goyangi tangan. Hampir berbareng dengan perkataan Lioe Loo-kauwsoe ini, gombolan rumput di muka rimba kelihatan tersingkap, dari situ muncul beberapa orang.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kiam Beng semua mengawasi dengan tajam, mereka siap sedia. Lioe Kiam Gim berlaku tcnang, ia turun dari kudanya, ia lepaskan lesnya, lalu ia bertindak maju, untuk papaki orangorang itu, sedang yang jalan di muka ada seorang yang tubuhnya kekar. Ia ini maju untuk angkat rapat kedua tangannya, buat memberi hormat, seraya terus menegur: Apakah di sini ada Lioe Loo-kauwsoe, Lioe Kiam Gim Sianseng? Suaranya ada terang. Cuma bersangsi sedetik saja, lalu Lioe Kiam Gim membalas hormat. Aku adalah Lioe Kiam Gim yang rendah, ia menyahut. Aku numpang tanya, Saudara-saudara ada urusan apa denganku? Mendengar jawaban itu, rombongan itu lantas loncat turun dari kuda mereka. Kiam Gim mundur satu tindak. sikapnya tetap tenang. Orang itu, dan kawan-kawannya, lantas memberi hormat pula, sambil menjura, menyatakan bahwa mereka hunjuk hormat mereka Mereka sebut dirinya boan-pwee, ialah orang-or-ang yang lebih muda tingkatannya. Kembali Lioe Loo-kauwsoe membalas hormat, dengan tergesa-gesa, seraya menyatakan bahwa ia tidak berani terima kehormatan itu. Selagi ia hendak tanya, siapa adanya mereka dan guru mereka, orang tadi dengan cara sangat menghormat sudah maju akan serahkan sebuah peti kecil yang memuat karcis nama. Guru-kita, Tjiong Hay Peng, mendengar kabar bahwa Lioe Loo-kauwsoe sudah datang, telah utus kita hendak menyambut sambil haturkan hormatnya, demikian pemimpin rombongan itu. Lioe Kiam Gim tidak segera sambuti peti ita, hanya dengan cara yang menghormat sekali. ia Tanya mereka tentang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kewarasannya Tjiong Hay Peng. Dengan mi ia hunjuk bahwa ia mengerti adat-istiadat, sopan-santun. Kemudian baharulah ia sambuti peti itu. Tapi, di saat tangannya diangsurkan untuk menyambuti, dengan tiba-tiba Teng Kiam Beng serukan muridnya yang kedua. yang berbarengpun ia kedipi mata: Kenapa kau tidak lekas wakilkan Soepeh untuk sambut peti itu? Atas itu, belum sempat Kiam Gim menoleh, turut mencegah, sang mu-id. ialah Loei Hong, sudah mencelat ke depaanya, untuk hadapi rombongan utusan, sambil hunjuk separuh-kehormatan, ia ulur kedua tangannya seraya berkata: Aku Loei Hong, murid Thay Kek Pay, dengan ini mewakilkan Soepeh kita menyambuti kehormatan! Utusan itu pandang Loei Hong, tetapi ia serahkan peti kecil itu. Lioe Kiam Gim juga awasi murid soeteenya, ia nampaknya kurang puas. Dalam kalangan Kang-ouw, orang ada sangat hargai adatistiadat. Tjiong Hay Peng kirim karcis nama, utusannya itu pasti ada orangnya dari tingkatan lebih rendah, tetapi meskipun demikian, si utusan toh ada wakilnya Tjiong Hay Peng, dengan Lioe Kiam Gim ada asal satu derajat, sama tingkatannya, sudah seharusnya kalau yang sambut peti kecil itu adalah muridnya Kiam Gim atau orang yang lebih muda tingkatannya. Kalau Kiam Gim yang sambuti sendiri, itu adalah tanda penghormatan luar biasa. Kalau yang sambut ada orang lebih muda, itulah yang dibilang, guru terhadap guru, murid terhadap murid. Kiam Beng tidak inginkan kehormatan luar biasa itu, maka ia suruh muridnya yang menyambuti. Karena ini ada cara menghormat yang pantas, biarpun utusannya Tjiong Hay Peng merasa tidak puas, ia toh tidak bisa bilang suatu apa.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kiam Gim ada seorang yang halus budi bahasanya, ia hendak hunjuk keluhuran mertabatnya, itulah sebabnya kenapa ia tidak puas dengan perbuatan soeteenya, akan tetapi karena soeteenya tidak salah, terutama di muka umum itu, ia tidak mau menegurnya. Ia melainkan tidak puas, di saat dan tempat seperti itu, soetee ini masih saja kukuhi adatperadatan. Iapun tidak bisa cegah Loei Hong, karena kalau ia cegah, ia jadi hunjuk bahwa ia tidak menghargakan soeteenya. Demikian ia mendeluh di dalam hatinya, karena ia mesti hunjuk air muka berseri-seri. Begitulah dengan cara hormat, ia sambuti peti dari Loei Hong, sedang pada sekalian tetamunya tetap dengan cara hormat ia haturkan terima kasih. Sekarang juga kita akan datang mengunjungi! ia tambahkan. Rombongan itu lantas sajajalan di depan, Kiam Gim beramai mengikuti. Di waktu maghrib, mereka sudah I lantas lihat Sha-tjap-lak Kee-tjoe. Selagi berjalan, dengan tiba-tiba Teng Kiam Beng ucapkan beberapa patah perkataan pada Hoo Boen Yauw, guru silatnya dari Kaum Ouw Tiap Tjiang, atas mana orang she Hoo ! itu larikan kudanya keluar kalangan, hingga Lioe Kiam Gim dan orang-orangnya Tjiong Hay Peng pada tahan kuda mereka dan menoleh, Boen Yauw itu hunjuk hormatnya seraya kata: Aku mesti urus suatu apa di kota dusun, silakan Tuan-tuan jalan terus, sebentar aku akan hunjuk hormat belakangan kepada Tjiong Loo-kauwsoe! Lalu, dengan tidak tunggu jawaban lagi, ia larikan kudanya untuk pisahkan diri. Orang berjalan pula, berselang setengah jam, sampailah mereka di. muka rumahnya Tjiong Hay Peng, .Ketua dari Heng Ie Pay. Rumah itu terletak di muka rimba, di depannya ada bukit yang digali dan dipapas, untuk dibikin jadi lapangan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

piranti berlatih silat. Belakang rumah hampir nempel sama rimba. Umpama orang jahat yang tinggal di situ, setiap saat dia bisa lari sembunyi ke dalam rimba. Tidak menunggu sampai di depan rumah sekali, Kiam Gim sudah ajak rombongannya turun dari kuda mereka dan minta supaya kedatangannya itu diwartakan terlebih dahulu, kemudian selagi menantikan, ia tarik tangan bajunya Teng Kiam Beng, untuk dengan roman sungguh-sungguh memesan: Soetee, sebentar di dalam, aku mohon dengan sangat agar kita terlebih dahulu hunjuk kehormatan kita, kita harus bersikap merendah, jangan sekali menuruti nafsu amarah, apabila sampai terbit pula gara-gara tidak diingin, sungguh, aku tidak dapat mengurus terlebih jauh!. Kiam Beng tidak. mengucap sepatah kata, terang ia ada merasa sangat tidak puas berbareng malu. Sementara itu Kiam Gim heran, kenapa Tjiong Hay Peng bisa demikian cepat dapat ketahui kedatangannya, sedang Kiam Beng tidak senang, karena dalam hatinya, ia kata: Ketika aku datang, kau tidak perdulikan aku, tapi sekarang Soeheng datang, kau menyambut dan membaiki secara begini rupa. Ini pun ada salah satu sebab kenapa dia suruh Loei Hong wakilkan Kiam Gim sambuti karcis nama. Selagi itu soeheng dan soetee berpikir masing-masing, pintu rumahnya Tjiong Hay Peng sudah dipentang dan tuan rumah kelihatan muncul dengan tindakannya agak tenang. la pakai baju bulu, nampaknya sabarsekali. Tuan rumah dan tetamunya segera juga bcrdiri berhadapan dan saling member! hormat, kemudian pihak tetamu diundang masuk ke niangan tetania, di mana. sambil berdiri rapi, kelihatan-bcberapa orang, yang tidak salah lagi mcsti muridmurid Heng Ie Pay. Baharu saja orang bcrduduk, satu muridnya Hay Peng muncul dengan satu nenampan batu pualam yang besar. atas

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mana ada sepuiuh cawan yang berukirkan sansoei yang berwama merah. Walaupun muridnya yang membawa nampan untuk menyuguhkan, bukannya si murid yang melakukannya, tetapi Tjiong Hay Peng yang sambuti cawan teh, dan dia sendiri yang mcnyuguhkannya secara biasa, tetapi ketika cawan untuk Kiam Beng dihaturkan, maka terjadilah suatu hai yang hebat. Selagi Tjiong Hay Peng dengan cawan di tangan datang mendekati, Teng Kiam Beng bangkit untuk menyambuti. Mereka berdua tcrpisah satu dari lain jauhnya dua-tiga kaki, dan selagi si tetamu menyambuti sambil merendah, dengan sekonyong-konyong, cawan itu melesat ke tinggi, terus saja pecah sendirinya, dan airnya lantas menyiram arah Teng Kiam Beng punya muka, berbareng dengan mana, menyambar juga pecahannya. Kiam Beng terperanjat bukan main, akan tetapi walaupun ia tidak sepandai soehengnya, ia masih sempat gunai tangan kanannya, untuk menangkis sambil menyampok keras air dan pecahan cawan itu, hingga ia terluput dari serangan gelap itu. Hanya lacur ada Loei Hong, si murid kedua, yang berada di samping, benar ia masih sempat berkelit dari pecahan cawan, tapi air toh mengenai mukanya yang jadi basah! Berbareng dengan kejadian itu, Tjiong Hay Peng hunjuk rupa kaget, sembari lempar ke samping itu nenampan kumala, ia berseru: Ah, ini cawan teh tidak kuat! Aku pun sudah tua, aku kesalahan membuatnya pecah, hingga aku kena bikin kaget tetamuku. Tuan, harap maaf, maafkanaku! Selagi nenampan terlempar, satu muridnya Tjiong Hay Peng bergerak, untuk menyanggapinya, akan tetapi, Lioe Kiam Gim berlaku lebih sebat dari murid itu, dengan berlompat, ia maju akan tanggapi nenampan itu, hingga malah pun sisa delapan cawannya yang lain, tidak turut jatuh, airnya tidak tumpah!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Untuk ini, Lioe Loo-kauwsoe gunai hanya dua jeriji tangannya. Semua cangkir yang indah, kalau sampai rusak, sungguh sayang! katanya. Kemudian, ia wakilkan Tjiong Hay Peng akan haturkan semua teh itu kepada sekalian hadirin. Teng Kiam Beng tidak hunjuk kemurkaan. Ia tahu Tjiong Hay Peng sedang pertontonkan kepandaiannya. la pun telah lihat lirikan soehengnya. Tapi, berbareng dengan itu, ia mesti kagumi lawan punya kepandaian yang liehay. Di lain pihak, Tjiong Hay Peng juga insyaf, jago Thay Kek Pay itu benar-benar tidak boleh dipandang enteng, apapula kepandaian luhur dari Lioe Kiam Gim. Dengan sikapnya yang merendah, Hay Peng mcnghaturkan maaf, akan tetapi diam-diam, ia masih ingin mencoba satu kali lagi. Di antara sinar bulan, yang memain antara cahaya api, Tjiong Hay Peng lantas adakan pertemuan untuk sekalian tetamunya itu. Kiam Beng bersangsi, ia ragu-ragu tuan rumah itu menjamu dengan sungguh-sungguh atau itu adalah semacam pesta Hong Boen. Hay Peng sudah lantas kasih pertunjukan pula. Tadi ia suguhkan teh kepada tetamu-tetamunya, sekarang ia hendak menyuguhkan arak. Tadi ia gunai cangkir yang indah, tetapi sekarang ia pakai tempat arak yang besar dan kasar, ialah guci arak terbuat dari besi yang beratnya dua atau tiga puluh kati. Dan, melewati Lioe Kiam Gim, ia lantas saja menyuguhi pada Teng Kiam Beng. Sebagai alasan, ia bilang, di mana ia sendiri ada Ketua dari Heng Ie Pay, sudah sepantasnya ia hormati dulu Ketua dari Thay Kek Pay. Tapi sebenamya, dengan ini cara, ia hendak menyingkir dari Lioe Loo-kauwsoe. Kiam Beng sudah menduga orang tidak bermaksud baik, ia senantiasa waspada. Ketika tuan rumah dekati ia, ia lantas berbangkit, untuk sambuti arak, tidak tahunya, belum ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berdiri betul, Tjiong Hay Peng sudah dorongkan gucinya dengan arah or-ang punya dada. Guci itu. bersama araknya ada kira-kira lima puluh kati beratnya. Segera ia angkat kedua tangannya, tubuhnya berdiri tegar, kemudian dengan sebelah tangan mencekal mulut guci, ia kata:Jangan seedjie, aku bisa ambil sendiri! Oleh karena ini, guci arak jadi kena ditahan di tengahtengah di antara kedua orang itu, yang dengan diam-diam telah gunai mereka punya tenaga dalam atau khie-kang. Serangan gelap dari Hay Peng ini, apabila tidak sampai membinasakan. akan bikin orang tcrluka hebat di bagian dalam badan dan menjadi tapadakpa. Kiam Beng bisa duga itu, ia sengaja tidak mau terima suguhan, ia hanya tahan mulutnya guci itu. Maka kejadiannya, Hay Peng tidak. bisa menolak, iapun .tidak mau melepaskannya. Karena ini, duadua lantas keluarkan keringat dingin pada jidatnya masingmasing. Pertentangan itu ada hebat Karena kedua pihak sama tangguhnya, lama-lama keduanya akan terluka masing-masing sendirinya, kecuali ada pihak ketiga, yang datang sama tengah. Sudan, kau orang berdua janganlah terlalu seedjie! berkata Lioe Kiam Gim sambii tertawa, seraya ia hampirkan dua orang itu. Soetee, jikalau kau tidak ingin terima suguhannya Tjiong Toako, man kasih aku yang mewakilkannya! Sambii bcrkata begitu, Kiam Gim gunai sepasang sumpirnya, akan jepit tutup guci, dcngan gunai sumpitnya itu, ia buka tutup tersebut, kemudian dengan sebat sekali, ia teruskan jepit lehernya guci itu, hingga guci jadi terlepas dari cekalannya Tjiong Hay Peng, tergantung di antara dua sumpit itu. Kemudian lagi, dengan tangan kiri, ia pakai cawan akan sendok isi guci, akan hirup araknya!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Setelah masing-masing lepaskan tangannya, dua-dua Teng Kiam Beng dan Tjiong Hay Peng mundur sendirinya, dengan limbung, tubuh mereka jatuh duduk di kursinya masingmasing. Kedua-duanya tidak bisa keiuarkan kata-kata! Adalah kemudian, Tjiong Hay Peng berloncat bangun, jempolnya dipertunjuki. Lioe Toako, sungguh kau liehay! ia memuji. Aku harus didenda tiga cawan! Dengan scbenarnya, Tjiong Toako, aku hams kasih selamat pada kau! kata Lioe Kiam Gim sambii tertawa. Ia terus bersikap sewajarnya saja. Dengan agak likat, Tjiong Hay Peng terima tiga cawan. Sampai di situ, mereka lantas mulai pasang omong. Dengan sikapnya yang merendah, Lioe Kiam Gim utarakan maksud kedatangarinya, sebaliknya daripada menyangka Hay Peng, ia mohon tuan mmah suka bantu ia. Ia tanya kalaukalau Ketua Heng Ie Pay itu ketahui siapa orangnya yang sudah uji Teng Kiam Beng. Sesudah keduanya berpisah dua puluh tahun lebih, Tjiong Hay Peng tidak lagi manis budi seperti dulu-dulu, tidak perduli pihak tetamu berlaku demikian ramah-tamah, ia berpura-pura tidak ketahui hal pembegalan itu, ia malah hunjuk roman terperanjat, ia berlaga menghela napas, akan akhirnya, seraya tepuk tangannya, ia berseru: Oh, benar-benar ada terjadi demikian? Ah, kenapa aku tidak dapat tahu? Sikap ini membuat Kiam Gim jadi mclcngak, memang ia tidak pandai bicara. Ah, apakah benar-benar Tjiong Toako tidak ketahui kejadian itu? demikian ia cuma bisa tegaskan. Tjiong Hay Peng tertawa seperti sewajarnya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bukan, melainkan aku tidak pernah memikirnya! demikian jawabannya. Siapa sangka Ketua dari Thay Kek Pay, yang mewariskan tiga rupa kepandaian liehay dari Thay-kek Teng, Teng Kiam Beng yang namanya menggetarkan dunia Kangouw, ialah Teng Toako, telah kena dipermainkan oleh satu tua bangka! Malah tua bangka itu cuma gunai tangan kosong yang berdaging melulu! Kiam Beng jadi sangat gusar, sampai ia tak dapat kendalikan pula dinnya. Ia gedruki cangkir araknya seraya kata dengan nyaring: Ya, aku Teng Kiam Bcng belajar silat tidak sempurna, sampai orang telah kena pecundangi! Habis, kau mau apa? Tapi kau sendiri, Tjiong Toako, kau Ketua dari Heng Ie Pay, yang pandai ilmu pedang Boe-kek-kiam, dalam Rimba Persilatan kenapa toh ada orang Kang-ouw, yang lewat di sini, orang itu sudah tidak lakukan kunjungan kehormatan kepadamu, malah dia berani lakukan kejahatan di dalam daerah pengaruhmu ini? Kenapa dia bisa mondarmandir dengan merdeka? Kenapa orang tidak pandang mata sama sekali kepada Tjiong Toako? Tjiong Hay Peng tidak gusar, sebaliknya, ia tertawa tawar. Begitu, Teng Toako, kau pikir? ia tanya. Tapi aku tidak merasa hilang muka! Dengan kepandaianku yang tidak berarti, aku hanya dapat nama kosong belaka. Dengan kegagahan, aku tidak bisa menindih orang, dengan kebijaksanaan, aku tidak mampu bikin orang tunduk, maka adalah selayaknya saja apabila orang tak lihat mata padaku! Hanya kalau sampai Teng Toako sendiri orang tidak pandang, hingga orang berani tangkap kutu di kepala harimau, ah, inilah, sungguh, aku tidak bisa bilang suatu apa! Kembali Teng Kiam Beng kena tersindir. Sebelum suasana menjadi lebih hebat, Kiam Gim sudah lantas berbangkit, menghadapi tuan mmah, ia menjura, hingga Hay Peng dengan tersipu-sipu mesti balas hormatnya itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tjiong Toako, berkata Lioe Loo-kauwsoe, dengan suaranya yang sabar, kita ada orang-orang yang sudah berusia hampir enam puluh tahun, kita ada saudara-saudara dari bebcrapa puluh tahun, maka itu, ada berapakah orang yang hidup scumur kita ini? Dari itu umpama kita tidak ingat sesama orang Rimba Persilatan, kita toh harus ingat persahabatan kita dari bebcrapa puluh tahun itu. Toako, kalau ada ganjalan sesuatu, sehamsnya itu dikasih lewat, tidak seharusnya kita orang bersikap sebagai sesama orang-orang asing. Toako, aku percaya kau, aku percaya, kau tidak ketahui suatu apa mengenai itu pembegalan. Akan tetapi, di samping itu, aku hendak mohon kau bantu sedikit kepadaku. Kau ada penduduk sini, kau berkenalan luas, aku minta kau suka capaikan hati akan turut dengar-dengar, siapakah yang telah lakukan perbuatan itu. Tidak perduli orang itu ada tertua dari golongan mana, akan tetapi kita hanya hendak tanya, perbuatan apa yang kelini dari kita, untuk setelah itu, kita orang menghaturkan maaf agar perkara dapat dibikin habis. Jikalau tetap kita tidak ketahui kekeliruan kita, umpama kita tnesti binasa, sungguh kita tak tahu suatu apa, kita bakal binasa secara kecewa . Tjiong Hay Peng kena dibikin tergerak hatinya oleh perkatannya orang she Lioe ini, sikap siapa ada merendah tetapi pun sungguh-sungguh, malah ada bersifatkeras. la insyaf. jikalau ia tidak ubah haluan, urusan bisa jadi kacau. Ia pun mengerti, tidak dapat ia terus bcrpura-pura tidak ketahui tentang pembcgalan itu, yang di kalangan Kang-ouw sudah jadi buah pembicaraan. Benar dcngan Teng Kiam Beng iamengganjal hati, tetapi dengan Lioe Kiam Gim ia ada bersahabat kekal, hingga sedikitnya ia hams memandang ,mata pada sahabat ini. Satu hal masih ia sangsikan, yaitu sesudah berpisah dua puluh tahun lebih, ia tidak tahu, Kiam Gim ada bersatu haluan dengan Kiam Beng atau mereka dua saudara seperguruan masih tetap berlainan paham. Tentang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kiam Beng, ia tahu benar, dia ini masih tetap berada di pihak pembesar negeri. Dengan sebenarnya aku tidak tahu siapa itu orang yang telah iawan Teng Toako, akhirnya ia menjawab. Satu hal aku bisa terangkan, di Liauw-tong ada beberapa orang kenamaan yang ingm bertemu sama Lioe Toako dan bertjita-tjita main-main dengan Teng Toako. Karena or-ang bicara dengan lidah Liauw-tong, baiklah Toako tanyakan beberapa tetua dari Liauw-tong itu, pastilah Toako akan peroleh keterangan. Kiam Gim heran kenapa ada or-ang Liauw-tong, yang hendak bikin pertemuan dengan ia, walaupun demikian, ia tidak jerih. Tidak berani aku menerimanya, apabila ada beberapa tetua itu menghendaki menemui aku, kata ia dengan merendah, akan tetapi, karena mereka ada bercita-cita demikian, umpama kata mereka tidak sampai datang padaku, sudah pasti sekali aku sendiri akan kunjungi mereka. Tjiong Toako, tolong kau tetapkan suatu hari untuk aku berk unj ung kepada mereka. Habis berkata begitu, Lioe Kiam Gim berbangkit, untuk segara pamitan. Tunggu dulu, Toako! mencegah Tjiong Hay Peng, romannya sibuk. Sudah dua puluh tahun kita orang tidak bertemu, dan kau pun datang dari tempat yang jauh sekali, cara bagaimana Toako hendak kembali secara tergesa-gesa begini? Apakah Toako ccla gubukku buruk hingga tidak surup untuk menyambut Toako? Biar bagaimana, aku mohon Toako suka berdiam padaku untuk beberapa hari. Dua kali Kiam Beng merasa terhina, karena itu, ia tak dapat singkirkan kemendongkolannya, makajuga, sebelumsaudaranyajawab tuan rumah, ia mendahului pamitan. Ia kata: Terima kasih untuk kebaikan kau, Tjiong Toako. Di

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sha-tjap-lak Kee-tjoe ini aku ada beberapa sahabat, karena kita memangnya sudah bersiap, menyesal aku tidak bisa berdiam di sini, atau kalau tidak, aku jadi mcnsia-siakan sahabatku itu. Sampai lain hari saja, kalau itu beberapa tetua dari Liauw-tong sudah sampai, aku nanti datang pula bersama-sama soehengku ini! Setelah kata begitu, Kiam Beng pakai mantelnya, terus ia bertindak keluar, rombongannya turut sikapnya itu. Jikalau demikian, aku tak dapat menahan lagi kepada kau orang, kata Tjiong Hay Peng yang berbangkit, untuk antar sekalian tetamunya itu, tetapi ketika mereka sampai di pintu, kembali ia uji kepandaian orang, ialah selagi menjura, untuk memberi selamat jalan, ia gunai tenaga tangannya, yang anginnya menyambar dengan keras. Kiam Beng balas menjura seraya iapun gunai kepandaian dari Thay Kek, untuk tangkis itu serangan gelap, hingga Hay Peng tak dapat berbuat apa-apa; hanya terang, kepandaian mereka berdua ada berimbang. Seberlalunya dari rumah Keluarga Tjiong itu, Kiam Gim semua menuju ke pasar, ke rumah penginapan, yang tadi Kiam Beng suruh Boe-soe Hoo, Boen Yauw dari Ouw Tiap Tjiang pergi urus siang-siang. Selama di tengah jalan, Kiam Beng masih saja mendongkol, hingga ia menggerutu dan caci Tjiong Hay Peng. Kiam Gim sebaliknya, berdiam saja, ia berlaku tenang sekali. Hanya, ketika mereka mendekati pasar, atau dusun, tiba-tiba ia berbalik dan kata pada saudaranya itu: Soetee, pergilah duluan ke rumah penginapan, aku ada punya suatu urusan! Kiam Beng tanya, soeheng itu ada mempunyai urusan apa, ia nyatakan suka ikut. Untuk ini aku tidak bisa berjalan bersama-sama kau, Kiam Gim bilang. Kau jangan kuatir, urusan ini akan ada baiknya untuk kau!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Setelah kata begitu, Kiam Gim loncat turun dari kudanya, terus saja ia berlari-lari, hingga ia lenyap dari pemandangan saudaranya sekalian, lenyap dalam sang malam. Nyata Kiam Gim hendak kembali ke Sha-tjap-lak Kee-tjoe, akan menemui sendiri pada Tjiong Hay Peng. Ia insyaf, urusan tidak ada sedemikian sederhanaseperti tapikir pada mulanya. Ia percaya, di situ mesti ada salah faham, terutama mengenai soeteenya. la dapat kenyataan, Kiam Beng tetap masih suka bercampur sama pembesar negeri dan tabiatnya tetap keras, adatnya tinggi dan suka diangkat-angkat, hingga karenanya, tindakannya sembrono Di sebelah itu, soetee ini belum sampai berkhianat terhadap kaum Kang-ouw, dan tidak kandung niatan menghamba pada Kcrajaan Tjeng. Oleh karena itu, ia anggap perlu ia ketemui sendiri pada Tjiong Hay Peng, untuk peroleh pengertian satu dengan lain, akan lenyapkan salah paham. Dcmikian, dengan gunai ilmu lari yang keras. dengan yaheng-soet, ilmu lari di waktu malam, ia kembali ke rumahnya Ketua dari Heng le Pay. Ia sampai dengan cepat. Selagi ia mendekati jalanan gunung, yang tinggi di kiri dan di kanan, yang bergunduk-gundukan dan banyak pepohonannya, tiba-tiba ia tampak berkelebatnya dua bayangan di sebelah kanan, disusul sama suara tertawa dingin. Ia segera berhentikan Itindakannya, ia mengawasi. Dalam gelap-gulita, ia tidak lihat suatu apa. Hanya kemudian, ia kembali dengar beberapa kali tertawa dingin, tertawa menghina. Besar nyalinya. dan dengan tidak perdulikan pantangan kaum Kang-ouw, bertemu rimba tak boleh lancang memasukinya, Kiam Gim tekuk kedua lututnya, untuk melompat kedepan, akan mencelat masuk ke tempat pepohonan itu. Ia bersikap Liong heng tjoan tjiang, bagaikan naga saja, tangan kanan di depan, tangan kiri di dada.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sembari berlompat, iapun berseru: Sahabat siapa main-main di sini? Dengan main sembunyi-sembunyi, apakah artinya itu? Benar selagi tubuhnyajago Thay Kek Pay ini mencelat, dari kiri dan kanan, dengan sekonyong-konyong, ada menyambar masing-masing sebatangioya, yang anginnya sampai menerbitkan suara menderu-deru. Ia tidak kaget, hatinya tidak terkesiap. Dengan loncat terus, ia lolos dari kemplangan itu, tapi begitu lewat, ia tahan tubuhnya, ia berputar diri. Sebaliknya kedua penyerang, yang menyerang secara sangat hebat, menjerunuk tubuhnya ke depan, toya mereka masingmasing mengenai tempat kosong. Justeru itu, sebat luar biasa, Kiam Gim menyapu kepada dua orang itu, hingga dengan saling susul, mereka itu rubuh dengan tubuh terpelanting, hingga mata mereka jadi berkunang-kunang, kepala mereka pusing, hingga untuk sedetik, mereka tak mampu bcrbangkit. Sampai di situ, Kiam Gim mengawasi dengan tak maju lebih jauh. Ada permusuhan apa di antara aku si orang she Lioe dengan Tuan-tuan berdua hingga Tuan-tuan, di waktu malam gelap begini, sudah memegat dan membokong kepadaku? tanya ia dengan sabar. Aku ingin sekali belajar kenal dengan Tuan-tuan. Belum dua orang itu menyahuti, atau dari dalam pepohonan terdengar suara tertawa bergelak-gelak yang disusul dengan kata-kata: Jangan gusar, Lioe Loo-enghiong! Duabocah ini hendak menemui orang yang tertua, apabila mereka tidak ambil sikapnya, cara bagaimana mereka dapat terima pengajaran dari kau? Mereka pun tidak sampai mengganggu walaupun selembar rambut Loo-enghiong!. Itu adalah suara dengan lidah Liauw-tong, yang Kiam Gim kenali dengan baik, maka itu, segera ia memandang ke arah pepohonan dari mana suara datang. Ia tidak usah menantikan lama akan tampak munculnya dua orang tua dengan rambut dan kumis-jenggot ubanan. Cahaya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

lemah dari rembulan dan banyak bintang membuat jago tua ini bisa melihat jauh terlebih tegas. Demikian ia lihat nyata, orang tua yang satu berbaju biru dan gerombongan, yang kedua romannya keren, tinggi tubuhnya enam kaki, mukanya bersemu merah, pakaiannya serupa, kumis-jenggotnya panjang, matanya tajam. Lekas sekali, jago Thay Kek Pay ini tekapi kedua tangannya. Djiewie Soehoe, bukankah kau orang ada orang-orang yang pada bulan yang lalu telah memberikan ajaran kepada soeteeku? Djiewie, terimalah hormatnya Lioe Kiam Gim! Dan jago ini hunjuk hormatnya. Di sini tidak ada bicara tentang soeheng dan soetee! sahut si orang tua yang mukanya bersemu merah. Kita melainkan mohon terima pengajaran dari Lioe Looenghiong buat dua atau tiga gebrak saja! Dalam hatinya, Kiam Gim ada mendongkol sekali. Kenapa orang ada begini kasar? Kenapa, tanpa sebab dan alasan, orang berniat menghajar kalang-kabutan pada satu kuali bubur? Akan tetapi, ia atasi dirinya sendiri. Kebisaanku si orang she Lioe ada tidak berarti, bagaikan sinar kunang-kunang saja, mana aku berani terima pengajaran dari satu ahli? kata ia. Aku si orang she Lioe belum pernah bertemu dengan Djiewie, dari itu, entah kapan dan di mana pernah aku berlaku tidak selayaknya kepada Djiewie? Orang tua muka merah itu tertawa berkakakan. Lioe Loo-enghiong terlalu merendahkandiri! berkataia. Kita memohon pengajaran dengan sungguh-sungguh, untuk berlatih, samasekalikitatidakkandungmaksud jahat! Suddh lama kita dengar hal boegee dari Thay Kek Teng serta tiga rupa kepandaiannya yang| menggetarkan Rimba Persilatan, di luar dugaan kita, nama Ketua dari kaummu itu ada

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

namakosong belaka, makaitu, tidak dapat tidak, kita harus mohon pengajaran dari kau sendiri, Lioe Loo-enghiong! Mencoba-coba kepandaian di kalangan Kang-ouw atau Rimba Persilatan ada hal umum, hanya cara dua orang ini adalah terlalu mendadakan dan mereka juga tidak pakai aturan yang biasa, mereka bcrlaku kasar, dari itu, justeru di sini ada mengenai nama baik guru atau rumah perguruannya, Kiam Gim bersedia untuk mengiringi. la insyaf bahwa ia lagi hadapi orang pandai tetapi ia tidak jerih. Jikalau Djiewie memaksa hendak mcmbcri pengajaran kepadaku, baiklah, aku si orang she Lioe bersedia untuk menemani, kata ia dengan nyaring. Salah satu yang mana akan maju terlcbih dahulu atau Djiewie akan maju dua-dua dengan berbareng? Si orang tua muka merah melirik dengan tajam. ia tertawa terbahak-bahak. Nyata Lioe Loo-enghiong terlalu memandang orang enteng sekali! ia kata. Rita dua saudara walaupun bodoh tetapi baharu dua-tiga gcbrak masih bisa juga melayani. Dua orang itu adalah Pek-djiauw Sin Eng Tok-koh It Hang serta In Tiong Kie, Ketua dari PieSioe Hwee, Kumpulan Pisau Belati. Jadi dugaannya Law Boe Wie adalah tidak keliru, adalah Tok-koh It Hang yang dengan tangan kosong telah uji Teng Kiam Beng, untuk punahkan tiga rupa ilmu kepandaiannya. Akan tetapi kedatangan mereka ke Djiat-hoo ini bukan melulu untuk coba Teng Kiam Beng, mereka sekalian niat ikat tali persahabatan dengan kaum Rimba Persilatan di Kwan-Iwee (Tionggoan). Sudah sejak lama mereka kagumi Lioe Kiam Gim, hanya mereka belum tahu, orang she Lioe ini ada bertabiat sama atau tidak dengan Teng Kiam Beng, dari itu, merekaingin mencoba-coba juga, terutama Tok-koh It Hang yang selama beberapa puluh tafiun belum pemah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ketemu tandingan, sekarang ia ingin uji Kiam Gim untuk sekalian bersahabat dengannya, asal Kiam Gim beda daripada Kiam Beng. Dengan scnjata mereka memegat di tengah jalan itu. Tok-koh It Hang ingin mencoba terlebih dahulu, akan tetapi In Tiong Kie pegat ia. Toako, tinggallah kau di belakang, kata ketua Pie Sioe Hwee ini. Biar siauwtee maju lebih dahulu, apabila akan gagal, baharulah kau sambungi aku. Setelah mengucap demikian, tanpa tunggu jawaban lagi, si Keanehan-dalam-Awan segera mendahului lompatmaju ke depannyaKiam Gim, dengan tekap kedua tangannya, ia memberi hormat. Lioe Loo-enghiong, kita cuma ingin berlatih, maka itu, apabila terjadi siapa kalah dan siapa mcnang, biar kita sambut itu dengan tertawa, jangan kita orang buat pikiran! ia kata. Lioe Kiam Gim balas hormat itu. Djiewie ada baik sekali hendak memberikan pengajaran kepadaku, terang Djiewie ada sahabat-sahabat baik, sahut ia dengan merendah, oleh karena kita bukan bertempur untuk mati atau hidup, memang menang atau kalah bukanlah soal. Bukankah bunga merah dan daun hijau asal ubi teratai putih dan tiga agama pokoknya satu? Kita ada or-ang-orang Rimba Persilatan, cara bagaimana kita orang tidak bersahabat? Nah, Sahabat baik, silakan kau mulai lebih dahulu! In Tiong Kie tidak bilang suatu I apa, setelah berdiam sesaat, tiba-tiba dari pinggangnya, iatarik keluar suatu penda yang melibat pinggangnya itu, dan di antara sambaran angin, benda itu memperlihatkan diri sebagai cambuk Kauw-kin Hong-liong-pian. Itu adalah rotan keluaran Timur-utara yang ulet, yang dilibat dengan urat-urat ular, hingga bisa digunai

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sebagai cambuk dan ruyung berbareng untuk melibat golok atau pedang lawan. Baharu sekarang ia kata, sambil tertawa haha-hihi: Sudah lama aku dengar liehaynya Thay Kek Tjapsha-kiam, sekarang dengan tidak tahu tenaga sendiri, aku ingin Lioe Loo-enghiong ajarkan aku barang satu atau dua jurus! In Tiong Kie tidak liehay bersilat tangan kosong, barusan pun ia saksikan sendiri, dalam satu gebrak saja, Lioe Kiam Gim telah rubuhkan dua muridnya Tok-koh It Hang, dari itu untuk tidak mendapat malu, ia ingin adu senjata; biamya ia tahu, ilmu pedangnya lawan ada kesohor akan tetapi ia andali betul senjatanya sendiri yang istimewa, yang ia telah yakinkan beberapa puluh tahun lamanya. Ia percaya, umpama kata ia tak peroleh kemenangan, tidak nanti sampai ia kena dikalahkan. Kiam Gim tidak terperanjat melihat orang kehiarkan ruyung atau cambuk istimewa itu, setelah dengar ia ditantang untuk gunai pedang; lantas saja ia bersenyum. Terus ia bilang: Sudah beberapa puluh tahun aku tidak berlatih lagi dengan golok atau pedang, aku jadi sangat asing dengan semua senjata itu, dari itu biarlah dengan sepasang tanganku yang berdaging ini, aku main-main dengan kau, Loo-soehoe. Hanya lebih dahulu aku ingin minta, sukalah kau mengalah sedikit, oleh karena tulang-tulangku taktahan dengan pemukul. Silakan, silakan! Eh, kenapa kau tidak lantas mulai? In Tiong Kie berdiam, dengan hati yang panas. Segera ia simpan cambuknya. Lioe Loo-enghiong, kenapa kau begini tidak pandang mata pada or-ang? tanya ia dengan suara keras. Kiam Gim tidak lantas menjawab, ia hanya bersenyum pula. Mana, mana aku berani tak memandang mata kepada kau, Loo-soehoe? kata ia, dengan sangat merendah. Harap Loosoehoe ketahui baik-baik bahwa sesuatu or-ang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mempunyai senjata kesukaannya sendiri! Loosoehoe mempunyai cambukmu, aku punya sepasang tanganku ini, soeteeku, Tjiang-boen-djin dari Thay Kek Boen dari Keluarga Teng, telah dirubuhkan Tuan-tuan dengan tangan kosong, dari itu sekarang aku mengharap pengajaran dengan tangan kosong jugaJ Diam-diam hatinya In Tiong Kie tergetar. Secara begini, terang Lioe Kiam Gim tidak dapat dipersalahkan, karcna dia hendak mcmul ihkan muka soeteenya yang orang rubuhkan dengan tangan kosong. Dengan itu cara orang jatuhkan pamomya Thay Kek Pay, dengan itu cara j uga, nama Thay Kek Pay hendak diangkat kembali. Itulah sudah seharusnya. Jadinya bukan orang tak pandang mata kepadanya. Hanya ia merasa mcnyesal, karcna Kiam Beng rubuh di tangannya Tok-koh It Hang dan sekarang Kiam Gim hendak menuntut balas dari ia. Ini dia yang dibilang anjing kuning dapat makanan, anjing putih yang dapat bencana. Karcna ia pun ada satu j ago tua, In Tiong Kie tidak suka mundur, hanya sekarang ia ambil ketetapan akan pakai terus cambuknya, sebab ia pun sangsi, dengan tangan kosong, orang she Lioe ini sanggup layani ia. Maka kembali iakeluarkan cambuknya itu. Jikalau demikian, Lioe Loo-enghiong, maafkanlah aku! berkata ia Lioe Kiam Gim tidak menjawab, ia hanya mengawasi Iawan, dengan sikap yang .anteng sekali. Tapi satu ahli niscaya ketahui dengan baik, ia sebenarnya sedang bersedia, perhatiannya sedang dipcrsatukan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sampai di situ, In Tiong Kie tidak berayal lagi. Dengan Sin Hong djip hay, atau Naga malaikat masuk ke laut, ia mulai dengan penyerangannya, dari atas. Kiam Gim berlaku gesit, tidak tunggu sampai cambuk menghampirkan ia, ia sudah angkat kedua pundaknyadan kaki kanannya menggeser ke kanan. Melainkan hampir saja, cambuk mengenai sasarannya. Menampak gagalnya serangan itu, In Tiong Kie pun kirim susulan saling beruntun, Lian hoan sam pian -runtunan tiga kali, serta Keng hong sauw lioe atau Angin besar menyapu daun yanglioe. Cambuk bergerak dengan sebat, sampai menerbitkan suara angin, bayangannya turut bergerak menyambar. Kiam Gim lihat ancaman bahaya, ia tidak hendak lawan dengan keras, dengan geraki pinggangnya, dalam gerakan Yan tjoe tjoan in, atau Waletserbu mega, ia mencelat tinggi sampai dua tumbak, akan turun di belakang lawan, begitu lekas sudah mcndekati tanah, tangan kanannya disodorkan kepada bebokong orang, dalam gerakan membacok! In Tiong Kie itu, kecuali ilmu cambuknya ini yang liehay, pandai jugamengenali berbagai alat-senjata dengan mendengari saja sambaran anginnya, sebagaimana Law Boe Wie telah peroleh pelajaran darinya. Maka sekarang, ia segera ketahui lawan lagi serang ia. Malah ia pun bisa duga, lawan ada di arah mana. Begitulah, sembari memutar tubuh, berbareng berkelit, ia pun menyabet dengan Kiauw-kin Hongliong-pian! Berbahaya kedudukannya Lioe Kiam Gim, ini melulu disebabkan kegesitan lawan. Tapi, ia juga tak mau kalah gesitnya, ia hendak hunjuk kcpandaiannya. Ia tidak mcnangkis, ia berkelit, bukan dengan lompat mundur, hanya dengan membungkuk tubuh, begitu rupa, hingga cambuk lewat sedikit di atasannya! Sesudah ini, dengan sebelah kaki

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

maju, sambil angkat tubuhnya, ia barengi menyerang, bagaikan angin taufan atau gelombang hebat. Atas ini, baharulah In Tiong Kie loncat mundur. Secara demikian,- mereka lanjuti pcrtcmpuran. Mereka ada seumpama dua tukang main catur yang liehay, atau setengah kati adalah delapan tail. Dua-dua gesit, cepat gerakannya. Setelah mundur dan maju bergantian, In Tiong Kie perlihatkan serangannya Kioe kioe pat-sip-it atau Scmbilan kali sembilan menjadi delapan puluh satu, cambuknya itu menyabet, menyapu, melibat, menindih saling susul, tidak henti-hentinya. Lain dari itu, ia jaga diri dengan baik, ia tidak mau izinkan lawan desak ia. Maka itu, ia menjaga diri berbareng lebih banyak menyerang. Beberapa puluh jurus telah lewat dengan cepat. Walaupun ia didesak, Lioe Kiam Gim tidak kasih dirinya dibikin repot, tubuhnya, bagaikan bayangan, mengikuti sesuatu gerakan cambuk istimewa itu. Di sebelah itu, ia juga tidak dapat ketika untuk rapatkan tandingan itu. Maka di akhimya, dua-dua merasa heran sendirinya, mereka saling mengeluh, In Tiong Kie menjadi jengah, cambuknya, yang ia sudah fahamkan beberapa puluh tahun, sekarang kena dibikin tidak berdaya oleh sepasang tangan darah dan daging melulu, malah ia kadang-kadang kena didesak. Kiam Gim pun tidak mengerti, kenapa ilmu silat tangan kosongnya ilmu silat Thay Kek Pay yang kenamaan tidak sanggup rampas cambuk lawan itu dan sudah ia tidak mampu merangsang, ia pun beberapa kali musti menyingkir dari serangan-serangan sangat berbahaya, tetapi sekarang ia mengerti kenapa Kiam Beng, soeteenya, rubuh di tangan musuh, tidak tahunya, musuh ada demikian liehay. Lawan ini sajasudah jauh lebih liehay daripada soeteenya, maka ia percaya, orang tua yang lain itu jangan-jangan akan melebihkan ia liehaynya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kapan sudah lewat tiga puluh gebrak, Kiam Gim ubah caranya bertempur. la sekarang gunai tangan kanan saja, akan layani cambuk musuh, dengan tangan kirinya, yang dibikin keras bagaikan tumbak cagak. ia cari jalan darahnya In Tiong Kie. Sepasang tangannya yang tak bersenjata itu ia bikin jadi seperti senjata tajam saja tangan kanan mirip dengan pedang Ngo-heng-kiam, tangan kiri mirip dengan tusukan Tiam-hiat-kwat. Adalah setelah itu, pihak lawan baharulah kena didesak. Lioe Kiam Gim telah pikir, jikalau ia tidak lekas rebut kemenangan, apabila ia main ayal-ayalan, ia akan terancam bahaya, karena di luar kalangan, lawan yang satunya selalu pasang mata ke arah dia, dia itu senantiasa perhatikan ilmu silatnya. Itulah ada tidak baik untuk pihaknya. Tiba-tiba, selagi In Tiong Kie menyabet ke atas, di tiga jurusan, Kiam Gim bcrkclit akan singkirkan diri dari serangan, tubuhnya membungkuk, berbareng dengan mana, ia maju, lalu sebelah kakinya, dikasih mclayang. Kaki kanannya yang menyambar, kaki klrinya pasang kuda-kuda. Serangan ini ada serangan berbahaya. untuk pihak penyerang, karena gerakannya yang mendesak dipaksakan. In Tiong Kie lihat itu, hatinya girang. Ia pikir: Hm, tua bangka ini tidak lagi berpokok pada ketegaran dari Thay Kek Boen, mustahil sekali ini ia tidak rubuh?. Maka ketua Pie Sioe Hwee mi lantas geser tubuhnya ke kiri, buat kasih lewat kaki kanan lawan itu, sehingga karenanya, keduanya jadi saling melewati. hingga mereka seperti bebokong menghadap bebokong. Lalu, menggunai ketika ini, tanpa bcrpaling pula, melulu andalkan kepandaiannya mengenali angin, ia putar tangannya, ia menyabet ke belakang, dari atas ke bavvah. Sembari menyabet hatinya gembira bukan main, ia percaya, ia akan berhasil, karena mereka terpisah dekat sekali, ia sangka lawan tak akan keburu menghalau diri.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dugaannya In Tiong Kie ada dugaan belaka, ia keliru, karena dengan majukan serangan sembrono itu, Kiam Gim justru menggunai tipu daya. Jago Thay Kek Pay ini justeru harap-harap sabetan lawannya itu, selagi cambuk menyambar, ia segera berkelit ke kiri, tangan kanannya dengan tipu Siauw-thian-tjhee, atau Bintang cilik, diterusi dipakai menekan cambuk, lalu gesit luar biasa, ia mendesak rapat, tangan kirinya menyusul bagaikan tumbak cagak, akan totok jalan darah orang Leng-tay-hiat, betulan hati. In Tiong Kie kaget bukan main, sampai ia keluarkan jeritan, menyusul mana, ia enjot tubuhnya, akan loncat mundur, akan tetapi, walaupun ia gesit, Kiam Gim ada terlebih sebat pula, jeriji tangannya jago Thay Kek Pay ini sudah lantas mengenai sasarannya. Hanya, dasar ia ada satu jago tua, kendatipun tangannya lawan mengenakan sasaran, ia tidak sampai nampak bencana. Sebab dalam saat genting itu, ia telah menyedot dada dan perutnya, hingga kesudahannya, jari tangan Kiam Gim mengenai baju saja, tidak sampai ke kulit atau daging. Setelah itu, In Tiong Kie loncat mundur terlebih jauh, cambuknya tidak terlepas, mukanya tidak merah, napasnya tidak mengorong, tubuhnya pun tetap! Lioe Kiam Gim menyesal bukan main, karena di saat ia hendak bergirang, iajadi kecele. Iatahu, kalau pertempuran dilanjuti, entah sampai kapan akhirnya itu. Tapi, selagi ia mengawasi dengan tajam, tiba-tiba In Tiong Kie simpan cambuknya, dengan kedua tangan dirangkap, ketua Pie Sioe Hwee itu memberi hormat seraya berkata: Lioe Looenghiong, kau benar liehay, aku menyerah kalah! Jago Thay Khek Pay itu melengak sekejap, lalu lekas-lekas ia memberi hormat. Kau mengalah, Lauwhia, kau mengalah, kata ia. Lauwhia ada liehay sekali, aku kagumi kau! Sekali ini Kiam Gim bukan merendah, ia bicara dari hatinya yang tulus. In Tiong Kie ada satu laki-laki, walaupun ia tidak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

rubuh, bisalah dianggap dia sudah keteter dan ia berani akui itu. Sementara itu, Tok-koh It Hang bertindak menghampirkan, ia tertawa. Ia maju sampai di depannya Kiam Gim sekali, terus ia berkata dengan pujiannya: Lioe Loo-enghiong ada liehay sekali, tidak kecewa kau mewariskan ilmu silat Thay Kek Pay, akan tetapi barusan Loo-enghiong belum keluarkan seturuh kepandaianmu, maka itu aku, yang tidak tahu diri, ingin sekali terima pelajaran dan kau! Sembari berkata demikian, jago Liauw-tong ini angsurkan kedua belah tangannya yang tidak memegang senjata apa jua. Jadi artinya, ia hendak benempur: tangan kosong lawan tangan kosong! Seumurnya Tok-koh It Hang, kepandaian Pwee pwee laktjap-sre Kim-na Tjhioe-hoat, atau ilmu Delapan-kali-delapan menjadi enam puluh empat gerakan, dari Eng Djiauw Boen, belum pernah ketemu tandingan, barusan ia saksikan kepandaiannya Lioe Kiam Gim, ia percaya orang tak ada terlebih liehay daripada ia, dari itu, iajadi ingin coba-coba. Ia percaya, ia bakal sanggup rebut kemenangan. Ini juga sebabnya kenapa ia bilang, Kiam Gim belum keluarkan seluruh kepandaiannya. Kiam Gim menjadi terkejut berbareng mendongkol. Ia merasakan bahwa orang berlaku hormat sambil memandang enteng kepadanya secara samar-samar. Jikalau Loo-soehoe sudi memberikan pengajaran kepadaku, sudah tentu sekali aku si orang she Lioe girang menemaninya, ia menjawab. Hanya kita kauro Kang-ouw, sudah seharusnya, satu patah kata-kata kita adalah satu patah kata-kata. Maka, Sahabat, mengenai kejadian di Djiat-hoo itu,sudikah kau menanggung jawab? Aku si orang she Lioe tidak ingin, setelah aku layani kau sampai setengah malaman. tapi alhasil aku tidak memperdia untuk layani apa!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kiam Gim gunai kata-kata yang tajam, akan tetapi Tok-koh It Hang ada hiehay sekali, mendengar itu, ia tertawa berkakakan. Ia rangkap pula kcdua tangannya, untuk membcri hormat Bagaimana kau sebut-sebut perkaranya soeteemu? ia .tanya. Soeteemu itu sahabat-sahabatnya adalah golongan pembcsar negeri dan mulia, bangsa raja-raja muda atau kaum saudagar besar, maka aku si or-ang gunung, cara bagaimana aku mempunyai jodoh untuk bertemu dengan dia! Dan umpama kata aku ton sampai bertemu dengannya, cara bagaimana aku berani main gila terhadapnya? Lioe Looenghiong, harap kau tidak sebut-sebut soeteemu yang bagaikan must ika itu. Malam ini ada malam yang indah, apa kau tidak kuatir menyia-nyiakan malam yang indah ini hingga lenyap kegembiraan kita? Loo-enghiong, man, mari, mari kita orang main-main, akan menghibur lara! Mendengar itu, Kiam Gim segera mengerti bahwa pada soal adiknya seperguruan itu benar-benaradasalah paham. Bukankahterang-terangjago Liauw-tong ini menyindir.tentang persahabatannya Kiam Beng dengan segala pembesar negeri atau orang besar? Tentang adikku seperguruan itu, sukar untuk dijelaskan, ia kata, dengan nyaring. Untuk itu, kita membutuhkan pembicaraan yang lama. Tapi, apabila Loo-enghiong kehendaki, aku nanti ajak saudaraku itu datang untuk menghaturkan maaf kepadamu. Hanya sekarang bisalah aku terangkan, soeteeku bukanlah itu orang sebagaimana yang Loo-enghiong scbutkan. Kedatanganku sekarang ini bukan untuk mencari pulang barang upcti, aku hanya hendak cari sahabat, untuk bicara dari hati ke hati, akan buka masingmasing hati kita! Selagi orang bicara, Tok-koh It Hang mengawasi dengan tajam, antara sinar rembulan, ia tampak orang beroman sungguh-sungguh, hingga hatinya jadi tergerak, hingga ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pikir, jago Thay Kek Pay ini benar-benar hams dijadikan sahabat. Ia berpikir cepat, lantas ia berikan tanda rahasia pada In Tiong Kie kepada siapa ia kata: Kalau kau ada punya urusan, pergilah lebih dahulu, biara kutemani Lioe Looenghiong main-main di sini, sccara begitu, Loo-enghiong pun jadi tak usah berhati tak tentaram, karena lihat jumlah kita yang banyak. In Tiong Kie menurut, ia berlalu dengan segera. Lioe Kiam Gim saksikan itu semua, ia lihat sikap bemafsu dari jago Liauw-tong ini, mata siapa pun bersinar, ia jadi agak mendongkol, maka, dengan tertawa dingin, ia bilang: Sahabat, jikalau pasti kau ingin memberikan pengajaran kepadaku, baik, aku tak berdaya, aku bersedia |untuk layani kau. Baharu Lioe Kauwsoe tutup mulutnya, atau Tok-koh It Hang sudah bergerak. Mula-mula ia maju dengan kedua tangannya dipentang, dalam gerakan Tjhong eng peng tjie atau Garuda mementang sayap, setelah itu ia mendak, agaknya ia hendak sambar kedua lengan orang, untuk disergap. Kiam Gim hunjuk kegesitannya, ialah dengan geser tubuhnya ke kiri, berbareng dengan itu, dengan Thay Kek Pay punya Shia kwa tan pian atau Menggantung ruyung sebatang, ia bacok nadi orang, gerakanrtya tak kurang sebatnya. Tok-koh It Hang tidak mundur walaupun serangan sehebat itu, ia pun tidak menangkis, hanya mengubah tangan terbuka menjadi kepalan, ia teruskan gunai Heng sin pa touw atau Melintangkan tubuh untuk menghajar harimau, akan serang iga orang! Gagal dayanya Kiam Gim akan serang nadi orang, ia sebaliknya kena didesak, terpaksa ia geser pula kaki kiri ke kiri, untuk terus berlompat enam atau tujuh kaki jauhnya,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

setelah kakinya itu injak tanah, ia barengi untuk memutar tubuh. Ia percaya pihak lawan susul ia, ia terus menyerang dengan Tjit-seng-tjiang atau Tangan tujuh bintang, mengarah iga kanan. Jago Liauw-tong itu tarik pulang tangannya, juga tubuhnya, untuk selamatkan diri. Tapi Kiam Gim tidak berhenti sampai di situ, dengan majukan tubuh kesebelah kiri, ia gunai tangan kirinya dalam tipu Ngo-heng-kiam, menotok dahi kiri orang, sedang tangan kanannya, dengan Kim liong hie soei atau Naga cmas memain air, ia coba babat dengkul kanannya lawan. Ini ada serangan hebat, ke atas dan ke bawah dengan berbareng. Nampaknya Tok-koh It Hang sibuk, hampir ia kena terserang, atau berbareng dengan itu, ia berseru: Sebat benar! dan tubuhnya mencelat nyamping, hanya, setelah lolos dari serangan, sesudah injak tanah, terus ia enjot tubuhnya, akan lompat maju lagi, untuk balas menerjang, gerakannya mirip dengan sambaran garuda. Kiam Gim memutar tubuh, untuk saksikan orang punya gerakan sangat cepat maju bagaikan kera lompat di cabang, mundur seperti naga atau ular melesat kabur, lompat laksanaburung menerjang langit, loncatturun umpama harimau menerkam. Lawan ini maju menyerang, mundur membela diri, tubuhnya berputar seperti angin puyuh, berkelebatnya bagaikan kilat. Dalam sekejap, musuh bergerak di delapan penjuru! Mau atau tidak, Lioe Kiam Gim diam-diam keluarkan keringat dingin! Tok-koh It Hang digelarkan Pek Djiauw Sin-eng atau Garuda Malaikat Seraius Cakar, maka itu, gerak-geriknya mirip dengan burung garuda. Di sebelah itu, ia mempunyai enam puluh gerakan menawan, yaitu kim-na-hoat, dari itu, cara menyerangnya benar-benar luar biasa.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Adalah keinginan dari Lioe Kiam Gim akan bertempur dengan cepat, akan segera akhirkan pieboe itu, siapa tahu. pihak lawan ada gagah sekali, hingga ia jadi heran berbareng kaget. Belum pernah ia ketemu orang semacam ini cii kalangan Sungai-Telaga. Tapi ia ada seorang berpengalaman, matanya tajam, segera ia insyaf dengan menyerang hebat, ia tak bakai peroleh hasil. Ia juga ingat pembilangan, Menyingkir dari musuh tangguh, menyerang kelemahan musuhnya dan kim-na-hoat lawannya ini sebaliknya dari Thay Kek Koen. Kalau Thay Kek Koen berpokok dengan kelemasan mclawan kekerasan, adalah kim-na-hoat, menyerang sambil berbareng membeladiri. Kelihatan nyata, lawan ini tidak takuti serangan. Maka itu ia pikir, ia mesti gunai latihannya dari puluhan tahun, dengan keuletan, akan layani jago Liauwtong ini. Segera juga Lioe Kiam Gim bikin perubahan. Ia berdiri tegar bagaikan gunung, ia membela diri, ia tidak sembarang bergerak. Dalamhal ini, ia tidak gubris lawan hunjuk kegesitan, dengan berputaran seperti burung berterbangan, bengis bagaikan harimau galak, gesit seperti sang kera. Ia tidak mau menerkam, dan kalau lawan pancing ia, ia tidak mengejar. Ia pegang pokok apabila lawan tidak bergerak, berdiam, dan satu kali lawan bergerak, mendahului. Rahasianya Thay Kek Koen memang adalah bergerak dengan ikuti salatan lawan. Demikian, dari mana saja Tok-koh It Hang menyerang, ia melayani dengan tenang. Begitulah pertempuran berjalan, antara orang-orang gagah yang langka, yang satu menyerang, yang lain menjaga, keduanya telah sampaikan batas kesempumaan kepandaiannya masing-masing. Jago dari Eng Djiauw Boen telah gunai juga keistimewaan ilmunya, Hoei-eng Keng-soan Kiam-hoat, ialah ilmu pedang Garuda terbang berputaran, yang ia ubah menjadi tangan kosong, ia selipkan ini di sebelahnya enam puluh empat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pukulannya kim-na-hoat, akan tetapi Lioe Kiam Gim tetap berdiri bagaikan gunung batu antara serbuannya arigin santar dan gelombang dahsyat, tubuhnya tenang, dan ilmu pukulannya Thay-kek-tjiang dipakai punahkan sesuatu serangan. Ia ikuti salatan, ia pinjam tenaga akan pecahkan tenaga lawan sendiri. Tok-koh It Hang ada liehay dan berpengalaman, tapi beberapa kali, ia toh berlaku sangat bemafsu karena ketenangan musuh, hingga beberapa kali hampir-hampir ia kenaterserang disebabkan kelancangannya sendiri. pleh karena ini, baharu sekarang -dengan diam-diam ia bergidik, baharu sekarang ia insyaf, Lioe Kiam Gim ada beda sangat jauh dari soeteenya, teng Kiam Beng. Dan sejak itu, walaupun ia tetap mendesak, tidak lagi ia berani turuti hawa nafsunya. Karena cara bertempur itu, bukan lagi puluhan, hanya dua ratus jurus lebih telah dikasih lewat tetapi kedua-duanya masih belum memperoleh hasil. Sesudah kewalahan, akhir-akhirnya, Tok-koh It Hang loncat mundur, akan gunai ketika untuk meraba ke pinggangnya di mana ia buka suatu benda yang mclibat, apabila ia telah tank itu, nyata ia sudah keluarkan sebatang djoan-kiam, atau pedang lemas, yang bersinar bcrkcrcdcpan sebagai emas, karena gegaman itu terbuat dengan campuran emas putih keluaran Hek-liong-kang. Pedang ini, disimpan bisa dilibat bagaikan ikat pinggang, digunai lalu menjadi pedang, dengan tajamnya luar biasa. Jikalau terus kita bertanding secara begini, sampai terang tanah juga sukar didapati kepastiannya menang atau kalah, kata ia, setelah ia siap dengan pedangnya yang istimewa itu. Bertempur secara begini tidak menarik hati, tidak ada artinya, maka itu baiklah kita gunakan pedang untuk aku terima pelajaran ilmu Thay Kek Tjap-sha-kiammu berikuti hoei-piauw yang berbayang berkelebatan, di antara sinar pedangmu!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tegasnya, dengan Hoei-eng Keng-soan-kiam, jago tua dari Liauw-tong ini hendak uji ilmu pedang orang dan senjata rahasia yang kesohor, sebab ilmu silat tangan kosongnya ia sudah jajal sempurna. Lioe Kiam Gim tidak berayal untuk sambut tantangan itu, tetapi karena ia tahu pihak lawan ada sangat tangguh, ia tetap waspada, ia tidak mau berlaku serampangan. sesudah hunus pedangnya sendiri dan pasang kuda-kudanya dengan tenang seperti biasa, ia mengundang: Silakan! Atas undangan itu, tubuhnya Tok-koh It Hang segera bergerak, akan tetapi bukannya ia terus menerjang, ia hanya berputar ke belakangnya or-ang itu dari mana baharulah ia kinm satu tikaman. Menuruti gerakan lawan, Kiam Gim memutar tubuh, begitu tikaman datang, ia berkelit, tapi sambil berkelit. ia pun terus putar tubuhnya, hingga sekarang adalah ia yang beradadi arah belakang jago Liauw-tong itu, untuk ia balik menerjang. Berbareng dengan berkelebatnya satu sinar, ujung pedang menusuk pundaknya si jago tua, pada bagian jalan darah Hong-hoe-hiat. Tipu totokan yang dipakai pun ada Giok lie tjoan tjiam atau Bidadari menusuk jarum Tok-koh It Hang sendiri, sesudah serangannya mengenai tcmpat kosong, sudah lantas bergerak dalam tindakan Liong heng hoei pou, atau Tindakan naga terbang, akan pindahkan tubuh ke kanan lawan, dari sini pedangnya, yang telah ditarik pulang, diicruskan dipakai menyambar muka lawan dengan tipu serangan Hoan sin hian kiam, ialah Mempcrsembahkan pedang sambil memutar tubuh. Kiam Gim batal dengan serangannya, yang tidak mengenai sasaran, maka itu, melihat gerakan lawan yang berbahaya itu, ia menjejak tanah, untuk loncat mclcsat jauhnya dua-tiga tumbak hingga ia lolos dari ancaman bahaya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Menampak gerakan lawan itu, bagaikan gerakannya bayangan, Tok-koh It Hang lompat mengejar, berbareng dengan itu, ia teruskan menyerang tiga kali saling susul, dengan tipu-tipunya Wan khauw tjin koh atau Orang hutan menyucuhkan buah, Sian djin tjie louw, atau Dewa menujuki jalan, dan Beng kee tok siok atau Ayam galak mematok gaba. Itulah ada scrangan seperti hujan deras antara angin hebat! Lioe Kiam Gim sudah tahu liehaynya musuh, tidak pern ah ia abaikan diri, maka itu, tidak perduli hujan serangan ada bagaimana hebat, ia menangkis dengan tenang, ia berkelit dengan sebat, sama sekali ia tidak berikan ketika untuk lawan desak ia. Hanya kemudian, sclang seratus jurus lebih, ia pun insyaf, jikalau terus-terusan mereka bertempur saja, tanpa ada keputusannya, entah mereka akan bertempur sampai di waktu apa. Maka dia akhirnya, sesudah berpikir, ia buka satu lowongan, terus ia mencelat keluar kalangan, tak perduli pedang lawan mengancam bebokongnya, bagaikan burung, tubuhnya lompat melesat. Sahabat, jangan pergi! berseru Tok-koh It Hang, yang tampak orang keluar dari kalangan. Sambutlah ini! Dan tubuhnya melesat menyusul, ujung pedangnya terus menusuk! Lioe Kiam Gim loncat dengan satu maksud, sambil lompat, ia pasang kuping. Ia dengar sambaran angin, ia menduga pada susulan musuh serta tusukan pedang, tidak menunggu sampai ujung pedang mengenai sasaran, dengan sekonyongkonyong ia putar tubuhnya dalam gerakan Koay bong hoan sin atau Ular siiuman jumpalitan, pedangnya sendiri dipakai menangkis dalam tipu silat Kim peng tian tjie atau Garuda emas membuka sayap. Ia telah gunai tenaga yang besar, akan bentur pedang lawan itu, sedang tangan kirinya, dengan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tenaga Siauw thian tjhee atau Bintang kecil, dipakai menotok dadanya lawan itu. Dalam keadaan seperti itu, Tok-koh It Hang tidak dapat ketika akan elakkan diri pula, maka terpaksa, ia antap kedua senjata saling beradu, hingga menerbitkan suara yang nyaring keras, sedang di lain pihak, guna luputkan serangan tangan kiri lawan itu, ia juga gunai Siauw thian tjhee, hingga juga tangan mereka turut beradu satu dengan lain. Dua-dua bentrokan itu ada hebat, dengan tak dapat ditahan lagi, masing-masing mereka tak dapat menahan tubuh mereka, yang rubuh terpelanting, hanya begitu jatuh, keduanya segera lompat bangun pula, akan berdiri dengan tegar, hanya selagi rubuh, dalam hatinya, masing-masing merasa malu sendirinya. Sahabat, sambutlah pula ini! berseru Tok-koh It Hang, yang tidak mau sia-siakan ketika lagi. Ia pun ada mendongkol. Dalam cuaca gelap itu, tiga buah Thie-lian-tjie, atau teratai besi, menyambar ke arah tiga jurusan anggota, ialah jalan darah Kie-boen-hiat, Hong-hoe-hiat dan Kiauw-im-hiat. Kiam Gim lihat sambarannyatiga buah senjata rahasia itu, yang menyusul seruannya lawan, sambil memutar tubuh untuk berkelit, pedangnya dipakai menyampok. Dua buah Thie-lian-tjie lewat di tempat kosong, yang ketiga kena disampok jatuh ke tanah. Sambil elakkan diri secara demikian, jago Thay Kek Pay ini juga tidak diam saja, sebat luar biasa, tangan kirinya merogoh sakunya, akan keluarkan Kiam-eng Hoei-piauwnya, sekali raup saja, ia telah keluarkan duabelas batang, lalu antara berkelebatnya cahaya pedang, ia baias menyerang lawan itu, hingga umpama bintang berjalan, semua piauw itu menyambar saling susul! VI

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bagus! berseru Tok-koh It Hang, yang lihat lawannya baias menyerang ia dengan senjata rahasianya itu yang kesohor, berbareng dengan mana, dengan It hoo tjhiong thian, atau Seekor burung hoo menerjang langit, ia lompat tinggi sampai setumbak lebih, hingga piauw, yang mengarah ke tengah dan ke bawah, lolos semuanya, hingga tinggal empat buah lagi, yang menyerang ke atas. Kiam Gim sudah duga, lawannya akan bisa menyingkir dari piauw dua arah tengah dan bawah, belum tentu dengan arah atas, tetapi Tok-koh It Hang benar-benar liehay, karena sebat luar biasa, ia tanggapi empat buah ke arah atas itu, selagi ia turun ke bawah sebelum kakinya injak tanah ia sudah baias menyerang sambil tertawa dan serukan: Aku kembalikan piauwmu ini, yang aku tidak biasa pakai! Jago Thay Kek Pay itu terperanjat, akan tetapi ia sanggup kelit dari serangan empat piauw itu. Tok-koh It Hang menginjak tanah untuk segera simpan djoan-kiamnya, segera ia rangkap kedua tangannya. untuk memberi hormat, sambil bersenyum, ia berkata: Tiga-tiga kcpandaian dari Loo-enghiong, aku telah pcrsaksikan, sungguh hehay, luar biasa! Lioe Loo-enghiong, sampai kita bertemu pofa! Lioe Kiam Gim buru-buru simpan pedangnya. Sahabat, tunggu dahulu! ia berseru. Ia tahu orang berniat angkat kaki, Akan tetapi tubuhnya jago Liauw-tong itu sudah mencelat ke dalam Irimba, cuma suaranya masih terdcngar, katanya: Tak dapat kita bicara dengan sepatah kata saja, di bclakang hari, kau akan mendapat tahu! Sckarang silakan cari kawanmu dahuluP Lioe Loo-kauwsoe jadi bcrdiri tercengang. Ia sama sekali tak ketahui sikapnya jago Liauw-tong itu, yang lagi mcrantau

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

untuk cari kawan, guna sekalian cari tahu perihal tujuannya dan perhubungannya dengan Teng Kiam Beng. sang soetee, yang di mata kaum Kang-ouw katanya telah bersahabat, atau berkenalan. dengan golongan pembesar negeri. Tok-koh It Hang telah ketahui hal Kiam Gim, tapi ia ingin membuktikan sendiri, terutama sejak undurkan diri ke Kho Kee Po, K-iam Gim sudah diamkan diri hingga orang tak dengar apa-apa perihal sepak-terjangnya. Pertempuran barusan memang telah diatur, untuk mana, Tok-koh It Hang bekerja sama-sama dengan Tjiong Hay Peng, dan temyata, daya-upaya itu bcrhasil membuat Lioe Kiam Gim muncul. Kiam Gim benar-benar tidak mengetti maksud orang. Tapi ia bisa berpikir, maka itu, bcrdiam belum lama, scgera ia buka ti ndakannya, akan menuju terus ke rumahnya Tjiong Hay Peng. Ketika sebentar kemudian ia tiba, ia sudah lantas loncat naik ke atas rumah, dengan llmu mengentengi tubuh, ia kitarkan rumah itu. Malam itu, seluruh rumah Hay Peng ada gelap-gulita, kecuali dari kamar samping sebelah timur, ada molos sedikit cahaya api, ketika Kiam Gim menghampirkan ke situ, untuk melihatnya, ia tampak dalam lamar ada dinyalakan sebatang lilin besar dan satu orang asyik duduk di samping lilin itu. Dan orang itu bukan lain daripada tuan rumah sendiri. Kenapa sampai begini waktu dia masih belum juga tidur? Kiam Gim menduga-duga. Tapi inilah kcbctulan, aku hendak bicara sama ia, ia justcru berada sendirian. Meskipun ia berpikir demikian, Kiam Gim tidak lantas turun, akan ketemui sahabat itu, dan iapun tidak memanggil, atau berikan tanda perihal kedatangannya. Dengan hati-hati, ia cantelkan kakinya di payon, kemudian dengan menyedot napas terlebih dahulu, dengan tiba-tiba ia meniup ke arah lilin, hingga lilin itu padam seketika, hingga kamar jadi gclappetang. Ia percaya, Hay Peng akan kaget karenanya. Akan tetapi,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

di luar sangkaannya, Hay Peng justeru tertawa berkakakan, seraya terus berkata: Saudara Lioe, oh, kau baharu sampai? Dalam herannya, Kiam Gim pikir, orang rupanya asyik tunggui ia, maka itu, ia tidak mengerti, kenapa tuan rumah itu jadi demikian liehay, mengetahui kedatangannya. Ia tidak tahu bahwa In Tiong Kie, yang tadi tinggalkan mereka, sudah mendahului datang pada orang she Tjiong ini untuk berikan kisikan. Sebentar saja, api lilin di dalam kamar, nyala pula. Kiam Gim tidak sia-siakan tempo akan loncat turun. Hay Peng muncul untuk sambut tetamunya ini. Saudara Lioe, aku memang sudah duga kau bakal segera kembali! berkata jago Heng Ie Pay itu sambil bersenyum. Kiam Gim membalas hormat. Bagaimana kau ketahui aku bakal datang pula? ia tanya. Tjiong Hay Peng bersenyum. Marilah duduk, mengundang ia, yang simpangi pertanyaan orang. Kiam Gim terima itu undangan, maka berdua mereka ambil kursi. Dengan sebenarnya, soetee kau ada dicurigai oleh kaum Rimba Persilatan, kata Hay Peng kemudian. Melulu karena masih ada yang dipandang, orang jadi belum ambil tindakan. Tapi, Lioe Loo-enghiong, di mana soeteemu itu ada jadi gundal pembesar negeri, apa kau hendak bela dia dan ingin dapat pulang barang upeti yang dirampas itu? Keduamatanya orang she Lioe itu bersinar. Tapi ia masih cukup sabar. Saudara Tjiong, berkata ia, sudah dua puluh tahun lebih kita| orang tidak bertemu/tetapi kau hams ketahui, hatiku

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tidak pemah berubah! Apakah kau percaya aku kesudian jadi kaki-tangan pemerintah Boan, jadi gundal? Jangan kata aku sendiri, walaupun soeteeku, dia juga tak nanti, dia hanya gelap pikiran, dia seperti orang tolol! Lantas Kiam Gimjelaskan sifamya Kiam Beng, yang baik sama pembesar negeri karena adanya urusan dengan Keluarga Soh. Saudara Tjiong, ia tegaskan, umpama benar soeteeku itu menghamba pada pemerintah Boan, untuk hidup mewah saja, tidak nanti aku lakoni pcrjalanan ribuan lie ini ke Djiat-hoo! Aku datang bukan untuk saudaraku itu, tetapi untuk kaum Kang-ouw sendiri, apabila kita orang sendiri bentrok, apakah itu tidak memalukan kaum kita? Hay Peng angkat kepalanya, ia pandang tetamunya. Saudara Lioe, di sini bukan soal bentrokan melulu katanya. Tapi Lioe Kiam Gim memegat: Aku mengerti kesembronoannya soeteeku, hingga ia terbitkan kecurigaannya kaum Rimba Persilatan, tetapi orang dengan kelakuan mirip soeteeku ini. sekarang ini bukan dia saja scorang dm! Jikalau kita lancang curigai semua, apa ito bukannya berarti memperlemah tenaga sendiri? Hay Peng bcrbangkit. Saudara Lioe, kau bicara soal memperlemah tenaga sendiri! ia bilang, sikapnya mendesak. Bukankah kalau tenaga dipersatukan, itu besar faedahnya? Saudara Lioe, apa kau rnasih memikir untuk mcmulihkan dandanan kita| yang lama, untuk membangkitkan kita bangsa Han? Didesak sccara dcmikian, Kiam Gim bersangsi. la ingat sebabnya kenapa sudah dua puluh tahun lebih ia asingkan diri.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kalau kita cuma andali tenaga kita kaum Kang-ouw saja, apa kita bisa pcrbuat? ia tanya. Sudah dua ratus tahun bersclang, sejak bangsa Ouw masuk kemari, pokok dasamya telah jadi kuat sekali, scdang selama beberapa puluh tahun ini, bangsa asingpun tunjang padanya! Bisakah kita gempur dia? *Tapi kita bisa bcrdaya, saudara Lioe, Hay Peng bilang. Ada orang yang sedang dayakan itu__ la terus tuturkan hal sepak-terjangnya Tok-koh It Hang, si jago tua, yang hendak persatukan kaum Kang-ouw, ia hanya tidak sebutkan namanya. Kiam Gim nampaknya ketarik, Saudara Tjiong, siapa dia itu?| tanyanya dengan bemafeu. Apakah aku bisa bertemu dengan dia? Lioe Loo-enghiong, berkata ia, kau sebenamya sudah bcrtemu sama dia, malah sudah bcrtempurjuga! Kau orang sudah bertempur selama setengah ma lam an, apakah kau masih beium ketahui siapa adanya dia itu? Kiam Gim Iantas bisa mengerti. Dia ada Tok-koh It Hang, Hay Peng beritahu, seraya beber hal-fliwalnya orang itu. Apakah dia masih ada di sini? Apakah aku bisa pasang omong dengan dia? Kiam Gim tanya kemudian. Kembali Hay Peng tertawa, ia urut-urut kumisnya. Siapa tidak bertempur, dia orang tidak berkenalan! kata ia, sembari tertawa terus. Cuma Tok-koh It Hang yang sanggup lawan kau, Saudara Lioe, melainkan kau yang mampu layani kim-na-hoatnya! Inilah yang dibilang, orang hutan menyayangi orang hutan, pantas Saudara bemiat segera menemui dia! Sayang dia tidak ada di sini sekarang, dia bemiat pulang ke Liauw-tong.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kiam Gim tercengang, ia merasa kecewa. Tempatku ini, Sha-tjap-lak Kee-tjoe, benar-benar sunyi, Tjiong Hay Peng kasih kcterangan lebih jauh, akan tetapi tempat ini tidak sentosa, saking jaraknya yang terlalu dekat dengan Sin-tek, di mana ada Istana Kaisar Boan. Pasti akan menyolok mata apabila kita kumpul ramai-ramai di sini. Maka itu Tok-koh It Hang hendak pulang dahulu ke Liauw-tong, di Sam-she Oey-see-wie di Ie-lan, | untuk melakukan persiapan. Di sana orang bisa berkumpul dengan merdeka. Di sini Tok-koh It Hang minta aku yang bantu ia mengundang Orang-orang kaum kita, tapi untuk ini, kita berdua harus bekerja sama-sama. Soal ini membikin Kiam Gim berpikir. Ia tidak lantas terima baik, iapun tidak menolak. Ia bukannya jerih, ia hanya kuatir namanya nanti sudah tidak mempunyai pengaruh pula disebabkan pengasingan diri selama dua puluh tahun lebih. Aku juga hendak minta Saudara Lioe pergi menemui Ketuadari Bwee Hoa Koen, kemudian Tjiong Hay Peng tambahkan. Untuk apa itu? Kiam Gim, tanya. Saudara Lioe tinggal di Shoatang, mustahil Saudara tak ketahui tentang perkembangannya Bwee Hoa Koen selama tahun-tahun yang bclakangan ini? Hay Peng balik tanya. Bwee Hoa Koen, yang juga disebut GieHoo Koen, paling belakang sudah dirikan rombongan Gie Hoo Toan, yang bukan saja di Shoatang berpengaruh besar, juga di lima propinsi Utara. Sudah dua puluh tahun aku berdiam di tengah muara, aku tak tahu jelas lagi keadaan di luaran, Kiam Gim akui. Aku melainkan dengar apa-apa dari beberapa sahabat yang satu waktu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

suka kunjungi aku, pemah antarany a ada yang omong tentang Gie Hoo Toan itu, katanya rombongan ito berpusat di delapan ratus enam puluh lebih desa di Jim-pcng di mana ada lebih daripada delapan ratus boe-koan. Orang pun bilang, setelah ketuanya Bwee Hoa Koen, yaitu Ki-ang Ek Hian, menutup mata, karena puteranya berkepandaian biasa saja, dia ini tak dapat bikin tunduk orang banyak, karena mana belakangan or-ang angkat Tjoe Hong Teng dari angkatan muda sebagai ahli waris kaum itu. Apa benar, dia ini adalah yang bangunkan Gie Hoo Toan? Tjiong Hay Peng be nark an itu pcrtanyaan. Walaupun dcmikian, bersama-sama Tok-koh It Hang, aku masih belum ambil putusan untuk gabungi diri atau tidak dengan dia itu, ia manambahkan. Lantas tuan rumah ini menutur hal Gie Hoo Toan, antaranya ada yang Kiam Gim sudah ketahui, banyak juga yang ia belum tahu. Gie Hoo Toan ada satu cabang kecil dari Pat Kwa Kauw dari Pek Lian Kauw, agama Teratai Putih. Di akhir zaman Goan Tiauw, pemimpin Pek Lian Kauw ada Lauw Hok Tong, tapi kepala agamanya ada Han Lim Djie, puteradari Han San Tong. Lim Djie disebut juga Siauw Beng Ong. Di dalam pasukan sukarela Pek Lian Kauw ini; Tjoe Goan Tjiang ada salah satu pemimpin, adalah Tjoe Goan Tjiang yang berhasil mengusir bangsa Goan (Mongolia) dan berdirikan Kerajaan Beng. Setelah jadi kaisar, Tjoe Goan Tjiang mcnindih Pek Lian Kauw. Di akhir Kerajaan Beng ini, Pek Lian Kauw pun disebut Pek Lian Hwee, Kumpulan Teratai Putih, pengaruhnya tersebar di Shoalang, Tit-lee, Shoasay, Hoolam, Siamsay, dan Soe-tjoan, kepala agamanya ialah Ong Som, kepala agamanya men utup mata, dia digantikan oleh putcranya, Ong Ho Hian dan Tjie Hong Djie; dengan pimpin dua juta serdadu, mereka lawan pemcrintah Beng, mereka tidak berhasil tetapi pengaruh mereka sudah meresap antara rakyat jelata. Adalah setelah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kerajaan Tjeng musnakan Kerajaan Beng, dan menggantikan memerintah Tionggoan, dan bangsa Han ditindas, bangsa ini bergerak pula, dan sclama tahun pert ama dari Kaisar Kee Keng, ketua Pek Lian Kauw, yaitu Lauw Tjie Hiap, serukan rakyat Rubuhkan Kerajaan Tjeng untuk bangunkan pula Kerajaan Beng dan karena pemerintah menindas, rakyat berontak. Bendera dan pakaiannya kaum ini ada serba putih. Selama tahun ke-17 dari Kaisar Kee Keng, Thian Lie Hwee ialah Pat Kwa Kauw, satu cabang dari Pek Lian Kauw, dengan bekerja sama-sama Lie Boen Seng dari Tjin Kwa Kauw dan Lim Tjeng dari Kim Kwa Kauw, sudah serang Istana Raja Boan di Pakkhia serta niat rampas Tit-lee, Shoatang dan Hoolam. Bertiga mereka berjanji, kalau mereka berhasil, mereka akan bagi anggota mereka satu bauw tanah untuk sctiap anggota. Mereka ini gagal tapi pembcrontakan mereka telah menggetarkan seluruh negeri. Kemudian, terus sampai zaman Kaisar Kong Sie, Kaum Pek Lian Kauw dan lainnya masih bekerja sccara rah as i a. Tjoe Hong Teng itu ada asal satu pemimpin kecil dari Pat Kwa Kauw, ia be 1 ajar silat pada Kiang Ek Hian, setelah Kiang Ek Hian menutup mata, ia menggantikan jadi ahli waris Bwee Hoa Koen, terus ia dirikan Gie Hoo Toan. Ia ada orang dari To-tjioe, Shoatang, ia mengakui ada turunan kaisar-kaisar Beng, seruannya ada Hoan Tjeng Hok Beng, yaitu Rubuhkan Tjeng Tiauw. Ia ajarkan orang Sin Koen, yaitu ilmu silat Malaikat, katanya, ada dewa atau malaikat yang bantu ia, hingga tubuhnya jadi tidak mempan senjata tajam, tak dapat ditembak. Ia tidak bisa abui orang cerdik tapi toh ada sebahagian orang yang percaya padanya. Mendengar sampai di situ, Kiam Gim tanya Hay Peng: Gie Hoo Toan dari Tjoe Hong Teng bercita-cita Hoan Tjeng Hok Beng, tapi kenapa pemerintah Tjeng tidak larang padanya, malah sebaliknya, kenapa dia diizinkan kumpulkan barisan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

serdadu rakyat yang dinamai Koen-bin? Kenapa di Jim-peng saja sampai ada delapan ratus lebih cabang kaum itu? Ditanya begitu, Hay Peng tepuk meja. Ini dia bagiannya yang rada sulit, katanya. Ini ada suatu siasat. Bukankah Saudara ketahui, bagaimana sewenangwenangnya bangsa asing sekarang? Untuk itu, dengan pelahan-lahan Gie Hoo Toan ubah seruannya dari Hoan Tjeng Hok Bengjadi HoeTjeng Biat Yang. Hoe Tjeng Biat Yang berarti menunjang Kerajaan Tjeng untuk memusnahkan bangsa asing. Inilah gcrakan yang menyebabkan delapan bangsa asing kepung Pakkhia, sehingga Kerajaan Tjeng bikin jatuh pamor Tiongkok. Setelah Perang Candu di tahun 1840, Tiongkok tutup diri, tapi bangsa asing gempur pintunya dengan tembakan meriam dari kapal perang. Segera datanglah paderi-paderi Kristen, untuk mengajarkan agama. agamanya sendiri ada lain, adalah segala penganutnya, yang main gila, mereka jadi pemeras rakyat jelata, pengganggu kehormatan kesucian orang perempuan, kalau terbit perkara mereka dilindungi, hingga umumnya rakyat jadi benci mereka. Maka itu, Tjoe Hong Teng dengan Gie Hoo Toannya, lantas jadi pembela rakyat yang bercelaka itu. pemerintah Boan lihat ancaman bahaya, lantas See Thayhouw, Ibusuri, dengan turuti sarannya Yok Hian, Soenboe dari Shoatang, ubah sikap, ialah dari dimusuhkan, Gie Hoo Toan dibaiki. Tjoe Hong Teng suka bekerja sama-sama, ia harap, setelah usir bangsa asing, ia nanti bisa bikin terjungkal bangsa Boan. Sikapnya Tjoe Hong Teng ini menyebabkan ragu-ragu di antara rakyat, sampai Tok-koh It Hang sendiri turut bersangsi. Maka Tok-koh It Hang, dengan perantaraannya Tjiong Hay Peng, ingin ketahui sikapnya Lioe Kiam Gim. Jago Thay Kek Pay ini, yang tinggal di Shoatang, ada kenal baik pemimpin tua dari Bwee Hoa Koen, ialah Kiang Ek Hian.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Setelah dengar keterangan lebih jauh itu, Kiam Gim jadi berpikir. Ia memang tidak puas terhadap Kerajaan Tjeng, tapi sudah lama ia undurkan diri, hatinya sudah mulai tentaram. Sekarang, hatinya jadi goncang. Dt akhirnya, ia nyatakan suka ketemui Tjoe Hong Teng, untuk ketahui jelas sikapnya Ketua Gie Hoo Toan ini, untuk apabila bisa baliki tujuannya Tjoe Hong Teng menjadi pula Hoan Tjeng Hok Beng. Dua sahabat ini bicara dengan asyik, sampai tahu-tahu, sang fajar telah datang, sinar terang muncul dari arah Timur. Justeru itu, dari antara jalanan gunung, ada berlari-lari satu orang ke Sha-tjap-lak Kee-tjoe, untuk sesampainya, menggedor pintu rumahnya Tjiong Hay Peng. Dia temyata ada Lie KeeTjoen, muridnya Tjiang Han Tek dari Ngo Heng Koen, ialah boesoe atau guru silat dari rombongannya Teng Kiam Beng yang atas titahnya Kiam Beng, hendak cari Lioe Lookauwsoe. Karena sesudah jauh malam Kiam Gim belum kembali, Kiam Beng sangka saudara itu pergi pada Hay Peng, dan karena kuatir saudara itu alami hal tak disangka-sangka, Kee Tjoen dikirim untuk menyusul. Atas gedoran, pintu dibuka oleh beberapa muridnya Tjiong Hay Peng. Kee Tjoen tanya hal Kiam Gim, mu-rid ini menyangkal. Mereka mcmang tidak tahu, Hay Peng dengan beruntun telah kedatangan In Tiong Kie dan Lioe Kiam Gim, malah Kiam Gim asyik pasang omong dengan gurunya, scbaliknya mereka jadi gusar, mereka sangka Kee Tjoen ada gundalnya pembesar negcri dan datang untuk cari rahasia. Syukur, sebelum mereka bertempur. Hay Peng dan Kiam Gim muncul, hingga murid-murid itu jadi hcran dan melengak. Ada urusan apa? Kiam Gim tanya Kee Tjoen. Orang she Lie ini mclongo, di depannya Tjiong Hay Peng, ia tidak bisa bcrikan jawaban, sedang tampangnya tuan nunah pun sudah lantas berubah. Kiam Gim- tertawa, sambil uruti kumisnya, ia kata: Lauwtee, Tjiong Loo-tj lanpwec ini ada sahabatku dari

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

beberapa puluh tahun, kau jangan kuatir apa-apa! Bukankah kau orang kuatir aku kena ditahan di sini maka kau datang untuk papak aku? Tjiong Hay Peng pun tertawa dan bcrkata: Jangan kuatir, Lauwtee! Lioe Soepehmu ini, dengan bcrdiam di rumahku, tidak nanti terhilang lenyap! Lie Kee Tjoen menjadi gugup, romannya kuatir. Maaf, Lootj ianpwee, tctapi tidak demikian maksud kita berkata ia, dengan tidak lancar. Hanya, hanya ia terus memandang Kiam Gim dan meneruskan: hanya Teng Soesiok minta Soepeh lekas kembali, sebab tadi malam kita telah kedatangan satu tetamu tidak diundang. Kiam Gim heran. Tetamu siapa itu? Dari mana datangnya? ia tanya. Teetjoe tidak kenal orang itu, sahut Lie Kee Tjoen. Dia bicara lama sekali dengan Teng Soesiok, kemudian baharulah Soesiok titahkan aku susul Soepeh di sini untuk disambut pulang. Kiam Gim hcran, karena itu, ia lantas pamitan dari Hay Peng, terus ia ikut Kee Tjoen. Di tengah jalan, ia ada bersemangat, meskipun satu malaman ia tidak tidur sama sekali. Ia bicara sama Kee Tjoen, ia tanya, siapa sebenarnya tetamu itu. Entahlah, tapi ia datang dari Sin-tek, Kee Tjoen jawab. Begitu bertemu sama Teng Soesiok, dia kata dia datang langsung dari Sin-tek dan dengan ter-buru-buru, dia tidak berhenti-henti di tengah jalan. Tetamu dari Sin-tek? kata Kiam Gim, yang ulangi itu berulang-ulang. Iamenduga-duga dengan sia-sia, ia rnasygul. Sin-tek ada daerahnya Istana Boan. Apakah orang itu datang dengan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

suatu kabar penting, yang berbahaya? Atau dia ada orangnya pembesar negeri yang lagi lakukan penyelidikan? Dugaannya Kiam Gim ini benar dan tidak benar. Benar karena tetamu itu betul ada dari pihak pembesar negeri. Tidak benar karena dia datang bukan untuk cari tahu perihal ia dan orang yang belum ketahui, dari pihak yang bcrtcntangan, ia sekarang ada sahabatnya Tok-koh It Hang. Tetamu itu ada orangnya Keluarga Soh. Seberangkatnya Kiam Beng dan Kiam Gim, Soh Sian Ie dan anaknya pun segera berangkat ke Sin-tek dan ayah dan anak ini bisa sampai lebih dulu. Dengan lantas mereka ini berembukan sama wie-soe, atau pah law an dari istana Sin-tek dan pahlawan dari Istana Pakkhia, kemudian mereka lantas bikin penyelidikan. Dengan lekas mereka dapat tahu yang Kiam Beng bcramai sudah pergi ke Sha-tjap-lak Kee-tjoe, pada Keluarga Tjiong, justeru Keluarga Tjiong ini mereka curigai ada mempunyai sangkutan dengan perampasan upeti, sedang mereka juga tahu, Lioe Kiam Gim ada bersahabat rapat dengan Tjiong Hay Peng. Di sebelah itu, mereka juga telah dengar selentingan hal adanya beberapa or-ang yang tidak dikenal yang suka berkumpul di Hee-poan-shia. Bangsa Boan mcmang paling jenh kalau or-ang-orang kaum Rimba Persilatan mengadakan persatuan. Soh Sian Ie pun tidak ingin Kiam Gim berhasil dengan perjalanannya ini, ia ingin Kiam Beng terus terpisah dan kaummnya, untuk mengatur terus jaring. Dan tetamunya Kiam Beng itu ada salah satu pahlawannya Sian Ie, yang dengan Kiam Beng ada bersahabat kekal. Kapan Kiam Gim sampai di ru man penginapan, ia dapatkan Kiam Beng sudah dandan rapi, sudah siap untuk suatu perjalanan, di sampingnya soetee ini ada seorang dari usia pcrtcngahan yang matanya m i rip mat a tikus dan hidungnya bengkung bagaikan gactan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Eh, Soetee, kau hendak bikin apa? Kiam Gim segera tanya seraya ia tarik tangan orang. Kau hendak pergi ke mana? . Kiam Beng tidak segera menjawab, hanya sambil tarik orang di sampingnya, ia kata untuk memperkenalkan: Soeheng, ini ada Saudara Yap Teng Tjeng dari Pat Kwa Tjiang atau pahlawan dari Keluarga Soh, ia mengabarkan tentang upeti yang dibegal sudah ada kabamya, ia sekarang ajakkita segera berangkat ke Sin-tek! Teng Tjeng maju seraya hunjuk hormatnya. Tentang upeti itu, Loo-enghiong tak usah capaikan hati lagi, berkata ia. Kita orang sudah dapat keterangan, barang pun telah didapat pulang, maka sekarang lata tinggal menunggu kembalinya Tcng Loo-enghiong untuk membereskannya. Tentu saja ada dusta belaka yang barang upcti telah didapat pulang, itu ada alasan melulu guna pancing mcrcka kembaii, Kiam Bene boleh kena diakali, tidak Kiam Gim. Dia ini awasi pahlawan Keluarga Soh itu, ia tidak bilang suatu apa, hanya kemudian, menarik tangannya sang soetee. ia kata dengan sabar. Untuk kembaii ke Sin-tek, tak usah kita tergesa-gesa. Biarlah tctamu kita ini menunggu sebentar, aku ingin bicara dahulu sama kau.w la terus menoleh pada Lie Kee Tjoen seraya teruskan berkata: Tolong kau tcmani dahulu tctamu kita ini. Kemudian pada tctamunya, ia bilang: Maaf, Tuan, maafkan kita si orang desa! Dengan tidak perdulikan, bahvva orang pentang matanya lebar-lebar, Kiam Gim terus tarik Kiam Beng ke dalam. Sebenarnya ada apa, Soeheng? Kiam Beng tanya. Kenapa kita tak bicara di tengah jalan saja? Soetee inipun heran, soehengnya yang paling kenal tata sopan santun, tetapi sekarang bersikap sebaliknya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kiam Gim pandang soetee itu dengan tajam, lantas ia uruturut kumisnya. Soetee, kau seharusnya bisa membeda-bedakan, kata ia, kau bisa bedakan satu orang gagah dari satu kurcaci. Apakah satu kurcaci mesti dipandang sebagai orang gagah dan kau hendak bertaku hormat kepadanya? Mukanya soetee itu menjadi merah. Aku lihat dia ada satu laki-laki berkata ia. Ia merasa tidak enak hati, karena ini adalah yang pertama kali soehengnya bicara demikian tandas kepadanya. Kiam Gim sendin merasa tidak enak ia telah bicara sedemikian rupa terhadap soetee itu, tetapi ia tidak mengerti, kenapa sang soetee begitu percaya orangnya Keluarga Soh itu. Tentang barang upeti, aku telah dapat keterangan, kata ia, yang mclanjuti, untuk simpangi pembicaraan, kemudian ia tuturkan hal pertemuannyasamaTok-koh It Hang dan Tjiong Hay Peng. Barang itu berada di tangannya orang Liauw-tong itu. Itulah bukan maksudnya Tok-koh It Hang akan kangkangi barang itu, tetapi sekarang tidak ada soal untuk mendapatinya kembaii, guna dipulangkan pada Raja Boan. Di scbelah itu, kita justeru diundang untuk satu pertemuan di le-lan. Walaupun ia menerangkan demikian, Kiam Gim masih tidak sebut cita-cita memberantas pemerintah Boan, tetapi ini justeru menyebabkan Kiam Beng keliru mengerti. Dengan sepasang alisnya berdiri, soetee ini kata: Soeheng, jikalau kau hendak pergi ke Liauwtong, pergilah kau sendiri! Aku hendak pergi ke Sin-tek. Terus terang aku sangsikan Tok-koh It Hang. Kenapa dia tidak memandang-mandang lagi, kenapa dia rampas juga benderaThay Kek Kie? Kenapa diapun sampai uji pada Soeheng? Lebih celaka ada si tua bangka Tjiong Hay Peng,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sama sekali dia tidak pandang pula Kaum Thay Kek Pay, kita datang dengan cara hormat, dia justeru uji aku berulangulang! Aku percaya, karena mereka jerih terhadap kita, mereka pakai akal memancing kita datang ke Liauw-tong!. Kiam Gim coba redakan soetee ini tetapi Kiam Beng panas hatinya, maka di akhimya, ia pikir, baik ia ikut soetee ini. Untuk pergi ke Liauw-tong, ia masih punya tempo. Ia pikir, di Sin-tek pun iabisa dengar-dengar kabar. Kalau begitu, Soetee, baiklah, aku nanti iringi kau, kata ia akhimya. Demikian, dengan diantara Yap TengTjeng, mereka berangkat ke Sin-tek. Selang dua hari sesampainya Kiam Beng di Sin-tek, Soh Sian Ie ayah dan anak undang mereka untuk satu pertemuan. Kiam Gim tidak niat iringi saudaranya, tetapi karena ia kuatir untuk saudara itu, akhimya ia turut bersama. Ia tetap curiga, meskipun Kiam Beng hunjuk Sian Ie sudah berusia tujuh puluh lebih dan sudah lama mengasihngi diri. Ia curiga, kenapa Sian Ie yang tua datang sendiri ke Sin-tek, toh cukup kalau dia diwakili puteranya saja, Soh Tjie Tiauw. Kau mesti waspada, Soetee, baik kau bawa pedangmu dan piauw, Kiam Gim pesan. Kiam Beng anggap soeheng itu terlalu curiga, tapi ia menurut, cuma pedangnya tidak dicantel di pinggang hanya disesapkan dalam baju. Pertemuan dilakukan di gedung musim panas dari Keluarga Soh, ruangan yang indah dibikin terang dengan api-api lilin merah. Dalam tembok pekarangan ada ditanami ban yak pohon pek yang besar dan tinggi. Di dalam ruangan pun ada dibakar dupa yang harum. Di sebelahnya tetabuhan, ada terdengar nyanyian-nyanyian yang merdu. Kiam Beng dilayani

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sebagai tetamu yang dihormati. Kiam Gim tidak biasa dengan penghidupan mewah begini, bukannya ia bergembira, ia malah rada mendongkol. Ia tetap waspada. Di waktu Sian Ie dan Tjie Tiauw undang mereka minum arak, ia awasi dulu ayah dan anak itu, sesudah mereka hirup arak mereka, baharu ia turut minum, untuk dicicipi saja. Tidak demikian dengan Kiam Beng, yang tenggak arak dengan rakus. Soetee ini malah tertawakan dengan diam-diam pada soehengnya, yang dicelah terlalu curiga. Di dalam hatinya ia kata: Kalau arak ada racunnya, mustahil Sian Ie dan Tjie Tiauw minum itu? Kiam Beng tidak tahu, walaupun arak itu dicampuri racun, akan tctapi cara bikinnya ada istimewa, campuran obatnya ada bcrbcda, ialah siapa minum itu, dia akan jadi letih, tcnaganya berkurang. Untuk ini, or-ang-orang Boan itu tidak bcrkuatir. Sclagi bicara, Kiam Bcng tanya akan hal barang upeti dan Tjic Tiauw hunjuk, seorang polisi asal Pakkhia dapat serepi, si begal ada orang Liauw-tong dan barangnya diumpcti di suatu tempat lak jauh dari Sin-tek. Karena di tempat itu ada sarangnya kaum Kang-ouw, kita tidak berani sembarang turun tangan, kita scngaja tunggu Djiewie dahulu,Tjie Tiauw tambahkan. Jawaban ini tidak dapat dipcrcaya, oieh Kiam Gim dan oleh Kiam Bcng juga. Mustahil barang upeti disembunyikan di dekat Sin-tek? Meski begitu, Kiam Bcng tidak bilang suatu apa. Pcrjamuan dilanjuti, pelayan-pelayan tak hcnti-hcntinya putari tetamu-tctamu untuk melayani. Para hadirin. kebanyakan pahlawan, ada tidak dikcnal oleh Kiam Bcng. hal ini membuat Ketua Thay Kek Pay ini tak leluasa sendirinya, dari tak leluasa, ia jadi curiga. Habis tiga edaran, datang saatnya tambahan barang hidangan. Ketika itu, Soh Sian le berbangkit, katanya, ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

hendak buka bajunya yang gerombongan. Justeru itu muncul pelayan yang membawa nenampan terisi barang santapan. Pelayan ini bcrtubuh besar, tindakannya tetap, kcdua matanya bersinar tajam. Terang ia ada seorang yang mengerti boegee. Dua pelayan di belakangnya Soh Sian le mcmbantui orang Boan itu buka bajunya, untuk ini, orang Boan itu undurkan diri dari meja. Berbarengan dengan itu Tjie Tiauw berbangkit, untuk bcritahukan para tetamu bahwa masakan yang baru disuguhi itu ada hidangan yang langkah, k arena itu adalah bah so ikan lee-hie dari sungai Loan Hoo. Si pelayan sudah lantas sampai di depannya Kiam Beng dan Kiam Gim, bclum nenampan diturunkan ke atas meja, atau itu sudah ditumpahkan ke arah kedua soeheng dan soetee ini, pada kcpala mercka. Isinya mangkok bukannya bahso ikan, hanya welirang yang bundar-bundar bagaikan peluru, yalan lioc-hong-tan, semacam senjata rahasia istimewa, sedang siapa gunai itu, dia mesti paham lwee-kang, kalau tidak, peluru itu tak akan meledak dan mcnyala, untuk membakar pakaian dan kulit dan daging. Dan berbareng dengan tumpahnya mangkok bahso, lioehong-tan lantas menyala, menyambar-nyambar apinya! Dua-dua Kiam Beng dan Kiam Gim kaget bukan kepalang, akan tetapi Kiam Gim sudah siap sedia, karcna ia terus waspada, maka itu, selagi lioe-hong-tan menyala, sambil berseru keras. ia gunai dua-dua tangannya akan terbaliki meja berbaru marmer. Syukur ia bertenaga besar kalau tidak, meja itu tidak akan terangkat, karena berat, kakinya dari kuningan. Karena itu, api jadi menyambar ke lain arah, hingga soeheng dan soetee ini tidak terluka. Menyusul itu, angin menyambar ke arah Kiam Gim. Itulah sambarannya senjata rahasia, dari arah belakang. Jago ini

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

segera egoskan tubuhnya ke kanan, untuk berkelit, berbareng dengan itu, tangannya membetot tubuh soeteenya, kemudian dengan enjot kedua kakinya, ia terus lompat jumpalitan ke belakang, lalu, sebelum orang tahu apa-apa, j tangan kanannya menyambar ke tenggorokannya si penyerang gelap dan kaki kanannya mendupak keras, hingga musuh roboh seketika itu juga. Tidak tunggu sampai Iain-lain musuh menyerang pula atau maju, Kiam Gim dengan sebat hunus pedangnya Tjeng kong Kiam dan tangan kirinya meraup Kim-tjhie-piauwnya, sembari tolak tubuhnya Kiam Beng, ia serukan: Kenapakau tidak lekas hunus pedangmu! Kiam Beng melongok, ia heran dan tidak mengerti sekali atas kejadian itu, tetapi tegurannya sang soeheng membikin ia sadar, maka itu, ia berbalik jadi sangat gusar, sembari cabut pedangnya, ia berseru: Orang-orang tidak tahu malu! Aku nanti adu jiwa dengan kau orang! Di pihak tuan rumah, semua or-ang sudah lantas keluarkan senjatanya masing-masing, malah sekalian pelayan juga turut, oleh karena mereka adalah pelayan-pelayan palsu, mereka ada kawanan kurcaci dari Rimba Pcrsilatan. Kiam Gim, yang memandang ke semua pintu, dapatkan semua itu telah ditutup rapat, sedang kursi meja pada terbalik, letaknya kalang kabutan. Ia dapat kenyataan, di dalam mangan yang tidak terlalu lebar itu, berdua mereka sudah terkurung. Segera juga, penyerangan telah dimulai. Kiam Gim dihadapi oleh seseorang yang bergenggaman golok lancip, yang telah putar goloknya sejak ia berada di antara sebuah meja. Ia dibacok dari arah pundak terus ke tenggorokan. Kiam Gim mundur, di belakang ia ada sebuah kursi, hampir saja ia keserimpat, sedang dari sebelah kiri ada menyambar satu Thic-tjio dan dari kanan sebatang ruyung, kedua-duanya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sampai dengan berbareng. Ia ada sangat gusar, tapi ia ingat, selagi terkurung ia tidak boleh turuti nafsu amarah, sebaliknya, ia hams berhati adem dan tenang, maka itu, ia kendalikan diri. Begitulah, dengan geraki pedangnya, ia tangkis semua tiga serangan itu dengan satu sampokan saja, hingga semua senjata musuh jadi terpental, sesudah itu, ia tempel tubuh dengan tubuhnya Kiam Beng, hingga ke depan, ke kiri dan kanan, mereka bisa melihat dan bergcrakdcngan leluasa. Pihak lawan juga tidak bisa bergerak dengan leluasa, discbabkan jumlah mereka yang terlalu banyak dan kursi-meja menjadi rintangan, hal ini jadi ada baiknya juga bagi sochcng dan soetee itu, yang mencoba mcndesak, untuk membuka jalan. Ruangan jadi berisik dengan beradunya alat-alat senjata. Selagi musuh tidak berdaya. aniaranya ada yang rubuh, ada yang senjatanya terpenta! dan terlepas, tiba-tiba Kiam Gim serukan soetecnya: Man turut aku! Serbu! Dan ia putar pedangnya, ia lompat ke depan. Kiam Gim insyaf, ia tidak bolch bertempur lama-lama di ruangan tak lebar dan tertutup itu, lama-lama itu berarti menanti kematian, maka itu, ia pcrlihatkan ia punya ilmu pcdang Thay Kek Tjap-sha-kiam. Dengan lekas, ia telah mendekati jendela sebelah rimur. Kiam Beng turut teladan* soehengnya itu, ia mengintii di sebelah belakang. Kawan-kawan di luar, awasl demikian orang berseru. Sang kambing hendak nerobos! iaga! Berbareng dengan itu, Kiam Gim telah dobrak jendela dengan kepalan kirinya menyusul mana, dengan loncatan Peh rjoa tjoet tong atau Ular putih keluar dari gua, dengan letaki pedang di depannya, ia loncat keluar jendela itu. Ia percaya benar, di luar ada musuh, atau musuh-musuh yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menjaga ia, tetapi ia tidak boleh takut. ia putar pedangnya, guna bela diri. Dugaannya jago Thay Kek Pay ini tidak meleset, begitu tubuhnya muncul, ia disambut dengan bermacam-macam senjata rahasia, maka dengan di put amy a pedangnya, semua senjata itu mengenai pedangnya dan jatuh ke tanah. Selagi menangkis, tangan kirinya jago ini tidak diam saja, dengan itu, iapun menyambit dengan piauwnya, dengan gerakan Thian lie san hoa atau Bidadari menyebar bunga, atas mana, beruntun ada terdengar jeritan-jeritan dari kesakitan, terang ada musuh-musuh yang menjadi korban! Bagaikan harimau keluar dari guanya, demikian Kiam Gim keluar dari jendela dengan tubuhnya yang bcsar. Untuk leganya hati, apabila ia ambil ketika akan menoleh ke belakang, ia lihat Kiam Beng tetap ada di belakangnya. Sungguh berbahaya! ia mengeluh sendirinya. Masih soeheng dan soetee ini belum lolos dari bahaya. Benar sekarang mereka berada di tempat yang lega, akan tetapi, musuh masih tetap mengurung mereka. Kecuali musuh-musuh yang di luar, di dalam juga merubul keluar. Jumlah pahlawannya Soh Sian Ie ini ada tiga sampai lima puluh orang, di antaranya ada juga yang liehay. Sekarang mereka ini juga bisa bergerak dengan merdeka. Sembari bertempur, Kiam Gim dari jalan keluar. Di mana di belakang ia ada Kiam Beng yang menjaga, ia bisa pusatkan perhatiannya melulu ke depan, ke kiri dan kanan. Walaupun demikian, ada sulit untuk bisa segera membuka jalan. Selang sedikit lama, justeru ia bisa rubuhkan satu musuh di depannya, Kiam Gim terus lompat, akan gunai tempat yang lowong itu. Ia lompat tinggi dan jauh, hingga ia menghadapi sebuah pohon bcsar. Di sini, baharu saja kakinya injak tanah, atau tiba-tiba sebatang toya besi menyambar ia dari arah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tempat yang gelap. Di situ ada bersembunyi satu pahlawan, yang kepandaiannya tinggi dan tenaganya besar. Dia kirim kemplangan Soat hoa khay teng atau Bunga salju menutup batok kcpala. Dalam keadaan seperti itu, Kiam Gim tidak bingung, matanya jeli, kupingnya terang, mengetahui ada serangan, ia tidak mau menangkis, ia hanya berkelit, hingga toya menimpa tempat kosong. Apa celaka bagi si penyerang, karena ia hajar tempat kosong, tubuhnya menjerunuk ke depan, dari itu, sambil sambar toya orang, yang ia tajik dengan keras, jago Thay Kek Pay itu bikin lawannya ngusruk ke arah ia sekali. Sebat luar biasa, Kiam Gim totok orang punya jalan darah Moa-djoan-hiat, lalu selagi orang menjadi mati kutunya, ia sambar batang lehernya, ia cekal tubuhnya, terus ia angkat. Justeru itu, serangan datang dari depan dan belakang. Untuk menolong diri, ia putar tubuh musuh bagaikan senjata saja! Ia berhasil dengan cara menangkisnya ini, semua musuh mundur sendirinya Soetee, man ikut aku! Kiam Gim serukan adik seperguruannya. Ia girang sekali menampak musuh mundur semua. Tapi ia tidak dapat jawaban, hingga ia jadi heran. Ia berseru pula, sampai tiga kali, tetap sang soetee tidak sahuti ia. Dalam herannya, ia segera menoleh ke belakang,. Bukan main kagetnya! Ia tampak Kiam Beng lagi dikepung musuh, tubuhnya limbung, seperti hendak rubuh. Celaka! pikir ia. Tidak tempo lagi, melupakan bahaya, ia putar tubuhnya, ia putar pedangnya akan tolongi saudaranya itu, yang sedang terancam bahaya maut Teng Kiam Beng telah terlalu percaya Soh Sian Ie, ia teguk arak dengan tidak bataskan diri, benar arak itu bukannya arak racun, tetapi tenaga arak itu ada luar biasa. Tidak demikian dengan saudaranya, yang cuma mencicipi saja. Sudah minum banyak arak, iapun mesti keluarkan banyak tenaga, dari itu,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dalam tempo yang lekas, ia menjadi lemah, pengaruhnya arak bikin ia letih, tidak heran, ia jadi kewalahan mclayani banyak musuh. Puncaknya kehebatan adalah kctika tubuhnya tctap jadi sempoyongan limbung tidak kcraan! Dalam saat sangat bcrbahaya dari saudaran ya itu, Kiam Gim menyerbu hebat sekali. Dengan sebclah tangan masih cckal tubuh musuhnya, iagcraki pedangnya sccara luar biasa. Dengan sikap nekat ini, ia bikin musuh-mnsuhnya jcrih. hingga mereka pada mundur. la mcrangsek teras. Bcnar sclagi ia mendekati Kiam Beng, tiba-tiba angin menyambar dari sebclah bclakang! Di waktu bcrgulat mati-matian sccara demikian, hatinya Kiam Gim tidak pernah gentar, matanya jeli, kupingnya awas. Demikianlah ia putar tubuh seraya majukan tubuh musuhnya ke depan. untuk dipakai menangkis serangan geiap itu. A rich, tak ada senjata musuh yang datang menyerang! Seiagi Lioe Loo-kauwsoe heran dan mengawasi dengan mata dipentang lebar, tiba-tiba ia lihat benda berkelebatan bagaikan ular emas terbang serabutan, segera lelatu api menyambar, hingga tubuh musuh di tangannya lantas terbakar, malah lelatu pun nyasar menyambar kepadanya sendiri. Nyatalah itu ada senjata rahasia Hoe-hong tan-tjoe atau peluru welirang yang bisa menyala. Selama pertempuran kusut, musuh tidak bcrani gunai senjatanya itu, mereka kuatir nanti api membakar orang sendiri, akan tetapi sekarang, di tempat terbuka, mereka tak ayal akan gunai itu, tidak perduli di tangan law an mereka mempunyai satu kawan. Pelepas senjata itu kuatirkan Kiam Gim nanti mencapai maksudnya, dia tak perdulikan kawan sendiri, malah ia gunai cara penyerangan bcruntun-runtun! Rupanya dia berpendapat, biar kawan binasa, asal bersama musuh, binasa bcrsama-sama, asal kedua musuh tak dapat lolos! Atau dia pikir, kawan itu toh bakal terbinasa, tidak apa dia yang binasakannya!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Untuk menangkis senjata rahasia, tak perduli senjata api, berbagai macam senjata boleh digunai, mclainkan beda dengan lioe-hong tan-tjoe, karena peluru welirang tak dapat d i tangkis atau dijaga, makin ditangkis, lelatunya menyala makin hebat. Celakanya bagi Kiam Gim, ini ada scrangan di luar dugaannya. Hanya syukur bagi ia, hatinya tetap tak jadi keder. Untuk tolong diri, segera ia lemparkan tubuh musuh, yang sudah terbakar, ia sendiri segera jatuhkan diri ke tanah, akan terus bergulingan dengan tipunya Koen tee tong, atau Berguling di tanah. Sekejab saja, ia telah jauhkan diri tiga tumbak lebih. Semua api, yang menyambar pakaiannya, padam karena bergulingannya itu, hingga ia tidak terbakar terus. Habis itu, ia mencelat bangun, akan lanjuti serangan hebat karena tetap ia hendak tolongi soeteenya. Kiam Beng punya boegee ada lebih rendah setingkat daripada boegee soehengnya, tetapi dasar murid sejati dari Thay Kek Boen, ia sudah cukup liehay, melulu disebabkan pengaruh arak keras, iajadi lelah luar biasa cepaL Hatinya tetap besar, sayang tenaganya telah berkurang. Di sebelah itu, ia mesti hadapi musuh-musuh yang liehay, pahlawanpahlawan Istana Boan. Di antara pahlawan-pahlawan itu yang paling liehay adalah satu yang bersenjatakan Tjit-tjiat Lianhoan Hek-houw-pian, ruyung tujuh garis. Ruyung itu menyambar-nyambar dengan perdengarkan suara angin menderu-deru, senantiasa turun dari atas, hingga Kiam Beng repot melayaninya. Walaupun sudah lelah, kapan Kiam Beng lihat soehengnya lagi mendesak, semangatnya terbangun pula, permainan pedangnya tak jadi kalut, ia baharu menjadi kaget bukan terkira apabila ia tampak lelatu api muncrat serabutan, sedang musuh-musuh di kiri-kanan pada berseru-seru, hingga ia sangka soeheng itu terkena dibokong. Segeralah, gerakan pedangnya menjadi ayal sendirinya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dalam keadaan seperti itu, sekonyong-konyong musuh bergenggaman ruyung liehay itu perdengarkan tertawa aneh, tubuhnya maju, ruyungnya menyambar, bagaikan sambarannya ular hidup. Kiam Beng lihat ancaman bahaya, ia masih bisa empos semangat dan tenaganya, iaenjot tubuh, akan lompat sampai beberapa kaki tingginya, ketika ujung ruyung sampai, iajejak itu dengan sebelah kakinya seraya sebelah kepalannya melayang. Sayang bagi ia, tenaganya telah sangat kurang, gerakannya lambat sekali, ketika musuh tank ujung ruyungnya, akan dipakai menusuk pula, tak tempo lagi, perutnya kena tersodok, hingga ia merasakan sakit bukan kepalang. Syukur baginya, ia masih bisa bikin kempes perutnya, hingga tidaklah ia sampai terbinasa seketika juga, hanya tubuhnya terpental dua-tiga tumbak, rubuh di tanah dengan tak dapat bergerak pula! Adalah di saat demikian, satu musuh yang mencekal golok lompat memburu, untuk turunkan senjata tajamnya itu pada lawan yang sudah tidak berdaya ini! Itu adalah saat dari mati atau hidup, tetapi justcru di saat itu, bintang penolong datang, seperti terbang dari luar langit. Di medan pertempuran itu ada pohon-pohon dengan cabang-cabang yang lebat dengan daun-daun, tiba-tiba dari sana tgrdengar beberapa kali suara luar biasa, seperti suaranya burung-burung malam, yang membikin orang terkejut, hingga sekalipun sekalian pahlawan dan or ang-orang Kang-ouw yang hatinya telengas itu, kaget juga, sampai mereka saling mcngawasi di antara konco sendiri. Sudah itu, lalu terdengar bentakan: Kelinci, jangan gunai senjata gelap! Dan bentakan itu keras laksana guntur!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dan segera, mcnyusul itu, dari cabang-cabang pohon ada berlompat turun, seperti burung-burung menyambar, bcbcrapa orang atau lebih benan empat orang, ialah Tok-koh It Hang, In Tiong Kie, Tjiong Hay Peng dan Law Boe Wie! Sekejab saja, orang-orangn ya Soh Sian le tercengang, tapi habis itu, mereka mulai pula dengan mereka pun ya penyerangan, kali ini terutama mereka gunai berbagai senjata rahasia, yang dipakai menyambut empat lawan baru itu. Tok-koh It Hang berempat tidak gubris datangnya berbagai senjata rahasia itu, lebih-lebih In Tiong Kie dengan ia punya Teng hong pan kee atau ilmu mengenali alat senjata dengan mendengar saja sambaran anginnya. Dalam ilmu ini, dalam dunia Kang-ouw, dia ada]ah orang pandai nomor satu. Maka juga, saban senjata menyambar, ia sebutkan itu satu persatu, hingga kawan-kawannya jadi dapat tahu. Empat orang ini bergerak dengan sangat gesit, teristimewa Tok-koh It Hang si Garuda Malaikat Seratus Cakar, karena dalam ilmu entengi tubuh, ia malah ada di atasan Lioe Kiam Gim. Ia bergerak seumpama garuda berputar, naga melesat, atau ular menyambar. Saban-saban ia loncat tinggi, di atasan musuh, sedang dengan ia punya kim-na-tjioe, tangan yang liehay, ia menyerang atau menangkis. Ia menuju langsung kepada Teng Kiam Beng, untuk hampirkan musuh yang hendak turunkan tangan jahat. Musuh inipun terguguh ketika tadi ia dengar suara aneh, yang disusul sama datangnya empat lawan baru itu, hingga untuk sesaat, ia batal membacok Ketua Thay KekPay itu. Sekejab saja, Tok-koh It Hang sudah sampai pada musuh, tangan kanannya segera diulur, sebelah kakinya dimajukan. Gerakan tangan itu ada gerakan Siauw thian tjee atau Bintang Cilik. Sama sekali ia tak berikan kesempatan pada musuh itu. Tidak ampun lagi, pahlawannya Soh Sian le kena dibikin terpental, sampai ia kena tubruk satu kawannya,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

hingga keduanya jatuh bergulingan, sampai ia punya mata kekunangan, kepalanya pusing. Hampir berbareng dengan itu, pahlawan yang bersenjatakan ruyung Tjit-rjiat Lian-hoan Hek-houw-pian datang mendesak, iaini lihat Tok-koh It Hang, yang tidak bergenggaman, ia tidak pandang mata, sambil perdengarkan tertawa aneh, ia menyambar dengan ruyungnya. Gerakan tubuhnya ada Kouw sie poan kin, atau Pohon tua terbongkar akarnya. Ruyungnya menyambar ke bawah, menyapu dengan hebat, disusul sama seruannya: Tua bangka, kau antarkan jiwa? Tok-koh It Hang belum pernah ketemu tandingan, kecuali Lioe Kiam Gim, dari itu, ia tidak kenal takut, ia malah girang sekali nampak cara majunya musuh ini. Luarbiasa sekali, ia papaki musuh, tubuhnya seperti terputar, di antara seruan anehnya, sebelah tangannya menyambar! Tidaklah kecewajago Liauw-tongini dijuluki Pek-djiauw Sin Eng, karena tahu-tahu, tangannya sudah mengenai lengan kanan orang atas mana, musuh menjerit kesakitan, tubuhnya jadi lemas, tenaganya habis seketika! Maka, ketika Tok-koh It Hang kibaskan tangannya, tubuh orang itu terangkat naik, melesat melayang bagaikan senjata rahasia, ke arah kambratnya dia itu! Kelinci, lihat! Aku si tua bangka yang antari jiwa atau kau sendiri! demikian ia berseru sambil tertawa berkakakan. Berbareng dengan itu, In Tiong Kie telah menerjang ke dekat kawannya ini. Ia sudah gunai ruyung Kauw-kin Hongliong-piannya, sampai sambaran anginnya terasa di tempat dua tumbak jaraknya. Di situ ada tujuh penjahat, yang kesima karena keliehayannya Tok-koh It Hang, yang gunai tubuh manusia sebagai senjata rahasia; mereka ini kaget atas ini musuh baru, hingga segera mereka kena didesak mundur.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tok-koh It Hang gunai ketika itu, akan angkat tubuhnya Teng Kiam Beng, akan diletaki di bebokongnya. Ia berlaku hati-hati. Saudara Teng, apakah lukamu parah? ia tanya. Kau diam saja, Segera kita akan lolos dari kepungan! Kiam Beng telah terluka hebat, melulu disebabkan latihan darr ketangguhannya, ia tidak segera putus jiwa, ia pun sadar, dari itu, ruwet benar pikirannya akan kenali, penolongnya ini justeru ada orang yang paling ia benci, hingga ia tak tahu, ia mesti berterima kasih atau bergusar. Demikian ia melainkan bisa bilang, Oh, kau? lalu ia berdiam saja Tok-koh It Hang kerutkan sepasang alisnya. Ia mengerti jago Thay Kek Pay ini telah terluka parah sekali. Maka yang penting untuk ia sekarang adalah berlalu dari medan pertempuran itu. Ia lantas melihat ke sekitarnya. Semua kawannya, berikut Lioe Kiam Gim, sedang bergulat dengan orang-orangnya Soh Sian le. Kiam Gim mengamuk dengan pedangnya, In Tiong Kie dengan ruyungnya, dan Tjiong Hay Peng dengan gaetannya. Law Boe Wie juga mainkan pedangnya secara hebat. Pihak Soh tidak bisa berbuat banyak terhadap empat lawan itu, akan tetapi, karena mereka berjumlah besar sekali. mereka ini pun tidak bisa segera pecahkan kepungan atau noblos keluar. Kedatangannya rombongan dari Tok-koh It Hang ttu memang sengaja untuk bantu Kiam Gim dan Kiam Beng. Hay Peng telah dengar pembicaraannya Kiam Gim dengan orang yang diutus Kiam Bcng, bahwa mereka hendak pergi ke Sintek. Mendengar ini, Hay Peng sibuk, akan tetapi iatidak dapat cegah Kiam Gim pergi pada soeteenya itu, dari itu, seberlalunya orang she Lioe itu, ia segera dari Tok-koh It Hang. Ia beritahukan halnya kemana Kiam Gim hendak pergi, ia hunjuk perlunya or-ang she Lioe itu mendapat bantuan karena di Sin-tek, di Istana Raja Boan, ada mengeram banyak orang-orang lichay. Syukur itu waktu Tok-koh It Hang belum

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berangkat ke Liauw-tong dan In Tiong Kie masih bersamasama dengannya. Dan Tok-koh It Hang nyatakan suka pergi begitu lekas ia dengar keterangannya orang she Tjiong itu, walaupun sebenarnya, ia tidak sctuju yang Kiam Gim turuturutan Kiam Beng pergi ke Sin-tek. Mulanya Tjiong Hay Peng tanya, Tok-koh It Hang suka pergi atau tidak, lantas Tok-koh It Hang urut-urut kumisnya dan kata sambil tertawa besan Tentu saja aku suka pergi! Kenapa tidak? Kita harus gunai saat baik ini untuk can pengalaman! Aku pun ingin lihat orangorang gagah yang kesudian jadi kaki-tangannya bangsa Boan mempunyai berapa kepala dan lengan! Bukan melainkan aku. juga Saudara In Tiong Kie harus pergi akan lemaskan uraturatnya! Semua orang tertawa Demikian, mereka dapat persetujuan, untuk berangkat. Justeru itu, Law Boe Wie sampai di Sha-tjap-lak Kee-tjoe, mengunjungi Tjiong Hay Peng. Boe Wie menduga guru dan paman gurunya pergi pada Keluarga Tjiong ini, ia tidak menyangka gurunya yang kedua Tok-koh It Hang berada di situ, dari itu, datangnya ada kebetulan sekali. Iapun ada punya satu urusan lain dengan gurunya, Lioe Kiam Gim. Tokkoh It Hang girang melihat datangnya ini murid, akan tetapi ia heran menampak romannya yang kucel, seperti murid itu sedang berduka. Ia segera tanya, murid ini ada punya urusan apa, malah ia tanya berulang-ulang sewaktu orang ayal menyahutinya. Selagi ia menanya, ia tidak menyebut murfb pada muridnya ini, maka juga Tjiong Hay Peng menyelak seraya berkata: Kau niscaya belum ketahui, dia ini ada murid tersayang dari Lioe Kiam Gim? Atas ini, Tok-koh It Hang melainkan bersenyum. Aku telah ketemu sama gurumu, kita sekarang justeru hendak berangkat menyusul ia, untuk membantu, Tok-koh It

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hang beritahukan muridnya ini seraya ia tuturkan kenapa Kiam Gim pergi ke Sin-tek. Law Boe Wie kerutkan alis. Ia insyaf, gurunya pasti ada menghadapi ancaman bahaya. Inilah sukar bagi ia, karena ia segera ambi! putusannya itu! Biar bagaimana, ia perlu pergi susul gurunya dahulu. Begitulah mereka sudah berangkat ke Sin-tek, dan mereka datang di saatnya pertempuran hebat berlangsung, hingga mereka turut ceburkan diri, untuk membantu itu kedua soeheng dan soetee yang terancam bahaya. Kiam Gim semua tidak pikir untuk melabrak musuh. Kiam Beng telah terluka, perlu mereka lekas angkat kaki dari sarangnya Keluarga Soh itu. Bertempur lama-lama tidak ada faedahnya, kalau sampai nanti datang tentara negeri, itulah hebat. Bersama-sama In Tiong Kie, Kiam Gim membuka jalan, dalam keadaan sulit, mereka maju terus. Sambil menggendol Kiam Beng, Tok-koh It Hang pernahkan diri di tengah-tengah kawan. Di belakang Tjiong Hay Peng dan Law Boe Wie. Walaupun ia sedang lindungi Kiam Beng, Tok-koh It Hang tidak diam saja dengan pedang dan tangan kosongnya, sabansaban ia minta korban. Kiam Gim ngamuk hingga ia berhasil membuka satu jalan, akan nerobos ke pepohonan yang lebat, sampai ia mendekati tembok pekarangan. Di belakang ia, In Tiong Kie berlaku tidak kurang gagahnya, hingga mereka bisa diikuti rombongan mereka Sampai di sini, masing-masing mereka lantas perlihatkan keentengan tubuh mereka. Dengan beruntun mereka enjot tubuh akan loncat naik lebih jauh ke tembok, buat dari sini lompat turun keluar pekarangan. Orang-orangnya Keluarga Soh kena dibikin ketinggalan, cuma lima atau tujuh orang yang dapat mengikuti terus, tetapi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mereka bersikap seperti hendak menguntit saja, untuk cari tahu, kemana Kiam Gim semua hendak pergi. Kiam Gim mendongkol sekali melihat sikap orang itu, segera ia memberi tanda rahasia, atas mana, mereka semua lantas kendorkan tindakan mereka, untuk berikan ketika semua pahlawan musuh dapat mencandak, tetapi, tempo orang sudah datang cukup dekat, dengan mendadak ia putar tubuhnya dan menyerang secara hebat Pahlawan yang maju paling muka menjadi kaget, ia bersenjatakan tumbak gaetan, ia gunai gaetannya itu, akan menangkis serangan sekonyong-konyong itu. Kiam Gim mendekam, pedangnya dipakai menyampok ke atas, selagi gaetan musuh terpental, ia menyapu ke bawah. Bukan main gesitnya. Lantas pahlawan itu menjerit keras, tubuhnya rubuh, karena kedua kakinya sebatas dengkul kena dibabat kutung! Pahlawan yang kedua sudah lantas sampai, ia kaget, ia tak sempat tahan diri, sebelum ia sempat berdaya, kakinya Kiam Gim sudah serampang ia dengan Soan hong sauw touw twie atau Tendangan angin puyuh. sehingga ia kena tersapu, tubuhnya terpental beberapa tumbak, tubuh terbanting. Kawanan budak tak tahu malu! Kaim Gim segera perdengarkan suaranya yang keren. Melulu karena andali jumlah banyak, kau orang berani banyak tingkah! Hayo, siapa punya kepandaian, mari maju kemari! Aku Lioe Kiam Gim, pedangku, piauwk u, tidak nanti berlaku sungkan lagi terhadap kau orang! Dengan pedangnya Thay-kek-kiam di depan dada, Kiam Gim bcrdiri tcgak, mengawasi dengan bcngis pada musuhmusuhnya. Kawanan pahlawan itu kena dibikin ciut hatinya. tanpa biiang suatu apa, mereka putar tubuh, terus mcrcka menyingkir.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kiam Gim tertawa dingin, ia masuki pedangnya ke dalam sarung. Ia memandang ke sekitarnya, mendongak ke langit, akan lihat jernihnya cahaya rembulan dan bintang-bintang. Sunyi senyap di empat penjuru. Mari kita berangkat! kata ia akhirnya, sambi) bersenyum. Rombongan ini lantas berjalan dengan cepat, keluar Kota Sintek, akan memasuki daerah Pegunungan Yan San di antara Sin-tek dan Peng-tjoan, tempo sang fajar sudah datang, mereka sudah berada di sebuah rimba di luar kota, jauhnya seratus lie lebih dari Kota Sin-tek. Di sini di dalam hutan lebat, di dalam gunung, mereka keluarkan napas lega. Dengan perlahan-lahan, Tok-koh It Hang turunkan tubuhnya Kiam Beng, In Tiong Kie dan Tjiong Hay Peng dengan sebat gelar sepotong baju biru dan sepotong mantel kulit kambing, atas mana tubuhnya Kiam Beng direbahkan, supaya dia ini tidak sampai demak dengan embun. Kiam Beng rebah dengan kedua mata separuh tertutup, mukanya sangat pucat, mulutnya tersungging senyuman, suaranya tidak tedas, ia seperti hendak mengucapkan katakata, tetapi tidak mampu keluarkan itu. Menampak demikian, semua or-ang menjadi terharu sekali. Beginilah nasibnya satu jago, yang polos, yang mau percaya seorang licin__ Selagi orang berdiam, Batara Surya muncul dari belakang gunung, memperlihatkan sinar kuning emas yang lemah, menembusi mega, menembusi juga pepohonan. Tanpa merasa, Boe Wie angkat kepalanya. Matahari telah keluar! kata ia. Untuk Kiam Beng- ia merasakan ini adalah sinar matahari yang terakhir ia dapat pandang. la telah buka matanya, dari situ lantas mengalir air matanya. Ia memandang kepada semua orang, lantas ia menangis sesenggukan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Aku kuatir inilah yang terakhir aku melihat matahari kata suaranya lemah. Soeheng!dan iaawasi Lioe Kiam Gim. Soeheng, menyesal aku tidak dengari kata-katamu!. Kiam Gim ada bagaikan baharu sadar dari mimpinya. Ia pandang soetee itu, air matanya mengembang. Ia membungkuk, akan lihat muka soetee itu terlebih dekat. Soetee berkata ia, dengan niat menghibur, kau jangan kuatir. Kita nanti obati kau sampai sembuh. Asal kita sudah keluar dari Gunung Yan San ini, jangan takut sakit hati ini tak akan terbalas! Hanya. Ia berhenti ber-kata-kata, ia menangis. Ia lihat lukanya Kiam Beng yang hebat. Baju luar dari soetee ini sudah robek, di perutnya ada tanda biru kecil tetapi itu menandakan bahvva tulang rahang telah patah, menjadi korbannya Tjit-tjiat Lianhoan Hek-houw-pian, itu ruyung yang liehay. Celakanya, di situ mereka tidak punyakan obat, kecuali dua butir obat Tiat-tah-wan, piranti jatuh dan terpukul, yang nampaknya tidak bisa berbuat banyak. Tok-koh It Hang ada punya obat piranti punahkan racun senjata rahasia, obat ini pun tidak mengenai. Masih Kiam Gim mencoba, dengan berikan pula soetee itu Tiat-tah-wan. Kiam Beng goyangi kepalanya dengan lemah. Toako, aku sudah tak berguna lagi kata ia sambil menangis. Aku harap, di belakang hari, sukalah kau tilik anakku si Hiauw. Umpama kata kau ketemu dia, tolong beritahukan bahwa ayahnya tidak lagi memaksa dia dalam urusan pernikahannya. Kau minta dia pulang, untuk satu kali saja sambangi kuburanku, selanjutnya aku akan mati meram.. Anak si Hiauw itu adalah Teng Hiauw, puteranya Kiam Beng. Anak ini menghilang pada lima tahun yang Ialu, karena

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bentrok sama ayahnya dalam urusan jodohnya. Kiam Gim manggut Itulah urusan kecil, aku bisa bereskan itu, kata ia. Aku nanti perlakukan si Hiauw seperti anak sendiri, sebagaimana dahulu mendiang ayahmu perlakukan kepadaku. Kiam Beng manggut, agaknya ia sangat bersyukur. Kemudian ia berpaling pada Tok-koh It Hang, ia awasi jadi Liauw-tong ini. Tiba-tiba berkelebatlah hal-ihwalnya, bagaimana ia sudah dipermainkan oleh Soh Sian Ie, sampai ia bentrok sama jago ini. Karena ia ditolong Sian Ie, ia jadi dimusuhkan kaum Rimba Persilatan. Ia malukalau ingat ia dikalahkan oleh Tok-koh It Hang yang ia layani dengan tangan kosong, ia berpikir untuk mencari balas, siapa tahu, sekarang ia ditolong jago Liauw-tong itu, malahan musuhnya, si pahlawan bergenggaman Tjit-tjiat Lian-hoan Hek-houw-pian, telah binasa di tangan jago ini. Ia menyesal. Tok-koh Loo-enghiong, aku telah berlaku keliru terhadap kau kata ia dengan suaranya lemah. Sekarang, selagi aku menghadapi kematian aku bisa bersahabat dengan kau, aku puas. Aku berterima kasih kepada kau, yangtelah balaskan sakit hatiku. Loo-enghiortg, aku akan menutup mata dengan mata meram. Ah!. ia bcrhcnti sebentar, untuk melanjuti, dengan terputus-putus: Sayang itu jahanam she Soh tidaklah dengan tangan sendiri aku bisa binasakan dia.r Tok-koh It Hang jadi sangat terharu, sampai -air matanya mengembang. Sebenarnya ia hargai Kiam Beng, ia hanya tidak sctujui sepak terjangnya yang sudah bcrsahabat sama Soh Sian Ie dan pembesar-pembesar negeri, hingga karcnanya. ia ganggu jago Thay Kek Pay ini dan tcmpur padanya. Tapi sekarang ia lihat, Kiam Beng ada satu laki-laki sejati, dia hanya ada korban dari kejujurannya, korban dari kelicinannya orang Boan she Soh itu, ia jadi menyesal. Mcmang jarang ada orang gagah sebagai jago she Teng ini, apapula dia adalah ahli waris dari Thay Kek Pay. Ia lantas membungkuk.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lauwtee, jangan kau pikirkan sakit hatimu kepada Keluarga Soh itu, ia kata. Di sini masih ada kita dan saudaramu!* Kiam Beng bersenyum meringis, lantas ia menoleh pada Tjiong Hay Peng. Dia ini pun ada musuhnya dan permusuhan di antara mcrcka masih belum dapat didamaikan. Dan ini musuh sekarang ada salah satu penolongnya. Ia tidak tahu, Tok-koh It Hang pun tclah datang menolong karena permintaannya orang she Tjiong ini. Ia mcnjadi likat scndirinya. Tjiong Toako, aku juga berlaku kcliru tcrhadap kau kata ia. Dua makhluk yang bertopeng itu pasti bukannya muridmurid Heng Ie Pay. Aku menyesal yang aku tidak mampu bekuk mcrcka, Toako, biarlah aku minta kau yang suka tolong aku cari merekaitu. Hay Peng terkejut. Sampai itu waktu, Kiam Beng masih sangsikan dia! Coba dalam keadaan biasa, pasti ia sudah jadi sangat gusar, akan tetapi sekarang, selagi orang hendak putus jiwa, selagi ia sendiri hendak turut menghibur, ia mesti kendalikan hatinya. Justeru itu, Law Boe Wie lompat pada paman gurunya, ia membungkuk, akan cekal tangannya. Socsiok, aku tclah ketahui dua manusia bertopeng itu! kata dia. Malah satu di antaranya aku tclah bikin mampus! Sakit hati Soesiok telahterbalas!. Kiam Beng dcngar itu, ia pentang kedua matanya. Apa kau bilang? tanya ia. Apakah itu benar? Pasti, Soesiok!jawab Boe Wie, yang terus saja tuturkan bagaimana di rumah gurunya di Kim Kee Tjoen, ia telah bekuk Bong Eng Tjin, yang kemudjan ia binasakan. Hanya sayang, yang satunya, yang bergenggaman Poan-koan-pit bisa llolos selagi aku lawan padanya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mendengar pcnuturan itu, Kiam Beng bersenyum puas. Kiam Gim, sebaliknya, jadi terkejut, ia menjadi heran sekali. Tentu saja ia beium tahu halnya malapetaka yang menimpa |keluarganya. Selagi menghadapi kecelakaannya sang soetee, iapun [tidak sempat menanyakan penjelasan pada muridnya itu. Mukanya Kiam Beng lantas jadi lebih pucat pula, ia meringis-ringis, suatu tanda ia sedang lawan rasa sakitnya. Kcmudian, ia jadi sabar lagi, rupanya ia tcrhibur. Malah ia bisa bersenyum. "H iantit," berkata ia, "urusan yang dua puluh tahun lamanya membenam aku, kau telah dapat bikin terang! Jadi kau telah bereskan itu binatang yang palsukan Heng Ie Pay. Hiantit, bagus sekali! Sekarang tinggai satu hal untuk tnana aku mohon jawaban kau... selagi sekarang aku belum hcmbuskan | napasku yang penghabisan.... Hiantit, maukah kau meluluskannya?" Kiam Beng awasi itu keponakan murid. Di antara cahaya matahari, keliatan nyata pucatnya mukanya, pucat yang luar biasa. Melihatroman orang itu,' hatinya Boe Wie memukul keras. "Apakah itu Soesiok?" tanya ia. perintahlah aku, asal yang aku sanggup, aku tentu bersedia akan melakukannya...." Walaupun ia mengucap demikian, hatinya Boe Wie toh goncang, ia ragu-ragu. Kiam Beng mengawasi, kemudian terdengarlah suaranya, yang tak lancar: . "Boe Wie, aku dengan kau sebenarnya rada asing," demikian katanya, "akan tetapi, meskipun demikian, kau tetap ada murid keponakan yang sah. Pelajaranmu ada lebih tinggi daripada semua muridku, malah kau pun sudah balaskan sakit hatiku. Aku tidak sanggup balas budimu itu, tapi sekarang,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

aku hendak berikan kau satu tanggungan yang berat sekali. Boe Wie, maksudku adalah aku ingin kau menjadi ahli waris dari Thay Kek Pay...." Boe Wie tcrpcranjat. Inilah ia tidak pcrnah sangka. Buat jadi ahli waris dari Thay Kek Pay, sedang ia hidup sebatang kara, masing Iuntang-lantung? Malah ia masih akan luntanglantung terus? Umumnya, ahli waris atau fjiang-bocn-djin mesti ada anaksendiri, atau murid kepala, atau juga salah satu murid, yang bijaksana, maka itu. permintaannya Kiam Beng ini ada luar biasa. Ia juga tidak Renal satu jua murid-murid atau muridnya soesiok itu, yang katanya ada banyak Mana bisa ia mendadakan jadi toa-soeheng? Maka ia goyang kepala. "Soesiok, ini rasanya tidak tepat." Kata ia. "Kenapa tidak?" tanya Kiam Beng, nampaknya ia rnasygul. "Aku sendiri, tidak seharusnya akujadi ahli waris. Itulah kejadian di masa aku muda, selagi semangatku bcrkobarkobar, aku memaksa memimpin kaumku. Ah, coba dulu aku tidak memikir demikian, sekarang tidak nanti aku kejeblos ke dalam tipu-dayanya Keluarga Soh.... Selamajtu, aku juga telah tidak pegang pimpinan sempurna. Coba Soeheng yang jadi tjiang-boen-djin, tidak nanti Thay Kek Pay timbulkan kesulitan dengan kaum Rimba Persilatan seperti sekarang ini: Seharusnya Soeheng adalah yang mesti jadi ahli waris, maka itu, karena kau ada murid kepalanya, siapa berani tantangi kau? Selagi ada eurumu di sini dan Tok-koh Loo-enghiong selaku saksi, sekarang aku serahkan kedudukanku kepada kau. Kcadaan kita mirip dengan aku undang ketua-ketua untuk saksikan penyerahan pimpinan. Jikalau kau tolak, kau akan bikin aku meninggalkan dunia dengan mata tak meram! Apakah kau inginkan itu?" Tok-koh it Hang tolak tubuhnya Boe Wie, maksudnya menganjurkan pemuda ini terima tawaran itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Boe Wie menoleh pada guru itu, ia mengawasi juga pada Kiam Gim. Lioe Kiam Gim menghela napas. "Boe Wie, ini lah tugas berat," kata ia, dengan perlahan. "Tetapi socsiokmu ada bermaksud baik, kau terimalah!" Boe Wie jadi serba salah, tapi ia segera berlutut di depannya itu paman guru, iacekal tangannya. "Oleh karena Soesiok menitahkan, baiklah, aku tcrima," katanya. Kiam Beng bersenyum. 'Thay Kek Pay dari keluargaku, Kaum Teng, ada ahli warisnya!" katanya, dengan puas. Lantas ia pandang Tjiong Hay Peng, akan kata: "Aku telah perlakukan keliru kepada kau, Tjiong Toako, aku harap kau suka maafkan aku, Tolong kau bantu pada Boe Wie...." Kiam Beng coba kumpulkan tenaganya, akan keluarkari kata-katanya itu, habis itu, kakinya berkelejat, lantas suaranya berhenti. Semua orang menjadi kaget, mereka menubruk, sedang Kiam Gim raba dadanya, tapi napasnya soetee itu sudah tidak ada, tak dapat ditahan lagi, air matanya keluar menetes bagaikan hujan.... Demikian nasibnya satu jago, nasib yangmalang.... Dalam kesunyian, cahaya matahari terus mencorong. Sampai sekian lama, semua orang berdiam, tubuhnya Kiam Beng rebah di tanah. Akhir-akhirnya Tok-koh It Hang angkat kepalanya, ia towel Kiam Gim. "Sudah, Saudara Lioe, jangan bersedih pula," ia kata. "Marilah kita kubur soeteemu...." Kiam Gim angkat kepalanya, ia menghela napas. Ia lantas hunus pedangnya, buat dipakai menggali tanah. Tok-koh It Hang, Tjiong Hay Peng dan Law Boe Wie juga lantas gunakan senjatanya masing-masing, akan membantu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

gali lobang, sedang In Tiong Kie babat rumput di sekitar itu, untuk bikin tempat jadi bersih. Mereka tidak ambil banyak tempo, lalu tubuhnya Kiam Gim digotong, dimasuki, direbahkan, di dalam lobang, buat terus diuruki, scsudah itu Kiam Gim cari sepotong batu untuk dengan pedangnya ukir huruf-huruf yang berbunyi: "Kuburannya Teng Kiam Beng, ahli waris dari Thay Kek Boen". Setelah pasang bongpay itu, Kiam Gim mengawasi sambil tunduk, air matanya mengembang, mulutnya perdengarkan suara serak dan tidak nyata, kemudian ia menghela napas, ia duduk numprah di depan kuburan. Ia duduk sekian lama, tibatiba ia angkat kepalanya, memandang Boe Wie. "Tadi kau omong tentang pertempuran di waktu malam di dalam rimba pohon lioe," kata ia pada muridnya itu, "coba sekarang kau tuturkan itu lebih jelas. Bagaimana dengan Soebomu? Mustahil dia tidak adadirumah?" Pikirannya Kiam Gim mulai jadi terang, iajadi ingat katakatanya sang murid tadi. Ia percaya benar kepandaian isterinya, Lauw In Giok, aa tidak berkuatir. la tidak tahu, musuh datang dalam jumlah yang besar, dengan akalnya yang keji-busuk! Boe Wie turut permintaan gurunya itu, ia lantas berikan penuturannya yang jelas, akhirnya, dengan roman pucat, karena hatinya memukul, ia tambahkan: "Semua-semua adalah salah teetjoe, yang telah datang terlambat...." Hatinya Kiam Gim tergetar, tubuhnya bergemetar. Itu ada kejadian yang hebatsekali. Tidakkah isterinya telah jadi seorang tapadakpa? "Sungguh busuk musuh itu!" kata ia dengan sengit seraya ia berbangkit Tapi ia ada seorang dengan pengalaman, ia lantas kata pada muridnya: "Boe Wie, kejadian itu tidak ada sangkutannya dengan kau. Malah beruntung kau datang, kalau tidak, entah bagaimana hebat kejadian! Muridku yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

baik, aku sangat berterima kasih pada kau! - Habis, bagaimana dengan soemoaymu Bong Tiap?" ia tambahkan, dengan bernafsu. "Apakah dia turut Soeniomu ke Shoasay?" Kembali tampang mukanya Boe Wie berubah. "Bong Tiap dan Ham Eng turut teetjoe mencari Soehoe," sahut ia dengan terpaksa, "tetapi, tetapi...." Murid ini mandi keringat pada mukanya, tampangnya jadi terlebih pucat. Kalau tadi ia nampak gagah bagaikan naga atau harimau, sekarang ia jadi lesu dengan tiba-tiba. Kedua biji matanya pun lenyap sinamya. Kiam Gim mengawasi, hatinya memukul. Ia dapat firasat jelek. la baharu hendak tanya murid itu atau Boe Wie sudah jatuhkan diri, beriutut di depannya. "Soehoe, ampunkan muridmu." bcrkata dia. "Tidak seharusnya aku izinkan soemoay dan soetee ikut aku melakukan satu perjalanan jauh, menempuh bahaya di dunia Kang-ouw.... Semua-semua adalah kepandaianku yang tidak ada art inya, aku tidak sanggup lindungi socmoay. Soehoe, aku telah rubuh! Satu kali kita masuk ke dalam Kawasan Hoopak, di sana kita kena terjebak musuh, kita telah berpencaran !._** Wart a ini ada terlebih hebat dari halnya Lauw In Giok. Bong Tiap ada putcri satu-satunya. Kiam Gim rasakan hatinya tertusuk, mukanya mcnjadi pucat dcngan tiba-tiba, ia tendang sebuah batu besar di dcpannya, sampai batu pecah-pecah dan tcrpcntal! Kumisnya pun bangkit berdiri. "Permusuhan apa ada di antara aku dan musub-musuh itu hingga mereka jadi demikian jahat?" ia berseru. Tok-koh It Hang dan In Tiong Kie maju, akan pegang jago Thay Kek Pay ini. "Sabar, Lioe Loo-enghiong," berkata mereka. "Biarkan Boe Wie cerita lebih jelas.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tjiong Hay Peng pun maju, akan kasih bangun pada Boe Wie. "Kau sabar," ia kata, pada jago she Lioe itu, "kau dengarkan muridmu cerita lebih jauh. Kau Iihat, kau bikin muridmu ini kaget. Bukankah biasa saja di kalangan Kang-ouw tcrbit angin dan gelombang? Puterimu bukan gadis biasa, mustahil dia tak dapat lolos dari mulut harimau? Ada baiknya jikalau anak-anak muda mendapat pengalaman. Bukankah kau dan aku juga pern ah ngalami angin hebat dan gelombang dahsyat? Bukankah kita pun masih bisa hidup sampai sekarang? Nan, Boe Wie, hayo kau bercerita, gurumu tidak nanti pcrsalahkankau!" Kiam Gim berdiam, agaknya ia jadi tenang pula. "Anak, aku tidak salahkan kau, kau ceritalah!" kata ia, seraya pegang tangan m uridnya. Boe Wie menangis. "Memangnya aku tak punya guna, hingga sudah terjadi peristiwa hebat ini," ia berkata. "Sekalipun Soehoe persalahkan aku, aku terima dengan baik. Soehoe niscaya tidak ketahui, berapa ada jumJahnya musuh. Aku telah pukul mundur yang satu, datang lagi rombongan lain." Beginilah ceritanya Boe Wie: Ham Eng dan Bong Tiap, bersama Boe Wie, lakukan perjalanannya ke Utara. Ia berlaku sangat hati-hati di sepanjang jalan. Kedua soetee dan soemoay itu adalah orangorang bam. Apa mau, Bong Tiap ada satu anak yang tak kenal takut, ia tidak jerihkan "angin besar dan gelombang hebat". Tidak beda banyak adalah Ham Eng. Mereka juga merupakan satu rombongan yang menarik hati. Bong Tiap ada muda dan cantik, Ham Eng ada muda dan cakap, di sebelah mereka, Boe Wie ada bertubuh besar dan romannya garang. Mereka menunggang kuda, yang sering-

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sering mereka larikan keras. Mereka belum keluardari daerah Shoatang, lantas ada orang yang telah pasang mata terhadap mereka! Pada itu hari kcjadian, baharu saja mereka keluardari daerah Shoatang, mereka hendak menuju ke Kota Boc-ip, Hoo-pak. Apa mau, mereka diganggu hujan, hingga mereka mesti menunda perjalanan. Ketika perjalanan dilanjuti, mendekati maghrib, mereka masih belum sampai di kota yang dituju itu. Boe Wie jadi sibuk. "Man kita larikan keras kuda kita!" kata Boe Wie pada dua kawannya. Ia ingin buru tempo. Ia kaburkan kudanya. Ia memang ada satu penunggang kudajempolan. Lari belum lama, ia sudah bikin soemoay dan soeteenya ketinggalah jauh di belakang, maka kemudian terpaksa ia perlahankan kudanya, untuk nienunggui dua saudara seperguruan itu dapat susul padanya. Apa mau, tetap dua saudara itu tidak dapat candak padanya. Ketika kemudian ia nienoleh, ia dapatkan mereka bukan sedang kaburkan kuda mereka, hanya mereka sedang pasang omong dengan asyik. Di atas kudanya, Ham Eng tunjuk sana dan tunjuk sini, tangannya digerak-geraki, rupanya ia sedang berdaya membikin Bong Tiap gembira. Rupanya dua saudara itu pikir, itu hari mereka tetap bakal sampai di Boe-ip, terlambat sedikit, tidak apa.... Melihat keadaan itu, Boe Wie tidak tega untuk mendesak. Ia masih anggap sang soemoay sebagi bocah, hanya bocah yang sudah matang.... Di sepanjang jalan, ada saja yang Bong Tiap tanyakan soehengnya, perihal pengalamannya, tentang kejadian-kejadian dalam dunia Kang-ouw, atau tentang bedanya berbagai kaum persilatan. Setiap soemoay itu| gerecoki Boe Wie, Ham Eng agaknya kurang puas, karena ini, Boe Wie jadi tidak cnak sendirinya, maka itu, ia antap saja. Begitulah mereka jalan sampai sang maghrib datang. itu| waktu, dari kejauhan, mereka sudah lihat tembok kota.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Asal sudah sampai di luar kota, di mana ada rumah orang, hari mi bisa dianggap sudah dilewatkan," pikir Boe Wie. Siapa tahu, baharu Boe Wie berpikir demikian, atau dari depan, di mana ada bukit, lantas terdengar suara berisik, dari larinya beberapa ekor kuda, yang mana disusul sama sambarannya beberapa batang anak panah, yang mengaung di tengah udara. Dengan hati berpikir, karena berkuatir, Boe Wie hunus pedangnya la tahan kudanya. Segera juga datang satu pcnunggang, yang disusul olch tiga kawannya. Mereka ini bersikap demikian rupa, hingga Boe Wie dibikin terpisah dari Bong Trap dan Ham Eng. Boe Wie mengerti bahaya. La keprak kudanya, buatdikasih lompat, akan hampirkan soemoay dan soeteenya. Kudanya itu bisa lompat tinggi dan jauh. Apa mau, senjata rahasia datang menyerang. Dengan pedangnya, ia menangkis. Satu serangan dapai dihalau. ia bisa beia dirinya sendiri, apa celaka, kudanya tidak! Dengan satu jeritan, kuda itu ngusruk ke depan, kedua kakinya tertekuk, sampai Boe Wie turut ngusruk juga. akan tetapi ia bisa barengi lompat turun, hingga ia tidak sampai turut runtuh. Baharu Boe Wie injak tanah, atau serangan sudah datang kepadanya. Sambaran golok ada hebat sekali. Cepat ia herbal ik, sambil menangkis. "Trangi" kedua senjata beradu keras, sampai lelatu api muncrat. Bentrokan itu membikin Boe Sie ketahui, musuh ada bertenaga besar. Dalam remang-remang, ia awasi lawan itu, seorang dengan usia lima puluh lebih, mukanya merah, kumisnya semu merah tua, tangannya menceka! sepasang Poan-koan-pit yang panjangnyatiga kaki lebih. Qr-ang itu berdiri dengan gagah, dengan jumawa, sepasang senjatanya seperti

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pit itu, dia rangkapkan. Itulah sikap dedek "Beng houw hok kian" atau "Harimau nongkrong di peiatok". Dengan hati berpikir, Boe Wie juga siapkan pedang Gin-lankiamnya, ia gunai sikap "Kie boh liauw thian" atau "Angkat obor menyuluhi langit". Ia bersiaga untuk segera menyerang, karena ia tidak mau mencrjang terlcbi h dahulu. Kemudian ia perdengarkan suara mengejek: "Aku kira orang ternama si apa, tidak tahunya segala budak Boan - pahlawan terbesar Ouw It Gok! Maaf, maafkan aku, yang bcrlaku kurang hormat! Kcpandaian kau orang, aku sudah ketahui! Kau orang, kawanan budak, cuma pandai kepung orang dengan beramairamai! Sungguh kau orang membikin malu saja pada kaum Rimba Persilatan!" Law Boe Wie tidak kenal Ouw It Gok, tetapi ia kenali orang punya sepasang Poan-koan-pitnya itu, scdang dari sakunya Bong Eng Tjin, ia pemah dapatkan sepucuk suratnya It Gok, dari itu, iasengaja mendahului menyebut namanya. Untuk sesaat, nampaknya musuh ini kaget, tetapi lekas juga, ia tertawa bcrkakakan. "Benar aku Ouw It Gok, habis kau hendak apa?" kata ia secara menantang. "Dengan sepasang senjataku ini, aku nanti layani pedangmu yang panjang! Jikalau kau mempunyai kepandaian, hayo kau maju!" It Gok menantang seraya ia terus geraki kaki dan tangannya, bukannya ja siap untuk sambut serangan, tiba-tiba ia mendahului lompat menerjang. Dengan Poan-koan-pitnya, yang terbuat dari baja pilihan, ia coba ketok pedang orang. Ia mau bersikap keras. Boe Wie tidak pikir untuk adu senjata dengan senjata, ia tarik pedangnya ke bawah, dari situ ia memutar tangannya, sambil maju, ia menusuk ke arah muka musuh. "Bagus!" berseni Ouw It Gok, yang geser kaki kiri keluar, untuk kelit tubuh, tapi setelah itu, dengan "Koay bong hoan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sin", atau "Ular naga siluman jumpalitan", ia maju dari kanan ke kiri, dengan memutar tubuh, sepasang genggaman nya menyerang dengan tipu pukulan "In Hong sam hian", atau "Naga awan muncul tiga kali". Ouw It Gok ini ada kawannya Bong Eng Tjin, dialah yang turut memancing Teng Kiam Beng dengan pakai topengnya. Kepandaiannya memang ada di atas kepandaiannya kawannya itu. Ketika Bong Eng Tjin tertawan, Ong Tjay Wat yang bisa loloskan diri bersamasisa kawannya, lari pulang untuk bawa kabar celaka Mendapat tahu Bong Eng Tjin, soeteenya telah terbinasa,'0uw It Gok jadi sangat gusar, maka tidak tempo lagi, ia ajak kawan untuk menyusul, akan cari Law Boe Wie, guna menuntut balas. Sekarang ini, berkat latihan keras, Ouw It Gok ada jauh lebih liehay daripada waktu ia permainkan Teng Kiam Beng, maka itu, dengan hebat ia bisa desak Boe Wie. Ia nyata pandai ilmu menotok jalan darah, karena ujungnya Poankoan-pit dipakai mencari Sha-tjap-Iak-too To-hiat, ialah tiga puluh enam jalan darah! Law Boe Wie tertawa terbahak-bahak kapan ia sudah saksikan cara berkelahi musuh. Sama sekali ia tidak menjadi jerih. Ia lantas melayam dengan gunakan tipu-tipu dari Thay Kek Tjap-sha-kiam, yang ia campur dengan Tok-koh It Hang punya, "Hoei Eng Keng-soan-kiam". Ia maju dan mundur dengan gesit, ia tak hendak bentur senjata musuh, tapi ia pun balas menyerang. Dengan caranya ini, ia bikin It Gok kewalahan mencoba melukai padanya. Pertempuran ini ada seru, sebab mereka ada satu tandingan. Bicara kepandaian Boe Wie ada terlebih liehay, tapi bicara tenaga, ia kalah setingkat. Boe Wie pun pikirkan soetee dan soemoaynya yang orang telah kurung, yang telah dipisahkan darinya. Setelah tiga kawannya It Gok itu. kemudian datang pula Iain rombongan, kira-kira dua puluh jiwa, bersama yang tiga,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mereka ini kepung Bong Tiap dan Ham Eng. Mereka tidak punyakan kepandaian berarti, terhadap itu dua saudara, ia orang sukarberbuat banyak. Hanya, kendari begitu, Boe Wie tetapsibuk. Beberapa kali ia mencoba meninggalkan It Gok. saban-saban musuh licin ini rintangi ia. Beberapa waktu telah lewat, tiba-tiba Boe Wic menjadi bingung. Ketika ia gunakan kesempatan, akan lihat dua saudaranya, dua saudara itu sudah tidak ada di tempat pertempuran tadi, mcrcka irii pindah bcrsama sekalian musuh-musuhnya. Segera juga terdengar suara berisik dari mereka itu, tidak lagi tcrtampak orangnya. Bukan main gusarnya Boe Wie, lantas ia desak It Gok. Sekali ini ia gunakan pwce-pwee lak-tjap-sie-tjbioe dari Kengsoan-kiam, enam puluh empat jurus pcdang dari Tok-koh It Hang, sedans tangan kirinya, mengimbangi pedang, mencari jalan darahnya musuh itu, tangan kirinya ini ada terlebih liehay daripada Poan-koan-pit dari Ouw It Gok. Oleh karena terburu nafsu, Boe Wie sampai alpa menjaga dirinya rapat-rapat. Ia majukan kaki kiri, tubuhnya ikuf, tangan kanannya, dengan pedangnya, membabat lengan kanan dari musuh. Ouw It Gok girang sekali melihat ini macam serangan. Ia segera lompat ke samping kiri lawannya, dari situ ia mendak sedikit, akan menyapu. Boe Wie telah serang tempat kosong, ia iihat datangnya serangan, ia berlompat, sampai tingginya satu tumbak lebih. Lompatan ini bisa singkirkan tubuh dari senjata musuh. Tapi It Gok berlaku sebat, akan menyabet naik ke atasi Dalam keadaan seperti itu, Boe Wie jadi seperti bcrada di tengah udara. inilah salah satu gerakan "Tjeng kang toe tjiong soet" atau "lompatan entengi tubuh" dari Tok-koh It Hang, yang ambil itu dengan meneladan sikapnya garuda menyambar. Ilmu ini

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Boe Wie bisa jalankan dengan baik, walaupun bclum sempurna bctul. Ia kelit dari Poan-koan-pit kiri, ia jejak Poankoan-pit kanan, berbareng dengan itu, tangannya yang kiri dengan "Yoe Hong tarn djiauw", atau "Naga mengulur kuku", menyambar ke lengan kiri. Tubuhnya rada mendatar. Ouw It Gok kaget bukan main. Syukur dia bukannya satu ahli silat biasa saja. Lekas-lekas ia jengkang tubuhnya, kaki kanannya mendahului ditekuk ke belakang, sembari terlentang, sebelah kakinya dipakai menendang ke atas, kepada tubuhnya musuh. Dengan cara ini, ia sudah selamatkan lengan kirinya. Tapi Boe Wie tidak sudah saja karena serangan "Yoe Hong tarn djiauw"nya tidak memberikan hasil, ia sudah lantas susu 1 itu dengan "Tcng san kan goat", atau "Mendaki bukit mengejar rembulan". Satu kali ini, tangan kirinya yang liehay telah bentur pundak orang, atas mana, It Gok rasakan anggota tubuhnya itu jadi san gat panas, hingga ia tcrpaksa gulingkan tubuh, dengan "Koan long ta koen", atau "Serigala berguling-guling", sampai jauhnya beberapa tumbak, kemudian dengan gesit ia melompat berdiri, akan terus lompat lebih jauh, untuk lari ke dalam lebatnya pohon gandum di tepian. Law Boe Wie tertawa dingin, ia tidak kejar musuh itu, ia ham/a lompat ke dalam rimba, guna cari kedua saudaranya seperguruan. Di antara suaranya yang berisik, beberapa penjahat sambut musuh ini dengan serangan berbagai senjata rahasia. Boe Wie gunakan pedangnya, tangannya, akan punahkan sesuatu serangan, atau ia bcrkclit, dengan begitu, tidak ada satu senjata rahasia yang mengeriai tubuhnya. Ketika ia berhasil nerobos ke dalam rimba, di situ cuma ada enam atau tujuh penjahat, Bong Tiap dan Ham Eng entah kemana. Lain-lainnya penjahat pun tidak ketahuan kemana perginya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Selagi Boe Wie melihat keliliingan. tujuh penjahat itu maju mendesak. Mereka ini tidak lihat gelagat. Boe Wie sambut mereka dengan tangan kirinya yang diayun. Tangan kiri ini telah tanggapi beberapa piauw dan panah tangan, sekarang semua senjata itu dibayar pulang! Sambil menjerit, tiga penjahat kelihatan rubuh. Boe Wie menyerang sambil maju, akan sekarang gunakan pedangnya. Lekas sekali, ia rubuhkan dua musuh, atas mana, dua musuh yang lainnya lantas lari ke dalam tempat yang lebat dan gelap. Maka di lain saat, medan pertempuran itu jadi sunyi, kecuali suara desirannya sang angin. Sia-sia saja Boe Wie mencari ke sana-sini. Ia lintasi sebuah bukit, ia sampai di deparfnya sebuah selat, yang dalamnya kira-kira dua puluh| tumbak, yang penuh dengan batu dan bala dengan oyotrotan. Kelihatannya seperti bekas ada orang jatuh bergulingan di oyot rotan itu. Maka, melihat demikian, ia menjadi kaget. Tidak tempo lagi, ia terjun ke bawah, turun ke selat itu, untuk cari dua saudara seperguruannya. Selat ada gelap, sukar akan melihat apa-apa, maka Boe Wie ambil dua potong batu, ia benturkan itu satu dengan lain dengan keras sekali, sampai muncratlah Iclatu api. Ia segera nyalakan api itu pada rumput kering di dalam selat itu, ia membuat segumpal rumput, buat dijadikan obor, setelah padamkan api yang melulahan, iagunai obornya itu untuk menyuluhi. Tanda-tanda darah, yang bercerecetan, ada tertampak, akan tetapi tubuh, atau mayat orang, tidak. Hal ini bikin Boe Wie kaget dan berkuatir. Siapa itu yang terluka? Or-ang jahat? Bong Tiap atau Ham Eng? Kalau.benar dua saudara itu yang terluka, itulah hebat, jangan-jangan mereka sudah terbinasa....

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tercengang Boe Wie memikirkan itu Tapi ia lantas mencari terus, di sekitar situ. Ia tidak pedulikan malam ada gelap, angin ada keras. Boleh dibilang seantero malam ia gelcdah daerah itu, tetap ia tidak mernperoleh hasil. Ia bingung bukan main. Ia pun tahu, ia tidak bisa berdiam terialu lama di situ. Akhimya, ia ambil putusan. Iaiah di itu malam juga, ia menuju ke Djiat-hoo, akan susul gurunya. Syukur ia ketemu Hay Peng bertiga dan bersama mereka itu, ia akhimya dapat cari guru dan soesioknya, malah bisa tolong mereka loioskan diri dari kepungan. Demikian ada ceritanya murid ini, yang bikin Kiam Gim bcrdiri diam, mukanya pucat sekali, suatu tanda ia lagi bcrpikir dengan keras. Kabar-kabar hebat toh datang beruntun-runtun. Sudan istcrinya jadi orang bercacat. sekarang puterinya lenyap! Sehabis centa, Boc Wie berdiam, mukanya pun pucat dan lesu sekali. In Tiong Kie dan dua kawannya lantas hiburkan Kiam Gim. "Aku percaya Bong Tiap dan Ham Eng loios dari bahaya," demikian antaranya In Tiong Kie. "Mereka toh bukannya orang-orang lemah dan bodoh. Tentu mereka loios di antara tegalan pegunungan itu hingga karenanya mereka jadi berpencar dengan soeheng mereka." Lama Kiam Gim berdiam. Akhir-akhimya iaangkat kepalanya Dengan perlahan-lahan, ia usap-usap pundaknya Boe Wie. "Inilah bukan kesalahan kau," kata ia, dengan sabar sekali, suaranya pun perlahan. "Kau tak usah terialu pikirkan mereka. Biarlah anak-anak itu mengandal pada mereka punya peruntungan. Umpama kata mereka bcruntung bisa loios, di belakang had kita akan dapat cari mereka...." Bcnar baharu Kiam Gim habis berkata begitu, Tok-koh It Hang terkejut dengan tiba-tiba, hingga air mukanya berubah, lekas-lckas ia mendekam di tanah, akan pasang kupingnya. Ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

terus mcndengari, selagi kawan-kawannya merasa heran, semua awasi ia. Scbcntar saja, Pek-djiauw Sin Eng sudah lantas lompat bangun. "Kawanan anjing datang untuk gelcdah bukit!" kata ia, dengan suara dari kemendongkolan. Pada masa mudanya, Tok-koh It Hang ada satu hiap-too, penjahat budiman, ia pandai mendekam di tanah, akan pasang kuping, hingga, kalau ada barisan serdadu, ia bisa duga-duga jumlahnya. Dan sekarang ia merasa pasti, yang datang itu ada pasukan terdiri dari lima atau cnam ratus jivva. Hal ini ia beritahukan pada kawan-kawannya. "Mari kitalabrak mereka!" berseru Tjiong Hay Peng, yang ada gusar sekali. Tok-koh It Hang, In Tiong Kie dan Lioe Kiam Gim tidak setuju. Buat apa layani segala serdadu, menang tidak ada untungnya, kalah ada ruginya. Maka itu mereka ambil putusan buat menyingkir saja Tjiong Hay Peng lalu nyatakan ia suka ikut Tok-kph It Hang dan In Tiong Kie pergi ke Liauw-tong, tetapi Kiam Gim dan Boe Wie berdiam, mereka bersangsi. Kiam Gim ingin jtengok isterinya, ia ingin cari puterinya, di samping itu, ia sudah janji pada Tok-koh It Hang untuk sambangi Tjoe Hong Teng di Shoatang. Yang pertama ada urusan perseorangan, yang kedua, urusan negara. Tok-koh It Hang semua bisa mengerti kesangsiannya jago Thay Kek Pay ini, maka itu mereka lantas berunding. Kesudahannya diputuskan buat Kiam Gim bcrangkat dnlu ke Shoasay, akan tengok isterinya, sebab untuk cari Bong Tiap, temponya tak kctcntuan. Untuk cari Bong Tiap dan Ham Eng, Boe Wie adalah yang diberikan tugas.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Setelah ada keputusan Kiam Gim berikan perkataannya kepada Tok-koh It Hang bahwa dia tidak bakal langgar janji mengenai cita-citanya membela negara, bahwa buat itu, tidak ada bergantung urusan Bong Tiap dapat dicari atau tidak. "Dan kau, muridku," ia tambahkan pada Boe Wie, "tolong kau capaikan diri untuk kau pergi cari soemoay dan soeteemu. Urusan menjadi ahli waris Thay Kek Pay seperti keinginan soesiokmu itu kita boleh tunda dahulu." Boe Wie terima baik perkataannya iru guru, memang keselamatan soemoaynya adalah yang ia paling pikirkan. Ia sangat sayang soemoay itu, yang di masa kecilnya ia suka ajak memain. Pertempuran sore itu ada hebat bagi Lioe Bong Tiap. Musuh telah bikin ia terpisah dari toasoehengnya Law Boe Wie. Ia sebenarnya tidak punya pengalaman, tetapi pertempuran malam di rumahnya membikin hatinya tambah mantap, ia tidak jerih, malah ia masih bisa berpikir, kali ini ia mesti layani musuh secara hati-hati agar tidak sampai terjadi kealpaan pada dirinya. Penyerang-penyerangnya putcn dari Lioe Loo-kauwsoe terdiri dari sepuluh orang, di antaranya dua ada mundmuridnya Ouw It Gok, maka itu, mereka ini bukannya lawanlawan yang lemah. Syukur yang lainnya ada tidak berarti. Salah satu muridnya Ouw It Gok menggunai tumbak Siauwtjoe-rjhio, yang ujungnya lancip dan bengkok, hingga senjata ini bisa dipakai menikam berbareng menggaet Ini ada suatu senjata langka. Yang kedua menggunai sebatang golok besar dan berat hingga Bong Tiap tidak berani benturkan genggamannya dengan senjatanya kedua musuh itu. Selagi melayani musuh-musuhnya. Bong Tiap masih dapat ketika akan melirik kepada kedua saudara seperguruannya, dari itu ia dapat tahu sang toasoeheng lagi diserang hebat oleh satu musuh yang bersenjatakan Poan-koan-pit, hingga

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

saudara ini tidak punya kesempatan lain kecuali melayani musuh itu dengan sungguh-sungguh, sedang sam-soehengnya Tjoh Ham Eng mesti berkutat dengan fain-Iain musuh. Ia mcnjadi sibuk sendirinya kapan ia dapat kenyataan, makin lama ia berkisar makin jauh dari kedua saudaranya itu masingmasing. "Aku mesri tobloskan mereka ini," pikir ia kcmudian. Baharu nona ini memikir demikian atau lawannya yang memegang golok membacok ia dengan hebat dengan "lay san ap teng" atau "Gunung Tay San menindih batok kepala", bacokannya turun terus ke arah pundak. Ia menjadi sengit, hingga ia kertak gigi. Ia cepat bcrkelit kc samping, gerakannya sangat sebat, selagi bacokan mengenai tempat kosong, ia barengi membabat lengan orang. Law an itu kaget. hingga dia keluarkan seruan, berbareng mana, dia 'tank pulang tangannya. Ketika ini digunakan oleh Bong Tiap, untuk berloncat tinggi, bagaikan cecapung menyambar air, ia berlompat melewati kepala musuh, untuk jauhkan diri, hingga di lain saat, ia telah lolos dari kepungan. Melainkan sang lawan, yang tidak Sudi sudah dengan begitu saja, dia lamas memburu, diikuti oleh kawan-kawannya. Sembari lari, Bong Tiap geser pedangnya ke tangan kiri, tangan kanannya merogoh sakunya, akan ambil beberapa potong Kim-tjhie-piauw, kemudian seraya putar tubuh dengan tiba-tiba, tangan kanannya itu diayun ke arah musuhmusuhnya. Menyusul ini, beberapa musuh perdengarkan jeritan, tubuh mereka rubuh saling susul. Bong Tiap girang dengan kesudahannya ini, tetapi justeru ia kegirangan, pihak lawan, yang tidak rubuh, balas menyerang dengan senjata rahasia juga, maka ia menjadi terperanjat, segera ia perlihatkan kegesitannya, akan loncat sana dan sini, untuk hindarkan diri dari bahaya. Ia berhasil

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengelakkan beberapa senjata musuh itu, tetapi apa mau, sebatang yan-bwee-piauw menyambar juga pinggiran teteknya yang kiri, nancap di dagingnya, hingga ia menggigit gigi untuk menahan sakit selagi ia cabut piauw itu, hingga darah hidup segera mengucur keluar. Ia tidak merasakan sakit yang hebat, dari itu, ia lanjuti tindakannya lari ke depan, untuk menyingkirdari musuhmusuh itu. Semua musuh mengejar terus, malah yang bersenjatakan tumbak gaetan Siauw-tjoe-tjhio sambil teriaki kawankawannya, katanya: "Anak ayam ini tak nanti lolos! Jangan bunuh dia! Dia mesti ditangkap hidup!" Melihat keletakan, Bong Tiap dipaksa lari ke arah dalam rimba. Ia gunai pula senjata rahasianya, atas mana, semua musuh kena dirintangi, walaupun. untuk sesaat. Hanya, dalam keadaan seperti itu, ia tidak lagi bisa gunai piauwnya dengan sempurna. Sudah begitu, apa celaka, sebentar lagi, semua piauw telah digunai, sedang musuh-musuh itu mulai datang dekat pula. Sebentar kemudian, Bong Tiap sampai di satu jalanan kecil yang berlamping gunung, di depannya ada sebuah selat. Ia tak bisa lari lebih jauh lagi, ia tak bisa manjat di kiri dan kanan. Tetapi ia bisa ambil putusan cepat. Dengan tiba-tiba, ia enjot tubuhnya, akan loncat turun ke dalam lembah. Ia baharu injak tanah, atau kakinya lemas, hingga ia terguling rubuh. "Celaka!" ia menjerit dalam hatinya. Ia hendak bcrbangkit, atau ia dengar musuh tertawa mengejek. Tidak tempo lagi, dengan gerakan "Lee hie ta teng", atau "Ikan lee-hie meletik", ia loncat ke depan, jauhnya satu tumbak. Baharu ia hendak berbangkit, atau di belakang ia, tumbak gaetan musuh telah datang menyambar. Dalam keadaan seperti itu, Nona Lioe menjadi nekat, ia segera papaki musuh dengan tipu tusukan "Hoan sin hian kiam" atau "Persembahkan pedang seraya memutar tubuh".

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan geser sedikit tubuhnya, ia berkelit, lalu pedang Tjengkong-kiam ditikamkan ke arah lawan itu. Musuh menjadi kaget. Selagi tikamannya mengenai tempat kosong, ia tidak sempat tarik pulang senjatanya, ia tak keburu egos lengannya, maka itu, bahunya yang kanan itu lantas saja kena tertusuk, terbaret panjang Sementara itu, tubuhnya sudah merangsek dekat sekali si nona, maka dalam gusarnya, ia kirim kepalan kinnya, akan tonjok ulu hati orang. Ini ada serangan tidak diduga-duga dari musuh yang telah terluka itu, Bong Tiap tidak bisa berkelit atau menangkis, dadanya kena dipukul keras sekali, hingga berbareng muntahkan darah hidup, ia rubuh dengan tak sadar akan dinnya. Musuh yang bersenjatakan Siauw-tjoe-tjhio itu tertawa mengejek, ia lempar tumbaknya, ia robek bajunya, buat dipakai membungkus luka di tangannya, selagi berbuat demikian, ia menoleh pada kawan-kawannya. "Hei, kenapa kau orang menjublak saja? Lekas bekuk ini anak ayam! Lekas bungkus lukanya! Sayang jikalau ia sampai terbinasa!" Dengan sebenamya, kawan-kawan itu berdiri bengong karena saksikan kawannya dan si nona sama-sama terluka, sedang si nona sendiri rebah tak berdaya. Menjadi sadar, mereka lantas saja tertawa. Tapi, belum sempat mereka maju, untuk turun tangan, tiba-tiba mereka dengar satu ! suara nyaring dan mengaung luar biasa, disusul bentakan seorang perempuan tua: "Siapakah kau orang yang berani ganggu satu nona? Jangan turun tangan!" Semua musuhnya Bong Tiap menjadi terkejut, malah musuh yang pegang tumbak gaet sudah loncat ke arah senjatanya, untuk jumput itu, kemudian mereka semua memandang ke arah dan mana suara datang. Di antara remang-remang karena gclapnya lembah, mereka tampak satu pcndcta perempuan, yang usianya sudah lanjut sekali, yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tangannya mcncekal kebutan suci Hoed-rim, sedang menghampirkan mereka, serindak demi setindak. Musuh itu, yang sudah lama ikuti Ouw It Gok, ada mem pun ya i banyak pengaiaman, ia mempunyai pandangan yang luas. dari itu, ia bisa lihat bahwa si niekouw, pendeta perempuan, bukannya orang sembarangan, hingga ia tidak berani berlaku sembrono. "Soethay. dia mi adalah seorang perempuan Kang-ouw yang jahat!" demikian ia berkata. "Kau lihat, dia telah Jukai lenganku! Kita adalah or-ang-orang yang ditugaskan pembesar negeri untuk menawan diaini! Sebagai orang suci. harap Soethay tidak campur urusan kita!" Di iuar dugaan, keterangan itu bukannya membuat si niekouw tua undurkan diri, dia justru mendesak. "Ngaco!" katanya dengan bengis. "Di mana ada seorang nona begini muda dan manis menjadi penjahar? Dia punya luka melebihkan hebatnya lukamu! Sudah kau orang bikin dia pingsan, kau orang masih hendak turun tangan terlebihjauh! Jikalau kau orang bukannya bermaksud buruk, tentu kau orang adalah kawanan penjahat!" Selagi berkata demikian, niekouw itu be rt in dak mendekati. "Tidak, Itulah bukan!" kata muridnya Ouw It Gok. Dengan mulutnya, dia menyangkal, diam-diam tangannya yang kin" siapkan tiga batang yan-bwee-piauw, sedang tangannya yang kanan, geraki tumbaknya Siauw-tjoe-tjhio, menikam bagaikan ular menyambar, disusul sama sambarannya tiga batang piauw di tiga jurusan. Mereka terpisah dekat satu dengan lain, dan si niekouw tidak bersiap, maka si penjahat ini duga, pasti dia akan berhasil. Apa yang terjadi adalah di luar sangkaan. Niekouw tua itu tak dapat dipandang enteng, walaupun dia telah dibokong. Dia ada sangat jeli matanya, gesit gerak tubuhnya. Ketiga piauw

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

melewati sasarannya, dan kebutan suci menyamppk tumbak gaetan, atas mana, tumbak itu terlepas dari cekalan, terlempar entah ke mana! Hebat adalah sampokan terlebih jauh dan ujung kebutan itu, mengenainya perlahan sekali, akan tetapi muridnya Ouw It Gok rubuh dengan segera, tubuhnya rebah tidak berkutik lagi. Rombongan muridnya Ouw It Gok ini terdiri dari lima orang, dengan yang satu rubuh, tinggallah empat orang. Mereka ini sementara itu sudah merangsek, tadinya untuk taati titah kawannya, yang sekarang untuk serang si niekouw tua. Hanya, belum sampai mereka datang dekat, sembari tertawa dingin, mereka lihat tangan kirinya si pendeta perempuan telah diayun ke atas, atas mana di dalam lembah segeralah terdengar suara nyaring dan mengaung seperti tadi. Menyusul itu, Iantas terdengar suara keren dari si niekouw, katanya: Kau orang cobakan rasanya piauw Bouw-nie-tjoe! Perkataannya orang suci ini ditutup berbareng dengan menyambarnya piauw terhadap sesuatu dari empat penjahat itu tanpa mereka ini sanggup bcrdaya, malah mereka seperti tak ketahui datangnya serangan, karena tak disangka, mereka pun lagi sangsikan suara mengaung. Lantas saja mereka rubuh. Kawanan tikus, kau orang rupanya tak ketahui aku! Tetapi apapun tentang piauw Bouw-nie-tjoe, kau orang tidak pernah dengar? kata si niekouw tua sambil tertawa, sesudah ia bikin orang tak berdaya. Kau orang sudah dengar suaranya piauwku tetapi kau orang masih berani hendak melawan aku, maka taklah cukup apabila kau orang tidak diajar adat! Tetapi Budha kita ada maha suci dan kasih, dari itu pinnie juga tidak inginkan jiwa kau orang! Sekarang pergilah! N iekouw tua itu hampirkan empat orang, ia berikan dupakan enteng pada tubuh sesuatu dari mereka, yang rebah diam saja, atas itu, lenyap perasaan sesemutan dan beku

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mereka, lantas mereka bisa geraki kaki-tangan, terus mereka bangun berdiri. Sembari menotok jalan darah or-ang, sambil tertawa, si niekouw tua kata pula: Pinnie tinggalkan jiwa kau orang, tetapi ilmu silat kau orang tak dapat dipertahankan karena dengan itu kau orang biasa berbuat jahat Baiklah kau orang ketahui, sejak sekarang ini, selanjutnya kau orang tidak bisa bersilat pula, kau orang tidak lagi bisa bekerja berat. maka kau orang haruslah jadi penduduk baik-baik, dengan demikian, luka dalam tubuhmu tidak bakal kumat, tapi satu kali kau orang bersilat atau bekerja dengan memakai tenaga, dalam tempo tiga hari, luka dalammu bakal kambuh, kau orang bakal muntah-muntah darah dan akhimya binasa! Pinnie telah kasih peringatan pada kau or-ang, jangan langgar itu, atau kau orang jangan nanti sesalkan padaku. Nan, pergilah kau orang! Kawanan itu mati kutunya, mereka cuma manggurmanggut, lantas saja mereka ngeloyor pergi. Di antara mereka, orang yang bersenjatakan Siauw-tjoe-tjhio, yang pernah ikuti Ouw It Gok terlebih lama, di bikin sadar oleh kata-kata si niekouw tua. Memang, pada sepuluh tahun yang lampau, ia pemah dengar tentang senjata rahasia piauw Bouw-nie-tjoe, dengarnya dari satu soepehnya, siapa di masa muda -pernah dengar lagi dari satu sahabatnya. Katanya ada satu nickouw yang tidak ketahuan asal-usulnya. boleh jadi datangnya dari In-lam, bahwa saban kali dia ini muncul, mesti ada orang jahat yang dapat bagian. Ada dibilang lebih jauh, di waktu bertempur, niekouw itu tidak pernah kelihatan ada gunakan genggaman, dia cuma mengebut dengan kebutannya, atau kalau dia gunai, melainkan senjata rahasia, yaitu piauw Bouw-nie-tjoe. Piauw itu ada untuk menyerang jalan darah, saban kali digunakan, lebih dahulu kedengaran suaranya mengaung, baharu senjatanya menyambar sasaran, suara itu seperti juga tanda untuk orang bersiaga terlebih dahulu. Di samping itu. di waktu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

gunakan piauwnya itu, itu nickouw suka lepaskan dahulu satu piauw, ke arah atas, untuk disambar dengan sebatang yang lain, hingga kedua piauw bcntrok satu dengan lain, hingga bcrsuara nyaring sekali. Adalah biasanya, di waktu orang bertempur, apabila or-ang dengar suara piauw itu beradu, mereka mesti hentikan pertempuran, untuk si niekouw datang sama tengah, guna berikan pertimbangannya, apabila ada orang yang berkepala batu terhadap pertimbangannya itu, dia pasti bakal merasai akibatnya yang hebat. Kebutannya, atau Hoed-tim, juga luar biasa. Kcbutan itu lemas bagaikan segumpal bulu ekor kuda, akan tetapi, selagi digunakan, kekuatannya sanggup melawan pedang, sedang juga, orang tak ketahui, kepandaiannya menggunakan kcbutan itu entah ada kepandaian dari golongan atau cabang silat yang mana. Kcbutan itu pun bisa digunakan sebagai pedang Ngo-hengkiam atau ruyung Teng-tjoa-pian, terutama sebagai alat untuk menyerang jalan darah. Ilmu menotok jalannya darah, biasanya, ada dua rupa. Tahiat atau memukul jalan darah, biasa memakai senjata Poan-koan-pit atau batang Hoentjwee Tiat-yan-kan, dan tiam-hiat, ialah menotok jalan darah, biasa digunakan dengan tangan kosong. Umpama Ouw It Gok, dia pandai tahiat, sedang Lioe Kiam Gim, Tok-koh It Hang dan Law Boe Wie, menggunai tiam-hiat. Beda daripada itu dua, kepandaiannya niekouw ini adalah hoet-hiat atau menutup jalan darah, karena senjata yang digunakan ada Hoed-tim atau kcbutan. Ada tersiar cerita, pernah dengan seorang diri, dengan kebutannya, ia telah layani tiga puluh berandal yang liehay dan scmua berandal itu kena ia rubuhkan dan taklukkan. Itulah kejadian pada sepuluh tahun yang berselang dan si niekouw, selewatnya itu, tidak pernah orang dapat lihat pula padanya. Laginya, dulu ia sudah berusia lanjut, maka orang percaya, ia sebenarnya sudah menutup mata. Siapa sangka, sekarang ia muncul secara tiba-tiba. Maka orang yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bersenjatakan tumbak gaet Siauw-tjoe-tjhio itu, sebagai kesudahan dari dikalahkannya, jadi sangat ketakutan, hingga mereka ngeloyor dengan mulut bungkam. Niekouw itu antap orang angkat kaki, ia hanya dekati Bong Tiap, hingga ia lihat si nona rebah dengan kedua mata meram, jalan napasnya sangat perlahan, sedang darah masih mengalir keluar dan lukanya. Ia lantas raba dadanya, akan dapatkan jantungnya masih memukul, atas mana nampaknya ia berhati lega. Segera ia bekerja, ialah periksa luka dan obati itu dengan obat luka yang. ia bekal. Bong Tiap terus tak sadar akan dirinya. Di samping hajaran pada dadanya, ia pun telah keluarkan tcrlalu banyak darah, maka itu, meskipun sekarang darahnya itu dapat dicegah keluarnya lebih jauh, ia masih sangat lemah. Niekouw tua itu kerutkan alis, akan tetapi, ia toh bersenyum. Dicarinya sukar tapi toh didapatinya begini gampang kata ia seorang diri, dengan sangat perlahan. Untuk belasan tahun aku cari satu nona guna dia wariskan aku, kebetulan sekali, sekarang aku dapati dia ini. Dia tidak saja berbakat, tetapi juga sudah punya dasar dan dasar dari satu ahli, jikalau aku tidak ambil dia, kemana lagi aku hendak mencari? Tidak tempo lagi, pendeta ini membungkuk, akan angkat tubuh or-ang, buat dikasih naik atas bebokongnya, sesudah mana, ia bertindak meninggalkan tempat bekas pertempuran itu. Bong Tiap tidak sadar, dia hanya merasa seperti melayanglayang di tengah udara, ketika akhirnya ia merasakan dirinya lega dan ia buka matanya, itulah ada di hari keenam sejak ia dikeroyok. Ia pun dapatkan dirinya berada dalam sebuah ruangan suci, karena di situ ada patung Budha, api lilin memain memberikan bayangan, dan asap hio bergulunggulung mendatangkan bau harum. Di samping ia, satu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

niekouw tua sedang kebuti ia dengan perlahan-lahan. segera ia ingat bagai man a orang serang ia, ia rubuh, ia lupa segala apa. Apakah aku sedang mimpi? tanya ia pada dirinya sendiri. Dan ia gigit bibirnya, atas mana, ia menjerit sendirinya. Ia merasakan sakit! Jadi ia bukan lagi bermimpi. Nona, kau belumsembuhjangan sembarang geraki tubuh, kata .si niekouw dengan perlahan, suaranya sabar. Kau juga tak boleh bicara. Kau rebah lagi beberapa hari, nanti kita orang pasang omong. Bong Tiap menurut. la pun rasakan tubuhnya sangat lemahLewat lagi beberapa hari, Nona Lioe sudah bisa turun dari pembaringan, ia bisa jalan dengan perlahan-lahan, maka akhirnya si niekouw tua tuntun ia, untuk diajak keluar dari dalam trail, buat pergi ke pckarangan luar. Tatkala itu ada di permulaan musim panas, salju telah lumer, serangan angin tidak mendatangkan hawa dingin, scbaliknya, bawa udara ada bcrsih dan menycgarkan, hingga Bong Tiap merasa hatinya terbuka. Ia sangat ketarik sama pemandangan jndah di luar kuil itu. Tempat apakah ini? akhir-akhirnya ia tanya. Inilah Soei-wan yang berada jauhnya tiga ribu lie dari Boeip, sahut si pendeta percmpuan sambil bcrsenyum. fan ada daerah di luar perbatasan, ialah tepinya Sungai Tay Hek Hoo. Kau hbat itu gundukan tanah dengan rumpu tnya yang bijau? Itu ada kuburannya Ong Tjiauw Koen, si juwita kenamaan. Di sini biasa tumbuh rumput putih, melainkan itu kuburan bcrumput hijau, maka juga dinamai Tjhee-tiong, atau Kuburan Hijau.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bong Tiap tidak pemah merantau, ia bersekolah sedikir, ia hanya utamakan ilmu silat saja, dari itu, pemandangannya ada cupat, maka sekarang ia menjadi kagum dan ketarik hati. Keadaan di sini masih tidak an eh, kata si niekouw sembari bersenyum melibat kekagumannya itu. Aku punya soetjouw, di Mongolia dan Tibet sama sekali telah dirikan tiga buah kuil, ialah satu di Ie-soh-tjiauw-beng di Mongolia Luar, satu di Tjip-sip-Ioen di Tibet, dan yang ketiga ialah kuil ini. Lantas si niekouw ini tuturkan ten tang musim atau hawa udara di Mongolia dan Tibet, tentang gunung di Tibet, Gunung Himalaya, hingga si nona jadi semakin ketarik hati. Nona, apa kau hendak turuti aku menyaksikan itu? tanya ia kemudian. Tentu! Kcnapa tidak? sahut si nona. Aku tidak takut udara dingin! Selama di Kho Kce Po, sekalipun di musim dingin, bersama-sama soeheng aku biasa menggayuh perahu di dalam muara! Menyebut sang soeheng - dimaksudkan Ham Eng air mukanya si nona menjadi guram dengan tiba-tiba. Ia jadi ingat pada pertempurannya di Boe-ip, pada urusannya sendiri. Ia toh lagi ikuti toa-soehengnya akan pergi cari ayahnya di Utara. Hanya aku tidak bisa turut sekarang juga, ia lekas menambahi, suaranya perlahan. Sekarang aku hendak cari ayah di Djiat-hoo, dan hendak cari juga kedua soeheng. Niekouw itu usap-usap rambut orang. Nona, kau kasih tahu aku, kata ia, dengan sikap tetap lemah-lembu t, siapa itu ayah kau? Kau harus ketahui, sekarang ini kau belum bisa jalan, apa pula untuk pergi kc Djiat-hoo yang ada ribuan lie jauhnya. Kau belum tahu tentang bagaimana aku telah tolongi padamu. Kau telah terluka parah, kau sudah keluarkan terlalu banyak darah, maka kau perlu beristirahat di sini, sedikitnya lagi satu bulan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lebih baik kau tuturkan aku tentang hal-ihwalmu, barangkali aku bisa bantu pikirkan dayanya. Bong Tiap tidak berkeberatan akan tuturkan urusannya. Tentang ayahmu, aku pemah dengar, kata si pendeta setelah berdiam sekian lama. Sudah tiga atau empat puluh tahun aku tidak pemah pergi ke Kwan-lwee, keadaan di sana ada asing bagiku. Kalau ayah dan soeheng kau terancam bahaya, baiklah, aku nanti cari tahu tentang mereka, kau beristirahat di sini, aku nanti pergi, Hoei Sioe boleh layani kau. Hoei Sioe ada orang Mongolia, aku terima ia di sini untuk kerjakan ini dan itu, ia pemah pelajarkan juga ilmu silat kasarkasar. Di hari kedua, benar-benar niekouw tua itu telah berangkat menuju ke Djiat-hoo (Yehol). Hoei Sioe sudah tua dan kurus, dilihat dari romannya, ia ada terlebih tua dari si niekouw, akan tetapi menurut pembilangannya, niekouw itu lebih tua daripada ia sedikitnya tiga puluh tahun. Bong Tiap masih belum tahu halnya si niekouw tua, ia tanyakan itu pada Hoei Sioe, pada niekouw tua itu. Cuma urusan ayahnya bikin ia sangsi. Kau tclah banyak ikuti Soethay begitu banyak tahun, niscaya kau tidak lemah lagi, kata ia kcmudian pada Hoei Sioe. Apa kau sudi perlihatkan aku satu atau dua jurus? Mana aku beratri? sahut Hoei Sioe. Aku belum berarti! Bong Tiap tidak puas. Ia hunjuk alemannya. Kau bilang kau sayang aku, tapi untuk bersilat saja kau tidak mau kata ia. Memang Hoei Sioe pernah bilang, ia sayangi si nona. Sudah puiuhan tahun ia ikuti Sim Djie, ia scnantiasa bersendirian saja, sckarang ia dapati Bong Tiap scbagai kawan, ia gembira

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bukan main. Ia tak dapat tolak lebih jauh nona itu, ia sendiri pun lagi bersemangat. Man, kata ia, yang terus ajak si nona ke pekarangan di iuar ruangan pendopo, di mana ia hampirkan satu pohon sebesar pelukan. Itu ada pohon hoa yang kuat-kekar dan ulet terhadap serangan es dan salju. Nona, kata ia, seraya ia tunjuk pohon itu. aku tidak punya kepandaian lain kecuali sedikit tenaga. Kau lihat . Ia hampirkan pohon itu, untuk dipeluk, baharu ia keluarkan tenagapya, untuk dipakai menggoyang, atau daun-daun lantas rontok, meluruk turun. Cukup sebegini, kata ia kemudian. Kaiau aku bikin rusak, bila nanti Soethay pulang, dia bakal teguraku Ia pun bersenyum. Bong Tiap jadi kaget dan kagum. Bukan melainkan daun pohon, yang rontok jatuh, juga batangnya, telah memberikan bekas-bekas kedua telapakan tangan dan lengan, dalamnya kira-kira tiga dim. Itu adalah buah-hasilnya kepandaian mclatih tenagaKim-kong-tjhioe atau Tiat-see-tjiang. Kcmudian kcduanya bicara pula, sckali ini, Hoei Sioe kasih tahu kenapa dia tahu Sim Ojie bemiat ambil si nona scbagai muridnya. Pemah aku tanya Soethay, bcrapa usianya, dan kenapa ia nampaknya tidak jadi tua. Aku nyatakan, apa Soethay ada mempunyai ilmu panjang umur hingga tidak bisa meninggal dunia, demikian katanya. Atas pertanyaanku itu, Soethay tertawa, ia jawab: Mana aku mengerti ilmu tak jadi mati? Tubuhku sehat disebabkan aku berlatih silat. Toh ada orang tani biasa, yang makan usia sampai seratus tahun lebih! Aku baharu mendekati seratus tahun. Selama beberapa tahun ini, aku juga sudah merasai perbedaan. Orang mesti menutup mata, ilmunya Budha pun tak dapat tolong membebaskannya. Soethay menghela napas ketika ia menambahkan: Aku bakal

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

jadi lilin yang akan habis sumbunya, hanya aku belum puas karena kepandaianku belum. ada orang yang bakal mewarisinya, aku belum dapat murid yang aku cari. Selagi mengucap demikian, Soethay nampaknya Iesu. Karena katakatanya Soethay itu, aku percaya dia tidak bakal loloskan kau, Nona. Maka itu, aku anggap kau beruntung sekali! Mendengar itu Bong Tiap jadi girang berbareng heran, ia gembira sekali. Bagaimana girang untuk jadi muridnya Sim Djie dan perolehkan kepandaian yang tinggi. Hanya di samping itu, ia bingung juga. Bagaimana bila ia dengar kabar hal ayahnya? Apa bisa ia berdiam di kuil itu tanpa pergi sambangi ayahnya? Bagaimana bila si niekouw tua itu paksa untuk ia berdiam di sini? Sementara itu, Sim Djie telah kembali setelah beberapa hari kemudian. Bcrsama ia, ia ada bawa kabar yang mengejutkan. Itu adalah peristiwa hebat di gedungnya Keluarga Soh, tentang pertempuran dcngan pahlawan-pahlawan Istana Tjeng, hingga karenanya, pemerintah Boan telah keluarkan titah penangkapan untuk Lioe Loo-kauwsoe dan kawankawannya, antaranya si orang Liauw-tong. Karena itu, entah ke mana menyingkirnya Kiam Gim. Karena itu, baiklah kau scndiri turut diamkan diri, kata Sim Djie pada si nona. Bong Tiap menurut. Karena ini, dengan sendirinya, ia telah jadi muridnya si niekouw tua itu. Selang satu bulan, sesudah iasembuh benar, ia mulai diberikan pelajaran silat. Sekarang ia dapat pelajaran dari Kaum Sian Tjong. Itulah ada warisannya Tat Mo Siansoc dari zaman Lam Pak Tiauw, Kerajaan Selatan dan Utara, semasa Kaisar Liang BoeTee. Menurut centa, ketika dengan mengarungi lautan, Tat Mo Siansoe datang ke Tiongkok di mana ia berunding dengan Kaisar Liang Boc Tee, karena tak cocok pendapat, ia lantas berangkat ke Kuil Siauw Lim Sie di atas Gunung Siong San, di Propinsi Hoolam di mana, untuk sepuiuh tahun, ia duduk

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bcrscmedi menghadapi tembok, hingga ia berhasil membangun pelajaran agamanya, hingga ia dipandang sebagai ieiuhur pertama di Tiongkok tentang agamanya itu. Tat Mo Siansoe tidak cuma faham agama Budha, ia juga pandai silat dan karang dua buah Kitab Ie Kin dan See Soei. Sekarang Sim Djie turunkan kepandaiannya kepada Bong Tiap, malah ia wariskan juga piauw Bouw-nie-tjoe. Untuk ini, Nona Lioe bisa belajar dengan cepat, karena ia sudah punya dasar Kim-tjhie-piauw. Pun pelajaran pedang Tjepeh lian-peh Ngo Heng Kiam, Bong Tiap dapati secara lekas, karena ilmu pedang itu hampir bersamaan dengan Thay-kekkiam. Tanpa merasa, tiga tahun telah lewat, sejak Bong Tiap berguru pada Sim Djie Sin-nie, selama itu, siang ia belajarsilat, malam ia yakinkan surat, dengan begitu, ia jadi peroleh kepandaian berbareng. Sim Djie juga pemah ajak muridnya ini berlari-lari di tanah datar dan Mongolia dan lihat Yam Ouw, Telaga Garam dari Tibet, hingga pcmandangannyasi nonajadi luas. Tapi walaupun semua itu, di waktu malam, apabila pikirannya scdang melayang, nona ini seperti tcrbayang dengan roman ayahnya, romannya Ham Eng dan Boe Wie, kedua soehengnya itu. Tiga tahun bukannya tempo yang lama, akan tetapi, suasana telah berubah, seperti bcnda bertukar bintang berpindah. Dan hikayatnya Tiongkok sudah mcngikuti karcnanya. Kaum Gie Hoo Toan sudah turun tangan. tcntaranya delapan negara asing telah meluruk ke Pakkhia. Gcrakan Gie Hoo Toan dari Tjoc Hong Teng telah jadi dcmikian berpenganih hingga Soenboe Yok Hian dari Shoatang tak bisa tak akui sebagai gerakan rakyat jelata, melainkan di matanya rombongan paderi tukang sebar agama Kristcn, mereka dipandang sebagai pengacau, pembuat huru-hara. Demikian Duta Amerika sudah paksa pemerintah Boan tukar Yok Hian.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pemerintah Boan jerih terhadap Gie Hoo Toan, tenaganya dia ini melulu hendak dipakai buat menghadapi pihak asing, dari itu, tidak sedikit jua pihak Boan merasakan sayang. Begitu permintaan Duta Amerika diterima baik, Yok Hian ditukar dengan Wan Sie Kay si tukang jagal besar-besaran. Wan Sie Kay ada dari golongan penjilat asing, iapun ada mempunyai pasukan prive yang kuat. Setelah sampai di Shoatang, ia lakukan penindasan kejam, hingga Kaum Gie Hoo Toan jadi tercebur dalam lautan darah. Kekejamannya Wan Sie Kay membangkitkan perlawanan hebat dari pihak Gie Hoo Toan. Dalam peperangan di Shoatang itu, Tjoe Hong Teng, telah dapat kebinasaan, tapi gcrakannya bcrtambah hebat, hingga ada cerita burung yang berbunyi: Sesudah dapat binasakan si telur kura-kura Wan Sie Kay, baharu kita orang dapat makan nasi! Selagi Gie Hoo Toan di Shoatang bergulat, kawannya di Titlee pun maju ke Thian-tjin. Tjongtok Joe Lok telah lakukan perlawanan keras tapi ia terdesak, Kota Tok-tjioe kena dirampas, malah Liong-tjia, ialah Kereta Naga dari Ibusuri See Thayhouw, telah kena dibakar musnah. Karena ini, seperti Yok Hian, Joe Lok terpaksa akui Gie Hoo Toan sebagai gerakan rakyat yang sah. Setelah Tjoe Hong Teng binasa, ia digantikan oleh Lie Lay Tiong, orang sebawahannya yang tadinya ada bekas sebawahan dari Tang Hok Siang, satu orang peperangan pemerintah Boan. Lie Lay Tiong memasuki Gie Hoo Toan sesudah dalam kalangan Gie Hoo Toan ini ada rombonganrombongan yang anti pemerintah Boan, yang menunjang pemerintah Boan itu, dan yang membelai juga. Tjoe Hong Teng sendiri masuk golongan yang bantu Tjeng Tiauw untuk membasmi bangsa asing (Hoe Tjeng Biat Yang). Tapi Lie Lay Tiong ini, kcmudian kena disiasati juga oleh Ibusuri See Thayhouw. Dasar ia ada bekas punggawa Boan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lioe Kiam Gim telah memasuki Gie Hoo Toan pada tiga tahun yang lalu, kcsatu karena ia sctujui gerakan itu, kedua dengan begitu ia bisa menyingkir dari tangannya pemerintah Boan, yang hendak bekuk ia. Ia masuk bersama-sama Law Boc Wie, tetapi Boe Wie tidak demikian sungguh-sungguh seperti ia, karena hatinya Boe Wie ada tawar sesudah ia dapat pengalaman yang tak memuaskan dalam kalangan Tjit Seng Hwee. Boe Wie susul gurunya sesudah ia putus asa mencari Lioe Bong Tiap. Dan Kiam Gim datang pada Tjoe Hong Teng setelah ia sambangi isterinyadi Shoasay. Hong Teng binasa belum lama sejak datangnya Boe Wie. Kemudian Boe Wie undurkan diri, sebagai alasan, ia kemukakan niatnya mencari Bong Tiap lebih jauh. Kiam Gim juga tidak lupai gadisnya, tapi karena urusan negara ada lebih besar, ia masih tetap dalam Gie Hoo Toan, malah Boe Wie ia pesan, murid ini berhasil atau tidak cari Bong Tiap, dia mesti lekas kembali. Dalam perjalanannya ini, Boe Wie tidak terlalu menank perhatian pemerintah Boan, sebab pemerintah itu lagi repot dengan gerakannya Gie Hoo Toan. Maka itu, dengan tunggang seekor kuda, Boe Wie dapat kemerdekaannya. Ia kembali ke dalam duniaperantauan. Sembari cari Bong Tiap, ia mampir di Poo-teng. Di smi ia hendak wujudkan pesannya soesioknya Teng Kiam Beng, untuk ia jadi ahli waris dari Thay Kek Pay. Dalam hal ini, seperti diketahui, ia terdesak oleh gurunya, oleh Tjiong Hay Peng dan Tok-koh It Hang, kalau tidak, pasti ia tetap mcnolak. Untuk ini, Lioe Kiam Gim dan Tok-koh It Hang tidak bisa turut meresmikannya, cuma Hay Peng seorang yang bantu merekoki, mcngurusnya. Siapa tahu, urusan pengangkatan ahli waris ini sudah terbitkan gelombang. Murid-muridnyaTeng Kiam Beng ada campur-aduk, di antara mereka itu, yang boleh diandalkan ada Kim Hoa dan Loei Hong berdua, tetapi Kim Hoa lemah dan tak bisa jadi kepala, dan Loei Hong bertabiat keras, ia tak bisa bikin saudara-saudaranya tunduk terhadapnya. Murid-murid itu tidak puas tempo Law Boe Wie muncul dengan tiba-tiba

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menjadi pemimpin mereka, mereka kasak-kusuk. Boe Wie tidak dikenal, cara bagaimana dia mendadakan jadi kepala? Laginya, tidak ada bukti dan Kiam Beng, siapa mau lantas percaya habis? Laginya Kiam Bcng berseiisih dengan Hay Peng, siapa mau lantas percaya Ketua Heng Ie Pay mi? Dan ketiga, Boe Wie pun belajardari Tok-koh It Hang, maka pelajarannya bukan lagi pelajaran asli dari Thay Kek Pay. Kim Hoa dan Loei Hong suka terima Boe Wie, tetapi yang Iain-lain tidak, karcna mercka berdua tak dapat lawan desakan saudara-saudara mereka, mercka tidak bcrdaya. Tentu saja, Boe Wie jadi kebogehan dan tak enak hati, sedang Tjiong Hay Peng jadi mendongkol. Hanya, dia pun mati daya. Dia tidak bisa kasih bukti untuk pesan terakhir dari Kiam Beng perihal pengangkatan ahii waris iiu. Akhirnya, karcna ia tidak sudi paksakan dni, Boe Wie hiburkan.Hay Peng, ia bicara sedikit sama murid-muridnya Kiam Beng, lantas ia undurkan diri, ia angkat kaki. Sejak itu, tanpa kepaia, murid-muridnya Kiam Beng jadi kacau, sampai kemudian Teng Hiauw, putcranya Kiam Beng, pulang dan bereskan mereka. Sekarang Boe Wie bikin pcrjalanan melulu untuk Bong Tiap. Ia telah pergi ke empat penjuru, sampaipun ke Sin-tek dan Boe-ip. Sebegitu jauh, ia tidak peroieh hasil, sampai kemudian, secara kebetulan, ia dengar salah satu muridnya Ouw It Gok murid yang pernah rasai piauw Bouw-nie-tjoe dari Sim Djie Sin-nie cerita pada kawannya hal si nona, yang mereka kepung, kenaditolongi niekouw luar biasa itu. Orang ini, dalam takutnya, tidak bcrani sebut namanya Sim Djie. Maka untuk mencari tahu, Boe Wie mesti cari beberapa orang tctua, guna dimintai kctcrangannya. Begitulah ia dengar hal Sim Djie yang kesohor pada empat pu I uh tahun yang larnpau, yang kemudian undurkan diri, entah ke mana, hanya orang duga ia tinggal bcrsunyikan diri di tanah datar di pcrbatasan. Karcna ini, Boe Wie menuju ke tapal batas. Adalah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pada suatu hari, ia sampai di tepinya Sungai Tay Hek Hoo. Ketika itu sudah maghrib dan angin sedangnya men i up keras. Dalam cuaca rcmang-rcmang, Boe Wie berjalan antara pohon rumput yang tcbal dan tinggi. Ia jalan cepat, sampai di depan sebuah tanjakan bukit. Di scbclah depan ia, masihjauh, ia lihat cahaya kelak-kelik. Ia sedang jalan dertgan asyiknya, tiba-tiba ia rasai sampokan angin, lantas pundak kirinya seperti kena ditekan orang, ketika ia segera mcnolch, ia tampak bayangan berkelebat, terus lenyap dalam gombolan rumput, yang bergoyang-goyang. Lantas ia pun menyerang dengan piauw, tetapi bayangan itu sudah lenyap, suaranya pun tidak terdengar. Apakah dia itu manusia? Boe Wie pikir. Itu ada satu gerakan sangat cepat Ia telah belajar silat sejak umur tuj uh tahun, sama sekal i ia belajar buat kira-kira dua puluh enam tahun, malah gurunya sampai dua dan ia sudah dapatkan juga In Tiong Kie punya ilmu Poan seng teng kee atau Mendengar suara mengenal senjata, jikalau perbuatan barusan ada perbuatan manusia, sungguh aneh. Maka akhirnya, ia mau anggap matanya sedang kabur. Sedangnya pemuda ini berpikir keras, tiba-tiba ia rasai pundaknya ada yang tekan pula, sekali ini, pundak yang kanan, malah sekarang, dari samping kupingnya ia dengar ajakan: Mari! Ia ada seorang yang berpengalaman, dengan garapang ia bisa melesat ke kanan, untuk terus hunus pedangnya, apa mau, ketika ia bikin gerakan demikian, tangannya kena raba hanya sarung pedangnya-pedang Langin-kiam yang sudah kosong! Maka sekarang, ia terperanjat bukan main. Akan tetapi, sclagi demikian, di hadapannya segera terlihat satu niekouw tua yang berjubah hitam, di tangan siapa ada tercekal sebatang pedang panjang, yang berkilau-kilauan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

He, bocah, di sini tak dapat or-ang sembarangan menghunus pedang! berkata niekouw itu, sembari bersenyum dan kakinya bertindak. Di sini ada tempat kediaman Budha yang tidak boleh mendengar suara alat-senjata saling beradu! Bukan main herannya Boe Wie akan kenali pedangnya, dalam kaget dan heran, ia segera insyaf bahwa niekouw ini mestilah Sim Djie Sin-nie yang kesohor, yang ia sedang cari, sebab kalau tidak, di mana ada Jam pendeta perempuan yang begini liehay? Oleh karcna itu, ia segera maju menghampirkan. Loo-tjianpwee, maaf, berkata ia seraya memberi hormat dengan menjura dalam. Teetjoe ada Law Boe Wie. Teetjoe mohon tanya, apakah Nona Lioe Bong Tiap ada di sini? Niekouw itu berhenti bertindak, ia mengawasi dengan tajam. Pernah apamu Lioe Bong, Tiap itu? ia balik tanya, tapi sambil tertawa. Nona Lioe itu ada socmoaynya teetjoe, jawab Boe Wie dengan sikap sangat menghormat. Loo-tjianpwee telah tolongi nona itu, maka juga teetjoe telah datang kemari, pertama-tama untuk menghaturkan terima kasih, kedua untuk mohon bertemu dengannya. Kau benar-benar bersungguh hati, berkata Sim Djie sambil tertawa. Kau sampai mendapat ketahui yang aku telah bawa nona itu kemari! Memang aku pernah dengar Bong Tiap bilang, kau adalah toa-soehengnya, yang berkepandaian tinggi luar biasa, dari itu, begitu melihat kau, aku menduga padarauJ aku lantas mencoba-coba, temyataj kau betul-betul liehay. Habis berkata, Sim Djie angsurkan pedang pada Boe Wie. Simpan ini baik-baik kata ia. yang pun kembalikan bebcrapa barang Kim-tjhie-piauw pada Boe Wie

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Boe Wic bingung. Baharu sckarang ia ketahui, di luar Iangit ada langit, di luar orang ada orang. Ialah, orang liehay tidak ada batasnya. Sekarang, marilah, Sim Djie berkata pula, dcngan undangannya. Boe Wie manggut, ia lantas ikuti pendeta perempuan ini. Jalanan ada dari tepi sungai menuju ke tanah da tar rumput, lalu mcndaki bukit yang pcnuh batu bcrancka warna, hingga kclihatan cahay* kelak-kelik makin lama mak i n dekat, hingga kcmudian Boc Wie tampak, di tengah bukit mi ada sebuah kuil dari mana api terlihat, ialah dari tengiolcng yang digantung di depan rumah berhala itu. Adakah ini kuil Soethay? Boe Wie tanya. Ya, inilah tempat bernaung pinnie, sahut Sim Djie, yang bahasakan diri pinnie, si pendeta percmpuan yang miskin. Segera ia awasi pemuda itu, dan ia tanya, Mana kudamu? Orang she Lauw ini memakai sepatu piranti menunggang kuda. Boe Wie keiihatannya masygul, tetapi ia bersenyum. Pada bebcrapa hari yang lalu, teetjoe diserang angin dan hujan pasir, hingga kita tersesat, sahut ia. Untuk dua hari kita tak peroleh air, manusia masih dapat bertahan, binatang tidak, kudaku itu mati |kehausan. Sim Djie tertawa. Gurun pasir disini masih tidak terlalu menakuti, kata ia. Jikalau berada di Mongolia luar dan kau diserang badai, sebentar saja kau bisa ditumpuki pasir hingga mcnjadi gundukan. Kuda kau pasti ada kuda dari Kwan-lwee, yang tak biasa jalan di padang pasir dan tak tahan berdahaga, maka baharu dua hari tak makan dan minum, dia binasa. Tunggu sampai kau berangkat, aku nanti carikan kau dua ekor keledai jempolan! Diam-diam Boe Wie bergirang. Niekouw ini menyebut dua ekor keledai. Di dalam hatinya, ia kata: Dia rupanya telah ketahui maksud hatiku, dia tcntu akan antap Bong Tiap ikut aku.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sementara itu, mcrcka sudah sampai di depan kuil, Sim Djie hampirkan pintu dan ketok-ketok itu. Tiap-tiap, ada tetamu, kenapa kau tidak lekas menyambut? demikian katanya. Baharu ucapkan itu habis atau sebagai gantinya, di dalam terdengar tindakan kaki yang berlari-lari, disusul sama suara yang nyaring halus: Soehoe, siapa itu? Bagaimana ada tetamu datang kemari? Jangan Soehoe dustakan aku. Boe Wie kenali baik suara itu, tapi sekarang, ia agaknya merasa rada asing. Pun berpikir: Sudah sekian lama kita berpisah, adalah dia masih pikirkan soehengnya? Hatinya Boc Wie tegang sendirinya. Segera juga daun pintu dipentang dan di muka pintu muncul tubuhnya Lioe Bong Tiap dengan koennya panjang yang putih, hingga dia mirip dengan bidadari. Boe Wie mengawasi soemoay itu, yang romannya sehat sckali, sampai ia lupa mcncgur. Adalah Bong Tiap, yang sifatnya tetap seperti biasanya. Ia heran tampak Boe Wie, akan tetapi, ia berseru: Apa kau ada baik? Mana ayahku? Apakah Ayah datang bersama? Sim Djie tertawa menampak Ieganya si nona. Ah, Bong Tiap, kata ia. Soehengmu baharu sampai, bukan kau undang masuk untuk beristirahat, kau sudah hujani dia dengan banyak pertanyaan. Dengar begitu, Boe Wie sadar, ia tertawa. Soemoay, kau baik? ia balas tanya. Soehoe ada di Hoopak, tidak kurang suatu apa, jangan kau buat kuatir. Mari masuk, kata Sim Djie, yang ajak tetamunya pergi ke Ruangan Hoed-tong, kemudian ia masuk ke dalam, untuk titahkan Hoei Sioe lekas siap-siapkan air teh dan barang makanan, untuk juga carikan dua ekor keledai. Boe Wie gunai ketika itu akan tuturkan Bong Tiap tentang pertempuran di rumahnya Soh Sian Ie, bagaimana mereka labrak pahlawanpahlawan Boan, hingga Bong Tiap gembira bukan kepalang,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tetapi waktu mendengar tneninggalnya Teng Kiam Beng, nona ini sangat bcrduka. Di lain pihak, ia ketarik akan dengar hal Pergerakan Gie Hoo Toan, di dalam mana ada turut orangorang perempuan. Bahagian perempuan dari Gie Hoo Toan disebutAngTeng Tjiauw, atau Sinarnya Lampu Merah. Jadinya kita orang-orang perempuan tak kalah dengan orang laki-laki, kata nona ini dengan gembira sekaJi,sambil tertawa* Boe Wie bersenyum. Tetapi, Soeheng, kata si nona sesaat kemudian, nampaknya ia baharu ingat suatu apa. Kau telah bicara banyak, kenapa kau tidak scbut-scbutsam-sochcng. Bagaimana dengan dia? Bong Tiap maksudkan Ham Eng. Boe Wie tercengang sebentaran. Ya, kenapa aku lupa sebut dia? kata ia dalam hatinya. Ia insyaf akan kcalpaannya. Ia lantas tertawa dengan terpaksa. Cerita panjang, Soemoay, tak bisa aku lantas bicarakan tentang Tjoh-soetee, sahut ia. Soemoay jangan kuatir, ia tak kurang suatu apa-apa. Boe Wie lantas tuturkan halnya Ham Eng. Seperti sudah diketahui, di waktu dipegat, Boe Wie dirintangi oleh Ouw It Gok, dan dari tiga konconya yang liehay dari It Gok itu, dan kepung Bong Tiap, yang satunya layani Ham Eng. Di samping seorang itu, Ham Eng dikepung kira-kica sepuluh konco lainnya dari musuh, dari itu, ia jadi sangat repot, walaupun demikian^ untuk menyingkir dari musuh-musuhnya, ia masih leluasa. Demikian, sembari bertempur, ia main mundur, ia menuju ke dalam rimba, sampai beberapa musuh kctinggalan sedikitjauh di sebeiah bclakang. hingga akhimya dengan ngamuk sedikit ia bisa tinggal pergi semua lawannya itu. Hanya, dalam keadaan seperti itu, dan sudah maghrib juga.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ham Eng tak sempat pikir untuk tengoki soehengnya dan soemoay; dengan terpaksa, ia menyingkir terus sampai di tempat belasan lie jauhnya; ia menumpang mondok pada satu penduduk tani. Bcsoknya baharu ia kembali ke tempat pertempuran, tapi di situ ia tak dapati Boe Wie dan Bong Tiap. Karena tidak berdaya, terpaksa ia menuju ke Shoatang, pulang ke rumahnya. akan ikuti ayahnya, Tjoh Lian Tjhong, mclanjuti pelajaran silatnya. Adalah kemudian, ketika Tjoh Lian Tjhong dapat tahu Lioe Kiam Gim berada dalam kalangan Gie Hoo Toan, ayah ini antar puteranya pada itu guru silat, hingga Ham Eng ikuti pula sang guru dalam perjuangan. Bong Tiap tertawa setelah mendengar keterangan soehengnya. Anak itu beruntung sekali! kata ia. Dia pun tak sampai terluka! Tidak demikian dengan aku, bilamana tidak ada Soehoe, yang tolongi aku, hamper aku binasa! Sekarang ada gilirannya Bong Tiap, akan tuturkan pengalamannya, yang berbahaya. mendengar mana, Boe Wie ulur lidah karena gegetun. Sungguh berbahaya! soeheng ini kata. Soeheng, kata si nona kemudian, aku juga ingin turut kau pergi melihat-lihat Gie Hoo Toan, untuk sekaliantengok ayahku. Maukah Soeheng ajak aku? Tapi ia berdiam dengan tiba-tiba, agaknya ia ragu-ragu. Hanya, ia tambahkan kemudian, cntah bagaimana pikirannya Sochoc, ia akan izinkan aku pergi atau tidak. Kau tahu, Soehoe menyayangi aku sccara luar biasa. Tiap, Anak, kau hendak cari ayahmu, bagaimana aku bisa tak mengizinkan kau pergi? demikian suara tiba-tiba dari Sim Djie, yang nampak bertindak keluar. Dan ia berkata-kata sembari tertawa. Keledai untuk kau pun sudah disiapkan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mclainkan aku hendak pesan kau. Guru ini segera hunjuk sikapsungguh-sungguh, ia bertindak ke depan muridnya sekali, kepala siapa ia usap-usap. Kita berdua adalah berjodoh. Selama tiga tahun kau juga telah dapat mempelajarkannya bukan sedikit. Sekarang ini kau baharu dapati empat atau lima bagian dari kepandaianku, meski demikian, j ikalau kau merantau, tidak nanti sembarang orang bisa perhina pada kau, maka itu aku larang kau berlaku jumawa, teristimewa jangan lancang gunai piauw Bouw-nierjoe. Inilah pesan yang pertama. Apakah kau bisa ingat itu baik-baik? Bong Tiap manggut Sim Djie menghela napas. Tiap, Anak, aku hendak serahkan sesuatu kepada kau, karena aku tidak tahu, kita orang bakalbertcmu pula atau tidak ia tambahkan. Bong Tiap terkejut. Soehoe mengapa kau mengucap begini? kata ia. Soehoe ada begini schat-walafiat, kenapa Soehoe bilang kita orang akan bisa bertemu pula atau tidak? Sim Djie Sin-nie menghela napas pula. Siapa bisa bilang tentang hal-hal yang bakal terjadi? ia meneruskan. Tapi, kita baik jangan bicarakan itu, kita bicara urusan lain, aku mesti bicara dengan kau. Ia awaskan pula muridnya itu dengan tajam, lalu ia lanj utkan: Kau adalah muridku, tetapi kau bukannya murid yang sucikan diri, dari itu, tak dapat aku minta kau, seperti aku, akan itinggal menyendiri di gunung yang sunyi-scpi, berdiam di kuil tua. Siapa dapat memastikan segala apa yang belum terjadi? Aku hanya hendak terangkan, andaikata lain waktu kau datang pula kemari, kuil ini dan semua kitab yang berada di dalamnya, semua adalah kepunyaan kau, apabila kau

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

inginkan itu, kau ialah maj ikan di sini, Soetjouwmu adalah Sian Tjong Pak Pay, Ketua dari Golongan Utara, kau telah ikuti aku beberapa tahun, kau niscaya ketahui itu, tetapi baiklah aku jelaskan sedikit tentang kedua Golongan Selatan dan Utara itu Lam Pay dan Pak Pay. Ngo Tjouw dari Sian Tjong, Hong Oen, adalah yang disebut Oey Bwee Taysoe, ketika ia buka pintunya menerima murid, ia telah punyakan seribu lima ratus pengikut. Di waktu memberikan pelajaran, pemah Ngo Tjouw inginkan sesuatu muridnya menuliskan sebuah kata-kata: murid kepala, ialah Sin Stoe, sudah menulis ujar yang berbunyi: Tubuh adalah pohon bodi, hati umpama kaca terang, setiap saat hams raj in dikebuti dan disusuti, agar tidak ketempelan debu. Semua murid anggap ini adalah ujar yang paling sempurna, akan tetapi satu murid pendeta, yang kerjanya menumbuk beras, yang bemama Hoei Leng, tidak setujui itu, ia telah minta orang tolong ia tuliskan lain ujar ialah: Bodi bukannya pohon, kaca terang bukannya kaca, sebenamya tidak ada benda, maka dari mana datangnya debu? Ngo Tjouw kagum akan ujar-ujar ini, ia lantas angkat Hoei Leng menjadi alili vvaris. Kedua ujar itu telah menyatakan adanya dua aliran, maka sejak itu, Sian Tjong merupakan dua aliran atau golongan, ialah Selatan (Hoei Leng) dan Utara (Sin Sioe). Aliran Selatan mengutamakan kesadaran lantas, tidak usah terialu berkukuh, toh akaninsyaf, dan Aliran Utara menginginkan kesadaran perlahan-lahan, artinya kemudian| setetes demi setetes, sehari demi sehari, untuk mencari kemajuan, guna mcndapat kesadaran. Di zaman belakangan, orang anggap Aliran Selatan lebih sempurna dari pada Aliran Utara, tapi hal yang scbcnarnya tidak demikian, karena masing-masing ad a puny a kcscmpurnaannya sendiri-sendiri. Aku scndiri anggap, Aliran Utara ada lebih memberi kenyataan daripada aliran Selatan, karena jarang ada or-ang yang baharu tcrlahir atau yang dengan tiba-tiba mcmpcrolch keinsyafan, kesadaran. Aliran Utara utamakan setiap hari rajin dikcbuti dan disusuti.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Umpama muka kau kotor, bukankah itu perlu dicuci setiap hari? Kau bukannya murid Budha, tapi aku harap kau bisa ingat baik-baik ujarnya Sin Sioe Tjouwsoe untuk setiap waktu rajin mcngebuti dan mcnyusu t, supaya tak membikin debu bergumpal. Terutama di saat pikiran sesat dan kusut, kau mesti dapat memikir untuk mengcbut dan meny usuti itu hingga bcrsih. Bong Tiap insyaf sempurnanya ujar-ujar sang guru, akan tetapi ia heran akan sifatnya pcsan itu. Itulah mirip pesan terakhir, pesan perpisahan. Tapi, ia tidak berani mengatakan apa-apa. Sekarang pergilah kau orang beristirahat, kata Sim Djie akhimya. Besok Hoei Sioe akan siapkan dua kelcdai, yang biasa melaiui gurun pasir. Bong Tiap dan Boe Wie menurut, mereka undurkan diri, akan tetapi dihari kedua, ialah besokannya, si Nona Lioe tak dapat bicara pula dengan Sim Djie, gurunya, karena waktu ia pergi kepada gurunya itu, untuk pamitan, ia dapati sang guru lagi duduk bercokol, diam saja, kedua matanya ditutup rapat, napasnya tidak bcrjalan. Nyata guru itu telah menutup mata. Mclainkan di sampi hgnya, sang guru mcninggalkan seheiai kcrtas dengan tulisan, yang bcrpcsan agar murid ini insyaf, bahwa hati adalah pusat, bahwa segala apa ada kosong bclaka, bahwa karma ada seumpama impian. Ia teJah lama ikuti guru itu; ia mengerti jugatentang agama Budha, dari itu, ia insyaf pentingnya pesan itu. Hanya, biar bagaimana, ia toh bcrduka. Lantas Bong Tiap urus mayatnya guru itu, untuk mana, Boe Wie dan Hoei Sioe bantui ia. Habis itu, tiba-tiba ia merasa, apa bukannya Sim Djie mengharap ia jadi murid sejati, untuk ia mcnjadi niekouw. Merasakan ini, hatinyajadi tidak tentaram, karena ia masih muda, ia adalah satu nona.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Maka akhirnya, ia hiburkan diri, sambil bersenyum, ia kata dalam hatinya: Nona tolol, kalau kau tidak sucikan diri, siapa nanti pakaikan kau jubah suci? Ia pun lantas ingat tanah datar, Muara Kho Kee Po, ia ingat ayah dan ibunyadan Ham Eng juga. Ingat Ham Eng, air mukanya berubah sendirinya. Sementara itu, dalam perjalanan ini, berdua dengan soehengnya, ia dapat perasaan, sochcng ini beda dari pada dulu-dulu. Boe Wie tidak lagi bcrgcmbira sewajarnya, walaupun ia tetap suka bicara dan tertawa, ia scpcrti dipaksakan. Soeheng ini seperti pcrbataskan diri selagi mcngawani sang socmoay, kadang-kadang bicaranya tidak lancar, seperti mesti dipikirkan dahuiu. Bcbcrapa kali ia dapati soeheng itu menoleh dan mengawasi ia, seperti hcndak bicara, tapi kapan ia dekati, hingga mereka jalan berendeng, waktu ditanya, soeheng itu bungkam, katanya dia menoleh karena kuatir soemoay itu ketinggalan, kuatir nanti tcrulang kejadian sehebat di Boe-ip. Lama Bong Tiap pikirkan sikapnya soeheng itu, yang bagaikan tcka-tcki, tetapi tidak lama, ia dapat mencrkanya. Hari itu mereka sampai di utara Kota Koci-soci, ibukota Propinsi Soei-wan; mereka numpang bcrmalam di rumahnya satu penduduk di kaki Gunung Tay Tjeng San. Puncak gunung itu setahun gelap bcrsalju, saljunya tak pernahjadi lumer. Malam itu Bong Tiap tak bisa tidur, pikirannya tidak tentaram, maka ia pergi kcluar rumah dan saksikan salju yang terang bergemilang. , ia sedang terpesona ketika ada bayangan tiba-tiba berkelebat di depannya; waktu ia hendak menegur, bayangan itu perdengarkan suara halus yang ia kenal baik: Soemoay, kau belum tidur? Itulah sang toa-soeheng, Law Boe Wie. Ia bcrcekat, hatinya goncang, tetapi lekas-lekas ia tetapkan itu. Eh, Soeheng juga belum tidur? ia balas tanya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Aku tidak dapat tidur, melihat Soemoay bangun, aku turut bangun jawab soeheng itu sembari tertawa jugaDasar polos, Bong Tiap tak dapat kendalikan diri. Soeheng, kata ia, yang menanya. Selama beberapa hari ini, kau seperti ada pikirkan apa-apa, benarkah itu? Kau biasa malang-melintang, kau berhati terbuka, ada urusan apa yang membuat kau memikirkannya? Soeheng, kau biasa pandang aku sebagai adik sendiri. aku tidak punya saudara lainnya, aku pun pandang kau sebagai kanda kandungku, maka itu, apakah kau tak dapat utarakan apa yang kau pikirkan itu ke pad aku? Ditanya begitu, Boe Wie mengawasi Puncak Tay Tjeng San, yang berdiri tegar. Sampai sekian lama, baharu ia bicara. Ia tunjuk puncak gunung. Soemoay, lihat Gunung Tay Tjeng San ini. Aku mirip dengannya. Salju di puncak itu tak lumer setahun gelap, dan hatiku mirip dengan salju yang ber-es itu, selamanya tak pemah lumer. Bong Tiap bergidik sendirinya. Kenapa? tanya ia, yang alisnya mengkerat. Kenapa? Boe Wie ulangi. Aku sendin rak tahu. Kau menanya, aku menerangkan, demikian perasaanku. Kau punya ayah, kau punya ibu, kau juga ada orang-orang yang menyayanginya. Kau mirip dengan musim Tjocn yang penuh dengan kegembiraan Tidak demikian dengan aku, sekaiipun wajahnya ayah dan ibuku, aku tak ingat jelas lagi, dan biarpun ada Soehoe dan Soebo, yang berlaku sangat baik padaku, aku sebaliknya tak dapat berdiam tetap di rumahmu. Soemoay, gunung bersalju masih belum tepat melukiskan perasaan hatiku. Kau belum bersengsara, terlunta-lunta dan mcrantau sebasai aku. Pengaiamanku, penderitaanku, ada luasdan lama. Semasa aku berusia sebesar kau, aku sudah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

biasa hidup sendiri saja. Aku biasa mondar-mandir seorang diri, merantau ke tempat di mana tak ada manusia, di gununggunung di mana melulu ada pekiknya sang kera dan mengaungnya sang harimau, atau di tempat air mengalir. Aku bersendirian saja di waktu pagi, di waktu maghrib! Kau tahu aku biasa merantau, kau tak tahu, hatiku sebenarnya lemah, aku biasa bersendirian, toh aku jenuh akan bersendirian senantiasa. Sering-sering aku kuatirkan datangnya sang malam gelap-gulita, lebih suka aku duduk menjublek, menunggui sang malam sampai datangnya sang fajar. Aku lebih takuti dunia yang tak bersuara, yang tak beroman, hingga di waktu tengah malam yang sunyi, aku lebih suka dcngari suaranya sang raja hutan dan kera, atau mendengari berkericikannya air mengalir: Boe Wie bicara terus, sampai Bong Tiap potong ia. Soeheng, kau biasa merantau, mustahil kau tak mempunyai sahabat? demikian si nona, yang perhatiannya ketarik bukan main. Kau toh pernah tempatkan diri dalam Gie Hoo Toan. Apakah Gie Hoo Toan tak mirip dengan laut yang bergelombang? Sahabat? dan Boe Wie menyengir tertawa getir. Sahabat aku mempunyai! Aku pun punya akan guru yang menyayangi aku, seperti ayahmu itu, seperti Tok-koh It Hang yang sekarang berada di Kwan-gwa. Aku punyai sahabat-sahabat kekal, seperti itu anggotaanggota dari Pie Sioe Hwee dan Gie Hoo Toan. Toh aku masih merasakan kosong, aku kesepian, aku kekurangan satu sahabat, yang bisa turut merasai kegembiraan dan kedukaanku, yang selama sisanya saat-saat pertempuran, bisa menghiburi aku, yang dapat melegakan hatiku. Lebih banyak tempoku, ya,ng aku lewati tidak bersama sahabatsahabat, aku biasa berkawan dengan pedangku saja Belum pernah ada satu sahabatku, yang tunjuki aku suatu jalanan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Soemoay, kau ketahui cara binasanya ayah dan ibuku, maka itu aku sangat benci pemerintah Boan serta budakudaknya. Toh, walaupun aku sudah cari, aku masih belum dapati tenaga untuk gempur Kerajaan Boan yang telah berakar kuat. Aku pernah dengar dongeng tentang semut yang kecil sanggup binasakan scrigala yang besar, karcna itu, aku telah cari suatu himpunan yang berpengaruh, untuk kumpuli banyak kawan. Demikian, aku telah dapati Gie Hoo Toan. Mendapatkan Gie Hoo Toan, aku juga hilang harapan, Boe Wie lanjuti sesudah ia bcrhcnti scbcntar. Sekarang ini Gie Hoo Toan antaranya bercita-cita Hoe Tjeng, ialah menunjang Kerajaan Boan. Juga di dalamnya, aku lihat, yang bening dan keruh bercampur jadi satu, seperti naga dan ular bergumulan, hingga sukar aku melihat tegas. Soemoay, kau tanya apa yang mengganggu pikiranku. Aku tak dapat jelaskan itu, aku seperti juga lagi mimpi dan separuh mendusin. Mirip seperti nona yang belum masak, Bong Tiap tak mcngcrti soeheng ini, tapi iaterharu mendengar kata-kata orang, maka kctika dengan pelahan ia angkat kepalanya, matanya mengembang air. Soeheng, aku ada satu -bocah yang tidak mengerti apaapa, berkata ia. Tapi aku mengasihi rumah tanggaku, aku juga mcncintai dunia, dari itu, jikalau bisa, aku ingin berikan kebahagiaanku kepada siapa yang membutuhkannya. Aku tidak tahu, dalam hal apa aku bisa bantu kau. Satu hal aku bisa terangkan, aku bersedia untuk menjadi adikmu, rumah ku juga boleh menjadi rumah kau, di saat kau merasa kesepian, selagi kau bersendirian, aku ingin layani kau sebagai kandaku sendiri. Mengenai Gie Hoo Toan, aku ada asing terhadapnya, tetapi aku juga merasa tcrtarik. Mendengar cerita kau saja, aku sudah gembira Aku ingin menemui itu rombongan entjieenijie dan adik-adik dari Hong Teng Tjiauw, aku ingin berada

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

di antara mereka. Rupanya di antara mereka kau masih belum dapat cicipi kesenangan. Oh, Soemoay, kau barangkali benar, sahut Boe Wie dengan lesu. Kau masih sedang segarnya, aku sudah layu. Aku bersyukur untuk kebaikan hatimu. Sekarang sudah tak siang lagi, mari kita pergi beristirahat. Boe Wie merasakan sangat kecewa mendengar katakatanya Nona Lioe itu, orang ada baik hati tetapi orang toh cuma pandang ia sebagai kanda, dan ia tidak be rani mendesak Bong Tiap sendiri malam itu, tak dapat tidur dengan tenang, ia masih mondar-mandir, terus sampai sang fajar datang. IX Sadari masih kecil. Bong Tiap hidup diuruki kesayangannya ayah dan bundanya, selama tiga tahun yang belakangan ini, walaupun ia bidup menyendiri, ia toh dilindungi gurunya, Sim Djie Sin-nie. Sampai sebegitu jauh, belum pcmah ia hadapi soal-soal atau soal yang berat, baharu kali ini,| ia merasai itu. Samar-samar ia ingat, inilah apa yang ia dahuiu pernah dencar. bahwa kalau satu anak pcrcmpuan telah menjadi bcsar, masanya akan datang yang dia akan hadapi soal seperti yang ia hadapi sekarang. Ia asing tcrhadap cinta tetapi ia toh ketarik Inilah pasti bukannya! ia kata da lam hatinva. Bong Tiap iantas ingat Ham Eng. Baharu tiga tahun yang lalu, iamasih memain pcrahu sama-sama itu saudara seperguruan. Ketika itu, pernah Ham Eng tanya ia: Adikku, maukah kau bcrkumpul selamanya denganku sebagai ini? Ketika itu, ia tak insyaf akan pertanyaan itu, tctapi ia masih ingat baik-baik.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pun, selama ia ingat Ham Eng, ia gembira. Sekarang juga, sesudah mereka berpisahan tiga tahun lamanya, ia percaya, kalau nanti mereka bertemu pula, mereka tak akan asing satu dengan lain. Ia tidak tahu, apakah ini juga yang dinamai cinta. Terhadap toa-soehengnya, Bong Tiap selalu merasa menghormati dan mengagumi, ia memang memandangnya sebagai kanda sejati, dan sejak soeheng itu tolongi ia serumah tangga, ia bersyukur sekali, rasa syukur ini menjadi berlipat sctclah ia ketahui, untuk tiga tahun, soeheng itu tcrus mencari ia. Toh bila dibanding dengan Ham Eng, ia merasa masih lebih dekat dengan saudara she Tjoh ini. Hanya, terhadap kesepiannya sang toa-soeheng, ia merasa tertarik. Ia mau percaya, walaupun dia gagah perkasa, Boe Wie mirip dengan satu bocah yang membutuhkan kesayangan ibunya. Ingat ini, ia sampai lupa bahwa ia telah bcrusia scmbilan belas tabun dan sang toa-soeheng sudah tiga puluh lebih. Maka itu, sejak waktu itu, di antara soeheng dan soemoay ini terdapat perasaan lebih dekat tetapipun asing. Itulah ada akibatnya pertemuan malam di Tay Tjeng San itu. Dcmikian, dalam keadaan aneh itu, sctclah meli ntasi padang pasir, gunung dan lembah-lembah, dari tepinya Sungai Tay Hek Hoo, mereka sampai di Thong-tjioe di dalam Propinsi Tit-lee. Kenapa mereka tidak pulang ke Shoatang hanya menuju ke Tit-lee? Itulah disebabkan markas besar dari Gie Hoo Toan, dari Shoatang sudah dipindahkan ke Tit-lee, karena Shoatang telah masuk menjadi kalangan pengaruhnya Wan Sie Kay. Di Shoatang itu cuma ada scdikit or-ang Gie Hoo Toan yang masih bertahan menghadapi kepaia perang Boan itu. Boe Wie ajak si nona ke Tit-lee karena Lioe Kiam Gim dan Tjoh Ham Eng berada di sana. Apa mau, mereka ini sudah tubruk tempat kosong! Sebabnya ialah, untuk urusan perkumpulan, Kiam Gim telah berangkat ke Thian-tjin, dan Ham Eng ikuti gurunya itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Boleh jadi kepergiannya itu membutuhkan tempo satu bulan. Karena ini, Boe Wie jadi pergi menemui Lie Lay Tiong, Ketua Gie Hoo Toan yang bermarkas di Thong-tjioe itu. Ketika itu, Lie Lay Tiong atau lebih benar Gie Hoo Toan sedang repot, maka itu, ketua itu tak dapat bicara lama dengan Boe Wie. Di Tit-lee, kemajuan ada pesat sekali. Umpama dalam satu Distrik Tok-tjioe, anggota Gie Hoo Toan berjumiah kira-kira tiga puluh ribu jiwa. Maka juga di manamana di Tit-lee, orang selalu menemui orang-orang dengan pelangi kuning, ikat pinggang merah dan tumbak panjang di tangan. Joe Lok, Tjongtok dari Tit-lee, menjadi sibuk sekali, hingga terpaksa iasambuti rombongan Gie Hoo Toan memasuki Kota Thian-tjin dalam kedudukan sebagai orang-orang yang setingkat derajatnya. Pemimpin Gie Hoo Toan yang masuk ke Thian-tjin itu ada Thio Tek Seng dan Tjo Hok Thian. Lioe Kiam Gim pergi ke sana atas permintaannya Lie Lay Tiong, untuk meninjau keadaan. Begitulah, sesudah memberi keterangan, Lie Lay Tiong Iantas minta Law Boe Wie berdiam dulu di Thong-tjioe. Katanya, selang satu bulan, Lioe Kiam Gim bakal kembali. Di lain pihak, Lay Tiong minta Bong Tiap suka pimpin Barisan Hong Teng Tjiauw, yang masih kurang pemimpin yang berani dan boegeenya liehay. Kalau Boe Wie kurang tertarik oleh Gie Hoo Toan, Bong Tiap ada sebaliknya. Dia gembira melihat nona-nona Hong Teng Tjiauw tidak gemar berias, tidak ikat kaki. semuanya kelihatan gesit dan toapan, sedang kedua pemimpinnya, Tang Djie Kouw dan Lauw Sam Kouw, mirip dengan orang Iclaki saja, apapula Lauw Sam Kouw. Berdua mereka ini Bong Tiap dan Sam Kouw lantas saja bergaul rapat.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Selama berdiam di Thong-tjioe, Boe Wie dan Bong Tiap sering bertemu. Dalam Gie Hoo Toan, pertemuan antara kedua pihak lelaki dan pcrcmpuan dipandang umum. apapula mereka ada soeheng dan soemoay dan datangnya pun bareng, orang tidak herankan yang mereka bergaul rapat. Selang setengah bulan, Kiam Gim masih belum kembali. Lie Lay Tiong sudah kirim utusan kepada Kiam Gim, mengabarkan puterinya ada di Thong-tjioe, hanya entah kenapa, ayah itu menulis surat pun tidak. Menurut dugaan, utusan itu mestinya sudah sampai cukup lama di Thian-tjin. Selama itu juga, Boe Wie dapati suatu apa yang mendukakan ia. Benar Bong Tiap ada sangat baik terhadapnya, tapi selagi mereka pasang omong, tanpa disengaja, si nona suka sebut-sebut Ham Eng, dan saban kali pemuda she Tjoh itu disebut, Nona Lioe nampaknya sangat gembira Dia masih muda sekali, aku sudah tua, dan dia pun nampaknya sukai Ham Eng, aku hams mengalah, Boe Wie berpikir. Dia harus berbahagia, aku tidak selayaknya mencoba mengikat dia. Kenapa aku mesti melintang di antara mercka? Di pihaknya Bong Tiap, dia tidak inginkan sang toa-soeheng bcrduka, ia cuma bersikap manis budi tcrhadap soeheng itu, akan ictapi, apabila ia merasa sang toa-soeheng hendak utarakan rasa hatinya, ia menyesal sendirinya. Ia tidak ingin terlibat taufan. Lauw Sam Kouw tidur sckamar dengan Bong Tiap, selagi Iain-lain or-ang tidak lihat gerak-geriknya si nona dan Boc Wie, scbagai scorang bcrmata tajam, ia tampak itu, ia sudah lantas bisa menduga. Maka pada suatu malam, Sam Kouw tanya Bong Tiap, dia sukai sang toa-soeheng atau tidak. Separuh memain ia kata: Kau sudah dewasa, kau harus cari mcrtua. Aku lihat toa-soehengmu itu baik dan jujur, dia pun gagah, kau orang berdua ada sembabat sekali!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bong Tiap seperti dengar guntur di kupingnya, mukanya menjadi merah, tapi ia harus jawab ini, mau atau tidak, ia utarakan kesangsiannya. Ia nyatakan, kedua soehengnya agaknya mcncintai ia, tapi ia sukar memilih, sedang kalau ia menunda, Boc Wie bakal menjadi tcrlebih tua. Sulitnya, tidak ada satu soehengnya yang pernah mengutarakan isi hatinya. Inilah gampang! kata Sam Kouw sambil tertawa. Siapa kau cintai, dia kau nikah! Ini ada urusan kau sendiri, tak orang yang bisa paksa naiki kau kw dalam joli pengantin! Nona Lauw bicara secara sewajarnya, tapi Bong Tiap tetap bersangsi. Demikian sang tempo di lewatkan, sampai lagi setengah bulan, sampai pada suatu hari, Lie Lay Tiong beritahukan Boe Wie dan Bong Tiap, katanya: Besok Ham Eng akan kembali! Nyatalah, ketika utusannya Lay Tiong sampai di Thian-tjin, Kiam Gim kebetulan lagi pergi mencari kawan-kawan baharu, ketika ia pulang dan Ham Eng beritahukan kabar dari Thongtjioe, jago tua itu kucurkan air mata saking girang berbareng terharu. Oh, itu anak, bagaimana ia bersengsara!. ia mengeluh. Selama tiga tahun, setahu bagaimana dia menderita. Sekarang ia sudah selamat, hatiku lega. Ayah ini tidak tabu, puterinya sebenarnya tidak menderita banyak, kecuali bahaya yang mengancam kepadanya, bahwa puteri itu telah dapat kepandaian silat yang sempurna. Sebenarnya Kiam Gim ingin segera tengok anaknya itu, apa mau, urusan perkumpulan lagi memintatenaganya, dari itu, terpaksa ia kirim Ham Eng saja. Muridnya ini sekalian bisa bicarakan satu soal penting dengan Lie Lay Tiong. Sebaliknya, hatinya Boe Wie tidak tentaram mendengar Ham Eng bakal datang. Ia sayang itu soetee dengan siapa

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sudah bebcrapa tahun ia tidak ketemu, tapi sayangnya itu beda dengan kesayangannya terhadap Bong Tiap. Tentu saja, tak dapat ia bersaing dengan ntu soetee atau memusuhkan dia itu. Saking kusutnya pikiran, itu tengah malam ia berbangkit, ia dandan, terus ia pergi ke kemahnya Bong Tiap. Malam itu, rembulan sudah mulai doyong, sinarnya teduh dan indah. Kcmah pun ada tenang sekali, melainkan serdaduserdadu ronda yang mondar-mandir. Ketika Bong Tiap diwartakan datangnya sang soeheng, ia segera keluar untuk menemui. Ia pun seperti belum tidur dan seperti lagi nantikan soeheng itu. Pertemuan dilakukan di bawah terangnya si Puteri Malam. Sampai sekian lama, keduanya tidak lantas bicara. Angin ada berkesiur halus. Kemudian Boe Wie angkat kepalanya, ia awasi si nona. Adikku, kata ia, ketika ia mulai buka mulutnya. Sejak pertemuan malam di Tay Tjeng San, Boe Wie tidak lagi memanggil soemoay, hanya adik saja. Adikku, aku hendak bicara sedikit sama kau. Aku menyesal mesti ganggu ketentaramanmu. Sekarang aku sudah berpikir, Sore hari aku biasa menyendiri, sekarang juga begitu Kau suka menjadi adikku, aku puas karenanya. Aku insyaf, aku telah berusia lanjut. Lanjut usiaku, lanjut juga hatiku. Kau sebaliknya masih muda, kau ada di saat pcrmulaan. dari itu aku tak dapat, aku tak mesti ikat padamu. Aku anggap, Tjoh Soetee adalah paling sembabat dengan kau, dia sedang mudanya. Maafkan aku, aku omong terus terang. Maka kau orang mesti jadi pasangan. Tentang aku, Adikku, kau jangan buat pikiran, aku telah tertakdir mesti terus merantau! Tidak! kata si nona, tetapi suaranya terputus, air matanya berlinang. Ketika ia hendak buka mulutnya, Boe Wie sudah lenyap, toa-soeheng itu telah berlompat pergi dengan pesat dan sedetik saja hilang dalam gelap-gulita.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Malam itu seterusnya, Bong Tiap berpikir, akan tetapi, ia toh bisa ambil ketetapan. Besokannya, di hari kedua, Tjoh Ham Eng sampai dari Thian-tjin, di memasuki markas hampir seperti berlompatan. Lie Lay Tiong beberapa pemimpin lainnya, berik Boe Wie dan Bong Tiap, suda menantikan ia. Ini penyambutan bukan karena ada orang penting dan Gie Hoo Toan, ia hanya ada utusannya Lioe Kiam Gim dan semua orang ingin dengar kabar dari Thian Ham Eng sebaliknya tidak terlalu perhatikan Lie Lay Tong, begitu masuk, ia pentang mata ke empat penjuru. akan cari Lioe Bong Tiap, hanya. apabila ia lihat nona itu, ia tercengang. Romannya si nona ada lesu, sepasang alisnya mengkerut, seperti orang berduka berbareng menyesal. Dan ketika ia dengan bersemangat memanggil Soemoay! sang soemoay sendiri menyahuti dengan tawar, hingga soebeng ini tak dapat berkata-kata terlebih jauh Kernudian Ham Eng memandang soehengnya. kembah ia menjadi heran. Sepasang mata yang tajam dari Boe Wie seperri tidak bersinar, orangnya sendiri nampaknya tidak bersemangat. Hingga ia jadi bingung, Dalam keadaan seperti itu. Ham Eng insyaf ia sudah berlaku keliru Seharusnya. setelah memberi hormat pada Lie Lay Tiong. ia mesti dului menegur soehengnya itu. tetapi sebaliknya, ia lebih perhatikan Bong Tiap. Dengan sendirinya, air mukanya menjadi merah. Urusan kita boleh dibicarakan belakangan. berkata Boe Wie sambil bersenyum apabila ia tampak kelakuan tak sewajaraya dari soetee itu. Baiklah kau lebih dahulu memberi laporan, karena semua saudara disini ingin sekali dengar kabar dan Thian-Boe Wie ada seorang yang berpengalaman, walaupun hatinya pepat, ia masih ingat untuk menyadarkan soeteenya. Dengan itu jalan. ia pun menolong sang soetee dari keadaannya yang sulit itu. Ham Eng lantas hampirkan Lie Lay Tiong, untuk memberi hormat pula, kemudian, dengan sungguh-sungguh, ia kata:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tjong Tauwbak, kcadaan ada gen ting luarbiasa. Semua saudara di sana lagi menantikan pendapatmu. Ternyata dengan semakin besarnya pengaruh Gie Hoo Toan, bentrokannya dengan bangsa asing, dengan kawanan pendeta penyebar agama asing, makin bertambah banyak. Memang Gie Hoo Toan ada bersikap anti asing, akan tetapi scbab-musababnya adalah dari pihak asing | sendiri, sepak terjang Gie Hoo Toan ada akibat saja. Semasa tahun ke-5 dari Kaisar Kuang Hsu, pihak Serikat telah minta pemerintah Boan tindas Gie Hoo Toan dan Toa Too Hwee, supaya semua pemimpinnya serta yang membantu, dihukum mati. Permintaan itu disertai ancaman, apabila pemerintah Boan menolak, pihak asing akan kirim tentara untuk lakukan itu sendiri. Muianya pemerintah luiuskan permintaan itu, Tjongtok Liap Soe Seng dari Tit-iee telah dipcrintahkan basmi Gie Hoo Toan Tjongtok ini bersikap bengis, dia bunuh saban or-ang, dia bakar setiap rumah, hingga rakyat gusar dan pada memasuki Gie Hoo Toan, hingga Pakkhia dan Thian-tjin jadi goncang, hingga lbusuri See Thayhouw kuatir tahtanya terguling, hingga ia tegur Liap Soe Seng seraya nyatakan: Tjongtok itu mesti tanggung jawab sendiri apabila rakyat berontak. Lain dari itu, ibusuri pun lantas pikir akan gunai Gie Hoo Toan, buat lawan pihak asing, untuk mana, ia kirim utusan ke Thian-tjin guna perkenankan Gie Hoo Toan memasuki Kota Raja : Pakkhia. Gie Hoo Toan jadi hadapkan soal: Memasuki Pakkhia atau jangan? Pemimpin-pemimpin di Thian-tjin, ialah Thio Tek Seng dan Tjo Hok Thian, mufakat datang ke Pakkhia. Lioe KiamGim tidak setuju, tetapi ia ada sebagai tetamu, ia tidak leluasa untuk bicara. Ia tidak percaya lbusuri mau bekerja sama-sama secara sungguh-sungguh, ia kuatir nanti kena diakali dan Gie

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hoo Toan akan menghadapi bencana. Ia pikir untuk nyelusup dulu ke Pakkhia, akan bcrunding dengan orang-orang Gie Hoo Toan di Kota Raja. Saran ini disetujui Thio Tek Seng. Maka ia telah ambit ketetapan, di hari kedua dari berangkatnya Ham Eng ke Thong-tjioe, baharulah ia mau berangkat. Di sebelah itu, Kiam Gim tidak percaya jampi-jampi dari Gie Hoo Toan bisa memunahkan senapan dan meriam asing, ia kuatir Gie Hoo Toan nanti masuk ke Pakkhia untuk antarkan jiwa secara kecewa, maka ia suruh Ham Eng tanya pendapatnya Lie Lay Tiong. Buat beberapa saat. Lie Lay Tiong berdiam. Diam-diam, ia perhatikan sikapnya orang-orang, yang nampaknya sebagian setuju, sebagian tidak. Tapi di akhirnya, dengan bersemangat, dia berbangkit seraya. keprak meja dan berseru : Pergi ke Pakkhia! Kenapa tidak? Inilah jalan berhasilnya kita, Orang gagah bertindak tak boleh sebagai perempuan dusun atau anak-anak! Aku nanti pimpin sendiri angkatan perang kita memasuki Pakkhia! Mendengar itu, Law Boe Wie menjadi serba salah dan Bong Tiap menjadi tidak gembira. Dan di antara orang-orang Gie Hoo Toan, separuh gembira, separuhnya lagi berduka. Melainkan yang tak setuju tutup mulut mereka. Boe Wie masygul, oleh karena Lie Lay Tiong tidak hargai pikiran gurunya, malah gurunya itu tidak. disebut sama sekali, gurunya itu seperti tidak dilihat mata, seperti hendak disamai dengan orang perempuan dan anak kecil. Ia setujui gurunya, tapi ia pun terpaksa mesti bungkam. Ketidaksenangannya Bong Tiap ada lain lagi. Ia anggap Lie Lay Tiong memandang enteng orang perempuan, benar ia pun bungkam tetapi mulut sudah berkelemik! Pendapatnya Lie Lay Tiong adalah fein, Dia sebenamya ada bekas opsir sebawahan dari Tang Hok Slang, jendcral di Siamsay dari pemerintah Boan, dia tinggalkan pangkatnya dan memasuki Gie Hoo Toan, ia bisa nanjak terns hingga ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

diangkat menjadi Tjong-tauwbak Ia anggap, memasuki Pakkhia berarti bertemu dengan Kaisar, bertemu jugadengan Ibusuri. dan itu adalah suatu kehormatan besar untuk ia, untuk leluhurnya. Dia asal opsir rendah, tapi di Pakkhia, dia bakal duduk berendeng dengan bcrbagai menteri dan jenderal, tidakkah itu memuaskan hatinya? Maka itu, ia setuju. Di Pakkhia, dia mau beraksi! Sebagai -orang cerdik, Lie Lay Tiong lihat Boe Wie dan Bong Tiap tidak gembira, ia lantas tunjuki kelicinannya Ia goyangi tangan pada itu tiga saudara seraya berkata: Soal memasuki Pakkhia atau tidak, kita tak usah bicarakan lagi! Kau orang sudah lama tidak ketemu satu dengan lain, aku tidak hendak haiangi kau orang, nah, pergilah keluar. Untuk kau orang pasang omong dengan merdeka! Pada Ham Eng sendiri. ia urusi sambil bersenyum: Kau juga sudah merdeka, jikalau kau suka, kau boleh pesiar di Thong-tjioe ini barang dua bari! Kau banyak capek! Demikian Lie Lay Tiong hunjuk aksi menyayang, dengan mana ia akhirkan pertcmuan itu. Dengan tak gembira, Ham Eng ikuti Boe Wie dan Bong Tiap keluar. melihat si nona acuh tak acuh, jalannya sambil tunduk saja. Maka terpaksa, ia bicara dengan Boe Wie. Boe Wie juga tetap tidak gembira, tapi satu hal membuat ia puas. Itu ada halnya Teng Hiauw, putcranya Teng Kiam Beng, soesioknya atau paman guru. Katanya, Teng Hiauw ini sudah mencmui gurunya, sudah dua kali kembali ke Poo-teng, untuk membangun Thay Kek Pay, hingga namanya jadi Icrsohor, dan dia pernah berbuat kebaikan untuk gurunya. Isterinya Teng Hiauw adalah cucu perempuan dari Kiang Ek Hian, Ketua dari Cabang Silat Bwce Hoa Koen, sedang Tjoe Hong Teng, pemimpin Gie Hoo Toan, ada murid kepala dari Ketua Bwee Hoa Koen itu. Setelah bicara sckian lama, Boe Wie lihat Bong Tiap, lalu dengan tiba-tiba, ia kata: Aku mempunyai satu urusan untuk

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mana aku mesti berangkat lebih dulu, kau orang sudah lama tidak bertemu, pergilah kau or-ang bicara! Dan lantas ia pergi. Walaupun Boe Wie sudah tidak ada, dua-dua Ham Eng dari Bong Tiap masih likat satu dengan lain. Ham Eng menjadi heran dan masygul, kenapa socmoay ini menjadi demikian tawar, malah seperginya Boe Wie, mukanya berubah menjadi pucat. Ia ada tidak sabaran. Maka akhirnya, ia kata: Soemoay, aku heran! Dari kecil sampai besar, kita biasa memain, tapi belum pernah aku dapati kau begini adem, kau seperti tak perhatikan aku. Kau tahu, bagaimana aku pikirkan kau sclama tiga tahun! Sayang aku tidak liehay sebagai toasoeheng, yang seorang diri telah mcrantau mencari kau. Aku, siang aku mengenangi kau, malam aku mimpikan padamu. Socmoay, urusan apa membikin kau tidak senang? Kau boleh damprat dan pukul aku, tapi janganlah berlaku tawar begini. Dari kematian kita lolos, scsudah tiga tahun kita bertemu pula, maka, ada urusan apa yang membikin kau tak senangi aku? Bong Tiap angkat kepalanya, air matanya menggenang. Ham Eng, aku tidak gusar terhadap kau kata ia, dengan suara sedih. Aku tahu, memang tidak seharusnya aku bersikap begini, tetapi sekarang pikiranku lagi kusut Kau berikan ketika untuk aku beristirahat, nanti aku bicara denganmu. Sebentar tengah malam, kau pergi ke tangsiku, untuk kita bicara. Nona itu kelihatan lesu dan letih sekali. Ham Eng tidak berani memaksa. Kau lesu, Soemoay, baik kau beristirahat, kata ia. Sebentar malam aku nanti datang padamu Demikian dua saudara itu, setelah pertemuannya yang pertama kali ini scjak tiga tahun, lantas berpisahan pula.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bong Tiap pulang ke kemahnya untuk terus rebahkan diri, sampai sore, ia tidak tidur, ia tidak dahar. Sam Kouw tanya ia, apa ia sakit, iajawab tidak. Ia sebenamya sedang pikirkan toasoeheng dan soehengnya: Ham Eng berbayang di matanya nona ini sebagai satu orang nrada dan cakap, merekapun sudah bergaul rapat sekali, berat untuk tinggalkan dia itu, hatinya goncang keras. Di sebelah Ham Eng ada Law Boe Wie yang gagah tapi yang usianya lanjut seperti Boe Wie akui sendiri. Toa-soeheng ini sudah kenyang mcrantau dan mendcrita, dia memerlukan perhatian luar biasa. Kalau Ham Eng pasti akan tank perhatiannya sesuatu nona, belum tentu dengan Boe Wie. Maka Bong Tiap anggap, pertu ia perhatikan toa-soeheng itu, untuk mana, ia layak berkorban. Malam itu, seperti dijanji, Ham Eng datang. Rembulan ada indah dan tenang. Akan tetapi hatinya kedua anak muda itu tidak tentaram. Bong Tiap lantas saja bicara, dengan cepat, seperti ia kuatir orang potong pembicaraannya. la utarakan ketetapan yang tadi sore ia ambil. Ham Eng, tak usah kau tanya banyak-banyak padaku, aku pun tidak ingin banyak bicara. Aku tahu hatimu, tetapi aku tetap ada soemoaymu. Aku ingin terus baik dengan kau, supaya kau berbahagia, tetapi aku kuatir kau keliru mengartikan aku Di depan kau, ada satu orang yang telah mendahului padamu, yang utarakan isi hatinya kepadaku, mulanya aku tak nial terima ia, tapi sekarang aku telah pikir itu masak-masak. Siapa dia? Ham Eng benar-benar memotong. Dia ada toa-soeheng. sahut si nona sambil ia tunduk, untuk mcnyingkir dari sinar matanya sochcng itu, ia terus menghela napas. Oh, toa-soeheng! Ham Eng ulangi, agaknya ia heran. Terus ia bcrdiam. A pa ia mcsii bilang? Tak dapat is larang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

socmoay ini baik dcngan toasoeheng itu. Tapi ia tak dapat pertahankan kesedihannya. Tiba-tiba, ia putar tubuhnya dan pergi sambil berlari-lan, tak sepatah kata ia ucapkan. Besoknya, Bong Tiap terima suratnya Ham Eng. Sochcng mi bilang tidak bisa bcrdiam lebih lama di Thong-tjioe, bahwa dia tak harap menemui pula sang soemoay. itu hari juga ia kembali ke Thian-tjin. Soeheng ini pujikan kebahagiaannya sang soemoay dan toasoeheng itu! Haiinya Bong Tiap mcmukul keras. Memang sukar ia lupai soeheng itu, walapun ia sudah ambil ketetapan. Ia berdiri bengong. Ia mau nangis tapi tak bisa. Tiba-tiba tcringat dia akan suaranya Lauw Sam Kouw, di kupingnya: Kau sebenamya cintai yang mana satu? Bong Tiap insyaf benar, ia cintai Ham Eng, dan terhadap Boe Wie, ia mclainkan mcrasa kasihan. Dalam bingungnya ini, ia pun berkuatir. Ke mana perginya Ham Eng? Apakah soeheng itu tidak berpikiran pendek? Sekarang ia dapat pikiran lain. Soeheng ini masih muda dan membutuhkan perlindungan, tidak demikian sang toa-soeheng, yang bagaikan pohon tua, tidak jerih lagi hujan besar dan taufan. Ham Eng ada seumpama satu cabang muda yang lemas. Ada hebat untuk Bong Tiap akan layani keruwetan pikiran itu, dengan tiba-tiba, ia berhenti menangis, lantas ia rapikan pakaiannya. ia buntal bungkusannya, kemudian, setelah soren pedangnya dan simpan piauw Bouw-nie-tjoenya, ia keluar dari kemahnya, ia berangkat untuk susul Ham Eng ke Thian-tjin! Dia tidak memberi kabar pada siapa juga kccuali ia tmggalkan sccarik kcrtas untuk Lauw Sam Kouw dan Law Boe Wie. Malam itu, juga Boe Wie tidak tidur barang sekejap. Setelah berkutet keras, ia bisa ambil putusan. Ia suka mengalah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

terhadap Ham Eng. Dengan mehgalah, ia mcrasa terhibur juga, karena ia jadi sudah bisa bikin berbahagia soetee dan soemoaynya. Tapi ia menjadi kaget dan bingung, kapan kemudian dengan beruntun ia terima dua pucuk surat, masing-masing dari Ham Eng dan Bong Tiap. Soetee itu kasih selamat padanya, yang jodohnya bisa terangkap dengan jodohnya Bong Tiap, kemudian, setelah nyatakan ia hendak merantau, akan teladan sang toa-soeheng, Ham Eng mohon maaf yang ia pergi tanpa pamitan- Sang soemoay, dengan beberapa huruf saja, melainkan memberitahukan hendak pergi ke Thian-tjin. He, kenapa Soetee salah mengerti sampai begini? ia nyatakan seorang diri. Kenapa Soemoay pun berangkat? Aku menyesal menyebabkan kcdukaan mereka Lantas Boe Wie berpikir lebih jauh dan akhirnya ambil putusannya, untuk menyusul mereka itu ke Thian-tjin. Maka besoknya pagi-pagi, ia ketemui Lie Lay Tiong dan beritahukan maksudnya, sebagai alasan, ia hunjuk perlu ia mencmui gurunya. Pada mulanya, Lie Lay Tiong berniat tahan ini orang gagah. tapi karena kemarin ada selisih anggapan soal pergi ke Pakkhia atau tidak, dan kelihatannya Boe Wie setujui Kiam Gim, ia man percaya, orang she Law ini tidak setujui ia, dari itu, dengan tawar ia jawab: Karcna kau tidak ingin bcrdiam di Thong-tjioe, aku tak dapat menahannya. Harap saja kemudian kita orang nanti bertemu puladi Pakkhia! Demikian Boe Wie pamitan dari Lie Lay Tiong dan berangkat ke Thian-Tjin. Ia bikin perjalanan dengan cepat. Di sepanjang jalan, ia lihat orang-orang Gie Hoo Toan dengan pelangi kuning dan ikat pinggang merah, hatinya tertank. Mendekati malam sampai di Thian-tjin, sesudah pintu kota ditutup. Ia lihat penjagaan ada keras. Ia tidak pergi kepintu ia hanya cari tembok kota bahagian yang sunyi disitu ia loncat naik, mau melewatinya. Ia tidak ingin berabe, siapa tahu..

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Baharu ia sampai di atas tembok dan hendak loncat turun ke sebelah dalam, tiba-tiba ia dengar sambaran angin, datangnyadari arah belakang. Ia ada berani dan berpengalaman, bukannya ia maju terus, ia hanya mundur, akan loncat ke samping, terus ia mundur pula keluar tembok. Ia insyaf ia bersalah dan ia tak ingin. timbul bentrokan. Di luar dugaan, or-ang tidak mau mengasih ampun, or-ang telah susul ia seraya membentak: Siapa kau yang berani nyelundup masuk ke dalam kota? Dan teguran itu disusul sama satu serangan lagi, ke arah pundak. Boe Wie berkelit seraya ia terus bcrsiap dengan Gie hoe say bong atau Nelayan menjemur jala, melulu untuk luputkan diri dari ancaman bencana. Penyerang itu bukannya seorang biasa saja, ia bersenyum seraya tangan kirinya dipentang dalam gerakan Pek hoo Hang tjie atau Burung Hoo putih bukasayap, lalu dengan tangan kanan, ia menyerang ke arah perut. Boe Wie menyedot perut seraya sedikit membungkuk, kakinyaditarik ke belakang, buat egoskan tubuh sambil mundur, akam tetapi lawan tidak mengasih tetika,dia maju pula, sekali ini, tangan kanannya dan atas turun ke bawah dalam gerakan Slua kwa tan ian atau Sambil miring menggantung ruyung. Menampak serangan hcbat itu, Boe Wie tidak mau keras lawan kcras. Segcra ia keluarkan kegesitan, yang ia dapat pelajarkan dari Tok-koh It Hang, mencelat ttnggi dan jauh dua-tiga tumbak. ia menjadi heran, hingga ia batal untuk segera perkenalkan diri. Lawan itu sudah gunai Thay Kek Koen yang delapan atau sembilan bagian sempurna. la tidak sangka, di sini ia bertemu sama ahii Thay Kek Koen itulah kepandaian, yang mirip digunai gurunya. Sekalipun soesioknya, Teng Kiam Beng, tidak ada sedemikian liebaynya. Siapa ini orang dan dari siapa dia peroleh kepandaiannya?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Untuk mencoba melayani tanpa gunai Thay Kek Koen, Boe Wie lantas mainkan Pwee-pwee Lak-tjap-sie-tjhioe kim-nahoat, hingga sekarang ia bikia heran lawannya itu. Siapa lantas maju tetapi tanpa menyerang. Kau siapa? ia tanya. Lekas perkenalkan diri, supaya kita jangan salah mengeni! Boe Wie tidak mau iantas perkenalkan diri, sambil bersiap, ia bilang: Tidak tanya lagi hijau merah hitam putih, datangdatang kau serang aku, maka sekarang aku ingin saksikan kepandaianmu kenapa kau ada begini galak. Lawan itu bertambah heran. ia ditantang. walaupun ia mendongkol, ia menahan sabar. la pun mau menduga pada mata-mata musuh. Di Kota Thian-tjin yang besar itu, belum pernah aku lihat orang berwenang-wenang seperti kau ia berseru. Bagaimana aku bisa antap kau datang dan pergi menuruti sukamu send in? Apakah itu tidak akan menyebabkan orang pandang enteng pada saudara-saudara dari Gie Hoo Toan yang melindungi kota ini? Aku tidak berkepandaian tinggi, tapi aku tak dapat izinkan kau main gila!! Lalu. ia pun bersiap sedia. Boe Wie ingin mencoba, ia tidak sangsi lagi untuk maju, membuka kedua lengannya, ia merangsek. Benar-benar ia gunai Kim-na-hoat. Ancaman Boe Wie ada hebat. Lawan itu tidak kcnali orang punya gerakan, ia bersangsi untuk menduga Pek-kwa-tjiang atau Kim-na-tjhioe yang umum. Scbcnarnya itu ada kim-na-hoat dari Eng Djiauw Boen, kcpandaian istimewa dari Tok-koh It Hang. Tapi ia tidak jerih, ia tenang dengan Thay Kek Koen. Pokoknya Thay Kek Koen memang ketenangan menantikan gerakan. Kalau musuh tidak bergerak, sendiri diam, sekalinya musuh bergerak, sendiri mendahului.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Oleh karena ini tidak heran jikalau kedua tandingan ini Iantas saja bertarung dengan seru, tenang lawan tenang, gesit lawan gesit Cepat sekali, lima puluh jurus tclah dikasih lewat. Sampai di situ, perbedaan mulai tertampak. Boe Wie merangsek, ia tidak dapat basil, sebaliknya, bebcrapa kali, ia kena didesak, baiknya ia gesit menangkis dan berkelit, ia tidak sampai kena dirubuhkan. Kepandaian mereka berdua ada berimbang, Boe Wie menang pengalaman, kalau ia toh terdesak, itu disebabkan ia belum keluarkan Thay Kek Koen. Kalau Thay Kek Koen ia telah yakin buat dua puluh tahun, Kim-na-hoat baru lima tahun, scdang begitu, ia mesti layani Thay Kek Koen dari belasan tahun. Biasanya ia liehay karena ia gunai dua-dua kepandaiannya secara tercampur, Sekarang ia tidak gunai Thay Kek Koen. Syukur untuk ia, ia sudah dapati tujuh bagian dari kepandaiannya Tok-koh It Hang. Untuk cegah dirinya dirubuhkan, yang mana bisa mcndatangkan rasa malu dan kecewa, sampai di situ, Boe Wie ubah caranya bersilat. Lantas saja ia keluarkan Thay Kek Koen, bahagian Thay-kek-tjiang, bertangan kosong, dengan beruntun ia pergunakan Giok lie tjoan so atau Bidadari menenun, Djie hong soe pie atau Seperti menutup seperti merapat, Sam hoan to goat atau Tiga kali mclibat rembulan, dan Teng san kwa houw atau Menunggang harimau mendaki gunung. Begitu lekas desakan itu, lawan yang menjadi kaget, Boe Wie melompat keluar kalangan, terus ia menegur: Eh, kau juga keluaran Thay Kek Boen? Law Boe Wie hentikan penyerangannya, ia bersenyum. Ya, aku ada dari Thay Kek Boen! ia jawab. Kau sendiri siapa wariskan kau kepandaianmu? ia balas tanya. Atas jawaban itu, sang lawan bertindak maju, untuk mengawasi, kemudian ia sambar tangan orang, buat di tarik sambil dicekal keras.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Loo-soehoe Lioe Kiam Gim itu apamu? ia tegaskan. Boe Wie terkejut untuk sikap dan lagu suara orang. Lioe Loo-soehoe adalah guruku, ia jawab. Baharu saja dengar itu jawaban, lawan itu lantas kucurkan air mata. Oh, kau jadinya ada Soeheng Law Boe Wie! kata ia, yang agaknya terperanjat. Siauwtee justeru sedang cari kau! Gurumu gurumu. Ia tak dapat berkata terus, ia menangis sesenggukan, tersedu sedu. Boe Wie kaget, ia tarik lolos tangannya. Guruku kenapa? tanya ia. Bilang, bilanglah!. Orang itu mencoba berhenti menangis, ia susuti air matanya. Gurumu .. gurumu orang aniaya hingga binasa. saahut ia dengan susah. Itulah guntur di siang hari. Bagaikan orang kalap, Boe Wie jambak kedua pundak orang, ia mengawasi dengan mendelong. Apakah itu benar? ia tegaskan. Bagaimana kau ketahui? Orang itu berdiri tegak, ia pun mengawasi dengan mata tak bergeming Mayat gurumu itu adalah aku yang kubur dengan tanganku sendin, ia menyahui dengan pelahan, tetapi suaranya tetap. Gurumu adalah soepehku sejati. Teng Kiam Beng adalah ayahku! Semasa aku bcrada dengan Lioe Soepeh. Sering aku dengar ia sebut-sebut kau. Soeheng. Itupun sebabnya kenapa aku berniat pergi ke Thong-tjioe, untuk cari kau, siapa tahu di sini kita berpapasan, kita bentrok

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Baharu saja Teng Hiauw tutup mulutnya. atau Boe Wie, muka siapa pucat dengan tiba-tiba. rubuh seketika, kedua tangannya terpentang ia pingsan! Inilah tidak aneh. Sejak umur tujuh tahun. Kiam Gim telah rawat dan didik ia, sampai umur dua puiuh tahun lebih. baharu ia keluar dan perguruan. maka itu. namanya mereka ada guru dan murid. Kenyataannya mereka mirip ayah dan anak. Budi yang demikian besar tidak pernah Boe Wie lupakan Sekarang, dengan sekonyong konyong, ia dengar itu kabar celaka, bagaimana hatinya tidak mencelos! Lioe Kiam Gim ada liehay sekali, ia berpengaiaman dan sabar, mengapa ia nampak bencananya itu? Iniiah sebab ia memasuki Pakkhia. Gie Hoo Toan telah terpecah dalam tiga aliran, yang pertama Hoan Tjeng (Melawan pemerintah Boan), yang kedua Hoe Tjeng (Menunjang pemerintah Boan), dan yang ketiga Poo Tjeng -Melindungi Kerajaan Boan. Kiam Gim masuk dalam Golongan Hoan Tjeng. Tjoe Hong Teng dan Thio Tek Seng ada dari rombongan kedua, Hoe Tjeng. Di dalam Kota Pakkhia, Kota Raja, yang paJing kuat ada rombongan Poo Tjeng. Rombongan ini terdiri dari mentenmenteri dan mereka yang tcrhitung gundal Boan, yang sengaja nyelundup masuk dalam Gie Hoo Toan, uniuk bckcrja dalam air keruh, di antaranya ada kawanan wie-soe atau pahiawan, bekas orang-orang Kang-ouw jahat, juga guru-guru silat orang Boan dan murid-murid paderi Lhama, semuanya terdiri dari orang-orang Han dan Boan. Di antaranya, ada lagi buaya darat dan cabang-cabang atas yang melulu inginkanpangkat dan uang Adalah golongan yang belakangan ini yang sepak terjangnya paling rajin. Ketua Gie Hoo Toan di Pakkhia ada Ouw Houw Tjoe, dia bukannya Kaum Poo Tjeng, akan tetapi dia ada sangat lemah, gampang dengar saran, sudah ia tak mampu urus kumpulan,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

akan rapikan keadaan dalam, dia kena dilagui oleh rombongan Poo Tjeng. Belum lama Lioe Kiam Gim dari Thian-tjin datang ke Pakkhia, lantas ia rubuh sebagai korban. Sesampainya Lioe Loo-kauwsoe di Kota Raja, di mana ia berdiam dalam markas Gie Hoo Toan, di sebelahnya rnemperhatikan suasana, ia bikin perhubungan sama rombongan Hoan Tjeng. Di sini ia ada asing, sebaliknya orang Gie Hoo Toan ada campur-aduk, ia nampak kesulitan. Untuk cari kawan, mau atau tidak, ia mesti sebutkan ia asal rombongan mana. Ketua Ouw Houw Tjoe sambut dengan baik utusan dan Thian-tjin ini, yang diperlakukan sebagai tetamu terhormat, sering dia datang mengunjungi untuk pasang omong. Ia pun perkenalkan Kiam Gim dengan lain-lain pemimpin. Mengetahui yang Lioe Loo-kauwsoe ada ahli Thay Kek Koen, ada orang-orang yang mohon pengunjukan. Kiam Gim ada beda danpada Kiam Beng, ia jaga pesan baik gurunya. Ia suka bergaul, ia ingin dapati kepandaian lain orang, tetapi dalam hal kepandaiannya sendiri, ia biasa merendah. Hanya ini kali, ia bersikap lain. Ia ingin cari sahabat. Orang-orang yang minta pengunjukan itu ada orang-orang muda, ia suka layani mereka. Pada suatu hari, selagi Kiam Gim datang kepadanya, minta pengunjukan. Ia melayani seperti biasa, ia tidak menduga jelek, waktu orang minta ia main-main ia juga tidak menampik. Memang, untuk memberikan pengunjukan, orang mesti main-main, dan itu artinya, mereka harus bergebrak bergebrak sungguh-sungguh tetapi bukan benar-benar. Dua anak muda telah dikalahkan Kiam Gim, di antara mereka tidak terjadi apa-apa.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kemudian Lioe Kauwsoe mesti layani orang ketiga, yang perkenalkan diri sebagai muridnya guru silat Shong Keng Tong dari Ngo Heng Koen. Dengan merendah, pemuda ini berkata: Aku baharu belajar, tolong Loosoehoe menghunjuki pelahattlahan, supaya aku dapat mengerti dengan baik. Atas itu, dengan merendah, Kiam Gim kata: Gurumu ada sahabatku, dia ada Ketua dari Ngo Heng Koen, maka di sebawahan dia, tidak akan ada murid yang lemah. Jangan kau tertalu merendahkan diri. Meskipun begitu, permintaan itu diluluskan. Kapan main-main telah dimulai, Kiam Gim suruh anak muda itu keluarkan Ngo Heng Koen, ia akan pecahkan dengan Thay Kek Nampaknya gerak-gerik si anak muda ada kaku, kelihatan benar dia masih baharu, kaki tangannya sangat lambat, dari itu, ia pun diberikan pengunjukan dengan sama ayalnya. Dari jurus pertama, pengunjukan dibenkan terus-menerus sampai di jurus ke dua puluh dua, yang disebut Shia hoei sie atau Terbang miring. Dari samping kanan, pemuda itu membacok pundak kanan Kiam G i m, siapa tangkis itu dengan tangan kifi, tentu saja dengan pelahan juga. Shia hoei sie ini ada tipu-tipunya. Umpama musuh menyerang dari samping kanan, untuk cckal lengan kanan kita, kita putar tangan, untuk mclcpaskan diri, berbareng kita menyerang dengan tangan kiri dari bawah dad a. Umpama musuh tarik pulang tangannya dan balas menyerang ke kiri, kita kelit sambil menurunkan lengan kiri, ialu tangan kanan menyambar leher atau tenggorokan musuh. Kalau serangan ini mengenai. akibatnya hebat. Demikian, dengan gembira, Lioe Kiam Gim kasih keterangan pada anak muda itu, siapa manggut-manggut, tetapi waktu Lioe Kauwsoe bilang, Musuh bakal terdampar setumbak jauhnya! ia berseru: Apakah benar demikian? Tak bisa jadi!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mendadakan tangan kanannya, cepat luar biasa, dipakai menyerang dadanya ahli Thay Kek Koen itu! Menyusul itu, ia menjejak tanah dengan tipu Kim lie tjoan po atau Ikan leehie emas serbu gelombang, untuk mencelat mundur satu tumbak jauhnya, guna kabur keluar dari kalangan. Pemuda itu bukannya ahli waris Ngo Heng Koen, ia hanya utamakan Tiat-see-tjiang, atau Tangan pasir besi, yang ia telah yak in lebih dari sepuluh tahun, hingga tangannya kuat luar biasa, bisa menembusi perut kerbau. Di saat biasa, tidak nanti Lioe Kiam Gim kena diserang, tapi sekarang ia benarbenar tidak siap sedia, ia tidak curiga sama sekali, maka tangannya si pemuda mengenai ia dengan jitu. Selagi pemuda itu berlompat, Lioe Kiam Gim berseru, tubuhnya menyusul mencelat maju. Ia tidak rubuh karena bokongan itu, ia masih bisa mengejar. Ia gunai loncatan Kauw yan tjoan lim atau Walet tembusi rimba. Ia insyaf ia sudah terluka parah, tapi latihan dari puluhan tahun bikin ia punyakan sisa kctangguhan, dari itu, ia masih bisa mengejar. Ia ingin, batu pualam dan bata hangus musnah bersama, supaya mereka bisa binasa berbareng! Berbareng dengan itu, juga kawan-kawannya si anak muda turut berseru, menyusul mana, beruntun mereka menyerang dengan senjata rahasia kepada jago tua itu. Tapi Kiam Gim sudah tidak hiraukan apa juga, ia tak perdulikan tubuhnya kena senjata-senjata rahasia itu. Ia berhasil mencandak musuh, ia menyerang dengan tangan kanan kepada bebokong musuh itu. Ia gunai Tjit seng tjiang atau Tangan tujuh bintang. Pemuda itu tidak sudi terima binasa dengan mandah saja, setelah dapat kenyataan ia tersusul, ia pun balik tubuhnya, ia balas menyerang dengan Tiat-see-tjiang. Ia ingin, kalau kedua tangan beradu, ia bisa pukul patah tangan musuh. Tapi, ketika kedua tangan bentrok, tangannya Kiam Gim jadi lemas

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bagaikan kapas, serangannya tidak mendapat hasil, hingga ia kaget bukan kepalang. Selagi ia terperanjat dan berlambat, tangan kanan Kiam Gim sudah bergerak pula, mencekal nadinya, tiga buah jan mencengkeram keras, segera seluruh tubuhnya sesemutan dan jadi habis tenaga, jinak bagaikan kambing, tubuhnya kena ditarik. Lalu, dengan satu suara tertawa seram yang panjang, Kiam Gim ulur tangan kirinya, menimpa kepala orang, maka tak ampun lagi, pemuda itu pecah remuk batok kepalanya! Setelah bikin mampus musuh busuk itu, Kiam Gim memutar tubuh, akan sambut beberapa kawannya si anak muda, yang menyusul ia. Kakinya bergerak mcndahului kepalannya, atas mana, satu musuh menjerit mengerikan, tubuhnya rubuh mental, ketika kakinya remuk patah, darahnya muncrat, tubuhnya itu tak tergeming lagi! Tidak ada satu musuh, yang sanggup menduga Kiam Gim ada demikian tangguh, maka itu, berbareng kaget dan takut, mereka putar tubuh, untuk lari. Kiam Gim masih hendak menyusul, akan tetapi, tenaganya sudah lantas habis, runtuh pembelaan semangatnya, maka sebelum bisa mengejar, tubuhnya lantas rubuh. Pada itu waktu, Teng Hiauw sedang berada di tempatnya Ong Houw Tjoe, ia dikabarkan telah terjadi keributan di tempatnya Lioe Loo-kauwsoe, ia menjadi heran sekali. Ia tidak mengerti, kenapa dan siapa orangnya yang berani main gila. Tidak tempo lagi, ia lari untuk melihat, tetapi waktu ia sampai, napasnya Kiam Gim tinggal empas-empis, mukanya pucat bagaikan kertas. Ia ini lihat Ong Houw Tjoe dan Teng Hiauw, yang ia kenali, pada putera soeteenya itu, ia manggut seraya kata dengan lemah: Bagus kau datang!. Teng Hiauw lantas saja keluarkan air mata, saking terharu. Buru-buru, ia pimpin bangun soepeh itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ong Houw Tjoe heran hingga ia berdiri menjublek. Tapi ia segera insyaf, soepeh dan soetit itu tentu hendak bicara rahasia dan ia mesti menyingkir. Di sebelah itu. ia menduga pada akal-muslihat keji, makasebagai Ketua Gie Hoo Toan, ia mesti bertindak, agar tidak sampai ia berbuat kecewa terhadap tetamu jagoan dari Thian-tjin itu. Begitulah, ia lantas undurkan diri. Teng Hiauw lihat ketua itu mundur pula, ia mengerti, ia tidak mencegah, sebaliknya, ia hendak toiong Kiam Gim, buat sekalian periksa, bagaimana lukanya. Selagi ia membungkuk, ia lihat soepeh itu menghela napas, kemudian goyang-goyang kepala dan berkata: Teng Hiauw, tak usah kau sibuk lagi. Tak dapat lagi bagiku untuk berlalu dari Pakkhia ini. Satu jam jua aku tak bisa lewati lagi. Di luar dugaan, aku terbokong Tiatsee-tjiang dari itu jahanam, dan dua rupa senjata rahasia yang dipakaikan racun mengenai tubuhku, umpama ada rumput leng-tjie. jiwaku tidak akan tertoiong lagi. Aku binasa dengan meminta ganti jivva, dengan mendapat bunganya juga, sebab si jahanam aku telah hajar mampus. demikian juga satu konconya! Teng Hiauw percaya keterangan ini. karena ia lihat satu mayat menggeietak dan seorang lain rcbah tidak berkutik, tapi, walaupun soepeh itu lemah dan mukanya pucat, ia membutuhkan keterangan, untuk ketahui duduknya kejadian, buat ketahui siapa si pcnjahat. Lioe Kiam Gim mencoba melegakan napasnya, lalu ia terangkan duduknya ha]. mulai dari orang datang untuk minia pengajaran, sampai ia dibokong. Kemudian, ia tambahkan: Tidak apa aku terbinasa, hanya sayang, penjahat itu ada orang sendiri. Maka pergjlah kau beritahukan Ong Houw Tjoe, agar ia sadar, dan kemudian kau pergi kabarkan Lie Lay Tiong di Thong-tjioe, untuk ia waspada!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Teng Hiauw heran dan kaget. Ia pun lihat, soepeh itu mulai keteskan keringat sebesar-besar kacang kedele. Soepeh, baiklah kau beristirahat, kata ia. Beristirahat? kata Kiam Gim, yang kuatkan hatinya. Sebentar aku akan beristirahat untuk selama-lamanya. Sekarang, aku hendak bicara. Teng Hiauw, ini bukannya perkara perseorangan, ini ada kepentingan umum. Kau tahu, ada orang yang tak sudi Gie Hoo Toan jalan benar! Mukanya jago tua itu berubah jelek sinamya, tapi ia terus kuati hati. Ia tambahkan: Tak usah kau can musuhku lagi, dia pun sudah aku binasakan dengan tanganku sendiri. Aku cuma mau minta kau pergi ke Thong-tjioe, akan mencari muridku yang kepala, Law Boe Wie, serta soemoay kau, Bong Tiap. Tuturkan mereka kejadian di sini, tentang suasana yang buruk ini, lantas suruh mereka nasihati Lie Lay Tiongjangan masuk ke Pakkhia, atau kalau toh dia memasukinya juga, paling dulu ia mesti bikin pembersihan di dalam kalangan sendiri! Bukan main berdukanya Teng Hiauw. Ia lihat soepeh itu mulai lelah. Soepeh, kau hendak pesan apa lagi? tanya ia. Lioe Kiam Gim menghela napas, dengan sangat pelahan. Oh, tidak ia jawab. Aku hanya pikiri Bong Tiap. Kau bilangi ia bahwa ayahnya mengharap-harap ia ada baik!. Habis mengucap demikian, kepalanya Lioe Loo-kauwsoe melenggak, maka secara demikian berpulanglah ke dunia lain satu ahli Thay Kek Koen yang kesohor. Teng Hiauw mau menangis tetapi air matanya tidak keluar! Bagaimana aneh! Pada tiga tahun yang lampau, soepeh ini telah mengubur mayat ayahnya, dan sekarang, ia menggantikan mengurus jenazahnya soepeh ini. Dengan sangat sepi, ia lakukan upacarapenguburan, Ong Houw Tjoe cuma kirim wakilnya, ia jadi merasa tidak tenang sendirinya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sebenarnya Ong Houw Tjoe hendak bertindak mencari konconya si pembunuh, ia hendak jalankan aturan perkumpulan, apa mau, ia ada terlalu lemah, karena di sekitarnya, ia dirubungi oleh rombongan Poo Tjeng, karena kebinasaanya Kiam Gim justeru ada hasil persekutuannya rombongan pembeia Kerajaan Boan itu. Rombongan Poo Tjeng, atau Poo Tjeng Pay, dikepalai oleh Gak Koen Hiong, yang gagah, dan di antara sebawahannya, ada banyak wie-soe, pahlawan-pahlawan Boan, yang asalnya ada penjahat-penjahat besar dari dunia Kang-ouw. Begitu ia dengar kebinasaannya Lioe Kiam Gim, Gak Koen Hiong datangi Ong Houw Tjoe dan tanya bagaimana Ketua Gie Hoo Toan ini hendak bertindak. Dalam ilmu silat, Gak Koen Hiong menangi Ong Houw Tjoe, walaupun dia ada Hoe-tauwbak dari Gie Hoo Toan, pengaruhnya menarfgi Tjhia-tauwbak she Ong itu, oleh karenanya, Ong Houw Tjoe rada jerih terhadapnya. Maka itu, waktu ditanya, Houw Tjoe jadi tergugu. Kau lihat bagaimana? ketua ini balik tanya. Lioe Looenghiong ada dari golongan terlebih tua dan kenamaan, sekarang ia terbinasa gelap, tak dapat kita tidak melakukan penyelidikan dalam perkaranya ini. Bagaimana ia terbinasa secara gelap? Gak Koen Hiong membaliki dengan mata terbelalak. Sudah terang, dia dapat nama besar yang kosong belaka. Dia pieboe, dia keliru kena dilukai! Aku percaya dia cuma teriuka sedikit, lalu ia turunkan tangan jahat, ia binasakan dua orang kita, karena mana, orang-orang kita bunuh padanya. Tua bangka itu ganti satu jiwanya dengan dua jiwa orang kita, apakah itu tidak cukup berharga? Apa kau hendak rusakt keakuran persaudaraan kita melulu untuk or-ang luar? Apakah kau tidak takut nanti membikin tawar hatinya saudara-saudara kita? Ong Houw Tjoe jerih, ia kedesak.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Saudara, kau lakukan apa yang kau pikir baik, aku turut saja, kata ia akhirnya. Saking jerih, ketua ini sampai tak berani datang sembahyangi sendiri pada arwah Lioe Loo-kauwsoe, hingga diam-diam orang-orang rombongan Poo Tjeng Pay tcrtawai ia. Teng Hiauw ada jeli matanya dan cerdik, ia datang ke Pakkhia belum lama, tapi ia bisa lihat suasana, lantas saja ia mengerti duduknya keruwetan di Kota Raja ini. Ia tahu diri, ia tidak mau banyak omong. Rombongan Poo Tjeng Pay juga tidak bcrani ganggu pemuda she Teng ini. Ia ada babah mantu dari Kiang Ek Hian, Ketua dari Bwee Hoa Koen, sedang Kiang Ek Hian ada gurunya Tjoe Hong Teng, pendiri dari Gie Hoo Toan. Sudah bcgitu, kedudukannya Teng Hiauwdalam Gie Hoo Toan ada scparuh anggota dan separuh tctamu yang dihormati, dia pun liehay, orang jadi malui padanya. Meskipun demikian, Teng Hiauw anggap Pakkhia ada panas untuknya, maka itu,sesudah sclcsai raengubur jenazah Lioe Kiam Gim, ia hendak segera berlalu, untuk pergi cari Law Boe Wie dan Lioe Bong Tiap, di Thong-tjioe, apa mau selagi ia pamitan dari Ong Houw Tjoe, dia ini hadapi satu urusan Denting dan ia diminta pergi ke Thian-tjin untuk urusan rahasia itu. Ia terima baik tugas ini, sebab kebetulan isterinya, Kiang Hong Keng, berada di Thiantjin, hingga ia boleh sekalian ketemui isterinya itu. Ia pun lihat, dengan pergi ke Thian-tjin dulu, ia cuma minta tempo lebih dua hari, ia pikir itu tidak jadi halangan apa-apa. Demikian Teng Hiauw berangkat ke Thian-tjin. Di sini ia tunaikan tugasnya, lalu malam-malam juga, ia berangkat ke Thong-tjioe, tetapi kebetulan sekali, selagi ia hendak keluar dari kota, ia berpapasan dengan Law Boe Wie, malah mereka bentrok dulu, hingga mereka ketahui boegee masing-masing. Kaget dan repot Teng Hiauw melihat soehengnya itu pingsan, Iekas-lekas ia angkat tubuhnya Boe Wie buat digendong, akan dibawa masuk ke dalam kota, kemudian,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sesudah soeheng itu sadar, baharu ia tuturkan duduknya perkara yang jelas. Boe Wie jadi sangat sedih, tetapi ia tertawa menyengir. Untuk cari Lioe Bong Tiap, tidak usah pergi ke Thongtjioe, kata ia kemudian. Dia, dia ada di sini sekarang!. Teng Hiauw heran. Hei, bagaimana dia ada di sini? ia tanya. Boe Wie kerutkan alis, ia tidak mau membcrikan keterangan, ia cuma bilang, nona itu hendak cari ayahnya dan soehengnya, Tjoh Ham Eng. Ham Eng? ulangi Teng Hiauw. Pemah aku lihat dia! Dia ada ganteng sekali, pasti dia bakal jadi babah mantunya Soepeh!. Boc Wie meringis, hatinya perih. Barangkali, kata ia dengan paksakan diri. Kita sekarang mesti cari mereka. Thian-tjin ada begini luas, di mana kita bisa cari mereka itu? Teng Hiauw lihat romannya Boe Wie, ia menyangka soeheng itu sangat berduka. Baik kau jangan berduka, Soeheng, ia menghibur Soepeh menutup mata dengan pikirkan kebaikannya Gie Hoo Toan, adalah Icewajiban kita untuk mewujudkan cita-citanya itu. Harap Soeheng tidak merusak kesehatanmu. Mengenai Bong Tiap, barangkali tidak sukar untuk cari dia. Selama Soepeh berdiam di Thian-tjin, ketua di sini, Thio Tek Seng, telah sediakan ia satu tempat istimewa, maka dengan datangnya ini, Tjoh Ham Eng tentu pergi ke sana, begitupun socmoay Bong Tiap. Tempat Soepeh itu tidak tcrpisah jauh dari sini, mari kita segera pergi ke sana. Yang pcrlu adalah Soeheng jangan berduka, kau perlu beristirahat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tapi mcndcngar discbutnya Bong Tiap, Boe Wie jadi bersemangat. Mari kita pergi cari dia, tak perlu aku beristirahat lagi! kata ia. Mau atau tidak, terpaksa Teng Hiauw iringi soeheng ini. Sementara itu, Bong Tiap benar sudah sampai di Thian-tjin. Ia bukan anak kecil, ia tahu bagaimana hams bertindak. Maka sesampainya di Thian-tjin, langsung ia menuju ke markas Gie Hoo Toan, akan minta keterangan perihal ayahnya dan soehengnya she Tjoh. Karena ia ada puterinya Lioe Lookauwsoe, ia disambut dengan baik. Ia diberitahukan bahwa ayahnya sudah berangkat ke Pakkhia dan Ham Eng baljaru saja kemarin sampai, bahwa Ham Eng telah pergi ke tempat ayahnya. la ada tidak sabaran.ia minta alamat tempat ayahnya itu,. untuk. ia segera pergi menyusul. Dalam hal ini ia sampai tolak dengan getas permintaannya ketua perempuan dari markas untuk ia beristirahat dulu, hingga ketua itu anggap ia tak kenal persahabatan, bahwa ia mirip dengan umumnya nona Kang-ouw, yang aneh tabiatnya. Terpaksa ketua ini kirim satu anggota untuk antar nona ini. Sorenya Bong Tiap sampai di Thian-tjin, malamnya Boe Wie menyusul dengan Teng Hiauw. Sampainya mereka bcrdua ada kacck, ini disebabkan Bong Tiap kurang pengalaman dan tidak kenal jalanan. Teng Hiauw tidak ketahui datangnya si nona, karena selagi ia mau berangkat ke Thong-tjioe, si nona sendiri lagi berada di markas Gie Hoo Toan. Bcgitu lekas Bong Tiap sampai di depan rumah piranti ayahnya, ia suruh pengantarnya kembali. Ia tidak ketok pintu lagi, ia rapikan pakaiannya, terus ia loncat naik ke genteng, karena maksudnya adalah buat bikin Ham Eng kaget Kelakuan ini membikin pengantarnya anggap dia benar-benar nakal. Waktu itu, sang rembulan sudah berada di tengah-tengah langit Bong Tiap bisa lihat nyata macamnya gedung itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mulanya ia berdiam di sebelah utara, maka ia dapati tiga ruangan lainnya, yang semua berjendela ada kain penutupnya yang indah. Kemudian ia pergi ke timur, ia dekati sebuah kamar kecil. Dari kaca jendela, ia sudah dapat lihat bayangannya saw anak muda. Ini anak sudah ikuti ayah bertahun-tahun, kenapa kupingnya seperti budek dan matanya seperti lamur? pikir ia. lnilah disebabkan Ham Eng tidak dengar gerakan kaki di atas genteng dan berkelebatnya bayangan orang. Tapi BongTiap tidak ingat, scsudah dapat pimpinan Sim Djie tigatahun, ia sudah lombai jauh soehcngnya itu, tubuhnyatelah jadi entcng luar biasa. Ia mendekam di atas genteng sambil pasang kuping. Ham Eng jalan mondar-mandir, berulang-ulang terdengar helaan napasnya. Tidak sabar Bong Tiap, akan menanrikan saja, maka dengan cantcl kaki di payon, ia jumpalitan, akan mcroyot turun. lalu ia sentil kaca jendela, scsudah mana, ia ayun pula tubuhnya, akan naik pula ke atas genteng. Ham Eng kaget, hingga ia membentak: Bangsat, turunlah kau! Bentakan ini disusul sama timpukan beberapa batang piauw ke arah jendela. Bong Tiap tertawa cekikikan, setelah itu, ia loncat melayang turun, untuk terus buka jendela. Di sini si bangsat! Ham Eng, kau masih belum siap? demikian katanya nona yang nakal ini, yang kembali tertawa geli. Ham Eng melengak. Ia heran, hingga ia mau sangka ia sedang mimpi. Itulah ada suara tertawa dari tiga tahun yang lampau, selama di Muara Kho Kee Po!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Selagi orang tercengang, Bong Tiap sudah loncat masuk ke dalam, akan terus dekati pemuda itu, lalu berdiri di hadapannya Jauh-jauh aku datang tengok kau, kenapa kau tidak sambut aku? demikian si nona, yang bersikap aleman sekali. Ham Eng pentang lebar kedua matanya. Tidak salah lagi, itulah Bong Tiap di depannya. Oh, Socmoay, benar-benarkau? kata ia. Ia hendak maju, akan cekal tangan orang, tetapi urung, ia sangsi, ia kuatir nanti dikatai ceriwis. Ia terus mcngawasi pula. Eh, kenapa kau awasi saja padaku? Bong Tiap tertawa pula. Apakah kau tidak kenal aku? Kenapa kau bungkam? Ham Eng masih mengawasi, ia nampaknya terharu. Aku sangka bahwa aku tidak bakal ketemu kau pula, Soemoay, akhirnya ia jawab. Mana Toa-soeheng? Bukankah kau hendak berkumpul dengannya untuk selamanya? Bong Tiap dekati soeheng ini. Ia masih berbayang dengan petaan ro-man toa-soehengnya, akan tetapi di sini ia menghadapi satu pemudayang cakap ganteng. Siapa bilang aku hendak berkumpul dengan Toa-soeheng untuk selamanya? kata ia. Aku curna pikir itu. Kenapa kau marah dan kabur? Mendengar begitu, bukan kepalang girang Ham Eng, hingga ia mirip si pengemis yang mendapatkan potongan emas. Soemoay, kau jadinya pilih aku? ia kata, kalap dengan kegirangannya. Bong Tiap likat, ia tak dapat memberi jawaban, ia hanya manggut saja.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sekarang tak dapat Ham Eng pertahankan hatinya, ia ulur tangannya, akan tarik tangan orang. Thian berkasihan terhadapku, Soemoay, kau akhirnya jadi kepunyaanku! iamengeluh. Mai am itu, kamar itu, jadi indah luar biasa. Bagaikan bocah. Bong Tiap mendekam di rangkulan Ham Eng. Dan Ham Eng, bukan main besar hatinya. Lama mereka berdiam, akan cicipi kesunyian yang menyedapkan itu, ketika mendadakan si nona tolak tubuh kekasihnya seraya berseru: Bangun!. Tapi, belum suara itu padam, beberapa sinar sudah menyerang masuk dari antara jendela! Ham Eng kaget. Ia sebenarnya bisa pentang kedua tangannya, akan Hndungi si nona, akan tetapi Bong Tiap dului ia, dengan tarik. tubuhnya dengan tangan kiri, lalu dengan tangan kanan, nona itu sambar sprei dan pakai itu untuk sampok senjata rahasia itu, hingga penyerangan gagal. Segera, cepat luar biasa, nona itu lompat ke arah jendela, hingga ia bersomplokan sama satu orang yang bersenjatakan golok. Bong Tiap masih pegangi sprei, dengan itu, ia papaki musuh, hingga dia ini kena ditungkrup, wataupun musuh coba menikam,, tidak urung, tikamannya tidak membahayakan, malah dia terus merasakan sakit, ketika tangannya kena terlibat, hingga di lain saat, goloknya tcrlcpas jatuh. Si nona sambar golok itu, yang terus ia pakai layani beberapa musuh lain, yang sudah loncat masuk ke dalam kamar. Pertempuran telah terjadi, tapi Bong Tiap yang gagah. bisa mendesak, hingga beberapa penyerang itu tidak leluasa bergerak dalam kamar, terpaksa, dengan satu suitan, mereka mundur pula, lari melompati jendela.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bong Tiap heran melihat sekian lama, Ham Eng tidak membantui ia, ketika ia menoleh ke belakang, ia dapati pemuda itu rebah di pembaringan sambilmerintih. Ia kaget bukan main. Kau luka? tanya ia sambil lompat menghampirkan dan membungkuk. Tidak apa, Soemoay, sahut Ham Eng, suaranya pelahan. Aku terluka sedikit. Pergi kau bereskan beberapa jahanam itul Tapi Ham Eng telah terkena senjata rahasia Hong-bweepiauw, yang direndam dalam racun asal dari daerah Biauw. Piauw itu cuma tiga dim panjangnya, kalau mcngenai tidak menyebabkan rasa sakit yang sangat, hanya racunnya, yang berbahaya, apabila tidak ada obat pcnawamya, dalam satu jam, jiwa bisa mclayang karcnanya. Ini sebabnya kenapa Ham Eng tidak kuatirkan lukanya itu. Bong Tiap kertak gigi, ia hendak ambil pedangnya sendiri pedang Tjeng-kong-kiam untuk dipakai kejar musuh, tetapi kapan ia menoleh ke tembok, ia kaget bukan main, ia jadi sangat mendongkol. Pedang itu, bersama kantung piauw Bouw-nie-tjoe, berikut gegamannya Ham Eng juga, sudah lenyap, barusan telah disambar sal ah satu pcnjahat yang lari kabur. Dalam murkanya, nona ini tidak bcrayal lagi. la sambar penjahat yang iaringkus, ia lemparkan keluar jendela, habis itu, ia membarcngi loncat keluar dengan goiok diputar. Dengan lemparkan musuh, ia mau cegah musuh nanti bokong ia selagi ia loncat keluar. Dalam hai ini, ia berhasil mencegah musuh curangi dia. Tapi, setelah ia berada di luar jendela, musuhnya lantas merangsang, yang menjadi kepala ada seorang dengan ruyung Tjit-tjiat-pian, ruyungnya panjang, orangnya bertenaga besar, ruyung itu menyambar ke pinggang.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bong Tiap kenali semua dclapan belas rupa senjata, ia tahu cara dipakainya itu dan liehaynya juga, maka itu, ia berlaku waspada. Ia tunggu sampai ujung ruyung sampai, ia mundur seraya menyedot perut, waktu ruyung lewat, ia majukan kaki kanan, ia merangsang, goloknya turut menyambar, dalam gerakan Pek tjoa tjoet tong atau Ular putih keluar dari lobang. Sudah bcgitu, tangan kirinya pun menyambar ke bahu kanan musuh. Gerakan ini ada sebat luar biasa, penjahat itu perdengarkan j en tan Aduh! Ia mau loncat mundur, untuk mcnyingkirkan diri dari bacokan juga, akan tetapi ia kalah sebat, bahunya kcburu dicckal. Hanya, selagi Bong Tiap hendak membetot, dua musuh sudah serang ia dari kiri dan kanan. Sebatang golok Koei-tauw-too menyambar lengan kanan, sedang sebuah gembolan turun ke arah batok kepala! Itu ada satu kepungan hebat. Bong* Tiap batal membetot musuh, sebaliknya, ia menarik nyamping, dari kiri ke kanan, untuk sambuti golok musuh, dengan tubuhnya si penjahat Penycrang itu kaget, lckas-lekas ia batalkan serangannya, dengan tangan kirinya, ia sekalian tarik kawannya itu. Budak liehay! ia berseru dalam gusarnya, sesudah mana, ia maju pula. Penjahat yang bersenjatakan gembolan kena diperdayakan si nona Gembolan itu memakai rantai, seperti bandring, maka bila rantainya melibat senjata musuh, senjata musuh itu bisa ditarik terlepas. Tapi Bong Tiap tidak takut, ia malah sengaja bikin goloknya hampir kelibat, berbareng dengan mana, ia terusi turunkan goloknya ke bawah, hingga gembolan musuh, yang lagi turun, jadi kena tertarik sendirinya. Ini ada gerakan pinjam tenaga lawan. Karena ini musuh kena terbetot, sampai kuda-kudanya gempur, tubuhnya maju ke depan, sukar ditahan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Selagi bcgitu, dengan satu gerakan memutar, Bong Tiap dengan licin loloskan goloknya dari libatan rantai, lalu membarcngi, ia membabat kedua kaki orang. Ia mendek dan menycrang dengan tipu Kouw sie poan kin, atau: Pohon tua numprah dengan akarnya. Musuh itu liehay, meskipun ia tcrancam bahaya, ia masih bisa enjot tubuhnya, akan terus berlompat, menyingkir dari babatan. Ia lompat jauhnya sctumbak. Bong Tiap hendak kejar musuh ini, atau dua musuh lainnya, yang pegang Tjit-tjiat-pian dan Koei-tauw-too, sudah maju pula, berbareng menyerang ia. Hanya sekali ini, mereka berlaku hati-hati. Terpaksa, Nona Lioe layani pula kedua penjahat itu. Segera juga, penjahat yang bersenjatakan gembolan, bersama satu yang lain, yang mencekal Tjeng-kong-kiam, membantu kedua kawannya mengepung. Bong Tiap gusar melihat senjatanyadipakai musuh. Pedangitu ada buatannya ayahnya, dulu, ketika ia berumur satu tahun, lalu setiap tahun, ditambah beratnya, terus sampai ia berusia dua belas, di waktu mana, ia diizinkan pakai itu. Itu ada pedang tajam luar biasa, bisadipakai membabat besi sembarangan. Ia ingin rampas pulang pedang itu, maka ia segera desak ini musuh, beruntun ia membacok dengan tiputipu silat Sia sin bong goat atau Memandang rembulan sambil miring dan Hons hong thian tjie atau Burung Hong pentang sayap. Ia pun membentak: Penjahat tidak tahu malu, kau berani curi pedang nonamu! Penjahat itu, yang romannya bagaikan tikus, tidak gusar, sebaliknya, ia tertawa haha-hihi. Nona manis, kenapa marah? kata ia, dengan godaannya. Pedang toh harus dihaturkan pada orang gagah dan pupur di hadiahkan kepada si juwita! Kau persembahkan pedang padaku, nanti aku balas kirimkan pupur dan yan tjie harum

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kepadamu! Bagaimana menarik untuk kita saling tukar tanda mata!. Sekalipun ia menggoda dan berlaku ceriwis, penjahat itu tidak alpakan pedangnya. Maka itu, kendati ia mendesak, dalam tempo yang pendek, Bong Tiap tidak mampu berbuat suatu apa, karena ia pun sedang dikepung, hingga ia mesh layani yang Iain-lain. Empat musuh itu ada mempunyai kepandaian tidak rcndah. kalau tadi mereka ketetcr, itu disebabkan mereka memandang enteng. Sekarang, di empat penjuru, mereka menycrang dengan rapi. Bong Tiap sekarang bukan iagi Bong Tiap tiga tahun yang lalu, ia bcnar tidak biasa menggunai golok, tapi ibunya, Lioe Toanio Lauw In Giok, ada ahli wans Ban Seng Boen, yang utamakan golok Ban-seng-too, dan itu, sedikimya ia paham gunai senjata ituja tahu tipu-tipunya, maka sekarang ia bersilat dengan campur ilmu golok dengan ilmu pedang Thay Kek Koen sen a Sim Djie Sin-nie punya ilmu kebutan Tiathoed-tim yang bisa dipakai sebagai pedang Ngo-heng-kiam. Begitulah, ia pun bikin empat musuhnya tidak bisa berbuat ban yak. Pertempuran berjalan seru, sampai lama juga, ialah lebih daripada lima puluh ju-ras. Bong Tiap bcrkelahi terns, sampai diam-diam ia mcngcl uh. Dengan tiba-tiba, ia rasai perutnya mulas, kedua kakinya pun sesemutan. Karena ini. diluar keinginannya, ia jadi keteter. Bong Tiap benci musuh yang pakai Tjeng-kong-kiam, tapi juga ia paling waspada terhadap musuh itu, bukan ia maiui boegee orang itu, ia hanya kuatir, senjata mereka jadi kebentrok, ia takut. goloknya nanti kena terpapas kutung. Coba mereka bertempur satu sama satu, ia tentu tidak pikir banyak. Di lain pihak, musuh pun merangsang hebat. Sembari bertempur, musuh-musuhj itu masih menggoda terus.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Begini saja puterinya Lioe KiainJ Gim! demikian seorang menghina. Mernang sebegini saja! kata yang lain. Dia cuma bisa layani si kelinci. mana dia sanggup lawan kita?. Dengan si kelinci ia maksudkan Ham Eng. Mukanya Bong Tiap pucat, ia kertak gigi. Ia mendongkol bukan alang-kepalang. Dengan tiba-tiba, dengan Too say kim tjhie atau Menyebar uang emas, ia terjang penjahat yang ngoceh tak keruan itu. Dari atas ia menyerang ke bawah, lantas ia teruskan membabat kaki. Penjahat itu yang mainkan ruyung tujuh tekukan, dia lompat mundur, ruyungnya dipakai menyampok, sedangnya begitu, Bong Tiap dengar sambaran angin di bclakangnya, lckas-lekas ia putar tubuh, tapi menyusul itu, rantai bandring menyambar goloknya, melilit, ketika si penjahat membetot, goloknya terlepas, terpental! Insyaf bahwa ia lagi hadapi ancaman bencana, tidak ayal lagi, Nona Lioe keluarkan Ioncatan tinggi danjauh, sebagaimana yang Sim Djie pernah ajarkan ia. Ia loncat dua tumbak. gerakannya mirip dengan burung hoo menerjang langit. Ia lintasi kepala musuh, setelah kakinya injak tanah, ia loncat lebih jauh, hingga ia lantas berada di jalan besar. Tapi ia bukannya hendak lari, ia cuma mau jauhkan diri dari musuh, agar ia bisa dapat napas. Ia bersedia dengan tangan kosong melayani terus empat musuhnya. Mereka ini pun menyusul, sekarang mereka semakin berani, karena si nona bertangan kosong. Ketika itu sudah lewat tengah malam, jagat ada sunyi sekali. Memangnya di Thian-tjin ada jam malam, begitu cuacagelap, penjagaan Gie Hoo Toan diperkeras, siang-siang penduduk telah masuk tidur. Sementartfttu, gedungnya Kiam Gim berada di terhpat yang sunyi, hingga sekalipun serdadu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ronda, jarang yang lewat situ. Maka itu, mereka itu bertempur tanpa ada yang lihat atau ganggu. Selagi empat penjahat itu merangsang, untuk kepung pula si nona, tiba-tiba dua bayangan kclihatan lari mendatangi, ketika keduanya sampai, mereka segera menghalang di tengah. Dua bayangan itu masing-masing mencekal sebatang pedang panjang, yang mereka lintangi. Kapan Bong Tiap telah lihat nyata dua bayangan itu, ia kaget berbareng girang. Ah, Toa-soeheng, kau datang! ia berseru. Memang juga dua orang itu adalah Law Boe Wie dan Teng Hiauw, yang baharu saja sampai. Kalau Boe Wie ada keren karena bentuk kepalanya beroman macan tutu!, adalah yang berdiri di sampingnya, tubuhnya jangkung dan cakap dan gagah usianya kurang lebih tiga puluh tahun! Empat penjahat itu terkejut untuk sedetik saja, mereka tidak takut, tetapi di saat mereka hendak tegur ini dua orang baru, tahu-tahu Boe Wie berdua sudah maju akan serang mereka. Bong Tiap mendapat hati, ia serukan toa-soeheng itu: Kau orang layani itu tiga orang, biarkan aku sendiri lawan ini yang bersenjatakanTjeng-kong-kiam! Jangan kau orang bantunku! Dan ia terus loncat maju, akan serang itu pencuri pedang, yang ia benci bctul, karena mulutnya sangat kotor. Ia tidak keder walaupun ia tidak punya senjata. Boe Wie bersangsi melihat soemoay itu tidak bergegaman. Jangan kuatir, aku sanggup layani kelinci ini! kata si nona, yang mengerti kesangsiannya saudara seperguruan itu. Di situ terjadi pertempuran dalam tiga rombongan. Boe Wie serang or-ang yang pegang golok Kwie-tauw-too, ia lantas dikepung oleh musuh yang menggunai Tjit-tjiat-pian. Teng

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hiauw sendirian layani musuh yang pegang bandring gembolan. Penjahat dengan Tjeng-kong-kiam gentar juga melihat majunya Bong Tiap, tapi karena orang bertangan kosong, iasegera mendahuluimenikam dadanya Bong Tiap. Ia telah gunai tipu Tjoan tjiang tjin kiam atau Majukan pedang sambil lempangi tangan. Bagus! bcrscru Bong Tiap scraya ia berkelit ke samping, bukannya ke kiri, hanya ke kanan, dari sini, dengan tangan km ia hajar lengan kanan rang, dcngan tangan kanan, ia sambar pundak kiri musuh. Inilah yang dibilang **Hok ie hoan in, atau Menyusun hujan, membalfld awan La wan itu geser tubuhnya ke kanan, ke arah man a pun ia tarik pcdangnya, habis itu, cepat sekali, ia menyerang pula, mcnikam bebokongnya si nona Bong Tiap berkelit sambil mendek, kakinya melesat ke samping musuh, selagi pedang mcnusuk tempat kosong. ia bcrada hampirdi belakang musuh itu, maka sambaran angin segera mengarah batok kepala penjahat itu. Celaka! mcnjerit musuh itu dalam hatinya. la insyaf, serangan si nona lagi menuju kepalanya bagian belakang. Maka lekas-lekas babat ke belakang, kepada lengan kanan orang. Bong Tiap lihat orang repot, ia perdengarkan tertawa menyindir. Ia kasih lewat babatan pedang, lalu ia merangsang untuk itu, ia gunai kedua tangannya, yang disusun. Dimajukan bergantian dengan sebat sekali. Kecewa penjahat itu menggunai pedang, ia tak dapat gunakan itu secara berfaedah, ia repot dengan desakan. Tubuh si nona berkelebat di sana-sini, di depan. di kiri dan kanan, atau tiba-tiba, di belakang. Sebagai kupu-kupu ia mainkan bunga, laksana capung menyambar air, demikian

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

gesitnyasi nona. Dengan ini jalan, ia menyebabkan mata musuh lamur, kepala pusing. Scsudah sckian lama tidak berdaya mcloloskan diri dari desakan, penjahat itu pikir, menyingkir ada paling selamat. Untuk ini, ia tidak mau pikirkan lagi tiga lawannya. Dengan Auw tjoe hoan sin, lompatan j umpali tan bagai burung menyambar, ia lepaskan diri dari desakan, lalu dengan Kim peng tian tjie atau Garuda emas pentang^sayap, ia membabat ke arah bawah si nona, setelah itu, selagi Bong Tiap lompat berkelit, ia juga terus Ioncat mundur, putar tubuh dan angkat langkah seribu. Kabumya penjahat adalah hal yang menggirangkan si nona. Ini ada apa yang ia harap. Ia memang mempunyai Tjengkang-soet, ilmu entcngi tubuh, yang sempurna. Justeru penjahat itu lari, ia enjot tubuhnya, untuk mengejar. Sekali Ioncat saja, ia sudah sampaikan kira-ki ra dua tumbak, hinggaia lantas bcrada di belakang musuh. Musuh itu hendak putar tubuhnya, guna menyambut dengan tikaman, sayang,sudah kasep, ia terlambat, baru tangannya digeraki, atau tangan itu sudah dicekal Bong Tiap, kaki siapa pun bekerja. Tidak tempo lagi, penjahat itu rubuh terguling, pedangnya terlepas. Bong Tiap tidak mau mengasib hati, justeru orang rubuh, ia lompat menyusul, sebelum penjahat itu dapat kctika, akan lompat bangun, kepalanya sudah kena ditendang, demikian hebat, sampai kepala itu pecah, polonya tercerai-berai, hingga jiwanya terus terbang melayang. Bukan baharu satu kali ini Bong Tiap bertempur, tetapi membunuh musuh secara begini, ini ada pengalamannya yang pertama. Ia berlaku ganas saking ia benci musuh. Akan tetapi, melihatmayat orang itu, hatinya segera.menjadi tidak tega, hingga ia tak sanggup mengawasi lebih lama. Dengan apa boleh buat, ia gunai kakinya, akan sontek pedangnya yang terletakdi darah mengumplang, untuk jumput itu. Ia sudah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

hendak angkat kaki ketika ia ingat piauw Bouw-nie-tjoe, yang ia percaya ada di tubuh musuh, maka dengan apa boleh buat, ia kembali, ia dupak tubuh musuh sampai terbalik, dengan separuh meram, ia merogoh ke saku orang itu. Benar saja, ia dapatkan senjata rahasianya itu. Habis itu baharu ia susut bersih darah di pcdangnya dan masuki pedang itu ke dalam sarungnya. Untuk sedetik, ia berdiri diam, hatinya goncang, tubuhnya rasanya lemas. Tapi sedetik juga* ia ingat akan keadaannya. Segera ia menoleh pada dua kawannya. Ia dapatkan Teng Hiauw, sambil memeluk pedang, lagi berdiri mengawasi ia sambil bersenyum. Di lain pihak, Boe Wie masih layani dua musuhnya, hanya dia sudah menang di atas angin. Samasekali musuh ada berjumlah lima, Teng Hiauw layani yang bersenjatakangembolan. Satu musuh telah melayang jiwanya, karena dibekap Bong Tiap ketika ia lancang masuk ke dalam kamar dan kemudian dilemparkan keluar jendela dengan masih terbekap. Musuh yang pegang gembolan ini lebih liehay dari kawannya, yang sudah mart, tapi ia tidak berdaya melawan Teng Hiauw belum habis dua puluh jurus, pedangnya orang she Teng itu sudah mampir di dadanya, lalu digentak ke atas, hingga luka di dada sampai di pundak kanan, darahnya nyemprot tak mau berhenti, tubuhnya rubuh, jiwanya melayang. Baharu setelah musuh terbinasa, Teng Hiauw ingat, ia berbuat terburu nafsu. Seharusnya ia mengasih tinggal hidup, guna korek keterangan dari mulutnya dia itu. Setelah itu, ia menoleh pada Boe Wie dan Bong Tiap. Tadinya, seperti orang she Law itu, ia kuatirkan si nona, tapi, setelah lihat cara berkelahinya, hatinyajadi tetap. Nona itu gesit luar biasa, bertangan kosong, diamampu layani musuh dengan leluasa, maka itu, ia lantas berdiri menonton saja. la lantas saja jadi kagum dengan caranya orang bersilat. Itulah bukan gerakan Thay Kek Koen belaka. Ia tidak kenal ilmu silat si nona. Ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

percaya, si nona barangkali ada di atasan ianya. Ia tidak sangka, soemoay yang ia belum pernah lihai itu, yang cuma ia pernah dengar namanya, ada demikian liehay. Maka itu, akhirnya, ia bersenyum menyaksikan kcmenangan, yang dilakukan sccara mengagumi. Hatinya Bong Tiap lega mclihat pembantu yang belum dikcnal itu sudah perolch kcmenangan, dari itu, ia lantas perhatikan toa-soehengnya. Boe Wie bukannya kewalahan mclayani dua musuh, kalau scbegitu jauh ia bclum berhasil, itu disebabkan, sembari berkelahi, saban-saban iacari ketika akan menoleh pada sang adik scpcrguruan. Kemudian, walaupun ia lihat soemoay itu sudah menang di atas angin. ia masih belum tenteram betul, ia scnantiasa bcrdaya akan bcrscdia untuk bantu saudara itu apabila perlu. Maka itu, ia gunai Hoei Eng Keng-soan-kiam untuk layani kedua musuh, hingga dua-dua musuh tak dapat merangsang ia, sebaliknya, mereka yang saban-saban mesti mundur dari ancaman pedang. Sckarang. setelah lihat Bong Tiap menang, ia tidak mau berlaku sungkan lagi. Dcngan Liong boen sam kek long, dengan gayanya sang naga menentang gelombang, Boe We lantas merangsang. Dari pihak si pembela diri ia berubah menjadi si penyerang. Dan ia berlaku sangat gesit. Diserang secara demikian, kedua penjahat itu jadi kelabakan. Memangnya mereka sudah kewalahan. Dalam tempo yang pendek sekali, permainan gegaman mereka menjadi tidak teratur lagi. Penjahat yang menggunai golok Kwie-tauw-too menjadi sibuk, ia rupanya insyaf, lama-lama ia bisa celaka. Dengan sekonyong-konyong, ia kirim tikaman kepada musuh. Berbareng dengan itu, kawannya, yang pegang ruyung Tjittjiat-pian, juga maju menyerang.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Digencet dari dua jurusan, Boe Wie tidak berkuatir. Gesit sekali, ia mendek, terus ia geser kakinya, akan menyingkir, ke sampingnya si penyerang yang pertama. Berbareng dengan itu, kedua senjata musuh telah bentrok satu dengan lain, karena mereka itu tak keburu lagi tank pulang serangannya masing-masing. Boe Wie gunai ketika senjata mereka beradu, ia melesat terlebih jauh ke samping musuh yang bcrsenjatakan golok, akan kirim bacokan pada batang leher orang. Ini adalah tipu silat Soen soei twie tjouw atau Menolak perahu dengan turuti aliran air. Tidak tempo lagi, dengan perdengarkan jeritan tertahan, penjahat itu rubuh binasa. Bukan terkira kagetnya penjahat yang memegang ruyung apabila ia saksikan kawannya hilang jiwa, dengan tiba-tiba ia menyerang kalang-kabutan, supaya ia bisa buka jalan untuk angkat kaki. Ia berhasil. Selagi Boe Wie mundur, ia lompat dan kabur. Tapi Boe Wie mundur beberapa tindak saja, selagi musuh lari, ia loncat, akan mengejar. Ia memang pandai lari keras. Ia ada laksana garuda menyambar kelinci. Cepat sekali, ia sudah datang dekat belakang musuh itu. Jahanam, lihat pedangku! ia memfcentak. Dan pedangnya menyambar. Penjahat itu kaget bukan main mendengar teriakan itu, ia menjadi gugup, tapi selagi ia terancam bahaya, mendadakan ada orang lain lompat kepada mereka dan dengan pedangnya, orang itu tangkis pedangnya Boe Wie, hingga kedua senjata beradu dengan nyaring, hingga penjahat itu jadi ketolongan jiwanya. Boe Wie heran apabila ia kenali penghalang itu ada Teng Hiauw. Jangan binasakan dial Perlu kcsaksiannya!Tcng Hiauw berseru apabila kawannya awasi ia, selagi Boe Wie hendak minta keterangan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Segcra Boe Wie mengcrti, dengan tidak kata apa-apa, ia loncat kepada musuh, siapa pun heran, hingga dia tercengang. Gerakan Boe Wie ada Liong heng hoei pou atau Tindakan terbang dari naga. Dan ia tidak lagi gunai pedangnya, hanya jeriji tangannya. Penjahat itu kaget, ia membabat dengan ruyungnya, tetapi ruyung itu ditangkis dengan pedangnya Boe Wie, sampai ruyung terpental, setelah mana | orang she Law ini mendesak terus,, lagi-lagi dia menyerang, dengan dua jan tangan, telunjuk dan jari tangan, dari tangan kiri. Sasarannya adalah musuh punya jalan darah Kie-boen-hiat atau pintu angin. Sekarang penjahat itu tidak berdaya lagi, ia kalah sebat, ia kena ditotok, berbareng sama jeritannya Aduh! ia rubuh dengan tak dapat berkutik lagi! Sampai di situ, habislah lima penjahat: satu tertawan hidup, empat terbinasa. Boe Wie kasih dengar tertawa puas, lantas ia masuki pedangnya ke dalam sarung, sesudah itu, dengan tangan kiri, iajumputtubuh musuh, untuk dikempit. Mari kita masuk ke rumah, untuk periksa dia ini! kata ia pada Teng Hiauw dan Bong Tiap. Si ndna, seperti Teng Hiauw, sudah lantas menghampirkan. Teng Hiauw dan Bong Tiap setuju, malah si nona segera mendahului lari di depan. Dengan tiba-tiba ia teringat pada Ham Eng, yang sudah terluka, yang ditinggal sendirian di dalam kamar. Ia pun tidak dandan rapi, karena tadi ia keluar dengan terburu-buru, dan pakaiannya ada kecipratan darah. Ruangan ada gelap petang ketika ketiga orang itu masuk ke dalam rumah, di mana segera terdengar rintihan. Bong Tiap berkuatir, ia lompat ke arah meja, untuk cari bahan api, guna nyalakan itu, untuk pasang lampu. Ham Eng kelihatan rebah dcngan kulit muka hitam geJap,. matanya separuh ditutup, napasnya empas-empis.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bong Tiap kaget, sampai ia lalai di situ ada orang lain. Ia dekati Ham Eng, akan usap-usap muka orang. Ham Eng! ia mcmanggil. Di sini aku, kau tahu tidak? Pemuda iiu telah jadi korban Hong-bwee-piauw yang bcracun. Mulanya ia cuma merasai sakit sedikit, tetapi sctelah racun bekerja, dcngan ccpat ia mcnjadi lelah, rasa sakitnya luar biasa. Da lam keadaan bcrbahaya itu. ia masih ingat Bong Tiap, ia ingin sekali tengok nona itu, walaupun untuk pcnghabisan kali. Begitulah, dcngan lapat-lapat, ia dcngar suaranya si nona. Ia lantas buka matanya, kcdua tangannya bergcrak, meraba baju orang. Socmoay. di lain pcnitisan saja kita orang bertemu pula kata ia dcngan lemah. Boe Wie kaget Scgcra ia mengerti, soetee itu sudah terkena piauw yang beracun. ia lihat air mukanya Ham Eng yang bcrsinar hitam gclap. Sesaat ini, ia lupai halnya sendiri dcngan .Bong Tiap, ia kasihani socmoay itu, ia kasihani sang soetee. ia maju ke depan, dekat sekali pada Ham Eng, untuk mempcrhatikan. Di samping pembaringan, ada menggeletak liga batang piauw, yang kecil sekali. Rupanya Ham Eng telah cabut itu di waktu ia mcrasakan sangat sakit Boe Wie jumput itu, untuk diperiksa. Ia pernah dengar keterangannya Tok-koh It Hang perihal bcrbagai macam senjata rahasia seperti itu, ia mengerti, piauw ini ada racunnya. Sclama mcrcka melawan empat musuh, tempo hampir satu jam telah dilewatkan, tidak heran soetee itu jadi berbahayakeadaannyaJLebih dahulu daripada itu, Bong Tiap sudah I ay an i musuh-musuhnya. Maka scantcronya, sang tempo pasti sudah lebih daripada satu jam. Rupanya, saking tangguhnya Ham Eng, ia masih bertahan sampai itu waktu. Celakanya, luka itu tak dapat discmbuhkan kecuaii oieh obat si pemilik piauw sendiri. Soetee, aku mcnycsal, kata Boe Wie yang dekati Ham Eng. la telah kuati hatinya, untuk tidak keluarkan air mata. Tidak,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

aku yang menyesal sahut Ham Eng, yang kcnali soeheng itu. Ia. Sudah Boe Wie memotong. Ia adalah kepunyaan kau. Aku datang untuk saksikan pernikahan kau orang berdua. Ham Eng coba melirik Bong Tiap, nona ini tunduk dengan muka mcrah, dia diam saja. Anak muda itu lantas tertawa mcringis. Aku mati dengan puas. kata ia, suaranya sangat lemah. Ia rupanya masih hendak bicara terus, tetapi matanya dimeramkan, tempo ia lonjorkan kakinya dengan kaget, napasnya berhenti berjalan, cuma tampangnya masih tersungging senyuman. Bong Tiap kaget, ia raba dada Ham Eng, ia tidak rasai jantung mcmukul, hatinya mencelos. Ia menangis tetapi air matanya tidak keluar. Tiba-tiba ia hunus pedangnya, yang ia hendak tabaskan pada batang lehernya sendiri. Boe Wie lihat .gcrakannya itu, ia terperanjat, tetapi ia insyaf, sebelum pedang menabas, ia ulur tangannya, akan totok bahu kanannya Bong Tiap. Dalam hal ini, Bong Tiap tidak perlu memikir untuk bcrkclit. Maka ia kena ditotok di jalan darahnya Kiok-tie-hiat, lantas tangannya sesemutan, pedangnya terlepas sendi rinya, jatuh sambil menerbitkan suara. Teng Hiauw lompat akan jumput pedang itu. Aku hendak mati, Toa-soeheng, kata si nona, yang lantas saja menangis. Kcnapa kau ccgah aku? Boc Wie belum sempat menyahut, atau Teng Hiauw dului ia. Soemoay, kata orang she Teng ini. Kita berdua sebenarnya belum pernah kctemu satu dengan lain, tetapi aku sudah dengar kau adalah satu wanita gagah, maka kenapa kau berpikiran begini cupat? Apakah kau tak perdulikan lagi sakit hati ayahmu? Apakah kau inginkan lain orang yang tolong balaskan itu? Bong Tiap melengak. Kata-katanya Teng Hiauw, bagi ia ada seumpama guntur di siang hari.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Apa? Apa kau bilang? ia menegur. Kau siapa? Teng Hiauw maju setindak, ia awasi nona itu. Orang telah aniaya ayahmu hingga binasa- di Pakkhia, ia kata Apakah sakit hati itu tidak hendak dibaIas?Aku adalah orang yang telah kubur dcngan tangan sendiri jenazah ayahmu. Aku adalah soetit sejati dari ayahmu!!. Belum sampai Teng Hiauw tutup mulutnya atau tubuhnya Bong Tiap rubuh dengan tiba-tiba, rubuh pingsan. Boe Wie lompat, akan tolong soemoay itu. Ia angkat tubuh nona itu, untuk direbahkan. Ah, Soetee. ia sesalkan Teng Hiauw, dia lagi berduka kenapa kau lantas beritahukan kebinasaannya Soehoe? Teng Hiauw bersenyum tawar. Justeru ini ada saatnya yang pal-ing baik, ia bilang. Secara begini, kita bisa bikin ia tenang, hingga ia tak usah hendak mencari mati. Soeheng jangan kuatir, dia tidak dalam bahaya. Dia sangat berduka, tapi sebentar dia akan sadar. Boe Wie bcrpikir. Ia anggap soetee ini benar juga. Tcng Hiauw ada seorang yang cerdik, dengan lihat sikapnya Bong Tiap dan Ham Eng berdua, dan kelakuannya Boe Wie, ia! scgcra bisa menduga kepada lelakon cinta segitiga, maka itu, untuk cegab si nona menjadi nekat, tidak ada Iain jalan daripada lantas beritahukan kematiannya Lioe Loo-kauwsoe, ayahnya si nona. Ia percaya, walaupun itu ada pukulan hebat kematiannya Ham Eng Bong Tiap ton akan lebih utamakan sakit hati ayahnya- Ia pun percaya, dcngan warta hebat itu, Bong Tiap tidak bakalan bercelaka. Dugaannya Teng Hiauw tidak meleset. Berselang beberapa menit, Bong Tiap mulai sadar, ia geraki kaki, tangannya, matanya dibuka, belum sempat Boe Wie mengawasi, sekonyong-konyong nona itu mencelat bangun.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mari pedangku! dia terus berseru. Aku tidak akan cari mati laei! Aku hcndak can musuhku. Aku hcndak tanya, ada permusuhan apa di antara kita maka ia sudah lukai ibuku dan sekarang binasakan ayahku! Teng Hiauw, yang masih pegangi pedangnya Bong Tiap, serahkan itu, tetapi ia hunjuk roman keren ketika ia berkata: Kau berniat menuntut balas, itu bcnar! Tapi kau mesti tenangkan din dahulu! Musuhmu bukan satu orang saja, dengan kau pergi seorang diri ke Pakkhia, sakit hatimu tak akan terbalas! Kita orang mesti berdamai. jangan kita Cuma turuti nafsu hati. Aku kasih tahu padamu, ayahku juga terbinasa di tangan musuh, ayahku adaiah soesiokmu Teng Kiam Beng, dengan siapa kau belum pernah bertemu. Bong Tiap berdiam. Baharu sekarang ia tahu ini orang baharu. Perkataannya Teng Hiauw benar, mau atau tidak, ia mesti dengar. Baiklah, kata ia akhirnya. Hatinya Boe Wie menjadi lega. Sampai di situ, mereka lalu berdamai, untuk periksa orang tawanan mereka. Musuh yang bersenjata Tjit-tjiat-pian itu, yang sudah tidak berdaya, ada bemyali besar dan bandcl, ia berlaga gagu, karena setiap pertanyaan, ia tidak mau jawab, percuma orang bujuki dan gertak ia. Bong Tiap jadi sengit, hingga ia hajar batang leher orang itu dengan pedangnya. Jikalau kau tetap tidak mau bicara, aku nanti bunuh padamu! ia mengancam. Baharu sekarang, penjahat itu menyahut, dengan tetap hunjuk kcbandclannya, dengan mata melotot. Aku sudah tidak mengharap hidup pula, aku mcmang hendak menghadap pada Giam Loo Ong, untuk cari si pcmuda muka putih itu untuk tempuri ia! Nah, kau bunuhlah aku! Sangatlah berharga bagiku akan binasa di tangannya si manis!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tidak terhingga gusarnya Bong Tiap, hingga ia ayun pedangnya. Jangan, mencegah Boe Wie, yang tank si nona ke samping. Sabar, aku mempunyai daya untuk bikin dia bicara, supaya ia binasa sccara puas, seperti ia kehendaki! Habis ber-kata-kata begitu, Boe Wie tepok jalan darah Hok-touw-hiatnya di iga kiri, untuk bikin terbuka jalan darah itu, hingga darah bisa mengalir, kemudian dengan tiga jeriji tarigan, ia totok dan tepok dengan bergantian batang lehemya orang itu di bagian yang lemas, menyusul mana, penjahat itu lantas teraduh-aduh, terkuing-kuing seumpama babi dipotong. Ia pun bergulingan di tanah. Mulanya dia masih mencaci kalang-kabutan, akan tetapi pelahan-Iahan, suaranya lenyap. Totokan Boe Wie ada totokan pal-ing liehay dari Kim-nahoat punya enam puluh empat tipu silat, untuk kompes orang jahat, itu ada jauh terlebih liehay dari berbagai pesawat kompesan. Kena ditotok dan ditepok, penjahat itu rasakan semua uratnya seperti terlepas satu demi satu, seluruh tubuhnya sebagai juga ditusuki berlaksa jarum, rasanya sakit dan gatal, hingga tak dapat ditahan, maka itu, ia tak berani memaki terlebih jauh, akan akhirnya, ia minta-minta ampun. Boe Wie tertawa dingin terhadap musuh yang bandel ini. Aku sangka kau berkulit tembaga dan bertulang besi, entah bagaimana tangguhnya, kiranya kekuatan kau begini saja? ia mengejek. Kau minta ampun, baik sekarang kau mesti jawab aku satu demi satu! Asal kau mendusta, aku masih punya lain cara yang liehay, untuk kau rasai! Mukanya penjahat itu jadi pucat dan biru bergantian, keringat sebesar kacang mengetes dari jidatnya. Sekarang iajadi jiijak, berulang-ulang mangguti kepala. Siapa perintah kau bokong puteri dan muridnya Lioe Looenghiong? demikian pertanyaan pertama dari Law Boe Wie.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Itulah Gak Koen Hiong Toako dari Pakkhia! Teng Hiauw melirik pada Boe Wie, segera ia tanya: Apakah benar? Ada siapa lagi di belakangnya Gak Koen Hiong? Apakah juga Gak Koen Hiong yang perintahkanmembinasakan Lioe Loo-enghiong? Siapa ada di belakangnya Gak Koe Hiong aku tidak tahu,mengakui penjahat itu. Aku cuma dengar ada sejumlah orang liehay, yang tidak hendak majukan diri, karena Gak Koen Hiong ada orang Gie Hoo Toan, mereka ini majukan Gak Toako. Or-ang bilang, Ibusuri Tjoe Hie Loo-Hoeja juga ada tulang punggungnya Gak Toako. Tentang kcmatiannya Lioe Loo-enghiong, itu ada pekerjaan orang sebawahannya Gak Toako. Boe Wie gusar bukan kepalang, hampir saja ia tak dapat kcndalikan diri. Kenapa Gak Koen Hiong ketahui puteri dan muridnya Lioe Loo-enghiong ada di sini? ia tanya pula. Apakah Tjo Hok Thian dan Thio Tek Seng ketahui kau orang telah dikirim kemari? Gak Koen Hiong tidak ketahui puterinya Lioe Loo-enghiong ada di sini, penjahat itu berkata lebih jauh. Dia cuma tahu, Lioe Loo-enghiong mempunyai satu murid muda, yang sering dampingi gurunya, dari itu, dia cuma kirim kita bertiga. Kedua oatauw bak Thio Tek Seng dan Tjo Hok Thian tidak ketahui tentang kita ini. Boe Wie masih tanyakan lainnya lagi, tetapi orang itu goyang kepala, ia tak dapat bcnkan lagi ketcrangan yang penring, maka akhimya orang she Law itu rabah iganya orang itu, atas mana si penjahat menjerit, terus ia binasa. Malam ada gclap dan sunyi, kamar ada tenang sekali, melainkan api lampu mcmain sendirian. Boe Wie lantas berdamai dengan Teng Hiauw, scdang Bong Tiap masuk ke dalam kamar, untuk salin pakaian..

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pada dua soeheng itu, ia telah nyatakan: Pikiranku sedang kalut, apa yang Soeheng putuskan, aku akan turut saja. ia mesti lekas salin, karena pakaiannya berlepotan darah. Boe Wie ada lesu, ia menghela napas. Urusan ada sulit, Gie Hoo Toan ada sangkut-pautnya. Satu hal aku bisa terangkan, walaupun mesti adu jiwa, aku hendak menuntut balas untuk guruku. Dulupun Soepeh tidak mufakat Gie Hoo Toan memasuki Pakkhia, kata Teng Hiauw. Aku lihat, sekarang telah berubah sifat Kalau kita pcrgi ke Pakkhia, di sebelah dendaman Soepeh, kita juga harus bekerja untuk Gie Hoo Toan. Soeheng tahu, tiga-tiga Toatauwbak Lie Lay Tiong, Tjo Hok Thian dan Thio Tek Seng telah ambii putusan buat pergi ke Pakkhia. Gagai atau berhasil, itu ada urusan lain. Pendek, kita orang tidak mampu ubah putusan mereka. Kita melainkan bisa terangkan pada mereka, bagian dalam kita ada kacau. Atau dengan sampaikan pesan Soepeh, kita minta mereka bikin pembersihan di dalam. Kedua, aku pikir, bersama-sama Toatauwbak Lie Lay Tiong mesti ikut banyak orang dari rombongan H oan Tjeng Biat Yang, yang bercitacita merubuhkan pemcrintah sambil membasmi orang asing, di antara mereka, mesti tidak scdikit sahabatnya Soepeh, maka baik kita mohon bantuan mereka. Boe Wie tidak dapat pikir lain, akhimya ia nyatakan setuju. Kemudian keduanya pasang omong terus, sampai fajar. Nyata mereka cocok satu dengan lain. Dua kali aku pernah pulang ke Poo-teng, kata Teng Hiauw, ketika ia simpangkan pembicaraan. Thay Kek Boen mesti dibangunkan pula, orang berniat angkat aku jadi ketua, aku tidak tcrima. Kedudukan ketua ada bagian kaul ia tambahkan sambil tertawa.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Adik Hiauw, jangan kau merendahkan diri! Boe Wie bilang. Aku ada orang asing, tak nanti aku dapat kepercayaan mereka. Di sebelah itu, aku tidak kandung niatan sama sekali. Boe Wie dapat kenyataan, meskipun Teng Hiauw ada lebih muda daripada ia, ia ada cerdik, berpengalaman dan jujur. Nyata, Teng Hiauw pun cocok benar dengan Gie Hoo Toan, hingga dia hunjuk, tidak benar soeheng itu tidak terlalu perhatikan perkumpulan pencinta negara itu. Siapa mau berhasil, ia harus bersedia menerima kegagalan, begitu Teng Hiauw utarakan. Bisa jadi, dengan memasuki Pakkhia, Gie Hoo Toan bakal nampak kegagalan, tetapi itu ada pelajaran dan itu akan jadi dasar untuk kemenangan di belakang hari. Rakyat akan lihat tenaga kita. Kita mirip dengan bocah cilik, yang lagi belajar jalan, kita jatuh, kita bangun pula, akhimya toh kita bisa jalan! Boe Wie mesti mengakui benarnya soetee itu. Kapan sang pagi datang, bertiga mereka rawat mayatnya Ham Eng, untuk dikubur dengan baik, kemudian bertiga mereka berangkat, akan ikut angkatan perangnya Thio Tek Seng pergi ke Pakkhia. Pakkhia ada kota terkenal yang beriwayat. Di pertengahan Kerajaan Kim, ia disebut Tiongtouw, lalu di zaman Goan Tiauw, diubah jadi Tay-touw. Di zaman Beng, ketika Kaisar Eng Lok pindah dari Lamkhia, ia dapati namanya Pakkhia dengan resmi. Kerajaan Tjeng tetap pakai nama itu, sampai pada masa Pergerakan Gie Hoo Toan. Riwayat itu berumur kira-kira tujuh ratus empat puluh tahun. Boe Wie kagum ketika ia tampak Kota Pakkhia yang kelihatannya angker. Dua hari dari sampainya ia angkatan perangnya Lie Lay Tiong dan Thong-tjioe sudah mendahului maka itu, di mana-mana adakelihatan sin tan, atau panggung suci dengan asap dupanya bergulung-gulung. Tentaranya Thio Tek Seng ini disambut dengan gembira oleh kawan-kawannya yang sampai terlebih dahulu itu. Boe

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Wie berempat ia ada bersama-sama Bong Tiap dan Teng Hiauw serta isterinya dia ini, Kiang Hong Keng dapat tempat di Tong-sian-pay-lauw, yang diperuntukkan oleh pihak Gie Hoo Toan. Mereka sampai belum ada satu jam, selagi mereka beristirahat, lantas mereka dikabarkan ada tiga tetamu yang sudah berusia tinggi. yang datang berkunjung. Belum sampai Boe Wie dapat terka, siapa ketiga tetamu itu, ia sudah lantas dengar teguran yang nyanng: Boe Wie, kau baharu sampai? Tidak disangka-sangka kita orang bisa bertemu pula di Kota Raja ini! Boe Wie kenalkan suara itu,hingga ia menjadi sangat girang! Itulah suaranya Pek-djiauw Sin Eng Tok-koh It Hang, gurunya, siapa datang bersama-sama In Tiong Kie, satu di antara tiga pendiri Pie Sioe Hwee, serta Tjiong Hay Peng dari Heng Ie Pay. Mereka ini datang dua hari duluan. Tidak usah dibilang lagi, pertemuan itu ada sangat menggirangkan hati. Tapi, kapan mereka bicarakan umsannya Lioe Kiam Gim, yang binasa di tangannya boe beng siauw tjoet, satu manusia rendah, mereka mengbela napas. Tok-koh It Hang sudah ketahui ha! kematiannya Lioe Kiam Gim, ia datang kc Pakkhia, kesatu untuk cari kawan sekerja, kcdua guna coba balaskan sakit hatinya sahabat itu. Dcngan banruannya In Tiong Kie dan beberapa tauwbak lain, ia segera perolch keterangan perihal keruwetannya Gie Hoo Toan. Boe Wie pcrkcnalkan Teng Hiauw dan isterinya, begitupun Lioe Bong Tiap kcpada tiga jago tua itu; mereka ini gembira sekali. Aku tidak sangka, dalam usia lanjut, pcndcta kenamaan itu masih menerirna murid, nyatakan Tok-koh It Hang: ajJabila ia ketahui, BongTiap ada muridnya Sim Djie. Pada empat puluh tahun yang lalu, pemah satu kali aku bertemu dengannya dan aku telah saksikan kebutannya Tiat-hoed-tim

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang liehay. Memandang Teng Hiauw, Tok-koh It Hang pun kagum. Menurut ia, pemuda ini beda sekali dari mendiang ayahnya yang beradat tinggi dan berkepala besar. Kemudian ia kagumi Kiang Hong Keng, puterinya Kiang Ek Hiah, sebagai isterinya Teng Hiauw, karena wanita ini ada cantik dan gagah romannya, mereka berdua sembabat sekali menjadi pasangan. Selama beberapa hari, Pakkhia benar kedatangan banyak orang gagah dari bcrbagai kalangan dan daerah, umpama Lauw In Eng, ahli waris dari Ban Seng Boen di Shoasay. Dia ini, sepeiti diketahui, ada adiknya Lioe Toanio Lauw In Giok. Yo Tjin Kong tidak turut datang, sebab ia tetap rawati socbonya. Yang lainnya lagi ada Thie-bian Sie-seng Siangkoan Kin dari Kangsouw, si Mahasiswa Muka Besi, Hong Tjin Hweeshio dari Siauw Lim Sie, ahli Tiam-hoat-hiat Lo Hoan Sian dari Soe-tjoan, Tayhiap Soen Siang Beng dari In-lam, Tjian Djie Sianseng, Ketua dari ilmu silat Ouw Tiap Tjiang (Tangan Kupu-kupu), serta Han Koei Liong,, guru silat kesohor dari Liang-Ouw (dua propinsi Ouwlam dan Ouwpak). Maka itu, Pakkhia jadi ramai sekali. Di situ Gie Hoo Toan sangat berpengaruh, sampai tentaranya Kie-boen Tee-tok, yang berkuasa atas ibukota, dan Gie Lim Koen, Barisan Raja, tidak berani bentrok dengan mereka, melainkan bcrdasarkan titah rahasia, mereka selamanya siap sedia alat-scnjata. Di sebclah itu, Gak Koen Hiong dari rombongan Poo Tjeng Biat Yang juga siap sedia saja. Mereka juga I kumpuli banyak orang pandai, kecuali pahlawan-pahlawan dari istana dan segala buronan pcnjahat besar, juga pendeta-pendeta Lhama dari perbatasan Mongolia dan Tibet, kcpala-kepala polisi, dan guru-guru silat kirimannya berbagai pembesar tinggi dari luar Pakkhia. Maka itu. walaupun dia ada Hoe-tauwbak, Tjongtauwbak Lie Lay Tiong tidak berani sembarangan bentrok padanya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lie Lay Tiong gagah dan berpengaruh, tetapi ia kalah jauh dari Tjoe Hong Teng, pendiri dari Gie Hoo Toan, dia juga masih inginkan kerja sama dengan pemerintah Boan. Ia anggap ada satu kehormatan akan menghadap Ibusuri See Thayhouw dan duduk sejajar dengan berbagai menteri besar dan orang bangsawan agung. Di hadapan Ibusuri dia pernah mempertunjuki kepandaian Gie Hoo Toan sanggup menentang senapan dan meriam. Sebenarnya Ibusuri tidak puji-puji padanya tetapi ia sendiri suka kcasyi kan dirinya digunai. Maka itu, karena sikapnya itu, Lie Lay Tiong tidak ingin bentrok dengan Gak Koen Hiong, dia tidak berani Iakukan pembersihan dalam kalangannya sendiri, malah ia ubah cita-cita Hoan Tjeng Biat Yang dengan Hoe Tjeng Biat Yang, ialah aksi menentang menjadi mcnunjang. Dcmikianlah sia-sia orang hunjuki dia bahwa Lioe Kiam Gim binasa di tangannya Gak Koen Hiong, ia tolak segala saran pembersihan di dalam dengan alasan tak boleh tcrjadi bentrokan antara or-ang sendiri. Sementara itu, keadaan telah menjadi hebat. Pasukan Kozak yang kesohor dari tentara Rusia sudah bentrok sama barisan Gie Hoo Toan di Tok-lioe-tin, di luar Kota Thian-tjin, menyusul mana tentara Rusia, Perancis dan Jepang sudah mendarat dan bentrokjuga,di Iain pihak,tentara Amenka dan Inggeris, dua ribu serdadu,dengan bawa meriam-meriam besar, sudah maju ke Pakkhia. Tentara Gie Hoo Toan dengan merusaki jalan keretaapi, cobamenghalangimajunya tentara Serikat ini. Dengan hanya menggunakan golok dan tumbak, pihak Gie Hoo Toan nampak kerugian, tetapi pihak asing puji keberanian mereka Selagi tentara Serikat dari delapan negara bergerak terns, pihak Gie Hoo Toan di Pakkhia tetap belum bersatu-padu. Rombongannya Tok-koh It-hang ingin segera dilakukan pembersihan di dalam, guna singkirkan rombongannya Gak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Keen Hiong, tetapi Lie Lay Tiong tetapi beranggapan, itulah bukan saatnva untuk bentrok di antara orang sendiri. Saking tidak sabar, pada suatu malam Tok-koh It Hang berkumpul bcrsama In Tiong Kie, Tjiong Hay Peng, Tjian Djie Sianseng dan Iain-lain ketua, di situ ia tanya Boe Wie dan Teng Hiauw, apa mereka ini berani datangi tangsinya Gak Koen Hiong. Kau orang cuma perlu menyampaikan surat, Tok-koh It Hang jelaskan. Terutama jangan kau orang bunuh dia! Dua pemuda menjadi heran. Walaupun ke dalam guha harimau dan kedung naga, siauwtit berani pergi! nyatakan mereka. Hanya kenapa dia tidak boleh diserang? Karena ituiah bukan caranya untuk membalas dendam. Tok-koh It Hang jawab. Tapi jago ma dari Liauw Tong ini berikan keterangannya. Gak Koen Hiong mesii ditantang. Tok-koh It Hang pcmah pikir untuk pergi sendiri, tetapi ia bataikan niat ini kapan ia ingat, ia termasuk orang luar. Yang berhak mcnantang adalah Law Boe Wic sebagai murid kepala dari Lioe Kiam Gim, dan Tcng Hiauw sebagai ahli waris Thay Kek Pay. Kalau Gak Koen Hiong dapat disingkirkan, di sebelah sakit hati dapat dibalas, itupun ada untuk keutuhannya Gie Hoo Toan. Apabila Gak Koen Hiong dibokong, itu ada tindakan memalukan, sebab orang Kangouw harus berlaku terus-terang. Lie Lay Tiong sendiri ada orang Kang-ouw dan ia tahu aturan atau adat-kebiasaan kaum Kang-ouw. Dan kalau orang banyak ketahui rahasianya Gak Koen Hiong, pasti dia kehiiangan simpatinya orang banyak. Boe Wie dan Teng Hiauw mengerti mereka berikan janji mereka Bong Tiap nyatakan suka ikut, tetapi Tok-koh It Hang mencegah. Jago tua ini anggap si nona kurang tepat dan berbahaya juga, kecuali bila sangat terpaksa. Cegahan ini bikin Nona Lioe tidak puas.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kau orang pandang enteng padaku, lihat nanti! kata ia dalam hatinya. Boe Wie dan Teng Hiauw pergi dandan, mereka mengenakan ya-heng-ie, pakaian malam warna hitam yang ringkas, lalu mereka pamitan dan bcrangkat Mereka keluar dari rumah dengan loncati tembok. Tempat kediamannya Gak Koen Hiong ada bekas istananya satu pwee-lek, pangeran bangsa Boan, gedungnya besar, gentengnya genteng beling hingga sukar menaruh kaki di atasnya, saking licin. Di belakang rumah ada sebuah pohon lioe yang besar, tingginya tiga tumbak lebih dan doyong melewati tembok, maka itu, Boe Wie berdua loncat naik ke atas pohon itu. Ruangan dalam ada sunyi, mclainkan dari sebuah kamar tertampak cahaya api. Di situ tak kclihatan seorang jua. Boe Wie hendak lantas loncat turun, tetapi kawannya mencegah. Sabar! Teng Hiauw bilang, terus ia ini kcluarkan dua potong Kim-tjhie-piauw, ia lemparkan yang pertama, lalu scrang itu dengan yang kedua, hingga kedua piauw terbitkan suara nyaring, begitupun waktu dua-duanya jatuh ke tanah. Ilmunya Teng Hiauw ini disebut Tjeng hoe hoan sin, -Kodok hijau menyampaikan warta sama dengan kepandaian yang umum dari kaum Kang-ouw: Touw sek boen louwatau Melempar batu untuk menanyakan jalan. Nyatajitu dugaannya Teng Hiauw. Setelah nyaringnya suara kedua piauw beradu, di atas genteng licin lantas muncul dua orang dengan pakaiannya hijau dan golok di pinggang, entah di niana tadinya mereka bersembunyi. Melihat mereka itu, Boe Wie jengah, untuk kesembronoannya. Kedua orang itu heran, mereka dengar suara nyaring tetapi tidak lihat suatu apa, di situ tidak ada orang lain, mereka celingukan dengan sia-sia. Teng Hiauw dan Boe Wie terus diam saja, hanya si orang she Teng keluarkan lagi dua batang piauw, ia pakai itu untuk

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

timpuk itu dua tjintcng. Jarak di antara mereka cuma kira-kira lima tumbak. Ia incar tcmpil ingan dan tenggorokan orang. Serangan ada mendadakan dan cepat sekali, dua tjinteng itu pun tidak menyangka, mereka kaget waktu kedua senjata rahasia menyambar, sebeium bisa kcl it, mereka sudah kena kesambar, tak sempat menjerit, keduanya rubuh dengan segcra, jatuh menggelinding. Tapi untuk cegah kedua tubuh jatuh di tanah, Teng Hiauw dan Boe Wie lompat, untuk menyambar, kemudian dengan masing-masing ikat pinggangnya, ia ikat tubuhnya mereka, untuk digantung di cabang pohon, hingga kedua tubuh itu jadi bergelantungan, mirip dengan setan-setan dari orang-orang yang mati gantung diri! Habis itu, keduanya lompat pula ke genteng hijau itu, untuk maju. Walaupun genteng licin, mereka tidak nampak rintangan. Mereka punya Tieng-kang-soet, ilmu entengi tubuh, memang sudah hampir seratus bahagian sempuma. Mereka melewati belasan lauwteng, sampai tiba-tiba4i sebelah depan mereka berkelebat dua bayangan hitam, sama sekali mereka itu tidak menerbitkan suara apa-apa. Mereka lantas pasang mata. Kedua bayangan itu, tjinteng atau pahlawan Istana Boan itu, rupanya tidak kenali orang ada kawan sendiri atau bukan, sambil siapkan pedangnya masing-masing, salah satu di antaranya menegur dengan kata-kata rahasia: Akur atau padi? Itu berarti, orang sendiri atau bukan. Akur! Perintah kemudi untuk jaga angin dan lihat padi! sahut Boe Wie, yang kenal baik segala macam bahasa rahasia di kalangan Kang-ouw. Dengan kemudi diartikan pemimpin. Untuk. mendapat kepastian, dua tjinteng itu bertindak maju, mendekati. Mereka ingin melihat tegas roman orang, buat menanyakan kcterangan terlebih jauh.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Diam-diam Boe Wie telah siap, begitu orang sudah datang dekat, nba-tiba ia mencclat ke antara mereka, kedua tangannya digeraki ke kiri dan kanan, menotok masing-masing pinggang dari orang itu. Dua orang itu tidak menyangka, cuaca pun gelap, mereka kena ditotok, hingga dalam sesaat juga, mereka jadi tidak berdaya, maka dengan duabuah pisau belati,Boe Wie terus tancap tubuh mereka di atas wuwungan. -Bagus! berseru Teng Hiauw dengan pujiannya melihat kesebatannya sang kawan. -Tadipun kedua piauwmu scmpurna sekali! Boe Wie balas rnemuji. Keduanya tettawa dengan pclahan, sesudah mana, mereka maju lebih jauh, hingga mereka sampai di pcndopo, di mana ada cahaya api. Di sim mereka mendekam, untuk pasang .kuping. Dari pendopo terdengar suara dari orang-orang yang bicara dcngan asyik. Katanya Lioe Kiam Gim murid kcpalanya, yang bernama Law Boe Wie sudah datang ke Pakkhia ini sejak bebcrapa hari, kabamya dia sungguh sangai lichay. tapi heran, sampai ini hari ndak terdengar suatu apa tentang gerakgeriknya, demikian pemyataan satu orang. Biar gurunya mcnjclma pula, lata orang tak usah jcrih, apapula itu anjing cilikJ kata satu suara lain. Adalah Tok-koh It Hang, itu tua bangka. yang lichay, yang kita mesti awaskan benar-benar! Hiantee, jangan kau angkat lain orang bcrbarcng menindih keangkeran sendiri!** terdengar suaranya seorang tua. Buat apa kita jerihkan itu tua bangka barang sisa? Kita toh ada puny a Lhama Besar Kat Pou Djie dan Pa-touw-louw Tat Sip begitupun Toa-totjoe Kheng To Hoan dari Kaum Hay Yang Pang serta yang Iain-Iain

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

lag,? Kita tak usah perdulikan Tok-koh It Hang atau Law Boe Wie, asal mereka berani datang, kita nanti hajar mereka hingga mereka tak dapat tidak takut Namanya Boe Wie berarti tidak takut, maka itu, orang tua itu sengaja mengejek. Boe Wie marah mendengar kejumawaannya orang, tangannya lantas meraba keluar beberapa potong pisau belati panjangnya tiga dim. la pernah jadi anggota dari Pie Sioe Hwee, Kumpulan Pisau Belati, dari itu, ia sukagunai pisau belati scbagai gantinya piauw. Dia mempunyai dua bclas potong pisau belati, untuk mana ia ada icrkcnal. Kemudian dengan merayap bagaikan cccak, untuk mana ia keluarkan kepandaiannya Pek houwyoe tjiangatau Cccak memain di tcmbok, ia maju dengan pelahan-lahan, untuk bisa mclihat ke dalam ruangan. Di dalam ruangan itu ada bcrdudu k kira-kira sepuluh orang, tua dan muda, dan Gak Koen Hiong bercokol di tcngahtcngah. Di kiri dan kanan, ada dinyalakan dua batang HI in besar. Selagi Boe Wie mengawasi terus, tiba-tiba ia dengar salah seorang di dalam itu berteriak: Ada penjahat! Ia insyaf bahwa orang telah pergoki ia, akan tetapi, ia tidak takut, malah sebat sekali, tangan kanannya beruntun terayun, empat buah pisau belati segera melesat, masuk di antara jcndcla. Dua pisau menyambar lilin hingga apinya padam, sebatang menyambar Gak Koen Hiong, hingga rarnbutnya dia ini sapat segumpal, tidak perduli dia mencoba berkelit, dan pisau yang keempat, yang dilipatkan sepotong kertas, nancap di atas meja sambil menerbitkan suara. Menyusul serangan itu, dari dalam pun segera melesat beberapa rupa senjata rahasia, akan tetapi cepat luar biasa, Boe Wie dan Teng Hiauw sudah Ian naik ke, tengah genteng, hingga mereka luputdari ancaman bencana.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mengikuti berbagai senjata rahasia itu, beberapa orang loncat keluar dari jendela, untuk menyusul, dua di antaranya ada memegang masing-masing sebatang pedang panjang dan sepasang Koen-koan Pat-kwa-pay, hingga yang belakangan ini, dengan tamengnya itu, bisa punahkan pisau belati dan piauwnya Boe Wie dan Teng Hiauw. Orang yang bersenjatakan pedang itu ada Sat Kie Khan, seorang dari suku Hwee-hwee. Dengan putar pedangnya dalam gerakan Thian Liong Kiam-hoat ilmu pedang Naga Langit, ia menerjang ke arah Boe Wie. Ia telah sampai dengan cepat dan pedangnya terus saja bekerja. Boe Wie sudah siap, ia berkelit dengan gunai Tang hong hie lioeatau Angin timur permainkan cabang yanglioe, menyusul itu ia balas menikam dengan Sian djin tjie louw atau Dewa menunjuki jalanan. Di antara sinar pedangnya lawan, ia arah tenggorokan orang. Sat Kie Khan ada berani dan liehay, ia tidak berkelit, ia tidak mundur, hanya memutar tangan kanannya, dengan Sin hong tiauw sioe atau Naga melaikat menggoyang kepala, iamenangkis. hingga kedua pedang bentrok dengan keras, menerbitkan suara nyaring, sedang telapakan tangannya masing-masing, pada menggetar dan sesemutan saking kerasnya bentrokan itu. Tapi ini pun menyatakan kedua pihak mempunyai tenaga berimbang. Di lain pihak, Teng Hiauw yang melayani musuh yang bersenjatakan sepasang tameng, mendapat tandingan yang setimpal, dari itu, mereka juga bisa bertempur dengan scru. Lawan itu ada Low Hoay Liang, cucunya Keluarga Low dari Shoasay, yang kesohor untuk Tjap-djie-louw Koen Goan Patkwa-pay, ialah ilmu mcmainkan tameng kecil dalam duaj belas jalan. Dia tersesat sadari masih muda, ia telah menjadi begal, belakangan karena ajakan satu sahabat, ia masuk ke dalam Istana Boan dan menjadi satu wie-soe, pahlawan, kemudian dari pahlawan biasa, ia menjadi twie-thio, kapten, hingga ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

jadi semakin malang-melintang. Ia bersedia mati-matian untuk Kerajaan Tjeng. Dengan sepasang Pat-kwa-paynya, Low Hoay Liang arah batok kepala orang. Tcng Hiauw insyaf tenaga yang bcsar dari orang itu, bahwa turonnya tamcng itu ada tujuh atau dclapan ratus kati beratnya, dari itu, ia tidak hcndak adu tenaga. Ia bertindak dengan Liong heng hoei pou atau Tindakan naga terbang, ia berlindungdi bawah tamcng, lantas ia putar tubuh, akan balas menikam. Pcdangnya bersinar, sasarannya adalah jalan darah Hong-boen-hiat di bebokong. Low Hoay Liang bukannya scorang lemab, melihai serangannya tidak membcrikan hasil, ia lantas mengerti keadaan, dari itu, ia putar tubuhnya, ia angkat pula kedua tamengnya, laiu dengan Shia pek Hoa San, atau Sambil miring menggempur Gunung Hoa San, ia bajar pedang orang. Secara begini ia hcndak punahkan tikaman musuh. Teng Hiauw tarik puiang pedangnya antok ditcruskan membabat kepada kedua kakinya or-ang, ia mendak sambil menggunai ilmu pukulan Tong long thian pek atau Cengcorang pentang tangan. Low Hoay Liang ada awas dan gesit, ia insyaf gerakan musuh sclanjutnya. maka itu, setelah menggempur dengan sia-sia, ia bergerak di dua jurusan dengan berbarcng. Dengan tameng kanan, ia menangkis, dengan tipu silatTjiang koen hee ma atau Jenderal turun dari kuda, dengan tameng kiri, dengan Heng sauw tjian koen, atau Menyapu ribuan serdadu, ia serang pinggang orang! Gusar sckali Teng Hiauw apabila ia lihat serangan hebat itu, ia tarik pcdangnya, ia loncat mundur, sesudah mana. ia ubah caranya bcrsi lat. Ia maju sambil putar pedangnya, hingga cahayanya berkilauan. Dengan Pek hoo thian tjie atau Burung hoo putih pentang sayap, ia tusuk iga lawan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Serangan ada sangat cepat, Low Hoay Liang sampai tak sempat tarik puiang atau putar dua-dua tamengnya, untuk menangkis, maka itu, tidak ada jalan lain, terpaksa ia lompat mencelat, mundur jauhnya bebcrapa tindak. Ini saat yang baik, Teng Hiauw tidak hcndak sia-siakan, ia sudah pikir untuk mcndcsak terlebih jauh, atau dengan sekonyong-konyong ia dengar seruannya Law Boe Wie: Adik Hiauw, lekas mundur! Ternyata, waiaupun mereka berdua bertempur cepat sekali, tctapi Iain-Iain musuh telah keburu mendatangi, mclihat mereka itu. Boe Wie pikir untuk tidak melayani terlebih lama pula, karena nyata sekali, dua musuh ini saja sudah cukup tangguh. Ia anggap ada berbahaya untuk bcrlaku ayal-ayalan, dari itu, ia berikan tandanya itu, ia sendiri segera loncat mundur, akan tinggalkan musuhnya. Teng Hiauw mengerti, ia juga sudah lantas angkat kaki. Berdua mereka lari di atas genteng yang licin itu, dengan gunai ilmu lari Pat pou kan sian atau Dengan delapan tindak mengejar tonggeret. Mereka melesat dengan cepat; di belakang mereka, musuhmusuh mereka telah mengejar. Mereka sudah masuk jauh ke dalam sarangnya Gak Koen Hiong, meski juga mereka sudah bisa lewati belasan undakan, mereka tak lantas sampai di luar kalangan. Benar selagi mereka hampir keluar dari tempat kediamannya Gak Koen Hiong, tiba-tiba di bawah rumah terdengar seruan riuh, yang disusul sama loncat naiknya beberapa orang yang bertubuh besar, yang semua mencckal golok dan pedang, malah antaranya ada yang membentak: Bangsattikus,jangan lari! Dua orang bertubuh besar, dari rombongan tjinteng, yang giliran menjaga malam itu, lagi meronda sampai di pohon yanglioc ketika, selagi dongak ke atas mereka lihat dua bayangan terayun-ayun. Cahaya bintang dari rcmbu I an sisir ada guram, dari itu, mereka tidak bisa melihat nyata, maka

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

satu di antaranya segera loncat naik ke pohon untuk melihat tegas, tapi begitu ia lihat kedua sejawatnya, ia kaget sampai ia rubuh sendirinya, dari mulutnya keluar jeritan hebat. Apakah itu? tanya kawannya, yang datang untuk menolong. Itulah dua kawan kita, yang tergantung, sahut ini tjinteng, yang masih mesti tetapkan hati. Mereka ada gagah, cara bagaimana mereka bisa tergantung di situ? Tentu ada orang jahat yang telah datang kemari. ia lantas saja tiup suitannya. Selagi mereka sibuk dan mcmikir-mikir mereka yang lainnya, sesudah mana, mereka kasih turun tubuhnya dua kawan yang bercelaka itu, yang lidahnya telah menjulur, napasnya berhenti jalan, hingga dia orang itu tak dapat ditolong pula. Selagi mereka sibuk dan memikir untuk pergi can si orang jahat, mereka lihat beberapa bayangan berlari-lari, seperti saling mengejar, karena mendugajelek, beberapa yang pandai ilmu entengi tubuh segera loncat naik ke atas genteng, untuk memegat. Secara demikian, Boe Wie dan Teng Hiauw jadi kena terhalang. Atas ini, berdua mereka jadi mendongkol. Jangan pegat kita, atau kau orang akan mampus! keduanya membentak seraya mereka lompat maju, untuk mendahului menerjang. Dua tjinteng, yang tak segagah Sat Kie Khan dan Low Hoay Liang maju menyerang, akan tetapi dengan cepat, mereka kena didesak, tetapi, karena mereka tidak dapat segera dirubuhkan, di sebeiah belakang, Sat Kie Khan dan Low Hoay Liang telah keburu datang menyusul, maka Boe Wie ada mendongkol terhadap perintangnya itu, ia lantas mendesak dengan hebat sekali, pedangnya menyambar bagaikan melesatnya anak panah, ia arah dadanya orang. Tjinteng itu terdesak, ia hendak berkelit ke samping, akan tetapi sedangnya ia tangkis pcdang. tahu-tahu tangan kirinya Boe Wie, yang menggunai tipu silat Kim pa tam djiauw, atau Macan tutul mengulur cengkraman, sudah mampir di iganya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dcmikian hebat, sampai tulang-tulang iganya pada patah; dia pun muniah darah, tubuhnya rubuh dengan segera, jiwanya turut melayang. Adalah di itu waktu, pedangnya Sat Kie Khan pun datang menyambar! Diancam bahaya itu, Boe Wie tidak sempat putar tubuh untuk menangkis atau berkelit ke samping, ia jatuhkan diri ke depan, untuk tengkurap, sesudah mana, ia teruskan bergulingan dengan tipu Koen tee long sampai jauhnya belasan tindak. Ia hadapi ancaman bencana dan inilah cara satu-satunya untuk tolong diri. Pedang musuh pun hampir saja babat kedua kakinya. Bukan kepalang mendongkolnya Sat Kie Khan karena musuh itu bisa loloskan diri, tapi keiika ia menoieh pada kawannya, Low Hoay Liang, ia terperanjat, sebab kawan bukannya dapat desak musuh seperti dia, kawan itu justeru telah rubuh di tangannya Teng Hiauw -kena tertendang hingga rubuh bergulingan jatuh ke bawah, ke tanah! Low Hoay Liang sangat andalkan sepasang tamengnya, apabiJa setelah ia berhasil mendesak musuh hingga musuh angkat kaki, dari itu, setelah dapat mencandak. ia segera serang Teng Hiauw. Ketika itu orang she Teng ini terpisah dari Boe Wie kira-kira setumbak lebih, ia dipegat oleh dua tjinteng Iain, yang kepandaiannya lebih rendah lagi daripada yang pegat Boe Wie, rupanya dia yang dicegat, karcna ia tidak beroman bengis sebagai orang she Low itu; scbaliknya ia ada cakapdan kelihatannya lemah sebagai anak sekolahan. Ten tu saja mcreka ini tidak sangka, boegeenya Teng Hiauw tidak ada di bawah boegeenya Boe Wie, hingga mereka telah menyangka kcliru. Malah dalam ilmu silat Thay Kek, Teng Hiauw ada terlebih pandai. Dua tjinteng itu masing-masing menggunai golokdan Thictjio, ketika keduanya maju memegat, Teng Hiauw bersikap tcnang, ia awasi gerakan senjata orang itu. Penyerang dengan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Thie-tjio adalah yang maju di muka. Dengan sebat Teng Hiauw menangkis, ia memapas ruyung besinya orang itu yang bercagak di gagangnya. Musuh itupun gesit. Ia menyerang dengan tangan kiri, jika serangan itu ditangkis, ia barengi menyerang dengan tangan kanan. Tapi Teng Hiauw ada tangkas luar biasa, ia tarik pedangnya untuk diteruskan dipakai membabat lengan kanan orang itu. Musuh berlaku kurang gesit, tidak ampun lagi, lima jari tangannya kena terbabat, ia rasakan begitu sakit, sampai ke ulu hatinya, di antara jeritannya, senjatanya terlepas, tubuhnya turut rubuh sendirinya, menggelinding diatas genteng, jatuh ke bawah. Justeru musuh itu rubuh, kawannya pun maju, dia menyerang sambil membentak, goloknya dari atas turun ke bawah, Teng Hiauw tidak perdulikan bentakan orang itu, ia kelit ke samping, ia menangkis. Tapi musuh mengegoskan tubuhnya sambil terus iompat ke depan, hingga ia berada di sebelah belakang dari mana ia menusuk bebokong orang itu. Ia telah gunai tipu silat Ya tjee tam hay atau Hantu menjelajahi lautan. Melihat ancaman bahaya itu, Teng Hiauw Iompat akan jauhkan diri, ia gunai It hoo tjiong thian atau Seekor burung hoo menyerbu langit, ia loncattinggi setumbak lebih, dengan begitu golok musuh mengenai tempat kosong. Ketika ia putar tubuh, akan pandang musuh itu, ia tertawa terbahak-bahak. Adalah maksudnya orang she Teng ini, untuk maju menghampirkan musuh, tapi justeru itu, dari belakang ia, ia dengar bentakan: Bocah, dengan tak meninggalkan tanda mata, cara bagaimana kau hendak berlalu dari sini?Jagalah! Dan suara itu disusul sama sampainya orangnya, senjatanya siapa juga terus menyambar. Itulah Low Hoay Liang, yang baharu sampai.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Teng Hiauw mengetahui ada serangan gelap, tanpa menoieh lagi, ia oncat ke depan, setelah lolos dari serangan, cepat ia memutar tubuh maka di lain saat, karena musuh merangsang ia, ia sudah mesti melayani musuh baru ini. ia tahu senjatanya musuh ada berat, ia melayani dengan hunjuk kegesitannya, kelemasan semua gerakannya, dengan berlompatan ke segala penjuru, ia bikin musuh seperti kabur matanya. Low Hoay Liangjadi mendongkol, terutama belum pernah ia berhasil menyampok pedang musuh, karena gusar, ia berkelahi dengan hebat sekali, ia keluarkan kepandaiannya, terutama ia arah kedua iganya orang itu, paling belakang ia gunai pukulan Tiatsiauw heng tjoe atau Dengan rantai besi melintangkan perahu. Ia percaya, sekali ini iabakal berhasil. Ia pun telah menggunakan tenaga sepenuhnya. Teng Hiauw lihat datangnya bahaya, tetapi justeru musuh berlaku bengis, ia hunjuk keberaniannya luar biasa. Untuk menyingkir dari gencatan itu, ia tidak loncat tinggi mengapungi diri, ia tidak loncat mundur, ia hanya buang tubuhnya ke belakang, melenggak, kedua kakinya tctap, cuma dengkulnya ditekuk. Ini adalah tipu silat Tiat poan kio atau Jembatan papan besi. Tubuhnya jadi telentangsebatas dengkul, kedua tameng lewat di atasannya; ia telah luputkan diri dari serangan, tapi berbareng dengan itu, selagi kaki kirinya ditangkap, kaki kananriya diangkat, dijejaki ke depan, hebat sekali. Jejakan ini jitu mengenai dengkulnya musuh, maka tidak tempo lagi, gugurlah kuda-kuda Low Hoay Liang; tubuhnya scgera terbalik ke belakang, mbuh bergulmg, tergelincir jatuh ke bawah genteng! Itulah kejadian pada saat Boe Wie bergulingan sesudah mana, ia loncat bangun, untuk balas mcnyerang, atas mana, Sat Kie Khan mcnangkis, hingga kedua pcdang saling bentur dcngan keras. Orang Hwee-hwee itu terperanjat apabila ia lihat kawannya rubuh.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Boe Wie lihat lawan itu bengong, cepat sekali, ia maju pula, akan menyerang kembali. Ia gunai tipu tikaman Ular putih scmburkan bisanya. Sasarannya adalah pundaknya musuh. Sat Kie Khan tidak tanckis scrangan itu, ia berkelit ke samping. tapi justeru ia mengegoskan tubuh, Boe Wie membarangi loncat melewati ia, lawannya ini terus lari ke arah pohon yanglioe, dia loncat ke pohon itu untuk keluar seperti tadi ia dan Teng Hiauw datang. Teng Hiauw sendiri sudah mendahului, ia menyingkir dcngan lewati pohon itu juga, hingga di lain saat, mereka sudah berada di luar pekarangan. Sat Kie Khan tidak sempat tengok kawannya yang rubuh, bersama dua tjinteng lain, ia mcngubcr ke pohon yanglioe, sesampainya di situ, ia dapatkan kedua musuh sedang berdiri di tanah, melambai-lambaikan dia, yang ditantang untuk turun, buat mereka melangsungkan pertarungan mereka. Ia tidak takut, ia berniat loncat turun, untuk menghampiri mereka, akan tetapi, baharu ia berniat, tahu-tahu pisau belati dari Boe Wie dan Kim-tjhie-piauw dari Teng Hiauw, telah menyambar saling susul terhadapnya, hingga ia repot menangkis dan berkelit, untuk luputkan diri dari serangan kedua rupa scnjata rahasia itu. Sesudah itu senjata rahasia yang lolos mengenai cabang pohon, sampai ada cabang yang patah dan jatuh; Kedua tjinteng, karena kurang jeli mata dan gesit tubuh telah terkena piauw pada jidatnya, hingga mereka mandi darah. syukur serangan tidak hcbat, mereka pun tidak terluka parah. Kembali serangan pisau belati dan piauw datang menyambar, mclihat mana, Sat Kie Khan jadi berkuatir. Di atas pohon, ia tidak bisa bergerak leluasa seperti di atas genteng, dia menangkis, dia mengegosi tubuhnya, wah alangkah sibuknya ia! Dua kawannya sudah tidak berdaya. Selagi ia bersangsi untuk maju atau mundur, serangan berhenti, sebagai gantinya, ia dengar suara tertawa, yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

makin lama jadi makin jauh. Ternyata, Boe Wie dan Teng Hiauw telah angkat kaki, lenyap dalam kegelapan. Orang Hwee-hwee ini melengak. Ia tidak nyana, istana yang terjaga kuat itu seperti guha harimau dan kedung naga, sekarang musuh permainkan seperti tanah dataran saja. Gak Koen Hiong gusar sekali apabila ia telah melakukan pemeriksaan. Sama sekali ada lima korban jiwa dan empat korban luka, dan dari yang ke-4 itu, satu bercacat hebat. Semua korban ada korban-korban pisau belati dan Kim-tjhiepiauw, kecuali yang Boe Wie hajar dengan tipu pukulan Kimna-tjhioe. Low Hoay Liang tidak. sampai terbinasa, akan tetapi ia terus merintih saja, begitupun yang sapat lima jari tangannya. Yang bikin ia sangat malu dan sakit hati adalah rambutnya sendiri kena terbabat segumpal. Dan akhirnya, ada itu surat yang Boe Wie tinggalkan: Itu ada tantangan untuk pieboe, adu kepandaian, untuk orang she Law itu mcnuntut balas bagi gurunya. Maka itu, itu malam juga, Koen Hiong lantas bikin persiapan akan sambut tantangan Boe Wie. Boe Wie berdua Teng Hiauw pulang dengan selamat, apabila mereka sudah berikan laporan ten tang apa yang mereka barusan kerjakan, Tok-koh It Hang semua menjadi girang sekali. Lantas bcsoknya pagi, Tok-koh It Hang bersama-sama Siangkoan Kin, TJiong Hay Peng, Lauw In Eng, dan yang Iainlain, pergi menghadap Lie Lay Tiong, untuk beritahukan bahwa orang-orang yang celakai Lioe Kiam dm dan Tjoh Ham Eng ada konco-konconya Gak Koen Hiong. Dhmjuk penyelidikan telah dilakukan oleh Teng Hiauw, ahli waris Thay Kck Pay, dan murid dan puterinya Lioe Kiam Gim Bahwa hal itu telah menerbitkan kemurkaannya kaum Kang-ouw, hingga orang meminta keadilan. Mereka bertanya, ketua itu hcndak ambil tindakan apa. Sebenarnya Lie Lay Tiong hendak mencegah bentrokan itu, akan tetapi orang telah desak ia, malah Tok-koh It Hang kata:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Coba pikir! Lioe Loo-kauwsoe ada seorang kenamaan dalam kalangan Rimba Persilatan, dia terbinasa secara gelap, tapi sekarang telah dapat diketahui, dia terbinasa di tangannya orang sebawahanmu, dari itu, sudah kau tidak ambil tindakan menghukum orang yang bersalah itu, apa mustahil kau juga hendak cegah orang mcnuntut balas? Maka dia kehormatan Kang-ouw kebijaksanaannya? Lioe Loo-enghiong juga telah bantu banyak pada kau, jikalau kau antap dia tcraniaya, apakah Iain-lain, orang tak akan tawar hatinya terhadap kau? Teng Hiauw baharu saja mewariskan Thay Kek Pay, kata Tjiong Hay Peng yang berterus terang, apabila dia tidak membalas sakit hatinya soepehnya, mana dia ada punya muka untuk ketuai kaumnya itu? Laginya, diajuga ada cucu mantu dari Ketua Bwee Hoa Koen, maka bagaimanakau bisatinggal diamsaja? Lie Lay Tiong bersangsi. Sebenamya ia tidak niat melindungi Gak Koen Hiong, kalau ia hendak cegah bentrokan, itu disebabkan ia kuatir pada itu kctua muda yang berpengaruh, tetapi sekarang, ia kena didesak, ia tidak mampu kemukakan alasan yang kuat untuk menolak iebih jauh. Ia juga kuatir, apabila ia menolak, benarbenar nanti orang berhati tawar terhadap gerakannya . Sementara itu, dari pihaknya Gak Kocn Hiong, juga ada dcsakan minta keadilan. Gak Kocn Hiong tidak puas, dia setuju picboc. Malah dia mengharap Lie Lay Tiong nanti bantu pihaknya. Maka akhirnya, ketua ini mengalah, ia an tap mcrcka itu cari keputusan sendiri. Pembicaraan telah selesai sesudah dua-tiga hari orang mondar-mandir antara kedua belah pihak, dengan Lie Lay Tiong berada di tcngah. Sebab dua-dua pihak ada banyak kawannya, diputuskan untuk mcndirikan panggung loeitay, panggung piranti adu kepandaian, supaya orang bertempur satu Iawan satu dan tidak mengeroyok, dan pieboc baharu berhenti setelah ada salah satu pihak yang menyerah kaiah.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kota Pakkhia telah jatuh di bawah pengaruh Gie Hoo Toan dengan Lie Lay Tiong yang mengizinkan mendirikan loeitay. sehingga tidak ada pembesar Boan yang bcrani mencegah. Hari telah dipilih, dan tempat pie-boe sudah ditetapkan, ialah tanah lapang yang luas dari Gie-lim-koen, tentara kerajaan, yang bisa muat dua sampai tiga puluh ribu orang. Dcmikian, setelah ada keputusan,. kedua pihak lantas bersiap-siap; terutama untuk cari kawan-kawan yang gagah dari segala penjuru negeri. Di harian yang telah ditetapkan, tanah lapang jadi penuh dengan banyak or-ang, dari pihak yang berkepentingan, terutama mereka yang hendak menonton saja; orang-orang pdmerintah Boan tidak terkecuali. Loeitay yang didirikan berukuran tinggi satu tumbak delapan kaki dan lebar tujuh tumbak dua kaki persegi, maka di situ pastilah orang akan leluasa bersilat dengan tangan kosong, maupun dengan senjata, pedang dan tumbak. Di situ pun orang bisa perlihatkan Tjeng-kang-soet atau ilmu entengi tubuh atau kegesitan gerakan. Di samping kanan dari loeitay ada didirikan satu panggung lain, yang kecil, untuk juru pemisah. Benar pertandingan tidak memperdulikan orang-orang yang terluka ataupun binasa, tetapi mesti ada kctetapan siapa mcnang dan siapa kalah. Sebagai juru pemisah, Lie Lay Tiong angkatdua orang ialah guru silat kesohor di Pakkhia, Yo Kong Tat, dan soetee dari Kiang Ek H ian, Ketua dari Bwee Hoa Koen, ialah To Poet Hoan. Kedua mereka ini ada kenamaan dan ada dikenal oleh kedua belah pihak,. sebaliknya mereka tidak memihak kepada salah satu dari dua rombongan yangsaling bertentangan itu. Mereka pun ada mewakilkan, satu bagi kalangan guru-guru silat, dan yang Iain untuk kaum Gie Hoo Toan sendiri.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Di samping kiri loeitay ada didirikan ranggon lonceng, gunanya ada sebagai tanda permulaan dan keberhentian atau penundaan, umpama ada satu pihak yang kalah dan jatuh, lain pihak tidak boleh menyusul untuk menyerang terus. Pada hari yang ditentukan, kebetulan cuaca ada bersih, angin halus dan hawa udara rnenyenangi. Pada jam pembukaan, To Poet Hoan muncul untuk angkat bicara, mcncrangkan bagaimana oleh Ketua Lie Lay Tiong, bersama Loo-kauwsoe Yo Kong Tat, ia sudah diangkat jadi juru pemisah. Ia jelaskan, tangan dan kaki tidak mcngenal kasihan, dari itu siapa terbinasa atau terluka, mesti tcrima itu dengan ikhlas. Ia pun hunjuk siapa adanya kedua pihak, yang hendak pieboe, ialah satu ada ahli waris Thay Kek Pay merangkap keponakan dari Loo-kauwsoe Lioe Kiam Gim serta muridnya almarhum Uoe Kiam Gim, dan pihak yang Iain ada Gak Koen Hiong. Ia nyatakan, sebenamya di antara orang sendiri, urusan bisadidamaikan, tapi sekarang dak, dari itu terpaksa diambil cara Kang-ouw itu, untuk habiskan Perselisihan dengan jalan adu kepandaian. Duduknya persengketaan ada diketahui baik oleh kedua pihak terapi barangkali tidak oleh semua hadirin, To Poet Hoan kata lebrh jauh, dari itu aku menjelaskannya Benar-benar ada sejumlatohadirin, yang tidak tahu sebabnya perselisihan itu, mereka ini lantas nyatakan ingin dengarpenjelasan. Menurut keterangannya Teng Hiauw dan Law Boe Wie, Lioe Loo-kauwsoe terbinasa di tangannya or-ang perintahan dari Gak Koen Hiong,demikian juru pemisah itu menjelaskan. Mereka ini yang ada murid ketiga dari Lioe Loo-kauwsoe, ialah Tjoh Ham Eng, pun katanya dibinasakan atas titahnya Gak Koen Hiong. Law Boe Wie pernah tawan salah-satu orang perintahan dari Gak Koen Hiong yang membinasakan Tjoh Ham Eng, dia ini telah berikan pengakuan tentang duduknya hal. Baharu To Poet Hoan berkata sampai di situ, di antara

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

hadirin segera terdengar suara gemuruh yang berupa seruanseruan, hingga Gak Koen Hiong dan rombongannya menjadi bermuka pucat, malu dan mendongkol. To Poet Hoan lekas ulap-ulapkan tangannya, untuk meredakan suara berisik itu, sesudahnya, ia bicara puk Keteranganku barusan adalah keterangan menurut Law Boe Wie dan Teng Hiauw, kata ia Pihaknya Gak Koen Hiong ada mempunyai aiasannya sendiri. Pihak ini bilang, Lioe Lookauwsoe adu kepandaian, dia teledor, dia kena orang pukul hingga binasa. Dia sebaliknya telah binasakan dua musuhnya. Maka, dengan satu jiwa diganti dua jiwa, pihak Gak Koen Hiong anggap itu pantas. Tcntang penyerbuan tcrhadap Tjoh Ham Eng, mereka mcnyangkal. Mcrcka anggap keterangannya Law Boe Wie perihal scorang yang tcrtawan dan mengaku dosanya, tidak ada buktinya, mereka tolak itu. Mereka katakan Law Boe Wie sudah kurang hati-hati tidak mcninggalkan kesaksian yang hid up. Gak Koen Hiong juga tuduh Teng Hiauw dan Boe Wie ciptakan hal yang tidak-tidak, bahkan mereka menuduh pihaknya sudah dibokong di waktu malam. hingga lima saudaranya dan cm pal pah la wan telah terbinasa dan tcrluka. Mereka minta kcadilan buat lima orangnya yang terbinasa dan empat yang terluka itu. Demikian kedua pihak saling menuduh. Sebab urusan sukar didamaikan, sekarang diadakan pieboe di atas loeitay ini, untuk mencan keputusan. Jadi pieboe ini bukan karena kegalakan, hanya untuk mendapatkan kepuasan, saking terpaksa. Keterangannya To Poet Hoan ini juga dapat sambutan teriakan tapi kalah hebat dengan yang pertama. Poet Hoan tunggu sampai suara sirap, lalu ia terangkan aturan pieboe Pieboe tidak ada batasnya, hanya or-ang mesti bertanding satu iawan satu. tidak boleh main mengepung. Kcmudian, juru pemisah ini wartakan satu hal yang mengejutkan orang banyak. Ialah Gak Koen Hiong menantang pieboe terhadap Law Boe Wie, karena

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ia bersakit hati segumpal rambutnya kena terpapas, hingga ia tantang Boe Wie, bukannya Teng Hiauw. Sekarang loeitay dibuka! kata ia akhirnya, dengan suaranya yang keren. Pembukaan ini disusul dengan suara genta tiga kali. Sclagai Poet Hoan balik ke mcjanya, scluruh hadirin bungkam, hingga suasana jadi sunyi sekali. Tapi sebentar saja, lantas dari rombongannya Gak Koen Hiong loncat naik seorang bcrtubuh besar dan hitam pakaiannya, yang mclcsat laksana walct terbang, suatu bukti dari tjeng-kang-soct yang sempuma. Aku minta Teng Hiauw berikan pengajaran kepadaku! kata ia setelah ia berdiri tcgak di atas panggung. Dia adalah Sat Kic Khan, itu wie-soe atau pahlawan orang Hwee-hwee, yang tempur Boe Wie dengan sia-sia, maka sekarang ia tantang puteranya almarhum Teng Kiam Beng, karena ia bcrpendapat, pemuda ini ada terlebih lemah. Di atas loeitay, bila satu pihak menantang sambil menyebutkan nama, pihak yang ditantang boleh mcnolak atau majukan lain orang, akan tetapi Teng Hiauw tidak mau mengizinkan orang bertingkah menantang ia, dari itu tidak tunggu sampai To Poet Hoan tanya ia, ia bersedia atau tidak, ia sudah mendahului loncat naik ke atas panggung. Malah ia segera nyatakan dengan suara nyaring: Terserah kepada kau, hendak pieboe dengan tangan kosong, dengan pedang atau senjata rahasia, aku si orang she Teng tidak akan bikin kau kecewa! Sat Kie Khan ada jumawa, segera ia hunus pedangnya yang panjang, pedang mana terbuat dari besi pilihan keluaran tanah Tibet, seraya terus ia berkata: Adu kepalan tidak menarik hati, adu senjata rahasia adalah permainan tak berarti, marilah kita adu pedang saja!Tapi sebenamya ia jcrih terhadap piauwnya Teng Hiauw yang liehay dan ia hendak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

andali ilmu Thian Liong Kiam-hoat warisan dari gurunya, satu pendeta lhama yang tua dan berilmu. Teng Hiauw tertawa ding in, ia lantas hunus pedangnya Tan-hong-kiam. Sahabat, silakan maju! ia rrtengundang seraya ia pasang kuda-kudanya secara sembarangan. Itu memang ada cara permulaannya Thay-kek-kiam, ilmu pedang Thay Kek Pay. Sat Kie Khan kenali sikap pembukaan orang itu. Kau hendak gunai kepandaianmu Thay Kek Pay? Hm! pikir ia. Aku tahu, kau memang hendak menantikan kelelahan orang, tetapi kaujangan harap itu dari aku! Lalu, sambil berseru, Sambutlah! ia maju, ia terns tikam pundak kiri. la gunai tipu silat Liong lie tjoan tjim atau Puteri naga menusuk jarum. Ini ada tipu ancaman yang disusul dengan kesungguhan Teng Hiauw berdiri tegar bagaikan gunung, ia tunggu sampai ujung pedang hampir mengenai sasarannya, baharu dengan tiba-tiba lengan kanannya bergerak, sambil tubuhnya turut nyamping, ia babat lengan kanan or-ang itu dari kiri ke kanan. Ia gunai tipu silat Kim tiauw tian tjie atau Garuda emas pentang sayap. To Poet Hoan dan Yo Kong Tat diam-diam memuji gerakannya itu, suatu bagian yang liehay dari Thay-kek-kiam. Ini satu gerakan saja sudah menyebabkan anak rnuda ini menang diatasangin. Sat Kie Khan terperanjat untuk caranya musuh menge lakkan diri itu, karena berbareng iaterancam bahaya akan lengannya terbabat kutung. Syukur ia bermata jeli dan gesit tubuhnya. Ia bcrkelit mundur sambil miringkan tubuh, hinggahampir saja iga kjrinya yang menjadi korbannya ujung pedang musuh itu. Setelah itu, dengan sebat ia putar tubuh, akan balas menikam pula. Kali ini ia gunai Tjoen in tha tian atau Mega musim semi mendadakan terbuka. Cara memutar tubuhnya pun sebat luar biasa.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Teng Hiauw berdiri di tempatnya, ketika ujung pedang menyambar, ia sedot perutnya, tubuhnya dibikin melengkung, dengan begitu, iadapat loloskan din dari bahaya. Tapi di lain pihak, selagi tubuhnya ccnderung, tangannya, pedangnya, membarengi membabat dengan Giok lie touw so atau Bidadari menenun. Kapan musuh elakkan diri sambil mundur, ia menyusul menyabct pula dengan Kim kee toat siok atau Ayam emas mcrcbui gandum. Dua-dua kalinya ia membabat pinggang. Dengan tcrpaksa. Sat Kie Khan mundur berulang-ulang. Karena ini ia jadi gusar sckali. Maka itu, sambil mcnjcrit. iamerangsek. Sckali ini, ia keluarkan sungguh-sungguh ilmu pedangnya Thian-liong-kiam. Thian Liong Kiam-hoat, ilmu pedang dari Tibet, yang pendeta lhama biasa gunai untuk melindungi gunungnya, terdiri dari delapan belas jalan, dan setiap scmbiIan jaian terpecah-pecah pula hingga semuanya menjadi seratus en am puiuhdua jurus, dari itu tidaklah heran, bila gerakannya ada pelbagai macam, dan sebab serangan lebih banyak daripada pembelaan diri, terjangan ada gencar bagaikan hujan deras. Semua pcnonton lihat bagaimana Teng Hiauw dan pedangnya seperti terkurung dalam keredepan-pedangnya orang Hwee-hwee itu, hingga rombongan yang memihak kepadanya jadi kebat-kebit hatinya. Mclainkan adalah juru pemisah To Poet Hoan, yang menyaksikan terus dengan tenang, dengan kekaguman, karena iasudah lihat tegas, bagai man a anteng dan mantapnya Teng Hiauw. Ia anggap puaslah Kiang Ek Hian, soehengnya, yang telah mempunyai babah mantu demikian liehay. Dengan sebenamya, walaupun ia didesak, seperti dikurung, Teng Hiauw bikin perlawanan dengan tenang tetapi tak kalah gesitnya. Ia taat kepada ajaran Thay Kek Pay untuk lawan kekerasan dengan kelemasan dan keuletan. Maka itu, sampai

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

habis Sat Kie Khan gunai semua pukulannya, ia tetap tidak suka mcmbcrikan ketika. Di akhimya, wie-soe itu sendiri yang kewalahan dan jadi si buk, hingga di luar keinginannya, permainan pedangnya mulai menjadi tak tcratur lagi. Teng Hiauw bela diri sambil nantikan ketika yang baik, sekarang ia lihat ketikanya itu sudah sampai, ia tidak mau mensia-siakannya. Di saat Sat Kie Khan bertindak di garis Tiong kiong (tengah), ia maju sambil injak garis Hong boen (tengah musuh), hingga lantas saja mereka saling berhadapan, membarengi mana, pedangnya menikam. Sat Kie Khan kesima, ia menangkis secara kesusu, tapi pedang lawan telah tekan ujung pedangnya, ia gunai seantero tenaga, untuk meloloskan tekanan itu, apa mau Teng Hiauw telah putar pedangnya secara melilit, gerakannya membetot, maka lidak tempo lagi, cekalannya orang Hwee-hwee itu terlepas, pedangnya terlempar jatuh ke lantai panggung. Ia jadi sangat kaget, semangatnya seperti terbang pergi, tidak tempo lagi, dengan gerakan Sin liong tiauw sioe atau Naga suci menggoyang kepala, ia memutar tubuh untuk mengaku kalah, guna tolongi dirinya. Apa lacur untuk ia, ia kalah sebat, pedangnya Teng Hiauw sudah menyambar lengannya yang kanan, hingga sebelah tangannya terbabat kutung, hingga rubuhlah ia dengan mandi darah dan tak sadar akan dirinya. Gak Koen Hiong semua menjadi kaget, tetapi mereka licik, mereka lantas berteriak-teriak memprotes, mengatakan Teng Hiauw curang, or-ang sudah kalah dan sedang undurkan diri. masih saja diserang, hingga terluka. To Poet Hoan tidak gubris protes itu, ia bunyikan gentanya, satu tanda babak pertama sudah habis dengan kekalahannya pihak Gak Koen Hiong itu. Ia kemukakan alasan, sesudah orang loncat turun ke tanah, baharu dia tidak dapatdikejar, tetapi Sat Kie Khan masih sedang berlompat tinggi, hingga dia masih boleh disusul, sebab orang toh tidak tahu, dia masih

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

hendak melawan terus dengan tangan kosong, kecuali dia berseru menyatakan menyerah. Pihaknya Gak Koen Hiong, walaupun mereka mendongkol, terpaksa mesti tutup mulat. Mereka lantas berdamai, memilih satu erang lain, untuk maju pula. Pilihan itu jatuh atas dirinya Kheng To Hoan. Toa-totjoe atau Ketua dari rombongan Hay Yang Pang. Dia ini sudah berumur lima puluh lebih, senjatanya ada Gin-hoa Ban-djie-toat, semacam gaetan piranti menggaet golok atau pedang musuh. Itu ada ilmu silat simpanan dari Keluarga Tong dari Shoasay. Ia me nan tang taytjoe pertama. Teng Hiauw sudah loncat turun dari panggung, ia bersenyum apabila ia lihat ada lagi lawan yang menantang ia. Ia bersedia untuk sambut tantangan itu, tetapi selagi ia hendak berlompat naik, Tok-koh It Hang tekan tubuhnya. Jangan naik pula, Hiantit, kata jago tua dari Liauw-tong itu. Kesatu, kau tidak boleh kasih dirimu dilawan terus beruntun-runtun, kedua kau mesti insyaf, kau adalah Tjiangboen-djin, ahli waris. Sambil mencegah demikian, Tok-koh It Hang menoleh kepada rombongannya, untuk pilih satu or-ang, tetapi belum sempat ia menyebut nama, tahu-tahu Lauw In Eng, ahli waris dari Ban Seng Boen, yang tidak sabaran, sudah mendahului loncat naik ke atas loeitay. Dia ini, sebagai adik dari Lioe Toanio Lauw In Giok, gusar atas kebinasaan tjiehoenya, iasengaja datang dari tempat jauh, untuk menuntut balas, maka itu, sebagai Tok-koh It Hang sendiri, dengan sendirinya ia berpihak pada Teng Hiauw dan Boe VVie. Kau hendak berkelahi sebagai roda mutar? In Eng tegur Kheng To Hoan sambil ia tertawa nyindir. Teng Hiauw tak jerih terhadap kau, dia hanya sungkan layani padamu! Marilah, sebagai tembaga ponyok lawan besi bonyok, kau layani aku si tua bangka main-main! Habis itu, jago Ban Seng Boen ini hunus goloknya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kheng To Hoan ada seorang Kang-ouw kenamaan, ia gusar sekaJi mclihat dirinya diperhina, tapi ia masih bisa kendalikan diri, hingga dcngan d ingin, ia kata: Siapa yang berguna atau liada, biarlah gegaman kita yang memutuskan, jangan kau mainkan lidahmul Dan ia perlihatkan sepasang senjatanya yang beroman tumbak bukannya tumbak, beroman kampak bukannya kampak, di gagang ada cagak pclindung tangan. Itulah dia Gin-hoa Ban-djie-toat, alat pembetot golok dan pedang! Begitu Iekas ia pertunjuki senjatanya, Kheng To Hoan lantas menyerang. Tangan kirinya dipakai melindungi dadanya, tangan kanannya diulur ke depan, membacok. In Eng segera mundur apabila ia tampak serangan itu, ia terkejut, karena ia mcngcrti musuh bukan musuh sembarangan. Tetapi ia mundur bukan untuk menyingkir, ia gunai tempo akan putar golok Toanboen-too, untuk kaki kiri maju ke kiri, goloknya menyabet ke lengan lawan bahagian nadi. Inilah gerakan Ang hee koan jit atau Sinar layung merah menawungi matahari. Kheng To Hoan tarik pulang tangan kanannya, tangan kirinya dipakai menangkis, hingga kedua senjata bentrok hingga menerbitkan suara nyaring, sampai lelatu api terbang muncrat. Ketika In Eng tarik pulang goloknya, bagian goloknya yang bentrok jadi sedikit kentop. Tapi segera ia mendesak, ia mainkan jurus- jurus dari Ngo-houw Toan-boen-too. Kheng To Hoan telah yakinkan senjatanya untuk beberapa puluh tahun, ia tidak jerih walaupun lawan desak ia secara hebat, malah di sebelahnya menangkis dan berdaya akan tarik golok musuh, ia juga balas menyerang tidak kurang seruhnya. Maka itu, berdua mereka telah jadi satu tandingan yang setimpal, pertandingan mereka luar biasa seruhnya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Puluhan jurus telah dikasih lewat dcngan cepat, sesudah sampai jurus kelima puluh, dcsakannya Lauw In Eng menjadi kurang sendirinya, hingga sekarang ia jadi lebih banyak membela diri. Ia insyaf bahwa ia tak bakal dapat kalahkan musuh, dari itu ia mcmikir akal untuk memancing musuh, maka dengan sendirinya, ia nampak jadi lcbih lambat. . Kheng To Hoan mendesak terus, apapula sekarang ia I ihat musuh kalah ulet, nampaknya ia ingin sambar terlepas golok musuh. Sebentarkemudian, Ban-djiet-toat kanan sudah bentur golok lawannya, atas mana In Eng menggeser tubuh ke kiri, goloknya segera digeraki, dari bawah menyabet ke atas. Apabila sabetan ini memberi hasil, gegaman musuh mesti terlepas. To Hoan ada seorang yang banyak pengalamannya, walaupun ia lagi hadapi ancaman bencana, ia tidak jadi gugup. Begitulah ketika ia disabet, ia ketinggikan tangannya, ujung gaetannya disengaja berkelebat di mukanya lawan itu, di lain pihak, gesit seperti sambaran angin, tangan kirinya menyambar lengan kanan orang itu yang lagi menyabet. Keadaan jadi berputar balik dengan cepat sekali. In Eng mesti tolong dirinya, ia tidak dapat membacok terus dan sukar juga untuk tangkis serangan kiri dari lawan itu. Tidak ada jalan lain, iaenjot kedua kakinya, akan berlompat tinggi ke samping. Tapi, selagi ia berlompat menyingkir, gegaman musuh, dengan anginnya mendahului, sudah susul ia di belakangnya. Ia telah injak pinggiran panggung, desakan To Hoan membuat ia sukar untuk memutar tubuh. Tapi tak percuma dia menjadi ahli waris Ban Seng Boen atau adiknya Lioe Toanio, dalam saat terancam itu, ia masih sempat berpikir, selagi ia tidak bisa putar tubuh atau menangkis, dengan mendadakan ia terus tekuk kedua lututnya, untuk mendekam, sesudah mana dengan kepala dimajukan ke depan, tubuhnya terus dimiringkan, tangan kanannya dikasih turun rendah sekali, untuk jaga supaya ia tidak sampai ngusruk, tetapi begitu lekas

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

serangan sudah lewat di atas bebokong, gesit sekali ia angkat tubuhnya bangun, goloknya dipakai balas membacok orang punya pundak kiri, sedang tangan kirinya, yang kosong, dibarengi dipakai menggempur pundak kanan orang. Itu ada Ngo-houw Toan-boen-too punya salah satu tipu pukulan yang dinamai Sam yang kay thay atau Keberkahan pembukaan tahun. Kheng To Hoan mengharapi kemenangan terakhir, ia tidak sangka musuh masih bisa eiakkan rangsekannya yang berbahaya itu, sebaliknya, sekarang ialah yang terancam bahaya. Tapi ia masih keburu tarik pulang kedua tangannya, dengan senjatanya yang kiri ia coba tangkis golok Ban-sengtoo dengan senjata yang kanan ia gaet lengan kiri musuh. Hingga kembali In Eng yang menghadapi bahaya pula. In Eng coba tolongi dirinya, tetapi goloknya kena tergaet, untuk loloskan itu, ia segera pasang kuda-kudanya, ia membetot keluar sambil ia berseru: Turunlah kau! Ia harap, kalau toh mereka sama-sama rubuh ke bawah panggung, ia masih bisa lindungi nama baiknya. Juga Kheng To Hoan membelai kehormatannya, selagi ia kena terbetot, hingga ia berada di tepi panggung, ia keburu tancap kaki kirinya, dari itu sambil pasang kuda-kuda, ia balas menarik dengan keras, sampai kuda-kudanya In Eng tergempur, tubuhnya terpelanting, melayang jatuh ke bawah panggung. Ia telah gunai tenaga sangat besar, tubuhnya turut bergoyang-goyang, kakinya limbung, sampai ia tak dapat pertahankan diri, setelah sempoyongan, ia pun jatuh, hanya ia rubuh di atas panggung. Sekaiian penonton kagum bukan main, umumnya orang keluarkan keringat ding in melihat bahaya-bahaya yang saiing mcngancam kedua pihak. Di saat terakhir itu, kclihatan nyata kepandaiannya tandingan itu. Syukur buat In Eng, selagi jatuh, ia bisa j umpalitan. hingga ia jatuh dengan bcrdiri. tidak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dcmikian dengan To Hoan, yang rubuh terguling walaupun di atas panggung. Segera orang riuh membicarakan, siapa menang siapa kalah. Selagi mereka itu belum bisa kasih pulusan, genta sudah berbunyi dan Yo Kong Tat sebagai juru pemisah, sebagai wasit, telah memutuskan, Kheng To Hoan adalah yang menang. Putusan ini didasarkan, siapa yang jatuh kebawah panggung, dialah yang kalah, meskipun To Hoan rubuh, ia rubuh di atas panggung. In Eng tidak terguling, tapi ia terpelanting dari atas panggung. Siapa rubuh di atas panggung, kendati ia terluka, ia masih dianggap menang. Dcmikian Kctua dari Hay Yang Pang, yang telah berbangkit berdiri, dengan roman puas atau jumawa, segera menantang, siapa berani naik akan berikan pengajaran padanya. Aku tak jerih melakukan perlawanan bergiliran! demikian ia sombongi diri. Tadi To Hoan tantang TengHiauw, In Eng hinakan dia, sekarang ia dianggap menang, ia sengaja mengejek. Sebenarnya, ia pun berhak untuk menolak pertandingan lebih jauh, tapi karena hendak menghina, ia tidak gunai haknya itu. Akan tetapi, baharu ia tutup mulutnya, atau satu orang berkelebat naik di depannya, apabila ia sudah lihat nyata orang itu, mau tidak mau, ia terperanjat. Yang baharu naik ini ada satu nona yang tubuhnya langsing kecil. Nona ini ada Lioe Bong Tiap, dia lihat engkoenya kalah, dia jadi gusar, tidak bcrdamai lagi, ia loncat naik ke atas locitay. Maka itu, ia tidak saja bikin heran Kheng To Hoan, ia pun mengejutkan semua orang di bawah panggung, tak kecuali pihaknya sendiri. Lebih-lebih orang tahu, dia ada satu nona umur belasan, yang belum terkenal, dan Kheng To Hoan ada Ketua Hay Yang Pang yang kenamaan terutama di lima propinsi di Utara. Juga Teng Hiauw dan Boe Wie, mereka masih kuatirkan puterinya mendiang Lioe Kiam Gim sukar melayani jago tua itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kheng To Hoan terperanjat sebentaran, segera ia dapat pulang jcetabahannya karena ia mau percaya, satu bocah amur belasan tidak nanti punyakepandaian berarti, ia percaya si nona curna punyakan Tjeng-kang-soet yang sempurna, lain tidak. Ia percaya, dengan Ban-djie-toatnya, tidak nanti ia rubuh di tangannya nona itu. Ia melainkan tidak mau turun tangan terlebih dahulu, ia mengawasi dengan tawar, lalu ia bersenyum. Nona, naik di loeitay bukannya permainan! kata ia. Baik kau lekas turun, aku tak tega melukai kau. Di luar dugaan jago tua ini, si nona bersikap jumawa. Aku pun lebih baik tidak binasakan kau! katanya sambil tertawa, dengan memandang enteng. Paling banyak aku nanti keja kau bercacat tapadakpa! Maka janganlah kau takut. Dari pendengaran, Bong Tiap dapat tahu, Kheng To Hoan bukannya seorang terlalu jahat, dari itu ia anggap sudah cukup bila ia bikin orang bercacat. Kheng To Hoan telah berusia tua dan namanya sudah kesohor, mana ia bisa terima hinaan itu, dari itu, kata-katanya si nona membuat air mukanya merah padam, hingga lenyaplah rasa berkasihan terhadap nona itu. K eh Budak busuk, berapa tinggi kepandaianmu? ia membentak. Jikalau kau tidak tahu diri, maka bukannya kau pergi ke sorga yang ada jalanannya, kau justeru pergi ke neraka yang tidak ada pintunya! Nah, kau jangan katakan aku tidak sungkan-sungkan terhadap kau. Bong Tiap tidak kesudian mclayani orang bicara, segera ia cabut pedang Tjeng-kong-kiam, lantas ia maju menusuk, kepada dada orang!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Adalah kata-katanya kaum ahli silat, Golok jalan di putih, pedang jangan di hitam. Ini berarti, siapa gunai pedang, dia lebih banyak maju ke kiri dan kanan, jarang sckali yang lantas menjurus di tengah-tengah, menikam dada. Di matanya kaum Rimba Persilatan, penyerangan itu menandakan perbuatan tidak melihat mata. Maka itu, diserang secara demikian, hawa amarahnya Kheng To Hoan jadi meluap, dengan sebat ia angkat sepasang senjatanya, dengan sengit ia menangkis, kemudian ia turunkan kedua Ban-djie-toat, untuk gencet kuping kiri dan kanan orang. Di luar dugaan, Bong Tiap tidak menyerang sungguhsungguh. ia melainkan menggertak, tatkala kepalanya dijepit, ia melesat ke samping kanan dari lawan, dari situ ia putar pedangnya, untuk babat lengan kanan orang. Kheng To Hoan terperanjat akan dapati penyerangan tidak mcmberi hasil dan sebaliknya lengannya terancam, terpaksa ia enjot tubuhnya, akan lompat menyingkir, akan tetapi gesit sekali, si nona pun berioncat, akan susul dia. Salahsatu pepatah da I am kalangan ilmu silat berbunyi demikian: Satu kali ahli keluarkan tangan, lantas kctahuan tangan itu bcrisi atau tidak, demikian dcngan Ketua dari Hay Yang Pang itu kapan telah ia saksikan kcpandaiannya si nona, yang usianya masih bcgitu muda, segera ia tak bcrani Iagi memandang enteng, dengan sungguh-sungguh iajaga dirinya, terus gunai kepandaiannya, mendesak. Bong Tiap layani desakan orang dengan rangsekannya, hingga sekarang pertandingan jadi bcrjalan tcrlcbih seru daripada tadi, di waktu To Hoan layani Lauw In Eng. Ini ada untuk pertama kali yang Bong Tiap menghadapi musuh tangguh, ia berlaku luar biasa hati-hati, sambil hunjuki kegesitan, ia pun perlihatkan tusukan-tusukan atau babatanbabatan yang berbahaya. Ia masih sangat muda tetapi ia telah gabungkan kepandaiannya dua kaum, ialah Sip-siam-kiam dari Thay Kek Pay dan Tat-mo-kiam dari Sim Djie Sin-nie. Yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

belakangan ini mempunyai seratus delapan jurus. Kalau ia lihat musuh gunai kekerasan, ia lawan dengan lembek, tetapi sembari mengancam, ia pun bisa terusi itu dengan kesungguhan, hingga ia bisa membuat orang bingung, sukar untuk menduga-duga. Sesudah bertempur kira-kira tiga puluh jurus, Kheng To Hoan lantas merasa sendiri bahwa ia seperti terkumng musuh muda iru, diam-diam ia rasakan tubuhnya menggigil. Baharu sekarang ia insyaf, si nona ada liehay sekali. Ia pandai rampas senjata orang, tetapi sekarang ia tidak berdaya, malah untuk membela diri ia mulai kewaiahan, hingga ia jadi sibuk dan berkuatir. Tidak dapat tidak, aku mesti gunai senjata rahasia, pikir ia kemudian. Thie-lian-rjienya, atau biji teratai besi, sudah tersohor di lima propinsi Utara, ia hendak gunai ini, sekalipun terhadap satu wanita, karena ia mesti jaga kehormatannya di saat terakhir ini-.. Segera juga, berbareng dengan putusannya itu, Kheng To Hoa gunai tipu silat Tjay hong soan oh atau Burung hong putari sarang. Ia mcnyerang hebat di tiga penjuru di bawah. Bong Tiap pun liehay, ia lihat serangan orang, ia lompat ke samping dengan pedangnya ditarik pulang dengan To tjoan kian koen atau Memutar bumi, lalu ia teruskan membabat lengan kanannya. Ini gerakan dari lawan adalah apa yang To Hoan harapkan. Ia berkelit sambil lompat ke saling, sambil berkelit, ia pindahkan senjatanya di kanan kepada tangan kiri, tangan kanannya itu segera dipakai meraba senjata rahasianya yang segera ia timpuki, hingga cahayanya berkeredepan. Nona Lioe tertawa apabila ia lihat datangnya senjata rahasia itu, dengan ia buang tubuh ke samping, Pedangnya diangkat ke atas, diputar, hingga beberapa Thie-han-tjie kena kesVmpok dan terpental balik. Menyusul itu, di atas panggung ada mengaung dua kali suara aneh, disusul dengan susulan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dua suara lamnya, menyusul mana Kheng To Hoan, Ketua dari Hay Yang Pang, jago dan Utara, perdengarkan teriakannya Aduh! berulang-ulang, tubuhnya, seperti layangan, melayang jatuh ke bawah panggung! Sebab ia telah terkena piauw Bouw-nie-tjoe! Pihaknya Gak Koen Hiong menjadi kaget dan heran, juga mereka yang masuk angkatan tertua. Yang belakangan ini kenal piauw dari Sim Djie Sin-nie, karena itu, mereka sangka itu niekouw malaikat terbang datang dari luar langit, sebab mereka tidak nyana Nona Lioe yang muda remaja pandai menggunai senjata rahasia itu, terutama lantaran mereka tidak lihat bergeraknya tangan si nona, yang ketika itu justeru berkelit dari senjata rahasia musuh. Bong Tiap taat kepada pesan gurunya, ia tidak berani gunai piauwnya apabila tidak sangat terpaksa, walaupun demikian, ia masih turut ajaran, ialah terlebih dahulu ia lempar piauw yang pertama, untuk dihajar piauw yang yang kedua, hingga terbitlah suaft pertandaan atau pemberian ingat. Coba To Hoan tidak mendahului curangi dia, dia tentu akan tetap melayani dengan Tjeng-kong-kiam. Gak Koen Hiong bcramai lompat kepada Kheng To Hoan, untuk tolong itu kawan, tubuh siapa rebah tak bergerak di tanah, hanya melihat datangnya kawan-kawan, dengan Iemah ia bcrkata: Aku telah dibikin tapadakpa oleh itu budak busuk!. Ketika tubuhnya diperiksa, kedua lututnya di bahagian jalan darah Hoan-tiauw-hiat, telah berlobang ditcmbusi piauw, hingga urat-uratnya pada putus, hingga ia jadi rubuh scketika dan tak dapat berjalan lagi! Bong Tiap masih bcrdiri di atas loeitay ketika ia dengar seruan orang banyak, yang kemudian disusul dengan cacian dan kutukan, yang dikeluarkan pihak lawan sesudah mereka itu saksikan lukanya ketua Hay Yang Pang, tanpa merasa, ia kaget sendirinya. Ia insyaf bahwa musuh telah terluka parah. Inilah untuk pertama kali ia hadapi pertandingan besar, biar

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bagaimana, hati kecilnya kena gempuran. Ia tunduk, ia bemiat loncat turun dari atas panggung. Atau tiba-tiba: Tunggu, Nona! Aku ingin bclajar kenal dengan kau! Itu ada teguran, dari satu orang tua sebagaimana suaranya menyatakan itu. Nona ini batal lompat turun, ia menoleh pada orang yang baharu datang itu, yang dengan pesat loncat naik ke loeitay. Ia tampak seorang usia lima puluh lebih, yang terus menghadapi ia, sambii tertawa haha-hihi, yang pun terns tambahi kata-katanya: Wanita gagah, wanita yang masih muda, tetapi aku, sudah tua bangkotan, akan merasa berbahagia karena bertemu sama ahli warisnya Sim Djie, yang pandai mainkan piauw Bouw-nie-tjoe! Maka jikalau aku tak diberikan pengajaran, aku akan menyesal seumur hidupku!. Naiknya orang tua itu ke atas panggung telah disusui dengan teriakan dan tepukan tangan riuh dari bawah panggung, sedang In Tiong Kie dengan diam-diam terus kata pada Tok-koh It Hang yang berdiri didekatnya: Aku tidak mengerti cara bagaimana Gak Koen Hiong bisa tarik orang dari pihak Kcluarga Tong ini?. Memang orang tua itu ada Hoei-thian Sin Wan Tong Ban Tjoan si Orang Hutan Sakti. Parnannya, Tong Tong Tjay, adalah sahabatnya In Tiong Kie di waktu muda. Dan ilmu senjata rahasia dari Keluarga Tong ini terkenal sebagai yang tersohor di kolong langit. Baik dalam menyerang maupun dalam menanggapi, keluarga ini sangat termasyhur. In Tiong Kie kesohor dalam hal mendengar suara senjata, yang pelajarannya ia dapati dari gurunya. In Beng Koh, tetapi dalam hal senjata rahasia. ia kaiah kesohomya seperti Keluarga Tong itu. Kedua kepandaian mereka yang menyebabkan mereka jadi bersahabat kekal. Hanya Tong Ban Tjoan ini, In Tiong Kie tidak kenal baik, ia curna tahu julukannya yang kesohor.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pada empat puluh tahun yang lalu, Tong Tong Tjay pernah satu kali bertemu dengan Sim Djie, selagi pendeta perempuan ini gunai piauw untuk memberi hajaran kepada serombongan berandal, melihat kepandaian itu, yang senantiasa didului dengan suara peringatan, Tong Tjay menghela napas, terutama memang sudah sejak lama ia dengar nama besar dari niekouw itu, malah pemah ia berniat mengadu kepandaian dengannya, tetapi sekarang, dia jadi kuncup sendirinya, sampai ia tidak berani agulkan lebih lama pula senjata rahasianya, sedang kepada keponakannya itu, seringsering ia puji Sim Djie. Tapi Tong Ban Tjoan belum pernah menyaksikan sendiri, ia tidak percaya, ia malah ingin can Sim Djie, buat coba uji kepandaiannya. Selama itu, sudah empat puluh tahuh, Tong Ban Tjoan belum pemah dapat ketika bertemu si niekouw. Itu waktu, Ban Tjoan baharu berumur belasan, tapi sekarang ia sudah berusia lima puluh lebih. Sama sekali Tong Ban Tjoan tidak punya persahabatan dengan Gak Koen Hiong, kalau ia toh datang di medan pertempuran itu, inilah sebab jadinya ia diundang oleh Ketua Muda Gie Hoo Toan itu dengan perantaraan satu sahabatnya, dan Gak Koen Hiong telah kirimkan ia bingkisan yang berarti. Ia tampik undangan itu, ia tolak bingkisan, akan tetapi ia toh datang bersama-sama pamannya, hingga ia jadi tetamu terhormat dari Gak Koen Hiong. Sebabnya ini adalah ia dengar halnya loeitay dan ia ingin menonton. Ia dengar suara pertandaan, ia lihat Kheng To Hoan rubuh, ia menjadi heran, ia tidak nyana si nona demikian liehay, justeru begitu, ia dengar pamannya bilang: Itulah ilmu piauw dari Sim Djie Sinnie! Sang paman pun nampaknya sangat heran. Apakah aku bisa naik untuk lawan dia? Ban Tjoan tanya pamannya, sebelum ia naik. i Tong Tjay berpikir, akhirnya ia menyahut: Sukar untuk dibilang. Kalau Sim Djie sendiri, tak dapat kita lawan dia, tetapi nona ini, walaupun ia bisa gunai Bouw-nie-tjoe,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

latihannya masih belum sempurna, ia agaknya berimbang dengan kau. Apabila aku sendiri yang naik, aku tidak akan berhasil. Tong Tong Tjay bukan jerih terhadap Bong Tiap, tetapi ia sudah tua, ia tahu diri, tidak demikian dengan sang keponakan, siapa, atas jawaban itu segera saja loncat naik ke atas Panggung dan hadapi Nona Lioe. In Tiong Kie dan Tok-koh It Hang ketahui kepandaiannya Keluarga Jong, mereka menjadi sibuk, tetapi sebelah mereka, pihaknya Gak Koen Hiong jadi sangat gembira. Mereka mengundang, mereka ditolak, siapa tahu, sekarang jago she Tong itu bersuka rela, maju sendiri, bagaimana mereka tidak bergirang? Bong Tiap hendak layani orang bicara, karena orang tua itu bersikap manis budi, hanya sebelum iasempat buka mulut, ke atas panggung sudah loncat naik seorang yang ketiga, yang bajunya baju biru gerombongan dan kumis jenggotnya panjang, sebab dia adalah salah satu dari tiga pendiri Pie Sioe Hwee ialah In Tiong Kie, siapa kuatirkan si nona dan dari itu mencoba untuk menolong. Sudah lama kita orang tidak tahu bertemu, apa Hiantit ada banyak baik? demikian In Tiong Kie tanya Tong Ban Tjoan seraya ia memberi hormat. Apakah pamanmu datang bersama? Ini nona sudah lelah, aku-nanti gantikan ia mainmain sama kau, Hiantit. Tong Ban Tjoen kenali jago ma itu, ia lekas membalas hormat tetapi atas tantangannya, ia menampik. . Kepandaian Loopeh mengetahui senjata rahasia dari sambaran anginnya saja, aku telah ketahui sejak lama, berkata ia, tidak demikian dengan piauw Bouw-nie-tjoenya si nona yang tidak dapat siauwtit lewatkan. Kita hendak mengadu senjata rahasia, bukannya adu senjata lainnya, dari

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

itu walaupun ia sudah bertempur sekian lama, pertandingan senjata rahasia pasti tidak akan meletihkan dia. In Tiong Kie hcndak jawab orang she Tong itu, tetapi Bong Tiap telah dului ia. In Loo-tjianpwee^ aku tidak ielah, demikian si nona. Ini Loo-enghiong hendak memberikan pengajaran padaku, suka sekali aku menerirnanya. Memang Bong Tiap ingin sekali bertempur lebih jauh. Dalam keadaan terpaksa itu, In Tiong Kie mesti menurut, maka itu, ia loncat turun pula. Kctika ia baharu naik, pihaknya Gak Koen Hiong menjadi tidak senang hati, semua mengutuk ia mengadu biru, hanya mereka tidak bcrani bilang suatu apa, karena ada haknya pihak Boe Wie untuk tukar orang, tetapi sckarang mercka lihat jago tua itu undurkan diri, mercka puas sekali. Mercka harap-harap Tong Ban Tjoan nanti rubuhkan nona itu. Dengan naiknya In Tiong Kie, Bong Tiap jadi kctahui, Tong Ban Tjoan ada kenalan atau sahabat pihaknya sendiri, dan itu, ia jadi tidak kandung niatan untuk- bikin orang celaka atau menanam bibit permusuhan. Segera juga pertandingan antara Bong Tiap dan Ban Tjoan sudah dimulai. Mereka tidak beradu tangan kosong atau alat senjata, hanya setelah satu tanda, keduanya pisahkan diri, dengan berbarcng mereka beraksi. ialah bcrtindak memutari panggung sesudah duaputaran, dengan tiba-tiba Tong Ban Tjoan berseru: Nona sambut piauw! Jago she Tong itu tidak mau berlaku curang, ia sengaja perdengarkan seruannya itu, sesudah itu baharulah ia keluarkan kepandaiannya, dengan Hoan im piauw atau Memutar lengan menyembunyikan piauw, iatimpuki senjata rahasianya, untuk perlihatkan kepandaiannya Kaum Kcluarga Tong.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Biar bagaimana, di atas panggung jaraknya kedua orang ada dekat sekali. Bong Tiap lihat bahaya mengancam, ia berkelit, hingga piauw lewati samping iganya. Senjata itu menyambar dengan cepat sekali. Sudah begitu, dengan geraki tubuhnya, sambil mereka terus berputaran, Tong Ban Tjoan kirim pula serangannya, yang kedua, yang ketiga, saling susul yang kedua menuju ke jalan darah Sin-teng-hiaf* di tubuh atasan, yang ketiga mengarah jalan darah Djoan-moa-hiat di bawah. Dengan pedangnya, Bong Tiap sampok piauw yang menyambar jalan darah di atas, lalu dengan It hoo tjiong thian atau Seekor burung hoo terjang Iangit, ia berlompat tinggi, untuk menyingkirkan diri dari sambaran ke bawah, secara demikian, ia bikin gagal kedua piauw lawan itu. Serangan Tong Ban Tjoan ini ada permulaan belaka, untuk ia cari tahu gerak-gerik si mona, tetapi ini pun sudah bikin Bong Tiap insyaf bahwa aeo tua itu tidak saja pandai menggunai piauw akan tetapi semua ggsarannya adalafa jalan darah, karena itu, ia jadi ber-hati-hati. &embali mereka berputaran, saling mendekati dan saling menjauhi, sampai dengan tiba-tiba, tangannya Bong Tiap terayun, tigabatang piauw melesat berbareng, dibarengi dengan suara mengaungnya. Tong Ban Tjoan dengar suara sambaran, ia tahu tiga batang piauw serang ia di tiga jurusan, atas, tengah dan bawah, dari itu, sambil berseru Bagus!, ia hunjuk kepandaiannya. Dengan kelitan Teng lie tjhong sin atau Di dalam kaki pelana scmbunyikan tubuh, ia kasih lewat piauw di atas. Dengan sebat luar biasa, hingga kedua piauw yang kedua, yang mana, ia tcruskan pakai menyambit piauw ketiga, hingga kedua piauw beradu dan dua-duanya jatuh ke bawah panggung. Dia tanggapi piauw dengan tangan kiri, tangan maina dibungkus dengan sarung tangan kuilit manjangan. Pertandingan itu membuat semua penonton kagum.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tong Ban Tjoan ada ahli senjata rahasia, senjata rahasianya bukan cuma satu macam. Tiga batang piauw yang tadi ia pakai menyerang adalah Pauw biasa saja, karena piauw itu d membawa hasil, ia lantas lenukar dengan yang lainnya, ia ubah juga cara menimpuknya. Begitulah tangan kirinya merogoh kantong piauw, akan keluarkan seputuh batang Kie-lee, yang tidak dipakaikan racun, yang terus bagikan dua ke tangan kanan. Senjata rahasianya ini memang ada dua macam, yang dipakaikan dan tidak dipakaikan bisah, ia sekarang pakai yang bebas racun, karena ini ada pertandingan adu kepandaian saja. Macamnya senjata juga beda dari yang umum, setiap tail, dan empat penjurunya dipakaikan cagak yang tajarn, hingga lain orang, jangan kata bisa gunakan itu, pegang saja pun sukar. Setelah kedua pihak saling berputaran, saling kejar dengan cepat, tiba-tiba tangan kanannya Tong Ban Tjoan bcrgcrak, lima buah senjata rahasia, sambil mengeluarkan sinar berkeredepan, melesat saling susul, kemudian itu disusul dengan lima buah lainnya dari tangan kiri, yang tak kalah cepatnya. Bong Tiap lihat datangnya serangan, ia segera ayun tangan kanannya, akan menimpuk dengan lima buah piauwnya, akan sambuti lima batang Kie-lee. Senjatanya ada tcrlcbih kecil lagi, tetapi di waktu Iima-lima senjata saling bentur. kelima Kie-lee jatuh beruntun.. Untuk ini. Bong Tiap gunai Thay Kek Koen, yang lawan tenaga dengan tenaga. Tangkisan ini membuat Ban Tjoan terperanjat. Segera menyusul lima buah Kie lee lain, cepat laksana bintang melesat. Bong Tiap tidak lagi bisa timpuki lima buah lainnya, ia tidak pandai gunai dua-dua tangannya kiri dan kanan seperti Sim Djie, gurunya, tciapi ia telah wariskan Tat Mo Kiam, gurunya ilmu pedang yang liehay, maka sekarang, ia perlihatkan ilmu pcdangnya itu. Ia putar Tjeng-kong-kiam, dengan cepat sekali,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

antara sinar berkilauan dan sambaran angin, lima batang Kielee jatuh beruntun, lenyap cahayanya, mclainkan suara bcnturan saja yang terdengar nyaring bemntun-runtun. Hatinya Tong Ban Tjoan jadi bergetar kapan ia sudah saksikan kepandaian itu, ia kuatir ia nami tidak sanggup I indungi namanya sebagai ahli senjata rahasia, karena mana, ia mcnjadi sibuk, maka ia lantas gunai panah ular api Tjoa-yamtjian dan pcluru Tjoe-bouw-tan, yang ia timpuki dengan berbareng kepada si nona Blasur itu tidak boleh terbentur, apabila ditangkis, apinya lantas meletus dan menyambar, sedang dalam peluru Tjoebouw-tan, di mana ada sembilan lobang, setiap lobangnya menyembunyikan sembilan batang peluru Thie-lian-tjie, karena dipasangi alat, Thie-lian-tjie itu bisa melesat keluar sendirinya, menyambar sasarannya. Maka itu, kedua senjata itu, yang dipakai berbareng, ada sangat liehay. Bong Tiap tahu, Tong Ban Tjoan sebagai ahli mesti punyakan rupa-rupa senjata rahasia, dari itu, sesudah pecahkan dua rupa senjata rahasia orang itu, ia berlaku semakin waspada Ia lihat pundak orang bergerak dan lalu menyambar suatu benda biru menyala. Cepat luar biasa ia berkelit. Tempo panah itu lewati ia dan jatuh ke panggnng sambil terus meletus menyambar api, ia terkejut, tetapi ia masih sempat mencelat jauh hingga ia luput dari bahaya terbakar. Tapi menyusul itu ada menyambar beberapa butir benda mirip bola besi yang pun mengeluarkan suara aneh, maka, menduga kepada senjata rahasia gaib, ia mcndahului berlompat dengan tipu It hoo tjiong thian atau Seekor burung hoo melesat ke langit. Ia sambut senjata rahasia itu, dari atas, ia menekan, maka peluru itu jatuh terlebih cepat ke atas panggung, pecan dan sembilan Thie-lian-tjie segera menyambar ke empat penjuru panggung. Karena semua penonton dilarang mendekati panggung jauhnya belasan tumbak, senjata itu tidak sampai meminta korban.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Baharu Tjoe-bouw-tan lewat atau datang Tjoa-yam-tjian yang kedua. Setelah pengalaman yang pertama, Bong Tiap tidak lagi terperanjat seperti sebermula. Ia berkelit pula akan kasih lewat ular api yang liehay itu, ketika menyusul Tjoe-bouw-tan yang kedua^ kembali ia berlompat dan tekan itu hingga jatuh ke tanah. Segera menyusul peluru yang keriga, yang jatuh jauhnya dari Bong Tiap tidak ada satu tumbak, yang tidak mengenai sasarannya karena si nona keburu menyingkir, akan tetapi, jatuh di panggung, dia meledak sendirinya, sembilan Thielian-tjie terus terbang menyambar. Sekarang Bong Tiap sudah siap sedia, dari itu, ia sudah lantas menimpuk dengan piauwnya, dalam gerakan Thian lie san hoa atau Bidadari menyawer kembang, hingga piauwnya itu melesat berhamburan, menangkis sesuatu Thie-lian-tjie, biji teratai besL Demikian, dua ular api telah dilewatkan, tiga peluru besi sudah dipunahkan, karenanya, hatinya si nona menjadi lebih tetap, akan tetapi di sebelah itu, ia terus berpikir, senjata apa lagi yang sang lawan bakal pergunakan, hingga dalam waspada, ia pun kebat-kebit. Oleh karena ini, untuk membalas, ia segera ubah siasat dari membeladiri, iajadi menyerang. Kembali ia gunai piauw Bouw-nie-tjoenya. Tidak kecewa Tong Ban Tjoan digelarkan Hoei-thian Sin Wan si Or-ang Hutan Sakti. Dengan keentengan dan kegesitan tubuhnya, ia kelit sesuatu piauw, ia berlompat ke segala penjuru, bagaikan angin cepatnya, sedang tangannya bersilat dengan semacam gegaman istimewa buatan Keluarga Tong sendiri, ialah Leng-tie-kwat, alat piranti menyambut berbagai senjata rahasia, hingga piauwnya sinona tak dapat berbuat apa-apa. Maka juga, Bong Tiap ubah siasat. Sebelah tangannya Nona Lioe ditimpuki ke atas, dengan begitu sekepal piauw menyambar ke atas juga, kemudian,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

nona itu lemparkan pula sekepal yang lain. Hingga, menampak demikian, Tong Ban Tjoan menjadi heran. Pertunjukan apa lawan itu sedang berikan? Kenapa piauw bukan dipakai menyerang hanya di lemparkan ke udara? Di atasan kepala mereka, dua gumpal piauw Bouw-nie-tjoe telah saling serang dengan menerbitkan suara berulang-ulang, piauwnya melesat ke segala penjuru, ada juga yang habis membentur yang satu, lalu kebentur yang lain, demikian seterusnya, hingga udara seperti penuh dengan piauw itu, kemudian, turun semua piauw menjurus ke arah Ban Tjoan. Di sebelah itu, Bong Tiap timpuki lagi lain gumpalan. Biarpun ia ada satu ahli, jago Kcluarga Tong ini menjadi heran dan kaget. Seumumya, belum peraah ia tampak serangan piauw semacam int. Semua senjata rahasia menyerang langsung, tidak demikian dengan piauw Bouw-nietjoe ini. Ia pun pandai mendengar suara, untuk kenali senjata rahasia, ia pandai melihat gerakan tangan, orang akan menduga jurusan ke mana lawan menyerang, akan tetapi, caranya Bong Tiap ini ada sangat asing baginya. Begitulah, kendatipun ia ada gesit, ia kelit sana dan kelit sini, tidak urung pundak kanan, dan pundak kirinya, tclah kena tcrhajar piauw, hingga ia terluka, kulitnya lccct, dagingnya mempan scdikit. Baharu sekarang ia insyaf lichaynya si nona. Untuk cegah bahaya terlebih jauh, scgcra ia berseru: Berhenti! Berhenti! Berhenti! Nona, kau benar-benar liehay, aku menyerah! Dan ia menyerah tidak tunggu sampai ia kena dihajar jatuh dari atas panggung. Lioc Bong Tiap lamas berhentikan penyerangannya, ia masuki pedangnya ke dalam sarung. Kau merendah saja, kata ia sambil bersenyum. Tong Ban Tjoan sudah lantas loncat-turun dari panggung, sesudab mana, Yo Kong Tat bunyikan genta scraya terus nyatakan, Nona Lioe Bong Tiap yang menang.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Di bawah panggung orang tcrbiikan suara gemuruh, dari tempik sorak. akan tetapi di pihaknya Gak Koen Hiong, orang berhati jerih, hingga juga beberapa di antaranya, yang merasa dirinya liehay, sungkan loncat naik ke atas panggung untuk layani si nona Beberapa waktu Bong Tiap berdiri mcnantikan. apabila kemudian ternyata tidak ada orang yang naik, ia loncat turun. Biar bagaimana, seteiah layani dua musuh, ia merasa lelah juga, sedang piauwnya, yang semua berjumlah empat puluh sembilan butir, sekarang tinggal hanyatiga! Ia scbcnarnya sudah mulai berkuatir, apabila ia mesti layani lain musuh, ia bisa menghadapi bahaya. Maka ia bersyukur yang ia bisa lekas-lekas undurkan diri. Gak Koen Hiong bernapas lega apabila ia tclah saksikan si nona loncat) turun. Jikalau si nona tetap berdiri dan dipihaknya tidak ada yang naik lagi, ia bakal kalah. Sekarang ia bisa pilih lain orangnya, untuk naik dan menantang. Jagonya ini adalah pahlawan istimewa dari Istana Boan, iaiah Twie-thio atau Kapten Tat Sip Pa-touw-louw, yang kesohor buat delapan belas jurus Tiat-pie-pee Tjiang-hoatnya, atauTangan Pie-pee Besi. Dia ini telah takluki semua pahlawan Boan lainnya dan sangat dihargai oleh Ibusuri Tjoe Hie See-; Thayhouw. Diapun ada orang di belakang layardari Gak Koen Hiong. Begitu lekas Tat Sip berada di atas panggung, lantas ia tantang In Tiongj Kie. Lalu bicaranya ada sangat tidak sedap didengarnya. Ia kata: Aku lihat, tadi Loo-tjianpwee ada sangat menantang, dari itu sekarang aku tidak ingin bikin kau kecewa, aku mohon pengajaran dua atau tiga jurus, atau kapan Loo-tjianpwee tidak mau adu tangan, Loo-tjianpwee boleh gunai senjata, aku sendiri tetap akan bertangan kosong. RombongannyaGak Koen Hiong murka karenatadi In Tiong Kie malang di tengah, mereka anggap itu ada gangguan,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pengacauan, justeru mereka duga, jago tua ini tidak pandai bertempur dengan tangan kosong, mereka sengaja majukan tantangannya itu. Dengan sesungguhnya, tantangan pihak Gak Koen Hiong itu telah membuat sulit kepada In Tiong Kie. Ia ada kenamaan, ia pasti tak dapat lawan orang dengan bertangan kosong. Ia biasa mcnggunai cambuk, benar sedangnya ia bersangsi, tiba-tiba ia lihat scorang bcrtindak ke arah loeitay. Ia segera kenali Tjian Djie Sianseng dari Ouw Tiap Tjiang. Diam-diam ia malu sendirinya. Tok-koh It Hang berdiri di sampingnya jago tua Pie Sioe Hwee ini, ia tampak tampang orang itu berubah, ia mengerti, lantas iatertawa dengan perlahan. Lauwhia, segera kau bakal gembira, kata ia. Tua bangka itu pasti sekali akan bikin lawannya dapat dipermainkan sebagai binatang saja! &ji Pek-djiauw Sin Eng belum tutup mulutnya, atau Tjian Djie Sianseng, yang telah bertindakke arah panggung dengan lenggang lebar, sudah sikap bajunya yang panjang dan berlompat baik dengan tubuh limbung, seperti ia tak dapat pertahankan imbangan dirinya, dan sambil napas memburu, ia ngoceh scndirian: Dasar sudah tua, aku tak punya guna. Banyak hadirin berkuatir buat or-ang tua ini, tetapi ahli-ahli silat pada bersorak dengan pujiannya, karena gerakan orang. itu adalah yangdinamai Tang hong hie lioe atau Angin timur permainkan cabang yanglioe Itu adasuatu gerakan ahh silat, mirip dengan Tjoei Pat Sian atau Delapan Dewa Mabok. Tat Sip bukannya seorang tolol, ia terperanjat melihat gerakan Tang hong hie lioe itu, akan tetapi andali sangat Tjap-pwee-Iouw Pie-pee-tjhioenya, yang bisa tusuk tembus perut kerbau, yang jarang ada tandingannya, dari itu, ia terus maju mendekati.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Eh, apakah kau hendak gantikan In Tiong Kie menjadi bangkai setan? ia menghina. BegitulahF. tertawa Tjian Djie Sianseng, yang sabar luar biasa. Tulang-tulangku yang sudah tua sudah lama tidak pernah terima kemplangan, maka sekarang adalah ketikanya untuk dibikin pada longgar. apabila kau bisa hajar aku satu kali, aku akan sangat bersyukur kepadamu, melainkan aku khawatir, kau tidak bisa pukul kena padaku. Nah, sahabat baik, kau mulaiiah dengan tanganmu! Belum pernah Tat Sip Pa-touw-louw terima hinaan seperti itu, tidak heran apabila ia jadi sangat gusar, sambil berseru, ia lantas menyerang dengan dua-dua tangannya maju berbareng. Dengan Pek wan tan louw, atau Orang hutan putih mencari jalan, ia menghajar ke arah batok kepala. Aneh adalah sikapnya Tjian Djie Sianseng. Diserang secara hebat demikian, ia tidak menangkis, ia tidak membarengi untuk mendahului mcnghajar musuh, dia hanya scgera lompat jumpalitan, bcgitu tinggi, sampai ia levvati musuhnya dan turun di belakang musuh itu, gerakannya gesit seperti terbangnya walet Tat Sip seperti tidak lihat orang lompati ia, akan tetapi ia merasa pasti, maka itu, cepat ia memutar tubuh, berbareng dengan mana, dua tangannya yang keras dipakai mcnycrang saling susul, untuk cegah musuh bokong ia. Kcmbai i jago Ouw Tiap Tjiang, si Tangan Kupu-kupu, tidak menangkis, ia tidak berkei it, hanya, ia tari nyamping, untuk terus lari berputaran di atas panggung itu! Eh, tua bangka ampas, ke mana kau hendak lari?membentakTat Sip, yang lompat mengejar. Tjian Djie lari berputaran, ialoncatl ke kiri, ia melesat ke kanan, seperti orang main petak, ia mencelat ke belakang, kakinya seperti juga tidak injak panggung lagi, gerakannya mi rip dengan kupu-kupu menyambar-nyambar bunga atau kutu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

terbang memain di air. Ini adalah ilmu silat jOuw Tiap Tjiang, yang dipelajarinya sejak masih kecil, dengan loncat-loncatan nyeplos antara ratusan pohon kayu atau pelatok, sampai tubuh tak membentur suatu pohon juga, maka kapan ia hadapi musuh dengan lari berputaran dan lelompatan, ia bisa bikin jadi kabur penglihatan matanya dan pusing kepalanya. Tat Sip kena dipermainkan, dia gusar dan mengejar terus, sia-sia saja dia berdaya akan mencandak, jangan kata dapat menyerang dengan Pie-pee-tjhioenya, buat langgar saja baju gerombongan orang, dia tidak mampu. Apa yang mendongkolkan, bila ia tidak dikejar, orang tua itu justeru menghampirinya, atau bila orang ayal-ayalan, ia lambatlambatan, ia mengejek, loncat ke kiri ke kanan, ke depan dan belakang. Dalam mendongkolnya, Tat Sip tidak insyaf bahwa ia lagi diganggu, karena ia terns mengejar. Belum terlalu lama, matanya lantas bcrkunang-kunang, kepalanya pusing, hingga sendirinya gerakan kakinya jadi pelahan. Justeru dalam keadaan demikian, tiba-tiba Tjian Djie Sianseng loncat ke depannya, agaknya hendak menyerang. Ia kaget, ia angkat sebelah tangannya, untuk menangkis. Ia telah gunai ilmunya Yauw liong tjoet tong atau Naga limbung keluar dari kedung. Tangkisan itu tidak memberi hasil, karena Tjian Djie Sianseng tidak terus menyerang, hanya orang tua ini mencelat ke samping, terus mencelat pura di belakang orang itu. Sebeium Tat Sip sempat putar tubuh, beruntun ia terima dua tamparan yang nyaring pada kupingnya kiri dan kanan, sampai ia menjadi ketulian, hingga ia jadi gusar tak terhingga. Tiba-tiba ia majukan kak i kanannya ke depan, kaki kirinya tertekuk, tubuhnya jadi terlentang ke belakang. Ini ada gerakan Go houw hoei tauw atau Harimau tidur memutar kepala. Sambil bergerak demikian, kedua tangannya turut menyambar ke belakang, ke arah lawan, yang berada di

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sebelah belakangnya itu. Ini adatipu pukulan yang sangat liehay, yang Tat Sip gunai secara mati-matian, untuk bikin celaka musuh, buat, kalau perl u, sama-sama terluka. Tjian Djie Sianseng lihat scrangan nekat dan orang itu, scmbari mundur, ia kasih dengar tertawa mengejek, kemudian dengan mengapungkan tubuh, kedua kakinya terangkat untuk tendang kembali lawan, yang lagi angkat badannya untuk berbangkit pula. Itulah gerakan sangat scbat, kedua kaki sampai pada sasarannya, hingga memperdengarkan suara keras, menyusul mana bagaikan bola saja, tubuh besar bagaikan kerbau dari Tat Sip terpental jauh satu tumbak lebih, terus rubuh ke bawah panggung dengan menyungsang atau Sie kak tiauw thian atau Empat kaki menjulang langit! Berbareng dengan suara genta, tanda pertandingan babak itu telah berakhir untuk kemenangannya pihak Teng Hiauw dan Law Boe Wie, Tjian Dj.e Sianseng turun dari panggung dengan pelahan-lahan, lalu dengan lenggang kangkung, ja kembal. ke dalam rombongannya. Kembali orang-orang dart rombongan Gak Koen Hiong pada kertak gigi, saking gusar dan mendongkol, akan tetapi, kendatipun demikian, tidak lantas ada yang majukan diri, mereka semua ngeri melihat Tat Sip Pa-touw-louw yang liehay bisa dipecundangi secara demikian gampang. Pertandingan baham berlanjut lima babak, baru sudah mendekati tengah hari, selama itu, Gak Koen Hiong kalah empat, bukan main ia mendongkol dan bingung. Dengan re-man suram, ia memandang kepada rombongannya, akan pilih jago pula. Akan tetapi, belum sampai ia dapat memilih, dari pihaknya Tcng Hiauw, In Tiong Kie sudah loncat naik ke panggung, di mana, sambil memperdengarkan suara berisik, ia loloskan cambuk Kauw-kin Hong-liong-piannya dari

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pinggangnya, karena cambuknya itu bisa dilibat sepertiiangkin, apabila ia kibaskan itu, senjata lemasitu lantas sajajadtkaku dan lempang seperti tumbak atau ruyung, Sembari perlihatkan senjatanya itu jago itu segera kasih dengar suaranya: Aku si orang tua sudah lama tidak lagi gemar berebutan di kalangan Kang-ouw, aku lebih-lebih tidak mat menghlna orang dengan kepandaianku, akan tetapi, di samping itu, akupun tak suka sekali orang tantang aku sccara langsung. Barusan Tjian Djie Sianseng sudah talangkan aku, aku pcrcaya dia tak bikin sahabat-sahabatku menjadi kecele, tetapi sekarang aku, aku hendak bikin sahabat-sahabat tidak menjadi terlebih kecele pula, dari itu, dengan mengandali tulang-tulangku yang sudah tua, aku minta sahabat siapa saja naik kemari untuk berikan pengajaran padaku! Ia bicara sambil matanya terbuka lebar ke arah rombongan dak Koen Hiong, lalu ia tambahkan: Nah, sahabat mana yang hendak maju paling dahulu? Aku sama sekali tidak sudi menyebut nama langsung! Rombongan Gak Koen Hiong saling mengawasi. Mereka anggap lawan ada aneh. Tadi dia ditantang, dia tidak mau maju, sekarang, tanpa ditantang atau diminta, dia maju sendiri. Karena dia scgera keluarkan cambuknya, orang mengerti, dia hendak bertanding tak dengan tangan kosong. Di antara kaumnya Gak Koen Hiong ada bebcrapa pahlawan Boan yang ulung, mcreka ini tidak saja kcnal baik hal-ihwal jago tua ini, pun ada yang pernah bertempur dengannya, sebab sebagai salah satu pendiri Pie Sioe Hwee, pernah ada ketikanya or-ang-orang Pie Sioe Hwee hendak ditawan oleh pemerintah. Pernah pada satu malam, seorang diri In Tiong Kie lawan empat pahlawan dan dapat membinasakan tiga di antaraya. Maka itu, pahlawan-pahlawan Boan jerihj terhadapnya. Hong-liong-pian itu, selain bisa

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

digunai sebagai toya atau cambuk, j uga bisa dipakai membetot gcgaman orang. Melihat orang pada saling memandang saja, satu lhama yang dipanggil TjongTat To menjadi gusar sekali. Gegamannya ada Teng-tjoa-pang, ruyung atau toya Ular rotan,| terbuat dari rotan keluaran istimewa Tibet, sebelum dijadikan senjata, direndam dulu di dalam minyak, sampai seratus kali rendam dan seratus kali dijemur, ujung toya dilibati kavvat, hingga jadi kuat betul, dan tidak bisa terbabat kutung oleh golok tajam. Toya ini seperti Hong-liong-pian, termasuk senjata yang lemas. Biar aku yang terima tan tangan int! kata ia pada Gak Koen Hiong. I a bersikap jumawa. Satu tua bangka, apanya yang mesti dibuat jerih! Ia lantas maju, ia loncat naik ke atas panggung, dengan teladan In Tiong Kie, terus ia keluarkan toyanya dari libatan pinggang, lantas ia bentak ke depan sampai jadi lempang betul, seraya ia menantang: Silakan maju! Diam-diam In Tiong Kie tertawa dalam hati melihat toya orang itu. Rupanya toya ini ada anaknya cambukku, panjangnya pun hampir sama, demikian ia pikir. Baiklah aku coba ketangguhannya. Lantas, dengan satu seruan merendah, ia mulai menyerang lebih dulu. Tjong Tat To percaya, Hong-liong-pian mirip dengan Tengtjoa-pangnya, melihat serangan musuh, ia bersenyum tawar, ia lantas menangkis dengan Kim kauw siauw tjoe atau Ular naga emas mclilit tiang. Ia bentur Hong-liong-pian, ia hendak lilit itu, untuk dibetot copot dari cekalan lawannya. In Tiong Kie belum kenal cara bersilat musuh, walaupun ia menyerang, ia toh bersiaga untuk tidak sampai gagal dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kecele, maka itu, menampak cara menangkisnya, ia lekas tarik pulang cambuknya, dengan gerakan Koay bong hoan sin, atau Ular naga jumpalitan, ia bergerak ke kiri, terus ia balas menyabet ke arah pundak kanan dari lawannya itu. Tjong Tat To bukannya seorang lemah, ia tarik pulang toyanya, berbareng dengan itu, ia mencelat tinggi, mclcwati musuh, untuk turun di sebelah bclakangnya, lalu dari ini, sambi memutar tubuh, ia menyerang pinggang. Ia menggunai tipu sabctan Heng kang tjay long atau Memotong sungai, memutus gelombang. Gerakannyaadasangat gesit. In Tiong Kie ada seorang yang berpengalaman, ia pun pandai mendengar suara gerakan pelbagai senjata, ia tidak gentar menampak musuh berloncat melewati ia, malah dengan tidak menoleh lagi ke belakang, ia putar lengannya, ia menyabet ke belakang, untuk menangkis, hingga ia minp dengan orang yang mempunyai mata di bebokong. Lhama itu terperanjat atas cara orang itu menangkis terutama karena pian datangnya dari atas, turun rhenimpa dan menekan toyanya. Lekas-lekas ia gunai tipu Go tee liong atau Naga tidur di tanah, untuk membebaskan diri ancaman bahaya, ialah sambil mendak, ia berkelit. Bcnar-benar bahaya mengancam dengan segera. In Tiong Kie sudah putar tubuhnya, serangannya lebih jauh lantas mcnyusul, malah saling susul, dalam rupa-rupa serangan Tjay hong soan soh (Burung hong memutari sarang), In liong tiauw sioe (Naga menggoyang kepala), dan Lian hoan poan tah atau Serangan bertubi-tubi. Tiga serangan itu mengarah kepala, pinggang dan kaki, saling susulnya sccara sebat sekali. Tjong Tat To sudah berjaga-jaga, ia pun liehay, maka itu, walaupun serangan bertubi-tubi, ia dapat elakkan semua itu dengan ketangkasannya. Ia beTkelit, ia menangkis, ia berlompat. Di sebelah itu, ia pun lantas balas menyerang.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sebagai kesudahan, keduanya bertempur dengan sera, kegagahan mereka ada berimbang sekali, sampai beberapa puluh jurus, masih belum ketahuan siapa menang dan siapa kalah, mereka tetap saling menyerang. Satu kali Tjong Tat To kena didesak, dari tengah, ia sampai di pinggir. Ia ketahui i ni. ia mcnjadi gusar sekali. Ia mcmang beradat keras. Dcngan tiba-tiba, ia berseru, dengan pukulan Ya tjee tan hay atau Memedi memeriksa lautan, ia scrang batok kcpala orang. Ia ada sangat bernafsu, sampai agaknya ia lupa dcngan penjagaan diri. Terang ia ingin, dengan satu gebrakan itu, ia akan peroleh kemenangan yang memutuskan. In Tiong Kie lihat ancaman itu, diam-diam ia bergirang menampak kekosongan orang itu. Dengan sebat sekali, ia berkelit, membarengi itu, sambi! mengendap, ia membabat ke arah kaki lawan. Ia gunai tipu serangan Ouw Hong liang tee atau Naga hi tarn mcrebut tanah. Tjong Tat To tetap hunjuki keliehayannya. Ancaman itu hebat, tetapi ia insyafi itu. Malah sekarang ia sengaja, ia hendak keras lawan keras. Begitu, sambi I lompat berjingkrak, ia menyabet ke bawah, ke arah pian lawan, untuk bentur itu, untuk dililit, hingga kedua scnjata, cambuk dan toya, scpcrti saling meiibat, sesudah itu, ia lantas membetot dengan kaget dan keras, ia gunai seantero tenaganya. Di pihak lain, In Tiong Kie juga menarik tak kurang kcrasnya. Dua-dua, Hong-liong-pian dan Tcng-tjoa-pang ada alat-alat senjata kuat dan ulet, tetapi ini kali, menemui j timpalan, kcduanya sampai pada ajalnya. Tarikan getas dan keras, j disebabkan libatan sangat keras, mcmbuat dua-duanya patah dengan sekonyong-konyong, di antara suara nyaring dari patahan itu, dua-dua. In Tiong Kie dan Tjong Tat To jadi terpelanting sendirinya, masing-masing jatuh ke bawah panggung! Syukur untuk mereka, mereka bisa jatuh berdiri,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tangan mereka mencekali buntungan senjatanya masingmasing, napas mereka sama-sama memburu. Suara gent a menyusul dengan lantas, dan To Poet Hoan umumkan putusannya: Scbab dua-duanya jatuh dari panggung, pertandingan itu ditctapkan seri, tidak ada yang kalah, tidak ada yang menang. Pihaknya Gak Koen Hiong bergembira. Walaupun mereka tidak menang, toh In Tiong Kie, satu lawan tangguh, dapat dibikin tidak bisa * bcrbuat suatu apa. Tapi, sclagi mereka kegirangan, dari pihaknya Teng Hiauw, mereka lihat satu orang loncat naik ke atas panggung, apabila mereka telah kenali orang ini, mereka kaget. Orang dari pihak Teng Hiauw itu naik ke loeitay sambil berloncat. Dia ada satu hweeshio yang mukanya lebar dan sepasang kupingnya gede. Yang membikin orang terkejut, dia adalah Hong Tjin Hweeshio, pendcta kenamaan dari Siauw Lim Sie dari Gunung Siong San. Pada masa itu, di antara kedua golongan kaum persilatan yang utama, Boe Tong Pay dan Siauw Lim Pay, pihak Siauw Lim sendiri terbagi atas empat cabang, ialah cabang Pouwthian di Hokkian, cabang Teng-hong di Hoolam (Siong San), cabang Lam-hay, dan cabang Ngo-bie. Cabang Hoolam, yang dikenal sebagai Siong San Siauw Lim Sie, disebut sebagai Boelim Tjong-hoay, pusatnya. Ilmu silat Siauw Lim Sie terdiri dari tujuh puluh dua rupa, sesuatu cabangnya ada istimewa, umumnya melebihi Iain-Iain kaum. Umpamanya ada Tiat-seetjiang (Pasir Besi), Hek-see-tjiang (Pasir Hitam), Ang-seetjiang (Pasir Merah), Kim-see-tjiang (Pasir Emas), Kim-patjiang (Macan Tutul Emas), Tiat-pie-pee (Piepee Besi), Tiatsauw-tjioe (Sesapu Besi), Poan-dj iak-tj iang (Tangan Kecerdasan), dan Tiang-koen (Tangan Panjang). Dari empat puluh lebih rupa senjata rahasia, lebih dari separuhnya ada kepunyaan pihak Siauw Lim. Sedang Hong Tjin ini ada

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

hweeshio keluaran dari Madrasah Tat Mo Ih dari Siauw Lim Sie di Siong San. Madrasah ini dapat dimasuki cuma oleh hweeshio-hweeshio yang sudah sempurna pelajaransilatnya. Maka itu, pihaknya Gak Koen Hiong jadi sangat terpengaruh oleh nama Siauw Lim Sie. Dalam sibuknya, Gak Koen Hiong terpaksa ingin minta tulang punggungnya, Lhama Besar Kat Pouw Djie, untuk layani pendeta dari Siauw Lim Sie itu, akan tetapi belum sampai ia buka mufutnya, dari antara rombongannya sudah ada satu orang yang mendahului loncat naik ke atas panggung. Orang itu sama sekali tidak bicara lagi sama ia. Dia berumur empat puluh lebih-, tubuhnya kate dan dampak, mukanya penuh berewokan, romannya sangatjelek, tapi tubuhnya sangat gesit Tidak ada orangnya Gak Koen Hiong yang kenal orang ini, mereka semua menjadi heran. Sesampainya ia di atas panggung, segera ia kcluarkan gcgamannya. ialah sepasang ruyung Hoed-tjhioe-koay yang terbuat dari baja. Taysoe, sejak kita berpisah, apa kau ada banyak baik? demikian or-ang ini menanya Hong Tjin Hweeshio, sambil ia bersenyum sindir. Dianampaknyasangatjumawa dan menantang. Pendeta itu mengawasi, ia rasa kenal orang ini, apabila ia sudah mengingat-ingat, ia menjadi terkejut dengan sekonyong-konyong, hingga ia mengawasi lebih jauh dengan tercengang. Sekarang ini usianya Hong Tjin Hweeshio sudah mendekati enam puluh tahun. Dia sucikan diri bukan semenjak masih kecil, hanya baharu hampir tiga puluh tahun. Pada riga puluh tahun yang lalu, ia ada murid Siauw Lim Sie, yang biasa saja, dalam usia muda, ia sudah rampungkan pelajarannya, dari itu, ia terus merantau. Kemudian ia bekerja dalam satu piauwkiok. Ketika itu, dalam Rimba Pcrsilatan. orang justcm paling mcnangkan diri. Di dalam piauwkiok itu pun ada bekerja satu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

piauwsoc lain, keluaran Boc Tong Pay, namanya Hoe Touw Lam. Di situ dia in i ada dimalui. Tapi, dengan datangnya Hong Tjin, dia jadi merasa tidak senang. Sampai pada suatu hari, datanglah ketikanya untuk ia agulkan Kaum Boc long. Boc Tong Pay dan Siauw Lim Pay memang bcrdasarkan satu, kata Hoe Touw Lam. Pendiri dari Boe Tong Pay, ialah Thio Sam Hong Tjouwsoe, ada asal Siauw Lim Pay, yang pisahkan diri dan mendirikan cabang sendiri. Tapi Boe Tong Pay telah ambii bagian-bagian yang bagus dari Siauw Lim Pay dan buang bagian-bagian yang jclck, dia berdiri sendiri, scbagai ahh Iwcc-kcc, bagian dalam, dari itu, dipadu dengan Siauw Lim Pay, dia ada jauh tcrlcbih menang! Hong Tjin masih muda, ia pun baharu keluar dari perguruan, bias dimengerti jikalau ia jadi tidak senang. Apakah sih Iwee-kee dan gwa-kee? kata ia. Lwee-kee Boe Tong Pay ada muncu! dari Siauw Lim Pay. Pemecahan aliran itu ada untuk memperdayakan orang luar saja. Semua cabang silat, biarpun berlainan, ada masing-masing ilmunyayang luar biasa, dan semua membutuhkan latihan tenaga. Scsuatu cabang mesti mempunyai orang-orangnya yang liehay, jadi tak dapat dibilang, cabang ini mesti mcnangkan cabang yang lain. Atau Icbih tegas lagi, tak pasti lwee-kee akan kalahkan gwa-kee! Perselisihan paham ini lantas bcrubah mcnjadi pcrscngketaan, dari salmg bcrcbut omong, mcreka jadi sal ing sindir, karcna pcrdamaian tidak bisa didapatkan, mcreka putuskan itu dengan satu pertempuran. Hong Tjin tidak dapat kendalikan hawa amarahnya, dengan Kim-pa-tjhioe, ia lukai Hoe Touw Lam, sampai dia ini mendapat luka di dalam dan tak bisa yakir.kan ilmu silat Iebih jauh. Selang bebcrapa tahun, bahna kesal, dia jatuh sakit dan akhirnya menutup mata.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kejadian ini membuat Hong Tjin amat masygul, ia sangat menyesal, dan bclakangan lagi, iapun insyaf, pekcrjaan piauwsoc adalah berarti menjual jiwa untuk orang-orang yang uangnya banyak, pengubanan itu tidak berarti, maka akhirnya, ia pergi memasuki kuil, ia mcnjadi pendeta. Hoe Touw Lam telah meninggal dunia, tctapi ia ada mempunyai satu murid. Dia ini sangat mencintai gurunya, ia hendak menuntut balas. Satu kali, dia scrang Hong Tjin secara menggelap, tctapi dia bukan tandingan dari itu pendeta, dia kena dikalahkan. Hong Tjin sudah lukai guru orang, ia tidak tega eclakai penyerangnya ini, malah sebaliknya ia memohon maaf dari murid itu. Tapi dia ini bertabiat luar biasa, dia tidak matur maaf, dia tidak bilang suatu apa, dia ngeloyor pergi, terus sampai kira-kira tiga puluh tahun, tentang dia Hong Tjin tidak dengar suatu apa, sampai sekarang, tahu-tahu diamuncul di atas panggung adu kepandaian. Murid Hoe Touw Lam ini bemama Louw Kee Tjong. Segera setelah ia kenali Kee Tjong, Hong Tjin memberi hormat Lauwtee, apakah kau tetap tak bisa lupai urusan dari tiga puluh tahun itu? tanya ia. Dulu karenamelukai gunimu itu, aku menyesal bukan main. Kau tahu sendiri, gurumu bukan terbinasa di tanganku, dia menutup mata karcna sakit. Pada tiga puluh tahun yang lalu, aku telah mohon maaf dari kau, Lauwtee, dan sekarang ini, aku matur maaf kcmbali kepadamu. Jikalau kau inginkan aturan kaum Kang-ouw, aku nanti jamu kau, untuk haturkan maafku terlebih jauh. Lauwtee, bukankah urusan dapat dibikin habis? Kalau kau setuju, aku nanti atur ini schabisnya picboc ini. Aku datang kemari untuk kehormatan kaum Kang-ouw, untuk urusan besar, sedang urusan kita berdua ada urusan kecil, urusan perseorangan. Kau toh bukannya tidak ketahui scbabmusabab dari pieboe ini? Maka kenapa kau hendak mengacau,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dengan campur-baurkan urusan kita berdua? Apakah mungkin kau ada kambratnya Gak Koen Hiong? Louw Kee Tjong bukannya konco dari Gak Koen Hiong, selama beberapa puluh tahun, ia terus yakinkan ilmu silat dengan maksud tujuan satu saja: untuk mencari balas buat gurunya. Mengenai pieboe ini, ia tak tahu benar siapa betul dan siapa salah, ia juga tidak bermat membantu salah satu pihak. Ia lihat Hong Tjin Hweeshio, ia turut naik di atas panggung, guna bertempur, agar ia mewujudkan pembalasannya. Inilah ada terlebih baik lagi, karena mereka bertempur di muka orang banyak. Maka itu, tak sudi ia mendengari nasihat pendeta tua itu. Ia goyang-goyang Hoedtjhioe-kay, ia tertawa dingin. Enak sekali kau bicara! dcmikian ejekannya. Guruku terbinasa karena kau, aku telah bersabar tiga puluh tahun, apa itu masih belum cukup? Tidak dapat kau habiskan urusan secara begini gampang. Bagaimana caranya dahulu kau rubuhkan guruku, begitu juga caranya sekarang aku hendak rubuhkan kau! Kau hajar guruku dengan Kim-pa-tjiang, sekarang aku hendak beri kau rasa Hoed-tjhioe-kay! Dengan tongkat membayar tangan kosong, itulah bunga untuk tiga puluh tahun! Tapi mengenai urusan pieboe ini, siapa benar siapa salah/ aku tidak sudi campur. Umpama kata kau tak ingin aku mengacau, baik, sekarang kau segera umumkan kepada khalayak ramai bah wa kau men ye rah kaiah, kau tidak bcrani Iawan aku, kemudian kita orang can satu tempat sunyi di rnana kita berdua boleh adu kepandaian kita! Mendengar kata-kata orang itu, Hong Tjin merasakan dirinya dibikin jadi menunggang harimau. turun atau duduk terns, jadi serba salah. Coba mereka ada di lain rempat, dengan gam pang iasuka mengaku kalah saja. Sesudah puluhan tahun sucikan diri, pikirannya sudah bebas. Buat ia sendiri, kalah pun tidak bcrarti. Tapi di sini ada mengenai rombongannya Teng Hiauw, maka kecewa sekali bila ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengaku kalah tan pa bertempur lagi. Kekalahannya akan mcngakibatkan kekalahannya Teng Hiauw dan Boe Wie. Bagaimana ia dapat lakukan itu? Dan sebagai wakil dari Siauw Lim Pay, cara bagaimana tak keruan-keruan, ia mcsti menyerah kalah terhadap musuh pribadi? Apakah itu tidak akan mencemarkan golongannya? Kalau bertempur, ia tidak tega melukai Kee Tjong, tanpa dilukai, sulit muridnya Hoe* Touw Lam dirubuhkan jatuh dari atas loeitay. Dari romannya orang, ia tahu benar, orang she Louw ini sudah sempurna pelajaran silatnya. Selagi pendeta ini bersangsi, di bawah orang bertempik sorak riuh. Ttulah pcrbuaian rombongan Gak Koen Hiong. Mereka dengar Hong Tjin bicara, tapi tidak terdengar apa katanya, mereka tampak pendeta itu bersikap lesu, mereka sangka orang jerih, dari itu, mereka berseru-seru, antaranya ada yang teriaki: Di atas loeitay bukan tempatnya untuk bicara hal dulu-dulu! Pieboe bukannya urusan menghadapi bcsan! Eh, kenapa si keledai botak masih tidak mau turun tangan? Juga To Hoan dan Kong Tat tidak mengerti melihat orang masih berhadapan saja, yang satu sikapnya menantang, yang lain seperti jerih, hiingga mereka memikir untuk mcndcsak, supaya dia orang itu segera mulai bcrtanding. Justeru itu, Hong Tjin loloskan jubahnya, kemudian seraya pasang kuda-kudanya, ia kata pada penantang itu: Lauwtee, kau telah desak pintjeng hingga pintjeng tidak bcrdaya lagi. Silakan kau maju! Louw Kee Tjong melirik dengan tajam. Apakah kau hendak gunai sepasang tanganmu yang kosong buat layani tongkat Hoed-tjhioe-koay? ia tanya sambil berseru. Pendeta itu tertawa.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sudah ban yak tahun aku sucikan diri, sudah tak biasa lagi bagiku buat menggunai golok atau pedang, ia mcnyahut dengan manis. Lauwtee, silakan kau maju, sesukamu, jangan sungkan-sungkan! Louw Kee Tjong jadi gusar. Ia anggap ia sudah dipermainkan. Keledai botak! ia mendamprat. Kau sudah bikin celaka guruku, sekarang kau perhina aku! Dan ia geraki sepasang tongkatnya, dalam gerakan Siang Hong djip hay atau Sepasang naga masuk ke dalam laut. Ia menyerang dengan berbareng, dari kiri dan kanan. Hong Tjin Hweeshio berserryum. Mengikiiti datangnya kedua tongkat, ia mondur tetapi begitu Ickas juga, kaki kirinya maju ke samping, nyela bumi, akan tekan lengan kanan orang seraya teruskan menggempurpundak kanan lawan itu. Inilah hebat! Tapi Kee Tjong lekas egosi tubuhnya seraya mengendap sedikit, hingga ia lolos dari bahaya, tangan lawan cuma berkelebat di depan mukanya. Hong Tjin menyerang melainkan sampai di situ, ia tidak mcndesak, ia tak tega akan turunkan tangan j ah at. Kee Tjong tidak mengerti bah wa orang merasa kasihan terhadap dirinya, selagi si pendeta hcntikan serangannya, tibatiba ia rubuhkan diri, ia bergulingan, lalu sambil bcrgulingan ia maju, akan menyerang orang bagian bawahnya, kedua tongkatnya bergerak secara hebat sekali. Kedua tongkat itu sama sekali tidak bentrok dengan lantai panggung. Hong Tjin terperanjat juga melihat lawan itu gunai Tee tong koen, ilmu silat Bergulingan di tanah. Segera ia mengapungkan tubuhnya, akan meloncat buat terus berloncatan, ke sana dan kemari, akan saban-saban menyingkir dari sambaran tongkat, yang datang seperti tidak putusnya karena tubuhnya Kee Tjong berguling ke arah mana

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ia menyingkir. Yang hebat, bukan melainkan tongkat, hanya juga kaki dan dengkulnya orang she Louw ini bisa turut menyerang juga, menendang atau mendupak secara hebat. Dengan berkelahi dengan tangan kosong, dengan menghadapi senjata, nampaknya Hong Tj in Hweeshio ada terdesak, ia pun kelihatan seperti bclum tahu caranya untuk pecahkan Tee-tong-koen, dari itu, ia terus main mundur, ia seperti bakal lekas sampaikan tepi panggung. Pihaknya Gak Koen Hiong sudah lamas memperdengarkan tepuk tangan riuh, mereka percaya, pendeta itu bakal segera kena dikalahkan. Walaupun ia sedang berkelahi dan agaknya terdesak, Hong Tjin dengan tempik sorak riuh itu, yang membuar air mukanya berubah dengan tiba-tiba, | hingga di lain saat, ia perdengarkan tertawa yang panjang, lalu tubuhnya bergerak cepat, karena kedua kakinya tidak lagi lompat-lompatan untuk berkelit saja, hanya sekarang, ia berkelit sambil mcmbalas menjejak. Ia sudah mulai gunai Wan-yho Tjin-pou Lian-hoantwie, ialah gerakan kaki maju saling bcrganti. Scbentar saja, keadaan lantas jadi berubah. Kalau tadi ada 1 ah si pendeta yang terdesak, kini adalah Kee Tjong yang main mundur. Kedua tangannya si pendeta juga sering-sering menyambar, akan tangkap tongkat orang. Pertempuran itu membikin sekalian penonton menjadi kagurn, hingga dari bertepuk tangan, mereka jadi berdiam, sampai mata mcrcka seperti kabur. Kedua lawan itu bcrgcrak ccpat sekali. Kcl i hatannya Hong Tj in Hweeshio mcnang di atas angin, tetapi satu kali, mendadakan sebatang tongkat menyambar naik, ke arah kcmpolannya, disusul dcngan suara menggcietak yang nyaring. Orang tcrkcj ut, semua menyangka, pcndcta itu sudah kcna dihajar, tetapi, segera orang melengak, karena suara

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menggcietak itu disusul dcngan suara tcrtawa yang panjang, tubuhnya Louw Kec Tjong terpentai tcrguling satu tumbak lebih, di mana ia mcncclat bangun akan bcrduduk, di lain pihak tongkatnya, tongkat dari tangan kanan, sudah bcrada di tangan Hong Tjin, siapa, dcngan satu kali tekuk saja, sudab bikin senjata itu, yang terbuat dari baja, menjadi patah dua! Dan kedua patahannya segera di lemparkan ke bawah panggung. Habis itu, Hong Tjin bcrtindak menghampin lawannya. Lauvvtee, aku telah terima pukulan sebatang tongkat dari kau, kau niscaya sudah puas, bukan? ia berkata sambiltertawa. Mukanya orang she Louw itu pias pucat, dengan tidak mengucapkan sepatah kata jua, ia berbangkit untuk bcrtindak turun dari panggung. Hong Tjin biarkan orang pergi, ia menoleh kepada kedua wasit, untuk menjura, kemudian ia pun berlalu dari panggung piranti pieboe itu. Kcsudahan ini tidak mendapat tcpukan tangan dari para hadirin semua orang heran menyaksikannya. Hong Tjin Hweeshio tak inginkan kckalahan, di lain pihak, ia be rat akan lukai Louw Kee Tjong, dari itu, selagi berkelahi, ia bcrpikir kcras, pikirkan jalan menamatkan pertempuran ini untuk kebaikannya kedua pihak. Koen tee tong dan Kee Tjong membuat ia sulit, desakan musuh membikin ia mesti mundur, maka akhimya tcrpaksa ia kasih lihat Wan-yho Tjinpou Lian-hoan-twie -Burung Wan-yho maju silih berganti, dengan itu, ia dapat pecahkan desakan orang sambil bergulingan. Selagi balik mendesak, ia pun masih pikirkan daya untuk bikin lawan itu tidak berdaya. Ia masih ban yak lindungi muka terang mcreka. Di akhimya, ia lihat serangan hebat dari Kee Tjong ke arah kcmpolannya, lantas ia dapat pikiran, berbareng mengasih dirinya kena dihajar, ia pun

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tangkap dan rampas tongkat orang. Dengan memberi kempolannya dikemplang, ia tidak merasakan terlalu sakit, dari itu, dengan lantas ia bisa patahkan tongkat bajanya. Sekalipun To Poet Hoan dan Yo Kong Tat, kedua wasit, menjadi bingung, hingga mereka tidak dapat segera memberi putusan, adalah setelah keduanya berdamai, mereka umumkan bahwa pertandingan itu berkesudahan seri, sebab tidak ada salah satu yang jatuh ke bawah panggung, benar yang satu kena dihajar dengan tongkat, akan tetapi yang lain pun kena didupak terpentai hingga jatuh duduk! Dua-dua Hong Tjin Hweeshio dan Louw Kee Tjong terima baik putusan itu. Hong Tjin memang hendak menolong muka dan jaga muka terangnya Kee Tjong, dan Kee Tjong di lain pihak pernah menyatakan, dengan tongkat melawan tangan kosong, ia ingin dapati bunga untuk sakit hati gurunya selama tiga puluh tahun. Dengan demikian juga, dendaman mereka menjadi buyar. Gak Koen Hiong girang dengan kesudahan ini, karena dua pertandingan,dua-duanya berkesudahan seri. Sekarang ia hendak rebut kemenangan, dari itu ia lantas pilih satu jagonya, yang mengerti Tiam-hiat-hoat, ilmu menotok jalan darah, ialah Kouw Hoei In. Dia ini, dalam umur cnam puluh lebih, masih gagah. Dia pun ada soesiok, paman guru, dari Ouw It Gok. Ouw It Gok ini, yang satu jari tangannya pernah dibabat Law Boe Wie, tidak berani naik ke loeitay, dan ia telah minta pamannya itu sukamenampilkan diri. Begitu lekas ia sudah naik ke atas panggung, Kouw Hoei In segera memperlihatkan sepasang Poan-koan-pitnya, ruyung yang beroman seperti pit, alat menulis. Inilah alat istimewa untuk menotok jalan darah, panjangnya cuma satu kaki delapan dim. Kalau senjata umumnya ada satu dim panjang, satu dim tambah Iiehay, adalah Poan-koan-pit satu dim pendek, satu dim tambah berbahaya. Dan satu kali dia pcrton

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tonkan senjatanya ini, orang di bawah panggung semua mengerti bahwa ia adalah seorang Iiehay. Di pihaknya Teng Hiauw, Tok-koh It Hang mengerutkan alis. Ia tahu siapa adanya jagonya Gak Koen Hiong itu, Tiamhiat-hoat siapa adalah latihan dari beberapa puluh tahun. Ia insyaf betapa sukarnya untuk mclayani orang she Kouw itu. Daiam rombongannya ada Lo Hoan Sian, ahii Tiam-hiat-hoat Hoei In dengan Kim-na-tjhiocnya. Benar di saat pada Kouw Hoei In, ia kuatir, orang Soc-tjoan ini nanti kalah iatihan, apabila Hoan Sian sampai kalah, sayang namanya sebagai jago Soc-tjoan nanti runtuh. Pikir punya pikir, ia anggap baik I ah ia sendiri yang maju, untuk mclayani Tiam-hiat-hoat Hoei In dengan Kim-na-tjhioenya. Benar di saat ia hendak geraki kakinya, untuk berbangkit, tiba-tiba ia rasakan ada seorang menckan pundaknya dari belakang scraya berkata dengan pelahan: Buat sembelih ayam buat apa pakai golok piranti potong kcrbau? Biarlah siauwtee yang layani babak ini. Segera Tok-koh It Hang menoleh. lantas ia kenali Thie-bian Sie-seng Siangkoan Kin, si Mahasiswa Muka Besi dari Kangsouw, maka sedetik itu juga ia keluarkan napas lega, terus ia bcrduduk pula, sambi I is caci dirinya sendiri kenapa dia boieh lupai sahabatnya itu. Siangkoan Kin sudah benimur mcndckaii lima puluh tahun, tetapi ia bermuka putlh dan tidak bcrkumis jenggot, dengan jubah panjang dari sutera dan tangan mencekal kipas, dengan tindakannya yang lemah-lembut ia tcrtampak sangat sederhana, agung tetapi man is budi, tidak heran kalau iadapat julukan si anak sekolah. Ia jalan dengan peiahan, sesampainya di bawah panggung, ia dongak. Aya! ia berseru sendirinya. Kenapa panggung ini begini tinggi? Aku tak dapat lompat untuk menaikinya. Lalu, dengan sebelah tangan goyang-goyang kipasnya dan tangan yang lain menyingkap ujung bajunya, ia menginjak langga, naik setindak demi setindak.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Panggung tinggi satu tumbak delapan kaki. untuk itu ada disediakan sebuah tangga dengan banyak tindakannya, sekarang Siangkoan Kin gunai tangga itu. Ia tidak naik sambil berlompat seperti yang lainnya, tidak heran kalau ia menerbitkan tertawanya banyak orang, hingga di bawah panggung jadi gempar. Tapi ia tidak perdulikan orang banyak, ia naik terus, sampai ia berada di atas, selagi ia berdiri di depannya Kouw Hoei In, ia rangkapi kipasnya, matanya mengawasi ahli Tiam-hiat-hoat itu, dari atas ke bawah, lalu tiba-tiba ia menuding dengan kipasnya itu, juga ia tcrtawa dan kata: Aku kira siapa, kiranya Kouw Hoei In dari Hoolam! Rerunning, aku bcruntung sekali bisal bcrtcmu dengan kau, aku memang sedang memikir untuk tenma ajaran ilmu menotok dari kau! Kedua orang ini belum kenal satu pada Iain, akan tetapi nama dan ro-man mcrcka, mcrcka pcrnah dengar dan ketahui, begitulah Kouw Hoei In apabila ia saksikan tampang dan cara dandan dari Siangkoan Kin, ia percaya betul, orang ini mestinya ada Thic-bian Sie-seng si Mahasiswa Muka Besi, maka itu, ia terperanjat, berbareng dengan mana, ia pun mcndongkol. Ia ada di tingkatan tcrlcbih tua, sudah tentu ia gusar, ia tak dapat sabarkan diri menerima ejekan orang itu. Hoei In pun datang membantu Gak Koen Hiong karena ia diperolok-olokkan olch Ouw It Gok, keponakan muridnya, sama sekali ia tidak punya pcrkcnalan dengan Ketua Muda dari Gie Hoo Toan itu, dari itu, ia juga pemah janji, ia suka membantu dalam satu pcrtandingan saja, kalah atau menang, tetap satu kali. Ia berjanji demikian untuk menjaga muka terang dari It Gok. Siapa tahu, ia yang belum pernah ketemu tandingan, sekarang mesti berhadapan dengan Siangkoan Kin, siapa pun justeru telah singgung keagungannya. Sebenarnya, ia tidak jerih terhadap si mahasiswa itu, walaupun namanya dia ini ada tersohor.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kau rupanya ada Thie-bian Sie-demikiania menegur, dengan suara keras. Di hadapan orang terlebih tua, cara bagaimana kau berani bersikap begini kurang ajar? Sekarang kau keluarkan senjatamu, biarpun aku sudah tua, aku tidak nanti berlaku sembrono! Siangkoan Kin tertawa dalam hatinya mendengar orang anggap dirinya ada dari golongan terlebih tua. Dalam hal usia, Hoei In memang lebih tua, tetapi cuma delapan atau sepuluh tahun, akan tetapi bicara tentang tingkatan, di antara guru mereka, sama sekali tidak ada hubungannya, hingga tak beralasan akan orang she Kouw itu mengagulkan diri. Tapi, ia tidak gubns ini. Karena ia ditantang, ia bersenyum, lantas ia hunjuki kipasnya. Seorang yang terlebih muda mesti berlaku hormat kepada orang yang terlebih tua, berkata ia, maka itu biarlah aku gunakan kipasku ini saja Untuk menerima ajaran dari kau. Sepasang alisnya Kouw Hoei In menjadi berdiri, ia gusar bukan main. He, kenapa kau memandang begini hina padaku? ia menegur dengan geramnya. Karena kau tidak niat pakai senjata, baiklah kita menggunakan tangan kosong saja! Siangkoan Kin tidak menjadi gusar, malah ia tetap bersenyum. Tapi menyusul itu, ia geraki kipasnya secara tibatiba. Kouw Tjianpwee, kau lihatlah biar terang, berkata ia. Ia masih sebut orang tjianpwee, orang yang lebih tua tingkatannya. Aku punya senjata adalah ini kipasku, tidak biasanya untuk aku menukar gegaman dalam saat kesusu. Kouw Hoei In mengawasi dengan tajam pada kipas orang itu, maka sekarang ia dapat kenyataan, dilihat dari Iuarnya, yang hitam warnanya, kipas itu mesti terbuat dari baja, sedang kedua tulang sampingnya, yang bersinar, mengkilap, rupanya ada lempengan pisau yang tajam. Segera ia insyaf,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

apabila si Mahasiswa ini pandai Tiam-hiat-hoat, benar-benar ia tidak bolch memandang enteng, karena kipas itu ada terlebih pendek daripada Poan-koan-pitrrya. Jikalau demikian, nah, kau sambutlah! akhirnya orang she Kouw ini berseru. Ia belum tutup rapat mulutnya, kedua tangannya sudah mendahului bergerak. Dengan Siang hong koan djie atau Sepasang angin meniup kuping, pit kirinya mengancam muka, dan pit kanannya menyerang jalan darah Hoa-khay-hiat dari Siangkoan Kin. Bagus! Siangkoan Kin juga berseru. Ia berkelit, hingga dua-dua serangan gagal. Tapi, dengan sangat gesit, iamaju, akan balas menyerang. Ia arah jalan darah In-tay-hiat. Kouw Hoei In turunkan pitnya secara berat, untuk punahkan serangan itu, akan tetapi Siangkoan Kin batalkan serangannya, ia menarik pulang, untuk turut menyambar jeriji tangan orang. Dengan terpaksa, juga tergesa-gesa, Hoei In tank pulang senjatanya, berbareng dengan itu, sekalian ia geraki tubuhnya, mengendap, hingga dengan satu gerakan susulan, kedua Poan-koan-pit bisa menotok pula, ke arah betisnya lawan, padajalan darah Hoan-tiauw-hiat dan Kwan-goanhiat. Ia punya gerakan mengendap itu ada Bwee hoa loh tee atau Kembang bwee jatuh ke tanah. Dengan mengisarkan kaki dengan Lauw tjie djiauw pou atau Peluk dengkui untuk memutar kaki, Siangkoan Kin berkelit, kipasnya digeraki, dipakai mcnangkis, mcncruskan mana, ia juga totok jalan darah orang Tjo kin tjeng hiat di pundak kiri. Kouw Hoei In sedang keluarkan dua-dua senjatanya, ia tidak dapat kcscmpatan untuk mcnangkis, terpaksa ia mcnyampingkan tubuhnya, akan menyingkir jauhnya beberapa kaki. Ia berhasil membebaskan diri dari bahaya, akan tetapi, ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

rasai mukanya panas, saking jengah sendiri. ia pun terluput dari ancaman bahaya hebat. Siangkoan Kin tidak mau mengasih hati, ia lompat menyusul, ia geraki kipasnya, untuk lanjuti serangannya. Sckal i ini, kipasnya itu dipakai dalam gerakannya Pie-hiat-kwat, cangkol untuk menutup jalan darah, dan pedang Ngo-hengkiam, ujung kipas senantiasa mencari bagian. bagian anggota yang berbahaya. Menampak gerakan musuh itu Kouw Hoei In tidak berani abaikan diri, ia segera hunjuk kesebatannyaj akan halau sesuatu bahaya, buat balas mengancam juga, hingga di sinil kelihatanlah peryakinannya daril beberapa puluh tahun, tidak percuma ia menjadi satu ahli. Dua-dua Poan-koan-pit dan Thie-sie-tjoe, kipas besi, biasa mencari tiga puluh enam jalan darah, dari itu setiap totokan ada berbahaya sekali karena mana, kedua orang yang lag! bertempur, mesti berlaku waspada, gesit dan tangkas. Lekas sekali rasanya, pertandingan ini sudah mclalui lima puluh jurus, adalah setelah itu, Kouw Hoei In insyaf liehaynya lawan, karena berulang-ulang, semua penyerangannya dapat dipunahkan, hingga ia tidak lagi sanggup bergerak dengan lcluasa, seperti di jurus-jurus permulaan, sedang di lain pihak, rangsekan lawan itu ia rasakan tetap sama berbahayanya, hingga ia mesti berlaku luar biasa hati-hati. Sesudah lewat lagi beberapa gebrakan, sekonyong-konyong .pit kiri dari Hoei In menyambar jalan darah Hoen-soei-hiat dari Siangkoan Kin. Itu ada serangan Sian-tjoe song tjoe atau Dewi mengantar anak. Siangkoan Kin egosi tubuhnya sambi! melesat, lalu kakinya melesat lebih jauh, baharu tiga tindak, tahu-ahu ia sudah berada di belakang lawannya. Hoei In insyaf ancaman bahaya, dengan gesit ia memutar tubuh.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Thie-bian Sie Seng antap orang putar tubuh, setelah itu, ia majukan kipasnya sambil dibuka, kakinya pun turut maju, hanya gerakannya, mirip dengan gerakan orang sedang mainmain. Tapi kipasan itu ada hebat, anginnya menyambar keras ke mukanya- Kouw Hoei In, hingga matanya dia ini menjadi sukar melihat Justeru itu, sampailah kakinya si Mahasiswa Muka Besi, sedang kipasnya juga lantas dirangkap pula hingga menjadi kuncup lagi, terus dipakai rnenyerang, dari kiri kanan, dikibaskan. Kouw Hoei In terkejut, ia angkat tangan kanannya, untuk menangkis, tetapi ia terhalang oleh penglih&tannya, yang sesaat itu kurang awas, tahu-tahu lengan kanannya kena terbentur k;pas, mengenai tepat jalan darahnya Kwan-goanhiat, maka tidak tempo lagi, pitnya terlepas dari cekalannya dan jatuh ke lantai panggung dengan perdengarkan suara nyaring. Menyusul itu, Siangkoan Kin memperdengarkan suara tertawa berkakakan, tubuhnya melesat mundur, kipasnya pun dipakai mengipasi dirinya. Maaf, maaf, terima kasih untuk pengalahan kau, kata ia. Kau keliru tangan, Tjianpwee, harap kau jangan sesali aku. Mukanya Kouw Hoei In menjadi merah dan pucat, saking maiu. Nama baiknya dari puiuhan tahun, sekarang sekejab saja tclah kena dibikin turun. maka dengan cuma mengucapkan dua patah kata mcrcndah, ia loncat turun dari panggung. Ia sebenarnya hams bcrtcrima kasih kepada Siangkoan Kin, apabila lawan ini berlaku ganas, ia bukan akan cuma dapat malu saja, dia akan eclaka juga, sedangkan ia sudah berusia lanjut. Darahnya berhenti jalan, ia tidak terluka parah. dari itu, scndirinya ia mampu perbaiki jalan darah itu, maka itu, ia bisa segera loncat turun pula.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Begitu lekas orang loncat turun. Siangkoan Kin juga berlalu dari atas panggung. Akan tetapi ia tidak loncat seperti lawannya itu, hanya di antara tempik sorak riuh rend ah, sambil sebelah tangan menggoy ang kipas dan scbclah yang lain menyingkap bajunya, ia hampirkan tangga, untuk bcrtindak turun dengan pclahan-lahan persis seperti di waktu naik tadi Ia seperti bukannya orang yang pieboe. Gak Koen Hiong lihat pihaknya kembali kalah, ia malu bukan main, ia bingung sekali. Memang, ia tidak tahu mesti berbuat apa, ia lihat tuiang punggungnya, Lhama Besar Kat Po Djie, berbangkit berdiri. Gak Lauwtee, jangan bersusah hati, menghibur pendeta itu. Nanti aku naik ke panggung, untuk rebut pulang muka terangmu. Lhama besar ini naik ke panggung bukannya seperti IainIain orang, bcrsama iaada ikut pengiringnya, satu kacung lhama. Dan kacung ini menggendol satu kulit yang besar, yang nampaknya melembung, melainkan tidak diketahui, apa adanya isi itu. Semua penonton merasa hcran. semua mengawasi dcngan penuh pcrhatian. Sciclah berada di atas panggung, lhama besar itu tidak segera keluarkan tantangannya, hanya terlcbih dahulu ia hadapi kedua wasit, kepada siapa ia menjura, kemudian ia tanya: Bukankah di atas loeitay ini orang merdcka untuk adu kcpandaian apa saja? To Poet Hoan mengawasi, ia dengar nyata pertanyaan orang itu. Benar, kau ada merdeka, ia bcrikan jawaban. Melainkan di scbelah itu, pihak yang menjadi lavvan juga mempunyai kemerdekaan, hingga ia berhak untuk mencrima atau menolak tantangan kau. Umpama kau hendak adu senjata rahasia, kau bolch menggunakan itu, tetapi mungkin ada lawan yang tidak mau gunai senjata rahasia juga dan akan punahkan senjata

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

rahasia kau dengan tangan kosong. Pendek, dalam hal kepandaianmu, kita wasit tidak cam pur tahu. Tapi, kapan ia ingat adanya si lhama cilik, segera ia menambahkan: Tapi aturan pieboe adalah satu lawan satu, tak bisa dua lawan satu, dan itu coba terangkan, di antara kau orang berdua, siapa yang hendak pieboe terlebih dahulu? Kat Pou Djie tertawa besar. Tentu saja aku! kata ia dengan jawabannya. Dan terus ia kasih perintah pada kacungnya: Buka kantongitu! Berdua To Poet Hoan dan Yo Kong Tat mengawasi dengan mata terbuka lebar. Lhama cilik itu turut perintah, ia sudah lantas buka kantongnya, yang melembung itu, lantas dari situ ia tarik keluar, satu demi satu, golok Lioe-yap-too yang ujungnya lancip. Golok itu tajam di dua-dua muka, melainkan gagangnya yang orang bisa pegang. Habis itu, kedua lhama ini bavva golok-golok itu jalan memutarkan panggung, saban-saban mercka tancapkan di lantai panggung, diaturnya malangmelintang, hingga sebentar kemudian, loeitay itu mirip dengan rimba golok, semua ujung menunjang langit. Sama sekali ada tujuh puluh dua batang, cahaya matahari telah menerbitkan sinar berkilauan. Sesudah selesai menancap pelatok istimewa itu, si lhama cilik segera turun dari panggung, sebaliknya si lhama besar sudah lekas loncat ke atas pelatok golok itu, buat terus lari berputaran di atasnya, akan kemudian, dengan tiba-tiba, ia berdiri diam di atas sebatang golok, di tengah-tengah, sebelah kakinya diangkat ke tinggi, hingga ia injak hanya dengan scbelah kaki yang lain. Nah, tuan siapa sudi naik keman, untuk kita orang beradu tangan di atas rimba golok ini? demikian ia menantang,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sikapnya ada jumawa, terang ia sangat memandang enteng kepada pihak lawan. Baharu sekarang banyak orang yangmengulur lidahnya. Itulah yang dipanggil panggung loeitay Bwee hoa kian atau Pelatok Bunga Bwee. Melainkan alatnya, sekali ini ada dipakai golok-golok lioe-yap-too. Siapa tidak sempurna ilmunya mengentengi tubuh, Tjeng-kang-soet, jangan harap dia bisa naik di atas pelatok-pelatok tajam itu. Tok-koh It Hang awasi sikap jumawa orang itu, ia kerutkan alisnya. Ia tahu benar, pihaknya ada orang-orang yang mengerti Tjeng-kang-soet, tetapi untuk bersilat di atas pelatok golok, pasti tidak ada, karena di sebelah keentengan tubuh dan kepandaian silat, orang mesti juga sudah biasa berloncatan di atas pelatok. Sekalipun iasendiri, iamasih sangsteangsi, walaupun ia percaya, setelah peryakinannya puluhan tahun, tak nanti gampang-gampang ia kena dikalahkan. Saking terpaksa,ia hendak majukan juga dirinya. Akan tetapi, selagi ia hendak berbangkit, ada orang yang telah dului, orang itu ada seorang dusun yang usianya sudah lanjut, bajunya gerombongan, terus saja dia ini bertindak ke arah panggung. Pek-djiaow Sin Eng terkejut apabila ia lihat tindakan orang. Orang dusun itu tidak berlari-lari, toh langkahnya cepat, sebentar saja, dia sudah sampai di bawah panggung. Dan yang mengherankan, ia tidak kenal orang dusun ini. Jikalau jago Liauw-tong ini bingung, adalah Teng Hiauw segera hunjuk air muka terang, suatu tanda ia bergirang. Orang tua itu adalah soepehku, ia kasih tahu Boe Wie. Tok-koh It Hang dengar perkataan orang itu, selagi Boe Wie tidak bilang apa-apa. ia tarik tangannya putera dari mendiang Teng Kiam Beng itu. Apa, soepehmu? tanya ia bahna herannya. Engkongmu cuma wariskan kepandaiannya kepada dua orang, ialah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

soepehmu Lioe Kiam Gim dan ayahmu sendiri; sekarang dari mana datangnya satu soepehmu lagi? Teng Hiauw bersenyum. Inilah panjang untuk dijelaskan, Tjianpwee, ia menyahut. Ringkasnya dia benar ada soepehku. Aku toh telah pelajari ilmu silat Thay Kek Koen dari dua cabang Thay Kek Pay. Orang tua itu ada kandanya Thay Kek Tan dan Tan-kee-kauw di Hoolam, maka dia itu adalah soepehku. Pada waktu itu, Thay Kek Koen dari Tan Pay dan Teng Pay ada sama-sama tersohornya. Seperti pernah dituturkan, Tjiang-boen-djin dan Tan-Pay Thay Kek Koen ada Tan Eng Toan, turunan dan Tan Tjeng Peng. Tan Eng Toan ini ada anak yang ketiga, tetapi dialah yang diangkat menjadi ahli waris. Orang tua yang seperti orang dusun ini ada Tan Eng Sin, anak yang kcdua, ia ketarik benar sama ilmu silat, ia terus yakinkan itu, tetapi ia mengalah dari adiknya, ia juga sangat jarang mcrantau, tidak hcran apabiia Tok-koh It Hang tidak kenal padanya. Mai ah Tcng Hiauw sendiri tidak tahu kapannya soepeh itu telah datang dan campuri diri dalam rombongannya. Selagi Tok-koh It Hang dan Teng Hiauw bicara, Tan Eng Sin sudah naik ke atas panggung, tetapi ia bukannya Ion cat mclesat, hanya ia mengapungi diri, dan sesampainya di atas, bukannya ia injak panggung Iebih dahulu, hanya terus saja ia taruh kaki atas sebuah pclatok golok, kaki kanan mengenai golok, kaki kiri diangkat,! sebab ia perlihatkan sikap Kim kee tok lip atau Ayam emas berdiri dengan sebelah kaki. Ia pun berdiri menghadapi si lhama besar, kepada siapa terus saja sambil tertawa ia berkata: Tidaklah sal ah yang kau menyusun ini macam permainan, aku si orang desa belum pernah melihatnya, dari itu aku sengaja lari datang kemari untuk main-main di atasnya! Tapi golokmu ini d i tancapny a ku rang tcguh, kau mesti sedikit hati-hati, jangan nanti kau terpeleset sendiri!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kat Pou Djie heran melihat roman orang itu biasa, tetapi kepandaiannya tinggi, hingga ia menduga-duga, dalam rombongannya pihak lawan sebenarnya ada berapa banyak orang pandainya, sebab ini orang desa saja sudah begini liehay. Tapi sudah terlanjur, ia tidak dapat mundur, lantas ia ringkaskan jubahnya. Silakan maju! ia mcngundang. Semua mata di bawah, dari dua-dua pihak diarahkan kepada orang tua pedesaan ini. Dia berdiri dengan kedua kaki dikasih turun, kedua kakinya tidak bcr-kuda-kuda, scpuluh jarinya juga dilcmpangkan ke bawah, telapakan tangannya menghadap ke bawah juga. Ia kasih lihat sikap Thay Kek Pay, seperti biasanya orang berlatih di tanah datar. Dengan kedua mata dipcntang lebar, Kat Pou Djie mengawasi pihak lawannya. Eh, kau masih belum mau maju? Tan Eng Sin tanya sambil tertawa. Mau apa kau mengawasi saja? Lihat, sebentar bakal ada pertunjukan yang menarikhati! Sebenarnya lhama itu menantang, tapi orang tak gubris tantangannya, sebaliknya, sekarang ialah yang balik ditantang, karena itu, ia jadi mendongkol. Dengan tiba-tiba, sambil berseru, ia maju menyerang. Ia loncati dua buah pelatok, hingga ia datang dekat lawan itu. Gerakan kakinya dan tangannya sangat gesit. Atas serangan itu, Tan Eng Sin baharulah beraksi. Tangan kirinya diangkat, lima jarinya dinaiki, untuk menangkis, lantas tangan kanannya, dengan jari terbuka, ditaruh di dekat sikut. Ia menangkis dengan tipu silat Lam tjiat bwee atau Mencekal ekorburunggereja, iateruskan serang lengan orang itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Disambut secara demikian, Kat Pou Djie lekas-Iekas tarik pulang tangannya. Menampak musuhnya gagal, Tan Eng Sin bergerak dalam sikap Sia kwa tan pian atau Menggantung cambuk, sambil maju, ia susul itu dengan Tee tjhioe siang sie atau Tangan dimajukan. Ini adalah gerakan biasa dari Thay Kek Koen, tetapi ini pun sudah cukup bikin Kat Pou Djie mundur, karena pukulannya Tay lek tjian kin atau Tangan seribu kati telah dapat dipccahkan. Tempik sorak terdengar dari bawah panggung, orang kagumi caranya lhama itu dipukul mundur secara demikian sederhana. Dua-dua Law Boe Wie dan Teng Hiauw pun heran sekali. Mereka ada ahli-ahli Thay Kek Koen, tetapi mereka tidak sangka, dengan gerakan seperti berlatih biasa saja, sang soepeh, Tang Sin, sudah bikin Kat Pou Djie mundmsendirinya .Mereka belum tahu bahwa dulu Thay Kek Tan, Tan Tjeng Peng dengan Lan hiak bee sudah menjagoi di kalangan Kangouw. Selagi orang terheran-heran, tidak ada yang perhatikan Lie Lay Tiong kepada siapa ada datang satu orang, untuk memberi laporan, hingga air mukanya ketua ini jadi berubah pucat. Ketua ini berbangkit tapi segera ia duduk pul a, agaknya ia bingung. Pertandingan di atas loeitay sudah dilanjuti. Sekarang Kat Pou Djie tidak berani sembrono lagi, malah sebaliknya, ia telah keluarkan Lo-han-koen asal Ti-bet. Ia berlaku gesit, pukulannya keras semua, sampai sambaran angin terdengar nyata sekali. Tan Eng Sin terus melayani dengan tenang, tapi sebenarnya, ia pun telah keluarkan kepandaiannya, melainkan kelihatannya saja ia ada tenang. Setelah belasan jurus, Kat Pou Djie insyaf benar-benar liehaynya musuh ini. Ia sudah gunai kepandaiannya, ial masih tidak bisa desak musuh itu. Sampai di situ, tiba-tiba Tan Eng Sin buyarkan Thay Kek Koen. Ia uhff tangan kanannya,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

datang-datang ia menyerang dengan tipu pukulan Kho tarn ma. Yang dipakai menyerang adalah tangan kanannya. Kat Po Djie geser kaki kirinya ke samping kiri, tangan kanannya dipakai menangkis, lalu dengan tangan kiri, ia hajar tangan kanan orang itu. Ia juga berlaku dengan sebat sekali. Sambil memperdengarkan tertawa dingin, Tan Eng Sin tarik pulang angan kanannya itu, lalu dengan tiba-tiba ia mengendap, tangannya menyambar ke bawah. Lhama itu terkejut, dengan tersipu-sipu, ia geser pula kakinya, untuk berkelit Justeru itu, Tan Eng Sin merangsek, kembali ia menyerang dengan tangan kanan. Dalam keadaan terdesak itu, Kat Pou Djie ingin balas mendesak, ia hendak gunai Go houw pok sit atau Harimau kelaparan menubruk makanan, supaya ia tidak terdesak terus-terusan, la pikir untuk hajar pula tangan kanan musuh itu. Akan tetapi ia telah terlambat, benar sedang tangannya bergerak. Tan Eng Sin dului ia. Jago Thay Kek Koen itu bergerak dalam tipu To tjoan Ian hoan tjit seng pou (Tujuh bin tang berjalan saling susul), tangannya dipakai menyambar tangan lawan yang sedang dikeluarkan, terus dicekal dengan keras, menyusul itu, ia pinjam tenaga orang itu dengan Tjian-tong soe Hang tjian kin atau Tenaga empat tail dipakai menarik seribu kati, dengan begitu, sendirinya tenaganya jadi bertambah luar biasa, ketika ia kerahkan tenaganya sambil ia berseru, tubuh besar dan berat dari lhama itu segera terangkat naik, terus diputar di atasan pelatok-pelatok golok itu, akan akhirnya dilepas, dilemparkan ke bawah panggung. Sambil melemparkan tubuh lawan jtuv_ kembali Tan Eng Sin memperdengarkan tertawanya yang panjang. Sama sekali Kat Pou Djie tidak sempat berdaya, dari itu, ketika ia jatuh di tanah, tubuhnya terbanting hingga karenanya, ia pingsan dengan segera.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Gak Koen Hiong dan kambratnya, semua menjadi kaget, ada yang mukanya terpucat-pucat banyak di antaranya yang lari ke arah pendeta lhama itu, untuk menolongi, kemudian di antaranya ada yang mengutuk karena mereka anggap, pihak lawan sudah berlaku ganas. Walaupun demikian, tidak ada seorang di antaranya, yang berani loncat naik ke atas panggung. Tan Eng Sin tidak pcrdulikan sikap orang, melihat tidak ada lawan yang baik, ia lantas jalan berputaran di atas semua pclatok golok itu, benar seperti lakunya Kat Pou Djie di waktu sebelum pertandingan dimulai, hanya sekarang, setiap habis ia menginjak, saban pelatok lantas patah dan rubuh, hingga tinggal gagangnya saja, yang masih nancap di lantai loeitay, kemudian dengan tendangan beruntun dari kedua kakinya, ia bikin semua golok itu terpental ke bawah panggung. Ini bajadan besi karatan takdapat dibiarkan berhamburan di atas panggung, cuma menyusahkan saja orang mengadu kepandaian, kata ia, yang terus loncat turun. Tapi sesampainya di bawah, bukannya ia hampirkan Teng Hiauw dan kawan-kawannya, ia terus ngeloyor perg.. Rupanya ia anggap, ia sudah datang dan bantu murid keponakannya, habis perkara, dia boleh pergi. Di pihaknya Teng Hiauw, orang pun sedang terheran-heran dengan kesudahan luar biasa dari pieboe itu, sampai orang lupakan jago she Tan itu. Sementara itu, Lie Lay Tiong sudah lantas menghampirkan To Poet Hoan, kepada siapa, ia lantas mengucapkan beberapa kata-kata dengan pelahan, mendengar ini, wajah wasit itu menjadi guram, lantas saja ia berdiri menghadapi kedua pihak dan berkata pada mereka itu: Menurut Tjong-tauwbak, pieboe ini sudah dilakukan cukup banyak, dari itu, baiklah pertandingan lebih jauh ditunda saja sampai besok. Tjongtauwbak biking, ia ada punya urusan penting, ia kuatir ia tak dapat berdiam lama-lama di sini.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Baharu wasit itu berhenti bicara, atau Gak Koen Hiong tibatiba loncat naik ke panggung dengan tiba-tiba, lalu dengan suara keras, ia berseru: Tidak ada halangannya untuk menunda, asal ini hari aku dapat pieboe lebih dahulu dengan Law Boe Wie! Tadi adalah sahabat-sahabat semua, yang datang membantui, dari tu sekarang haruslah aku sendiri yang turun tangan! Kemudian dengan suara sabar, ia melanjutkan pada Lie Lay T.ong: Sekarang baharu lohor jam S,n-sie, masih siang, kalau kita pieboe lagi satu babak, kita tidak akan sia-siakan tempo, Tjong-tauwbak, baiklah kau pergi sehabisnya kau menonton pertandingan yang terakhir ini! Gak Koen Hiong tidak puas dengan pieboe itu, dari sembilan pertandingan, kesudahannya ada satu menang, dua sen dan enam kalah bagi pihaknya, atau sama sekali, ia kalah lima, ia jadi sangat mendongkol, ia penasaran, maka itu, justeru ia kuatir pihaknya nanti kalah pula bila ia majukan Iain-Iain kawannya lagi, ia anggap baiklah ia maju sendiri. Ta tidak jerih terhadap Boe Wie, ia tidak kapok yang ia pcrnah disambar pisau belati hingga segumpal rambutnya terpapas kutung. Ia lihat Boe Wie baharu berumur tiga puluh lebih, ia tidak percaya boegeenya pemuda itu sudah sempurna betul. Ia mengharap sangat akan rebut kemenangan dari salah satu tay-tjoe dari rnusuh, nanti ia akan tunda pieboe terlebih jauh, lalu besok, dengan gunai alasan, ia boleh tutup saja. Secara demikian, tidaklah ia akan hilang muka di muka umum. Jikalau Gak Koen Hiong ingin sekali tempur Boe Wie, demikian juga adanya dengan orang she Law itu, yang berkeinginan sangat akan membalas dendam untuk gurunya. la ini justeru kuatirkan ada sesuatu hal, yang bisa menggagalkan pieboe itu. Maka itu, ia girang sekali melihat Koen Hiong naik lebih dulu dan langsung menantang ia. Tidak tunggu orang tutup mulutnya, ia pun loncat naik. Bagus, marilah kita bertempur dulu! demikian ia ten ma tantangan. Malah ia segera hunus pedangnya Lan-gin-kiam.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Oengan angkat tangan kiri ke jidat dan taruh pedang di depan dada, ia bersiap sedia, ia menantang: Gak Koen Hiong, kau masih belum mau geraki tanganmu? Apakah kau hendak membikin dulu pesan terakhir? Dihina secara demikian, Ketua Muda Gie Hoo Toan itu jadi sangat gusar, hingga ia mengupat-caci. Bagaimana besar kepandaianmu maka kau jadi begini jumawa? ia berseru. Karcna pedangnya telah dihunus dari siang-siang, Koen Hiong sudah lantas maju, akan tusuk pundak kirinya Boe Wie. Boe Wie berdiri tegak bagaikan gunung, ia tak terkejut karena serangan hebat itu, ia justeru tunggu sampai ujung pedang mendatangi, tiba-tiba ia tertawa berkakakan dan berseru: Bagus! Dan ia kibaskan pedangnya, untuk babat pundak kanan orang itu, tubuhnya sendiri mengegos ke samping- Ia sudah gunai tipu silat Kim tiauw thian tjie atau Garuda emas pentang sayap. Koen Hiong kaget, tapi lekas-lekas ia berkelit. Serangan membalas dari Boe Wie adadi luar dugaannya, karena itu adalah kelitan dibarengi serangan, hingga ia jadi gugup, syukur ia masih cukup sebat. Ia baharu lolos dari ancaman itu, atau lawannya sudah rangsang ia, hingga ia sepcrtinya lantas terkurung antara sinarnya Lan-gin-kiam. Gak Koen Hiong pern ah yak ink an Wan Kong kiam-hoat, ialah ilmu pedang dari Wan Kong, yang mengutamakan kegesitan. Ilmu ini jarang orang yang pandai mainkannya, malah Ketua Muda Gie Hoo Toan ini juga tidak bisa pahamkan itu sempuma. Ia tadinya harap, dengan apa yang ia bisa, ia akan sanggup takluki Law Boe Wie, siapa tahu, baharu mulai, ia segera mengerti, ia kalah sebat. Maka itu, ia mesti berbuat sekuat tenaganya untuk bisa layani lawan ini, akan lepaskan diri dari desakan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kedua pihak bertempur dengan seru sekali, dari itu, dengan lekas mereka sudah lewatkan tiga puluh jurus. Sampai di sini, Gak Koen Hiong merasakan betul bagaimana pedangnya seperti telah dibungkus pedang musuh, jangan kata untuk membalas, buat bela diri saja, ia sudah repot bukan main. Law Boe Wie ada ulet sekali, makin lama ia jadi makin tangkas. Ia telah gunai Kie-boen Sip-sam-kiam dari Thay Kek Pay, lalu itu diselipkan dengan tipu-tipu dari Hoei EngKeng Soan-kiam, yang ia dapat dari Pek Djiauw Sin Eng, gurunya yang kedua, hingga kegesitannya mirip dengan sambaransambaran burung garuda. Gak Koen Hiong insyaf benar-benar, ia kalah daripada lawan itu, maka ia merasa sukar, walaupun ia telah terdesak, ia masih bisa bela diri dengan Wan Kong Kiam-hiap. Iapun berkelahi dengan sangat sungguh-sungguh, ia nekat. Inilah sebabnya kenapa Boe Wie tak dapat segera re-but kemenangan. Di bawah panggung, semua penonton jadi sangat tegang. Semua orang mengerti, lagi sedikit saat, Koen Hiong pasti bakal cipratkan darahnya di atas panggung. Maka rombongannya orang she Gak itu jadi sangat berkuatir, dengan sendirinya, mereka pada berkisar, mendekati loeitay. Menurut aturan pieboe, semua penonton dilarang mendekati loeitay di sekitarnya sepuluh tumbak, akan tctapi, karena berkisarnya itu, orang-orang Gak Koen Hiong telah sampaikan batas terlarang itu. Di bawah orang bertegang hati, di atas panggung duajago lagi berkelahi mati-matian, justeru begitu, ribuan penonton dibikin kaget sendirinya apabila mereka dengan sekonyongkonyong mendengar suara nyaring seperti guntur, datangnya dari kejauhan, gemuruh itu beruntun beberapa kali. Semua orang menjadi heran, semua angkat kepalanya, dongak,melihatkeatas.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Matahari masih mencorong, udara bersih dari mega, langit tidak mendung. api, dari mana datangnya guntur? Kembali orang dengar suara guruh itu, malah makin lama makin nyata. Belum lenyap keragu-raguan or-ang, mendadakan ada datang beberapa penunggang kuda, yang kaburkan binatang tunggangannya, hingga debu mengepul naik. Kapan sebentar kemudian penunggang-penunggang kuda itu sudah datang dekat, mereka mengitari rombongan penonton, mereka membuka jalan, sampai mereka bcrada di hadapannya Lie Lay Tiong. Satu penunggang kuda, yang menjadi kepala, loncat turun dari kudanya, ia dekati Ketua Gie Hoo Toan itu, untuk mengucapkan beberapa patah pcrkataan, atas mana mukanya ketua itu menjadi berubah, segera ia lompat bangun, ia hadapi kedua wasit kepada siapa ia goyang-goyang tangan. Di atas panggung sendiri. pcrtandingan sudah mendekati saat yang memutuskan, Gak Koen Hiong tengah menghadapi bahaya maut. Dengan Han kee pay hoed atau Ayam kedinginan memuja Budha, ia coba serang Boe Wie pada dadanya. Boe Wie sampok tikaman itu, ia terus tudingkan pedangnyake bawah, akan balas menikam ke kiri. Koen Hiong hendak menangkis, tapi berbareng dengan itu, tangan kirinya lawan menotok jidatnya, sedang Lan-gin-kiam menjurus terus ke lengan kanan, kearah nadi! Selagi Gak Koen Hiong bakal bikin loeitay bermandikan darahnya. Atau Law Boe Wie akan kutungkan tangannyasebatas nadi, mendadakan dari bawah panggung ada melesat beberapa sinar terang bagaikan bintang! Beberapa orang dari pihak lawan sudah meianggar aturan, untuk menolongi ketuanya, mereka gunai tangan kotor, membokong Boc Wic dengan berbagai senjata rahasia. Orang-orang yang lagi bertarungdi atas panggung tidak nam i kctahui atau duga sal ah satu pihak akan main curang.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Boe Wie juga tidak pernah menyangka demikian. maka itu ia kaget bukan kepalang waktu ia dengar sambaran senjata rahasia. Ia tidak bersiaga, tapi ia telah wariskan kepandaiannya In Tiong Kie, ia dengar suara, ia tahu dari jurusan mana datangnya serangan. maka itu, berbareng membatalkan serangannya kepada Gak Koen Hiong, ia loncat ke samping, dengan begitu, ia bisa menyingkir dari tiga batang Hong-bwee-piauw dan sebatang panah tangan. Dan Gak Koen Hiong, selagi lawannya mencelat jauh, sudah gunai ketika akan loncat turun ke bawah panggung. Law Boe Wiegusar tak terhingga, hingga ia berniat kejar orang she Gak itu. Teng Hiauw di bawah panggung lihat nyata kejadian itu, tetapi ia tidak pemah sangka akan kekacauan itu, menampak Koen Hiong menyingkir, ia menimpuk dengan Kim-tjhie-piauw, tetapi jarak di antara mereka ada cukup jauh, piauwnya tidak mengenai sasarannya. Kekalutan masih terjadi, senjata-senjata rahasia masih menyambar serabutan, tapi sckarang genta segera dibunyikan berulang-ulang. Tjong-tauwbak Lie Lay Tiong melupai bahaya, ia mencelat ke atas loeitay! Berhenti! Berhenti! ia berteriak berulang-ulang, mukanya merah bahna gusar. Yo Kong Tat dan To Poet Hoan, dengan loloskan Djoanpian mereka, sudah loncat ke atas panggung, guna lindungi ketuanya itu dari senjata-senjata rahasia. Berhenti! Berhenti! Lie Lay Tiong berseru pula, berulangulang; Kau orang tahu, setan-setan asing bakal segera datang menyerang kemari! Mereka sudah berada tak lagi tiga puluh lie dari Pakkhia, mereka sudah bentrok dengan pasukan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

depan kita! Gemuruh barusan adalah suara meriamnya setansetan asing itu! Suaranya ketua mi ada nyaring sekali, dengan lekas ia membuat scrangan senjata rahasia jadi berhenti, setelah mana, kcadaan jadi sirap. Terang orang tercengang atas warta hebat itu. Ternyata empat puluh ribu serdadu asing (pasukan Austria dan Italia belum datang), dari Thian-tjin, dengan mengikuti kedua tepi aliran Oen Hoo, sudah menuju ke Pakkhia. Lie Lay Tiong telah tarik tentaranya dari markas besar di Thong-tjioe, karena itu, tentara Boan mundur sendirinya tanpa berperang lagi, di sepanjang jalan, mereka menggedor rakyat, rumah siapa mereka bakar, dengan perbuatannya mereka itu, mereka seperti wakilkan tentara Serikatmembersihkan jalanan. Thongtjioe terpisah empat puluh lie lebih dari Pakkhia, ketika tentara asing masUk ke situ, kota sudah kosong, dari itu, terus mereka menuju ke Pakkhia. Selagi- tentara asing itu sampai di Thong-tjioe, pieboe di atas loeitay baharu dimulai. Habis diumumkan jatuhnya Thong-tjioe, Lie Lay Tiong pun umumkan lain kabar mengejutkan, ialah bahwa Ibusuri See Thayhouw dan Kaisar Kong Sie sudah menyingkir dari Pakkhia, bahwa Gie-lim-koen, Barisan Raja, sudah buyar. Maka, di saatsehebat itu, pemerintah Boan tinggalkan Gie Hoo Toan, sedang tadinya, pemerintah itu minta bantuan untuk lawan desakan bangsa asing. Tapi yang paling hebat ada warta terbelakang, yaitu katanya: Ada tentara Boan yang berserikat sama tentara asing memusuhkan pihak Gie Hoo Toan. Celaka betul, kita sudah dijual Ibusuri Tjoe Hie! akhirnya Lie Lay Tong berteriak, dalam kemurkaannya. Saudarasaudara, lekas balik ketangsi, urusan loeitay ini boleh ditinggal di belakang! Baharu ketua ini tutup mulutnya. segera berkelebat satu bayangan, yang mencelat ke tiang bendera di tengah lapangan itu, bagaikan kera, dia panjat tiang itu, yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tingginya lebih daripada lima tumbak, sekejab saja ia sudah sampai di atas, terus ia berdiri di atas tiang. Tahan dulu! orang itu berteriak. Dia ternyata ada Teng Hiauw. Kita hendak basmi setan-setan asing, tapi kita juga mesti bikin pcmbersihan di dalam, supayajangan ada pengkhianat yang mengacau! Siapa pengkhianat itu? Dia adalah Gak Koen Hiong dan konco-konconya! Merekalah yang hendak lindungi bangsa Boan, tapi lihat, apa yang pemerintah Boan berbuat terhadap kita! Gak Koen Hiong dan rombongannya telah mundur dengan diam-diam, begitu lekas mereka dengar pengumumannya Lie Lay Tiong. Sebenarnya mereka pun tidak tahu, tentara asing datang demikian cepat, hingga pihak pemerintah Boan kabur tanpa perdutikan budak-budaknya. Sekarang mereka dengar Teng Hiauw buka rahasia mereka, lantas saja mereka siapkan senjata mereka, mereka lari keluardari lapangan. Gemuruh ada suaranya orang banyak itu, yang berjumlah puluhan ribu, malah ada antaranya yang segera lari mengejar, tapi Lie Lay Tiong perintah bunyikan genta, ia teriaki untuk orang jangan mengejar. Saudara-saudara, tenang! Tenang! Biarkan mereka itu kabur! Jangan kita perduiikan mereka! Lebih perlu kita tangkis musuh! Lekas kembali ke tangsi! Teng Hiauw dari atas tiang bcndera pun berseru: Kita mesti teat kepada Tjong-tauwbak! Sekarangkitesudah kenali rupanya kaum pengkhianat, mereka tek bakal lolos! Keadaan ada genting, man kita hajar dulu pengkhianat itu! Teng Hiauw sadar, maka ia bisa atasi diri, akan tak gubris musuh-musuhnya. Demikian pieboe buyar tak keruan, tentara Gie Hoo Toan lantas bersiap akan lawan tentara Serikat, tak perduli mereka melainkan menggunakan a!at scnjata sejak zaman purbakala: golok dan tumbak!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiongkok bcrgcram, buminya bergetar, rakyatnya yang scdcrhana bangun, cuma dcngan golok besar, tumbak panjang, dengan toya, dengan cangkul, mereka lawan penyerang-penyerang asing. Tapi mereka tidak sanggup lawan scnjata api dari tentara Serikat Tinggal semangat mereka saja yang masih hidup. Sampai kepala perang Serikat sendiri anggap, semangat bangsa Tionghoa tak dapat dipandang enteng. Gie Hoo Toan bubar, mereka gagal, tapi mereka tidak tertumpas, keluar dari Kota Pakkhia, mereka mundur ke kampung-kampung, tidak lagi mereka berkumpul dalam jumlah puluhan ribu, mereka persatukan dirt dalam rombongan-rombongan dari ratusan dan puluhan. Api mereka tak padam, api itu terpendam di antara rakyatjelata. Baharu setelah mundur dari Pakkhia, Lie Lay Tiong insyaf kebenarannya nasihat dari Lioe Kiam Gim, yang cegah ia memasuki Kota Raja Dengan jatuhnya Thian-tjin dan Pakkhia, segala apa terlihat nyata, tcrtampaklah rupa asli dari kaum pengkhianat, dari pemerintah Boan juga, yang selanjutnya bekerja sama-sama pihak asing, akan basmi ban-dit. Maka rakyat menjadi insyaf. Law Boe Wie jadi sangat masygul, bersama Teng Hiauw dan sejumlah kawan, ia akan hidup dalamj perantauan. Hanya, di mana dia sampai, masih ada orang-orang yang sambut ia dengan baik. Ia tetap berkumpul sama Teng Hiauw, saiidara ini anjurkan ia menikah, ia menjawab sambil mementil pedang dan bernyanyi. Bong Tiap? Dia tidak bersama soehengnya, pikirannya ruwet sckali. Dia bersedih untuk ayahnya, dia berdua buat Ham Eng. Ia tetap hargakan toa-soehengnya, tetapi ia tak bisa tinggal berkumpul sama soeheng itu. Boe Wie sendiri bungkam, ia tidak memberi nasihat pada soemoaynya ini.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Nona Lioe telah pergi ke Shoasay, akan tengok ibunya, terus ia merawatinya sehingga ibunya menutup mata. Setelah selesai mengurusjenazah ibunya, ia merantau keluar Tionggoan, di tepi Sungai Tay Hek Hoo, ia tempati kuilnya Sim Djie Sin-nie, gurunya. Hioe Sioe sudah berusia lanjut, Bong Tiap datang baharu beberapa tahun, ia meninggal dunia. Maka, berada sendirian saja, Nona Lioe cukuri rambutnya, ia menjadi pendeta sebagai gurunya dulu. Tapi ia bukannya niekouw biasa, dia masih suka bepergian seorang diri, apabila ia hadapi kcjadian tidak pantas, ia lantas turun tangan. Ia hidup rukun dengan penduduk perbatasan, kepada mereka ia suka tuturkan riwayat Gie Hoo Toan. Penduduk yang bergembala itu scring-scring mcnyaksikan bagaimana niekouw ini, di tepinya Telaga Yam Ouw, di tanah datar, suka bersilat dengan pedang Tjeng-kong-kiam, pedangnya bersinaran dengan cahaya matahari, dia masih gagah seperti sediakala. Penutup Gak Koen Hiong, kepala dari Poo Tjeng Pay, pemimpin muda dari Gie Hoo Toan, yang menunjang Pemerintah Boan ialah juga pembunuh Lioe Kiam Gim dan Tjoh Ham Eng sesudahnya tentara serikat memasuki Pakkhia lantas tidak ada kabar-ceritanya. Hanya,ctentang konco-konconya ada cerita yang luar biasa. Mereka ini umumnya sibuk mengumpetkan diri, tapi banyak antaranya, yang ini hari masih segar-bugar, besoknya telah mati mendadakan, sesudah mereka mati, baru orang tahu, siapa sebenarnya adanya mereka. Dan orang menyangka, kematian mereka ada perbuatannya Boe Wie, Teng Hiauw dan Bong Tiap. Sebenarnya orang tidak pcrnah melihat Nona Lioe, tetapi kematian mereka itu disebabkan senjata rahasia, yang mengenai jalan darah, dari itu, orang sangka si nona.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sementara itu, ada kabar yang menarik hati mengenai Bong Tiap. Itu adalah kejadian selewatnya belasan tahun. Loo-kauwsoe Tjoh Lian Tjhong, ayahnya Ham Eng, telah pergi merantau, bcrsama-sama ia, ia ada ajak satu anak muda, yang ia bilang ada cucunya. Pemuda ini menyerupai Lioe Bong Tiap, dia pun gunai pedang Tjeng-hong-kiam, mesti ia tak gunai piauw Bouw-nie-tjoe, tetapi ia pandai Kim-tjhiepiauw. Sementara itu, sepuluh tahun lebih sejak masuknya tentara Serikat ke Pakkhia, Dinasti Aisin-Gioro telah rubuh, benar Tiongkok telah dipukang, akan tetapi, di Timur matahari toh menyingsing. pelahan-lahan hendak menembuskan mega hitam. Perubahan-perubahan terus terjadi, akan tetapi mengenai Bong Tiap, orang tidak dengar suatu apa Adalah selang tiga puluh satu tahun kemudian, di musim rontok, ketika penulis dari cerita ini bermalam dalam satu kuil di perbatasan, di sana ia berjumpa dengan satu niekouw tua, siapa kemudian ternyata Nona Lioe adanya, sedang kedua tetamu aneh, yang datang malam-malam sambil menunggang kuda, adalah putera-puteranya Teng Hiauw. Malam itu, sehabis niekouw tua menutur, hujan pun berhenti, lalu ia, bersama dua tetamunya itu, tak tunggu terang tanah, sudah berangkat pergi, akan urus tugas mereka yang katanya berbahaya. Siangnya, penulis pun melanjutkan perjalanannya. Kemudian, dalam perjalanan pulang, penulis mampir pula di kuil tua itu, tapi ia tak ketemukan si niekouw tua. Baharu belakangan, menurut katanya satu ahli silat, di Siamsay, satu hartawan yang tinggal menyendiri, yang sudah berumur enam puluh lebih, yang masih gagah, pada suatu malam ada yang membunuhnya dan kepalanya dibawa terbang. Dia ini kemudian ternyata ada Gak Koen Hiong! ---ooo0dw0ooo---

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Thay Kek Kie Hiap Toan Karya : Liang Ie Shen Saduran : OKT Sumber : TopMdi website Ebook oleh : Dewi KZ http://kangzusi.com/ atau http:// http://dewikz.byethost22.com/

Serie 2
Di Kanglam, Selatan, hari-hari paling indah ada Musim Tjoen, Semi tetapi di Utara itu adalah Musim Tjioe, Rontok. Kapan musim ketiga ini datang, udara di Utara sebagai juga tinggi luar biasa dan hawanya istimewa menyegarkan. Maka di

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dalam masa musim itu, orang suka pergi ke tanah datar, untuk berlatih menunggang kuda atau berburu, tak perduli anak-anak orang bangsawan atau orang biasa, teristimewa mcrcka, yang gemar akan pergerakan badan. Dcmikian hari itu, di pcrmulaan Musim Tjioe, serombongan pemburu muncul di sebuah rimba di luar Kota Pooteng, Hoopak. Mereka membawa anjing, tombak cagak dan panah, gendewa dan busur. Mereka bukannya pemuda-pemuda bangsawan atau pemburu biasa, mereka adalah rombongannya pali la wan dan guru-guru silat dari dua keluarga, ialah yang satu dari Keluarga Soli Sian le, yang lain Keluarga Hoa Goan Thong, iparnya pihak Soh itu. Pihak Hoa bahanu dapat dua guru silat yang katanya liehay, dari itu pihak Soh undang mereka berburu, untuk menyaksikan kepandaiannya mereka itu. Berburu bukannya pekerjaan gampang dan tak mengandal melulu [pada ilmu silat, orang pun harus mengenal tabiat atau kebiasaan binatang liar yang lebih banyak bersembunyi di waktu siang dan baharulah muncul dan keliaran di waktu malam, setelah perutnya kosong. Dan orang pun mesti mempunyai anjing-anjing yang hidungnya tajam, untuk mencari sarang binatang alas itu. Rombongannya guru-guru silat to capai lelah sampai setengah harian, mereka masih belum memperoleh hasil, hingga mereka mulai tawar hati, Berkat penasaran, mereka terus mencari, sampai mereka datangi lembah-lcmbah dan gombolan-gombolan lebat. Beberapa ekor kelinci dan rase tidak menggembirakan mereka. Akhir-akhirnya, mereka dapati sebuah guha atau kedung, yang dalam. Anjing-anjing pemburu menghampiri mu lut guha, mereka menggonggong, berulang-ulang, lain tak lama, mereka miindur sambil goyang-goyang ekornya, rupanya mereka jerih.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Menampak demikian, orang mulai bersemangat. Mereka percaya, guha itu mesti ada orangnya. Satu guru silat, dengan tombak cagak yang panjang, hampirkan guha itu, untuk menusuk ke dalamnya. Atau dengan tiba-tiba, segera tcrdengar suara mengaung yang hebat, gunung seperti tergetar, lembah berkumandang. menyusul mana, loncatlah keluar seekor raja hutan yang besar dan dahinya pitak. Guru silat itu tidak sempat berkelit, ia kena diterjang, ia rubuh, kukunya harimau itu merobek bajunya, mengenai kulit dagingnya, hingga sekejab saja. darahnya bercucuran. Semua orang kaget, belum mereka sempat menggunai anak panah, atau seorang lagi di antara mereka, kena ditubruk rubuh Pahlawan Keluarga Soh jadi gusar, sambil berseru, ia menimpuk dengan beberapa batang tombak cagak, beruntunruntun. Harimau itu gesit, dia berlompatan, untuk berkelit, tetapi sebatang tombak mengenai juga satu kaki dcpannya, bahna sakit, rupanya, dia putar tubuh untuk lari. Kejar! berseru si pahlawan. Rombongan pcmburu itu sudah lantas berlari-lari. Harimau itu masih bisa lari keras, dia lari mendaki, cepat sekali, hingga dia bikin semua pengejarnya jauh keringgalan di belakang. Masih mereka mengejar terus, sampai mereka dengar satu jeritan nyaring tetapi halus, lalu di depan harimau itu, muncul satu nona dengan pakaian serba merah. Harimau itu sedang beringas, melihat ada yang memegat jalan, dia terus lompat menubruk nona itu, di antara gerungan hebat, mulutnya dibuka lebar-lebar. Suara gerungan itu berkumandang di lembah, gunung seperti tergetar pula.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Nona itu tidak kaget, dia malah gusar, ketika raja hutan itu menerjang, ia loncat ke samping, laiu sambil berseru, ia mengirimkan satu tusukan. Karena orang berkelit, harimau itu tubruk tempat kosong, dia belum sempat putar tubuh, tikaman telah sampai, saking sakit, dia menggerang berulang-ulang, tubuhnya digeraki, diputar, rupanya dia hendak terkam si nona pula. Nona itu kaget juga, ia kalah tenaga, ia belum sempat tarik pulang pedangnya, ia mesti lompat mundur, karena itu, pedangnya terlepas, masih nancap ditubuhnya binatang liar itu, , hingga, seperti kalap, dengan mata seperti menyala, harimau itu menerjang pula, semua kukunya dipentang lebarlebar. Meskipun ia sudah tidak bersenjata, nona itu tapinya ada punya kegesitan tubuh, ketika tubrukan sampai, ia berkelit. Tiga kali ia ditubruk berulang-ulang, terus ia belum bisa sclamatkan diri. Selagi raja hutan itu gusar bukan main, tapi ketangkasannya pun makin berkurang, si nona lakukan serangan membalas, dengan tiga buah Thielian-tjie, buah teratai besi, yang ditimpuki beruntun, dengan keras sekali. Tiga-tiga senjata rahasia itu mengenai sasarannya dengan tepat: dua mengenai mata, satu nancap di jidat. Dalam kesakitan hebat, sambil menggerang bagaikan guntur, kembali harimau itu berlompat, menerkam si nona Semasa kedua matanya belum terluka, raja hutan itu tak dapat tubruk si nona, apapula sekarang, setelah kedua matanya itu picak, maka dengan gampang sekali, nona itu singkirkan dirinya dari terkaman. Kemudian,, dengan scngaja perdengarkan suara, ia bikin dirinya diserang bcrulang-ulang. Tentu sekali, harimau itu senantiasa menerkam tempat kosong. Paling akhir, si nona mundur ke batu gunung, yang tinggi dan besar, di situ ia bersuara,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

supaya harimau itu tubruk ia, sesudah mana, ia lompat naik ke atas batu itu. Di antara suara hebat, kepalanya harimau itu membentur batu, dengan memperdengarkan suara kesakitan yang mengerikan, tubuhnya rubuh, kepalanya pecah, darahnya berhamburan, maka sekejab saja, dia rebah dengan mandi darah, sebagai bangkai. Nona itu menyaksikan kebinasaan raja hutan itu, ia tertawa lalu ia loncat turun, akan injak kepalanya, tak sayang dia pada kasut sulamnya yang indah yang menjadi berlepotan darah. Ha, kutu besar, kau cuma bisa gertak orang! kata ia sambil tertawa, dengan kedua matanya bersinar hidup, kemudian ia cabut pedangnya, yang masih menancap di tubuhnya raja hutan itu, ia susuti itu, baharu ia kasih masuk ke dalam sarungnya. Sedangnya begitu, datanglah rombongan si pemburu, dengan or-ang yang menjadi kepala lantas saja menegur: Eh, Nona, jangan lari! Kcnapa kau binasakan harimau kita? Tinggalkan, jangan kau bawa pergi! Itulah pahlawan dari Keluarga Soh dan dua guru dari Keluarga Hoa. Mereka menyaksikan si nona berkelahi dengan harimau, mereka heran dan kagum, berbareng pun mereka mendongkol mengingat tak kemampuan diri sendiri. Maka itu, dengan jumawa, mereka hampirkan si nona, yang mereka pikir untuk pcrmainkan juga. Mereka tak takut, sebab anggap, jumiah mereka ada banyak. Jangan, jangan! salah satu guru silat mencegah, ketika iakenali nona itu. Tapi sudah kasep, pahlawan Keluarga Soh sudah maju. Si nona, yang masih bcrdin di atas kepala harimau, mengawasi.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Apa, kutu besar ini ada binatang peliharaanmu? ia tegasi, dengan mata bersinar. Kau suruh aku jangan bawa pergi? Itulah bukan piaraan kita tetapi kita lebih dulu yang mclukakannya! sahut si pahlawan, Kau cuma tinggai punyakan saja! Oh, pendusta! si nona membentak. Kau orang tidak mampu bekuk seekor harimau, kau orang bcrani katakan aku? Ia hunus pedangnya. Jangan banyak omong, lekas pergi! Jangan kau hinakan nonamu! Didamprat, pahlawan itu tertawa Jangan galak, Nona. kata ia. Aku tidak mau pergi, habis kau mau apa? Apakah kau tabu, siapa kita ini? Aku ada pahlawan kepala dari Keluarga Son aku ada Kimtoo Hck Tjit-ya, Hek Toa-boesoe! Di dalam Kota Pooteng ini, siapa tidak kenal aku? Kau berani mcnentangi aku? Tapi aku tidak persalahkan kau. Aku memang kekurangan satu murid perempuan, ayo, kau berlutut dan manggut-manggut di depanku, untuk angkat aku menjadi guru. Kapan si nona dengar orang pcrkenalkan diri. ia gusar dengan tiba-tiba, tcrus saja ia balingkan pcdangnya di muka orang sambil berseru: Kau guru si I at Hek Toa-boesoe? Pedangku I a rang kau menghina! Mundur! Bcntakan itu disusul sama gcrakan tangan lebih jauh, menikam pundak kanan. Kakinya si nona pun turut maju. Hek Tjit tangkis tusukan itu dengan goloknya seraya ia berseru, ia hendak bikin terpental pcdangnya si nona, tetapi si nona putar tubuhnya, akan membaliki menapas lengan or-ang, hingga guru silat itu terkejut, lekas-lekas dia menangkis sambil serukan kawan-kawannya: Kenapa kau orang tidak lekas maju? Atas mana, semua kawan itu lantas maju.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hm! si nona menghina. Aku kira orang gagah bagaimana, tak tahunya tukang keroyok! Lalu ia menyerang hebat, dengan tipu-tipu pukulan dari Bweehoa-kiam, yang semuanya terdiri dari Tjittjit sie Hapkauw atau tujuh kali tujuh ada empat puluh sembiian jurus. Rombongan pahlawannya dua keluarga, bersama-sama dua guru silatnya yang baharu, telah merangsang, jumlah mcrcka yang besar, bikin si nona kewalahan juga, apa pula ia baharu saja melayani harimau. Pelahan-lahan, keringatnya si nona keluar membasahi jidatnya. la jadi sengit, tetapi ia bersangsi, untuk berlaku telengas. Ia ingat pesan ayahnya, untuk tak sembarangan melukai orang, sedang urusan ada urusan kecil. Dalam saat kesangsian dari si nona, tiba-tiba antara gombolan muncul satu anak muda, yang mukanya putih, romannya cakap, begitu lekas ia hunus pedangnya, ia lompat meriyatukan diri di medan pertempuran itu! Inilah Teng Hiauw, puteranya Teng Kiam Beng, ahli waris dari Thaykek-pay di Pooteng, atau cucunya Thaykek Teng, jago dari Thaykek-koen, yang kesohor buat tiga macam ilmu kepandaiannya: Tangan kosong Thaykek-tjiang, pedang Thaykek-kiam, dan senjata rahasia Kimtjhie-piauw. Kiam Beng belum bisa Iawan ayahnya, tetapi ia sudah sukar tandingannya, dan anaknya ini, Teng Hiauw, dalam umur sembiian belas tahun, sudah berkepandaian tak tercela, malah dalam halnya Kimtjhie-piauw, ia sudah mewariskan dclapan atau sembiian bagian, cepat sekali, ia mendesak kepandaian ayahnya. Sebagai anak muda, Teng Hiauw beda daripada yang kebanyakan, ialah ia tidak suka terlalu bergaul. Ayahnya suka mencrima banyak murid, tidak demikian dengan engkongnya, maka juga muridnya Thaykek Teng melainkan satu, ialah Lioe Kiam Gnu Kiam Beng mempunyai banyak mu-rid, yang mewariskan ja, belum ada, malah murid-muridnya itu, ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

serahkan pada beberapa muridnya yang paling maju. Dengan sekalian soeheng dan soeteenya, Teng Hiauw pun tidak bergaul rapat. Bisadibilang, ia belajar sendirian saja. Pada hari itu, Teng Hiauw keluar scorang diri, dengan membawa pcdangnya, dan menuntun scckor anjing pemburu. Ayahnya lalu pergi kc rumah perguruan luar, untuk menilik murid-muridnya. Hawa udara hari itu bagus sekali, ia ketarik untuk memburu. Ia pun pergi ke luar kota. Di saat ia sampai di luar rimba, ia dengar harimau mengaung, hingga burungburung dan beburonan lainnya kaget dan terbang, lalu kabur. Malah anjingnyapun sungkan maju. Dengan menghunus pedangnya, ia maju seorang diri. Ia berkeinginan akan coba melayani sang raja hutan. Ia mencari, ia dengar gerungan berulang-ulang, lalu sirap, diganti dengan suaranya senjatasenjata beradu. Ia hcran. Sambil menyimpan pedangnya ia maju tcrus, ke arah dari mana suara berisik datang. Ketika kemudian ia tiba, ia lihat satu pertempuran. Ia scmbuny ikan diri di dalam gombolan dari mana ia memasang mata, terutama ia awasi si nona yang ilmu pcdangnya sempurna. Si nona sendiri, yang kuncirnya dua ada mempunyai muka potongan telur yang cantik dan mans. Adalah ketika si nona nampaknya keteter, ia menjadi gusar. Memangnya ia sudah mendongkol menampak satu nona muda dikepung orang-orang Iclaki, yang berjumlah besar. Tatkala hu satu guru silat Keluarga Hoa, yang bcrgegaman tombak Ngobie-tjie, lagi desaksi nona dengan tusukan Tjheeliong pabwee atau Naga hijau menggoyang ekor. Ia menusuk dari kanan, pada muka orang. Si nona mundurkan kaki kiri, lalu kaki kanannya menggeser, seraya berkelit dan maju secara demikian, ia menikam hadi Iawan dengan tikaman Tokwa kimlcng atau Menggantung kelenengan cmas.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Penyerang itu melihat tikaman liehay, ia loncat mundur, justru si nona hendak maju mengejar, dari kiri dan kanannya menyambar sepasang gaetan Hoetjhioe-kauw dan sebatang golok besar Kimpwee-too. Karena tidak sempat menggunakan lagi pedangnya, Liongboen-kiam, nona itu terpaksa elakkan diri dengan lompat melesat dengan gerakan Lengyan tjoanin atau Walet tembusi mega, melewati kepala musuh, hingga mereka ini, yang kena dilangkahi, jadi gusar dan sengit, pula. Golok Kimpwee-too menyambar selagi sinona baharu taruh kakinya. Nona itu pun mcnjadi sangat gusar, ia putar tubuhnya dan mcnangkis, scsudah mana, ia balik mendesak. Ia masih sangsi akan meminta korban jiwa. Adalah di saat itu, datanglah bantuan yang ridak diminta, yang tak disangka-sangka. Teng Hiauw tidak melulu gunai pedangnya, malali mendahului itu tiga batang piauw menyambar saling sosul, pada musuh yang bersenjatakan Ngobie-tjie, Kimpwee-too dan satu pula, yang mcncckal Tan-too, golok sebatang. Dua yang pcrtama adalah Hek Tjit yang mencekal Kimpwee-too -ada orang-orang Kangouw ulung, mereka dengar angin menyambar, mereka berkelit, tapi kawannya, yang memegang Tan-too, terserang tangannya bagian nadi, tidak ampun lagi, goloknya terlepas dan jatuh ke tanah. Kawanan jahanam, jangan hinai orang perempuan! Teng Hiauw mencaci seraya ia melompat maju. Dua-dua pihak, kawanan guru silat dan si nona, tercengang, tapi karena si anakmuda sudah maju, mereka tak sempat bengong saja. Pahlawan Keluarga Soh membentak: Kau siapa? Kenapa kau usilan? Apa kau hendak mengantari jiwamu? Tapi ia bukan dapat jawaban, hanya serangan. Kedua guru silat Keluarga Hoa, yang bersenjata tombak dan sepasang gaetan, maju untuk menangkis, mereka tak takut, malah mereka penasaran. Yang pegang gactan hcndak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

gact pedangnya Teng Hiauw. Teng Hiauw gunai ilmu pedang Thaykek Kieboen Sipsam-kiam untuk mclayani musuh, ia berkelahi dcngan sungguh-sungguh, dengan lekas ia dapat mendesak musuh-musuhnya, hingga mereka menjadi repot. Si nona saksikan ilmu silatnya pemuda itu, ia heran, hingga ia mengawasi dcngan penuh perhatian. Selagi pcrtcmpuran berjalan, tiba-tiba pahlawannya Keluarga Soh berseru: Eh, eh, apakah kau bukannya Teng Kongtjoe? Dengan keras -Teng Hiauw menyampok kedua senjata musuh, lantas ia awasi pahlawan itu. Ya! Habis kau mau apa? Tapi, begitu lekas ia melihat mukanya, ia merasa bahwa ia pemah melihat or-ang itu. Dengan tiba-tiba, pahlawan itu tertawa. Benar-benar Teng Kongtjoe! ia kata. Iniiah yang dibiiang, air banjir . menyerbu gerejanya si Raja Laut! - Hayo berhenti, berhenti, semua or-ang sendiri! Scruan yang belakangan ini ada untuk kedua guru silat Keluarga Hoa, hingga mereka itu tercengang. Mereka memang heran, kenapa pemuda itu, yang romannya seperti sioetjay, liehay ilmu silatnya. Tapi sekarang mereka heran, kenapa musuh itu dikatakan orang sendiri. Teng Hiauw ingat dengan cepat. Pahlawan itu ada pahlawan utama dari Keluarga Soh, dia pemah datang ke rumahnya dan ayahnya pernah mcmperkenalkan dia dengannya. Dia itu ada Kimtoo Hek Tjit si Golok Emas. Karena ia tak gemar bergaul, ia lupai pahlawan itu. Ia hanya tidak mengetahui, kenapa Hek Tjit menghina si nona. Si nona jadi bcrtambah heran. Tiba-tiba lawan, tiba-tiba kawan, itulah aneh. Ia lantas mundur, dengan menyiapkan pedangnya, ia mengawasi dengan bersenyum tawar.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Teng Hiauw pun berdiam, ia bersangsi. Sudah lewat enam belas tahun sejak ayahnya bcrsahabat dengan Soh Sian Ie, persahabatan yang membuat ayah itu berpisah dari Lioe Kiam Gim. Maafkan kami, kami tidak tahu nona ini adalah sahabatmu, kata Hek Tjit sambil memberi hormat. Kepada si nona, ia pun tcrus berkata: Iniiah salah mengerti, Nona, harap kau tidak kecil hati. Sebenarhya sebab mengagumi kepandaian Nona, kami lancang maju untuk mencoba-coba. Siapa bilang dia ada sahabatku? ia berkata kemudian. Aku tak temahai harimau itu! Kau oranglah yang main gila, dari itu nonamu hendak mengajar adat! Sehabis berkata demikian, nona ini masuki pedangnya ke dalam sarung, lalu sambil tertawa dingin, ia putar tubuhnya, untuk pergi sambil berlari-lari. Ia gunai ilmu iari Tcngpeng touwsoei atau Menyeberang sambil injak kapu-kapu. Dia lenyap dengan ccpat antara gombolan. Teng Hiauw terperanjat. Sampai nanti! kata ia, yang lantas memasuki pedangnya ke dalam sarungnya, lalu ia lari, akan susul si nona. Ia rada mendongkol, karena or-ang berlalu tanpa menghaturkan terima kasih, dan agaknya si nona juga memandang rendah, rupanya si nona itu sangka ia ada kawannya rombongan pahlawan dan guru silat itu. Ia gunai Thaykek Hengkang. hingga sebentar kemudian, ia dapat mencandak. Nona itu seperti juga tak tahu or-ang mengejar ia, meskipun jarak di antara mereka berdua tinggal satu tumbak lebih, hanya sekarang, dengan tiba-tiba, lari nya dikencangkan. Nona, tunggu! Teng Hiauw meneriaki. Nona itu Iari tcrus, ia tak memperdulikannya. Nona, tunggu1 Aku hendak bicara!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Masih saja nona itu lari, tanpa menyahuti, tanpa menoleh. Nona, dengar aku! Teng Hiauw berteriak pula, dcngan mendongkol. Aku hcndak bicaral Jangan kctcrlaluan! Tiba-tiba nona itu berpaling. Habis kau mau apa? menjawab dia, dengan ketus. Siapa surah kau bantui aku? Apakah kau kira aku tidak mampu hajar kawanan anjing babi itu? Lekas kembali! Kita orang bukan sanak, bukan sahabat. jangan ganggu aku! Teng Hiauw bersangsi, akan tetapi ia mengejar terus, sebagaimana si nona tidak hcntikan tindakannya, dan sedangnya ia mengejar, sekonyong-konyong nona itu ayun sebelah . tangannya ke belakang, lalu tiga buah Thielian-tjie menyambar saling-susul. Ia sebenamya niat berkelit tetapi tiga buah senjata itu mengarah kiri-kanan dan atasan kepalanya, dari itu, ia antapkan saja. Ia mengerti, si nona mciainkan menggertak. Nona, jangan keterlaluan, berkata ia, tetap dalam kcsangsian. Aku bukannya niat bcrsahabat sama kau, tapi kau membutuhkan penjelasan! Kenapa kau berlaku begini kepadaku? Aku bantu kau karena aku tidak senang melihat orang hinakan si lemah. Kau dikepung mereka, begaimana aku bisa menonton saja? Itu toh bukan perbuatan orang Kangouw! Kenapa kau serang aku dengan ecnjata rahasia? Tapi aku tak hiraukan itu, aku bukan tukang hinakan si lemah! Aku lebih suka lawan si kuat! Mendadakan ia tertawa, sccara dingin, lalu ia tambahkan: Baik, baiklah, anggap saja aku keliru mata, aku tak kenali kau satu cnghiong pcrempuan! Aku tak berani berkenalan sama kau! Nah, persilakan, Nona, aku tak harap bertemu pula denganmu!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Teng Hiauw benar-benar putar tubuhnya, untuk iari balik, akan pulang. Sejak itu, pemuda ini merasa tak enak hatinya. Ia ingin mengetahui, siapa si nona baju mcrah, ia tidak berdaya. Ia pikir untuk tanya ayahnya, ia tidak berani, ia kuatir ayahnya tegur padanya yang sudah berani lawan pahlawan Keluarga Soh, yang ada sahabat ayahnya itu. Sclang beberapa hari, datanglah Kim Hoa, murid kepala dari Teng Kiam Beng. Dia datang dari Hoolam Sejak tiga tahun yang lalu, dua sudah dapat perkenan buat pergi merantau, akan mencari pengalaman dan sahabat lni ada biasanya untuk mu-rid-murid tamatan supaya si murid. sekalian angkat dcrajat kaumnya. Siapa dalam tempo tiga tahun bisa dapat nama, dia ada hak untuk berdiri sendiri. Dan Kim Hoa, selama itu, peroleh juga nama. Baharu sekarang dia pulang. Teng Kiam Beng girang, Teng Hiauw girangjuga. Sebenamya, Kim Hoa berbakat kurang bagus, tetapi ia rajin luar biasa, dari umur empat bcl as, ia belajar sampai umur dua puluh lima, maka selama sebelas tahun, ia berhasil mendapati kepandaiannya itu. Ketika ia mulai masuk belajar, Kiam Beng belum membuka rumah perguruan secara umum, dan Teng Hiauw masih kecil. Cuma dengan Kim Hoa, Teng Hiauw suka bergaul rapat. Biasanya, gelombang Sungai Tiangkang yarig di bclakang mendorong gelombang yang di depart, dan orang dalam dunia,.yang muda menukar yang tua, kata Kiam Beng sambil menghela napas. Kau telah merantau, coba kau tuturkan pengalamanmu. Bagaimana orang anggap tentang kaum kita Thaykek-pay? Apa orang suka mengalah padamu? Kiam Beng beradat tinggi, walaupun soehengnya pernah memberi nasihat, ia sukar ubah itu. Dcmikian di depan muridnya ini, ia hunjuk kcangk uhannya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mcnycbut kau, Soehoe, orang Kangouw ada hargai kau, sahut Kim Hoa. Tapi ia bicara bcrtcntangan sama liangsimnya. Ia kuatir dapat teguran kalau ia bicara secara jujur. Menyebut nama gurunya, ia agaknya dipandang acuh tak acuh, tapi kalau ia sebut Lioe Kiam Gim, siapa pun sambut ia dengan manis. Teetjoe merantau tiga tahun, tidak banyak pcngalamanku. Di antara empat Golongan Siauwlim-pay, ialah Pouwthian, Siong-san, Lamhay dan Ngobie, nampaknya ilmu silat mereka Sinkoen dan Tjappehdi Hantjioc makin tambah mahir, di Sclatan dan Utara, mereka kesohor. Di dunia Kangouw, sekarang ada dua orang yang bagaikan kata-kata naga sakti, kelihatan kcpalanya, tidak ckornya, dan satu di antaranya, rupanya ada dari Thaykek-pay kita. Begitu? Kiam Beng tertawa. Coba kau jelaskan, siapa dia itu7 Kim Hoa kenal baik sifat gurunya. Biar bagaimana, mana dapat mereka dibandingi dengan Soehoe, ia jawab. Tapi Kim Hoa, jangan kau menyamakan saja, engkau juga hams menjelaskannya, guru itu mendesak. Orang yang kesatu berumur mendekati empat puluh tahun, Kim Hoa lalu menutur. Dia biasadandan sebagai anak sckol ah, romannya mirip dengan sioetjay tolol, orang sebut dia Thicbian Sieseng si Mahasiswa Muka Besi, namanya Siangkoan Kin. Selama empat musim dari satu tahun, dia selalu bawa-bawa kipas, katanya kipas itu adalah gcgamannya, yang dipakainya sebagai totokan Tiamhiat-kwat, untuk menotok tiga puluh cnam jalan darah orang. Katanya dia telengas, banyak orang Kangouw busuk yang telah rubuh di tangannya. Apakah kau pernah bertemu dengannya- Kiam Beng potong. Belum, aku baharu dengar saja.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kiam Beng tertawa. Demikian umumnya! kata ia dengan pandangan enteng. Di kalangan Kangouw banyak sekaii tukang gertak, sampaipun Tjeethian Tayseng katanya ada soeteenya! Siapa sudi main percaya saja? Sebenamya. ahli Tiamhiat bisa dihitung dengan jari tangan! Di Barat-selatan, yang paling kesohor adalah Kaum Keluarga Hek di Propinsi Soetjoan, dan di Utara Kouw Hoei In dari Titlce. Pemah aku coba Kouw Hoei In, dipadu dcngan aku, dia#ada sama liehaynya. Kita tak mampu sating mcnotok. Aku bukan ahli Tiamhoat, tctapi Hoei In tidak mampu jatuhkan aku! Inilah pen yak i tnya Kiam Bcng, kalau bicara. dia suka bawa-bawa dinnya. Tapi sckali ini, dia lekas menambahkannya. la kata: Kouw Hoei In demikian rupa, apalagi Thiebian Sieseng Siangkoan Kin! Sekarang kau sebut itu seorang lagi yang kau bilang dari kaum Thaykek-pay sebenarnya dia orang macam apa? Dia itu terlebih aneh lagi, sahut Kim Hoa. Tak pemah sccara terang-terangan dia muncul di muka umum, tak suka dia berkunjung kepada sahabat-sahabat, selalu dia bckerja secara diam-diam. Dia liehay untuk ilmu pedangnya. Selama Soepeh mengasingi diri di Khockcc-po dan Soehoe menerima murid, selama belasan tahun, baharu ini pertamakali tectjoe dengar namanya. Katanya dia masih muda, baharu berumur dua puluh lebih, kecuali pedang, dia pandai gunai pisau belati, dia biasa menyeterui pembesar ncgcri. Jarang yang ketahui namanya tctapi gampang orang kcnali romannya,, karcna dia berkepala seperti kepala macan tutu! dan bcrmata seperti mata harimau, potongannya kasar. Pcmcrintah telah lukiskan gambamya, untuk bekuk dia. Sebegitu jauh, belum pemah dia kena ditangkap. Kalau begitu, dia tentu ada anggota Piesioe-hwee kata Kiam Beng sambi I kerutkan al is.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kau benar, Soehoe! kata Kim Hoa tiba-tiba. Aku ingat sekarang. Ada yang mengetahui dia ada angkatan muda dari Piesioe-hwee, yang di matanya pemeri nt ah Boan ada bagaikan paku saja. Wajahnya Kiam Beng berubah. Ingat, jangan kau campur pihaknya Piesioe-hwee! la pesan muridnya. Itulah perkumpulan pal-ing bcrbahaya! Bagaimana berbahayanya? mendadakan Teng Hiauw balas menanya. la ada taruh pcrhatian besar untuk kctcrangannya Kim Hoa tapi dia diam saja. Apa itu ada kumpulan tukang bunuh orang dan merampok? Lebih bcrbahaya lagi! terangkan sang ayah. Piesioehwee menyeterui pembesar negeri dan cara bekerjanya senantiasa bergelap! Coba pikir, apa kita boleh campur mcrcka? la menghela napas, lalu ia tambahkan: Aku pun tidak terlalu sukai pembesar ncgcri, dari yang berpangkat besar, sampai yang tcrendah, dalam sepuluh, sembilan ada tukang ganggu rakyat jelata. Ini aku ketahui baik. Kita ada ahli silat sejati, penduduk baik-baik, buat apa kita campur mereka itu? Inilah sikapku, yang menyebabkan kawan-kawan dari Rimba Persilatan tak sukai aku. Kita beberapa orang, mana kita sanggup urus negara? Maka aku buka rumah perguruan silat, untuk siarkan pelajaran Thaykek-pay. Mclainkan untuk ini, kadang-kadang aku berurusan sama pihak pembesar, tctapi inilah karena terpaksa. Orang tidak hendak mempedulikan aku, apa aku bisa bilang? Kiam Beng jadi lesu, tanda ia berduka. Kim Hoa lantas menghiburi guru itu. Teng Hiauw awasi ayahnya, ia tak mengcrti. Inilah kesukarannya. Sebab ayahnya tak dimengerti oleh sahabat dan umum, ia sendiri turut kekurangan sahabat. Sebenarnya ia girang melihat Iain-Iain pemuda berlatih silat sama-sama,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dengan gembira sckali ia ingin bergaul dengan mereka itu, apa daya, orang seperti mengasingkan ia, ia diterima secara tawar, sehingga hatinya tak tentaram sendirinya. Ia heran, kalau ayahnya tahu pembesar ncgcri busuk, kenapa ayah itu bersahabat sama Keluarga Soh. la tahu, dan ia telah lihat sendiri, bagaimana galaknya pahlawan-pahlawan dari Keluarga Soh itu. Ia tak setujui ayahnya, tapi ia tutup mulut, ia tidak bcrani mencntangi. Dalam kesangsian ia sampai pikir untuk pisahkan diri dari ayahnya itu. Soehoe, apa Soehoe bisa duga, murid siapa adanya pemuda yang disangka tergolong Kaum Thaykek-pay itu? Kim Hoa kemudian menanyakan gurunya. Soehoe toh tahu baik, siapa adanya ahli Thaykck sekarang ini. Kiam Beng kerutkan alis. Tentang Kaum Thaykek-pay, kata ia, kecuali Lioc Socpchmu di Khokee-po, ada lagi di Hoolam Dia itu bcrnama Tan Peng. Soepehmu mempunyai beberapa murid saja, berapa jumlahnya, aku tidak tahu pasti, tctapi ia tcrima murid jauh lebih sesudah aku, maka aku percaya pemuda itu bukan muridnya. Mustahil dalam tempo kira-kira sepuluh tahun, orang bisa mewariskan murid demikian liehay? Aku duga, dia ada murid alau turunan dari Thaykck Tan. Golongan Thaykck Tan itu ada hubungan sama maju-mundurnya Thaykek-pay selama beberapa puluh tahun ini. Bicara hal Thaykek-pay, segera Kiam Bcng nampaknya bersemangat. Pada kira-kira liga puluh tahun yang lampau, selama zaman Kaisar Tong Tie, Thaykek-pay ada kesohor sckali, demikian ia mclanjutkan. Dacrah Kota Raja seperti j uga daerah Thaykek-pay. Nama besar itu diciptakan karcna jasanya Vo Louw Sian, murid luar biasa dari Hoolam Thaykek Tan itu. Kim Hoa ketarik, ia pasang kuping. Teng Hiauw pun diam mendengari.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Yo Louw Sian ada murid pen utup dari Thaykek Tan Tan Tjeng Peng, demikian Kiam Beng. Murid pemitup berarti mund tcrmuda urutannya. Bukan main sukarnya Yo Louw Sian dapat mcmperoleh kepandaiannya itu, bukan gampang seperti kau orang. Dia asal Kongpeng-hoe di Titlcc Dia lakukan perjalanan ribuan lie untuk sampai di Hoolam, untuk merantau. Satu kali, ia bertemu sama salah satu murid Tan Tjeng Peng, ia dapat dikalahkan. Yang bikin ia sangat malu, belakangan ia dengar, lawan itu justru ada murid paling buruk dari Tan Tjeng Peng. Karena ini, ia ingin berguru pada Tan Tjeng Peng. Tempo ia majukan permintaan, ia ditolak mentah-mentah. Memang Tan Tjeng Peng tidak sembarangan menerima murid. Beberapa tahun telah lewat sejak Louw Sian ditolak. Selagi Tan Tjeng Peng sudah lupa hal itu, ada satu pcngcmis gagu yang sctiap hari datang menyapui salju di depan rumahnya. Thaykek Tan berkasihan, dia terima si gagu membujang kepadanya. Pada suatu malam, selagi Thaykek Tan pimpin murid-muridnya, ada terdengar suara hclaan napas. Hampir orang itu discrang murid-muridnya Thaykek Tan, baiknya sang guru keburu menccgah. Dia itu ada si gagu, malah dia lalu di kenali sebagai Yo Louw Sian. Saking ingin bclajar pada Thaykek Tan, dia rela menjadi bujang dan berpura-pura gagu, dia ingin mencuri pelajaran Thaykek-koen. Tan Tjeng Peng jadi terharu untuk kesungguhan orang, ia lalu menerima Louw Sian sebagai murid Louw Sian sangat ccrdas dan rajin, dalam tempo tujuh tahun, ia dapat mewariskan kepandaian gurunya, hingga ia dikirim ke Kota Raja, untuk merantau, guna mengangkat nama. Yo Louw Sian-tidak sia-siakan harapan gurunya. Di Kota Raja, orang-orang bangsawan ada piara guru-guru silat, antaranya Pangeran Siauw Ong paling banyak gurunya. Louw Sian sengaja datangi pangeran itu, secara tcrang-terangan, ia majukan tantangan. Ia tidak mau tanam bibit permusuhan, maka di sckitar tempat pieboc, ia pasangi jaring, supaya siapa rubuh, dia jatuh ke dalam jaring

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dan tidak terluka. Dia bcrmaksud baik, tetapi guru-guru silat pangeran itu tidak puas, diadikatakan jumawa, dia dipandang enteng. Dia memang bertubuh kate dan kecil. Akan tetapi, sctelah orang mulai bersilat, bcruntun bebcrapa orang guru kena dirubuhkan satu per satu, melainkan Tang Hay Kong dari Patkwa-pay dan satu tctamu tak dikenal dengan siapa Louw Sian bertanding sen, dengan begitu, ia jadi ditcrima di dalam istana pangeran itu sebagai guru silat. Kiam Beng berhenti sebentar, akan kcmudian mclanjuikan pula: Dua-dua Thaykek Tan dan Thaykek Teng ada sama kesohornya, kepandaian engkongmu tak kalah dengan kepandaiannya Yo Louw Sian, tetapi ia ada pendiam, ia suka mengalah, maka ia membiarkan Thaykek Tan namanya membubung. Kelihatannya Kiam Beng kagumi Louw Sian, tetapi Teng Hiauw tidak. Ayah, aku tidak setuju! nyatakan ia. Kau artikan apa? ayah itu tanya, sctelah ia tercengang. Ayah, Yo Louw Sian bukannya satu enghiong! kata sang anak. Dia berkepandaian tinggi tapi dia jadi guru silatnya satu Pangeran Boan! Kau bersemangat, anak! memuj i sang ayah, yang mengurut-urut kumisnya, apabila ia sudah mengetahui pikiran puteranya itu. Akan tetapi kau tidak tahu Hal tak ada sedemikian sederhana. Tanpa tantangan guru-guru silat Pangeran Siauw Ong, mana dia bisa angkat namanya? Itu justru jalan paling ringkas! Dia jadi guru silat, tetapi dia tidak jadi budak Boan. Dia ada punya maksud lain. Di dalam hatinya, Teng Hiauw berkata: Itu bukan jalan yang ringkas! Dengan mempunyai kepandaian berarti, untuk apa nama saja? Tapi ayahnya bicara ten tang maksud Iain, maka ia tanya Apakah itu, Ayah?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Yo Louw Sian tidak pernah memikirkan akan menurunkan kepandaiannya pada orang-orang Boan, menerangkan ayahnya itu. Dia berdiam di dalam istana belum lama, dia minta cuti dan pulang ke kampungnya, sebagai gantinya, dia tinggalkan anaknya, Pan Houw. Anak ini lebih cerdik dari ayahnya. Dia tidak pantangan, dia tcrima saban murid, tetapi di waktu Wietjiauw -murid berlatih dengan guru dia bcrlaku telcngas. Dia menyerang sungguh-sungguh, dia bikin muridmuridnya, yaitu guru-guru silat lainnya dari Pangeran Siauw Ong, menjadi pecah kepala atau patah kaki tangan, menjadi bcrcacat! Dia kata, begitulah caranya belajar Thaykek-koen, siapa mau belajar, dia mesti bcrscdia untuk dihajar. Karens ini, orang pada mundur tcratur, dalam tempo sepuluh hari, sudah mundur separuhnya. Pangeran Siauw Ong ada punya tiga ribu pengikur. Selang lagi setengah bulan, sisa murid tinggal scratus lebih. Pan Houw juga tidak mengajarkan ilmunya yang sejati. Apa yang ia ajarkan bagus ditonton, dan bisa bikin tubuh sehat, tetapi kegunaannya sebagai ilmu silat, ia tidak turunkan, jadi pelajarannya itu tak dapat digunai. Dari tiga ribu mu-rid, cuma satu Goan Tjoan Yoe yang berhasil, tapi dia ini pun peroleh kepandaian sesudah dia tidak jadi guru silat lagi. Ada orang-orang Boan yang berpangkat, besar dan kecil, yang berguru pada Louw Sian, ayah dan anak, mereka ditcrima dengan baik, akan tetapi pclajaran yang dia orang ini dapatkan, semua tak dapat dipakai berkclahi. Maka akhirnya Tan Sioe Hong, ahli Thaykek dari Kongpeng, diam-diam menanyakan Yo Pan Houw, katanya: Thaykek-koen ada yang lemah dan keras, kenapa diPakkhia semuanya lemah? Mulanya Pan Houw tidak menjawab, ia ganda tertawa, bclakangan, ia bilangjuga: Di Pakkhia kcbanyakan orang bangsawan, mereka bclajar silat untuk suka-suka saja. Sifat tubuh orang Han dan orang Boan pun bcrlainan. Orang Boan bukan orang Han, kau tahu tidak? Atas itu, orang tidak tanya melit iagi. Dcmikian, walaupun Thaykek-koen maju, muridnya yang berarti tidak ada, hingga kemajuan itu ada kemajuan berarti kemunduran. Tidak dcmikian dcngan Siauwlim-pay.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Baharu sekarang Teng Hiauw insyaf, tapi dia tetap tidak setuju Yo Louw Sian menjadi guru silat orang Boan. Ia pun dapat suatu perasaan. Mcngcnai Thaykek-pay, di samping Kaum Teng, ada juga Kaum Tan. Ia duga, pada tipu-tipunya, mesti ada perbedaannya. . Kenapa aku tidak mau gabung itu, untuk dapati keduaduanya? ia berpikir. Ia juga kagumi caranyaatau iebih benar, keuletannya Yo Louw Sian. Lclakonnya orang she Yo itu ada suatu anjuran untuk ia. Kim Hoa, aku hendak pergi ke rumah perguruan, kata Teng Kiam Beng sehabis bercerita, pergi kau temani si Hiauw, memang sudah lama kau orang tidak pemah bertemu. Baharu saja si Hiauw pelajarkan ilmu tangan kosong melawan scnjata, dia sedang gatalnya karena tidak ada yang layani berlatih, sedang aku tidak punya kesempatan, baik kau yang main-main dengannya. Kim Hoa manggut pada gurunya itu, yang terus pergi. Bcgitu lekas berada berduaan, dcngan tari k tangan sochcngny a, Teng Hiauw ajak socheng itu pergi ke lapangan piranti bcrlatih. Mereka jalan sambil bcrlari-lari dan Iclompatan. Dan bcgitu sampai, soetee ini sudah lantas buka bajunya dan pasang kuda-kuda dcngan sikap Tjhioehoe piepee atau Mementil piepee. Socheng, hayo kau masuki, tetapi kau mesti mengalah! adik seperguruan ini menantang, sambil tertawa. Kim Hoa loloskan pedangnya, untuk dihunus. Jangan sungkan, Soetee, kata ia sambil tertawa juga. Kau lebih liehay daripada aku. Kau waspada, jangan kau nanti hajar aku sampai aku tidak mainpu bangkit lagi. Setclah itu, soeheng itu maju menycrang, pedangnya dibalingkan ke kiri dan kanan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Teng Hiauw mengubah sikapnya, ia berkelit, lalu dengan tiba-tiba, ia lompat merangsang, ia menyerang dengan dua tangan berbareng. Kim Hoa hendak tabas kedua tangannya si soetee, tetapi Tcng Hiauw sudah mcndahului tarik pulang tangannya itu, untuk selewatnya pedang, menyambar muka dengan tangan kanan, hingga soeheng ini mesti mundur, karena ia tidak sempat memutar pedangnya. Soetee sudah maju banyak, pikir ia. Karena ini, Kim Hoa mendesak, ia putarkan soetee itu, siapa sebaliknya hunjuk kegesi tan tubuhnya, akan keiit sesuatu tabasan atau tikaman, hingga mereka jadi bertanding dengan sera. Mereka baharu berhenti kctika Kim Hoa kirim tusukan yang liehay, untuk lolos dari mana, Tcng Hiauw berlompatjauh. Nah, apa aku bilang, Soeheng, aku bukannya tandingan kau! kata soetee itu sambil tertawa. Socheng itu bersenyum. Pclajaranmu sudah maju, Soetee! kata ia. Tapi tiba-tiba iacekal tangan orang, matanya mengawasi dan alisnya mengkerut. Man, Soetee, aku hendak tanya kau! ia tambahkan. Teng Hiauw bcrsangsi tapi iaikuti soeheng itu. Mereka duduk di bangku batu. Ada apa, Soeheng? Kita telah berpisah tiga tahun, Soetee, tapi seperti dahulu, kita haras omong dengan terus-tcrang, bukankah? sahut sang soeheng. Teng Hiauw heran, ia manggut Tak usah kau tanyakan itu, Soeheng

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kim Hoa geser tubuhnya lebih dekat. Soetee, aku lihat kau sedang memikirkan sesuatu nyatakan ia. Teng Hiauw bcrdiam, ia melengos dari sinar matanya soeheng itu. Tapi. selagi si soeheng masih awasi ia. ia tanya: Bagaimana Soeheng ketahui itu? Aku lihat itu dari caranya kau bertempur barusan. Di waktu mau menyerang, kau nampaknya bersemangat, tapi setelah serangan dikirim, kau lambat, kau seperti ragu-ragu. Itu ada tanda semangat tidak terpusat. Cara berkelahi itu membuat kau mundur. Thaykek-koen inginkan sebaliknya, ialah ketabahan hati. Kelihatannya kau bisa menangkan aku, kesudahannya. kau yang terdesak Kim Hoa sudah berpengalaman. matanya jadi tajam. Teng Hiauw berbangkit, matanya memandang ke lapangan latihan di luar mana ada bukit merah. Scbcnarnya tidak apa-apa. Soeheng,sahut ia kemudian. sambil ia tertawa. Pada beberapa han yang lalu, aku nampak suatu kejadian yang kurang menyenangkan hatiku. Selama mendengari, Kim Hoa nampaknya ada menaruh perhatian besar, ia heran, tapi setelah Teng Hiauw tutup ceritanya, lantas ia mengatakan: Keterangan kau membikin aku ingat suatu orang, bisa jadi nona itu dia adanya. Biar aku sclidiki dalam tempo beberapa hart, aku nanti kasih kctcrangan pada kau. Benar seperti janjinya, selang beberapa hari, Kim Hoa sudah dapat membenkan jawabannya. Dia kata: Benar dianya! Nona uu mirip dcngan hantu perempuan!. Siapa dia itu? Teng Hiauw mcncgasi. Kcccwa kau mcnjadi bcsar di Pooteng! sahut Kim Hoa, yang tidak segera hendak menyebutkan nama orang. Nona begitu kesohor, umpama kata kau beium pernah mclihatnya, sedikitnya kau mesti pernah dengar!.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jangan mengganggu aku, Soeheng! Teng Hiauw banting-banting kaki Siapa dia itu? Kim Hoa kuatir orang gusar. Apakah kau kenat Kiang Ek Hian, Ahli Waris dari Bwechoa-koen? ia mcnanyai. Dia ada cucu perempuan dari Kiang Ek Hian itu. Dia ada Angie Oehiap Kiang Hong Kcng si Baju Merah. Tcng Hiauw tidak tahu jelas perihal si nona atau keluarganya itu. Coba Soeheng tuturkan lebih jelas, ia memohon. Kim Hoa meluluskan, ia membcrikan penjelasannya. Untuk Shoatang dan Hoopak dua propinsi, pusat ilmu silat ada Kota Pooteng di Hoopak, dari itu banyak ahli waris, atau ketua kaum persilatan, berdiam di kota ini, di antaranya yang paling ternama adalah Tjiong Hay Peng dari Hengie-pay, Koan IeTjeng dari Banseng-boen dan Teng Kiam Beng dari Thaykek-pay. Seorang iagi adalah Kiang Ek Hian dari Bweehoa-koen. Ek Hian berusia paling tinggi, sudah enam puluh tahun lebih, dari itu, untuk Kiam Beng, dia terhitung tjianpwee, angkatan terlebih tua. Anaknya, Ek Hian telah menutup mata dcngan meninggalkan satu anak perempuan ialah Hong Keng, maka engkong dan cucu tinggal berduaan saja. Si nona mempelajari ilmu silat, iacerdik dan bakatnya baik, ia maju dengan pesat, hingga ia sangat disayang dan dibanggai engkongnya, yang bawa ia merantau, hingga kemudian lagi, nona itu dapat perkenan untuk keluar sendirian. Tcng Hiauw pernah dengar namanya Kiang Ek Hian, tapi ia tidak bcrgaul, ia tidak tahu hal cucu perempuannya. Lalu ia menanyai alamat orang. Ditanya begitu, Kim Hoa menarik napas.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Selayaknya Soehoe bergaul dengan orang-orang scbangsa Kiang Ek Hian itu, kata ia, sayang karena sikapnya Soehoe, perhubungan jadi sepcrti renggang, hingga kau tidak kctahui alamatnya! Apa ini namanya orang yang sama-sama tinggal di Pooteng? Teng Hiauw berdiam Rumahnya Kiang Ek Hian gampang untuk dikenah, Kim Hoa mencrangkan. Selewatnya pasar di Seetoa-kay, kau menuju ke selatan, di ujung itu ada sebuah rumah besar yang di luar pintunya ada sepasang singa batu, itulah dia. Apa kau perlu diantar? Soeheng pandang aku sebagai bocah cilik saja! kata Teng Hiauw sambil tertawa Aku toh besar di Pooteng! Apa kau hendak mengunjungi orang tua itu? Kim Hoa tanya pula. Apa kau kegilaan si nona baju merah? Teng Hiauw tidak menjawab, ia melainkan tertawa. Kim Hoa menduga benar. Dia memang niat can Kiang Ek Hian, dia ingin lihat pula si nona, dia cuma tidak mendelu pula terhadap nona itu. Di hari kedua, Teng Hiauw benar-benar mengunjungi Kiang Ek Hian. Ia lakukan itu secara diam-diam. Di karcis nama, ia bahasakan diri boanseng. Tapi dia ketemu batunya. Ketika dia sampai di depan rumah, dia ketemu dengan seorang dengan dandanan sebagai bujang, pada ia itu dia menyerahkan karcis namanya. Oh, Teng Kongtjoe! kata bujang itu. Dari lagu suaranya, bujang itu bukan mirip orang desa. Lekas bawa masuk! kata Teng Hiauw, yang tidak ingin bicara banyak Ya, ya, sahut si bujang berulang-ulang. Baik, Kongtjoe, harap tunggu sebentar.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bujang itu kata sebentar, tetapi Teng Hiauw mesti berdiri menantikan sampai kakinya kesemutan, baharu dia itu keluar pula, untuk terus menyerahkan karcis nama. Maaf, Kongtjoe, kata ia semban tertawa. Menyesal, Looyatjoe lagi cuci kaki, dia tidak sempat untuk menemui kau. Bukan kepalang mendongkolnya Teng Hiauw. Apakah ini bukan aturan si tukang jaga pintu? tanya ia. Orang datang dengan maksud sungguh-sungguh untuk menemui. Beium sempat Teng Hiauw turup mulutnya, atau daun pintu telah digabmki, d isusu I sama suara yang si anak muda dengar: Koko Hok, Looyatjoe menyuruh kau masuk, jangan kau melayani segala orang pengangguran! Tcng Hiauw kenali, itulah suaranya si nona baju merah. Pemuda ini pulang dengan terus masih mendongkol, sampai itu maiam dia tak dapat tidur pulas, hingga dia dapat pikiran: Mereka tidak sudi kctcmui aku, mustahil aku tak bisa ketemui sendiri? Segera ia loncat bangun, ia mengenakan pakaian ringkasnya, setelah selesai, ia keluar dari rumahnya, akan menuju ke rumahnya Kiang Ek Hian. Malam ada sunyi. Rumahnya Keluarga Kiang gelap-petang, pintunya tertutup rapat. Rumah itu menghadapi jalan besar, dan belakangnya bcrbatas dengan sebuah kali. Teng Hiauw menghampiri tembok belakang ke atas mana ia scgcra loncat naik, untuk memandang ke sebeiah dalam. Keadaan di situ tenang scperti di bagian dcpan. Di saat ia hendak meloncat turun, tiba-tiba ia bcrsangsi. Hawa scjuk membuat otaknya anak muda ini jadi lebih tenang, hingga ia sadar. Ia datang melulu karena diliputi nafsu kemendongkolannya. Di waktu malam ia mcndatang rumah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

orang, apa itu bukan perbuatan lancang? Umpama ia bertemu sama tuan rumah, alasan apa ia punyai? Maka dari itu, ia celingukan. Ketika itu sudah jam tiga lewat, sang rembulan sudah turun rendah. Di antara siuran angin, pelahan terdengar suara sang gagak. Teng Hiauw keragu-raguan sekian lama, akhimya ia ambii putusan untuk turun juga. Ia terpengaruh oleh rasa penasarannya. Benar sekali ia hendak loncat turun, tiba-tiba datang sambaran angin dari arah belakang. Itulah sambaran golok, ia duga. Untuk egoskan diri, ia terus loncat turun. Menyusul mana, ia tampak berkelebat satu bayangan, yang loncat turun juga, tetapi sesampai di bawah, bayangan itu mencelat pula ke atas, ke gunung-gunungan di sebeiah depan, jauhnya setumbak atau lebih. la lantas lihat seorang berdiri menghampiri ia, tangannya melambai-lambai. Ah! ia keluarkan suara tertahan. la sebenamya niat tegur bayangan itu. Ia belum sempat buka mulutnya, atau bayangan itu berteriak: Ada penjahat Ia kaget, ia berseru: Aku bukannya penjahatl Aku ia berhenti dengan mendadakan. Sambaran angin datang pula dari belakang, rupanya dari sebuah peluru. la bcrkclit ke kiri, lalu ke kanan, karena serangan datang beruntun. Tatkala serangan berhenti dan ia bersiap, penyerangnya tetap tidak kelihatan, bayangan di atas gunung-gunungan pun turut amblas. Suasana kcmbali sangat sunyi. Aku Teng Hiauw! pemuda ini berseru, dalam kesangsian tetapi pun hati panas. Aku datang untuk bicara! Belum suara itu berhenti, atau dari samping, dari gombolan pohon seruni. ada sambutan suaranya seorang perempuan, yang disusul sama munculnya scparuh tubuh: Siapakah Teng Hiauw itu? Kita tidak mempunyai sahabat dengan nama dcmikian! Lalu, beberapa biji Thielian-tjic menyambar pula

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Teng Hiauw gunai pedang Tanhong-kiamnya, untuk menangkis, tubuhnya terputar, kemudian ia berlompat ke arah si nona sambil berseru: Nona Kiang, tahan dulu: Aku hendak bicara! Nona itu terus muncul, hingga antara sinarnya si Puteri Malam, kelihatan nyata pakaiannya scrba merah. Dia ada Kiang Hong Keng si cantik. Tapi ia muncul untuk lari. Nona, tunggu! berseru Teng Hiauw, yang terus mengejar. Nona itu loncat naik ke atas gunung-gunungan, dari sana ia loncat lebih jauh ke para-para pohon anggur. Selagi Teng Hiauw menyusul, tiba-tiba ia dengar seruan keras dari seorang tua. Kembalilah! Menyusul itu, antara suara berisik, sebuah batu besar melayang datang. Ia segera lompat berkelit Bolch dibilang di itu saat juga, pada jendela lauwteng di taman itu terlihat cahaya terang, dari api yang baharu dinyalakan, disusul sama nyalanya beberapa tenglolcng yang digantung di cabang-cabang pohon, hingga taman itu menjadi terang, apinya memain, mendatangkan bayangan daun-daun atau cabang-cabang pohon. Lalu, dari tempat lebat dengan pepohonan, muncul beberapa orang. Teng Hiauw nampak si nona serba merah, si bujang yang tadi siang menyambuti karcis namanya dan seorang tua yang kumis-jenggotnya sudah ubanan tetapi sepasang matanya tajam mencorong. Bocah dari mana berani lancang memasuki rumahku? orang itu memperdengarkan suaranya yang keren. Nyalimu benar besar! Teng Hiauw mcndongkol, akan tetapi ia menahan sabar. Kiang Lootjianpwee, aku bukannya orang jahat seperti barusan aku sudah terangkan, kata ia. Harap kau tidak menuduh aku.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Orang tua itu maju setindak. Habis kau datang untuk apa? ia mencgaskan. Teng Hiauw bungkam. Ia memang belum punyakan alasan. Tapi ia tidak bisa berdiam lama. Aku datang untuk can Nona Kiang, guna memberi penjelasan. kata ia kemudian. Wajah orang tua itu berubah seketika. Can cucuku perempuan untuk memberi penjelasan? kata ia. Kau bilang apa ini? Cucuku tidak kenal kau! Penjelasan apa itu? Jangan-jangan kau kandung maksud jelek! Lekas omong terus terang, aku masih bisa memberi ampun padamu! Ia baharu mengatakan, atau matanya bersinar pula. Tangannya pun scgcra menuding. Lagu suaramu menyatakan kau datang dengan maksud baik, tetapi lihatlah macammu! ia tambahkan. Apa itu di tanganmu? Untuk memberi penjelasan apa perlu dengan pedang? Kenapa kau uber-uber cucuku? Kepandaian apa kau andali? Kau sebenamya kandung maksud apa? Bukan main mendongkolnya Teng Hiauw, akan tetapi ia toh sadar. Ia memang membawa-bawa pedang. Dengan tiba-tiba, mukanya menjadi merah. Ia malu karena baharu ia sudah kejar anak gadis orang. Buru-buru Teng Hiauw masuki pedangnya ke dalam sarung, lalu ia memberi hormat. Maaf, Lootjianpwee, ia kaia. Harap Lootjianpwee tidak curigai aku. Aku bukannya scorang penjahat. Yang tinggal di scbcrang sana, Ahli Waris Thaykek-pay Teng Kiam Beng adalah ayahku. Orang tua itu tidak menjawab, ia hanya tertawa dingin. Harap Lootjianpwee sukadengar keteranganku, menjelaskan Teng Hiauw lcbih jauh. Ia Iihat orang masih

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sangsikan padanya. Pada beberapa hari yang lalu, selagi aku pergi berburu, aku melihat cucumu tengah dikepung banyak orang, dengan suka sendiri, aku bantui ia pecahkan kurungan itu. Setahu kenapa, tiba-tiba si nona serang aku dengan Thielian-tjie. Barusan pun untuk menangkis scnjata rahasia maka aku telah hunus pcdangku. Yaya, jangan dengari dial Nona Kiang memotong, untuk cegah engkongnya sahuti si anak muda. Ia ada orang busuk! Dia adalah kawan rombongan orang itu, mereka memanggil dia dengan panggilan Teng Kongtjoe! Baharu Teng Hiauw bilang Bukan atau si orang tua sambil mengawasi dia dengan tajam, kata padanya: Kiranya kau ada Teng Kongtjoe, maaf, maaf! Umpama kata kau benar sudah tolongi dia, tetapi orang Kangouw biasanya tidak mengharapkan pembalasan budi, maka itu, kenapa kau datang cari dia di waktu malam buta-rata? Apakah itu untuk minta dia haturkan terima kasih pula kcpadamu? Laginya, melihat kcpandaianmu barusan, kepandaian itu masih belum cukup untuk menolongi cucuku! Dan ada lagi! Ayahmu ada sahabat baik si or-ang besar she Soh, orang-orang yang kepung cucuku justru ada guru-guru silat keluarga itu, maka kau, apa kau bukannya bersekongkol dengan mereka itu? Apa kau bukannya ecngaja mcnolong untuk pedayakan cucuku? Hayo bilang, bilang! Teng Hiauw malu berbareng likat sampai ia mengeluarkan keringat dingin. Ia pun mendongkol sekali. Memang ayahnya ada sahabatnya Soh Si an Ie, tapi ia tidak sudi akui bahwa ayahnya keliru. Ia mendongkol karena dituduh sekongkol sama rombongannya Hek Tjit Kau keliru, Lootjianpwee! ia lantas membantah, tcrpaksa ia bicara kcras Ayah adalah ayah, anak adalah anak, ayah ada punya sahabatnya, anak pun ada punya sahabatnya sendiri! Mustahil karena ayahku kenal Keluarga Soh, lantas orang-orangnya keluarga itu ada sahabat-sahabatku juga?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lootjianpwee pun bilang, aku tidak punya kesanggupan untuk tolongi cucumu. Memangaku tidak punya kepandaian, aku tak dapat dibandingkan dengan cucumu yang pandai ilmu silat pedang Bweehoa-kiam, tetapi toh dengan kepandaianku yang rendah ini, aku pernah pecahkan kurungan kepada cucumu pcrcmpuan, hingga dia lolos dari bahaya Lootjianpwee, aku telah dengar namamu yang besar, yang dihormati, tetapi pendengaran tidak sama dengan bukti penglihatan. Rengalamanku masih hijau, aku tak mengerti aturan kaum Kangouw, tetapi aku tahu, Lootjianpwee harus tunjang angkatan muda, bukannya karena mengandali ketuaan dan keagungannya, dia justru menghina si muda! Teng Hiauw seperti lupa dirinya, ia cabut pula pedangnya. Si orang tua belum bilang apa-apa, atau cucunya sudah hunus pedang. Orang she Teng, kau menyindir, kau menghina nonamu! ia mcmbcntak. Aku mau Iihat ilmu silat pedang Thaykekkiam! Jangan, Keng-djie!mencegah si orang tua, yang tank cucunya itu. Dengan tiba-tiba, sikapnya jadi sabar. Torus ia awasi si anak muda, ia tertawa Ia kata: Kau bemyali besar. Kau harus mengerti, meskipun ayahmu, apabila dia mencmui aku, dia mesti hormati aku sebagai scorang tjianpwcc! Karcna kau ada Ahli Waris Kaum Thaykek-pay, kau mesti mengerti aturan Kangouw, apabila lain kali kau berternu sama angkatan tenia, tak boleh kau berlaku kurang ajar begini. Kau tidak kenal aturan. Kenapa malam-malam kau lancang memasuki rumah orang? Untuk ini kau harus ditelikung, buat diserahkan kepada pembesar negeri, alas tuduhan jadi penjahat Kau juga bawa senjata serta senjata rahasia! Apa begini caranya untuk mengunjungi kaum tua? Seharusnya aku mcmberi ajaran padamu, tapi mengingat kau masih muda dan kurang pengaiaman, aku suka mcmbcri ampun. Kalau lain kali kau mengacau pula, jangan kau pcrsalahkan aku!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Teng Hiauw pandang si nona, lalu ia menjura pada orang tua itu. Tjianpwee, terima kasih untuk nasihat kau ini, yang aku tak nanti lupai, kata ia. Aku mengerti sckarang, aku tidak berani menenma pula pengajaran kau Habis kata begitu, ia putar tubuhnya dan menuju ke pintu dengan tindakan lebar, tapi sctclah dekati tembok, ia enjot tubuhnya, naik ke atas tembok pekarangan. Di sebelah belakang, sambil tertawa, ia dengar suaranya si nona: Bocah itu pernah bcrkata dia tidak mengharap untuk berternu pula dengan aku, tapi malam ini, tidak kcruan-kcruan dia datang pula!. Setelah itu, ia dengar suaranya si or-ang tua: Eh, anak bengal, janganlah berlaku kurang ajar! Kenapa sebut-sebut bocah? Kau tidak punya sedikit juga kehormatan orang perempuan.* Teng Hiauw tidak ambil perduii. ia terus loncat keluar. Tapi ia tctap mendongkol Diam-diam ia tertawa dalam hatinya dan kata: Aku bersikap keras, lantas tua bangka itu jadi lemas, aku percaya dia tidak punya kepandaian berarti, namanya nama kosong belaka. Lantas ia bcrjalan pergi, sesampainya di pinggir kali, mendadakan di situ ada mcnyambar sebatang panah disusul sama bcrkclcbatnya satu bayangan, yang keluar dan alingan tumpukan batu. Bayangan itu berhcnti di dcpannya si anak muda scraya tangannya dipakai mcnghaiangiBangsat, kcmana kau hcndak pergi? Lekas tinggal barang curianmu! dcmikian dia membentak. Teng Hiauw mengawasi dengan heran. ia iihat seoring dengan usia tiga puluh lebih, romannya cakap, tubuhnya tidak tinggi besar dan tidak terlalu keren, mclainkan sorot matanya tajam. berpengaruh. Ia tidak takut, malah selagi mendongkol. Ia sekarang ingin melampiaskan itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kau adalah si bangsat! ia membalik. Tengah malam buta rata, kau sembunyi di pinggir kali! Kau bik in orang kaget! Orang itu tertawa cekikikan. Siapa membuat kaget? dia jawab. Siapa surah, tengah malam buta rata ini, kau kelayapan di sini? Kau menggendol pedang, kau mengenakan pakaian malam, pasti jalanmu tidak benar! Hayo kau akui terus tcrang, kau ada bangsat atau tukang perkosa orang perempuan? Apakah kau tidak bunuh orang? Kau bicara, barangkali aku masih dapat mengampuni kau! Teng Hiauw jadi sangat gusar. Kau mau minggir atau tidak? ia membentak. Eh, bangsat cilik, jangan bertingkah! orang itu menghina. Nampaknya kau hcndak bikin pcrlawanan! Bocah, hunus pedangmu, jikalau kau bisa menangi aku, baharu aku suka mengasih jalan? Kau hcndak mclayani aku? tanya Teng Hiauw. Baik, aku nanti temani kau! Cabutlah senjatamu! Orang itu tertawa sampai mendongak. Kau benar, aku memang hendak menjaja! ilmu pedangmu! Tapi aku bukan mau adu pedang dengan pedang, aku hendak mencoba pedangmu dengan kedua kepalanku saja! Sungguh jumawa! Teng Hiauw berseru saking murka. Kau hendak layani pedangku dengan tangan kosong? Kau tidak can tahu dulu, siapa aku ini? Mustahil kau belum pernah dengar liehaynya Thaykek-ldam? Orang itu menguap, ia ngulet dengan kedua tangannya, lalu ia tertawa haha-hihi. Jangan ngobrol saja! ia bilang. Siapa kesudian cari tahu tentang asal-usulnya ilmu silatmu? Thaykek-kiam ada

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Thaykek-kiam, kau adalah kau! Kau sang bocah, apa kau ketahui tentang Thaykek-kiam? Jangan kau pandang hina sepasang kepalanku inil Nah, kau majulah, bangsat cilik! Teng Hiauw tak dapat bcrsabar lagiJikalau kau tidak diberi hajaran, kau tak tahu liehaynya! ia berseru. Ia lompat maju, ia menikam orang punya iga kiri. Ia gunai tipu serangan Kauwlie tjoantjiam atau Nona tangkas menusuk benang. Orang itu mengibaskan tangannya, ia menggeser ke samping kiri, menyerang pundak kiri. Teng Hiauw berkelit, scmbari kelit, pedangnya menikam tcnggorokan. Ia bcrlaku scbat bukan main. Lawan itu benar-benar gesit. Ia berkelit ke samping, lantas tahu-tahu Teng Hiauw merasakan sambaran angin dari arah belakangnya. Itulah tanda, musuh sudah bcrada di sebclah belakang. SambiI gescr kaki ke samping, Teng Hiauw putar tubuhnya ke belakang, pedangnya sckalian diayun, dipakai membabat ke belakang, untuk tabas Iengan orang. Orang itu tertawa, ia loncat mundur. Ke mana kau hendak lari? berscru Teng Hiauw, yang lompat mcnyambar, kepada kedua kaki or-ang. Itulah gerakan Benghouw hokkian atau Harimau galak mendekam. Gerakannya Teng Hiauw cepat sekali, akan tetapi itu orang masih lebih sebat. Dengan satu enjotan, ia angkat kedua kakinya, bcrbareng dengan itu, dengan tangan kiri di dada, ia menyabet dengan tangan kanan pada Iengan orang Itulah pukulan Yoeliong tamdjiauw atau Naga mengulur kuku. Sambil menyamping, Teng Hiauw geser tangannya, setelah loios dari bahaya, ia bergerak dari luar kc dalam. menikam iga lawan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Orang itu berseru, ia egos tubuhnya, sesudah mana, ia merangsang pula, saking gesitnya. kembali ia ancam si anak muda, yang ia arah kcpalanya. Kau terlalu menghina! berseru Teng Hiauw saking panas hatinya. Setelah kelit kcpalanya, ia menabas, dari bawah ke atas. Dari kelitan Liongheng hoeipou atau Naga terbang, ia gunai tikaman Hoansin hiankiam atau Mempersembahkan pedang. Ini penyerangan ada berbahaya, tetapi cuma-cuma saja terhadap lawan yang gesit itu, yang sukar di tikam atau ditabas, malah dialah saban-saban mengancam. Teng Hiauw jadi heran. Ayah bilang Thaykek Sipsam-kiam tidak ada bandingannya, kecuali Soepeh, pikir ia. Ayah pun bilang, aku telah dapati kepandaiannya tujuh atau delapan bagian, umpama aku merantau, aku tak usah kuatir kena orang permainkan. Pasti sekali aku percaya kata-kata Ayah itu. Tapi sckarang aku menjumpai lawan yang bertangan kosong ini. Teng Hiauw tidak tahu, ayahnya punyakan tabiat tak mau kalah, sedang lawannya ini adalah orang Kangouw dari kelas satu, tidak saja kepandaiannya liehay, pengaruhnya pun besar, hingga banyak sekali or-ang yang tu-nduk kepada titahntahnya. Menghadapi lawan scbagai ini, mana bisa ia tidak jatuh di bawah angin.. Di sebelah sana, sang lawan juga kagumi tandingan ini, yang muda tapi sangat gesit dan tangkas, beberapa kali serangannya yang bcrbahaya. dia itu dapat elakkan. Teng Hiauw jadi penasaran, segcra ia gunai sccara sungguh-sungguh tipu-tipu dari Thaykek Kicbocn Sipsamkiam, untuk desak lawanitu, sampai sinar pedangnya berkelebatan bagaikan kilat. Sekarang sang lawan tidak berani lagi memandang enteng, untuk melayani ia gunai Tjaytjhioehoat ilmu pukulan Memotong langit.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Biar bagaimana, Teng Hiauw kalah latihan. ia kalah ulet, scsudah coba mendesak hebat, dengan sia-sia, ia lantas kena terdcsak. Tidak lagi ia sanggup kirim tikaman-tikaman atau bacokan-bacokan yang membahayakan, ia kewalahan menangkis atau berkeli t. Maka lama-lama, ia jadi sibuk sendirinya. Datanglah satu saat baik, satu lowongan, seccpat bisa, Teng Hiauw mcnusuk dengan bengis ke ulu hati orang. Lawan itu sedot perutnya, ia membungkuk sedikit, selagi tangan si anak muda melonjor, ia mendorong sambil mcngetok, atas mana, Teng Hiauw mundur sempoyongan, liampir ia rubuh, lengan kanannya berbareng dirasai sangat sakit. Pedangnya, tanpa ia merasa, telah kena dirampas. Dan sedang ia bingung, tahu-tahu api lentera Khongbeng-teng mcnyorot kcpadanya, disusul sama seruan: Tjoe Soesiok, beri dia ampun.! Itulah suara nyaring tetapi halus, menyusul mana, satu tubuh langsing melesat, datang kepada mereka, sesudah datang dekat, dia tcrnyata berpakaian serba merah. Karcna dia ada Nona Kiang Hong Keng yang nakal. Ah, Siauw-soemoay! kata orang yang dipanggil Tjoe SoesiokPaman Guru Tjoe itu. Tapi ia tertawa. Kenapa kau masih belum tidur? Belum, Soesiok, karcna kita telah digerecoki setengah malaman oleh bocah ini, sampai aku letih sekali! sahut si nona. Mereka bicara begitu asyik sampai Teng Hiauw tidak diperdulikan lagi. Dia malu, mukanya bcrscmu merah, tangannya sakit Ia gunai itu kctika baik, dengan tak gubris lagi pedangnya, ia putar tubuhnya, untuk lari di sepanjanggih-gili kali. Iabemiat pulang. Ia lari baharu beberapa t indak, sekonyong-konyong ada angin berkesiur di bclakangnya, jidatnya kena ditekan. Ia tidak berani menoleh, ia hanya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

loncat ke samping, baharu ia putar tubuhnya, akan tengok si pengejar. Tjoe Soesiok ada di depannya! Aku tak dapat lawan kau, habis kau mau apa? ia mencgur dengan sengit. Ia ada sangat mendongkol. Orang tolol! kata orang itu sambil tertawa berkakakan. Kau kalah, kau lari! Apakah kau tidak inginkan lagi pedangmu? Apakah kau hendak korbankan itu? Ia cekal pedang orang, ia pentil-pentil itu, hingga terdengar suara nyaring yang bcrsih. Ia kata pula: Pedangmu ini tak dapat dicela! Apa benar kau ikhlas akan korbankan? Tidak, aku tidak mau! jawab Teng Hiauw dalam scngitnya. Jangan kau terlalu jumawa karena kau menangi aku dan dapat ram pas pedangku itu! Lain waktu, pasti aku akan rampas pulang itu dan tangan kau1 Sekarang tidak, tetapi akan datang harinya! Mustahil untuk sclamanya aku tidak marapu rubuhkan kau? Orang itu tertawa tcrbahak-bahak. Apakah kau sangkaaku temahai pedangmu ini? kata dia. Tidak, kau legakan hatimu! Pedang yang scpuluh kali lebih bagus daripada ini, aku tidak sudi, apapula pedangmu ini! Nah, simpanlah ini, lain kali, jangan kau memberi lain orang rebut pula dari tanganmu!-.. Teng Hiauw mengawasi dengan hati bimbang, ia sangsi untuk menyambuti. Sebenarnya ia berat akan korbankan pedangnya Tanhong-kiam itu, tapi barusan menuruti suara hati ia sudah keluarkan kata-kata untuk merampas pulang Sekarang pedang itu dikembalikan Orang itu mengawasi sambil bersenyum, rupanya ia bisa duga kcragu-raguannya Teng Hiauw. Ah, orang tolol, apa artinya kena dikalahkan? kata ia. Ini cuma sedikit pelajaran Orang gagah kaum Kangouw siapa yang tak pernah didampar gelombang dahsyat? Baharu pedangmu dirampas, mustahil orang itu kau anggap sebagai musuh besar?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Habis bagaimana dengan negara kita, yang orang Boantjioe telah rampas9 Selagi bicara, sikap orang itu jadi demikian keren, sehingga Teng Hiauw kena dipengaruhi, tanpa merasa. Ia ulur tangannya, akan sambuti pedangnya. Kau ada satu enghiongapa kau suka beritahukan she dan namamu? kata ia. Orang itu tertawa sambil melenggak. Tak perlu kau tanya she dan namaku! ia menyahut Kau ada satu siauwya, mengetahui namaku, untuk kau tak ada faedahnya. la putar tubuhnya dan bcrtindak pergi. Kalau tadi ia mau angkat kaki. sekarang Teng Hiauw berdiri tcrcengang. Si nona pun bcrlalu, bersama-sama orang lelaki itu, sembari jalan mereka pasang omong sambil tertawa, sampai suara mereka, tindakan kaki mereka, tidak terdengar lagi, sampai tubuh mereka, bayangan mereka, pun tidak tertampak. Teng Hiauw mengawasi dengan bengong. sampai tiba-tiba, ia sadar tapi dengan pikiran kusut. Ia benci mereka, ia pun sukai mereka: Si nona ada polos, si orang lelaki satu laki-laki. Dua-dua mereka ada sangat menarik perhatiannya, ia seperti terbetot pengaruh luar biasa. Si nona panggil si Iclaki Tjoc Socsiok- Parnan Guru Tjoe. Si lelaki bahasakan si nona Siauw-soemoay adik seperguruan. Hubungan apa ada di antara mereka bcrdua? Lelaki itu ada mund atau cucu murid si or-ang tua she Kiang itu? Tak dapat Teng Hiauw pecahkan keganjilan itu. Mustahil satu paman panggil kcponakannya satu adik seperguruan? Mustahil satu adik seperguruan panggil soehengnya -kanda

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

seperguruan paman? Dan kenapa, nampaknya perhubungan mereka bcrdua demikian rapat? Tanpa merasa, Teng Hiauw mengiri. Toh baharu saja dia didamprat si nona! Lama anak muda ini berpikir, akhirnya, ia tertawa. Dasar aku yang tolol ia tegur dirinya sendiri. Perduli apa mereka itu? Aku toh tak nanti kctemu pula mereka? la sampai di rumah di waktu ayam jago mulau berkeruyuk, ia mcrasa letih sekali. Ia gulak-gulik di atas pembaringannya. Sampai terang tanah, baharu ia bisa pulas. Ia bisa tidur dengan nyenyak. Entah jam berapa, ayahnya membangunkannya. Dan datang-datang, ayah itu menegun Eh, kenapa kau tidur begitu nyenyak? Tadi malam kau bikin apa? Lihat, tetamu semua sudah pada pergi! Mcmang Kiam Beng telah beberapa kali tengok anaknya itu, ia sampai raba jidatnya, yang rada hangat, ia tidak tega untuk membanguni, ketika tetamu-tetamu, yang bcrkunjung, pada berangkat pergi itu waktu sudah mendekati tengah hari ia longok pula anaknya .itu, yang ia kuatir jatuh sakit. Hatinya ayah ini lega apabila ia dapat i anaknya tidak kurang suatu apa. Ia hanya heran, kenapa anak ini tidur demikian nyenyak. Itu tak mesti tcrjadi buat orang yang yakinkan Thaykek-kocn, yang sebal iknya, mesti bangun pagi-pagi. Kalau sang ayah mengherani putcranya, si putera pun tercengang mendengar ada kedatangan tetamu, hingga tanpa merasa, ia memandang ke jendela. Ia masih dapat melihat tetamu-tetamunya tiga orang -yang sedang bertindak keluar. Ia lantas kenali mereka itu, ialah Keluarga Son, pahlawan pertama dari satu guru silat Keluarga Hoa, dan yang kctiga, sahabat ayahnya, ialah Soh Tjie Tiauw, putera ketiga dari Soh Si an le, pemuda mana sering datang ke rumahnya. Ia segera menduga, pahlawan dan guru silat itu datang untuk membikin perhitungan, atau mereka bicara jelek tentang ia di

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

depan ayahnya itu. Maka ia melengak. Tapi hatinya lega kapan ia berpaling pada itu ayah, wajah orang tua ini tidak saja tenang malah bersenyum berseri-seri. Ayah itu masih mengawasi ketika dengan tiba-tiba ia menghela napas dan bcrkata: Tahun dan bulan lewat bagaikan air mengalir, tanpa merasa aku telah datang ke Pooteng ini sudah dua puluh tahun lebih kau telah berumur sembilan belas tahun, sembilan belas tahun! Teng Hiauw awasi ayah itu, ia merasa aneh. Entah kenapa, ayah itu sebut-sebut umurnya. Ketika kemudian ia hendak majukan pertanyaan, ayahnya itu, yang awasi ia itu, bersenyum dengan tiba-tiba. Kau sudah berusia sembilan belas tahun, kau sudah mesti dijodohkan, aku. Teng Hiauw tcrperanjat, hingga ia potong ayahnya itu: Ayah, aku masih belum pikir untuk menikah! Dari gembira, Kiam Beng jadi kurang senang. Ia goyanggoyang tangan. Dengar dulu! ayah ini. Satu anak tak boleh scmbarang potong perkataan orang tua. Kau mengerti? Kau sudah berumur sembilan belas tahun, kau tidak kecil lagi, setelah bertunangan, kau lantas jadi orang dewasa! Apakah kau tidak mengerti ini? Kau lihat beberapa tetamu kita itu? Mereka datang untuk jodohmu. Pihak perempuan ada Keluarga Hoa. Aku sudah terima baik lamaran mereka; Kau sudah terima baik, Ayah? Teng Hiauw tcrkejut. Keluarga itu ada keluarga berpangkat, kita dari kaum ahli silat, adakah itu cocok? Urat-urat di jidatnya pemuda itu sampai terlihat nyata, tanda sibuk hatinya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan dingin Kiam Beng pandang puteranya itu. Apa jeleknya nona dari keluarga berpangkat? kata ayah ini. Mereka sendiri tidak cela kita, habis kau hendak memilih yang bagaimana? Tetapi, Ayah, kata anak itu yang menahan sabar. Bukankah Ayah sendiri yang pernah bilang pesan Engkong adalah melarang kita menjadi orang berpangkatnya bangsa Boan? Kenapa kita justru berbesan dengan orang Boan sekali? Kiam Beng menjadi tidak senang. Eh, kenapa kau tidak dengar aku? ia menegur. Apa aku perintah kau pangku pangkat dan bekerja untuk bangsa Boan? Kenapa kau lancang bawa-bawa pesan Icluhur kita? Benar dulu Keluarga Hoa itu pangkupangkat tempi sudah sejak lama dia undurkan din Dia pun, seperti Keluarga Soh, ad a dermawan bukannya pcmbesar busuk! Kau tahu, Keluarga Hoa hendak jodohkan keponakannya dan cabang dekat, dan orang perantara ada Soh Kongtjoe. Nona itu cantik, mengerti surat dan adat-istiadat, dia pandai menjahit dan menyulam. menikah dengan nona itu, apa kau tidak merasa beruntung? Ayah itu mendelik, ia bersenyum tawar ketika ia menambahkan: Kau suka kelayapan sama perempuan hutan? Kau mcnycbut diri keluarga ahli sifat, habis apa kau hendak cari nona tukang dangsu? Benar begitu? Teng Hiauw tunduk, mukanya merah. Aku tidak menyebut demikian, ia menyahut. Kau tidak memikir demikian, itu bagus! kata sang ayah, yang ketok mejadengan pelahan. Mcskipun kita ada dan keluarga ahli silat, aku tidak menyetujui nona tukang dangsu. Kau tahu. satu isteri mesti bijaksana dan tahu aturan, tetapi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

nona-nona Kangouw melainkan pandai naik di atas tambang, mcnunggang kuda, mainkan golok dan pcdang, tetapi megang jarum, ia rasai itu terlebih sulit daripada mainkan golok besar. Kau pikir, perempuan demikian dapat merawat suami? Kembali ayahnya ketok meja, dengan sama pelahannya. Umpama cucu perempuan dan si orang tua she Kiang ia kata pula. Mendengar itu, Teng Hiauw kaget sekali. Ia menduga ayahnya sudah tahu rahasianya. Tetapi ayah itu melanjuti: Kiang Hong Keng yang dipanggil Angie Liehiap setiap kali dia muncul di udara tcrbuka! Satu nona iimur tujuh atau dclapan belas tahun, kerjanya naik-turun kuda saja, dia berkeliaran, dia main gagah-gagahan adu kepandaian dan bercidera dengan orang, maka nona scmacam itu man a tahu kewajiban satu isteri? Teng Hiauw diam saja, sang ayah pun tidak mcmperdulikannya, ayah ini telah tetapkan perjodohannya hanya sejak itu, di samping meyakinkani ilmu silat, ia ingin putera ini belajar juga ilmu surat, kelakuannya harus sedikit diubah hingga jadi sedikit lemah-lembut, agar besannya tidak katakan dia kasar dan nanti menertawainya. Teng Hiauw ada sangat tidak setuju, ia tidak puas sekali. la jadi mcrasa seperti terbelenggu. Memang, pendiriannya dengan pendirian ayahnya itu sudah terpisah jauh jaraknya, urusan perjodohan itu menambah kerenggangan. Ia pun tak puas ayahnya mencela Hong Keng. Tapi berbareng dengan itu, ia ingat si nona dan Tjoe Soesioknya, hingga kembali bangkit rasa iri hatinya. Apakah si paman itu bukan tunangannya? ia mendugaduga. Pemuda ini terus tak dapat melupai Nona Kiang, walaupun ia telah merasakan pahit-getir. Ia belum pikir akan punya si nona, toh ia tak puas nona itu mempunyai orang di

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dampingnya. Ia pun tak perlu pikir si nona, karena ia sendiri sudah ikat tali perjodohan. Oalam keragu-raguannya, Teng Hiauw bicara sama Kim Hoa, ia utarakan tak setujunya, tetapi soeheng itu tidak bisa memberi pikiran baik untuknya. Selang bebcrapa hari, Teng Kiam Beng sudah antar panjar. Ia main terbuka, hingga kaum ahli silat di Kota Pooteng ketahui hal perangkapan jodoh itu atau ikatan besan, hingga urusan itu jadi bahan pembicaraan, sedang Teng Hiauw turut jadi buah kata-kata hingga dia jadi jengah sendirinya. Dua hari kemudian, di waktu malam, sclagi Teng Hiauw sukar pulas, oleh karena ruwetnya pikiran, tiba-tiba ia dengar suara berkeresek di atas genteng, lalu itu disusul sama terpentangnya daun jendela, sedang waktu itu tidak ada angin. Tidak tempo lagi, ia loncat turun dari pembaringannya, dengan sebelah tangan di depan dada, ia loncat kdluar dari kamarnya. Rembulan malam itu ada jdrnih, maka itu Teng Hiauw lihat dua bayangan sedang bcrlari-lari, malahja kenali, yang di sebelah belakang adalah seorang perempuan. Dua or-ang itu lari pesat, sebentar saja, mereka menghilang. Dengan pikiran tak keruan, Teng Hiauw kembali kd kamarnya, tapi sekarang, di atas mcjanya, ia nampak selembar kertas yang ditusukjarum. Ia membaca: Langit ada luas, di manakan di dunia ini tidak ada rumah ? Apa satu laki-laki mesti tunduk dan mengandalkan kepada lain orang? Ternganga Teng Hiauw apabila ia telah membaca, terus ia menjublek dengan pikirkan surat itu. Dalam ragu-ragunya itu, ia ingat suatu apa, ia sepcrii orang tersadar dari tidurnya. Segera ia ambil pedang Tanhong-kiamnya, ia kantongi uang belasan tail perak. Ia pun mcnulis surat untuk ayahnya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Akhimya, sambi I bawa satu buntaIan, ia keluar dari rumahnya. Dunia ada luas, pemuda ini hendak merantau! Selagi udara ada terang, di jalanan dari Hoopak menuju ke Hoolam, ada berjatan satu anak muda cakap umur delapanatau sembilan belas tahun, pakaiannya indah tetapi binatang tunggangannya ada seekor keledai yang kurus dan jelek macamnya, hingga binatang tunggangan itu dan penunggangnya sangat tidak tepat. Pemuda itu adalah Teng Hiauw yang tengah melarikan din. Yang belum punya pengalaman. Ia anggap merantau mcski dandan pantas, tak boleh sederhana seperti di rumah, dari itu, ia bekal dua perangkat pakaian. Kctika ia memilih, ia justru kena jumput pakaian yang ayahnya siapkan untuk pernikahannya nanti! Baharu hari pertama, Teng Hiauw telah tcrbitkan buah tcrtawaan. Ia jalan di siang hari, ia mesti jalan dengan pelahan. Di tempat umum, dimana lalu-lintas ramai, ia tak dapat jalan scparuh lari seperti di waktu malam, ia tak dapat gunai ilmunya jalan keras Patpou kansian dan Lioktee hoeiteng. Ia pun telah tidak ambil jalanan kecil. Ia memang tidak tahu jalanan, ia melainkan tahu hendak menuju ke Propinsi Hoolam untuk mengunjungi Thaykek Tan di Tankeekauw, Hoaykeng. Ia mau cari ahli Thaykek-koen si she Tan itu, untuk belajar silat, supaya ia bisa gabung kedua macam ilmu silat asal satu golongan itu. Maka di sepanjang jalan, sabansaban ia tanya orang, di mana letak Kota Hoaykeng. Sebal Teng Hiauw akan jalan ayal-ayalan, ia cepatkan tindakannya. Tidak merasa, ia telah jalan cepat sekali. Ia membuat orang heran dan curigai padanya. Ketika ia kebetulan lewati seorang polisi, ia segeradisusul. Ia disangka ada satu penjahat pemburon, ia hendak ditangkap. Syukur ia masih di luar Kota Pooteng, ketika ia menerangkan, ia ada

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

puteranya Teng Kiam Beng, ia tidak jadi ditangkap. Si orang polisi sangka ia lagi yakinkan ilmu lari keras. Ia cuma diperingari untuk jangan berlatih di jalan besar! Itulah pengalamannya yang pertama. Yang kedua ia telah ditolak oleh tuan rumah penginapan ketika ia singgah untuk bemialam. Itu kejadian di malam pertama, tempo ia sampai di satu kota kecil. Ia dandan perlente, tapi ia jalan kaki, mukanya pun penuh debu, tuan rumah bercuriga ia ditampik dengan alasan semua kamar sudah penuh. Ia jadi sibuk. Akhirnya dengan ngodol dua tail, ia dapat sebuah pondokan kecil dan jorok, makanannya tak keruan! Di hari kedua, sesudah insyaf, Teng Hiauw memikir akan cari binatang tunggangan. Ia pergi ke pasar, ia tanya harga kuda. Ia dapat keterangan, kuda yang bagus ber harga tiga puluh tail lebih, dan yang jelek, sedikitnya belasan tail. Ia cuma bekal belasan tail, sudah dipakai beberapa tail, maka sisa uangnya tinggal sepuluh tail lebih sedikit. Akhirnya, ia beli seekor keledai, yang kecil dan kurus, yang macamnya tak keruan. Menunggang kcledai, Teng Hiauw merasa jemu. Baharu ia jalan sepintasan, keledai itu sudah ngorong kelelahan. Binatang itu bertindaknya Iambat sekali, hingga ia haus. Kelcdainya pun ingin minum. Maka ia mampir di tempat ramai yang pertama. Ia pilih rumah makan yang paling besar. Ia baharu muncul didepan pintu, atau jongos, dengan al is dikerutkan kata padanya: Menycsal, Tuan, di sini tidak ada minuman. Di depan, Pengen-tin, ada sebuah kota besar. Lagi tiga puluh lie, kau akan sampai di sana, dengan runggang keledai, dalam tempo setengah jam, kau akan sudah sampai. Kau buka rumah makan, kau tolak tetamu? berseru Teng Hiauw dengan mendongkol. Aturan apa ini? Apa kau kira aku tidak punya uang?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ia mcrogoh sakunya, ia segera menyodorkan dua tail perak. Baharu sekarang jongos itu bersikap manis, karena ia lihat uangnya dan jerih juga. Ia mempcrsilakan tctamunya ke dekat jendela. Tuan ingin minum apa? bertanya ia dengan hormatnya. Sebenarnya Teng Hiauw masih mendongkol, ia ingin umbar hawa amarahnya, akan tetapi ia lihat banyak mata mengawasi ia, terpaksa ia tenangkan diri. Arak apa pun boleh asal jangan yang keras, ia jawab. Jongos itu tertawa, ia menyuguhkan arak Tiokyap-tjeng. Arak ini pasti cocok untuk Tuan, kata ia. Tiokyap-tjeng ada arak keluaran Henghoa-tjoen, Shoasay, baunya harum dan rasanya menyenangkan, siapa minum itu, tidak lantas pusing, hanya nanti, pelahan-Iahan. Dan Teng. Hiauw merasa senang dengan minuman ini. Ia minum sambil memandang lain-lain tetamu, hingga ia pun menarik perhatian empat tetamu yang duduk di meja timur. Satu tetamu yang berumur lima puluh lebih, yang dua berusia tiga sampai empat puluh tahun, yang keempat pemuda umur dua puluh lebih. Mereka bicara dengan lidah Selatan dan Utara, hingga menjadi nyata, mereka bukan berasal satu tempat. Pembicaraan mereka dicampur sama kata-kata rahasia sebekal pedang. Biar bagaimana, Teng Hiauw ada puteranya satu ahli silat, tidak banyak, sedikit ia mcngcrti j uga kata-kata rahasia kaum Kangouw, maka itu, ia tahu empat orang itu bicara tentang suatu perkumpulan rahasia, perihal Kaum Pcmbcron lak Rambut Panjang. Rupanya mereka itu hendak mencari orang. Ia duga-duga, mereka ada or-ang-orang baik atau jahat, jikalau mereka ada orang baik-baik, ingin ia bersahabat dengan mereka itu. Ia baharu memikir, atau orang sudah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mendahului undang dia. Si orang tua bangkit bcrdiri dan sambil melambaikan tangan, ia mengundang. Sahabat, mari duduk bersama-sama kita. Tanpa sangsi, Teng Hiauw menghampiri. Ia segera dipersilakan duduk. Saudara, kau sebenarnya ada dari jalan mana? tanya orang tua itu. Ia maksudkan, pemuda ini ada orang gagah dan mana Aku sedang bikin perjalanan, sahu! Tcng Hiauw dengan tercengang. la bingung dengan pertanyaan orang itu. Dijawab secara bertentangan, or-ang tua itu mengawasi. Saudara. jangan curiga, kata ia Kita orang ada asal jalanan yang sama sumbernya. Aku tanya kau, kau menjaga membuka merayap atau diatas jalanan mcnggantung mereka? Kau membuka usaha secara resmi atau membuka gunung mendirikan almari? Teng Hiauw mendatangkan kecurigaan orang, maka juga dia ditanya apa dia telah merampok di suatu tempai tertentu, apa dia tidak pilih tempat, apa dia masuk anggota suatu rombongan, atau dia Cuma bekerja, atau dia jadi kepala sendiri. Semua pertanyaan itu tidak dimengerti oleh orang she Teng ini, ia tidak tahu bagaimana harus menjawab, maka itu, ia menjadi bingung. Si anak muda mengawasi, lalu ia tertawa. Ia pun tarik tangan orang. Saudara Muda, kau rupanya baharu menginjak dunia Kangouw! kata ia. Looyatjoe, kita salah mata, dia menyangka kau ada orang Kangouw yang ada asal-usulnya. Si orang usia pertengahan juga tertawa.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kau pun keliru! ia kata pada sahabatnya yang muda itu. Saudara Muda ini, walaupun dia bukannya satu kaum Kangouw ulung, mesti ada satu ahli silat kenamaan. Lihat pedangnya. Itu, itu. Dan dia merandek sendirinya. Ia hendak puji pedang itu, tctapi pedang masih di dalam sarung, dia belum pemah lihat, bagaimana dia dapat memujinya? Syukur, Teng Hiauw telah sambungi ia: Bicara tentang ilmu silat pedang, aku mengcrti Thaykek-kiam secara kasar-kasar, dari itu, aku bukannya satu ahli silat kenamaan. Tjoewie Tjianpwee sendiri tentu ada ahliahli. Teng Hiauw jadi suka bicara, karena ia lihat orang ada manis budi, tidak galak sepcrti si orang she Kiang KiangEkHian. Eh, Saudara Muda, tanya si or-ang tua, kau sebenarnya ada dari golongan mana? Kembali pemuda ini melengak. Aku tidak masuk perkumpulan, sahut ia. Orang tua itu isikan cawannya, atas mana, Teng Hiauw buru-buru menyambuti, ia hendak membilang terima kasih tetapi si orang tua mendahului, katanya: Saudara, kendati kita orang baharu bertemu, kita sudah sepcrti sahabat-sahabat lama. Aku paling suka anak-anak muda yang gagah. Kita kaum Kangouw mesti omong terus terang. Saudara, kau mengcrti ilmu silat, biar kau bukan anggota perkumpulan, kau mesti punvakan kaum. Orang toh tak bisakeluardari meledak, bukan? Aku tidak tahu halnya perkumpulan, kata Teng Hiauw, yang berpura-pura pilon. Ia tidak curiga tetapi ia tak ingin perkenalkan asal-usulnya. Dengan sebut nama ayahnya, ia kuatir nanti tcrhina. Ia pun scdang buron, tak dapat ia buka rahasia sendiri.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Orang tua itu keringkan cawannya sendiri. Ia lihat orang sepcrti tak gembira bicara. Kendati kita baharu pertama bertemu, kita ada sepcrti sahabat-sahabat lama, orang tua ini kata pula kemudian. Tentu saja, kau curiga, Saudara, kau tidak berani lantas omong terus terang. Umpama kau tidak memasuki sesuatu perkumpulan, kau tentu ketahui halnya badan-badan perkumpulan kaum Kangouw. Umpama Gichoo-toan, kau tahu atau tidak? Aku tidak tahu, sahut Teng Hiauw sambil goyang kepala. Toatoo-hwee? , Tidak tahu juga. Orang tua itu meletaki cangkirnya dengan digabruki. Bcnar-benar kau pandang kita sebagai orang luar! melanjutkan ia Di mana ada seorang Kangouw yang tidak jujur sepcrti kau? Giehoo-toan kau tidak tahu, Toatoo-hwee kau tidak kenal, nah, kau scbutkanlah Sendiri, sebenarnya perkumpulan Kangouw apa saja yang kau ketahui! Mustahil kau tak mengetahui satu jua? Teng Hiauw jadi berpikir. Aku mclainkan ketahui satu akhirnya ia jawab. Perkumpulan apa itu? tanya si orang tua. Aku cuma ketahui Piesioe-hwee sahut si anak muda, yang suaranya tak tegas. Air mukanya si orang tua berubah. Oh, Piesioe-hwee? kata ia. Siapa yang kau kenal dalam kumpulan itu? Pertanyaan ini membikin Teng Hiauw bungkam. Ia menyebut Piesioe-hwee karena ia ingat itu setelah si orang tua sebut Toatoo-hwee. Wajah si orang tua pun ada lain. Tentang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Piesioe-hwee ia tak tahu suatu apa, cuma dari Kim Hoa ia dengar, itu ada satu perkumpulan rahasia Aku tidak kenal orang-orang perkumpulan itu, ia berkata kemudian. Aku pun dengar itu dari satu sahabatku. Katanya dalam Piesioe-hwee ada satu pemuda dengan kepala sepcrti kepala macan tutul, mukanya berewokan, dia pandai ilmu pedang Thaykek-kiam. Orang tua itu lantas tertawa berkakakan. Benar-benar mataku yang tua tidak lamur! berkata ia dengan gembira. Kau memang bukan orang sembarangan, Saudara! Dan ia tunjuki jempolnya, ia suguhkan arak pula., Teng Hiauw bingung. Selagi ia tak tahu mesti berbuat apa, ia lihat si orang tua tertawa dingin, lalu secepat kilat, tangannya itu menyambar ke pundaknya hingga ia merasa seperti digaet besi, sampai tangannya sesemutan dan lemas. Dan belum ia tahu apa-apa. dua orang lain sudah keluarkan borgolan dengan apa kedua tangannya terus dirantai! Walaupun ia Jiehay, dalam keadaan seperti itu, selagi ia bingung, Teng Hiauw lidak sempat berdaya. Sama sckali ia tidak menyangkajelek. Ia ada scorang hijau untuk dun ia Kangouw, scdang gcrakannya si orang tua ada luar biasa tangkas. Tapi ia jadi tidak puas. ia mendongkol. Selagi Iainlain retamu kaget dan heran, ia berseru: Eh, kawanan manusia busuk, siauwya kau tidak bcrmusuh dengan kamu scmua, ken apa kau orang tangkap aku? Lihat, hari ada terang-bendcrang! Apakah kau orang tidak takuti undangundang negara? Si orang tua awasi pemuda itu 8tl ketawa dingin, kcmudian ia berpaJing pada Iain-Iain tetamu, yang scmuanya terperanjat dan tcrcengang, i dcngan sabar ia mcnyahuti si anak muda: Undang-undang negara? Looyamu ini adalah undang-undang negara. Lantas ia lambaikan tuan rumah di depan siapa ia beber surat kuasa atati surat titahnya, sambil tambahkan: Kita semua telah ditugaskan Sri Baginda Raja untuk bekuk kaum pemberontak, dan ini bocah adalah si

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pemberontak! Dia minum arak di waning kau ini, kau juga tak dapat lolos dari tanggung jawab, tetapi menampak romanmu, kau 11ada sangkut paut dengan dia ini, kita suka memberi ampun, kita tidak hendak bawa kau untuk diperiksa terlebih jauh, akan tetapi lain kali kau mesti nyalakan api sedikit lebih bcsar, supaya jika ada orang yang dicurigai, kau mcsti segera laporkan itu kepada pembesar negeri! Dengan nyalakan api sedikit lebih besar, diartikan awas mata. Menurut undang-undang Kerajaan Tjeng, siapa bcrontak, dia akan terembet sampai pada tiga tingkat sanak-berayanya, maka juga si tuan rumah, jongosnya, dan sckalian tetamu lainnya, jadi jerih sekali. Begitulah tuan rumah, dia tidak berani minta pembayaran uang arak dan makanan. Jongos, yang tadi sambut Teng Hiauw, ingin bermuka-muka. Memang! kata ia. Begitu melihat roman dia ini, aku sudah curiga, tadi aku larang dia masuk tetapi dia memaksa! Teng Hiauw jadi lebih-lebih gusar. Setan alas! ia mem ben tak. Kau orang adalah si orang-orang jahat! Cara bagaimana kau orang boleh tuduh aku? Terang kau orang hendak memeras! Memeras? ulangi si orang tua. Apakah kau perlu penjelasan? Piesioe-hwee ada perkumpulan rahasia pemberontak paling jahat dan berbahaya, sesuatu anggotanya yang kena ditawan, mesti dihukum mati, Sri Baginda Raja tak akan bcrikan ampun lagi! Oh, bocah, kau masih mengharap untuk hidup pula?. Si tua ini dengan getas tuduh pemuda itu ada anggota Piesioe-hwee. Mereka ini benar-benar ada orang-orang yang ditugaskan menawan kaum pemberontak, tetapi mereka bukan diwajibkan utama menumpas Piesioe-hwee, hanya Gichootoan. Piesioe-hwee cuma main lakukan penyerangan gelap,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tidak demikian dengan Giehoo-toan, yang angkat senjata. Giehoo-toan bercita-cita Hoetjeng Hokbeng - merubuhkan Kerajaan Tjeng untuk membangunkan pula Kerajaan Bcng, dan juga mcmbela rakyat jelata, korban sewenang-wenang pembesar-pembesar negeri. Adalah tadinya, terang-ferangan, Giehoo-toan masih diperlakukan mirip Piesioe-hwee. Itu sampai empat orang adalah orang-orang kepercayaan Kioeboen Teetok dari Pakkhia yang dipcrbantukan pada Socnboc Lie Peng Heng dari Shoatang, kepada Tjongtok Djoe Lok dari Titlee, dan kepada Soenboe Thio Lie Bwee dari Hoolam, untuk cari orang-orang Giehoo-toan. Teetok itu memang lepas banyak orangnya, maka mereka ini, yang bekerja sama dengan orang-orang setiap propinsi sendiri, merupakan seteru hebat bagi pergerakan kebangsaan itu. Tempat tugas dari empat orang itu adalah daerah Kota Anpeng. Si orang tua ada Tjiauw Tiong Yauw, keutamaan ilmu silatnya ada Thongpie-koen atau Menembusi Lengan serta sedikit Tiamhiat-hoat Tiga yang Iain ada kawan sekerjanya, yang pandai loncat tinggi. Mereka pun mengerti kata-kata rahasia kaum Kangouw. Setiap mencari tahu tempat musuh, atau lantas membekuk anggota-anggota Giehoo-toan yang berkeliaran. Tjiauw Tiong Yauw mengerti, Teng Hiauw ada scorang hijau, tetapi karena pemuda ini menyebut-nyebut Piesioehwee, perkumpulan yang sangat dirahasiakan, serta menghunjuk juga anggota Piesioe-hwee yang pandai Thaykekkiam, ia jadi curiga juga. Anggota Piesioe-hwee yang dimaksud, yang berkepala sebagai kepala macan tutu I, adalah Law Boe Wie, yang sedang dicari keras. Teng Hiauw ketahui lukisan roman orang tetapi tidak tahu namanya, sebab Kim Hoa, dari siapa ia perolch keterangan. tidak menyebutnya. Iadisangka ada punya hubungan sama Boe Wie, dari itu, ia lantas ditawan. Itulah sikap umum dari orang-orang polisi ini.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang berpokok: Lebih baik kcliru bunuh seratus rakyat jelata daripada melepas lolos satu penjahat. Demikian Teng Hiauw yang apes, sia-sia ia memprotes, orang tidak gubris padanya. Tiong Yauw berempat terus minum araknya. sampai kemudian, di jalan besar, debu tertampak mengebul, kuda menerbitkan suara berisik dengan suara dan tindakannya. Itulah scpasukan tentara penumpas pemberontak, yang datang ke arah tujuannya, dengan di sepanjang jalan melakukan penangkapan kepada rakyat jelata yang disangka. Opsir yang mengepalai pasukan itu girang bukan main apabila Tiong Yauw melaporkan dapat dibekuknya satu anggota Piesioe-hwee. Seiagi hamba negeri itu mclanj uti perjamuannya, ke dalam rumah makan itu ada benindak masuk satu tetamu. Entah bagaimana, dia masuk tanpa menarik perhatian siapa juga, kecuali sesudah dia berada di depannya Tiong Yauw dan si opsir beramai. Ketika itu, rumah makan seperti terkurung tentara, meski benar sekalian serdadu sedang beristirahat dan bcrpencaran. Orang ini berumur hampir empat puiuh tahun, alisnya kereng, matanya bersinar. Teng Hiauw pun tidak perhatikan orang ini, karena ia sedang repot dengan dampratannya, sebab ia sangat mendongkol atas periakuan orang-orang polisi rahasia itu. ia baharu berpaling, untuk melihat, kapan ia dengar ada serdadu yang menegur dengan keras: Kau siapa? Kenapa kau lancang masuk kemari? Kau tak tahu aturan? Aturan apa sin? balik menanya tetamu itu, sikapnya sabar luar biasa. dirumah makan, sesuatu orang dapat memasukinya! Looya bisa datang kemari, mustahil aku tidak? Itulah suara, yang Teng Hiauw kenali, hingga ia terkejut, apabila ia (liat romannya, ia heran bukan main! Dia segera

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kenali orang yang Angje Lichiap si Nona Baju Merah, panggil Tjoe Soesiok, yang pernah tempur ia sendiri! Ketika putera Teng Kiam Beng pandang orang baharu itu, dia pun justru menoleh, hingga empat mata jadi bentrok sinamya. Dia itu agaknya tcrpcranjat. Dia maju dua tindak, mendekati, scraya berseru: Ah, Piauwtee! Kau kenapa? Kenapa or-ang telah pakaikan kau ini macam barang pwrmainan? Orang itu menyebutkannya borgolan scbagai barang pcrmainan. Teng Hiauw pun tercengang, karena tahu-tahu ia dipanggil piauwtee, adik misan. Tapi, sebelum ia sempat menyahut, kawan-kawannya Tjiauw Tiong Yauw sudah hunus golok dan Thie-tjio mercka. Mercka maju menghalangi orang itu dekati lebih jauh si anak muda, hingga orang itu mundur sendirinya agaknya dia kaget dan tercengang. Dia tentu bukan orang benar, tangkap padanya! berseru si orang tua. Dan dua kawannya sambuti seruan itu: Jangan kau melawan! Teng Hiauw tahu orang itu liehay, ia percaya, pertempuran hebat bakal mengambil tempat. Akan tetapi, dugaannya meleset. Orang itu tidak melawan, dia malah angsurkan kedua tangannya. Dia cuma bilang: Aku tidak tahu suatu apa, harap Looya semua berlaku baik, untuk tidak bikin aku bersengsara. Dcmikian, dengan jinak, orang itu kena diborgol. Teng Hiauw mendongkol bukan main, sekarang terhadap si tetamu. Manusia ini cuma pandai berjumawa terhadap angkatan muda, pikir dia. Di muka hamba negeri, dia begini bernyali kecil! Cis, aku tadinya sangka dia ada satu enghiong!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sesudah ditawan, si orang baharu lantas dipcriksa. Ia akui bahwa Teng Hiauw itu ada adik misannya, bah wa mereka berdua baharu saja masuk menjadi anggota Gichoo-toan. Anggota Giehoo-toan disebut koenbin artinya rakyat Pahkoentauw. Orang tua itu dan si opsir tentara tertawa berkakakan. Kau lihat, bocah! kata mereka pada anak muda kita. Scjak tadi kau berkepala batu, kiranya kau benar-benar orang Giehoo-toan! Dan kau pun ada orang Piesioe-hwee yang buron! Kemudian, ia terusi pada si Tjoe Soesiok: Kau ada seorang jujur, di depan Tiekoan nanti, kau pasti akan dapat keringanan. Bcrtambah-tambah gusamya Teng Hiauw, hingga dia mendamprat si Pamah Tjoe itu, yang dia katakan pengkhianat kawan. Toh dia tidak tahu, siapa namanya orang ini, dia cuma umbar hawa amarahnya, karena mana, dia tak dapat piljh kata-kata. Orang tua itu tak ambil perduli ia dicaci kalang-kabutan, ia tunggu sampai si anak muda sedikit redah amarahnya, lain dengan tawar ia kata: Piauwtee, kau sabar sedikit. Siapa suruh kita kena ditawan? Baik kita orang pasrah saja kepada nasib-.. Ia bersikap lesu, nampaknya ia harus dikasihani, iapun mcnghela napas berulang-ulang. Si opsir dan orang-orang polisi tertawa geli melihat kelakuannya itu, engko dan adik misan satu kepada lain, mereka anggap sikap mereka lucu. Lalu, tak lama kemudian, opsir ini dan empat orang polisi rahasia itu berangkat meninggalkan rumah makan, mereka giring dua orang tawanan itu, yang dicampur dalam rombongan tawanan lain. Meraka ada bawa beberapa ratus serdadu. Jumlah orang tawanan ada belasan. Tujuannya rombongan ini ada Anpeng-hoe, Kota Anpeng.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Teng Hiauw tak dapat kendalikan diri, di sepanjang jalan, sampai suaranya jadi serak, sampai ia tak mampu mendamprat lebih jauh. Or-ang telah ringkus ia di atas kuda. Melainkan dengan sepasang mata tajam, ia awasi Tjoe Soesiok, si Paman Guru she Tjoe itu. Si opsir gembira sekali, ia puas telah dapat tawan orangorang Giehoo-toan dan Piesioe-hwee dengan berbareng. Sementara ltu, penduduk di sepanjang jalan pada ketakutan, mcreka singkirkan diri bagaikan ayam kabur dan anjing ngiprit. Barisan tentara ini jalan terus, ketika sang maghrib mendatangi, mereka terpisah dari Kota Anpeng tinggal lagi lima puluh lie. Waktu itu mereka berada ditanjakan Tjiasekkong. Supaya bisa sampai scbclum malam, mereka jalan dengan cepat, kuda mereka dicambuki berulang-ulang. Tanjakan Tjiasek-kong ada seperti bukit tersusun. tanahnya ada tanah merah. Di kedua tepi jalanan ada tumbuh pohon kaoliang yang tinggi sependirian manusia. Tatkala itu, angin meniup-niup, hingga pohon-pohon kaoliang jadi rebah bangun bagaikan gelombang. Selewatnya tanjakan ini, jalanan rata, dari situ, Kota Anpeng sudah bisa terlihat. Selagi barisan serdadu ini Icwati tikungan di kaki puncak, dari scbclah atas, antara pepohonan lebat, ada terdengar suara orang tertawa, yang disusul sama suara tindakan kaki yang nyata, kemudian kelihatan munculnya satu orang mcndckati umur empat puluh tahun. yang dandan sebagai satu anak sckolah. Mahasiswa ini bcrsikap anch. Bcberapa tumbak lagi akan sampai di depan serdadu-serdadu berkuda, yang jalan paling depan, mendadakan ia angkat kedua tangannya, ia rangkap itu, untuk memberi hormat, sedang dari mulutnya segera terdengar kata-kata| yang berirama nyanyian, katanya: Jalanan ini adalah aku yang buka, gunung ini adalah aku yang rawatj maka itu siapa berlalu-lintas di sini, dia harus membayar uang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sewa jalan! Habis itu, dengan kipasnya dia tunjuk pasukan tentara sambil berseru: Hayo, berhenti! Opsir pemimpin tentara itu menjadi heran, mau atau tidak, ia berhenti. Ia tahu, melainkan tentara yang menawan berandal, tidak ada begal yang sebaliknya minta uang sewa jalan dari tentara. Dan herannya pula, orang ini cuma bersendirian. Orang ini bertingkah-laku mirip or-ang edan daripada satu penjahat. Hci, orang otak miring, lekas minggir! kemudian ia berseru. Atau nanti aku bekuk padamu untuk dibawa ke kantor negeri! Dia anggap orang itu edan, dari itu, dia cuma menggertak. Anak sekolah itu tak perdulikan bentakan, ia berdiri diam. Opsir itu menjadi heran, dari menggertak saja, ia jadi ingin buktikan gertakannya itu, akan tetapi selagi ia hendak membuka mulut, untuk berikan titahnya, Tjiauw Tiong Yauw sudah dului ia. Tongtay, awas, jagalah orang-or-ang taw an an kita! berseru orang tua ini, si orang polisi. Dia bermata tajam, segera ia duga, si anak sekolah bukannya orang edan. Dia pun sudah lantas keprak kudanya maju ke depan. Baharu orang polisi ini berseru atau si Tjoe Soesiok, orang yang masuk ke restoran untuk scrahkan diri dibelenggu, telah berseru juga, suaranya bagaikan harimau menggcram, menyusul mana, dia telah gcraki kaki dan tangannya, hingga dalam sekcjab saja, rantai-rantai borgolan pada putus terkutung beberapa potong, hingga berbareng dengan kemerdekaan dirinya, dia mcncelat dari atas kudanya, bagaikan kilat saja, segera ia sampai di atas kudanya Teng Hiauw, tatkala ia gunai kedua tangannya, juga tambang yang mengikat si anak muda pada terputus semua, sesudah mana, lebih jauh ia bikin putus semua rantai belengguan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Serdadu-serdadu pengiring sementara itu, walaupun mereka terkejut, sudah lantas bergerak, untuk menyerang, guna melakukan penangkapan. Tjoe Soesiok itu tak jcrih akan ancaman barisan serdadu itu, malah dia mendahului menerjang, hingga dengan gampang, dia dapat rampas dua batang golok. Dia bermaksud lemparkan sebatang golok kepada Teng Hiauw, untuk ini anak muda, turut tindakannya, akan tetapi kapan ia menoleh, dia tampak anak muda ini, yang sudah mcrdeka, baharu saja berhasil toyor rubuh si opsir, tombak siapa ia sambar dan rampas, hingga dengan senjata di tangan, ia bisa layani serangan. Pada waktu itu, si anak sekolah pun sudah turut beraksi, akan cegat sejumlah serdadu, yang hendak mclarikan diri, karcna hati mereka gentar sendirinya. Komandan barisan itu, yang bcrpangkat tongtay, menjadi sibuk sekali atas kejadian itu yang tidak disangka-sangka. Dia duduk di atas seekor kuda besar, senjatanya sebatang golok, dia lantas saja berseru, untuk kendalikan barisannya. Tjoe Soesiok lihat aksinya pemimpin tentara itu, ia hendak merintangi, untuk ini, ia berlompat tinggi dan jauh, guna menghampirkan. Ia telah gunai loncatan Ithoo tjiongthian atau Seekor burung hoo serbu langit. Selagi Tjoe Soesiok beraksi berbareng dengan si anak sekolah dan Teng Hiauw juga, kin dan kanan jalanan, di sawah kaoliang, mendadakan timbul pekik riuh-rendah, pohon-pohon kaoliang segera bergerak bagaikan gelombang. Di situ muncul dengan tiba-tiba serombongan besar orang, yang kepalanya semua dilibas pelangi kuning, yang tangannya pada bergegaman, mereka ini maju sambil berseru-seru. Mereka adalah koenbin atau pemberontak Giehoo-toan! Tjoe Soesiok telah sampai di depannya si tongtay, selagi dia ini terkejut, karena melihat barisan tcrsembuny! dari

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

musuh, tidak tempo lagi, dentgan Pektjoa touwsinatau Ular putih muntahkan bisa, ia menikam, gerakannya sangat cepat Tongtay itu terperanjat, dia kidut kudanya, untuk berlompat, dengan goloknya, dia menangkis Akan tetapi si Tjoe Soesiok ada sangat gesit, ia lompal ke samping, untuk berkelit, lain dcngan enjot tubuhnya, ia loncat tinggi ke belakang kuda sambil goloknya dipakai membabat dengan gerakan Ganlok pengsee atau Burung belibis turun di pasir datar. Tongtay itu belum sempat memutar tubuh atau berkelit, senjatanya juga tak sempat diputar, tahu-tahu batang lehernya sudah terbabat kutung. sambil muncratkan darah hidup, kepalanya terpental jatuh, menyusul mana, tubuhnya rubuh dari kudanya! Sekalian serdadu Boan yang melihai itu menjadi kaget, hati mereka menjadi ciut, tanpa ayal lagi, mereka berebut lari serabutan. Berbareng waktu itu, Tjiauw Tiong Yauw sudah tempur simahasiswa yang memegat jalan mereka. Dia ada bersama dua kawan, yang berusia pertengahan. Mereka ini ada boesoe, guru silat dari kantor tjongtok di Titlee. Mereka gusar sekali melihat serdadu mereka, yang terdiri dari beberapa ratus jiwa, sudah angkat kakj, maka itu, mereka segera maju, akan terjang Tjoe Soesiok. Senjata mereka masing-masing ada golok sebatang, Tan-too dan Thie-tjio. Tjoe Soesiok tertawa besar apabila ia lihat ia diterjang dari kedua pinggiran. Ia tampak datangnya Thie-tjio terlebih dahulu, sambil lompat ke samping, ia menyambuti, akan babat lengan. Penyerang itu lekas-lekas tank pulang tangannya, untuk luputkan bahaya. Setelah membabat dengan tidak bcrhasil, Tjoe Soesiok lanjuti ayun goloknya, untuk tangkis serangan golok dari lain musuhnya, yang sudah terus serang ia, maka segeralah ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

layani dua musuh itu. la bcrlaku gesit. Meski demikian, ia masih gunai tempo, akan diam-diam link kawan-kawannya. Teng Hiauw sedang me layani si anak muda yang menjadi kawannya Tjiauw Tiong Yauw. Kacau adalah pertempuran di antara barisan kocnbin dengan tcntara negeri, yang belakangan ini banyak yang kabur, tapi yang scbagian besar berkelahi dengan sengit, hingga Tjiasek-kong menjadi satu medan pertempuran. Teng Hiauw mengerti ilmu berkelahi tangan kosong lawan senjata tajam, akan tetapi dia tidak sepandai si Tjioe Soesiok. Dia pun malu, karena sebagai keluaran dan putcra ahli Thaykek-kocn, dia mcsti ditolongi orang tak dikenal itu. Tapi dia penasaran, dia tidak mau kalah, maka itu, dia sudah terjang si opsir dan rampas tombaknya ia itu seraya orangnya pun dibikin rubuh. Dengan tombak itu, ia lantas terjang tentara negeri. Ia lagi panas hati, ia ngamuk dengan hebat. Bcbcrapa serdadu lantas saja rubuh terpel anting. Sedangnyaia sengit, tiba-tiba sambaran angin datang dari belakangnya. Ia tahu, ada serangan datang, berbareng menoleh, ia menangkis ke bclakang. Kedua senjata bentrok dengan kcras, si penyerang Ioncat mundur, apabila ia sudah lihat nyata, iakenali si pembokong sebagai si anak muda kasar di rumah makan. Ia lantas balas menycrang, walaupun tak biasa ia menggunai tombak. Scsudah beberapa jurus dikasih lewat, hatinya Teng Hiauw menjadi tetap. Di dalam hatinya, ia kata: Kiranya begini saja pertempuran di kalangan Kangouw. Aku tadinya sangka semua orang mesti liehay seperti Tjoe Soesiok ini. Ia pun lantas lihat kckurangannya sendiri dan bagian-bagian yang liehay dari musuh itu, yang menggunai pedang, senjata pendek yang memerlukan kegesitan. Lekas sekali ia mengerti bagaimana harus melayani musuh ini. Dcmikianlah ia gunai ilmu tombak Thaykek-tjhio Djicsiesie, yang terdiri dari dua

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

puluh empat jurus. Ia bersikap tenang, hingga cepat sekali, ia berada di atas angin. Di pihak lain, Tjiauw Tiong Yauw yang garang telah kena dibikin bemapas senin-kamis oleh si anak sekolah. Senjatanya yang belakangan ni adalah kipas Siauwkim-sie itu, yang terbuat dari baja, yang kedua tepinya tajam sekali, hingga kipas itu dapat digunai sebagai piehiat-kwat, penotok jalan darah, dan pedang Ngoheng-kiam, terutama sebagai aiat mencari tiga puluh enam jalan darah. Tjiauw Tiong Yauw telah berfatih beberapa jntfuh tahun akan tetapi dia masih belum tahu ilmu silat kipas ini. toyanya Tjiebie-koen kesohor untuk dua Propinsi Titlee dan Shoatang, sedang ia pun pandai pukulan Tongpie-koen, kekuatan kcpalan. akan tetapi, sesudah berfempur tig apuluh jurus, ia kewatahan menghadapi si sioetjay itu. Ia jadi penasaran dan gusar berbareng kuatir, ia jadi sibuk sendirinya, maka itu di akhirnya, ia mendak, ia berseru, ia mengumpulkan tenaga kepalannya pada toyanya, untuk menyambar pinggang lawan dengan diterusi menyapu kaki! Anak sekolah itu tertawa panjang. Ha, segala kepandaian tikus dan rase diperlihatkan bagaikan sang kunyuk! kata ia secara mengejek. Sayang sakuku kosong-melompong, hingga aku tak punya uang untuk dipersenkan! Jikalau kau bcrlompat pula, aku nanti hajar padamu, jikalau tidak, aku akan menonton saja! Hayo, kau berlompat atau tidak? Lucu mahasiswa ini selagi bertempur, dia masih bergurau. Memang juga, ilmu Tongpie-koen dari Tjiauw Tiong Yauw bergerak-gerak scperti gcrakgeriknya monyet, terutama selagi ia loncat, ia mirip kunyuk. Tentu saja ia sangat mendongkol dipermainkan secara demikian, tetapi ia cuma jadi makin mendelu, karena semua serangannya tidak memberikan hasil.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Si sioetjay adajauh terlcbih gesit daripada dia, tubuhnya melesat-lesat luput dan toyoran atau paparan toya. Jangan kata orang purrya tubuh, bajunya saja tak pernah kelanggar. Kalau Tiong Yauw makin lama jadi makin kecil hatinya, sebaliknya, si sioetjay jadi makin mantap, kipasnya semakinjadi bcrbahaya. Karena jaga diri, supaya jalan darahnya tidak sampai kena ditotok, Tiong Yauw sampai keluarkan keringat dingin. Kekuatirannya memuncak apabila ia dapati kenyataan, barisannya kena dikurung pasukan liar dan musuh. Diakhirnya, sambil putar tubuh, ia gunai gerakan Lauwsie poankin atau Pohon tua terbongkar akarnya, untuk membabat ke bawah, lalu di saat musuh loncat, untuk luputkan diri, ia pun loncat mundur, guna angkat langkah kaki panjang. Si sioetjay liebay sekali, ia rupanya bisa duga maksud musuh, selagi musuh loncat, ia pun loncat lebih jauh, ke sebelah depan, hingga di lain saat, ia sudah mendahuiui berada di depan musuh itu, untuk memegat, kipasnya terus menotok kepada jalan darah Hoakay-hiat. Tjiauw Tiong Yauw terponggok. sampai ia tak sempat menangkis atau mengelakkan diri, tidak ampun lagi, ia mcnjcrit, jeritannya disusul sama rubuhnya tubuhnya, yang rubuh terlentang. Sesudah rubuhkan musuh, si sioetjay tidak hampirkan musuh itu, untuk melanjuti serangannya, sembari tertawa mengejek, ia hanya loncat ke belakang, akan serbu tentara musuh. Celaka adalah Tjiauw Tiong Yauw, dia rubuh dalam kekalutan, tidak ada satu serdadu jua, yang maju untuk menolongi dia, rnaka, di antara injakan banyak kaki serdadu dan serdadu koenbin, ia mesti kehilanganjiwanya. Si sioetjay sudah lantas dekati or-ang yang dipanggil Tjoe Soesiok itu, selagi dia ini menyerang hebat dengan goloknya, hingga goloknya merupakan bundaran perak. Dengan ini cara, Tjoe

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Soesiok bikin repot kedua orang yang kepung dia, yang duaduanya ada orang-orang polisi kesohor, hingga dalam tempo yang lekas, ia bikin dua musuh itu jadi jerih. Dengan satu tanda, mereka itu mcncoba tinggal kabur musuh yang Iichay ini. Tjoe Soesiok itu sebaliknya mendesak semakin keras. Musuh yang bersenjatakan Thie-tjio mau pakai senjata yang berat itu akan tekan goloknya Tjoe Soesiok, sesudah itu ia hendak loncat kabur, akan tetapi Tjoe Soesiok yang cerdik tidak mau kasih goloknya kena dibikin tak berdaya, selagi goloknya diketok keras, ia justru ke bawahkan itu, lalu ia putar, akan dipakai balas serang lengan orang dengan tipu pukulannya Poattjo simtjoa atau Keprak rumput untuk cari ular. Musuh yang bersenjatakan golok melihat kawannya terancam bahaya, dalam sibuknya, dia loncat, dia serang orang punya batok kepala. Hebat serangan ini, karena ia gunai pukulan Lekpie Hoa-san atau Dengan sekuat tenaga menggempur Gunung Hoa-san. Ia pun harap, dengan serangan separuh mcmbokong itu, ia bisa rubuhkan musuh. I tulah serangan sangat bcrbahaya. Akan tetapi, melayani dua musuh, Tjoe Soesiok telah berlaku waspada, terutama untuk scrangan-scrangan gelap. Melihat datangnya golok, dia loncat berkelit, dengan tipu Yantjoe tjoanin atau Burung walet tembusi awan. Bcgitu rupa ia berloncat, sebat sekali, tetapi tak kalah gesitnya ketika ia turun, sebelum orang sempat perbaiki diri, sembari turun, goloknya dipakai menyambar. Kesudahan dari ini ada sangat hebat, karena sebuah leher putus dan sebuah kepala terlempar jatuh dan darah menyemprot! Kagetnya musuh yang bersenjatakan Thie-tjio itu bukan main, hatinya scperti hancur, tidak berayal lagi, ia loncat, untuk angkat kaki. Tapi ia baharu menyingkir beberapa tindak, tatkala di depannya, ia lihat seorang mendatangi sambil berseru: Ke mana kau hendak kabur?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Di sini aku! Dan orang itu belum sampai atau serupa benda mendahuiui ia, benda hitam, yang menerjang orang dengan gegaman Thie-tjio itu. Dia ini kaget, belum sempat dia menangkis, atau berkelit, benda itu sudah mengenai tubuhnya, yang telah kena tertotok, maka segera ia rubuh seperti Tjiauw Tiong Yauw yang buruk nasibnya. Sesudah rubuhkan musuh yang mau kabur ini, orang itu hampirkan si Tjoe Soesiok seraya bcrkata sambil tertawa: Untuk rubuhkan dua musuh tak punya guna ini, kenapa kau sia-siakan begitu banyak tempo? Tjoe Soesiok itu tertawa. Manusia jail, jangan adu mulut di sini! ia mcmbentak. Kau gunai senjatamu yang tepat dan aku senjata sambaran! Sehabis menjawab demikian, ia tank tangan orang. Mari aku ajak kau tengok satu pemuda Kangouw! kata ia. Pada waktu itu, pertempuran di antara Teng Hiauw dan si anak muda, yang mukanya hitam, sudah mulai perlihatkan tanda-tanda keputusan. Pedangnya si muka hitam liehay, tetapi dia kewalahan melayani tombak Teng Hiauw yang ujungnya menyambar-nyambar seperti tak hentinya, cepatnya luar biasa, sampai orang repot bukan kepalang, hingga dia seakan-akan kena dikurung. Pertempuran itu berjalan cepat. Sang Batara Surya sudah mulai doyong ke barat, terus selam di ujung gunung, hingga cuaca sore menjadi gelap. Tapi pertempuran mesti dilanjutkan, karcna tentara negen, daiam kekalahannya. masih terus melakukan perlawanan. Maka itu, lentera Khongbengteng lantas dinyalakan. Barisan kuda pemerintah tidak bisa berbuat banyak dalam pertempuran malam iru, karena di bokit, di tanjakan. pihak koenbin mengadakan dua pasukan lain, dalam dua rombongan tersembunyi, yang mcnggunai anak panah, hingga setiap kali

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pasukan negeri hendak mcnerobos, saban-saban mereka dipukul mundur hujan busur. Biasanya tentara negeri melakukan penangkapan dengan mengandali jumlah yang besar, akan tetapi sekarang mereka ketemu tandmgannya, dengan ccpat semangat mereka tergedor, apapula dari sana-sini Iantas terdengar teriakan anjuran: Menakluk! Lekas menakluk! Tjoe Soesiok teiah dapat rampas seekor kuda, ia naik ke atasnya, ia keprak kudanya itu Ian mondar-mandir seraya ia serukan berulang-ulang: Saudara-saudara tentara negeri,lekas letaki senjata! Buat apa adu jiwa untuk pemerintah asing? Bukankah kau orang semua ada rakyat jelata? Jangan jual jiwamu untuk pemerintah, jangan tolol! Lekas letaki senjata! Man bekeria sama-sama kita, untuk hidup bersama, sama rata sama rasa! Seruan itu teiah memberikan hasil baik, tidak antara lama, pertempuran benar-benar berhenti, waiaupun| dengan pelahan-lahan, hingga di lain saat, beberapa ratus serdadu Boan itu tidak beraksi lagi. Si anak muda muka hitam kaget ketika ia dengari teriakanteriakan menganjuri pihaknya meletaki senjata dan menyerah, ia berkuatir, dalam sibuknya, ia coba menyerang dengan hebat, dengan ilmu pedangnya Patsian-kiam atau Pedang dclapan dewa. Dengan ilmu itu, beberapa kali dia bcrlompatan, bergulingan, pedangnya saban-saban menikam dan mcmbabat. Teng Hiauw repot juga mclihat perubahan scrangan orang itu, dengan tcrpaksa, ia mclayani tak kurang gesitnya, sambil bcrkelit ke kiri dan ke kanan, tombaknya pun saban-saban melakukan serangan pembalasan, malah satu kali, ujung tombaknya menikam iga kanan orang. Si muka hitam kaget, ia berkelit dengan melejit ke kiri, di sini dengan gerakan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Thaypeng tjiantjie atau Garuda pentang sayap dia balas membacok ke bebokong lawan nya. Teng Hiauw bisa duga serangan orang itu, ia Iantas gunai akal. Ia maju dengan lompatan Koaybong hoansuTatau Ular nagajumpalitan, ia sengaja bikin musuhnya menyerang ia dengan hdti besar, tapi lalu dengan mendadakan, ia mcncelat ke samping, tombaknya turun selagi pedang musuh lewati ia, tidak tempo lagi, ia kena hajar pedang itu dengan keras sekali, tak ampun lagi, cekalannya si hitam terlepas, pedangnya terlempar beberapa tumbak jauhnya! Kejadian itu membuat si muka hitam kaget, akan tetapi dia tidak lompat, untuk lari, sebaliknya, dia berdiri diam, sambil merangkap kedua tangannya, dia berseru: Aku menyerah! Terserah, kau boleh bikin apa kau suka! Teng Hiauw telah bekerja terus meskipun ia sudah pukul jatuh pedang musuh, ia geraki pula tombaknya, untuk menikam. Gerakan nya ini ada berbarengan dengan seruannya si pemuda muka hitam itu, tidak heran kalau ada sulit untuk ia menahan tikamannya. Di saat yang sangat genting itu, mendadakan ada orang berlompat dari belakang, seperti burung melayang, tangannya menyambar, tiga jarinya menotok nadi kanannya, atas mana sekejab saja, tombak di tangannya terlepas dari cekalan dan jatuh ke tanah. Kaget dan heran adalah perasaannya Teng Hiauw itu waktu, lengannya pun sesemutan, seperti mati, tetapi ia masih dapat loncat, untuk memutar tubuh, hingga ia dapat melihat, siapa orang yang membokong ia. Penyerang dari belakang itu, sambil tertawa, kata padanya: Adalah aturan kita, musuh yang sudah menyerah, tak dapat dibinasakan jiwanya! Dan ia kenali, orang itu adalah or-ang yang dipanggil si Nona Baju Merah panggil Tjoe Soesiok! lalah orang yang akui

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dia sebagai piauwtee, adik misan! Ia tercengang, ia malu sendirinya, mukanya menjadi bersemu merah. Tjoe Soesiok, aku tak tahu aturan itu. kata ia, kemekmek, dan tanpa merasa, ia ikut-ikutan si nona memanggil Tjoe Soesiok, Paman Guru Tjoe. Tjoe Soesiok tertawa pula. Seharusnya kau panggil aku piauwhia! kata ia, sambil tertawa pula. Dan sekarang kau nistjaya tak dapat katakan aku menjual sahabat. Teng Hiauw tertawa meringis. Sebenamya aku tak tahu Soesiok ada orang macam apa. iaakui. Dan ini ada hal yang sebenar-benamya. Tjiasek-kong teiah menjadi sunyi dan tenang karena berhentinya pertempuran, kecuali bergeraknya orang dan kuda, dari tentara Giehoo-toan, sebab dari garis kedua dan ketiga, di mana orang teiah menyalahkan lentera Khongbengteng, semua serdadu koenboen mendatangi dan merubungi Tjoe Soesiok itu. Tjong-tauwbak, banswee! tiba-tiba semua serdadu itu berseru. ltulah bcrarti: Hiduplah Tjong-tauwbak! Seruan itu bergemuruh keras sekali. memecahkan kesunyian. Tiba-tiba dari dalam rombongan tentara itu loncatkcluarsatu orang siapa sambil berlari-lari menghampirkan Tjoe Socsiok itu. Apabila ia sodah datang dekat, ia lantas member, hormat dcngan tekuk lutut sebelah kakmya. Itu ada cara pemberian hormat paling hormat di dalam kalangan kaum Kangouw. Ia pun lantas berkata: Semua saudara berkeinginan sangat akan menemui Tjongtauwbak, maka itu begitu mendengar kabar Tjong-tauwbak bakal lewat di sini, tak dapat dicegah pula, mereka semua dating kemari! Tjoe Socsiok itu beri tanda dengan tangannya, akan orang itu berbangkit Apakah kau ada Tjongto dari Anpeng? ia tanya. Bagus tindakan kau ini. Sebetulnya, aku pun teringat saja kepada kewajiban kau orang di sini, sayang belum ada temponya untuk aku datang melongok. Kau or-ang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ada sangat mencintai aku, aku sangat bersyukur. Tapi sekarang sudah membawa tawanan tentara Boan ini perlu lekas dibawa pulang, untuk diurus, maka baiklah kau orang pulang dahulu ke pusat. Di daiam perjalanan di waktu malam, mintalah semua saudara berlaku hati-hati istimewa, supaya kita tak rnembikin kaget pada rakyatdi sepanjang jalan.M Tjongto dari Anpeng itu terima pesan itu, ia undurkan diri, akan berikan titahnya, maka lantas saja semua serdadu Giehoo-toan itu mundur untuk berdiri dengan rapi dan tenang. Teng Hiauw ternganga menyaksikan kejadian itu. Tjoe Soesiok itu adalah pendiri dari Giehoo-toan, karena dia adalah Tjoc Hong Teng, seorang dari Torjioe, Shoatang. Orang bilang dia ada turunan Kerajaan Beng, tetapi dia tidak menyebutkan itu, karena tanpa keturunannya itu, rakyat toh telah tunjang dia. Rakyat membutuhkan pemimpin, yang dapat membebaskan mereka, sesudah mereka merasakan sangat tertindih sebagai akibat dari Perang Candu. Dengan gempuran meriam, negara-negara Barat telah paksa Tiongkok pentang pintunya. Rakyat merasa sebagai ketindihan gunung besar, sampai mereka sukar bernapas. Maka munculnya Tjoe Hong Teng disambut dengan tangan terbuka. Tjoe Hong Teng ini ada murid tcrsayang dari Kiang Ek Hian, Ketua dari Bweehoa-koen. Inilah sebabnya kenapa Angie Liehiap Kiang Hong J Keng, si Nona Serba Merah, panggil dia soesiok. Hong Teng telah mewariskan semua kepandaian gurunya, sesudah itu, ia yakin terlebih jauh, sehingga dia memperoleh hasil luar biasa. Bcda dari kebanyakan or-ang, Tjoe Hong Teng tidak mau angkat nama di kalangan Rimba Persilatan, dia hendak bangunkan bangsa Han, untuk rubuhkan bangsa Boan, buat usirpengaruh bangsa asing. Ketika Tjoe Hong Teng bertemu dengan Teng Hiauw, ia dirikan Giehoo-toan baharu satu tahun. Ia datang ke Pooteng untuk menengoki gurunya, buat sckalian tanya gurunya itu suka atau tidak menunjang dia. Iapun ingin tarik Angie

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Liehiap, karena di dalam Giehoo-toan ada pasukan perempuan, yang kemudian diberi nama Hongteng-tjiauw, Sinarnya Lentera Merah, pasukan mana membutuhkan pelatih yang pandai silat. Kiang Ek Hian ada gagah, tetapi setelah usianya lanjut, ia kekurangan semangat pendirian. Sebenamya ia menyayangi Tjoe Hong Teng, tetapi ia tak berani percaya murid ini sanggup bekerja besar. Di sebelah itu, ia pusatkan perhatiannya kepada cucu perempuannya, yang ia ingin sekali carikan satu pasangan yang setimpal. Karena ini, ia tak jadi punya keinginan akan hadapi badai dan gelombang dari dunia Kangouw. Begitu maka ia sudah tolak undangannya sang murid, hingga Tjoe Hong Teng jadi masygul. Ini pun berarti, Kiang Hong Keng mesti sclalu dampingi cngkongnya, hingga tak dapat dia ikut memasuki Giehoo-toan. Saking masygul, Tjoe Hong Teng jadi bcrkesan: Sungguh sulit akan rubuhkan pemerintah Boan, banyak orang jerih mendengar perkataan berontak, sampaipun gurunya sendiri tidak mau pusingkan diri. Karena ia tak dapat bantuan gurunya, Tjoe Hong Teng mau lantas pamitan pulang, tetapi Kiang Ek Hian minta murid itu suka berdiam untuk dua hari. Ia melul uskannya, karena ia pun dapat pikiran untuk melihat apa di Kota Pooteng itu, ada orang berarti dalam Rimba Persilatan, yang ia boleh harapkan bantuannya. Adalah kebetulan, di saat Tjoe Hong Teng berdiam di Pooteng, hari itu Kiang Hong Keng karena pukul harimau sudah kena dikurung serombongan pemburu, sampai dia dapat ditolong oleh Teng Hiauw. Nona ini tidak berterima kasih kepada anak muda itu oleh karena dia menyangka, gum-guru silat Keluarga Soh itu adalah kawan si anak muda, dia tidak tahu, Teng Hiauw melainkan ketahui guru-guru silat itu, hubungan lainnya tidak ada. Ketika Hong Keng puiang dan berccrita kepada cngkongnya, Hong Teng dengar itu, dia lantas merasa pasti, Teng Hiauw bukannya tergolong guru-guru silat itu, kalau tidak, si anak muda tidak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

nanti berikan bantuannya. Maka itu, ketika Teng Hiauw satroni Keluarga Kiang, Hong Teng sengaja sembunyikan diri dan memegat di tengah jalan, untuk mempermainkan, buat patahkan kepala besar orang, untuk tarik perhatiannya dia itu. Kesudahan dari itu membuat Hong Teng girang. Ia dapat kenyataan, Teng Hiauw masih muda sekali tetapi berani dan gagah, ilmu silat pedangnya sudah bisa layani ilmunya yang dilatih dua atau tiga puluh tahun, Iapun lihat, anak muda ini, ada lain daripada ayahnya. Maka itu, justru Teng Hiauw masygul karena ayahnya hendak paksa ia menikah. Hong Teng ajak Hong Keng pergi satroni dia di rumahnya dan meninggalkan surat itu, guna tarik ini anak muda ke pibaknya. Setelah si anak muda buron, Tjoe Hong Teng lantas menguntit, akan lihat sepak-terjangnya. untuk sekaJian melindungi padanya. Hong Teng sebaliknya tak mau segera perkenalkan diri, karena ia sengaja hendak latih lebih jauh pemuda ini. Demikian, karenanya, telah terjadilah hal-hal lucu, disebabkan Teng Hiauw masih hijau daiam pengalaman. Tjoe Hong Teng mengeluh ketika . ia lihat si anak muda ditawan polisi. la tidak mat mem ben pertolongan dengan kekcrasan, ia lantas dapat akal, sesudah kirim pesan untuk tjongto di Anpeng kemana ia percaya barisan Boan ini bakal lewat Kebetulan, itu waktu pun ada satu sahabat karibnya, yang berada di pusat di Anpeng, ia sekaJian minta sahabat itu bantu ia. Sesudah itu, ia hampirkan Teng Hiauw, yang ia akui sebagai adik misan, hingga ia pun mandah dicekuk. Maka kemudian, terjadi pemegatan tadi atau pertempuran di Tjiasek-kong, hingga tentara negeri harus menyerah. Baharu setelah itu, Teng Hiauw ketahui, Tjoe Soesiok adalah pendiri dan Ketua Pusat dari Giehoo-toan. Ia lantas hendak menghaturkan terima kasih, untuk sekalian tanyakan hal-hal, yang masih gelap baginya, tetapi scbclum ia buka mulut,*Hong Teng goyangi tangan dan dului ia berkata: Tunggu, aku akan perkenalkan kau pada satu orang. Ia belum tutup mulutnya,- atau ia dengar orang telah tertawa

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dan dului ia: Tak usah kau perkenalkan lagi! Mustahil aku tidak kenal padanya? Teng Hiauw segera menoleh, hingga ia tampak seorang dengan thungsha sutera putih dan tangan mencekal kipas, satu mahasiswa, ialah orang yang memegat tentara negeri, yang meminta beelouw-tjhie atau uang sewa jalan. Ia tercengang, ia heran kenapa orang itu kenal ia. Ia toh baharu pernah merantau, baharu sekali ini ia lihat orang itu. Ia berniat menanyakan, akan tetapi orang itu sudah tertawa pula dan menanyakannya: Bukankah ayahmu ada Sianpwee Teng Kiarm Beng Ketua dari Thaykek-boen? Bukankah namamu sendiri, Sieheng, ada Hiauw sepatah kata, yang berarti terang tanah? Begitu Iekas lihat kau mainkan ilmu tombak Thaykek-tjhio, aku lantas ketahui siapa kau ada! Aku cuma dengar nama besar dari ayahmu, tetapi tentang ilmu silat kaummu, tentang murid-muridnya, aku tahu juga. Tjoe Hong Teng tertawa mendengar kata-kata orang itu, ia segera memotong: Oh, orang bermata pancalongok, katakata kau benar adanya! Tapi kau sendiri, dengan dandananmu yang tidak pernah ditukar, kau juga gampang sekali dikenali orang! Sembari mengucap demikian, Hong Teng awasi Teng Hiauw, akan lihat, pcmuda ini ketahui atau tidak si mahasiswa itu. Tapi Teng Hiauw tidak kenal orang ini, yang ia cuma duga ada seorang Kangouw yang ulung. Di saat ia hendak tanya Tjoe Hong Teng tcntang nama orang itu, tiba-tiba ia ingat Kim Hoa, yang pernah tuturkan dia tcntang orang-orang Kangouw. Separuh bcrseru, segera ia bertanya: Tjianpwee, apakah Tjianpwee bukannya Looenghiong Thiebian Sieseng Siangkoan Kin? Mendengar demikian, dari atas kudanya, Tjoe Hong Teng tertawa bcrkakakan. Nah, apa aku kata! Sekalipun ini anak, yang baharu pertama kali injak dunia Kangouw, begitu dia lihat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dandananmu, ia segera kenal kau! Aku lihat, baiklah kau salin pakaian, supaya kau tidak terlalu mencolok mata! Siangkoan Kin tidak gubris godaan kawan itu, ia tarik tangan si anak muda. Kau ketahui namaku, siapakah yang beritahukan itu kepadamu? ia tanya. Baik kau ketahui, tidak suka aku disebut-sebut tjianpwee atau looenghiong, karena untuk itu, belum sampai waktunya aku bertingkah-polah! Baharu setelah itu, ia menoleh pada Tjoe Hong Teng, akan kata: Dandananku ini adalah merek hidupku, aku tidak takut segala kawanan anjing kenali aku! Jikalau mereka mempunyai kepandaian, mereka boleh bekuk aku, aku tak takut! Kata-kata ini ditutup sama tertawa bergelak-gelak yang nyaring. Tjoe Hong Teng kerutkan alisnya. Ia tak setujui anggapan sahabamya itu. Tapi sang sahabat sedang bergirang, ia tidak mau ganggu kegembiraan orang itu. Thiebian Sieseng Siangkoan Kin ada seorang luar biasa dalam kalangan Kangouw, sampaipun asal-usulnya, sedikit sekali orang yang ketahui, lebih-lcbih mengenai sumber ilmu silatnya. Orang melainkan duga, dia ada sioetjay yang gagal dalam ujian, yang lantas tukar ilmu surat dengan ilmu silat Dengan sebenarnya, Siangkoan Kin ada putera dari satu keluarga anak sekolah di Boesek, Kangsouw. Propinsi ini, seperti Tjiatkang, memang ada tempatnya kaum sasterawan. Maka juga, sejak masih .kecil, dia sudah dimestikan mempelajarinya. Dalam umur baharu sepuluh tahun lebih, karena amat cerdasnya, Siangkoan Kin sudah pandai membaca kitab-kitab Soesie Ngokeng di luar kepala, hingga gurunya, dan orang tuanya, percaya dia bakal peroleh kemajuan, akan tetapi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dugaan itu meleset, sebab beberapa kali dia turat ujian, saban-saban dia gagal -tak pcmah dia berhasil. Ketika ayahbundanya menutup mata, dia baharu berumur dua puluh tahun, dia tetap tak peroleh gclaran atau pangkat. Keluarga Siangkoan Kin bukannya keluarga berharta, dia tidak punya uang atau pengaruh, maka itu, waiaupun ilmu suratnya Sempuma, dia seperti tidak ada di matanya kepaia badan ujian, siapa cuma lihat uang, bukannya kcpandaian. Di waktu hendak menutup mata, masih Siangkoan Kindipesan, dianjuri ayahnya, untuk bclajar tcrus dengan rajin dan ulet. untuk turut pula dalam ujian. Ayah ini tak put us harapan puteranya nanti menjulet pangkat, untuk angkat naik derajat keluarganya. Tapi, sehabisnya bcrkabung, ketika untuk satu kali lagi Siangkoan Kin lurut juga dalam ujian, sendirinya, semangatnya untuk peroleh gelaran atau pangkat sudah padam terlebih dahulu. Inilah sebabnya kembali dia rubuh, .dan yang keluar sebagai pemenang ada seorang bemama Hee Kie Tong. Beberapa kali Siangkoan Kin dikecewakan, dia bersusah hati, tetapi dia tidak penasaran sebagai mi kali. Dia heran dan penasaran, karena kaygoan baru ada si orang she Hee itu, yang ada calon sioetjay, yang biasanya kesohor paling tak punya guna. Di waktu biasa, karangannya, saking buruk, Siangkoan Kin sendiri tak sanggup mengubah atau memperbaikinya, sampai perriah dia mengejek: Karangan lain orang, apabila dilempar ke tanah, bisa bersuara nyaring bagaikan emas, tetapi karangan kau, suaranya mirip dengan tambur yang jatuh bergeiindingan dari atas gunung. Toh aneh, sekarang si pemenang adalah orang yang karangannya seperti tambur yang bergeluntungan itu! Yang lebih mengherankan, Hee Kie Tong ini ada keluarga lebih mi skin daripada Keluarga Siangkoan, hingga pasti dia tidak bisa sogok si kepaia ujian itu. Orangnya bodoh, uangnya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tidak ada, tetapi dia lulus. Saking heran, Siangkoan Kin pergi pada sahabatnya itu, untuk minta keterangan. Hee Kie Tong tertawa ketika ia menjawab: Saudara Siangkoan Kin, kita sama-sama tidak punya uang, untuk menghormati kepaia ujian. Aku sendiri lulus, kau tidak, maka itulah ada bukti yang karanganku ada terlebih baik daripada karanganmu! Maka sekarang kata-kata kau ten tang tambur yang bergeiindingan dari atas gunung tinggi haruslah dihaturkan kcmbali kepadamu! Siangkoan Kin mendongkol bukan kepalang, ia tak dapat berbuat apa sclain ngeloyor pulang dengan perut panas. Ia tetap gelap dengan duduknya hal, sampai. Kepala examen itu diutus dan ditugaskan di Boesek atas putusan boetay. Ia girang sekali. Ketika ia mau berangkat ke Boesek, dia kunjungi berbagai pembesar, untuk pamitan, akan ambil selamat jalan. Ia pun kunjungi boetay, sebagai pembesar tertinggi. Ia berlaku sangat hormat pada pembesar ini, yang pesan ia harus , baik-baik lakukan kewajibannya di Kangsouw, tempat kaum terpelajar. Selagi beri pesannya itu, tiba-tiba boetay kerutkan alisnya, ia menyingkir ke samping. Kepaia examen ini kira boetay hendak tinggalkan pesan perseorangan, ia mendekati, ia pasang kupingnya, atas mana, boetay kata: Tidak lainnya lagi, heekhi-tong. Tadi malamnya boetay makan besar, pencernaannya kurang baik, mendadakan ia ingin buang angin busuk, maka ia minggir dari orang banyak, tetapi si kepaia examen kelira sangka, dia mendekati, dari itu, ia jawab tidak apa-apa. Katakata heekhie-tong itu ada kata-kata halus untuk angin busuk. Si kepaia examen keliru dengar, dia sangka boetay pesan untuk perhatikan orang nama Hee Kie Tong, ia ingat itu baik-baik. Demikian sudah terjadi, ketika ada calon sioetjay nama Hee Kie Tong, tanpa banyak rewel, ia kasih lulus si tolok ini sebagai kay goan, hingga kesudahannya, Siangkoan Kin jadi mendelu!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sebagai keharusan, Hee Kie Tong kunjungi kepala examen, untuk hunjuk hormatnya, buat menghaturkan terima kasih. Setelah pemberian hormat, kepala examen itu tarik tangannya si kaygoan baru dan tanya dengan pelahan: Sieheng, kau ada punya hubungan apa dengan Boetay Taydjin? Ditanya begitu, Hee Kie Tong melengak, tak mampu ia menjawab. Masih si kepaia examen tak engah, ia puas karena ia sudah angkat orangnya boetay. Ketika kemudian ia pula ke ibukota propinsi, selagi menghadap boetay, untuk berikan laporan kesudahan ujian, ia tambahkan bahwa ia sudah lakukan pesan boetay itu mengenai Hee Kie Tong, yang ia kasih lulus jadi kaygoan. Boetay tercengang. Apa kau bilang? Siapa itu yang kau tolong? dia tanya. Kepaia examen ini kira boetay lupa, dia terangkan: Ketika dulu akan pamitan, Taydjin toh bilang padaku: Tidak lainnya lagi, heekhie-tong Mendengar demikian, dari melengak, boetay, tertawa besar. Ah, kau benar tolol! ia kata tanpa perdulikan di situ ada hadir lain-lain orang lagi. Itu waktu aku sebut heekkie-tong tetapi itu bukan namanya orang, itu ada kata halus untuk gantikan angin busuk dan dalam perut. Kepaia examen itu mukanya merah, ia temganga. Ia benarbenar tidak ingat kata-kata sopan itu untuk gantikan angin busuk. la pun menyesal, karena dengan begitu. Ia bikin lenyap uang sogokan, yang mestinya akan masuk ke dalam sakunya, sedikitnya di atas seribu tail perak. Ia ada begitu menyesal dan penasaran, tanpa pikir panjang, ia utarakan kemenyesalannya kepada beberapa rekannya. Tapi justru ini, rahasia bocor, dari sepuluh mulut kepada seratus mulut, dcmikian selanjutnya, sampai kabar pun tersiar sampai di Boesek, karena itu berarti kejadian sangat lucu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kapan akhimya cerita itu sampai di kupingnya Siangkoan Kin, dia ini tercengang, mulutnya ternganga, matanya terpentang iebar, ia diam sckian lama, akan kemudian, ia tcrtawa terbahak-bahak, lantas ia berseru: Hei! sioetjay angin busuk, kaygoan angin busuk, tjonggoan pun angin busuk! Jadi semua. ponggan, tamhoa, itokkoen, boetay, haksoe, semuanya angin busuk juga! Ya, semua-semua angin busuk, maka tak usahlah aku repoti angin busuk! Sadarlah sekarang Siangkoan Kin akan keburukan ujian ilmu surat, padam semangatnya, tak lagi ia sudi bikin examen, untuk kehidupannya, ia buka rumah perguruan, karena ia tak punya lain kepandaian. Tapi ia ada sioetjay yang gagal, tak ada orang hartawan yang suka masuki anak-anaknya belajar kepadanya, maka ia cuma dapati beberapa murid anaknya orang miskin. Pada suatu sore, sehabis lepas sekolah, ia minum arak seorang diri. Ia berada sendirian, ia menjadi kesepian. Arak itu pun ada antaranya dari satu muridnya. Saking iscng, tiba-tiba ia perdengarkan cabutan dari syairnya Ek-ong Tjio Tat Kay, itu pemimpin Thaypeng Thiankok yang bergelar pangeran: Penjahat besar juga ada lurunannya, yang Kitab Soesie tak menghargainya. Emas kuning bagaikan tanah tak berharga, nyali keras bagaikan besi. Dia belum habis ucapkan itu, atau tiba-tiba ada scruan: Sungguh bersemangat! Menyusul mana satu orang, bertindak masuk ke dalam rumahnya! Siangkoan Kin terkejut, ia menoleh dengan segera, hingga ia lihat, orang itu ada orang sesama kampungnya, si tukang besi yang usianya sudah lanjut. Dengan sendirinya, hatinya menjadi lega, pikirannya menjadi tetap pula. Ketika itu belum cukup dua puluh tahun sejak runtuhnya Kerajaan Thaypeng Thiankok, dengan diiam-diam syairnya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tjio Tat Kay itu masih tetap tersiar di antara rakyat, tidak perduli itu ada termaksud dalam larangan pemerintah Boan. Siangkoan Kin nyanyikan itu tanpa merasa, tidak heran, suaranya si empeh membikin ia terkejut. Di lain pihak, sekarang ia heran i si empeh tukang besi itu. Empeh ini ada orang satu kampung dengan ia, akan tetapi, asalnya, dia ada orang perantauan dari lain tempat, yang datang ke kampungnya selang sepuluh tahun yang lampau. Dia ada ramah-tamah, dia pun pandai membuat segala rupa barang dari besi, juga gendewa dan peluru untuk anak-anak menjepret burung dan untuk petani petani kepung kelinci, semacam tempuling terbuat dari kayu Tjoh. Lama-kelamaan, orang kampung pandang dia sebagai orang kampung sendiri. Di mata Siangkoan Kin, dia ada satu tukang besi, maka adalah heran, sekarang tiba-tiba dia pun kagumi syairnya Tjio Tat Kay. Rupanya Empeh mengerti syair, kata ia, dengan sikap menghormat. Orang tua itu bersenyum. Aku ada seorang kasar, mana aku mengerti syair? ia baliki. Aku dengar suaramu menarik hati, begitulah aku datang! Ia lihat pelbagai kitab di atas meja, ia agaknya heran. Siangkoan Sinshe, apakah kau ajarkan anak-anak dengan kitab-kitab ini? tanya ia. Pertanyaannya pun tiba-tiba. Kenapa kau tidak ajarkan mereka syair yang barusan kau nyanyikan? Juga pertanyaan ini aneh, hingga bertambahlah keheranan sinshe ini. Pelajaran pelbagai kitab ini bisa dipakai sebagai alat mendapatkan pangkat, ia menyahut dengan sengaja. Syair

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang aku nyanyikan barusan, walaupun bagus, tidak ada kegunaannya. Pangkat? dan orang tua itu tertawa. Bukankah Sinshe telah baca ini pelbagai kitab? Kenapa Sinshe sendiri tak peroleh pangkat? Kembali Siangkoan Kin menjadi heran. Ia terdesak oleh pertanyaan si empeh ini, satu tukang besi. Sesaat ini, dia tak lagi mirip dengan satu or-ang pertukangan! Empeh, sebenarnya kau ada dari golongan apa? akhimya ia tanya. Empeh itu dongak, ia tertawa pula Aku orang apa? Buat apa kau mempcrdulikannya? Tapi aku tahu itu orang syair siapa barusan kau nyanyikan. Dia pemah lulus sebagai sioetjay, hingga ia berkedudukan lebih tinggi satu t ingkat daripadamu. Akan tetapi dia tak perdulikan gelarannya ilmu surat itu! Guru sekolah desa ini terperanjat. Teranglah sudah, si empeh maksudkan Ek-ong Tjio Tat Kay, pendekar kebangsaan yang gagah-pcrkasa dan pandai ilmu sastera. Semasa umurdua puluh. namanya Ek-ong sebagai sastcrawan telah kesohor di Selatan dan Utara Sungai Besar. Tidak tempo lagi, ia menjura dalam tcrhadap tetamunya yang tidak diundangitu. Lootjianpwee, maafkan aku karena mataku lamur ia memohon. Sudah belasan tahun, aku tak dapat kenali padamu. Rupanya Lootjianpwee mengerti baik sekaii syair Ek-ong ini. Mengerti baik? kata si orang tua, sambil tertawatiba-tiba. Sang waktu telah lewat lama, aku sudah tak ingat puia. Tapi aku pemah. lihat sendiri ketika dia menulis syairnya itu.. Alangkah heran Siangkoan Kin, hingga ia lari ke pintu, untuk tutup pinitu. Ia kembali dengan ccpat, ia angkat tangan bajunya, lantas ia tekuk lutut di depan orang tua ini.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Teetjoe adalah korban ujian ilmu surat, berkata ia, yang mengaku terus terang, karena itu tak lagi teetjoe punya keinginan untuk mengharap pangkat. Tapi teetjoe adalah orang yang paling kagumi Ek-ong. Lootjianpwee, maukah Lootjianpwee beritahukan aku, Lootjianpwee sebenarnya ada Ek-ong empunya apa? Jikalau Lootjianpwee tidak memandang kebodohanku, teerjoe ingin sekaii Lootjianpwee memberikan sesuatu pengunjukan kepadaku. Orang tua itu tidak singkirkan diri, dia terima pemberian hormat itu, kemudian dengan ulur kedua tangannya, ia angkat bangun guru sekolah itu. Siangkoan Kin masih hendak menjura puia, tetapi tanpa ia merasa, tubuhnya kena diangkat secara enteng sekaii. He, Lauwtee, apa artinya ini? ia dengar si orang tua tegur ia. Lekas bangun, tak berani aku terima hormatmu, tak berani aku! Di mulutnya, orang tua ini mengucap demikian, di hatinya, ia puas, sebagaimana air mukanya kelihatan terang. Ia bersenyum berseri-seri, tanpa tunggu sampai Siangkoan Kin ulangi pertanyaannyaJ tidak ragu-ragu lagi, cmpch tukang besi ini beritahukan tentang dirinya yang sebenar-benarnya. Nyata dia ada sal ah satu pahlawan dari Ek-ong Tjio Tat Kay, yang senantiasa berdiri mcndampingi pahlawan pencinta ncgcri itu, hingga bukanlah heran apabila ia telah saksikan sendiri ketika Ek-ong menulis syairnya yang dibuat kenang-kenangan itu. Ek-ong Tjio Tat Kay ada panglima perang kenamaan dari Thaypeng Thiankok, ia pernah berperang di sana-sini melalui medan perang beberapa Iaksa lie jauhnya, hingga ia telah menggetarkan pemerintah Boan, tetapi ketika ia mcninggalkan Kimleng (Lamkhia) dengan pimpin tentara tunggalnya ke Soetjoan, se lama mana ia banyak mendcrita di sepanjang jalan, karena meluapnya Sungai Kimsee-kang, hingga ia tak sanggup sebcrangi Kali Taytou w-hoo, ia kena ditawan dan kemudian menemui ajalnya karenanya, dalam usia baharu tiga puluh tiga

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tahun. Scbagian besar dari tentaranya berkorban di medan perang, sebagian yang kecil, dapat meloloskan diri. Dan Poei Hok Han, ialah namanya si tukang besi itu waktu, juga berhasil meluputkan diri dari bahaya. Tidak lama kemudian, Thaypeng Thiankok runtuh Poei Hok Han merantau, hidup dalam penyamaran. Ketika ketegangan mulai reda, ia sampai di Boesek, akan hidup sebagai tukang besi di desa yang kecil. Dua puluh tahun lewat dengan cepat, Hok Han telah menjadi satu empeh-empeh, akan tetapi semangatnya masih belum kunjung padam, dalam kesunyiannya, ia masih kenangkenangi pergerakannya, karena tcrpaksa, ia kcndalikan diri, untuk mana, kadang-kadang ia suka menepas air mata sendiri. Dalam usia yang lanjut, Hok Han dapat pikiran untuk mendapati mu-rid, guna wariskan ilmu silatnya. Ini ada urusan yang sulit. Selama sepuluh tahun umpetkan diri, belum pemah ia dapati murid yang ia cari. Ia ingin dapati murid yang berbakat dan dapat dipercaya. Kebetulan sekaii, selagi lewat di depan rumah Siangkoan Kin, ia dengar nyanyian orang, tak bersangsi puia, ia masuk, akan kctcmui guru sekolah desa itu. Sejak itu, dengan diam-diam, Siangkoan Kin angkat si tukang besi menjadi gurunya. Ia sendiri, tetap menjadi guru sekolah. Tak ada orang tahu yang ia lagi belajari silat. Di mata penduduk lainnya, mereka ada satu sioetjay melarat dengan satu tukang besi miskin, yang menjadi sahabat kekal karena mereka senasib. Tidak ada satu penduduk juga yang mencurigai mereka. Siangkoan Kin berotak sangat terang, kalau orang lain membutuhkan tempo satu tahun, ia cuma tiga bulan, tidaklah heran, dalam tempo lima tahun, ia sudah dapatkan dasamya sempurna, pelajarannya telah maju jauh. Pada suatu malam terang bulan, seperti biasa, Poei Hok Han datang ke rumah muridnya, ia saksikan sang murid lagi melatih diri dalam ilmu pukulan Bittjong-koen, setelah murid itu selesai bersilat, ia menghela napas, ia kata: Kita drang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

telah berkumpul lima tahun lamanya, aku khawatir kita orang segera akan berpisah. Mendengar itu, Siangkoan Kin terkejut. Kenapa, Soehoe? tanya ia. Karena di kolong langit tidak ada pesta perjamuan yang tidak ada saat bubarnya, sahut sang guru. Kau pun, selama lima tahun, sudah mewariskan semua kepandaianku, bakatmu ada sangat bagus. pelajaranku sebaliknya sangat rendah. tak sanggup aku mend idik kau terlebih jauh. Kau tahu, aku ada seorang perantauan, aku ada seorang gelap. Terpaksa aku hidup menyendiri. Di sebelah itu, usiaku sudah lanjut, tak banyak tempo lagi untuk aku tewati. Semcntara itu, masih ada urusan yang aku belum selesaikan. Sekarang aku memikir untuk mencari satu orang, aku masih ingin tengok pula keadaan di luar. Siangkoan Kin mengerti perasaan cinta negeri dari gurunya, yang tetap tak mau padam, yang sukar untuk dilupai, maka ia percaya, masih ada cita-citanyaguru ini. Tiba-tiba ia pun dapat pikiran. Maka ia kata pada guru itu: Soehoe, muridrrra juga ingin merantau sebagai kau, harap Soehoe ajak aku, untuk aku peroleh pengalaman. Poei Hak Han pandang muridnya. Kau tak dapat, jawab ia. Kenapa, Soehoe? sang murid tegaskan. Aku ada orang yang dicari pemerintah Boan, walaupun banyak tahun sudah lewat, namun aku tetap tcrancarn bahaya. Tidak demikian dengan kau, anak tunggal, yang belum bcrumah tangga. Bagaimana aku bisa bawa kau untuk menghadapi bencana? Mendengar gurunya sebut hal rumah tangga, mukanya Siangkoan Kin merah bahna likat, tapi ia segera berbangkit, dengan hormai, dan dengan sungguh-sungguh ia kata pada gurunya itu: Soehoe, mustahil sampai sekarang Soehoe masih tetap tak mempercayai aku? Jikalau aku jerih akan kesukaran dan takut akan ancaman malapetaka, tidak nanti aku berani ikuti kau! Soehoe, aku bersumpah akan teladan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kau selama aku masih bernyawa, aku akan musuhkan pemerintah Boan! Tak mundur aku walaupun mesti binasa berlaksa kali! Cita-citaku masih belum tercapai, cara bagaimana bisa aku memikirkan rumah tangga? Harap Soehoe jangan bersangsi pula, mari kita pergi bersama! Menampak ketetapan hati orang itu, Poei Hok Han .tertawa. Jikalau demikian, tujuan kita sama! kata ia. Baik, aku nanti ajak kau! Kemudian ia tepuk-tepuk pundaknya, dengan roman sungguh-sungguh ia tambahkan: Barangkali dengan perjalanan ini aku bisa sekalian carikan satu guru yang pandai untuk kau! Kau sangat berbudi, Soehoe, mana aku tega akan tukar guru? sahut sang murid. Orang tua itu mengawasinya, alisnya dikerutkan. Kenapa kau pun jadi seperti or-ang biasa saja? tanya ia. Kau harus tahu, pelajaran tidak ada habisnya, pelajaran hams diyakinkan terus, hingga jadi scmpurna! Tak boleh or-ang kukuh i satu golongan saja, i tulah kebiasaan buruk dalam kalangan Rimba Persilatan. Ada lagi, yang kukuhi diri sendiri, tidak maul mengajarkan lain pihak, atau tidak mau pelajarkan kepandaian lain or-ang. Aku hendak carikan kau guru yang pandai, yang lebih liehay sepuluh kali lipat daripada aku. Aku hanya sangsi, orang itu sudi terima kau atau tidak. Siangkoan Kin melongo, ia pandang gurunya itu. Siapa orang itu, Soehoe, yang Soehoe demikian hargakan? iatanya. Poei Hok Han tidak lantas menjawab, ia tertawa. Kau ingat tidak, dalam salah satu syairnya Ek-ong Tjio Tat Kay ada disebutkan hal meloloskan pedang dari pinggang, untuk haturkan itu kepada lain orang?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Siangkoan Kin heran sekali. Aku ingat itu, Soehoe. Kenapakah? ia tegaskan. Ia lantas membacakan syair itu di luar kepala: Mengangkat kepalanya, naga tua perdengarkan suara Mahasiswa berduka berkehendak mcmbasmi pengkhianat Sesudah sampai di jalan buntu, masih ingin bersahabat Persembahannya adalah ribuan tail emas berharga. Mendengar itu, si empeh buat main kumisnya, nampaknya ia terharu sekali, seperti ia ingat apa-apa yang telah lalu. Guru yang aku niat carikan untuk kau itu, kata ia kemudian, dengan pelahan, adalah itu orang yang di saat buntu kepada siapa Ek-ong loloskan pedangnya untiik dihaturkannya. Aku ada Ek-ong empunya pahlawan, dia adalah sahabatnya- Ek-ong ia berhenti sebentar, selagi sang murid awasi ia, ia lanjuti: Dia adalah t sahabatnya Ekong, akan tetapi cita-cita mcrcka berdua beda satu dari lain. Sejak Ek-ong meninggalkan Kimleng, akan melakukan perjalanan peperangan jauh selaksa lie, dia sendiri mcnuju ke lain arah, dia tidak ikuti lebih jauh pada Ek-ong. Siangkoan Kin heran. Ia ada orang yang paling kagumi Ekong, mendengar ada sahabatnya raja muda itu, yang beda faham, ia merasa tidak mufakat. Ia lantas tanya gurunya: Sudah terang dia bercita-cita tain dan Ek-ong, kenapa Ek-ong haturkan pedangnya kepadanya, kenapa Soehoe pun sangat hargai dia? Kau pandang urusan sangat sederhana! sang guru tertawa. Faham berlainan bukan berarti bahwa orang mesti bertentangan. Ek-ong benar ada satu orang luar biasa tetapi itu bukannya bcrarti sesuatu dari sepak-terjangnya benar semua. Sampai di sini, Hok Han tuturkan muridnya perihal sahabatnya Tjio Tat Kay itu dan hubungannya dengan si raja muda.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dia adalah Soekong Tjiauw, dia pun ada seorang luar biasa. Dia sangat kagumi Ek-ong untuk Ek-ong empunya kepintaran ilmu surat dan ilmu silat, ilmu pcrang yang mahir. yang bisa dibandingkan dengan panglima-panglima perang pandai di zaman dahulu. Begitulah, dengan ikhlas hati, ia kasih dirinya dipekerjakan Ek-ong. Sejak Ek-ong dalam usia dua puluh tiga tahun dianugerahkan sebagai pangeran, ia mendampinginya saja dalam kemah sebagai penasihat Ek-ong pun sangat hargai dia dan sangat percaya padanya. Adalah kapan datang suatu saat yang maha penting, keduanya nyata berbeda paham. keduanya lantas saja berpisahan. Suaranya si empeh jadi pelahan, airmatanya berlinang. Itulah urusan yang membikin Thaypeng Thiankok dari makmur menjadi lemah, hingga suatu usaha demikian besar dan menggetarkan , dunia., lantas jadi hancur. Karcna bentrokan di dalam, buyarlah semua-semua.. Empeh ini menghela napas, suaranya sangat sedih. Apakah Soehoe maksudkan bentrokan antara Yo Sioe Tjeng dengan Wie Tjiang Hoei? Siangkoan Kin tegaskan. Benar, jawab sang guru, setelah menghela napas panjang. Pada masa Thaypeng Thiankok mengangkat berbagai raja muda (pangeran) adalah Tong-ong Yo Sioe Tjeng yang kedudukannya paling agung. Tong-ong ini terlalu agulkan jasanya, ia sampai menindih Iain-lain rekannya, sampaipun Thian-ong Ang Sioe Tjoan sendiri, ia tidak lihat mata. Di sebelah pangeran yang jumawa itu, ada Pak-ong Wie Tjiang Hoei yang kouwkatie, yang irikan kedudukan orang. Selagi Tong-ong agui-agulan demikian rhacam, hingga dia tak disenangi Thian-ong dan Iain-Iain pangeran, Pak-ong mengatur siasatnya yang buruk. Dibokong dalam suatu pesta, Tong-ong kena dibinasakan. Sesudah ini, Pak-ongjuga bunuh habis keluarganya serta

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sebawahan yang berjumlah dua puluh ribu jiwa lebih. Ini ada perbuatan kcterlaluan. Walaupun bisa dianggap Tong-ong keliru, diamasih tak dapat dihukum mati, apa pula keluarga dan sebawahannya itu. Orang-orang sebawahan itu adalah anggota-anggota berharga dari Thaypeng Thiankok. Dengan pembasmiannya itu, Pak-ong seperti membantu besar sekali kepada musuh untuk memperlemah diri sendiri. Karena itu, Ek-ong sudah lantas buru-buru berangkat ke Kota Raja, untuk cegah pcmbunuhan itu.. Ketika Ek-ong baharu berumur dua puluh enam tahun tapi dia telah jadi seperti jiwanya Thaypeng Thiankok, dia ada pegang kekuasaan besar atas bala tcntara, namanya pun kesohor di dalam dan di luar negeri. Wie Tjiang Hoei khawatir kapan ia ketahui pangeran itu pulang; ia jadi dapat niatan akan bunuh juga rekan ini. Beruntung buat Ek-ong, ia dengar selentingan, malam-malam juga ia kabur, ia loloskan diri dari Kota Raja. Tapi Pak-ong tak mau bekerja setengah jalan, dia pun basmi keluarganya Ek-ong. Ek-ong berjasa, dia terima nasib celaka itu, dia jadi gusar dan mendongkol. Thian-ong khawatir Ek-ong gusar dan nanti berontak, dia sudah lantas hukum mati pada Pak-ong Wie Tjiang Hoei, tetapi di sebelah itu, ia pakai orang-orang yang tak disukai Ek-ong, hingga perhubungannya dengan Ek-ong menjadi renggang. Ek-ong ketahui ini, hatinya jadi tawar. Maka di akhirnya, Ek-ong ambil putusan, dengan bawa beberapa laksa serdadunya, ia mcninggalkan kota Kimleng, dia menuju ke barat, untuk cari suatu pangkalan baru, untuk berusaha sendiri, untuk bisa berdiri berendeng dengan Thaypeng Thiankok, guna saling bantu. Di harian Ek-ong berikan titah-titah unjuk, walaupun Thianong keberangkatannya ke barat, Soekong Tjiauw menangis sangat sedih, ia cegah tindakannya Ek-ong, ia menasihatinya berulang-ulang. Ia menyia-nyiakannya, tetapi Thaypeng Thiankok sendiri tak boleh kehilangan Ek-ong, bahwa

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kepergian pangeran ini berarti memecah tenaga sendiri, hingga gampanglah scsuatu dari mereka diserang rusak tentara Boan. Mulanya, Ek-ong tertarik juga oleh nasihat itu, akan tetapi di akhirnya, kepercayaan atas dirinya sendiri demikian besar, hingga ia tak menghiraukannya. Tidak gentar dia terhadap musuh Boan. Malah ia hunus pedangnya dan sambil berbangkit, ia kata: Di dalam tentara Boan, yang paling gagah adalah Saudara-saudaraTjan, tetapi mereka, mendengar namaku hatinya rontok, melihat bayanganku mereka lari simpang-siur! Kau lihat nanti, dari Tionggoan aku akan menyapu ke Barat dan Selatan, untuk meletaki dasar dan mendirikan usaha buat laksaan turunan guna Thian-ong! Sampai di situ, Soekong Tjiauw tidak berani bilang suatu apa pula, dia cuma berlinang air mata, laiu tanpa pamitan lagi, dia pergi. meninggalkan raja muda itu. Ek-ong berangkat ke barat, ia lakukan perjalanan laksaan lie bersama beberapa puluh laksa serdadunya, tetapi akhirnya, tepat kata-katanya Soekong Tjiauw, ia telah tidak bcrhasil. karena tenaganya telah terpecah. Ketika ia hendak memasuki Propinsi Soctjoan, tidak saja tentara di Kimleng terancam bahaya, ia sendiri jadi semakin lemah. Tujuh tahun ia sudah berperang, sembilan propinsi ia telah sampaikan ialah Kangsee, Tjiatkang, Hokkian, Ouwlam, Kwiesay, Kwietang, Koeitjioe, Ouwpak dan Soetjoan tenaganya jadi berkurang, otot-ototnya lemah, di saat ia berada di Kali Taytouw-hoo, di depan ia menghadapi tempat berbahaya, di belakang ada musuh mengejar padanya. Di saat yang sangat mengancam itu, sekonyong-konyong Soekong Tjiauw muncul pula di hadapan Ek-ong; untuk menasihati raja muda ini bubarkan tentaranya, untuk menyingkir sambil menyamar. Coba pikir, bagaimana Ek-ong bisa turut nasihat itu? kata Poei Hok Han sambil menghela napas pada muridnya. Itu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

malam dengan pedang di tangan, aku damping! Ek-ong, aku dengar pembicaraan mereka berdua. Dengan keras Ek-ong kata: Aku bertanggung jawab atas seluruh tentaraku, kewajibanku adalah berperang sampai binasa, tak dapat aku menyingkirkan diri! Aku telah keliru ambil jalan, aku telah bawa semua saudara ke tempat buntu, maka aku mesti cari kehidupan dalam kematian, untuk menerobos keluar! Mana bisa aku bubarkan tentaraku untuk biarkan mereka dikejar dan dibinasakan oleh bangsa Boan? Khongtjoe toh bilang hams sempumakan perikemanusiaan dan Bengtjoe mengatakan untuk pilih kebijaksanaan. Semangatnya satu orang, di tempat berbahaya itu mesti makin ternyata. maka dari itu, pasti sekali, tidak nanti aku lari. Untuk sekian lama, Soekong Tjiauw tak kata suatu apa, adalah kemudian, dengan paksakan diri, ia bilang: Aku telah keliru memberi nasihat. Karen a Ek-ong tak sudi menyingkir, maka aku ingin temani Ek-ong binasa bersama. Akan tetapi Ek-ong larang ia bertindak demikian. Ek-ongmenyatakan: *Kaudengan aku adalah lain. Aku ada kepala perang, tanggung jawabku ada jauh terlebih berat daripada tugasmu. Sudah pasti aku ingin binasa, kau sendiri tak dapat. Kau hams, dengan tubuhmu yang berharga, selesaikan tugasmu yang belum rampung. Habis berkata demikian, Ek-ong loloskan pedang sendiri, serahkan pada sahabatnya itu,-serta ia tulis syaimya yang barusan kau ulangi di luar kepala. Mendengar cerita sang guru sampai di situ, tak tertahan lagi, air mataSiangkoan Kin berlinang. Habis sekarang, di mana adanya Soekong Tjiauw itu? tanya ia, dengan suara sesenggukan. Ek-ong tak sanggup seberangi Kali Tayhouw-hoo, dia berperang hingga dia kena ditawan, Hok Han jawab

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

muridnya. Dengan gagah ia telah terima kebinasaannya. Sejak itu hingga kini sudah bcrsclang dua puluh tahun lebih, tidak pernah aku ketemu di mana adanya Soekong Tjiauw. Adalah baharu bcbcrapa hari yang lal u tiba-tiba aku terima surat satu sahabat yang menulis bahwa Soekong TjiauW tinggal sembunyi di Gunung Seegak H oa-san, bahwa dia mengharap untuk bisa bertemu dengan aku. Inilah keterangan yang sangat menggirangkan Siangkoan Kin. Begitulah di hari kedua, Poci Hok Han ajak Siangkoan Kin merantau, untuk sekalian cari Soekong Tjiauw. Dari Kangsouw Utara, mereka masuk ke Shoatang, terus ke Hoopak di mana mereka pesiar di Kota Raja, dari sana dengan ikuti Gunung Thayheng-san, mereka pergi ke Shoasay, sampai di Kota Tongkwan di tapal batas Siamsay-Shoasay. Dari situ mereka sudah lantas lihat Gunung Hoa-san yang tinggi agung. Ini adalah untuk pertama kali Siangkoan Kin bikin perjalanan, dia telah meninggalkan wilayah Kanglam di mana tiang-tiang layar bagaikan rimba dan layar-layarnya sendiri berbayang di permukaan air yang jernih indah, tapi sekarang ia memasuki daerah Utara dengan sawah-ladangnya ribuan lie dan tanah datarnya yang luas lebar, jalan di lamping-lamping gunung yang penuh bahaya. Tepian Thayheng-san ada berlugat-legot laksana cacing, ribuan lie panjangnya, lampingnya mirip dengan tembok kota. Ada kalanyadia memasuki lembah atau selat yang sempit dan gelap. Semua itu membuat hatinya si guru sekolah jadi terbuka, hingga insyaflah ia sekarang, merantau ribuan lie benar ada menang daripada membaca laksaan kitab. Buat dua puluh tahun lebih Poei Hok Han hidup tersembunyi, wajahnya sekarang sudah berubah, benar ia tidak tarik perhatian orang banyak, hingga merdeka ia mengajak muridnya merantau, akan akhimya sampai di Hoasan, gunung yang sejak zaman dahulu dipanggil Seegak, yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ada punya lima puncak dan tempat yang permai pemandangannya. Ia terus ajak sang murid memasuki rimba, menembusi pepohonan oyot, mendaki sampai di atas puncak tertengah, Lianhoa-hong. Di sini pun banyak pepohonan yang tinggi dan rumput yang lebat dan tinggi sependirian manusia, angin meniup keras, hawa udara dingin. Siangkoan Kin bertubuh ulet tapi ia toh merasai sejuknya hawa. Ia jalan dengan hati-hati tetapi ia lihat, gurunya jalan sewajarhya saja, tak perduli jalanan sukar dan berbahaya. Diam-diam ia insyaf bedanya kepandaian mereka berdua. Itulah puncak utama dari Lianhoa-hong! akhir-akhirnya Poei Hok Han kata seraya menunjuk ke depan, ke puncak tertinggi. Soekong Tjiauw dirikan gubuknya di situ} sungguh dia menderita. Siangkoan Kin angkat kepalanya, untuk dongak melihat, tapi tiba-tiba gurunya cekal ia seraya membisikinya: Mendekam, lekas! Dan ia lantas ditarik ke gombolan. untuk sembunyi. Sekejab saja, di tempat terpisahnya dua puluh tumbak lebih dari mereka, tiga orang melesat lewat, pakaiannya semua abu-abu, dan sekejab juga, mereka lenyap. Mereka itu telah gunai ilmu lari Tengpeng touwsoei atau Menyeberang sungai sambil injak kapu-kapu. Siangkoan Kin heran, tak terkecuali gurunya. la hendak tanya gurunya itu, atau Hok Han dului ia dengan berbisik: Kau ikuti aku, hati-hati! Mari kitasusul mereka, mereka itu menuju ke puncak pusat Lianhoa-hong ini. Masih belum ketahuan. mereka sahabat atau musuh Hok Han segera berloncat dengan pesat, untuk lari menyusul, agaknya pepohonan oyot dan duri tak menjadi rintangan bagi ia, maka kasihan Siangkoan Kin, yang tidak punya keentengan tubuh dan kegesitan sebagai gurunya itu. Dua* kali ia tersangkut

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

oyot, sampai bajunya robek, sampai tcrpaksa ia minta gurunya tunggui ia. Siapkan scnjatamu, tetap waspada Hok Han pesan muridnya. Mereka menyusul dengan tak tcrlihat tiga orang di dcpan itu, karena jarak jauh juga dari mereka kedua pihak. . Sebab rumput tebai dan tinggi, Hok Han juga tidak dapat I ihat mereka itu, maka dari itu, ia berlaku hati-hati sekaJi. Selagi si empch tukang besi ini memasang mata, tiba-tiba ia dengar suara pelahan tidak jauh di depannya. Ia lantas pasang teiinganya, untuk mendengari. Ia segera kenali satu suara, yang ia seperti kenal, akan tetapi kata-katanya ia tidak dengar nyata. Maka itu, ia bisiki Siangkoan Kim Mereka berada di samping kiri kita, terpisahnya mungkin tiga puluh tumbak kira-kira, mari ikut aku, kita ambil jalan kanan, akan mutar ke belakang mereka. Kita mesti ada di sebeTah belakang mereka, kita mesti jaga agar mereka tak dapat meiihat kita. Kebetulan angin meniup keras, suaranya berisik, Hok Han barengi loncat ke samping. Siangkoan Kin ikuti gurunya itu. Sebentar kemudian, mereka sudah sampai di belakang orang-orang yang dikuntit, Hok Han, yang berada di depan, telah kisiki muridnya, yang lagi-lagi hendak menanya dia. Guru ini berkata: Dia orang ada orang-or-ang Kangouw yang pandai, mereka datangi Lianhoa-hong yang penuh ancaman bahaya, mesti merekrii hendak berurusan dengan Soekongl Tjiauw. a Dari tempat mereka sembunyi, guru dan murid ini bisa lihat nyata] tiga orang itu, yang berkumpul sambil | jalan mondarmandir, sambil bicara juga dengan suara keras, angin bersiursiur. Kepala hantu ini sembunyi di pusat tertinggi dari Hoasan,wj demikian Hok Han dengar, maka itu ada sangat sukar

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

untuk cari dia. Baharu dalam tahun ini, kita dengar tentang dia, tetapi sudah beberapa kali kita cari dia di sini, tak juga dia dapat diketemukan. Ini hari kita dapat cari guha tempat mengcramnya, akan tetapi dia tidak ada di sarangnya! Apakah kita bukannya menyia-nyiakan waktu saja? Kepala hantu itu sangat licin, mengulangi yang lain pula. Nampaknya dia sudah ketahui ketika kita datang pada dua kali yang pertama. Aku kuatir dia sudah berlalu dari ini. Entah ke mana lagi dia sembunyikan diri. Aku percaya, dia belum menyingkir pula, kata orang yang ketiga. Dua kali kita datang, kita mencari di sekitarnya gunung ini, lata belum sampai di puncak tertengah ini. Kita pun datang malam dan berlalu sebelum terang tanah, cara bagaimana dia bisa mendapat tahu? Walaupun demikian, Sha-tee, tak dapat kita tidak berjagajaga, kata orang yang pertama. Siapa tahu jikalau ia telah atur bayhok atau ia telah minta datang bala bantuan untuknya? Mari kita mencari pula di sekitar ini. Awas, jangan sampai kita kenadiakali. Dua kawan itu mufakat, lantas mereka mencari pula, dengan berpencaran. Diam-diam, Hok Han kaget dan berkuatir. Terang sudah, Soekong Tjiauw lagi hadapi musuh-musuhnya. Ia juga kuatir, seorang diri, sahabatnya itu nanti tidak sanggup melayani musuh-musuhnya itu. Scmcntara itu, ia ingat semakin nyata lagu suara orang, yang ia rasa kenal. Ia pikirkan itu, ia berpikir keras. Tiba-tiba, ia terkejut sendirinya dan heran. Apakah mungkin dia pun telah jadi budaknya bangsa Boan? akhimya ia tanya dirinya sendiri. Satu di antara tiga orang itu mencari ke arah Hok Han dan muridnya sembunyi, makin lama dia datang makin dekat. Siangkoan Kin siapkan pedangnya di satu tangan dan senjata rahasia di tangan yang lain, meski demikian, tidak urung ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

keluarkan keringat dingin. Ini ada pengalamannya yang pertama. Poei Hok Han pun siap sedia, malah ia sudah pikir untuk menerjang lebih dahuhi. Orang itu maju terus, gerak-geriknya hati-hati. Bcnar di saat Hok Han hendak lompat menyerang atau ia dengar suara bentakan orang itu Siapa? Berhenti! Suara itu disusul sama lompat munculnya satu orang, yang dengan suara dalam dan seram. balik menanya: Kau siapa? Aku ada penduduk gunung sunyi ini! Adakah aku mengganggu pada kau? Aku lagi cari kelinci atau buah-buahan hutan, sebegitu jauh, aku beium memperolehnya, hingga aku berdahaga dan lapar, lalu aku hendak pulang untuk dahar momo setclah mana, aku hendak keluar pula. Kau suruh aku berhenti apakah kau mau? Itulah Soekong Tjiauw! Hok Han tidak jadi keluar, ia sembunyi terus, akan pandang sahabatnya itu dan si orang tidak dikenal. Selang dua puluh tahun lebih, roman orang she Soekong itu sudah berubah, nampaknya tindakannya kurang tegap lagi, matanya kurang bersinar, pakaiannya pun cobak-cabik, rambutnya dan kumisjenggotnya telah putih semua. Tidak lagi ia beroman gagah seperti dulu. Cuma karena lagu suaranya. dan gerak-geriknya, maka Hok Han dapat kenali sahabatnya ini. Orang asing itu, seorang tua dengan pakaiannya abu-abu, bicara pula. Soekong Tjiauw, di hadapan sahabat, jangan lagi kau berpura-pura pi Ion! Mustahil kau senang untuk bikin sahabatmu nampak kesulitan? Soekong Tjiauw berdin diam, sikapnya sangat sabar. Apakah Kongapakah Tjiauw? tanya ia. Sahabat, katakata kau tak dapat aku mengertikan! Aku ada seorang gunung. Gunung ini tinggi, rimbanya lebat, di sini ada serigalanya, harimaunya banyak, jurangnya dalam, jalanannya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sukar dan bcrbahaya. Untukku, yang biasa tinggaJ di guha. semua itu ada umum, tidak demikian dengan kau, Tuan yang terhormat. Ada urn sari apa kau datang kemari? Untuk apa kau berdiam lama-lama di sini? Di sini bukannya tempat pesiar yang indah. Buat apa kau panjat Hoa-san yang tinggi ini? Selagi Soekong Tjiauw bicara, tiba-tiba muncul seorang tua lain, yang warna pakaiannya serupa dengan yang pertama itu. Dia maju ke depan, lalu dengan suara dingin dia kata: Saudara Soekong Tjiauw, sudah lama kiia orang tidak pernah bertemu, apa kau ada banyak baik? Saudara, apakah kau masih ingat sahabat kekalmu ini dari Kimleng dari dua puluhtahun yang lampau?. Soekong Tjiauw awasi orang itu tetap akhirnya, ia goyanggoyang tangannya. Maafkan aku,jawab ia sambil tertawa dingin, aku ada seorang gunung, seorang hutan, mana aku ada punya sahabat mewah seperti kau? Oh, Thayya sekalian, harap kau or-ang tidak mengganggu aku!. Orang tua itu gusar karena dijawab demikian rupa, dia anggap dia dipermainkan, hingga tak bisa ia mengendalikan hawa amarahnya. Kedua biji matanya lantas saja melotot. Soekong Tjiauw! ia berseru. Aku masih ingat pcrsahabatan kita, aku ingin buka jalan hidup untuk kau, aku tidak mau berlaku kejam, kenapa kau bersikap begini macam terhadapku? Ingat, jangan kau cari susah send in! Jangan kau andali saja kegagahanmu, hingga kau jadi berani membangkang! Lihat tjoekongmu, Tjio Tat Kay! Bagaimana dia pandai dan liehay, tidak urung dia tertawan dan dapatkan kebinasaannya! Apa pengaruhnya Thaypeng Thiankok? Bukankah gerakan itu pun buyar bagaikan es? Kau sendiri, apa kau bias bikin? Soekong Tjiauw, aku sudah bicara, maka hayolah kau pikir. Jikalau kau suka secara baik bersama-sama

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kita pulang ke Kota Raja, aku tanggung pemerintah nanti perlakukan baik kepadamu, kau bakal dipakai dan dihargai, tetapi jikalau tidak, terpaksa kita nanti bekuk padamu! Kau dengar terang atau tidak? Kita ada sahabat-sahabat lama dari Kimleng, aku kenal kau Soekong Tjiauw, kau pun kenal aku Tang Siauw Tong, kita ada bangsa laki-laki, sekarang aku tunggu jawabanmu! Memang dia! pikir Poei Hok Han di tempat sembunyinya. Ia memang segera kenali orang tua itu. Tang Siauw Tong ada orang kepereayaan paling setia dari Pak-ong Wie Tjiang Hoei, sebilah goloknya Tan-too telah menjagoi di lima propinsi Utara, belum pernah dia temui tandingan, ketika terjadi bentrokan antara Wie Tjiang Hoei dan Yo Sioe Tjeng, dia telah membantu membinasakan Tongong, kemudian ketika Pak-ong dihukum mati, dia pergi kepada Ang Djin Kan, saudara Thian-ong Ang Sioe Tjoan. Supaya dia diterima, dia kasih keterangannya, bahwa dulu dia cuma turut titahnya Pak-ong Wie Tjiang Hoei, bahwa dia sebenarnya tetap setia kepada Thian-ong. Thian-ong Ang Sioe Tjoan bersatu pendirian dengan Ek-ong Tj io Tat Kay, dalam bentrokan Wie Tjiang Hoei dengan Yo Sioe Tjeng, yang bersalah adalah Wie Tjiang Hoei sendiri, jadi semua orang sebawahannya tak ada sangkut-pautnya. Karena ini, Thian-ong tidak tarik panjang halnya Tang Siauw Tong. Kemudian, ketika Kota Kimleng jatuh dan Thaypeng Thiankok hancur-lebur tidak ketahuan ke mana kabumya orang she Tang ini, Hok Han tidak pernah mendengarnya, sampai tahu-tahu dia muncul hari ini. Maka itu Hok Han percaya, dengan sikapnya itu, orang she Tang ini pasti telah jadi kaki-tangannya pemerintah Boan. Selagi Poei Hok Han berpikir demikian tcntang orang she Tang itu dengan penuh amarah, adalah ia dapatkan Soekong Tjiauw sendiri bersikap tenang.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tang Siauw Tong? kata ia sambil tertawa, dengan dingin. Ya, tidak salah! Memang dulu aku ada punya satu sahabat dengan itu nama, tetapi dia sudah mafi lama. Di harian jatuhnya Kota Kimleng, semua orang peperangan Thaypeng Thiankok dengan gagah telah mengorbankan dirinya dan Tang Siauw Tong ada satu laki-laki sejati, mana dia bisa mencuri hidup, akan menjadi budaknya si budak, akan jadi gundalnya si gundal? Kau siapa? Kenapa kau bcrani pakai namanya sahabatku itu? Soekong Tjiauw tidak sudi kenal orang she Tang ini, ia berbuat demikian dengan disengaja. Ini cara ada lebih hebat daripada dampratan langsung. Tidak heran jikalau si orang she Tang jadi gusar bukan kepalang. He, pithoe, begini tajam lidahmu? ia membentak. Kau tidak tahu diri! Jangan kau sesalkan aku jikalau aku tidak ingat pula persahabatan kita! Terpaksa aku mesti undang kau turut pergi bersama-sama kita! Soekong Tjiauw tertawa pula secara dingin sekali. Aku sudah duga, binatang, kau memang bisa mencari pangkat dengan jual sahabatmu! kata 1a. Kau sekarang jadinya hendak ambil darah hidupkan untuk celup merah Icopiahmu? Tak demikian gampang, Sahabat! Kau gerakilah tanganmu! Tidak perduli kau sendirian, atau kau maju bersama semua kawanmu, aku Soekong Tjiauw bersedia untuk melayaninya! Ketika itu kawan yang ketiga dari t Tang Siauw Tongjuga sudah datang, bersama kawannya, dia dampingi Siauw Tong, mereka tidak senang mendengar ejekan-ejekan Soekong Tjiauw. Sahabat Soekong, jangan kau pandang terlalu hina kepada kita! kata satu di antara mereka. Tidak nanti kita rebut kemenangan dengan cara keroyokan! Di antara kita bertiga, kau boleh pilih salah satu! Kita hendak bikm kau puas dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mati tanpa penyesalan! Berdua mereka bcrdiri dengan sikap jumawa sekali. Dua kawan dari Tang Siauw Tong ini bukan orang-orang sembarangan. Yang satu ada TjianlieTwiehong See Beng Wan si Pengejar Angin, yang ada murid utama dari Keluarga Lou, segolong ilmu silat kesohor di Shoasay. Dia tidak saja telah mewariskan Keluarga Lou punya ilmu gembolan Samleng Touwkah-twie, yang terdiri dari delapan puluh satu jurus saling beruntun, ilmu entengi tubuhnya pun sangat terkenal. Dia bekerja kepada pemerintah Boan dengan pertolongan Jenderal Tjoh Tjong Tong. Ini jenderal she Tjoh, bersama-sama dengan pengkhianat besar Tjan Kok Hoan, adalah menteri-menteri yang kenamaan. See Beng Wan dibeli ketika Tjoh Tjong Tong bawa pasukannya ke Sinkiang. Or-ang yang kedua ada Peng Tjeng It, seorang dari suku Hweehwee, yang bekerja sebagai pahlawan pilihan dalam Keraton Boantjioe, kepandaiannya adalah ilmu toyasulgj bangsanya dan senjata rahasia. Bertiga mereka sangat percaya kegagahan mereka, mereka tidak berniat keroyok Soekong Tjiauw. Mereka percaya betul yang mereka akan berhasil. Bukankah kalau yang satu sedang bertempur, yang dua bisa memasang mata? Mereka sudah rencanakan, dalam keadaan terpaksa, baharu mereka akan gunai senjata rahasia atau turun tangan bersama. Soekong Tjiauw tidak sambut tantangan itu, sebaliknya dia yang tanya, siapa di antara mereka bertiga yang hendak maju paling dulu. Tidak tempo lagi, Tang Siauw Tong enjot tubuhnya, akan mencelat maju ke depannya musuh. Aku! ia berseru seraya terus ulur kepalan kanannya ke arah muka.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Soekong Tjiauw kasih dengar tertawa panjang, selagi tangan musuh menjurus, iageser kaki kirinya ke kiri dari sini ia angkat sebelah tangannya, akan gempur lengan orang itu. Bagus! berseru Siauw Tong, yang dengan sebat gunai tangan kirinya, akan halau gempuran musuh itu, sedang tangan kanannya segera ditarik pulang, buat dipakai mencengkram muka orang dengan pukulan Kimliong tamdjiauw atau Naga emas ulur kuku. Ini ada semacam serangan yang liehay, tcrutama saking cepatnya. Soekong Tjiauw berkelit, untuk luputkan diri, hingga serangan musuh mengenai tcmpat kosong, sesudah itu, tidak kurang gesitnya, ia menyerang dengan tangan kanan, untuk hajar kanan lawan. Sekali ini ia gunai tipu Totiam kiamteng atau Rubuhkan lampu emas. Tang Siauw Tong bcrada di dalam ancaman, akan tetapi ia mempunyai latihan dari beberapa puluh tahun, untuk tolong diri, ia lekas-lekas mengendap sambil putar tubuhnya dalam gerakan TjhongHong kianbwee atau Naga melilit ekor, menyusul mana, kakinya diulur, untuk meradak kuda-kuda lawan. Soekong Tjiauw tahu serangannya gagal dan ia berbalik terancam, untuk menyelamatkan diri, ia berloncat dengan Koaybong hoansin atau Ular naga jumpalitan. Tapi ia tidak berhenti dengan berkelit saja. Ia pun segera balas menyerang pula. Ia telah menyerang dengan berbareng, dengan tangan kanan dan kaki kiri. Ia bersedia akan adu tangan dan kakinya kepada musuh. Tang Siauw Tong meradak dengan radakan Poanliong djiauwpou atau Naga mendekam menggcser kaki. itu sebenamya bukan kepandaiannya yang istimewa Sekarang radakan itu gagal, ia balik diserang pula, tidak ada jalan lain, ia tolong diri sambil lompat ke belakang jauhnya beberapa tindak. Di sini baharulah ia perbaiki ia punya diri, sesudah itu, baharu ia hadapi pula musuh, akan mulai saling serang pula.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hok Han kagum melihat caranya dua orang itu bertanding sedemikian hebat, saling berganti mereka hadapi ancamanancaman bencana. Pertempuran berlangsung, sampai tiga puluh jurus lebih, sesudah mana, Soekong Tjiauw lantas mendesak, kecuali tubuhnya melesat ke kiri dan kanan, kedua tangannya menyambar-nyambar dengan kadang-kadang diikuti tendangan. Temyata ia telah gabungkan Sippat Lohan-tjhioe dari Siauwlim-pay serta dia sendiri ilmu totok Tiamhiattjhioenya, dengan ini cara, dia berhasil mendesak lawan itu. Tang Siauw Tong terpaksa main mundur saking hebatnya desakan, tetapi ia juga tidak mau menyerah kalah mentahmentah, maka kemudian, sambil berseru keras ia keluarkan ilmu silatnya Thianliong Sippat-tjhioe, yang terdiri dari delapan belas jurus, setiap jurusnya bisa terpecah pula jadi sembilan gerakan susulan, hingga semuanya jadi ada seratus enam puluh dua jurus. Maka itu, kembali mereka jadi berimbang. Jurus-jurus dikasih lewat dengan cepat, masing-masing dengan serangan-serangannya yang berbahaya. Menurut mata umum, kclihatan nyata Tang Siauw Tong dcsakannya kcras, ialah orang yang mcrasa mendongkol dan penasaran, akan tctapi di matanya ahli, ia justru yang mulai terdesak Sippat Lohan-tjhioc adalah ilmu pukuian istimcwa dari Siauwlim-pay, yang tidak sembarang murid dapat pclajarkan, yang tidak sembarang dipakai. di sebelah itu, Soekong Tjiauw pandai Tiamhiat-hoat, ilmu menotok jalan darah. Tang Siauw Tong scbaiiknya, walaupun ia liehay dcngan Thianl iong Sippat-tjiangnya. ia kurang pandai dalam ilmu totokan, karena itu, ia jadi mcndapat rintangan sendirinya. Rupanya Tang Siauw Tong merasakan sendiri bahwa ia mulai tcrdcsak. dari itu, ia lantas menyerang berulang-ulang, saling susul dcngan Samboan togoat Tiga libat mcngikat rem bu I an, Lengwan hianko Orang-hutan sakti

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mcnyuguhi buah, dan Paysan oentjiang Menolak gunung dengan telapakan tangan. Sockong Tjiauw tidak jadi keteter karcna desakan musuh ini, dengan tenang ia mclayani, menangkis atau berkelit. Paling belakang, ketika tangan musuh sampai, ia sedot pemteya hingga jadi kosong. Cuma beda setengah dim, jeriji tangan lawan akan mengenai sasarannya. Justru itu, luar biasa gesit, orang she Soekong ini gunai tangan kanannya, akan gempur pundak kanan orang, akan cari jalan darah Djiekhie-hiat. Siauw Tong tidak sangka, terdesak demikian rupa, musuh masih bisa menyelamatkan diri dan segera membalas menyerang, ia terperanjat, lekas-lekas ia buang tubuhnya ke belakang, dengan jejakan kaki, ia mencelat jumpalitan. loncat beberapa tindak jauhnya. Tapi ia masih kalah gesit, sambaran angin mcngcnai juga pundaknya, hingga ia merasakan kesemutan. Kurang ajar! ia berseru dalam hatinya, sebelah tangannya segera terayun. Segera ada beberapa cahaya berkeredepan yang menyambar kearah Soekong Tjiauw. Itulah senjata rahasia panah tangan! Soekong Tjiauw telah bcrlaku waspada, ia lihat gerakan pundak or-ang, lantas ia berkelit, ke kin dan kanan, cara dcmikian, bcbcrapa batang panah tangan itu tidak mcngcnai sasarannya. Bukan maksud Tang Siauw Tong akan bokong lawannya itu, kalau dia t oh menyerang dengan senjata rahasia, itu adalah untuk bela dirj. Dia khawatir nanti disusul, untuk digerebek, dari itu, dengan panah tangan itu, dia hendak mcnccgahnya. Secara begini pun dia jadi dapat kesempatan akan hunus golok Ganleng-too nya yang pernah menggetarkan lima propinsi Utara.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Di waktu dihuntis, golok Tan-too ini bersinar berkilauan, lalu tak tunggu tempo lagi, Tang Siauw Tong lompat maju, akan mendahului serang musuh selagi dia ini repot berkelit dari scrangan panah tangan. Pemberontak, lekas hunus senjatamu! Siauw Tong menantang. Dia bukannya ingat persahabatan hingga dia tidak mau membokong, tetapi dia percaya benar dia punya ilmu golok. Sebab selainnya dari sikapnya ini, adalah tempo bcrtiga mcrcka bcrangkat dari Pakkhia, mereka dipesan sedapatdapatnya agar musuh mi dibujuk menakluk atau sedikitriya ditawan hidup-hidup. Adalah keinginan dari pemerintah Boan akan korek keterangan dari Soekong Tjiauw tentang di mana sembunyinya ahli waris Kerajaan Beng. Bukan main panas hatinya Soekong Tjiauw apabila ia saksikan sikapjumawa dari lawan she Tang ini. Teranglah Siauw Tong tidak cuma rela jadi budak Boan tapi dia pun tak hormati lagi persahabatan kaum Kangouw. Adalah satu kebiasaan, dalam keadaan seperti Siauw Tong, diasudah mesti mengaku kalah. Tapi, gusar atau tidak, ia sudah tidak punya kesempatan lagi. Sinar golok itu telah berkeredep berulang-ulang menyilaukan mata. Golok Siauw Tong ada golok terbuat dari baja pilihan, rambut putus bila difiupkan ke arah tajamnya. Itulah golok yang dipakai membelai Wie Tjiang Hoei, untuk binasakan Yo Sioe Tjeng. Soekong Tjiauw juga ada punya pedang pilihan, ialah pedang Lionggim-kiarn had iah, atau tanda mata dari Ek-ong Tjio Tat Kay, yang tak kalah tajamnya dengan golok Tang Siauw Tong. Pedang ini ia kebetulan tidak bawa, sebab biasanya, ia simpan gegaman itu. Kalau ia lihat Lionggimkiam, ia jadi bcrduka, karcna ia lantas teringat kepada Ek-ong. Lainnya sebab lagi adalah ia paling tidak gemar merebut kemenangan dengan gunai senjata, kecuali dalam keadaan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sangat terpaksa. Bcgitu, ia terus hadapi musuh ini dengan tangan kosong, ia cuma waspada, ia mundur. Kau masih tidak mau kcluarkan senjatamu? Tang Siauw Tong membentak. Kau hendak tunggu apa lagi? Apa kau mau terima binasa di ujunggolokku?** Ditantang secara dcmikian takabur, bukannya dia naik darah, Soekong Tjiauw scbaiiknya tertawa besar dan lama, kemudian dengan tiba-tiba ia melejit ke samping jauhnya beberapa tumbak di mana ia hampirkan sebuah pohon yang besarnya sepelukan, ia jambret scbatang cabang, untuk potes yang panjangnya satu tumbak lebih, yang besarnya sebesar lengan seorang tua, kemudian dengan putar itu, ia hadapi orang jumawa itu. Cabang pohon itu ia hendak gunai sebagai toya Houwbwee-koen Ekor Harimau -Iguna layani golok Gan leng- too. Tang Siauw Tong tertawa di dalam hatinya apabila ia tampak orang hendak lawan iadengan gunai hanya sebatang pohon. Tcrang dia mau can mampifs sendiri! pikir ia. Walaupun kau gunai toyabesi, aku tak takut, apalagi segala kayu! Dan ia segera loncat maju, untuk mulai dengan serangannya. Soekong Tjiauw putar toyanya, hingga mcncrbitkan suara angin menderu-deru, dengan itu ia hendak] sampok golok orang. Siauw Tong tidak kasih goloknya dihajar, ia mempunyai kegesitan luar biasa dalam hal bcrsilat dengan scnjata ini. Ia kasih lewat toya, lantas ia barcngi, akan mcmbabat, untuk membikin kutung. Tubuhnya bcrada di sampi ng. Scnjata toya ada panjang, tetapi menghadapi gcgaman pendek, digunainya rada sulit, karena kurang kegesitan. Soekong Tjiauw pandai Umu entengi tubuh, tidak urung, ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

merasakan juga sedikit kesukaran. Adalah karena ia sudah bcrpcngalaman, ia masih bisa luputkan diri dari papasan golok lawan. Pertarungan bcrlangsung dengan Soekong Tjiauw berada di pihak terdesak, goloknya Tang Siauw Tong ada sangat gesit, sambarannya tidak putus-putusnya, maka juga, scsudah lewat beberapa jurus, tiba-tiba kedua senjata beradu dengan keras, lantas toya putus dengan getas, hingga tinggal scparuhnya masih dicckal. Siauw Tong tidak mau kalah, ia loncat terus, akan babat sekalian lengannya orang itu! Soekong Tjiauw menangkis dengan toya buntungnya, maka lagi sekali, kcdua senjata beradu keras, golok ada sangat tajam, toya kena dipapas! atas itu, dia berlompat mundur tiga tumbak. Apabila ia lihat toyanya, ujungnya itu pun telah jadi runcing. Poei Hok Han mcnonton dengan asyik sekali, hatinya tegang, ia tahu sahabatnya liehay tetapi ia tcrpcranjat mendapati sahabat itu kena didcsak dcmikian macam, hingga ia pikir, sudah datang saatnya untuk ia memberi bantuan. Tapi, bclum sampai ia sempat kcluar dari tempat sembunyinya, ia tampak sahabatnya sekarang berubah sikap. Scbal i knya dari pada jcrih, Soekong Tjiauw tertawa tcrbahak-bahak. Pcngkhianat, jangan kau merasa puas! dia menegur. Lihat tombakku! Dengan sebenarnya, karena ujungnya runcing, toya kayu itu merupakan jadi tombak, karena mana, Soekong Tjiauw mcndahului maju. Dia sekarang bersilat dengan ilmu tombak Kimtjhio Djiesiesie. Tang Siauw Tong tertawa dingin. Dengan toyamu tinggal sepotong, kau masih berani layani aku? tanya ia dengan sikap menantang, mcnghina. Lebih

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

baik kau turut saja aku pulang ke Kota Raja, dengan pandang kau sebagai sahabat kekal, tidak nanti aku bikin susah padamu. Soekong Tjiauw tidak gubris bujukan yang diberikuti ancaman itu, ia malah lantas mcnusuk perut orang bahagian Khieboen-hiat. Tang Siauw Tong membabat, dengan maksud menabas pula toya runcing itu, tetapi sebat sekali, Soekong Tjiauw bcrkelit ke kiri seraya barengi menikam lengan kanan orang. Mcnampak dcmikian, dengan tidak kurang scbatnya, Siauw Tong menangkis, malah dengan tepat, hingga lagi-lagi ia kena papas sedikit ujung toya orang itu. Soekong Tjiauw tetapi tidak menjadi jcrih meski juga bcrulang-ulang toyanya kena dibikin tambah pendek, scbal iknya, ia berkelahi terus dengan semakin gesit, di sebelah ancaman serangannya, sekarang lajaga agar senjata tidak lagi menjadi korban golok musuh. Dcmikian mcrcka bertarung terus, sampai Tang Siauw Tonglcewalahan juga, tetapi dia tidak mau mengerti, dia toh tidak takuti toya, goloknya ada tcrlalu tajam untuk itu, dia menyerang dengan scngit, hingga lagi-lagi, dia dapat babat ujung toya orang hingga cabang pohon itu jadi makin pendek, karena papasan berulang-ulang. Hok Han mengawasi dengan tercengang, hatinya tegang bukan main. Terangiah kawannya sudah terdesak sekali Kena! mcndadakan terdengar seruannya Tang Siauw Tong, menyusul mana, kembati toyanya Soekong Tjiauw kenadibabat, hingga sekarang senjata sembatan itu jadi pendek sekali. Poei Hok Han keluarkan keringat dingin. Kcmbali ia berniat iompat keluar, akan bantui kawart itu. Tapi lagi sekali ia urungkan niatnya! Di antara suara tertawa yang keras dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

panjang, ia tampak Soekong Tjiauw Iompat tinggi, di sebelah atasan kepala lawan, akan turun di belakangnya musuh ini, toyanya tak ada sepanjang ruyung, dan ketika Tang Siauw Tong putar tubuh, akan hadapi dia, dia kata: Terima kasih kepadamu yang telah persembahkan sepotong senjata ini kepadaku! Soekong Tjiauw telah gunai toya yang tcrlalu besar dan panjang, walaupun ia ada sangat gesit, senjata istimewa itu tak tepat untuknya, maka itu, selagi ia terdesak, dengan separuh disengaja, ia biarkan senjatanya saban-saban kena ditabas kutung dan dipapas sempiak, sampai akhirnya toya itu jadi sangat pendek, seperti ruyung saja, hingga cukup untuk ia pegang dengan sebeiah tangan. Sekarang sampailah saatnya untuk ia bikin perlawanan Icbih jauh. karena toya panjang itu sudah merupakan sebagai Poankoan-pit. Dia ada ahli menotok jalan darah, inilah senjata yang surup untuknya. Tang Siauw Tong tahu orang ada ahli totok tetapi ia tidak mau lantas percaya sang lawan bisa gunai punning toys itu, maka juga dengan tertawa dingin, ia kata: Sockong Tjiauw, akal apa kau scdang gunai? Apakah dengan punning itu kau hendak gertak aku? Soekong Tjiauw, apabila kau ingin lindungi jiwamu, lekaslah kau menyerah! Diancam secara demekian, Soekong Tjiauw ulapkan senjatanya dan tertawa besar. Kematian sedang menghampirkan kau, kau masih omong besar? ia balasi. Mari maju, untuk kita orang mencoba-coba pulaJ Dan dengan senjatanya itu, ia menggertak, ia pun melirik. Naik darahnya Tang Siauw Tong, yang menganggap dirinya dipcrmainkan, sedang waktu itu ia percaya betul ia sudali bcrada di at as angin. Baik aku habiskan sajajiwanya! demikian ia pikir saking murkahnya. Tidak apa apabila aku bunuh dia schingga aku

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tak akan dapat upah lebih besar daripada dia ditangkap hiduphidup! Tak dapat aku antapkan diriku dipcrhinakan dia! Segera ia maju, untuk menerjang. Sckarang ia sudah ambiI keputusan akan bikin mampus saja ini sahabat dari dua puluh tahun yang lampau. Selama bertempur, walaupun dia ada di pihak tcrdcsak, kelihatan Soekong Tjiauw tenang saja, tidak demikian dengan si penonton Poei Hok Han, yang hatinya berdebar-de-bar, saking khawatimya. Kcdua kawannya Tang Siauw Tong tetap menaruh perhatian besar, mcrcka pun heran menampak sikap luar biasa dari orang yang mcrcka kepung-kepung, tanpa mcrasa, mcrcka siap benar dengan masing-masing senjata mereka. Mereka mencurigainya! Hok Han mengerti bahwa sahabatnya sudah nekat, sahabat itu sudah bersedia untuk jual jiwanya, karena itu, separuh berbisik, ia pesan Siangkoan Kin: Mungkin sebentar aku muncul untuk adujiwaku dengan jahanam itu, kesudahannya bisa aku beruntung, bisa jadi juga tulang-tulang dan dagingku bakal dikubur di udara terbuka di gunung sunyi ini, akan tetapi tak perduli bagaimana kesudahannya, aku larang kau sembarang bergerak! Umpama kata orang kemplang aku hingga mati, kau tetap tidak boleh to long i aku! Kcpandaianmu masih sangat jauh dari kesempurnaan, dengan munculkan diri, itu berarti kau antari jiwa.. Begitu lekas kau angkat kaki dari gunung ini, barangkali selama nyawaku belum putus, aku bisa gerecoki mereka hingga kau dapat ketika untuk meluputkan diri. Siangkoan Kin, dengarkah kau kata-kataku ini? Tak dapat Siangkoan Kin setujui putusan gurunya itu, mulutnya akan utarakan tak mufakatnya itu, akan tetapi iatak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bisa buka mulutnya, sang guru sudah awasi ia dengan tajam sekali, hingga ia ragu-ragu. Juga Poei Hok Han tidak dapat mcngawasi terus muridnya itu, untuk peroleh jawaban, karena hatinya ada pada pertempuran. Demikian ia sudah lantas berpaling pula, kepadadua or-ang yang lagi adu jiwa. Ia ingin ketahui, sampai di mana adanya bahaya yang mengancam sahabatnya. Akan tetapi, setelah ia melihat, ia menjadi heran, hingga ia berdin tercengang, mulutnya ternganga, matanya terbuka lebar! Medan perang telah berubah seperti dalam sekejab, segera kelihatan perbedaannya antara tuan rumah dan tetamunya. Dengan Poankoan-pit puntung toyanya, Soekong Tjiauw telah jadi lain daripada Soekong Tjiauw yang bcrsenjatakan toy a yang panjang, besar dan berat. Dari didesak, ia sckarang yang menggantikan merangsang lawan. Dengan puntung toya itu, ia jadi sebat dan tangkas bukan main. Tang Siauw Tong terkejut apabila ia saksikan perubahannya silat dari lawan ini. Inilah ia tidak pemah sangka dari satu sahabatnya dari puluhan tahun yang telah siiam. Segera ia merasa bahwa ia lagi terancam bahaya, tidak perduli ia sanggup geraki goloknya dengan sempuma. ia pun bersangsi meskipun ia ingat kepada kedua sahabatnya, bantuan siapa ia boleh harap. Kulit mukanya ada terlalu tipis untuk segera minta bantuan sahabat-sahabat itu. ia pun masih sangat kemaruk sama jasa, ia masih sayang akan membagi jasa kepada kedua kawannya itu. Maka, dalam saat-saat sehabat itu, ia terus berkelahi scorang diri. Demikian lah ia berseru beberapa kali, ia geraki goloknya sccara sangat sebat dan berbahaya. Soekong Tjiauw tidak perdulikan liehaynya musuh, ia berkelahi dengan menunj ukkan kegesi tanny a, ia kurung ini dengan loncatannya ke empat penjuru, kiri dan kanan, depan dan belakang, tangannya pun menyambar-nyambar

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bagaikan halilintar bcrkclcbatan, saban-saban ujung Poankoan-pit mencari jalan darah. Ia pun, saban-saban perdengarkan tertawanya, mengejek. Sckian lama lagi,Tang Siauw Tong layani musuh yang liehay ini, lantas ia punya keringat membasahkan jidatnya, matanya berkunang-kunang, kepalanya mulai pusing. la insyaf benar-benar akan bahaya yang mengancam padanya. Sckonyong-konyong ia mainkan tipu pukulan Pcngscc lokgan atau Ganlok pengscc, goloknya ditunuikan, lalu ia membabat pundak terus ke lengan. ke nadi! Soekong Tjiauw perdengarkan seruan panjang apabiia ia lihati serangan hebat itu, lekas-lekas ia turunkan pundak kanannya sambil Ikaki kirinya menggeser, untuk mundur sedikit, kcmudian setelah bacokan musuh lewat, ia maju pula, dengan serangannya dengan tipu silat Siankouw songtjoe atau Dewi mengantar anak. Pit istimcwanya mencari jalan darah Hoetjoei-hiat. Tang Siauw Tong segera bcrkclit, menyusul mana, goloknya dari bawah mcnyambar ke atas, akan scrang tangan musuh. Atas ini Soekong Tjiauw berkelit, tetapi kemudian, scpcrti tadi, ia tcrusi mcrangsang pula, tangan kanannya mencari jalan darah Hoakay-hiat. Sekarang tangan kirinya turut mengancam dengan cengkraman, untuk cekuk tangan lawan. Sambil perdengarkan jcritan Aya! orang she Tang itu lompat mundur. Ia bcrlaku sangat cepat, tetapi lebih cepat lagi gerakannya lawan, selagi ia loncat, lawan itu loncat juga, akan susul ia. Ia bclum tctap dengan kakinya, tangannya masih bclum siap, ujung Poankoan-pit sudah menyambar. Di saat dari kematian itu, mcndadakan satu tubuh lompat maju, menghadang di antara dua musuh ini, hingga mau atau tidak, Soekong Tjiauw mesti batalkan serangannya dan lompat ke samping, untuk hindarkan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dirt. Kelika ia sudah mengawasi, ia kcnali See Beng Wan, sahabatnya musuh itu. Ia jadi sangat mendongkol. | He, orang busuk dari Rimbai Pcrsilatan! ia membentak sambil ia tuding orang she See itu. Sungguh kau membikin malu pada kaum Kangouw! Apakah scbenarnya siasat kau orang? Kau orang hendakj berkelahi dengan bergiliran sebagai roda atau hendak main keroyok? Tapi See Beng Wan tidak menjadi malu karena teguran itu, sebaliknya, ia tertawa haha-hihi. SoekongTjiauw, kata ia dengan menebal, jikalau ini hari kau masih* bisa mengharap loloskan diri, itulah sulit itulah lebih sukar dari pada naik ke langit! Kau adalah pemberontakdi matanya Pemerintah Agung, maka siapakah yang kesudian bicara tcntang. kehormatan kaum Kangouw dengan kau? Setelah iamengucapkan demikian, See Beng Wan lantas menyerang, akan bcrsama-sama Tang Siauw Tong kepung musuh ini. Tang Siauw Tong sendiri tidak, pcrdulikan lagi kehormatan kaum Kangouw itu. Soekong Tjiauw sangat mendelu melihat orang ada demikian tak tahu malu, maka itu, sambil tertawa dingin, ia layani mereka bcrdua. Sama sekali ia tidak merasa jerih. Pertempuran kali ini pun ada membawa perubahan. Gembolannya See Beng Wan Samleng Touwkoet-twie adalah sebuah senjata yang langka, jarang sekali orang Kangouw yang bisa gunai itu, sedang gelarannya Tjianlie Twiehong atau si Pengejar Angin, atau lebih benar, mengejar angin scribu lie jauhnya, sudah mengunjuki keentcngan tubuhnya dan kegesitan, yang ada mclcbihkan Tang Siauw Tong. Kewalahanjuga Soekong Tjiauw melayani dua musuh yang tangguh itu. Sulitnya, puntung ruyung tak dapat diadu dengan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

golok atau dengan gembolan kedua musuh itu, ia melainkan bisa andali kegesitannya. Maka di akhirnya, ia menjadi nekat. Ia mesti berlaku cepat untuk mengakbiri pertempuran itu. Demikianlah, selagi ia berkelit dari serangannya See Beng Wan, setelah menyampingkan diri, ia terusi totok muka Tang Siauw Tong. Orang she Tang itu bcrkclit ke samping. Selagi musuh berkelit, Soekong Tjiauw tidak mendesak, hanya di lain pihak, ia loncat ke kiri, di mana ada Sec Beng Wan, yang habis terjang ia, lain ia totok jalan darahnya Thiantie-hiat musuh. See Beng Wan tidak berkelit atas datangnya serangan itu, sebaliknya, ia angkat tangan kanannya, untuk balas menyerang, dengan membarengi. Soekong Tjiauw tidak mau adu senjata, ia mundur sambil putar tubuh, scsudah mana ia loncat, hingga ia berada di beiakang dua musuh itu. Pemberontakjangan lari! Masih ada aku di sini! demikian satu teriakan tiba-tiba selagi baharu saja Soekong Tjiauw lolosdari kepungan. Seruan itu disusui sama berkeredepnya beberapa cahaya berkilau, yang datang menyambar. Tapi juga masih ada aku di sini! sekonyong-konyong datang lain seruan sebelum teriakan itu habis diucapkan. Soekong Tjiauw lihat serangan senjata gelap, ia segera berlompat berkelit, tetapi ternyata, semua senjata itu tak menjurus tepat, hingga ia jadi heran, apapula setelah ia tampak. dua tubuh muncul saiing susul. Itulah PekTjeng It dan Poei Hok Han. Pek Tjeng It telah pasang mata, ia siap dengan Djoanpiannya, ruyung lemas, yang ia bisa gunai sebagai toya. Ketika ia lihat Soekong Tjiauw mau loloskan diri, ia tidak mau mcmbiarkannya, maka itu, lantas ia gunai senjata rahasianya,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang ia biasa tak sembarang gunai yaitu jarum bcracun Wietok Tjitsat-teng. banyaknya tiga batang. Ia menimpuk bcruntun terus. Ia ada liehay dalam ilmu ini, tapi kesudahannya bikin ia heran dan penasaran. Sebab cengcorang menangkap tonggcret, tak tahunya di belakangnya, ada| burung gereja. Poei Hok Han juga siap sembarang waktu, kctika ia lihat muncul pula satu musuh, yang bokong Soekong Tjiauw, dengan terpaksa, ia pun keluar dari tcmpat sembunyinya, untuk gagalkan bokongan, ia scrang orang itu dengan tiga batang panah tangan. Pek Tjeng It dapat tahu ada serangan gclap untuk ia, ia bcrkclit, tetapi justru itu, ia pun lagi bokong Soekong Tjiauw, dari itu sendirinya, scrangannya jadi tidak tepat kepada sasarannya. Maka itu, Soekong Tjiauw jadi teriuput dari bahaya. Ia pun memangnya dapat kctika untuk berkelitjuga. Pek Tjeng It gusar sekali terhadap orang yang bokong ia, yang bikin ia gaga]. Binatang dari mana berani mengacau kita? ia membentak sambil ia terns menyerang dengan Djoan-piannya. Poei H ok Han tidak berdiam saja, ia tangkis serangan itu, ia bikin perlawanan. Soekong Tjiauw jugasudah asyik bertcmpur pula, karcna Tang Siauw Tong dan Sec Beng Wan sudah Iantas knnmg pula padanya, untuk dikepung lebih jauh. Ia tetap tidak takut, meski juga kedua musuhnya menyerang dengan seru, tapi sekarang pcrhatiannya tertarik oleh pertempuran di sebelahnya, karcna ia segera kenali, siapa itu yang lagi layani musuhnya yang ketiga. Bertempur belum lama, Poei Hok Han sudah lantas ketcter, tidak perduli ia telah mainkan sungguh-sungguh ilmu silatnya golok LiokhapJ, too. Musuh ini, sclainnya liehay, pun ada sedang gusar karena) pembokongannya terhadap Soekong

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tjiauw dirintangi hingga jadi gaga!. Bcbcrapa kali goloknya kena dililit hingga sampai hampir terlepas dari cckalan. Lagi bcbcrapa jurus, lantas iacuma sanggup menangkis, tidak lagi, bisa menyerang. Iasebenarnyagagah, kalau tidak, tidak nanti dia jadi pahlawannya Ek-ong Tjio Tat KayJ akan tetapi kawannya Tang Siauw Tong itu ada salah satu pahlawan pilihannya pemerintah Boan. Pek Tjeng It lihat bagaimana ia adaj di pihak unggul, ia segera perkeras desakan nya untuk rebut kemenangan. Hok Han tahu ia lagi menghadapi bencana, scdapat mungkin ia bcrikan perlawanan sungguh-sungguh, demikian satu kali, ia paksakan membacok Pek Tjeng It dengan tipu bacokan Pekgan sieleng atauj Burung belibis putih sisirkan bulu. Pek Tjeng It berkelit seraya putar tubuhnya, dengan begitu Djoan-piannya bisa diteruskan dipakai menyerang, karcna ia berkelit sambil mengendap, sekarang serangan] membalasnya ke bawah, bagaikan gcrakan uNaga malas bergulingan di tanah. Ruyungnya menyerempet di tanah sampai menerbitkan suara. inn ada suatu serangan dari ilmu toya Sat hwee hwee-koen yang dinamakan Ouwliong kauwtjoe atau Naga hitam melilit tiang. Untuk tolong diri, Hok Han mcloncat, akan tetapi oleh karena ituj Djoan-pian, yang diputar terus, kembali menyambar padanya. Dan justru ia berada di saat berbahaya itu, mati atau hidup, tiba-tiba ada sambaran senjata gelap yang mengenai Djoan-piannya, sehingga Pek Tjeng It jadi kaget dan lantas; menunda penyerangannya lebih jauh. Siapa berani membokong aku? membentaknya. Teguran itu disusul sama munculnya satu anak muda dari gombolan di samping mcreka ini, pemuda itu berlari-lari menghampiri mcreka dengan pedang di tangan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hok Han tercengang dan mukanya pucat apabila ia tampak pemuda itu, karena dia adalah Siangkoan Kin, mu rid nya yang tcrsayang itu. Ia tidak sangka murid ini abaikan pesannya dan justru muncul sekali. ltulah bcrbahaya untuk si murid, setagi ia sendiri, si guru, tidak bcrdaya. Tent u saja Siangkoan Kin tidak bisa berdiam saja, atau lari kabur, selagi ia lihat gurunya terancam bahaya maut, melupakan segala apa, ia menyerang dengan beberapa panah tangan, sehingga merepotkan Pek Tjeng It, untuk menghalau itu. Sesudah membokong, ia segera keluar dari tempatnya sembunyi, maka di lain pihak, ia sudah hadapi musuh liehay itu. Siangkoan Kin, mundur! Hok Han teriaki muridnya, seraya ia sendiri loncat maju untuk mcnghalangi. Ini bukan urusan kau, jangan kau campur tahu! Kemudian ia tambahkan pada Pek Tjeng it: Sahabat, kau layani aku saja! Mari kita bertempur sampai salah satu mati! Pek Tjeng It tertawa menghina bcrulang-uiang. Ini eng-hiong muda berani membokong dengan senjata rahasia, aku ingin coba-coba dengannya! jawabnya sangat jumawa. Kemudian sambil tertawa dingin ia kata pada si anak muda sendiri: Aku izinkan kau membokong! Aku sendiri tidak sudi menipumu! Kau ada punya senjata apa lagi? Hayo segera keluarkan itu! Dia menantang karena dia bisa duga, anak muda ini tentu masih hijau. I a buka mulut dengan tidak dipikir lagi, ia lupa, ia sendiri baharu saja membokong Soekong Tjiauw. Poei Hok Han ada sangat berkuatir, hingga melupai segala apa, ia loncat akan terjang lawan yang liehay ini, pertama ia menyerang dengan Tay-san apteng atau Gunung Tay-san mcnindih kcpala, kemudian ia membabat dengan Taypeng

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tiantjie atau Burung garuda pentang sayjtp. Ia bcrlaku matimatian! Pek Tjeng It melihat kenekatan orang, ia tertawa mengejek. Menggeraki Djoan~pian ke atas, ia tangkis serangan dari atas itu, kcmudian setelah ia ditabas, ia pun terusi menangkis ke samping. sesudah mana ia ambil ketika akan balas mcnycrang. Sesaat saja, ia telah bikin repot si empeh tukang besi. Siangkoan Kin ada scumpama anak kerbau yang tak takuti harimau, begitulah melifaat gurunya terancam bahaya. ia lompat mcnycrang, akan tikam iga kanan orang itu. Akan tetapi pcdangnya bcntrok dengan Djoan-pian, yang dipakai menangkis padanya, tahu-tahu tangannya sakit, sesemutan, pedangnya teriempar, mcnyusul mana, ia pun 1 imbung dan rubuh dengan tak dapat ditahan lagi. Itu adalah akibat gcrakan scbat, kcras dan libatan senjata Pek Tjeng It. Poei Hok Han kaget bukan kepalang, ia kuatir muridnya disusuli serangan lain, ia loncat, ia serang musuh itu dengan tipu-bacokan Benghouw pabwee atau Harimau galak menggoyang ekor. Ia arah mukanya musuh. Pek Tjeng It lihat serangan orang tua mi, sambil putar sedikit tubuhnya. ia menangkis, Djoan-piannya dibikin meiibat, sesudah mana, ia membctot dengan kaget dan keras. Goiok Liokhap-too terbentur dengan menerbitkan suara nyaring, lantas teriempar dari cekalan, teriempar jauh! Syukur untuk Poei Hok Han, waiaupun goloknya terlepas dan ia terkejut, kuda-kudanya teguh, ia tidak kena turut terbetot, dari hu, dengan tidak perdulikan goloknya lagi, ia loncat kepada muridnya, tubuh siapa ia angkat, terus ia ajak muridnya itu lari! Menyerah kau! Pek Tjeng It bcrscru sambil ia lompat, untuk mengejar. Tapi ia menguber baharu beberapa tindak, sekonyong-konyong ia dengar suara mengaung di atas

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pepohonan, suaranya tedas dan panjang. Mendengar ini, ia segera tahan t indakannya, ia terkejut Karena segeralah ia ingat, ia kenal i suara apa itu. Ia tidak usah tercengang lama atau di scbclah depan ia, dari gegombolan, ia lihat munculnya satu niekouw tua di tangan siapa ada tercekal sebatang kebutan Tiat-hoedtim. Ia kaget, sampai hatinya berdebaran. Itulah pendeta wanita nama siapa ia telah dengar lama, yang orang Kangouw sangat takuti ialah Sim Djie Sinnie. Mclainkan romannya niekouw ini, yang sabar, beda daripada apa yang orang buat ceritaan. Niekouw tua itu menghampirinya sambil berkata. Kamu sekalian bertarung di atas Gunung Seegak ini, apakah kamu tidak kuatir itu nanti merusak keindahan gunung ini? Baiklah kamu kedua pihak segera berhentikan pertempuranmu ini. Pinnie ada seorang beribadat, dari itu pinnie tidak mau memusingi di antara kamu siapa yang benar, siapa yang salah. Pada saat itu juga, Soekong Tjiauw sudah sangat terancam oleh kedua musuhnya, akan tetapi kapan kupingnya dengar suara mengaung itu, hatinya jadi girang dengan tiba-tiba. Dia kenal baik suara itu. Dia ada muridnya Hoei Beng Sintjeng, pendeta suci di perbatasan, dan Sim Djie itu adalah soetjienya. Bedanya adalah sang niekouw menjadi murid sepuluh tahun lebih dahulu daripadanya, dan kepandaiannya jauh melebihkan diajuga Sang guru kesohor gagah dan mu I ia, maka dari itu, orang sebut dia sintjeng, seperti Sim Djie dipanggil sinnie. Dengan kebutannya, Sim Djie pandai menotok jalan darah, sedang piauw Bouwnie-tjoenya, ada liehay sekali, suaranya mengaung. Hatinya Soekong Tjiauw menjadi besar, dengan tiba-tiba saja ia desak Tang Siauw Tong, yang ada lebih lemah daripada See Beng Wan, kapan musuh ini berkelit mundur, segera ia gunai ketika akan loncat keluar dari kepungan, untuk lari ke arah si pendeta wanita.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Itu waktu, Sim Djie sudah bicara terlebih jauh dengan Pek Tjeng It, yang masih tercengang, ia mendesak agar dia ini meletaki senjatanya dang angkat kaki dari gunung itu. Desakan ini membuat Pek Tjeng It jadi nekat, dari jerih, ia jadi berani. Ia merasa dirinya gagah, dengan niekouw itu ta belum pernah bertempur, ia cuma pernah dengar nama besarnya, sekarang ia mempunyai kawan-kawan kosen, ia anggap, apa perlunya ia takut. Adalah ketika ia hendak bikin pcrlawanan, ia tampak Soekong Tjiauw lari ke arah ia dengan dua kawannya Tang Siauw Tong dan See Beng Wan sedang mengejar. Soekong Tjiauw telah lantas datang dekat, ia lari dengan awasi soetjienya, dari itu ia dapat lihat or-ang gcraki kebutannya, yang mana ada satu tanda rahasia untuk ia tidak segera kenalkan soctjie itu, maka ia lantas bcrpura-pura tidak kenal entjiej seperguruan itu. Scbaliknya dari hampirkan terus sang soetjie, dia terusi lari kepada Poei Hok Han, puntung toyanya ia lemparkan di tengah jalan. Pada waktu itu, Hok Han sudah tidak berlari-lan lagi, hanya bersama muridnya, ia berdiri diam dengan napas scngalscngal. Ia ada sahabat karib dari Soekong Tjiauw tetapi ia tidak tahu, sahabat ini ada soetee dari Sim Djie Sinnie. Pek Tjeng It sudah lantas bcrkumpul dengan bersama dua kawannya. Pasti sekali mereka ada sangat mendongkol. Sudah tiga kali mereka satroni Gunung Hoa-san, sekarang maksud mereka bakal tercapai tetapi mendadakan ada or-ang yang rintangi mereka See Beng Wan, dengan gcmbolannya di depan dada, tertawa dingin. Niekouw tua, kau takabur sekali! kata ia, yang awasi pendeta wanita itu. Kau ada punya hak apa untuk campur tabu urusan kita yang lagi melakukan firman untuk membekuk pemberontak? Kemudian ia menoleh pada dua kawannya,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

untuk tambahkan: Kitajangan perdu! ikan dia! Lckas bekuk si pemberontak! Sim Djie tidak tunggu sampai or-ang mulai bergerak, ia awasi mereka bcrtiga, ia angkat kebutannya Siapa juga kau orang hcndak tawan, kau orang ada mcrdcka untuk lakukan ini! kata ia sambil tertawa dingm juga. Akan tctapi untuk itu, lcbih dahulu kau orang mcsti lewati kebutanku mi! Ia maju. akan menghalangdi antara mereka dan Soekong Tjiauw dan kawan-kawannya. V Tang Siauw Tong bertiga jadi gusar sekali. Jadinya kau hendak campur tahu urusan kita ini? tegaskan See Beng Wan seraya ia ulapkan gembolannya. Kau boleh gertak lain orang, lain or-ang boleh jerih terhadapmu, kita tidak. Aku justru ingin coba-coba kau! Tjianlie Twiehong segera pasang kuda-kudanya, untuk menantikan serangan. Kau orang ada orang-orang gagah, pinnie girangdapat menemui kau or-ang! kata Sim Djie sambil tertawa tawar. Pinnie sudah bilang, tak dapat kau orang berkelahi di sini, siapa tidak puas. dia boleh maju. sekarang kau orang ingin bclajar kenal, baik. pinnie bcrscdia untuk menemaninya. Kau orang bcrtiga, tak sempat pinnie akan layani kau orang satu demi satu, dari itu, silakan kau orang maju berbareng saja, agar pinnie tidak berabe lagi! See Beng Wan melirik, karena kcjumavvaan orang itu. Oh, niekouw yang baik! kata ia, yang mendongkol bukan main. Scndirian saja kau hendak layani kita bcrtiga? Kau terlaiu menghina kita! Asal kau sanggup rubuhkan aku

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

seorang, maka dua kawan, atau kita tiga saudara, pasti suka turut segala titahmu! Dua orang bertempur berhadapan ada sangat tidak menarik hati, pendcta wanita itu bilang. Jikalau satu saja kurang dari kau orang bcrtiga, pinnie tidak bersedia untuk melayaninya! Akur? Hayo majuij Jikalau tidak, pergilah kau orang kabur turun gunung! Pinnie sudah berusia lanjut, akan tctapi untuk layani baharu kau orang bcrtiga, masih belum ada artinya! Bagaimana? Jika tetap kau orang masih tidak hendak maju, jangan nanti scsalkan pinnie tidak sungkan-sungkan! See Beng Wan bcrtiga jadi meluap hawa amarahnya. Baik! Karena kau yang menghendaki, kita nanti mengiringinya! Silakan! Sim Djie tidak tunggu sampai orang tutup mulut atau kebutan sudah bergerak terhadap si orang she See, untuk mana, tubuhnya mencelat maju. See Beng Wan tahu musuh ada liehay, ia menggeser tubuh dengan gerakan Poanliong djiauwpou atau Naga melingkar memutar kaki, ia pindahkan kaki kiri ke kiri, lalu selagi tangan kanan menangkis, tangan kirinya menyerang. Sepasang gembolannya dikasih bekerja dengan berbareng. Ia menangkis berbareng menyerang. Sim Djie berlaku sangat gesit, begitu lekas serangannya tidak memberikan hasil, tidak tunggu sampai lengannya kena dihajar, ia tarik pulang itu, kakinya bergerak, hingga ia bisa dekati Pek Tjeng It, siapa terus ia serang. Ia mencari jalan darah Kwan-goan-hiat, sambil menyerang, ia tertawa dingin. Pek Tjeng It berkelit ke kanan, dari situ ia balas menyerang dengan Djoan-piannya. Ia arah kedua kakinya si pendeta wanita dengan serangan Gioktay bekyauw atau Angkin kumal a mcl ibat pinggang.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sim Djie tank pulang kebutannya sambil ia berlompat tinggi, selagi Pek Tjeng It hendak bangun berdiri, untuk susuli serangannya, ia sudah turun ke depannya Tang Siauw Tong dalam gerakan Tjieyang liangpo atau Burung walet menyambar gelombang. Benar sebagai burung saja, dia serang lawannya ini. Di mana orang turun dari atas, Tang Siauw Tong menangkis dengan geraki goloknya Ganleng-too ke atas; tapi kebutannya Sim Djie terus saja melilit, tidak pcrdul i golok itu tajam bagaikan mcstika. Ia mengendap, ia mencoba menarik pulang goloknya itu. Nyata ia kalah gesit, si pendeta wanita sudah dului ia membctot, hingga iarasai sakit pada telapakan tangannya. Syukur untuk ia, Pek Tjeng It yang berdiri di dekatnya, sudah serang Sim Djie, hingga niekouw ini mcsti lolosi libatan kebutannya dan berkelit. Ia luput dari bahaya tctapi tubuhnya limbung, ia mundur beberapa tindak, baharu ia bisa berdiri tegak. Sim Djie tidak berhenti sampai di situ, lagi ia maju, akan serang tiga lawan itu, dengan bergantian, untuk tidak beri kesempatan untuk mereka kurung padanya. Selagi angin meniup-niup, kebutannya juga perdengarkan suara, karena kebutan ini digeraki sebagai pedang Ngoheng-kiam dan dimainkan dalam ilmu pedang Tat Mo-kiam yang terdiri dari seratus delapan jurus, yang kadang-kadang dicampur dengan totokan-totokan kepada jalan darah. Ia ada tenang sekali, tapi gerakan tubuhnya sangat gesit, gerak-gerakan tangannya sangat sebat. Coba ketiga musuh bukannya orang-orang liehay, pasti siang-siang mereka sudah tak berdaya. Poei Hok Han bersama-sama Siangkoan Kin menyaksikan dengan tercengang pertandingan itu. Tadi mereka sudah dibikin kagum dengan perlawanannya Soekong Tjiauw terhadap tiga musuh itu, sekarang mereka saksikan kepandaian yang jauh terlebih liehay. Pengalaman mereka ini

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mirip dengan orang yang untuk pertama kali mendaki Gunung Seegak Hoa-san. Melihat Puncak Tjiauwyang-hong, orang anggap itu adalah puncak tertinggi dari Hoa-san, karena ujung puncak sudah menempel sama awan. Kapan orang sudah panjat puncak ini, orang lantas lihat Puncak Gioklie-hong lebih tinggi di depannya. Di depan Gi ok he-hong ini ada lagi Puncak Lianhoa-hong yang terlebih tinggi pula. Demikian juga ilmu silat, tidak ada ujung pangkalnya, siapa yang lebih yak in dan ulet, dia yang terlebih liehay. Tiga-tiga senjatanya rombongan dari Tang Siauw Tong pun ada menerbitkan sambaran angin yang keras. Ganleng-too berkeredepan bagaikan ular perak, Djoan-pian bergerak-gerak seperti naga mumbul di udara, dan gembolannya See Beng Wan berkilauan antara sinar matahari. Hebat adalah kapan datang saatnya Sim Djie kena dikurung, hingga ia seperti tak tertapak tubuhnya. Bagaimana Saudara Soekong? akhirnya Poei Hok Han tanya sahabat karibnya itu. MApa perlu kita maju untuk membantui? Aku kuatir niekouw tua itu tidak sanggup lawan lebih lama tiga orang jahat itu Soekong Tjiauw bersenyum sikapnya. seperti biasa, sangat tenang. Jangan sibuk, jangan khawatir kata ia. Apakah kau tidak Hhat, dia sekarang sudah jadi terlebih unggul? Hok Han mengawasi, tetapi, di ma tanya. pertempuran masih sama seperti tadi, Sim Djie masih terkurung, tubuh mereka berempat bergerak-gerak bagaikan bayangan saja. Apakah benar dia terlebih unggul? akhirnya ia tegaskan. Kenapa tidak? Soekong Tjiauw baliiki. Segera tiga orang itu tak dapat bertahan lagi. Lihat saja, lagi sebentar kau akan dapat menyaksikannya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sambil mengucapkan demikian, Soekong Tjiauw pandang sahabatnya, kepala siapa masih berkeringatan, sikapnya tegang sekali. Apakah Saudara tidak ketahui siapa pendeta wanita ini? ia tanya. Ia ada Sim Djie Sinnie yang kenamaan dalam dunia Kangouw. Aku tahu dia ada Sim Djie Sinnie akan tetapi tiga lawannya semua liehay Hok Han bilang. Soekong Tjiauw tertawa. Kau belum pernah saksikan Sinnie bertempur, tidak jikalau kau jadi sibuk sendiri, ia kata. Mereka bertiga memang liehay, tapi apabila satu lawan satu, satu per satu dari mereka, aku sanggup pukul rubuh. Mereka bisa kepung aku tadi karena mereka bertiga. Sim Djie Sinnie ada jauh terlebih liehay daripada aku, pasti dia sanggup lawan mereka itu. Soekong Tjiauw baharu tutup mulutnya atau ia berseru: Lihat! Hok Han segera menoleh kepada orang-orang yang lagi bertempur, baharu sekejap, kalau tadi ia Hhat si niekouw terkurung, sekarang tcrtampak nyata tubuhnya dia itu. Beng Wan bertiga, terpecah ke tiga jurusan, telah mulai mundur, tetapi bukannya untuk angkat kaki; sesudah pisahkan diri, tak mengurung rapat lagi, mereka silih berganti bergerak ke kiri dan kanan, depan dan belakang. Dan Sim Djie, sesudah tidak dikurung rapat lagi anehnya! sudah lantas berdiri diam di tcngah-tengah mereka, sikapnya tenang sekali. Hok Han jadi heran, ia menjadi masygul. Inilah tidak ada artinya! kata Soekong Tjiauw, yang lihat sikap bcrkuatir dari orang itu. Mereka itu lihat sulit untuk mereka merangsang tcrus, sengaja mereka ambil sikap renggangkan diri. Lihatlah gerakan mereka dan jarak tcratur. Maksud mereka adalah untuk pancing Sim Djie Sinnie serang salah satu dari mereka, bila itu terjadi, dua yang lain jadi mcrdeka, hingga merdeka j uga mereka menyerang dengan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

membokong atau pun dengan gunai senjata rahasia. Cara berkelahi ini biasanya membutuhkan latihan, terutama mesti digunai oleh orang-orang yang liehay* jikalau tidak, scrangan pembokongan pasti kurang sebat. Hok Han heran. Jikalau begitu, perlu kita berikan bantuan kita, ia utarakan pula. Dengan adanya bantuan kita, kita orang jadi satu lawan satu, secara demikian, Sim Djie Sinnie jadi merdeka untuk layani satu musuhnya. Lihat! kembali Soekong Tjiauw berseru, memotong sahabatnya. Sim Djie, yang sadari tadi diam saja, mengawasi aksi musuh, yang hendak memancing ia untukia terjang salah satu di antaranya, sekarang kelihatan telah lepaskan sikap diamnya itu, dengan sekonyong-konyong tubuhnya melesat maju, tangannya pun dikasih bergerak, dan belum sampai kakinya menginjak tanah, kebutannya sudah menyambar. Hok Han belum sempat melihat nyata, segera ia dengar suara keras, dari kebutan yang mengenai batu besar di samping mereka yang lagi bcrtanding. Sim Djie loncat jauh beberapa tumbak, ia hajar batu gunung sampai batu itu pecah dan muntahkan lelatu api. Dan belum Hok Han tahu apa-apa, ia dengar Pek Tjeng It berseru, menyusul mana belasan rupa barang berkeredepan melesat menerjang si niekouw tua. Ia lantas tahu, itulahj jarum Tjitsat-teng yang liehay, yang tadi tiga batang di antaranya telah dipakai menyerang Soekong Tjiauw. Ia kaget, segera tangannya meraba panah tangannya, akan tetapi, sebelum ia sempat meraba, kupingnya lantas dengar suara mengaung, menyusul mana. barang berkcredepan itu pada melunik jatuh sendirinya. Tapi ini belum semua, masih ada susulan jeritan-jeritan dari kesakitan, akan akhirnya, kelihatan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

satu tubuh lompat Ian ke samping, lenyap di antara gombolan. Ketika itu sudah mulai maghrib, sinar matahari ada sinar iayung. Begitu lekas pertempuran berhenti. Kecuali siuran angin, Gunung Hoa-san menjadi tenang-sunyi seperti biasa. Adalah Poci Hok Han dan Siangkoan Kin yang tercengang atas kesudahannya pertempuran yang dahsyat itu, yang diakhiri dengan sinar berkeredepan, suara mengaung, jeritan dan sunyi-senyap. Tapi mereka bertindak begitu lekas Soekong Tjiauw mengajaknya. Tang Siauw Tong rebah menggeletak di tanah, tubuhnya tidak bergerak, goloknya terletak di sampingnya. nancap di sebuah batu. Di samping dia, Pek Tjeng It juga rebah sebagai mayat, senjatanya terletak di pinggir tubuhnya. Sim Djie Sinnie sambil bersenyum, bertindak dengan pelahan, akan hampiri tiga orang itu. Dasar sudah tua, aku sudah tak punya guna lagi, kata ia. Kau telah bikin lolos See Beng Wari dan dengan keliru sudah binasakan Tang Siauw Tbng. Barusan pendeta wanita ini sudah gunai ilmu silatnya Thiankie moin atau Mementang sayap meraba mega, suatu ilmu kepandaian dari Khong Khong Djie. Ketika tubuhnya mencelat dan kebutannyaj menyambar, ia telah lihat goloknya Tang Siauw Tong dan tarik itu terlepas, berbareng mana, totokannya mengenai sasarannya. Ia arah jalan darahnya Siauw Tong Oenhian-hiat, untuk tawan hiduphidup gundal Boan ini, tapi kebutannya ditangkis Ganleng-too, sebab Siauw) Tong bukannya orang biasa saja, maka itu, totokan jadi nyasar mengenai Bengboen-hiat, tidak ampun lagi, Tang Siauw Tong binasa seketika. Pek Tjeng It adalah orang yang membokong dengan jarumnya yang berbisa, karena itu, Sim Djie Sinnie gunai

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

piauw Bouwnie-tjoe, coba ia tidak gunai Tjitsat-teng, ia bisa ketolongan jiwanya, biarpun untuk! sesaat lain. Ia membokong, niekouw itu punahkan jarumnya dengan piauw, kemudian, dengan enam buah piauw lain, yang diarahkan ke dua jurusan, ia diserang langsung, begitu j uga See Berig Wan. Ketiga tiga piauw menjurus ke atas, ke tengah dan ke bawah. Pek Tjeng It tercengang ketika ia dapatkan kenyataan semua jarumnya kena dipatahkan musuh, justru ia sedang bengong, piauw datang menyerang ia. Ia menangkis, ia sangat . terdesak, tapi dua piauw, yang halus sekali, ia masih bisa sampok, adalah yang ketiga, yang lolos, yang tembusi jalan darahnya Tjietong-hiat, hingga ia rubuh binasa. See Beng Wan ada seorang yang licin, ia mempunyai kegesitan istimewa, ia pun pandai dengar dan kenali suara senjata rahasia, maka ketika ia dengar piauw Bouwnie-tjoe mengaung, ia berlompat tinggi enam atau tujuh kaki, hingga segcra ia luput dari piauw ke atas, sedang dengan ujung sepatunya, ia dupak jatuh piauw yang kedua. Untuk tolong diri dari piauw yang ketiga, ia berkelit sambil berlompat, iakabur ke dalam gombolan rumput sambil bergulingan. Untung baginya, piauw cuma bikin bolong bajunya dan mengenai sedikit saja kulit dagingnya, hingga ia jadi terluka enteng. Maka tepatlah ia dengan gelarannya Tjianlie Twiehong si Pengejar Angin. Sesudah itu, ia menghilang dengan gunai ilmu lari Tengpeng touwsoei. Untuk zaman ini, sukar dicari lain orang-orang Kangouw dengan kepandaian yang dipunyakan mereka bertiga, kata pula Sim Djie pada soeteenya seraya ia menghela napas. Sayang sekali mereka jadi gundal-gundal pemerintah Boan hingga pinnie mesti langgar pantangan membunuh. Sungguh pinnie malu yang pinnie telah meloloskan satu musuh. Kenapa Soetjie tidak disusuli dengan piauw beruntun, untuk kejar dia? Soekong Tjiauw tanya. Aku ingat benar,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Soetjie bisa lepas piauw beruntun sampai tiga belas biji, untuk menyerang tiga belas jalan. Dengan susulan piauw beruntun orang yang bagaimana liehay juga ilmunya entengi tubuh, mana dia dapat luputkan diri? Sim Djie bersenyum. Pinnie telah keliru menaksir musuh, pinnie telah nampak kegagalan, ia akui. Pinnie percaya, seranganku tak pernah melesct, dari itu untuk layani orang-orang buruk, biasa pinnie gunai tiga batang piauw saja, tetapi barusan, tidak disangka, binatang itu ada gesit luar biasa, karena ia lolos, pinnie tidak ingin susul dia. Pendeta ini berlaku murah hati, ia tidak duga bahwa karenanya, di belakang hari, gelombang telah mengancam hebat. Mengetahui Soekong Tjiauw dan Sim Djie ada dari satu perguruan, Poei Hok Han kembali memberi hormat pada pendeta pcrempuan itu, yang jadi termasuk orang yang terlebih tinggi tingkatannya. Ia pun dapat tahu dari pembicaraan terlebih jauh, setiap lima tahun sekali, Sim Djie suka kunjungi soeteenya di Hoa-san, untuk bikin pertemuan, dan sekali ini, kedatangannya itu kebetulan sekali, hingga dia bisa bantui itu saudara muda. Habis itu Poei Hok Han tarik mu-rid ini memberi hormat pada Sim Dj ie Sinnie. Mclihat pemudaitu, sang niekouw kata: Anak ini ada punya bahan untuk belajar silat, dan sinar matanya, sikapnya, gerak kakinya, pasti dial sudah beiajar sedikimya tujuh atau delapan tahun. Sinnie terlalu memuji, kata Hok Han sambil tertawa. la ikuti aku baharu lima tahun. Benar-benar bagus! pendeta itu kagum. Kau harus didik ia baik-baik!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Justru karena untuk bocah ini, aku telah datang ke Hoasan ini untuk menemui SoekongToako, Hok Han kata. Kebisaanku ada rendah sekali, dan itu, ada bocah berbahan baik tetapi guru pandai tidak ada, aku kuatir menyia-nyiakan bakatnya, maka aku berniat minta Soekong Toako ambil dia jadi muridnya. Barusan aku telah bilang sama Toako tapi belum aku peroleh jawabannya. Daiam hal ini baiklah Sinnie tolong bicarakan pula. Sim Djie lantas berpaling kepada soetenya. Apakah kau tidak puas dengan bocah ini? ia tanya sambil tertawa. Soekong Tjiauw tertawa, ia memandang langit, yang sudah sore, angin sedang meniup-niup, burung-burung lagi berterbangan pulang. Ia lantas tunjuk guha. Dengan tidak disangka-sangka, rombongan binatang barusan telah ganggu tempo kita, kata ia. Kita orang sudah letih, mari masuk dulu ke sana, untuk beiastirahat: Sim Djie setuju, maka beramai, mereka memasuki guha. Sederhana sekali adalah guha batu itu, karena melainkan scbuali pembaringan kayu melintang di| pinggiran. Beberapa lembar kulit macan tutul ada tergantung di tembok. Soekong Tjiauw turunkan beberapa lembar, untuk digelardi tanah, sesudah nyalakan api, ia silakan semua tetamunya duduk. Kemudian lagi, ia kcluarkan rangsum kering, ia sediakan scbuah cupu-cupu air minum, untuk ia jamu tctamutctamunya itu. Aku tinggal di gunung, di dalam guha, dengan sendirinya aku telah jadi orang hutan, berkata Soekong Tjiauw kemudian. Poei Lauwhia, sudah dua puluh tahun kita orang tidak pernah saling bertemu, aku mengucap terima kasih untuk kebaikan kau yang dari tempat ribuan lie datang mengunjungi aku, aku sebaliknya cuma bisa dengan caraku ini menyambut kau. Poei Hok Han tercengang.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ah, Toako, kenapa kau berlaku begini sungkan terhadapku? kata ia. Aku bukannya sungkan, aku hanya hendak perlihatkan kau keadaanku ini, kata Soekong Tjiauw dengan sungguhsungguh. Bukankah kau hendak serahkan muridmu padaku? Bukankah Sim Djie Soetjie pun puji bakatnya muridmu itu? Benar aku telah bcrusia lanjut, akan tetapi mataku masih belum lamur, aku pun bisa lihat Siangkoan Sieheng ini berbakat bagus sekali, dari itu, dengan dapatkan murid seperti dia, bagaimana aku bisa tak puas? Akan tetapi, di sebelah itu, melihat romannya, dia mestinya berasal satu anak orang senang, maka dari aku kuatir dia tidak nanti tahan sengsara. Poei Hok Han hendak kasikan keterangannya, perihal keuletannya murid itu, akan tetapi Siangkoan Kin sudah mendahului akan berlutut di dcpannya sahabat kekal itu, untuk paykoei berulang-ulang, sambil dengan gembira, dia berkata: Soehoe, jikalau melainkan ini kesangsian Soehoe, harap Soehoe jangan buat kuatir! Teetjoe memang tidak punya kemampuan apa-apa akan tetapi mcnahan sengsara adalah kebiasaanku. Hok Han segera tuturkan pada sahabatnya itu halnya Siangkoan Kin bukannya satu anak hartawan atau bangsawan, hanya dia ada satu sioetjay urung. Kemudian ia tambahkan: Anak ini paling kagumkan Ek-ong, ketika aku beritahukan dia bahwa kau adalah sahabatnya pangeran yang gagah perkasa itu, dia telah memaksa aku biar bagaimana juga supaya aku ajak dia mengunjungi kau. Mendengar disebutnya Ek-ong Tjio Tat Kay, air mukanya Soekong Tjiauw menjadi guram dengan tiba-tiba, air matanya lantas saja mengembeng, tetapi, dengan lantas ia awasi itu anak muda.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Cita-citanya Ek-ong, untuk merampas pulang dan membangunkannya pula Kerajaan Beng barangkali adalah kau orang anak-anak muda yang dapat rnewujudkannya! kata ia. Memang teetjoe berangan-angan akan melanjuti citacitanya Ek-ong, nyatakan Siangkoan Kin, hanya halnya berhasil atau tidak, itulah terserah! Soekong Tjiauw lantas saja tertawa. Bagus! ia berseru. Dengan punyakan cita-cita ini, tidak kecewa kau menjadi muridku! Begitulah. secara resmi, Soekong Tjiauw terima Siangkoan Kin sebagai muridnya, hingga kecuali Siangkoan Kin sendiri, juga Poei Hok Han turut merasa gembira. Setelah itu, bertiga orang-orang gagah itu pasang omong. Sim Djie Sinnie dan Poei Hok Han bcrdiam beberapa hari di atas gunung, mereka bicara banyak, mereka nikmati keindahan gunung yang kenamaan itu. Bicara dari hal duludulu, Soekong Tjiauw masygul, ia sesalkan dirinya. Ia kata: Ketika dahulu Ek-ong meninggalkan Lamkhia bersama angkatan perangnya beberapa puluh laksa jiwa, menuju ke Seetjoan yang jauh, itu memang ada kekeliruannya, akan tetapi akuj aku pun keliru sudah turuti adatku sudah meninggalkan dia karena kita orang berbeda pendapat, coba aku tidak bertindak demikian dan aku tetap dampingi dia, barangkali aku masih bisa lakukan scsuatu apa untuknya. Siangkoan Kin terharu mendengar penyesalannya guru itu. Kcmudian, ialah berselang beberapa hari, baharulah Sim Djie dan Poei Hok Han pamitan, akan berpisahan dengan soetee dan sahabatnya itu. Tapi Hok Han sendhi, secara diamdiam, sudah cari orang-orang dari Thaypeng Thiankok, untuk bikin pertemuan dengan mereka itu. Siangkoan Kin berdiam dengan gembira di atasgunung, ia tak hiraukan penghidupan sengsara. Iabelajarsilat dengan sungguh-sungguh karcna ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bertubuh lemah, ia utamakan kegcsiian tubuh dan Tiamhiathoat yaitu ilmu menotok jalan darah atau unu. Di sebelah itu, Soekong Tjiauw ada satu guru yang pandai, yang ketahui sifat-sifarnya muridnya. Begitu, mulai dengan teori di atas gam bar, murid ini diajar berlatih dengan orang-orangan dari kulit, sesudah sang murid bisa menotok sambil meram, lalu ia lebih jauh diajarkan senjata rahasia, juga alat senjata biasa, untuk menotok juga. Memang, Tiamhiai-hoatnya Soekong Tjiauw ada sama Iichaynya dengan Hoedhiat-hoatnya Sim Djie, sedang dalam hal Gwa-kang, dia telah sampaikan batas kesempurnaan, hingga untuk melatih muridnya, dia sendiri kasih dirinya dijadikan sasaran. Sebab ia tabu, andaikata ia kena dhotok, ia pun bisa tolongi dirinya sendiri. Laginya. ia tak gampang tcrtotok celaka, tubuhnya, apabila perlu, bisa dibikin lemas bagaikan kapas. Begitulah, di bawah pendidikan guru yang liefaay, Siangkoan Kin peroleh kemajuan dengan pesat, baharu berselang lima tahun, ia sudah jadi Hehay. Selama itu waktu, pernah satu kali Poei Hok Han, gurunya yang lama, datang mengunjungi ia. Guru ini girang bukan main akan ketahui muridnya terdidik sempurna. Pada suatu hari Soekong Tjiauw turun gunung dengan libatiba, ketika ia kembali, ia bawa bersama ia sebuah cupu-cupu besar yang memuat arak, terus saja ia ajak muridnya duduk minum, di tengah-tengah pelesiran itu, sekonyong-konyong ia keluarkan dua rupa barang, yang mana ia letaki di depan muridnya. Itu adalah sebatang pookiam, atau pedang, yang panjangnya kurang iebih tiga kaki, dan sebuah kipas yang dipanggil kipas Biauwkim Sietjoe. Coba hunus pedang itu, ia titahkan Siangkoan Kin. Murid ini menurut. Ketika pedang dicabut dari sarungnya, dia perlihatkan sinar bcrkilauan, sampai ruangan sepcrti bercahaya. Tubuh pedang itu bcrgurat-gurat merupakan naga, sedang sarung pedang terbuat dari bat u giok serta tertabur

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

beberapa butir mutiara yang indah. Jadi dua-dua, pedang dan sarungnya, ada berharga sangat besar. Menampak itu, Siangkoan Kin tercengang, ia menjublek. Sang guru tertawa, tertawa meringis, tanda dari sedihnya hati. Inilah pedangnya Ek-ong sendiri yang dihadiahkan kepadaku, Soekong Tjiauw jelaskan muridnya. Pedang mustika ini, Lionggim-kiam, bisa dipakai membabat barangbarang logam. Ek-ong ada sangat sungkan, ketika ia haturkan ini padaku, ia menulis syair yang mengatakan hadiahnya berharga seribu tail perak. Tentu saja, harga yang sebenarnya entah berapa ribu tail. Siangkoan Kin masih diam mengawasi dengan mulut ternganga. Sekarang angkatlah kipas itu, hati-hati, sang guru menitah pula. Siangkoan Kin menurut, ia angkat kipas itu dengan pelahan. Itu ada suatu kipas yang berat, sebab terbuat dari baja tulen, warnanya hitam mengki lap, panjangnya kirasatu kaki, sedang kedua sampingnya, yang berkeredepan, dibikin tajam seperti pinggiran pisau. Ketika ia beber kipas logam itu, ia tampak beberapa baris tulisan yang huruf-hurufhya indah sekali dan bunyinya merupakan cita-citanya Ek-ong. Tanda tangannya ada tanda-tangan Tjio Tat Kay sendiri. Oh, Soehoe, jadi ini ada barang-barang peninggalan Ekong? ia tanya bahna heran dan kagum. Memang! sahut sang guru, suaranya, sikapnya, menunjuki dia ada sangat masygui dan terharu. Ketika dulu aku ada minta Ek-ong nil is tulisannya mi. Tatkala kcmudian Ek-ong meninggai dunia, aku sayang pakai pedangnya, aku pakai kipas ini sebagai gantinya senjata. Ini kipas terbuat dari baja tcrpilih. Sampai sebegitu jauh, aku

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tidak ada ketika untuk pakai itu. Ia berhenti, akan keringi cawan araknya, ia menceguk beberapa kali. Lalu, ia mclanjuti: Lima tahun kita orang berkumpul bcrsama, j odoh kita bukannya jodoh sembarangan, akan tetapi di dalam dunia ini, tidak ada pesta yang tidak ada akhimya, maka itu, haruslah kau mengerti, pclajaranku aku sudah turunkan kepadamu, kau masih muda, bukan tempatnya untuk kau tinggal terus di tanah pegunungan, hingga kau kubur dirimu seumur hidup. Kau kagumi Ek-ong, maka sudah scharusnya apabila kau pergi, akan mewujudkan cita-cita Kaum Thaypeng Thiankok. Ia berhenti pula, ia tunjuk kipas, lalu ia tambahkan: Kedua benda ini adalah miliknya Ek-ong, yangdihadiahkan kepadaku selaku tanda peringatan, sekarang aku haturkan dua-duanya kepadamu! Siangkoan Kin terharu. Cara bagaimana aku bisa terima itu, Soehoe? kata ia. Soekong Tjiauw goyang tangannya. Aku belum bicara habis, ia bilang. Semua dua rupa barang ini aku hadiahkan kepadamu, akan tetapi bukan duaduanya aku inginkan kau gunai. Kipas ini aku berikan kepadamu, untuk kau gunai sebagai senjata, tctapi pcdang Lionggim-kiam fni ada untuk dititipkan buat sementara waktu padamu. Kipas ini saja sudah lebih dari culcup, cara bagaimana teetjoe bcrani lancang gunai pedangnya Ek-ong? kata sang murid. Hanya di bclakang hari, kcpada siapa pcdang ini harus tcctjoc pasrahkan? Soekong Tjiauw tidak lantas jawab mundnya. Ada sebabnya kenapa aku tidak berikan pcdang ini kepada kau, kemudian 1a kasih keterangan. Pertama-tama kau bcrtenaga agak lemah, tidak surup untuk kau gunai ini, sedang untuk digunai sekalian menotok jalan darah, kipas ini ada paling tepat. Kedua, pedangnya Ek-ong ada berarti besar sekali, walaupun kau muda dan gagah, kau belum punyakan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

derajat untuk pakai itu. Aku pikir untuk titipkan ini pada kau, guna tunggu nanti sampai diketemukannya seorang gagah yang dapat wakilkan Ek-ong untuk mcwujudkan cita-citanya. Aku percaya kau punyakan mata cukup jeti akan can orang scmacam itu. Guru ini tenggak araknya, ia bersenyum. Muridku, kita ada bertabiat serupa, lata ada rada-eada menuruti adat! berkata dia. Kita bukanlah itu orang-orang yang bisa berusaha besar dan aku kuatir kau nanti jadi terlalu temberang, maka itu, aku harap, sukalah kau bisa kendalikan diril Siangkoan Kin girang berbareng kaget, terutama pesanan guru itu ada berat sekali. Ia mengerti, ini adalah pesta perpisahan dan gurunya itu. Ia tidak dapat menolak, ia terima putusan itu tanpa banyak omong. Maka besoknya, sesudah memberi hormat kepada gurunya itu, ia ambil seiamat berpisah, ia turun gunung, buat terus mulai dengan perantauannya, pergi ke mana saja hatinya memerintah, akan cari orang yang gurunya angan-angankan. Belum terlalu lama sejak ia ceburkan diri dalam dunia Kangouw, namanya lantas saja mulai terkenal, tetapi walaupun ia telah tukar pclajaran dan telah berhasil meyakinkan ilmu silat, cara dandannya tetap bagaikan sioetjay. Inilah suatu tanda kaum Kangouw berikan iajulukan Thiebian Sieseng, si Mahasiswa Muka Besi. Sclama beberapa tahun, banyak orang gagah yang Siangkoan Kin ketemui, tetapi belum ada satu yang ia anggap cocok untuk diwariskan pedang Ek-ong itu, adalah ketika ia sampai di Shoatang, ia ketarik sama orang yang kemudian berdirikan Perkumpulan Rahasia Giehoo-toan, yaitu Tjoe Hong Teng. Ketika itu Tjoe Hong Teng belum jadi Ketua Giehootoan tetapi namanya sudah kesohor dan di Shoatang, pengaruhnya ada besar.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mulanya Siangkoan Kin anggap Tjoe Hong Teng kesohor melainkan namanya, ia tidak terlalu memandang mata. Di Shoatang, ia bawa adat bcrandalannya, sampai satu kali, ia bentrok dengan satu orang terkenal dari kalangan terlebih tua, sebabnya ada kcliru mengerti, perkara jadi demi kian memuncak, Tjoe Hong Teng lantas datang sama tengah, dengan pengaruhnya, ia bisa damaikan mercka bcrdua. Habis itu, Siangkoan Kin pasang omong sama jago Shoatang ini, mereka bicara satu malaman, lantas ia insyaf, Tjoe Hong Teng ada bercita-cita Iuhur, sedang ilmu silat mereka berdua ada berimbang. Karena ini, keduanya jadi cocok satu pada lain, Siangkoan Kin ada berscdia akan bantu Tjoe Hong Teng mewujudkan cita-citanya membangunkan pula Kerajaan Beng. Ia telah serahkan pedang Liong-gim-kiam kepada itu sahabat baru, Ketua dari Giehoo-toan. Ia sendiri melanjuti pengembaraannya, ia tak betah berdiam di rumah atau hidup bertani, sembari merantau, ia can kawan-kawan guna bantu Tjoe Hong Teng. Selagi pengalamannya bertambah, namanya pun jadi makin kesohor. Demikian, sampai terjadi pertempuran di Heksek-kong di tempat lima puluh lie di luar Kota Anpeng di mana Tjoe Hong Teng telah labrak sepasukan tentara negeri hingga tentara negeri itu dapat ditaklukkan. Siangkoan Kin ketarik sekali terhadap Teng Hiauw. Ia ingat hal lelakon hidupnya sendiri di waktu masih muda, malah sekarang, ia dapatkan, pemuda she Teng ini terlebih muda daripada ia dahulu, dan tanpa pengalaman juga. Begitulah ia tarik Teng Hiauw padanya, ia ajak jalan berendeng, ia tanya ini dan itu. Teng Hiauw bergembira berbareng heran dan hati kebatkebitjuga, karena ia berada dalam rombongan tentara rakyat, yang ada sangat asing bagi ia. Ia ada satu pemuda yang masih hijau sekali, pun ia belum mengerti hal pergerakan kebangsaan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Walaupun dalam gclap-gulita, tentara Giehoo-toan jalan dengan rapi dan tertib, kapan mereka melalui jalan gunung yang sukar dan sempit, mereka turun dari kuda mereka, yang mereka tuntun. Di tengah jalan, saban-saban ada terdengar tanda-tanda rahasia dan muncul bayangan dari kawan-kawan yang menyambut. Di matanya Teng Hiauw, semua itu adalah mengherankan. Orang telah lewati tanjakan dan rimba, di akhimya, orang jalan mudun, menghampirkan lembah yang penuh dengan pepohonan. Di dalam lembah ini, yang datar, ada terlihat sebuah dusun besar, yang bertembok bentengan. Karena inilah sarangnya Kaum Giehoo-toan itu, Pusat Cabang Anpeng. Waktu sudah jauh malam akan tctapi seluruh dusun, afau san-tjhung, masih belum tidur, api obor dipasang terangterang, di sana-sini ada orang-orang Giehoo-toan yang melakukan penjagaan. Semua orang sangat gembira melihat Tjoe Hong Teng, yang mereka sambut d